Disclaimer: Harry Potter Milik JK Rowling.
Pairing: Draco Malfoy x Hermione Granger
Rating: M
Warning : OOC. No Magic. Based on Feltson's life story dengan tambahan sana sini yang murni karangan penulis.
Hermione terbangun dan merenggangkan tubuhnya yang pegal di kursi pesawat. Sembilan jam perjalanan menuju tempat bulan madunya membuat tubuhnya terasa remuk. Hermione menolehkan wajahnya ke samping dan mendapati Draco masih tertidur. Rambut pirangnya yang sebelumnya disisir ke belakang kini telah turun menutupi matanya yang terpejam, dagu runcingnya tenggelam dalam turtle neck yang dikenakannya.
Hermione tersenyum dan mengelus kening Draco, menyibakan poni pirangnya untuk memperlihatkan wajah suaminya. Draco mulai mengerjapkan matanya dan menggeliat, ia menatap Hermione dengan netra kelabunya yang masih sayu. Dengan manja Draco menyandarkan kepalanya di bahu Hermione dan kembali memejamkan matanya.
Hermione terkekeh "Hey! Pramugari bilang sebentar lagi kita akan sampai. Buka matamu!"
Draco masih tak bergerak, kemudian Hermione mengecup bibir suaminya dan berhasil memunculkan respon dari pria pirang manja yang sedang menggelayutinya seperti bayi panda.
.
"Bagaimana kau bisa terpikirkan Karibia?" tanya Hermione dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Mereka sedang berjalan keluar bandara untuk mencari taksi.
"Tentu karena tempat ini keren sayang! Romantis dan penuh misteri. Haha... mungkin kita bisa bercinta di atas pasir pantai seperti William Turner dan Elizabeth Swan." Draco tertawa puas setelah mendapat pukulan keras di bahu kanannya dari Hermione.
"Dasar bodoh!" dengus Hermione dengan wajah merona.
.
Hermione menginjakan kakinya di sebuah resort mewah yang terlihat sangat privat.
"Kau takkan bilang bahwa resort ini milikmu kan?" Hermione menaikan sebelah alisnya.
Draco tak menjawab hanya menyeringai menyebalkan seperti biasanya sambil mengedikan bahunya.
"Oh ya ampun, aku menikah dengan konglomerat." gumam Hermione menarik kopernya dengan tangan kirinya dan menjambak pelan rambutnya dengan tangan kanan. Hermione berbelok ke lorong sebelah kiri.
Draco terkekeh melihat kelakuan istrinya. "Kamarnya disebelah kanan sayang!" teriak Draco.
Hermione kembali muncul dan menyeberangi ruangan menuju lorong sebelah kanan dengan masih terus bergumam entah apa.
Langit masih gelap, Draco melihat jam tangannya waktu telah menunjukan pukul tujuh pagi waktu London. Draco kemudian menyesuaikan jam tangannya dengan jam di ponselnya yang telah ia setting ulang dengan waktu Karibia. Ternyata baru pukul 1 pagi.
Saat memasuki kamarnya Draco tak mendapati Hermione ada disana, tapi terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Draco merapikan pakaianya dari koper ke lemari. Merasa sedikit kepanasan, Draco membuka kaus turtle neck hitamnya dan menenggak air dingin yang diambilnya dari kulkas kecil di ujung kamarnya.
Draco membuka ponselnya dan menekan tombol call. Telepon langsung diangkat pada nada sambung pertama. "Aku sudah sampai Mom, tolong sampaikan juga pada ayah dan ibu Hermione." kata Draco.
"Syukurlah. Kalian baik-baik ya disana, jaga Istrimu! Bawakan aku oleh-oleh cucu saat pulang nanti." tawa renyah Narcissa Malfoy terdengar dari seberang telepon, membuat Draco ikut tertawa.
"Okay Mom, aku akan membuatnya dulu kalau begitu." kata Draco tak tahu malu.
"Oh jangan diteruskan nak! Aku tak kuat membicarakan hal seperti ini dengan anakku sendiri." Draco hanya terkekeh merespon perkataan ibunya.
"Baiklah, Tuhan memberkati kalian. See you son."
"See you Mom." Draco menutup teleponnya tepat saat pintu kamar mandi terbuka dan menguarkan aroma mawar dari dalamnya.
Untuk sesaat kedua anak manusia yang berada di ruangan itu hanya diam dan saling menatap.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" akhirnya Hermione mengeluarkan suaranya.
"Tentu saja karena kau sexy." jawab Draco tanpa dosa.
"Huh, jangan kau pikir aku sengaja menggodamu dengan keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk ini. Aku lupa membongkar koperku sebelum mandi tadi karena terlalu gerah, lalu hanya handuk ini yang kutemukan di kamar mandi." Hermione berjalan menuju kopernya yang berada tepat dikaki Draco.
"Seharusnya kau tak perlu mengenakan handuk sekalian." wajah Hermione memerah.
"Itu sih maumu." kata Hermione berusaha cuek. Ia menarik dan mengangkat kopernya ke atas tempat tidur, lalu membukanya.
"Kenapa kau tak mengenakan bajumu?" tanya Hermione.
"Gerah." jawab Draco singkat.
"Berarti suhu disini memang hangat." Hermione berlutut untuk mencari baju yang akan dikenakannya. Namun tanpa disadarinya, mata suaminya yang berdiri di sampingnya sedang menjelajahi tubuhnya seperti laser. Mata kelabu pria pirang itu tertumbuk pada belahan dada Hermione yang terlihat dari atas.
Hermione bangkit setelah memperoleh sebuah piama dari dalam kopernya. Ia melirik suaminya dan mendapatinya sedang memandanginya dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"What?" tanya mione.
"Kalau kau kepanasan, kenapa tidak kau buka saja handuk sialanmu itu dear." Hermione membelalakan matanya mendengar ucapan Draco. Ia kemudian refleks menutup dadanya dengan tangannya setelah menyadari kemana tatapan Draco terpaku.
Hermione mundur perlahan seirama dengan langkah maju Draco. Draco menarik pinggang Hermione hingga tubuh mereka saling menempel sekarang. Draco mencium bibir istrinya dengan kasar, ia melumatnya dengan membabi buta apalagi setelah Hermione melenguh dan mengalungkan tangannya pada lehernya.
Tubuh Hermione menempel erat pada tubuh Draco, menggoda si Pria dengan lekuk tubuhnya yang menonjol. Hermione merasakan tangan Draco menggerayanginya. Tangan Draco yang semula meremas bokong Hermione, kini mulai menjalar kedepan bergelirya melalui perut, sampai ke dada Hermione. Pria itu menarik lilitan handuk Hermione dari dada istrinya. Seonggok handuk putih kini telah terkapar di lantai.
