The Next Journey

.

By : Gia-XY

.

Previouly :

"Kau... Kau membunuh kakakku! DASAR PEMBUNUH!"

Seorang gadis berambut blonde dengn kulit seputih susu tampak ditahan oleh dua orang pengawal Mesir Kuno berkulit tan. Gadis it uterus memberontak dan berteriakdengan wajah marah pada seorang lelaki berkulit tan bermatablue lazuli yang duduk di atas singgasananya sambil memegang sebuah tongkat berwarna keemasan—Sennen Rod.

"Jangan kurang ajar pada Pharaoh, Penyusup! Dasar gadis pembawa sial!" ucap salah seorang pengawal dengan nada marah sambil terus menahan gadis itu.

"KAU PEMBUNUH! KEMBALIKAN KAKAKKU!" teriak sang gadis bersuari pirang itu pada lelaki pemilik Sennen Rod itu—sang pharaoh yang memerintah Mesir Kuno saat itu.

Kedua mata red crimsonnya menyiratkan kemarahan yang begitu mendalam pada sang pharaoh beriris blue lazuli yang masih duduk di atas singgasananya dengan wajah datar.

Sang pharaoh hanya terdiam di atas singgasananya. Dia lalu menatap datar para pengawal yang menahan gadis itu.

"Bawa dia ke kamarku...," titah sang pharaoh dengan nada datar.

Kedua pengawal itu terhenyak sesaat, lalu mereka mengiyakan titah sang pharaoh.

"Baik, Pharaoh!"

Kedua pengawal itu, lalu menyeret gadis itu keluar dari ruangan itu. Gadis itu masih saja terus memberontak sambil terus berteriak pada sang pharaoh.

"LEPASKAN AKUUU! KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB, SETH! KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB! SEEEEETH!"

Bayangan itu lalu menghilang dari kepalanya. Seto meletakkan sebelah tangannya di atas meja—menahan tubuhnya yang melemas.

"A-apa itu...? Jounouchi...?"

.

Summary :

Sesuai dengan isi wasiat dari ibunya, setelah 3 tahun meninggalnya orang tua Yurika dan Yuki, maka mereka boleh membuka diary peninggalan ibu mereka. Sebenarnya apa isi diary itu sampai-sampai Yuki tidak mau memberitahu Yurika? Dan lagi, ada kenyataan mengejutkan yang disampaikan. Selama ini Pegasus punya anak? Kalau begitu, di mana mereka?

.

Disclaimer :

Yu-Gi-Oh! © Takahashi Kazuki

Story, Kisaragi Yurika, Yukarina Hikari, Kisaragi Yuki, Kawasaki Mizumi, Regianna Rilliane Linecherus (SI) © Gia-XY

.

Warning :

OC, SI, OOC, OC as main lead, genderbend, typo(s), misstypo(s), semi-canon, sedikit bahasa Jepang, krisis kosakata, DLDR, dll.

.

Journey 10

Kaa-san's Diary And Pegasus Arrival

.

.

"Nee, Papa, kita mau ke mana?"

Seorang anak perempuan dan anak lelaki bersurai pirang berwajah persis berumur 7 tahunan kini tengah menatap seorang lelaki berumur 29 tahunan dengan tatapan antusias.

Mereka bertiga kini tengah menumpangi sebuah mobil yang sedang melaju entah ke mana arahnya.

"Aku tidak tahu ... Yang pasti kita akan bersenang-senang hari ini ..."

Lelaki dewasa itu kini berusaha tersenyum, tetap lama-lama senyumnya kembali memudar dan wajahnya kembali menjadi sedih. Lelaki itu terus mengendarai mobil itu.

Wajahnya menunjukkan kalau pikirannya semakin tidak fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya.

"PAPA! AWAS!"

Sang lelaki kecil bersurai blond kini menunjuk ke arah truk yang kini sedang melaju ke arah mobil yang sedang mereka tumpangi.

Manik prussian blue milik sang gadis bersurai blonde mulai menyiratkan tatapan ketakutan. Dirinya mulai memeluk sang lelaki beriris sienna brown berwajah persis dengannya yang kini duduk di sebelahnya.

Kedua manik sienna brown milik sang lelaki dewasa bersurai silver kini terbelalak. Ia lalu secepat mungkin memutar setir untuk menghindari truk di depan mobil mereka.

Sayang, nasib tidak memihak mereka...

Begitu lelaki bersurai silver itu membanting setir, mobil itu langsung keluar dari jalur dan melaju ke arah sebuah pohon dengan kecepatan penuh.

"AAAAAH!"

~XxX~

"TIDAAAK!"

Yurika baru saja terbangun dari tidurnya. Dia langsung terduduk di atas kasuh dengan napas memburu karena kaget. Kedua manik aquamarine blue-nya terbelalak lebar karena kaget.

Setelah mulai tenang, dirinya lalu melirik ke arah meja di sebelah tempat tidurnya.

'Jam 6 lewat 45 menit... Dan hari ini tanggal... 7 Juli... Cih! Jangan bilang aku dapat mimpi tidak jelas ini gara-gara si tua bangka itu!' pikir Yurika kesal.

Aneh ... Siapa orang-orang yang ada di dalam mimpinya tadi? Tidakkk,,, dirinya sama sekali tidak mengenali keempat orang itu.

