World Without You
Characters ©Masashi Kishimoto
Story ©pipoooy12
Warning : typo, OOC, many more.
Mind to RnR?
Enjoy!
.
.
"Jadi.." Aku memperhatikan wajah Yoon Ju oppa yang pucat pasi. "Dia bukan manusia?"
Yoon Ju menggigit bibir bawahnya, ia berpikir keras. Alisnya bertaut. Saat ini kami berada dibalkon kamar tamu. "Ia manusia. Ia manusia. Namun nampaknya ia sedikit berbeda."
"Berbeda?"
"Ya, berbeda.." Ia melirik gadis itu dari jendela, memastikan keadaan. "Ini memang tidak masuk akal, tapi.. Ciri fisiknya sangat mirip dengan Elf."
"Elf? Oh, kau membuat otakku berasap, Oppa. Tolong to the point." Aku mengusap usap keningku. Kepalaku memang sedikit lebih panas dari pada biasanya. Ini selalu terjadi ketika aku mempelajari suatu materi pelajaran yang baru dan berat.
"Elf itu adalah.. Um, kau bisa menyebutnya, peri.. Peri berukuran sebesar manusia. Dalam mitologi kuno, mereka digambarkan memliki kuping yang runcing dan gigi taring yang lebih tajam dari pada manusia biasa."
"Mereka bersayap?"
"Entahlah.."
"Mereka kanibal?"
"Uh, aku juga tidak tahu.."
"Apa pencernaan mereka sama dengan milik manusia?"
"Aku tidak tahu! Aku ini dokter, bukan pengoleksi benda antik!" Yoon Ju memelototiku.
Kami terdiam sesaat. Angin pantai yang hangat dan sedikit lengket berhembus pelan. "Oppa.."
"Apa?"
"Aku senang bisa menyelamatkannya." Aku memandangi langit siang itu, tersenyum. "Minggu depan, ketika aku mengisi formulir pendaftaran sekolah, aku bisa dengan bangga menuliskan kata 'dokter' disana."
Aku Hong So Ra, tahun ini aku berusia 16 tahun. Usia dimana aku harus mengikuti sekolah persiapan khusus, di Seoul. Dan setelah itu, aku akan menjadi dokter seperti kakakku. Mengobati, menyembuhkan, dan menolong banyak orang.
Tak ada yang lebih membuatku bahagia selain hembusan nafas makhluk yang hidup.
Yoon Ju oppa tersenyum, "Kau akan jadi dokter terbaik didunia." Ia mengusap pucuk kepalaku keras, membuat rambutku berantakan.
"Ya! Oppa!" Aku memukulnya.
Lalu kami tertawa.
Pulau Jeju memang tidak besar, juga tak semaju kota kota lain di Korea. Kata nenek, dulu pulau ini adalah pulau wisata. Orang orang akan datang kesini jika mereka penat dengan kota besar dan ingin bermain. Pantas saja masyarakat pulau Jeju sekarang sangat suka bermain. Mansion besar yang menjadi tempat tinggal aku dan Yoon Ju juga merupakan peninggalan masa lalu, masa sebelum perang berlangsung.
Tak apa, aku tak keberatan dipanggil 'kampungan' oleh anak anak lain yang berasal dari kota besar. Aku suka disini. Paling tidak, di pulau ini aku bebas, dan bahagia.
"Um.. So Ra.."
Aku mengalihkan pandanganku pada Yoon Ju, "Ada apa?" Lalu aku mengikuti arah pandangannya.
Didalam kamar, gadis lavender itu sudah tersadar. Ia memegangi tangannya yang diperban oleh kakak. Posisi duduknya sedikit kaku.
"Dia bangun!"
"Tunggu dulu, So Ra!" Baru saja aku ingin berlari masuk untuk menyapanya, Yoon Ju menahan tanganku. "Kita harus memastikan dulu kalau dia tidak berbahaya."
Kelihatannya gadis itu mendengar suara kami, jadi dia memperhatikan kami dengan pupil abu abunya yang indah terus menerus. Tanpa ekspresi, bahkan ia tak berkedip.
Tubuhku kaku, "O-oppa.."
Tak ada jawaban. Aku tak berani mengalihkan pandanganku
"Oppa.."
Ketakutan terbesarku untuk menjadi dokter adalah, ketika aku harus menyelamatkan seseorang yang sebenarnya tak lagi pantas untuk hidup. Entah karena orang itu berbahaya, atau karena orang itu telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Dokter menolong semua orang, tanpa peduli dengan keselamatannya sendiri.
Kenyataannya adalah, aku benar benar takut.
Aku menarik pelan ujung kaos Yoon Ju, meremasnya.
