.

.

.

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Story by Icha-Icha Fairy

Part 10

enjoy


.

Menjelang malam.

Lampion di setiap rumah penduduk satu-persatu mulai menyala. Desa Konoha bergemelap lampu cahaya di sepanjang jalan. Dijadikan simbol sebagai penerangan jalan kehidupan. Malam itu bulan bersinar terang di antara awan yang bergerak. Langit tidak begitu cerah namun semua orang berharap hujan tidak akan turun saat perayaan berlangsung, dan itu selalu terkabulkan.

Semua obor menyala di sepanjang jalan menuju lapangan Konoha. Orang-orang mempersiapkan diri, terutama bagi muda-mudi peserta pembersihan suci. Para gadis bersolek di depan cermin, berlomba-lomba untuk tampil cantik malam ini. Tidak hanya itu, para orang tua menyiapkan satu ember air di depan teras rumah masing-masing. Tradisi yang akan dilakukan untuk menyirami halaman setelah putra-putri mereka keluar dari pintu rumah. Bertujuan menjauhkan dari segala hal yang buruk, di saat pergi maupun kembali. Begitu pula dengan Kizashi, untuk pertama kalinya ia melakukan hal ini. Dan juga, perasaan haru menyelimuti dirinya saat mengingat mendiang sang istri.

Keamanan Konoha diperketat. Dikerahkan sekelompok orang untuk berjaga di sekeliling perbatasan desa dan juga gerbang masuk utama. Malam itu, Morino bertanggung jawab atas keamanan. Akan ada banyak penduduk yang meninggakan rumah dan berkumpul di lapangan saat perayaan berlangsung.

Sementara itu..., Di dalam kediaman keluarga Nara. Gaara dan Kankuro menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan menuju Sunagakure. Mereka akan melaksanakan misi setelah api unggun dibakar pada akhir perayaan. Gaara membuka sarung pedangnya, termenung seorang diri saat melihat nama ayahnya terukir pada gagang pedang. Mengingat masa lalu, saat sang ayah membawanya ke Konoha. Ia sudah menjadi bagian dari desa ini, menjadi penduduk Konohagakure.

"Apa yang kau pikirkan?" Kankuro berdiri di pintu, memecah lamunan sang adik. Ia pun mendekat, "Mereka akan menyiapkan kuda di depan gerbang utama." terangnya. "Setelah api unggun dinyalakan, kita langsung berangkat."

Gaara tidak mengatakan apapun, melihat sekali lagi ukiran nama sang ayah lalu ia menutup pedang itu, "Apa kita harus melakukan ini?" nada suaranya tenang dan dalam.

"Sudah sepantasnya kita membalas budi." jawab Kankuro. "Ingatlah kematian ayah. Bersyukur Konoha menerima kita dengan baik."

Ingatan Gaara menoleh ke belakang, tangisan kakak perempuannya terdengar saat seseorang memberi kabar bahwa kepala desa Konohagakure tewas bunuh diri. Kematian ayah mereka masih menjadi misteri hingga saat ini.

"Setelah bertahun-tahun lamanya. Akhirnya Suna mengingat kita." ucap Kankuro. "Aku tidak akan melewatkannya begitu saja." Ia melangkah pergi, meninggalkan Gaara terdiam seorang diri.

.

.

Suasana gembira menutupi ketegangan yang tengah menyelimuti Konoha. Sebagai kepala desa, Minato tetap waspada sementara penduduk bersuka cita. Tidak berhenti ia menerima laporan yang terkait dengan situasi saat ini. Pria itu memandang desanya di balik kaca jendela. Germelap lampion yang menyebar tampak bagaikan hamparan bintang yang berjatuhan. Berharap perayaan malam ini akan berjalan dengan baik, begitu pula seterusnya.

Di dalam keheningan, Sakura berdiri di depan cermin, memandang dirinya terbalut dalam gaun sutra, perpaduan antara merah muda dan ungu memperanggun tubuhnya. Gaun yang dipakai ibunya semasa gadis, masih tersimpan rapi di dalam lemari. Malam ini, Sakura memutuskan memakai gaun tersebut, ia menyanggul rambut dan mengikatnya dengan tali merah. Wajahnya yang polos terlihat cantik walau tanpa riasan. Elf mengintip dari anak tangga, ia menghampiri Sakura saat gadis itu beranjak dari depan cermin dan duduk di tepi ranjang. Sakura menghela nafas dan menunduk, mendapati semangatnya yang kian menghilang. Ia memandang tali pemberkatan yang masih terlingkar di jari kelingkingnya. Meyakinkan diri sendiri bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak bergantung pada bunga yang akan ia berikan pada sang pujaan hati. Gaara telah membagikan tali merah itu padanya, jika ia ingin membalas, mawar lain pun tak jadi masalah.

Sakura pun menoleh, melihat mawar merah yang tergeletak di sampingnya, ia mendapatkannya dari Kizashi. Sang ayah langsung mencarikan bunga pengganti begitu mengetahui apa yang terjadi. Sakura tersenyum tipis di dalam kekecewaan. Elf mendekat dan menyentuh pipi gadis itu, mengalihkan perhatiannya, mencoba berkomunikasi walau Sakura tidak mengerti. Tiba-tiba bunyi ketukan pintu terdengar, elf langsung bersembunyi di balik lentera kamar. Kizashi menampakkan wajahnya saat pintu terbuka. Ia masuk, menghampiri Sakura dan duduk di samping anak gadisnya.

"Putri ayah sangat cantik." pujiannya melengkungkan bibir Sakura.

"Apa ayah juga akan melihat perayaan?"

Kizashi menggeleng. "Tidak. Ayah akan menunggu rumah." ia terdiam sejenak, lalu kembali melihat putrinya. "Wajah ibumu akan terus terniang di dalam kepalaku jika aku pergi ke sana." Kizashi tersenyum, menyinggung masa lalu. "Ya, walau setiap detik aku selalu mengingatnya." ia mengedikkan bahu, membuat Sakura tersenyum lagi.

"Ayah punya sesuatu untukmu." Kizashi mengeluarkan kotak kayu berukuran mini dari dalam saku celana. Perhatian Sakura mengalih, melihat Kizashi membuka kotak tersebut. Sabuah kalung terlihat, batu kristal berbentuk kelopak bunga Sakura menjadi bandulnya. Jernih dan bercahaya, batu itu seakan memancarkan kemurnian hati.

Sakura terpaku dibuatnya. "Dari mana ayah mendapatkannya?" tangannya bergerak, jemarinya menyentuh permukaan kristal itu.

"Ini milik ibumu. Kuberikan padanya saat perayaan suci Greenoch." Sakura langsung memandang wajah sang ayah, "Aku melamarnya." Kizashi tersenyum malu. "Sebenarnya, dulu ayah juga menghilangkan tali pemberkatan sama sepertimu." penyataan itu cukup mengejutkan Sakura. "Ayah memberikan ini sebagai gantinya, mengikat hubungan kami. Ayah rasa tidak ada bedanya. Hahaha..." Kizashi tertawa sambil menggaruk belakang kepala. Obrolan mereka terdengar oleh Sasuke, pria itu berdiri di ujung tangga loteng, menahan niatnya untuk turun ke bawah.