Dirinya? Tidak mungkin gadis kecil itu dirinya. Walau warna matanya sama-sama biru, tapi jelas-jelas berbeda. Mata Yurika berwarna cerah, sementara gadis itu gelap. Belum lagi gaya rambut mereka yang berbeda. Yuki? Bukan, lelaki kecil itu bukan Yuki, kembarannya. Warna mata Yuki aquamarine blue, bukan sienna brown. Ayahnya? Ha, jangan harap! Penampilan lelaki dewasa di mimpinya itu dan ayahnya berbeda jauh! Apalagi, ayahnya tidak mungkin jadi lelaki dengan wajah baik seperti itu. Impossible!

Yah, memang sih wajah lelaki itu tidak terlalu terlihat, hanya saja Yurika tahu wajah lelaki itu memang sangat berbeda dengan ayahnya. Apalagi warna dan bentuk rambutnya!

Yurika lalu mengacak-ngacak rambutnya.

Sudahlah! Mimpi itu hanya bunga tidur! Tidak perlu dipermasalahkan juga kok klau dia tidak tahu siapa orang-orang itu!

Dengan malas, Yurika turun dari atas tempat tidurnya. Dia lalu mulai membuka lemari baju dan mengambil sebuah kemeja hitam polos dan sebuah rok berwarna biru tua.

Setelah Yurika kembali menutup lemarinya, dia lalu menghela napas pelan.

'Hari ini libur karena ada pendalaman materi untuk beberapa murid yang nilainya kurang... Dan lagi ... Mimpi apa yang kudapat tadi? Itu bukan mimpi tentang gadis Mesir Kuno berambut blonde dan yang biasanya ... Jangan bilang ini benar-benar karena si tua bangka yang rohnya tidak tenang di atas sana ….'

Holy Elf lalu menampakkan dirinya di samping Yurika dan menatapnya dengan tatapan prihatin.

'Ada apa, Masutaa? Anda bermimpi buruk seperti biasa lagi?' tanya Holy Elf.

Yurika menoleh ke arah Holy Elf, lalu menggeleng pelan.

'Bukan ... Oke, aku memang bermimpi buruk, tapi ini bukan mimpi tentang Yukarina Hikari lagi,' ucap Yurika pada Holy Elf.

Tiba-tiba saja, handphone yang diletakkan Yurika di atas meja belajarnya berbunyi.

Yurika langsung buru-buru mengambil handphone-nya. Ternyata ada e-mail masuk. Yurika lalu membuka e-mail itu.

From : Atashi no Futago

Subject : Diary

Yur, kurasa hari ini sudah saatnya kita membuka kotak diary milik kaa-san

Ini sudah 3 tahun setelah meninggalnya tou-san dan kaa-san

Misuda-san, pengacara kita, sudah menyerahkan kunci diary kaa-san padaku

Kuharap kau mengizinkanku untuk membuka diary ini duluan, Imouto-chan

Oh, dan, aku sudah menerima kiriman surat dan karangan bunga darimu

Aku akan menyerahkannya ke kaa-san nanti

Yurika menghela napas pelan, sebelum akhirnya mengetikkan balasan atas e-mail yang diterimanya.

To : Atashi no Futago

Silahkan, tetapi jangan lupa untuk mengirimkan diary itu beserta kuncinya padaku setelah kau membacanya

Thank you, aku benar-benar minta tolong padamu untuk menyerahkannya pada kaa-san karena aku tidak bisa datang ke sana tahun ini

Sampaikan salam dan maafku padanya

Yurika lalu meletakkan kembali handphonenya ke atas meja. Ia berjalan menuju ke luar kamarnya.

'Kenapa aku merasa ada sesuatu yang penting di dalam diary itu ya?'

~XxX~

"AKU TIDAK MAU KE SEKOLAAAH! Waktuku terlalu berharga untuk mengikuti hal-hal kecil seperti pendalaman materi!"

Jam 07:30 ….

Di ruang tamu, terlihat Atem sedang berusaha menarik Yugi keluar untuk pergi ke sekolah. Yugi kini sedang menahan badannya yang sedang ditarik lengannya oleh Atem untuk diam di tempat.

"Yu-Yugiii...! Ayo ke sekolaaah! Aku temani kok!" bujuk Atem sambil terus berusaha menarik Yugi untuk menuju ke pintu depan.

Yami hanya bisa menghela napas di atas sofa melihat kedua orang itu. Dirinya lalu kembali fokus ke surat yang ada di genggamannya.

Itu surat dari sang pencipta permainan Duel Monsters ...

"Oh, Atem, kau juga ikut pendalaman materi?"

Semua orang yang berada di ruang tamu langsung menengok ke asal suara. Yurika hanya tersenyum kecil saja melihat keakraban Yugi dan Atem.

"Harusnya tidak, tapi sepertinya aku perlu menemani Yugi," ucap Atem.

Yurika tertawa kecil mendengar perkataan Atem. Yugi yang merasa namanya dibawa-bawa langsung menggembungkan pipinya.

"Aku bukan anak kecil yang harus ditemani terus-menerus!" protes Yugi.

"Ya, kau memang bukan anak kecil, Aibou. Tetapi aku yakin kalau Atem tidak menemanimu, kau tidak akan mau pergi ke sekolah," ucap Yami.

