DISCLAIMER
Visual Novel 'Rewrite' by Key Visual Arts 2011, Romeo Tanaka and Yuuto Tonokawa
Fanfic 'Truth Behind of That Gloves' by Sachiya Haruyuki 2014
"Apa kau Tennouji Kotarou!?"
"Memangnya aku terlihat seperti siapa? Apa kamera pada intercom mu rusak?"
"A-Aku bisa lihat itu dirimu! Ti-Tidak ada siapapun disana denganmu, 'kan!? Tak ada siapapun yang mengikutimu!?"
"Ke-Kenapa kau begitu khawatir? Baik, baik, akan kulihat."
Dia terlihat tegang. Aku benar-benar tak sabar untuk makan disini, tetapi mood ku langsung menghilang. Pada akhirnya, ini bukan saat nya untuk bersikap santai.
Benar juga, Lucia berada dalam satu komunitas rahasia. Mungkin sesuatu yang buruk telah terjadi. Tunggu. Mungkin dia ingin mengatakan padaku tentang sesuatu yang serius, dan ini bukan tentang masakannya untukku.
Aku membersihkan pikiranku dari hal-hal bodoh dan dengan hati-hati memeriksa area ini.
"Tak apa-apa, tak ada seorang pun yang mengikutiku."
"Ka-Kau yakin? Ada seseorang yang tahu kau datang kesini!?"
"Tidak. Aku jaga janjiku. Aku takkan mengatakan pada siapapun semua hal tentangmu. Percayalah padaku."
"Ba-Baiklah..."
Kupikir aku merasa harapanku naik ketika aku berasumsi ini mengenai soal makan. Aku janji untuk tidak meninggalkannya sendiri. Itu berarti, aku akan menjadi yang pertama untuk membantunya ketika ia membutuhkannya.
"Apa yang terjadi? Bisakah aku masuk?"
"Dengar, Kotarou. Dengar baik-baik. Jika tidak, kau mungkin akan mati."
"A-Aku mengerti."
Lucia menurunkan nada suaranya. Jadi ini memang sesuatu yang buruk. Apa aku bisa benar-benar yakin tak ada yang mengikutiku!?
Aku bersandar pada dinding, mempertajam penglihatan dan pendengaranku, lalu mencari tanda-tanda mengejar. Jika memang begitu buruknya, dia akan mengatakannya langsung padaku jadi aku bisa mengambil jalur lain atau tindakan lain untuk mencegah merasa diikuti.
Yah, seorang amatiran sepertiku mungkin tak bisa melakukan hal seperti itu.
"Aku juga memperhitungkan hidupku. Katakan apa yang harus kulakukan."
"Aku akan membuka kunci pintu ini, tapi jangan membuka langsung pintunya."
"Aku mengerti. Menipu mereka."
"Hitung hingga seratus, perlahan, tanpa melakukan apapun."
"Baiklah."
"Bagus... Aku akan membuka kuncinya sekarang. Mundurlah sedikit."
Aku mengambil tiga langkah ke belakang, untuk memastikan pintunya takkan mengenaiku jika ia membukanya terlalu cepat. Aku bisa dengar ia membuka kuncinya. Dan kudengar ia berlari masuk ke dalam. Kupandangi sekitarku lagi, tak ada tanda-tanda seseorang yang mencurigakan.
Baiklah. Kuhitung hingga seratus seperti yang ia katakan.
"2... 3... 4..."
Semua yang kudengar hanyalah tipikal suara pada area perumahan saat malam hari. Inderaku lebih tajam dari orang biasa, tapi tak ada yang tak biasa kurasakan.
"45... 46... 47..."
Aku belum mendengar Lucia bergerak semenjak ia masuk ke dalam. Setidaknya tak ada tanda-tanda ia bertarung dengan seseorang disitu.
"88... 89... 90..."
