.
Xi Group. Sebuah perusahaan yang baru berkembang beberapa tahun belakangan ini namun sudah berhasil memasuki bisnis internasional. Hal ini dikarenakan sang pemilik memiliki kemampuan berbisnis yang handal serta daya kreatifitas yang tinggi. Tuan Xi mampu menarik perhatian para pelanggan dan juga perusahaan besar lainnya untuk diajak bekerja sama. Pemilik dari perusahaan yang bergerak dalam bidang otomotif itu merupakan ayah dari seorang Luhan, Xi Luhan.
Menjadi anak tunggal dari seorang pemilik perusahaan berkembang menuntut Luhan agar bertahan dalam situasi yang mengharuskannya terus berpindah tempat setiap beberapa tahun sekali. Namun sayang, kejadian yang tak diharapkan oleh Luhan beserta keluarganya terjadi. Kecelakaan pesawat akibat kesalahan pilot yang ceroboh. Merengut banyak nyawa dan Luhan lah satu-satunya orang yang selamat dalam kecelakaan tersebut. Luhan mengalami koma dalam kurun waktu beberapa bulan. Awalnya pihak rumah sakit berniat membawa Luhan ke panti asuhan setelah dirinya tersadar. Tapi hal itu tak terjadi dikarenakan keluarga Byun datang dan mengatakan akan mengangkat Luhan sebagai anak sulung mereka. Entah menjadi sebuah keberuntungan atau tidak bagi keluarga Byun. Saat terbangun, Luhan mengalami amnesia karena trauma hebat akibat kecelakaan yang dialaminya.
"Sebaiknya kita tidak memberitahukan tentang identitas Luhan yang sebenarnya." Itulah yang dikatakan Tuan Byun kepada istri dan pihak rumah sakit. Katanya semua demi kebaikan Luhan sendiri. Membiarkan Luhan hidup sebagai seorang Byun Luhan dan bukan lagi sebagai Xi Luhan.
.
Innocent Lu
.
Rate : T
Cast : Lu Han , Oh SeHun, Byun Baekhyun
Other(s) : EXO members and many more
Warn :Boys Love-Yaoi, typos, alur berantakan, cerita pasaran.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
A/N 1 :
Hai~ Sya cmn mau ksih tau.. chap ini lebih bnyk flashbacknya jd mohon bersabar yang pengen tau kelanjutan hub hunhan. Italic utk flashback dan non italic buat keadaan sebenarnya. Okay? Then, here we go~
.
Chapter 9
.
.
"Terima kasih untuk hari ini Sehunnie." ucap Luhan riang di selingi senyuman manis yang tak pernah lepas dari bibirnya. Seharian ini dia sangat senang karena Sehun mengajaknya pergi ke berbagai tempat hiburan. Membelikannya makanan yang disukainya. Sehun benar-benar mengajaknya bersenang-senang hari ini. Tangannya terangkat lalu melambai layaknya anak kecil ke arah mobil yang perlahan semakin menjauh dari jarak pandangnya.
Sesaat setelah mobil Sehun sudah tak terlihat, dengan riang pemuda manis itu berjalan memasuki kediaman Byun dengan sedikit beresenandung. Dia ingin segera menemui adiknya lalu menceritakan betapa bahagianya dia hari ini. Tangan rampingnya membuka knop pintu utama dengan perlahan. Kakinya berjalan memasuki ruang utama rumahnya. Alisnya sedikit berkerut lucu saat menyadari keadaan rumah yang tampak sunyi tak seperti biasanya. Biasanya jika dia tiba di rumah, Baekhyun akan langsung menghampirinya dan memberondonginya dengan berbagai macam pertanyaan. Disertai dengan pengecekan tubuh yang entah apa gunanya. Luhan menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya atau kamar Baekhyun di lantai dua. Sedang asik berjalan, langkahnya terhenti saat dirinya melewati ruang kerja ayahnya yang sedikit terbuka serta cahaya lampu yang menyala terang.
