Selamat atas satu tahunnya fic ini! XD Pas satu tahun di tanggal 9, chapter 9 datang di jam 9. Angka cantik nih. XD Harapanku, semoga readers yang aku sayang semuanya ga ada yang bosen sama fic ini. Amin. *niuplilinpermohonan

Aku update fic ini diem2 lho sebenernya, karena sekarang lagi semesteran. Beruntung fic ini udah jadi, tinggal update. #ga ada yang nanya

Baiklah, Happy reading.^^

.

.

.

Kamar yang Sakura cari akhirnya kini di depan matanya. Setelah mengatur nafasnya kembali, Sakura dengan gugup membuka pintu. Sementara Ino dan Sasuke yang di dalam menengok mendengar suara pintu yang dibuka dari luar.

"Selamat malam," sapa wanita itu pada akhirnya muncul. Dan...

Dheg...

Tubuh Sakura kaku melihat di dalam kamar itu... ada Sasuke. Bukankah tadi yang meneleponnya Sai? Lalu kenapa ada Sasuke?

Ino tersenyum tipis dan sulit diartikan, sementara Sasuke diam tanpa ekspresi walau sebenarnya alisnya sedikit mengernyit karena terkejut. Jika hanya ada Sasuke dan Sakura, mungkin Sasuke akan mendekapnya sekarang. Tapi posisi mereka adalah... bahwa Sasuke kini suami Ino, bahkan Ino saat ini sedang sakit. Apa ia tega memeluk Sakura di kondisi seperti ini? Sakura sendiri sudah mantap dengan kata-katanya kemarin malam. Ia tak boleh lemah di hadapan Sasuke.

Dan Ino, ia sendiri merasa bahwa dirinya seakan menjadi tembok antara Sasuke dan Sakura. Sakura mengandung anak Sasuke, dan ia meragukan kandungannya sendiri. Tak yakin jika kandungannya adalah anak Sasuke...

Pertanyaannya, seperti apa mereka harus bersikap sekarang ini?

Naruto © Masashi Kishimoto

Datte, Kimi Ga Warau Kara © AsaManis TomatCeri

WARNING : AU, OOC(maybe), OC, Typo, Alur mondar-mandir(?), dan sejenisnya.

Rated : M

PERINGATAN PENTING : Fic ini hanya untuk 17+ dan untuk di bawah 17 tahun, silahkan klik 'back'!

Sudah diperingatkan masih tetap dibaca? Oke, dosa ditanggung masing-masing.^^

DON'T LIKE? DON'T READ, PLEASE!

ENJOY...!

.

.

.

Datte, Kimi Ga Warau Kara : CHAPTER 9

Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Sai yang langsung mendapati hawa tak enak. Sudah ada Sakura berdiri di depan pintu, Sasuke memandang tajam Sakura, dan Ino menunduk. Sepertinya Sai mempunyai feeling, Ino akan mengatakan hal serius.

Ino yang melihat Sai sudah datang segera memasang wajah senyum, "Sekarang semuanya sudah berkumpul, aku akan mulai bicara. Sakura-chan, Sai, tolong ke sini." ucap wanita yang sedang sakit itu. Sakit fisiknya tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan hatinya. Sakura dan Sai inisiatif mendekat ke arah Ino yang masih bersandar pada ranjangnya, sementara Sasuke yang duduk tak henti-hentinya memandang Sakura.

Setelah mendekat, yang pertama kali Ino pandang adalah Sakura. Sakura sendiri tak menyangka jika ia datang ke sini dengan hawa yang menegangkan. Setelah menatap, shappire Ino beralih pada perut wanita pinky itu, membuatnya semakin berdebar. "Sakura-chan," panggil Ino.

"Y-ya?"

Perlahan tapi pasti, air mata Ino jatuh, membuat semua yang ada di sana terkejut. Tapi masih sekuat tenaga Ino memaksakan senyum, "Aku... Aku sudah mengetahui semuanya," katanya.

Ino merasakan nyeri di dadanya saat menatap Sakura, merasakan sesak saat melihat perut Sakura. Di dalam sana, telah hidup Uchiha kecil. Membayangkan bagaimana sejak dulu, Sakura selalu menang darinya. Ini... keirian hati. Karena Ino iri pada Sakura yang bisa mendapatkan segalanya. Sekarang, baru Ino sadari... kebahagiaannya berbeda dengan Sakura. Selama ini ia hanya mengikuti jalan Sakura, belum menentukan jalannya sendiri.

Lawan bicaranya diam, rasa sesak yang sama juga dialaminya. Begitupun kedua pria yang berada di sana. Kalimat Ino barusan bukan hanya untuk Sakura, tapi juga bermakna untuk kedua pria itu. Karena bagaimanapun mereka ikut dalam masalah ini. Jadi, bagaimana Ino bisa mengetahui ini? Dan satu lagi, Sasuke masih bingung dengan perkataan Ino. Sebab Sasuke tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Walau tak mendapat jawaban, Ino kembali membuka mulut. "Sasuke-kun," Kali ini Ino menatap Sasuke, membuat pria itu segera menengok ke arah sang istri. Istri yang tak pernah mendapatkan cinta tulus darinya.

"Saat malam pernikahan kita, kau keluar dan menginap entah ke mana..." Ino menatap lekat Sasuke dengan air matanya yang menderas, "...saat itu... kau bersama Sakura-chan, kan?"

"..." Tak ada yang bisa dijawab Sasuke, sebab semua memang benar. Saat malam pernikahannya ia memang bersama Sakura.

"Katakan padaku, kau bersama Sakura-chan malam itu kan? Kau telah tidur dengannya?" Suara Ino meninggi, isaknya juga makin terdengar jelas.

