"Yuta?!"
Sebelah tangannya yang semula terulur langsung ditarik dengan cepat begitu ia sadar kalau Taeyong sempat menyadari keberadaannya. Kedua kakinya langsung melangkah mundur untuk menjauh, sedangkan Taeyong langsung bangkit dari posisi duduknya lalu melangkah kesana-kemari tanpa tujuan.
"Yuta?! Kau dimana? Keluarlah kumohon! Aku juga ingin bertemu denganmu! Yuta?!"
Suara khasnya kembali menggema di segala penjuru ruangan. Manik hitamnya terus menelusuri setiap penjuru kamar tapi ia tak menemukan siapapun disana. Padahal beberapa saat yang lalu Taeyong bisa lihat sosok Yuta meskipun hanya secara samar, tapi saat ia mengerjap untuk memastikan apa penglihatannya tidak salah ia justru tak menemukan lelaki Jepang itu lagi disana.
"Hyung..."
"Nakamoto Yuta cepat keluar... Biarkan aku bertemu denganmu.. Kumohon.."
"Taeyong Hyung cukup.."
Ten tak tahu lagi harus melakukan apa saat Hyung kesayangannya ini bertindak seperti orang yang kehilangan akal. Pandangannya memicing ke arah Yuta tapi sosok itu masih menatap ke arah Taeyong sambil meremas kuat kemeja yang dikenakan olehnya. Ia bisa lihat kalau Yuta ingin bicara tapi itu akan sia-sia saja karena Taeyong tak bisa mendengar suaranya. Lelaki cantik itu tengah frustasi karena orang yang disukainya justru terus menyalahkan diri sendiri tanpa henti.
"Taeyong Hyung hentikan..."
Lalu tepat setelah itu langkah kaki Taeyong terhenti dengan cepat lalu pandangannya tertuju ke arah Ten hingga pada detik selanjutnya sebuah cengkeraman erat ia peroleh dari Taeyong. Manik hitam itu menatap nanar ke arahnya dengan bibir bergetar dan air mata yang masih menetes keluar.
"Ten..kau bisa lihat Yuta kan? Kau bisa bicara dengan Yuta kan?! Katakan padanya aku minta maaf, ini semua salahku jadi kumohon katakan padanya kalau aku minta maaf Ten! Katakan padanya kalau aku minta maaf! Ini salahku, semuanya karena aku!"
"Tidak.. Jangan bicara begitu Hyung. Ini bukan salahmu. Yuta Hyung ada disini, Yuta Hyung selalu didekatmu. Dia tidak suka kalau melihat Taeyong Hyung menangis seperti ini. Jadi jangan buat Yuta Hyung menangis, Taeyong Hyung juga jangan menyalahkan diri sendiri.. Kalau Yuta Hyung lihat ini dia akan memarahiku, Hyung harus istirahat, Hyung tidak boleh sakit.."
Tak ada respon. Cengkeraman di bahu sempit milik Taeyong langsung terlepas dan beralih menjadi sebuah pelukan erat yang ia berikan pada detik selanjutnya. Taeyong menangis, sedangkan Yuta hanya bisa diam pada posisinya sambil memperhatikan bagaimana punggung Taeyong bergetar dibalik pelukan hangat itu. Bagaimana suara isakan Taeyong terdengar sangat menyakiti dirinya.
Yuta tahu ini salahnya, kalau saja ia tak muncul dihadapan Ten maka Taeyong tak akan seperti ini. Kalau saja ia tidak muncul lagi didunia ini maka sudah dipastikan semua orang akan menjalani hidup mereka masing-masing tanpa harus mengingat dirinya lagi. Tapi takdir berkata lain dengan mempertemukan dirinya lagi dengan Ten didunia nyata. Dan ia tak bisa untuk tidak muncul dihadapan lelaki kecil itu karena ia tahu Ten adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya dalam hal ini. Tapi semuanya justru tak sesuai harapan. Ia pikir tak ada siapapun yang tahu keberadaannya disini, namun Taeyong terlanjur tahu. Jika saja ia tak muncul mungkin keadaannya tak akan seburuk ini, tapi semuanya sudah terlanjur dan penyesalan selalu muncul di akhir, bukan di awal. Dan ini resiko terbesar dalam hidupnya.
Kedua kakinya melangkah mendekat ke arah dua orang di dekatnya dengan perlahan, lalu ia menatap lurus ke arah Ten sebelum akhirnya ia mendekatkan wajahnya ke telinga lelaki kecil itu. Membisikan sebuah saran agar Taeyong berhenti melakukan semua ini.
"Hanya Jaehyun yang bisa membantu, panggil Jaehyun dan biarkan ia menenangkan Taeyong.."
Bahkan disaat seperti ini Yuta masih saja mengorbankan perasaannya demi Taeyong.
.
.
.
"Taeyong kenapa?"
Suara bass itu terdengar jelas di telinganya hingga membuat yang lebih kecil mengangkat kepalanya untuk menyamakan pandangannya dengan Johnny di hadapannya tapi ia tak merespon.
"Ten, aku bicara padamu bodoh.."
"Tidak ada..."
"Kalau tidak ada lalu kenapa kau memanggil kami kemari? Dan kenapa cuma Jaehyun yang diperbolehkan masuk?"
"Karena cuma Jaehyun yang bisa membantu Taeyong Hyung. Kau sendiri pernah bilang kalau Jaehyun menyukai Taeyong Hyung kan? Makanya aku yakin kalau Jaehyun akan melakukan yang terbaik untuk Taeyong Hyung.."
"Memang sebesar apa masalahnya?"
"Kau tidak akan paham dengan hal ini Hyung.."
Lelaki jangkung itu berdecak keras dengan sebuah dengusan pelan. Obsidian cokelatnya menatap sinis ke arah Ten yang tengah duduk dihadapannya dengan tatapan setengah kosong.
"Jadi sekarang kau main rahasia denganku?"
"Anggap saja iya, lagipula aku yakin kalau Hyung sendiri tidak akan percaya dengan semua ini."
"Kau pernah bilang kalau sesama teman tidak boleh ada rahasia apapun, sekarang apa ini? Kau merahasiakan masalah Taeyong dariku. Dasar pembohong."
Kedua matanya langsung menatap lurus ke arah Johnny didepannya lalu lelaki asal Thailand itu membenarkan posisi duduknya dengan wajah kusut.
"Kapan aku bicara begitu? Tidak pernah kan?"
"Well, aku tak bisa memberitahu karena kau tak akan paham..."
Okay, skor imbang antara Johnny dan juga Ten.
"Johnny Hyung menyebalkan!"
"Kau juga masih menyebalkan dari dulu sampai sekarang. Tidak ada perubahan sama sekali"
"Kenapa dari tadi kau bicara dari dulu terus? Dari dulu itu maksudnya kapan? Kita bahkan baru kenal sebentar. Entah pikiranmu saja yang kacau atau apa."
"Bukan aku yang kacau tapi ingatanmu yang belum kembali sampai sekarang. Kalau kau ingat semuanya maka aku yakin kau tahu persis apa maksud perkataanku barusan Ten. Jadi berhenti mengoceh seperti anak kecil."
"Aku bukan anak kecil!"
"Bagaimana dengan laki-laki pendek? Mungil? Cantik? Manis?"
"Aku bukan perempuan! Berhenti melakukan itu atau—"
"Kenapa kalian berisik sekali? Taeyong Hyung sedang istirahat, jangan ganggu dia dengan suara teriakan kalian itu Hyung."
Suara husky Jaehyun langsung mengalihkan pembicaraan dua orang yang sempat berdebat itu dengan cepat. Perhatian keduanya langsung fokus ke arah Jaehyun yang melangkah mendekat lalu mendudukan bokongnya ke atas sofa, dan helaan nafas kasar itu terdengar jelas.
"Bagaimana dengan Taeyong Hyung?"
"Dia sedang istirahat, hanya saja keadaannya sangat buruk."
"Maaf merepotkanmu, tapi aku percaya kalau kau bisa membantu Taeyong Hyung dalam hal ini. Maaf.."
"Tidak masalah, senang bisa membantu kalian. Apalagi membantu Taeyong Hyung, Ten Hyung bisa minta bantuanku kapan saja, aku akan membantu.."
"Terima kasih banyak Jae, aku percayakan Taeyong Hyung padamu."
Jaehyun kembali memberikan anggukan pelan sebagai respon, tapi pada detik selanjutnya lelaki bermarga Jung itu merubah posisinya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Ten dengan tiba-tiba.
"Boleh aku tahu siapa Yuta?"
"Heh?"
Manik hitam milik Ten langsung beralih ke arah sosok Yuta yang berdiri tak jauh dari posisinya. Pikirannya menelaah jauh sambil menatap lurus ke arah Yuta yang hanya diam sambil menatap ke arahnya dengan sebuah senyuman manis. Matanya mengerjap pelan dengan nafas tertahan, matanya masih dengan sosok yang sama, tapi Ten tak kunjung bersuara sekalipun Johnny sempat memberikan sebuah teguran kecil untuknya.
