Halllooo…saya kembali…
Huufft…akirnya bisa juga update fic ini…
Baiklah…lngsung saja…
Happy Reading, Minna-san^_^
##Fire and Ice##
"Baiklah…kami pamit pulang, Hiashi…semuanya,"ucap Minato dan beranjak berdiri dari tempat duduknya. Diikuti oleh Kushina. Lalu mereka beranjak menuju pintu, dan membukanya. Tapi kemudian, Kushina mengalihkan pandangannya pada Naruto yang dari tadi diam mematung, seperti memikirkan sesuatu. Akhirnya Kushina beranjak mendekati Naruto dan menyentuh bahu kanannya.
"Naru-naru…apa kau masih ingin disini?"tanya Kushina lembut.
"Bolehkah?"tanya Naruto balik dan memandang wajah Ibunya.
"Tentu saja…"ucap Kushina akhirnya sambil tersenyum maklum dan menyusul Minato yang sudah pergi duluan.
"Kalau begitu kami juga, Hiashi,"ucap Fugaku dan beranjak berdiri dari duduknya, disusul oleh Mikoto. Kemudian Mikoto mengalihkan pandangannya pada Itachi yang dari tadi hanya menunduk saja. Menyentuh kedua bahunya dengan lembut.
"Sayang…apa kau mau tetap disini?"tanya Mikoto lembut.
"Tidak…aku ikut Ayah dan Ibu pulang saja,"ucap Itachi akhirnya dan langsung beranjak berdiri. Meninggalkan semua orang yang ada disana. Termasuk Mikoto dan Fugaku yang memang belum meninggalkan ruangan itu.
"Maaf 'kan atas perbuatannya tadi, Hiashi. Mungkin dia masih merasa terpukul dengan atas apa yang terjadi pada Sasuke dan Sakura,"ucap Fugaku dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Mikoto, setelah menerima anggukan kepala oleh Hiashi. Tanda dia memaklumi sikap Itachi tadi. Fugaku dan Mikoto akhirnya meninggalkan ruangan itu, meninggalkan kediaman Hyuuga.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?"tanya Neji sambil memandang satu persatu wajah orang yang ada diruangan itu.
"Yang sebaiknya kita lakukan adalah melatih kalian berdua untuk mengendalikan kekuatan yang kalian miliki,"ucap Kakashi sambil memandang Neji dan Gaara bergantian.
"Itu benar,"timpal Gai.
"Baiklah…aku juga akan ikut membantu,"ucap Naruto sambil tersenyum lebar dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Aku juga,"ucap Sai sambil tesenyum.
"Aku juga akan membantu,"ucap Ino dan ditambah anggukan oleh TenTen dan Hinata.
"Tidak…Ino dan TenTen sebaiknya kalian berdua pulang saja. Kalian bisa melihat latihan mereka besok pagi,"ucap Kakashi dan disambut wajah tidak suka dari Ino dan TenTen.
"Kenapa…aku tidak akan mengganggu kalian?"ucap Ino dan menggembungkan kedua pipinya.
"Bukan itu masalahnya…hanya saja…"
"Baiklah, kami berdua mengerti,"ucap TenTen memotong ucapan Kakashi. Kemudian beranjak berdiri. Ino pun akhirnya mengalah dan juga ikut beranjak berdiri.
"Sai…antar kami berdua!!"ucap Ino dan memandang wajah Sai yang dari tadi tersenyum.
"Baiklah,"ucap Sai akhirnya dan ikut berdiri.
"Kami akan kembali kesini besok pagi,"ucap Ino sambil memasang wajah cemberut. Setelah melemparkan senyum- senyum sebal- kepada semua orang yang ada diruangan itu. Akhirnya mereka meninggalkan ruangan itu, meninggalkan kediaman Hyuuga.
"Baiklah…sebaiknya kalian istirahatkan tubuh kalian terlebih dahulu. Tengah malam nanti kita akan mulai latihannya. Karena kita tidak punya waktu yang banyak,"ucap Kakashi.
"Hinata…antarkan Naruto dan Gaara kekamar mereka,"perintah Hiashi dan langsung disambut anggukan oleh Hinata.
"A…ayo aku antar!!"ucap Hinata dengan wajah memerah dan berjalan duluan. Diikuti oleh Gaara dan Naruto dibelakangnya.
"Dan Neji…antarkan Kakashi dan Gai kekamar mereka!!"perintah Hiashi dan langsung dilakukan oleh Neji.
-
-
"Hei…Ino…kenapa kau tidak bilang padaku jika kau sudah tahu semua tentang hal ini?"tanya TenTen yang sedang duduk dikursi belakang, sambil memandang sosok Ino didepannya.
"Maaf 'kan aku, TenTen. Itu semua ku lakukan untuk Sakura. karena akan sangat bahaya jika hal ini diketahui banyak orang. Benar begitu 'kan, Sai?"ucap Ino dan memandang Sai yang sedang mengemudikan mobil untuk meminta dukungan.
