.

.

Fight to Love

.

HaeHyuk Fanfiction

.

Rate Berubah. Kekeke...^^

.

.

Hari ini Hyukjae akhirnya bisa pulang setelah sekian lama berada di rumah sakit. Hyukjae masih duduk menunggu Donghae yang sedang mengurus semua administrasinya. Keluarganya? Tanyakan pada suami tampannya yang memang tak memberitahukan tentang kepulangan Hyukjae. 'Nanti saja jika sudah sampai rumah kita kabari mereka. Mereka semua terlalu berisik.' Ck.

Hyukjae tersenyum kecil mengingat tingkah Donghae. Sungguh Hyukjae amat sangat bahagia sekarang. Donghae nya sudah kembali, sosok yang dicintainya itu sudah kembali menjadi dirinya yang dulu. Masih asyik dengan fkirannya, Hyukjae tak menyadari jika pintu ruangan itu terbuka. Menampakkan sosok tampan Donghae yang juga tersenyum lembut memandangnya. Sepertinya Hyukjae tak menyadari jika kini Donghae sudah melangkah ke sampingnya.

CUP...

Kecupan singkat di bibirnya mengembalikan Hyukjae ke alam sadarnya, menolehkan kepalanya ke samping kiri ia dapati suaminya tengah tersenyum lebar ke arahnya. Sadar dengan yang baru saja terjadi, Hyukjae menunduk sembari memukul kecil dada bidang di depannya membuahkan kekehan geli dari Donghae.

" Cha kita pulang sekarang. Semua urusannya sudah selesai." Donghae hendak membantu Hyukjae turun dari ranjang saat pintu ruangan kembali terbuka membuat kedua pasangan itu serempak menoleh ke arah pintu. Tampak Kyuhyun yang tersenyum kecil melangkah mendekat.

" Akhirnya, kau bisa pulang juga ne Hyung." Hyukjae mengangguk antusias dan tersenyum lebar, membuat Kyuhyun dan Donghae yang memandangnya turut tersenyum.

" Tetap jaga kondisimu ne. Minum obatmu. Jangan lupakan jadwal check up mu. Kalau kau merasakan sesuatu yang tak beres segera hubungi aku ne." Kyuhyun mengacak rambut Hyukjae gemas membuahkan dengusan kecil. Hyukjae menepis tangan Kyuhyun di rambutnya dengan bibir yang mengerucut.

" Aku bukan anak kecil Cho Kyuhyun, bahkan aku lebih tua darimu." Dan tawa dokter tampan itupun menggema, diikuti senyum kecil Donghae di sampingnya.

" Baiklah, Donghae Hyung jaga dia ne. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku." Kyuhyun menatap Donghae yang juga tengah menatapnya.

" Tentu Kyu. Baiklah, sekarang kami pulang dulu ne. Kajja Baby." Mengulurkan tangannya membantu Hyukjae turun dari ranjang kemudian menggandeng jemari lentik itu keluar ruangan.

Kyuhyun masih setia mengikuti pergerakan kedunya, membalas lambaian tangan Hyukjae padanya sebelum namja manis itu menghilang di balik pintu. Setelahnya Kyuhyun hanya terdiam, fikirannya masih begitu kalut sekarang.

'Semoga kau selalu baik-baik saja, lindungi dia selalu Tuhan'

::: HAEHYUK :::

.

Donghae membuka pintu apartemennya, membiarkan Hyukjae masuk terlebih dahulu baru kemudian disusul olehnya yang membawa barang bawaan. Hyukjae hendak melangkahkan kakinya ke kamarnya, saat sebuah sentuhan lembut itu mencekal tangannya. berbalik, Hyukjae menemukan Donghae yang tersenyum menatapnya.

" Kau mau kemana Hyuk?" Hyukjae mengernyit bingung mendengar pertanyaan Donghae. Tentu saja ia akan ke kamarnya dan istirahat. Bukankah sedari tadi saat di perjalanan Donghae terus mengoceh, mewanti-wanti dirinya untuk segera istirahat setelah sampai di apartemen mereka.

" Tentu saja aku mau ke kamarku, memangnya mau ke mana lagi?" Hyukjae semakin heran ketika melihat Donghae justru menarik tangannya lembut membawanya melangkah ke sebuah ruangan yang Hyukjae ketahui adalah... Kamar Donghae? Donghae membuka pintu kamarnya, kemudian berbalik menatap Hyukjae lembut.

" Mulai hari ini dan seterusnya kamar kita di sini."

Ah sepertinya Hyukjae belum sadar benar dengan ucapan Donghae, sehingga ia justru mematung sekarang. melihat istrinya yang hnya terdiam Donghae beranjak ke belakang tubuh Hyukjae. Mendorong pelan bahu Hyukjae memasuki kamarnya yang kini menjadi kamar mereka.

Hyukjae mengedarkan pandangannya, menyusuri setiap bagian di kamar itu yang cukup mengejutkan untuknya. Semua barang-barangnya sudah berada di sana, semua tanpa terkecuali. Bahkan foto berbingkai besar yang dulu ada di kamarnya kini bertengger manis di sana. Di tembok tepat di atas ranjang king size yang ada di ruangan itu.

"H-Hae... I-Ini-." Bertanya dengan volume lirih disertai nada tak percaya, sedetik kemudian dirasakannya pelukan lembut di pinggangnya dari arah belakang. Begitu erat melingkari perutnya sepenuhnya.

" Mianhae jika ini terlalu lama. Seharusnya aku lakukan ini dari dulu." Berbisik lirih tepat di telinga Hyukjae, Donghae meletakkan dagunya di bahu kanan istrinya.

Hyukjae yang mendengar ucapan Donghae tak bisa lagi menahan cairan yang sedari tadi menggenang di matanya. Berbalik dan tak sampai dua detik tubuh kecil itu menubruk tubuh Donghae. Memeluknya erat dan menggumamkan terima kasih berulang-ulang. Perlahan Donghae melepaskan pelukannya menghapus tetesan air mata yang sedikit menodai wajah cantik itu, kemudian mengecup kening Hyukjae.

" Ini memang sudah seharusnya sayang. Baiklah, kau masih butuh istirahat. Sekarang tidurlah, aku ingin mandi dulu." Donghae membimbing Hyukjae berbaring di ranjang, kemudin menyelimutinya sebatas dada. Hyukjae yang mendapat perlakuan seperti itu hanya diam saja, menuruti perintah suaminya. Pandangannya tak pernah lepas dari sosok tampan itu sampai tubuh Donghae menghilang di balik pintu kamar mandi.

