Love Is Complicated
Pairing: SasuSaku (kayaknya disini bakal jarang yaah..), SasoSaku
Genre: Romance – Friendship
Naruto © Masashi Kishimoto
L.I.C © DuWeldenvarden
Chapter 10
As usually.. Balasan Review.. (._.)b
Ajisa Rie : Iya nih.. UAS 2 minggu.. -" dan akhirnya freedom juga dari siksaan batin UAS. menggurui juga gak apa-apa.. Welden sangat membutuhkan guru seperti Rie.. (^^)v apalagi gurunya lagi gratis.. (-") hehehe… Hiks.. Welden emang rada ga bisa kalo soal EYD, apalagi kalo di sekolah..
Nadia Lovely : Diseleseinnya di chap depan atau dua chap ke depan.. '
Sasa Kaguya : Hidup SasuSaku! #tereak pake semangat '45
Akasuna no ei-chan : Yes, Sasori emang calon kakak yang baik.. wkwkwk.. Sasori memang orang terniat di fic ini kayaknya yah..
Gita Zahra : Konfliknya bakal dijelaskan di chap akhir.. sabar yaaa.. ^^
Silahkan menikmati!
Sasuke baru saja keluar dari sebuah warnet. Ia mengadah ke atas. Angin laut menerpa wajah putihnya dan sinar matahari menyilaukannya. Ia menghela nafas panjang, hanya menikmati angin dan sesekali menoleh ke belakang, melihat Naruto yang masih ada di dalam warnet.
"Oi.. Teme.. Kau yakin hanya kita yang menyusul ke sana?"
Sasuke mengangkat bahu sambil menatap Naruto dengan serius, "Aku tidak punya pilihan. Sebenarnya ada, tapi tidak kuanggap pilihan. Mereka ikut namun rentan diserang atau mereka tidak ikut dan memudahkan kita.. itu saja."
"Aku mengerti…" kata Naruto, "Apa yang dikatakan Sakura-chan di telepon?"
"Hanya untuk tidak melaporkan Sasori dan meminta Nadya menyuruh kepolisian mengirim server mengenai data Itachi. Itu saja.." jawab Sasuke, "Dia terlihat terburu-buru. Seharusnya dia masih bisa memberitahukanku lebih banyak mengenai ini.."
"Mungkin dia memberitahu yang sekarang harus kauketahui saja.." kata Naruto, "Lagipula, dia yakin walau yang dikatakannya hanya pergi ke Singapura pun, kau akan tetap pergi, 'kan?"
"Memang seharusnya begitu, 'kan? Andaikan Hinata yang sekarang di posisinya sekarang, tanpa dia meneleponmu, kau sudah lari keliling dunia mencarinya. Apa aku salah?"
Naruto menggeleng, "Kau samasekali tidak salah… aku memang akan melakukannya.. tapi tidak keliling dunia seperti yang kaukatakan tadi.." Naruto menunjuk kepalanya, "Aku akan memakai otakku seperti aku menggunakannya sekarang untuk mencari Sakura-chan.." Ia tersenyum bangga karena analisisnya yang membuahkan hasil, walau tidak seberapa.
"Oh ya… Sejak kapan kau bersama gadis itu?" tanya Sasuke.
"Ohhh, itu… sejak.. sejak hari ulang tahun KIS." jawab Naruto dengan nada lesu, "Dia baru kembali dari Belanda dan menempel begitu saja denganku. Aku tidak bisa apa-apa, entah kenapa, kemudian melukai hati Sakura dan akhirnya beginilah. Aku menjalin hubungan dengan Hinata."
"Kau menyukainya… makanya tidak bisa berbuat apa-apa.." kata Sasuke.
"Kesimpulan yang bagus.. terima kasih.. Sakura juga mengatakan hal yang sama." Naruto mendengus kesal, "Lalu, sebagai adik.. seharusnya kau tahu kenapa dia harus lari ke Singapura. Seharusnya lebih jauh atau.. lebih baik tidak perlu sampai ke luar negeri. Jepang masih terlalu luas.."
"Entahlah.. aku tidak pernah mengurusinya lagi.. aku tidak peduli." jawab Sasuke, "Tapi aku memang penasaran mengenai itu.."
