Bagian 10: Antara Aku dan Kamu

These are Special Conversations.

Nomor 's POV

"Yellow, aku boleh bertanya?"

"Boleh. Kau ingin tanya apa?"

"Rumah seperti apa yang ingin kau huni sampai tua nanti?" Kamu

"Rumah hatimu," Aku

Dan aku melihat wajah suamiku yang memerah karena apa yang kukatakan tadi. Lalu dia menciumku, lagi.

Nomor empat, Red's POV

"Seberapa jauh kau ingin berlari ke arahku?" Kamu

"Sampai kau izinkan aku berhenti," Aku

"Oke, oke, Red-san, kau bisa berhenti se—"

Terlambat. Aku sudah tertabrak. Dan korbannya adalah Yellow.

"Aduh..." kata kami berdua, lalu kami tertawa.

Nomor lima, Yellow's POV

Kemarin...

"Pagi seperti apa yang kau inginkan?" Aku

"Pagi seperti saat pertama kali kau nyatakan cinta," Kamu

Sekarang...

Aku bersiap untuk melakukan apa yang Red-san minta. Pagi seperti saat aku menyatakan cintaku padanya. Dan itu berarti, yang pertama adalah...

TERJATUH TEPAT DI ATASNYA!

Bruk!

Nomor enam, Red's POV

Sebuah malam yang indah di rumah kami. Kami bersiap untuk tidur. Sebuah tidur yang nikmat dan lelap seperti biasa, dan untukku, itu karena Yellow. Hanya Yellow.

"Cukup bahagiakah kamu hari ini?" Kamu

"Lebih dari cukup! Karena kudapat sepatah sapa manja dan sepotong rindu untuk tidurku, darimu,"Aku. Istriku langsung terkekeh, tahu bahwa itu adalah kodeku untuk sesuatu.

"Selamat malam, Red-san..." katanya. Lalu kucium ujung hidungnya sambil membalas...

"Selamat tidur, Yellow-chan..." dan akhirnya kami tidur dengan pulas.

Nomor sembilan, Red's POV

Persiapan akhir sebelum satu lagi Pokemon Battle yang akan aku ikuti, dan Yellow bertanya padaku...

"Sudahkah kau berusaha?" Kamu

"Sudah. Sekuat tenaga dan semampunya," Aku

"Semampunya kau coba?" Kamu

"Iya!" Aku

"Lalu, apanya yang kurang?" Kamu

"Berdoa!" Aku. Lalu kudekati Yellow dan berbisik...

"Doakan aku menang dalam pertandingan nanti, Yellow," dan dia menjawabnya dengan anggukan pastinya.

Nomor sepuluh, Yellow's POV

Kembali pada candaan kami di pohon di dekat sungai di Hutan Viridian. Dan saat itu, Red-san bertanya padaku.

"Apa kau takut kehilangan?" Kamu. Aku hanya bisa semakin dekat ke Red-san dan menjawab,

"Sejujurnya, iya," Aku

"Kenapa harus takut?" Kamu

"Biar aku bisa menyimpan dan menjaga apa yang kita punya dengan sepenuh hati," Aku. Dan aku lihat Red-san tersenyum sambil memelukku dengan erat.

"Aku janji akan menjaganya juga, bersamamu, agar tidak hilang percuma,"

Nomor dua belas, Red's POV

Lalu kami terdiam agak lama. Yellow sepertinya heran padaku dan akhirnya bertanya.

"Ada apa dengan diammu?" Kamu

"Ah, yang diam 'kan hanya mulutku. Pikiranku? Tak pernah berhenti bicara, tentangmu. Kamu tahu itu," Aku

Dan aku melihat Yellow yang semakin merona setelah aku berkata itu.

Nomor delapan belas, Yellow's POV

Ini mimpiku. Satu lagi mimpi indahku. Saat itu aku melihat Red-san yang berhasil menjadi juara Kanto sedang melakukan sesi tanda tangan fans.

Aku bukan fan-nya, tapi aku lover-nya!

"Berikutnya!" teriak seorang penjaga, dan aku sadar bahwa ini giliranku. Red-san langsung kaget karena kehadiranku.

