Love More #Special
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
Story by ts the dj
Genre : Romance / Humor
Warning : AU, Highschool, Absurd Teenager, OOC
Chapter 10 #SpecialChapter
Selamat Ulang Tahun Our Baddest Kazekage in Town, Gaara-chan!
19 Januari
.
.
.
.
Tokyo, 10 years ago.
Aku menghela nafas panjang sekali lagi.
Namaku Lau Williams. Umurku? Yeah masih pertengahan 25. Such a mature age for a woman who have no jobs like me. Hari ini, aku baru saja menerima balasan application letterku yang ke-5 kalinya dan selalu berakhir dengan 'Sorry, you are not qualified for our Company.'
Sigh.
Terkadang aku menyesali meninggalkan tanah kelahiranku sendiri untuk mengadu nasib di negeri orang. Mencari pekerjaan itu bagaikan mencari jarum di tumpukkan jerami. Susah. Tetapi tidak mustahil. It just another bad day, gumamku.
Beberapa kali, aku mengusapkan kedua tanganku agar terdapat sedikit rasa hangat. Musim dingin di Tokyo memang terkadang menghambat pergerakan. Brrr.
Dengan langkah gontai aku memutuskan untuk membeli cup ramen di toko kelontong seberang jalanan dorm ku. "Hmm must be delicious." Gumamku lagi.
Dengan hati yang berusaha kutabahkan, aku meremukkan surat penolakkanku dan melemparnya ke tong sampah diluar. Membuangnya ke tong sampah dalam rumahku saja aku tak sudi.
Begitu mengenakan coat dan sarung tanganku, aku bergegas menuju toko kelontong untuk membeli ramen dan ah mungkin beberapa gelas sake tak akan menyakitiku.
Suara bel pintu tua penanda pengunjung datang yang sangat terdengar familiar ditelingaku kembali berdering, begitu aku membuka pintu. "Ohayou Gozaimasu." Sapa sang Bibi penjaga toko seraya membersihkan apronnya. Senyumnya sumringah begitu melihat pelanggan, maklum tokonya terlihat sepi akhir-akhir ini.
Aku mengangguk dan mencoba senyum seadanya. Moodku sangat tidak baik untuk sekedar faking a smile saat ini. Aku bergegas mengambil 1 cup ramen instan dan langsung menyeduhnya. Setelah membayar beberapa yen, aku bergegas duduk disalah satu bangku yang disediakan didalam toko kelontong. Seraya menunggu kopi orderanku, aku memilih duduk dibangku dekat jendela yang menghadap ke jalanan tertutup salju. Geez.
Asap tipis menyembul begitu aku membuka ramenku, menyadari ramenku belum matang. Aku menutupnya lagi dan mencoba membuka koran terbaru untuk entah yang keberapa kalinya—mencari pekerjaan.
Keuanganku bulan ini semakin menipis, biaya sewa dormku pun tidak murah dan Tokyo bukanlah kota yang ramah pendatang. "Kopi anda, Nona.." kata Bibi seraya meletakkan kopi pesananku. Untuk yang kedua kalinya ia tersenyum ramah lagi padaku.
"Arigatou." Balasku, tersenyum. Sungguh Bibi ini tulus melakukan senyuman itu. Untuk beberapa saat, kulihat Bibi terpaku ditempatnya berdiri.
"Ehh..apakah Nona sedang mencari pekerjaan?" tanya Bibi lagi, mungkin ia melihat aku sedang memegang koran ditanganku dan stabilo ditanganku yang satunya lagi. Aku mengangguk.
"Ah.. e-etto— kemarin aku sedang berada di stasiun, kulihat ada iklan sebuah restoran ayam yang membutuhkan pekerja paruh waktu..di daerah Yokohama" katanya seraya menatap mata hitamku. Kulihat Bibi ini mengeratkan pegangan tangannya pada nampan toscanya.
Aku mencoba tersenyum, "Terima kasih atas infonya, Bi." Sungguh informasi yang mungkin berguna untukku.
Pekerja paruh waktu di restoran ayam?
Bibi itu mengangguk, "Nikmatilah makananmu, Nona" ujarnya lagi seraya berojigi. Ia pun kembali ke meja kasir.
