"Sakura-chan!"
Sang gadis Haruno menolehkan kepalanya begitu suara familiar Naruto terdengar. Naruto, dengan cengiran lebarnya, menghampiri Sakura dengan bersemangat.
"Naruto? Sedang apa disini?"
Karena mereka sedang berada di swalayan, tentu saja Sakura bertanya-tanya.
"Ehehe... Aku mau membeli cup ramen, ttebayo! Karena persediaan di rumah sudah habis.." Jawab Naruto, sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Begitu..." Sakura menganggukkan kepalanya mengerti. "Oh ya! Naruto, apa akhir-akhir ini kau melihat Sasuke-kun?"
Cengiran lebar Naruto pudar seketika mendengar nama si pemuda Uchiha. Tiba-tiba saja gambaran Sasuke dan Hinata yang saat itu sedang berdua di tempat mereka biasa latihan, terlintas di kepalanya. Sungguh, ia jadi merasa kesal sendiri—bahkan sampai membuatnya berpikir dua kali tentang perasaannya sendiri.
"Terakhir kali aku melihatnya..." Naruto berhenti sejenak. "...itu sudah agak lama, Sakura-chan. Waktu itu aku mengajaknya berlatih bersama, tapi dia tidak mau. Entahlah dia ada urusan apa."
Sakura hanya ber-oh ria. Setidaknya kini ia tahu bahwa Sasuke tidak sedang menghindarinya, karena Naruto juga sepertinya tidak bertemu dengan Sasuke akhir-akhir ini. Sakura sempat berpikir kalau Sasuke menghindarinya, entah karena alasan apa. Dan ia khawatir.
"Menurutmu, Sasuke-kun kenapa?" Tanya Sakura lagi.
Naruto yang mengetahui tentang kedekatan Sasuke dan Hinata pun bungkam. Tidak berani membuka mulut. Pasalnya, dia sendiri bingung sebenarnya ada apa dengan mereka berdua, sampai-sampai bisa dekat seperti itu.
"Entahlah, kurasa dia sedang tidak ingin diganggu 'ttebayo." Jawab Naruto asal. "Yah, si Teme itu 'kan memang selalu seperti itu. Kau ini, masa tidak tahu bagaimana si Teme, Sakura-chan!"
Mendengar jawaban asal Naruto, Sakura hanya bisa menghela nafas. Memang benar yang dibicaran mereka adalah Sasuke, tapi tetap saja Sakura merasa ada yang janggal.
Walaupun Naruto yang di depannya ini kelihatan menyembunyikan sesuatu, Sakura memutuskan untuk membiarkannya saja. Toh, akan datang waktunya untuk Sakura mengetahui apa yang disembunyikan Naruto.
"Ah, aku menyesal bertanya padamu, Naruto! Dasar bodoh."
"Hee!? Aku tidak bodoh Sakura-chan—itte itte! Jangan jewer telingaku!"
Unexpected Love © Haruna Yumesaki
Naruto © Masashi Kishimoto
Rated T
「うちはサスケ × 日向ヒナタ」
『Declaration』
"Hinata-sama?"
Neji menghentikan gerakannya begitu melihat Hinata sudah terduduk sembari memperhatikannya berlatih. Raut wajahnya yang biasa terlihat datar itu kini menyiratkan keheranan.
"Hinata-sama seharusnya beristirahat." Kata Neji, memutuskan untuk beristirahat sejenak dari latihan rutinnya. Dia menghampiri Hinata dan duduk di sampingnya.
"Daijoubu, Neji-niisan. Aku sudah membaik, kok." Hinata tersenyum. Setelah beberapa hari, Hinata merasa semakin membaik. Bahkan sekarang sudah merasa sembuh, tapi Neji masih tetap khawatir. "Sebenarnya aku sudah sembuh, kok! Sungguh, jadi jangan khawatir, ne?"
". . . Sudah sembuh?"
Kata-kata Hinata itu bagaikan pemicu.
Hinata sudah sembuh?