"Ya, apa yang dikatakan oleh Ino itu adalah benar,"ucap Sai tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap lurus kedepan.
"O, ya, ngomong-ngomong kalian akrab sekali. Berbeda pada saat disekolah,"ucap TenTen,"apa hubungan kalian berdua sebenarnya?"
"Eh…ngg…itu…sebenarnya kami berdua…kami berdua…"ucap Ino berulang kali.
"Sebenarnya apa?"ucap TenTen tak sabaran.
"Ino adalah tunanganku, sekitar 3 bulan yang lalu kami meresmikannya,"ucap Sai.
"…"
Hening.
Hening.
"Eh…APAAA!!". Suara TenTen terdengar atau lebih tepatnya teriakan ketidak percayaan atas apa yang dikatakan oleh Sai tadi. Sampai-sampai karena saking terkejutnya, mobil yang tengah dikemudikan oleh Sai sempat oleng kekanan dan hampir menabrak pembatas jalan, jika saja Sai tidak cepat-cepat menguasai mobil itu. Dan berakhir dirumah sakit nantinya. Sai mengutuk TenTen didalam hatinya karena teriakannya tadi.
"Ino…kenapa kau tidak pernah menceritakan hal ini padaku, pada kami semua…teman-temanmu?"tanya TenTen sedikit emosi dan kesal.
"Ehehe…maaf 'kan aku sekali lagi, TenTen. Aku belum siap megatakan hal ini pada kalian semua,"jawab Ino dengan wajah memerah dan menunduk malu. Juga dengan wajah sangat menyesal yang ditunjukannya pada TenTen.
Akhirnya TenTen mengalah dengan hanya menghela nafas, dan memaafkan Ino. Lalu, dia terseyum hangat pada Ino. Yang membuat wajah Ino kembali tersenyum senang.
"Aku memaafkan kalian berdua. Aku mengerti perasaanmu, Ino. Tapi lain kali tolong jangan ada rahasia lagi diantara kita. Setuju?"ucap TenTen dan menyodorkan jari kelingkingnya pada Ino. Dan kemudian disambut hangat oleh Ino. Lalu mereka berdua sama-sama tersenyum. Sai yang juga sedang mengemudikan mobil, ikut terseyum senang.
-
-
Ya. Itu benar. Tersenyumlah selagi hal itu bisa dilakukan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, minggu depan, bulan depan atau pun tahun mendatang nantinya. Bisa saja takdir berkehendak lain dan merubah senyum itu menjadi sebuah tangisan yang pilu. Dan mereka tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi pada dunia mereka ini. Dunia yang mereka tempat tinggali akan diselubungi oleh kegelapan. Dimana tidak ada seberkas cahaya yang mampu menerangi dunia mereka. Gelap pekat. Tapi, mungkin saja kegelapan itu akan kalah dengan sebuah harapan dari hati mereka. Mereka yang tidak mengenal kata menyerah dan terus berjuang demi melindungi orang yang paling mereka sayangi.
##Fire and Ice##
Sasuke POV
Aku sangat mecintaimu, Putri Sakura. Dan perasaan ini tidak akan pernah berubah atau pun hilang ditelan waktu. Meskipun aku sudah tidak mempunyai tubuh yang seutuhnya. Tapi jiwa ini…jiwa yang kau segel beratus-ratus tahun yang lalu disebuah kuil tua. Tidak akan membuat rasa cintaku padamu hilang begitu saja. Justru perasaan ini semakin kuat…perasaan ingin memilikimu seutuhnya. Dan tak akan kubiarkan orang lain memilikimu.
Dan memang benar aku berniat ingin membalas dendam…tetapi bukan padamu. Melainkan pada 'dia'. 'Dia' yang sudah mencuri dirimu juga hatimu dari sisiku. Dan penyebab pertumpahan darah itu terjadi dimana-mana. Ya. Benar, semua itu salahnya.
Jika saja Putri Sakura tidak memilihnya, dan memilihku untuk menjadi pendamping hidupmu selamanya. Maka hal itu tidak akan terjadi. Tidak akan ada pertumpahan darah. Dan semuanya akan hidup dengan damai dan tentram. Tapi semua itu sudah terlambat. Waktu tidak akan berputar kembali kemasa lalu. Yang ada kita sekarang akan menyongsong masa depan.
Kutatap wajah cantiknya yang tengah tertidur. Begitu lembut parasnya. Kulitnya yang seputih pualam dan sangat halus. Juga rambut merah mudanya yang begitu halus bak sutra jika aku menyentuhnya. Bibir mungil berwarna mera muda. Benar-benar sosok Tuan Putri yang sangat sempurna dimata orang-orang.