Bahkan Ino sudah tahu sampai sejauh ini... Tidak, ini belum semuanya Ino katakan apa yang sudah ia ketahui. Kunci kebenaran dari semua masalah ini adalah Naruto dan Hinata. Dan keduanya telah memberi kunci itu pada Ino, membiarkan semua yang selama ini tertutup rapat, terbongkar sudah.

Sasuke menunduk menyesal. Walau tak mencintai, tapi itu hal yang tidak wajar dilakukan pria yang sudah beristri. Sai tak bisa menahan rasa terkejutnya, ia menatap Sasuke geram. Selama ini Ino baik terhadapnya, tapi inikah balasan Sasuke? Dan Sakura, akhirnya tak tahan untuk mengeluarkan air matanya. Menyesal... Sungguh ia menyesal telah membuat kekacauan.

"Maafkan aku, Ino... Aku memang kotor..." Sakura membuka suara, membuat Ino menengok ke arahnya, "...hiks... Aku telah tidur dengan suami sahabatku sendiri. Aku benar-benar kotor... Hiks..." ucap Sakura sesenggukan. Wajahnya ia tutupi dengan kedua tangannya, rasanya malu, terlihat hina di hadapan Tuhan, dan juga sahabatnya.

Ino tak menghiraukan maaf Sakura, yang ia inginkan sekarang adalah kejujuran, agar masalah ini selesai pada puncaknya. Ia tak mau lagi menanggung beban, juga... tak mau lagi menaruh beban pada punggung Sakura. Ino... masih menyayangi Sakura.

"Apa status istri keduamu dari Naruto adalah sandiwara?" tanya Ino. Hal ini memang tak diberitahu oleh Naruto dan Hinata, tapi Ino tidak bodoh, ia yakin Sakura hanya bersandiwara agar kehamilannya bisa dijadikan alasan. Dan sederet pertanyaan Ino berhasil membuat Sasuke tercengang seketika.

"..."

"Jawab aku. Karena jika itu benar, kehamilanmu itu karena Sasuke-kun, kan? Kau hamil sudah lebih dulu dariku. Kau hamil... saat di Paris... saat... Hiks..." Ino tak meneruskan kata-katanya karena isakan tangisnya. Sai pasrah pada apa yang dikatakan Ino, karena ia yakin Ino juga pasti sudah tahu jika...

"Dan aku... dihamili oleh Sai saat pesta..."

Benar kan. Ino pasti tahu juga tentang itu. Tanpa ditanya Sai dan Sakura, mereka sudah tahu jika yang memberitahu adalah pasangan dari Uzumaki. Sementara Sasuke, merasakan rahangnya mengeras. Selama ini, Sakura bersandiwara. Sial.

Baru Sasuke akan bicara, Sakura sudah berjongkok di sebelahnya, tepatnya di hadapan Ino. Sakura berjongkok sambil memegang tangan Ino yang tertancap infus, "Ino, maafkan aku..." ucap Sakura sesenggukan, "Aku tahu maaf saja tak cukup... tapi—hiks—kumohon... maafkan aku... Aku akan berbuat apa saja..."

"Bukan maafmu yang kuinginkan, Sakura-chan...," Ino yang juga terisak mencoba menenangkan suaranya yang kacau karena isakannya, "tapi aku hanya ingin kejujuranmu. Harusnya... Hiks... Harusnya kau minta maaf pada Sasuke-kun," kata wanita barbie itu.

Sakura menatap Ino, dan Ino menatapnya balik. "Aku sadar, aku bodoh. Meski menjadi istri Sasuke-kun, aku tak pernah merasa puas. Itu karena... aku hanya iri padamu..."

Sakura membulatkan matanya. Tangan Ino segera menggenggam tangan Sakura, "Maafkan aku... Selama ini hatiku tertutup oleh keirian hatiku. Tapi kali ini... kau bersandiwara samai sejauh ini, kau merelakan semua untukku, aku begitu jahat selama ini... Hiks..." ucap Ino menundukkan kepalanya agar menempel pada kepala Sakura. Kedua wanita itu tak mementingkan sekelilingnya, yang penting sekarang adalah mereka berdua.

.

.

"Hei, Ino, mereka bilang rambutku indah. Aku senang," ucap gadis kecil berumur sekitar sembilan tahun itu pada sahabatnya. Lawan bicaranya justru menatapnya tidak percaya, "Oh ya?"

Yang benar saja. Gadis pinky itu jadi banyak teman itu karena Ino, jadi tidak usah pamer begitu kan. Kalau tak ada Ino, jangan harap ada teman lain yang mau bicara begitu. Fikiran buruk untuk pertama kalinya muncul di otak gadis blonde itu, dan dadanya mulai tertutup oleh keirian hati.

.

"Ino, aku dapat kelas A dengan Sasuke-kun! Hahaha, sayang sekali nilaimu cocok di kelas B." Gadis itu menjulurkan lidahnya meledek.

"Itu hanya kebetulan!" ketus Ino sambil menyibak rambutnya. Memang tak bisa ia pungkiri, sahabatnya lebih pintar darinya. Kesal rasanya bersaing dengan orang yang lebih tinggi, apalagi itu sahabat sendiri! Itulah fikiran yang terlintas di kepala Ino.

.

Nafas gadis pirang di keramaian Bandara masih terengah-engah, namun tangannya mengepal menatap gadis di depannya. Mata gadis di depannya itu sembab. Ia kesal, kenapa tak sempat berpisah dengan lelaki yang ia cinta, justru sahabatnya ini yang menemuinya. Bukan ingin bertemu, tapi... iri pada gadis itu yang selalu lebih dulu darinya.