Sudah sembuh...
Kencan...
Uchiha...
Neji terlihat tidak nyaman, raut wajahnya mengeras lagi, datar tetapi terlihat sedikit... menyeramkan?
"Neji-niisan...?" Hinata bingung sendiri, takut-takut ia telah mengatakan sesuatu yang membuat Neji marah.
"Hinata-sama." Bahkan suaranya pun menjadi semakin rendah, terdengar mengancam. "...Jangan sampai berita kau sudah sembuh tersebar."
". . ." Hinata semakin dibuat bingung. Sebenarnya ada apa?
"Jangan sampai si Uchiha tahu."
Uchiha? Memang apa hubungannya dengan—
Oh...
Hinata jadi teringat dengan kata-katanya sendiri. Apa yang ia ucapkan saat itu, sebelum Sasuke pamit pulang dari rumahnya.
"A-aku akan menemuimu... Uhm.. Untuk membalas terimakasihku, nanti saat aku sudah sembuh.."
"Bukan kencan." Neji menimpali.
"Baiklah. Aku sendiri yang akan menjemputmu, Hinata. Aku pegang kata-katamu." Dengan itu, Sasuke mengelus puncak kepala Hinata. "Lain kali, pikirkan cara untuk menyingkirkan dia."
Dengan mengingatnya saja, tanpa dikomando wajah manis Hinata memerah. Membuat Neji semakin gondok melihat sepupunya tersipu begitu.
"Hinata-sama! Aku tidak akan membiarkanmu—tidak dengan si Uchiha iblis itu!" Sifat over-protektif Neji keluar.
Padahal Hinata hanya berniat untuk berterimakasih pada Sasuke, niatnya Hinata ingin membuatkan makan siang untuk Sasuke. Tidak lebih.
'Benar juga,' Neji masih menatap Hinata. 'Aku sendiri yang mengasumsikan itu sebagai kencan—mungkin kalau tidak, Hinata-sama tidak akan tersipu seperti ini.'
"Neji-niisan..." Suara Hinata terdengar sangat lembut mengalun di telinga Neji. "Sudah kubilang Nii-san tidak perlu khawatir, 'kan?"
Sejenak Neji terdiam, tenggelam dalam Hinata—sepupunya yang kini telah tumbuh menjadi gadis cantik dan kuat, yang entah mengapa menambah keinginan Neji untuk terus melindunginya.
"Sasuke-kun sebenarnya baik, Nii-san. Dan lagi, aku bisa menjaga diriku sendiri. Bukankah aku berlatih agar aku menjadi semakin kuat? Agar aku bisa melindungi diriku sendiri saat kau tidak ada?"
"W-walaupun sebenarnya Neji-niisan tidak perlu selalu melindungiku..."
Neji baru sadar kalau dirinya lebih seperti Kakak daripada sepupu Hinata. Mungkin Hinata memang menganggapnya sebagai kakak, tapi Neji sendiri... rasanya sulit untuk mengakuinya, mengingat dia pernah memperlakukan Hinata dengan kelewat buruk. Jauh sebelum itu, sebenarnya Ia memang menganggap Hinata sebagai adiknya sendiri.
"Hinata-sama..." Neji menggumam pelan, sebuah senyum kecil terlukis di wajahnya. Tangannya bergerak ke atas puncak kepala Hinata, menepuknya lembut—dan dengan sayang. Tentu saja ia tidak begitu memperlihatkannya. "Kau sudah dewasa... Aku baru menyadarinya."
Wajah Hinata bersemu kembali, dan kali ini Hinata tertawa kecil karena untuk kali pertama Neji memperlakukannya sebagai adik. Itu membuatnya merasa sangat senang.
"Jangan sungkan untuk men-jyuuken si Uchiha itu jika dia macam-macam denganmu."