"E-enak saja! Aku hanya tidak mau menghabiskan waktuku untuk hal kecil!" protes Yugi lagi sambil memalingkan wajahnya.

Yurika berjalan ke arah Yugi dan Atem. Gadis berambut pirang itu lalu menyentil dahi Yugi.

"Kalau kau mau lulus SMA, kusarankan kau ikut pendalaman materi, Yuu," ucap Yurika.

"Wadaow! Hei, kenapa dahiku disentil?!" seru Yugi kesal sambil memegang dahinya dengan kedua tangannya.

Yurika lalu menatap Atem, seakan tatapannya mengatakan, "Kesempatan, Atem!"

Atem lalu langsung buru-buru menarik Yugi meninggalkan tempat itu.

"E-eh! Aku tidak mau ke sekolaaah!"

"Arigatou, Yurika!" seru Atem sebelum keluar dari ruangan itu.

Blam!

Setelah itu terdengar suara pintu ditutup.

Yurika menghela napas pelan sambil tersenyum kecil. Dirinya lalu menoleh ka arah Yami yang sedang memegang amplop surat sambil menatap nama pengirimnya dengan tatapan serius.

"Ada apa, Yami-kun? Sepertinya kau serius sekali," ucap Yurika sambil duduk di sebelah Yami.

Yami lalu menatap Yurika dengan tatapan ragu.

Sebetulnya dirinya senang Yurika mengajaknya bicara duluan, tetapi dirinya saat ini terlalu bingung dengan apa yang ada di tangannya.

"Aku ... Dapat surat ... Aku ragu untuk membukanya ... Apa kau mau membacakannya untukku?" tanya Yami sambil menyodorkan amplop surat tadi pada Yurika.

Yurika lalu mengambil amplop itu dan membukanya. Dia lalu mengambil kertas di dalamnya. Gerakan tangan Yurika tuba-tiba terhenti. Gadis itu lalu menatap Yami dengan tatapan bingung.

"Tunggu, ini surat dari siapa?" tanya Yurika penasaran.

Yami menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Yurika.

"Pembuat game Duel Monsters ... Pegasus J. Crawford ...," ucap Yami.

Kedua iris blue aquamarine Yurika langsung terbelalak lebar.

"Apa?! Kau mendapat surat dari ... Te-tetapi, bagaimana dia bisa mengirim surat pada Sennen Yami? Maksudku, bukannya yang dia tahu sebagai King of Games adalah Mutou Yuugi?" tanya Yurika sambil membolak-balik surat itu.

Yami mengangguk pelan, lalu menunjukkan sebuah foto pada Yurika.

"Kau lihat foto ini," ucap Yami sambil meletakkan foto itu di atas meja.

Yurika memperhatikan foto itu. Di foto itu terdapat tiga orang lelaki yang berdiri di tempat reruntuhan Mesir Kuno.

Deg!

Berbagai bayangan langsung muncul di kepalanya. Semua ingatan itu bercampur sampai dirinya menjadi pusing dan tidak bisa fokus. Yurika lalu memegang kepalanya dengan sebelah tangannya.

Yami tersenyum kecil melihat wajah Yurika yang pucat dan tidak fokus. Yami tahu, gadis itu pasti mengingat sesuatu dari masa lalunya ...

"Kau tahu lelaki yang di tengah kan? Dia Pegasus, pencipta game Duel Monsters," ucap Yami.

Yami lalu menunjuk seorang lelaki berkulit tan berambut brunet sebahu beriris sandy brown yang ada di dalam foto.

"Ini pamanku, namanya Mahaado. Dan ini Mahaado, kembaran dari Mahaad," ucap Yami yang kini menunjuk seorang lelaki yang mirip dengan Mahaado, hanya saja kulitnya berwarna putih cream rambutnya berwarna ungu beriris emerald green.

Kenal ... Yurika merasa dirinya mengenal tiga orang itu ... Ah, tentu saja, Pegasus kan pencipta game Duel Monsters, siapa sih yang tidak mengenalnya? Tapi Mahaado dan Mahaad?

Setelah memperhatikan foto itu baik-baik, Yurika akhirnya menyadari sesuatu.

"Hei ... jangan bilang kalau mereka berdua ini ..."

Yurika memberi jeda pada kalimat begitu melihat senyum Yami yang semakin melebar.

"Ya, mereka berdua ada dalam rombongan yang mencari ikut artefak peninggalan Mesir Kuno bersama Pegasus," ucap Yami sambil menyimpan kembali foto itu.

Yurika terbelalak. Akhirnya dirinya mengerti….

"Jadi ... Pegasus mengirim surat itu pada Sennen Yami, bukan mou hitori no Yuugi ataupun King of Games?" tanya Yurika.

Yami mengangguk. Dia lalu memberi isyarat pada Yurika untuk membuka surat itu.

Tanpa banyak bertanya, Yurika langsung membuka surat itu.

Kepada,

Sennen Yami

Lama kita tidak berjumpa, Yami-boy. Aku sudah mendengar semua cerita tentangmu dari Sugoroku-san. Yah, aku memang sempat menemuinya dan Mahaado kemarin-kemarin. Aku sama sekali tidak menyangka kau dan mou hitori no Yugi-boy adalah orang yang sama.