.

"Kau akan melanjutkan kuliah apa?"

"Fakultas kedokteran," jawab gadis itu enteng. Ino mengernyit, "Memangnya nilaimu cukup untuk tes nanti?" tanyanya meragukan.

Tapi yang dibalas justru tatapan bersungguh-sungguh lawan bicaranya, "Aku akan berusaha!" ucapnya tersenyum.

Ino diam. Kenapa dia bisa percaya diri sampai sejauh ini? Padahal dulu hanya gadis cengeng! Tidak, Ino akan membuktikan bahwa ia bisa mengalahkannya. Dan inilah keirian hati yang sudah mencapai ubun-ubun.

"Aku juga akan masuk fakultas kedokteran,"

"Eh?"

.

"Nilai tesku masuk dengan nilai tinggi!" gadis itu memeluk sahabatnya senang, yang dipeluk hanya tersenyum paksa dan membalas pelukan sahabatnya. Di belakang tubuh gadis itu, Ino menggeram. Ia memang akhirnya bisa masuk fakultas kedokteran, tapi nilainya hanya pas-pasan.

.

"Ino, ayo kita melamar kerja di Rumah Sakit itu. Katanya, pemilik Rumah Sakit ini adalah mantan kepala sekolah di SMU kita."

Ino mengepalkan tangannya. 'Kali ini, aku harus menang darimu!' batinnya.

.

"Medismu hebat sekali, Haruno Sakura. Aku akan mengajarimu lebih banyak lagi,"

"Tunggu dulu, Tsunade-sama. Aku juga akan menjadi muridmu, kan?" tanya Ino membuat Tsunade membalikan badan. Sedari tadi ia seakan melupakan sosok Ino.

"Oh iya, kau juga."

.

"Sakura-san, kami butuh bantuan Anda lagi." ucap salah satu suster saat Ino dan sahabat saingannya sedang di koridor. Gadis berambut gulali itu mengangguk, "Baik," kemudian menengok ke sebelahnya, "Ino, aku harus—"

"Ya, pergi saja sana, tidak usah basa-basi!" ucap gadis berkuncir kuda itu kemudian berbalik badan.

"Ino, kau itu kenapa?"

Selalu Sakura, Sakura, Sakura. Kupingnya sampai panas mendengar nama itu tiap hari. Di jalan, di Rumah Sakit, di kampus, Sakura terkenal, pintar. Kenapa dia bisa perfect di mata semua orang? Di dunia ini, ada dua macam jenis manusia berhasil. Si jenius dan si pekerja keras. Sakura adalah kelompok jenius, sedangkan Ino adalah pekerja keras... Untuk mendapatkan sesuatu, ia harus bekerja keras.

.

Ino diam mematung di depan kamar yang pintunya sedikit terbuka. Lelaki itu... berpacaran dengan Sakura? Lelaki yang dulu ia cinta, bahkan sampai sekarang ia masih berharap akan lelaki itu. Persetan dengan sahabat! Iblis telah bergerayang di diri Ino, ia akan mendapatkan yang ia mau kali ini. Apapun yang terjadi!

.

Berpelukan saat pertama kali, begitu canggung. Saat Ino memeluknya masih SD...

.

Berpelukan saat berbaikan di toilet dan memotong rambut. Hal bodoh karena bersaing untuk satu lelaki. Saat itu begitu terasa hangat...

.

Berpelukan saat lulus tes kuliah. Hambar. Tak ada apapun yang terasa untuk Ino...

Dan...

.

.

...berpelukan untuk kali ini, begitu terasa lebih hangat dari pelukan sebelum-sebelumnya. Nyaman, dan begitu penuh kerinduan. Ino memang mencintai Sasuke, tapi kehadiran Sai mengalihkan dunianya yang suram. Sai menarik Ino dari jurang iblis yang sudah sangat jauh menjerumuskannya. Sai adalah penyelamatnya. Dan mungkin adalah kebahagiaannya.

Dan satu lagi. Hati itu terasa terang. Akhirnya Ino menemukan cahaya di balik hatinya yang sudah gelap. Membuatnya sadar dari matanya yang tertutup.

Ino mendekap Sakura begitu erat, begitupun sebaliknya. Wanita pirang itu memejamkan matanya dan tersenyum, "Sakura-chan, kau adalah inspirasiku..." ucapnya.

Jika tak mengenal Sakura, Ino tak akan mengecap rasa ingin lebih hebat dari Sakura. Mungkin sakit sekali jika Ino akan kehilangan Sasuke, tapi kehilangan inspirasi hidup lebih membuat diri sendiri tercekik oleh kesakitan dan penyesalan tak berujung. Lagipula, Ino sudah tahu jika kandungannya ini bukanlah darah daging Sasuke. Jadi selama waktu masih berjalan, selama Tuhan masih menghendaki, Ino akan membuat titik masalah yang selama ini belum juga berujung.

"Kenapa...?" tanya Sakura sama sesenggukannya dengan Ino. Kedua pria di sana masih diam, tenggelam dalam fikiran mereka masing-masing.

"Karena...," Ino mengusap pundak Sakura, "kau tersenyum untukku."

Senyum Sakura, membawa Ino pada cahaya kesadarannya, atas semua masalah selama ini. Jika senyum itu tak ditunjukkan untuk Ino, Ino takkan tahu apa arti sahabat sesungguhnya. Apa arti cinta sesungguhnya. Sekali lagi, dalam cinta segitiga, harus ada salah satu yang mengalah.