Hyukjae menarik nafas dalam-dalam, menetralkan jantungnya yang berdebar kencang ketika Donghae memperlakukannya begitu lembut. Bukan, debaran ini bukan debaran yang menyakitkan. Tapi debaran yang membuatnya begitu nyaman, dari dulu hingga sekarang.

:: ::

CKLEK...

Pintu kamar mandi yang terbuka membuat Hyukjae membuka matanya, karena dia memang belum tidur sejak tadi. Melihat ke arah pintu kamar mandi dilihatnya Donghae yang hanya imengenakan bathrobe yang tak diikat sempurna menampakkan sedikit dada bidangnya. Air masih menetes di rambutnya yang basah yang kini tengah dikeringkan dengan handuk kecil di tangan Donghae. Melihatnya entah mengapa membuat pipi Hyukjae memanas. Dengan cepat Hyukjae membalikkan badannya memunggungi Donghae.

Donghae yang mengetahui pergerakan Hyukjae hanya mengernyitkan dahinya bingung. Meletakkan handuk kecil yang digunakannya saat dirasa rambutnya sudah agak kering, Donghae berjalan ke arah ranjang.

Hyukjae memejamkan matanya erat saat merasakan seseorang menaiki ranjang. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa gugup.

" Hyukkie... Baby..." Donghae heran sekarang, ia melihatnya dengan jelas jika tadi Hyukjae belum tidur tapi kenapa ia tak menyahut sama sekali? Donghae tesenyum kecil kala menyadari penampilannya, sepertinya ia tahu kenapa Hyukjae bertingkah seperti itu. Sedikit menggoda istrinya tak masalah bukan.

" Hyukiie..." Donghae sengaja berucap lirih di samping telinga Hyukjae, membuat Hyukjae sedikit bergerak tak nyaman. Meraih pundak istrinya, Donghae memcoba membalik tubuh Hyukjae supaya menghadapnya. Awalnya Hyukjae menahan tubuhnya, tapi tentu saja Donghae bisa melakukannya dengan mudah.

Bisa Donghae lihat jika mata Bulat sipit itu sedikit melebar memandangnya gugup. Keloapak dengan bulu mata lentik itu mengerjab berulang-ulang dengan pandangan tak fokus. Jangan lupakan pula dengan wajah yang merona itu menambah kesan imut dan menggemaskan bagi Donghae. Perlahan Donghae mendekatkan wajahnya pada Hyukjae.

" H-Hae... Ma-mau a-apa..." Sungguh tingkah laku Hyukjae benar-benar membuat Donghae gemas sendiri. Donghae bisa merasakan hembusan nafas Hyukjae yang sedikit tak beraturan menerpa wajahnya.

Hyukjae memejamkan matanya erat ketika jarak antara keduanya semakin dekat, menunggu apa yang akan dilakukan Donghae padanya. Entah apa yang ada di fikirannya hingga ia segugup ini.

Hyukjae segera membuka matanya saat merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh keningnya. Mengerjabkan matanya berulang-ulang saat Donghae melepaskan kecupannya, membuat Donghae yang melihatnya tersenyum kecil.

" Selamat malam Baby. Mimpi indah ne, Saranghae." Setelahnya menarik selimut guna menutupi tubuhnya dan Hyukjae, Donghae menarik tubuh kecil Hyukjae lebih merapat ke arahnya. Memejamkan matanya, Tak menghiraukan Hyukjae yang masih cengo dan kini memukul kecil kepalanya sendiri.

' Pabbo, Hyukkie. Apa yang kau fikirkan bodoh.'

Hyukjae merutuk kecil pada dirinya sendiri. Terkekeh kecil dengan tingkah konyol yang dilakukannya, setelahnya Hyukjae menggerakkan tangannya menggenggam tangan Donghae yang memeluknya. Tersenyum sekali lagi sebelum menutup matanya, menyusul Donghae yang lebih dahulu menjelajah alam mimpi.

::: HAEHYUK :::

.

Beberapa minggu berlalu, dan hubungan pasangan muda Lee ini semakin hari terlihat semakin harmonis saja. Semua begitu indah, seolah mereka baru merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Donghae dan Hyukjae sepakat bahwa mereka akan memulai semua dari awal, tanpa mengungkit ataupun mengingat masa lalu yang mungkin pernah menyakiti mereka berdua. Saling berbagi dan merasakan cinta satu sama lain setiap detikya.

Seperti yang terjadi saat ini, Hyukjae menggeliat dalam tidurnya, membuka matanya perlahan dapat ia rasakan lengan kokoh yang masih memeluk pinggangnya erat. Bisa dilihatnya cahaya matahari yang mengintip dibalik jendela kamarnya, belum terlalu terik memang tapi cukup membut Hyukjae yakin jika hari sudah pagi.

Sedikit mendongakkan kepalanya ke atas, dilihatnya wajah rupawan yang masih menutup matanya erat. Memandangi wajah tampan suaminya intens, Hyukjae perlahan mengangkat tangannya guna mengelus wajah Donghae. Meneliti setiap inci bagian wajah yang begitu sempurna di matanya, Hyukjae tersenyum lembut. Bahkan sentuhan lembutnya tak mampu membuat Donghae terbangun. Tampaknya ia terlalu lelah dengan kegiatannya di kantor. Hyukjae tak tahu kapan Donghae menyusulnya, karena ia sendiri sudah lebih dulu tidur.

Menyingkirkan tangan Donghae dengat amat sangat pelan dari pinggangnya, sebisa mungkin agar Donghae tak terbangun. Setelahnya Hyukjae beranjak ke kamar mandi guna membersihkan diri supaya tubuhnya lebih segar.

Tak begitu lama sampai namja manis itu keluar dari kamar mandi, dilihatnya Donghae yang masih menjelajah alam mimpinya. Mendekati suaminya kemudian mencium pipinya lembut, berbisik lirih di telinga Donghae.

" Tidurlah sebentar lagi, akan ku bangunkan jika semua sudah siap." Dan setelahnya, Hyukjae beranjak keluar menuju dapur guna menyiapkan sarapan mereka.

Yah seperti itulah kegiatan yang mereka lalui beberapa minggu ini, Hyukjae yang lebih sering bangun duluan walau kadang mereka juga bangun bersamaan. Hyukjae akan menyiapkan semua keperluan Donghae mulai dari sarapan, menyiapkan baju kerjanya, dan keperluan lain suaminya. Tapi sungguh, hal ini begitu membahagiakan kedunya. Hal sederhana yang dilakukan bersama merupakan kebahagiaan tersendiri bagi mereka.