"Nah, kami ingin kau memakai kalung ini." Kizashi mengambil kalung tersebut dan mengenakannya pada Sakura. "Ibumu pasti senang." Kizashi menyentuh wajah ayu putrinya.

"Terimakasih ayah..." Sakura bergerak memeluk Kizashi. Merasakan kasih sayang yang tidak tertandingi di dunia ini.

"Tersenyumlah sayang, malam ini akan menjadi sangat indah." Kizashi membelai kepala putrinya. Keduanya melepas pelukan saat Sasuke menuruni tangga. Suara langkah kakinya membuat Sakura dan Kizashi menoleh.

"Sasuke. Apa kau juga ingin datang ke perayaan?" tanya Kizashi. "pergilah bersama Sakura."

"Aa. Aku akan tetap berada di sini." wajahnya yang datar menunjukkan bahwa ia tidak berniat melihat perayaan.

"Em, baiklah kalau begitu." Kizashi pun berdiri. "Kau bisa bermain catur denganku." ia beranjak meninggalkan kamar. "Ayah akan menunggumu di teras sayang..." sosoknya menghilang setelah melewati pintu.

Sasuke mendekat pada Sakura dan berdiri di hadapan gadis itu. Keduanya saling menatap muka dalam keheningan. "Bagaimana keadanmu? merasa lebih baik?" Sakura"

"Aa." Sasuke menoleh, melihat elf keluar dari tempat persembuyian.

"Baguslah." Sakura mengangguk. Suaranya terdengar lesu walau gadis itu berusaha tersenyum. Sekejap Sasuke melihat mawar merah di samping Sakura.

"Semua bunga yang kutanam layu." terang gadis itu, ia bergerak mengambil mawar itu. "Semuanya sia-sia." Sakura merunduk dan tersenyum kecut. "Aku tahu, bunga itu bukanlah segalanya..." ucapnya, "Tapi aku..." suaranya tenggelam, sulit berkata-kata. "Belum pernah aku merasa sekecewa ini." gadis itu mengangkat wajah dan...

Seketika kedua matanya melebar

Di hadapannya. Setangkai mawar putih merekah indah dalam genggaman Sasuke. Apa ini nyata? Sakura begitu terpaku hingga tidak bersuara. Darimana? darimana Sasuke mendapatkan mawar ini? Sakura mendangak, melempar tatapan tanya.

"Kau..."

"Ambilah." kata Sasuke, "Ini milikmu."

Ekspresi Sakura bingung, menatap setangkai mawar tepat di depan mata. Ini bagaikan mimpi. Seketika bayang-bayang impian menjemput kembali. Perlahan Tangan Sakura bergerak mengambil mawar itu, menerima pemberian Sasuke. Elf pun mendekati mereka, melayang di hadapan Sakura dengan senyuman.

"Terimakasih..." gumam Sakura, suaranya begitu pelan saat merengkuh mawar itu ke depan dada. "Terimaksih." ucapnya kembali, melempar tatapan hangat pada Sasuke. "Terimakasih!" Sakura berdiri dan melompat, memeluk Sasuke dengan girang.

"Terimakasih banyak Sasuke!" begitu bahagia sehingga ia lupa.

"Sakura..." Sasuke merintih, menahan perih luka dalam pelukan yang erat.

"Ah maaf!" Sakura sadar dan langsung melepas rengkuhannya. "Aku lupa..." ia menyentuh dada Sasuke. "Maaf, aku..., aku tertalu bahagia. Sungguh..." ucapnya. Melempar senyuman di dalam penderitaan Sasuke. "Bagaimana kau mendapatkan mawar ini?" Sakura begitu antusias. Keceriaan gadis itu kembali menghias wajahnya.

"Elf melakukannya untukmu." jawab Sasuke, Sakura pun langsung menoleh pada peri itu. "Dia mencoba menghidupkan kembali mawar milikmu."

"Ooohhhh..." Sakura mengulurkan tangan sehingga elf hinggap dia atas telapaknya. "Terimakasih..." ucapnya. "Kau peri penyelamatku..."

elf menggeleng, ia menoleh ke belakang dan menunjuk ke arah Sasuke. Mencoba mengatakan bahwa semua ini bukalah usahanya seorang diri. Sakura pun memandang Sasuke. Mengucapkan terimakasih melalui senyuman.

DUM!

Di saat bersamaan dentuman tabuh terdengar. Sakura maupun Sasuke menoleh ke arah jendela. Tanda perayaaan akan segera dimulai. Saatnya meninggalkan kamar. Satu hal lagi. Sasuke menyodorkan seuntas tali merah sebelum Sakura beranjak pergi, membuat perhatian gadis itu terpaku untuk kedua kali.

"Ini..." Sakura mengambilnya, tali merah yang sempat ia ikatkan pada mawar terakhirnya. "Terimakasih..." Sesuatu timbul di benaknya.

Sakura meraih tangan Sasuke, mengikatkan tali tersebut pada pergelangan tangan pria itu. "Kau yang menemukan tali ini sebelumnya." kata Sakura. "Lalu, untuk pertama kalinya kau datang padaku, mengembalikan tali ini." gadis itu mengatakan apa yang teringat. "Dan sekarang, aku akan memberikannya untukmu." Sakura tersenyum. "Aku ingin membaginya... kebahagianku padamu." Keduanya saling memandang dalam diam.

"Selamat hari perayaan Greencoh. Semoga kau selalu diberkati."

Saat itu, Sasuke menahan tangan Sakura" Langkah gadis itu pun berheti, Ia menoleh dan mereka saling menatap. Melempar pandang tanpa kata. Perlahan Sasuke mendekat, merengkuh tubuh Sakura. Memeluknya. Dalam dekapan yang mendebarkan jantung Sakura seketika. Ada apa? Kenapa? gadis itu terpaku, mempertayakan arti pelukan ini. Sasuke tidak mengatakan apapun, terpejam sangat angin malam menerobos masuk melalui jendela.

"Sasuke?" nada Sakura cukup ragu mematahkan kebisuan Sasuke. "Aku harus pergi sekarang." ucap gadis itu, menunggu hingga akhirnya Sasuke melepas pelukannya. Keduanya berpandangan kembali. Emerald Sakura tak kuasa bertahan lama, segera menyingkir dari kedua onyx tajam itu. Rasanya aneh, sesuatu menjalar di dalam tubuhnya.

"A-aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa." Sakura memalingkan muka dan beranjak pergi, melewati tempelan sketsa di dinding, meninggalkan kamar dengan langkah terburu, membawa setangkai mawar miliknya dengan pipi yang memanas. Detak jantungnya tidak mereda, bahkan saat ia berpamitan pada Kizashi di teras rumah.

"Ayah aku pergi."

"Selamat merayakan tahun pertamamu sayang." ucap Kizashi. "Bersenang-senanglah."

