Sebelum masuk di cerita abal-abal saya, saya mau berterima kasih yang sebesar-besarnya buat siapa saja yang berkenan memberi saya saran dan kritik.

Satu lagi, saya mau bilang kalau saya buat cerita emang sesuka saya sendiri, saya bener2 minta maaf kalau ada yang enggak setuju sama saya. Tapi, plis deh ya, kalau emang udah enggak suka dan enggak bisa menerima adanya cerita saya, saya mohon dengan sangat, gak perlu lah ngata-ngatain saya. Toh saya dan cerita saya ini juga enggak merugikan kalian. tinggal abaikan saja, kok repot amat sih?! Saya juga makhluk ciptaan Tuhan yang dibekali perasaan. Setiap kata-kata gaje yang kalian baca itu saya ketiknya pake tenaga loh. Saya sekali lagi tahu kalau maksud kalian kritik saya itu bagus, tapi seenggaknya kata-kata yang terkesan menyakitkan hati itu gak perlu lah dilontarkan ke saya. Kakak-kakak yang cakep dan keren—yang ahli dalam hal karang-mengarang—dan mungkin yang udah pernah dapet hadiah nobel bidang sastra, adik kakak ini bukan anak pintar yang gampang menyerap ilmu dg cepat. Jujur saja, saya ini anaknya pembangkang banget dan paling sering buat ngomel orang2 rumah sampai mereka pada bosan dan akhirnya membiarkan saya. Jadi daripada kakak2 sekalian stress sama saya dan darah tinggi gara2 saya, lebih baik abaikan saya dan semua yang menyangkut saya, termasuk cerita murahan saya ini. Mohon dipahami.

Perhatian! bahasa sesuka hati. Jadi jangan dipaksakan membaca. thanks untuk pengertiannya.

Warn of typo(s) dan ini genderswitch. DLDR* No Bash! No Bash (mohon dibaca) DLDR!

Happy reading, guys!

.

.

.

Jam dinding berbentuk lingkaran berwarna coklat dengan ukiran yang menghiasi tepinya, menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh empat menit. Sehun, laki-laki bersurai hitam itu baru saja turun dari kamarnya dan sedang duduk di meja makan seorang diri. Fikirannya tidak tentu karena begitu banyak yang mengisi otaknya. Segala macam bentuk cacian diterima dari suara yang ada di dalam lubuk hatinya. Sehun merasa begitu tidak pantas berada di dunia ini. tapi dia juga tidak berfikir untuk bunuh diri juga. Bagaimanapun dia begitu membenci dengan sikap yang selalu mendahului kehendak Tuhan.

Segelas susu berada di depannya saat ini. biasanya momen-momen sarapan akan menjadi momen yang begitu menyenangkan bagi Sehun. Akan tetapi, kali ini bahkan dia tidak berselera sedikit pun meski hanya untuk meminum susu saja

"Ishh!" Sehun meringis ketika merasakan susu yang ia buat sendiri itu rasanya lebih mirip air cucian piring daripada sekedar minuman biasa.

Sehun meletakkan kembali gelas susu itu dengan kasar dan sembarangan hingga terdengar dentingan antara meja kaca itu dengan gelas kaca miliknya. Ia melirik ke jam yang terpasang di dinding dan menghela nafas gusar. Ia kembali mengambil gelas susu di hadapannya dan kemudian menenggaknya habis tanpa berniat merasakannya.

Setelah ia habiskan susunya, Sehun segera beranjak dari rumahnya yang saat itu begitu suram dan tidak sedap dipandang. Ia masuk ke mobilnya yang terparkir tepat di depan pintunya, tidak di garasi seperti biasanya. Sehun menyandarkan sejenak punggung lelahnya di kursi mobil lalu setelah menimbang-nimbang akan berangkat kerja ataukan tidak, pada akhirnya ia memutuskan untuk menancap gasnya menuju jalanan kantor.

.

.

"Selamat pagi, Luhan."

Luhan mengangguk dan tersenyum semanis mungkin. Bulatan hitam di matanya jelas terlihat begitu kentara meskipun ia sudah memakai make up. "Apa aku tepat waktu?"