Naruto mendengus lagi, "Tapi sebenarnya itu bukan sesuatu yang mesti dicari tahu. Yang mesti diprioritaskan, hanya Sakura seorang.. Apa dia baik-baik saja, atau bahkan sedang dalam bahayakah?"
"Dia bersama Sasori sekarang. Dia pasti baik-baik saja.." kata Sasuke dengan nada bicara sedikit ketus, "Lagipula mungkin sebenarnya juga dia tidak membutuhkanku. Sudah ada Sasori disisinya."
Naruto terperangah menatap Sasuke, sahabatnya yang tadi berbicara ketus selama berabad-abad tidak pernah mengeluarkan kalimat seketus itu, kemudian berusaha menahan tawa, "Ah.. akhirnya penantianku selama belasan tahun, eh, jutaan tahun ini tidak sia-sia."
Sasuke menatap Naruto heran, "Apa maksudmu?"
"You know.. selama belasan tahun kita bersahabat aku belum pernah melihatmu cemburu, dan akhirnya aku melihatnyaa! Well, ini perkembangan yang bagus, bukan?" Naruto terkekeh.
Sasuke terhenyak, "Bodoh! Aku tidak cemburu!"
"Hanya jealous.." Naruto menambahkan sambil tertawa kecil.
Dan obrolan itu berakhir dengan sangat indah saudara-saudara, betapa indahnya persahabatan mereka berdua. Sasuke yang cool berjalan berdampingan dengan Naruto yang… babak belur.
Haneda Airport masih sama seperti dalam bayangan Sakura. Sesak oleh orang-orang dari berbagai daerah. Sakura memperhatikan mereka semua. Berjalan dengan membawa berbagai jenis tas, mulai dari tas selempang sampai se-trolley koper dan tas. Beragam orang. Mulai dari yang ingin berwisata sampai yang kelihatannya sangat sibuk berkarier.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasori pada Sakura yang terpaku.
"Hah? Ti..tidak.. tidak apa-apa. Hanya, sudah lama sekali aku tidak berpergian lewat Haneda." jawab Sakura.
"Sasuke akan menyusul?" Sasori kembali bertanya.
"Mungkin.. aku tidak tahu." jawab Sakura, "Boleh aku meneleponnya lagi?"
"Jangan sampai pulsanya habis.." kata Sasori sambil menyerahkan ponselnya, "Kau tunggu disini saja.. aku akan mengurus semuanya.. kecuali nanti di Security Check Point 2, Aku akan memanggilmu nanti."
"Ya.." jawab Sakura, kemudian segera menekan nomor Sasuke.
Ponsel Sasuke bergetar kemudian berdering. Sasuke segera menyambar ponselnya dengan kecepatan secepat cahaya di meja kamarnya dan kemudian menatap layar smartphone-nya. Raut wajahnya berubah, dengan senyum yang sedikit demi sedikit mulai terbentuk dan kemudian segera lari ke ruang keluarga.
"Sakura menelepon lagi.."
Semua orang berkumpul jadi satu. Sasuke mengangkat telepon itu dan kemudian me-loudspeaker.
"Halo.. Sasuke.. aku.. sudah sampai di bandara. Ketika di pesawat nanti aku tidak bisa meneleponmu, atau mungkin di Singapura pun aku tidak bisa meneleponmu. Aku akan berusaha mengirim e-mail dari ponsel Sasori. Apa kau akan pergi menyusulku?"
"Tentu saja, Sakura.." jawab Sasuke, "Dan bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja.. sedikit bernostalgia mungkin di Haneda. Maaf telepon tadi langsung kuputus, karena sudah sampai di bandara dan ada pemeriksaan. Apa Nadya-san sudah meminta kepolisian untuk…"
" –Sudah.. Aku sudah memintanya dan mereka, untungnya, mau mengabulkan permintaanku dan segera mengirimkannya.." jawab Nadya.
"Oh.. Nadya-san.. maaf aku mengkhawatirkanmu.."
"Kau mengkhawatirkan semua orang, bodoh!" Omel Naruto.
"Haha.. maaf deh kalau begitu. Aku harus menyelesaikan skandal ini. Aku tidak bisa diam begitu saja melihatnya berkeliaran setelah apa yang dia lakukan. Aku tidak akan memaafkannya." Sakura terdiam sejenak di seberang sana, "Maaf, Sasuke.."