Rasanya cukup, rasanya bodoh, jika selama ini Sakura yang mengalah. Semua sumber masalah adalah kecemburuan Ino. Tak ada alasan Sakura meninggalkan Sasuke. Jika untuk keharmonisan sahabat, Ino lah yang harus mengalah. Karena kehidupan di dalam rahim Sakura telah menjadi benang ikatan kuat antara Sakura dan Sasuke. Takkan ada alasan lagi.

"Ino..." Sakura mengeratkan pelukannya, beriringan dengan air matanya yang semakin menderas.

Sasuke yang sudah tak kuat menahan emosi segera berdiri dan menarik Sai untuk keluar dari sana. Dengan kasar Sasuke menarik Sai, sampai di luar selesai menutup pintu, Sai melepas paksa lengannya yang dicengkram, "Apa-apaan kau!" ucap Sai mengelus lengannya.

"Kau yang apa-apaan, sialan!" sinis Sasuke mengepalkan tangannya. Sedetik kemudian, tinjunya melayang, tepat meninju wajah Sai yang mulus hingga membuatnya jatuh ke lantai. Tak hanya itu, Sai bisa merasakan rasa karat di mulutnya dan perih di hidungnya. Sebagai pria, Sai bukan pengecut yang diam saja. Tapi karena masalah ini lain, Sai tak punya alasan untuk balik memukul Sasuke.

Karena ia juga termasuk dalam sandiwara ini, membiarkan Sasuke seperti orang bodoh. Orang bodoh yang telah menyakiti perasaan Ino sebagai istrinya, orang bodoh yang telah memukul Naruto karena emosi, dan... Orang yang sungguh sangat bodoh... telah mengira Sakura... orang yang dicintainya hamil oleh lelaki lain, bahkan menyakiti fisiknya...

Berfikir seperti itu membuat Sasuke makin geram. Ia mendekat ke arah Sai, berjongkok dan mencengkram kerah baju Sai. Sai hanya diam, biarkan saja Sasuke memukulinya sampai puas, atau bahkan boleh sampai ia mati sekalipun. Di lorong Rumah Sakit sepi, jadi tak ada yang bisa melihat mereka. Selanjutnya Sasuke kembali memukul Sai hingga beberapa kali.

BUAGH!

"KEPARAT! BAJINGAN!"

BUAGH!

"KAU BRENGSEK!"

"Sasuke, hentikan!" sebuah suara sukses membuat tangan Sasuke yang baru akan kembali meninju Sai berhenti seketika. Darah segar bermuncratan dari wajah Sai yang sudah terlentang di lantai, sementara Sasuke duduk di atas perut Sai. Sasuke menengok dengan nafas yang tak beraturan. Di samping kanannya telah berdiri tegak Naruto dan istrinya. Entah bagaimana mereka bisa sampai ke sini.

"Aku sudah menduga akan jadi seperti ini, tapi ini bukan kesalahan Sai sepenuhnya." kata Naruto mencoba mencairkan suasana. Tapi Sasuke justru melirik Naruto sinis, "Kau juga sama saja!" ucap Sasuke.

Naruto membulatkan matanya mendapati tatapan Sasuke, tapi ucapan Sasuke memang benar, Naruto termasuk orang yang sama dengan Sai, telah bersandiwara di depan Sasuke dan Ino. Maka Naruto berusaha untuk tenang, ia memejamkan matanya, mengambil nafas dalam-dalam.

"Maafkan aku, Sasuke." ucap Naruto penuh penyesalan. Bukan hanya ucapan semata, tapi Naruto benar-benar menyesal. Hinata yang melihat Naruto seperti itu ikut ingin meminta maaf. Setelah melihat Sasuke berdiri, Hinata langsung membungkukkan badannya.

"Maafkan aku juga, Sasuke-san. Ka-kami... benar-benar minta maaf..." sesal Hinata. Tapi Sasuke justru mengalihkan pandangan Naruto dan mengabaikan Hinata yang tertunduk. Ia memilih untuk kembali menuju kamar rawat Ino. Memangnya masalah dapat diselesaikan dengan kata maaf? Padahal sudah sampai sejauh ini, sampai Sasuke sudah menikahi Ino.

Sebelum membuka pintu, Sasuke berhenti dan masih membelakangi Naruto, Hinata, dan Sai yang sudah bangun sambil mengelap ujung bibirnya yang pecah. "Aku ingin masalah ini diselesaikan sekarang juga."

Tanpa diberitahu, mereka semua mengerti maksud ucapan Sasuke, yaitu agar mereka ikut masuk ke dalam dan membicarakan hal ini, menceritakan semua yang terjadi selama ini. Kini semua telah terkumpul. Kaum muda yang menjadi peran dalam cerita kehidupan yang pahit, penuh dusta yang menyakitkan, dan berlanjut pada penderitaan masing-masing. Kini, semua akan menjadi ujung dari cerita buatan yang sudah sekian lama dibuat oleh Sakura, orang yang sangat dicintai Sasuke.

Entah sejak kapan Sakura dan Ino sudah berhenti menangis, dan kini mereka tengah tersenyum sambil bercerita entah apa itu, dan tangan mereka masih saling bertautan. Inilah persahabatan, walau benci, jika bisa menerima kekurangan satu sama lain, maka kebencian dan pertengkaran akan menjadi kenangan indah. Namun ada satu yang belum terselesaikan...

Kedua sahabat itu menengok berbarengan tatkala mendengar suara pintu yang terbuka. Keduanya terkejut, bukan hanya Sasuke dan Sai yang masuk, tapi ada sepasang Uzumaki juga. Yang membuat mereka tambah terkejut adalah mendapati wajah Sasuke yang suram, Naruto dan Hinata yang kusut, dan... Sai yang babak belur.

"Sai, kau kenapa?" tanya Ino buru-buru dan langsung berwajah khawatir.