Jongdae dan Chanyeol serempak mengangguk bersama-sama. Luhan segera mengambil duduk di sofa berwarna merah marun dan Chanyeol menghampiri dirinya. Laki-laki itu duduk di sofa yang berseberangan dengan Luhan.

"Aku benar-benar tidak menyangka dengan ini." Chanyeol melihat ke bawah, tepatnya di karpet berbulu yang ia injak saat itu. Luhan tersenyum tipis. "Ini semua pasti karena ceritaku."

Jongdae yang saat itu sedang menyiapkan minuman di dapur kecil ruangan itu hanya terkekeh melihat acting Chanyeol yang benar-benar professional. Dapat dilihatnya, Chanyeol melirik ke Luhan saat wanita itu mengalihkan tatapannya. Jongdae benar-benar yakin kalau Chanyeol memang menyukai Luhan. Dan Jongdae memiliki firasat kalau Luhan lambat laun akan jatuh di pelukan Chanyeol, sama seperti Baekhyun.

"Kau tidak bersalah." Sahut Luhan. Chanyeol masih merengut meskipun dia harus menahan senyumnya. "Tanpa kau beritahu pun, hubunganku dengan Sehun juga akan berantakan pada akhirnya. Aku benar-benar telah salah menilai Sehun."

"Ini, silahkan diminum." Kata Jongdae ramah kepada Luhan. Chanyeol masih memasang wajah menyesalnya dan tatapannya tak pernah lepas dari gerak-gerik Luhan. Jongdae belum duduk dan kemudian seseorang mengetuk pintu. "Aku permisi sebentar."

Chanyeol dan Luhan mengangguk serempak dan Jongdae segera melesat ke luar ruangan, meninggalkan sementara Chanyeol dan Luhan.

"Iya, Sehun memang terlihat baik. aku juga tidak menyangka akan seperti ini." Chanyeol lagi-lagi membuat Luhan semakin sakit hati. "Kalau boleh tahu, bagaimana reaksinya saat kau meminta cerai darinya?"

"Aku tidak melihat dirinya. Pandanganku kabur karena air mata. Ugh—" Luhan terkekeh dan Chanyeol menatapnya serius. "Apa kau memandangku seperti aku ini wanita rapuh? Ya, jika itu yang kau fikirkan, kau memang benar. Aku tidak bisa dengan mudah melupakan Sehun dan semua rasa sakit yang dia berikan padaku."

"Jangan berbicara seperti itu." Katanya "Aku juga sama sepertimu. Tapi setidaknya, aku laki-laki dan kau perempuan. Pastinya sakit yang kau rasakan itu lebih sakit daripada yang kurasakan."

Luhan mengangguk dan air matanya tak dapat ditahan lagi. Chanyeol cepat-cepat menarik tisu di meja depannya lalu menyeka air mata Luhan. "Jangan menangis lagi. Apa kau tahu, air matamu itu terlalu berharga jika hanya kau gunakan untuk menagisi seseorang yang bahkan tidak mencintaimu."

Luhan mendongak menatap Chanyeol dan menautkan alisnya. Raut marah dan kecewa mendomiasi wajah cantiknya. Chanyeol tak tahan melihatnya, ia berpindah posisi dan duduk di samping Luhan, menenggelamkan wajah Luhan di dadanya sambil sesekali mengelus rambut Luhan yang tergerai lurus. "Sudahlah, jangan bersedih lagi. Aku akan selalu berada di sampingmu. Tidak ada alasan untukmu bersedih lagi."

Luhan terkejut mendengar ucapan Chanyeol yang menyatakan dirinya akan selalu ada di samping sisinya. "Apa maksudmu, Chanyeol?" Luhan menarik tubuhnya dan mengusap air matanya sendiri. Pandangan menuntut penjelasan jelas-jelas Luhan sorotkan untuk Chanyeol.

Chanyeol sempat mendapati dirinya sangat ceroboh dalam hal berkata-kata. Dia menelan ludahnya gugup dan akhirnya terlintas ide di kepalanya "Ah, itu.." Chanyeol memutar tubuhnya dan wajahnya berubah semakin sedih. sangat-sangat sedih hingga membuat Luhan menaruh perhatian penuh padanya.

"Ada apa? Apa yang terjadi?"