Menurutku, ini terlalu sunyi. Apa Lucia benar-benar tak mengapa? Dia mengatakan padaku untuk menghitung hingga seratus, tapi apa aku menghitungnya terlalu pelan? Tiba-tiba aku mulai khawatir padanya. Dengan cepat aku menghitung sepuluh angka terakhir dan membuka pintunya.
"Lucia... Apa kau disana!? Aku masuk!"
*opened*
Tak ada jawaban. Dia mengatakan padaku untuk datang kesini, tapi kita malah memainkan permainan aneh ini di depan pintu kamarnya. Apa yang sebenarnya sedang menungguku disini?
Aku harap... Dia tidak diserang oleh kelopok oposisi, dan aku akan melihat jenazah mereka. Jika ia mengetahui dimana dirinya sekarang, ia harus pergi meninggalkan kota.
Sialan. Tapi dia tetap memintaku untuk datang kesini! Aku harus membantunya!
"Lucia!"
Aku berlari melalui lorong dan masuk ke dalam ruang tamu. Terlihat rapi dan terurus, seperti yang kuduga darinya. Tidak ada tanda-tanda pertempuran disini.
Tapi apa yang kutemukan, sangat jauh dari ekspektasiku. Aku hanya berdiri, menatap kosong pemandangan di hadapanku. Dan itu adalah kesalahan fatal.
*blow*
Sebuah pukulan membawa tubuhku ke udara. Ah sial. Mungkin bisa saja ada beberapa gigiku yang hancur gara-gara ini.
"Uu... Goaa.. Apa itu kau, Lucia?"
"Me-Memangnya aku terlihat seperti siapa!? Jangan menatapku seperti ituuuuuu!"
"Umm... Kau yang mengundangku kesini... Lalu kenapa kau memukulku? Ah, jangan dipikirkan. Aku bisa tahu kenapa. Ya, aku minta maaf. Aku bertindak terlalu jauh. Sungguh, maafkan aku. Bukan maksudku melakukan itu."
"Aku hanya melakukan ini karena ini adalah perintah! Aku tak bisa melanggar perintah Nishikujou-san! Aku tidak akan pernah melakukan ini lagi! Tidak akan pernaaaaah, Tennouji Kotarouuuuuuuuuuuu!"
"Ah..."
Itu sudah pasti Konohana Lucia. Tapi butuh waktu untuk mengenali dirinya. Apa yang paling penting ketika mengenali seseorang? Wajahnya? Gaya rambutnya? Pakaian juga begitu.
Sudah pasti itu wajah Lucia... Tapi pakaiannya, tentu tidak mencerminkan apa yang biasa disebut "iron fists of justice".
"Hey, Lucia... Kenapa kau...?"
"I-Ini yang kau inginkan! Seragam maid! Apa ada yang salah dengan ini!?"
"Se-secara garis besar, iya. Tapi mungkin ini sedikit-"
"Kenapa!? Aku membelinya di toko kostum! Disana ada tanda "maid"! Kuakui aku tak memiliki gambaran bagaimana memilih satu dari semua seragam maid yang mereka punya, tapi tetap saja!"
Dia benar. Itu seragam maid. Tapi... Bukannya itu salah satu seragam yang dimiliki satu karakter wanita dalam "Doki Doki Maid Party"? Jadi secara teknis lebih cocok dikatakan cosplay ketimbang seragam maid sungguhan. Sudah begitu, "Doki Doki Maid Party" itu semacam galge, tapi itu adalah sesuatu yang tak bisa kau beli jika kau belum cukup umur. Dan, ketika seorang karakter wanita menggunakan seragam semacam itu, katakan saja ia lakukan banyak hal untuk seorang karakter utama.
Kupikir ceritanya seperti ini, seorang karakter utama yang mengetahui beberapa rahasia tentang si karakter wanita yang memiliki suatu perasaan tertentu padanya. Dan sebagai ganti untuk menjaga rahasianya, dia harus menjadi maid pribadinya.
Faktanya, bukannya ia mulai dari membuatnya menggunakan seragam maid dan memasakkan sesuatu untuk dirinya?