— Declaration —
Sasuke belum mendapat kabar. Ah, mungkin lebih tepatnya, belum bisa bertemu dengan Hinata semenjak terakhir kali mereka bertemu. Apa sekarang Hinata sudah sembuh? Sasuke harus mengakuinya, ia sangat menantikan kencan dengan Hinata. Namun sampai sekarang Sasuke masih belum bertemu dengan Hinata. Apa mungkin ia harus datang ke Hyuuga Mansion dan meminta izin pada Hiashi-sama untuk membawa putri sulungnya berkencan?
Saat tengah memikirkan tentang rencana-menemui-Hinata-nya, Sasuke melihat figur Sakura yang kini sudah berada di hadapannya.
"Sasuke-kun!" Sasuke menghela nafas diam-diam.
"Ah. Senang rasanya bisa bertemu denganmu disini! Soalnya sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama..." Sakura tertawa kecil, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Sasuke tidak merespon.
"Sasuke-kun sedang apa disini?"
"...Hanya lewat."
Setelah itu hening. Atmosfir di sekitar mereka berdua terasa berat, canggung dan memaksa. Membuat Sakura jadi enggan untuk membuka mulut.
"O-oh... Um, memangnya Sasuke-kun mau kemana?" Walaupun begitu Sakura tidak ingin membiarkan moment ini terbuang sia-sia.
Memakan waktu beberapa detik sampai Sasuke menjawab pertanyaan Sakura.
"...Hyuuga."
Hati Sakura mencelos mendengar jawaban yang diberikan Sasuke, sangat tidak diduga. Kecurigaannya terbukti benar. Ternyata memang ada sesuatu di antara Sasuke...
"Sasuke-kun ada urusan dengan Neji?"
"Tidak."
...dan Hinata.
"Memangnya ada apa dengan Hinata...?" Sakura sendiri tidak yakin dirinya siap untuk mendengar jawaban Sasuke. Ia tidak ingin apa yang selama ini ia asumsikan itu ternyata benar.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya."
Itu saja sudah cukup. Sudah cukup membuat kaki Sakura lemas, hatinya sakit namun ia tidak membiarkan air matanya jatuh.
"Jaa."
Dan Sasuke pergi.
Meninggalkannya sendiri.
Hancurlah semua pertahanan Sakura. Gadis itu pasti akan terkulai lemas dengan banyak pasang mata yang menatapnya, tetapi sesaat sebelum itu semua terjadi, tubuhnya ditahan oleh seseorang. Orang itu yang selalu berada di sisinya, menenangkan Sakura dengan caranya sendiri. Naruto memeluk sosok Sakura, mengelus punggungnya lembut.
Dan Sakura menangis di pelukan Uzumaki Naruto.
— Declaration —
Pemuda bermarga Uchiha itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya begitu onyxnya menangkap surai indigo panjang yang ia yakini adalah surai selembut sutra milik Hinata.
Sasuke hendak mampir ke kediaman Hyuuga, namun sepertinya rencananya berubah. Hinata sudah sembuh, dan kini gadis itu sedang berbincang dengan guru Tim 8, Kurenai. Tanpa ragu, Sasuke berjalan menghampiri keduanya. Masa bodoh dengan kehadiran gurunya, ia hanya ingin menemui Hinata. Sekarang. Juga.
"Maaf aku membutuhkan waktu berhari-hari untuk sembuh, Sensei... Neji-niisan bilang demamku cukup parah..." Terdengar suara lembut Hinata memanjakan telinga kesepian Sasuke. Ah, betapa ia merindukan suara bak malaikat ini...
Kurenai yang menyadari kehadiran Sasuke di belakang Hinata kemudian tersenyum, dan tanpa ba-bi-bu langsung berpamitan, dengan alasan ia lupa untuk membeli bahan makanan malam nanti. Membuat Hinata mengangguk dalam apresiasi, karena kebaikan gurunya itu meskipun Hinata absen selama beberapa hari.
Namun Hinata masih belum menyadari kehadiran Sasuke di belakangnya.
Tidak sampai suara baritone Sasuke terdengar.
"Sudah sembuh, eh?"
