Each Tiger Has Its Tale
Hello.. hello.. helloo...
Kembali lagi dengan saya Shakazaki Rikou with the new chapter of Each Tiger Has Its Tale, My bro!
Kayaknya chapter ini bakalan amberegul.. tapi entahlah..
Rate : T
Disclaimer : I don't own Sengoku Basara. The OC, plot, stories, and idea belongs to me.
Warning! : Countain many OC, Dont Like Dont Read.
XXX
BALESAN REVIEW!
KuroIChio :
HAYO YANG KANGEN! SINI MBAK SAYA PELUK!
Cie yang kehanyut bacanya.. sampe nangis gak? :3/slaps/.
Makasih udah mau ngebaca fanfic saya ya. Jumpa lagi.
Hananami Hanajima :
DEDEKKU! SAYANGKU! CINTAKU!
AING KANGEN BANGET SAMA KAMU NAK!
SINI KAKAK PELUK SAYANG! KAKAK PELUK SINI! /SLAPS!/
Maafkan kakak yang baru bisa ngapdet fanfic ini. Padahal ini khusus buat kamu. Tapi ternyata saya emang payah.
Dedekku.
Kak Saki pengen tahu. kamu tetep baca fanfic ini kan?
Kalo iya. Makasih.
Kakak sayang kamu.
MAKASIH MINNNAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!
XXX
Chapter 9 :
"Harusnya ada disini.."
Seorang pria berambut biru panjang, dengan bagian kiri depan dikuncir itu tampak membolak-balik setumpuk berkas. Di sebuah kamar gelap dengan penerangan minim. Yaitu lampu minyak yang ada di sudut ruangan.
Meski keadaan yang kurang cahaya. Mizuage tetap meneliti kertas-kertas itu tanpa halangan sedikit pun. Seolah bisa membaca semuanya hanya dalam sekali lihat.
Berkas-berkas dengan tulisan rapi, dengan foto di sudut kiri atas. Berisikan data-data tersembunyi yang hanya boleh diketahui beberapa orang saja. Termasuk dirinya.
Manik ungunya hanya bergerak sedikit ke kiri dan kanan. Kurang dari semenit, berkas yang baru saja dia pegang sudah tergeletak lagi di meja. Berganti dengan yang lainnya.
Sampai dia berhenti pada sebuah berkas. Berkas yang paling akhir.
Kertasnya sudah agak kusam dan lecek, tapi tulisannya bisa dibaca dengan jelas. Di pojok kiri berkas itu ada potret seorang pria yang nampak tua. Dengan rambut putih panjang dikuncir kuda. Wajahnya dimakan garis-garis penuaan tapi dia masih dilihat tampan dari satu sisi.
"Hakurei.. Sagara.." gumam Mizuage saat membaca tulisan yang tertera di samping foto itu.
Pegangannya pada kertas itu mengerat.
'Pria ini.. menurutku adalah sebuah mitos kalau sampai seorang Sage Legendaris memiliki hubungan dengan Brigde. Organisasi kami. 'Sage' sudah menjadi legenda bagi kami, para Knight. Mereka yang diharuskan memiliki jiwa yang suci, juga berkeseimbangan mental, kupikir itu hanya gosip. Tak kusangka benar-benar nyata..' batin pria itu.
Dia pun membaca setiap tulisan dengan teliti. Memastikan tidak ada satupun yang terlewat.
"Riwayat Misi.. Meninggal setelah menjalankan misi pertama dan terakhir.." ujarnya. Mizuage nyaris menganga tak percaya.
Matanya tertancap pada sebuah deret angka yang ada di bawah riwayat misi berkas itu.
"Tanggal 5 Mei... 3 tahun yang lalu..?"
XXX
...
...
...
...
...
...
...
...
...
XXX
Surai panjang berwarna emas itu jatuh seketika. Suara gemericik air terdengar pelan di sekitar kawasan tersebut.
Seorang gadis muda, dengan kimono putih bercorak lotus, dan rambut terurai panjang. Mencuci wajahnya dengan air sungai yang jernih. Wanita itu menghela nafas lega, dia membuka mata biru esnya.