Giiaaaaaaaaaaaaaaaaaa! Apa yang sudah kulakukaaaaaaaaan!? Aku yakin sekali jika hal selanjutnya yang ia perintahkan adalah,
"A-Apa ini tidak apa-apa? M-Master..."
"Fumubaaaaaaaaaaahigyaaaaaaaaaaaaa!"
Itu benaaaaaaaar, dia membuat sang wanita memanggil dirinya masteeeeeeeer! Kenapa aku melakukan itu!? Apa aku tak sadar menceritakan kembali sedikit hal tentang galge itu di rumah sakit!?
"Se-sekarang aku harus menyiapkan makanan untukmu. Kenapa kau menginginkanku melakukan ini dengan pakaian seperti ini? Aku sama sekali tak bisa mengerti dirimu!"
"Aku bahkan tak bisa mengerti diriku sendiri."
Lucia mulai melangkah menuju dapur, sesaat kulihat rok pendeknya hanya bisa menutupi bagian bawah tubuhnya. Aku pikir, hal selanjutnya yang terjadi adalah dia akan menyuapiku dengan sumpitnya.
"Aku sungguh minta maaf. Aku tak bermaksud melakukan ini sampai sejauh itu. Sudahlah, ini lebih dari cukup. Kita bisa makan seperti biasa."
"Tidak! Kita tidak bisa! Memenuhi perintah adalah bagian dari pekerjaanku! Tak peduli seberapa mesum nya itu, kalau itu perintah dari atasan tetaplah sebuah perintah. Aku akan menyelesaikan tiap-tiap perintah itu! Sekarang duduk disini, Tennouji Kotarou! Ah, maksudku master! Sekarang buka mulutmu!"
"Tidak, serius, tidak apa-apa!"
"A-Aku tidak bisa berhenti..."
Oh baiklah, aku menyerah sekarang.
"Baiklah, master, katakan aaah..."
Dengan malas aku membuka mulutku sembari membiarkannya menyuapi makanan padaku. Dan setidaknya ia bisa menyelesaikan ke delapan belas permintaan yang diberikan.
Setidaknya aku bersyukur berhenti di angka itu. Kupikir jika aku melanjutkannya di angka sembilan belas, mungkin akan berakhir pada sesuatu yang, berbau X-rated.
Aku takkan pernah mengijinkan Lucia mencari tahu soal "Doki Doki Maid Party" itu. Karena jika begitu, ia bisa benar-benar membunuhku.
"Oh iya, di pakaian itu juga ada tanda bertuliskan "Doki Doki Maid Party", kau tahu apa maksudnya itu?"
O-Oh. Ini buruk!
"Ti-Tidak. Tidak sama sekali. Aku takkan pernah menceritakan pada siapapun soal edisi terbatas yang memiliki CG tanpa blur itu yang mana orang-orang beli dan dijual dengan harga tinggi pada Yahoo Auctions!"
"Begitu, jadi itu dijual pada semacam toko online. Aku akan melihatnya lewat internet nanti."
"Uuooooooooooooooo, jangan interneeeeeeeeeet!"
"Kau pasti menyembunyikan sesuatu! Katakan! Akui itu! Tunjukkan kebenaran tentang pakaian nan mesum iniiiiiiiiiii!"
Takkan pernah! Kau akan membunuhku jika aku melakukan itu!
[Skip Time]
Kesampingkan soal pakaian itu, makanan yang disediakan tetaplah normal seperti biasa. Cukup enak. Dan terasa sekali kesan kehangatan sebuah makanan buatan rumah.
"Aku telah menyelesaikan semua perintah! Aku telah menepati semua janji aneh itu!"
Sayangnya ia langsung berganti pakaian setelah membersihkan semua piring dan alat-alat makan lainnya.
"Ya, kau sudah menyelesaikannya. Jangan khawatir. Aku takkan mengatakan pada siapapun soal komunitas rahasiamu. Tapi aku ingin tahu sebenarnya seperti apa komunitas kalian itu? Apa yang kau dan Nishikujou-sensei lakukan disana?"