Hermione terus menciumi suaminya penuh nafsu. Meremas rambutnya, mendorong belakang kepalanya untuk lebih memperdalam ciumannya, sampai ia tak sadar telah melingkarkan kedua kakinya di pinggang Draco.
Draco membanting Hermione ke atas ranjang mereka. Ia memandang istrinya yang menatapnya sambil terengah-engah dalam keadaan telanjang bulat. Draco menjilat bibirnya, matanya berkilat penuh nafsu. Ia menginginkan Hermione sebanyak Hermione menginginkannya.
Hermione bangkit dari ranjangnya dan menarik Draco untuk kembali menciumnya. Ia berguling untuk membuat Draco ada dibawahnya. Hermione masih terus menciumi Draco, namun tangannya membuka ikat pinggang dan kancing celana Draco lalu menyentaknya lepas.
Draco kembali berguling untuk berada di atas Hermione. Ia melepaskan ciumannya dan menatap Hermione. "Dasar anak nakal." gumam Draco dan kemudian menenggelamkan wajahnya di leher Hermione, menghirup dalam-dalam harum mawar yang menguar dari tubuh istrinya. Draco memberikan banyak kissmark dimana-mana.
Pria pirang itu terus menggoda istrinya dengan terus memijat, mengulum, menghisap, dan menggigit dada Hermione, hingga menimbulkan desahan nikmat dari wanita brunette itu. Draco kemudian mengelus paha bagian dalam Hermione dengan ujung jarinya, efek dari tindakan Draco adalah Hermione melebarkan kakinya, memberi ruang untuk Draco.
"Peringatkan aku jika sakit sayang." bisik Draco.
Draco memacu pinggulnya, dan menekan pinggul Hermione. Hermione menjeritkan nama Draco dan mencakar punggung suaminya. Saat itu Draco merasa de javu, kejadian yang sedang dialaminya hampir mirip dengan mimpinya. Akhirnya Draco dapat mewujudkan fantasinya, 'sangat luar biasa sensasinya' pikirnya.
Hermione mengikuti gerakan pinggul Draco, air matanya mengalir, ia memeluk punggung Draco dan kukunya yang panjang melukai punggung Draco.
"Apakah sakit?" tanya Draco menghentikan gerakannya. Hermione mengangguk kecil.
"Kalau begitu kita berhenti dulu." Draco mencium dan menghisap air mata yang mengairi pipi istrinya. Dengan perlahan Draco melepaskan diri dari Hermione. Mereka kini tidur terlentang berdampingan.
Draco menghadapkan tubuhnya pada Hermione yang sedang menatap kosong pada langit-langit kamar. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Draco.
"Kau pengertian sekali." gumam Hermione menoleh pada suaminya.
"Tentu, seperti itulah aku memperlakukan orang yang kucintai, ini bagian dari janjiku untukmu dan ini memang sudah menjadi salah satu sifat dasarku sejak lahir." Draco memampangkan seringainya, membuat Hermione mencubit pinggangnya.
"Kalau begitu sebaiknya kita tidur sayang." Draco menarik Hermione dalam pelukannya.
"Tidur?!" Hermione berjengit dari pelukan Draco, ia menatap Draco tak percaya.
"Lalu kau mau apa? Main catur?" kekeh Draco.
"Tentu saja aku ingin bermain denganmu Draco Malfoy!" desis Hermione kesal.
"Tapi kau masih sakit kan?" Draco menatap khawatir pada istrinya.
"Sedikit, tapi bukan berarti aku sudi untuk menundanya. Aku bahkan yakin saat ini aku masih perawan! Lihat! aku belum berdarah." Hermione menyentakan selimut yang menutupi tubuhnya.
Draco terkekeh "Well, sepertinya aku benar-benar telah membuatmu sangat bergairah. Jadi aku akan tanggung jawab." Draco menatap Hermione dengan pandangan yang menurut Hermione sangat sexy, kemudian Draco kembali menindih Hermione.
"Kau siap?" bisik Draco.
Hermione mengangguk, kemudian Draco melumat bibir Hermione dengan penuh gairah bersamaan dengan itu Draco kembali mengulangi kegiatannya yang tadi sempat tertunda, dengan lebih cepat dari sebelumnya namun tetap lembut Draco mendobrak masuk selaput dara Hermione.
Hermione menjeritkan nama Draco dan menarik Draco dalam pelukannya sampai tubuh keduanya benar-benar menempel sempurna. Draco mencumi leher dan tengkuk Hermione sambil terus mendorong semakin dalam ke dalam Hermione. Hermione terus melenguh dan ikut menekankan pinggulnya agar Draco dapat masuk lebih dalam lagi. Suhu yang lembab membuat keringat mereka menyatu. Mereka bergerak seirama, saling memanggil nama masing-masing dengan penuh desah.
"Tadi aku sudah menelepon ibuku untuk mengabarkan bahwa kita sudah sampai." kata Draco sambil terus terengah-engah.
"Ah... ah... ahheemmh" hanya itu suara yang keluar dari mulut Hermione.
Draco melanjutkan "Ibuku minta oleh-oleh seorang cucu, maka sebagai anak yang baik, sekarang aku sedang mengusahakannya."
Wajah Hermione kian merona mendengar perkataan Draco.
"Kupastikan benihku tertanam dirahimmu malam ini juga." Draco langsung melumat bibir Hermione tanpa melepaskan dirinya dari dalam Hermione.
Sebagai pengantin baru, mereka masih sangat asing sekaligus nyaman dalam keadaan bersatu seperti itu. Mereka dalam posisi itu selama lima belas menit. Kemudian Draco menjatuhkan tubuhnya di samping Hermione.
"Kau tahu Draco?" kata Hermione sambil mengatur napasnya.
Draco tak menjawab, namun Hermione tahu bahwa suaminya menunggu ia melanjutkan ucapannya.
"Yang barusan itu pengalaman pertamaku, dan itu sangat menakjubkan."
Tanpa perlu melihat, Draco tahu wajah istrinya saat ini pasti sangat merah. "Ya, aku tahu. Kurasa besok petugas kebersihan perlu kerja lebih keras untuk mencuci seprai putih ini, karena kali ini nodanya bukan hanya putih, tapi juga merah.
Hermione terkekeh. Ia kemudian memeluk perut atletis suaminya dan menumpukan kepalanya pada dada suaminya.
"Dan satu hal lagi yang perlu kau tahu. Sepertinya aku kecanduan suamiku sendiri. Kurasa aku mau lagi." Hermione memainkan telunjuknya diatas dada bidang Draco.
Draco kemudian meraih dagu Hermione, menatapnya sebentar lalu kembali mencium istrinya kali ini dengan sangat lembut dan penuh perasaan.
"Tentu saja, memang begitulah cara bermain pengantin baru. Anything for you baby!" Draco kembali melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami.
Pasangan pengantin baru itu melakukannya sepanjang malam hingga pukul empat pagi waktu Karibia dan kemudian langsung terlelap.