Gadis lavender itu benar benar cantik, sekaligus memberi kesan seram. Aku masih terpaku menatap pupil kelabunya dari balik jendela. Namun tiba tiba ia menutup matanya.
Ia meraba kupingnya sendiri, lalu meraba wajahnya. Ia membuka lagi matanya, kemudian menyentuh seluruh kulit lengannya, rambut panjang lavendernya.
Yoon Ju mengetuk kaca jendela dengan jarinya, 2 kali. Gadis itu kembali menatap kami.
"Apa yang kau lakukan, Oppa?" Jantungku berdegup cepat.
"Ini aneh.." Yoon Ju oppa menggumam. "Ia tak mau bangkit berdiri walaupun ia sudah sadar dan melihat kita."
"Apa kita harus masuk sekarang?" Tanyaku.
"Kupikir begitu.."
Tangan Yoon Ju menggeser pintu kaca diujung balkon dengan lembut, agar suara yang ditimbulkannya tidak terlalu mengganggu.
Mata gadis lavender itu terus mengikuti setiap gerakan kami.
Ketika Yoon Ju berhenti melangkah, akupun berhenti.
"Hai." Suara Yoon Ju sedikit mencicit. "K-kau sudah.. Merasa lebih baik?" Aku bahkan tak bisa mengeluarkan suara apapun dari mulutku.
Gadis itu membuka mulutnya, gigi taring miliknya memang lebih panjang dari pada milik manusia biasa.
"W-who are you?"
Semoga Yoon Ju bisa berbicara dengan bahasa inggris, karena aku tidak bisa. Aku hanya diam. Seperti orang idiot.
"Oh, oh.. Um.. We, we are um.." Yoon Ju tergagap. "My, my name is.. Um.. Hong Yoon Ju, a-and.. Um, th-this is.. Hong So Ra." Ia menunjukku.
"Ah.." Gadis lavender itu tersenyum kecil, "I see."
Aku menatap kakakku gugup, ia juga menatapku.
"Thankyou, for.. Saving me, Yoon Ju, So Ra." Katanya lagi. "I'm.."
Gadis itu menunduk, seperti memikirkan sesuatu. "You can call me Elf. Just like what I'm now." Ia menghela nafas.
".. Yoon Ju.." Aku mencicit, Yoon Ju melirikku. "Untuk sesaat tadi, kupikir.. Ia akan menggeram dan mencabik kita."
Kami berdua membalas senyum terima kasih gadis itu.
"Kupikir juga begitu." Jawab Yoon Ju pelan.
.
.
.
World Without You
.
.
.
Sebuah kapal tentara Amerika berukuran besar mengambang ambang ditengah lautan.
Beberapa kaca jendela bulatnya telah pecah, dan pintu pintunya rusak oleh peluru peluru laras panjang. Di dek nya, banyak sekali mayat tentara bergelimpangan. Semua mayat itu memiliki 1 kesamaan: kulit mereka sama sama rusak.
Diantara bau anyir darah dari mayat mayat tersebut, Seorang pria bersurai merah bata berjalan dengan santai. Pupik hazelnya melirik ke kanan dan kiri, memperhatikan mayat mayat anak buahnya yang bertumpuk itu seakan sedang melihat pemandangan yang menarik. "Mereka semua lemah, tak berguna!" Ia menendang kepala salah satu mayat disana dengan sepatu boots kulit berwarna coklat tua yang ia kenakan.
"Kalian semua! Dengarkan aku!" Teriaknya pada para tentara yang masih tersisa. Jumlahnya kira kira 17 sampai 20 orang. Mereka semua juga mengalami luka luka akibat peluru beracun, namun mereka masih bisa bertahan. "Lihat aku baik baik!" Ia menunjuk wajahnya sendiri. Matanya melotot hingga bola matanya kelihatan seperti mau loncat keluar. "Apakah aku menua? Apakah ada bekas luka yang tersisa dikulitku?!"
Para tentara yang berbaris disana hanya bisa menunduk dan menggeleng kepala mereka lemah.
"Sekarang lihatlah mereka!" Si rambut merah bata itu kini menunjuk tumpukan mayat di sebelah kirinya. "Mereka semua adalah orang orang yang telah menolak injeksi serum yang kukembangkan! Lihatlah mereka sekarang! Lihat! Mereka mati sia sia! Mereka semua mati!"
Oh, aku tak suka bagian cerita seperti ini. Aku ingin Sasuke segera menemukan Hinata dan hidup bahagia. Tapi sayangnya, hidup tak pernah seindah dan semudah cerita dongeng. Nikmatilah, para pembaca.