'Kalau aku beritahu... Apa Hyung akan baik-baik saja? Hyung tidak akan menghilang kan?'
Lalu yang Yuta berikan hanya sebuah gelengan pelan. Lelaki asal Osaka itu baru saja memberikan jawabannya agar Ten tak perlu khawatir, ia tidak akan menghilang hanya karena identitasnya diberitahu ke orang lain selama masalahnya masih belum selesai. Jadi Yuta akan baik-baik saja. Semoga saja.
"Aku tidak yakin apa kalian bisa mempercayai hal seperti ini, tapi... Aku berkata yang sesungguhnya, jadi jangan berpikir kalau aku berbohong. Terserah kalian mau percaya atau tidak asalkan aku bicara benar."
"So? What's the problem?"
Tak ada respon yang Ten berikan dengan segera, padahal dua orang dihadapannya sudah menunggu jawabannya, tapi Ten masih perlu memastikan.
'Yuta Hyung kemarilah... Kau harus didekatku supaya aku bisa mengawasimu. Kau tidak boleh menghilang sekarang.'
Yang sedikit lebih tinggi langsung mengangguk sambil tersenyum simpul di waktu bersamaan. Perasaannya jauh lebih baik daripada sebelumnya. Setidaknya Yuta tak perlu khawatir dengan Taeyong karena ada orang lain yang bisa menjaganya lebih baik daripada dirinya sendiri. Bahkan Yuta sendiri menganggap dirinya sebagai orang yang selalu merepotkan Taeyong sejak kecil, lalu sekarang semuanya tak ada yang berubah. Bahkan sekalipun ia sudah mati Taeyong masih direpotkan oleh masalahnya sendiri.
"Ini Yuta Hyung..."
Suasananya mendadak hening dalam satu detik begitu suara khas milik Ten dan sebelah tangan miliknya berpindah posisi ke samping kanan seakan memperkenalkan seseorang, tapi Johnny dan Jaehyun tak tahu apapun. Mereka bukan Ten yang bisa melihat Yuta, yang mereka temukan hanya Ten sendiri, tak ada siapapun disampingnya. Dua orang dihadapannya saling bertukar pandang satu sama lain lalu pada detik berikutnya mereka sama-sama menaikan pandangannya ke arah yang lebih kecil dengan isyarat yang sama.
"Ini bukan waktunya bercanda Ten.."
"Johnny Hyung aku serius. Jaehyun percayalah, aku tahu ini tak masuk akal, tapi ini kenyataannya. Yuta Hyung adalah sahabat kami, tapi dia sudah meninggal dua tahun yang lalu. Dan sekarang, aku tidak tahu bagaimana bisa.. Tapi aku melihatnya, kami bahkan bisa berkomunikasi. Ini sungguhan, percayalah. Kumohon bantu aku dalam masalah ini."
1 detik... 2 detik... 3 detik...
"Aku tidak yakin dengan ini Hyung.. Maaf, tapi aku tidak bisa membantu. Semuanya benar-benar gila dan aku tidak pernah percaya dengan adanya roh. Sekali lagi maafkan aku, aku akan cari cara lain supaya Taeyong Hyung bisa sembuh."
"Jaehyun tak ada cara lain, Taeyong Hyung hanya ingin minta maaf saja. Yuta Hyung juga hanya ingin bertemu Taeyong Hyung dan menyelesaikan masalahnya. Hanya itu.. Tolonglah"
"Kau ingin aku menyelesaikan masalahnya? Maksudmu aku harus membantu Yuta yang bahkan tidak bisa dipercayai keberadaannya? Aku pikir kau masih sakit Hyung, maaf tapi aku tidak bisa. Permisi.."
Lelaki jangkung itu lalu bangkit dengan cepat, meninggalkan Johnny dan juga Ten didalam sana dengan perasaan yang berbeda satu sama lain. Johnny mungkin sedang bingung, tapi Ten merasa kecewa. Disaat seperti ini kenapa Jaehyun tak ingin membantu? Padahal ia percaya betul dengan Jaehyun, tapi apa hanya karena Yuta tak bisa dilihat maka Jaehyun harus pergi? Bukankah ia menyukai Taeyong? Lalu kenapa Jaehyun merasa tak yakin? Hanya karena Yuta dan Taeyong saling punya keterkaitan dalam masalah ini maka Jaehyun tak mau turun tangan?
Sudah cukup, Ten lelah dengan semuanya. Kalau memang semua orang tak ada yang ingin membantu maka ia akan seleaaikan semuanya sendiri sekalipun ia tahu kalau akhirnya akan ada perpisahan antara ia, Taeyong dan juga Yuta. Siap tak siap tapi semuanya sudah di atur oleh yang diatas. Terima tak terima biarkan semuanya mengalir sesuai arus kehidupan. Ingatlah jika disetiap pertemuan akan ada perpisahan. Sekalipun rasanya akan sulit maka cukup hadapi dengan hati yang kuat. Percayalah kalau perpisahan dengan hewan peliharaan saja terkadang bisa membuat kita menangis, lalu bagaimana dengan manusia atau orang yang sudah meninggal? Semua orang juga tahu rasanya tanpa perlu diberitahu kan?
Satu helaan nafas pada akhirnya lolos begitu saja, kepergian Jaehyun meninggalkan kesan kecewa dalam diri Ten. Harapannya untuk mendapat bantuan mungkin tak seindah yang ia bayangkan sebelumnya. Kenyataan memukulnya dengan telak, dan mungkin Yuta juga jadi orang yang paling tertekan dengan keadaan. Nyatanya memang sulit percaya dengan apa yang tak bisa kita lihat. Dan itu menyakiti Yuta selaku orang yang butuh bantuan. Keberadaannya seakan memang tak akan pernah bisa dilihat apalagi dianggap oleh orang-orang disekitar.
Sama seperti dulu, saat dimana Yuta banyak berkorban tapi Taeyong tak pernah memberi perhargaan. Disaat Yuta memperoleh sesuatu yang membanggakan semua orang dipanti asuhan, Taeyong akan jadi satu-satunya orang yang bersikap acuh tak acuh. Kecuali jika Ten yang mendapat sesuatu yang membanggakan semua orang, maka Taeyong akan jadi satu-satunya orang yang paling bahagia dan membandingkannya dengan Ten.
Jangan tanya bagaimana perasaan Yuta saat itu? Semuanya sangat buruk dan sekarang ia kembali merasakannya. Saat dimana ia tak dianggap oleh orang lain disaat ia butuh orang-orang disekelilingnya. Kepalanya masih tertunduk sejak beberapa menit yang lalu. Setidaknya apa yang ia lakukan mampu menyembunyikan airmatanya sekarang dari Ten yang bisa melihatnya dan juga Johnny yang masih ada disana tapi tak bisa melihatnya.
"Maafkan aku..."
"Tidak masalah... Hyung tidak bersalah, Yuta Hyung tidak—"
Lalu kedua matanya membola dengan cepat tepat setelah Ten mengangkat pandangannya ke arah Yuta dihadapannya. Kedua kakinya refleks melangkah maju perlahan, lalu bibir bawahnya digigit pelan.
"Y-Yuta Hyung... Kau..."
"Heh?"
"Apa yang terjadi denganmu? Tubuhmu hampir tak terlihat, H-Hyung jangan menghilang sekarang, kumohon.."
Tapi Yuta sendiri tak tahu apapun, ia tak tahu apa penyebabnya dan ia juga tak tahu bagaimana cara untuk mengembalikan keadaannya.
"J-Johnny Hyung... Tolong selamatkan Yuta Hyung! Dia hampir menghilang Hyung! Kumohon bantu Yuta Hyung..."
Tubuh jangkung itu diberi guncangan keras, tapi Johnny tak bisa membantu sedikitpun. Ia bahkan tak bisa melihat Yuta lalu bagaimana mungkin ia bisa menyelamatkan Yuta?
"Hyung bantu aku, jangan biarkan Yuta Hyung menghilang.. Masalahnya bahkan belum selesai kan? Yu-Yuta Hyung tidak masalah, aku akan membantu kalau Jaehyun tak bisa membantumu. Aku akan cari solusinya agar masalahmu bisa selesai. Tapi tolong jangan menghilang sekarang, kami masih ingin kau disini Hyung.. Aku masih mau lihat Yuta Hyung. Tunggu beberapa hari lagi setelah itu kau bisa pergi asal masalahmu sudah selesai.. Yuta Hyung... Ayolah bantu Yuta Hyung! Atau Johnny Hyung juga tak mau menolong? Kau tidak mau—"
"Nayuta tolong dengarkan Ten..."