Chanyeol dengan hebatnya berhasil menitikkan air mata palsunya dan semakin membuat Luhan penasaran. "Ada apa, Chanyeol?"

"Luhan, Baekhyun pergi dariku." Kalimat itu dengan mudah meluncur dari mulut Chanyeol dengan ditambah aksen-aksen menangis dari laki-laki itu. Luhan terperangah dan menutup mulutnya yang melongo karena terkejut.

"Bagaimana bisa?"

"Malam itu aku bertanya padanya soal kedekatan dirinya dengan Sehun. dia tidak menjawab apa-apa dan hanya menangis. Aku tidak tega dan berhenti menanyainya. Kemudian, pagi tadi, aku sudah tidak menemukannya di mana-mana. Aku menelfonnya dan dia menjawab telefonku." Chanyeol berhenti dan menundukkan wajahnya sambil menangis. Luhan menangkup wajah Chanyeol lalu mengusap air matanya. "Dia berkata kalau dia tidak bisa hidup lagi denganku. Dia juga mengatakan kalau dia tidak lagi mencintaiku. Lalu sebelum aku mengatakan apa-apa, dia sudah menutup telefonnya. Aku mencoba menelfonnya lagi tapi nomor ponselnya sudah tidak aktif."

Chanyeol seolah-olah tak sanggup untuk berbicara lagi, ia memeluk Luhan begitu erat dan menangis di sana. Isaknya membuat Luhan sangat bersalah karena telah bertanya demikian. Ia mencoba menenangkan Chanyeol yang menangis pilu di dekapannya. "Aku minta maaf Chanyeol, aku tidak tahu kalau.."

"Tidak apa-apa." Chanyeol menarik tubuhnya dan memberikan senyum sambil menatap Luhan dalam. Ia menggenggam tangan Luhan kemudian mencium punggung tangannya. "Apa kau tahu, Lu?"

Luhan mengangkat sebelah alisnya dan Chanyeol kembali melanjutkan sambil mengelus tangan Luhan dengan lembut. Sebentar terlintas bayangan Baekhyun di benaknya, tetapi kemudian bayangan wanita itu kabur dan tergantikan oleh Luhan yang tersenyum manis menatapnya. Membayangkan Luhan menanggalkan semua pakaiannya untuk dirinya membuatnya semakin gencar mendapatkan Luhan.

"Semua yang terjadi ini bukan hanya sebuah kebetulan, bukan? Istriku meninggalkanku dan suamimu meninggalkanmu. Apa kau tidak menarik kesimpulan tentang peristiwa yang terjadi ini? perasan senasib yang kita alami berdua, mungkin ini pertanda bagi kita untuk bersama. Apa kau tidak pernah berfikir kalau Tuhan merencanakan ini semua? Mungkin aku terdengar lancang, tapi jujur aku memiliki perasaan lebih denganmu, Lu. Aku sudah memilikinya sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Selama ini aku hanya munafik karena status pernikahanku dengan Baekhyun dan sekarang, aku tidak mau munafik. Aku tidak mau membohongi perasaanku ini dengan alasan pernikahan lagi. kepergian Baekhyun, sudah kuanggap sebagai berakhirnya rumah tanggaku." Papar Chanyeol dengan setulus mungkin. Luhan atau bahkan wanita lainnya tentunya akan dengan mudah percaya pada setiap kata yang Chanyeol utarakan. Seakan-akan setiap kata memiliki makna dan pertanggung jawaban tersendiri.

Luhan masih diam terpaku, ia mencoba mencari ketidak tulusan dalam mata Chanyeol dan ia hanya akan sia-sia karena pandangan Luhan sudah kabur oleh perasaan haru yang Chanyeol berikan padanya. Kesakitan hati yang dirasanya membuatnya tidak dapat berfikir panjang dan segera menghambur di pelukan Chanyeol. ia membenamkan kepalanya di dada bidang Chanyeol, dan laki-laki itu tersenyum dengan senangnya.

'Benar-benar sangat mudah. Bersiap-siaplah untuk menjemput kehancuranmu, Sehun!'

.

.

.

"AKU INGIN BERTEMU DENGAN CHANYEOL, SEKARANG!" Bentak Sehun dengan amarah membuncah. Darahnya mendidih dan kepalanya menguap.