Dahi halus Luhan berkerut. Alisnya kembali mengernyit heran. Orang tuanya sudah pulang? Kenapa tidak ada yang memberitahunya? Dengan rengutan kecil, Luhan mengangkat tangannya lalu meraih gagang pintu, hendak mendorong pintu itu agar terbuka lebar. Dia berniat untuk menerjang kedua orang tuanya yang baru kembali setelah pergi ke luar negri untuk urusan bisnis. Namun tampaknya niatannya harus urung saat telinganya tak sengaja menangkap suara dalam sang ayah menyebut namanya dengan penekanan. Seakan menekankan, bahwa ucapannya mutlak dan harus dituruti oleh lawan bicaranya di dalam sana.
"Byun Baekhyun! Sudah kukatakan berapa kali! Appa tidak perduli jika kau dan Luhan tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Kau tetaplah adiknya," Sang kepala keluarga berhenti sejenak hanya untuk menatap tajam darah dagingnya sendiri, "Camkan itu baik-baik!"
Kepala bersurai kelam milik Baekhyun tertunduk dalam. Gigi-giginya bergemelatuk menahan amarahnya yang siap meledak. Dia bukanlah orang yang mudah mengontrol emosi sekalipun di depan kedua orang tuanya. Kepalanya terangkat, menatap sejurus ke arah sang ayah. Iris coklatnya berkilat penuh emosi, seringai meremehkan pun turut menghiasi wajah manisnya, "Aku tidak perduli! Aku mencintai Luhan dan appa tidak berhak melarangku lagi!"
Geraman penuh amarah memenuhi seisi ruangan. Wajah tuan Byun memerah karena emosi yang melingkupi tubuhnya. Suasana di dalam semakin menegang saat dua orang bermarga Byun itu tidak ada yang berniat mengalah sama sekali. Wanita satu-satunya di sana hanya bisa duduk dengan resah di atas sofa ruangan tersebut. Mata lembutnya menatap ke arah anak serta sang suami takut. Takut jika tiba-tiba terjadi adu jotos antara suami dan anak bungsunya.
"Kau," tangan besar sang ayah terangkat menunjuk Baekhyun, "Aku tak pernah mengajarkanmu untuk membantah perintah orang tua!" bentaknya kasar. "Luhan adalah anak dari sahabatku, dia sudah kuanggap anak sendiri dan aku tak akan membiarkan kau untuk bersamanya. Karena sampai kapanpun kalian akan menjadi saudara secara hukum," Baekhyun semakin menggeram. Tangannya terkepal erat hingga kukunya menancap ke dalam kulit putihnya. Dapat dilihat darah sedikit mengalir keluar dari kepalan tangan Baekhyun. Nyonya Byun membolakan matanya melihat darah sedikit menetes dari telapak tangan putih Baekhyun. Dia ingin bangkit untuk mendekati Baekhyun lalu menyuruhnya berhenti, namun urung kala melihat Baekhyun yang tampak tidak dalam kondisi akan mendengarkan nasihatnya sama sekali.
Suasana menjadi hening. Pada detik selanjutnya dapat terdengar dengusan cukup keras dari sosok termuda di dalam ruangan itu. Baekhyun mengulas sebuah senyuman remeh dan dilemparkan pada pria yang lebih tua, "Aku tidak perduli lagi." Ucapnya.
Meja kerja berbahan kayu itu di gebrak keras oleh sang empu, mengakibatkan baik Baekhyun, Luhan maupun Nyonya Byun terlonjak kaget. Dengan berang sang kepala keluarga menunjuk anak bungsunya yang sangat keras kepala. "Kau! Aku akan menjodohkanmu dengan anak dari keluarga Park!"