Lalu yang disebutkan namanya langsung mengangkat arah pandangnya ke arah Johnny dihadapan Ten sekarang.
"J-Johnny Hyung—"
"Aku mungkin tak bisa melihatmu.. Tapi bagaimanapun kau juga temanku kan? Kau ingat Anak tetangga dipanti asuhan? Itu aku, kau pasti ingat kan? Kau sering cerita padaku, kita juga sering main sepeda bersama kan? Kau ingat aku? Hei Nayuta.. Kau ingat aku kan?"
Yuta tak bicara, karena Johnny tak akan mendengar suaranya. Sedangkan lelaki asal Bangkok itu langsung terhenyak dalam hitungan detik. Manik hitamnya langsung mengarah ke sosok Yuta didepannya dan ia kembali terdiam. Senyuman tipis itu perlahan mulai terbentuk, sudut bibir itu lama kelamaan mulai terangkat hingga senyuman tipis itu beralih pada seulas senyuman simpul yang Yuta berikan untuk Johnny, lalu anggukan itu muncul sebagai jawabannya. Yuta tak lupa dengan semuanya, ia ingat Young yang sekarang sudah tumbuh dewasa. Ia juga ingat dengan semuanya, apa saja yang ia lakukan dengan Johnny diwaktu kecil dan terlebih lagi Johnny adalah kunci rahasianya tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Taeyong.
"Yuta Hyung..."
"Johnny mungkin ingat semuanya..."
"Huh? Johnny Hyung?"
"Kalau aku adalah pintu maka Johnny adalah kunci.."
Dan untuk yang kesekian kalinya senyuman manis itu terpatri di sudut bibirnya yang pucat itu. Lalu sedikit demi sedikit sosok Yuta mulai menghilang dari pandangannya. Tapi kali ini ia tak bersikap panik seperti sebelumnya, apa yang Yuta katakan barusan adalah teka-teki untuknya. Atau mungkin saja adalah kata kunci atas masalahnya. Dan itu artinya Yuta masih ada disini, hanya saja ia pergi sebentar seperti biasa untuk beristirahat. Karena Ten tahu persis seiring berlalunya hari maka waktunya untuk tetap didunia akan semakin berkurang.
"Ada apa? Dimana Nayuta?"
Lelaki kecil itu tak merespon dengan perkataan selain dengan sebuah tatapan sayu yang diberikan untuk Johnny. Belah bibirnya terbuka sedikit, tapi masih tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir kissable itu.
"Ten? Kau baik-baik saja?"
Sudah dipastikan kalau Ten tidak baik-baik saja untuk hari ini.
.
.
.
Pintu kamar milik Jaehyun terbuka perlahan. Suara deritan pintu yang terdengar mengalihkan perhatian lelaki bersurai blonde itu dengan cepat. Manik hitamnya mendelik cepat lalu Jaehyun kembali menghempaskan wajahnya ke atas bantal empuk di hadapannya.
"Jay, aku mau bicara.."
"Kalau Hyung mau bicara tentang si Yuta itu maka aku tidak mau dengar. Keluarlah Hyung, aku lelah..."
Jaehyun tak mendengar respon apapun, lelaki jangkung itu tahu persis kalau Johnny masih ada dikamarnya tapi ia mencoba untuk tak peduli. Ponsel kesayangannya jadi satu-satu hal untuk mengalihkan semuanya dan juga untuk menghindari Johnny yang kemungkinan besarnya akan mencoba bicara banyak hal sekalipun ia tak mau dengar.
Ranjang empuk milik Jaehyun sedikit bergoyang pelan, dan Jaehyun tahu siapa yang melakukannya. Lalu sebuah tangan mendarat di atas punggungnya, menepuk pelan dan suara bass itu akhirnya terdengar.
"Bisa kita bicara?"
"Tidak.."
"Sebentar saja..."
"Tidak."
Sosok yang lebih tinggi hanya menarik nafas, kemudian tersenyum tipis. Salah satu tangannya langsung bergerak cepat untuk merampas ponsel Jaehyun dari tangan pemiliknya sekalipun suara husky Jaehyun langsung mendominasi ruangan akibat dari tindakan Johnny barusan.
"Hyung ponselku.."
"Aku akan mengembalikan ponselmu asalkan kau mau bicara denganku Jay.."
"Aku sudah bilang tidak.."
"Baiklah, aku tahan ponselmu selama 24 jam penuh."
Perkataan Johnny barusan sukses membuat Jaehyun memutar bola matanya sambil menahan nafas. Jaehyun segera bangkit dari posisinya, lalu duduk berhadapan dengan Johnny dengan tatapan datar.
"Hyung kembalikan ponselnya, kenapa kau memaksaku? Jangan seperti anak kecil Hyung.."
"Jay sadarlah, disini kau yang bersikap seperti anak kecil. Kau merespon ucapanku seperti seorang anak kecil yang tidak dibelikan mainan. Kau sudah dewasa, kau bukan lagi anak kecil berusia 10 tahun. Jadi cobalah untuk bersikap dewasa dan dengar perkataanku. Justru karena kau sudah dewasa maka aku minta bantuanmu, tolonglah. Setidaknya tolong dengarkan sebentar, mungkin kau akan berubah pikiran."
"Atau mungkin juga tidak.. Baiklah, aku beri waktu 10 menit dari sekarang, setelah itu semuanya beres. Dan jangan lupakan ponselku."
Johnny langsung memberikan anggukan jawabannya, lalu ia menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
"Okay, mungkin kau pikir ini tidak penting Jay, tapi menurutku ini sangat penting. Jujur aku kecewa dengan sikapmu barusan. Kau membuat Ten kecewa karena cara bicaramu. Ten sudah mempercayaimu untuk mengurus kondisi Taeyong sekarang, tapi apa yang kau lakukan? Kau mematahkan semua asumsi Ten tentang dirimu. Kau mengecewakan Ten, Taeyong, dan khususnya Yuta. Bagaim—"
"Hyung sadarlah... Yuta Yuta Yuta! Yuta itu tidak ada, Ten Hyung cuma berhalusinasi. Otaknya masih rusak karena kecelakaan hari itu! Ten Hyung itu aneh! Dia bahkan menganggap sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Kau tidak sadar? Ten Hyung mungkin mengidap gangguan jiwa karena—"
"Jaga ucapanmu Jay, jangan sampai aku memukulmu karena telah bicara seenaknya. Dengar, Ten tidak bercanda. Sekonyol apapun Ten, aku yakin kalau sekarang dia sedang serius karena ia mau yang terbaik untuk Taeyong. Hanya itu dan kenapa kau malah menganggapnya gila?"
"Darimana Hyung tahu kalau Ten Hyung sedang serius? Kau bisa membaca pikirannya? Begitu?"
"Kau tidak tahu apa yang Ten lakukan saat kau pergi. Ten bahkan menangis terus, dia mengatakan banyak hal dan itu menyakitiku juga karena kau pergi begitu saja. Kau suka dengan Taeyong lalu kenapa kau tidak ingin membantu?"
"Bukannya aku tidak mau bantu, hanya saja apa yang Ten Hyung katakan benar-benar diluar nalar. Roh itu tidak ada, dia mungkin membual atau apa. Yang jelas aku tidak percaya dengan hantu, roh, atau sejenisnya. Kau bahkan tak bisa melihat apapun lalu kenapa kau percaya Hyung?!"
Hening.
Johnny terdiam dalam hitungan detik. Lelaki jangkung itu hanya dapat menahan nafasnya lalu manik cokelat itu menatap lurus ke arah Jaehyun tanpa suara.
"Namaku Nayuta, bisa kita jadi teman?"
"Ohh! Kau disini? Young-ah ayo kemari, yang lain sedang menunggu!"
"Mau main sepeda bersama? Disini pemandangannya cukup bagus, karena kau orang baru maka aku akan jadi pemandu spesial untukmu."
"Young-ah apa yang kau lakukan? Ayo kemari, Taeyong dan Ten sudah menunggu.."
Bibir bawahnya digigit dengan keras, lalu Johnny memejamkan kedua matanya erat. Bayangan tentang sosok Yuta beberapa tahun yang lalu muncul dikepalanya. Ada Yuta, Taeyong dan juga Ten, hanya saja semua orang yang pernah ditemuinya tak mengingat dirinya. Mereka hanya tahu Young yang tak lain adalah nama panggilannya diwaktu kecil, bukan Johnny yang mereka lihat sekarang.
"Di dunia ini ada banyak orang yang punya kelebihan, dan salah satunya mereka bisa melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat. Sekalipun aku tidak bisa melihat Yuta, tapi aku yakin Yuta benar-benar ada disana."
"Bagaimana bisa seperti itu? Jadi maksudnya Hyung yakin Yuta ada disana karena Ten? Begitu?"