Selesai berkutat di dapur dan menyelesaikan acara memasaknya, masih mengenakan apron berwarna kuning dengan gambar strawberry besar di tengahnya, Hyukjae melangkah menuju kamarnya. Memasuki kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk suaminya. Donghae terlihat lelah mungkin sedikit berendam air hangat bisa merilekskan tunbuhnya, itulah yang difikirkan Hyukjae.

Setelah siap Hyukjae melangkah keluar. Mendudukkan diri di tepi ranjang tepat di samping Donghae yang masih terlelap, bahkan matahari yang mulai tinggi tak mengusik tidur nyenyak seorang Lee Donghae.

" Hae... Bangun. Hari mulai siang, Bangunlah." Hyukjae berucap lembut sambil menggoyang pelan badan Donghae. Namun ternyata itu tak mempan untuknya terbukti jika tubuh itu hanya menggeliat pelan, membuat Hyukjae mengerucutkan bibirnya.

" Hae banguuunnn..." Kali ini lebih keras dan Hyukjae sedikit menyingkap selimut tebal di tubuh Donghae.

" Yak! Lee Donghae ku bilang Ba..- KYAA!" dan Hyukjae memekik saat Dengan tiba-tiba Donghae menarik lengannya. Tubuh Hyukjae tertarik ke depan mengakibatkan dirinya kini terjatuh tepat di atas tubuh Donghae. Jarak wajah mereka begitu dekat sekarang membuat keduanya bisa merasakan hangat nafas lawan pandang masing-masing.

" Seharusnya kau membangunkan ku dengan cara lain sayang." Suara serak khas seorang yang baru bangun tidur mengalun di bibir Donghae. Hyukjae yang berada di atasnya hanya mengerjapkan mata bulatnya berulang kali, membuat Donghae tersenyum simpul.

" Begini caranya." Dengan gerakan cepat namun lembut Donghae menarik tengkuk Hyukjae, mempertemukan bibir tipisnya dengan bibir penuh milik istrinya. Tak berapa lama sampai Donghae melumat lembut bibir menggoda itu, bibir yang senantiasa terasa manis untuknya.

Terbawa suasana kini Hyukjae turut memejamkan matanya, menikmati setiap perlakuan suami tampannya. Semakin lama dapat dirasakan pagutan Donghae yang semakin dalam di bibirnya. Merasakan sesuatu yang menggelitik bibirnya, Hyukjae perlahan membuka belahan merah itu mempersilahkan sesuatu yang hangat dan lembut menyapa rongga mulutnya.

Donghae begitu menikmatinya, menikmati rasa manis yang kini dikecapnya, rasa yang kini menjadi candunya. Perlahan tanpa melepaskan pagutannya Donghae membalik tubuh Hyukjae, menempatkannya di bawah tubuh kekarnya. Tentu saja Donghae tak menindih tubuh ramping itu karena ia masih bertumpu pada lututnya.

Entah berapa menit yang berlalu, sampai Donghae merasakan tepukan di dada dan pundaknya. Mengerti dengan keadaan itu Donghae melepaskan bibir Hyukjae. Membiarkan Hyukjae yang masih terengah-engah akibat perbuatannya, kini Donghae justru menurunkan ciumannya.

Mengecup lembut dagu Hyukjae, kemudian dengan mata terpejam menyusuri leher jenjang itu menggunakan bibirnya tak membiarkan bagian itu terlewat satu incipun. Donghae semakin menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Hyukjae, mengecupnya merulang-ulang.

"H-Haeh... Nghh..."

Lenguhan Hyukjae menyentak Donghae, membuatnya tiba-tiba membuka mata seakan tersadar dari semua kegiatan yang dilakukannya. Perlahan Donghae mendongak mensejajarkan kembali wajahnya dengan wajah Hyukjae. Dalam pandangannya, dapat dilihat wajah Hyukjae yang memerah sepenuhnya, bibir yang sedikit bengkak itu terbuka kecil dan semakin merah. Serta tatapan Hyukjae yang begitu sayu juga tengah memandangnya.

Perlahan Donghae mengangkat tangannya, mengusap lembut bibir Hyukjae menggunakan ibu jarinya, Donghae tersenyum tipis.

" Baiklah, aku mandi dulu sebelum aku benar-benar terlambat." Tak menunggu respon Hyukjae, Donghae segera beranjak menuju kamar mandi. Meninggalkan Hyukjae yang tak pernah lepas memandangnya dengan tatapan yang begitu sulit diartikan.

::: :::

Hyukjae kini duduk menunggu Donghae di meja makan. Sepertinya ada yang tengah dipikirkan namja manis itu saat ini. Terbukti dari pandangan matanya yang terlihat lurus menerawang dengan tangan kanan yang menopang dagunya.

.

Hyukjae PoV

Haahh...

Entah ini sudah kali ke berapa aku menghela nafas hanya di pagi ini. pikiranku kembali tertuju pada apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Haahh... selalu seperti itu. Semenjak kami -maksudku aku dan Donghae- menikah, lebih tepatnya sekamar Donghae tak pernah mau menyentuhku. Dalam artian melakukan hal 'itu', ah aku bahkan malu menyebutkannya.

Aish, kenapa wajahku panas? Aku yakin wajahku memerah sekarang.

Haah... Donghae tak pernah mau menyentuhku lebih jauh entah kenapa. Jangan berfikir jika aku ini pervert. Aku hanya berfikir, bukankan seharusnya orang yang sudah menikah melakukan hal 'itu'. Ini bukan hanya karena nafsu belaka, aku hanya ingin memberikan diriku untuk Donghae karena aku mencintainya. Aku ingin menjadi miliknya 'seutuhnya'.

Tapi sepertinya ia enggan melakukannya. Kenapa? Apa aku kurang menarik? Ku tundukkan kepalaku, mencoba meneliti tubuhku. Apa aku terlalu kurus ya sehingga Donghae tak tertarik padaku? Apa tubuhku begitu tidak menarik di mata Donghae? Aaarrgggg...

Hyukjae PoV End

.

Donghae yang baru tiba di ruang makan mengernyit bingung saat melihat Hyukjae yang mengacak-acak sendiri rambutnya. Mendekat perlahan kemudian memeluk Hyukjae dari belakang membut Hyukjae menghentikan kegitan mengacak rambutnya. Mengecup pipi Hyukjae sekilas Donghe kemudian duduk di kursinya.

" Kau kenapa baby?" Hyukjae tersenyum canggung dan menggelengkan kepalanya pelan.

"Anni. Ini sarapanmu, cepat makanlah sebelum hari semakin sing. Jangan lupa kau sudah berjanji akan mengantarku ke rumah Umma hari ini." Hyukjae berkata sembari meletakkan sarapan di depan Donghae, yang dibalas senyum manis dari suami tampan nya.