Sai mendekati Ino sambil tersenyum khas dirinya, "Aku tidak apa-apa—"

"Aku pukuli dia karena menjadi racun dalam hidupku!" sinis Sasuke melirik Sai. Sakura membulatkan matanya, baru ia sadar, inilah masalahnya yang belum ia selesaikan. Sedetik kemudian, Sasuke menatap Sakura yang mulai ketakutan melihat wajah Sasuke.

Wajar jika Sasuke marah pada Sakura. Sasuke juga pasti berfikir Sakura termasuk racun itu. Setelah Naruto menceritakan apa yang sudah terjadi, Sasuke hanya bisa menahan emosi. Perlahan Sasuke melangkah mendekati Sakura yang masih duduk di pinggir ranjang Ino, membuat tubuh wanita hamil itu gemetar. Bahkan Ino yang masih setia menggenggam tangannya itu bisa merasakan tangan wanita itu mulai dingin.

Ino yang merasakan Sakura ketakutan langsung mengeratkan genggamannya. Tenanglah, Sakura, ada Ino di sampingmu. Kali ini, tak akan ada lagi Ino yang selalu ingin menjadi Sakura. Ya, Ino sudah berfikir akan lebih baik dari Sakura. Meski itu tidak mungkin, Ino akan mengambil jalannya sendiri, tidak hanya memandang Sakura.

Ino sadar, selama ini jalan hidupnya adalah Sakura. Ino sadar, selama ia bersedih tentang perasaannya pada Sasuke, Sai selalu datang menemaninya. Jika itu bukan Sai, belum tentu lelaki itu mau terus setia pada Ino. Sai menjadikan Ino seperti tuan puteri, selalu baik padanya. Dan rasanya cinta yang ditanam Sai tidak sia-sia. Cinta itu mulai tumbuh di hati Ino meski belum besar. Meski belum bisa sepenuhnya menumbangkan cintanya pada Sasuke.

Lambat laun, perasaan ini pasti terhapus. Ino berfikir matang, tak akan menyesal dengan keputusannya ini. Pasti.

"Sasuke-kun," panggil Ino menghentikan Sasuke yang masih menatap Sakura yang menunduk. Sasuke menengok, mendapati Ino yang berwajah serius.

"Sebelumnya... Aku ingin berterima kasih pada Naruto dan Hinata yang memberitahuku tentang semua ini. Maaf, aku sempat bertindak bodoh..." ucap Ino menengok pada Naruto dan Hinata. Mereka membalasnya dengan tersenyum. Setelah itu, Ino menatap Sasuke kembali, "Jika Naruto dan Hinata tidak memberitahuku, kita akan menjadi bodoh terus."

"..."

"Aku yang sebenarnya paling bersalah di sini... Karena itulah aku selalu kalah dari Sakura-chan," Ino mulai berkaca-kaca, "tapi sungguh... setelah mengetahui ini, aku bisa merasakan pengorbanan Sakura-chan yang sungguh besar."

Semua diam, hanya mendengar ucapan Ino yang sedang berbicara dengan Sasuke. Semua memandang Ino, kecuali Sakura, ia masih menunduk. Namun ia tetap mendengarkan dengan seksama ucapan Ino. Akhirnya air mata Ino menetes, "Maka dari itu..." ucap wanita barbie itu dengan nada gemetar.

"..." Sasuke yang diam menunggu kelanjutan ucapan Ino.

"...aku ingin...," Walau menangis, Ino masih bisa tersenyum, "kita bercerai saja, Sasuke-kun." lanjut Ino melengkapkan ucapannya. Sederet kalimat, cukup membuat semua yang ada di sana tercengang, terutama Sakura. Tapi kecuali Sasuke yang masih berwajah datar.

Ino bukan lagi anak-anak, ia sudah bisa mantap dengan apa yang diucapkannya. Sekarang perkaranya bukan lagi keegoisan cinta, tapi cepat atau lambat anaknya dan anak Sakura akan lahir. Mereka harus tahu siapa ayahnya sebenarnya. Kebohongan justru akan menambah masalah ke depannya, membuat senyum tulus dari semua orang lebur, dan berganti menjadi air mata. Ino tak ingin itu terjadi. Hanya dengan senyum tulus, semua kisah menjadi hangat, kan?

"Ino," Sakura buka mulut akibat terkejut dengan ucapan Ino.

"Sakura-chan, percayalah padaku, aku takkan menyesali ini." Ino tersenyum pada Sakura. Memang benar, apa yang harus disesali Ino untuk ke depan? Tak ada. Karena semua sudah terjawab, jadi tak ada yang perlu disesali untuk ke depannya. Bahkan mungkin ke depannya akan lebih baik.

Akhirnya Sasuke menghela nafas, kemudian melangkah untuk lebih dekat dengan istrinya itu. Sakura tahu maksud Sasuke, maka dari itu ia memilih untuk melepas genggaman tangannya dengan Ino dan berdiri dari duduknya untuk sedikit menjauh.

Lama Sasuke dan Ino saling bertatap-tatapan, dan ruangan hening, hanya terdengar detik jam yang menggantung di dinding. Perlahan, tangan Sasuke bergerak ke pipi Ino, mengusap air mata wanita itu dengan lembut. Tatapan menyesal seorang Uchiha terpampang jelas terlihat oleh Ino. Memang selalu seperti itu, Sasuke selalu menyesal dengan apa yang ia lakukan selama bersama Ino, istrinya.

"Maaf," kata Sasuke akhirnya.