"Apa kau tidak mengerti, Chanyeol sedang ada urusan dan dia tidak bisa diganggu." Sahut Jongdae tidak lebih kesalnya dengan Sehun. laki-laki itu sudah menahan Sehun sekitar dua puluh menit yang lalu. Entah apa yang akan terjadi, tapi batin Jongdae mengatakan kalau sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Hei! Aku tidak mau tahu, aku ke sini bukan untuk menemuimu. Aku ingin bertemu langsung dengan Chanyeol." Geram Sehun. wajahnya benar-benar padam dan pendingin ruangan rupanya tidak berfungsi, karena Sehun maupun Jongdae benar-benar basah oleh keringat.

Tak lama, pintu ruangan tunggu terbuka dan sosok yang Sehun tunggu datang. Park Chanyeol berjalan masuk ke ruangan itu. Sehun sudah tidak dapat lagi menahan amarahnya dan segera menyerang Chanyeol. ia melayangkan kepalan tangannya dan membuat memar wajah Chanyeol. Jongdae memegangi Sehun dan mencoba melerai keduanya.

Nafas Sehun bersaut-sautan dan pandangan matanya benar-benar kalap. Chanyeol mendengus dan merasakan ngilu di gigi gerahamnya. "Hssh…" desis Chanyeol merasakan gusinya berdenyut. "Sudah Jongdae, pergilah." Chanyeol sudah berdiri dengan kedua kakinya.

Jongdae masih belum pergi dan melepaskan Sehun. Chanyeol kembali berujar "Aku pernah dengar orang yang sedang dilahap emosi takkan bisa melakukan apapun. Maka pergilah, aku bisa mengatasi dia."

Jongdae menggangguk dan melepaskan Sehun. ia berjalan menuju pintu dan kemudian berhenti ketika Chanyeol berkata "Jangan masuk ke ruanganku. Mungkin wanita di ruanganku itu masih mengenakan pakaiannya." Chanyeol menyunggingkan senyum tipisnya dan melirik Sehun sebentar. Jelas-jelas Sehun memasang wajah ingin muntah mendengar ucapan Chanyeol.

"Oh, jadi ini pekerjaan seorang CEO bank sebenarnya? Bukannya menangani urusan yang lebih penting tapi malah tidur dengan wanita lain." Cemooh Sehun. Chanyeol hanya tersenyum saja mendengar cemoohan tersebut. "Ah! Mungkin karena istrimu tidak mau lagi kau ajak tidur ya? Sampai-sampai kau tidur dengan wanita lain. Kasihan sekali kau Park Chanyeol."

Chanyeol bergeleng sambil menepuk tangannya tiga kali. Jongdae masih di ruangan itu dan Chanyeol menyahuti, "Bukan. Bukan seperti itu Sehun." ia menghampiri Jongdae dan membelakangi Sehun, "Istriku tidak seperti itu. Meskipun aku tahu kalau dia pernah berciuman di rumahku dengan orang lain, tapi dia sangat menyesal. Aku beruntung mendapatkan Baekhyun yang sangat mencintaiku. Dan aku juga beruntung karena bisa meniduri istri orang yang telah mencium istriku."

BUG!

Satu kali pukulan berhasil Sehun layangkan kembali di wajah Chanyeol. Laki-laki itu hanya mengerang sebentar dan tidak berniat untuk membalas Sehun. "Tidak apa Sehun, aku terima semua pukulanmu barusan. Karena pastinya akan sangat sakit mendengar istrinya telah ditiduri oleh laki-laki lain." Chanyeol terkekeh dan berdiri.

"Kurang ajar kau Chanyeol!" Sehun mencoba memukul lagi, tapi Chanyeol menangkis tangan Sehun.

"Sudahlah, Sehun!" Chanyeol mendorong tubuh Sehun hingga menabrak kursi di belakangnya. "Berhenti berpura-pura! Kau akan bercerai dengan Luhan, jadi biarkan Luhan memilih sesuatu yang diingankannya. Apa kau tidak pernah berfikir tentang kebahagian Luhan? Dia juga wanita yang ingin dijadikan ratu oleh suaminya. Dia manusia yang memiliki hak untuk bahagia. Apa kau mengerti?!"