Sasuke bingung sebentar, kemudian mengangguk mengerti, "Kau tidak perlu minta maaf. Dia pantas mendapatkannya."
"Tapi dia tetap keluargamu.." Sakura terdiam lagi, "Apa Hinata dan Tenten ikut? Rasanya aku benar-benar sendirian tanpa ocehan mereka."
"Maaf Sakura tapi Sasuke tidak memperbolehkan kami ikut.." Kata Hinata dan Tenten, kemudian Tenten tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Sasuke yang mendengus kesal.
"Hahaha… tapi memang seharusnya kalian tidak ikut.. sayang sekali.." –Kini giliran Sasuke yang tersenyum penuh kemenangan– ,"Aku takut terjadi sesuatu pada kau, Hinata dan Tenten, dan jika semakin banyak orang yang ikut maka…"
" –kami semakin rentan diserang, atau salah satu dari kami disandera." Naruto menambahkan.
"Benar katamu, Naruto. Kita tidak tahu Itachi hanya sendiri atau bahkan berkelompok. Kita hanya bisa menyiapkan diri untuk menghadapi setiap kemungkinannya. Apa Nadya-san ikut juga?"
"Aku mungkin akan menyusul bersama beberapa polisi kepercayaan ANGEL.." Kata Nadya. Beberapa hari setelah Naruto dan Sasuke pergi menyusulmu."
"Baiklah.. dan seperti yang kukatakan tadi.. persiapkan diri untuk segala kemungkinan."
"Kau benar.. Aku dan Sasuke akan segera menyusulmu.. Dimana kami bisa menemuimu?" tanya Naruto.
"Aku tidak tahu pasti dimana kami akan menginap.. Sasori yang akan menentukannya. Biar aku beritahu lewat e-mail nanti.. Oh, maaf, aku harus melewati Security Check Point 2 untuk segera masuk pesawat. Sampai nanti." Klik! Telepon diputus.
"Security Check Point 2?" Naruto menaikkan alis.
"Di bandara biasanya orang yang akan naik pesawat di cek dua kali. Pertama saat masuk ke dalam bandara, kedua saat akan naik ke dalam pesawat." Nadya menjelaskan, "Setelah itu koper mereka akan dibawa ke kabin dan mereka naik pesawat setelah diperiksa dengan x-ray dan detector logam."
"Oooh.. begitu.." Naruto mengangguk-angguk seperti orang tolol tanda mengerti.
"Aku masih harus berkemas.." Kata Sasuke, "Kau sudah selesai?"
Naruto menggeleng cepat, "Berkemas saja belum!"
Sakura mengembalikan ponsel Sasori ketika Sasori menghampirinya, tanda mereka sudah siap untuk security check point 2 dan kemudian berangkat ke Singapura. Sasori mematikan ponselnya kemudian menaruhnya ke saku celana.
"Ayo.." Sasori menggenggam tangan Sakura. Ingin sekali Sakura menampiknya, namun entah kenapa tangan itu benar-benar menghangatkan hatinya yang kalut.
"Sasuke bilang apa?" tanya Sasori.
"Dia bilang akan berangkat besok pagi dengan Naruto." jawab Sakura.
"Hanya berdua?"
"Mereka bilang mengajak banyak orang berarti mengambil resiko." jawab Sakura, "Tapi kelihatannya Nadya-san akan ikut bersama beberapa polisi, menyusul juga nanti, mungkin berselang satu sampai dua hari dengan Naruto dan Sasuke."
Sasori mengangkat alis tak mengerti, namun akhirnya ia mengangguk mengerti, "Bantuan memang dibutuhkan… mempersiapkan segala kemungkinan.."
"Bagaimana kalau Itachi membawa teman atau apapun? Dia bisa dengan mudah membunuh kita!" seru Sakura.
"Kau ini terlalu khawatir sekali.." omel Sasori, kemudian ia menghela nafas, "Aku tidak peduli bagaimana, asal kau selamat dan dia tertangkap, atau mati.."
Sakura menatapnya dalam-dalam, "Kau begitu mencintai Rukari-neechan ya?"
Sasori menoleh ke arah Sakura dengan tatapan 'kenapa kau menanyakan?' tapi tetap dia jawab, "Tentu saja. Kalau aku hanya sekedar suka, aku tidak akan mau melakukan perjalanan konyol ini hanya untuk Itachi brengsek seorang. Aku melakukannya demi dirinya dan dirimu.."