""Melindungi planet", mungkin bisa dikatakan seperti itu."
"Bukannya itu berarti sesuatu akan menghancurkan itu jika kau tak melakukannya?"
"..."
Kuingat kembali saat ia tiba-tiba memberiku pengajaran tentang pembuangan sampah yang baik.
Jika kita tak melindungi lingkungan, manusia takkan memiliki masa depan.
Itu yang biasanya orang-orang maksud ketika mereka membicarakan tentang melindungi planet. Tapi aku tak berpikir jika komunitas rahasia dimana Lucia saat ini berada memiliki maksud yang sama seperti itu.
"Kalian sangat sensitif mengenai "Melindungi Bumi", kenapa?"
"..."
"Aku tetap percaya padamu. Aku tak khawatir jika kau melakukan sesuatu yang salah. Tapi mengenai komunitasmu saat ini, mungkin ini hanya sebuah rasa penasaran yang naif. Tapi, bisakah kau setidaknya memberitahuku dasar-dasarnya?"
"Mmm..."
Lucia nampak down. Dia diharuskan untuk menjaga rahasia ini, tapi rasanya menyedihkan jika menyembunyikan sesuatu dariku. Setidaknya, kupikir itulah yang ia rasakan. Kupikir harusnya aku tak perlu memaksanya mengatakan itu.
Tapi sebelum aku mengatakan, "Maaf, jangan pikirkan itu.", ia menghela nafas berat dan menatapku.
"Bisakah kau janji akan rahasia ini?"
"Te-Tentu saja."
"Bisakah kau janji atas nama ibumu!?"
"Haruskah aku melakukan hal-hal kuno seperti itu? Yah, aku janji atas nama kedua orang tuaku."
"Maka aku akan mengatakannya padamu. Rasanya tak adil untuk membuatmu menjaga rahasia kami ketika kami sendiri belum mengatakanmu secara langsung. Sudah begitu, jika aku tak memberitahumu, kau mungkin akan melakukan sesuatu yang teramat bodoh demi rasa penasaranmu."
Lucia menghela nafas sekali lagi lalu mulai berpikir dari mana ia harus menjelaskan. Berdasarkan bagaimana aku menemukan Santa Brosia dengan caraku sendiri, ia mendapat satu hal. Dan aku tak ingin membuatnya mengatakan apapun padaku, cukup untuk menjawab beberapa pertanyaan yang ada.
Klub peneliti alam gaib. Apa yang kulakukan hanya sekadar menghilangkan kebosanan. Aku melakukan sesuatu layaknya jurnalis amatiran mengenai cerita hantu, berharap bisa meraih sedikit pendapatan. Tapi, ternyata aku masuk ke dalam komunitas rahasia, bertempur untuk melindungi dunia.
Seperti memancing di laut, tapi mendapat ikan paus yang kemudian memaksamu masuk ke dasar lautan.
"Aku takkan bercanda soal ini, dan aku takkan mengatakannya pada siapapun. Jadi tolong katakan padaku. Apa yang sebenarnya kalian lakukan? Kau tak hanya menyortir sampah dan berlarian ke sana ke sini hanya sekadar menghukum seseorang yang tak mau melakukannya, 'kan?"
"Seperti yang kau katakan sebelumnya, kami melindungi bumi karena ada sesuatu yang akan menghancurkannya."
"Baiklah. Jadi apa itu? Jika itu terasa sangat beralasan, aku mungkin bisa membantu."
"Disaat ini, Kazamatsuri City seperti bom waktu, karena ada seseorang yang memegang kunci yang bisa memilih apa dunia akan dihancurkan atau tidak."
"Kelihatannya buruk sekali."
"Apa kau percaya padaku? Bahkan ketika aku membicarakan soal akhir dunia?"