Manik itu turun ke bawah. Ke arah sungai yang mengalir begitu tenang. Memandang bayangnya sendiri di depan air. Gadis itu bungkam.
Wajah pucat dengan bibir tipis yang tampak begitu merah. Seakan dicelup darah. Mata yang disebut-sebut sebagai safir beku. Juga rambut emas panjang bagai benang sutra. Sungguh rupa gadis muda yang sangat menawan.
Fuyuki hanya diam melihat semua itu. Dia menyentuh wajahnya sendiri. Wajahnya yang pucat.
"Tidak ada yang bisa kau banggakan dengan rupa seperti itu. Apa kau tahu kenapa kau dinamai seperti laki-laki?"
"Karena tidak ada yang mengharapkanmu sebagai perempuan.."
"Aku berharap besar pada yang satu ini. Memang bukan sesuatu yang mustahil jika membuatmu tumbuh sebagai laki-laki. Tapi wajahmu.. wajah apa ini?"
"Asal kau tahu saja.."
"Kecantikanmu adalah dosa,"
"..."
Jari Fuyuki langsung turun lagi dari wajahnya menuju air yang dingin. Menciptakan cipratan kecil begitu tangannya memukul pelan air sungai.
Fuyuki menyentuh rambutnya sendiri. Rambutnya yang panjang.
"Rasanya baru kemarin itu terjadi.." gumamnya. Dia melemparkan helai rambut itu pelan. Kembali menimpa wajahnya.
Tangan Fuyuki yang lain mengambil sebuah topeng besi yang tergeletak tak jauh darinya. Dia memasang topeng itu ke wajahnya lagi. Sempurna sampai tidak terlihat sedikit pun.
Itu adalah kesalahannya.
"Kita akan bergerak beberapa saat lagi. Fuyuki?"
Gadis itu berbalik ke arah semak-semak. Melihat pria tinggi besar dengan pakaian serba merah itu menjulang dari balik dedaunan pohon.
"Ya... dimengerti.." jawab Fuyuki sambil mengangguk kecil. Dia pun berjalan menjauhi sungai itu.
...
Kedua orang itu terus berjalan menelusuri hutan lembab dengan suhu yang cukup dingin. Shingen tidak membawa pengawal, hanya Fuyuki saja yang ada bersamanya. Mengikutinya dari belakang.
Gadis itu tidak masalah dengan cuaca seperti ini. Meski kain kimono-nya bukan bahan yang tepat untuk melawan hawa dingin. Tapi dia seorang pengendali es.
Matahari tampak enggan nampak di balik dahan pohon itu. Pasti mereka sudah sampai di tempat yang cukup tinggi.
"Oyakata-sama, jika aku boleh bertanya.. kenapa tidak Yukimura-danna saja yang dikirim ke Oshuu?" tanya Fuyuki. Mendekati figur Shingen yang terus berjalan menyusuri hutan tanpa henti.
"Kenapa kau menanyakan hal seperti itu?" tanya Shingen. Mematahkan sebuah dahan pohon yang menghalangi tanpa menoleh. Membuat Fuyuki terdiam di balik topeng besinya.
"Sasuke selalu mengatakan padaku setiap hari. Hal yang paling membuat danna bersemangat hanyalah rivalnya. Dokuganryuu, Date Masamune.." jawab gadis itu.
"Lalu?"
"Daripada saya yang tidak tahu apa-apa. Bukankah akan jadi menarik jika kedua orang itu saling bertemu?" tanya Fuyuki balik. Dia membersihkan daun kering yang berguguran dari bajunya.
Mendengar hal itu, Shingen bungkam. Dia memandang gadis di hadapannya sejenak.
"Semenarik apapun sebuah pertunjukan yang pasti bagus. Siapapun juga tahu, kalau pementasan baru lebih membuat penonton penasaran dibanding yang sudah-sudah.." jawab Shingen. Dia tersenyum bangga.
Pria itu pun berjalan kembali dengan wibawa. Menapaki bebatuan terjal dengan langkah yang bermartabat.
Fuyuki yang melihatnya terdiam.
Oyakata-sama... benar-benar orang hebat.. gumam gadis itu dalam hati.
