Hai guysssss!
Kamu!Iyaaa~ Kamuu
How's life?
Mine is a nightmare now. The beginning of a new semester always terrible. Rebutan kelas. Mantengin laptop dari pagi sampe maghrib kalo-kalo ada kesempatan bisa masuk kelas yang sama bareng doi. Hm. Terkutuklah yang membuat sistem itu. *curhat plak!
Sori kalo kelamaan update. Ano, sori juga kalo mungkin kualitas menurun, mungkin ada yg nganggep boring. Hehe. Tapi chapter depan bakalan banyak romantisnya kok, maaaaybeee.
Sori kalo typo, sori sori sorii
Tapi pokoknya review kalian bener-bener membuat saya bersemangat nyelesaiin ini fic. Untuk Indonesia yg lebih maju!
So, Enjoy!
"APA?!"
Suara seseorang di seberang telepon balas meneriakinya. "Apa kau baru saja berteriak pada ayah?"
Hinata menelan ludahnya kembali, kemudian berdehem kalem. "T-tentu saja tidak. Di sini sinyalnya agak jelek," kilahnya kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambil segelas air demi menenangkan pikirannya saat ini.
Hinata meneguk air dalam skala besar, lalu berbicara kembali. "Apa ini serius?" ulangnya.
Terdengar helaan napas keras di seberang sana. "Kau tahu ayah tidak suka mengulang dua kali."
Hinata nyaris tertawa kosong. "Jadi ayah serius menyuruhku untuk ikut lomba sains? Maksudku, lomba dengan anak Suzuran?" tanya Hinata penuh penekanan di bagian akhir.
"Tak perlu sains. Aku hanya bilang kau harus mendapat sertifikat minimal tingkat provinsi. Untuk masuk ke universitas di Inggris yang terbaik, kau setidaknya harus memiliki sertifikat. Kau tahu ayah tidak memiliki koneksi di sini, ini bukan Jepang."
Hinata menggelengkan kepalanya samar. "Aku tidak bisa," ucapnya pelan.
"Astaga, bukannya ayah menyuruhmu untuk menikah, ayah hanya meminta untuk ikut lomba dan kau bilang tidak bisa?"
Hinata menelan ludah. Ia tak ingin berdebat terlalu lama dengan ayahnya karena ia tahu akan kalah. "B-baiklah, akan kupikirkan."
Setelah mengatakan keputusan finalnya, telepon ditutup terlebih dahulu oleh Hiashi. Ia menghela napas panjang, ia bahkan belum sempat mengatakan selamat natal pada ayahnya lebih awal karena takut tidak akan berani menghubunginya lagi setelah ini. Hawa dingin menyusup masuk ke dalam dapur dan ternyata ia lupa menutup jendela. Hinata buru-buru menggeser jendela, tapi ternyata diluar telah turun salju. Salju pertama di musim dingin. Ia mengurungkan niat untuk menutup jendela dan membiarkannya terbuka menyuguhkan pemandangan indah khas musim dingin.
.
Hinata meniupkan udara panas dari mulutnya kepada tangannya yang kini mulai memerah. Suzuran diselimuti oleh salju putih yang bersinar pudar, beberapa bongkahan salju jatuh dari ranting pohon yang patah mengenai bahu Hinata dalam perjalannya memasuki sekolah. Hinata mengibaskan salju yang menempel di seragamnnya sebelum memasuki kelas.
"Hinata!" sapa Naruto dari pojok kelas sembari melambai bersemangat. Atmosfir kelas meningkat berkali lipat semenjak insiden dengan Housen, tentu dalam kategori yang lebih baik. Hinata tersenyum sebentar kemudian duduk di tempatnya. Naruto dan Kiba segera menghampirinya dengan wajah yang yang mencurigakan.
"Hei, Hinata! Kau sudah merencanakan liburan musim dinginmu?" tanya Naruto.
Hinata menyipitkan matanya. "Bukankah seharusnya saat ini kalian lebih mengkuatirkan nilai akhir kalian yang mengenaskan itu? Sebentar lagi kita sudah kelas tiga," ucap Hinata tegas.
Kiba mengibas-ngibaskan tangannya manja. "Haish~ Pikiranmu masih kolot saja, Hinata. Tak usah mencemaskan masa depan yang masih panjang itu. Masa depan jangka pendek seperti liburan musim dingin inilah yang lebih penting untuk dipikirkan sekarang," sahut Kiba kemudian ber-high five dengan Naruto.
Hinata menghela napas. Tentu saja. Seharusnya Hinata sudah tahu kalau memang mustahil mengajak mereka untuk lomba.
"Hinata, ayo kita merayakan tahun baru bersama!" seru Naruto menggebu-gebu.
"Tahun baru?" tanyanya ulang.
Naruto mengangguk penuh semangat. "Tahun kemarin kami juga merayakannya bersama! Kau harus ikut kami tahun ini!"
Hinata benar-benar mempertimbangkannya. "Kita akan melihat kembang api?" tanya Hinata yang tidak bisa menutupi gairahnya akan hal itu. Sudah lama sekali semenjak terakhir ia merayakan suatu momen bersama orang banyak.
"Oh yeah, tentu saja," sahut Kiba cepat. "Kita juga akan ke kuil!"
Senyum Hinata mengembang, lalu menggaggukkan kepalanya berkali-kali dengan senang. "Ya! Ya! Aku ikut! Bolehkah aku ikut bersama kalian?"
Naruto meringis lebar mendengarnya, kemudian mengacak rambut Hinata dengan gemas. "Tentu saja! Rupanya kau senang sekali ya, Hinata. Hahaha," mereka tertawa sejenak.
Hinata kemudian berpikir. "Apa kita tidak bisa merayakan natal bersama juga?" tanya Hinata ragu. Ia ingin sekali merayakan natal bersama orang lain mengingat ia tinggal sendirian di negera ini.
Senyum di wajah Naruto memudar sedikit, dia menggaruk belakang kepalanya dengan sengaja. "Well, maaf tapi aku tidak bisa. Ibuku akan menyunatku sampai habis jika tidak merayakan natal bersama keluarga," jelas Naruto.
"Yahh, kebanyakan dari kami menghabiskan malam natal bersama keluarga juga. Hehe, maaf ya Hinata," tambah Kiba. "Bukankah kau akan merayakan dengan keluargamu juga? Pasti ayahmu akan kembali ke Jepang untuk merayakan natal," ucap Kiba optimis.
Hinata tersenyum lemah sembari mengangguk. "Hmm, begitulah." If only, pikir Hinata dalam hati. Ditambah perdebatan terakhirnya dengan Hiashi akan menambah panjang daftar alasan untuk ayahnya tetap tinggal di Inggris. Hinata memang tidak pernah berharap apapun dari ayahnya. Tapi rasanya begitu menyedihkan untuk menjadi satu-satunya orang yang merayakan natal sendirian. Bahkan anak-anak Suzuran setidaknya memiliki keluarga untuk hal itu.
Seseorang berjalan melewati pintu depan kelas dengan langkah cepat dan kehadirannya tidak mungkin untuk diabaikan oleh Hinata, selain karena orang itu datang dengan berisik karena Suigetsu tertawa keras disebelahnya, namun juga karena aura Uchiha miliknya. Kedatangan Sasuke pagi itu disambut hangat oleh Naruto yang segera menyapanya dengan umpatan.