Yang sontak membuat Hinata berbalik, lavender pucatnya sedikit melebar melihat sosok Uchiha Sasuke di hadapannya dengan sebuah seringai kecil yang mempesona mendekorasi wajahnya yang memang sudah tampan; memicu jantung Hinata berdetak lebih cepat, dan semburat kemerahan yang langsung muncul di pipinya.
"S-Sasuke-kun!" Pekiknya kaget, semakin menggenggam erat kotak bento yang berwarna senada dengan matanya.
"Hn. Kau sudah di depanku, aku tidak perlu repot-repot menjemputmu." Ujarnya tenang, walaupun jantungnya yang berpacu cepat seperti sehabis dirinya lari marathon itu mengkhianati postur kalemnya. "Sa, Hinata. Aku menagih janjimu."
"I-itu..." Hinata menjadi semakin gugup. Dia memang hendak menepati janjinya, tapi setidaknya biarkanlah ia mengucapkan terimakasihnya dengan benar.
"H-hontou ni arigatou gozaimasu!" Menghindari tatapan Sasuke, Hinata membungkuk dalam-dalam, membuat Sasuke berdecak melihat tingkahnya.
"Tch, tidak perlu sampai seperti itu, baka." Kata Sasuke, merasa tidak enak karena mereka sudah menjadi tontonan orang-orang yang berlalu lalang. "Hinata, berdirilah dengan tegak. Lihat aku."
Suara baritone Sasuke memerintahnya dengan nada rendah. Seolah terhipnotis, Hinata kembali menegakkan postur tubuh, dan dengan sedikit ragu ia mendongakkan kepalanya sedikit untuk melihat wajah Sasuke.
"Ayo." Tanpa berbicara apapun lagi, Hinata hanya bisa mengikuti Sasuke yang kini sudah menariknya pergi, sambil menggenggam tangannya erat.
Oh, Sasuke tahu betul para wanita yang berada disana sedari tadi seolah menatapnya sebagai kaum Adam terakhir di dunia.
Memang belum resmi, tapi biarkanlah mereka tahu kalau Sasuke benar-benar tidak tertarik dengan mereka. Bahwa dirinya terikat dengan gadis manis di genggamannya.
— Declaration —
"Jadi, Neji membiarkanmu untuk kencan bersamaku?" Sasuke membuka pembicaraan.
Keduanya kini sedang berada di tempat Sasuke biasa berlatih. Alasannya hanya satu, agar tidak ada siapapun yang mengganggu momennya bersama Hinata. Onyxnya dengan anteng memperhatikan Hinata yang sedang membuka kotak bento.
"Um..." Hinata menganggukkan kepalanya, menyunggingkan senyum manis di wajahnya. "Ano... Aku tidak tahu makanan apa yang kau suka—"
"Ada tomatnya?"
"I-iya..." Hinata ingat saat di swalayan Sasuke pernah membeli tomat. Setelah menyimpan tutup bentonya, terlihatlah beberapa onigiri kesukaan Sasuke, tamagoyaki dan tomat ceri yang ditaruh di pinggirnya. "M-maaf aku hanya membuat ini..."
Sebenarnya, dibuatkan bento oleh Hinata saja Sasuke sudah kelewat senang. Dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya, walaupun hanya bertahan selama beberapa detik.
"Kelihatannya enak."
Tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata amethyst pucat tengah memperhatikan mereka dari kejauhan—tidak terlalu jauh sebenarnya, agar dia bisa leluasa menyaksikan kencan si pemuda Uchiha dan Hinata.
Siapa lagi kalau bukan Hyuuga Neji, sepupu bunke Hinata, yang akhir-akhir ini sifat over-protektifnya sering keluar?
"Tch! Sialan si Uchiha itu!" Umpat Neji kesal, dengan suara tertahan karena ia menggertakkan giginya. "Sudah kuduga mereka memang berkencan...!"