Masih terpana, dia menyusul Shingen dengan meloncati bebatuan yang ada. Membuat kedua figur itu kembali bersandingan tidak jauh.
XXX
-Kediaman Date Masamune-
Glek.. glek..
.
Slrup...
.
Glek.. glek..
.
Slrupp...
.
Glek.. Glek.. Glek..
.
Slruuupp..
.
Glek.. Glek.. Glek..
.
Slrrrrruuuuupp!
.
DAAAAKK!
Suara hentakan cangkir sake terdengar begitu nyaring di ruangan sepi itu. Membuat seorang lagi yang berada disana terdiam. Menghentikkan aktivitas minum tehnya.
"No kidding.. what's up Kojuuro? Kenapa kau menatapku terus seperti itu?" tanya seorang pria dengan eyepacth pada akhirnya. Mengangkat wajahnya yang rupawan dibalik helai coklat panjang.
Sementara orang yang dinamakan Kojuuro tadi juga ikut meletakkan cangkirnya ke atas meja kecil. Dia menghela nafas.
"Tidak.. tidak ada apa-apa.." kata Kojuuro. Pria itu menatap si naga mata satu yang ada di hadapannya. Yang sekarang sedang menuang sake baru untuk satu tegukan lagi.
"Apa saya.. mengganggu anda..?" tanya pria dengan bekas luka di pipi itu. Dengan nada serius.
Masamune yang mendengarnya memincingkan mata. Jangan-jangan ada sesuatu yang buruk.
"Ya.." jawab pria itu.
"Oh.. Maafkan saya,"
"BUKAN SOAL MINTA MAAF ATAU TIDAK!" kata Masamune sambil menggebrak meja kecil itu. Tapi tidak cukup kuat untuk menjatuh cangkir dan cawan yang diletakkan di atas sana.
"Oh, jadi ada apa?"
Masamune hanya bisa menghela nafas. Kadang-kadang beginilah Kojuuro. Jika mereka sudah santai, bukti-bukti sebagai Ryuu no Migime bak hilang ditelan bumi. Kojuuro sangat mudah teralihkan fokusnya. Jika beberapa detik yang lalu mereka membahas rencana penyerangan secara serius. Maka hanya dengan secangkir teh. Kojuuro sudah berubah bak paman-paman yang sedang bersantai sehabis meladang.
"Kita sekarang sedang menghadapi masa-masa damai. Si tua Oda itu juga sudah mati di kastilnya sendiri. Lukaku sudah sembuh, begitu juga dengan lukamu.." kata Masamune sambil menghela nafas.
"Ya.. saya mengerti..." kata Kojuuro.
"Tapi ada satu hal yang masih membuatku pusing.." lanjut pria tampan itu. Dia menopang wajahnya dengan tangan. Berpikir.
".. Naniga? Masamune-sama?"
"Echigo.. Bishamonten katanya sedang menghadapi masalah merepotkan.." jawab Masamune. Sorot matanya normal.
"Uesugi Kenshin baru saja siuman. Beberapa hari yang lalu kita digegerkan kalau Sang Dewa Perang akan mati.. pada akhirnya dia bisa diselamatkan," sambung Kojuuro.
"Katanya di daerahnya sering terjadi hal-hal aneh. So strange.. sebuah keluarga tewas tanpa diketahui siapa pembunuhnya. Kalau hanya penjahat kecil itu sih bukan masalah. Tapi kenapa orang itu sampai menggegerkan Echigo?" tanya Masamune. Meski dirinya tidak mengharap sahutan.
"Tidak ada sebuah kedamaian yang berarti.." ujar pria yang lebih tua darinya.
"Kau benar."
Masamune menatap lukisan langit di luar jendela itu. Angin sepoi menerpanya dengan lembut.
"Kita sudah mengalami banyak hal karena Oda Nobunaga.. Oshuu sekarang sudah kembali tenang. Aku yakin jika Echigo bisa mengatasinya. Tapi kuharap hal menyebalkan seperti itu tidak terjadi pada kita.." gumamnya. Dia menutup mata.
"So.. tampangmu itu.. apa benar tidak sedang terjadi apa-apa?" tanya Masamune. Setelah mengembalikan lagi kewarasannya.