Sasuke keburu melihat Hinata, dan secepat itu pula Hinata mendukkan wajahnya. Rupanya mood Sasuke hari ini tidak terlalu mengecewakan, orang itu hanya berjalan tepat ke arahnya untuk membalas sapaan Naruto. Dengan hati-hati Hinata mengintip apa yang sedang dilakukan orang itu dibalik poninya yang turun, Sasuke tampak melepas sebuah syal rajut merah yang meliliti lehernya lalu dia bersin keras. Ingusnya tampak mengenai wajah Naruto.
Naruto mengelap wajahnya dongkol, "Sialan! Kalau mau bersin ke arah yang benar!" runtuk Naruto.
"Hm, sudah benar kok." Jawab Sasuke asal yang langsung mendapat jitakan dari Naruto.
Orang itu menggosok hidungnya yang merah dan tepat saat itu pandangan mereka bertemu. Seakan diingatkan dengan kejadian terakhir kali dengan Hinata, Sasuke buru-buru berdehem keras. Kemudian dia melempar tasnya sembarangan ke atas meja.
"Hei, mau kemana kau Sasuke?" tanya naruto sembari merangkul bahu sahabatnya yang beranjak pergi.
"Cari makan," sahutnya singkat. Mereka berjalan menjauhi Hinata.
"Hei, kau ingat 'kan kalau kita akan merayakan tahun baru bersama?" tanya Naruto saat berjalan melewati papan tulis.
"Mm," gumam Sasuke sebagai respon.
"Kita akan merayakannya bersama Hinata juga! Meski kau tak mau, aku akan mematahkan kakimu dan menyeretmu jika perlu!" ancam Naruto galak.
Sasuke tampak sedikit terkejut mendengar nama Hinata disebut. Pemuda itu melirikkan matanya ke arah dimana Hinata duduk dengan gelisah menanti jawaban Sasuke. Mata mereka bertemu, cukup lama sampai akhirnya Sasuke menggumam sekali lagi.
"Terserahlah."
Hinata yang mendengar samar jawaban itu entah mengapa membuat napasnya lebih lega. Cukup aneh mengapa Hinata begitu tegang menanti jawaban Sasuke. Mungkin, mungkin ia memang merindukan menghabiskan momen bersama Sasuke seperti dulu. Meski logikanya menyuruhnya untuk memikirkan kembali apakah ia boleh berharap pada Sasuke lagi, mengingat dosanya terhadap Sasuke tak bisa terhapuskan begitu saja dalam semalam meski Sasuke telah memeluknya.
"Oi, Hinata!" panggil Kiba di dekat pintu.
Hinata mendongak cepat, dan tanpa harus berkata apapun Kiba hanya mengajungkan jempolnya ke balik bahunya pada seseeorang yang berdiri di dekat pintu. Hinata buru-buru berlari menemui orang itu.
"Gaara-kun, selamat pagi!" sapa Hinata dengan senyum.
Sabaku Gaara membalas salamnya dengan senyum tipis. "Pagi." Kemudian matanya mengamati Hinata secara intens. Karena ditatap begitu lama membuat Hinata merasa tidak nyaman, ia berdehem untuk memecahkan keheningan yang tidak biasa itu.
"Gaara-kun?" panggil Hinata pelan.
"Ya?" sahut Gaara dengan pikiran yang masih melayang karena terlalu memperhatikan Hinata. Hinata berdehem sekali lagi menyadarkannya. "Oh, ya," jawab Gaara pada akhirnya benar-benar sadar.
Gaara tersenyum. "Wanna walk around for a while?"
Mereka berjalan menyusuri salju menutupi jalan setapak dibelakang gedung. Pohon paling besar disini kini tampak berdiri kesepian dalam tenang, menggugurkan beberapa salju bersamaan dengan dahan kering yang patah karena tertiup angin. Saljupun turun perlahan menemani setiap langkah kaki mereka yang meninggalkan jejak di salju yang putih. Mereka berjalan melewati sofa besar tempat favorit Juugo, yang kini terselimuti salju tipis.
"Jadi ini akan menjadi hari-hari terakhirmu di Suzuran?" tanya Hinata membuka topik.
Gaara tersenyum, "Time flies so fast."
"Gaara-kun akan kemana setelah ini? Maksudku, apa kau akan kuliah?" tanya Hinata bodoh. Sebenarnya pertanyaan itu terdengar sangat menggelikan untuk diajukan pada anak Suzuran. Malah kesannya menghina. Tapi Gaara adalah orang yang berbeda.
Bahkan Gaara benar-benar tertawa mendengarnya. "Mungkin iya. Ayahku senang mebiarkan anak-anaknya memilih jalannya sendiri. Tapi kukira aku akan mengikuti jejak ayahku. Politik."
"Benarkah? Seperti apa?"
Gaara berpikir sebentar. "Entahlah, mungkin kuliah ilmu pemerintahan misalnya."
"Wow," respon Hinata kagum. Ia benar-benar merasa iri pada orang yang bisa menentukan mimpinya sendiri tanpa harus dikekang kuat oleh keinginan orang tua. Meski itu adalah yang sekiranya terbaik oleh orang tua. Tapi tetap saja menyenangkan untuk bisa memilih jalan hidupnya sendiri.
Gaara terkekeh kecil melihat mata Hinata yang berbinar mendengar rencana masa depannya. Dia mengacak rambut Hinata gemas.
"Jadi bagaimana nilaimu?" tanya Hinata kembali.
Gaara tertawa pelan mendengar hal itu. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana santai. "Astaga, itukah yang membuatmu penasaran tentangku? Nilai?"
Hinata agak terkejut dan dibuat malu, ia tahu pertanyaannya basi. Ia hanya sedang berusaha.
"Uhm, well. B-bukan seperti itu..."
"Tidak buruk," kata Gaara tiba-tiba. Dia menoleh untuk memandang Hinata di sebelahnya sambil terus berjalan. "Aku akan menjadi peringkat satu dalam ujian nasional di Suzuran jika saja kakakmu itu tidak merebutnya," tambahnya.
Hinata tersenyum mendengarnya. "That's very good. You have always been this good, right."
Dia tampak diam sebentar seperti memikirkan sesuatu begitu serius. Kemudian berkata, "But not good enough at girls," kilah Gaara.
Hinata menaikkan alisnya heran atas pembelokan topik mendadak ini, tapi ia berusaha mengikutinya. Ia berusaha tertawa kecil. "Bullshit. Everyone in this school is womanizer. You guys go out with the different girls from one to another."
Gaara menggerakkan lehernya ke kanan sedikit. "But it doesn't work at you."
Hinata mendengus kecil. "Because they're just fooling around. No one being seriuos with me. "
"I do," kata Gaara cepat dan itu menghentikan langkah Hinata. Gaara menaikkan bahunya asal, dia memandang Hinata yang kebingungan. Dia menghela napas panjang dan Hinata bersumpah melihat rona merah tipis di pipi Gaara. "I...I've been watching you, lately. And it's hard to take my eyes off you because... you know, you are amazing girl. Every part of you is beautiful. How, hu-uh, how could I don't realize it ealier. And uh," Gaara tersenyum canggung sebelum akhirnya mengucapkan kalimat finalnya.
"Maybe you will cosider it?"
Hinata masih membeku di tempatnya berdiri. Mulutnya sedari tadi terbuka saking kerasnya mencena tiap kata yang keluar dari mulut Gaara. Ia mencari tanda-tanda kalau Gaara sedang bercanda tapi berakhir dengan memandang wajah serius itu lebih lama. Hinata menjadi tak bisa berpikir. Ini terlalu mendadak.
"A-about what?" tanya Hinata.
Gaara menggigit bibir. "About you become mine?"
