Hold Me, Hyung!
Chapter 10
Banyak typo. Bahasa amburadul dan sulit dipahami.
Saya tidak suka aturan. Tapi jika itu membuat tidak nyaman, mohon peringatkan saya.
Terima kasih. Selamat membaca.
Setelah memastikan obatnya sudah tersimpan aman, Kyuhyun menutup tas sekolahnya. Memperhatikan penampilan sebelum melangkah keluar.
Hari ini tidak ada siapapun lagi. Kyuhyun mendengus kecewa mendapati meja makan kosong. Kibum sibuk. Awal memasuki perusahaan entertainment Korea dia sudah dijejali banyak jadwal. Dia populer, bahkan sebagai orang baru di negara kelahirannya. Kyuhyun tidak mengkhawatirkan karier hyungnya, sebaliknya dia cemas akan dirinya sendiri.
Kyuhyun menghela nafas panjang. Ini akhir Mei. Musim semi akan lewat. Dan apa yang sudah dia lakukan? Sampai sekarang, Kyuhyun belum membuka mulut perihal penyakitnya. Kedua hyungnya sibuk. Pergi pagi dan pulang malam. Sekalinya di rumah mereka menghabiskan waktu berisitirahat. Atau saat mereka memiliki waktu bersama, Kyuhyun tidak berani mengatakannya. Mulutnya kelu setiap kali akan mengawali.
Dia menemukan jalan buntu. Semakin hari semakin berkurang keberaniannya untuk bicara. Padahal tidak sekalipun dia berniat merahasiakan ini. Dia masih ingin sembuh. Hidup sehat lagi dan menikmati masa mudanya dengan energi penuh. Bukan pemuda penyakitan yang akan tumbang dengan mudah.
"Pagi tuan muda." sapa Yeun ahjumma.
Kyuhyun membalas sapaan pagi itu dengan singkat. Dia tidak hendak duduk dan sarapan. Dia merasa kenyang. Akhir-akhir ini nafsu makannya berkurang.
Setelah menerima bekal dan botol airnya, Kyuhyun pamit pergi.
Satu kali naik bis dan turun di halte yang sama setiap hari. Saat berjalan menuju sekolahnya, dia bertemu Jinki dan Eunhyuk yang sedang meributkan sesuatu. Dia menghampiri mereka.
"Jangan keras-keras, Jinki!" hardik Eunhyuk memukul kepala adiknya.
Jinki mengaduh seraya merengut lucu. Melihat Kyuhyun datang dia balik menyapa Kyuhyun.
"Kalian bertengkar?" tanya Kyuhyun membalas sapa Jinki.
Jinki menggamit lengan Kyuhyun cepat. Dengan gerakan mencurigakan menyodorkan sesuatu di perut Kyuhyun. Menekannya dengan telapak tangan, dan memberi kode Kyuhyun untuk menerimanya. "Itu untukmu saja. Sembunyikan itu dan jangan sampai ada fans Brian tahu. Atau kau akan dimasukkan ke dalam golongan haters Brian karena mendukung Iden." bisiknya tanpa jeda dan tidak memberi kesempatan bertanya pada Kyuhyun, Jinki kemudian berlari pergi begitu saja.
Eunhyuk yang melihat Jinki pergi, mendengus marah. Menggerutu panjang pendek. Kyuhyun yang melihatnya bingung. Tidak tahu apa yang terjadi hingga membuat sunbaenya itu kesal.
Kyuhyun beralih memeriksa apa yang disodorkan Jinki tadi. Sedetik lalu matanya membulat sempurna.
Tiket konser Iden K.
"Ini sungguhan?" Kyuhyun tidak percaya itu. Membolak balik tiket, memastikan. Tiket yang beberapa hari ini dia pikirkan, saat ini berada tepat didepannya. Di tangannya pula.
Eunhyuk berbalik. Terkejut melihat tiket yang dia berikan kepada adiknya kini berada ditangan Kyuhyun, buru-buru dia menurunkan tangan Kyuhyun, menyembunyikan tiket itu sampai tidak terlihat. "Kau harus hati-hati. Ada fans war di sekolah ini. Tapi ada juga beberapa fans yang netral. Beberapa itu cinta damai tapi jadi dikucilkan."
Kyuhyun mengerjap menatap Eunhyuk. Dia mencerna kalimatnya barusan. Beberapa detik kemudian dia mulai paham. "Eunhyuk hyung salah satu fans cinta damai itu?"
"Itu harus jadi rahasia." Eunhyuk memperingati.
Kyuhyun mengangguk paham.
Eunhyuk merangkul bahu Kyuhyun mengajaknya berjalan. "Kami yang cinta damai ini, selalu menjadi minoritas dan tidak terlihat. Tapi itu lebih baik daripada terlibat hal-hal buruk."
"Lalu tiketnya?" Kyuhyun masih memegang tiket tersebut.
"Untukmu saja. Jinki menolak dan memberikan tiketnya padamu. Dia memang tidak pernah mengidolakan siapapun. Kau pengecualian. Tapi kupikir dengan sedikit memberinya pengalaman akan membuatnya bisa mengidolakan orang lain. Tapi hal semacam itu pun tidak bisa dipaksakan, kan. Lalu bagaimana? Kau mau pergi denganku?"
Pergi ke konser Iden K? Jangan gila. Tentu saja Kyuhyun akan pergi.
Konser Iden K akan diadakan pertengahan Juli nanti. Beberapa hari setelah liburan musim panas. Kyuhyun pikir dia akan memaksa mengambil uang di tabungan. Berkorban tak apa demi melihat Donghae. Tapi tiket gratis dari Jinki ini, mengamankan tabungannya.
"Bagus!" seru Eunhyuk semangat mendengar jawaban Kyuhyun.
0o0o0o0o0o0
Kyuhyun tidak bosan-bosannya memandangi tiket pemberian Jinki. Ngomong-ngomong tiket itu dibeli Eunhyuk untuk Jinki, sebenarnya. Tadinya Kyuhyun akan mengganti uang, tapi Eunhyuk bilang, tidak perlu. Eunhyuk sudah senang ada teman pergi ke konser.
Beruntungnya dirinya hari ini. Pikir Kyuhyun. Mengangkat tiket itu Kyuhyun tersenyum sangat lebar.
Rasanya dia tidak sabar. Meski datang sebagai penikmat konser pun sudah cukup. Mengingat hyungnya yang disini tidak suka jika dia mengungkit kedua hyungnya yang lain, dia akan diam-diam pergi. Dia bisa dilarang keras, kalau mengatakannya.