_oOo_
Hermione menggeliat diatas ranjang king size mewah yang berantakan, ia merasakan perih pada bagian kewanitaannya. Menoleh kesampinganya, namun ia tak mendapati sosok suaminya yang seharusnya ada di sampingnya saat ia bangun. Hermione turun dari ranjangnya dan mengenakan handuk mandinya semalam.
"Hermione!" panggil Draco dari luar kamar. Hermione langsung berjalan dengan gaya yang aneh ke arah suara suaminya.
"Ada apa?" tanya Hermione yang mendapati Draco ternyata sedang berada di dapur.
"Aku membuatkanmu omelet dan roti panggang sayang! Maaf, hanya menu sarapan ini yang bisa aku masak." Draco tersenyum sambil menunjukan hasil masakannya pada Hermione. Namun senyumnya memudar saat melihat Hermione yang sedikit kesulitan dalam berjalan.
"Mione!" Draco langsung berjalan cepat menghampiri istrinya.
"Maafkan aku! Apa masih sakit dear?" kata Draco dengan nada khawatir.
"Tak apa, ini biasa untuk seorang gadis yang baru pertama kali kan. Tak usah khawatir." Hermione mengelus pipi Draco. "Ayo makan, sepertinya masakanmu enak."
Hermione melirik sebentar ke arah masakan Draco. "Hmm supaya lengkap, akan ku buatkan pancake, apa kau mau?" Draco mengangguk sambil terus memperhatikan Hermione.
Selagi istrinya memasak, Draco memeluk Hermione dari belakang dan menciumi leher dan bahu Hermione yang telanjang, karena Hermione hanya mengenakan handuk semalam.
"Ayo makan." Hermione menarik Draco menuju meja makan untuk sarapan bersama.
"Setelah ini kau mau apa?" tanya Draco.
"Mandi tentu saja." kata Hermione.
"Mau bareng?" kata Draco usil.
"Dengan senang hati." Draco melongo mendengar jawaban istrinya yang tak terduga.
Tanpa ba bi bu Draco segera mengangkat Hermione a la bridal style menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidur mereka. Draco menurunkan Hermione di dalam shower room. Draco menyentak handuk Hermione dan melemparnya sembarangan. Pria itu menyalakan shower dan mulai membuka celananya.
Sepasang pengantin baru itu mandi bersama di bawah kucuran shower. Draco terus saja menggoda tubuh Hermione dengan terus meraba dan meremas bokong dan dada Hermione.
Hermione memeluk Draco menempelkan kulitnya dengan kulit suaminya, tubuh mereka menyatu sempurna. Hermione merasakan kakinya melemas. Malfoy junior bangun dari tidurnya dan masuk ke rumah barunya dengan sekali sentak. Hermione sudah tak memijak lantai, ia seratus persen bergelayut pada Draco, mereka saling menekan pinggul satu sama lain dalam kucuran air dingin yang menyejukan.
Mereka mencapai klimaks, kemudian Draco merebahkan kepalanya di bahu Hermione.
_oOo_
Sejak malam pertama mereka, mereka sama sekali tak keluar kamar seharian. Bahkan 3 hari lamanya mereka mengurung diri dalam resort, karena Hermione menolak keluar dengan cara berjalannya yang aneh.
Di hari keempat akhirnya pasangan pengantin baru itu keluar resort untuk berjalan-jalan. Mereka memutuskan untuk berbelanja oleh-oleh terlebih dulu, agar selanjutnya mereka tinggal menikmati liburan mereka di pulau eksotik nan indah tersebut.
.
"Kita akan kemana?" tanya Hermione membetulkan letak kaca mata hitamnya.
"Saat ini kita berada di pulau Saint Thomas, kita akan ke West Indies."
"Pelabuhan kapal pesiar?" Hermione memandang Draco dengan antusias.
Draco hanya tersenyum sambil mengangguk kecil dan lanjut mengemudi mobil BMW sewa-annya.
.
Draco menggandeng tangan istrinya menuju pelabuhan. Disana banyak kapal-kapal pesiar berbagai kelas yang berjejer rapi dari mulai yang bertonase sedang, sampai yang paling besar seperti kapal pesiar Oasis dari perusahaan Royal Carribean Internasional.
Mereka tiba di dermaga, tepatnya di depan sebuah kapal pesiar mewah berukuran sedang dengan empat tingkat. Nama kapal itu berukir dengan font rumit melingkar bertuliskan 'Malfoy of the Seas'. Hermione memandang takjub kapal itu lalu memicingkan matanya menatap suaminya.
"Punyamu atau keluargamu?" bisik Hermione.
"Punyaku dan Oliver. Kami sama-sama suka laut dan memancing, maka itu kami membeli kapal ini." Draco menuntun Hermione untuk menaiki kapal mewahnya.
"Kupikir ini bukan kapal untuk memancing, Draco." Hermione mengamati setiap inchi body kapal milik suami dan kakak iparnya, tangannya menyusuri setiap bagian yang ia lewati bersama Draco menuju deck dasar.
"Kenapa semua hobby-mu menguras banyak uang ya?" gumam Hermione yang mengundang kekehan suaminya.
"Itulah salah satu cara menikmati hidup dan hasil jerih payahmu. Kau sendiri? Memangnya kau tak punya hobby yang menguras uang?" tantang Draco.
"Umm, sepertinya tidak. Bahkan untuk ukuran wanita yang umumnya senang belanja, aku punya banyak barang bermerek, tapi tak semaniak Paris Hilton. Dan sebagian barang-barangku adalah hadiah dari brand yang mengontrakku sebagai brand ambassadornya, itu salah satu penghematan."
"Kau pantas menjadi duta wanita. Benar-benar wanita pintar. Tapi aku mau kau menikmati apapun yang kumiliki okay!" Draco merangkul bahu Hermione dan mengecup gemas puncak kepala istrinya.
Langit yang mulai senja menampakan panorama langit yang sangat indah dengan berbagai semburat orange yang mengiringi matahari terbenam. Draco menggandeng tangan istrinya ke ujung deck. Draco berdiri di belakang Hermione yang membelakanginya, kemudian ia meletakkan tangannya pada pinggul wanitanya.
"Uh, jangan melakukan hal seperti yang dilakukan Rose dan Jack dalam film titanic Drake!" dengus Hermione.
Draco mendengus tertawa dan berbisik di telinga kanan Hermione "Aku bukan plagiat adegan romantis sayang. Jadi jangan pernah berpikir aku akan meniru adegan murahan di film-film cengeng. Aku lebih bersedia dibilang pria tak romantis daripada harus meniru adegan film roman."
Hermione terkikik mendengar perkataan suaminya yang angkuhnya minta ampun.
"Lagipula aku tak suka mereka, Jack dan Rose maksudku. Aku lebih suka William Turner dan Elizabeth Swan." Hermione mencubit pinggang Draco.