Ah, ya, aku akan memberitahumu tujuanku mengirim surat ini. Sebetulnya, aku akan segera sampai ke Jepang pada tanggal 7 Juli. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, tepatnya, aku ingin minta tolong padamu.

Maaf kalau suratku mengganggumu. Aku tahu kau pasti tegang begitu menerima surat dariku karena berpikir aku akan melakukan hal yang buruk lagi melalui surat ini. Kuharap kau mempersiapkan telingamu untuk mendengar semua perkataanku nantinya.

Dari,

Pegasus James Crawford

04-07-13

"Yami-kun ... dia bilang dia akan datang untuk membicarakan sesuatu yang penting hari ini. Katanya dia sudah tahu semuanya dari jii-chan. Lalu katanya, kau harus mempersiapkan telingamu. Selengkapnya, silahkan dibaca sendiri," ucap Yurika sambil menyerahkan surat itu kembali ke pemiliknya.

Yami mengangguk-ngangguk tanda mengerti.

Ting! Tong!

Kedua orang itu tersentak kaget begitu mendengar suara bel pintu depan dibunyikan.

Tanpa banyak basa-basi, Yurika langsung beranjak dari tempatnya untuk membuka pintu depan.

Yami hanya bisa menatap gadis itu dengan tatapan datar, lalu menatap ke arah surat yang baru saja dikembalikan oleh Yurika.

Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan Pegasus?

Di pintu depan, Yurika kini membuka pintu dengan perlahan.

"Irasshaimase ...," ucap Yurika pada seorang lelaki berambut perak yang ada di depannya.

Lelaki berambut silver itu sempat terhenyak melihat Yurika. Sementara Yurika, dirinya terpana melihat sosok lelaki yang ada di depannya itu.

"Ah! Kau! Kau CEO Industrial Illusion kan?!" seru Yurika takjub sambil menunjuk lelaki itu.

Yurika memang tahu wajah dari CEO Industrial Illusion, hanya saja gadis itu tidak pernah tahu namanya.

"Ah, iya, itu aku. Maaf, apa Sennen Yami ada di rumah?" tanya lelaki itu.

Menyadari siapa orang yang dicari oleh orang di depannya, gadis itu langsung sadar kalau kini ia berhadapan dengan seorang Pegasus J. Crawford, sang pencipta game Duel Monsters. Yurika mengangguk, lalu mempersilakan lelaki itu masuk.

"Silakan masuk. Yami-kun ada di dalam. Anda pasti Crawford-san kan?" tanya Yurika dengan nada ramah.

"Thank you, Miss. Saya memang Pegasus J. Crawford, panggil saja Pegasus. Dan anda sendiri, Nona muda?" tanya lelaki itu, Pegasus James Crawford, sambil berjalan masuk ke dalam game shop.

"Yurika, Kisaragi Yurika," ucap Yurika sambil menutup pintu depan.

Pegasus tertegun mendengar nama gadis itu, lalu tersenyum kecil.

"Namamu mengingatkanku pada seseorang ...," bisik Pegasus.

"Eh, nani?" tanya Yurika.

Pegasus menggeleng pelan.

"Iie, nandemonai ..."

~XxX~

Di Inggris, tepatnya di Kisaragi Corp, terlihat Yuki kini duduk di belakang meja kerjanya sambil membaca buku. Matanya terpaku pada satu halaman buku itu dengan wajah tidak percaya.

"I-ini tidak mungkin kan ...? Ja-jadi benar ...? Kupikir ... Aku salah selama ini ...," ucap Yuki sambil menutup buku itu dengan wajah masih shock.

Tiba-tiba, seorang gadis berambut blonde masuk ke dalam ruangan itu. Iris azure blue-nya menatap wajah Yuki dengan tatapan datar. Yuki lalu mengalihkan pandangannya dari buku itu ke arah wanita berambut blonde itu. Perlahan, wanita itu tersenyum kosong pada Yuki.

"Waited too long, Fiancé? Sorry for that ... Ah, what are you reading?" tanya gadis itu, tunangan dari Yuki, dengan bahasa Inggrisnya yang sangat kental.

Yuki menghela napas panjang mendengar cara bicara gadis itu.

"You already known that you late, right? I bet you did it on purpose, again ... About this book, just see itu by yourself. And please, can you speak in Japanese?" tanya Yuki sambil melipat tangannya di atas meja kerjanya.

Gadis itu lalu berjalan menuju ke arah Yuki dan duduk di depan meja kerja Yuki. Gadis itu tersenyum kecil.

"Yah, kau memang tahu segalanya. Lagipula untuk apa kau menyuruhku datang? Kalau kau masih berusaha membahas tentang pertunangan ini lagi, aku keluar sekarang. Aku sedang tidak mood untuk bertengkar, okay?" tanya gadis itu dalam bahasa Jepang.

Bahasa Jepangnya sangat lancar untuk ukuran seorang orang Inggris, bahkan Yuki pun mengakuinya.

Gadis itu mentap Yuki dengan tatapan malas, seakan dirinya datang ke sana dengan terpaksa. Atau mungkin dia memang datang atas paksaan Yuki?

"Nope, aku tidak membahas itu. Aku ingin membahas tentang ini, buku yang sangat ingin dibaca oleh ore no futago," ucap Yuki sambil menyodorkan diary milik ibunya ke depan tunangannya.