"Semuanya baik-baik saja, Tuan. Hanya saja Shingen Takeda sedang perjalanan kesini dan akan sampai nanti sore..."
"Oh..."
.
.
.
.
.
.
.
Hening.
.
"Kojuuro.."
.
"Ya?"
.
"Takeda?"
.
"Maaf tuan.. sebenarnya itu Shingen Takeda.."
.
"Takeda no ossan yang punya anak buah Yukimura Sanada si rivalku itu 'kan?"
.
"Tentu, Tuan.."
.
BRAAAAAAAK!
Sebuah cawan sake melayang.
"KENAPA KAU BILANG TIDAK ADA APA-APA!"
XXX
"Hatchi!"
"Eh.."
Shingen menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia merasa hidungnya sedikit gatal tadi. Fuyuki yang melihatnya langsung menjauh sedikit.
"Kenapa oyakata-sama? Flu?" tanya Fuyuki.
Shingen mengusap-usap hidungnya dengan kain lap. "Tidak.. tapi cuacanya memang dingin. Atau kau saja yang tambah dingin.." gumam Shingen.
"Eh.. ehehehehe," gadis itu tertawa garing.
Memang, semenjak kain merah pekat itu beralih tangan ke Yukimura Sanada. Suhu tubuh Fuyuki yang sesungguhnya langsung merebak kemana-mana. Bak yuki onna, gadis berambut pirang itu menyebarkan hawa dingin seperti bongkahan es.
"Sejak kecil aku selalu dilatih di hutan bersalju. Jadi suhu tubuhku seperti ini.. mohon dimaklumi.." gumam gadis itu.
"Aku tahu itu.." kata Shingen. Melipat tangan di dada.
Nyala api unggun di hadapan mereka semakin besar. Suara air terjun yang bising membuat irama damai di sekeliling mereka. Saat ini dua orang itu berada di salah satu dataran tinggi yang jarang dihuni, dengan suhu rendah khas pegunungan. Ditambah lagi ada seseorang yang punya hawa dingin pribadi di sana. Maka Shingen bohong kalau dirinya tidak menggigil sedikit.
"Kita sudah ada di pinggiran Oshuu.." gumam Fuyuki. Menyimpulkan dari perilaku warga tersebut yang sedikit berbeda dari wilayah lain. Sedikit... eksentrik..
"Tempat ini berbau pria.. semuanya terlihat monoton dan tidak berwarna.." gumam gadis berambut pirang itu. Tentu saja, dia tidak menemukan sekuncup pun bunga di sekitar sini. Hanya sesemakan, pohon, dan sawah yang berwarna hijau. Agaknya terasa aneh jika melihat pohon sakura menebarkan kelopaknya.
"Itu membuatmu jengkel?" tanya Shingen. Merasakan ketidaknyamanan wanita muda di hadapannya.
"Agak.." jawab Fuyuki, masih memerhatikan sekelilingnya di balik lubang penglihatan topeng itu.
Shingen hanya terdiam. "Wilayah ini tempat pekerja keras. Mereka berladang siang malam ditemani seteko teh ketika siang hari. Memang terlihat cukup suram, tapi percayalah. Ada kebahagiaan di sekitar sini."
Fuyuki hanya mengangkat alis mendengarnya. "Mereka tidak punya selera artistik ya.." gumamnya.
"Justru disinilah kau bisa menemukan harga diri sejati seorang laki-laki. Dokuganryuu dan klan Date bukan orang sembarangan. Mereka adalah kelompok pemberani yang akan menentukan takdir dari era peperangan ini.." Shingen masih meneruskan ceramahnya.
"Begitu ya.."
"Hm?" tanya lelaki paruh baya itu. Dia melihat Fuyuki menopang dagunya dengan satu tangan.
"Semenarik itukah dokuganryuu? Date Masamune yang sering sekali disebut oleh Yukimura-danna.." gumam wanita itu.
Kali ini Shingen tidak bisa menebak ekspresi apa yang ada di wajah si gadis. Nada itu bahkan sangat menyamarkan emosinya. Begitu banyak kemungkinan yang ada di balik topeng itu, dan Shingen takkan menyebutkannya satu persatu.