" Iya.. iya... aku tak akan lupa My Princess." Menikmati sarapannya dengan lahap Donghae sedikit terkikik melihat Hyukjae yang menunduk dengan rona merah muda di kedua pipinya. Ah, istrinya ini memang amat sangat manis dan menggemaskan.

::: HAEHYUK :::

.

Beberapa namja yang justru terkesan 'cantik' itu kini tengah duduk di halaman belakang rumah keluarga Kim. Terlihat Leeteuk yang tengah merangkai beberapa bunga yang baru saja di petiknya ke dalam sebuah vas cantik, Heechul yang sedang menikmati tehnya dengan gaya yang begitu elegan, dan Taemin yang tengah asyik dengan ponsel di tangannya dan sesekali tersenyum sendiri. Begitu menyenangkan bukan? Tapi sepertinya ada seorang lagi di sana.

Berbeda dengan tiga orang di depannya yang tampak begitu menikmati kegiatan masing-masing, Hyukjae hanya hanya duduk diam memandang ke depan, kemudian menghela nafas dalam.

"Apakah bentuk tubuhku tak menarik sama sekali?." Gumaman Hyukjae yang terdengar jelas membuat ketiga orang lain di sana terkejut.

Leeteuk yang refleks menyenggol vas bunganya, Heechul yang tersedak tehnya, serta Taemin yang hampir saja menjatuhkan ponselnya. Serentak mereka bertiga menoleh ke arah Hyukjae, melihat terkejut Hyukjae yang menatap harap ke arah mereka. Seketika semuanya hening. Menelan ludahnya gugup, kemudian ketiganya menatap Hyukjae dari atas sampai bawah, kemudian kembali ke atas lagi. Mengedipkan mata berulang-ulang kala melihat mata bening itu kini berkaca-kaca.

" Jadi benar ya, memang seperti itu." Melihat ketiganya yang hanya diam membuat Hyukjae semakin yakin jika apa yang difikirkannya memang benar.

" Ehem." Leeteuk berdehem guna memecah kesunyian yang terjadi.

" A..A-Aigoooo, siapa yang berkata seperti itu Chagiya...?" Tersadar, Heechul segera bangkit dari duduknya, mendekati Hyukjae dan langsung memeluknya erat. Hyukjae balas memeluk Heechul, menenggelamkan kepalanya di dada namja cantik itu. Hechul mengelus lembut punggung Hyukjae berulang-ulang sesekali mengecup puncak kepalanya.

" Siapa yang berkata seperti itu padamu? Aigoo? Jika ada yang bilang begitu dia pasti sudah buta sayang." Heechul perlahan melepas pelukannya, menjauhkan tubuhnya dari Hyukjae guna melihat lebih jelas wajah manis itu.

" Siapa yang bilang kau tak menarik eoh? Lihat wajah cantik ini." Heechul menangkup wajah Hyukjae lembut dengan kedua tangannya. Kemudian menurunkan tangannya menggenggam telapak tangan Hyukjae. Meneliti setiap bagian tubuhnya.

" Lihat tubuh ramping ini, dan lihat kulit putih lembut ini. Masih adakah yang bilang kau tak menarik eoh?" Mendengarnya justru mata bulat sipit itu semakin terlihat basah dengan bibir yang mengerucut.

" T-Tapi H-Hae...-."

" MWOO? JADI IKAN ITU BERKATA SEPERTI ITU PADAMU?" Belum sempat selesai berucap Heechul sudah memotong ucapan Hyukjae, membuat Hyukjae kelabakan sendiri. Dengan cepat menggelengkan kepalanya namun sepertinya Heechul tak terlalu memperhatikannya.

" A-Anio Umma. Itu-."

"Aish... ikan itu benar-benar. Seenaknya saja dia mengatakan hal itu. Akan ku beri pelajaran dia." Merasa ucapannya tak di dengar kini Hyukjae menggenggam tangan Heechul, sedikit menariknya supaya Heechul memandangnya.

" Bukan begitu Umma. Hae tidak pernah berkata seperti itu. Hanya saja... hanya saja... mmmm-." Bola mata Hyukjae bergerak gelisah kemudian menundukkan wajahnya, enggan menatap semua orang yang kini tengah memperhatikannya.

" Itu hanya fikiran Hyukkie saja." Ketiganya serempak mengerutkan kening pertanda bingung.

" Kenapa kau bisa berfikir seperti itu Hyung?" Kali ini Taemin yang bertanya. Hyukjae terdiam sepertinya ragu antara mau mengungkapkan pemikirannya atau tidak. Heechul yang tadi berdiri kini melangkahkan kakinya untuk kembali duduk, ternyata berdiri itu lama-lama pegal juga. Ck.

'I-itu...Ka-karena, semenjak menikah Hae tidak pernah mau menyentuhku. Sehingga aku berfikir, apakah Hae memang tak tertarik padaku."

Setelahnya Hyukjae menundukkan kepalanya dalam, menyembunyikan ekspresi wajahnya antara sedih dan malu. Sedang yang lain hanya bisa cengo menatap ke arah Hyukjae. Setelah kembali 'sadar' Leeteuk mengulurkan tangannya.

" Sayang,..." Mendengar panggilan serta merasakan tangan hangat yang tengah menggenggam tangannya lembut membuat Hyukjae mengangkat kepalanya. Ia menatap Ummanya yang duduk tepat di sampingnya.

" Kenapa kau berfikir seperti itu hm? Donghae pasti punya alasan sayang. Mungkin dia takut kau belum siap atau dia memang tak mau menyakitimu." Leeteuk berucap lembut, tersenyum menenangkan saat Hyukjae hanya mengerjabkan matanya.

" T-Tapi Umma. Kami sudah lama menikah. Aku juga baik-baik saja sekarang. Bukankah orang yang sudah menikah seharusnya... seharusnya..." Hyukkie memandang gelisah ketiga orang di depannya. Jangan lupakan wajahnya yang mulai memerah sekarang dan bibir bawahnya yang digigit kecil.

" Seharusnya melakukan... Melakukan... Aish.. Kalian pasti sudah tahu sendiri." Menahan malu Hyukjae menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya. Membuat semua yang ada di sana menahan tawanya, bahkan Taemin kini membekap mulutnya supaya tak kelepasan. Hyungnya ini memang polos atau apa.

" Ummamu benar sayang. Ikan itu pasti punya alasan. Kalau memang sudah waktunya dia pasti melakukannya. Kau belum tahu saja ikan itu sebenarnya pervert sekali." Mendengar ucapan Heechul kali ini membuat Hyukje menganggukkan kepalanya pelan dengan senyum malu-malu di bibirnya.