Gadis itu lalu mengambil buku itu dengan wajah ragu, lalu menatap Yuki dengan tatapan, "Kenapa kau menyerahkan buku ini padaku?"

"Baca."

Tanpa banyak bicara, gadis itu langsung membuka diary itu dan menbaca isinya.

Awalnya, dirinya biasa-biasa saja saat membaca diary itu dan membolak-balik setiap halaman dengan santainya. Tetapi, tiba-tiba tangannya berhenti di satu halaman dan matanya tiba-tiba melebar ketika membaca tulisan di halaman itu.

"I-ini bohong kan ...? Ja-jadi ... Kau dan Yurika ..."

"Itu semua benar. Aku sebenarnya tahu semua ini sejak awal, hanya saja, karena aku masih kecil, kupikir aku yang salah ingat dan kedua orang tuakulah yang benar. Dan soal diary ini ... Yurika yang menyuruhku membiarkan kau membacanya. Katanya, sebagai calon anggota keluarga, kau juga punya hak untuk membaca diary milik kaa-san," ucap Yuki.

Gadis itu menatap Yuki dengan tatapan serius. Suasana di sana terasa semakin tegang.

"La-lalu ... Apa kau akan memberitahu Rika tentang ..." Gadis itu menghentikan kata-katanya, sengaja menyelesaikan kalimatnya. Yuki lalu menghela napas panjang.

"Tidak. Aku tidak akan memberitahunya." Yuki lalu menatap gadis di depannya dengan tatapan tajam dan berkata, "Karena itu, Re, Regianna Rilliane Linecherus, kuharap kau tidak memberitahukan hal ini pada kembaranku begitu dia bertanya," ucap Yuki sambil menatap gadis itu dengan tatapan tajam.

Gadis itu, Regianna Rilliane Linecherus, menghela napas pelan. Sebuah senyuman tipis terukir di wajahnya.

"Aku mengerti ... Berharap saja dia tidak mengancamku agar aku memberitahunya isi diary ini. Ya sudah, hanya itu keperluanmu kan? I'm out of here," ucap Regianna sambil beranjak dari kursinya dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Yuki hanya menatap datar ke arah pintu.

Benar-benar ... Kenapa sifat gadis itu saat bersama kembarannya dan saat bersama Yurika berbeda sekali? Seakan-akan gadis itu mempunyai dua kepribadian. Apa sebegitu kesalnya dia terhadap keputusan ayahnya untuk menikahkan mereka berdua?

~XxX~

"Lama tidak bertemu, Yami-boy. Tidak kusangka kau sekarang tinggal bersama gadis secantik ini. Ah, Yurika-chan, jangan bilang kalau Yami-boy ini pacarmu," ucap Pegasus dengan sengaja, membuat Yurika yang sedang meminum the di sebelah Yami menjadi tersedak.

"Uhuk-uhuk! A-apa kata Pegasus-san? A-aku pacar Yami-kun? Ti-tidak mungkin! Aku dan Yami-kun ini hanya teman!" seru Yurika buru-buru memprotes perkataan Pegasus.

"Naruhodo ... Kukira Yami-boy yang dulunya masih sangat kecil dan polos saat aku masih bekerja dengan Mahaado dan Mahaad, sekarang sudah pintar memilih pacar karena kalian kelihatannya dekat sekali," ucap Pegasus sambil terkekeh kecil.

Yami hanya tersenyum kecil sambil melirik Yurika yang salah tingkah di sebelahnya saja.

"Yah, kuharap sih aku punya pacar seperti dia. Hanya saja sepertinya Yurika belum siap," ucap Yami dengan nada iseng.

"Me-memang siapa yang mau pacaran denganmu?!" seru Yurka sambil melipat tangannya di depan dada dan memalingakan wajahnya yang memerah.

Kedua lelaki itu langsung tertawa mendengar perkataan Yurika.

"Ah, ya, lalu, Pegasus-san, soal hal yang ingin kau bicarakan ..." Yami lalu memberi jeda pada ucapannya dan menatap Pegasus dengan tatapan serius.

"Yami-boy, apa kau ... Bisa membantuku ...? Aku ... Sebenarnya punya dua orang anak dari Cyndia, hanya saja, aku tidak tahu di mana mereka sekarang. Mereka ada di tangan kerabat Cyndia. Mereka menganggapku ayah yang tidak becus, dan menyembunyikan anak-anakku. Yah, kuakui, memang dulu aku terlalu memikirkan kematian Cyndia sampai-sampai melupakan anak-anakku, tetapi aku kini menyesal! Aku menginginkan mereka kembali! Setelah aku memohon dengan susah payah, akhirnya ibu dari Cyndia memberitahuku kalau anakku ada di Jepang," cerita Pegasus dengan nda lirih.

Yami lalu mengangguk-ngangguk mengerti. Dia lalu mengeluarkan senyuman khasnya.

"Jadi ... kau ingin menggunakan kekuasaanku sebagai pewaris Kazunari Corp? Aku yakin pasti keluar dari Cyndia-san mem-block data anak-anakmu dari semua koneksi perusahaanmu," ucap Yami sambil tersenyum kecil.

Pegasus mengangguk pasrah.