Jarang sekali aku mendengar akhir dunia disamping dari sebuah komik. Lucia bertanya padaku jika aku bisa percaya pada sesuatu hal yang aneh seperti itu.
"Sudah kukatakan padamu aku takkan tertawa. Sudah begitu, aku tahu kau tak pernah bohong padaku, Konohana Lucia. Jadi tolong teruskan."
"Ba-Baiklah, terima kasih."
"Saat kau bilang ada seseorang yang memiliki kunci, apa maksudnya itu? Apakah itu terdengar seperti teroris? Atau beberapa orang dengan virus yang berbahaya?"
"Kita anggap orang itu sebagai "Kagi"."
"Kagi? Apa itu codename?"
"Ya. Sesuatu yang disebut Kagi, dalam bentuk seorang gadis."
Gadis? Tidak, tunggu dulu. Sesuatu dalam bentuk seorang gadis?
"Ya. Kagi terlihat seperti gadis manusia. Tapi dia bukan manusia sepenuhnya. Dia adalah wujud spesial."
"Jangan bilang... Dia alien?"
"Bukan alien. Dalam kasus itu, kau bisa bilang dia makhluk bumi seperti kita. Tapi dia benar-benar berbeda dari kita."
"Jadi ini adalah spesies yang berbeda dari homo sapiens? Makhluk cerdas yang mengikuti jalur evolusi berbeda?"
"Butuh waktu panjang untuk menjelaskan itu lebih detik, jadi kita pindah subjek saja. Tapi apa yang kau katakan tidak sepenuhnya salah. Pikirkan saja dia itu manusia yang bukan manusia."
"Jadi kita tak bisa mengenalinya begitu saja dengan berjalan-jalan mengawasi dia."
"Tidak mungkin untuk mengenalinya dari penampilan luarnya. Sudah begitu, dia memiliki kemampuan untuk menghapus perhatian orang lain terhadapnya, jadi sangat tak mungkin untuk mengetahui dia ada disana."
"Menghapus perhatian? Maksudmu seperti kamuflase optis?"
"Bukan secara optis. Tapi langsung pada pikiranmu. Bahkan jika dia berdiri di depanmu, kau takkan mengerti ada seseorang disana, meski ada cahaya mengenai dirinya dan juga matamu."
"Hebat sekali. Jadi ada kemampuan menipu yang bisa mengacaukan pikiran kita."
"Kalaupun dia ada disana, dia akan mencegah kita mengetahuinya."
"Tunggu dulu. Dari penjelasanmu, rasanya seperti berburu semacam hantu. Apa komunitasmu juga melakukan hal demikian? Jangan bilang gara-gara itu kau masuk ke dalam klub gaib."
"Itu salah satu alasannya."
Begitu. Makanya kupikir rasanya aneh jika seseorang seperti Lucia bergabung dengan klub gaib hanya karena temannya, Shizuru juga ikut. Dan sekarang ini jadi semakin beralasan.
"Jadi apa sebenanya Kagi ini? Jangan bilang itu yang akan menghancurkan dunia?"
"Dia memiliki kemampuan untuk membuat itu terjadi."
"Sial. Berarti kita tak bisa membiarkannya berkeliaran begitu saja."
"Ya. Kita perlu mengamankannya. Dan jika tidak bisa kita harus membunuhnya."
Memakai kata "membunuh" membuat ini terasa semakin berbahaya. Tapi jika ada sesosok makhluk dengan kekuatan menghancurkan dunia sedang berkeliaran, mungkin akan terasa pantas. Rasanya lebih bagus jika kita saling bicara dan menjelaskan diri kita sendiri. Tapi jika tidak bisa, kita mungkin diharuskan untuk membunuhnya.
Sayangnya itu malah memunculkan pertanyaan lain.
"Aku mengerti bahwa ini akan menimbulkan kepanikan besar jika orang-orang mengetahui ini. Tapi jika seluruh dunia dalam bahaya... Bukannya akan lebih mudah jika kalian melakukan sesuatu yang lebih publik seperti menyegel Kazamatsuri City dan menganggapnya pertahanan diri untuk melakukan pencarian?"