Aku pun teringat akan ramenku. "Aaah.." baunya menguar kala aku membuka tutupnya. Sedikit dingin, tetapi masih enak. Aku pun mengaduk ramenku.
Toko kelontong ini sangat sepi. Saat ini pun hanya aku, Bibi, dan seorang Kakek yang tengah memilih sikat gigi. Dari awal ku memasuki toko ini, sepertinya sang Kakek belum menemukan sikat gigi pilihannya.
Aku pun memutuskan menikmati ramenku. "Sluuurp~" tetap enak.
Aku sedikit tersedak kala bel pengunjung kembali berbunyi agak keras. "Ohayou Gozaimasu." Kudengar suara Bibi kembali menyapa pengunjung.
Kesal. Aku mencoba melihat siapa pengunjung yang membuka pintu dengan kasar serta tidak sabaran.
"Ohayou gozaimasu." Oh. Hanya bocah kecil, batinku. Mencoba memaafkan, aku mencoba tidak peduli dan melanjutkan makanku.
Bocah itu berlari menuju counter makanan dingin dan mencoba menggesernya. Tampaknya ia sedikit kesusahan menggeser mesin itu karena tubuhnya terlalu kecil dan ia tampak kedinginan. Aku memicingkan mataku begitu melihat sang bocah kesusahan. Menghela nafas, aku berusaha bangkit untuk membantunya.
Namun, sepertinya niat baikku disela duluan oleh si Kakek sikat gigi yang membantu bocah itu menggeser— hm? Freezer es krim?
"Arigatou, Ojii-chan." Kata bocah itu. Ia pun dengan cepat mengambil 2 buah es krim seraya melompat menutup kembali freezer tersebut. Sang Kakek mengangguk seraya kembali ke counter sikat giginya. Ugh.
"Sluuurp~ ah" kopinya enak. Ah si Bibi pandai juga membuat kopi.
Bocah itu terlihat kembali berlari ke kasir untuk membayar es krimnya seraya menyerahkan 2 keping 50 yen dari saku mantel cokelatnya. Sekilas kuperhatikan raut wajah Bibi agak bingung, si Bibi pun membungkukan badannya sedikit. "Emm bagaimana kalau es krimnya Bibi tukar dengan yang lain?" tanya Bibi lembut.
Bocah itu menggelengkan kepalanya dengan kuat, "Hime-chan suka rasa blueberries."
Bibi itu menghela nafas, "Eh? Emm.. kalau begitu apa Akihiko-kun punya 50 yen lagi?" tanya Bibi hati-hati.
Aku tertawa dalam hati. Dasar bocah, di cuaca yang dingin seperti ini dia masih juga mau makan es krim.
Bocah itu terlihat merogoh saku mantelnya kembali dan memperlihatkan sakunya yang kosong kepada sang Bibi. Bocah itu terlihat menggaruk kepalanya. Ia terdiam.
Bibi tersenyum, "Baiklah, tidak apa-ap—"
"Tunggu sebentar, Obaa-chan!"
"E-ehh?"
Hm? Aku memiringkan kepalaku. Bocah itu terlihat menyodorkan kembali 2 es krimnya dan bergegas keluar dari toko kelontong. Ia terlihat kebingungan dipinggir jalan.
Aku mendesah. Paling dia mencari orangtuanya untuk meminta uang, gumamku.
Bocah itu terlihat bukan seperti orang susah menurutku. Mantel cokelat dengan aksen bulu lembut dibagian leher serta syal hitam dengan sepatu boots kecil. Dan oh ya, satu hal yang sangat menonjol, rambut bocah ini. Merah crimson acak-acakan. Kulitnya begitu putih bersih, hidung mancung dengan mata hijau turqoise. Dia akan menjadi pemuda yang tampan, gumamku kagum.
Aku masih memperhatikan bocah itu dari tempatku duduk seraya berpikir dimana Ibu atau Ayah yang anak ini akan minta uangnya?
Tanpa kuduga, anak ini terlihat menyebrangi jalan saat lampu merah seraya mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi. Badannya terlihat kecil, hampir tertutup mobil-mobil yang berhenti.
Aku tertawa, "Bagaimana bisa dia menyebrang dengan pandangan kebawah namun tangannya terangkat tinggi."