Ditangan kanannya, si merah bata itu menggenggam sebotol besar cairan berwarna hijau terang. Sungguh, cairan itu memancarkan cahaya hijau aneh yang membuatnya terlihat amat, sangat, berbahaya. Lebih dari cairan merah yang telah ditegak Hinata. "Apa kalian masih mau menolak untuk memperoleh keabadian dalam setegak serum ini?!"
"Ti-tidak.." Jawab para tentara itu lemah.
"Jawab yang tegas!" Bentak Si merah bata.
"Tidak, tuan!" Jawab para tentara sekuat tenaga.
"Bagus.." ia menyeringai sangat lebar, "Sekarang, berbarislah.. Biar aku memberikan anugrah keabadian ini padamu, satu.. per satu.." Ia membuka tutup botol kaca ditangannya.
Pria dengan rambut merah bata diatas dek itu adalah Sasori, seorang peneliti bio-chemistry terkenal yang bekerja untuk Amerika. Di Amerika, ia dijuluki sebagai "The Doll Maker" Karena hobinya membuat serum serum pengendali manusia dan senjata kimia. Diusianya yang menginjak angka 21 tahun, dahulu, ia pernah kehabisan kelinci uji coba ditengah tengah pengembangan serumnya dan akhirnya ia mencobakan serum itu pada dirinya sendiri.
Sejak itu ia tak pernah menua.
Hebat bukan?
Bahkan tubuhnyapun akan kembali seperti semula jika ia dilindas oleh sebuah truk.
Tapi semua benefit itu ada bayarannya, tentu saja.
Dan kini, semua tentara yang tersisa diatas kapalnya, akan membayar dengan harga yang sama dengan yang telah ia bayarkan untuk keabadiannya itu.
.
.
.
World Without You
.
.
.
"Kalau begitu kita harus segera berangkat ke Korea, kita harus menyelamatkan para tawanan sekaligus memperingati negara itu tentang penyerangan Amerika." Nine memasang wajah serius setelah mendengar penjelasan dari sang kapten angkatan udara, Namikaze.
Namikaze adalah teman dari ayah Nine, Uchiha Fugaku.
Ya, paling tidak, hanya itu yang kutahu. Aku sering mengamati, menghubungkan, dan membentuk suatu formasi kesimpulan dari kehidupan banyak orang. Salah satu contohnya adalah temanku yang sedang buruk rupa itu, Nine. Atau boleh kusebut.. Uchiha Sasuke.
Ketika ia memperkenalkan diri, 3 tahun yang lalu, didepan kelas, wajahnya persis seperti pahatan. Tak berekspresi.
Tentu saja, dia menarik perhatian banyak gadis dan para siswa laki laki pun berlomba lomba berteman dengannya. Dia menarik perhatianku, karena dia terlihat seperti sebuah bidak catur yang harus segera kuselesaikan.
Tapi daripada mendekatinya seperti pria abnormal, aku lebih memilih tidur.
Aku sering tidur diperpustakaan, aroma buku tua bercampur kopi sungguh menenangkan. Lagipula, ada sangat banyak buku yang bisa membuatku nyaman dan tidak bosan disana. Bayangan wajah Nine melintas dipikiranku. Tidak, tidak. Aku masih normal. 100% normal.
Tapi kurasa aku pernah melihat wajahnya, entah dimana.
Mata hitam dan rambut raven, perawakan tinggi tegap dengan kemampuan merespon yang sangat cepat. Ia sangat sempurna, ia sangat sempurna,
Untuk menjadi seorang tentara.
Paling tidak, salah satu anggota keluarganya pasti tentara, tak mungkin wajah setegas itu berasal dari seorang seniman.
Aku lalu mencari buku "The List of Army's Leader" sebuah buku silsilah kepemimpinan angkatan bersenjata Jepang. Sulit sekali mencari buku tua seperti itu, karena semakin tua sebuah buku, maka akan diletakan semakin atas. Nine seharusnya berlutut dan berterima kasih kepada Tuhan karena peneliti super pintar sepertiku mau bersusah susah mencari tahu tentang kehidupan wajah pahatan seperti dia.
Cukup lama aku bergelut dengan tangga dan debu, hingga akhirnya aku menemukan buku yang kucari.
Dan benar saja dugaanku, aku melihat sangat, banyak, sangat, sangat, banyak, wajah pemimpin angkatan bersenjata yang bisa dibilang mirip dengan komposisi wajah Nine. Bidak catur yang sangat menarik.
Yang lucu adalah, beberapa diantara para pemimpin ini, tak mau menikah dan tak memiliki keturunan. Ada juga yang meninggal ketika masih berusia muda dan belum menikah. Pohon keluarga mereka nampak seperti sebuah piramida, meruncing tajam dipuncaknya. Dan nama terakhir yang tercantum disana adalah.. Uchiha Sasuke.
Tanpa foto.
T
B
C
