Once Burned (Remake)

Warn: YAOI, BoysLove, typo(s)

Pair: Hunkai

Disclaimer: Novel Once Burned by Jeaniene Frost, Cast(s) milik diri mereka sendiri.

.

.

.

All Jongin's POV

Aku berjalan menghamipiri Sehun dan meraih pergelangan tangannya. Jika aku ragu-ragu atau terlalu memikirkannya, aku mungkin akan kehilangan keberanian, dan Sehun memang benar. Aku lebih ingin hidup, meskipun itu berarti aku harus meminum darah vampir. Sehun baru beberapa hari mengenalku, tapi dia tahu itu. Jongsuk sudah tinggal bersamaku selama bertahun-tahun, tapi sepertinya Jongsuk tidak terlalu mengenalku sehingga dia tidak berani mengatakan padaku apa yang dia lakukan.

Saat mulutku menyegel pergelangan tangannya, aku memejamkan mata. Berpura-puralah ini wine. Wine yang tajam dan terasa seperti tembaga. Isapan pertama membuatku meringis, tapi aku memaksakan lidahku untuk menjilati kulit Sehun, menangkap setiap tetes darah yang keluar. Lengan Sehun terasa sekeras kayu ek, tapi kulitnya sangat halus. Saat bibirku mukai terasa panas, aku menjilati kulit Sehun untuk yang kedua kalinya, karena aku tidak bisa mencegah diriku untuk mencari tahu seperti apa rasa kulit Sehun tanpa tetasan darah di sana.

Erangan pelan terdengar dari mulut Sehun, saat dia meremas rambutku, menarik kepalaku agar menjauh dari pergelangan tangannya. Mata Sehun berwarna hijau tenang saat dia menatapku, ekspresi wajahnya terlihat menakutkan. Mulutku masih terbuka, bibirku masih basah karena merasakan kulit Sehun, tapi aku tidak mengatakan apa-apa. Aku tahu seharusnya aku meminta Sehun untuk berhenti, untuk mundur, tapi aku tidak mau Sehun menjauh dariku.

Sehun menutup jarak diantara kami, menekankan tubuhnya ke tubuhku, mengulurkan lengan yang sama dengan yang tadi kuisap. Dengan perlahan, Sehun menyusuri bibir bawahku dengan ibu jarinya, mengusap sisa kelembapan yang tertinggal disana. Kemudian Sehun memasukkan ibu jari itu ke mulutnya dan merasakannya, sementara matanya tidak pernah meninggalkan mataku.

Aku berhenti bernapas dan jantungku mulai berdetak cepat. Aku tidak bisa menahan diri untuk mengulurkan tangan dan meletakkan tanganku di dada Sehun, merasakan tubuh kokoh Sehun dibalik kemeja abu-abunya. Otot Sehun bergerak saat arus listrik mengalir ke tubuhnya, kemudian tangan Sehun melingkupi tanganku. Sehun menekannya, sedikit demi sedikit menarik telapak tanganku ke dadanya, naik ke lehernya yang halus, dan melewati rahangnya yang tajam, sampai akhirnya mencapai mulutnya. Napasku memburu, karena menyentuh Sehun dengan cara seperti ini dan karena tatapan matanya saat dia mencium telapak tanganku, lidahnya keluar untuk menggoda kulitku.

Pintu olahraga yang tiba-tiba terbuka membuatku terlonjak seperti orang yang terbakar. Sehun melepaskan cengkramannya dirambutku, tapi tetap tidak melepaskan tanganku, dan tatapan matanya bergeser ke kiri dengan sorot jengkel.

"Apa?" tanya Sehun dengan suara dingin.

Chanyeol berjalan masuk, memperhatikan tubuh kami merapat. Aku melangkah mundur, rasa malu menggantikan gairah yang sudah menguasaiku sejak aku menjilati kulit Sehun untuk yang kedua kalinya. Aku setuju memberikan waktu seminggu pada Chanyeol untuk melihat apakah kami cocok, tapi baru satu hari, dia sudah memergokiku nyaris mencium bosnya. Pelacur, tegasku pada diriku sendiri.