Anak berambut merah itu terlihat menghampiri toko ikan didekat lampu merah tadi. Untuk beberapa saat, kulihat anak itu tengah berbincang dengan seorang bapak-bapak berusia sekitar 50 tahunan. Tetapi, bapak itu tidak ada miripnya sama sekali dengan anak itu.
Aku menghela nafas dan mencoba tidak peduli. Kulihat Bibi pun tengah memperhatikan kedua es krim blueberries yang ditinggalkan anak itu, sepertinya Bibi menyesal dan segera mengembalikan es krim itu ke freezer. Aku menyeruput kopiku lagi yang sudah kuabaikan beberapa saat seraya kembali berkutat dalam koranku.
Betapa kerasnya aku berusaha fokus pada koranku, hatiku entah kenapa tidak tenang, penasaran. Sekali lagi, aku menengok ke jendela toko kelontong ini mencari keberadaan bocah merah itu.
Dia disana.
Aku melihat bocah itu lagi. Aku berusaha mengelap kaca jendela yang berembun, salju turun lagi. Bocah itu ada diseberang jalan, ia sedang mengangkat kardus-kardus ikan yang berdatangan dari dalam truk kontainer yang terparkir di pinggir jalan. Holy-
Seketika aku tertegun, bocah itu sangat menggemaskan. Apakah ia bekerja disana? Gumamku lagi. Tetapi akal sehatku menolak itu, ia sama sekali tak terlihat seperti orang susah. Tangan kecilnya pun terlalu lembut dan bersih untuk melakukan pekerjaan semacam itu. Tanpa kusadari aku kembali mengabaikan kuah ramen favoritku karena lebih memilih menonton bocah itu bekerja.
Beberapa menit berlalu dan kurasa kardus terakhir dari truk itu sudah masuk ke dalam toko. Bocah merah itu kedinginan. Kulihat ia menarik topi kupluk hitamnya dengan ragu dari balik mantelnya dan bergegas memakainya. Aku menahan tawa sekali lagi, topi bocah itu sangat imut dan dia mengenakannya. Ugh sangat imut, topi itu bergambar panda dengan dua telinganya yang menonjol.
"Terima kasih sudah datang Ojii-san." Kata Bibi seraya menyerahkan bungkusan plastik yang kutebak berisi sikat gigi pada sang Kakek. Kakek itu tersenyum seraya bergegas meninggalkan toko. Aku menyempatkan diri untuk mengangguk seraya tersenyum pada sang Kakek sebelum ia akhirnya keluar.
Aku menyisir rambut hitamku dengan perlahan, sampai mana aku tadi—
Ah!
Bocah itu masih disana. Ia terlihat berbincang dengan laki-laki tua awal tadi. Bocah itu selalu menunjukan angka 5 dengan tangan kecilnya yang berlapis sarung tangan kulit hitam.
"Hatchi!~ uhuk! Uhuk!" reflek aku menutup mulutku. Meskipun aku berada dalam toko sepertinya udara dingin ini masih saja terasa. Aku pun sedikit merasa khawatir pada bocah menggemaskan itu. Beberapa waktu berlalu, aku tak menyangka menghabiskan beberapa puluh menit untuk menonton bocah merah itu. Kurasa dia menjadi objek favoritku di Jepang.
Mataku membulat sempurna tatkala melihat bocah itu kembali menyebrang jalan dengan satu tangannya terangkat keatas dengan— 2 lembar uang 1000 yen. Still. Dengan mata tetap ke bawah dan tangan memegang uang terangkat. Aku tertawa. He's truly something.
Mataku menyipit tatkala bocah merah itu berlari menuju kemari.
Kring!
Aku terpaku.
"Obaa-chan! Obaa-chan!" panggil bocah merah itu seraya berjinjit untuk melihat kasir yang kosong. Untuk beberapa saat, mata hitamku bertemu langsung dengan mata turqoise bocah ini. Sungguh, mata itu terlihat sangat polos dan disaat bersamaan terlihat tajam.
He's going to break many hearts, gumamku masih menatapnya.
"E-eh? Akihiko-kun?" Bibi terlihat tergesa-gesa kaget menghampiri bocah merah itu seraya merendahkan badannya, menatap langsung turqoise itu.