"Tidak Jay, kau tak mengerti. Aku tahu persis bagaimana hubungan Ten dan juga Yuta. Mereka punya kedekatan yang cukup erat. Dan aku juga ada disana karena aku bisa merasakannya. Aneh memang, tapi aku tahu kalau Yuta ada disana. Aku belum cerita banyak hal padamu. Tentang orang-orang disekitarku saat aku tinggal di Korea, jadi kau tak paham situasinya. Aku percaya Yuta ada disana karena aku tahu bagaimana rasanya ada disekitar Yuta. Yuta punya suasana sendiri saat ia ada didekat kita. Karena Nayuta adalah teman dekatku selama aku di Korea. Kami bicara banyak hal, kami menghabiskan banyak waktu untuk bermain. Yuta, Taeyong, Ten. Sekalipun aku tidak bisa lihat Nayuta secara langsung, tapi aku bisa merasakan kehadian Yuta disekitar. Tak ada yang berubah, semuanya masih sama seperti dulu."
Jeda sejenak.
"Yuta itu tipikal orang yang memendam perasaan. Ia tak akan marah pada orang yang menyakitinya. Yuta itu tipikal orang yang tak mau merepotkan orang lain. Yuta juga mudah merasa kesepian kalau orang terdekatnya marah padanya. Dan percayalah Jay... Aku bukan Yuta, tapi perkataanmu tadi menyakitiku juga. Kalau aku saja sakit hati lalu bagaimana dengan Yuta? Pikirkan itu, jangan pikirkan yang lain. Aku tahu kau anak baik, sekalipun kau tak percaya pada hantu ataupun roh, bisakah kali ini kau coba untuk percaya? Setidaknya buat perasaan Yuta jadi lebih baik, mungkin Yuta akan kembali dengan perasaan tenang."
Jaehyun tak merespon, air mukanya masih sama datarnya seperti di awal pembicaraan. Lalu sedetik kemudian manik hitamnya beralih dengan cepat, dan belah bibir peach itu terbuka dengan cepat.
"Waktu habis, kembalikan ponselku."
"Baiklah, ambil ini. Dan terima kasih karena sudah mau mendengar perkataanku. Aku harap kau membantu. Bukan hanya aku, tapi aku yakin Ten, Taeyong dan terlebih lagi Yuta sangat mengharapkan bantuan darinu Jay..."
"Keluarlah Hyung, aku mau tidur."
"Okay, maaf mengganggu. Kau bisa tidur sekarang, aku pergi."
Tak ada respon. Hingga detik ini lelaki bermarga Jung itu masih tetap pada pendiriannya untuk diam. Suara pintu yang tertutup sempurna itu sukses mengalihkan perhatiannya selama beberapa detik lalu Jaehyun menarik nafas panjang sambil membalikan tubuhnya untuk telentang di atas ranjang dengan ponsel di atas dada bidangnya.
Manik cokelatnya menatap lurus ke langit-langit kamar yang kosong, sama kosongnya dengan pikiran Jaehyun sekarang. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba saja hinggap dalam dirinya. Hati kecilnya bersuara, berteriak sekencang-kencangnya untuk menyuarakan bagaimana egoisnya ia dalam hal ini. Jaehyun selalu ingin membahagiakan orang lain dengan bersikap sopan dan tidak ingin membuat orang lain kecewa dengan sikapnya, dan sekarang ia berbuat kesalahan. Ia mengecewakan Ten yang dengan sukarelanya mempercayakan Taeyong untuknya dengan berkata kasar. Sama seperti yang Johnny katakan padanya beberapa saat yang lalu.
Sejujurnya Jaehyun masih tak percaya dengan keberadaan Yuta yang bahkan tak bisa diketahui kebenarannya atau tidak. Tak ada yang bisa ia lihat, tak ada yang bisa ia rasakan, dan tak ada yang bisa ia dengar. Semuanya terkesan aneh dan Jaehyun menganggap semuanya hanya lelucon kuno yang Ten berikan untuknya.
Tapi Johnny juga berkata benar, ada banyak orang yang punya kelebihan seperti ini. Jadi bisa dibilang Jaehyun punya dua keputusan antara harus percaya atau tidak dengan sesuatu yang bahkan tak pernah ia lihat sedikitpun. Dan sekali lagi Johnny benar, perkataannya tadi memang sangat menyakitkan. Bahkan Johnny yang tipikalnya bukanlah Yuta saja bisa tersakiti, lalu bagaimana kalau Yuta memang ada disana dan jauh lebih tersakiti ketimbang Johnny? Bukankah Jaehyun sudah bersikap terlalu kejam pada semua orang?
Ya, semuanya benar. Dan Jaehyun tak bisa menyangkal semuanya. Ia akui semuanya, ia akui ia melakukan kesalahan besar pada semua orang. Tapi Jaehyun masih tak yakin. Haruskah ia membantu atau lebih memilih diam saja disaat orang yang disukainya butuh dirinya? Disaat Ten menaruh kepercayaan besar kepadanya?
"Ugh terserah... Aku tidak mau peduli."
Setidaknya biarkan Jaehyun menentukan keputusannya sendiri.
###
Yuta masih belum kembali, atau mungkin masih belum bisa ia lihat sejak kejadian siang tadi. Kamarnya sepi, biasanya Yuta akan kamarnya untuk sekedar duduk di atas tempat tidur lalu akan menyapanya dengan hangat. Bahkan kepergian Yuta selama beberapa jam saja sudah membuat Ten kesepian seperti sekarang, lalu bagaimana kalau nanti Yuta sudah pergi untuk selama-lamanya? Pasti suasananya akan jauh lebih kosong, senyum khas itu tak akan bisa ia lihat secara langsung lagi, melainkan dari bingkai foto yang masih ia simpan di dalam nakas.
Kedua kakinya melangkah keluar dari dalam kamar, lalu terhenti persis di depan pintu kamar yang tertutup rapat itu. Matanya mengerjap sebentar, lalu salah satu tangannya terangkat, jemarinya menyentuh benda yang terbuat dari kayu itu kemudian Ten menarik nafas dalam untuk berusaha bersikap tenang.
Tok Tok!
"Taeyong Hyung, aku masuk ya..."
Tak ada jawaban dari dalam sana, tapi Ten masih tetap disana sambil membuka pintu dengan cukup perlahan. Pemandangan di dalam kamar mulai terlihat dari luar, kepalanya menyembul masuk kedalam dan ia menemukan Taeyong, tengah terduduk di atas tempat tidur sambil menatap ke arahnya dengan mata membengkak.
"Hyung sudah bangun..."
"Eoh..."
"Boleh aku masuk?"
Lalu satu anggukan perlahan jadi jawaban pasti untuk Ten yang masih menyembulkan kepalanya dari balik pintu sambil tersenyum lebar. Sepasang kaki pendeknya lantas melangkah masuk dengan cepat setelah menutup pintu terlebih dahulu. Lelaki kecil itu langsung mendudukan bokongnya di samping Taeyong, lalu bibirnya mencebil dengan cepat begitu ia bertatapan langsung dengan sosok yang lebih tua darinya itu.
"Kenapa?"
"Hngggg... Coba lihat, wajahmu sangat buruk Hyung.. Kau terlalu banyak menangis, mulai hari ini berhentilah menangis ya. Kalau tidak wajahmu akan jauh lebih buruk dari hari ini."
"Menangis demi sahabat sendiri tidak apa-apa kan?"
"Tapi menangis berlebihan itu dilarang, paham?"
"Aku menangis karena aku menyesali semua perlakuanku pada Yuta."
"Hyung... Penyesalan memang selalu berada di akhir, maka dari itu.. Kalau Hyung tidak mau kejadian yang sama terulang lagi seperti sekarang, manfaatkan waktu dengan baik selagi dia masih ada."
"Dia siapa?"
"Yuta Hyung..."
Taeyong refleks terdiam dalam hitungan detik, lalu kepalanya sedikit bergerak kesamping dengan cepat lalu yang Taeyong lakukan adalah menelusuri setiap sudut ruangan tanpa bicara sedikitpun.
"Hyung cari siapa?"
"Apa Yuta... Ada disini?"
"Dia tidak ada disini Hyung, dia pergi."
"Maksudmu dia menghilang?"
"Ah tidak tidak.. Maksudku Yuta Hyung sedang pergi untuk istirahat. Dia bilang mau istirahat karena dia merasa lelah, dan sampai sekarang dia belum kembali. Tapi Taeyong Hyung jangan khawatir, Yuta Hyung masih disini."
"Kau serius?"
"Memangnya adik kesayanganmu ini pernah bohong? Tidak kan?"