"Kau kedatangan tamu," ujar Chanyeol. Wajah Chanyeol tetap datar, tapi aku tetap meringis, diam-diam aku mencoba untuk menarik tanganku dari genggaman tangan Sehun.

Sehun melepaskanku dan melipat lengannya, tersenyum dengan cara yang menakutan pada Chanyeol.

"Dan mereka sangat penting sehingga kau langsung menemuiku dan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu?"

Aku mendengar kesan mengancam dibalik kata-kata selembut sutra itu, dan seketika itu juga wajahku memucat. Sehun tidak akan menyerang Chanyeol karena itu, kan? Jangan, pintaku pada Sehun dalam pikiranku, tidak menambah kata please karena aku tahu kata itu tidak manjur untuk Sehun.

"Maafkan aku, tapi yang datang adalah Luhan dan sekutunya," jelas Chanyeol, tidak merasa menyesal meskipun dia membungkuk.

Aku mulai berjalan menjauh, sekarang akal sehatku sudah kembali karena aku sudah tidak lagi terpengaruh oleh kedekatanku dengan Sehun. Apa yang kulakukan? yang pasti bikan tindakan yang cerdas.

"Jongin, berhenti," ujar Sehun.

Aku terus berjalan kearah pintu. "Kau kedatangan tamu, jadi aku pergi dari sini..."

"Berhenti."

Aku berhenti saat mendengar nada memerintah dalam suara Sehun, kemudian aku mengumpat. Aku bukan salah satu pelayan Sehun-dia tidak bisa memerintahku.

"Tidak," tegasku. "Aku berkeringat dan bersimbah darah, aku akan pergi mandi sekarang, jadi apa pun yang ingin kau katakan, itu bisa menunggu."

Chanyeol tidak lagi menampakkan ekspresi datar, tapi menatapku seolah tiba-tiba saja aku punya dua kepala. Alis Sehun terangkat dan dia membuka mulutnya, tapi sebelum dia sempat bicara, tawa membahana di lorong.

"Aku harus bertemu dengan siapapun yang berani meruntuhkan kearogananmu, Shixun," ujar sebuah suara asing dengan logat china yang kental.

Aku mengangkat alis bingung. Shixun?

"Namaku." Sehun menjawab pertanyaan di kepalaku.

"Apakah aku sudah mengatakan bahwa mereka sedang turun kesini?" guman Chanyeol, sebelum pintu ruang olahraga terbuka dan empat orang masuk ke dalamnya.

Pria yang pertama memiliki rambut cokelat pendek, yang seringaiannya membuatku menduga bahwa pria itulah yang menyapa Sehun dengan ejekan. Pria ini memiliki ketampanan yang berkesan cantik, sehingga membuatku berpikir tubuhnya yang tidak terlalu besar, ditambah dengan wig dan make up, pria itu pasti cocok menggunakan gaun.

Cemberut di wajah Sehun berganti dengan senyuman, saat tatapan pria berambut coklat itu beralih ke arahku, seolah dia bisa mendengar isi pikiranku tadi.

"Kelihatannya dia juga meruntuhkan kearogananmu, Luhan," balas Sehun.

"Kelihatannya begitu," jawab Luhan, sambil mengedipkan mata padaku. "Tapi meskipun aku sudah pernah melakukan banyak sekali penyamaran, aku membatasi diri untuk tidak memakai gaun."

Mulutku melongo. Pembaca pikiran lain?

"Kau tidak beruntung, karena hampir semua orang di kelompok ini merupakan pembaca pikiran," jelas pria putih chubby berambut coklat di samping Luhan. Dia memberiku senyum simpatik. "Mengganggu, bukan?"

"Ya," ujarku sependapat.