"Ne, Akihiko-kun ingin es krim? Ambilah es krim untukmu dan Hime-chan ne? Habis itu pulang ya.. Bibi traktir hari ini" kata Bibi seraya menepuk-nepuk mantel yang terlihat mahal penuh salju itu. Bibi terlihat sangat khawatir. Bocah itu menggeleng lagi kuat, pipinya terlihat mulai memerah. Bibi terlihat bingung, "Ne? Tidak mau?" ia pun memasang muka sedih seraya membetulkan topi kupluk panda yang terlihat miring itu.
"Aku beli." Dan bocah itu menyodorkan 2 lembar uang 1000 yen itu pada Bibi.
Aku. Masih duduk dimejaku dengan kopi dan kuah ramenku yang sudah dingin, tatkala bocah itu, yang beberapa menit sebelumnya terus kuperhatikan diujung jalan tengan mengangkat dus ikan dari truk. Aku benar-benar kehilangan kata-kata.
Bibi terlihat kehilangan kata-kata.
Kulihat Bibi merangkum wajah bocah itu seraya tersenyum. "Baiklah, ayo kita pilih es krim Akihiko-kun dan Hime-chan. Blueberries?"
Bocah bertopi kupluk panda itu mengangguk mantap.
Dan bocah itu terlihat keluar dengan menenteng 2 kantung kecil. Satu kantong berisi 2 es krim dan satu kantong lagi berisi kembalian yang Bibi tegaskan untuk dibawa bocah merah itu pulang. Bocah merah itu, yang Bibi dan diriku setuju untuk memanggilnya— Akihiko-kun terlihat menghilang dibelokan trotoar dekat lampu merah.
Love More
#SpecialChapter
Aku menemukan diriku termenung di tengah trotoar bersalju menuju dorm ku. Aku pun memutuskan untuk beristirahat sejenak disalah satu ayunan di sebuah taman bermain yang sudah sepi. Hari sudah beranjak sore, waktunya anak-anak pulang kerumah.
Terkadang aku menyesali dan bergumam, apakah sekarang waktunya aku pulang juga ke rumahku? Tanah kelahiranku?
Aku tidak sukses disini. Ini negeri orang dan aku merasa sendiri. Tanpa sadar, aku mulai bermain dengan ayunan yang kududuki ini meskipun salju masih saja turun.
"Hatchi! Uhuk! Uhuk!"
Aku kembali mengeratkan mantel hitamku. Orang normal pasti berpikir aku sudah gila duduk ditengah taman dengan cuaca yang sangat dingin. Tapi toh siapa peduli?
Aku sendirian.
Aku merasa frustasi.
It just another bad day.
Dengan langkah gontai, aku mencoba berpihak pada akal sehatku. Aku menuju pulang. Pikiranku melayang pada kejadian di toko kelontong beberapa waktu lalu. Aku sempat merasa malu pada seorang bocah yang bekerja mengangkut dus untuk membeli es krim ditengah musim dingin. Mungkin besok pagi aku harus ke Yokohama untuk melamar di restoran ayam itu, pikirku lagi.
Dorm ku terletak beberapa blok lagi dari tempatku berjalan. Hari sudah mulai beranjak malam dan hari itu jalanan tampak sepi. Hanya sesekali mobil dan orang-orang lewat. Salju turun dan cuaca dingin.
Tiba-tiba langkahku terhenti.
"Tidak! Jangan! Oji-san! Jangan!"
"Pergi kalian! Pergi!"
Instingku kuat, aku berlari secepat mungkin mencari sumber suara itu. Melewati belokan sempit dan aku tiba. Seseorang butuh pertolonganku, mereka terhalang oleh bak sampah yang lumayan besar dikelilingi bandit bau sebanyak 3 orang dan target mereka—
What the fuck
BUAGH!
Aku tak bisa menahan amarahku. Dengan sekali tendangan kaki, aku berhasil membuat mereka jatuh tersungkur sekaligus. Dengan cepat aku menarik 2 anak kecil yang terperangkap disudut gang tersebut—
"Kalian tidak apa-apa?" kataku cemas seraya mengusap kepala mereka berdua. Hatiku sakit tatkala sang anak kecil perempuan berambut pirang yang dikuncir dua meloloskan air mata dari aquamarine indahnya. Dan yang lebih membuatku terkejut disampingnya berdiri bocah yang kukenal tadi siang, bocah merah itu membulatkan matanya.