" Ah, kalau memang kau sudah tak sabar, apa perlu Umma yang memaksa ikan itu melakukannya padamu?" Heechul sedikit menyeringai kemudian menggerakkan alis matanya naik turun menggoda Hyukjae.

" Yak... Umma apa yang kau katakan." Dan tawa itu menggema saat Hyukjae menyuarakan protesannya, membuat bibir pouty alami itu semakin mengerucut sekarang.

:::: : ::::

Donghae tengah berada di kantin kantornya. Terdiam sembari mengaduk secangkir kopi di depannya, sampai ia merasakan tepukan pelan di bahunya. Menoleh ia menemukan Siwon yang tersenyum kepadanya. Tanpa membalas senyum sepupunya Donghae kembali melanjutkan kegiatannya tadi, membuat Siwon yang melihatnya menatap aneh namja tampan itu.

" Kau kenapa Hae-ah?"

Mendudukkan diri tepat di depan Donghae bisa dilihatnya wajah sepupunya itu yang tampak sedikit suram. Padahal Selama beberapa minggu ini ia selalu melihat Donghae yang bersemangat.

"Haaahhhh..."

Hanya helaan nafas itu yang muncul, membuat Siwon kini menatap intens namja di depannya.

" Apa tentang Hyukkie?" Pertanyaan itu berhasil membuat Donghae menatap ke arahnya.

" Ada apa lagi dengan hubungan kalian? Jangan bilang kalian bertengkar." masih mencoba mengorek suatu hal yang mungkin tengah mengusik Donghae.

" Aniyo Hyung. Mana mungkin aku bertengkar dengan Hyukkie."

Dan jawaban itu justru membuat Siwon semakin bingung. Donghae tak bertengkar dengan Hyukjae, lalu kenapa auranya terlihat suram sekali?

" Lalu ada apa dengan ekspresimu itu? Ku tidak terlihat seperti Lee Donghae yang biasanya." Kembali helaan nafas itu didapat sebagai jawaban pertanyannya. Menatap Siwon sekilas Donghae berfikir. Sepertinya dia memang membutuhkan teman untuk sedikit berbagi terlebih Siwon memang yang paling tahu tentangnya.

" Kau tahu Hyung? Tadi pagi... aku hampir saja kelepasan." Donghae menatap Siwon ragu.

"Maksudmu?" Sungguh, Siwon tak mengerti apa yang dibicarakan Donghae saat ini.

" Aku hampir saja kelepasan melakukan hal 'itu' pada Hyukkie."

" Aku benar-benar tidak tahu apa maksud pembicaraanmu Hae-ah. Bisakah kau bicara lebih jelas. Melakukan Hal 'itu' apa?" mengambil minuman Donghae kemudian menyeruputnya santai tanpa ijin si pemilik. Sementara Donghae kini tengah meremas kecil kepalanya sambil menatap sepupunya.

" Hal 'itu'. Hal yang... yang biasanya dilakukan 'suami-istri." Dan Siwon tak bisa menahan diri untuk tak menyemburkan kopi yang berada di mulutnya. Matanya terbelalak lebar menatap terkejut ke arah Donghae yang justru menatapnya tajam. Mendesis sinis Donghae mengambil tisu di depannya.

" Yak. Kau ini jorok sekali." Tak menanggapi ucapan Donghae kini Siwon justru menatap heboh Donghae.

"J-jadi selama ini, kau... Kau dan Hyukkie belum melakukannya?" Siwon memberi isyarat dengan menggerakkan jari tengah dan telunjuknya membentuk tanda kutip. Dan matanya kembali melebar saat Donghae menjawabnya dengan gelengan kepala.

" MWO!" Dan pekikan Siwon berhasil membuat beberapa orang yang berada di sana menatap aneh ke arah mereka.

" Aishh... Pelankan suaramu. Kau tak lihat kita di mana. Dan juga, ubah segera ekspresimu itu Hyung. Kau terlalu berlebihan." Siwon menggelengkan kepalanya pelan mengembalikan kembali kesadarannya.

" Waahhh... aku tak tahu harus berekspresi seperti apa Hae. Tentu saja aku begitu terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa, kalian sudah beberapa bulan menikah dan belum melakukannya. Hei Lee Donghae itu adalah ritual wajib yang harus dilakukan kau tahu?"

Kali ini pandangan Donghae justru terlihat menerawang.

" Aku, takut Hyung. Aku takut aku menyakitinya. Dan aku juga masih mengkhawatirkan kondisinya."

Siwon faham betul apa yang dirasakan Donghae. Sepupunya itu begitu mencintai istrinya, bahkan saat belum mengetahui kenyataan yang sebenarnya Siwon bisa melihat jika Donghae amat sangat mencintai Hyukjae walaupun namja itu selalu berkata benci.

" Hae, beberapa hal mungkin tak seburuk apa yang kita fikirkan. Kau tak pernah tahu apa yang Hyukjae fikirkan tentang itu. Bagaimana jika ia justru berfikir kau tak mencintainya?"

Donghae terbelalak menatap Siwon. Benar, bagaimana jika Hyukjae justru beranggapan bahwa ia tak mencintainya hanya karena ia yang belum bisa menyentuh Hyukjae. Bodoh kau Lee Donghae.

" Jangan selalu berfikiran negatif. Lagi pula Hyukjae sudah begitu sehat sekarang. Kau tahu sendiri kondisinya." Donghae kembali berfikir, sepertinya apa yang dikatakan Siwon memang benar. Melihat Donghae yang sepertinya sudah mulai terpengaruh (?), Siwon sedikit menampilkan seringainya yang tentu tak disadari Donghae yang masih asyik dengan fikirannya.

" Atau itu hanya alasanmu saja. Sebenarnya kau tak tertarik dengan Hyukkie?" Kini Donghae menatap tajam ke arah sepupunya.

" Bagaimana bisa kau tak tertarik padanya Hae. Hyukkie begitu cantik." Siwon sengaja membuat pandangannya seolah menerawang.

" Wajahnya begitu manis dengan bibir merah alami, kulitnya yang begitu putih, tubuh ramping yang-."

TRAK! AWW!

Dan sendok yang dilempar Donghae berhasil tepat mengenai kepala Siwon.

" Jangan berfikiran mesum tentang istriku, dasar Kuda liar." Dan setelahnya Donghae melangkah dari tempat itu. Meninggalkan Siwon yang tengan mengusap jidatnya yang tadi terkena lemparan 'sayang' dari Donghae.

::: HAEHYUK :::

.