Di balik dua pria berambut coklat itu ada seorang pria bertubuh tinggi, dengan rambut pirang , dan seorang pria mungil dengan kulit putih dan rambut hitam legam. Jika sebagian besar dari mereka bisa membaca pikiran, maka bisa dipastikan mereka semua bukan manusia.

Chanyeol membungkuk sekali lagi, kemudian pergi dari ruang olahraga. Sehun menghampiriku dan meletakkan tangannya di bahuku.

"Jongin, ini teman sekaligus Sire angkatku, Kris, dan pasangannya, Suho," jelas Sehun, menunjukkan pria tinggi berambut pirang dan yang kecil berambut hitam. "Perkenalkan juga temanku, Xiumin." Si chubby, yang entah kenapa terlihat tidak asing untukku. "Pasangannya, Luhan..." –Sehun tersenyum dingin pada pria berambut coklat satunya, "bukan temanku."

"Kalian berdua," gumam Xiumin, menggelengkan kepala. Lalu dia mengulurkan tangannya padaku. "Senang bertemu kau, Jongin."

Aku menatap tangan itu dan berdeham. "Ah, maaf."

"Jongin memiliki kemampuan yang tidak biasa," ujar Sehun, mencairkan suasana yang canggung. "Jongin bisa mengalirkan listrik melalui sentuhan, terutama sentuhan tangan kanannya. Dia juga bisa melihat gambaran kejadian masa lalu, masa sekarang, atau masa depan melalui sentuhan."

Xiumin bersiul melalui giginya. Kris berkedip sekali sebelum menatapku dengan takjub.

"Luar biasa."

Cara mereka semua menatapku membuatku merasa seperti alat. Aku juga melompat melewati lingkaran api, SUNGGUH, terlintas dalam pikiranku sebelum aku bisa mencegahnya..

"Oh, kau benar," kata Suho dengan malu. "Kami memberimu tatapan aneh! Kasar sekali."

"Aku sudah terbiasa dengan hal itu," jawabku. Setidaknya mereka tidak memelototi bekas lukaku seterbuka sebagian besar orang yang kutemui. Kemudian aku menoleh ke Xiumin lagi. Sekarang aku tahu kenapa dia terlihat familier! Xiumin adalah orang depresi yang kulihat gambarannya saat aku menyentuh kenop pintu kamarku. Apapun yang membuat Xiumin gelisah saat itu pasti cukup kuat hingga meninggalkan jejak di sana.

"Hah?" ujar Xiumin, sambil mengerutkan kening. "Aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya."

Aku menggosok kepalaku. "Jangan tersinggung, tapi rasanya sudah cukup buruk saat hanya Sehun yang bisa menguping isi pikiran aku. Aku tidak yakin aku sanggup mengatasinya jika ada sekelompok orang melakukan hal yang sama."

Kris melangkah maju dan meletakkan tangannya di lengan Sehun. "Jongin, senang bertemu denganmu. Sehun, temanku, ikutlah denganku."

Sehun tidak bergerak. "Aku akan mengantar Jongin ke kamarnya dulu. Jongin baru saja membuat dirinya sendiri terluka."

Luhan menatap Sehun, kemudian menatapku. Luhan mengendus, dan senyuman tersungging di bibirnya.

"Tidak perlu, Shixun, kami akan dengan senang hati mengantar Jongin ke kamarnya. Jika dia menempati kamar yang sama dengan yang ditempati Baozi dulu, aku yakin dia masih mengingat dimana tempatnya." Ujar Luhan.

Sehun meradang, dan jika aku tidak tahu lebih baik, aku yakin aku mencium bau asap.

"Apa yang membuatmu berpikir kau bisa mengatakan padaku apa yang akan kau lakukan dengan tamuku di rumahku..."

"Sehun," ujar Kris, menyebut nama itu dengan kesan menegur. Aku pikir Sehun akan membalas Kris dengan amarah yang meledak, tapi Sehun justru menghela napas frustasi.

"Kau yang membawanya ke sini. Kau tahu ini pasti akan terjadi."