Setelah menyimpan tiket itu baik-baik, Kyuhyun segera naik ke kasur. Dia sudah meminum obat dan sudah malam, waktunya dia tidur.
0o0o0o0o0o0
Jungsoo memijat tengkuknya, lelah. Saat berjalan ke pintu, dia melihat mobil Kibum datang. Dia berhenti menunggu adiknya bermaksud masuk bersama.
"Kau juga baru pulang, hyung?" tanya Kibum setelah Henry pergi. Managernya akan datang lagi besok pagi.
"Ya."
"Kau tidak berubah. Gila kerja." Kibum membuka pintu. Keadaan di dalam gelap, tanda semua sudah tidur. Memangnya siapa juga yang masih melek di jam 1 dini hari begini?
"Seperti kau tidak saja." sahut Jungsoo mengunci pintu.
Keduanya pergi ke dapur. Kibum mengambil dua gelas dan mengisinya dengan air putih, untuknya sendiri dan Jungsoo. "Aku artis, itu wajar."
Jungsoo mengangguk cuek. Dia ingin duduk sebentar. Mengambil nafas setelah seharian berkubang pada pekerjaan.
"Kyuhyun, dia tidak protes, ya." gumam Kibum.
"Maksudmu?" Jungsoo bertanya setelah menenggak setengah dari isi gelasnya.
Kibum mengangkat bahu. "Aku cemas dia kesepian atau dia tidak bisa memahami tuntutan kerja kita."
Jungsoo tersenyum lemah. "Mau bagaimana lagi. Inilah yang membuat kita sampai ada diatas. Kita tidak bisa memberinya apapun jika tetap seperti dulu, seharusnya dia mengerti." Jungsoo meneguk sekali airnya sebelum bangkit. Pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Kibum menghabiskan airnya lalu naik ke atas. Bukan ke kamarnya, tapi memasuki kamar Kyuhyun. Dia tersenyum kecil, mengetahui kamar Kyuhyun tidak pernah dikunci jadi dia bisa leluasa masuk.
Seperti sekarang, dia kembali menyelinap masuk ke dalam selimut Kyuhyun. Sebelumnya dia melepas mantel dan celana jens, menyisakan kaos putih polos dan celana pendeknya.
"Jaljayo, Kyunie." Kibum mengecup singkat kening Kyuhyun dan menyusul tidur.
0o0o0o0o0o0
0o0o0o0
0o0o0
0o0
Kyuhyun membalikkan badan, terkejut saat dirinya menabrak sesuatu. Membuka matanya yang masih mengantuk, samar dia melihat seseorang tidur disebelahnya. Mengerjap mengusir blur akhirnya dia bisa fokus pada sososk yang dia kenal.
Kibum.
Ini mengingatkannya kembali di saat pertama Kibum datang.
Tersenyum kecil, Kyuhyun mengusukkan kepalanya di badan Kibum. Mencari kehangatan dan segera kembali tidur.
Perbuatannya itu mengusik Kibum. "Kau bangun Kyuhyunie?" tanya Kibum membuka matanya redup.
"Heum." sahut Kyuhyun.
Kibum mengangkat kepala, mengintip Kyuhyun. Adiknya menyahut tapi matanya merem. Mengacak rambut Kyuhyun, Kibum gemas. "Malah tidur lagi. Ayo bangun."
"Ini akhir pekan. Aku ingin bersantai seharian." balas Kyuhyun dengan suara malas. Terlalu nyaman jadi dia ingin tidur lebih lama.
Kibum juga ingin bersantai, tapi dia ingat ada acara on air di salah satu stasiun TV. Melihat jam di kamar Kyuhyun, dia memperkirakan waktu yang dia miliki. Cukup untuk dia bersantai sedikit lagi. Jadi dia tidak bergerak dan menikmati momen paginya dengan Kyuhyun.
"Kibum hyung." panggilnya Kyuhyun kemudian.
"Heum?"
Kyuhyun membuka mata. Meski niatnya ingin tidur lagi, tapi rasa kantuknya yang tadi entah pergi kemana. "Aku masih tidak percaya kau seorang artis dan Jungsoo hyung adalah seorang pemimpin perusahaan."
Kibum terkekeh kecil. Lengannya menarik Kyuhyun lebih intens. "Jadi apa yang kau pikirkan tentang kami?"
Kening Kyuhun mengernyit, berfikir. Kibum tertarik memperhatikan ekspresi berfikir Kyuhyun. Mencubit kecil hidung bangir adiknya. Kyuhyun protes diperlakukan seperti anak kecil. Tapi apa jawaban Kibum, "kau memang masih anak kecil di mataku, Kyu."
Kyuhyun merengut, Kibum beralih merengkuh kepala Kyuhyun dan mengusap kecil sisi samping kepalanya.
"Aku bangga dengan kalian." ungkap Kyuhyun dengan jujur. "Kalian pasti sudah berjuang sangat keras."
"Tentu saja. Jungsoo hyung tidak berhenti berusaha. Dia orang hebat. Dan lihat apa yang dia miiki sekarang. Ini berbeda dengan kehidupan kita yang dulu. Dia juga aku, bisa memenuhi semua yang kau inginkan sekarang. Kau tinggal menyebutnya, semua akan ada untukmu. Apapun itu." Kibum sedikit menyombong, karena dia yakin satu hal, sekarang mereka memiliki semua untuk membuat Kyuhyun hidup layak.
"Apapun, ya." gumam Kyuhyun samar. Kyuhyun tersenyum. Menempelkan wajahnya di dada Kibum. "Wangi tubuhmu seperti orang tua, hyung."
"Yak!" Kibum mendorong Kyuhyun. Tawa Kyuhyun meledak.
"Kau ini." gerutu Kibum. Dia bangun, duduk masih dibawah selimut. "Belajar dari siapa sejahil itu, eoh."
"Evil hyung!" jawab Kyuhyun spontan. Dia ikut bangun, duduk bersila. "Aku masih ingat dia selalu menjahiliku. Jika tidak aku menangis atau eomma menegurnya dia tidak akan berhenti." Kyuhyun terus berbicara tanpa menyadari raut Kibum mengeras. Kibum menyibak selimut, menurunkan kedua kakinya menapak lantai.
"Kibum hyung." panggil Kyuhyun masih tidak sadar akan suasana hati Kibum yang berubah. "Fish hyung, juga seorang artis, kan? Nama panggungnya Iden K. Wau, dia keren! Changmin mengirimiku beberapa video musiknya. Sungguh luar biasa! Hyung cengeng itu, menjadi seorang bintang! Donghae hy…."