Memang hanya ini jalan satu-satunya bagis Pegasus untuk mencari tahu tentang anak-anaknya. Dia tahu Seto pasti terlalu sibuk untuk membantunya walau dia memohon sambil berlutut di depan Seto sekalipun.

Mencari data keluarga Cyndia yang merupakan keluarga yang kaya dan tertutup, memang tidak bisa dibilang mudah. Walau menggunakan kekuasaan Kazunari Corp sekalipun, pasti akan tetap sulit untuk mencari data keluarga Cyndia.

"Ano, kalau boleh tanya ... anak Pegasus-san itu namanya siapa? Siapa tahu kita ternyata pernah bertemu dengannya," ucap Yurika.

Pegasus memejamkan matanya. Di wajahnya terlihat ekspresi sedih dan rindu yang mendalam.

"Andrew and ... Edelaine ..."

Yurika dan Yami mengernyitkan alis mereka. Andrew dan Edelaine? Nama yang cukup asing ...

"Lalu, berapa umur mereka? Apa kau punya foto mereka, Pegasus?" tanya Yami.

"Umur mereka sama dengan kalian saat ini. Mereka kembar. Aku punya lukisan mereka saat berumur 6 tahun," ucap Pegasus.

Yurika mengernyitkan alisnya.

Apa? Lukisan?

"Ah, ya, aku lupa memberitahu kalian. Mohon bantuannya selama seminggu ini. Aku akan menumpang di sini sampai Sugoroku-san pulang!" ucap Pegasus sambil tersenyum lebar.

"EEEHHH?!"

~XxX~

"Bukan begini, Bonkotsu! Seharusnya dikalikan dulu baru ditambah!"

Seto kini duduk di belakang meja kerjanya sambil mengomeli Jou yang sedang mengerjakan tugasnya.

"Gah! Seharusnya kau membantuku sekarang jamur bodoh, bukannya memarahiku!" seru Jou kesal sambil terus menulis di atas buku tugasnya.

Seto mendengus kesal mendengar perkataan Jou.

"Aku bingung, bagaimana dengan otakmu yang pas-pasan itu kau tidak ikut pendalaman materi?!" tanya Seto dengan nada meremehkan.

Wajah Jou bertambah kesal mendengar pernyataan Seto. Dirinya lagi-lagi memprotes dengan terus memfokuskan matanya pada buku tugasnya.

"Aku juga tidak tahu! Aku bahkan sudah sampai bertanya pada Mizumi-sensei apa dia lupa memasukkan namaku atau tidak, tetapi dia bilang aku memang tidak ikut pendalaman materi!" bela Jou sambil menyodorkan bukunya pada Seto untuk diperiksa.

Seto lalu mengecek jawaban Jou di nomor terakhir dengan tatapan serius.

"Sudah benar. Ya sudah, kembali sana ke habitatmu!" seru Seto dengan gaya mengusir Jou.

Jou mendengus kesal.

Bagaimana bisa Seto memperlakukannya seperti itu?!

"Tanpa kau suruh pun aku akan pergi dari sini, Jamur! Lama-lama aku bisa jamuran sepertimu kalau di sini terus!" seru Jou sambil mengambil bukunya dan berjalan menuju ke luar ruangan dengan ekspresi kesal.

Seto menatap kepergian Jou dengan tatapan datar.

Dirinya lalu mengeluarkan Sennen Rod yang diletakkannya di dalam laci meja kerjanya.

Bagaimana bisa benda seperti ini membuatnya mendapat bayangan aneh kemarin?

~XxX~

"Dasar jamur menyebalkan!"

Jou terus mengumpat kesal sepanjang perjalanan. Bagaimana tidak kesal? Bayangkan saja kalau kau ada di posisi Jou saat ini! Dikatai seorang CEO sombong berotak jenius dan ber-IQ tinggi. Rasanya sama saja seperti kau seorang rakyat jelata yang direndahkan oleh seorang raja paling berkuasa!

Langkah Jou tiba-tiba terhenti begitu mendapati dirinya melewati Museum Domino.

Jou tersenyum kecil menatap bangunan musem, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam museum itu.

Yah, tidak ada salahnya mengunjungi museum itu lagi, asalkan dirinya tida bertemu mummy….

Di dalam museum, Jou berusaha berjalan tanpa melirik ke samping, karena dia tahu, biasa saja dirinya menemukan mummy saat menengok ke samping. Ia lalu menemukan sosok Malik yang kini berdiri di depan sebuah batu tulis besar. Dirinya tidak fokus pada batu tulis itu dan tatapan matanya terlihat sedih.

"Malik?" panggil Jou sambil menepuk pundak Malik.

Malik tersentak kaget, lalu menatap Jou sambil berusaha tersenyum.

"Ah, halo, Jou. Akhirnya kau datang juga," ucap Malik.

Jou mengernyitkan alisnya.

Apa maksudnya "akhirnya"?

Jou lalu menatap ke arah batu tulis di depannya.

"Ano, ini batu tulis tentang apa ya?" tanya Jou berusaha mencari topik.

"Masa kepemimpinan Pharaoh Seth …," ucap Malik.

Jou menatap malik sambil mengernyitkan alisnya.

"Eh? Pharaoh Seth?" tanya Jou bingung.

Malik mengangguk.