Ku singkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantiknya denga perlahan, berharap tak akan membangunnya dari mimpi indahnya. Namun, hal itu percuma saja. Pada akhirnya dia terbangun dan membuka kedua matanya yang berwarna emerald. Sungguh bola mata ciptaan Tuhan yang sangat indah. Siapa saja yang melihat kedua bola mata itu pasti akan terpesona dengan keindahan yang dipancarkannya. Begitu menyejukkan dan membuat hati tenang hanya dengan menatap bola mata itu.
Bisa kulihat pantulan wajahku dikedua bola mata bening emeraldnya. Tat kala dia memandang diriku. Seketika itu juga perasaan yang hangat merasuk kedalam hatiku. Kemudian, ku tersenyum lembut padanya.
End Sasuke POV
"Kau sudah bangun Tuan Putri?"tanya Sasuke.
Sakura menanggapinya hanya dengan anggukan kepala saja. Kemudian dia bangkit dari tidurnya, menjadi duduk. Bantal yang dipakai untuk menyangga jepalanya dijadikan sandaran.
"Kenapa kau melakukan hal ini, Sasuke? Padaku? Pada teman-temanku?"tanya Sakura bertubi-tubi sambil memandang nanar pada kedua mata merah milik Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya menghela nafas lemah. Disentuhnyah wajah putih Sakura oleh tangan kanannya.
"Maaf 'kan aku, Putri Sakura. Aku tidak bermaksud melukaimu, aku hanya ingin kau tahu, betapa aku mencintaimu. Aku tidak ingin kau jatuh lagi kepelukan 'dia' untuk yang kedua kalinya,"ucap Sasuke dan membelai lembut pipi Sakura. Sakura mengerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan maksud ucapan Sasuke barusan.
"Apa…aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kau katakan tadi Sasuke?"tanya Sakura.
"Haaahhh…"Sasuke menghela nafas panjang. Kemudian memejamkan kedua matanya. Sedetik kemudian dia membuka kembali kedua matanya. Memandang wajah Sakura dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Ingatan tentang masa lalumu masih dikunci ternyata."
"Ingatan…masa laluku?"ucap Sakura tak percaya. Dan memandang wajah Sasuke meminta penjelasan lebih lanjut.
"Akan kubuka sekarang ingatan masa lalumu,"ucap Sasuke. Dan memegang kedua bahu Sakura. "Lihat mataku!!!"
Dan lagi…Sakura menuruti apa yang dikatakan oleh Sasuke. Sakura menatap kedua mata merah milik Sasuke dengan lekat-lekat. Dan sedetik kemudian ketiga titik hitam dikedua mata Sasuke berputar sangat cepat. Bagikan seperti sihir, kini keadaan ruang tidur itu berubah menjadi sebuah taman yang besar. Pohon yang besar dan juga berdaun lebat. Beberapa pohon Sakura yang sedang bersemi dengan indahnya. Sakura menatap pemanadangan yang dihadapannya dengan tatapan tak percaya. 'Apakah ini hanya ilusi saja?'. Hal itu yang sekarang berada dipikiran Sakura. Namun, sebuah sura yang sangat Sakura kenali sebagai suara milik seseorang laki-laki tampan, terdengar ditelinganya. Suara milik Uchiha Sasuke, atau bisa disebut Pangeran Sasuke.
"Ini adalah sebuah memori pada saat belum terjadi perang besar itu,"ucap Sasuke.
"Apa Anda tahu Putri Sakura. Aku sangat senang sekali bisa menghabiskan waktu denganmu ditaman ini pada saat itu,"ucap Sasue lagi dan berjalan melewati Sakura yang dari tadi hanya diam mematung. "Bukan hanya dengan Anda saja…tapi dengan teman-teman kita."
"Teman…teman?"tanya Sakura dan berjalan mendekat pada Sasuke. Berhenti tepat disampingnya dan memandang wajah Sasuke.
"Benar…lihat disana!!!!"ucap Sasuke dan menujuk kesebuah danau. Sebuah danau yang sangat luas. Air yang jernih dan berkilau ketika diterpa oleh sinar matahari. Bahkan kita bisa bercermin diatas permukaan air itu. Lalu terlihatlah disana ada beberapa sosok pemuda dan wanita yang sedang bermain didekat danau. Mereka semua tertawa dengan gembiranya.
"Me…mereka…Neji, Gaara, Sai, Ino, Hinata, TenTen…Sasuke dan…Aku,"ucap Sakura menyebutkan satu persatu sosok yang dia kenali sebagai teman-temannya. Kemudian dia berjalan mendekat pada teman-temannya. "Bagaimana bisa aku…"
"Aku sudah katakan…ini adalah salah satu memorimu yang dikunci. Jadi, ini semua hanya ilusi saja. Dirimu, dan sosok teman-temanmu yang disana itu tidak nyata,"ucap Sasuke dan memegang pergelangan tangan Sakura dengan erat. "Akan kutunjukan lebih banyak ingatanmmu."