Hanya satu kata, namun mewakili semua perasaan Sasuke selama ini. Ino cukup mengerti sifat Sasuke. Sasuke pasti merasa bersalah telah sering menjadikan Ino pelampiasan cintanya. Hampir setengah tahun bersama, Sasuke tak pernah mencintainya. Karena itulah, Ino kembali tersenyum, kali ini ia pejamkan matanya untuk menikmati hangatnya tangan Sasuke.

Tangan Ino mulai menggenggam tangan Sasuke yang masih menempel di pipinya. Untuk yang terakhir kalinya saja, Ino ingin merasakan belaian suaminya, "Terima kasih untuk selama ini... Semua sangat membuatku bahagia..." ucap Ino tulus dari hatinya. Dan ia akan lebih bahagia jika semua orang dalam hidupnya kembali tersenyum seperti dulu, sebelum perdebatan ini ada.

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

Pengacara telah pulang dengan berakhirnya jabatan tangan kedua orang yang menjadi pokok masalah. Pernyataan hitam di atas putih telah diterima. Kini, Ino dan Sasuke resmi bercerai. Kediaman Uchiha cukup ramai karena selain Sasuke dan Ino, di sana ada orangtua Sasuke, ayah Ino, Sakura, Hinata, Naruto, dan Sai. Mereka menjadi saksi atas kesepakatan dicabutnya marga Uchiha yang disandang Ino.

Orangtua Sasuke sungguh tidak mengerti dengan para pemuda di sini, membuat ulah sampai melibatkan orang banyak. Hampir saja Fugaku jantungan karena tak henti-hentinya, anak bungsunya itu memberi kabar yang mengejutkan. Tapi jujur Fugaku lega, karena pada akhirnya anaknya memang tidak menghamili Ino. Yang membuatnya stres sebagai kepala keluarga adalah bahwa Sakura hamil, dan yang menghamili adalah Sasuke. Benar-benar tidak ia mengerti permainan apa yang mereka semua lakukan.

Itachi tidak ikut serta karena sedang sakit di Paris. Tapi Itachi justru senang mendengar kabar bahwa Sakura hamil. Ia berfikir, dengan demikian, Sakura yang sudah dianggap adik sendiri akan benar-benar menjadi adiknya. Mungkinkah? Mungkin saja.

Ayah Ino sempat meminta ayah dari kandungan Ino segera menikahi putrinya, tapi Ino menahannya. Karena tidak mungkin. Apa yang akan dikatakan orang nanti, Ino yang baru bercerai begitu cepat menikah lagi. Sai yang wajahnya banyak memar juga sempat diupukul oleh Inoichi, ayah Ino. Karena bagaimanapun permainan yang dibuatnya tidak lucu sama sekali. Tapi Ino menjelaskan semuanya, bahwa Sai saat itu tidak bisa mengatakannya karena keegoisan Ino sendiri untuk bersama Sasuke.

Setelah semua mengerti, Hinata dan Naruto yang menjadi pahlawan dari masalah ini berpamitan, begitupun ayah Ino dan Sai karena mereka butuh pembicaraan lebih lanjut untuk hubungan Sai dengan Ino. Setelah hanya tinggal keluarga Uchiha, Sakura, dan Ino, Fugaku meminta maaf pada Ino dan Sakura. Entah apa alasannya, tapi yang jelas, Fugaku mewakili keluarga Uchiha karena masalah besar ini. Sakura dan Ino ikut minta maaf, karena memang semua juga kesalahan mereka.

Mikoto pun pamit dan mengajak Fugaku untuk mengunjungi kediaman Haruno untuk menuntaskan semuanya. Dan kini, hanya tersisa Sasuke, Sakura, dan Ino. Setelah sepi, mereka berdiam cukup lama, hingga akhirnya Ino buka mulut.

"Aku senang masalah ini selesai, kita jadi bisa bersama lagi." kata Ino yang duduk di sebelah Sakura dan berhadapan dengan Sasuke. Sakura membalasnya dengan tersenyum, dan Sasuke hanya tenang seperti biasa.

Ino yang melihat Sakura dan Sasuke yang masih kaku itu mendengus, "Ayolah, kalian jangan diam saja..."

Sasuke melirik Sakura, tapi Sakura justru mengalihkan pandangannya ketakutan. Entah kenapa sejak saat Sasuke memukulnya di taman, Sakura menjadi takut untuk sekedar bertatap-tatapan dengan Sasuke. Bahkan ia datang ke sini pun karena paksaan Ino. Ino melirik Sasuke, sepertinya kini ia harus ikut permisi.

"Baiklah, aku pamit pulang, ya. Aku harus bicara banyak pada ayahku dan Sai." Ino bangun dari duduknya, membuat Sakura terkesiap.

"Ah, Ino, aku ikut!" seru Sakura ikut berdiri. Ino segera memegang bahu Sakura dan mendudukkannya kembali, "Bicara apa kau ini? Kau tetap di sini. Setidaknya, selesaikan masalah kalian, karena aku sudah selesai." Wanita blonde itu tersenyum manis, kemudian mulai membalikan badan untuk segera pergi.

"Kali ini, aku akan lebih berusaha untuk mengalahkanmu, Sakura-chan!" seru Ino sambil tersenyum. "Selamat tinggal," lanjutnya.

"Ino," Sebuah suara menghentikan langkah Ino yang sudah di depan pintu. Itulah suara Sasuke, membuat Ino menengok. Untuk pertama kalinya, Sasuke tersenyum tulus kepada Ino, membuat Ino sedikit bersemu. "Terima kasih," kata Sasuke akhirnya.