"Sejak kapan kalian berpacaran? Kenapa dihitung 10 tahun? Kalau umurmu sekarang dikurangi sepuluh tahun maka, kalian masih SD!" Sakura berdiri sedikit menjauh.
"Aku dan kakakmu itu teman masa kecil.. waktu itu sepertinya memang tidak perlu dihitung, karena kami belum tahu apa-apa, hanya sekedar hubungan dan tidak istimewa sama sekali, kami tetap berteman seperti biasa saat itu dan tidak ada peristiwa romantic atau kenangan terlalu indah. Tapi aku tetap memasukkannya dalam hitungan. Yah, terserah padamu mau menganggap saat-saat itu atau tidak." jawab Sasori.
"Aku tidak pernah mengingat pernah 'mengganggu' kencan kalian.." kata Sakura, "Bahkan aku belum mengenalmu waktu itu.."
"Kau yang pelupa… sama saja seperti Rukari yang hampir kehilangan tasnya di cafeteria.. bahkan masih berkeras kepala bahwa ia sama sekali tidak meninggalkannya." Sasori tertawa kecil. Sakura hanya bisa menggembungkan pipi kanannya sambil memalingkan wajah.
"Penerbangan masih 10 menit lagi, kau yakin tidak mau membeli makanan?" tanya Sasori.
Sakura menggeleng lembut, "Aku tidak lapar, dan tidak berminat makan di pesawat nanti." Sakura terdiam sebentar sementara Sasori melahap sebungkus kue ceri hangat yang tadi dibelinya, "Mengapa Itachi begitu berbahaya?" tanya Sakura.
"Karena pertanyaan itu kita pergi untuk mencari tahu dari narasumbernya, 'kan.." Sasori bangkit berdiri sambil meremas bungkusan kertas kue tadi menjadi bola kertas seukuran genggaman tangannya, kemudian membuangnya di tempat sampah. Ia berbalik kembali ke tempat duduk, namun terpaku akan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Sakura.
Sasori menarik tangan Sakura, kemudian memojokkannya di dinding belakangnya yang menghalangi mereka dari perhatian orang-orang yang sedang menunggu ataupun yang ada di luar sana.
"Sa.. Sasori, apa yang kaulakukan?!" bisik Sakura, sedikit panik, melihat wajah Sasori begitu dekat dengan wajahnya.
"Sstt! Tenanglah sedikit!" seru Sasori sambil menutup mulut Sakura, "Kalau kau tenang sampai waktunya naik pesawat, kita akan selamat!"
Sakura melepaskan tangan Sasori dengan paksa, kemudian menatap wajah Sasori lekat-lekat, "Bodoh! Selamat dari apa?! Aku sama sekali tidak mengerti!"
"Itachi sepertinya mengetahui rencana kita.. Dua… bukan, lebih dari dua orang bermuka garang mencari seseorang di area tunggu take-off ini. It could be us!" bisik Sasori, "jadi diamlah sebentar!"
"Tapi tidak perlu seperti ini juga! Orang-orang akan melihat kita!" Sakura berbisik dengan suara yang lebih keras.
Sasori mencoba memperhatikan dua orang mencurigakan itu. Mereka sekarang sepertinya sudah mulai menyerah dan pergi namun tas dan koper tanpa pemilik akan sangat menarik perhatian dan amat mencurigakan. Mereka pasti akan segera masuk, kalaupun itu boleh, belum lagi Sakura yang berisik. Dipojokkan ke dinding yang membantu mereka untuk tidak terlihat tapi tetap meronta dan tidak bisa diam seperti itu akan membuat mereka tetap terlihat. Sasori harus memutar otak untuk membuat Sakura diam tenang. Lima menit saja.
"Mereka tidak akan berani masuk! Disini cuma untuk orang-orang yang akan naik pesawat, 'kan?! Mana mungkin security memperbolehkan mereka masuk!" kata Sakura.
"Mereka bisa melakukan apa saja hanya dengan sebuah lembaran.." bisik Sasori, "Kau ini terlalu berisik! Diamlah sebentar… kita bisa ketahuan!"
"Lembaran? Apa maksudmu?!"
"Apa lagi kalau bukan menyogok, bodoh!"
"Kalau begitu security yang lain juga akan menegur mereka!"