Dan kini pemandangan danau yang ada dihadapan Sasuke dan Sakura berubah menjadi sebuah kuil yang sangat megah. Dimasing-masing pilar berwarna merah bata itu dihiasi oleh bermacam-macam hiasan seperti pita dan juga sebuah bunga. Dan juga didalam dan diluar dikuil itu terdapat banyak orang. Yang perempuan memakai beragam Kimono yang polanya sangat rumit, sedangkan sang Pria juga memakai Kimono namun tidak seperti Kimono perempuan.
"Tempat apa ini?"akhirnya Sakura bersuara setelah lamanya terdiam.
"Ini adalah sebuah kuil…kuil dimana kau menikah dengan 'dia',"ucap Sasuke dingin dengan sebuah tatapan yang lebih dingin. Ditambah dengan kedua tangannya mengepal keras. Kedua rahangnya juga ikut mengeras. Giginya bergemeletukkan seperti menahan amarah yang sudah lama sekali terpendam.
"Me…menihah…dengan 'dia'. 'Dia' siapa maksudmu?"tanya Sakura sama sekali tak mengerti ditambah dengan sebuah kerutan didahinya.
"Ayo lihat sendiri olehmu!!!"ucap Sasuke dan menarik kasar pergelangan tangan kanan Sakura. Sang pemilik tangan hanya mengaduh kesakitan. Namun, setelah Sakura melihat pemandangan yang ada dihadapannya, dia sepertinya tidak memperdulikan rasa sakit dipergelangan tangannya lagi. Kini matanya menyiratkan ketidak percayaan yang luar biasa. Tangan kirinya dia katupkan di bibir mungilnya. Beberapa kali dia meggelengkan kepalanya dan bergumam 'ini tidak mungkin terjadi'. Sakura melihat sosok dirinya yang sedang memakai sebuah kimono merah bermotif bunga Sakura. Disampingnya seorang pemuda tampan berambut merah tersenyum tipis padanya. Wajahnya menyiratkan kegembiran yang luar biasa. Sakura yang melihat sosoknya juga sedang ikut terseyum senang. Dan seketika itu juga Sasuke langsung angkat bicara.
"Ini semua adalah kenyataan…kau telah memilih 'dia' dibandingkan denganku yang sangat mencintaimu, Sakura. Karena hal inilah penyebab peperangan itu dimulai,"ucap Sasuke dan langsung memeluk tubuh mungil Sakura. "Aku…yang diliputi perasaan cemburu yang memicu peperangan ini. Aku yang tidak sanggup melihat kau menjadi milik orang lain. Aku yang merasa sangat menderita karena kau bersanding dengan orang lain. Aku…sangat mencintaimu Sakura sampai tak tertahankan. Aku lebih memilih untuk melenyapkan dunia ini, kau dan setelahnya melenyapkan diriku sendiri…karena aku tidak ingin kau jadi milik orang lain."
"Pa…Pangeran…"
Mata Sasuke membulat dan sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Sakura barusan. Sakura…memanggilnya dengan sebutan Pangeran. Seketika itu juga Sasuke melepaskan pelukannya dan menatap wajah Sakura dengan lembut dan berkata.
"Kau sudah mengingat semuanya, Sakura?"
"Uhmm…"
"Apa sekarang kau akan memilihku untuk menjadi pendampingmu selamanya, Sakura?"tanya Sasuke dan berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan dari bibir Sakura. Namun, Sakura hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan Sasuke. Kini juga Sakura menundukan wajahnya, dan tidak berani menatap wajah dan mata merah Sasuke.
"Kenapa? Apa kau menyukai laki-laki itu dikehidupan selanjutnya?"
"Aku…tidak tahu…aku merasa bingung dengan perasaanku sendiri,"ucap Sakura akhirnya.
"Jawab aku…apa kau menyukai 'dia' juga dikehidupanmu sekarang, Sakura?"tanya Sasuke sambil mengguncangkan bahu Sakura pelan.
"AKU BILANG AKU TIDAK TAHU,"teriak Sakura sejadinya. Kini air matanya mulai mengalir dipipi putih mulusnya seperti anak sungai.
"Maaf…"ucap Sasuke dan memeluk Sakura kembali. Meletakkan dagunya diatas puncuk kepala Sakura. serta mengelus-ngelus lembut rambut merah muda Sakura.
"Tuhan…apa yang sebenarnya terjadi padaku? Perasaan apa ini yang sedang berkecamuk dihatiku?"batin Sakura dan menenggelamkan wajahnya didada bidang Sasuke. Menghirup aroma tubuhnya yang harum. "Aku bingung memilih antara Sasuke dan…"
"Gaara".