Pertanyaan yang kentara. Jika dunia dalam bahaya, kenapa harus berada dalam komunitas rahasia? Seluruh manusia akan membantu misi untuk menyelamatkan Bumi. Tapi kenapa ini tetap harus dirahasiakan?
"Keberadaan Kagi memiliki dampak yang kuat pada seluruh dunia. Kita tak bisa membiarkan kehadirannya diketahui publik."
"Benar sekali. Itu bisa dianggap sebagai Tuhan. Dan jika itu bisa menghancurkan dunia, berarti itu seperti alat hari kiamat berjalan. Mungkin ada beberapa negara yang ingin menggunakannya untuk melakukan kejahatan."
"Terima kasih karena sudah mengerti. Makanya kami tak ingin orang-orang tahu soal ini. Sebagai tambahan, ada sebuah kelompok yang ingin mencari Kagi dan membuatnya menghancurkan Bumi."
"Hah? Apa ini semacam sesuatu hal berbau gaib?
Sebelumnya aku mengetahui nama kelompok dimana Lucia dan Nishikujou-sensei berada, yaitu "Guardian". Itu berarti yang dijelaskan saat ini adalah pihak oposisi dari Guardian itu sendiri.
"Sebuah organisasi bernama Gaia. Kami menganggapnya sebagai kelompok paling berbahaya yang pernah ada."
"Gaia?"
"Mereka adalah kelompok fanatik yang percaya bahwa Kagi bisa memperbaiki Bumi ini. Mereka berharap bisa mengamankan Kagi dan mengancam dunia dengan itu, walaupun mereka tahu itu bisa menghapus kemanusiaan."
"Apa-apaan cara berpikir seperti itu? Apa mereka tak menghargai kehidupan mereka!?"
"Dunia menderita karena penyakit fatal, dan satu-satunya cara untuk mengobatinya adalah menggunakan kekuatan Kagi untuk memperbaikinya. Potensi kehilangan kemanusiaan adalah risiko yang diterima untuk menggapai tujuan itu. Itulah yang mereka pikirkan."
"Astaga. Itu benar-benar gila. Apa orang-orang itu berkeliaran di Kazamatsuri City juga?"
"Secara garis besar, bisa dikatakan Kazamatsuri berada dalam kontrol mereka. Kita ini berada dalam wilayah musuh."
"Sial. Jadi pertempuran hebat untuk takdir dunia sudah terjadi di Kazamatsuri tanpa membiarkan orang-orang biasa seperti kita tahu akan hal itu?"
Aku sempat ingin mengatakan "Ini seperti sesuatu dari film B" tapi aku merubah pikiranku. Sudah kukatakan untuk tidak tertawa akan hal ini. Ini adalah kenyataan.
"Gaia... Kelompok aneh apa itu. Memperbaiki Bumi terdengar seperti tujuan yang teramat mulia, tapi dengan menghapus kemanusiaan, tak ada bedanya dengan teroris. Kita hanya fokus pada hal seperti menyortir sampah dengan benar."
"Hu, kau benar. Tapi mereka juga percaya dunia sudah terlalu sakit untuk diselamatkan dengan cara seperti itu."
"Memang dunia akan berakhir. Tapi bukannya itu baru terjadi bertahun-tahun yang akan datang? Tepatnya ketika matahari mulai membesar, cukup untuk memanggang Bumi. Kupikir seperti itu. Tapi manusia hanya hidup paling tidak cuma mencapai seratus tahun atau lebih. Bukannya itu terlalu dini untuk dikhawatirkan?"
"Itu fakta yang tak bisa dipungkiri jika dunia semakin hari semakin sakit. Bukannya aku setuju dengan mereka, tapi bumi takkan bertahan hingga ratusan tahun lamanya."
"Berarti kalian dan Gaia setuju dunia tak memiliki waktu lagi?"