"Biarkan mereka mengantar Jongin," bujuk Kris dengan suara lebih halus. "Lagi pula, kau yang memintaku datang ke sini karena ada yang ingin kau tanyakan padaku, dan kau tidak mau menanyakannya di depan Luhan dan Xiumin."

"Hei, kenapa tidak didepanku? Kita, kan, teman," protes Xiumin.

"Ya, tapi kau mengatakan semua hal padanya," ujar Sehun, sambil menyentakkan kepalanya ke arah Luhan. "Tapi Suho boleh ikut."

Suho menyeringai jail pada mereka sebelum menggandeng lengan Kris. "Senang bertemu denganmu, Jongin. Aku orang Korea juga by the way."

"Benarkah? " Tanyaku, terkejut tapi masih merasa kesal karena aku juga tidak bisa mendengarkan pertanyaan Sehun. Mungkin itu tentang cara terbaik untuk menggunakan kemampuanku, jadi seharusnya aku diikutsertakan.

"Ya. Kita bisa mengobrol lagi nanti, setelah aku selesai dengan yang ini." Senyum Suho.

Mereka bertiga pergi, meninggalkan aku dengan Ken dan Barbie versi vampir—dan aku segera menyesali pemikiran itu saat mendengar Xiumin mendengus.

"Terima kasih, kurasa."

"Maaf," kataku sambil menggemeretakkan gigiku. "Itu adalah pujian, karena kalian berdua memang benar-benar, um, menawan."

Sangat sempurna, dan bukan hanya wajah mereka. Kulit mereka pucat dan mulus, tanpa ada sedikitpun kecacatan yang tampak. Hanya dengan menatap mereka membuatku merasa seolah-olah bekas luka saya memanjang dan melebar melewati leherku sampai menutupi setengah wajahku dan seluruh lenganku.

"Oh, aku juga punya bekas luka," ujar Luhan, sambil mengetuk-ngetukkan kakinya. "Luka tikaman, disini. Ada luka yang lain di perut, dan satu lagi di punggunggku..."

"Hentikan, kumohon," kataku, mengangkat tanganku.

"Sangat mengganggu saat pikiranmu bukan hanya milikmu sendiri, iya kan?" Komentar Luhan, memberiku tatapan menilai. "Dulu itu membuat Baoziku gila, sebelum dia berubah menjadi vampir, tapi..." –Luhan memelankan suaranya, "ada cara untuk membatasi orang lain mendengarkan pikiranmu, jika kau tertarik."

Mataku membelalak. Apakah aku tertarik? Aku rela memberikan semua gigiku demi mendapat sedikit privasi mental!

Luhan menyeringai. "Sudah kuduga. Begini, manusia membutuhkan tekad yang sangat kuat untuk memblokir vampir membaca pikiran mereka, dan sebagian besar orang tidak memiliki tekad sebesar itu. Tapi yang bisa kau lakukan saat kau mencurigai ada seseorang yang sedang mencuri dengan pikiranmu adalah menyanyikan sesuatu yang menyebalkan berulang kali."

"Bernyanyi?" ulangku dengan ragu ragu.

Luhan mengangguk. "Tentu saja, kau harus menyanyikannya di dalam pikiranmu, tapi ingatlah... kau harus menyanyikan lagu yang paling menyebalkan dan lakukan berulang kali, sehingga lagu itu bisa mengusik orang yang hendak menembus pikiranmu."

Xiumin memandang Luhan dengan kecurigaan terbuka. "Aku rasa aku tahu kenapa kau melakukan ini, dan itu berarti..."

"Shixun pantas mendapatkannya," sela Luhan, suaranya terdengar tajam. Kemudian Luhan tersenyum padaku. "Lakukanlah, coba untuk memblokirku."

Aku mengerti Luhan tidak membantuku kerena niat yang tulus, tapi jika itu memberiku tameng untuk bisa mencegah Sehun membaca pikiranku kapanpun dia menginginkannya... well, kalau begitu musuhnya adalah temanku. Lagu yang menyebalkan dan dinyanyikan berulang kali, ya? Aku teringat lagu tahun delapan puluhan yang sering didengarkan ibuku. Lagu itu selalu membuatku gila setiap kali ibuku mendengarkannya berulang kali.