##Fire and Ice##
"SAKURAA…"teriak Gaara dan langsung bangun dari tidurnya. Memegang kepalanya yang sedari tadi berdenyut. Tak lama kemudian Gaara mengacak-ngacak rambut merahnya dengan frustasi. Dan beberapa kali bergumam 'ini salahku'.
"SIAL…SIAL…"teriaknya sekali lagi. "Bagaimana semua ini terjadi…Sakura…"
Tok…Tok…Tok…
Terdengar ketukan beberapa kali dipintu diluar kamar Gaara. Tak lama kemudian terdengar suara seseorang…
"Gaara kau tidak apa-apa? Kenapa kau teriak-teriak seperti tadi?"tanya seseorang diluar kamar Gaara. Dan dengan seenaknya seseorang tadi langsung saja masuk kekamar Gaara tanpa seizinnya. Dan seseorang itu sekarang menyesal karena telah masuk seenaknya. Karena kini Gaara sedang menatapnya tajam. Seseorang itu- Naruto- menelan ludah dan mundur beberapa langkah. Naruto masih ingat betul insiden didepan kediam Hyuuga itu. Gaara memukulnya…dan mungki saja hal itu akan terjadi lagi disni. Setidaknya itulah yang ada dipikiran Naruto saat ini. Namun, sebuah suara berhasil menghentakkan pikiran dan lamunannya tadi.
"Ada apa kau kemari?"tanya Gaara dingin.
"Sepertinya Gaara masih belum bisa mempercayaiku,"batin Naruto dan berwajah kecewa.
"Aku tadi dengar kau berteriak…jadi aku datang untuk melihat keadaanmu, Gaara,"ucap Naruto dan mengeluarkan keringat dingin.
"Aura membunuh ini lagi,"batin Naruto,"lebih baik aku segera pergi dari hadapannya, sebelum sesuatu terjadi."
"Sepertinya kau baik-baik saja…baiklah aku pergi,"ucap Naruto,"ah, aku lupa memberitaumu…kita akan memulai latihannya sekarang. Bersiap-siaplah…yang lainnya sudah menunggu di ruang tamu." Dan Naruto pun akhirnya pergi meninggalkan kamar Gaara dengan nafas lega.
"Haaah…aku tidak kuat merasakan aura yang dia keluarkan,"ucap Naruto setelah cukup jauh dari kamar Gaara,"tadi kalau tidak salah dengar, Gaara berteriak nama Sakura. Apa hubungan batin antara Gaara dan Sakura sekuat itu yach? Mereka benar-benar pasangan yang sudah ditakdirkan..."
Bruukkk…
"Aduh…maaf 'kan aku. Aku tadi tidak memperhatikan jalanku, jadi menabarak…Hinata,"ucap Naruto setelah dia melihat wajah orang yang sudah bertabrakan dengannya. Yang sekarang orang itu juga jatuh terduduk dengan muka memerah. Entah karena menahan sakit atau merasa malu karena bertabrakan dengan pujaan hatinya.
"Ah…maaf 'kan aku sekali lagi, Hinata,"ucap Naruto dan langsung berdiri. Kemudian mengulurkan sebelah tangannya untuk menawarka bantuan berdiri pada Hianta. Dengan ragu dan juga malu akhirnya Hinata menerima uluran tangan Naruto. Namun, ketika hendak berdiri…keseimbangan Hinata hilang dan hampir terjatuh kembali, jika saja kedua tangan kekar Naruto tidak menahan tubuh Hinata. Seketika itu juga wajah keduanya memerah. Namun wajah Naruto tidak semerah wajah Hinata yang sekarang seperti kepiting rebus. Walaupun wajah mereka sudah memerah tak karuan, tapi mereka tidak mau melepaskan pelukan itu satu sama lain. Hingga sebuah deheman keras berhasil memisahkan keduanya.
"Ehem…ehem…Naruto…Hinata…apa yang sedang kalian lakukan?"tanya seorang laki-laki berambut coklat panjang yang menatap Naruto dengan tatapan membunuh(?). Disampingnya seorang pemuda berambut merah memandang Hinata dan Naruto tanpa ekspresi. Seperti jiwanya tidak ada ditubuhnya.
"Ehehe…tadi aku secara tidak sengaja menabarak Hinata dan mebuatnya terjatuh. Lalu, aku bermaksud untuk membantunya berdiri. Namun, Hinata kehilangan keseimbangan dan hampir terjatu kembali. Jadi aku menolongnya dengan cara memeluk tubuhnya, Neji,"ucap Naruto panjang lebar. Disertai keringat dingin yang membanjiri dahinya ketika merasakan aura yang keluar dari tubuh Neji.
"Benar begitu…Hinata?"tanya Neji dan memandang Hinata yang dari tadi hanya menundukan wajahnya.
"I…iya…Kak Neji,"jawab Hinata akhirnya. Dan Naruto menghela nafas lega.