Taeyong terkekeh dengan cepat, sedangkan yang lebih kecil hanya memberikan seluas senyuman simpul yang terangkat di kedua sudut bibirnya. Bagaimanapun dengan melihat Taeyong tersenyum seperti sekarang bisa membuat Ten merasa senang dengan mudah. Sangat sulit untuk melihat senyuman Taeyong selama beberapa hari belakangan karena lelaki bermata besar itu nyatanya masih terkekang dengan Yuta. Selama ini Taeyong selalu bersikap seolah-olah tak ada masalah apapun dalam dirinya, tapi sekarang Taeyong menunjukan semuanya. Taeyong yang selalu bersikap acuh pada Yuta justru jadi orang yang paling terkekang dengan kematian Yuta.
"Ten... Sampai sekarang aku masih bertanya pada diriku sendiri. Kenapa aku tidak bisa melihat Yuta? Padahal aku yang bersalah, tapi kenapa dia hanya bisa terlihat olehmu?"
"Aku tidak tahu kenapa Hyung, tapi semuanya terjadi tiba-tiba. Yuta Hyung tiba-tiba saja muncul waktu kita membereskan kotak itu. Kau ingat? Waktu itu aku tanya dimana Yuta Hyung tinggal, sebenarnya aku menanyakan itu pada Yuta Hyung, tapi Taeyong Hyung bilang dia sudah meninggal, padahal dia sedang muncul dihadapanku. Aneh, tapi semuanya terlihat nyata. Yuta Hyung sangat tampan, dia manis tapi dia lebih sering diam. Kami sering bicara, dia kadang menanyakan banyak hal yang membuatku bingung, lalu aku akan mengomelinya tapi dia akan tertawa. Menyebalkan tapi aku selalu ingin melihatnya setiap hari. Kalau saja Yuta Hyung masih hidup mungkin suasananya akan berbeda seperti sekarang. Sebenarnya Yuta Hyung tidak bersembunyi dari siapapun Hyung, tapi justru orang-orang yang menolak bertemu dengannya. Dan aku yakin kau juga tahu itu Hyung. Jadi cobalah untuk percaya dengan keberadaannya, cobalah untuk mengingat semua yang pernah kau lakukan dengannya, dan cobalah untuk menerimanya dengan tangan terbuka. Maka aku yakin sedikit demi sedikit kau bisa melihat Yuta Hyung.."
"Dan aku pikir aku sudah mencobanya dengan keras tapi dia tak muncul, aku hanya melihatnya dengan sekilas, tapi setelah itu dia menghilang."
"Berusahalah lebih keras Hyung, Yuta Hyung sangat ingin bertemu denganmu, tapi sampai sekarang tak ada yang bisa melihatnya kecuali aku. Kalau memang yang lain tidak mau membantu, aku akan berusaha sendiri supaya masalahnya bisa segera selesai."
"Terima kasih.."
"Aha! Oh ya, apa Taeyong Hyung sudah minum obatnya?"
Hanya ada gelengan pelan sebagai jawabannya, lalu yang paling kecil mendesah kasar dengan bibir mencebil.
"Dimana obatmu, biar aku ambil."
"Aku menaruhnya dilemari, ambil saja Ten."
"Okay!"
"Ah tunggu, ambil kuncinya di dalam nakas. Aku mengunci lemarinya, kalau pintu lemarinya terkunci maka barang yang ada didalam tidak bisa di ambil."
"Kalau aku adalah pintu maka Johnny adalah kunci.."
Matanya refleks membelalak dengan cepat, bibir cherry miliknya langsung membulat dengan cepat lalu Ten tersenyum lebar. Ia tahu maksud perkataan Yuta siang tadi, dan ini soalan mudah tapi kenapa ia tak bisa menebak? Apa karena pikirannya tak bisa fokus pada hal lain maka ia tak bisa paham dengan teka-teki semudah itu? Tapi yang jadi pertanyaannya sekarang adalah, kenapa Johnny adalah kunci? Apa Johnny kenal dekat dengan Yuta? Bagaimana Ten bisa tidak tahu?
"Tae-Taeyong Hyung punya nomor ponselnya Johnny Hyung?!"
"Kalau Johnny aku tidak punya, aku hanya punya kontaknya Jaehyun."
"Aahhh..Jaehyun ya?"
Entah kenapa tiba-tiba saja Ten jadi kehilangan semangatnya secara drastis. Bagaimanapun Jaehyun sudah bersikap keterlaluan dengan segala perkataannya, tapi Ten tak bisa menunggu lama. Ia perlu mengabari Johnny tentang ini agar semuanya sudah terencana dengan baik.
"Baiklah, boleh aku minta kontaknya?"
.
.
.
Ten tak yakin dengan keputusan yang akan ia ambil saat ini. Ponsel miliknya masih ada dalam genggaman tangannya, manik hitamnya tak henti menatap kesana kemari dengan pandangan gelisah. Kamarnya masih saja kosong, Yuta masih belum kembali sejak tadi, jadi wajar kalau Ten khawatir. Masalahnya masih belum terselesaikan, masih banyak hal yang ketahui tentang kehidupan yang pernah terjadi sebelumnya. Dan juga tentang Johnny, ia masih belum bisa mengambil keputusan untuk menghubungi Jaehyun atau tidak.
Pikirannya masih melayang, tak ada kepastian dan juga keputusan akhir yang akan di ambil. Semuanya masih tabu, rasa kecewanya masih sepenuhnya mendominasi, maka dari itu Ten tak mau bicara dengan Jaehyun. Namun satu-satunya akses untuk menghubungi Johnny hanya melalui Jaehyun, tapi egonya masih berkata tidak sebagai penolakan keras. Mungkin setelah ini ia akan minta kontak Johnny pada orangnya secara langsung.
Layar ponselnya menyala lalu lelaki kecil itu mulai membuat keputusan untuk menghubungi Jaehyun sekalipun ia masih sedikit marah. Ia melakukan ini hanya demi Yuta dan juga untuk bicara dengan Johnny, bukan untuk yang lain. Terserah dengan respon yang akan Jaehyun berikan nanti, nasib Yuta lebih penting. Tidak mungkin ia akan membiarkan Yuta pergi begitu saja dengan sejuta masalah yang masih penuh tanda tanya. Tombol hijau pada layar ponselnya itu langsung disentuh perlahan, suara telepon yang sedang tersambung mendominasi ruangan yang kelewat sepi itu. Dan pikirannya lagi-lagi terasa gusar. Jaehyun tak segera menjawab atau mungkin memang tak ingin menjawab. Lalu sekali lagi Ten berpikir banyak hal. Ada banyak yang muncul, mulai dari alasan kenapa Jaehyun tak kunjung mengangkat teleponnya, bagaimana Johnny bisa jadi kunci dari segala permasalahan. Yuta, dan bagaimana nasib Yuta jika tak ada yang mau membantunya.
-Halo?
Ten tak merespon, pandangannya kosong karena terlalu banyak hal yang ia pikirkan hingga ia tak sadar jika sosok bersurai blonde itu telah menjawab panggilannya.
-Halo?! Hei!
"Huh? Ohh sudah tersambung?"
-Halooooo?! Siapa ini?
"Ha-halo.. Ini Ten"
Lalu tak ada jawaban yang terdengar. Sosok Jaehyun diseberang sana langsung bungkam dengan pandangan meredup, berusaha menelan ludahnya secara paksa lalu satu helaan nafas lolos begitu saja. Ten juga sama, tak memberi jawaban lain untuk sekedar memberi teguran atau pertanyaan untuk memastikan kalau Jaehyun masih disana. Jaehyun diam karena dengan mendengar suara khas milik Ten barusan justru memutar balikan ingatannya tentang kejadian siang tadi dan juga ucapan Johnny beberapa waktu yang lalu.
Rasa bersalahnya muncul, dan Jaehyun akui ia memang berbuat kesalahan besar karena bersikap kasar. Perkataan Johnny ada benarnya, justru malah kelewat benar. Ia tak bisa memungkiri sikap egoisnya yang muncul, ia tak bisa menyambut dengan baik keinginan Ten yang secara tak langsung butuh bantuan semua orang termasuk dirinya. Seperti yang Johnny katakan, ia tahu semua perkataannya terlalu menyakitkan, maka dari itu Jaehyun ingin minta maaf atas semua yang ia lakukan siang tadi.
-Ahhh.. Ten Hyung ya?
"Iya, ini aku."
-Ten Hyung, aku mau—
"Bisakah aku bicara dengan Johnny Hyung? Ini penting.."
Tapi mungkin lelaki kecil itu masih marah dengannya, hanya kemungkinan tapi entah kenapa Jaehyun jadi sangat yakin setelah perkataannya langsung dipotong oleh Ten begitu saja. Bukankah itu artinya Ten memang tak ingin bicara padanya walaupun cuma sebentar saja.
-Ten Hyung cuma butuh Johnny Hyung ya? Baiklah, aku akan antarkan ponselku..
Jaehyun lekas beranjak tadi atas ranjang, kedua kakinya turun menyentuh lantai berlapis keramik yang dingin, lalu melangkah pergi keluar kamar. Panggilannya masih tersambung, tapi hanya ada keheningan di antara keduanya. Ada suara kasak-kusuk dari seberang sana, dan mungkin saja karena Ten sedang sibuk melakukan sesuatu atau sekedar merubah posisi.