Sakura mengangguk, ia mencium pipi sang ayah lalu melangkahkan kakinya turun dari teras. Kizashi langsung mengambil gayung dan menyiramkan air ke depan halaman. Menantikan kabar baik saat putrinya kembali nanti.

"Sakura... Kau sangat cantik." puji bibi tetangga, bertemu tepat di depan jalan rumah, arah tujuan mereka sama.

"Hati-hati." sambung pria setengah baya di sebelah mereka, suami bibi tersebut. "Akan ada banyak panah cinta tertuju padamu." godanya. Sakura tersipu, ia tersenyum dan tertunduk malu, membelakangi pandangan yang tengah tertuju padanya. Sasuke dan elf berdiri di hadapan jendela loteng, memperhatikan Sakura hingga jangkauan pandang kian menjauh.

.

.

Tiba di depan jembatan. Langkah Sakura berhenti. Disuguhkan kobaran obor yang akan mengiring langkahnya menuju lapangan Konoha. Orang-orang berdatangan. Para gadis membawa setangkai mawar sepanjang mata melihat, merias diri mereka seanggun kelopaknya. Perasaan yang bergejolak, terkumpul di dalam hati Sakura bagai bom waktu. Menanti cukup lama hari ini, sejak ia menyaksikan kemeriahan suasana perayaan hanya dari jendela kamar dari tahun ke tahun.

Sakura bertemu Ino di atas jembatan, mereka saling menyapa lalu melangkah bersama menuju lokasi. Ino mengenakan kostum penari, gaunnya bewarna ungu tua begitu pula dengan selendangnya. Penampilannya bagai bidadari, menarik banyak lirikan tertuju padanya, dan juga pada wajah Sakura yang tampak mempesona tanpa mengenakan masker, gadis itu membawa sapu tangan, untuk berjaga-jaga dalam kondisi udara malam.

"Wah..., kau berhasil menumbuhkannya." Ino melirik mawar Sakura.

"Ah ini..., Ya, aku bersyukur."

"Tidak sia-sia kau memperjuangkan segalanya." sindiran itu berarti dalam. "Ngomong-ngomong, gaunmu indah. Aku belum pernah melihat ini sebelumnya..."

"Milik ibuku. Apa aku terlihat aneh?"

"Cocok denganmu. Kau tampak cantik di depan Gaara." Ino mengedipkan sebelah mata. Sakura tersipu dan menepuk lengan gadis itu.

Naruto tiba, menampakkan dirinya bersama para pria lainnya. Pandangan Pemuda itu tertuju ke depan, menangkap sosok yang ia kenal di depan seorang gadis berselendang merah yang menutupi pandangannya. Naruto pun memiringkan kepala, mencari jalan pandang untuk memastikan apa yang ia lihat dari kejauhan. Gadis dengan rambut mencolok, merah muda, melekat pada identitas Sakura tanpa harus menebaknya.

"Ino! Sakura!"

Seseorang memanggil dari kejauhan. Seketika Sakura dan Ino menoleh. Siulan tertuju pada Tenten saat ia melewati Naruto beserta para pria dengan langkah cepat. Ia ceroboh, tak sengaja menyenggol gadis yang sejak tadi menutupi pandangan Naruto. Bunga mawar yang ia genggam pun terjatuh.

"Ah, maaf Hinata!" keduanya sama-sama merunduk, mengambil mawar milik Tenten. Para pria melewati kedua gadis itu, tanpa sengaja Naruto menginjak selendang Hinata, gadis itu tertahan saat ia hendak berdiri. Seketika Langkah Naruto tersendat dan ia menoleh.

"Maaf!" serunya.

"Ha..! kau membuat selendangnya kotor..." tegur Tenten. Hinata menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya. Naruto langsung meraih selendang gadis itu dan membersikan bagian yang kotor. Sakura dan Ino memperhatikan mereka dari kejauhan, mereka pun melanjutkan langkah duluan.

"Maaf, aku tidak melihatnya." ucap Naruto, penasaran dengan wajah Hinata. Bukan pertama kalinya mereka bertemu.

"Ti-tidak masalah." Hinata langsung melangkah, meninggalkan Naruto dan Tenten tanpa melihat ke arah mereka. Sebelah alis Naruto terangkat, memandang Hinata yang berjalan seorang diri. Seingatnya, gadis itu selalu sendiri, sejak ia melihat Hinata di upacara pembersihan suci hingga saat ini.

"Lain kali perhatikan langkahmu." tegur Tenten,

"Aku tidak sengaja..." Naruto membela diri.

"Kau menginjak selendang bidadari. Sesuatu bisa terjadi padamu." Tenten melengos pergi dan Naruto hanya memasang wajah datar.

.

.

Penduduk yang berdatangan meramaikan area lapangan. Puluhan lampion menghiasi tempat itu, begitu pula dengan rangkaian bunga yang mempercantik suasana. Seperti apa yang selalu disajikan setiap tahunnya, Lapangan Konoha yang tampak monoton disulap menjadi tempat yang menarik. Di sana, Tertata area secara melingkar. Wilayah dibagi menjadi dua bagian yang dibatasi oleh pagar obor. Setengahnya dijadikan tempat khusus bagi para peserta upacara suci. Memisahkan mereka dengan penduduk yang ikut menyaksikan perayaan itu. Gundukan kayu bakar tersusun tinggi tepat di tengah-tengah lapangan, yang dijadikan sebagai pusat acara maupun pertunjukkan. Pukul tengah malam nanti, api unggun akan dinyalakan oleh para peserta upacara suci sebagai penutup perayaan.

Emerald Sakura berbinar, kagum dan juga sedikit menyesal. Bagaimana bisa ia melewatkan tahun-tahunnya begitu saja? tidak mengikuti upacara suci adalah keputusan yang sangat disayangkan ketika ia beranjak dewasa. Tahun ini, adalah awal dari segalanya. Sakura membaur bersama suasana. Padangan gadis itu mengedar, mencari sosok yang dinanti, menelusuri setiap sudut dimana pria berambut merah menampakkan diri. Itu dia. Sakura menemukannya, Gaara baru saja tiba bersama Kankuro, mereka bergabung bersama para pria. Para wanita melihat ke arah pemuda itu, bisik kekaguman membaur bersama suara tumpang silir. Kekehan sekelompok gadis terdengar. Ino pun menoleh, melihat Yugao tersipu malu di antara teman-temannya, membidik pandang ke arah subjek yang sama dengan Sakura. Sabaku Gaara. Pemuda itu membuat Sakura tidak menghiraukan sekitarnya, ia berdiri diantara orang-orang, terus memperhatikan Gaara hingga pandangan mereka bertemu. Gaara melambaikan tangan dan tersenyum. Rasanya... Jantung Sakura seakan melebur, terbakar bersama percikan api.

'Wahai pujaanku, Hatiku lumpuh... membisu di dalam pusaran waktu. Aku menunggu hingga saat ini. Akan ku ungkapkan, apa yang tersimpan di hati.'