Jantung Hinata rasanya berhenti untuk beberapa saat, mendadak suara salju terjatuh ke tanah saja bisa didengarnya. Hinata menelan ludah, sepertinya ia salah dengar dan tentu saja ia salah dengar. Tidak mungkin kalau Gaara baru saja... menyatakan perasaannya?
Mata Hinata menjadi berputar-putar karena dibuat pusing oleh perkataan Gaara. Ia nyaris terjatuh di karena tersandung kakinya sendiri jika saja tangan Gaara tak sigap menangkap lengannya. "Whoa, easy," katanya sembari mengangkat lengan Hinata agar bisa berdiri. Kedekatan itu malah membuat Hinata menjadi semakin kalang kabut. Wajahnya tak bisa berhenti memerah karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan liar dalam situasi ini.
Hinata mencoba mendongak untuk melihat wajah orang itu. Astaga, dia memang tampan. Tidak heran Hinata dulu menyukainya. Dia memang sosok yang sempurna, baik, tampan, cerdas, dan memiliki pesona. Mungkin mendekati kata sempurna. Tapi...
"Hei! Apa yang sedang kalian lakukan?"
Mereka dikagetkan dengan suara orang yang berjalan ke arah mereka, dan pertama kalinya dalam sejarah hidup Hinata di Suzuran, ia merasa begitu senang melihat Sasuke dan Naruto yang berjalan ke arah mereka. Ia tak bisa berpikir apapun saat ini selain kabur dari lokasi tempat dimana hal yang mustahil baru saja terjadi.
"Ah! Naruto-kun! Sasuke-kun!" seru Hinata berteriak keras tanpa ia sadari.
Bahkan mereka berdua tampak terkejut dengan panggilan berlebihan dari Hinata. Naruto berkata sembari mengunyah donat yang cokelatnya belepotan di seluruh mulutnya, "Kau bersemangat sekali hari ini Hinata. Apa yang baru saja kalian lakukan—"
"Kalau begitu aku akan menyirami bunga dahulu! Bye!" seru Hinata cepat dan berlari menjauhi mereka bertiga yang masih bingung dengan tingkah Hinata.
Naruto meneriakinya lagi, "Oi Hinata! Ini musim dingin buat apa menyirami bunga—asataga apa dia mencuri sesuatu? Cepat sekali larinya," Naruto mendengus tak percaya di sela tawa.
Naruto menelan bulat-bulat sisa donat di mulutnya, lalu menyandarkan lengannya di bahu Sasuke. "Well, kau masih berkeliaran di sini huh?" tanya Naruto pada Gaara.
Gaara memandang mereka sekilas. "Bukankah seharusnya kalian bersyukur bisa melihat wajah tampanku lebih lama lagi?"
Naruto terbahak mencemooh mendengarnya, kemudian dia merangkul bahu Gaara dan Sasuke bersamaan. "Hahaha! Kalau begitu kau harus traktir kami untuk merayakan kepergian kalian!"
.
Salju berguguran dengan pelan di luar sana, awan abu-abu muda memenuhi langit menutupi jalan masuk sinar matahari di musim dingin. Hawa dingin menyerebak masuk ketika Hinata menggeser jendela kamarnya agar terbuka, kemudian ia duduk di kursi kecil di bawah jendela. Matanya memandang ke sekeliling jalan di luar. Seluruh permukaan aspal kini tertutup oleh salju yang tipis, dan semua bangunan di sekitarnya berubah menjadi lautan warna putih. Keajaiban musim dingin. Segalanya tampak berkali lipat lebih indah dari pada musim lain, meski hawa dingin yang menusuk memang menjadi lubang besar.
Hinata merapatkan selimut bulu tebal yang membungkus tubuhnya hingga mirip kepompong. Semoga tak ada orang lewat yang pingsan jika melihat benda aneh bertengger di lantai dua rumahnya. Hinata menjulurkan tangannya keluar dari selimut untuk bisa melihat benda yang kini digenggamnya. Kemudian jempolnya memencet tombol play pada handy cam tersebut.
"Selamat natal!" seru Hinata kecil melompat kegirangan dalam balutan sweater merah saat menyadari dirinya sedang direkam. Suara alunan musik yang diputar menjadi background lembut dalam rekaman itu.
"Merry christmas, Hinata sayang. Ayolah ayah sudah mengajarimu beberapa kata Inggris," sahut suara berat Hiasahi yang berperan sebagai perekam momen itu.
"Oh ayolah, hentikan itu Hiashi. Kau memaksa anak berumur sepuluh tahun untuk bicara bahasa Inggris di malam natal," kata sebuah suara yang begitu dirindukannya. Layar menunjukkan latar yang berbeda, video bergerak mencari pemilik suara tersebut. Kemudian terlihatlah sosok itu. Seorang wanita yang sedang berdiri memunggungi kamera karena sedang berkutat dengan meja dapur.
"Sayang, kau yang harus berhenti mengirisi strawberry itu. Ayolah, kami lapar," kata Hiashi dan kamera bergerak kaget ketika Hinata berlari melewati kedua kaki ayahnya menuju dapur.
"Berlarilah seperti seorang putri bangsawan, Hinata!" seru ayahnya mengingatkan namun tak digubris oleh Hinata yang terlalu senang saat itu. Hinata memanjat kursi di meja makan, kemudian menengok keranjang bayi di sebalahnya.
"Lihat ayah! Hanabi menggoyangkan tubuhnya!" kata Hinata kegirangan melihat Hanabi yang masih bayi menggerakan tubuh kecilnya seakan mengikuti irama musik yang sedang diputar. Bahkan bayi kecil itu belum bisa membuka matanya.
Tawa Hiashi terdengar ketika dia mengarahkan kamera untuk merekam gerakan kecil Hanabi. Ibunya bahkan ikut memperhatikan tingkah lucu putri kecilnya setelah meletakkan kue besar tingkat dua di meja makan. Mereka semua tertawa melihat Hanabi yang kini tersenyum.
Kemudian Hiashi mengarahkan kamera pada wajah istrinya yang masih asik menari bersama Hinata dengan wajah paling bahagia sepanjang hidupnya. Hiashi menekan tombol zoom yang memperlihatkan senyum lebar menghiasi wajah istrinya yang pucat.
Tetesan air membasahi tangan Hinata yang bergetar memegang handy cam itu, ia menutup layar kamera karena tak sanggup melihat kilas adegan itu lebih lama lagi dan tangisannya jebol. Hatinya begitu sakit sampai memaksanya sadar bahwa sudah 8 tahun berlalu sejak tanggal video itu direkam, dan dimasa ini ia diingatkan untuk sadar bahwa ia telah sendirian. Uap panas mengalir lewat mulutnya tiap kali Hinata sesenggukan, menembus dinginnya udara.
Ia begitu merindukan masa itu.
Suara getaran keras membuatnya terperanjat sampai nyaris menjatuhkan handy cam dari tangannya. Hinata segera menghapus air matanya dan berjalan ke arah kasur dimana ponselnya berdering. Ia menyambar ponsel dan menjawabnya.
"Halo?"
"Finally you answer my calls," jawab suara di seberang sana dan mata Hinata melotot keluar mendengar suara itu.
Ia menjauhkan ponsel dari telingnya begitu cepat, dengan tatapan horor ia mencoba membaca nama yang terpantul di layar ponselnya. Hinata menelan ludah. Bodoh! Ia sudah berusaha menghindari panggilan orang ini selama libura musim dingin. Astaga, ia begitu ceroboh.
Mendadak ide cemerlang melintas di kepalanya.