"Ya, Pharaoh Seth …. Kau tahu? Seperti Pharaoh Atemu, Pharaoh Seth juga punya personal servant. Bedanya, dia sendiri yang seenaknya memaksa seseorang menjadi personal servant-nya," ucap Malik sambil menatap batu tulis di depannya dengan tatapan serius.

Jou menaikkan sebelah alisnya. Dirinya lalu menatap Malik dengan tatapan penasaran.

"Memangnya siapa personal servant Pharaoh Seth?" tanya Jou penasaran.

Malik terdiam sebentar, lalu kembali membuka mulutnya menjawab pertanyaan Jou.

"Adik perempuan dari pemilik asli ka naga putih …," ucap Malik.

Jou terbelalak kaget.

Naga putih? Maksudnya Blue Eyes?

Jou kembali teringat mimpinya. Jujur, mimpi itu membuatnya sedikit trauma untuk membahas ataupun melihat kartu Blue Eyes White Dragon.

"Me-memangnya siapa pemilik asli ka Blue Eyes? Bukannya Seth?" tanya Jou bingung.

Malik tersenyum tipis.

"Bukan. Dia… seorang gadis berkulit putih. Dia cinta pertama Seth …," ucap Malik.

Jou terhenyak menhdengar kata "cinta pertama Seth".

Seth ternyata pernah jatuh cinta …?

Dalam hati, Jou menertawakan Pharaoh Seth. Yang benar saja, reinkarnasi masa lalu dari CEO sombong dan menyebalkan seperti Kaiba Seto ternyata pernah jatuh cinta pada wanita yang dikuclikan oleh negaranya? Benar-benar tidak mungkin!

"Jika Blue Eyes memiliki majikan, maka Red Eyes milikmu juga sebenarnya memiliki majikan pada zaman itu. Apa kau tahu siapa majikannya?" tanya Malik.

"Eh? Apa mungkin adik dari pemilik Blue Eyes?" tanya Jou bingung.

Malik menggeleng.

"Bukan. Memang benar, adik dari pemilik Blue Eyes pernah mewarisi ka naga hitam, tepatnya Red Eyes, tetapi bukan dia pemilik asli dari Red Eyes," ucap Malik.

Jou semakin tertarik dengan topik yang sedang dibahasnya dengan Malik sekarang. Dirinya menatap Malik dengan tatapan antusias dengan topik yang sedang mereka bahas.

"'Pernah mewarisi'? Jadi apa setelah memiliki ka Red Eyes, dia melepaskan ka-nya dan memasukkannya ke dalam batu segel? Atau dia memberikan ka-nya pada orang lain?" tanya Jou.

"Sebetulnya, sejak awal, Red Eyes bukanlah ka milik gadis itu. Seseorang memberikan Red Eyes pada gadis itu untuk melindunginya. Sebagai gantinya, sang pemilik asli dari Red Eyes harus mengorbankan nyawanya. Karena sang gadis merasa dialah penyebab kematian dari pemilik asli Red Eyes, sang gadis melepaskan Red Eyes supaya orang tersebut dapat kembali bereinkarnasi," jelas Malik.

"Eh? Memangnya kenapa gadis itu sampai harus dilindungi? Apa ada orang yang mau menyakitinya?" tanya Jou bingung.

Malik mengangguk, lalu menatap Jou dengan tatapan serius.

"Gadis ini memiliki kulit putih, seperti kakaknya …. Tidak heran kalau banyak orang yang ingin mencelakainya. Gadis itu bahkan hampir terbunuh saat terjadi pemberontakan kalau saja bukan sang pemilik Red Eyes yang menyelamatkannya," jelas Malik.

Jou terdiam. Dia lalu menatap Malik dengan tatapan penasaran.

"Nee, kalau boleh tanya, kenapa Seth memaksanya menjadi personal servant-nya?" tanya Jou.

Malik menghela napas panjang mendengar pertanyaan Jou.

"Tidak ada yang tahu Jou …. Mungkin hanya Seth yang tahu," ucap Malik.

Deg!

Kepala Jou tiba-tiba saja seperti mendapat sebuah pukulan kencang. Bayangan-bayangan asing kembali muncul di kepalanya.

"Bodoh! Kenapa kau menyelamatkanku?! Kau lihat akibat perbuatanmu sekarang?! Kau jadi tertusuk seperti ini!"

"Jo-Jouno… aku melakukan semua ini untuk melindungimu …. A-aku mencintaimu …."

"Kau bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku tidak ingin kau meninggal! Kau satu-satunya orang yang kupunya! Aku tidak ingin kalau harus kehilanganmu!"

"A-aku tidak akan meninggalkanmu …. Ka-ku, naga hitam, akan selalu bersamamu …. Aku akan memberikan ka-ku padamu …."

"Jangan bercanda, Ryuu! Kalau kau memberikan ka-mu padaku, maka kau akan benar-benar—"

"Aku tidak peduli…. Aku hanya ingin kau aman …. Naga hitam, kumohon … jaga Jouno …."

Hening ….

"Ryuu? Ryuu! RYUU! BANGUN! RYUU! RYUUUUUU!"

Jou meremas kepalanya.

Pusing ….

Semua ingatan itu muncul di kepalanya begitu saja.