Sang kepala keluarga menyeringai melihat anaknya yang tak dapat bersuara lagi. "Ah, aku lupa memberitahumu. Aku sudah menjodohkan Luhan dengan Seohyun semenjak kepindahan kita ke Korea." Seringaiannya semakin melebar kala melihat tubuh anaknya menegang. "Kau tentu tahu siapa itu Seohyun bukan?" Dan setelahnya suasana dalam ruangan kembali hening dengan ketegangan yang masih melingkupi.
Sementara Luhan yang berada di depan ruangan hanya bisa mematung dengan mata membola kaget. Kepala kecilnya terus mengulangi ucapan sang ayah yang menyatakan bahwa dia adalah anak dari sahabat ayahnya. Jadi selama ini dia tidak ada hubungan darah dengan keluarga Byun? Lalu, kemana orang tuanya? Kenapa dia tidak tahu akan hal ini dan kemudian, siapa Seohyun? Kenapa nama orang itu di bawa-bawa?
Tanpa sadar, Luhan menggigit keras bibir bagian bawahnya. Matanya perlahan memerah dikarenakan air mata yang memaksa untuk keluar secepatnya. Tak kuasa menahan diri, Luhan pun berlari memasuki kamarnya tanpa suara. Dia berharap tidak ada yang menyadari kepulangannya. Untuk malam ini dia akan tidur di kamar miliknya yang hampir tak pernah dia tempati. Luhan membanting tubuhnya ke atas kasur dengan cukup keras. Tangan rampingnya terangkat memegang dengan keras surai coklatnya. Erangan sakit dikeluarkannya saat sakit kepala hebat menyerang kepalanya karena dia memaksa untuk mengingat segala hal yang menurutnya telah dia lupakan. "Se..hun.." Luhan bergumam kecil. Selang beberapa saat Luhan tertidur di kasurnya tanpa mengganti baju seragam.
.
Keesokan paginya, Luhan bangun dengan keadaan sangat berantakan. Surai coklatnya kusut karena terlalu keras di remas olehnya. Dia mengerjabkan matanya beberapa kali. Tatapannya kosong saat matanya sudah dapat melihat jelas kamarnya yang memiliki dinding berwarna krem. Luhan terduduk di atas kasur selama beberapa menit. Tiba-tiba Luhan menggelengkan kepalanya keras. Lalu dia memukul kedua pipinya kencang. "Luhan..bertingkah seperti biasa seakan tak terjadi apapun." Luhan mensugestikan dirinya sendiri. Dia pun berusaha memasang senyum di wajah kacaunya.
Kakinya menapak di atas lantai kamar yang dingin. Dia memasuki kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Selesai bersiap, dia turun ke lantai bawah untuk sarapan. Dan dia dapat menduga ketiga orang bermarga Byun yang ada di sana terkejut karena kehadirannya. Setelah menjelaskan bahwa dirinya kemarin pulang sangat larut dan terlalu lelah hanya sekedar untuk berjalan ke kamar Baekhyun sehingga memilih beristirahat di kamarnya sendiri, akhirnya acara sarapan dilaksanakan. Luhan tetap bertingkah seperti biasa. Tidak ingin membuat semua yang ada di sana menjadi curiga.
Setibanya di sekolah dia memutuskan untuk menjauh dari sosok Baekhyun karena dia tidak yakin dirinya bisa bertingkah seperti biasa untuk sementara waktu jika hanya berdua saja bersama sang adik tiri. Luhan terlonjak kaget ketika sepasang tangan milik sosok tinggi berkulit pucat memeluknya dari belakang. Dia tersenyum kecil sebelum berbalik untuk mencium Sehun. Saat itulah sekelabat ingatan melintas di kepalanya. Dia terdiam kaku. "Lu, kau baik?" Luhan mengerjabkan matanya beberapa kali sebelum mengangguk. Dia mengalihkan tatapannya ke samping. Tak mau menatap Sehun tepat di mata. Dengan pelan dia melepaskan pelukan Sehun di pinggangnya dan berjalan menjauh. Sehun yang ditinggalkan mengernyit bingung. Dia mengejar Luhan yang sedang melangkah menuju kantin sekolah.