Gaara memalingkan pandangan ketika seorang pria mengajaknya berbicara. Sakura tersenyum, mengangkat mawar miliknya. Waktu kian mendekat, mengikat hatinya bersama musim semi.

Gemuruh pukulan tabuh menandakan perayaan Greencoh dimulai. Semua orang berkumpul di lapangan, mengambil posisi tempat duduk yang nyaman sementara ada pula yang memilih berdiri. Semua muda-mudi peserta upacara suci duduk dalam satu area. Kecuali beberapa orang seperti Kakashi, Yamato, dan para bujang berusia matang lainnya, mereka berdiri di bagian belakang, menjadi peserta wajib sekaligus menjaga keamanan sekitar. Obor mengelilingi wilayah mereka, dan juga tali merah yang diikatkan diantara tiangnya. Tradisi itu dilakukan sebagai perlindungan, sama seperti tali pemberkatan yang terpasang di setiap pergelangan tangan peserta upacara suci. Kecuali Gaara dan Sakura, sesuatu terjadi sehingga kedua orang itu mengikat tali pemberkatan pada jadi kelingking mereka.

Sakura duduk di antara Tenten dan Ino. Sedangkan para pria duduk di barisan depan. Rambut kuning Naruto menyala bersama pantulan cahaya obor, menjadikannya paling mencolok diantara pria yang lain. Sakura memandang pemuda jabrik itu, Naruto tenang saat mendengarkan ayahnya memberi kata sambutan di tengah-tengah penduduk Konoha. Suara Minato lantang. Namun... juga terdengar lembut. Kehangatannya membuat ia dicintai. Menjadi pemimpin desa yang dipercaya, terbukti saat semua orang memperhatikan apa yang ia ucapkan dengan seksama. Kushina juga ikut hadir, ia duduk di barisan depan pada aera lain.

Sakura menyenggol lengan Ino, "Kemana kau melihat?" mendapati gerak-gerik gadis itu mencuri pandang ke arah Sai yang duduk di sebelah Naruto.

Ino pun melirik Sakura dari sudut mata, "Berisik. Perhatikan kepala desa berbicara." Ia memalingkan wajah Sakura dengan telunjuk jarinya, membuat emerald gadis itu beranjak memandang punggung Gaara untuk kesekian kalinya.

"Semoga, desa kita selalu diberkati. Jaya Konoha!" minato mengepalkan tangan ke atas beserta seruannya..

"Jaya Konoha!" sahut semua orang serempak, terutama seruan para pria. Membuyarkan lamunan Sakura dalam sekejap.

Tepuk tangan meriah mengakhiri sambutan Minato. Sekelompok pemuda lalu berdiri, Naruto dan lainnya memisahkan diri dari peserta lainnya. Begitu pula dengan beberapa gadis berkostum penari, termasuk Ino dan juga Hinata yang duduk tidak jauh dari Tenten. Mereka berkumpul di belakang keramaian.

Pertunjukan dimulai. Alat musik dimainkan, bunyi kecapi menggiring para penari memasuki area tengah. Sepuluh bidadari Konoha..., menyampirkan selendang mereka bersama melodi malam yang mendayu, menampilkan tarian gemulai yang menyatukan semua perhatian orang. Sakura menikmatinya dengan wajah kagum. Tersirat di benaknya, tahun depan, ia juga ingin bergabung bersama kelompok penari. Suara kecapi menyatu bersama irama alat musik lainnya. Alunan seruling yang merdu memperdalam tarian bersama kibaran selendang sutra. Memiliki makna di setiap gerakan ketika tarian tersebut menjadi awal pembuka sebuah kisah.

Di bawah cahaya bulan, obsidian Naruto terpusat. Di antara sepuluh gadis yang menari dengan anggun, sosok Hinata memetakan pandangannya, tubuh gadis itu bergerak luwes, selembut selendangnnya yang sempat terinjak sebelumnya. Bulu kuduk Naruto merinding, merasakan keanehan yang hadir.

Beberapa saat kemudian seorang wanita cantik bergabung, Yugao berdiri di tengah para penari, ia mulai menyanyikan sebuah lagu. Suaranya begitu merdu, menambah kekaguman orang-orang padanya. Mempersembahkan penampilan terbaik di depan pemudanya. Gaara tersenyum, memandang Yugao dengan wajah tenang, menyimpan sebuah arti saat keduanya saling memandang. Para penari pun mengitari Yugao, mereka lalu bernyanyi bersama.

"Mentari esok pagi, setetes embun jatuh membasai bumi..."

"Sepuluh bunga menari, mendampingi sinar mentari..."

Lalu, begabunglah seorang pria. Yamato. Sial karena ditunjuk sebagai pembawa cerita tahun ini, ia melempar tatapan malas pada senyuman tipis Kizashi. Yamato berdiri di tengah-tengah dan nyanyian pun berhenti, begitu pula dengan para penari, mereka menyingkir ke tepi dan Yamato pun mulai menceritakan sebuah kisah.

"Dahulu...!" suaranya lantang. Menjadikan ia sebagai pusat perhatian.

Tenten mendekat pada Sakura dan berkata, "Bumi begitu subur..." mengucapkan apa yang dikatakan Yamato. Menghafal kisah yang diceritakan setiap tahunnya.

"Kekayaan alam melimpah ruah. Manusia... hewan... dan tumbuhan saling melengkapi."

Suara musik pun menggiring sekelompok orang masuk. Dedauan menutupi hampir seluruh tubuh mereka. Sambil membawa jagak bambu setinggi dua meter, yang dipenuhi dedaunan serta ayaman padi kering membentuk lingkaran di bagian ujungnya. Pepohonan itu berputar-putar bersama boneka hewan yang terbuat dari jerami. Lalu berhenti di sepanjang sisi lingkar area pertunjukkan. Bunyi tabuh terdengar saat mereka menancapkan jagak pohon ke tanah yang sudah ditandai. Kemudian, musik pun berhenti.

"Waktu terus berlalu..." Yamato melanjutkan cerita, "Manusia menjadi serakah, mengambil semua yang diinginkan untuk kepentingan diri sendiri. Alam dirusak, mereka tidak perduli."

Dua orang pria masuk membawa Panah dengan kobaran api di ujungnya, mereka membidik ke arah lingkaran pepohonan. Api pun membakar segalanya.

"Lalu, pada suatu malam... datang bencana besaaaar!"

Tenten ikut mengucapkan apa yang dikatankan Yamato. Sakura pun melirik, "Ayolah, kau merusak bagian pentingnya." dengusnya. Tenten menampakkan deretan gigi dan kedua gadis itu kembali mengikuti jalan cerita.

"Gempa meluluh lantahkan semuanya! tidak ada yang tersisa! Mata air mengering, daun-daun berguguran... Bumi menjadi gersang..., orang-orang saling membunuh untuk bertahan hidup..."