Draco memeluk perut Hermione dari belakang, dan menciumi tengkuk istrinya itu dengan rakus. Ia memberi banyak kissmark disana, dan Hermione dengan senang hati menyambutnya dengan mendongakan kepalanya agar Draco dapat lebih leluasa mengakses leher dan tengkuknya.
"Aku hanya ingin menikmati pemandangan dan angin laut senja seperti ini denganmu di tengah laut."
"Hmm... tanpa perlu menjadi plagiat film roman pun kau sudah bisa membuat aku seperti ini." Hermione membalikan tubuhnya menghadap Draco sambil menggigit bibir bawahnya, tatapannya sarat akan godaan.
"Bercinta diatas laut sepertinya menyenangkan." bisik Draco dengan suara sexy-nya.
"Sepertinya begitu." Hermione menarik kerah kemeja putih suaminya dan melumat lembut bibirnya.
"By the way, kapal ini sudah jalan eh? mulus sekali. Aku bahkan tak menyadarinya." kata Hermione setelah melepas pagutannya.
"Barang milik Malfoy, selalu yang terbaik. Ayo kita berkeliling, biar kutunjukan apa saja yang ada dalam kapal ini. Setelah itu kita baru akan makan malam."
Hermione begitu terkesima dengan segala fasilitas yang ada dalam kapal yang saat ini sedang dipijaknya. Kapal itu memiliki bioskop pribadi, kolam renang, helipad, spa mewah, sampai perpustakaan! Hermione benar-benar takjub untuk yang satu itu, dia sangat suka membaca, maka setelah makan malam bersama Draco, ia menghabiskan malamnya dengan membaca di perpustakaan. Draco sama sekali tak mengganggu kegiatan istrinya, ia lebih memilih berenang saja.
"Draco!" panggil Hermione dari tepi kolam renang.
"Hey!" Draco melambai pada Hermione.
"Apa tidak dingin berenang malam-malam begini?" teriaknya.
"Tidak juga, aku mengatur temperaturnya. Kemarilah!" jawab Draco balas berteriak.
Hermione dengan ragu mencelupkan telunjuk kanannya ke dalam permukaan air. Ternyata benar kata Draco, ia telah mengatur temperatur airnya, rasanya hangat. Dengan perlahan Hermione membuka kaus dan celana jeans-nya, ternyata ia mengenakan bikini hitam di balik pakaiannya. Draco mengamati kegiatan istrinya dengan tatapan seperti predator. Hermione kemudian langsung meluncur masuk ke kolam dengan lompatan yang lumayan indah untuk ukuran perenang amatir, ia segera berenang menuju suaminya berada.
Draco dengan cepat meraih pinggang Hermione dan menyatukan tubuh mereka. Ia meremas bokong Hermione dengan gemas, Hermione mengalungkan lengannya di leher Draco dan menyambar bibirnya. Mereka hilang timbul dalam air sambil terus berciuman.
"Bagaimana kau bisa mengenakan bikini di balik kausmu?" tanya Draco setelah melepaskan ciuman mereka.
"Kupikir kau akan mengajakku berjemur di pantai dan menikmati sunset di Magens Bay." kata Hermione sambil terus menciumi dagu suaminya.
"Besok lusa setelah kembali dari kapal kita akan kesana." kata Draco.
"Yeay!" seru Hermione. "Umm, tapi Draco, tadi aku sudah membaca di perpustakaanmu, kemudian aku juga sudah berenang bersamamu disini, makan malam romantis di deck atas juga sudah. Berarti yang belum kucoba itu bioskop dan spa, apa kita bisa kesana?"
"Aku tak membawa petugas spa Mione, tapi kita bisa menonton bioskop sekarang." Draco menarik Hermione ke tepian kolam.
"By the way ada satu helipad di ujung deck atas tadi, apa kau punya helikopter?" tanya Hermione penasaran.
"Ya, ada." kata Draco singkat.
"Punyamu, atau...?"
"Punyaku. Jangan memintaku untuk membawamu mengendarainya! Aku sedang tidak mood mengendarai capung besar itu." Draco memberikan selembar handuk pada Hermione dan kemudian menggosok rambutnya sendiri dengan handuk lainnya.
"Kenapa?" Hermione tambah penasaran.
"Mengendarainya perlu konsentrasi dan sedikit rumit dear, dan aku sedang tak ingin berpikir yang berat-berat. Kemudian perlu orang lain yang mengontrol penerbanganku agar jalurku terpantau, tak hilang arah, dan tidak bentrok dengan pesawat atau helikopter lain yang melintas. Lagipula nanti aku dikira plagiat tokoh pria dalam novel erotis itu lagi... Mungkin lain kali aku bisa mengajakmu okay?" Draco menjawil hidung Hermione gemas.
"Kau bahkan lebih menakjubkan dan hot dari sekedar tokoh novel erotis Drake." Hermione mendengus geli dengan pikiran suaminya yang selalu anti meniru tokoh film atau novel roman.
"Itu pasti." Draco menyeringai angkuh. "Sebagai gantinya, aku akan mengajakmu menyelam besok pagi, kau mau?" tawar Draco.
"Diving? umm, kau punya peralatannya?"
"Tentu aku punya semua keperluan penjelajahan laut dalam kapal ini dear. Tapi aku bukan mengajakmu diving, maksudku kita menyelam dengan kapal selam." Hermione membelalakan matanya tak percaya.
"Ka..k..k..kau punya kapal selam juga?" tanya Hermione dengan terkejut yang berlebihan.
Draco hanya mengangguk sambil terkekeh melihat ekspresi takjub istrinya. "Dan kau juga bisa mengendarainya?" Hermione mencoba memastikan kalau pria yang baru lima hari menjadi suaminya ini tak benar-benar sempurna.
Maksudnya... Bagaimana mungkin seorang pria bisa begitu sempurna bisa mengendarai apapun dalam hidupnya?!
Tapi kemudian Draco mengangguk, dan membuat Hermione mendengus.
"Masa iya kau bisa mengendarai semua kendaraan?!" kata Hermione tak terima.
"Well, aku tak sesempurna itu kok. Aku tak bisa mengendarai kereta api." kekehnya.
"Maksudnya kau bisa mengendarai pesawat?" Hermione menyipitkan matanya, dan Draco hanya mengedikan bahunya.
"Hanya sekedar bisa Mione, aku hanya suka menguasai berbagai hal yang biasanya membuat orang terkesan, tapi aku belum mencapai tahap mahir, kacuali untuk mobil dan mungkin kapal pesiar. Dan aku takkan mengoperasikan kapal selamnya besok, Billy teamku yang akan menjalankannya. Aku mau diving saja bersamamu di dasar laut nanti."