Luhan mendudukkan dirinya di atas kursi. Matanya bergerak gelisah ke sana kemari. Menolak untuk menatap Sehun yang duduk tepat di depannya. Dia juga begerak-gerak risih dalam duduknya sedari tadi. Hal itu sukses membuat Sehun bingung. Luhan secara refleks menepis tangan Sehun yang terangkat hendak menyentuhnya. "Luhan, ada apa denganmu?"
Tidak ada jawaban. Luhan tidak memiliki niatan sama sekali untuk menjawab. Dia hanya ingin Sehun cepat-cepat menjauh dari dirinya sekarang. Semenjak ingatan itu melintas di kepalanya, dia menjadi sedikit tidak nyaman berada dekat-dekat dengan Sehun. Tangan Sehun kembali terulur, namun Luhan kembali menepis tangan pucat itu menjauh.
"Jangan menyentuhku, Oh Sehun." Ucapnya final sebelum bangkit berdiri untuk pergi.
000
"Hei, Baekby!" Suara berat seseorang menyapa indra pendengaran Baekhyun yang tampak lesu dan tak bersemangat. Pemuda bersurai kelam itu menoleh malas menatap Park Chanyeol yang melangkah dengan santai menghampirinya. Suasana kelas saat ini masih terbilang cukup sepi mengingat waktu dimulainya jam pelajaran pertama masih satu jam lagi. Dia mendesah kasar, membuat Chanyeol yang baru tiba di sampingnya terheran-heran. "Kau ada masalah?" Chanyeol menarik salah satu kursi dan meletakkan di samping meja Baekhyun. Tangannya dia lipat di atas meja dengan kepala di sandarkan di atas lipatan tangan tersebut. Dia memiringkan kepalanya ke samping agar dapat melihat Baekhyun dengan jelas. "Kau bisa bercerita padaku, jika kau mau,"
Baekhyun yang semula sedang menatap ke arah langit biru, kini mengalihkan fokus sepenuhnya pada Chanyeol. Dia menatap lamat-lamat mata bulat Chanyeol yang berbinar lembut. Dan tak tahu mengapa, Baekhyun merasa Chanyeol dapat menjadi sandarannya untuk saat ini. "Kurasa kau tahu, bahwa aku mencintai Luhan," Baekhyun menjeda ucapannya sesaat. Dia kembali berucap saat melihat Chanyeol mengangguk, tanda paham sekaligus menyuruhnya melanjutkan.
"Luhan bukan kakak kandungku. Jadi aku membiarkan perasaanku untuknya bertumbuh. Namun semalam, ayahku yang mengetahui bahwa aku mencintai kakakku sendiri. Tanpa berpikir dua kali, dia terbang menuju Seoul dan mengingatkanku akan status kami sebagai kakak adik," Baekhyun membenturkan dahinya pelan ke atas meja, "Kami berdebat hebat malam itu. Dia juga berkata akan menjodohkanku dengan anak dari keluarga Park jika masih bersikeras ingin menjalin hubungan dengan Luhan," Baekhyun menghembuskan nafas kasar, "Dan dia berkata bahwa Luhan telah dijodohkan dengan Seohyun, gadis yang merupakan cinta pertama Luhan."
Hening.
Baik Baekhyun mapun Chanyeol tak ada yang berniat untuk membuka mulut barang sebentar. Baekhyun terdiam dalam posisinya, berusaha sekuat tenaga untuk menahan isakan serta air mata yang bisa meledak kapan saja. Kepalanya terasa pusing karena banyaknya pemikiran yang ada dalam otaknya. Dia menggigit keras bibir bawahnya. Kenapa dia dan Luhan harus menjadi kakak adik dalam hukum? Jika saja mereka bukan kakak dan adik, mungkin saat ini Luhan telah menjadi kekasihnya. Baekhyun tersentak kaget kala merasakan sebuah tangan besar mengelus kepala bagian belakangnya.