Neji sudah naik pitam melihat Hinata yang terlihat senang gembira bersama Sasuke. Ingin sekali ia menghampiri mereka berdua dan langsung menarik Hinata pulang. Tapi, tentu saja ia tidak bisa. Apa yang sedang ia lakukan sekarang saja mungkin sudah akan membuat Hinata marah—entah apakah bisa disebut marah—jika ia mengetahuinya. Dan ia mengutuk dirinya sendiri karena bisa-bisanya ia melanggar privasi Hinata.
"Aku suka onigiri." Sasuke mengambil onigiri buatan Hinata, menatapnya dengan tatapan aneh. Pasalnya, onigiri itu dihias dengan imutnya oleh Hinata—yang diantaranya berbentuk panda, kucing dan pinguin.
"Kenapa kau membentuknya seperti ini?" Tanya Sasuke.
"E-etto..." Hinata kehilangan kata. Ia sendiri tidak tahu kenapa. "M-mungkin karena sudah terbiasa... Maafkan aku..."
"Hn," Yang penting rasanya, tambah Sasuke dalam hati. Kemudian ia pun menggigit onigirinya, mengunyahnya perlahan.
Sementara Hinata yang berada di sampingnya hanya bisa menatap Sasuke; menunggu. Hinata takut Sasuke tidak menyukai makanan buatannya.
Sasuke yang menyadari tatapan Hinata hanya diam sembari terus mengunyah onigirinya sampai habis. Lalu, ia meraih onigiri yang satunya, dan pada akhirnya Sasuke hanya menyisakan tamagoyaki dan tomat di kotak bento Hinata.
Hinata memberanikan diri untuk bertanya. "D-dou desuka... Sasuke-kun...?"
"Hn," Sasuke menggumam tidak jelas, kali ini ia memakan tamagoyakinya; dengan sengaja membuat Hinata bingung.
Hinata memang berbakat dalam bidang memasak. Dan entah mengapa Sasuke tersenyum senang dalam hati, ia mengetahui satu hal lain tentang Hinata—yang mungkin hanya diketahui oleh beberapa orang saja.
"Kau suka memasak?" Sasuke bertanya, menolehkan kepalanya pada Hinata, membuat jarak keduanya semakin menipis. Hanya anggukkan kepala yang Sasuke dapatkan dari Hinata.
.
.
.
Sementara itu di tempat yang tak jauh dari Sasuke dan Hinata, Neji hanya bisa mengepalkan tangannya melihat Sasuke yang sengaja mempersempit jarak wajah keduanya.
"Uchiha sialan!" Neji kerap mengumpat.
Terlihat Sasuke yang semakin mendekatkan wajahnya sampai jaraknya hanya beberapa centi dari wajah Hinata. Dan sekilas, Neji bersumpah dia melihat Sasuke yang melirik ke arahnya lalu menyeringai penuh kemenangan.
"Uchiha setan... Awas kau!"
Terpancing oleh tindakan Sasuke, Neji menggeram kesal dengan tangan terkepal kuat, sudah siap untuk memberi beberapa ucapan selamat pada Sasuke.
.
.
.
"S-Sasuke-kun... terlalu dekat..."
"Memangnya kenapa?" Padahal hanya berjarak beberapa centi, tapi Hinata terlihat sangat memerah, dan dari gelagatnya kelihatan seperti yang sudah siap pingsan. "Hanya ada kita berdua disini."
Sasuke mendekatkan wajahnya, onyx kelam tenggelam dalam indahnya lavender pucat milik Hinata. Jemari Sasuke mengelus pipi halus Hinata dengan lembut...
Hinata tidak bergeming. Otaknya menyuruhnya untuk segera menghindar, jyuuken jika dibutuhkan. Tapi tubuhnya enggan bergerak, mengkhianati keinginannya. Jantungnya berpacu sangat cepat, dan kedua kelopak mata Hinata tertutup begitu menyadari Sasuke semakin dekat.
Ia bisa merasakan hembusan nafas Sasuke di wajahnya.
Dan kini ujung hidung mancung Sasuke yang bersentuhan dengan hidungnya.