Tiba saatnya Naruto, Gaara dan para pria lainnya tampil mempertunjukkan atraksi bela diri. Suara pedang saling terbentur. manusia saling menyakiti, menggambarkan bentuk kejahatan yang dikuasai oleh ketamakan. Para penonton terpukau, wajah Sakura begitu serius menyaksikan jalan cerita, terhanyut hingga ia bisa merasakan bagaimana kondisi saat itu. Naruto berhasil mengalahkan Gaara, hanya tersisa dirinya seorang diri, pemuda itu menancapkan pedang ke tanah dan berteriak. Aktingnya bagus dan Sakura mengakuinya di dalam hati. Suara musik pun berhenti, mempersilahkan Yamato melanjutkan cerita.

"Kian berlalu, Orang-orang pun mati kelaparan. Di dalam doa mereka berharap... akan turunnya hujan." Yamato mengangkat tangan, ia mendongak ke atas saat awan bergerak menutupi sinar purnama. Suara musik terdengar kembali, alunannya menyayat, mengiringi Yugao menyanyikan lagu penyesalan.

.

.

Dalam keheningan, Sasuke duduk di atas atap. Memperhatikan cahaya bulan yang meredup. Elf hinggap di bahu kanannya, melihat ke arah yang sama. Aungan serigala terdengar, Sasuke tahu persis dari mana suara itu berasal. Ia mejamkan mata, memahami pesan yang tersirat. Pria itu lalu menoleh ke arah barat, kemana tempat ia harus kembali. Greenoch memanggilnya, hembusan angin malam menyampaikan pesan itu. Sasuke lalu berdiri. Kedua kakinya menjauh dari pijakan, pria itu melayang ketika satu sayap keluar dari punggungnya. Sasuke terbang ke atas, mendekati benteng mantra Konoha sementara elf menunggunya di atap. Sasuke menyentuh pelindung itu dengan jari telunjuk, seketika percikan api menyengatnya. Ia pun turun menghampiri elf.

"Tak kusangka kau datang dengan sendirinya." tiba-tiba suara terdengar saat kaki Sasuke berpijak, pandangannya mengedar, tidak menemukan sumber suara itu.

Di dalam podoknya Hiruzen tersenyum, ia duduk di depan bola kaca, menampilkan sosok Sasuke dan juga elf. Wanita tua itu terpejam, berkomunikasi di tempat yang berbeda.

"Apa maumu?" Sasuke paham darimana suara itu berasal.

"Kau menyadariku..., aku mengetahui keberadanmu sejak lama." ucap Hiruzen, "Biar kuperjelas, roh penghuni Greencoh. Keberadanmu di sini untuk suatu tujuan."

"Itu tujuanmu, aku tidak berurusan dengan manusia." sahut Sasuke.

Hiruzen pun tertawa, "Lalu bagaimana dengan Sakura? gadis itu satu-satunya manusia yang terhubung denganmu. Dia begitu berarti hingga kau bersedia meninggalkan Greenoch dan tinggal di Konoha." Hiruzen menarik kesimpulan. Sasuke tidak menjelaskan apapun tentang bagaimana hingga dirinya berada di tempat ini.

"Kau melacakku." ucap Sasuke. "Kau menggunakan Sakura."

"Suatu kebetulan bukan? sayangnya kau menyadarinya begitu cepat." kata Hiruzen, mengingat ketika jejak Sasuke sempat menghilang dari pantauannya. "Cepat atau lambat, Kau akan membantu desa ini."

Sasuke mengerti ucapan wanita tua itu. "Aku tidak bertanggung jawab atas kesalahan manusia."

"Begitu?" Hiruzen menyengkram ujung tongkatnya. "Sepertinya aku akan memaksa." ia menghentakkan tongkatnya ke lantai. Seketika bola api muncul di hadapan Sasuke.

.

.

Angin bertiup. Sakura menoleh dan memandang ke arah timur. Sekejap merasakan sesuatu di benaknya. Seperti mendengar seseorang memanggil namanya. Ada apa? Apa semua baik-baik saja?

"Suatu malam, tetesan air membasahi bumi." cerita Yamato mengalihkan pandangan Sakura, gadis itu kembali mengikuti kisah lebih lanjut.

"Untuk pertama kali hujan turun...," Kata Yamato.

Beberapa orang datang memadamkan api pada cagak tumbuhan sebelumnya. Mereka menyiramkan air, diantaranya ada yang dengan sengaja menyipratkan ke arah peserta upacara suci. Sorakan muda-mudi menjadikan suasana semakin hidup. Sakura terkekeh melihat kejahilan itu, bersyukur ia tidak duduk di deretan depan.

"Tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi!" seruan Yamato meredakan suasana. "Tunas-tunas pohon tumbuh di berbagai daerah. Musim semi menjemput. Kehidupan baru pun dimulai kembali." ia melanjutkan cerita lebih dalam.

"Dan pada suatu hari..., Di suatu tempat, sepasang anak kecil, laki-laki dan perempuan. Mereka menemukan satu pohon Sakura di lembah pegunungan." Yamato terdiam, jedanya membuat penonton menyimak lebih antusias, begitu pula dengan Sakura.

"Mereka berteduh di bawah pohon tersebut. Menahan haus selama perjalanan. Lalu..., mata air muncul dihadapan mereka dan membentuk sebuah telaga. Tempat itu begitu subur..., segala tanaman tumbuh di sana dalam sekejap!" mimik Yamato memusatkan perhatian semua orang.

"Kedua anak itu pun memutuskan menjaga tempat itu. Mereka memberi sebuah nama. Greenoch! Tanah yang hijau... Tanah yang diberkati!" bagian itu menjadikan inti penting di dalam cerita.

"Waktu pun terus berlalu, peradaban muncul kembali. Kedua anak itu tumbuh dewasa dan hidup bersama. Beserta para keturunannya, mereka membentuk sebuah desa pertama bernama Konohagakure. Mata air Greencoh mengaliri desa itu. Desa yang hijau, Kesuburan yang berlimpah ruah."

Cerita berakhir. Yamato memberi salam dan tepuk tangan meriah menjadi satu bersama alunan musik. Sebuah kisah yang menjadi bagian penting di dalam perayaan, untuk selalu mengingatkan seluruh penduduk Konoha akan leluhur mereka. Sebuah lagu lalu dinyanyikan bersama-sama, melantunkan sajak alam untuk selalu melestarikan apa yang sudah diberikan untuk manusia.

.

.

Kilatan petir menyambar di atas atap rumah Kizashi. Sasuke bertahan, berusaha untuk tidak merubah wujudnya saat Hiruzen terus menekan dengan berbagai mantra. Elf tersungkur lemah, tidak berdaya saat mencoba ikut melawan, bola api Hiruzen mengenai tubuh peri mungil itu. Kedua sayapnya hangus, sinarnya pun mulai meredup. Sasuke melihat ke arah elf, ia berdecak, berharap peri itu bisa bertahan. Keadaan ini harus segera berakhir. Sasuke terus mengelak serangan. Berusaha menjauh dari atap agar tidak membuat kehebohan bagi Kizashi yang tengah duduk di depan perapian ruang tengah sambil membaca buku. Dan juga, menghindari para penjaga yang sedang berkeliling desa.