Dia mengangkat wajahnya untuk melihat Chanyeol. Kedua iris berbeda ukuran itu bertubrukan satu sama lain. Baekhyun terdiam kaku saat melihat Chanyeol yang tengah menatap lembut dan penuh kasih ke arahnya. Air mata perlahan mengalir turun melewati pipi putihnya. Tangisannya langsung pecah saat melihat iris Chanyeol. Tanpa malu, dia memeluk tubuh besar Chanyeol. Wajahnya ia tenggelamkan di antara perpotongan bahu serta leher pemuda yang lebih tinggi. Teriakan pilunya teredam karena wajahnya berada di bahu Chanyeol. Tangan besar Chanyeol masih setia mengelus kepala Baekhyun, kini elusannya turun menuju punggung sempit pemuda yang lebih tua. Berharap bisa memberikan sedikit kekuatan padanya. Mata bulatnya terpejam saat telinganya masih bisa mendengar tangisan pilu Baekhyun. Dia menahan air matanya yang siap turun. Dia tak kuasa menahan kesedihan saat orang yang dicintainya menangisi orang lain. Dia tahu dengan jelas bahwa Baekhyun mencintai Luhan. Sangat tahu. Namun saat pernyataan itu keluar langsung dari bibir Baekhyun rasanya lebih menyayat hati dibanding dia mendengar dari orang lain.
Dia tak tahu bagaimana jadinya jika Baekhyun mengetahui bahwa dirinya adalah tunangan Baekhyun karena perjodohan oleh kedua ayah mereka. Dia membalas pelukan Baekhyun erat. Tanpa sadar Chanyeol mendekatkan wajahnya pada kepala bersurai kelam milik Baekhyun, dia menenggelamkan wajahnya di sana. Menghirup dalam-dalam aroma menenangkan dari surai halus Baekhyun.
"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun." Ucapnya lirih. Hampir tak terdengar sama sekali.
000
Mata tajam milik bocah kecil bersurai hitam itu bergulir ke sana kemari memperhatikan sosok kecil lainnya yang sedang sibuk bermain bersama teman-temannya. Shixun atau lebih akrab di sapa Sehun itu sibuk memperhatikan Luhan. Sesekali dia tersenyum kecil karena melihat ekspresi lucu yang dikeluarkan Luhan. Dia terkadang tak habis pikir. Kenapa Luhan yang sebentar lagi akan menduduki bangku kelas satu sekolah menengah pertama memiliki sifat layaknya anak kelas satu sekolah dasar. Lihatlah cara berlari dan tertawanya. Sangat menggemaskan. Ingin rasanya Sehun memeluk Luhan saking gemasnya. Banyak orang berkata Luhan itu lebih muda dari Sehun mengingat sifat keduanya yang benar-benar bertolak belakang dan berkebalikan. Sehun dengan sifat dewasa sebelum umur dan Luhan bersifat manja tak sesuai umur.
Sehun terkekeh saat melihat ekspresi menahan tangis Luhan karena sempat jatuh tersandung batu. Dia bangkit berdiri lalu menghampiri Luhan yang terduduk di atas tanah dengan mata memerah. "Sehun! Sakit!" Ah, semenjak Sehun memberitahukan Luhan nama koreanya, bocah bersurai coklat itu lebih sering memanggilnya Sehun daripada Shixun. Luhan merengek layaknya anak kecil yang permennya direbut paksa. Tangan Sehun terangkat lalu megusap wajah Luhan yang basah karena setetes air mata.
"Kata appa, laki-laki tidak boleh menangis. Jadi Luhan hyung tidak boleh menangis." Sehun berujar tegas, dan hal itu sukses membuat tangisan Luhan terhenti. Anak yang lebih tua mengerucutkan bibirnya sebal karena menurutnya Sehun bertingkah lebih dewasa darinya lagi, entah untuk ke berapa kalinya.