Ah, aroma tubuh Sasuke tiba-tiba menyeruak memanja indera penciuman Hinata.
Bibir mereka bertemu untuk yang kedua kalinya.
Déjà vu...
'S-Sasuke-kun mengambil ciuman pertamaku disini... Saat itu—'
"Hinata-sama!"
Sontak Hinata menjauhkan wajahnya dari Sasuke, dengan wajah yang sudah jelas memerah, Hinata menoleh ke sumber suara.
"N-Neji-niisan?!"
— Declaration —
"Gomenasai, Hinata-sama..."
"Tch, hargai privasi orang lain, Hyuuga."
"N-Neji-niisan... S-sudah kubilang aku tidak apa-apa." Hinata terdengar kecewa setelah mengetahui Neji yang sedari tadi mengikutinya—terimakasih pada Sasuke, info tidak relevan seperti itupun harus disampaikan pada Hinata.
"Hn, karena aku akan menjaganya." Timbal Sasuke, kedua lengan dilipat di depan dada bidangnya. "Dasar payah."
"Aku hanya khawatir. Uchiha yang bersamamu ini bukanlah orang terbaik di desa—"
"Neji-niisan!"
Baru pertama kali Hinata membentaknya seperti itu.
"D-daijoubu dakara..." Hinata menggigit bibir bawahnya, spontan merasa tak enak telah menyentak Neji seperti itu. "G-gomen..."
Neji menghela nafasnya dalam-dalam. Tanpa mengatakan sepatah apapun lagi, Neji pun berbalik dan dengan enggan meninggalkan Hinata.
Kalau sudah begini, mau ditaruh dimana mukanya nanti? Ia merasa sangat rendah, telah membuat kepercayaan Hinata goyah, dan membuatnya kecewa sekaligus. Semoga saja Hinata bisa memaklumi perbuatannya kali ini...
"G-gomenasai Sasuke-kun..." Kepala Hinata tertunduk dalam-dalam, kedua tangannya meremas ujung bajunya untuk menghilangkan rasa gugup dalam dirinya.
"Hn?" Sementara Sasuke hanya bisa menggumam, masih merasa kesal Neji telah menghancurkan momentnya bersama Hinata.
"S-soal Neji-niisan..."
"Hn."
Hening untuk beberapa saat. Tak ada yang membuka suara. Sasuke masih diam dengan pandangan lurus kedepan, kedua lengannya masih terlipat di dadanya.
"A-apa Sasuke-kun marah...?"
"Ya." Hinata beruntung Sasuke menjawab kuerinya dengan jelas.
"Ung..." Sasuke menoleh, melihat butir airmata yang sudah berkumpul di ujung mata sang gadis.
"Tapi, ada yang bisa kau lakukan jika kau ingin aku memaafkanmu."
Kedua lavendernya berbinar, "T-tolong katakan padaku!"
Sasuke menyeringai kecil, "Suapi aku."
"Eh?" Kali ini gadis anggun itu mengerjap. "T-tapi hanya tinggal tomatnya..."
"Apa perlu kuulangi ucapanku?"
Mendengar penuturan kata Sasuke yang dingin, Hinata buru-buru mengambil sepotong tomat dan menyuapinya pada Sasuke. Dan si pemuda yang disuapi hanya bisa membuka mulutnya dengan senang hati.
"S-sudah..." gumam Hinata pelan saat semua bento buatannya sudah habis dimakan oleh Sasuke. "S-sekarang Sasuke-kun sudah tidak marah padaku... 'kan?"
Pertanyaan polos sang hawa membuat si adam terkekeh pelan. "Ada satu lagi, Hinata."
"U-um...?"
Uchiha Sasuke kembali bungkam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mungkin perasaan yang dirasakannya saat bersama Hinata adalah sebuah kesalahan. Tetapi walaupun begitu, tampaknya Sasuke tidak bisa menghentikkan dirinya sendiri. Sebuah gairah untuk terus bersama Hinata muncul di hatinya yang penuh dengan kegelapan. Seperti secercah cahaya, yang lalu membuat tubuhnya seolah bergerak sesuai insting lelakinya saat bersama Hinata. Sasuke tidak ingin kehilangan cahaya itu, yang mungkin bisa menyelamatkannya suatu hari nanti dari kegelapan yang selalu menyelimuti dirinya.