1 detik.. 2 detik.. 3 detik..
Lalu suara itu muncul lagi.
"Jae.. Kau masih marah padaku ya?"
Dan langkah kakinya terhenti begitu cepat, dan untuk yang kesekian kalinya pandangan Jaehyun meredup, lalu menatap ke arah layar ponselnya dengan perlahan.
-Tidak.. Harusnya aku yang tanya begitu pada Hyung. Maafkan aku..
"Aku hanya berusaha menjelaskan, dan aku tahu resiko yang akan kutanggung. Tak semua orang percaya dengan kenyataan aneh seperti ini. Tapi percayalah Jae, Yuta Hyung ada disana waktu itu, dan perkataanmu terlalu menyakiti Yuta Hyung."
-Aku benar-benar minta maaf untuk soal itu. Sulit untuk percaya dengan segala hal yang tak bisa kulihat.
"Cobalah untuk percaya, kali ini saja. Bisa kau anggap keberadaan Yuta Hyung? Dia kurang suka kalau tidak di anggap sekalipun ia sudah meninggal."
-Kau tidak tahu bagaimana sulitnya ini Hyung... Aku— oh Johnny Hyung.. Ten Hyung ingin bicara padamu. Ten Hyung.. Ini Johnny Hyung..
Dan Ten yakin betul kalau ponsel milik Jaehyun sudah berpindah tangan dengan cepat. Kali ini suara bass itu yang terdengar, entah apa yang terjadi dengan Jaehyun sekarang ia tak mau ambil pusing. Ia hanya perlu bicara dengan Johnny karena Johnny adalah satu-satunya orang yang bisa dicekoki berbagai pertanyaan tentang Yuta. Sekalipun Ten tak tahu kenapa Johnny yang jadi kuncinya, tapi ia tetap minta bantuan Johnny. Seiring waktu berjalan maka ia yakin semuanya akan ia ketahui secara lambat laun, semuanya butuh proses. Ingatannya juga butuh proses untuk kembali lagi seperti semula.
-Ten? Ada masalah?
"Hyung... Aku butuh bantuanmu"
Dan salah satu penyebab kenapa sampai sekarang tak ada yang bisa melihat Yuta adalah Jaehyun. Jaehyun adalah akar masalahnya. Karena ia masih tak bisa percaya maka dari itu Yuta tak bisa terlihat. Kalau masalahnya begitu lalu bagaimana Taeyong dan Yuta bisa menyelesaikan masalah? Bagaimana Taeyong bisa memperbaiki segala masalahnya? Dan bagaimana Taeyong bisa menyerahkan semua waktunya pada hari terakhir sebelum Yuta benar-benar pergi?
.
.
.
.
"Johnny Hyung!"
Suara cempreng khasnya melengking keras di ujung jalan. Tangan kanannya terangkat keatas seraya memberi sebuah lambaian tangan pada sosok lelaki jangkung yang berada tak jauh dari posisinya. Sepasang kaki panjangnya langsung membawanya pergi dari posisi semula. Menghampiri keberadaan Ten yang hanya berjarak sekitar 50 meter dengan cara berlari untuk mencapai posisinya. Nafasnya sedikit terengah, lalu tubuh jangkungnya sedikit membungkuk sambil menumpukan berat tubuhnya pada kedua tangan yang menyangga lutut.
Ten tak banyak bicara, hanya sekedar tersenyum lebar sambil menggaruk tengkuknya karena merasa terlalu merepotkan Johnny di awal pertemuan. Tubuh kecilnya sedikit merendah untuk memastikan kalau Johnny tak terlalu kelelahan walaupun hanya sekedar berlari sekitar 50 meter dari tempat pertama dimana Johnny menginjakan kakinya.
"Hyung tak apa?"
Johnny menaikan pandangannya dengan segera, menatap manik hitam itu dengan sorot mata sedikit sayu kemudian ia tersenyum lembut.
"Young-ah.. Kau tak apa-apa?"
Dan untuk yang kesekian kalinya potongan memori itu muncul lagi. Bahkan hanya dengan melihat wajah menggemaskan milik Ten dan juga sikap polosnya, semua memorinya akan kembali dengan begitu cepat. Memenuhi pikirannya hingga Johnny sendiri seringkali melupakan beberapa hal yang sepantasnya ia ingat setiap waktu.
"Aku baik-baik saja.. Ini belum seberapa, aku bisa berlari lebih jauh dan juga lebih cepat dari yang aku lakukan sekarang. Kau belum tahu kalau aku ini punya banyak bakat terpendam. Lain kali akan ku perlihatkan padamu."
'Eh?'
"Tidak usah khawatir.. Aku ini Young, aku bisa melakukan banyak hal daripada ini. Kau tidak tahu kalau aku ini punya banyak keahlian yang belum ku tunjukan. Lihat saja nanti.."
Dan untuk kali ini semuanya seakan berbanding terbalik. Giliran Johnny yang seakan memberi isyarat pada lelaki yang lebih kecil itu. Tapi Johnny tak merencanakan apapun, ucapannya itu asli keluar secara spontan tanpa ada rencana khusus mengembalikan sepotong demi sepotong ingatan milik Ten yang belum kembali sepenuhnya.
Mata besarnya itu sempat membulat sempurna selama beberapa saat. Obsidian hitam itu hanya diam pada objek yang sama dan juga obsidian yang sama. Belah bibir cherry nya terbuka sedikit, sorot matanya yang terlampau polos itu membuat Johnny ikut terdiam, hanya saja Johnny terlalu hanyut dalam wajah polos yang terpampang langsung dihadapannya itu.
"Ten? Ada apa? Kau baik-baik saja kan? Atau kau sakit? Kita pulang saja kalau begitu, aku takut kesehatanmu tiba-tiba menurun atau—"
"Aku baik Hyung.. Tidak apa-apa, kita tidak punya banyak waktu sebelum Yuta Hyung benar-benar pergi."
.
.
.
"Johnny Hyung tahu harus pergi kemana?". Ucap Ten dengan nada bicara yang terkesan polos tapi penuh rasa keingin tahuan yang besar.
Johnny langsung memberi anggukan mantap untuk menjawab pertanyaan yang Ten berikan sambil fokus mengemudi dijalan yang terbilang cukup lancar dijam pagi seperti sekarang. Keheningan mulai menyelimuti diri masing-masing, suasananya terlalu sepi untuk Johnny yang terlalu suka kehebohan dan untuk Ten yang terkesan diam padahal terlalu hiperaktif untuk seorang lelaki berusia 21 tahun.
"Hyung~"
"Hng?"
"Bisa tolong putar musiknya?"
"Okay... Tunggu sebentar."
Johnny tak segan untuk menerima permintaan yang kelewat sederhana tapi punya pengaruh besar pada suasana disekitar mereka. Dua orang yang cukup berbeda jauh itu itu tak punya topik menarik untuk dibahas mengingat Johnny dan Ten memang tak terlalu akrab sejak beberapa bulan yang lalu. Mereka hanya sekedar dipertemukan dengan cara tersesat di Departemen Store. Sebuah pertemuan yang tak punya kesan baik tapi cukup berbekas hingga detik ini. Aneh, tapi ini kenyataan yang sangat sering terjadi.
Saling dipertemukan dengan kesan yang pasti berbeda jauh dari diri masing-masing memang terkesan konyol. Ten yang terlalu cerewet dan juga kekanakan, lalu Johnny yang sangat sulit mengalah tapi selalu mencoba untuk tetap bersikap dewasa. Kecocokan yang sangat pas tapi sayangnya mereka tak punya hubungan apapun selain teman.
Teman dimasa sekarang untuk Ten, lalu teman di masa lalu dan juga dimasa sekarang bagi Johnny.
Alunan musik mulai terdengar di dalam mobil, mendominasi suasana yang semula hening langsung dipenuhi alunan musik merdu dari car mp3 player.
"Ganti, aku tidak suka lagunya.."
Tangan kanan milik Johnny langsung terulur begitu saja, sesuai permintaan Ten barusan. Jari jemarinya dengan lihai menekan dan juga memutar beberapa tombol dengan cepat, lalu lagu milik Justin Bieber-Nothing like us terdengar. Sosok kecil itu mencoba fokus pada apa yang ia dengarkan, musiknya memang bagus dan ia suka. Tapi disaat seperti ini sepertinya kurang cocok.
"Yang lain.."
"Ganti?"