Deg!
Kalimat antusias Kyuhyun berhenti saat Kibum berbalik cepat dan mencengkeram kedua bahunya. Dia terkejut atas gerakan Kibum yang tiba-tiba. Apalagi mendapati tatapan tajam kakaknya. Sangat dalam dan dingin. "Bum hyung. Wae?" Kyuhyun bisa merasakan remasan tangan Kibum di kedua bahunya.
"Jangan menyebut namanya! Jangan, Kyunie! Kau tidak boleh mengharapkan mereka. Mereka bukan keluarga lagi!"
"Tapi,"
"Kyu!" ptong Kibum dengan suara berat. "Kau akan mendapat masalah dengan Jungsoo hyung jika keras kepala. Menurutlah. Tanpa mereka kau juga akan hidup dengan baik. Kami akan memenuhi semua kebutuhanmu. Kau tidak akan kekurangan. Kami akan mengurusmu dengan sangat baik sampai kau merasa tidak membutuhkan mereka. Kau hanya memiliki kami."
Kyuhyun menggigit bibir dalamnya. Ingin sekali bersikap frontal. Tapi tatapan tegas dan dingin Kibum lebih menakutkan dari Jungsoo. Ah dia mengerti sekarang. Bukan hanya Jungsoo, Kibum juga.
Hubungan mereka seburuk apa sebenarnya?
"Mianhe. Apa aku keras padamu?" Kibum menurunkan nada suaranya, menyesal, saat dilihatnya Kyuhyun menunduk dalam. Sadar sudah terlalu keras pada Kyuhyun. Mengurangi intensitas cengkeramnya, Kibum mengusap bahu Kyuhyun. Berharap itu tidak menyakiti tubuh adiknya.
"Ada apa dengan kalian? Kalian bertengkar?" tanya Kyuhyun ingin tahu. Dia beringsut mundur, melepaskan diri dari kedua tangan Kibum dan menyandar di badan ranjang. Menggeleng, menyembunyikan raut kecewanya. "Aku hanya ingin kita bersama. Kita keluarga tapi kenapa harus terpisah? Hidup sendiri, masing-masing seperti orang asing."
Kibum melepas pandang dari adiknya. "Ada hal yang tidak bisa menyatukan kita, Kyu. Sejak awal hubungan Jungsoo hyung dan Heechul hyung memang tidak pernah sejalan. Mereka berdebat hebat dan memendam kemarahan hingga saat ini."
"Tidak." sangkal Kyuhyun. "Aku masih ingat mereka baik-baik saja. Mereka pernah tertawa bersama." jangan bilang jika itu hanya halusinasi Kyuhyun. Atau dirinya yang masih terlalu muda untuk mengartikan segalanya dengan naif.
Kibum kembali menatap pada adiknya. "Ya. Tapi itu tidak bertahan lama. Kau mengalaminya sendiri malam itu. Heechul hyung pergi dengan Donghae hyung."
Kyuhyun membuang wajah. Itu bagian yang ingin dia lupakan. Itu malam yang buruk. Dia tahu ada pertengkaran, tapi karena Kibum terus menutup telinganya dia hanya mampu mendengar samar.
Baru paginya dia tahu mereka pergi tanpa kata kepadanya. Tapi bukan hanya mereka, Kibum juga Jungsoo melakukan hal sama. "Kau juga meninggalkanku di rumah paman." lirih Kyuhyun, jika harus mengingat malam itu, dia juga ingat apa yang terjadi setelahnya. Dia ditinggalkan di rumah Yesung oleh hyung yang sangat dia percayai.
Kibum tersentak, untuk sejenak dia lupa akan kenyataan itu. Bukan hanya Donghae atau Heechul. Dirinya dan Jungsoo juga bersalah akan hal itu. "Mianhe."
Kyuhyun menggeleng. Tersenyum kaku. "Jangan meminta maaf, hyung. Aku pernah merasa sangat kecewa dan kehilangan kepercyaan, tapi paman mengatasinya dengan baik. Dia mendukungku dan mempertahankan kepercayaannya pada kalian. Kenyataannya aku tidak pernah membenci kalian. Aku hanya ingin kembali bersama kalian. Apa tidak ada yang bisa menyatukan keluarga kita lagi?"
Kibum menggeleng. "Tidak ada."
Kyuhyun menatap manik Kibum. "Benarkah? Ada ada yang pernah mencoba suatu cara? Kau pernah berusaha untuk itu?"
Bukan jawaban melainkan menghindar. Kibum bangkit berdiri lalu pergi. Menyisakan Kyuhyun yang kecewa akan sikap Kibum. Kyuhyun membiarkan dirinya limbung ke kanan. Memejamkan mata dan meraih selimut untuk diremasnya kuat-kuat. "Kalian tidak ingin, bukan tidak berusaha."
0o0o0o0o0o0
0o0o0o0o0
0o0o0o0
0o0o0
0o0
"Dengar Iden. Kau pergi untuk konser. Jangan aneh-aneh. Kau hanya akan konser disana."
Donghae memutar mata bosan. Kalimat itu terus diulang Casey entah untuk keberapa kali di bandara ini, menjelang keberangkatannya ke Korea. 3 hari sebelum konser, untuk persiapan dan lain-lain. Berapa kali lagi Casey harus mengingatkannya sedangkan dia sudah sangat kesal mendengar penuturan yang sama. Tidak perlu diulang dan ditekankan kepadanya. Dia sudah memahami baik-baik.
Dia memang berterima kasih, berkat Casey, orang yang secara tidak langsung menghalanginya pergi ke Korea, dengan memanfaatkan hubungan baiknya dengan petinggi perusahaan agensi tempatnya bernaung, akhirnya melonggarkan sedikit peraturan tidak tertulis itu untuknya. Tapi tentu saja, Donghae memendam amarah karena campur tangan Casey atas gerak geriknya di dunia entertainment. Dia juga tahu apa saja yang dilakukan kakaknya itu dengan jadwalnya.
"Telingaku panas, Casey. Sungguh. Diamlah dan biarkan aku pergi. Lihat, Zhou Mi sudah menunggu sedari tadi. Atau biarkan dia yang melakukan konserku dan perusahaan ayah temanmu itu akan merugi."
Casey menyentak jaket Iden keras hingga adiknya itu terhentak. Meggeram kesal, Donghae sedikit menjauh. "Kau bukan hanya cerewet. Kau memberiku jalan ke Korea, tapi tetap membatasi gerakku. Memangnya kenapa jika aku keluar dan melihat Korea? Paling aku akan bertemu Kyuhyun." Iden berkedip imut. Sengaja untuk memanasi Casey. Dan seperti yang dia harapkan, Casey mencak-mencak marah.