Ino kembali berbalik, memandang awan yang terlihat dari sana. Senyum mengembang di wajah cantiknya. Setelah keluar dari sini, ia akan mulai kisah barunya untuk menemukan cinta. "Hm... Aku suka senyum yang kau berikan padaku," ucap Ino. Ino kembali menengok dan masih tersenyum, "Jaa ne," Lambaian tangan Ino berlanjut dengan langkah kakinya menuju gerbang, kemudian sosok Ino mulai menjauh hingga tak terlihat lagi.

Kepergian Ino, berlanjut pada keheningan di antara Sasuke dan Sakura. Keduanya masih terhanyut dalam fikiran masing-masing. Sasuke masih menyesali perbuatannya saat di taman, namun ia juga tak tahu apa jalan fikir Sakura yang lebih memikirkan sahabatnya daripada kebahagiaan dirinya sendiri. Sakura sendiri masih tidak mengerti kenapa tubuhnya masih gemetar. Apakah ini trauma? Tapi Sakura itu mencintai Sasuke...

"Kau takut padaku?" tanya Sasuke membuka suara setelah sekian lama berdiam.

"..."

Sasuke memejamkan matanya sambil menunduk. Inikah Sakura yang dulu ceria? Berfikir itu, Sasuke akhirnya menggenggam tangan Sakura. Sambil berhadap-hadapan, Sasuke memandang Sakura lekat, "Apa kau takut padaku?" ulang Sasuke.

"Ma-maaf..."

"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal jika kau mengandung anakku? Dan kenapa kau menyembunyikan hal yang kau ketahui? Ino hamil oleh Sai dan bukan aku. Tapi kenapa kau membiarkannya?"

Bahu Sakura mulai bergetar, ia sedang menahan tangis saat ini. Sasuke terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya ingin menangis. Sasuke mengeratkan genggamannya, "Kau tidak mencintaiku?"

Sakura menggeleng, sedetik kemudian mulai menunduk. "Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu, karena itu... Aku tidak ingin menghancurkan rumah tanggamu dengan sahabatku sendiri. Saat itu aku fikir Ino tidak bisa menerima semuanya..." Sebelah tangan Sakura mengusap matanya yang mulai basah.

"Lalu kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Sasuke meninggikan suaranya.

"Aku takut... kau membenciku..."

"..." Sasuke tak mampu berkata-kata. Memang Sasuke kesal sehingga terus menatap Sakura dengan kebencian sejak seminggu yang lalu di Rumah Sakit saat Ino dirawat. Tapi sungguh, Sasuke tak mampu membenci orang yang dicintainya.

"Kemarilah," Sasuke mengangkat tangan Sakura agar berdiri dan mendekatinya. Sakura tak mengerti maksud Sasuke menyuruhnya untuk lebih mendekat, tapi setelah Sakura berdiri di depannya, Sasuke langsung menarik tubuh Sakura hingga jatuh ke pangkuannya, membuat wanita itu terkejut seketika.

Mata mereka saling bertemu, emerald Sakura terlihat berkilauan karena bening air matanya, pipinya bersemu, membuat pria di hadapannya kini kesusahan bernafas. Gugup-kah?

Sakura bisa merasakan kini tangan Sasuke menempel di pipinya. Sudah lama sekali... ia ingin seperti ini lagi. Bertatap-tatapan, merasakan belaian Sasuke atas dasar cinta sesungguhnya. Tak perlu lagi menahan diri untuk mengatakan 'kau bukan milikku!', karena sekarang, Tuhan telah mempersatukan mereka kembali. Mungkin ini tak mudah untuk Sakura yang trauma. Bayangkan saja, ribuan masalah menghampiri hari-harinya selama ia dan Sasuke terpisah.

Kini, batu besar penghalang mereka telah roboh, mereka bisa bersama lagi. Mungkin. Hanya mungkin, jika mereka sudah bisa saling memaafkan. Meski kesalahan yang mereka buat adalah ketidaksengajaan, tapi tetap ada goresan di dalamnya. Sasuke juga sama seperti Ino, ia tak mungkin langsung menikahi Sakura setelah baru saja bercerai.

Uchiha bungsu itu semakin mendekatkan wajahnya. Kini kedua tangannya menarik kepala belakang Sakura agar keningnya menempel pada keningnya, membuat Sakura semakin berdebar-debar. "Kau mencintaiku?" tanya Sasuke.

Pertanyaan bodoh memang, karena tanpa ditanya, Sasuke pasti sudah tahu Sakura mencintainya. Sangat mencintainya. Sakura mengangguk sambil memejamkan mata, membiarkan air beningnya mengalir dan menetes pada baju Sasuke.

"Jangan menangis..."

"...hiks..." Meski Sasuke bilang begitu, air mata Sakura justru semakin deras. Ia tak mengerti apa arti tangisan ini. Apakah ia masih takut pada Sasuke, atau ia bahagia karena akhirnya bisa bersama lagi dengan Sasuke.

Sasuke memiringkan wajahnya dan perlahan memejamkan matanya. Bibir Sakura yang basah dan lembut, akan selalu membuat Sasuke rindu pada Sakura. Ciuman yang Sakura rasakan kali ini begitu hangat, Sakura bisa merasakan kelembutan Sasuke yang berbeda dengan saat di taman waktu itu. Dan tanpa Sakura sadari, tangan Sasuke sudah berada di perutnya. Dengan gerakan halus, Sasuke mengusapnya.

Inilah salah satu impian Sasuke yang akhirnya terwujud. Ia menjadi seorang ayah, dan ibu dari anak itu adalah Sakura. Ya, dalam rahim Sakura sudah ada masa depan yang ia yakin akan terus mempersatukannya dengan Sakura.

Setelah berakhirnya ciuman yang cukup lama itu, Sasuke masih tak bisa melepas tangannya dari perut Sakura, membuat Sakura sedikit menahan rasa geli. Sekali lagi, Sasuke menatap Sakura, "Kau tak pernah melakukan apapun dengan lelaki selain aku, kan?"