_oOo_
Setelah puas menjelajah laut dengan menggunakan kapal selam dan mencoba diving selama 30 menit, Draco dan Hermione makan siang dengan hidangan laut yang dipancing oleh Draco.
"Kau tahu? Ini enak sekali! Tak ada yang lebih baik dari seafood segar yang baru ditangkap langsung dari laut." kata Hermione setelah berhasil menelan potongan daging lobster panggangnya.
"Tentu saja..." Draco mengacak lembut rambut Hermione dengan gemas.
"Setelah ini kita jadi ke Magens Bay?" tanya Hermione antusias.
"Jadi, jika kau masih menginginkannya." Draco mengelap ujung bibir istrinya yang terkena noda saus lobster. "Pelan-pelan, sepertinya kau lapar sekali." gumam Draco.
"Ini enak, aku akan selalu terlihat kelaparan setiap menghadapi makanan enak." Tawa mereka membahana di seantero laut karibia.
_oOo_
"Ayo pulang." Draco berdiri dari duduknya dan menepuk-nepuk celananya yang ditempeli pasir pantai.
"Aku masih mau disini." kata Hermione masih menatap lurus pada laut di hadapannya.
"Kita sudah menghabiskan waktu 2 malam di tengah laut dan melihat sunset yang sama, bahkan ditambah dengan ini, kita sudah lihat sunset tiga kali. Sekarang bahkan langit sudah benar-benar gelap Hermione, sebentar lagi hujan. Apalagi yang mau kau lihat?" Draco menjelaskan hal itu dengan nada yang sangat lembut pada istrinya, namun bukannya menurut, Hermione malah memberengut kesal.
"Kalau kau mau pulang, pulang saja duluan sana!" teriak Hermione. Suaranya beradu dengan suara deru ombak yang semakin kencang karena ditiup angin laut dari arah barat. Angin itu mengibarkan rambut ikal Hermione.
Draco menatap Hermione tak percaya, pria pirang itu bingung dengan sikap istrinya yang berubah seratus delapan puluh derajat dari setengah jam yang lalu saat matahari telah menghilang di balik cakrawala. Draco menghembuskan napasnya dan menghampiri Hermione sambil menjulurkan tangannya untuk diraih istrinya, namun nyatanya wanita bersurai ikal itu sama sekali tak mengacuhkannya.
"Kau ini kenapa eh?! Kuhitung sampai tiga, jika kau tak juga meraih tanganku dan bangkit, maka aku akan meninggalkanmu disini." ancam Draco habis sabar.
Hermione mendengus dan menatap Draco dengan pandangan menantang. "Kau pikir aku bayi yang akan takut karena diancam ayahnya akan ditinggal di tempat asing eh?" Hermione memandang Draco dengan skeptis. "Pergi sana!" bentaknya.
Tanpa menimpali apapun, Draco berbalik dengan perasaan kesal luar biasa berjalan menjauh meninggalkan tempat Hermione sedang terduduk.
Setelah Draco Malfoy tak lagi terjangkau oleh pandangan matanya, Hermione menangis tersedu-sedu, entah kenapa ia sendiri pun tak mengerti. Ia bangkit dari duduknya dan melempar sebuah potongan batu karang yang terdampar di pantai ke tengah laut dengan sekuat tenaga penuh emosi.
Sambil masih menangis Hermione kembali ke tempat duduknya. Magens Bay sudah benar-benar sepi sekarang, Hermione membaringkan tubuhnya dan meringkuk diatas kain pantai yang tadi ia gunakan sebagai alas duduk.
Hermione benar-benar bingung dengan apa yang sedang terjadi padanya. Ia terpacu emosi tanpa ada alasannya, kemudian sekarang ia malah menangis dipinggir pantai malam-malam begini.
Hermione membuka matanya setelah merasakan setetes air membasahi pipi kanannya. Tetes-tetes air yang lebih banyak turun membasahi tubuhnya. Ternyata benar kata Draco, hujan akan turun dan sekarang sudah turun.
Hermione memejamkan mata dan menelentangkan tubuhnya menerima hujaman rintik gerimis yang menyapu wajahnya.
Matanya tetiba terbuka saat sebuah tangan dingin menyusup di balik lutut dan lehernya. Pemilik tangan itu kini mengangkatnya hati-hati dan membawanya dengan langkah cepat. Hazelnya bertemu dengan kelabu jernih yang menatapnya penuh khawatir.
"Kau kembali..." gumam Hermione sebelum kehilangan kesadarannya.
_oOo_
Hermione terbangun diatas ranjang empuknya, ia mengerjapkan matanya dan melihat jam dinding kamarnya menunjukan pukul sebelas malam.
Hermione bangkit dari ranjangnya dan keluar kamar untuk mencari suaminya. Ia menemukan Draco sedang berdiri di balkon sambil menyesap segelas sampagne.
"Kau tak tidur?" Hermione muncul dari balik pintu kamarnya.
"Belum mengantuk. Kau sudah bangun?" Draco bertanya balik.
"Kenapa tadi kau kembali?" Hermione kini berjalan menuju tempat Draco berdiri.
"Bagaimana mungkin aku tak kembali ketika aku meninggalkan istriku di pinggir pantai sendirian dengan hanya memakai bikini dalam keadaan hujan?" Draco masih tak menatap Hermione.
"Kau marah padaku?" tanya Hermione dengan suara sangat kecil.
"Kupikir kau yang tadi marah-marah padaku." kata Draco dingin.
"Tatap aku saat kau bicara padaku Draco." geram Hermione.
Draco menatap Hermione seperti permintaannya "Kembalilah ke kamar dan tidur." perintah Draco dengan suara datar lalu kembali melamun di balkon sambil menatap bulan.
"Kalau begitu ayo! Kau ikut tidur bersamaku!" Hermione mencoba menggandeng tangan Draco, namun Draco menepisnya lembut.
"Tidurlah duluan okay. Aku akan menyusul." Draco mengelus rambut Hermione lembut kemudian memalingkan wajahnya kembali pada langit malam.
Hermione mencebik sambil menghentak-hentakan kakinya kembali ke kamarnya kemudian ia membanting pintu kamarnya, agar Draco tahu bahwa ia kesal.
.
.
Satu jam berselang sejak Hermione yang merajuk dengan membanting pintu kamar mereka. Draco sedang membaca sebuah buku di depan perapian, ketika tiba-tiba sebuah suara wanita yang mendayu-dayu terdengar memanggil namanya. Draco mengalihkan pandangannya pada sumber suara, dan mendapati istrinya sedang berjalan berlenggak-lenggok centil seperti catwoman hanya dengan mengenakan sebuah lengrie dan garter hitam keluaran terbaru dari Victoria's Secrets berbahan lace yang sangat tipis menuju sofa yang ia duduki.