Iden terbahak keras. Saat tawanya reda, dia menatap lurus pada Casey. "Aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti itu, hyung. Tapi tolong, Kyuhyun bukan musuh. Dia saudara kita."
Casey menghela nafas panjang dan dalam. Dia ingin mengatakan banyak hal. Tapi ragu apakah Donghae akan paham atau bahkan balik memandangnya aneh. Heechul yang hanya menerima hubungan keluarga berdasarkan hubungan darah. Heechul yang mengkhawatirkan banyak hal sekaligus takut akan banyak hal itu. Pikirannya rumit, tapi ketakutannya jauh lebih rumit.
"Pergi sajalah. Dan cepat kembali." usir Casey akhirnya. Inginnya menahan Iden, tapi sudah terlanjur.
Iden tersenyum. Menarik kopernya dia melambaikan tangan. "Jangan terlalu memikirkanku. Nanti calon kakak iparku bisa cemburu." ucapnya dengan jahil.
Casey hanya berdecak malas oleh sindiran Iden. Membiarkan adiknya melangkah menjauhinya dengan tertawa.
Masih bisa Casey dengar tawa Iden yang kian jauh. Casey menatap lurus ke depan, pada sosok adiknya yang melangkah. Perasaannya tidak nyaman. Dia takut akan sikap Iden. Dia takut akan keputusannya. Tapi hal ini sudah terjadi. Dia sendiri yang memutuskan untuk melonggarkan adiknya. Hanya untuk kali ini.
Ya. Casey bertekad hanya untuk kali ini dia akan biarkan Donghae melangkah hingga sejauh Korea. Tapi dia tidak akan membiarkan adiknya melangkah sedekat itu menuju Kyuhyun.
Donghae sendiri menyeringai licik saat jaraknya sudah cukup jauh dari Casey.
'Maaf Heechul hyung. Kali ini biarkan aku berbuat sesukaku. Kyuhyunie, kau tidak lupa padaku, kan.'
0o0o0o0o0o0
Kyuhyun mengusap lengan atasnya. Tidak sakit tapi warna keunguan itu seperti memar. Menurunkan kembali lengan kaosnya, dia menghela nafas. Dia harus pergi ke rumah sakit. Segera mungkin.
Dia bisa mengabaikan 'memar' palsu itu, tapi saat benjolan di leher atau ketiak, membuatnya tidak nyaman. Hal itu sering terjadi sekarang. Sakit kepala, lemas atau mimisan. Rasanya Kyuhyun sudah tidak bisa menahannya lagi.
'Bagaimana aku memberi tahu mereka?' selalu itu yang dibingungkan Kyuhyun.
Kyuhyun berdecak keras. Meraih jaket lalu mengenakannya.
Semua orang tidak ada di rumah. Yeun ahjussi dan Yeun ahjumma sedang pulang ke rumah mereka sendiri untuk menghadiri pernikahan anak mereka. Sudah dua hari ini dan dia mulai merindukan kedua orang itu.
Kyuhyun merasa sendirian jadi dia memutuskan untuk pergi keluar. Hari sudah sore, Kyuhyun tidak pergi jauh-jauh. Dia pergi ke minimarket membeli minuman dan membawanya ke sebuah kursi didepan minimarket tersebut.
Untuk beberapa saat dia memikirkan untuk menghubungi Yunho. Setelah merasa yakin dia memutuskan untuk menghubungi dokter itu.
'Anyeong Kyu. Ada apa?' jawab Yunho ditempatnya.
Kyuhyun terlihat ragu. Tapi dia sudah tidak bisa menundanya lagi. "Kau mengenal dokter kanker di rumah sakitmu, hyung?"
0o0o0o0o0
0o0o0o0
0o0o0
0o0
"Kyuhyunie!"
Kyuhyun menoleh. Junny datang menghampirinya dan menyodorkan sebuah bekal.
"Ryeowookie oppa ada keperluan di klub musik jadi aku menolongnya untuk menyerahkan ini padamu."
Kyuhyun menerima bekal tersebut. Keduanya berjalan bersama.
Junny bertanya kemudian. "Kudengar ada teman sekelasmu yang berkelahi. Apa itu benar?"
"Iya."
"Ah, sayang sekali." Junny mengulas senyum prihatin. "Jadi apa benar, itu karena masalah sepele?"
Kyuhyun mengangguk. Ada sisi hatinya yang ikut merasa sakit dan kesal.
"Di sini ada dua kubu fans. Masing-masing sangat labil dan sensitif. Tersinggung sedikit saja sudah berbuat anarkis. Apa ada yang terluka?" kembali Junny bertanya.
"Luka kecil. Tapi tetap saja itu memalukan. Beruntung sekali noona tidak berada di kubu manapun. Kau mengagumi Ryeowook hyung dengan sepenuh hati." jawab Kyuhyun seraya berkomentar jahil.
Wajah Junny memerah seketika. Dia gampang sekali merasa malu dan tersipu. Apalagi jika itu menyangkut Ryeowook. Kyuhyun jadi sering menggodanya.
Kemarin di kelas Kyuhyun heboh pagi-pagi. Dia baru tiba saat kelas sedang rusuh. Ada dua murid perempuan yang saling cakar dan jambak. Mereka bertengkar hebat. Tapi anehnya murid perempuan lainnya tidak melerai. Sebaliknya mereka seperti terbelah jadi dua kubu. Saling melempar tatapan sengit dan berbalas kalimat kasar.
Kyuhyun semakin tercengang mengetahui alasan mereka berkelahi. Mungkin mereka bisa menutupinya dari guru, tapi desas desus sekitar sangat jelas. Kedua kubu itu berkelahi lantaran komentar jelek terhadap idola mereka yang dilakukan fans artis lain.
Yang membuat Kyuhyun merasa berat adalah hal itu menyangkut kedua hyungnya. Artis yang diejek adalah hyungnya, artis yang didukung juga hyungnya. Lalu bagaimana dia harus bersikap selain tetap diam tidak berkomentar. Bersikap seolah cuek, sebatas prihatin sosial dan moral, tapi tidak masuk dalam pendukung atau mendukung.
"Ah, kita berpisah disini. Makan bekalnya, ne." Junny melambaikan tangan pergi di belokan tangga. Sedangkan Kyuhyun pergi ke lantai kelasnya.