"Menyerahlah..." ucap Hiruzen. Bola-bola apinya bergabung menjadi satu dan memanjang, menyambar dengan cepat.

Tidak ada pilihan lain. Kedua onyx Sasuke berubah menjadi merah, Kuku-kuku tangannya memanjang. Kilatan petir muncul di sela-sela jarinya. Sasuke tahu, Tubuhnya belum cukup kuat untuk mengeluarkan kekuatan. Sedikit perubahan wujudnya sangat diperlukan dalam situasi ini. Ia harus bertahan, bahkan saat luka di dadanya mulai terasa nyeri. Sengatan petir siap menyambar ketika sasuke maju ke depan dan mengayunkan tangan.

DEG!

Seketika dada Sasuke berdenyut, ia berhenti, serangannya pun terputus. Sial, mengapa di saat seperti ini? tanda hitam pada leher Sasuke menyebar dengan cepat, rasanya begitu perih sehingga Sasuke sulit untuk bergerak sementara api Hiruzen menuju kearahnya. Sasuke menyilakan kedua tangan ke depan, membuat pertahan diri. Tiba-tiba ledakan kecil terjadi, di saat bersamaan Hiruzen terpental dari kursinya, ia tersungkur ke lantai cukup keras. Dalam rintihan, wanita itu pun tidak sadarkan diri.

Masih dalam posisi yang sama, Sasuke menurunkan kedua tangannya setelah ledakan barusan terjadi. Tidak terjadi apapun padanya. Sesuatu telah melindunginya, namun tidak terpikirkan olehnya jika hal itu itu berasal dari dirinya sendiri. Tampaknya serangan Hiruzen berhenti, mantra api yang menyerangnya telah menghilang. Sasuke pun mengangkat pergelangan tangan, menatap tali pemberkatan yang Sakura berikan. Kemudian ia turun ke atap. Sayapnya menyusut, kedua onyx kelamnya kembali. Berubah ke wujud semula walau tanda hitam di sekitar lehernya tidak menghilang. Masih terasa sakit, dengan langkah terbata ia mendekati elf dan mengangkat peri malang itu.

.

.

Suasana hening ketika seorang biksu-sama berdiri di hadapan semua peserta upacara suci. Acara inti dimulai. Beberapa orang kembali ke tempat mereka, termasuk Naruto dan juga lainnya. Tidak ada yang bersuara ketika biksu itu menyipratkan air yang diambil dari telaga suci Geenoch ke depan para peseta pembersihan. Kemudian doa pun mulai dibacakan. Berharap agar desa mereka selalu makmur nan damai, semua orang selamat dan upacara pembersihan suci dapat terus dilaksanakan tahun depan dan seterusnya.

Kemudian biksu itu memotong tali merah yang melingkari area peserta, sekaligus sebagai tanda bahwa tali pemberkatan yang melingkar pada pergelangan tangan mereka dapat dilepas mulai dari sekarang. Semua orang tersenyum, mengucapkan rasa syukur satu sama lain.

Semua orang pun berdiri. Tiba saat dimana api unggun akan dinyalakan. Para penduduk mundur ke belakang, memberi tempat para peserta pembersihan suci untuk melingkari api unggun. Sebagai akhir dari acara perayaan, Lima muda-mudi yang telah ditunjuk sebelumnya maju ke depan, salah satunya adalah Naruto, sedangkan yang tertua adalah Kakashi. Kelimanya membawa obor, berdiri di hadapan gundukan kayu yang tinggi. Sakura berdiri persis di seberang hadapan Gaara. Pandangan mereka bertemu dan keduanya saling melempar senyum. Jantung Sakura berdebar, menunggu saat penting yang kian mendekat.

"Hidup Konoha!" seru Kakashi, semua peserta menyerukan kata-kata yang sama. Serempak Kelima pemegang obor pun menyalakan api unggun.

.

.

Kobaran api merambat dengan cepat. Api menyala tinggi, kian menerangi area lapangan. Para peserta pun beranjak dari depan api unggun, Sakura bingung saat Ino dan Tenten langsung menariknya, mereka belari, menuju lampion yang digantungkan di sekitar lapangan, muda-mudi berlomba untuk mendapatkan lampion mereka dan melepasnya ke udara, Dikhususkan hanya bagi para perserta dan suasana itu sangat menarik untuk disaksikan para penduduk yang berdiri di sekitar pinggir lapangan. Lebih dari seratus lampion terbang, cahaya memperindah suasana Konoha.

Suasana membaur, Naruto bergabung bersama para pria mengitari api unggun sambil bersorak-sorak. Sepertinya para pria itu melewatkan moment untuk menemui sang pujaan hati seperti yang dilakukan sebagian bersar muda-mudi lainnya saat ini. Suasana ramai walau sebagian penduduk beranjak pulang. Para pasangan saling bertemu, melakukan tradisi yang sangat dinantikan. Menukarkan tali pemberkatan bagi mereka yang saling tertarik ataupun dengan usaha memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati. Pandangan Sakura mengedar, mencari Gaara di antara kerumunan orang. Ino dan Tenten memisahkan diri darinya, memberi kesempaan Sakura untuk menjemput impiannya. Langkah gadis itu berhenti, menemukan siapa yang ia cari.

Namun, sesuatu memusatkan perhatiannya... Gaara tidak seorang diri, Yugao berada di sampingnya. Sakura terpaku, sekejap suasana membisu.

"Sakura!" tiga orang gadis memanggilnya. Seketika Gaara menoleh mendengar nama itu disebut, mendapati Sakura berdiri tidak jauh dari mereka.

"Dimana Sasuke? apa dia tidak datang ke perayaan?" tanya ketiga gadis yang sama, untuk kedua kalinya mereka menanyakan keberadaan Sasuke seperti tadi pagi.

Sakura menoleh, "Dia..., tidak datang." ia kembali memandang Gaara, tidak bisa memfokuskan pikirannnya. Ketiga gadis itu pun berlalu pergi tanpa mengatakan apapun. Sakura terpaku di tempat, ingin mendekati Gaara dan Yugao namun ketakutan mulai mengintip niatnya.

"Aku akan menunggumu." Yugao menyentuh lengan Gaara. Sudah terduga, semua ini akan terjadi. Gadis itu melihat Sakura sekejap, ia beranjak pergi dengan senyum tipis terukir di wajahnya. Memberi kesempatan Gaara untuk berbicara pada gadis yang siap patah hati.

Gaara pun mendekati Sakura, mereka saling memandang dalam jarak dua langkah. Pemuda itu tersenyum, tidak menyadari apa yang tengah terjadi. Perhatian Sakura terfokus, pada setangkai mawar merah dalam genggaman Gaara. Debar Jantungnya memacu lebih cepat dari sebelumnya, mungkin saja akan berhenti. Sakura tidak mengatakan apapun. Berat, mulut ini membisu, lidahnya kelu.