Jam menunjukkan 21.00 ketika Donghae memasuki apartemennya. Lampu ruang depan terlihat masih begitu terang. Ah, istrinya pasti masih menunggunya. Melangkah perlahan Donghae memasuki ruangan, menolehkan kepalanya ke setiap sudut sampai pandangannya terpaku pada satu objek di sofa ruang depan. Dan, sungguh donghae hanya mematung melihat pemandangan di depannya.

Terlihat Hyukjae yang tertidur di atas sofa dengan posisi menyamping. Tapi bukan itu yang membuat Donghae mematung. Bukan posisi Hyukjae yang membuatnya seakan sulit bernafas, tapi apa yang kini dikenakan istri manisnya itu.

Hyukjae mengenakan kemeja putih yang terlihat kebesaran di tubuhnya yang Donghae yakini jika itu adalah kemejanya. Dengan bawahan hot pants yang hampir tertutup sempurna kemeja besar itu, menampakkan keindahan kaki jenjangnya. Jangan lupakan bagian bahunya yang sedikit terekspos karena kancing teratas kemeja itu tak dikancingkan dengan benar. Donghae menelan ludahnya gugup. Apa Hyukjae berniat menggodanya sekarang. Kalau begini bagaimana mungkin Donghae bisa menahan diri.

Melangkah dengan gerakan yang amat pelan Donghae meletakkan tas kerjanya. Sedetik kemudian melepaskan jas kantornya lalu menyampirkannya di sandaran sofa di sampingnya. Melonggarkan dasinya, Donghae semakin mendekat ke arah Hyukjae. Entah mengapa ia merasakan udara tiba-tiba menjadi sedikit panas sekarang.

Berlutut tepat di depan Hyukjae, mensejajarkan wajahnya tepat dengan wajah Hyukjae. Meneliti setiap lekuk yang ada di sana. Mata yang terpejam erat, hidung mancung yang begitu pas dengan wajahnya, serta bibir merah alami yang kini sedikit terbuka.

Haaah... Donghae benar-benar bisa gila. Tak dapat menahan dirinya, kini Donghae mulai mempersempit jarak wajahnya dengan Hyukjae. Perlahan menempelkan bibirnya dengn bibir menggoda itu, kemudian melumatnya pelan.

Merasakan sesuatu menyentuh bibirnya membuat Hyukjae terbangun. Perlahan membuka matanya dan menemukan wajah Donghae yang begitu dekat dengannya. Tak lama sampai Hyukjae kembali memejamkan matanya, kali ini menikmati setiap perlakuan Donghae padanya. Tangannya terulur, dengan erat memegang kemeja bagian depan Donghae.

Mendapat respon Hyukjae, Donghae semakin memperdalam ciumannya. Membangkitkan tubuhnya perlahan kemudian memutar sedikit tubuh Hyukjae hingga terlentang. Dan kini dirinya berada di atas sofa bertumpu pada lututnya dengan Hyukjae yang berada di bawahnya tanpa melepas tautan keduanya.

Merasakan sesak di dadanya karena kebutuhan udara, Hyukjae menepuk pelan dada Donghae. Mengerti keadaan istrinya, Donghae –dengan tak rela- melepas bibir Hyukjae. Bukan sepenuhnya menjauh melainkan mengalihkan ciumannya ke leher Hyukjae. Mengecup lembut hamparan jenjang itu hanya untuk mendengar lenguhan Hyukjae yang kembali menyentaknya.

Donghae seketika menghentikan kegiatannya. Mengangkat wajahnya dari leher Hyukjae dan hendak bangkit dari posisinya sekarang. Namun, belum sepenuhnya tubuhnya menjauh, sepasang lengan itu melingkar erat di lehernya, memaksanya untuk memandang wajah sang pemilik lengan.

Dilihatnya Hyukjae yang menatapnya sayu, dengan sorot mata yang menyiratkan... Permohonan? Entahlah Donghae juga tak yakin dengan pemikirannya.

" Kenapa kau selalu menghentikannya Hae-ah?" Donghae sedikit terbelalak menatap Hyukjae, kemudian sebisa mungkin mengalihkan pandangannya dari onix bening di depannya.

" A-apa maksudmu Hyuk?"

" Kau mengerti benar apa maksudku Hae-ah. Kau... kenapa tak pernah mau menyentuhku lebih lanjut?" Dan pertanyaan itu sekan menampar Donghae telak.

"Hae..." Hyukjae meraih lembut wajah Donghae. Memaksa mata sendu itu menatapnya.

" A-Aku hanya tak ingin menyakitimu Hyuk. Aku tak mau terjadi sesuatu padamu." Dan jawaban itu membuahkan senyum di bibir Hyukjae. Ternyata benar, Donghae hanya tak ingin menyakitinya. Mengelus lembut pipi Donghae, Hyukjae memandangnya begitu lembut.

" Hae, aku mencintaimu. Amat sangat mencintaimu, dan aku tahu kau juga mencintaiku?" Donghae setia menyelami mata bening itu, memandang jauh ke dalam sana melihat keyakinan di mata Hyukjae.

" Karena aku mencintaimu, maka dari itu aku ingin menyerahkan diriku sepenuhnya padamu. Aku ingin menjadi milikmu Hae-ah. Sepenuhnya." Meletakkan telunjuknya di bibir tipis Donghae kala dilihatnya bibir itu hendak menyuarakan protesannya.

" Dan tidak akan terjadi apa-apa padaku." Ucapan Hyukjae yang terdengar begitu yakin membuat Donghae tertegun. Apa memang ini saatnya ia melakukannya, membuat Hyukjae benar-benar menjadi miliknya seutuhnya. Donghae tak melihat sedikitpun keraguan di diri Hyukjae.

" K-Kau yakin Hyuk?" tak membalas ucapan Donghae justru kini Hyukjae menarik leher Donghae, mempertemukan bibir sensualnya dengan milik Donghae. Hanya sekilas dan setelahnya berbisik lirih di telinga Donghae.

" Lakukan Hae-ah. Aku milikmu."

Tak perlu menahannya lebih lama, Donghae kembali mengunci bibir Hyukjae. Kali ini melumatnya dengan sedikit kasar. Hyukjae semakin mengeratkan rangkulannya di leher Donghae, sesekali mencoba membalas ciuman menuntut dari suaminya.

Perlahan Donghae menurunkan kakinya, meletakkan tangan kanannya di bawah lutut Hyukjae dan tangan kirinya di belakang punggung Hyukjae. Mengangkatnya perlahan tanpa melepaskan pagutannya, melangkah pelan memasuki kamar mereka.