Draco menatap Hermione sambil menganga dan membalalakan kedua matanya yang sedang dibingkai kacamata bacanya. Hermione kemudian dengan lincah duduk dipangkuan Draco dengan gerakan slow motion yang penuh dengan godaan, ia menarik lepas kacamata Draco dengan lembut dan meletakkannya di meja.
"Hi tampan." Hermione membelai dagu dan dada Draco kemudian melebarkan kakinya sehingga posisi duduknya seperti sedang menunggang kuda dalam pangkuan Draco, mereka saling berhadapan. Hermione mengalungkan tangannya pada leher Draco dan duduk tegak sehingga dadanya sejajar dengan wajah Draco.
Pipi Draco yang semula pucat, kini dihiasi semburat merah menerima perlakuan istrinya. "Dracoohh..." desah Hermione sambil menatap suaminya dengan penuh godaan, ia menjilat bibir pinknya.
Tanpa basa-basi Hermione melumat bibir suaminya yang kemudian langsung membalasnya dengan penuh gairah. Draco meremas pinggul Hermione dan menariknya lebih erat padanya. Disana ia dapat merasakan desakan dari dalam celana Draco yang mulai mengeras.
Draco menidurkan Hermione di sofa, namun Hermione melepaskan ciumannya dan menunjuk pintu kamar mereka. Draco menggeram sebelum akhirnya menggendong Hermione yang bergelayut dalam dekapannya sambil terus berciuman. Draco membanting pintu kamar mereka hingga menutup.
Pria pirang nan sexy itu duduk di ranjang mewah mereka dengan Hermione masih berada dalam dekapannya, mereka seperti sedang berusaha saling makan-memakan. Hermione menjambak rambut platina milik Draco dan menuntut suaminya untuk terus memperdalam ciuman mereka.
Karena kebutuhan oksigen mereka melepaskan pagutan mereka. Mereka saling menatap dengan semburat merah muda di pipi masing-masing.
"You're so sexy baby!" gumam Draco. tatapan matanya menuju gumpalan dada Hermione yang sedang naik turun karena mencoba menetralkan deru napasnya.
"Nikmatilah apa yang kau suka dan kau inginkan sayang!" desah Hermione di telinga Draco yang sengaja ia lakukan sehingga kini dadanya hanya berjarak satu inchi di hadapan suaminya.
Draco mengecup, menghisap, menjilat, dan membuat kissmark dimana-mana. Di leher, lengan, bahu, sampai dada. Hormon sepasang suami istri itu sedang menuju puncak. Tangan Hermione tak diam saja selama Draco melakukan aksinya, jari-jari lentik milik wanita bermanik hazel itu dengan cepat dan sedikit kasar membuka kancing kemeja putih Draco sehingga beberapa kancing lepas dari tempatnya. Namun ia maupun suaminya tak mempermasalahkannya, Hermione menarik lepas dan melempar kemeja suaminya sembarangan, kemudian mengelus perut ratanya.
Draco membaringkan istrinya dengan lembut di tengah ranjang mereka. Ia turun menuju kaki Hermione dan menarik lepas garter hitam yang menghiasi tungkai indah istrinya dengan giginya. Hermione menjerit nakal atas tindakan suaminya.
"Darimana kau mendapatkan pakaian seksi ini eh?" tanya Draco sambil terus mengecup dan mengelus paha bagian dalam Hermione, mencoba menggoda dan membuatnya terangsang. Kaki Hermione dengan refleks melebar.
Sebuah rintihan kecil lolos dari bibir Hermione sebelum menjawab dengan suara serak "Tentu saja aku membelinya, ini keluaran terbaru Victoria's Secret. Kau baru saja merusak garterku! Aku tak mau lengrie favoritku ini rusak juga!" ancam Hermione.
"Aku akan berlangganan Victoria's Secret untuk kau kenakan dear, jadi jangan takut untuk kehilangan lengrie sexy-mu ini. Ini mengganggu jangkauanku." dengan cepat Draco menarik sobek dan mencabik-cabik lengrie hitam milik Hermione, menyisakan bagian Bra dan celana dalam sangat tipis. Hal itu menimbulkan jeritan terkejut dari Hermione.
"Aku janji aku akan membelikanmu lebih banyak dan yang lebih sexy Mione, jadi sekarang tak perlu pikirkan lengrie-mu itu okay!" Draco melumat bibir Hermione dengan tangannya yang terus menari diatas paha dan perut Hermione, mengelus mesra untuk terus mengoda istrinya.
Draco beralih ke leher Hermione, tangannya memebelai lembut bahu mulus istrinya. Tangannya menarik turun tali bra lengrie Hermione, kemudian membuka kaitannya.
Entah kemana bra indah nan mahal itu mendarat setelah Draco melemparnya sembarangan. Sekarang ia berlutut di atas Hermione yang terlentang dalam keadaan hampir telanjang seluruhnya.
Matanya terpaku pada dada Hermione yang bulat padat. Pandangannya kemudian beralih pada celana dalam Hermione yang tembus pandang. "Indah sekali." gumam Draco sambil menjilat bibirnya.
Hermione terkekeh dan berkata "Kau berkata seperti kau baru pertama kali melihatnya, lakukan saja apapun yang kau mau. Aku milikmu seutuhnya, Ingat itu!"
Draco menyeringai dan tanpa basa basi, ia menenggelamkan wajahnya pada dada istrinya. Bibirnya menciumi, mengulum, menghisap, dan mengigiti puncak dada Hermione dengan lapar, seperti bayi yang haus. Sebelah tangannya meremas dan memainkan puncak dada Hermione hingga membuatnya mengencang. Ukurannya sangat pas dalam tangkupan tangan Draco.
Lenguhan halus keluar dari bibir pink Hermione saat suaminya mengigit puncak dada kirinya bersamaan dengan ia menarik puncak dada kanannya dengan tangan kiri. Tanpa sadar Hermione menekan kepala Draco diatas dadanya.
Kaki hermione bergelinjang nikmat atas serangan suaminya yang memabukan. Pria itu sangat lihai melakukannya. Tangan kanan Hermione membelai dada bidang Draco hingga mencapai perut sixpack-nya. Tak berhenti sampai di situ, Hermione membuka kancing celana panjang Draco dan menariknya turun dengan kedua kakinya.
Draco mengangkat kepalanya dan bergumam "Thanks, ini biar aku yang mengurusnya." Draco turun dari ranjangnya dan membuka semuanya, sekarang ia benar-benar postif naked.
Ia kembali berlutut di atas Hermione yang sedang berbaring terlentang menatap seluruh bagian tubuhnya terutama bagian yang paling intim dengan wajah penuh rona.
"Pemandangan bagus sayang?" goda Draco pada Hermione yang langsung memalingkan wajahnya malu.
"Sekarang giliranku." Draco menarik lembut celana dalam Hermione hingga lututnya.
Hermione menatap suaminya bingung, kemudian Draco menggigit celana Hermione dan menariknya ke bawah sampai terlepas dari kaki istrinya, kemudian ia melemparnya sembarangan.