Mendapati kelasnya masih dalam suasana panas. Dua kubu murid perempuan itu masih saling diam. Memang sebelumnya mereka tidak akur, tapi keadaan ini lebih buruk dari biasanya. Apanya yang disebut teman sekelas jika isinya adalah mereka yang bermusuhan.
Kyuhyun menghampiri Jinki. "Kau tidak bisa melakukan sesuatu?"
"Hahhh. Perempuan muda, mengerikan. Apalagi yang fans maniak seperti mereka. Abaikan saja." balas Jinki yang membuat Kyuhyun cengo seketika. Ketua kelas macam apa itu?! Sangat tidak bertanggung jawab.
Beruntung hari ini adalah hari terakhir sebelum liburan musim panas, jadi dia tidak perlu menambah hari suramnya mendapati suasana kelas yang mencekam. Berharap saja saat mereka kembali sekolah setelah liburan, pikiran mereka kembali segar dan melupakan pertikaian. Tidak perlu berubah jadi teman akrab, itu terllau mainstream malah. Setidaknya hanya kembali ke kondisi damai. Itu saja.
0o0o0o0o0o0
Kyuhyun datang ke rumah sakit tempat Yunho bekerja. Rumah sakit yang sama tempatnya memeriksakan diri. Dengan bantuan Yunho dia bisa mendapat jadwal periksa tanpa repot.
Hari ini dia datang untuk mengambil hasilnya. Tapi dokter wanita itu menatapnya dengan penuh arti. Dia dipersilahkan duduk lalu ditanyai tentang keluarganya. Dan berujung pada dirinya yang disuruh pulang.
"Besok datanglah lagi dengan salah satu hyungmu."
"Katakan saja sekarang." Kyuhyun menolak. Dia tidak ingin menunggu besok untuk datang dengan Jungsoo atau Kibum. Entah kapan mereka memiliki waktu. Waktu kedua hyungnya berharga. Saat matahari terbit hingga tenggelam.
"Maaf, Kyuhyun-ssi. Tapi ini cukup berat untuk dibicarakan denganmu. Aku butuh walimu."
Kalimat itu terdengar tidak baik di telinga Kyuhyun. Bukan dalam artian kasar, namun berupa kalimat halus untuk menyamarkan fakta buruk. Mendengarnya saja membuat Kyuhyun gugup.
"Penyakitku semakin parah? Sudah di stadium berapa?" percayalah, Kyuhyun berusaha keras untuk melontarkan pertanyaan itu.
Dokter wanita itu cukup terkejut mendapat pertanyaan langsung. Apalagi tatapan matanya yang menekan, memintanya untuk mengatakan langsung. 'Ini tubuhku, aku berhak tahu!' begitulah yang dia baca.
Menghela nafasnya, sang dokter dengan berat hati membuka mulut. "Stadium lanjut. Maaf, Kyuhyun-ssi."
Kyuhyun tidak berkomentar. Terlihat tenang tapi bibirnya bergetar. Dokter itu tahu, pemuda di depannya berusaha untuk tidak histeris. Sudah dia bilang, ini cukup berat dibicarakan kepada pasien.
Ruangan itu sunyi untuk beberapa waktu. Kyuhyun menunduk menenangkan diri, sedangkan sang dokter menunggu dengan sabar. Baru saat Kyuhyun mengangkat wajahnya, dokter itu kembali membuka suara.
Memutar berkas hasil pemeriksaan, benda itu diserahkan kepada Kyuhyun. "Simpan ini. Beri tahu pada keluargamu dan minta mereka untuk datang menemuiku."
Tangan Kyuhyun masih bergetar, mencoba meraih berkas yang disodorkan kepadanya. Dokter itu melihat tangan Kyuhyun dan meraihnya dalam genggaman. "Kuatlah. Kita akan menemukan cara untuk menyembuhkanmu. Yang perlu kau lakukan hanya beri tahu walimu. Kau tidak bisa sendiri, Kyuhyun." satu remasan lagi untuk mendukung pemuda itu.
0o0o0o0o0o0
"Ada apa dengan pembebasan lahan di Gwangju?"
Mendapat pertanyaan itu Jaejoong sedikit cemas, hanya karena profesionalis kerja dia bisa tenang. Dia meletakkan sebuah map di meja Jungsoo. "Semua pemilik lahan setuju dengan pembelian lahan mereka, nominal yang kita ajukan juga sudah disepakati, tapi masih ada satu lahan yang perlu diurus."
Jungsoo membalik-balik berkas yang disodorkan, membuka halamannya tanpa membaca. Dahinya mengerut tebal tidak suka saat mendengar asistennya bicara begitu. "Kenapa?" tanyanya dengan suara rendah.
"Pemilik sebelumnya telah meninggal dan lahan tersebut berada di tangan bank."
Jungsoo mengangkat kepalanya, menatap lurus pada Jaejong. Tanah yang menjadi tawanan bank akan jadi sulit dan panjang untuk diproses. "Jadi tanah lelang?" atau bisa cepat diurus dengan jalan tertentu.
"Tidak. Atau belum. Masih ada beberapa tahun untuk mengembalikan jumlah pinjaman sebesar itu. Presdir bisa melihat copian berkasnya. Aku mendapatkannya dari pihak bank. Tapi," Jaejoong menggantungkan kalimat.
Jungsoo menunggu penasaran kelanjutan ucapan asistennya.
"Apa sebelumnya Yesung-ssi menderita suatu penyakit?"
"Maksudmu?" Jungsoo tidak mengerti apa hubungannya tanah yang akan diambil alih dengan pamannya yang sudah meninggal. Jungsoo kembali memeriksa berkas di depannya. Kali ini membacanya. Nama sang paman ada disana sebagai pihak pertama peminjam.
"Dia meminjam dalam jumlah yang besar, untuk pengobatan. Tapi Yesung-ssi meninggal tidak lama setelahnya. Bank sudah mendapat pemberitahuan kematiannya namun mereka masih belum memutuskan tindakan selanjutnya. Saya rasa Kyuhyun akan segera mendapat surat pemberitahuan. Dia yang akan mengurus pelunasan pada bank, atau dia membiarkan bank untuk mengurus pelelangan tanah tersebut jika memang tidak sanggup untuk menebusnya."
Jungsoo masih tidak percaya jika tanah yang diincar untuk proyek barunya adalah tanah milik sang paman. Jika benar pamannya sakit, maka, hari itu, hari dimana sang paman datang untuk menemuinya apakah berkaitan dengan ini?