Malik tersenyum kecil melihat reaksi Jou.

Seperti membuat Jou ingat pada masa lalunya lebih mudah dari pada membuat Yurika mengakui masa lalunya.

"Daijoubu ka, Jou?" tanya Malik.

Jou mengangguk cepat sambil berusaha menahan pusingnya.

"A-ah, sudah jam segini …. Aku harus pulang. Jaa ne, Malik …," ucap Jou sambil berjalan meninggalkan museum.

Malik kembali menatap batu tulis tadi dengan tatapan datar.

"Tinggal Seth …. Apa mungkin Seth akan dengan mudahnya mengingat masa lalunya …?"

.

.

Tsuzuku

.

.

Gia : Yes, I know this chapter is sedikit sekali deskripinya ... OTAKKU LAGI BUNTU! MAAFKAN DAKUUU! QAQ

Yurika : Kok lu liburan malah otaknya buntu? =_=

Yugi : Biasalah, penyakit para author. Kalo gak ada waktu, ide numpuk, giliran ada waktu, ide mandek. Dan inspirasi malah ngilang semua

Gia : Jujur ... Kepala gue lagi pusing dan penuh banget sekarang gegara habis ambil buku SMA dan liat kelas gue yang menyedihkan! Bayangin ada, temen gue di kelas nanti cuma sebiji! Gimana kaga stres?! TTATT

Yami : Ya-ya ... Who cares? Tolong jangan curcol di sini. Bales review

.

Ricchan no Hime :

Gia : Yah, biasa, nyari kesempatan ... Untungnya ada security di sini~ *Nepuk pundak Shun* Maaf ya lu kaga nongol di chap ini~

Shun : Yah, gak masalah ... Gue kaga nuntut nongol juga

Seto : Oh, scene itu ... Gue aja heran ...

Jou : IYA TUH! SIAPA SIH TUH CEWEK?!

Gia : Himitsu~ Dan soal Shun, dia sepupu Ryo di sini

Atem : Thanks for review!

.

evilblueclouds :

Yurika : Emang tuh ... Pulang-pulang si Yugi langung gue omelin berjam-jam

Yugi : SALAHKU APAAA?! QAQ AKU HANYA MENGIKUTI NASKAH!

Marik : Himitsu~

Ryou : Keliatannya sih jujur

Seto : Gue ngebantu sebeneernya cuma demi sepupu-sepupu gue sih

Jou : Coba Yugi, mana mau tuh jamur bantu =_=

Ryuuji : Thanks for review!

.

Psycho Childish / Runa-chan Ryuuokami :

Bakura : GAH! MAU TURUT BERDUKA CITA TETAP AJA NIH PSYHOPATH PERANNYA GANGGU HUBUNGAN CINTA GUE!

Gia : *Nahan Bakura* HUWA! MAS! Masa lu baru nongol udah ngamuk?!

Yurika : *katawa kering* Ahaha, makasih ...

Yami : EH! SALAH TUH! Harusnya lu ucapin selamat berjuang ke gue buat deketin hime!

Yurika : Ngarep lu ...

Noa : SIAP~!

Seto : WOI! SEENAKNYA LU!

Jou : ... *sweatdrop*

Mokuba : =_= Lu pada sekongkol mau bikin gue hamil di luar nikah kaya Jounouchi di FL ...?

Gia : Maksudnya si hama (gak berani sebut nama ….)? *Lirik review* oh, iya, ane tau kok~ Ahaha. Keterangan tempat? SIAP!

Yurika : Lumayan banyak ... Siaga 24 jam sih *Lirik Shun*

Yami : GUE YANG DIRUGIIN DI SINI! QAQ

Shun : Ini namanya latihan mengontrol diri, Mesum!

Yami : GUE KAGA MESUUUUM!

Gia : *Kaget* BUSET DEH! Sabar, Neng! OAO

Yurika : Thanks for review!

.

Yura Otohata :

Gia : *Nyatet* Siap, Mas! Ah, iya, memang aku agak payah di bagian sono. Lagi berusaha tingkatin sih

Yami : Agresif? Boleh dicoba tuh di chapter depan ...

Yurika : Mirip? Ahaha, memang aku kurang suka banyak bicara ...

Gia : Bilang aja lu kaga tau mau ngomong apa -_-

Yurika : mungkin?

Yugi : Thanks for review!

.

Erlangga186 :

Shun : Gue bukan preman =_= Gue penjaga kedamaian di daerah kekuasaan gue

Jou : Tapi penampilannya sama aja kayak preman kan?

Shun : Penampilan gue lebih rapi dari preman tuh

Gia : Shun bukan godain sih, tepatnya manas-manasin

Yami : SAMA AJA, BAKA!

Shun : Bahagia banget lu kayaknya, Ega =A="

Ryo : *Wajah datar* Thanks for review

.

Gia : OKE! GUE OUT DULUAN! *Pergi*

All : *sweatdrop*

Ryo : Thanks for reading

Yurika : Maaf kalau ada typo dan kesalahan lainnya

Yugi : Maaf update-nya kelamaan dan chapter ini kurang memuaskan

Ryou : Terima kasih sudah membaca chapter ini! Selamat mnunggu chapter 11!

Bakura : berharap aja chapter depan lebih oke dari chapter ini

Malik : Jaa, Min'na~