"Uhuk! Ah, ya? Gaara-kun?" respon Hinata kemudian terbatuk keras yang sebenarnya kentara sekali sedang dibuat-buat.
Jeda sebentar sebelum orang itu berkata, "Kau sakit?"
Hinata terbatuk lagi, kini dengan menambahkan efek suara menyedot ingus. "Y-ya, begitulah?"
"Kedengarannya parah," ujar Gaara penuh simpati.
Hinata meringiskan gigirnya dengan hati-hati dengan wajah bersalah. "Uh-huh."
"Well, kalau begitu aku akan membelikanmu obat. Kau mau aku mengantarnya ke rumahmu?"
"TIDAK!" seru Hinata keceplosan dan buru-buru membekap mulutnya dan mejedukkan kepalanya di pinggiran tempat tidur. "M-maksudku, tidak perlu sampai merepotkanmu."
Gaara terdiam. "Jadi apa lebih baik kita bertemu?"
Jantungnya serasa berhenti mendengarnya."A-apa maksudmu?"
"Yah, maksudku kau bilang tak ingin merepotkanku untuk membawakanmu obat-yang mana pasti akan kubelikan, kita juga belum selesai bicara waktu itu dan err..." Jeda agak lama.
"Aku ingin melihatmu."
Astaga orang ini benar-benar membunuhnya! Orang sesempurna dirinya bilang ingin melihat Hinata di malam natal? Bloody hell! Gadis remaja normal manapun pasti akan berlari untuk menemui orang seperti Gaara. Entahlah, Hinata memang merasa senang. Tapi ia tidak ingin terlibat dalam sebuah hubungan apapun karena ia tahu beratnya mejalani sebuah komitmen. Hubungannya dengan Sasuke sudah begitu rumit. Tunggu... memang hubungan apa yang ada di antara mereka? Mengapa pula Hinata memasukkan nama Sasuke dalam pertimbangan masa depan kehidupan Hinata?
"Hinata?" panggil Gaara karena mereka diam cukup lama.
"Ah? Ya—?"
"Oke, akan kujemput jam tujuh malam."
"HAH?!"
Telepon diputus.
Hinata berteriak kencang penuh frustrasi kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan kedua tangan telentang lebar. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri penuh emosi.
"Argggghhhh!"
Hinata mengambil napas super panjang kemudian melepaskannya dengan berteriak kencang sekali lagi. Matanya menatap langit-langit kamar dengan kepala dipenuhi banyak pertanyaan untuk dirinya sendiri. Sebetulnya ini merupakan kesempatan yang sangat bagus. Maksudnya, dimana lagi mendapatkan orang seperti Gaara? Orang sepertinya mungkin hanya muncul satu kali dalam satu generasi. Segala aspek tentang dirinya menambah poin bagi Hinata untuk menerima entah apa yang akan dikatakan Gaara nanti.
Ia mengingat begitu sukanya Hinata pada Gaara ketika masih SMP. Lelaki yang pendiam, tapi dia selalu membantu Hinata dulu. Tipe penyemangat yang sangat disukai Hinata.
Tapi itu dahulu.
Ketika Hinata masih belum menghadapi realita yang ada. Terikat dalam hubungan itu bukan masalah yang kecil. Ia banyak belajar lewat semua konfrontasinya dengan Sasuke. Oh tidak. Nama pemuda itu kembali ia jadikan alasan untuk menghancurkan hidupnya sendiri.
Ponsel di tangannya kembali bergetar. Dengan gontai ia memeriksa sebuah pesan yang masuk.
Hinata tersenyum melihatnya. "Anak ini," gumamnya dengan senyum lebar melihat pesan bergambar dari Kiba yang memperlihatkan dia dengan keluarganya dan sepertinya mereka tenggelam oleh serbuan anjing dibawah pohon natal.
Hinata memeriksa galeri di ponselnya ketika menyimpan foto itu, lalu ia melihat hal yang membuatnya bangkit terduduk di atas kasur.
Galerinya dipenuhi oleh wajah-wajah anak Suzuran. Lalu Hinata ingat Naruto meminjam ponselnya seharian ketika persiapan festival dulu. Hinata meneliti tiap foto yang semakin dilihat semakin membuatnya terisi oleh rasa senang. Ia merasa memiliki begitu banyak teman.
Sebagian besar adalah selfie wajah Naruto, Kiba dan Lee. Lubang Hidung Suigetsu. Foto Sai yang sedang menggambar sketsa salah satu model majalah dewasa. Shikamaru yang mengeluarkan asap rokok dari hidungnya. Naruto yang setengah telanjang mengecat lapangan. Foto Hinata yang sedang digoda oleh Juugo. Tawa renyah anak-anak Suzuran.
Kemudian jarinya berhenti mengusap layar ketika menatap satu foto itu. Foto Sasuke yang sedang melamun menatap ke arah lapangan.
Entah mengapa jarinya tak kunjung menggeser menuju foto lain. Ia terpaku tanpa alasan yang jelas.
Hinata begitu penasaran akan gambar itu yang lebih utuh. Apa yang membuat Sasuke di dalam foto itu sampai melamun memperhatikan sesuatu. Ia menggeser ke sebelah kanan dan melihat sesuatu yang tak asing. Sosok dirinya sendiri. Itu adalah Hinata yang sedang berdiri bertumpu pada kedua lututnya karena kecapaian di tengah lapangan yang agak sepi.
Hinata menggigit bibirnya, hatinya entah mengapa merasa seperti mentega yang meleleh di atas teflon yang panas. Ia merasa begitu hangat mengetahui hal sepele macam itu.
"Kenapa kau begitu brengsek, Uchiha Sasuke," gumam Hinata yang berusaha menutupi senyumnya yang mengembang dengan cara memukul foto Sasuke dengan gemas.
.
Suara klakson mobil terdengar dari luar pintu rumahnya. Hinata tersentak kaget dan menjatuhkan lipgloss berwarna cerah miliknya, ia buru-buru memungut benda itu dan mengaplikasikannya pada bibirnya dengan cepat. Ia menuruni tangga buru-buru sampai nyaris tersungkur, tapi kemudian ia diam sejenak di ruang tengah. Memeriksa sekali lagi refleksi tubuhnya di depan cermin. Well, ia tampak normal. Pengalamannya dahulu memberi pelajaran bahwa pakaian kuno tidak begitu diminati laki-laki modern. Hinata hanya mengenakan kemeja berlapis sweter merah muda pudar dan rok biru navy selutut yang tentu saja memakai leging hitam, serta sepatu boot bulu cokelat setinggi betis. Mengangguk sekali lagi pada bayangannya sendiri di cermin untuk meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja, kemudian Hinata menyambar mantel panjang yang menggantung di dekat pintu dan dengan menghirup napas dalam-dalam, ia melangkahkan kakinya keluar rumah.
Debaman pintu mobil mengawali keheningan yang tercipta segera setelah Hinata duduk di dalam mobil. Gaara menengok ke arahnya, Hinata menatap lurus ke depan seolah mengabaian tatapan Gaara yang melihatnya dari atas ke bawah.
"Uhm, Hinata kau..."
"S-silahkan fokus mengendarai!" seru Hinata nyaris gagap.
"O-oh, oke," sahut Gaara heran bercapur geli. Dia memandang lurus ke depan. "Hanya ingin memberitahumu kalau kau masih punya satu yang nyangkut di rambutmu," tambahnya kemudian.