"Sakura..." Gaara melihat mawar putih dalam genggaman gadis itu. Untuk siapa mawar itu akan diberikan? Sulit membuka percakapan saat melihat ekspresi wajah Sakura, sesuatu telah melukai gadis itu.

"Aku..." ucapan Sakura tersendat, melihat tali pemberkatan yang terlingkar di jari Gaara telah terlepas. Lalu, pada siapa tali itu diberikan? Sakura takut memikirkan jawabannya. Nyalinya sirnah, ditelan kekhawatiran yang mulai membayangi pikiranya. Ingin ia lenyap dari hadapan Gaara. Namun.., hati kecilnya meminta penjelasan.

"Tali itu..." Sakura mengatakannya. Gaara pun paham apa yang gadis itu maksudkan.

"Ah, taliku..." Gaara mengusap belakang lehernya, cukup canggung untuk menjelaskan apa yang terjadi malam ini. "Yugao dia..."

Sesuatu menghujam jantung Sakura bagai lesatan anak panah beracun.

Sakit, menyebar ke seluruh tubuhya dalam sekejap. Sakura melangkah mundur dan Gaara pun menghentikan kalimatnya. Memandang kekecewaan pada wajah gadis itu.

Hal ini tidak mungkin terjadi...,

Gaara pun menyadari sesuatu. Ekspresinya berubah, badai bunga di hatinya terusik oleh rasa khawatir.

"Sakura." pemuda itu mendekat, seiring langkah Sakura yang bergerak mundur.

"Jangan katakan..." Sakura menggeleng, tidak ingin mendengar sesuatu dari mulut Gaara.

Dari kejauhan Naruto mendekat. Pemuda itu memisahkan diri dari kerumunan pria yang masih bersorak-sorak riang di dekat api unggun. Langkah Naruto berhenti, memandang Sakura dan Gaara dalam kebungkaman. Ia tahu..., bahwa dirinya terlambat. Akan tetapi, apa yang tengah terjadi di hadapannya mengundang simpati.

"Sakura aku..."

"Jangan!" seru Sakura. "Aku tidak ingin mendengarnya..." air matanya mulai berliang. Sulit untuk menahan kumpulan gejolak yang menerjang. Gadis itu mengangkat tangan, tergesa untuk melepas tali pemberkatan yang Gaara ikatkan di jari kelingkingnya. Sakura lalu melangkah maju, menyaut tangan Gaara dan mengembalikan tali itu padanya. Tanpa mengatakan apapun, Sakura langsung beranjak pergi. Ia berlari, meninggalkan jejak air mata yang sempat terekam kedua mata Gaara.

"Sakura!"

"Gaara..." Kankuro memanggil saat adiknya hendak mengejar gadis itu. Gaara menghentikan langkah dan berbalik. Raut wajahnya tampak khawatir.

"Saatnya kita pergi." ajak Kankuro. Gaara pun menoleh ke depan, melihat Sakura semakin menjauh.

Air mata Sakura menetes. Waktu seakan berjalan mundur, mengumpulkan kembali memori saat ia memperjuangkan segalanya. Saat dimana benih bunga tumbuh ketika pertama kali ia mengetahui sosok Gaara. Hingga saat ini, perasaan itu masih kuat. Namun... mengapa? apa arti semua ini? kedekatan mereka, kebaikannya..., apakah karena ia terlalu berharap? terlalu percaya diri, mengejar angan-angan yang belum pasti. Patah hati, rasanya sesakit ini...

"Sakura?" Ino menoleh saat gadis itu melewatinya, ia berdiri di samping Sai. Obrolan mereka baru saja terjadi ketika Sakura menampakkan diri dengan air mata, gadis itu berlari semakin kencang, melewati lalu lalang orang. Dalam cengkraman kuat ia membawa setangkai mawarnya, menghiraukan tajamnya duri, menggores luka di tangannya.

Sakura berhenti di tengah jembatan. Di sana.., para gadis yang belum menemukan tambatan hati menghanyutkan setangkai mawar yang diikat dengan tali pemberkatan milik mereka. Menghanyutkan harapan bersama arus air. Semoga di kemudian hari... cinta akan menjemput di lain kesempatan. Tradisi itu selalu dilakukan sebelum kembali ke rumah. Sakura berdiri, menghadap sungai di hadapannya. Ia mengangkat mawar miliknya, merasakan perih saat merenggangkan genggaman tangan. Darah mengalir, melumuri tangkai mawar dari duri yang melukai telapak tangannya. Tidak seberapa, jika dibanding dengan rasa sakit yang ditimbulkan dari goresan hati.

Gemuruh langit terdengar, menggiring awan bergerak menutupi sinar rembulan. Sakura mengangkat mawar itu, hendak membuangnya ke sungai.

Tidak berarti lagi. Semua sudah berakhir.

Namun..., tubuhnya menolak, terlintas semua perjuangan yang telah ia lalui. Dalam kebimbangan, Sakura menyengkram tangkai mawar itu lebih kuat. Darah mengalir lebih banyak, melumuri pergelangan tangan hingga menetes ke bawah. Sakura pun menarik niatnya. Ia meninggalkan jembatan dan membawa pulang kesedihannya.

.

.

Suasana masih tampak ramai walau Orang-orang mulai meninggalkan lapangan. Naruto berdiri di hadapan api unggun, melepas tali pemberkatan di pergalangan tangan. Tahun ini berjalan seperti biasa, ia akan membakar tali pemberkatan miliknya bersama kobaran api. Seperti tradisi yang ada, sama seperti yang dilakukan para pria lainnya yang tidak menukarkan tali mereka. Dalam benaknya ia mengingat wajah Sakura, meyakinkan diri sendiri bahwa hubungan mereka memiliki batas. Gadis itu..., saat ini pasti sedang menangis di suatu tempat. Seperti saat-saat dimana ia meminjamkan bahunya, menepuk pundak Sakura untuk menjadi lebih tegar. Namun..., tidak untuk malam ini. Biarlah semua mengalir apa adanya.

Naruto pun mengangkat tangan setinggi dada, hendak melempar tali pemberkatan miliknya ke dalam api.

"Jangan!"

Seorang gadis berseru, membuat Naruto terkejut dan melepaskan talinya hingga jatuh ke pinggiran api oleh tiupan angin. Naruto langsung menoleh, melihat Hinata mendekati api unggun dan berusaha menyelamatkan tali pemberkatan itu.

"Hei! apa yang kau lakukan!" Naruto langsung menarik lengan Hinata, menjauhkan gadis itu dari bahaya kobaran api. Tubuh Hinata terhempas dalam rengkuhan Naruto. Pandangan mereka bertemu pada jarak sejengkal jari, keduanya saling memandang hingga Hinata menarik tubuhnya mundur ke belakang, wajahnya tegang, kedua bola lavendernya memancarkan kegugupan.

Hinata menunduk dan melihat genggaman tangannya, mendapatkan tali pemberkatan Naruto yang setengah hangus terbakar. Naruto tidak mengatakan apapun, masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Apa yang gadis itu lakukan?

"Hei, Kenapa kau..."