"Yellow? Kau juga ikut ya?" aku tak bisa menahan rasa maluku. Lalu aku memberikan foto ukuran album kecil Red-san padanya, dan membiarkan Red-san memberikan coretan tanda tangannya. Lalu...

"Maukah kau tanda tangan di sini, sekali lagi?" pinta dan tanyaku.

"Di mana?" dia balik bertanya. Aku tak bisa menahan perasaanku lagi!

"Di hatiku!" yakinku. Lalu tiba-tiba sinar muncul dari hati Red-san, dan dia berkata...

"Yellow, bangunlah, dan raih aku..."

Terus aku terbangun.

Nomor sembilan belas, Red's POV

"Red-san," panggil Yellow. Aku langsung menoleh dan melihat siapa yang memanggilku tadi.

"Ya, ada apa?" tanyaku. Lalu aku melihat Yellow mengambil napas panjang dan bertanya...

"Sebesar apa cintamu?" tanyanya. Aku harus menarik napas panjang juga untuk menjawab pertanyaan ini.

"Bukan sebesar apa, tapi cintaku memang sebenarnya," tegasku, yakin. Dan itu cukup membuat Yellow yakin bahwa pilihannya untuk mencintaiku adalah tepat.

Nomor dua puluh dua, Red's POV

Kami ada di ruang gelap dan berusaha untuk keluar, dan untuk keluar, kami harus terus bertahan.

"Kenapa kita harus bertahan?" tanyanya.

"Karena kita sedang berjuang mencari jawabannya," jawabku. Jawaban atas pertanyaan "Di mana pintu keluar dari arena rumah berhantu di pasar malam ini.

Nomor dua puluh lima, Yellow's POV

Akhirnya, Red-san akan melakukan petualangannnya lagi. Sebelum pergi, aku memberitahunya sesuatu.

"Jika boleh aku minta. 'Luaskanlah hatimu untuk semua orang. Jadikan limited edition hatimu, untukku seorang,'"

Dan aku melihat Red-san tersenyum, mendekatkan kepalanya dan mencium keningku, dan berkata...

"Yellow, kau menang..."

Aku menang? Menang apa? Dan rasanya Red-san punya kemampuan baru: membaca pikiran.

"Kau telah memenangkanku. Bahkan sebelum kau berkata itu padaku," katanya, lalu dia pergi dan tersenyum padaku sebelum melanjutkan perjalannya yag baru saja dimulai.

Nomor dua puluh enam, Blue's POV

Tee-hee, akhir nya aku muncul juga. Akulah sutradara di film terbaruku, "The Special Dark Side". Pemeran utamanya? Tee-hee, kau akan tahu nanti... sudahlah, kau bacalah bagian ini.

ACTION!

Yellow: "Sesatkan aku di jalanmu. Kemana pun!"

Red: "Aku Cuma punya jalan buntu. Kamu tak bisa kemana-mana,"

CUT!

Tee-hee, maaf, hanya itu spoiler yang bisa kuberikan padamu. Penasaran dengan keseluruhan filmnya? Tonton filmnya di bioskop terdekat mulai 14 Februari.

Jangan lupa bawa pacarmu ya...

Nomor dua puluh tujuh, Red's POV

Yellow: "Aduh, Red-san!"

Red: "Apa salahku?"

Yellow: "Buat aku senyum-senyum sendiri,"

Red: "Melihatmu tersenyum setiap hari, itulah keinginan terbesarku,"

"Blue, apa kita benar-benar mengatakan ini pada drama kita nanti?" tanyaku. Aku dan Yellow sedikit protes ke Blue karena bagian percakapan ini.

"Ya, kalau tak mau, aku sebar saja foto make-out kalian ke semua jejaring sosial di seluruh jagad raya, biar mereka tahu betapa cute-nya kalian pas making-out session," kata Blue, sambil mengeluarkan senyuman jahatnya.

Aku dan Yellow kalah lagi...

Dasar ratu blackmail...

Nomor dua puluh sembilan, Green's POV

TOLONGLAH AKU

Yellow: "Butuh bantuan apa?"

Red: "Memeriksa seberapa kencang dadaku berdegup saat matamu menusuk palung jantung,"

"Kau serius ingin menyuruh mereka melakukan ini?" tanyaku pada Blue.