Hatiku panas, dengan sigap aku menggulung lengan mantelku dan mengambil balok kayu besar didekat tong sampah.
"Kau bocah merah segeralah bawa temanmu pergi dari sini!" seruku begitu melihat ketiga bandit itu melihatku masam seraya bersiap dengan tinjunya.
"Lihat-lihat siapa yang datang eh? Kau wanita berengsek!"
"Boss! Lebih baik kita gunakan dia juga. Lihat badannya, tidak terlalu buruk!" mereka bertiga tertawa.
"Nee-chan ayo ki-kita pergi.." tanpa kusangka gadis kecil berambut pirang itu menarik pelan ujung mantelku. Aku merendah kan badanku tanpa melepaskan padanganku pada ketiga bandit itu. "Ssst! Hime-chan pergilah bersama Akihiko-kun ne? Ayo kalian cari police officer.."
Seolah mengerti, sang bocah merah segera menarik tangan gadis kecil itu, "Tunggu sebentar Nee-san." Katanya sebelum akhirnya berlari bersama gadis pirang itu.
"Aaa.." bunyi sepatu merah dan boots yang dikenakan 2 bocah kecil itu menggema disepanjang gang. Aku merasa mereka sudah hilang, aku hanya perlu membereskan bandit bau ini.
"Sialan! Tokume! Hito! Temukan kedua bocah itu! Aku akan mengurus perempuan berengsek ini!"
"Baik—"
"Whoaa!—" aku menyiapkan balok kayu yang akan aku gunakan sebagai senjata.
Prang!
"Easy guys. Kau tidak akan melewatiku dengan mudah."
"Berengsek!"
Dengan sigap aku langsung membalas semua tinju mereka. 3 lawan 1. Kheh. Ini tidak ada apa-apanya bagiku. Aku bertarung seperti orang kesetanan, aku seolah-olah melampirkan semua rasa frustasiku pada ketiga bandit bau ini. Sungguh hatiku sangat panas. Mereka membuat gadis kecil tadi menangis!
The fuck!
Dengan satu tinju kuat aku berhasil melumpuhkan yang disebut dengan 'Boss' itu.
Plong!
Aku merasakan nafasku terengah-engah. Aku pun membuang balok kayu yang kugunakan. Mereka bertiga sudah runtuh mengerang kesakitan.
Aku pun memutuskan untuk tak membunuh mereka hari ini. Entah kenapa hatiku hanya ingin menyusul dua bocah itu. Aku membalikkan badanku dan berjalan gontai. Kepalaku sakit. Aku meringis tatkala butiran salju mengenai keningku.
Aku menyadari bahwa salah satu bandit itu berhasil memukul keningku hingga berdarah.
BUAGH!
Aku terjatuh terjerembab, badanku dibalik dengan kasar. Aku menyadari bahwa sang 'Boss' masih terbangun dan membantingku ke bawah. Ia mencekik leherku.
"Aaa—" aku terbata berusaha mengunci laki-laki bau itu keluar dariku dengan kedua kakiku.
"HAHAHA! KAU KIRA KAU AKAN LOLOS EH? RASAKAN INI HM." Ia makin kuat mencekikku. Aku kehabisan nafas. Kakiku sudah tidak kuat menahan laki-laki ini. Apakah ini artinya aku akan berakhir di gang sempit penuh dengan sampah? Mengapa aku tidak pulang saja?
Aku merasa meloloskan air mataku tatkala bunyi sirine polisi meraung dengan kerasnya. Merasa pergerakan si'Boss' melemah, dengan sisa tenaga yang kupunya aku membantingnya menuju bak sampah dengan keras dengan kedua kakiku.
Tenagaku habis. Aku berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya seraya merosot mundur kebelakang. Si 'Boss' meringis kesakitan tatkala punggungnya membentur bak sampah dengan keras, ia pun mengabaikanku serta berusaha kabur.
"Berhenti ditempat!"
DOR!
Aku menutup kedua telingaku yang berdengung. Pandanganku buram, bayangan bandit itu terjatuh mengaduh kesakitan terlihat samar. Aku sudah tidak kuat lagi, perlahan aku menutup kedua mataku. Samar-samar aku mendengar kata "Nee-chan!" menuju ke arah badanku yang terbujur kaku diguyur salju.