Dalam hati aku mulai menyanyikan lagu 'Relax' dari Frankie Goes to Hollywood. Luhan mengetuk-ngetukkan dagunya.

"Aku suka caramu melakukannya, tapi cari lagu yang lebih menyebalkan."

Aku menghela napas dan mulai memikirkan lagu lain. Lagu Madonna 'Like a Virgin' sering sekali diputar, tapi liriknya trelalu cocok dengan kondisiku sendiri. Jadi aku memutuskan untuk memilih lagu 'Here I Go Again' dari Whitesnake dan mengulangi bagian chorusnya beberapa kali.

Luhan mengangguk. "Lebih baik, tapi masih belum terlalu menyebalkan. Ayolah, Jongin. Kau menginginkan ini atau tidak?"

Aku menggeram kesal sambil menatap Luhan. Kemudian inspirasi datang dan aku tersenyum. Rasakan ini!

Setelah mendengarkan beberapa baris pertama lagu yang baru, Luhan tertawa.

"Sempurna. Ulangi lagu itu setiap kali Shixun ada di dekatmu, dan dia pasti akan langsung lari tunggang-langgang.."

Xiumin menggeleng. "Kau benar-benar keterlaluan, Sayang."

Luhan hanya tersenyum. "Seperti yang tadi kubilang, Shixun pantas mendapatkannya."


Berjam-jam kemudiam aku berganti pakaian untuk makan malam dengan lebih bersemangat daripada malam sebelumnya. Sebagian karena lelah dan pegal-pegal di tubuhku sudah hilang. Bahkan memar akibat penculikan dan terjun dari jendela juga sudah lenyap. Jelas sekali darah Sehun lebih berkhasiat dari darah Jongsuk hyung, atau aku meminumnya lebih banyak dari yang Jongsuk hyung campurkan ke dalam jusku. Apapun itu, untuk pertama kalinya selama berhari-hari, aku merasa luar biasa.

Aku juga sudah tidak sabar untuk mencoba teknik pertahanan mentalku yang baru. Hal itu membuatku ingin segera bertemu dengan Sehun, meskipun aku juga menegur diriku sendiri karena melupakan akal sehatku saat bersamanya tadi. Yang membuat masalah semakin buruk, sebagian dari diriku tidak bisa berhenti bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika Chanyeol tidak datang saat itu.

Seolah kau tidak mengetahuinya, ejek suara hatiku.

Aku menghela napas. Iya, aku tahu. Tapi berhubungan dengan Sehun hanya akan membuatku patah hati. Aku pernah merasakan gairah sebelumnya-aku perjaka atau mungkin perawan, tapi bukan orang mati-dan yang kurasakan pada Sehun lebih dari itu. Aku juga ingin memecahkan cangkang Sehun, menemukan rahasianya, dan mengeksplorasi kerumitan kepribadiannya untuk mencari pria dibalik sosok pelindungan yang menakutkan. Yang paling berbahaya adalah fakta bahwa aku menginginkan semua ini setelah mengenal Sehun kurang dari seminggu. Hubungan yang didasari oleh nafsu terkesan sangat dangkal dibandingkan dengan apa yang kurasakan.

Aku sudah selesai menggunakan sweater warna biru navy yang konservatif, saat aku mendengar ketukan di pintu. Aku membukanya, ekspresi bingungku membeku saat melihat Chanyeol disana.

"Eh, hai," sapaku, tidak yakin apakah aku harus memulai percakapan dengan permintaan maaf. Sedikit pengalaman berkencan pasti bisa membantuku sekarang.

"Dengan sangat menyesal Sehun harus menginformasikan padamu bahwa dia tidak bisa makan denganmu malam ini," ujar Chanyeol, berbicara seformal saat kami pertama kali bertemu.