Sehun memejamkan matanya dan pening di kepalanya terasa menyakitkan dirinya. Jongdae membantunya berdiri dan dengan berat hati, ia terima uluran tangan Jongdae karena saat itu penglihatannya kabur dan dia tidak ingin ambruk di depan Chanyeol karena dengan itu maka Chanyeol akan menganggap dirinya lemah. Bukankah itu yang diingankan laki-laki itu?

"Jangan bicara soal kebahagian wanita, Park Chanyeol." Sehun menunjuk wajah Chanyeol dengan telunjuknya. Ia menatap Chanyeol dengan amarah yang meledak-ledak. "Apa kau sudah membahagiakan Baekhyun? Bagaimana perasaannya saat tahu kau tidur dengan perempuan lain?! Bagaimana?!"

Chanyeol memutar bola matanya dan duduk di kursi putar tidak jauh dari posisinya. Ia juga mengulurkan tangannya dan mengisyaratkan agar Sehun ikut mengambil duduk di depannya yang hanya dipisahkan oleh meja kayu dengan jam pasir di atasnya.

"Kalau seperti itu, kenapa dia tidak memikirkan perasaanku saat dia berciuman denganmu?" Chanyeol menciptakan senyum di wajahnya dengan gaya merendahkan Sehun di depannya. Ia juga menyipitkan matanya seolah-olah berfikir sesuatu. "Jongdae, kau boleh keluar sekarang."

Laki-laki itu menurut dan segera pergi dari ruangan tunggu berukuran empat kali empat meter dengan dua pendingin ruangan sekaligus itu. Chanyeol maupun Sehun hanya diam untuk sesaat, mengatur nafas masing-masing.

"Well, aku tahu tujuanmu kesini bukan untuk membicarakan Baekhyun." Celetuk Chanyeol setelah cukup yakin jika detak jantungnya sudah berdetak normal.

"Iya, kau benar." Sehun mengangguk dengan keringat bercucuran di wajahnya. "Apa yang sudah kau katakan pada Luhan. Apa yang sebenarnya kau ceri—"

"Aku hanya menceritakan masa lalu dari kita dan Baekhyun. Itu saja." sahut Chanyeol santai meskipun Sehun jelas tidak santai sama sekali. "Tapi ya, memang aku sedikit mengubah beberapa hal. Hanya sedikit saja tapi," Chanyeol berhenti dan mengetuk-ngetuk kepalanya dengan ekspresi wajah berfikir. Ia menatap langit-langit ruangan itu dan kemudian kembali menatap Sehun. "Aku yakin efeknya begitu besar."

Chanyeol tertawa puas dalam hatinya dan hanya menyunggingkan seringai tipis di wajahnya. "Sehun," panggilnya. Laki-laki di depannya membulatkan matanya dan menatap Chanyeol begitu bengis. "Apa kau ingat bagaimana keluargaku memperlakukanku?"

Chanyeol berdiri dari duduknya dan berjalan memutari meja, lalu berhenti di belakang kursi Sehun. ia menyangga tubuhnya dengan kedua tangan memegang bahu tegang Sehun. "Aku sudah menganggap kau sebagai adikku sendiri. Kita sering bermain bersama dan melakukan hal-hal gila juga bersama. Itu sangat menyenangkan dan tak pernah kulupakan sampai sekarang. Tapi, kau lebih pintar dariku dan keluargaku terutama kakekku, dia sangat membanggakanmu."

"DASAR PEMBUNUH!" Sehun mendadak berdiri dan mendorong Chanyeol hingga laki-laki tinggi itu menatap dinding di belakangnya. "Jadi itu sebabnya kau meracuni kakekmu?!" Sehun berseru sekaligus berteriak. Chanyeol tersenyum simpul dan Sehun merasa bodoh karena selama ini menyembunyikan rahasia kematian kakek Chanyeol.