"Jika kondisi semakin memburuk dari waktu ke waktu, dunia akan mati dalam ribuan tahun. Itu adalah perhitungan paling tepat."
"Ribuan tahun..."
Ketimbang milyaran tahun, rasanya terbilang sangat dekat. Tapi tetap saja terlalu dini bagi manusia untuk mengkhawatirkan itu, tak peduli seberapa lama mereka hidup. Orang-orang tak peduli tentang masa depan yang takkan pernah mereka bisa lihat. Makanya mereka tetap mencemari lingkungan dan memberi isu sulit pada anak dan cucu mereka.
"Ribuan tahun, terasa sangat jauh, tapi tetap terasa dekat akan terjadi dalam beberapa hal. Tetap saja, rasanya terlalu jauh bagiku untuk membayangkan."
"Benar. Milyaran dan ribuan tahun di masa depan, keduanya terlalu jauh bagi kita untuk melihatnya. Makanya kita tak bisa membiarkan ini. Kita tak bisa membayangkannya."
"Ribuan tahun. Jadi terbayang bagaimana Bumi akan berakhir."
"Jika kau bisa membayangkannya, aku akan memberitahumu."
"Eh?"
Kita tak memiliki cara untuk mengetahui apa yang akan terlihat ribuan tahun ke depan. Dia setuju akan hal itu, tapi dia mengatakan dia bisa memberitahuku apa yang akan terjadi.
Tapi aku tak bisa. Itu terlalu mengerikan untuk dibayangkan. Apalagi, untuk seorang Lucia yang sudah mengalaminya sendiri di masa lalu.
Ah, sudahlah. Tapi setidaknya aku bisa mendapatkan satu hal penting. Walaupun aku tak perlu membayangkannya.
"Menurutku, itu seperti dunia mati. Jika dari ribuan tahun mulai sekarang, manusia akan tetap menghabiskan sumber daya alam di bumi ini."
"Ya. Jika mereka tak merubah cara pikir mereka, itu akan terjadi lebih cepat."
"Jadi jika kita melakukan perubahan, bisakah kita memperlambatnya?"
"Aku percaya itu."
"Makanya kau sempat memberitahu kami tentang bagaimana cara menyortir sampah dengan benar."
Beberapa waktu lalu saat aku dan Yoshino menendang banyak kaleng disekitarku, Lucia mengajarkanku pentingnya lingkungan. Dia bersungguh-sungguh terhadap apapun yang ia katakan. Untuk seseorang yang tahu dunia akan berakhir dalam ribuan tahun, apa yang ia katakan sungguh jelas.
Orang-orang tahu dunia sudah mulai kehabisan energi. Tapi mereka semua berpikir itu baru akan terjadi jauh setelah mereka meninggal. Padahal dia sendiri sudah melihat akhir dunia itu.
Makanya aku tak ingin membayangkannya. Kupikir Lucia sendiri memang sudah mengalaminya.
"Lucia... Kupikir kau harus memberitahu orang-orang akan apa yang kau lihat dulu. Itu mungkin akan memberi semangat manusia untuk bekerjan melindungi dunia."
"Aku dilarang mengatakan itu. Sudah begitu, sulit bagi mereka untuk percaya padaku seperti halnya dirimu, Tennouji. Ribuan tahun di masa depan. Terlalu jauh bagi mereka untuk peduli akan hal itu."
"Itu tidak sepenuhnya benar. Jika ada satu orang saja yang muncul untuk bertahan atas apa yang terjadi... Dia akan membenci seluruh manusia yang menyebabkan itu terjadi."
"..."
Mungkin aku terlalu banyak mengatakan hal-hal yang memalukan. Tapi Lucia terlihat down dan berpikir akan kata-kataku.
"Aku tak ingin ada seorangpun yang menyesali fakta bahwa kita telah melakukan sesuatu. Jadi bisakah kita melakukan sesuatu hal? Sekecil apapun itu?"
"Hmm... Kedengarannya bagus. Apa yang saat ini ada dalam pikiranmu?"