"Iya, aku kurang suka kalau lagunya diputar sekarang. Terdengar menyedihkan disaat seperti ini. Ayo ganti Hyung~"
"Okay, aku akan ganti... "
Johnny menghela nafas kasar, lalu tangan kanannya terulur lagi ke arah mp3 player. Ten memang terlalu banyak permintaan dan terlalu labil, bahkan dalam hal lagu saja ia terlalu pemilih. Agak merepotkan, terlebih lagi disituasi seperti sekarang Johnny harus membagi kedua tangannya untuk berada dalam setir dan juga sibuk dengan pemutar musik.
"Gyeoure taeeonan—"
Klik!
"Ohhh Johnny Hyung yang tadi sajaaaa! Aku mau dengar lagu yang tadi Hyungggg"
"Heh? Lagu yang sebelumnya?"
Kepalanya menoleh ke arah Ten dengan cepat, lalu Johnny memeriksa dengan sekilas. Jemarinya kembali terulur kedepan lalu mengotak atik pemutar musik untuk dapat kembali ke lagu yang diputar semula.
"Nuncheoreom kkaekkeuthan namanui dangsin"
"Lagu ini?"
"Ahaa, aku suka lagunya. Dulu waktu dipanti asuhan yang lain akan menyanyikan lagu ini kalau aku ulang tahun. Aku juga punya teman, namanya Young. Kami lahir dibulan yang sama, tapi waktu itu ulang tahun kami dirayakan bersama."
Well, kenapa Johnny baru sadar dengan lagu ini? Dua tahun lalu Ibunya sempat mengirim video yang isinya saat ibu Johnny menyanyikan lagu ini dihari ulang tahunnya. Dan juga 9 tahun lalu Johnny merayakan ulang tahun secara kecil-kecilan dipanti asuhan. Kue ulang tahun hanya sekedar membuat dengan usaha kecil dari Taeyong dan juga Yuta. Lalu mereka berdua dipertemukan dibawah pohon maple yang tertanam kokoh dibelakang panti asuhan.
.
.
.
-Flashback On
"Ayo cepat bawa bahannya kemari, Yuta-kun ayolah. Kita tak punya banyak waktu sampai Ten dan anak kota itu pulang. Berikan krimnya, biar aku yang menghiasnya."
Kacau, kira-kira itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana kacaunya dapur asrama karena ulah konyol tapi berarti yang Taeyong dan Yuta lakukan untuk menyambut ulang tahun Johnny yang ke 13 dan Ten yang ke 12 tahun.
"Tae.. Mereka datang! Sekarang apa? Nanti kita ketahuan.."
Yuta panik lalu Taeyong juga mendadak panik karena dua orang itu kembali pada waktu yang tak biasa. Semua rencananya bisa kacau kalau Ten tiba-tiba saja masuk ke dapur dan lihat semuanya.
"Bawa mereka menjauh, kemana saja asalkan jauh dari dapur. Kuenya belum siap sepenuhnya, masih kurang hiasan dan juga lilinnya."
"Tapi kau bagaimana?"
"Aku bisa minta bantuan anak lain, yang penting bawa Young dan juga Ten menjauh. Cepatlah...kita tak punya banyak waktu"
Yuta hanya memberi anggukan sebagai respon lalu berlari keluar untuk mengalihkan perhatian Johnny dan juga Ten yang baru saja kembali dari pasar dengan belanjaan yang telah dibeli dengan lengkap seperti permintaan Taeyong sebelumnya.
"Ohhh Ten! Kalian sudah pulang? Berikan belanjaannya, aku akan bawa ke Taeyong. Kalian tunggu saja disini ya.."
"Kenapa? Memang Taeyong Hyung mana?"
"Yaaa, uhmm dia ada didapur. Sedang membantu Bibi Yoon menyiapkan makan siang. Ohh iya Young, bisa bawa Ten ke taman belakang saja? Nanti kami menyusul."
"Kenapa harus kebelakang? Ada masalah?"
"Aahhh tidak ada, Ayolah Young.. Bawa saja dia ya? Nanti kita main, aku antar belanjaan ini dulu lalu aku panggil Taeyong. Sana pergilah, ayolah Young.."
"Okay, baiklah.. Ayo kita pergi. Nanti mereka menyusul, ayolah..."
Dan karena Ten anak yang penurut, lelaki kecil itu langsung memberi anggukan pelan dengan bibir mengerucut. Sepeda yang dikendarainya langsung dibawa pergi mengikuti sosok Johnny yang sudah pergi lebih dulu. Meninggalkan Yuta sendirian dengan kantung belanjaan ditangannya.
Beberapa waktu kemudian laju sepedanya terhenti persis dibawah pohon maple yang tertanam ditaman belakang panti asuhan. Johnny sudah ambil posisi dengan duduk dibagian akar pohon yang menjulur ke permukaan tanah, lalu pada detik selanjutnya giliran Ten yang ikut menyusul.
"Jadi sekarang apa? Kita duduk berdua seperti orang bodoh?"
"Kau saja yang bodoh, aku tidak mau ikut.."
"Cih.. Menyebalkan.."
"Kalau aku menyebalkan jangan minta bantuan dariku lagi. Arasseo?"
Bibirnya mengerucut dengan cepat, sorot matanya langsung berubah total jadi lebih manis dari sebelumnya.
"Young tidak boleh marah, Ten kan Cuma bercanda.."
"Aahhh tidak, aku tidak marah jadi berhenti bersikap sok imut seperti itu Ten."
"Baiklah, aku ubah ekspresi.."
"Well, aku sedikit bingung dengan nama aslimu yang terlalu panjang itu. Uhhh siapa?—"
"Chittaphon Leechaiyapornkul.."
"Nah! Itu terlalu panjang, bahkan namaku saja tidak sepanjang itu. Hanya Seo Youngho, dan kalian memanggilku Young.."
"Tapi semua orang menyebutku Ten, itu sangat pendek~"
"Tapi kedengaran aneh karena tidak sesuai dengan nama aslimu."
Matanya mengerjap dengan cepat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Johnny dengan mata membesar.
"Lalu aku harus apa?"
Okay, menurut Johnny sikap Ten ini terlalu polos atau mungkin terlalu bodoh.
"Aku kan tidak mungkin ganti namaku, nanti yang lain akan kebingungan.."
"Baiklah... Kalau aku saja yang mengganti namamu bagaimana?"
"Huh?'
"Aku akan berikan panggilan khusus untukmu. Hanya aku dan juga kau, jadi kita berdua punya panggilan khusus satu sama lain.."
"Untuk apa?"
"Kita butuh panggilan khusus untuk sepasang... Sahabat?"
Atau mungkin lebih sekedar sahabat menurut Johnny sendiri.
"Jadi apa nama khususnya? Berikan berikan~ Ayolah Young, aku mau tahu nama khususnya.."
Johnny tak menjawab, pikirannya sedang meluncur jauh untuk sekedar menimang-nimang nama seperti apa yang cocok untuk anak kecil disampingnya ini. Suara cemprengnya semakin gencar mengusik konsentrasinya, fokusnya lama-kelamaan mulai buyar seiring teriakan itu muncul, lebih keras hingga Johnny seringkali berpikir untuk memakai penutup telinga setiap kali bertemu dengan Ten.
"Young..."
"Bagaimana dengan Chilee?"
Johnny tersenyum lebar setelah memberi keputusan, sedangkan yang lebih kecil langsung mengerjap tanpa menunjukan ekspresi apapun.
"Bagaimana?"
1 detik.. 2 detik.. 3 detik..
"Kau bilang apa tadi?!"
"Chilee... Itu singkatan dari nama panjangmu, Ten. Bagaimana? Kau suka?"
"Tidak, itu terdengar seperti Chili..."
"Nah! Itu juga sesuai untukmu. Nama khusus dariku Chilee, tapi terdengar seperti Chili kan? Kau itu punya omongan pedas seperti cabai, kadang-kadang sikapmu sangat hot! Seperti—"
BUG!
"Aku tidak suka! Young menyebalkan!"
PLAKK!
"Oh ayolah, hentikan! Kau menyakiti badanku! Hentikan, ayolah.. Chilee hentikan!"
"Jangan sebut aku Chilee!"
"Kalau aku maunya Chilee bagaimana? Kau lebih menggemaskan dengan nama baru ini.. Uuhhh lucunya~"
"Young!"
BRUKKK
"..."
Dua orang disana mendadak terdiam satu sama lain tanpa suara dan tubuh yang sama-sama menegang. Sepasang manik cokelat itu menatap manik hitam di atas tubuhnya dengan mata membola. Sama halnya dengan Ten sendiri, manik hitamnya yang bisa dibilang lumayan besar itu langsung membelalak dengan cepat saat tubuh kecilnya mendarat mulus ke atas tubuh tinggi milik Johnny.
Gugup, canggung dan perasaan aneh itu mendadak muncul, bercampur menjadi satu hingga menimbulkan reaksi yang cukup kuat pada detak jantung keduanya. Sorot matanya meredup, deru nafas yang hangat itu menyentuh kulit wajahnya dengan lembut hingga rona merah itu muncul dengan cepat. Ten terlalu gugup dalam hal semacam ini sampai detak jantungnya justru terasa semakin sulit di kontrol begitu ia menyadari satu hal yang selama ini selalu ia lihat tapi tak pernah ia sadari sebelumnya.