"Baiklah…ayo kita mulai latihannya. Mereka sudah menunggu kita. Dan kalian berdua…,"ucapa Neji dan memandang Hinata dan Naruto bergantian. "Hati-hati jika berjalan!!!".
Dan setelah mengatakan hal itu akhirnya Neji berjalan terlebih dahulu meninggalkan Naruto dan Hinata, baru setelahnya Gaara. Naruto yang dari tadi hanya diam akhirnya juga ikut pergi menyusul Neji. Namun, suara Hinata berhasil menghentikan langkah Naruto dan berbalik menghadap Hinata.
"Na…Naruto…maaf…dan…terima kasih…"
"Untuk?"tanya Naruto bingung. Dasar orang tidak peka.
"Maaf karena telah menabrakmu…dan terima kasih karena sudah menolongku agar tidak jatuh tadi,"ucap Hinata lancar akhirnya.
"Sama-sama…kau juga akan melihat latihan kami bukan? Kalau begitu kita sama-sama saja, bagaimana?".
"Uhmm…". Jawab Hinata dan mendekati Naruto lalu menyamakan langkahnya.
##Fire and Ice##
"Aku tidak akan membiarkanmu menjadi miliknya kembali,"ucap Sasuke dan melepaskan pelukan Sakura. Dengan satu gerakan dia berhasil mengunci bibir mungil Sakura dengan bibirnya. Setelah beberapa detik kemudian Sasuke melepaskan ciumannya. Dan muncullah tanda aneh berbentuk kelopak bunga sakura didahi Sakura. Juga pandangan mata Sakura terlihat kosong, seperi tidak ada jiwa yang mengisi tubuhnya.
"Kau ada dalam kendaliku sekarang,"ucap Sasuke dan langsung menggendong Sakura Brydle Style. Setelah itu wujud kuil itu berubah kembali menjadi sebuah rungan, atau lebih tepatnya kamar Sakura. Sasuke melangkah dengan serta membawa Sakura dipelukkannya. Lalu membaringkannya diatas tempat tidur. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi Sakura dengan lembut. Setelah itu mengecup ringan dahi Sakura.
"Sekarang tidurlah…akan kubangunkan jika waktunya sudah tiba,"ucap Sasuke. Dan setelah mengucapkan hal itu. Perlahan-lahan kedua mata emerald Sakura menutup.
"Kau adala milikku,"ucap Sasuke dan langsung pergi meninggalkan Sakura yang tengah tertidur diatas tempat tidurnya.
-
-
Keesokan harinya…
"TenTen cepat sedikit…aku ingin melihat latihan mereka,"ucap Ino didepan gerbang kediaman keluarga Hyuuga. Memencet tombol bel beberapa kali dengan sedikit gusar.
"Iya…iya tunggu sebentar,"ucap TenTen didalam mobil Ino,"dimana aku menaruhnya…ah, ketemu."
"Cepat sedikit!!"suara Ino kembali terdengar.
"Kau lama sekali sich…hanya mencari handphone yang terjatuh saja sampai selama ini,"ucap Ino sambil berkacak pinggang.
"Hehe…maaf aku ini memang orang yang pelupa,"ucap TenTen polos setelah dia sampai dihadapan Ino. Dan juga tidak lupa senyum tidak bersalahnya.
"Haaahh…" Ino menghela nafas pendek. Sedetik kemudin dia tersenyum maklum, dan kembali keaktivitasnya semula, yaitu memencet bel.
"Masa tidak ada yang membukakan pintu gerbang ini sich,"ucap Ino kesal. Karena dari tadi dia memencet bel, berharap ada orang atau pelayan yang membukakan gerbang yang megah ini dari dalam. Namun, sebaliknya…tidak ada pelayan yang datang untuk membukakan pintu.
"I…Ino…pintunya tidak dikunci. Lihat ini!!!"ucap TenTen dan mendorong pintu gerbang dengan sebelah tangannya. Ino yang melihatnya hanya berdecak kesal. Didalam hatinya pasti berpikir 'kenapa tidak dari tadi sich kau membukakan pintunya, TenTen'. Lalu, TenTen yang melihatnya hanya nyengir kuda. Kamudian menyusul Ino yang sudah dari tadi masuk kedalam.
-
-
"Kuncinya adalah kau harus berkonsentrasi, dan juga mengendalikan emosimu. Apa kalian berdua dengar. Sekarang ayo coba!!!"ucap Kakashi .
Gaara dan Neji berusaha untuk menuruti apa yang dikatakan Kakashi. Namun, seberapa kalipun mereka berdua mencoba hasilnya selalu sama. Gagal. Mereka berdua tidak bisa mengendalikan emosi mereka. Kakashi yang melihat tidak ada kemajuan menghela nafas frustasi.