"Menyortir sampah. Menggunakan tas daur ulang di supermarket. Mengatur settingan kulkas, dan mungkin hal-hal lain yang bisa berguna."
Saat aku berkata demikian, ada sesuatu yang mengganjal tiba-tiba.
"Umm... Lucia, dimana toiletnya, ya?"
Ups.
"Bo-bodoh... Turun ke lorong dan perhatikan sebelah kirimu..."
Aku tidak berniat untuk membuat lelucon soal itu, tapi aku benar-benar ingin pergi ke situ. Aku berlari menuju toilet sebelum Lucia hendak menghajarku.
Ketika aku berada di lorong, aku melihat sesuatu bergerak. Apa itu? Menuju ke sebelah kiriku, ada kamar mandi disana. Aku pikir itu hanyalah tirai yang memisahkan bak kamar mandi dengan area kamar mandi itu sendiri.
"Apa aku sedang membayangkan sesuatu?"
Kalau ini rumahku, aku bisa menebak ada hantu disini. Tapi disini adalah rumah Lucia. Kalau memang ada hantu yang benar-benar muncul, dia tanpa belas kasihan akan menghajarnya, jadi aku tak perlu merasa takut.
Ketika aku masuk ke dalam ruangan, kali ini aku mendengar suara samar-samar. Berasal dari dalam ruangan ini. Bukan tipikal suara biasanya, seperti air yang jatuh.
"Coba kalau dipikir-pikir, ketika Kagi berkeliaran, dia berkata rasanya seperti ada hantu, semenjak kau tak bisa melihat apa yang harusnya bisa kau lihat."
Apakah ini adalah Kagi yang dicari oleh Lucia dan Guardian? Kalau memang begitu...
"Tidak mungkin."
Perlahan aku membuka pintu kamar mandi itu. Ternyata,
"Tennouji Kotarouuuuuuuuuuuu! Kau bilang kau ingin ke toilet, tapi kenapa kau malah membuka pintu kamar mandi nyaaaaaaa?"
"Tu-Tunggu dulu, Lucia, ini bukan seperti yang kau pikir. Aku melihat sesuatu yang bergerak disini! Malah kupikir itu Kagi sendiri!"
"Aaaah, beraninya kau memandang wanita melalui kamar mandi, dasar kau mesum!"
"A-Aku sungguh-sungguh- Eh?"
Datanglah seseorang yang tak diduga.
"Halo..."
Shizuru. Tapi apa yang dia lakukan disini?
"Ke-Kenapa ada penjaga moral disini?"
"Sangat aneh."
Dan reaksinya, sudah bisa ditebak.
"Sh-Shizuruuuuuuuu!"
"Pakaian itu terlihat cocok untukmu."
"K-Kau melihatnya... Lupakan ituuuuuuuuuuuuuu!"
Saat Lucia hendak memukulku, Shizuru langsung menghentikannya dengan berkata demikian. Dan dia berlari kemanapun, menjagaku dari dirinya dan Lucia.
"Sialan kau Shizuruuuuuuu! Diam disana dan biarkan aku menghajarmuuuuuu!"
"Tidak. Pasti akan menyakitkan. Aku menyerah."
Aku yang justru kebingungan disini.
"Bisakah tolong jelaskan apa yang terjadi disini?"
"Menyingkir kau, Tennouji Kotarouuuuuuuuu!"
"Aku tidak di jalanmu, justru Shizuru yang terus berlari disekitarku."
"Baik, baik. Jangan marah. Aku akan katakan pada seseorang."
"Jangaaaaaaaaaaaaan!"
*bam!* *riiiing*
Ia menggenggam kerah baju Shizuru, tapi pukulannya malah mengarah padaku. Aku tak menyangka hasilnya akan jadi begini. Berakhir dipukul di wajah karena kemunculan Shizuru yang tiba-tiba.
Ini sungguh tidak benar. Ada apa sebenarnya ini?
~ To be Continued ~