'Cantik. Kami-sama, gadis ini sangat cantik.' Sasuke tak sanggup menyuarakan apa yang ada di pikirannya. Tampaknya pemuda itu kembali bertindak sesuai insting. Karena sekali lagi, Sasuke mendapati wajah Hinata yang sudah sangat dekat dengan miliknya.
Tak ingin berlama-lama, sang Adam dengan cepat menyatukan bibir mereka kembali. Terasa lega di dadanya menyadari Hinata tidak memberontak, dan malah memejamkan matanya menikmati ciumannya. Dengan itu, Sasuke memberanikan diri melingkarkan lengannya di pinggang ramping Hinata, sementara kini kedua tangan gadis itu sudah berada di dada bidang Sasuke.
Beberapa detik kemudian, Sasuke menjauhkan wajahnya, melihat Hinata melakukan hal yang serupa, lalu kedua mata mereka kembali bertemu.
Awalnya Hinata merasa sangat gugup, sampai pada titik dimana ia akan pingsan. Tapi melihat wajah Sasuke yang kini dihiasi oleh semburat wajah yang jarang sekali terlihat, membuat Hinata tertawa kecil. Ternyata Sasuke juga merasakan hal yang sama dengannya.
"Apa yang lucu?" Suara baritone Sasuke terdengar kesal.
"Uhm—" Hinata menggelengkan kepalanya kecil. "Apa Sasuke-kun sedang gugup?"
"—Tch, di mimpimu." Penyangkalan Sasuke malah membuatnya terlihat manis, apalagi kini Sasuke mengalihkan pandangannya. Ah, sekarang Hinata mengerti kenapa kaum hawa diluar sana begitu terpikat dengan pesona Uchiha Sasuke.
"A-aku juga merasa sangat gugup..."
"Kau selalu gugup."
Hinata melepas tawanya, membuat Sasuke kembali rileks, namun ia tak melepaskan tangannya dari pinggang Hinata.
"Hinata. Kalau aku tidak bertemu denganmu, apakah aku akan tetap mengetahui perasaan seperti ini?"
Kueri yang ditujukan Sasuke padanya membuat Hinata terdiam, pasalnya ia sendiri tak tahu perasaan apa yang sebenarnya dirasakan pemuda Uchiha itu—karena Sasuke tidak pernah bicara apa-apa tentang perasaannya pada Hinata.
"M-mungkin saja..."
"Darimana kau tahu?"
"E-eh?"
"Menurutku, sudah jelas jawabannya tidak."
Hinata mengerjapkan matanya, "M-Mengapa begitu?"
Sudut bibir pucat Sasuke tertarik ke atas, hanya sedikit, membentuk sebuah senyuman tipis yang dalam sudut pandang Hinata terlihat tulus.
"Lupakan," Sasuke sedikit menundukkan kepalanya, iris kelamnya kembali pada lavender Hinata. "Sa, karena aku sudah mengambil ciuman pertamamu..."
Blush.
'D-darimana Sasuke-kun tahu tentang hal itu?'
"...Apa sekarang kau milikku?"
Lidahnya terasa kelu, hatinya sakit—namun entah kenapa Hinata merasa bahagia. Begitu sakit, sampai-sampai butir-butir bening itu kembali menumpuk dan kini terjatuh dari matanya.
"Hinata—"
"H-hatiku... terasa sakit. T-tetapi aku juga merasa bahagia..." Hinata tidak berani memperlihatkan wajah menangisnya di depan Sasuke. "A-apa ini yang Sasuke-kun rasakan...?"
"... Heh." Seringaian Sasuke kembali terlihat, walaupun Hinata melewatkannya. "Jadi kau merasakannya juga."