"Tenanglah Guru Kakashi…sekarang giliranku,"ucap Naruto dan berdiri dari duduk-duduk santainya diatas rumput tebal. Kini Kakashi, Gai, Naruto, Neji dan Gaara sedang berada ditempat latihan yang dulu dipakai oleh Pangeran Hyuuga. Naruto sudah mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan kekuatannya. Setelah terdiam cukup lama sambil menutup kedua matanya. Akhirnya mucullah hembusan angin ditempat itu juga disekeliling tubuh Naruto. Kemudian Naruto membuka kedua matanya dan menatap Neji dan Gaara bergantian.
"Kenapa kalian diam saja. Ayo lakukan seperti apa yang kulakukan tadi,"ucap Naruto sedikit galak.
"Ah…baiklah,"ucap Neji akhirnya dan juga mulai menutup kedua matanya. Berusaha untuk berkonsentrasi. Dan hasilnya…
"Berhasil…tetaplah fokuskan pikiranmu, Neji. Dan Gaara…sebaiknya kau juga mencoba hal itu,"ucap Kakashi.
Gaara pun akhirnya menuruti perintah Kakashi dan mulai memejamkan kedua matanya untuk berusaha berkonsentrasi. Dan ternyata hal ini juga berhasil. Kini telah tercipta semacam aliran listrik disekeliling tubuh Gaara. Namun, lama kelamaan semacam aliran listrik itu bertambah banyak. Kakashi yang melihatnya sedikit panik. Begitu pun Gai dan Naruto. Bahkan Ino, Hinata dan TenTen yang baru datang pun megneluarkan keringat dingin didahi mereka. Mereka semua saling berpelukan satu sama lain.
"Gaara…kau harus bisa…cobalah untuk memusatkan pikiranmu kembali. Jangan pikirkan hal lain!!"ucap Naruto.
Akhirnya, setelah perkataan Naruto barusan. Aliran listrik ditubuh Gaara lama-lama mengecil dan hanya ada pada sebelah tangannya yang kiri. Setelah itu Gaara membuka kedua matanya. Dan dengan satu geraan cepat, dia arahkan tangannya yang dialiri listrik itu pada sebua pohon besar. Dan….
Bruuukkkk….Brakkk…
Pohon besar itu terbelah dua dan jatuh keras menghantam tanah. Hal yang serupa pun dilakukan oleh Neji. Air yang dikeluarkan dari tangannya, dia arahkan pada pohon besar lain. Dan pohon besar itu mengalami nasib yang sama. Terbelah dua dan jatuh menimpa tanah. Kakashi dan Naruto yang melihatnya menyeringai.
Lain beda dengan Ino dan TenTen yang meliat hal tadi dengan mata sedikit terbelalak dan mulut setengah terbuka. Dan berkali-kali menggumamkan kata 'keren' atau 'ini pasti hanya mimpi'. Namun, tidak bisa dipungkiri kini dibibir mereka berdua terlukis sebuah senyuman.
"Sebaiknya kita cepat pergi kesana…ketempat Sakura dan Sasuke berada,"ucap Gai dan didukung anggukan kepala oleh Gaara, Neji dan Naruto.
"Huufftt…baiklah. Ayo kita pergi sekarang. Tapi Gai, sebaiknya kau tidak perlu ikut,"ucap Kakashi dan memandang Gai. Lalu dibalas anggukan kepala oleh Gai tanda dia mengerti. Lalu Kakashi mengalihkan pandangannya pada Ino, TenTen dan Hinata. "Kalian bertiga juga…tetaplah disini!!!"
"Eh…APAAA?? Tidak…tidak bisa seperti ini. Sakura juga 'kan teman kami,"ucap Ino emosi. Dan didukung anggukan kepala oleh TenTen dan Hinata.
"Akan sangat bahaya sekali jika kalian bertiga ikut. Kami…tidak akan mampu untuk melindungi kalian bertiga sekaligus,"ucap Naruto dan secepat kilat dia sudah berada dibelakang Ino, TenTen dan Hinata. "Maaf…"
Tuukk…Tukkk…Tukkk…
Naruto memukul pelan tengkuk Ino, TenTen dan Hinata. Seketika mereka terbaring pingsan. Naruto kemudian menggendong Hinata. Dan memandang Neji meminta bantuan untuk sisanya. Akhirnya Neji menggendong TenTen dan Ino digendong oleh Kakashi. 'Akan sangat merepotkan jika mereka bertiga ikut' hal itulah yang ada dipikiran semuanya.
-
-
Setelah membaringkan Hinata, Ino dan TenTen diruang keluarga. Mereka berempat pergi meninggalkan kediaman keluarga Hyuuga dengan kendaraan mereka masing-masing. Gaara dengan motor Kawasaki Ninja-nya yang berwarna merah. Naruto yang berwarna Kuning. Neji dengan mobil Volvo coklat-nya. Lalu Kakashi dengan mobil Sedan-nya yang berwarna silver.