Mata Hinata melebar mendengarnya. Tangannya dengan sigap memeriksa seluruh rambutnya dan menemukan sesuatu menempel pada rambut bagian belakang. Hinata menatap horor rol rambut berwarna ungu di tangannya, rasa malunya melonjak drastis hanya dalam hitungan detik. Sial, ia memejamkan mata meruntuki kecerobohannya.
Gaara tertawa pelan. "Bisakah kau tidak gugup? Aku hanya ingin merayakan malam natal denganmu. Apa itu berlebihan?"
Hinata menoleh untuk memandang wajah kalem itu. Kegugupannya langsung buyar ketika diyakinkan oleh senyum tipis di wajah Gaara.
"Oke."
Mereka tiba di alun-alun pusat kota yang kini dipenuhi oleh ribuan orang yang mengellingi sebuah pohon natal super besar di tengah-tengahnya. Cahaya lampu dari pohon itu memancarkan sinar yang begitu terang sampai nyaris bisa menerangi tiga blok pertokoan di daerah ini. Semuanya tampak begitu meriah, penuh suka cita, dan kerlap-kerlip lampu yang berlebihan. Suara musik dari sebuah panggung musik di dekat mall terbesar di Tokyo menggema memenuhi udara malam, menciptakan euforia yang begitu menyenangkan di malam bersalju ini.
Dadanya dipenuhi perasaan hangat hingga membuat bibirnya tak bisa berhenti membentuk senyuman. Berada di tengah-tengah lautan manusia yang bersuka cita membuatnya ikut merasakan bahagia.
"Gaara-kun lihatlah!" seru Hinata mengoyang-goyangkan bahu Gaara seraya menunjuk ke puncak pohon natal utama. Ia menggelengkan kepalanya takjub. "Kau pikir berapa yang mereka habiskan untuk membuat bintang sebesar dan seindah itu di pucuk pohon ini?"
"Sekitar sepuluh juta," jawab Gaara.
Hinata menoleh ke arahnya. "Mungkin dugaanmu benar."
"Oh ya, tentu saja benar. Memang sepuluh juta," ujar Gaara mantab.
Hinata memandangnya dengan alis terangkat. "Bagaimana kau bisa yakin?"
"Karena ayahku yang membelinya. Well, perannya sebagai menteri sosial dan budaya membuatku yakin kalau itu merupakan bintang yang mahal."
Mulut Hinata terbuka bego mendengarnya. Ia mengangguk-angguk ngeri, "Kerja bagus."
Gaara masih menatapnya dengan senyum. "Kau mau?"
Hinata menoleh kepadanya. "Hm?"
Gaara mengendikkan dagunya ke arah bintang yang bersinar menyilaukan itu. "Bintang itu. Aku bisa memberikanmu sepuluh yang seperti itu jika kau menginginkannya."
Hinata refleks tertawa mendengarnya, bukannya apa-apa, hal itu malah terdengar begitu konyol karena keluar dari mulut seorang Gaara. Hinata melipat kedua tangannya di dada. "Well, kau melupakan satu fakta penting, Gaara-kun."
Gaara memiringkan kepalanya berpkir. "Yaitu?"
Hinata mengangkat bahunya berlagak kalem. "Aku adalah putri seorang pengusaha kaya."
Senyum terpancar di wajah Gaara begitu mendengarnya. "Oh, yes. Rich. We both are rich people. Looks like my money doesn't affect you, hm?"
"That's what I was trying to say," ucap Hinata menahan geli.
Gaara mengangguk pelan dengan senyum. "Kau tak mudah di dapatkan," katanya pelan dan Hinata pura-pura tak mendengarnya karena ia tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana.
Hinata hanya tersenyum sebagai respon, tapi tatapan Gaara begitu mengganggunya. Gaara menggaruk dagunya berpikir setelah matanya menjelajahi area di sekitar mereka. Dia kemudian menarik tangan Hinata, menerobos arus orang-orang yang berjalan seenaknya di trotoar.
Mereka berhenti pada sebuah meja sedang milik seorang pedagang kecil-kecilan. Hanya ada satu lapak yang menawarkan beragam pernak-pernik dan beberapa topi dan syal rajutan yang digantung.
"Pilihlah satu," kata Gaara yang lebih mirip terdengar sebagai perintah.
Hinata baru akan membuka mulut untuk menolak tapi Gaara mengintimidasinya dengan tatapan memaksa. Hinata menggigit bibinya seraya jari telunjuk meneliti meja dengan cermat. Gaara tersenyum melihatnya sampai ia menyadari akan satu hal.
Tangannya menyambar sebuah syal putih vanila yang tergantung di tiang pendek kemudian menyodorkannya pada Hinata. "Bagaimana kalau yang satu ini? Kulihat kau tidak mengenakan syal di udara minus dua seperti malam ini," tawar Gaara.
Hinata tersenyum senang menatap syal itu. "Ide bagus. Terimakasih Gaara-kun," ucap Hinata tulus dan Gaara tampak terpaku sebentar. Dia berdehem aneh dan menyerahkannya pada si penjual untuk di masukkan ke dalamm tas yang terbuat dari kertas cokelat.
"Terimakasih," ulang Hinata sekali lagi ketika menerima bungkusan itu dari Gaara.
Mereka berjalan kembali sambil melihat-lihat kemeriahan yang ada. Mata Hinata tak bisa berhenti untuk berbinar tiap kali melihat segala sesuatu yang indah dan berkerlap-kerlip. Di sisi lain mata Gaara tidak bisa berhenti untuk mengamati tingkah Hinata yang begitu senang, dan sesekali seulas senyuman terlepas dari mulutnya.
"Kau tidak lelah?" tanya Gaara.
Hinata menoleh ke arah Gaara dengan wajah yang nyaris bersinar. "Apa aku kelihatan seperti itu?"
Gaara tertawa. "Tentu saja tidak." Dia mengamati Hinata lagi, kemudian menggaruk dagunya ragu-ragu. "Aku senang kau menikmati ini semua."
"Oh ya tentu saja! Karena kupikir aku akan melewatkan malam natal meringkuk di dalam selimut sambil menonton film horor dan hanya ditemani cokelat panas. Arghh, aku tidak ingin melewatkan malam menyedihkan seperti itu lagi," jelas Hinata panjang lebar.
Kemudian tangannya ditarik oleh Gaara agar berhenti berjalan. Hinata menatap bingung ke arah orang itu.
"Kalau begitu pacaran denganku."
Kalimat itu sudah terlanjur di dengarnya, Hinata baru akan menghindar ketika Gaara menariknya mendekat. "G-gaara-kun..."
"Kau mau aku memperjelasnya?" Gaara menarik tangannya membuat jarak mereka menjadi terlalu dekat. "Kubilang, pacaranlah denganku. Maka akan kupastikan kau tidak akan melewati malam natal sendirian lagi."
Hinata hampir sesak napas karena ia menahan napasnya kuat-kuat atas kedekatan ini. Mata tosca itu menatapnya lekat hingga rasanya untuk menghindar dari tatapannya pun susah. Hinata menelan ludah gugup. "A-a-aku—" kalimatnya terputus saat Gaara mendekatkan wajahnya.
Hinata berusaha menghindar tapi Gaara tampak tidak mudah menyerah, tangannya menyentuh pipi Hinata agar tak bergerak menjauh. "G-Gaara-kun," ucap Hinata hampir serak karena jantungnya berdegup lebih kencang daripada biasanya. Gaara terus memajukan wajahnya.