"Nanti kuda kita akan datang.." kata Shingen.
"Heh? Tidak berjalan kaki seperti tadi?" tanya gadis itu. Mengerjapkan mata.
"Lakukan saja kalau tubuhmu kuat. Kau sudah tampak kepayahan," kata Shingen. Dia terkekeh pelan.
Fuyuki tersentak dibuatnya. Padahal dia sudah mengenakan topeng besi. Tidak ada yang bisa mengetahui bagaimana wajahnya sekarang.
Memang benar, sekarang dia sudah kelelahan. Itu sesuatu yang wajar sebagai wanita. Tapi Fuyuki tidak pernah mengatakannya pada siapapun. Dia tidak tahan dengan perjalanan jauh. Kadang dia sampai jatuh sakit karena tidak kuat.
Tapi malah Shingen yang kena flu.
"Bagaimana an-"
"Yah.. seorang petinggi memiliki ilmu yang takkan dimiliki oleh orang lain.." kata Shingen. Dia menoleh pada Fuyuki.
"Kau harus tahu itu.. Fuyuki.." lanjutnya.
"Ya," jawab Fuyuki singkat. Nadanya datar, tapi dibalik topengnya. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagum pada Macan Kai tersebut.
Sasuga... Oyakata-sama..
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
"Nee.. Oyakata-sama.." ujar Fuyuki tiba-tiba.
.
"Ya? Fuyuki?"
.
"Kita akan naik kuda kan?"
.
"Ya.."
.
"Kalau begitu kenapa Yukimura-danna dan Sasuke jalan kaki?"
.
"..."
.
"Oyakata-sama..."
.
"..."
.
"Oyakata-samaa.."
.
"Zzzz... zzzz..."
.
"Yah.. dia tidur.."
.
XXX
-Kembali ke Masamune dan Kojuuro..-
Masamune yang sudah berhasil mengembalikan kewarasannya hanya bisa diam. Dia mendesah keras. Menatap Kojuuro yang dengan damai mengisi kembali gelas teh yang sudah kosong. Masamune hanya bisa sweatdrop.
"Aku akan ada urusan di tengah kota. Kau urus rumah ini untuk sementara waktu. Jika mereka datang, sambutlah dengan baik! Jangan sampai membuat Takeda dan orang baru itu kecewa sebelum aku kembali. Understand?" tanya Masamune sambil menggebrak meja.
Kojuuro mengangguk santai. "Serahkan semuanya pada saya.." ujarnya kemudian.
Meski dengan setengah hati yang masih mewanti-wanti apakah dia jadi menyerahkan rumah sepenuhnya pada Kojuuro. Pada akhirnya pria bersurai kecoklatan itu pun melangkah pergi. Meninggalkan Kojuuro. Dengan ryuu no migime yang menghabiskan tehnya.
"Ah.. lega.."
Kojuuro menoleh pada jendela yang ada di samping. Matanya menangkap bagian kecil dari kebun sayurannya di antara taman batu keluarga Date. Pria itu tersenyum sendiri. kemudian beranjak juga. "Waktunya untuk melihat sayuran matang..."
...
Setelah meletakkan Shingen di tempat yang aman (baca : menyandarkan tubuh besar pria itu di sebuah batu. Dengan pose yang penuh dengan kharisma dalam tidur –tangan terlipat di dada dan tubuh bersila-) Fuyuki menghela nafas dan berkacak pinggang. Shingen benar-benar pria jaman Sengoku. Tubuhnya besar, seolah menjadi bukti nyata kalau di tangan itu tersimpan kekuatan otot yang takkan ada habisnya untuk meninju Yukimura. Sekarang dia percaya kalau ukuran sandal Hijikata Toshizo yang asli adalah sebesar dua kepal tangan orang dewasa.
Gadis itu menaikkan alis. "Tapi aku benar-benar penasaran dengan orang-orang Date.. tidak lengkap rasanya berkunjung ke suatu wilayah tanpa tahu siapa tuan rumahnya."
Rasanya seperti kau makan sup tahu tanpa kuah. Alias hambar.