"Ma-maafkan aku!" Hinata memotong kalimat Naruto, memberanikan diri menatap pemuda di hadapannya. Hinata malu, ia pun mundur dan seketika Naruto menahannya. Setangkai mawar merah dalam genggaman Hinata langsung menghadap ke wajah Naruto saat tangan gadis itu tertarik ke depan. Keduanya saling memandang dalam kebisuan. Naruto tidak berniat melepaskan genggaman tangannya yang erat.

"Ada apa? mengapa kau lakukan itu?" Obsidian pemuda itu tajam, menatap gadis bermata Hyuga, sama seperti anak kecil yang ia temui tadi siang.

Hinata memalingkan wajah, semburat merah terpancar di kedua pipinya. "Lepaskan aku..." gumamnya. Naruto tersadar dan melepaskan tangan gadis itu. Hinata lalu menoleh, ia mendekat ragu-ragu dan meraih tangan Naruto. Hinata memberikan mawar miliknya lalu berlari pergi.

"Hei tunggu!" seru Naruto.

.

.

Suara pintu membangunkan Kizashi di sofa ruang tengah. Putrinya sudah kembali,

"Sayang bagaimana..." ucapan Kizashi terputus. Sakura tidak berhenti, menelusuri ruang tengah tanpa menoleh pada sang ayah. Sesuatu berjalan tidak baik. Hal itu terpikirkan oleh Kizashi saat melihat gerak-gerik serta ekspresi putrinya.

Sakura menuju kamar, membanting pintu lalu menghambur ke ranjang. Sasuke menyadari kedatangan gadis itu, ia bersandar pada dinding loteng, menahan sisa rasa sakit yang ditimbulkan pada tanda di lehernya. Sementara itu, elf terbaring di atas permukaan daun, kondisinya lemah dalam cahanya tubuh yang masih meredup.

Tangisan Sakura pecah.

Hatinya tidak siap. Ia telarut ke dalam rasa kecewa. Saat-saat dimana Yugao bersama Gaara terus teringat di kepala. Kizashi berdiri di depan pintu kamar, saat yang tidak tepat jika ia masuk dan menanyakan apa terjadi. Sakura menyengkram kain spey, ia pun bangkit dan melempar bantal atas luapan emosinya. Kemudian ia menoleh ke arah diding kamar, semua gambar itu...

Sakura menyerngit, ia turun dari ranjang dan mendekati kumpulan gambar miliknya. Wajah Gaara menghias seluruh permukaan dinding. Setiap gambar mewakili perasaannya.

Yugao

sempat Sakura menduga sebelumnya. Apalah dirinya jika dibandingkan dengan seorang bunga desa? Harapannya yang begitu besar membuat ia buta. menghancurkan dirinya sendiri. Berbagai harapan yang ia curahkan ke dalam selembar kertas itu...,

Dalam sekejap tidak berarti.

Sakura menarik tempelan-tempelan sketsa Itu. Beberapa di antaranya terobek, berceceran ke lantai, menyisakan beberapa yang masih tertempel, salah satunya sketsa wajah Sasuke yang masih terpajang di bagian tengah. Sakura pun meninggalkan dinding, mengambil mawar miliknya di atas ranjang.

"Jika dia menjadi seekor rubah, kau akan tetap memilihnya!"

ia membanting mawar itu ke lantai. Guntur pun terdengar, membawa tiupan angin yang masuk ke dalam kamar melalui jendela. Korden dan daun jendela bergerak-gerak. Menerbangkan sobekan sketsa gambar di sekitar lantai.

.

.

Kilatan petir menciptakan gemuruh yang menggelegar. Di bawah pekatnya awan hitam, Gaara dan Kankuro menunggang kuda dengan kecepatan maksimal. Mereka mengarungi jalan setapak, menelusuri hamparan savana yang luas menuju Sunagakure. Membawa misi penting yang diberikan Konoha untuk mereka.

Pandangan Gaara fokus memperhatikan jalan di depan. Pikirannya ikut mengembara bersama terpaan angin. Teringat akan wajah Sakura, gadis yang menunjukkan air mata di hadapannya itu, menjadi satu-satunya alasan bahwa dialah yang membuat Sakura menangis. Sial... tidak menyangka hal ini akan terjadi. Gaara mengepalkan tangannya, menyengkram kuat tali kendali.

"Maafkan aku..." gumam pemuda itu, ia menghentakkan kakinya dan kuda pun membawanya dalam laju lebih cepat.

Tetesan air pertama turun membasahi dedauan. Rintik hujan pun menderas, membasahi desa Konoha beberapa saat setelah perayaan diselenggarakan. Orang-orang di sekitar jalan berlari, di bawah lampion yang terbang kian meninggi, membawa doa dan harapan pada langit. Desa Konoha bertabur cahaya malam di bawah guyuran berkah yang tersampaikan. Dalam derasnya air hujan Sasuke mendengar tangisan Sakura, gadis itu meringkuk di atas ranjang, termenung dengan pandangan kosong hingga akhirnya ia menutup mata. Sasuke turun dari atas loteng saat suasana menghening, ia mendekat ke arah ranjang, mendapati Sakura yang tengah tertidur. Tidak ada kata yang terucap dari mulutnya melainkan pandangan yang terus tertuju pada gadis itu.

.

.

Keesokan harinya.

Mentari menampakkan sinarnya. Jejak hujan semalam meninggalkan bekas, genangan air menyebar di segala tempat, seluruh dedaunan basah, udara sejuk menyelimuti pagi yang cerah. Sakura membuka mata, mendapati sekitar ruang kamar dalam pandangan yang semakin jelas. Ia termenung memandang langit-langit kamar. Wajah Gaara langsung menyambut ingatannya, mengulang apa yang terjadi semalam ketika emosinya meluap, merasakan matanya begitu sembab karena air mata yang dikeluarkan semalam begitu banyak. Beban di hatinya kini berkurang walau sisa patah hati masih tersisa. Sakura pun bergerak, Kepalanya terasa pusing hingga ia sulit untuk bangkit dengan cepat.

Tunggu

Gadis itu merasakan keanehan pada tubuhnya. mendapati bulu pada seluruh permukaan tangannya.

DEG

Jantung Sakura memacu, emerald-nya melebar.

Tangan siapa ini? ia mengangkat kedua tangannya ke depan. Apa ini nyata? apa aku masih bermimpi? Sakura menyentuh tubuhnya..., lengan, dada dan wajah. Bulu orangye menutupi seluruh permukaan kulitnya.

"Apa yang terjadi padaku?" Sakura beranjak, merasa bahwa ranjang miliknya lebih besar dari biasanya, dan juga tinggi saat ia melompat turun. Gadis itu menghampiri cermin, apa yang terlihat di sana membuatnya terkejut luar biasa.

"Tidak!" serunya sambil meraba-raba tubuhnya sendiri. "Tidak! tidak!" berharap ini hanyalah mimpi.

"TIDAAAAAAAKKKKKK...!" Sakura berteriak.

Mendapati dirinya...

Menjadi seekor rubah.

.


.

bersambung :)