Merasakan kakinya yang sedikit berbenturan dengan ranjang, perlahan Donghae meletakkan Hyukjae di ranjang. Melepaskan tautan yang cukup lama terjalin, bisa Donghae lihat wajah Hyukjae yang begitu menggodanya.

Bagaimana tak menggoda jika di depanmu sesosok makhluk manis tengah terlentang dengan dada yang naik turun, berusaha menetralkan nafasnya yang menderu. Wajah yang memerah sempurna dengan pandangan mata sayu, serta bibir merah bengkak yang sedikit terbuka. Jangan lupakan bahu putih yang sedikit terekspos karena kerah kemejanya yang memang kebesaran.

Dengan kasar Donghae melepaskan simpul dasinya kemudian melemparkannya ke sembarang arah. Bertumpu pada lengan kiri Donghae merebahkan tubuhnya, menempatkan wajahnya begitu dekat dengan Hyukjae sehingga hidungnya kini menempel di pipi kanan Hyukjae. Tangan kanannya terangkat, menangkup sisi wajah Hyukjae yang lain.

" Kau yakin dengan ini? Aku akan melakukannya Hyuk. Aku hanya berharap ini tak akan menyakitimu. Kau bisa menghentikanku kapanpun kau mau." Perlahan Hyukjae menolehkan kepala ke arah kanan, sehingga bibirnya tepat menempel di bibir Donghae.

Donghae kembali menempatkan Hyukjae di bawah kungkungannya, menyesap rasa manis bibir Hyukjae kemudian melesakkan lidahnya ke rongga hangat itu. Sungguh, Hyukjae benar-benar menjadi candu bagi Donghae.

" Ngmhhh..."

Hyukjae melenguh di antara tautan dalam itu membuat Donghae benar-benar harus ekstra menjaga sesuatu dalam dirinya yang kini begitu bergejolak. Donghae pastikan ia tak akan melepaskan bibir Hyukjae jika ia tak merasakan Hyukjae yang menepuk keras dadanya, mengisyaratkan jika pasokan udara di paru-parunya semakin menipis.

Melepaskan bibir Hyukjae, Donghae beralih pada leher jenjang di hadapannya. Mengecup setiap bagiannya tanpa terlewatkan, seolah ia tak rela jika tak menyesap setiap rasa manis di tubuh istrinya.

" Mmhhh... hh-Hae..." Berhenti di perpotongan leher dan bahu Hyukjae Donghae mengubah kecupan ringannya menjadi jilatan lembut yang semakin membuat Hyukjae melenguh. Menggigit kecil bagian itu kemudian menghisapnya dalam.

" Akhhh..."

Hyukjae memekik dengan tangan yang meremas kemeja depan Donghae kala sensasi itu dirasakannya untuk pertama kalinya. Donghae sedikit mengangkat kepalanya, menyeringai puas kala berhasil menorehkan tanda kepemilikan yang begitu pekat di sana. Mengangkat kepalanya kembali meraup bibir tebal itu, menyesap belahan bibir atas dan bawah Hyukjae bergantian.

Namun kali ini tangannya tak tinggal diam. Tangan kanannya bergerak melepas perlahan satu per satu semua kancing kemeja Hyukjae. Dirasa tak ada lagi kancing yang dibuka, Donghae mengarahkan kedua tangannya membuka bagian depan kemeja itu. Menurunkan ciumannya ke rahang kemudian merambah ke leher, membiarkan bibir Hyukjae yang masih sedikit terbuka dengan kepala yang menengadah. Seakan memberikan keleluasaan lebih untuk Donghae.

Semakin ke bawah kini Donghae dihadapkan pada hamparan kulit putih dada Hyukjae. Menanamkan kecupannya di setiap inci bagian itu membuat Hyukjae tak bisa lagi menahan desahannya.

" Hahhh... Hhaehh..." Mengangkat tubuhnya menatap wajah Hyukjae, dan tersenyum kala melihat ekspresi Hyukjae yang kini memejamkan matanya erat dengan wajah yang memerah sempurna.

Kembali Donghae menurunkan tubuhnya, mengecup daerah di sekitar dua tonjolan kecil di dada Hyukjae.

" Aaahhh... H-Haeh... hhh..." Ingin melihat reaksi lebih dari Hyukjae kini Donghae menjilat nipple berwarna merah muda itu. Tak bisa menahan desahannya Hyukjae mengangkat tangan kirinya, menutup mulutnya dengan punggung tangannya.

" A-Akh... mmhhh..." Dan pekikan itu semakin menjadi kala Donghae memasukkan nipple nya ke dalam mulut kemudian menyesapnya keras. Sedang tangan nakalnya kini tengah memainkan bagian satunya. Pertama mengelusnya lembut kemudian menarik dan sedikit mencubitnya kasar. Bosan dengan nipple kiri Hyukje Donghae beralih ke satunya, memperlakukannya sama dengan yang tadi dilakukan. Hyukjae tanpa sadar sedikit mengangkat dadanya.

Menggerakkan kedua tangannya dengan cepat Hyukjae menarik kepala Donghae, menjauhkan dari dadanya kemudian membawa wajah tampan itu tepat di hadapannya.

" Hah... Hah... Hah..." Bisa Donghae lihat nafas Hyukjae yang terengah-engah dengan mata yang terpejam erat, dan itu membuatnya sedikit khawatir.

" Kau baik-baik saja Hyukkie?" Donghae berucap lembut sembari mengusap peluh yang mengalir di dahi Hyukjae, membuat Hyukjae perlahan membuka matanya.

" Kau mau hentikan ini?" Hyukje mengambil tangan Donghae yang masih berada di keningnya kemudian meletakkan di dadanya.

" Lanjutkan Hae..." Dan ucapan itu membuat Donghae tersenyum kecil. Ternyata Hyukjae cukup agresif juga. Melepaskan tangannya dari genggaman Hyukjae, Donghae menggerakkan tangannya. Menyusuri perlahan tubuh bagian depan Hyukjae, merasakan betapa halusnya kulit itu terasa di telapak tangannya. Mulai dari leher, dada, kemudian perut rata Hyukjae.

"Mmhhhh..." Sensasi telapak tangan Donghae yang menyentuh kulitnya membuat Hyukjae tak bisa menahan desahan nikmat itu keluar dari bibirnya. Kali ini kembali memejamkan mata menikmati setiap belaiannya.

" Ugghh... Hrrgh..."

Hyukjae menggeram dan menggenggam erat sprai di bawahnya kala Donghae mengelus sesuatu yang berada di antara dua pahanya.

" Oh... Sepertinya ada yang sudah mulai terbangun di sini." Sedikit menggoda istrinya Donghae berbisik lirih di telinga kanan Hyukjae, membuat Hyukjae menolehkan kepalanya ke kiri menghindari Donghae.