Sakura merasakan tangan Sasori yang sedari tadi menggenggam tangannya, semakin menegang. Ia bisa merasakan pembuluh darah Sasori yang bergejolak, entah kenapa. Marahkah? Atau bahkan tegang karena takut ketahuan? Sakura memejamkan matanya sambil menahan sakit di tangannya karena genggaman Sasori, namum sakit itu tiba-tiba hilang, digantikan oleh kejutan di jantungnya yang begitu mendadak.
Sebuah ciuman mendarat dengan sempurna di bibir mungilnya.
Tidak mungkin.. dia...
Sasuke memasukkan koper dan tas miliknya dan Naruto ke dalam mobilnya. Kemudian menghela nafas sambil menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya dengan saputangan bercorak kipas merah putih (yang siap dikerek di tiang).
"Kita harus berangkat sekarang kalau mau sempat istirahat sebelum berangkat.." Kata Naruto sambil memasukkan tas terakhir ke dalam bagasi.
"Tentu saja, bodoh! Dan kenapa kau lama sekali di dalam, heh?" Sasuke bertanya dengan kesal.
"Eh? Ma..maaf, setiap kali ingin berangkat Tenten selalu saja mengambil topik pembicaraan yang berlarut-larut jadi…" Naruto mencoba mengambil alasan.
"Sudahlah, kita harus pergi.." Sasuke menutup bagasi dengan cukup kencang, "Nadya-san tidak bersama kita?"
Naruto menggeleng, "Dia akan naik mobil lain nanti.."
Sasuke mengangguk kecil mengerti, kemudian ia mengambil kunci mobil yang ada di sakunya, dan kemudian menyerahkannya kepada Naruto.
"Eh.. aku yang mengemudi?"
"Tentu saja… memangnya siapa lagi kalau bukan kau."
Dengan cemberut Naruto menyambar kunci mobil itu dari tangan Sasuke, "Kau ini seperti cewek lagi menstruasi.. gampang marah dan sewot sekali.."
"Entahlah.." Sasuke menatap langit, "Aku merasa kesal sekali saat ini.. entah mengapa.."
Naruto menatapnya iba, kemudian segera masuk mobil bersama mereka, melambaikan tangan pada Hinata, Tenten, dan Nadya serta Tetsuhiko, kemudian melaju ke jalan raya, menuju Saitama.
"Kenapa harus Cuma berdua sih!" Naruto mulai mengeluh di perjalanan macet yang mengesalkan di tol.
"Kau sendiri yang menyetujui kalau membawa lebih banyak orang, apalagi wanita, akan membahayakan.. kenapa sekarang kau seperti.. menyesalinya, heh?" Sasuke menatapnya dengan tatapan dingin yang kesal.
"Huh.. kau sendiri juga kesepian 'kan?! Tanpa Sakura-chan disisimu yang bisa mencairkan hatimu yang beku.. sekarang tanpanya kau jadi dingin lagi.. Ah! Tidak seru!" Kekanak-kanakan Naruto mulai keluar.
"Diamlah, Naruto.." kata Sasuke, "Bukan waktunya kekanak-kanakan! Sakura.. dalam bahaya… mungkin, tapi aku tidak berharap dia memang dalam bahaya. Dan sekarang kita harus menyelamatkannya! Kenapa kau tidak pikirkan saja kemungkinan yang akan terjadi selagi macet dan cara mengatasi kemungkinan itu.."
"Mungkin akan ada yang terluka, kemudian kau harus menelepon ambulans sesegera mungkin.." kata Naruto.
Sasuke ingin menyangkalnya, namun ia tahu.. memang pasti akan ada yang terluka, baik itu polisi…
Sasori..
Atau justru mereka…
To Be Continued
Hah.. ini dia fic yang lama banget keluarnya gara-gara computer selalu ada 'penunggunya' terus!
Dengan susah payah mencari waktu, akhirnya kuketemukan juga waktu yang tepat
Dan akhirnya, chapternya lebih dari 10 chapter, saudara-saudara!
Dan akhirnya, ceritanya semakin… semakin… semakin begitulah saudara-saudara!
Dan Author gila ini pun sekarang sedang stress karena buku rapot yang meneror pikiran Author
RnR yaaaa!
Maaf kalo ada typo, atau salah EYD.. - - "