Kekecewaan menyapuku tapi aku berharap itu tidak terlihat diwajahku. Kemudian aku memaksakan diri untuk tersenyum.

"Apakah Luhan, Xiumin dan yang lain akan ikut makan malam bersamaku?"

"Tidak, mereka sudah pergi. Kau masih bisa makan malam di ruang makan utama, jika kau mau, atau kau bisa meminta makan malammu dibawakan kesini."

Aku tidak bisa berpura-pura tidak ada yang terjadi. "Aku benar-benar minta maaf, Chanyeol. Jika aku cerdas, aku tidak akan berada di dekat Sehun. Aku... aku tidak tahu kenapa tapi sepertinya kau tidak bisa berhenti..."

"Aku tahu," sela Chanyeol sambil tersenyum murung. "Seperti alasan yang sama seperti banyak sekali orang Walachia yang berjuang dan mati untuknya selama tiga pemerintahan yang terpisah selama dia menjadi pangeran... karena dia pun menarik bahkan sekalipun kau tahu akhirnya akan buruk."

Aku meringis. Itu peringatan yang blak-blakan. "Semoga saja aku tidak berakhir seperti mereka."

Chanyeol mengangkat bahu. "Bagaimanapun juga, kau miliknya sekarang."

Pernyataan itu membuat alisku terangkat. "Oh, sungguh? Aneh sekali, karena aku tidak ingat aku pernah menyetujuinya."

"Sehun menawarkan darahnya padamu, dan kau meminumnya. Aku bisa mencium darahnya di tubuhmu." Chanyeol menatapku seolah aku orang idiot. "Menurutmu apa artinya itu?"

"Bahwa aku membutuhkan darahnya, karena sepertinya tanpa meminum darah vampir, kemampuanku akan membunuhku," jawabku, hawa dingin menyapuku meskipun kamarku terasa hangat.

"Coba pikirkan, Jongin," lanjut Chanyeol, dengan suara dingin. "Di rumah ini ada lusinan vampir. Sehun bisa memanggil salah satu diantara kami untuk memberimu darah. Tapi dia justru memberimu darahnya. Itu membuatmu menjadi miliknya, klaimnya lebih kuat daripada dia menancapkan namanya di tubuhmu.

"Tunggu." Aku mengangkat tanganku bahkan saat aku terus menggelengkan kepalaku untuk menyangkalnya. "Selama bertahun-tahun Jongsuk hyung memberikan darahnya padaki secara diam-diam. Jika aku harus mrnjadi milik vampir, maka aku adalah miliknya!"

"Jongsuk tidak mengklaimmu. Sehun yang mengklaimmu. Tadi, dia menarik tawarannya untuk membiarkan aku mendekatimu, seolah aku belum mengetahui bahwa kau adalah miliknya sekarang." Chanyeol menatapku dengan sorot kasihan. "Dan jika kau peduli pada temanmu, jangan pernah mengatakan pada Sehun bahwa kau berpikir kau milik Jongsuk. Sehun pasti akan membunuh jongsuk."

Ini sudah keterlaluan. Aku memejamkan mata dan menarik napas panjang.

"Dimana Sehun? Aku harus bicara dengannya."

Sikap Chanyeol berubah formal lagi. "Saat ini dia tidak bisa ditemui."

Aku menggemeretakkan gigi. "Berhentilah bersikap formal padaku, dan katakan pada Sehun dia harus menemuiku sekarang."

Chanyeol mendengus. "Bukan seperti itu aturannya. Tidak ada seorang pun yang bisa memberi perintah pada Sehun. Saat dia bisa ditemui, dia akan menemuimu. Mengamuk tidak akan bisa mengubah apapun."

"Aku tidak mengamuk." Aku akan mengamuk, itu sudah pasti, tapi aku akan menyimlan amukanku untuk vampir yang mengklaimku menjadi miliknya tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu.

"Kalau begitu, kau ingin makan disini, atau di ruang makan utama?" tanya Chanyeol, kembali ke pertanyaam awalnya.