Setelah Hinata menganggukkan kepalanya, Sasuke menarik dagu Hinata pelan, kemudian mendongakkan kepalanya.
"Berhenti menangis, baka."
Tap.
Sasuke menyentuh dahi Hinata yang tertutupi oleh poninya dengan jari telunjuk dan tengahnya. Persis seperti yang sering dilakukan oleh kakaknya padanya.
"Payah. Kau merasakan hal yang sama denganku tapi malah menangis."
"M-Maaf... Sasuke-kun..."
"Oi, sudah kubilang berhenti menangis—keh."
Sasuke menggerutu kesal, tanpa diduga ia menarik Hinata dalam dekapannya. Terbukti efektif, tangisan Hinata reda seketika.
"Kau milikku, Hinata."
Terdengar seperti pernyataan sepihak memang, tetapi Hinata mengangguk. Dan keheningan itu kembali, namun tidak membuat Sasuke sedikitpun melonggarkan dekapannya; malah sebaliknya. Dan sungguh, ia—tidak. Mereka berdua berharap waktu bisa berhenti—mereka ingin menikmati momen ini lebih lama lagi.
"Sasuke-kun?"
"Hn?"
"Arigatou..."
Sasuke membalas dengan senyuman kecil, lalu tangannya bergerak membelai puncak kepala Hinata, membuat sang gadis tersenyum lembut. Mungkin—Sasuke memang benar.
Dengan Sasuke, melupakan Naruto akan menjadi lebih mudah.
— おわり —
Tamat, deh... :"D
Kok author jadi sedih sendiri ya? *sesenggukan* Pada akhirnya ada satu cerita yang ditamatin... QwQ
Hoho~. Gimana endingnya? Sudah pas kah? Atau kurang memuaskan? Tidak memuaskan sama sekali? X"D
Yah, mau gimana lagi. Author juga sebenernya ngga puas sama endingnya. *lah* Setelah dibaca-baca lagi chapter sebelumnya, malah kebawa baper sendiri sama SasuHina di UL ini. Hadeh, padahal kan saya sendiri yang nulis... =='
Ah—maaf kalau endingnya tidak seperti yang kalian ekspektasikan. Author hanya menulisnya sebagaimana imajinasi author berjalan. Dan maaf juga kalau ada typo, dsb- author lupa edit XD
Dan, terimakasih banyak untuk para readers yang setia membaca dan menunggu UL dari prolog sampai ending ini :"D tanpa kalian, author ngga akan bisa tamatin ff ini *plak*
Hime (aduh, jahat sekali permintaannya QwQ), Damai, mawarputih, adevil559 (updated! tapi kali ini udah tamat hehe), shebaby, yuma, rikarika, sasuhina69, ana, HipHipHuraHura, kaila wu, pengagumlavender26, mprill uchiga, Guest (Naruto? Wah, kemana ya dia.. author juga ngga tau XD), haeri elfishy, dan semuanya yang sudah mendukung dari awal cerita! Terimakasih banyak!
Nahh~ Karena dengan berakhirnya UL, saya jadi nganggur deh. Pasti kalian bertanya-tanya tentang NaruSaku kan? XD Hayoloh~ Author sengaja menggantungkan mereka hohoho~ Ah ya, karena sepertinya banyak yang kurang puas dengan ending ini, ada kemungkinan besar author akan membuat sekuelnya. Readers di ffn ini setuju atau tidak? eue)a
Biar nanti urusan NaruSaku dan kelanjutan hubungan kapel manis SasuHina kita ini dijelaskan lebih lanjut di sekuel~ :3
Yah. Sudahlah, segini aja :"D Kalau ada yang mau request, PM/Komen disini langsung juga nda apa kok :3 Oh ya, PM saya terbuka untuk siapa saja yang mau ngobrol. Yuk yuk sini ngobrol~
Sekali lagi, terimakasih banyak readers-tachi! Sampai jumpa di fanfic selanjutnya~
Mata ne~!