Gadis itu menengadah ke langit. Menatap langit biru cerah yang terbingkai dahan pohon raksasa. Fuyuki mengangguk sendiri.
"Ayo kita lakukan.." yakin gadis itu sambil bersiap untuk pergi.
Tak lama kemudian. Suara angin yang bergesekan cepat dengan dahan pohon terdengar samar.
Gadis itu menghilang di balik pepohonan yang memagari air terjun tersebut.
Dengan seorang pria berambut hitam terlihat di balik batu besar yang ada di dekatnya. Batu dimana Shingen disandarkan..
...
"Siang yang indah.." komentar seorang pria tinggi, lengan bajunya terlipat sampai sebatas .
Dengan bekas luka di pipi kiri, dia tersenyum. "Akan jadi sangat luar biasa kalau ladang ini selesai.." kata Kojuuro sambil memanggul cangkulnya. Dia langsung menggarap sawah itu dengan telaten, membiarkan sesepuh pergi untuk beristirahat di siang hari. Mereka orang-orang berumur yang masih ingin bekerja.
Tak lama kemudian sekelabat kimono putih nampak dibalik sesemakan. Mata biru esnya mengintip di balik hijaunya daun. Mengamati Kojuuro yang mencangkuli tanah.
Jadi dia Katakura Kojuuro.. Ryuu no Migime..- gumam gadis itu dalam hati. Dia memiringkan kepalanya. Memang cocok sebagai pengurus Masamune Date.
Figurnya besar, tampak cerdas dan berwibawa. Pria itu memegang cangkul dan mengolah ladang dengan rajin. Fuyuki berkedip, apa seperti ini setiap pekerjaan pria zaman Sengoku?
Suara tanah yang digemburkan terdengar. Angin bertiup sepoi-sepoi. Langit cerah tanpa awan. Biru seperti semangat masa muda. Fuyuki hanya terdiam. Mengamati Kojuuro dari balik semak-semak. Entah kenapa ada sebuah rasa kagum yang tersemat padanya.
Pekerja keras yang tulus, logis, dan tanggap. Semuanya dibalut oleh kesederhanaan yang mengena. Apa seperti ini sesosok samurai yang sebenarnya? Dia diam tapi pemberani luar biasa. Bijak tanpa dinyana. Tidak perlu muluk-muluk untuk menunjukkan dirinya hebat.
Kojuuro mengambil sebuah terong yang baru saja matang. Lalu berjalan ke bagian sawi. Dia mengelus-ngelusnya seperti anak sendiri.
"Padahal belakangan ini cuaca buruk. Tapi kalian masih saja terlihat baik.." ucap pria itu.
Fuyuki menaikkan alis. Dari jarak seperti ini, tentu saja dia dengar. Gadis itu memang cukup dekat. Lagipula dirinya tidak bermaksud menyembunyikan diri. Kecuali kalau ada hukum tertulis jika pasukan Takeda tidak boleh masuk, -tidak. Jika itu memang benar-benar terjadi. Fuyuki harus angkat kaki sekarang juga.
Tidak masalah, Oyakata-sama tidak menyinggung soal itu. Lagipula kami kesini untuk pertemuan..-gumam Fuyuki. Dia menghela nafas.
Tapi dirinya juga yang repot kalau mendapat kesan tidak bagus dengan menguntit pada pandangan pertama. –apa?-
Kojuuro mengangkat terongnya. "Bahkan saat tangan-tangan tua yang mengurus kalian sudah tidak kuat lagi mengangkat cangkul. Kau tumbuh subur oleh cinta, tidak ada celah sedikit pun. Matang sempurna. Siap dipanen dengan baik. Tapi selalu bersembunyi."
DEG.
Gadis itu terdiam mendengarnya.
Apa tadi?
Dia tadi bilang apa?
"Hujan, badai, panas terik, bahkan musim kemarau. Atau hawa-hawa terror yang ditebarkan karena Oshuu saat ini tidak begitu tenang. Tapi sejak awal kalian tumbuh alami. Cantik seperti musim semi. Tidak ada hal khusus, bahkan sesajen untuk Dewi Pertanian pun sama sekali kosong. Bukankah ini yang disebut kecantikan alami? Kalau begitu kenapa bersembunyi?"