Entah sejak kapan seorang Uchiha Sasuke jadi banyak bertanya, tapi Sakura tak keberatan, karena itulah yang membuatnya spesial. Di depan Sakura, Sasuke bisa langsung terbuka. Setidaknya setelah sang kakak. Sakura yang mengerti maksud pertanyaan Sasuke hanya menggeleng pelan, "Aku bukan jalang yang tidur dengan banyak lelaki..."

Kemudian keduanya saling berpelukan, menuangkan kebahagiaan yang akhirnya mereka capai.

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

"Kau tahu kan, Fugaku, anakku sudah cukup menderita. Kalian itu terlihat seperti keluarga plin-plan,"

Fugaku sukses dibuat diam oleh pengakuan ayah Sakura—Aouyama—, begitupun Mikoto. Yang benar saja, setelah dikhianati dan menjadikan Ino sebagai istri Sasuke, sekarang Fugaku datang untuk meminta maaf dan memulai semua dari awal.

Tekankan sekali lagi. Pernikahan bukanlah permainan. Meski ini hanya sebuah kesalahpahaman, Aouyama selaku kepala keluarga tentu tegas dengan perasaannya. Memang sudah dimaafkan, tapi untuk memulai semua dari awal, itu sulit diterima. Berbeda dengan Azuki yang diam, ia berfikir berbeda.

"Tapi bukankah lebih baik kita tanya kemauan Saku-chan?" Azuki buka mulut. Itulah pendapatnya. Ia selalu memikirkan bagaimana perasaan anaknya yang menerima kejadian ini. Aouyama justru memelototi Azuki, "Kau itu terlalu memanjakan Sakura! Lihat apa sebabnya, karena kau terlalu memanjakannya, dia jadi seperti ini!"

"Maaf, tunggu dulu," ucap Mikoto menghentikan Aouyama yang memarahi istrinya itu, "ini bukan kesalahan Azuki-chan sepenuhnya. Aku juga seorang ibu, aku tahu bagaimana memberi yang terbaik untuk anaknya—"

"Maaf, tapi jalan fikirku berbeda. Kasihan Sakura jika terus menderita nantinya..." kata Aouyama memejamka mata.

"Tapi bukankah justru Sakura-chan akan menderita jika tidak bersama Sasuke?" Ibu cantik Uchiha itu tetap mengelak ucapan Aouyama. "Sakura-chan sangat mencintai Sasuke, begitupun sebaliknya..." lanjut Mikoto.

Ruang tamu itu kini terasa panas karena perdebatan keluarga Uchiha dan Haruno. Ini mungkin sedikit membuat kehormatan Uchiha jatuh karena berani mengemis pada keluarga Haruno, tapi Uchiha akan lebih jatuh dan busuk jika tak meminta maaf dan memohon pada Haruno.

"Karena itulah... Karena cinta mereka hanya akan membuat sengsara,"

"Sekarang ini berbeda, Aouyama!" Fugaku angkat bicara. Keduanya saling bertatapan, "Sekarang ini Sakura tengah hamil darah daging Uchiha, tak akan ada masalah lagi di antara mereka." ucap Fugaku menatap Aouyama begitu lekat. Fugaku benar-benar serius, selain untuk Sasuke dan keluarganya, Fugaku melakukan ini karena rasa sayangnya pada Sakura.

"Kami mohon," Mikoto sedikit membungkukkan badannya.

Aouyama diam sejenak, membuat semua yang di ruang itu menunggu keputusannya. Meski Fugaku, Mikoto, dan Azuki setuju, tapi kepala keluarga ini yang akan memutuskan jawabannya. Tapi akhirnya Aouyama berdiri dari duduknya dan perlahan berjalan dari sana.

"Maaf,"

Dan Aouyama pun lanjut melangkah menuju kamarnya, membuat Azuki menahan tangis, Mikoto juga hanya bisa tercengang, sementara Fugaku mununduk dengan raut wajah menyesal. Kenapa masalahnya bisa sampai sejauh ini? Keluarga Uchiha ditolak.

.

.

.

Tsuzuku . . .

.

.

.

Datte, Kimi Ga Warau Kara by AsaManis TomatCeri

© 2012

.

.

.

Yak, chapter depan akan menjadi chapter terakhir. Bagaimana hasil polling untuk ending fic ini? Hasil polling yang aku hitung bukan cuma di profil lho, tapi juga yang udah kirim PM dan lewat review. Sad atau Happy jadinya? #sokmisterius

Jawabannya ada di chapter depan. XD Makasih buat semua yang udah baca chap ini. Jangan lupa kasih ripiu.^^

SPECIAL THANKS :

Baby Kim, MeyHanazaki1, Uchiha Annisuke, Ajisai Rie, Ayano Futabatei, Mizuira Kumiko, Tsurugi De Lelouch, me, Gea Cherry Blossom, .77, Hikaru No Yukita, Seiya Kenshin, Jihand Setyani, Himeka30, Baka Iya SS, Mrs. Styles, Hikari 'ShiChi' ndychan, Aika Yuki-chan, Doremi saku-chan, SakuraChiha93, Guest, Chintya Hatake-chan, jean, Retno UchiHaruno, eunwook, Anka-Chan, Karasu Uchiha, , sakuraBELONGtoSASUKE, Killua Shocchii, anita, SeiHinamori, ichikagu meguya, Rara chan, Tsukiyomi Aori Hotori, Kithara Blue.

Dan para readers yang numpang lewat aja. Arigatou. ;)

See You Of The Next Chapter...!^^

R

E

V

I

E

W

?