"K-kumohon hentikan," pinta Hinata yang tentunya dihiraukan oleh Gaara. "Please, stop." katanya lalu Hinata memberanikan diri untuk menatap tajam mata Gaara. Ia tak ingin di perlakukan seenaknya oleh laki-laki semenjak kejadian Housen dan memang ada sesuatu yang menyuruhnya untuk mencegah hal ini terjadi. Ia hanya... tak menginginkannya. Ia sudah tak menginginkannya.
"Hentikan."
Saat itulah Gaara benar-benar berhenti untuk bergerak karena kilatan di mata Hinata bukan main-main. Gaara menarik wajahnya menjauh. "Sori," dengan wajah merona.
Hinata menggigit bibirnya. Ia tak bisa mengatakan sepatah katapun karena rasa canggung mulai menyelimuti mereka. Baru saja mulutnya akan terbuka untuk memohon maaf, suara dering dari ponselnya mengejutkan Hinata.
Hinata buru-buru menarik keluar ponselnya dari dalam tas dan menoleh ke arah lain untuk menerima telepon. Ia bahkan tak melihat nama orang yang menghubunginya.
"Halo?"
Tak ada sahutan dari seberang, yang terdengar hanyalah suara napas yang memburu.
"Halo?" tanya Hinata sekali lagi sambil mengintip Gaara yang ternyata sedang menghadap arah lain.
"Hinata..." sebuah suara lemah menyahutnya. Hinata menyipitkan mata mengenali suara orang ini. "Tolong aku..." katanya sekali lagi dan mata Hinata melebar menyadari siapa yang menelepon. Ia menatap layar ponselnya sekilas. Sasuke Uchiha.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Hinata mulai panik.
Napas Sasuke terdengar lebih cepat seakan habis lari mengelilingi lapangan. "T-tolong aku... kemarilah," pintanya sekali lagi dengan suara bergetar.
"Apa yang terjadi? Kemana?!" tanya Hinata nyaris berseru.
"Kemarilah...please. D-dia tidak bergerak. A-apa dia mati?" Sasuke terdengar berbicara pada dirinya sendiri.
"O-oke! Oke! Aku akan kesana, rumahmu hm?"
Sasuke hanya bergumam tak jelas yang dianggap Hinata sebagai iya. "Tunggu aku, oke? Tenangkan dirimu dahulu. Aku akan segera kesana," ucap Hinata buru-buru memutus telepon. Entah kenapa ia menjadi begitu panaik mendengar suara Sasuke tadi. Fokusnya terpaku hanya pada Sasuke karena sampai kiamatpun Sasuke tidak pernah menghubungi kecuali ada sesuatu terjadi. Ia baru akan berlari ketika sebuah tangan mengehentikannya.
"Mau kemana?" tanya Gaara terkejut.
"Ah, sesuatu yang mendesat terjadi. Maafkan aku, Gaara-kun. Aku harus pergi duluan." Hinata membungkuk sedikit. "Terimakasih, hari ini sangat menyenangkan."
Ia baru pergi beberapa langkah ketika Gaara meneriakinya sesuatu. Hinata menoleh ke belakang.
"Pakailah syal itu ketika tahun baru nanti bersama anak-anak! Maka aku akan tahu perasaanmu padaku jika kau datang mengenakannya!"
Hinata tersenyum tipis sebagai balasannya.
Tubuhnya tak bisa berhenti bergetar karena jantungnya berdegup luar biasa kencang sampai dadanya terasa begitu sakit. Sasuke berjalan mondar-mandir di dapur yang gelap, hanya lampu ruang sebelah yang meyala dan menjadi satu-satunya penerangan di rumah yang sepi ini. Semua pekerja di sini liburan natal. Terkutuklah ide Madara untuk meliburkan mereka semua.
Napasnya putus-putus seperti akan habis, oh tidak, ia tak bisa bernapas dengan benar. Sasuke berlari ke depan wastafel dan mengambil air untuk membasuh wajahnya. Ia kembali menemukan caranya bernapas. Tapi itu tak mengurangi keringat dingin yang membanjiri seluruh tubuh dan wajahnya. Ia kembali gemetaran, kemudian berbalik untuk menghadap tubuh yang tergulai di atas lantai.
Fugaku terngkurap tak bergerak di dekat meja makan dengan darah mengalir dari mulutnya.
Jantungnya benar-benar terasa akan lepas dari dadanya yang kini terasa begitu nyeri melihat kondisi ayahnya. Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana?
Tubuhnya merosot jatuh karena tak kuasa lagi menahan gemetar yang begitu hebat. Sasuke benar-benar tak bisa bergerak maupun bernapas lagi.
Lampu di atasnya tibat-tiba menyala.
Matanya melototi orang yang berlari masuk ke dapur dengan memanggil namanya kencang.
"Sasuke-kun!" Gadis itu kemudian menghampirinya. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya sambil mengguncang pelan bahu Sasuke yang masih gemetar.
Mulutnya tak bisa mengucapkan sepatah katapun, ia hanya memandang ke arah tubuh ayahnya. Hinata mengikuti arah pandangan Sasuke kemudian menutup mulutnya karena terkejut. Dia segera menghampiri Fugaku kemudian mengguncangkan tubuhnya pelan, namun tak ada respon.
"D-dia m-mati?" tanya Sasuke.
"Tidak!" seru Hinata keras. Kemudian gadis itu menatapnya dengan mata yang tegas. "Dia tidak mati, Sasuke-kun. Tapi denyut nadinya lemah, dan ini mungkin bisa lebih buruk jika tak segera di bawa ke rumah sakit. Kau sudah menghubungi ambulan? Dimana semua orang di rumah ini?"
"A-aku hanya baru saja kembali dan suara benda terjatuh membuatku kemari, dan... dan... d-dia sudah seperti itu," napasnya tercekat.
Hinata menghampirinya kemudian memegang erat bahu Sasuke sampai kerasa sakit. "Fugaku-san belum mati. Sadarlah Sasuke-kun! Apa kau sudah menghubungi ambulan?"
"D-dia akan mati—"
"Maka selamatkanlah dia! Hubungi ambulan sekarang juga!" gadis itu berteriak kepadanya.
Kemudian seketika jiwanya seperti terkumpul kembali. Fokusnya sudah kembali dan akhirya Saskue meraih ponsel di atas pantry dan menelepon ambulan dengan napas yang masih memburu. Hinata mendudukan tubuh Fugaku yang lemas. Kemudian dia menoleh pada Sasuke. "Kau, kemasilah barang ayahmu, sekarang. Kurasa beliau akan lama berada di rumah sakit. Kau bisa melakukannya 'kan, Sasuke-kun?"
Sasuke menelan ludah dan mengangguk samar. Lalu kakinya melangkah menuju lorong gelap untuk menuju ke kamar ayahnya. Ia segera mengambil tas besar dari dalam lemari kemudian mengisinya sampai penuh dengan segala pakaian yang bisa diraihnya dari lemari. Kemudian dengan tangan masih gemetar ia menarik laci besar berisi pakaian dalam ayahnya dan memasukkanya ke dalam tas secara asal. Sampai akhirnya jarinya membentur sesuatu yang licin di dasar laci kayu itu.
Sasuke terduduk di lantai sambil merogoh lebih dalam isi laci tersebut, kemudian menarik keluar beberapa dokumen yang jumlahnya cukup banyak. Meski penerangan di ruangan itu minim karena ia lupa menyalakan lampu, tapi tulisan yang tercetak di atas dokumen itu bisa dibacanya dengan sangat jelas.
Asuransi kesehatan.
Atas nama Uchiha Sasuke.