Selang beberapa detik, keempat orang itu sudah melesat jauh meninggalkan kediaman Hyuuga. Menuju suatu tempat. Tempat dimana Sasuke dan Sakura berada. Dihati mereka kini berarap.
Berharap bahwa hari ini bukanlah akhir dari semuanya. Beharap bahwa bukan akhir dari dunia tempat mereka tinggali. Berharap bahwa mereka bisa menyelamatkan orang yang mereka sayangi dan cintai. Sakura ataupun…Sasuke.
-
-
"Pein…aku merasakan sebuah pirasat yang sangat buruk. Sebuah pirasat bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak dapat kita hentikan,"ucap seorang wanita berambut biru yang memakai hiasan bunga, Konan, samba memandang seorang pria berambut orange disampingnya.
"Apakah seburuk itu pirasat yang kau rasakan?"tanya pria itu dan menatap Konan.
"Iya…"
"Kalau begitu kita hanya bisa berharap kalau pirasatmu kali ini meleset,"ucap Pein.
"Tetapi…selama ini pirasatku tidak pernah meleset, Pein,"ucap Konan dengan wajah sendu.
"Sebaikanya kita segera pergi kesana. Ayo!!!"ucap Pein tanpa memperdulikan ucapan Konan barusan dan melenggang pergi meninggalkan Konan.
"Pein…kau…"setelahnya Konan menitikan air mata. "Kau benar…mungkin saja pirasatku kali ini meleset. Dan tidak terjadi apa-apa pada Tuan Putri kita. Tapi…jika pirasatku benar…"
"Maka akulah yang akan merubahnya…"batin Konan dan juga ikut pergi menyusul Pein.
-
-
"Mereka datang…"ucap Sasukedan meyeringai menyeramkan. Sedetik kemudian Sasuke tertawa seperti orang sakit.
"AHAHAHHA…. Kalian semua tidak akan pernah bisa mengalahkanku…dan kali ini kujamin kau akan mati ditanganku…"
"Sabaku…Gaara…"
-
-
Bersambung….
Ok, mari balas review dulu
Dimulai dari
_Naru-mania :
Yup, bisa dibilang seperti itu…dan makasih dah review fic-ku
Nie dah q update…Gomen kelamaan…^^
Review lagi, Ok…
_Haruchi Nigiyama :
Nie dah q update…review lagi yach, Haru-san*peluk2 Haru-san*
_Kiran-Angel-Lost :
Nie dah q update…review lagi yach….
_Nachhi Cullen :
NejiSasu???? O.o
Ya ga lah…
Ok, nie dah q update…review lg yach…
_Risle-coe :
Ga papa…review pas mau tmat juga…
Malah q bersyukur karena km mau review fic-ku ini…*nangis krn terharu*
Ok, nie dah q update…review lagi yach…
_Megumi Kisai :
Happy ending SasuSaku yach???
Nggg,,,q masih ragu untuk buat yg happy ending SasuSaku-nya…Gomen ne…
Review lg yach…
_-MariaVivine-UchiMasu-
Ok, nie dah q update…review lg yach…
_Furu-pyon :
Suka bagian terkhirnya??
Aaahhh…mkasih*peluk2 Furu-senpai*
Ok, nie dah q update…revie lg yach….
_Uchiha Ry-chan :
Chap 8 :
Ga pa2…yg pentig skrg dah review kan?
Kereen???...makasih*peluk dan cium Ry-chan*
Chap 9 :
Dah q update…^,^
Review lg yach…
_Yumaeda Kasumi KawaiiShoujo :
Sebenarnya…yg suka Sakura itu keduanya…Pemimpin Uchiha dan Sasuke…
Dan nie dah q update…review lagi yach…
_Angga Uchiha Haruno :
Angga-san…mkasih dah review…
Dan nie dah q update…Gomen ne…telat banget…
Review lg yach…
_Sora Chand :
Arigatou…dan nie dah q update…
Review lg yach…XD
_Sessio Momo :
Makasih atas pujiannya…aku jadi malu*muka memerah*
Review lg yach…^^
Ok, balas review sudah…
Disni Saya mau menyampaikan…
TERIMA KASIH BANYAK kepada semua readers yg sudah mengikuti Fire and Ice ini dari awal sampai sekarang…kemungkinan chap depan adalah chap yg terakhir…
Saya usahakan membuat Ending yang tidak mengcewakan readers semua…
Dan Saya juga minta maaf karena updatennya yg lama…
Sebenarnya Saya ini lagi Semi-Hiatus…karena mau menghadapi Mid semester…dan alhamdulilah…Mid-nya sudah selesai…
Tapi, sepertinya Saya juga akan updatenya lama lagi…mengingat sebentar lagi setelah Mid selesai…
Saya akan menghadapi UAS…Doakan Saya yach semuanya…
Salam manis…Miko-chan….
Akhir kata…
REVIEWS
