sassy.chessy present :
A Hunkai Fanfiction
NEVER TOO FAR
Cast : Kim Jongin, Oh Sehun
It's Sequel of Fallen Too Far
Happy Reading!
.
.
.
Never Too Far : Chapter 10
Oh Sehun.
Sudah tiga minggu, empat hari, dan dua belas jam sejak aku melihatnya. Sejak dia menghancurkan hatiku. Jika aku mabuk, Aku menyalahkan alkohol. Itu pasti hanya khayalan, khayalan yang menyedihkan. Tapi aku belum mabuk. Tidak setetes pun. Tidak ada yang salah pada Jongin. Itu memang dia. Dia memang benar-benar di sini. Jongin kembali ke Rosemary. Dia ada di rumahku.
Aku telah menghabiskan lima jam semalam mengemudi seluruh tempat sialan untuk mencari Yuri berharap dia akan membawaku pada Jongin. Tapi aku tidak menemukan keduanya. Kembali ke rumah dan menerima kekalahan, sangat menyakitkan. Aku telah meyakinkan diriku bahwa Yuri masih di Summit bersama Jongin.
Mungkin pesan dari Yuri adalah pesan ketika mabuk dan tidak lebih.
Aku terpana melihatnya. Dia lebih kurus dan aku tidak menyukainya. Apakah dia tidak makan? Apakah dia sakit?
"Halo, Sehun" katanya, memecah kesunyian. Bunyi suaranya hampir meluluhkanku. Ya Tuhan, aku merindukan suaranya.
"Jongin," Aku berhasil mengucapkannya, takut bahwa aku akan menakutinya hanya dengan berbicara.
Dia mengulurkan tangannya ke atas dan membalutkan sehelai rambutnya di jarinya dan menariknya dengan sedekit keras. Dia gugup. Aku tidak menyukai bahwa aku membuat dia gugup. Tapi apa yang bisa aku lakukan untuk membuat ini menjadi lebih mudah?
"Bisakah kita berbicara?" tanyanya lembut.
"Ya." Aku melangkah mundur untuk membiarkan dia masuk.
"Masuklah."
Dia berhenti dan melirikku menuju rumah. Rasa takut dan rasa sakit yang terpancar di matanya membuatku diam-diam mengutuk diriku sendiri. Dia telah terluka di sini. Dunianya telah hancur di rumahku.
Sialan. Aku tidak ingin dia merasa seperti itu tentang rumahku.
Tidak ketika ada kenangan bagus juga di sini.
"Apakah kau sendirian?" tanyanya. Matanya berpindah kembali menatapku.
Jongin tidak ingin melihat ibuku atau ayahnya. Aku mengerti sekarang. Ini bukan tentang rumah. "Aku memaksa mereka untuk pergi di hari kau pergi." Aku membalas, menatapnya dengan hati-hati.
Matanya membelalak. Kenapa ini mengejutkannya? Tidakkah dia mengerti? Dia datang lebih awal. Aku sudah memberitahunya di kamar hotel itu. "Oh. Aku tidak tahu…" dia berhenti. Kami berdua tahu dia tidak tahu karena dia menyingkirkanku dari hidupnya.
"Hanya aku. Kecuali untuk kunjungan sesekali Chanyeol, selalu hanya aku." Dia harus tahu aku belum pindah. Aku tidak pindah.
Jongin berjalan ke dalam rumah dan aku mengepalkan tangan menjadi genggaman ketika aroma familiar manisnya mengikutinya.
Begitu banyak malam dengan aku duduk disini dan bermimpi melihatnya berjalan kembali dalam hidupku. Duniaku.
"Bisakah aku mengambilkanmu sesuatu untuk diminum?" tanyaku, berpikir bagaimana aku benar-benar ingin meminta dia untuk berbicara denganku. Untuk tinggal denganku. Untuk memaafkanku.
Jongin menggelengkan kepalanya dan berbalik untuk menatapku. "Tidak. Aku baik-baik saja. Aku… aku hanya… aku berada di kota dan…" Dia mengernyitkan hidungnya dan aku melawan dorongan untuk meraih dan menyentuh wajahnya. "Apakah kau memukul Minho?"
Minho. Sialan. Dia tahu tentang Minho. Apakah dia di sini untuk membicarakan Minho? "Dia menanyakan sesuatu yang tidak seharusnya. Mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya." Jawabku melalui gigi terkatup.