Aku terlalu marah untuk berselera makan, tapi menolak makanan hanya akan membuatku dianggap kekanak-kanakan.

"Di sini."


Sehun terus-menerus 'tidak bisa ditemui' pada keesokan pagi dan sorenya. Aku terbelah antara perasaan marah dan khawatir. Aku tidak tahu apakah Sehun memang tidak ada disini dan menolak menemuiku-Chanyeol tidak mau mengatakan apa-apa, begitu pula dengan vampir lain yang kutanya-atau Sehun memang sedang pergi ke suatu tempat. Rasanya konyol sekali mengkhawatirkan orang setua dan sekuat Sehun, tapi ada orang di luar sana yang ingin membunuhnya. Itulah awal mula aku bisa masuk ke dalam kehidupannya.

Pada malam harinya, saat seseorang datang dan mengatakan padaku bahwa Sehun masih 'tidak bisa ditemui' kesabaranku habis. Sehun mungkin tidak mau menemuiku, tapi aku tidak akan duduk dan diam di sini lebih lama lagi. Aku berganti pakaian, kemudian nyaris berlari keluar kamarku.

Aku turun ke basement tempat Ben dan teman-temannya tinggal. Aku belum sampai melewati kapel saat mendengat suara. Alu mengikuti suara itu ke dapur, dan di sana ada beberapa orang yang sedang mengobrol.

"Jongin," sapa Ben kaget, saat dia melihatku berdiri di depan pintu. "Hei, masuklah."

Aku tersenyum lebar pada Ben. "Kau ingat klub yang pernah kau sebutkan padaku? Apakah kalian akan pergi ke sana malam ini?"

Ben menghampiriku, menyusuri tangan di rambut ikalnya. "Iya, tapi aku pikir kau tidak bisa pergi kesana karena, kau tahu. Kondisimu."

"Aku memang tidak bisa berdansa," kataku sambil tertawa. "Tapi aku bisa mengeluarkan sebagian besar energi listrikku, menyimpan tangan kananku di saku, dan meminum apa pun yang mereka sediakan disana."

"Itu pasti akan berhasil," ujar Damon, mulutnya masih penuh dengan makanan.

"Ya, baiklah kalau begitu." Ben tersenyum. "Aku senang kau bisa merasa lebih baik. Omong-omong ada apa denganmu saat itu?"

Kemampuanku membunuhku dan satu-satunya obat hanyalah darah vampir.

"Kekurangan zat bezi mungkin. Tapi aku sudah baik-baik saja sekarang. Aku berjanji tidak akan berdarah atau pingsan lagi."

"Baiklah, kami akan siap sebentar lagi."

Kemudian kesadaran yang menjengkelkan menyentakku. "Tunggu. Aku tidak punya uang, dan aku tidak mau memintanya dari salah satu staff Se-vlad."

"Uang?" Ben tertawa. Begitu pula dengan yang lain. "Kau tidak membutuhkan uang," lanjut Ben. "Vlad memiliki seluruh kota disini dan kami adalah donor hidupnya. Semua gratis untuk kami, dan kau sebagai tamunya, peraturan itu juga berlaku untikmu."

Mataku membelalak. "Sehun memiliki seluruh kota disini?!"

"Begitu pula dengan daerah lain di sekitarnya. Rumania terdiri dari beberapa komuni, dan meskipun sebagian orang tidak memiliki wilayah tempatnya bernaung... Vlad memiliki cara sendiri dalam melakukan segala sesuatu, ita kan?"

Itu benar sekali, pikirku, teringat bagaimana Sehun sama sekali tidak menjelaskan implikasi dan meminum darahnya. Aku menyingkirkan pikiran itu dan tersenyum.

"Kalau begitu, aku siap pergi kapanpun kalian siap.".

.

.

TBC


A/N:

aaaaa ini harusnya di post kemarin pas umin ulang tahun :'3 tapi ah sudahlah. Gimana moment hunkainya udah belum? wkwk