Sasuke melihat pada dokumen ke dua dan seterusnya. Hanya tertera nama Uchiha Sasuke pada kertas asuransi yang jumlahnya lebih dari dua puluh lima dokumen. Gemetar di tangannya mendadak berubah menjadi benar-benar tak berdaya. Dadanya serasa dicengkeram begitu kuat, menahan kepedihan sekaligus rasa bersalah yang begitu hebat.
Kemudian ia menangis tanpa disadarinya.
"Brengsek... kau yang akan mati, kenapa malah..." ia nyaris terisak.
Suara Hinata yang memanggilnya kencang membuatnya tersentak. Kemudian ia buru-buru mengelap wajahnya kasar lalu bergegas meninggalkan kamar dengan tas besar di pundaknya.
Debaman keras menandakan tertutupnya pintu operasi, lalu menyalalah lampu merah di atas pintu itu. Sasuke langsung terjatuh di tempat duduk yang sama ketika terakhir ayahnya di operasi. Bersebelahan dengan orang yang sama pula.
Tangannya masih saja tak berhenti bergetar. Ia hanya berusaha menggenggam erat tangannya sendiri sampai terasa kebas demi mengurangi guncangannya.
Hinata menyentuh bahunya dan tersenyum lembut favoritnya. "Tenangkan dirimu dahulu, maka ayahmu juga akan berusaha di dalam sana."
Sasuke menatapnya sekilas, namun tak ada perlawanan. Ia hanya sedang tak ingin beradu argumen maupun menolak mempercayai itu. Karena sekarang ia benar-benar berharap kalimat itu nyata.
Kemudian suara langkah kaki yang ramai menuju ke arah mereka. Bawahan Fugaku datang dengan wajah tergesa-gesa lengkap dengan tuxedo serba hitam mereka. Sasuke menatap heran kerumunan orang itu.
"Aku yang memberitahu mereka, karena hanya mereka yang bisa datang cepat," kata Hinata. "Obito-san juga sudah kuhubungi, meski baru bisa datang besok," tambahnya.
Sasuke menoleh ke arahnya dengan cepat. "Kau menghubunginya? Dia masih di London, kau tahu."
"Kuyakin sekarang dia sudah mendapat tiket penerbangan pertama besok."
Sasuke melipat bibirnya. "Hn."
"Kau ingin aku menghubungi Madara-san?"
"Tidak perlu," jawabnya cepat. "Jangan. Dia sedang menghabiskan liburan natal impiannya di Hokkaido. Aku tak ingin kakek tua itu menerjang salju di tengah malam untuk kemari. Dia tak perlu kuatir. Jangan memberitahunya." Terang Sasuke kemudian memainkan ibu jarinya gelisah. Matanya menatap galak pada bawahan Fugaku kalau peringatan itu juga berlaku bagi mereka.
Hinata memperhatikannya sebentar, kemudian tersenyum tipis. "Baiklah."
Gadis itu kemudian menarik tisu lalu disodorkan padanya. "Hapus dulu keringatmu, kau banjir keringat di tengah musim dingin."
Sasuke bahkan tak menoleh, memang benar kaos oblongnya basah di daerah dada juga keringat menembus sampai ke kemeja biru pastel pada punggungnya. Mantel hitam dan syal merahnya dibiarkan tergeletak di kursi sampingnya.
Melihat tawarannya dihiraukan oleh Sasuke membuat gadis itu berinisitif untuk menyeka keringat yang membasahi seluruh wajah Sasuke. Sasuke sedikit terkejut dan tangannya sudah menepis tangan Hinata, tapi gadis itu bersikeras, maka Sasuke membiarkannya tanpa alasan kuat. Gadis itu menyeka pelan keringat di dahinya penuh ketelitian.
"Kenapa malah menghubungiku? Seharusnya kau langsung memanggil ambulan," kata Hinata sembari terus menyeka keringat.
Sasuke terdiam sebentar. "Karena aku sedang memikirkanmu saat itu."
Jawabannya membuat tangan Hinata berhenti bergerak untuk beberapa saat, dia berdehem pelan.
Sasuke melanjutkan. "Aku... panik. Aku tidak ahli dalam menghadapi situasi seperti tadi. Entahlah..." ia kembali menerawang ke arah tembok putih di depannya. "Kau muncul begitu saja di benakku. Entahlah..."
Hinata terdiam mendengar penjelasannya. Kemudian dia berhenti menyeka keringat pada wajah Sasuke. Sasuke hanya menyadari kalau gadis itu mengangguk samar dengan wajah merah.
Sasuke kembali menatap kosong tembok di depannya. Ia merasa begitu beruntung. Sangat. Sangat beruntung.
"Dia menyimpan asuransi untukku," kata Sasuke entah ditujukan kepada siapa. Matanya kembali berair. "Orang tua itu yang kini perutnya sedang di buka di sana, tapi dia malah menyiapkan asuransi untukku." Sasuke tak bisa menahannya lagi.
Ia ingin menangis keras, tapi ditahannya begitu kuat. Tangannya menutupi kedua matanya yang basah. "K-kau percaya itu? Dia malah menyiapkan begitu banyak asuransi untukku dan sekarang dia yang akan mati. Oh, astaga yang benar saja. Hahaha," Sasuke tertawa sinis di sela-sela tangisnya.
Simpati yang besar serta tulus terpancar dari mata Hinata yang memperhatikan momen pertama kalinya ia melihat Sasuke menangis setelah kematian Itachi.
Tangan Sasuke menekan keras kedua matanya mengira akan bisa mengurangi volume air yang keluar dari sana. Dadanya begitu terasa sesak. "Aku tidak tahu dia bisa seperti itu. Kenapa dia melakukannya?" tanya Sasuke akhirnya menatap kedua mata Hinata seakan menuntut jawaban yang logis.
Mata Hinata tampak ikut berair. Dia menatap Sasuke dengan senyum lembutnya yang biasa. "Karena dia keluargamu."
Sasuke terpaku mendengar jawaban itu. Napasnya tersengal karena menangis. "Keluarga, huh," ia tertawa sinis masih dengan air mata mengalir. "Apa artinya itu?"
Hinata meyusupkan tangannya pada pipi Sasuke. "Artinya dia tidak akan mau membuat anaknya cemas sedikitpun. Dia hanya akan menyimpan rasa sakitnya sendirian karena itu sama sekali tak sebanding dengan melihat hidup anaknya bahagia. Dia yang akan memberikan anaknya segala makanan enak tanpa memikirkan untuknya sendiri. Dan dia melakukan semua itu tanpa ingin mendengar kata terimakasih."
Dagunya gemetar menahan tangisannya yang semakin jebol. Kemudian Hinata merengkuhnya ke dalam sebuah pelukan hangat dan Sasuke sama sekali tak menolak untuk mengakui bahwa yang sangat dibutuhkannya saat ini adalah sebuah pelukan. Ia melupakan segala kebencian, kemarahan, maupun batas di antara mereka berdua. Sasuke membalas pelukannya erat, menarik tubuh Hinata ke dalam dekapan yang lebih kuat.
Ia hanya menangis keras di bahu Hinata. Ia berasa dosanya yang sudah terlalu banyak pada ayahnya keluar satu-persatu memenuhi kepalanya.
"Aku tidak pernah mengucapkan terimakasih padanya... selama ini... aku sering protes padanya sejak kecil, menghina pekerjaannya yang sebenarnya dilakukan untukku..." Sasuke akhirnya terisak. "Dia belum pernah mendengar kata t-terimakasih dariku... oh god."
Hinata mengelus puggung Sasuke perlahan-lahan. "Maka kau harus mengatakannya setelah dia keluar dari sana, Sasuke-kun."