"YAP! Mereka butuh sedikit dorongan, Greeny!" serunya. Lalu dia melihat semua persiapannya.

"Oke, kalian sudah siap? Bersiap untuk gladi resik!"

Dasar, gadis si**an...

Nomor tiga puluh.

"Siapa kamu di mata dan hatiku?" KEKASIH! Tak peduli atas nama apa status dan ikatan yang menyatukan rasa itu.

"Karena itulah walaupun mereka masih belum mencapai tahapan canon, kita dapat mendukung mereka secara penuh, karena mereka memiliki unsur yang kita setujui. Bagaimana, saudara-saudara?"

Kata seorang alien kepada kumpulan alien lain yang membahas tentang tingkat ke-canon -an SpecialShipping berdasakan hasil penemuannya di Bumi.

Nomor tiga puluh tiga, Red's POV

Itulah yang kulakukan malam ini. Tidur bersama orang yang kucintai dan orang yang mencintaiku, dan mereka adalah orang yang sama.

"Sebagai lelaki, apa yang paling kuinginkan malam ini?" MEMELUKMU.

"Sebagai hati?" MENCINTAIMU tak henti-henti.

Nomor tiga puluh delapan, Yellow's POV

Saat itu, adalah acara "Hari Puisi", dan semua Dexholder berkumpul sambil membacakan puisi tentang cinta. Maklum, Februari ini memang penuh cinta.

Dan sekarang giliranku...

'Aduh, aku harap puisinya tidak terlalu jelek di telinga Red-san...' pikirku.

"Kak Yellow, ini giliranmu. Kami menunggu, setidaknya, sebelum Diamond menghabiskan semua makanan yang ada," kata Pearl, menunjukkan Diamond yang mulai makan lagi.

"Pearl benar, aku juga penasaran dengan puisimu, Kak Amarillo," kata Platinum yang bicara dengan suara datar yang biasa dia keluarkan, namun, ayolah, kau tak perlu memanggilku begitu.

Terutama di depan Red-san...

"Katanye Yellow pengen ngungkapin cintanye lewat tuh puisi," kata Sapphire.

'Aduh, jangan bilang begitu, Sapph... Aku jadi tambah gugup,' pikirku. Namun aku juga harus mulai segera karena ini giliranku. Oke, ini dia.

WHEN I MISS YOU...

When I miss you...

"Gerak mata, dan tepekur sunyi pikiranku menjangkau setiap ruas adamu, tanpa sisa,"

When I miss you...

"Cuma ada biru. Pelangi pudar memutih salju,"

When I miss you...

"Sadarku tak nyata. Setia berharap padahal mungkin sia-sia,"

When I miss you...

"Satu yang kubutuh: kamu. Utuh!"

Sedikit hentakan pada akhir puisiku membuat semua mata tertuju padaku, lalu, ke Red-san yang tampak memperhatikan puisiku.

"Ada apa?" tanya Red-san pada kerumunan yang melihatnya dengan tatapan kejam. Aku bingung apa yang terjadi pada mereka, tapi sepertinya mereka ingin membuat Red-san berhenti bersikap bodoh dan akhirnya akan mengakhiri penantian panjang cintaku.

Itu yang kuharapkan...

Nomor empat puluh dua...

Red: "Will you marry me?"

Yellow: "Aku bersedia! Catat janjiku di ulu hatimu!"

Dan diwalikan oleh Green, direncanakan oleh Blue, sedikit dikacaukan oleh Gold, diperhitungkan secara matematis oleh Crystal, disetujui oleh Silver, untuk baju pernikahannya didesain oleh Ruby, untuk alat berat digagas oleh Sapphire, dekorasi futuristik oleh Emerald, disponsori oleh keluarganya Platinum, konsumsi diandalkan pada Diamond (setidaknya, sebelum Diamond menghabiskan semuanya), hiburan olehnya dan Pearl, direkam dengan jasa Black dan White, diamankan oleh Kepolisian Internasional yang diwakilkan oleh Lack-Two dan Whi-two, dan undangannya disebar oleh X dan Y.

Sebuah pesta pernikahan besar, bisa dibilang.

Nomor empat puluh tiga, Yellow's POV

"Takut tak mampu hidup sendirian?" dan aku mengangguk. Itulah aku.