"Kita akan mendapatkan harga yang lebih rendah dari pasar jika tanah itu sampai masuk lelang, atau sebaliknya. Tapi karena ini berhubungan dengan Kyuhyun, lebih baik jika presdir sendiri yang memutuskan."
Jungsoo menutup berkas. Dia tidak bisa memutuskan hal ini langsung. Harus dipikirkan matang-matang, tapi juga tidak bisa lama. Kelangsungan proyeknya tergantung pada hal ini. Karena ini proyek bersama, dia tidak bisa bersantai.
"Aku akan memikirkannya."
Jaejoong undur diri setelah mendengar perkataan Jungsoo.
Melihat nominal yang dipinjam Yesung, tidaklah sedikit. Dengan pinjaman sebesar itu, pengobatan seperti apa yang dilakukan Yesung. Jungsoo mencoba mengingat pada pertemuan terakhir mereka. Wajah pamannya yang terlihat muram dan putus asa. Benarkah pamannya sakit? Lalu bersikeras menemuinya untuk apa? Karena sakit dia berusaha untuk menyerahkan Kyuhyun kembali?
Tapi bahkan Yesung masih terlihat sehat meski muram. Dia juga meninggal bukan karena sakit. Dilihat dari tanggal berkas ajuan, pencairan dana dan kematian Yesung, tidak mungkin uang itu sudah terpakai. Pengobatan macam apapun tidak akan sekilat itu.
Atau sebenarnya uang itu masih ada. Yesung belum memakainya. Jika uangnya masih ada, maka satu-satunya yang menyimpan uang itu adalah Kyuhyun.
0o0o0o0o0o0
Sudah tengah malam dan Kyuhyun masih duduk diam di sofa itu. Dia sedang menunggu. Siapapun yang akan pulang lebih dulu. Entah Kibum atau Jungsoo. Siapapun. Dia ingin mengadu tentang sakitnya. Tentang kekhawatiran dan rasa takutnya.
Ini lebih hebat dari yang dialaminya dengan sang paman.
Beberapa kali Kyuhyun melihat jam di ponselnya, hingga daya ponselnya itu meredup dan mati. Namun dia masih bergeming disana. Menunggu.
Sampai derum mobil itu tertangkap telinganya. Kyuhyun bangkit dengan reflek. Pintu rumah terbuka, Jungsoo masuk dengan jas tersampir dan wajah lelah. Tas kantor di tenteng di tangan kanan. Dia terkejut melihat Kyuhyun.
"Kau belum tidur?" tanyanya dengan nada menegur. "Kau harus tidur. Ini sudah sangat malam. Tidak bagus untuk pelajar sepertimu." kata Jungsoo seraya berjalan pergi ke kamarnya.
"Jungsoo hyung, ada yang ingin kubicarakan."
Jungsoo berhenti, memutar tubuhnya menghadap Kyuhyun. "Tidak bisakah besok saja?"
Kyuhyun menggeleng. "Ini penting." tanpa sadar Kyuhyun meremas jemarinya sendiri. "Aku,"
"Oh ya Kyuhyun. Apa benar paman meminjam uang ke bank dengan jaminan sertifikat tanah?"
Kyuhyun terkejut, menatap Jungsoo tidak percaya. "Hyung, tahu dari mana?"
"Jadi itu benar. Kau memiliki uangnya?"
Kening Kyuhyun berkerut tidak paham arah pembicaraan Jungsoo. "Uang itu,"
Jungsoo mengibaskan tangan. "Sudahlah. Kita bicara lain kali. Hyung lelah. Kau juga pergilah tidur."
0o0o0o0o0o0
0o0o0o0o0
0o0o0o0
0o0o0
0o0
"Huaaa kau sangat lincah Pooky. Anjing pintar." Kyuhyun memuji senang pada anjing berbulu putih tersebut.
Yunho tengah tersenyum memperhatikan mereka. Kyuhyun dan Pooky. Kyuhyun datang jam 9, waktu yang tidak biasanya. Berhubung Kyuhyun sudah libur sekolah, dia akan lebih sering dtaang sepertinya. Kebetulan Yunho juga ada, jadwalnya di rumah sakit masih sore nanti.
"Apa kau berfikir dia seperti Shiro?"
"Heum? Shiro? Nugu?" tanya Kyuhyun dengan tangannya mengusap gemas kepala Pooky.
"Kau tidak tahu?! Shiro, karakter anjing di kartun Sinchan."
Kyuhyun menggeleng setelah mencoba mengingat kartun apa saja yang dia tonton selama ini, dan apakah Sinchan termasuk yang pernah dia lihat. Sayangnya, tidak. Tidak ada TV di rumah sang paman. Memiliki kesempatan nonton TV hanya saat dirinya pergi ke rumah Siwon atau Ryeowook.
Yunho mendecak heran. Menyesap teh madu miliknya. "Itu kartun Jepang. Dia anjing yang menggemaskan. Sayangnya si tuan adalah bocah nakal yang kelewat mengesalkan. Bagusnya, Sinchan selalu beruntung. Jadi Shiro pasti baik-baik saja memiliki tuan yang seperti itu."
Mendengar itu Kyuhyun tertegun. Wajahnya perlahan kehilangan keceriaan. Sendu berbayang. Pooky berbeda dari Shiro. Dia juga bukan Sinchan. Tidak ada keberuntungan yang dia miliki untuk mempertahankan Pooky disisinya.
Pooky menyalak sekali, menatap pada wajah mantan majikannya yang muram. Kyuhyun mengulas senyum, menepuk sayang pucuk kepala anjing itu.
"Syukurlah Pooky. Kau dirawat dengan baik disini. Kau memiliki keberuntunganmu sendiri." ucap Kyuhyun berbisik seraya mengulas senyum. Benar, beruntungnya Pooky diterima di tempat Yunho. Dan beruntungnya dirinya masih diperbolehkan datang bermain.
Yunho kembali menoleh ke halaman merasa mendengar Kyuhyun bergumam. "Kau mengatakan sesuatu?"
Kyuhyun mengelak dengan gelengan.
"Bagaimana pemeriksaanmu, Kyuhyun?" Yunho bertanya karena penasaran. Teman dokternya juga tidak mengatakan apapun. Jadi dia bertanya langsung kepada Kyuhyun.
Kyuhyun tertegun. Menerawang jauh. Yunho jadi diam. Namun tidak ada sepatah katapun yang dikatakan Kyuhyun. Sampai saat pemuda itu berpamitan menjelang tengah hari. Yunho menawarinya tumpangan tapi ditolak Kyuhyun. Membuat lelaki itu merasa tidak enak telah mengajukan pertanyaan.