"Dasar gay!" Keduanya serempak menoleh menatap seorang anak kecil dengan wajah menyebalkan.
"Aku bukan gay! Aku menyukai Seohyun!" ini suara Luhan. Matanya berkilat sebal menatap teman sekelasnya itu. Dia tidak pernah paham kenapa dia suka mengatai Luhan gay. Padahal jelas-jelas Luhan tidak seperti itu. Dia dan Sehun hanyalah sebatas kakak beradik dan tidak lebih. Dasar anak kecil!
Heh, Luhan. Kau juga anak kecil.
Sehun menatap datar dua anak kecil yang tengah mengejek satu sama lain. Dia memutuskan untuk menjauh dan membiarkan keduanya berdebat hingga puas. Sehun tak terlalu mempermasalahkan jika ada yang mengatainya seperti itu. Toh, pada kenyataannya dia memang seperti itu. Ya, walau dia hanya menyimpang untuk Luhan. Ugh, tampaknya Sehun benar-benar terlalu dewasa dari umur yang sebenarnya.
Selesai berdebat, akhirnya dua bocah—Sehun dan Luhan—itu memutuskan untuk kembali menuju rumah. Suasana hening untuk sesaat sebelum Luhan membuka mulut, memecah keheningan, "Sehun, sebaiknya kita jangan terlalu dekat lagi. Teman-temanku sering mengataiku gay karena terlalu dekat denganmu," Luhan melirik Sehun sekilas. Dia merasa tak enak mengatakannya, tapi mau bagaimana lagi. Ini demi kebaikan keduanya.
Langkah Sehun langsung terhenti mendengarnya. Mata tajamnya menatap Luhan lekat. Luhan yang menyadari langkah Sehun terhenti, memutuskan ikut berhenti dan menoleh ke belakang. "Tidak akan." Suara tajam Sehun memasuki pendengaran Luhan. Anak bersurai coklat itu mengernyit bingung lalu menatap Sehun dalam.
"Kau..kau tidak menyukaiku 'kan?"
Suasana kembali hening. Luhan masih berdiri di posisinya. Mata beriris rusanya menatap setiap pergerakan kecil Sehun. Sedangkan anak yang lebih muda menghembuskan nafasnya kasar. Lalu menjatuhkan fokus sepenuhnya ke arah Luhan. "Ya. Aku menyukaimu."
Sehun dapat melihat dengan jelas bola mata Luhan membesar dari ukuran semula. Bibirnya terkatup rapat. Dan di detik selanjutnya dia tak pernah menyangka Luhan akan mengatakan hal itu kepadanya. "Jangan pernah mendekatiku lagi! Aku membenci kaum gay asal kau tahu! Mereka sangat menjijikan untukku!"
Semenjak itu, Sehun tak pernah berkomunikasi dengan Luhan lagi. Mereka tak pernah bermain bersama seperti biasa. Jika keduanya tidak sengaja bertemu, Luhan dengan cepat akan melewatinya sebelum Sehun sempat bersuara. Sehun menyesal. Karena seminggu setelahnya, sosok Luhan pindah ke China dan tak pernah menghubunginya sama sekali
000
Mata milik Luhan mengerjab beberapa kali saat mendengar sang gadis memperkenalkan dirinya sebagai Seohyun. Bibirnya membentuk huruf o kecil. Dia kemudian tersenyum tipis ke arah sang gadis. Membuat Seohyun merona melihat senyuman Luhan, yang menurutnya sangat tampan. Sementara Sehun masih terdiam kaku, masih berusaha mencerna segala kejadian yang terjadi di depannya. "Seohyun? Senang berkenalan denganmu," Luhan mengulurkan tangannya, berniat mengajak bersalaman. Namun hal itu urung kala Sehun memegang tangannya lalu dengan cepat pemuda tinggi itu menarik Luhan untuk berpindah duduk ke sampingnya.