Dengan menahan segala gejolak gairahnya, Hermione bersuara "Jangan hanya menatapnya, lakukan tugasmu Draco."
"Ah, kau sangat tidak sabar dear." Draco mengusap bagian sensitif istrinya dengan ibu jarinya, membuat Hermione merapatkan kakinya.
"Hei manis, kau basah sekali." kata Draco sambil menjilat ibu jarinya.
"Please, jangan mempermainkan aku Draco." Dengus Hermione.
Draco terkekeh mendengar protesan istrinya. Kemudian ia kembali melumat bibir ranum istrinya sambil memasukan dua jarinya kedalam Hermione. Pinggul Hermione bergerak maju atas serangan jemari panjang Draco.
Dengan terengah-engah Hermione melepas paksa ciuman suaminya.
"Berhenti mempermainkanku!" desis Hermione.
Dengan itu Draco menarik tangannya dan langsung menekan pinggulnya pada pinggul Hermione. Mereka terus menyesuaikan posisi dan gerakan mereka. Draco terus memompa dan menekan miliknya makin dalam ke dalam Hermione. Tangan kanan Hermione mengapit lengan kiri Draco, sedang tangan kirinya memeluk leher suaminya. Tanpa melepaskan ciumannya, mereka meneruskan kegiatan mereka diiringi lenguhan-lenguhan milik Hermione.
Hermione merasakan sesuatu yang hangat masuk ke dalam dirinya, Hermione membuka matanya dan menggigit bibirnya yang telah terlepas dari pagutan suaminya. Ia menatap Draco, begitupun Draco yang balas menatapnya. Air mata Hermione mengalir dan ia tersenyum, Draco Malfoy membalas senyum istrinya dan mengecupnya sekilas "Thank you love." bisik Draco. Kemudian ia berbaring di sebelah Hermione yang menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Pasangan itu merapatkan tubuh mereka saling memeluk tubuh satu sama lain untuk menghangatkan dan menyalurkan rasa bahagia dan cinta mereka.
End
A/N : He..He...Hee... kelar cuy... xD
Thanks ya buat semua reader yang udah nunggu, review, follow, sampe favorite. Semua itu merupakan bentuk apresiasi untuk seorang author, termasuk saya. Makasih juga buat silent reader, walaupun kalian gak nampak di depan umum, tapi saya cukup mengetahui kehadiran kalian :)
Gimana? Honeymoon-nya pasaran gak? ._.v
Semoga gak mirip sama film atau novel orang? -_-"
Kebetulan banget beberapa hari lalu diceritain sama temen kantor tentang pengalaman malam pertamanya sama suaminya ._. Haha... makanya saya jadi tau kalo pengantin baru itu emang kayak gitu x.x
Kayak gitu gimana? Ya kayak gitu deh pokoknya, seperti yang kalian baca... wkwk...
Mengenai kenapa Hermione marah-marah ga jelas waktu di pantai, saya juga gatau kenapa, wkwk... xD
Anggap aja faktor hormon pengantin baru :p (Bagian itu cukup absurd untuk saya xD)
Zoe : Iya, Charlotte Duerre itu memang nama tengah Emma tapi, saya memang sengaja ganti nama Hermione, soalnya saya suka dengan nama Emma. Kedengarannya juga enak ah Hermione Charlotte Duerre Malfoy xD emangnya cuma putri Kate Middleton dan Pangeran William doank yang punya nama Charlotte.. Emma udah duluan :p
Btw, kalo Emma bener-bener bisa jadi sama Tom, maka namanya akan jadi Emma Charlotte Duerre Felton. Pas gitu ya :3
NisaNessieCullen : Hi... kamu muncul di saat chapter terakhir Thanks ya...
Btw, Nina emang udah pas sama Ian Somerhalder. But Theo dalam bayanganku gak pernah berubah dari dulu. Theodore Nott versi saya adalah Andrew Garfield a.k.a Peter Parker a.k.a Spiderman .
Scorpryena : Kamu suka Theo? Siapa Theo versi kamu?
Thanks To :
RinaaKartikaa, CallistaLia, Ochan Malfoy, emaa, Nha Chang, Looly, undhott, Clairy Cornell, yellowers, caesarpuspita, sentiia15, AbraxasM, Nalula Zurachan, shaula auriga, Electra Malfoy, countessCaroline, narcisssy, minnie, mia, Macey Harris, aurora, VeeQueenAir, BW, dew, Kiyouko Akane, chichiyo99, Mrs. Alex Watson, rara, dragonjun, yuharu, scorpryena, Fea, indiradcliffe, zoe, zura, NisaNessieCullen, sanny sakurai hiroki, kyucel, kenichi hachi, jhino, elladarrel, divinaumanita, ccherrytomato, WiwitWido, The Spring, JuliaJulie, Hanao Himeka, Gynna Yuhi, EmmaMalfoy One, .iera, Sora Hinase, Fiiyuki.
Big Thanks deh pokoknya... #KecupBasah :*
Well, langsung aja deh... nih saya kasih epilog sederhana yang singkat untuk melengkapi ending ini.
Enjoy ;)
EPILOG singkat
Hermione's POV
Suara anak-anak menggemaskan itu memenuhi pendengaranku. Mereka sedang menari-nari riang di bawah butiran salju yang turun menutupi jalan.
"Scorp! Jangan ajak adikmu bermain dekat jalan! Ayo kemari, cokelat hangat kalian sudah siap." teriak pria pirang di hadapanku.
Tanpa membalas perkataan ayahnya, anak laki-laki bersurai platina itu berjalan dengan langkah kakinya yang kecil sambil menggandeng adik perempuannya. Mereka benar-benar menggemaskan ketika berjalan berdua seperti itu dengan mantel tebal yang sedang mereka kenakan.
Aku berlutut dan merentangkan tanganku menyambut mereka, anak-anakku.
Dengan senyum merekah yang menimbulkan lesung pipit pada kedua belah pipi penuh mereka, anak-anak memelukku dan mengalungkan tangan mungil mereka di leherku. Aku merasa sempurna setiap melakukan hal ini.
Rasanya sempurna menjadi seorang ibu dengan sepasang anak laki-laki dan peremuan yang imut dari seorang pria tampan yang penyayang seperti suamiku yang saat ini sedang duduk di kursi seberang dan tengah tersenyum sayang menatapku bersama anak-anak kami.
Lima tahun sudah pernikahan kami berlangsung, namun hubungan kami masih seperti pengantin baru.
Draco Malfoy, pria yang telah merebut perhatianku sejak pertama kali kami berjumpa.
Aku masih ingat ketika pertama kalinya kami bertemu saat melakukan audisi untuk mendapatkan peran dalam film yang diadaptasi dari novel best seller karya penulis asal Inggris Mrs. J.K Rowling. Saat itu usiaku masih sepuluh tahun, sedangkan Draco sudah berusia tiga belas.