0o0o0o0o0o0
Kyuhyun tidak mendapati kedua hyungnya. Hal yang biasa terjadi sekarang. Dia memasuki kamarnya, lalu keluar lagi dengan sebuah map dari rumah sakit.
Membawa map tersebut ke kamar tidur Jungsoo. Dia tidak pernah masuk ke kamar pribadi kakak tertuanya, apalagi tanpa seijin pemilik kamar yang sedang pergi ke lar negeri, membuatnya tidak tenang. Tapi jika tidak begini maka dia tidak akan pernah bisa memberi tahu hyungnya.
Meletakkan map tersebut di meja bersama berkas yang menumpuk disana. Kyuhyun memperhatikan sebentar kamar hyungnya. Luas dan putih, hanya sedikit warna yang berasal dari benda-benda pajangan.
Tidak banyak benda di sisi ruang tidur, namun meja kerja Jungsoo penuh dengan tumpukan kertas, juga rak besar dan tinggi di sisi dinding.
Mata Kyuhyun terus mengedar, seolah mencari sesuatu. Lalu matanya berhenti di nakas samping ranjang Jungsoo, dia pergi kesana. Melihat benda persegi yang diletakkan diatas meja kecil itu.
Sebuah foto. Foto Jungsoo dan Kibum. Hanya itu tidak ada yang lain.
Mengulas senyum tipis, Kyuhyun berbalik keluar. Dia berharap Jungsoo menemukan surat kesehatannya saat pulang dari urusannya di New York.
0o0o0o0o0o0
0o0o0o0o0
0o0o0o0
0o0o0
0o0
Malam di konser Iden K. Kyuhyun menyelinap keluar, dengan dalih mengerjakan tugas liburan musim panasnya di rumah teman. Beruntung Kibum tidak banyak bertanya. Kakaknya terlalu menikmati hari senggangnya, tidak curiga sama sekali. Kyuhyun hanya sedikit gelisah saat Kibum berniat mengantar. Syukurlah dia bisa berkilat dengan baik.
Dan disinilah dia sekarang. Berdesakan dengan yang lain di tempat konser yang pengap, panas dan bising. Tapi semua itu seolah lenyap untuk Kyuhyun. Dia melihatnya, melihat hyungnya di atas panggung. Penuh semangat dan tidak lepas dari senyum.
Tiga jam berlalu. Kyuhyun tidak merasa penat. Ikut berteriak dan memberi apresiasi terbaik sebagai fans dan penonton. Dia bnar-benar menjelma menjadi fans dadakan. Kyuhyun menikmati malamnya dengan penuh energi. Dia merasa senang dan puas.
"Kau tidak apa menggantikanku mengikuti acara itu?" tanya Eunhyuk saat konser berakhir dan mereka semua keluar.
Ada acara fansign yang diadakan usai konser. Meski harus menunggu satu jam lagi. Eunhyuk ingin melakukannya sendiri. Tapi ibunya sudah menghubunginya berkali-kali, mengancamnya untuk segera pulang. Ini sudah jam 11 malam, Kyuhyun seharusnya juga harus pulang.
Tapi sayang tiket mujur yang didapat Eunhyuk jauh-jauh hari dari sebuah undian, jika tidak terpakai. Jadi Kyuhyun bilang akan menggantikannya.
"Tidak apa." Kyuhyun mengambil alih disk album Iden K, yang dibawa Eunhyuk. "Akan kupastikan tanda tangan Iden K disini." tunjuk Kyuhyun pada album tersebut, memastikan pada Eunhyuk.
"Bagaimana pulangmu nanti?" tadi mereka berangkat bersama menggunakan motor Eunhyuk. Jika malam begini bagaimana Kyuhyun akan pulangnya nanti.
"Jangan cemas. Aku masih bisa menemukan bus malam." Kyuhyun jadi tidak enak sendiri melihat subaenya itu berat untuk pergi. Padahal dia yang memanfaatkan tiket fansign Eunhyuk untuk bisa lebih lama melihat Donghae.
Eunhyuk terlihat tidak rela, tapi bagaimana lagi. Ibunya itu sangat cerewet, padahal dia juga ingin ikut hadir di acara itu. Jarang-jarang dia berkesempatan dalam sebuah acara eksklusif. "Baiklah. Tapi hubungi aku jika kau tidak mendapat bus. Aku akan datang menjemputmu nanti."
Kyuhyun mengangguk, Eunhyuk pun pergi dengan berat hati. Eunhyuk itu sangat mengagumi Iden. Sebagai pecinta dance, dia berkeinginan menjadi sepert Iden K yang dimatanya sangat keren.
0o0o0o0o0
"Korea, sudah lama aku tidak datang kemari. Ini untuk yang pertama selama karierku. Beruntung kalian mencintaiku sangat banyak hingga aku sampai disini. Melakukan konser di tanah kelahiranku. Itu sangat menakjubkan dan sangat mengagumkan. Kalian yang terhebat. I love you."
Kyuhyun menatap takjub. Dia tidak mendapat kursi depan, tapi dengan jarak ini dia masih bisa melihat jelas wajah hyungnya.
Seorang penggemar menanyakan sesuatu yang membuatnya ikut menunggu dengan penasaran jawaban Iden K.
"Apa ada yang kau ingat tentang Korea? Seseorang yang kau rindukan disini? Atau seseorang yang penting yang ingin kau temui?"
Iden tidak langsung menjawab. Dia menatap semua penggemar yang berada di ruangan, tidak lebih dari 60 orang. Tidak semua mendapatkan kursi, yang berdiri harus berdesakan hanya untuk bertatap langsung dengan dirinya. Dia seharusnya meminta ruang yang lebih luas dari ini. Dia menicntai fansnya, jadi berusaha untuk memberi yang terbaik untuk mereka.
Donghae mengerjap saat matanya melihat sosok Kyuhyun. Lebih tenang dari yang lain. Kedua maniknya bertemu dengan miliknya. Untuk sesaat Donghae tertegun tidak paham. Dirinya seolah tenggelam dalam manik hitam itu.
Donghae disadarkan oleh sentuhan pelan oleh Zhou Mi di sebelahnya. Membisikkan sesuatu agar dia segera menjawab pertanyaan barusan.
"Ah. Sesuatu seperti itu." Donghae diam sebentar. "Aku kehilangan orang tua ku saat masih sangat muda. Kemudian aku bersama kakakku pindah ke Amerika. Kalian sudah tahu tentang itu. Kami hanya berdua. Dia yang mendukung karierku. Dia yang terbaik. Korea adalah kelahiranku. Banyak hal yang bisa membuatku ingat dengan Korea. Seseorang yang ingin kutemui sudah ada bersamaku. Dan tentu saja, kalian-lah yang kurindukan. I really love you."