Love More
#SpecialChapter
Aku berdiri didepan stasiun. Aku sudah membulatkan tekad. Mungkin tidak ada salahnya aku mencoba sebagai pekerja paruh waktu di restoran ayam Yokohama. Aku sudah pamit pada Bibi di toko kelontong dan berjanji akan memberinya kabar.
Aku pun sudah beranjak akan memasuki stasiun kalau saja tubuhku tidak dihadang oleh 2 orang pria berbadan besar lengkap dengan business attire-nya. "Nona Lau Williams? Mohon ikut bersama kami."
Love More
#SpecialChapter
"A-apa?!" mata hitamku membulat sempurna tatkala mendengar kata-kata itu langsung dari pria berambut pirang didepanku ini.
Pria pirang itu tak melepaskan pandangannya sedikitpun terhadapku.
"Ya. Jadi bagaimana keputusanmu?"
Aku masih shock.
Seraya tersenyum tipis, sang wanita berambut cokelat disebelah pria pirang itu kembali mengulang perkataan suaminya. "Kami membutuhkanmu untuk menjaga putri kami, Nona Lau. Seperti yang kau lihat, kejadian ini sudah terulang yang ke 2 kalinya. Jika dirimu tak ada saat itu, kami tidak tau apa yang menimpa Ino-chan.." ujarnya sendu. Wanita itu terlihat mengusap sedikit air matanya.
Aku menatap lagi pada kedua pasangan Yamanaka ini didepan mataku. Aku menggenggam erat ujung mantelku.
Tuan Yamanaka terlihat mengusap bahu istrinya dengan lembut, "Kami merasa seperti orang tua yang gagal, Nona Lau. Kami hanya ingin memastikan putri kami satu-satunya aman di tangan orang yang kami percaya," lanjutnya tanpa menatapku.
Aku kehilangan kata-kata. Gadis kecil berambut pirang yang cantik itu bernama Ino Yamanaka. Ini akan merubah segalanya, aku akan melindunginya, "Aku bersedia, Tuan dan Nyonya Yamanaka." Ujarku seraya bangkit dan berojigi dalam.
Pasangan Yamanaka itu terlihat lega seraya tersenyum penuh kelegaan. Sekilas, aku menatap bocah kecil berambut pirang yang sedang tertidur pulas disamping orang tuanya. Aku tersenyum.
"Baiklah, Nona Lau Williams. Bersiap, kita akan berangkat ke Belgia."
Love More
#SpecialChapter
"Berhenti disini, Baki." Perintah seorang bocah berumur 12 tahun dalam mobil Benz sore itu.
"Tapi Gaara-sama—"
Gaara hanya memberikan tatapan 'berhenti' melalui kaca tengah mobil.
Mobil pun berhenti dengan mulus dipinggir trotoar itu.
"Berhenti?! Come on! Gaara kita sudah telat ke lapangan tembak kau tau!" gerutu bocah berambut pirang yang duduk disampingnya.
"Berisik." Bocah itu pun segera turun menuju toko kelontong yang terletak dipinggir jalan itu.
"Ck! Apa yang si bodoh itu lakukan eh?" bocah pirang itu tampak tak habis pikir seraya melongokkan kepala pirangnya dari jendela mobil.
Kring!
Bocah berambut merah crimson itu mengadahkan kepalanya ke arah bel tua diatas pintu toko tersebut.
"Ohayou Gozaimasu." Seorang gadis muda terlihat menyapa dengan ramah seraya berojigi. Gaara memicingkan matanya ke arah pigura foto yang terbingkai di ujung kasir dengan foto wajah yang sangat familier baginya.
Gadis penjaga counter itu untuk beberapa saat terenyuh akan ketampanan bocah merah itu. "A-ano.. ada yang bisa diban—"
Dalam diam, Gaara menunjuk pigura foto tersebut. Seolah meminta jawaban.
Gadis itu tersentak, raut wajahnya seketika berubah sendu. Ia menggelengkan kepala bersurai coklat madu itu pelan, "Okaa-san mengalami kecelakaan setahun yang lalu.."