"Apa yang kamu butuhkan?" lalu aku menyandarkan kepalaku ke bahunya Red-san.

Kamu sebagai sandaran. Begitulah cintaku dibakukan.

Nomor lima puluh tiga, Red's POV

Aku dan Yellow sedang melihat alam malam yang indah di musim panas ini. Tak ada awan yang menutupi langit, tak ada banyak polusi cahaya, dan bulannya masih belum ada.

Suasana yang tenang bagiku dan Yellow untuk menikmati indahnya langit malam berbintang. Lalu kemudian, aku bertanya padanya...

"Apakah mata manjamu memendarkan bintang malam ini?" dalam pikiranku, aku berkata...

Tersenyumlah, jika itu terjadi.

Dan itu benar-benar terjadi. Yellow tersenyum padaku dengan senyum manis yang terkenal dapat membuatku terkena diabetes kalau aku melihatnya terus-menerus.

Nomor lima puluh tujuh, Red's POV

Ini ulang tahunnya Yellow. Acaranya sederhana di rumahnya, dan tak perlu sampai matahari terbenam, acaranya sudah selesai. Aku putuskan untuk tetap di sana karena selain hadianku yang berupa alat pancing baru, ada hadiah lain yang ingin kuberikan.

"Red-san? Ada hal lain yang ingin kau sampaikan?" tanya Yellow. Aku mengangguk.

"Aku punya sebuah kado," kataku. Yellow terheran.

"Eh? Bukannya kau sudah memeriku kado tadi?" tanyanya. Aku mengangguk lagi.

"Ini kadoku yang lain," kataku.

"Apa kado ulang tahunku?" tanya Yellow. Lalu, dengan semburat merah di pipiku dan sedikit keberanian dan nasihat yang diberikan Blue padaku, aku menjawabnya.

"Separuh hatiku," kataku.

Yellow's POV

'Separuh saja...' rasanya hatiku retak dan siap pecah karena mendengar jawaban dari Red-san.

Red-san, why are you so dense?

Lalu aku penasaran dengan yang setengahnya, mungkin aku bisa melakukan sesuatu agar bisa mendapatkan yang setengahnya lagi.

"Sisanya untuk apa?" tanyaku. Dan aku melihat Red-san memerah lagi. Aku heran kenapa dia seperti malu mengungkapkannya. Ini seperti bukan Red-san yang kukenal. Lalu aku lihat Red-san siap untuk menjawab.

"Kado pernikahan kita," jawabnya dengan senyum.

...

Pingsan deh...

Nomor enam puluh empat

"Mau apa kamu?" tanya Red dengan lembut, di dalam sebuah drama dengan latar waktu di suatu malam yang permai dan latar tempat di taman.

"Mau kamu tak pernah lupa, aku selalu ada dan tak pernah lupa, kamu juga selalu ada," kata Yellow.

Entah kenapa dari kejauhan ada suara seperti 'Ruby' dari bagian penonton. Lalu, dramanya berlanjut lagi.

"Apa batasnya?"

"Tak ada. Waktu kita boleh terbatas tapicinta akan terus melapangkannya hingga tak ada lagi batas,"

Lalu mereka saling berpelukan. Dan sesaat setelah itu, tirai panggung tertutup, dan semua orang bertepuk tangan atas drama yang indah itu.

Nomor enam puluh enam.

Teori Kekekalan Cinta

"Cinta adalah satu-satunya bentuk energi tak terbatas, bisa diciptakan, namun tak dapat dihancurkan, hanya bisa berubah menjadi bentuk lain, dan energinya memiliki kemampuan untuk menembus ruang-waktu, dan kelimpahannya tak terbatas di seluruh jagad raya, bahkan multijagad raya,"

"Di bilangan keberapa kau akan berhenti mencintaiku?" tanya Yellow.

"Di bilangan yang tak akan terbilang," kata Red.

Kesimpulan: kisah cinta Red dan Yellow menaati teori kekekalan cinta.

Ada pertanyaan?

Berlanjut...

Bagian sepuluh, selesai. Sebagai tambahan, kalimat yang hurufnya ditebalkan adalah bagian yang diambil dari buku aslinya. Memang di buku aslinya, bagian ini adalah bagian percakapan.

Kripik jaran...

RWD, keluar...