Sehun melingkarkan sebelah tangannya dengan posesif di pinggang ramping sang kekasih. Seohyun memasang wajah bingung melihat reaksi seorang pemuda pucat yang wajahnya terasa cukup familiar di depannya. Luhan hanya mengerjabkan matanya beberapa kali lalu kembali tersenyum. "Ah, maafkan dia, ne? Dia memang seperti ini." Seohyun mengangguk ragu. Kini fokus mata Luhan teralih sepenuhnya ke arah Sehun yang tampak menatap datar ke arah Seohyun dan semakin merapatkan tubuh mereka berdua. "Sehun? Bisa tolong lepaskan peganganmu sebentar. Di sini ada tunanganku," ucap Luhan dengan nada memohon. Sehun sontak menolehkan kepalanya mendengar penuturan Luhan yang membuatnya kesal. Dia menatap Luhan tajam. Dan tatapannya di balas dengan ekspresi dingin yang lebih tua. Dahi Sehun berkerut. Sikap Luhan berubah lagi. Sebenarnya kenapa bisa seperti ini?
"Tid—"
"Lepaskan atau aku tidak ingin mengenalmu lagi." Bisik Luhan tepat di samping telinga Sehun. Rahang Sehun mengeras mendengarnya. Dengan enggan dia melepaskan pegangannya. Membuang tatapannya ke samping. Sebelah tangan terangkat untuk menopang dagunya di atas meja. Perasaannya campur aduk saat ini. Antara kesal, marah, sedih dan kecewa.
Luhan kembali menatap Seohyun yang sedari tadi hanya diam memperhatikan dirinya dengan Sehun. "Nah, jadi, kenapa kau bisa di sini?" Sudut mata Sehun berkedut ketika telinganya dapat mendengar nada suara Luhan yang berubah menjadi lembut. Tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa Luhan sekrarang tengah tersenyum dengan manis ke arah gadis menyebalkan di depannya. Tangan kirinya yang berada di bawah meja terkepal erat, menahan emosi.
"Eum, tadi eomma memberitahuku bahwa kau ada di sini." Seohyun berujar malu-malu. Luhan hanya tersenyum untuk menanggapi. Sejam setelahnya, meja bernomor delapan itu di dominasi oleh suara Luhan dan Seohyun tanpa adanya suara Sehun sama sekali.
Keduanya membicarakan hal-hal seputar diri masing-masing. Untuk mengakrabkan diri katanya. Saat Luhan dengan tenang mendengarkan Seohyun menceritakan tentang masa sekolah dasar mereka—yang tak Luhan pahami sama sekali, kepalanya berdenyut sakit. Membuat Luhan mengerang dengan cukup keras. Sakit yang menderanya kali ini sangat sakit dan tidak seperti biasanya. Salahkan pikiran-pikiran yang melintas di dalam kepalanya tanpa bergerak cepat. Pemuda tinggi itu menggendong Luhan ala bridal dan keluar dari toko es krim tanpa memperdulikan Seohyun yang masih berada di dalam sana. Panik dan takut. Itulah yang di alami Sehun saat ini. Giginya bergemelatuk geram. Dia meletakkan Luhan di dalam bangku samping kemudi. Sedangkan dirinya langsung duduk di belakang kemudi dan membawa mereka menuju rumah sakit terdekat. Erangan Luhan terhenti saat mereka telah berada cukup jauh dari toko es krim.
Luhan dengan lembut memegang tangan Sehun. Refleks Sehun menepikan mobilnya. Dia menolehkan kepalanya cepat hanya untuk mendapati Luhan tengah tersenyum manis ke arahnya. Sehun mengerjabkan mata beberapa kali. Berusaha memahami situasi saat ini. Sebelumnya Luhan sedang mengerang kesakitan lalu kenapa sekarang pemuda manis bersurai coklat itu tampak biasa saja. "Sehunnie?" Tangan Luhan melambai-lambai di depan wajah Sehun.
Sehun menggeleng, menatap Luhan dengan tatapan penuh selidik. Jangan katakan...