Para penggemar menjerit-jerit heboh. Donghae itu memiliki kesan playboy gentle. Suka membuat fans perempuan tersipu kegirangan. Kyuhyun hanya tersenyum tipis. Dia bahkan nyaris berdecak atas ucapan manis idol itu.
Donghae tersenyum lebar. Melanjutkan kata-katanya, "sekarang, untuk kalian aku datang dan akan selalu mengingat betapa menakjubkannya Korea. Aku akan rindu untuk datang lagi dan lagi. Hanya untuk kalian. You are my air."
Di penghujung acara Donghae mengatakan kembali rasa terima kasih pada fansnya. Kemudian tiba pada acara fansigh. Adalah saat mereka berbaris untuk menyapa Donghae dan meminta tanda tangan. Kyuhyun ada di antrian. Memegang erat kaset album Eunhyuk.
Jantungnya berdebar keras. Grogi, tidak sabar namun juga tidak fokus. Jawaban terakhir sebelum sesi ini membuatnya merasa Donghae sudah melupakan dirinya. Seperti yang Kibum bilang. Donghae hanya dengan Heechul. Mereka satu yang terpecah menjadi dua kubu berseberangan. Dia sebelumnya tidak tahu sampai dia kembali tinggal bersama Jungsoo.
Donghae di depannya sudah menjadi orang lain. Meninggalkan saudara dan membangun hidupnya sendiri.
"Maaf!"
Suara yang menyentak itu namun tetap ramah membuyarkan lamunan Kyuhyun. Kiranya dia tidak sadar jika sudah sampai pada gilirannya berhadapan dengan sang idola. Dia bahkan tidak tahu jika album yang dipegangnya sudah berpindah tangan di tangan Donghae. Yang sekarang sedang menatapnya dengan cara yang berbeda.
Ada binar jenaka di mata Donghae.
"Iya?" tanya Kyuhyun bingung.
Donghae tersenyum geli. "Kutulis siapa? Ini milikmu."
Kyuhyun melihat pada ujung spidol Donghae, yang siap menggoreskan tanda tangan. Oh, Donghae sedang menunggunya untuk sesuatu.
"Eunhyuk." jawab Kyuhyun kemudian. Maka spidol itu bergerak dengan cepat. Membentuk garis garis lengkung menunjukkan seorang Donghae, sang super star. Di bawah tanda tangan itu tertulis ucapan kecil untuk Eunhyuk.
0o0o0o0
Kyuhyun masih menunggu bus untuk pulang. Menatap lekat pada tanda tangan Donghae juga sebuah kalimat yang ditulis disana.
'for amazing fanboy, Eunhyuk.'
Kyuhyun mendengus seraya tersenyum. Memasukkan album tersebut dan memasukkannya ke dalam ransel. Lalu mengetik pesan untuk Eunhyuk. Setelah mengirim pesan singkat yang berisi dia sudah meminta tanda tangan Donghae dan dia diperjalanan pulang, Kyuhyun tidak melakukan apapun lagi. Dia duduk diam menunggu bus.
Menggosok tangannya mulai merasakan dingin. Beberapa mobil hitam lewat di depannya. Sekilas Kyuhyun hanya melihat kemudian beralih pada bus yang terlihat dari jauh. Lega karena bus sudah datang, Kyuhyun bersiap menggendong ranselnya. Dia berdiri enunggu bus itu sampai di depannya.
0o0o0o0
Donghae kembali duduk tegak setelah melihat penasaran pada pemuda yang di halte tadi. Dia memastikan jika pemuda itu memang benar salah satu fans nya yang datang saat acara usai konser tadi. Donghae tidak lupa. Dari sekian banyak fansnya, lelaki maupun perempuan, tidak ada yang seperti pemuda tadi. Rasanya beda. Ada sesuatu yang membuat Donghae tertarik untuk menatapnya. Matanya seolah berbicara.
Rasanya familiar. Bahkan dalam waktu sesingkat itu Donghae sudah hafal wajah itu. Tahi lalat, kulit putih pucat, garis bibirnya yang bagus, hidung mancung dan matanya yang hitam. Ekspresinya yang menggemaskan saat merespon pertanyaannya, seolah disadarkan dari dunia fiksi.
Tanpa sadar Donghae tersenyum sendiri, kekehannya mengundang tanya Zhou Mi.
"Ada apa?" tanya pria kurus tinggi berdarah Cina yang duduk di sebelahnya. Sebuah tab setia berada di tangan untuk membantunya bekerja. Dia mengolah semua jadwal sang super star.
"Tidak." geleng Donghae tidak mau jujur. "Jadi apa selanjutnya?" Donghae menanyakan jadwalnya. Berharap bisa segera merebahkan diri di ranjang hotel tempatnya menginap.
Tersenyum sabar. "Kau yang meminta semua jadwal di cancel. Dan kau masih bertanya apa selanjutnya?" tanyanya sarkastis.
Sang idola justru tertawa. Dia hanya menggoda tapi si manager terus-terusan sinis tentang jadwal itu. Tentu saja masalah seperti itu yang pertama kali kena omel adalah si manager, dia mah terima beres meski tidak pelak kena teguran juga.
"Ayolah, Zou Mi kau juga butuh liburan ini. Mari kita menikmatinya." kemudian Donghae merebahkan punggungnya nyaman. Memejamkan mata, berpesan untuk membangunkannya begitu sampai di hotel.
Donghae sudah memiliki banyak rencana untuk esok. Konsernya memang berlangsung sehari, tapi dia akan tinggal cukup lama disini. Namun yang terkabar adalah Iden K kembali ke Amerika begitu konser berakhir.
Tidak. Tidak. Dongahe tidak terima rencana itu. Dia sudah di Korea. Kenapa harus tanggung-tanggung. Heechul sepertinya salah dengar atas permintaannya. Dia ke Korea bukan untuk bekerja. Melainkan demi menemukan adiknya.
Heechul pasti menyadarinya, tapi selama dia diam, maka Dongahe anggap kakaknya itu masih toleran. Dia akan memanfaatkannya sampai perusahaan memanggilnya pulang.
TBC
Saturday, December 31, 2016
7:04 AM
Sunday, January 1, 2017
10:06 PM
Sunday, July 9, 2017
9:23 PM
Sima Yu'I
(SY'I)