Donghae mengecup telinga kanan Hyukjae, mengulum daun telingnya sekilas kemudian bergerak ke bawah. Kembali memberikan kecuan di setiap bagian tubuh Hyukjae. Heran, Donghae merasakan rasa manis di setiap bagian tubuh Hyukjae yang dikecupnya, membuatnya seakan enggan untuk menyia-nyiakannya barang seinci pun.

Kembali menggoda Hyukjae, Donghae menghentikan kepalanya di perut Hyukjae. Menyapukan lidahnya di sekeliling pusar sebelum menjilatnya berulang-ulang membuat tubuh Hyukjae menggelinjang hebat.

Menurunkan perlahan hotpants yang dikenakan Hyukjae sekaligus underwear nya, dan kini di depannya terpampang jelas bagian private Hyukjae. Memandangnya, Donghae menelan ludah dengan susah payah.

Menyadari arah pandang Donghae dengan segera Hyukjae menyilangkan kalinya, kemudian kembali mengalihkan pandangannya saat Donghae menatap padanya. Melewatkan satu seringai yang terpasang di wajah tampan itu.

" Hei, kau malu eoh?" Tak menanggapi ucapan itu Hyukjae masih setia memalingkan wajahnya membuat suaminya terkikik kecil. Disaat seperti ini bagaimana bisa Hyukjaenya masih terlihat begitu menggemaskan.

" Sudah sejauh ini Hyuk, kenapa kau masih malu pada suami tampanmu ini huh?" Dengan sedikit usaha akhirnya Donghae berhasil memisahkan kedua paha itu, karena sedari tadi Hyukjae berusaha menahannya.

" AKH...!"

Dan Hyukjae tersentak kala tiba-tiba Donghae menggenggam erat miliknya. Tak berapa lama sampai tangan Donghae memijatnya pelan.

" Ahhh... Haehh... hahhh..."

Donghae mendekatkan bibirnya ke telinga hyukjae yang semakin erat memejamkan matanya. Berbisik seduktif di telinga itu tanpa menghentikan gerakannya di bawah sana.

" Mau merasakan yang lebih nikmat sayang?" Donghae semakin erat menggenggam milik Hyukjae. Bisa dirasakannya batang itu lebih mengeras sekarang, dengan cairan bening yang mengalir di ujungnya.

" Ngghhh... ahh..."

Tak mampu menjawab pertanyaan Donghae, Hyukjae hanya bisa mendesah. Tak perlu menunggu jawaban, dengan cepat Donghae kembali menurunkan kepalanya. Dengan pasti memasukkan kejantanan Hyukjae ke dalam mulutnya. Memaju mundurkan kepalanya perlahan kemudian semakin lama semakin cepat. Pandangan matanya tertuju ke atas, ke wajah Hyukjae. Tak ingin melewatkan sedikitpun ekspresi kenikmatan yang terlukis di wajah istrinya akibat perbuatannya

" Ahhh... Mphh... H-Haeh..." hyukjae berucap susah payah kala dirasa kuluman di kejantanannya kini diikuti hisapan keras. Hyukjae dapat merasakan perutnya mengencang, merasakan sesutu menggelitiknya dari dalam dan mendesak untuk keluar.

" H-Haeh... A... Aku... Ak- Akuhhhh..." Mengetahui apa yang dirasakan Hyukjae, Donghae justru semakin memperdalam hisapannya. Sesekali ia menggunakan giginya guna menggesek 'benda' di mulutnya, memancing sesuatu yang ingin segera keluar dari sana.

" AK- AAKKHHH!" Dan pekikan keras Hyukjae menandakan jika ia telah sampai puncak klimaksnya untuk pertama kali di sepanjang hidupnya. Pinggulnya sedikit terangkat kala cairan pekat itu keluar, dan dengan senang hati Donghae menampung semua di mulutnya.

Bahkan seolah tak rela jika cairan Hyukjae tercecer, Donghae sedikit menghisap batang yang kini tampak melemas itu. Membersihkannya sepenuhnya. Ah, bahkan Donghae merasakan jika cairan Hyukjae begitu manis.

Mensejajarkan wajahnya dengan Hyukjae, menempelkan hidung keduanya Donghae menatap mata Hyukjae yang masih terpejam erat. Dapat dirasakannya hembusan nafas Hyukjae yang tak teratur menerpa wajah tampannya.

" Bahkan rasamu begitu manis Hyukkie." Ucapan itu membuat Hyukjae mau tak mau membuka matanya. Mempertemukan pandangannya tepat dengan mata Donghae yang menatapnya penuh cinta sembari tersenyum.

" Dan milikmu juga begitu manis dan imut. Sama sepertimu." Dan pukulan kecil Donghae dapatkan di dadanya akibat ucapan itu.

" Hahahaha... Baiklah. Sepertinya ini saatnya kita mulai permainan intinya sayang."

Pandangan Hyukjae kini tak pernah lepas dari pergerakan tubuh Donghae yang perlahan menjauh dari tubuhnya. Mengerjabkan matanya berulang-ulang kala tangan Donghae perlahan bergerak melepaskan kancing kemeja yang masih melekat erat di tubuh atletisnya. Lelaki tampan itu memandang seduktif ke arahnya, dan Hyukjae bersumpah ia melihat seringai mesum yang baru pertama kali dilihatnya di bibir Donghae.

TBC

.

.

Ha...Ha...Ha... Jangan timpuk saya please. Maaf karena Update yang cukup lama tertunda. Dan maaf juga saya justru menulis adegan nista di atas. Jangan protes juga karena TBC harus nyempil di situ.

Berikan pendapat kalian dan dengan senang hati saya bakalan Update cepat. Karena sesungguhnya lanjutannya sudah ada dan terpaksa saya potong karena terlalu panjang. Boleh dipilih, mau adegannya di cut di situ atau bakalan lanjut ke hal yang lebih nista lagi. #Plak.

.

Entah kenapa review yang semakin minim sedikit mengurangi mood saya untuk melanjutkan cerita ini. Mungkin memang begini yang namanya penulis amatiran. #Curhat#. Tapi tenang saja, untuk pemirsa setia saya *Ciyeeeee...Emang Ada?* saya akan tetap melanjutkannya sampai titik darah penghabisan, eh maksud saya sampai cerita ini benar-benar END. Saya sangat mengerti perasaan reader yang ditinggalkan begitu saja dengan cerita yang masih menggantung, jadi sebisa mungkin saya akan tetap melanjutkannya.

Akhir kata...

GOMAWOOOO ALL ^-^