Hinata mengintip keadaan langit yang kelam karena tertutup awan mendung yang tipis dari balik jendela. Matahari pagi tak tampak sinarnya. Yang ada hari natal tahun ini dipenuhi oleh salju yang berguguran meski tak begitu lebat. Hawa dingin membuatnya menggosok-gosokkan kedua tangan pada lengannya. Kemudian ia berjalan ke arah meja kecil di samping ranjang pasien dan menaikkan suhu penghangat ruangan hingga uap tebal mengepul memenuhi kamar yang masih sepi ini.
Ia memeriksa keadaan Fugaku yang terbaring dengan kabel-kabel mesin dialisis, darah merah tampak mengalir tenang di selang transparan itu menuju lengannya. Semenjak lewat tengah malam tadi Fugaku mengalami pecah hati, dokter menyarankan segera melakukan dialisis secara rutin terlebih dahulu sembari menunggu donor hati. Subuh tadi dokter memasangkan alat itu hingga membuat Hinata terbangun dan meminta dokter untuk memasangnya dalam diam karena ia tak ingin Sasuke terbangun.
Hinata mengamati penuh simpati pada wajah lelah pemimpin Uchiha itu sejak keluar dari ruang operasi tadi malam. Kemudian ia menengok ke kursi di samping tempat tidur yang berisi tubuh Sasuke. Orang itu tidur hingga nyaris merosot jatuh dari tempatnya duduk.
Kemudian ia tak bisa melepaskan pandangannya dari wajah pemuda yang tengah tertidur pulas itu. Tangannya terjulur untuk meraih rambut Sasuke yang turun menutupi dahinya, kemudian menyibakkan rambut itu agar Hinata bisa melihat wajahnya. Ia hanya tersenyum mengingat Sasuke sempat mengucapkan terimakasih untuk tetap hidup pada ayahnya ketika Fugaku sempat sadar beberapa saat.
Ini pertama kalinya Sasuke menghargai dan mengikuti saran Hinata.
Ia begitu senang dengan fakta sepele itu, dan tanpa sadar mengelus pelan pipi Sasuke yang dingin. Garis wajahnya benar-benar tegas dan sempurna. Bagaimana mungkin pemuda brengsek seperti dia memiliki wajah yang luar biasa tampan bahkan ketika sedang tidur.
Suara pintu yang digeser membuat Hinata berjingkat kaget. Kemudian tampak sosok Obito Uchiha yang datang dengan mantel tebal dan hidung merah. Hinata segera menghampirinya di depan pintu dan menyuruh Obito agara tak bersuara banyak.
Obito memeluk Hinata sebentar. "Oh, rasanya jantungku mau copot saat menerima teleponmu."
Hinata tersenyum sambil menemani langkah Obito untuk mendekat ke arah ranjang. Obito tampak begitu sedih dan menyesal menelusuri kondisi Fugaku.
"Dia sudah melewati masa kritisnya, tenang saja. Kondisinya sudah stabil," kata Hinata menerangkan. "Kukira Obito-san baru akan sampai siang nanti?"
Obito tertawa pelan. "Oh, kau tak benar-benar mengira aku akan naik pesawat komersil 'kan? Sekali-kali gunakan uangmu untuk hal mendesak, Hinata. Nasihat sesama orang kaya, haha."
Hinata tersenyum mendengarnya. Kemudian Obito menyadari Sasuke yang masih terlelap di samping kasur.
"Kasian anak itu, kukira dia tidak menyangka untuk berpikir kemungkinan keluarganya akan mati lagi," ucap Obito lalu menoleh pada Hinata. "Aku sangat berterimakasih padamu, Hinata. Sungguh."
Hinata hanya menepuk pelan bahu Obito sebagai balasannya. "Sama-sama. Ah, dia perlu didialisis dulu sementara menunggu untuk menemukan donor hati..."
"Jangan kuatir. Aku baru saja berbicara dengan dokternya dan mereka sudah menemukan donor yang tepat—the power of Uchiha—tinggal beberapa tes untuk memastikan kulitas donornya masih bagus. Lalu mengatur tanggal operasinya," Obito menjelaskan.
Hinata tersenyum lebar. "Benarkah? Terimakasih Tuhan," katanya senang.
Kemudian seolah teringat sesuatu, Obito melepas tas ranselnya untuk mencari sesuatu, kemudian dia mengambil sebuah kotak berwarna pink muda polos berukuran sedang lalu menyodorkannya di bawah hidung Hinata.
"Ketika di London aku mampir ke tempat ayahmu dan beruntung sekali Hiashi masih mengingatku. Kami berbincang-bicang hampir sepanjang siang dan kupikir 'Hei, apa kau sudah menyiapkan kado natal untuk Hinata?' dan dari wajahnya tentu aku bisa menebak apa. Lalu aku mengoceh tentang filosofi kado natal dan entah karena ingin menutup mulutku atau tidak, dia kemudian menyuruhku membawa kotak ini dan menyerahkannya padamu."
Hinata menerima kotak kado itu dengan mulut masih menganga karena tidak percaya. Obito tersenyum. "Well, melihat dia menyerahkan kado yang sudah terbungkus rapi, pasti dia sudah menyiapkannya dari lama."
Hinata memandang bungkusan pink itu dengan perasaan bercampur aduk. Lalu ia merjinjit untuk memeluk Obito sembari mengucapkan terimakasih. Kemudian ia berpamitan padanya untuk pulang dahulu setelah mengamati Fugaku dan Sasuke sebentar. Ia tersenyum.
Ketika berjalan di lorong rumah sakit yang masih sepi, ia memikirkan Sasuke. Bagaimana Hinata menolong pemuda itu, dan bagaimana pemuda itu juga menolongnya secara tidak langsung membuatnya berpikir arti keluarga yang sebenarnya. Melihat orang seperti Sasuke masihlah mencintai keluarganya memaksa Hinata untuk mengintropeksi diri. Hinata membuka kado itu dan menemukan benda tipikal ayahnya.
Buku tebal sains lanjutan. Tapi ada sebuah benda terselip di pinggir kotak. Sepasang sapu tangan berwarna merah maroon.
Tawa meluncur dari mulutnya begitu saja mendapati hal luar biasa ini. Lalu entah kenapa ia mengambil ponselnya dan memencet nomor ayahnya tanpa ragu.
"Thank you, dad. I didn't expect the gift." Hinata berbicara dengan Hiashi di telepon sepanjang jalan.
"Neither did I," sahutnya pelan. Kemudian ayahnya berdehem keras karena malu membuat Hinata tersenyum. Lalu Hiashi menambahkan, "Aku senang... kau menghubungiku. Sejak rumah kosong di sini."
"Dimana Hanabi?"
"Anak itu tak pulang semalaman. Dia merayakan natal dengan klub nya di sekolah. Anak itu."
"Apa?! Lalu bagaimana dia..."
"Oh, sudah jelas ayah mengirim mata-mata untuk mengawasinya 'kan. Haha," dia tertawa pelan.
Hinata berani memutar bola matanya karena ayahnya tidak akan melihat. "Tentu saja. Aku menjadi curiga bahwa ayah mengirim mata-mata untukku?"
"Kenapa? Kau takut pada mata-mata ayah?"
"Oh, try me. Aku juga bisa mengirim mata-mata untuk melawan milik ayah."
Mereka tertawa bersama. Rasanya sudah begitu lama tidak mengobrol santai seperti ini dengan ayahnya. Dan Hinata sendiri tak menyangka, bahwa ia bisa terus berbicara di telepon hingga siang menjelang.
TBC
Review yuuuk~