Ia bersumpah kalau Johnny kelewat tampan menurut mata dan juga isi hatinya. Memang konyol, kenapa disaat yang terbilang agak campur aduk seperti ini ia baru sadar. Johnny terlalu tampan kalau dilihat dari jarak sedekat dan seintim ini. Usia mereka bahkan belum lebih dari 15, tapi ini hanya sekedar ketidak sengajaan. Perlakuan Ten yang sempat memukulinya beberapa saat lalu yang membawa mereka dalam situasi seperti ini.
Bagaimana punggung lebar milik Johnny menghantam tanah berlapiskan rerumputan hijau dan bagaimana tubuh mungil milik Ten jatuh ke atas dada bidang milik Johnny.
"Uhhh m-maafkan aku..."
Berusaha bangkit secara perlahan dari posisinya, setidaknya ia tak ingin terlalu lama menimpa Johnny karena ia takut Johnny tak bisa menahan berat tubuhnya. Tapi Ten pikir ia tak bisa lepas semudah itu, kedua tangan Johnny menahan pinggangnya dengan cukup kuat hingga ia tak bisa bangkit atau lepas dengan sangat mudah.
"Young.. Kenapa dipegang? Aku mau bangun, singkirkan tanganmu."
"Kenapa? Rasanya aneh? Aku heran kenapa diusia segini kau masih kelewat polos? Di Amerika saja anak 10 tahun sudah tahu banyak hal, dan kau 12 tahun tapi masih banyak bertanya."
"Tapi ini kan di Seoul, Bibi Yoon juga selalu melarang kami pulang terlalu malam atau menonton film yang belum boleh kami tonton. Taeyong Hyung dan Yuta Hyung juga masih melarangnya.."
"Kekanakan sekali, jadi kau belum tahu banyak hal yang aku tahu? Mau ku beritahu satu hal yang sering aku lihat waktu di Amerika? Orang-orang disana bahkan sering melakukannya didepan umum."
Manik hitamnya membesar, air mukanya berubah drastis dengan bibir mengerucut, lagi. Sisi imutnya kembali muncul dan sangat sulit untuk diprediksi.
"Beritahu aku.. Aku juga mau tahu apa yang dilakukan orang Amerika~"
"Kau yakin? Tapi aku sedikit gugup, jangan marah ya..."
"Kalau kau gugup aku juga jadi takut, apa itu menakutkan atau sedikit menyeramkan?"
"Ahhhh aku tidak tahu sih, aku cuma lihat dari dalam mobil saja, makanya aku masih bingung. Tapi kau sungguh ingin tahu?"
"Ahaaa, Tennie mau tahu. Beritahu aku Young~"
Johnny langsung memberi anggukan cepat sebagai jawabannya, wajahnya sempat menegang selama beberapa detik lalu ia menarik nafas panjang.
"Mendekatlah.. Akan kuberitahu."
Berbisik dengan suara yang benar-benar kecil bahkan hampir tak terdengar karena tersapu angin. Anggukan itu muncul, lalu kepalanya mulai bergerak sedikit. Memajukan wajahnya untuk sedikit mendekat sesuai perkataan yang lebih tua.
"Sekarang apa?"
Tak ada jawaban, lelaki asal Chicago itu justru mendadak membisu dengan tatapan lurusnya. Bibir bawahnya kembali digigit pelan, seperti sudah jadi kebiasaannya setiap kali rasa gugup itu hinggap dalam dirinya.
Tarik nafas lalu hembuskan. Lalu Johnny mengerjap pelan tanpa melepas objek pandangannya sedikitpun.
"Aku beritahu sekarang ya?"
"Aha.."
Lalu satu detik setelahnya seakan mengambil atensi Ten dengan cepat, sangat cepat hingga lagi-lagi manik hitam itu membola dengan cepat. Jauh lebih besar dari sebelumnya begitu bibir tebal milik lelaki tinggi dihadapannya itu mendarat sempurna pada bibir peach miliknya. Hanya sekedar ciuman singkat, hanya saja semuanya terasa sangat lembut dan juga jauh lebih halus dari kesan asli Johnny yang terkadang sering mengatainya tanpa henti. Mungkin karena Johnny hanya memberi tahu, karena sesungguhnya ia tak pernah mencium siapapun kecuali kedua orang tuanya, dan itu juga punya arti yang jauh berbeda dari kecupan singkat yang ia berikan pertama kali untuk lelaki kecil diatas tubuhnya.
Tubuh mungil itu masih membeku, padahal semuanya telah berakhir sejak 1 detik yang lalu. Bahkan ciuman mereka tak lebih dari 5 detik, sangat singkat layaknya ciuman anak-anak yang biasa kita lihat saat mereka diminta mencium ayah atau ibunya. Aneh dan juga terlalu amatir, tapi wajar di usia yang terbilang tengah masuk usia pubertas anak remaja. Tapi setidaknya Johnny berhasil mencuri ciuman pertamanya dan juga berhasil membuat kedua pipi itu bersemu hingga menjalar ke telinga.
"Chilee-ya aku menyukaimu~"
Dan itu kata-kata paling manis yang pertama kali Ten dengar seumur hidupnya.
Lalu suara langkah yang terdengar agak nyaring karena menginjak beberapa dedaunan kering yang berserakan itu mengalihkan pandangan keduanya dengan cepat, sama-sama menolehkan kepalanya ke sumber suara, lalu suara itu terdengar dari balik pohon maple.
"Ten? Young? Kalian sedang apa disitu?"
Dan mereka benar-benar berharap kalau Taeyong dan Yuta memang tak pernah melihat apapun yang baru saja terjadi dibalik pohon maple itu.
.
.
Tebece
.
.
Apaan nih? Gaje njir /lempar mercon/ Gw nepatin janji bakal up abis lebaran kan? Yeee! Utang yuyut lunas, tapi masih ada cicilan lagi di chapter depan.
Jadi pertanyaannya...
Kapan Yuta ilang? Mana gw tau, kasian mau diilangin :v jadi kasih moment Johnten dulu biar gak terlalu serius. Hehe, chapter ini gak ada yang netesin apaan gitu kan? Semoga enggak./aminn/
Jadi kesimpulannya, kemungkinan yuyut bakal end ff ini di chap depan, ini juga kepanjangan gegara ngejer ending. Maksa? Mohon maaf lahir batin (?)
Oke, buat part ending emang gw bikin malem² sembari nginep dirumah sepupu, bertiga, nyari mangga malem² buat bikin petisan -_- terus lampu kamar dimatiin so gw diem, sendirian yang belum tidur terus ngurus ff -_- kubutuh yuta di kegelapan :v bacot amat lah. Maaf kalo ini bener² ngebosenin, maaf juga kalo gak sesuai harapan. Buat next chapter ada yang mau ngasih ide buat ending? Mungkin chap depan yuta bakal diilangin dan bakal fokus ke ingatan Ten sama lovey dovey Johnten /tebar thr/
Oke leher gw pegel, silahkan baca respon dibawah ini..
Elle Riyuu: Iya kak, gw emang telat bikin warning :v huhu maafin yuyut kak :') dan tebakan kakak disini bener, Johnny sama Ten emang udah temenan dari kecil, tapi bikos Ten masih amnesia jadi gak inget semua, dia juga gak tau kalo Johnny itu si Young, jadi cuma Johnny yang inget karena nama semuanya gak ada yang berubah. Ya itulah :v
KSYJaeyong: Gak alay kok, semua orang berhak menangis sesuka hati :)
Park Rinhyun-Uchiha: Peluk balik deh :'v
ROXX h: Maaf, jangan nodai bisep johnny dengan ingusmu nak :v ulululu~ udah saling suka dari bocah, ciuman juga pas masih bocah :v Yuta bakal jadi cinta segi empat kalo gw ngikut :v Gak nyesek kan?
mtxgdvtzk: Anda tidak menyangka ceritanya akan seperti ini? Sama, ini sebenarnya diluar rencana *kok jadi formal* Nah ini mulai diflashback ya, sorry kalo gak greget, sorry bingitss :v Ntar chapter depan bakal fokus ke Johnten. Itu btw kenapa bilang "test dong" tapi waktu yuyut bales gak direspon? /ambil golok/ :v :v makasih udah nagih yaa, nih gw cicil utangnya :v
TaoRisJae: Jangan nangis kak /kasih saputangan/
Babybeew: alhamdulillah gw bisa baperin anak orang /PLAKK/ wokeh gw bakal hwaiting. :)
Sekian, terima kasih ^^ Gw tau ada siders, setidaknya hargai dikit kek :'))
Mohon maaf lahir batin...