Jongin menghela napasnya. "Aku hanya bisa membayangkan," dia bergumam dan menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku karena dia datang ke sini. Dia tidak memikirkan sesuatu dengan keseluruhan. Dia hanya bertindak impulsif." Dia tidak membelanya. Dia meminta maaf untuknya. Itu bukan tugasnya. Bajingan bodoh itu bukan tanggung jawabnya atau salahnya.
"Jangan meminta maaf untuknya, Jongin. Itu membuatku ingin memburunya." Aku menggeram, tidak mampu mengontrol reaksiku.
"Itu salahku dia ke sini, Sehun. Makanya aku meminta maaf. Aku menyinggung perasaannya dan dia mengira itu semua karena kau, jadi dia ke sini sebelum membicarakannya denganku."
Membicarakannya dengan dia? Apa yang Minho perlu bicarakan dengannya? "Dia harus mundur. Kalau dia terlalu-"
"Sehun. Tenanglah. Kami teman lama. Tidak lebih. Aku memberitahunya beberapa hal yang aku ingin katakan dari dulu. Dia tidak menyukainya. Aku kejam tapi aku harus mengatakannya. Aku lelah untuk menjaga perasaannya. Dia mendesakku terlalu jauh. Hanya itu."
Aku mengambil napas dalam tetapi dentuman di kepalaku semakin keras.
"Apakah kau datang untuk menemuinya?" Aku perlu tahu apakah itu penyebab kenapa Jongin disini. Jika hal ini tidak ada hubungannya dengan ku, hatiku harus menghadapinya.
Jongin berjalan ke arah tangga bukannya pergi ke ruang tamu. Aku memperhatikan itu. Aku mengerti. Dia mungkin masuk ke rumahku tapi dia tidak bisa berjalan ke dalam dan menghadapinya. Belum. Mungkin tidak akan pernah. "Dia mungkin telah menjadi alasanku untuk masuk ke dalam mobil dengan Yuri." Dia berhenti sejenak dan menghela napas. "Tapi dia sudah pergi ketika aku sampai di sini. Aku disini untuk alasan lain. Aku… Aku ingin berbicara denganmu."
Dia datang ke sini untuk berbicara denganku. Sudahkah waktunya cukup? Aku gunakan setiap kekuatan yang aku miliki untuk berdiri diam dan tidak pergi menariknya ke dalam pelukanku. Aku tidak peduli apa yang dia katakan. Fakta dia ingin melihatku sudah cukup. "Aku senang kau datang," kataku.
Kerutan kecil itu kembali dan Jongin tidak melihat langsung ke arahku. "Semuanya masih sama. Aku belum bisa untuk membiarkannya pergi. Aku tidak akan pernah bisa mempercayaimu. Bahkan… bahkan jika aku mau. Aku tidak bisa."
Apa-apaan itu artinya? Debaran di telingaku semakin kuat.
"Aku akan meninggalkan Summit. Aku tidak bisa tinggal di sana. Aku harus bisa melakukannya sendiri."
Apa? "Apa kau pindah dengan Yuri?" tanyaku, merasa ragu jika aku masih tidur dan ini adalah mimpi.
"Tidak, aku tidak akan. Tapi pagi ini aku berbicara dengan Yuri dan kupikir mungkin jika aku menemuimu dan berbicara denganmu dan menghadapi… ini, aku akan bisa tinggal bersamanya untuk sementara waktu. Tidak akan permanen; Aku akan pergi dalam beberapa bulan. Hanya sampai aku punya waktu untuk memutuskan kemana aku akan pergi selanjutnya."
Jongin masih berencana untuk pergi. Aku perlu merubah itu. Aku punya beberapa bulan jika dia tinggal di sini. Untuk pertama kalinya sejak dia mengatakan padaku untuk meninggalkan hotel aku punya harapan. "Aku pikir itu bijak. Tidak ada alasan untuk membuat keputusan dengan tergesa-gesa ketika kau memiliki pilihan yang tepat disini." Dia bisa tinggal di rumahku gratis. Di tempat tidurku. Bersamaku. Tetapi aku tidak bisa menawarkan itu. Dia tidak akan pernah setuju.
.
End For This Chapter
sassy.chessy