Draco Malfoy, dia mengantri audisi bersamaku, ia berdiri tepat di belakangku. Saat itu tingginya masih sama denganku. Ia tersenyum tipis saat aku menoleh padanya, seketika tindakannya itu memacu darah mengaliri pipiku cukup deras sehingga rona merah tercipta di kedua pipiku.
Draco Malfoy, ia mengulurkan tangannya padaku "Hi, aku Draco Malfoy." katanya. Aku menyambut tangannya "Hi, Aku Hermione Granger." kami sama-sama tersenyum.
Itulah perkenalan awal kami. Aku selalu menikmati setiap memoriku bersamanya dari sejak awal kami bertemu. Ia selalu berhasil menarik perhatianku dan membuatku terpesona tanpa perlu berusaha. Ia selalu tampak keren dan sikapnya yang dewasa, ceria, dan ramah benar-benar membuatku diam-diam memasang poster jumbo wajahnya di kamarku dan mengharapkannya sebagai calon suamiku kelak saat kami dewasa.
Asa-ku seakan bersambut saat kami mulai dekat, ia memperlakukanku dengan sayang, kami pergi bersama. Namun hatiku serasa hancur saat ia mengatakan pada semua orang bahwa ia hanya menganggapku sebagai adik.
Aku menjauh darinya sejak saat itu, bukan karena marah, tapi karena tak ingin jatuh terlalu dalam dengan perasaanku padanya. Nyatanya ia memang menjalin hubungan dengan Astoria Greengrass.
Aku berani bersumpah kalau aku benar-benar membenci wanita itu saat pertama kalinya Draco mengakuinya sebagai kekasihnya kepada semua orang, kupastikan tak ada seorangpun di dunia ini yang pernah membenci wanita itu sebesar aku membencinya ketika itu. Kebencian itu mendarah daging hingga sampai ketika ia membuat Draco tak bisa membacakan nominasi bersamaku di MTV Movie Awards.
Namun setelah itu, ketika aku tak lagi bertemu dengan Draco, aku melunturkan perasaanku terhadap Astoria maupun Draco.
Usahaku tak sepenuhnya berhasil. Aku mungkin tak lagi membenci Astoria, namun aku sama sekali tak berhasil menyingkirkan Draco Malfoy dari pikiran dan hatiku. Oleh karena itu, aku memacari beberapa pria di kampusku. Bukan bermaksud menjadi playgirl, hanya saja aku mencoba mencari seseorang yang dapat mengalihkan perasaanku padanya, namun ternyata aku tak menemukannya.
Ketika aku kembali ke Inggris setelah kuliahku selesai, saat itulah titik balik hubunganku dengan pria yang kini menjadi suamiku. Ia akhirnya memperjuangkanku! Ia memberikan pernikahan yang aku impikan dan idam-idamkan. Ia juga memberikan seorang pangeran kecil tampan dan seorang putri kecil cantik yang sedang berada di pelukanku saat ini.
"Kemarilah love!" panggil Draco.
Aku kembali duduk di kursi kafe sambil memangku Victoria, setelah mendudukan Scorpius di tempat duduknya.
Kami mengambil meja di teras kafe yang banyak dilalui pejalan kaki. Kadang ada yang mengambil foto kami sekeluarga secara diam-diam ataupun terang-terangan, terkadang juga ada yang lebih berani dengan mengajak kami foto bersama. Dengan ramah Draco selalu menerima permintaan mereka.
"Hi Mione, Hi Draco..." Elena datang bersama suaminya Theodore Nott.
Mereka mengambil tempat di meja yang sama dengan keluarga kami.
"Hi El, Theo... kalian membawa Eleanor." sahut Hermione.
"Tentu, ia sangat rewel dan terus meminta bertemu Scorpius." Hermione terkekeh.
"Anakku memang tampan, anakmu saja sampai tergila-gila padanya." kata Draco penuh nada mengejek yang lebih ditujukan untuk Theo.
"Kau yakin? Lihat saja sekarang siapa yang duluan menyambangi putri cantikku eh?" Theo menyeringai sambil mengedikkan kepalanya ke arah Scorpius yang berdiri di samping kursi putrinya.
Draco menaikan sebelah alisnya, sedangkan Hermione dan Elena hanya tertawa melihat ekspresi Draco.
"Kalau mereka memang saling mencintai, aku bersedia merestuinya. Eleanor cocok untuk Scorp, aku suka warna rambutnya yang gelap, mirip rambut kalian. Wajahnya juga cantik persis seperti perpaduan wajah kalian." Elena dan Theo berdeham tak nyaman di kursi mereka karena dipuji berlebihan oleh Hermione.
"Jangan kebanyakan memuji mereka Mione, nanti kepala mereka meledak! Hahaha..." ejek Draco yang kemudian mendapat pitingan dari Theo.
8 years of marriage
Semua fans-ku dan Draco kini dapat tersenyum lebar karena akhirnya kami bersatu seperti yang mereka harapkan selama ini. Dramione is real now dan kami telah bahagia hidup berdua.
Mengenai Astoria, kini ia telah bertunangan dengan Cedric. Mereka terlihat bahagia. Aku senang dengan kenyataan itu, membuatku tak perlu merasa bersalah karena telah merebut kebahagiaan orang lain.
Kini namaku Hermione Charlotte Duerre Malfoy nee Granger. Aku adalah istri dari Draco Malfoy sekaligus ibu dari Scorpius Hyperion Malfoy dan Victoria Jacqueline Duerre Malfoy.
Anak-anak kami tumbuh menjadi anak-anak yang pintar dan berbakat.
Scorpius selalu jadi favorit anak perempuan di sekolahnya karena otaknya yang encer, dan dia mahir main skateboard, padahal usianya baru tujuh tahun. Draco tak pernah absen mengajarinya sejak usianya lima tahun. Scorpius juga mengikuti kelas berkuda, dan lagi-lagi ia menjadi favorit guru dan teman-temannya karena selalu menjadi yang pertama berhasil menguasai teknik yang diajarkan.
Sedangkan Victoria yang baru berusia lima tahun sudah dapat memilih mode fashionnya sendiri, ia suka menggambar dan membaca, terkadang aku mendengarnya bersenandung dengan pelafalannya yang cadel, Draco bahkan pernah merekamnya dan meng-upload video Victoria yang sedang bersenandung ke akun instagram pribadinya.
Seperti janjiku sebelum aku menikah, aku akan mengurangi porsi kerjaku. Kini aku menepatinya dan mendedikasikan hidupku untuk suami dan anak-anak kami.
This is THE REAL END...
Ingin rasanya, saya mengetahui chapter berapa yang paling oke dan chapter paling absurd untuk kalian... :)
June 13th, 2015 [11.10 A.M]
DRUELLA WOOD