Saat itu, Sehun berumur belasan tahun dan dia, Chanyeol, dan kakeknya sedang bertamasya ke pulau Jeju. Mereka menginap di salah satu villa baru milik keluarga Park. Lalu pada malam harinya, Chanyeol dipanggil ke kamar kakeknya dan Sehun tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Kemudian, Chanyeol berteriak dan membuat kehebohan. Sehun menghampiri kamar kakeknya Chanyeol dan mendapati kakeknya Chanyeol sudah terbujur kaku. Chanyeol menangis dan Sehun hanya menatap keduanya dengan tatapan bingung. Semua keluarga tentunya sangat sedih dengan meninggalnya pemegang kendali seluruh perusahaan Park itu. Dan karena itu villa baru yang tidak memiliki CCTV, maka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Beberapa kerabat lainnya menyarankan agar Chanyeol diinterogasi, mengingat Chanyeol satu-satunya yang bersama dengan kakek saat itu. tetapi Chanyeol selalu menolak dan malah membuatnya sebagai tersangka. Diakibatkan karena tekanan tersebut, Chanyeol jatuh sakit dan stress yang berat dan hanya Sehun teman satu-satunya yang menuggunya saat itu. Bayangan kakeknya ketika meronta akibat kacang almond yang dimakan kakeknya setelah mengatakan kalau dirinya akan mewariskan separuh hartanya pada Sehun, membuat Chanyeol tidak bisa tidur tenang. Hingga pada akhirnya ia mengaku pada Sehun ia telah membunuh kakeknya sendiri. Setalah malam pengakuan Chanyeol kepada Sehun, paginya pihak kepolisian yang bekerja sama dengan pihak rumah sakit mengatakan kalau kakeknya Chanyeol keracunan senyawa sianida yang memang berbau mirip kacang almond.

Sehun sendiri tidak tahu bagaimana Chanyeol mendapatkan senyawa racun itu, dan karena Chanyeol benar-benar dalam depresi berat, sebagai sahabat yang tidak tega terhadap Chanyeol, Sehun meyembunyikan semua itu. Chanyeol juga selalu mengatakan kalau dirinya tidak sengaja memberikan kacang almond bercampur racun itu kepada kakeknya. Dia selalu membuat alasan "Aku selalu berjaga-jaga membawa kacang beracun itu, kakek dan aku adalah orang penting, aku takut kalau ada orang jahat yang ingin mencelakaiku. Dan saat itu aku lupa membedakan mana kacang yang beracun dan yang tidak. Aku benar-benar tidak sengaja."

"Well, kau memang pintar." Ujar Chanyeol sembari mencoba untuk berdiri. "Iya, aku memang yang membunuh kakek. Aku sengaja melakukan itu. kau tahu, karena saat itu kakek mengatakan kalau dirinya akan memberikan separuh kekayaannya padamu. aku cucu laki-laki satu-satunya, aku tidak mau berbagi sesuatu yang sudah seharusnya menjadi milikku dengan orang lain."

"Keparat kau Chanyeol!"

"Iya-iya-iya." Chanyeol mengangguk-angguk. "Aku memang manusia keparat. Aku kira dengan merebut Baekhyun darimu aku sudah menghancurkanmu. Tapi ternyata aku salah. Oleh sebab itu, aku merebut Luhan darimu. Setelah ini, perlahan-lahan kau akan menemui kehancuranmu, Sehun!"

Sehun meneguk ludah gusar. Chanyeol mengatakan dengan perasaan kesal yang tidak main-main. Dia dapat melihat dendam Chanyeol begitu besar di matanya. "Apa yang sebenarnya kau inginkan?!"

"Sangat simpel." Chanyeol menepuk pundak Sehun. "Berlututlah di kakiku dan akui aku sebagai yang lebih baik darimu. Lakukan itu di depan semua keluargaku dan makam kakekku."

Sehun menatap tajam ke Chanyeol.

"Ah, aku juga ingin melihat bagaimana reaksi Baekhyun dan Luhan saat itu." tambahnya.

Secepat dan semudah itu Chanyeol mengatakannya. Ia sungguh-sungguh kali ini dan Sehun belum menyahuti sama sekali hingga Chanyeol berjalan untuk meninggalkannya. "Kurasa sudah jelas. Aku akan pergi. Pikirkan itu baik-baik. perlu kau tahu kalau keinginanku tidak berlaku tanggal kadaluwarsa."

.

.

.

"Permisi, Nyonya." Sahut salah seorang pegawai bandara kepada wanita yang belum juga naik ke pesawat. "Penerbangan akan dilakukan lima belas menit lagi."