JLEB!
Fuyuki tersentak. Apa Kojuuro mengetahui keberadaannya? Apa dirinya sudah dicap tidak baik? Atau jangan-jangan pria itu berusaha memancingnya keluar? Tidak! Ini buruk! Pertemuan Masamune Date dan Shingen Takeda saja belum dimulai. Apa jadinya kalau Date sudah buruk sangka pada Oyakata-sama?
SREEEK..
PIK!
Fuyuki tercekat. Sialan! Tangannya bergesekan di sesemakan. Membuahkan bunyi yang cukup berisik. Bahkan sekarang lengannya tersangkut.
Kojuuro melirik ke belakang. Pandangannya berkilat.
"Sudah kuduga kau kelinci nakal.. seharusnya kau tidak ada disitu.."
BLEDAAAAAAR!
Fuyuki disambar petir. Suaranya tersedak di tenggorokan.
Kojuuro mengambil ancang-ancang. Dia mengibaskan negi raksasayang diselipkan di sabuk yukata. Lalu mengumpulkan segenap tenaga. Membuat sebuah kuda-kuda khusus yang barangkali hanya dia miliki.
"JIKA INGIN MENGUSIK TANAMANKU LAGI. SEBAIKNYA KAU PERGI!"
DUUAAAAAAAAAAAAK!
"GYYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Angin yang mengenai tanah di samping Kojuuro menghentak sesemakan, membuat tanah menjorok keluar dan melemparkan Fuyuki ke langit. Terbang tinggi sekali. Bahkan hanya dengan sentakan udara kuat. Gadis itu melayang bebas diselingi teriakan. Merasakan isi kepalanya naik ke permukaan.
Kojuuro memanggul negi raksasa-nya. –dan memang raksasa saudara-saudara- pria itu menghela nafas.
"Dasar.. padahal sudah kubilang untuk tidak usah sembunyi kalau mau minta sawi. Tinggal datang, dan ambil di tas. Kan sudah kusisihkan jatahnya.." ucapnya dengan nada kalem.
Sedetik, dan mata pria itu berkedip. Seekor kelinci gemuk berwarna coklat datang dari belakangnya. Berjalan tanpa rasa takut. Lalu menggigiti sawi Kojuuro yang sudah diletakkan di atas tas. Pria itu cengo. Otaknya baru jalan.
"Kalau kelincinya datang darisana.."
Kojuuro berbalik. Dia menoleh ke belakang. Yang penuh dengan bekas sentakan negi-nya.
"Yang disitu siapa...?"
To Be Continue
XXX
Author Note :
Gak usah dikasih omake. Saya ngerjain ini juga sambil dikejar-kejar waktu. Maafkan saya yang super ngaret dengan fic ini.
Dan jujur saja. Saya gak yakin bisa ngelanjutin fic ini. Saya hampir lupa plotnya. Dan sepertinya terlalu kompleks untuk sampai complete seperti fic yang sudah-sudah.
Jika suatu saat fic ini saya dis-continue. Saya minta maaf sekali. Karena sudah pasti saya berjuang sekuat tenaga.
Untuk author note. Saya Cuma bisa ngasih ini saja.
Pokoknya terimakasih sekali untuk semua bentuk apresiasi. Mau itu review. Sedekah follow dan favourit. Atau promosi.
Salam Kompor Gas
Shakazaki-Rikou
See you next stories!
NB : BUAT READER YANG NUNGGUIN APDETAN FIC SAYA. HARAP DISELINGI KEGIATAN LAIN SEPERTI NYASAR KE FANDOM LAIN ATAU BACA FIC ORANG LAIN.
WARNING : AWAS LUMUTAN #gakenakbangetsih.
P.S. : SAKI SAYANG KALIAN.
P.S.S : KALO CHAPTER INI GAJE. HARAP DIMAAFKAN.
P.S.S.S. : MAKAN CIRENG DAN CIMOL ITU ENAK LOH.
P.S.S.S.S. : CHAPTER INI GAJE (2). JADI KALO GAK DI REVIEW. SAKI RAPOPO. SEE YOU! MUMUMUMUMUMUMUMUMU!