"Maafkan aku Sehunnie!" Sehun mengerang karena tanpa aba-aba Luhan berpindah posisi hingga kini berada di atas pangkuannya. Lalu memeluk lehernya dengan erat. Pemuda manis itu juga menenggelamkan seluruh wajah manisnya di perpotongan leher yang lebih muda.
"Lu.." Sehun melingkarkan kedua tangannya di badan mungil Luhan. Memeluknya erat. Dia menghirup dalam-dalam harum dari rambut sang kekasih. Selama beberapa menit setelahnya, hanya terdengar hembusan nafas keduanya. Suasana hening tampaknya sangat dibutuhkan baik oleh Sehun maupun Luhan.
Sehun sibuk memikirkan sikap Luhan yang sangat tak menentu. Perasaan takut itu kembali ketika dirinya mendapati perubahan dalam diri Luhan. Dia sangat takut. Dia tidak ingin kehilangan Luhan lagi. Dia tidak mau. Apalagi sekarang Seohyun kembali muncul dihadapan Luhan. Kemungkinan besar, Luhan akan mendapatkan kembali ingatannya. Dan yang paling buruk, mungkin saja Luhan akan menjauhinya karena Luhan sangat membenci hubungan sesama jenis.
"Ayo pulang, Sehunnie." Suara Luhan memecah keheningan di antara keduanya. Sehun mengangguk. Mengecup bibir Luhan lalu melumatnya sebentar sebelum memindahkan tubuh Luhan ke tempatnya semula. Setibanya Luhan di depan kediaman Byun. Pemuda beriris rusa itu turun. Dia menatap Sehun sebentar.
"Sehun, sebaiknya kita akhiri hubungan kita."
.
.
ToBeContinued
.
.
Yo~ update update, Gimana chap ini menurut kalian? Apa pertanyaan kalian udh terjawab semua? Apa ada yg keberatan dgn bagian akhir chap ini? Silahkan berkoar dikolom review . wkwk. Oh, ya. Untuk next chap, saya update dua minggu lagi karena sya lg ada ujian di sklh. Mohon dimengerti.
Buat yg login udh saya bls reviewnya lwat PM ya. Dan ini balasan review bagi yg tdk login,
key : ini update~ Maaf lama update.-. Thanks for review~
KikyKikuk : tenang saja,, Ini ff main pairnya HunHan kok. Jd udh pasti gak bkal jd straight. Hehe. Saya jg gak bs sbenernya, tp krna konflik utamanya itu, jd mohon bersabar bacanyaaaaa. Kkk. Diusahakannnnnn. Thanks for review~
AnggiChannieYL : wkwk. Horror? Serem donggg. Krna dia tunangan Luhan :v . Ini lanjutannyaaa. Thanks for review~
Guest : Yapp, gak bakal berat kok. Thanks for review~
Albino's Deer : Nah, udh kejawab kannn? Itu sudah menjadi nasib Sehun kecil, wkwk.
Ini lanjut~ Luhan seme dri sgala uke, tp uke sgala seme :v /gak. Maunya tetep sm Hun atau gak? Wkwk . Thanks for review~
heraaa : mian gak bs panjang", karena saja tipe yg gak bs ketik trlalu panjang :" . Thanks for review~
lulu90 : iyoii~ Bukan lelucon kokk. Thanks for review~
hun1204 : semoga saja bakal bgtu. Wkwk. Ini lanjutanny~ Thanks for review~
ZzzxHan : krna dia tunangan Luhan. Nek lamvir? Siapa tuh? Wkwk. Yapp, bgtulahh. Mian gak bs cepet. Sya sbuk sklh jg soalnya :" . Thanks for review~
Oh Titan : maunya gmn? Wkwk. Mian gak bs upd cepet :". Thanks for review~
secret : krna dia tunangan Luhan . wkwk. Mian gak bs upd cepet .-. Its okayy. Thanks for review~
Then, RnR?