Baekhyun menatap sekeliling dengan cemas dan pandangannya menyebar ke segalah arah, mencoba mencari sosok suaminya yang belum juga datang. "Umh, benarkah?"

Pegawai bandara itu mengangguk dengan ramah.

"Baiklah, aku akan segera naik. Tapi, aku harus menelfon suamiku dulu. Tolong beri aku waktu." Jawab Baekhyun dengan sedikit memohon.

Ia menelfon Chanyeol setelah itu. ia bahkan tak ingat sudah berapa kali ia menghubungi Chanyeol dan lelaki itu tak pernah mengangkatnya. Fikiran cemas dan panik mendominasi kepalanya hingga ia tak dapat berfikir dengan benar. Ia hampir saja salah membuang tisu bekas keringatnya dengan paspor miliknya. Bayangkan kalau dia tak sadar saat itu.

"Halo."

Baekhyun menghela nafas lega ketika mendengar suara suaminya.

"Chanyeol, kau dimana? Penerbangan katamu di majukan tapi ternyata tidak. Dan sampai sekarang kau belum juga kemari. Petugas bandara memberitahuku jika penerbangan akan dilakukan lima belas menit lagi. apa kau sudah di perjalanan?" Baekhyun berdecak saking lelahnya. Dia sudah menunggu hampir empat puluh lima menit di bandara seorang diri.

"Uhm, bagaimana ya?" Chanyeol berfikir di sebarang telepon. "Kau berangkat saja dulu," dapat dipastikan Baekhyun terkejut dengan sangat. "Ternyata aku ada meeting dadakan dengan kolega asal Amerika. Ini benar-benar penting, aku akan segera menyusul kalau semua sudah beres. Tidak masalah, bukan?"

Baekhyun menghentakkan kakinya dengan kesal lalu menjawab. "Bagaimana kalau aku menunggumu saja. kita bisa berangkat bersama nanti."

"Baekhyun apa kau tidak mengerti?!" Seru Chanyeol dengan kasar. "Pergilah dulu nanti akan kususul. Kenapa kau tidak mengerti dengan maksudku?"

"Iya, baiklah."

Tak dipungkiri air mata mengaliri pipi Baekhyun saat itu juga. Seakan-akan mengiringi setiap langkahnya meninggalkan Korea. Baekhyun mencoba menahan air matanya dengan sekuat tenaga tetapi kesedihannya begitu besar dan mengalahkan segalanya. Baekhyun duduk di kursinya seorang diri sambil memerhatikan beberapa orang sibuk dengan kegiatannya sendiri. Alangkah senangnya kalau dia bisa memiliki kesibukan lain selain meratapi nasibnya dan hanya menangis.

.

.

.

"Apa semuanya baik-baik saja?"

Chanyeol mengangguk dengan ragu. Ditatapnya wanita bernama Luhan didepannya, lalu kemudian menyunggingkan senyum khasnya.

"Aku dengar kau tadi berteriak. Aku hanya ingin memastikan kalau semuanya baik." kata Luhan juga dengan senyum menghiasi wajahnya.

Chanyeol menggeleng. Dia berkata, "Lanjutkan makannya." Chanyeol menunjuk ke makanan di depan mereka. Lantas mereka kembali menyantap makanan mereka masing-masing sambil sesekali melirik satu sama lain.

"Oh iya, soal perceraianmu, Jongdae akan mengurusnya dengan baik. kau hanya akan terima beres saja."

Luhan mengangguk dan Chanyeol menambahi "Malam ini bagaimana kalau kita keluar?"

.

.

TBC—

Kayaknya saya udah menyampaikan semuanya di atas. Tapi saya tetap akan menyampaikan banyak-banyak terima kasih untuk semuanya.

Nah, ini summary udah sesuai, belum? saya harap chap ini mengembalikan ke summary awal. Tapi kalau belum ya, semuanya butuh tahap dan proses. Oke? maaf deh ya.. dan untuk yang belum jelas, saya minta maaf. saya akan segera perbaiki di chap depan. suwer. piece.

Tapi BeTeWe, thanks buat yang udah mengingatkan. kalian the best. Love you all.. cupcupcup. Review?