Raut wajah bocah merah itu menegang. Bibi telah tiada.
Tanpa terasa bel tua itu berbunyi lagi karena terpaan angin musim panas yang berhembus karena jendela terbuka.
Tanpa berkata apa-apa, ia melangkahkan kaki kecilnya menuju sudut toko dimana dihafalnya counter es krim itu berada.
Ia lalu melangkahkan kakinya menuju tempat duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke jalanan. Dimana diseberangnya dekat lampu merah, toko ikan itu sudah tutup dengan coretan pilox memenuhi sebagian besar pintu besi yang digembok itu.
Gadis penjaga counter itu tersentak ketika Gaara kembali menyerahkan barang yang akan dibelinya. "Se-semuanya 75 yen.."
"Te-terima kasih." Kata gadis itu. "E-eh?"
"Sepertinya kau yang membutuhkan es krim ini, Nona." Ujar Gaara dengan diam, ia menyerahkan kantong es krim blueberries nya pada gadis penjaga toko itu.
Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari toko kelontong sepi itu.
"Jadi kau beli apa eh? Cuma lihat-lihat doang?" tanya bocah pirang itu lagi begitu mengetahui Gaara tidak membeli satu barangpun. Kesal.
"Jalan."
"Tch.."
Love More
#SpecialChapter
"Kuatkan kuda-kuda mu, Nona!"
Plak!
Tanpa ragu, aku memukul tungkai kakinya dengan satu tanganku.
"Disini masih lemah!"
"Mana tinjumu!"
"Lemah! Kurang! Coba lagi!"
Gadis pirang itu terengah-engah seraya mengelap keringat yang menetes disudut matanya. Tanpa komplain sedikitpun, ia mengulangi dan mencoba menguatkan kuda-kudanya. "Chin up!"
"Ulangi!"
Brak!
Gadis itu terjerembab diatas matras. Ia mencoba mengatur nafasnya.
Aku menghela nafasku seraya berjongkok menghadap muka cantiknya, "Kau tidak fokus hari ini, Nona."
"Ugh! Aku berusaha, Lau!" serunya. Ia pun mencoba berdiri lagi.
"Jadilah lebih kuat, Nona! Aku tidak akan menyerah dengan mu. Sekarang lawan aku!" Seruku seraya melempar satu stik kayu besar dihadapannya.
Mata aquamarine gadis itu membulat, "A-apa?"
Lau menaikkan sudut bibirnya, "Kenapa? Kau takut denganku, eh?" dengan nada mengejek. Aku mengambil stik milikku dan bersiap dalam posisi.
Raut wajah gadis pirang itu mengeras, ia menajamkan matanya seraya mengusap peluh dikeningnya, ia memulai posisi siap. "Tidak akan!"
Love More
#SpecialChapter
TADAAA!:D what do you guys think?
Dj harap ini dapat menebus keterlambatan dj dalam mengupdate fic Love More ini;") i promise u guys! Please wait for The Party Pt. 2! It's coming up soon! And dj wanna ask._. apa pendapat minna-san tentang chapter spesial Lau ini?._.
dj tetap akan berusaha untuk terus mengupdate cerita ini sebaik mungkin! Please wait for mehh T_T
anndd yang terpentingg dj butuh review dari minna-san yang kece dan baik hatii agar penulisan cerita ini lebih enak dibaca and somehow keren deh gituuu wkwkkwk:D
over all, thank you for reading this story! RnR?
SALAM DJ! ;)
Gaara: The Party Pt.2 coming up soon. Awas ketinggalan.
Ino: Iyaa bethul itu! btw happy birthday yakk Gaara-sama!
Gaara: Eh iya... makasi ya no (senyum)
Dj: AHAHAHAH KAMPRET LO! HABEDEEE MUAHH MA LOVEEEEEE (pelukan liar)
Gaara: (pukpuk kin dj) iya je, makasih bat ya gue terharu. Cepetan update ya btw,gue lagi sepi job ni
Dj: lahh? (liat mata Gaara) emangnya lu gajadi kerja jadi waitress yang lu bilang itu?
Gaara: ... kagak je.
Dj: mang ngapa?
Gaara: ...
Gaara: ...gpp.
DJ: IIHH GEMEESS UNTUNG GANTENG!
