Love Is Only A Feeling
A fanfic by Presiousca
.
SEPULUH
.
"Apa yang kalian inginkan?"
.
Mereka bertiga, Kris, Jongin dan Irene ingin agar Baekhyun memasuki mobil.
Mirip seperti penculikan hanya saja Baekhyun menurut. Tidak ada perlawanan sedikitpun karena dia mengenal orang-orang ini seperti mereka juga mengenal Baekhyun. Lagipula tujuan mereka sama, untuk Chanyeol.
Tapi jalanan yang mereka tempuh sangat asing bagi Baekhyun. Mau dibawa kemana dia?
"Kita mau kemana?" tanya Baekhyun kepada Irene yang duduk di sampingnya, di deretan kursi belakang.
Kris terlihat tidur di samping Jongin yang sedang mengemudi, jadi wanita itu adalah satu-satunya pilihan.
"Happiness Foundation." Jawabnya ramah.
Kalau mengingat pertemuan terakhir mereka berdua, Baekhyun pesimis kalau akan mendapat perlakuan baik dari wanita ini. Tapi lihatlah senyuman Irene yang begitu hangat.
Pantas saja kalau publik begitu menyukainya.
Dia kembali menjelaskan, "Sebenarnya, Proxima pertama yang dibangun ayah Chanyeol adalah sebuah yayasan. Namanya Proxima Foundation. Chanyeol sengaja mengubah namanya menjadi Happiness Foundation karena-" Irene berhenti sebentar.
Tersenyum pada dirinya sendiri seperti sedang menyingkirkan sesuatu, "-jika kami bercerai, yayasan itu tidak akan jatuh padaku."
Baekhyun mengangguk paham. Semacam pemisahan aset dengan mengalihkan kepemilikan saja. Cara yang banyak digunakan para koruptor untuk menyembunyikan harta dari audit.
Apa yang dia pikirkan?
"Chanyeol bahkan mengalihkan kepengurusan yayasan itu kepada keluargaku." Jongin menyahut dari balik kemudi.
"Jika kau terkejut, maka aku juga sama." Aku Irene, membuat Baekhyun tersadar akan sesuatu.
Mereka semua tidak mengenal Chanyeol. Baik Irene maupun Baekhyun tidak tahu bagaimana itu Chanyeol meskipun mereka sudah melewati banyak hal. Menghadapi banyak kesulitan bersama-sama.
"Percayalah, aku juga baru mengetahuinya sejak satu bulan yang lalu." Seperti tahu keterkejutan Baekhyun, Irene mencoba menghiburnya.
Memberitahu bahwa bukan hanya Baekhyun saja yang habis dibuat terkejut oleh tingkah sembunyi-sembunyi Chanyeol. Mereka sama, hanya masalah waktu kapan semua itu terungkap.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Chanyeol?" Tanya Baekhyun masih belum terlalu paham tentang kondisi yang sedang dia hadapi.
"Dia depresi berat." Sahut Jongin.
Lelaki itu menepikan mobilnya ke sebuah pekarangan luas yang dikelilingi pohon oak tak berdaun. Suasana pedesaan kental sekali di sini. Belum banyak gedung pencakar langit dan bangunan megah lainnya.
Jongin yang pertama keluar dari mobil. Memimpin jalan menuju sebuah gedung besar nan sederhana yang dicat serba putih. Irene dan Kris memutuskan untuk tinggal karena suatu alasan.
Baekhyun tidak mengetahui apa itu tapi Jongin sepertinya sudah paham.
"Dia kenapa?" tanya Baekhyun sambil terus melangkah mengikuti Jongin.
"Chanyeol mulai meminum obat anti depresi." Jawab Jongin, "Setiap mimpi buruknya kembali, dia akan meminumnya lagi."
Faktanya adalah, Baekhyun membenci obat-obatan karena benda itu ikut ambil dalam gagal ginjal ibunya. Lalu kabar buruknya yaitu, Chanyeol mungkin sudah mengonsumsinya dengan jumlah yang banyak mengingat ini sudah lewat satu tahun.
Kondisi pria itu mungkin sudah sangat rusak.
"Semakin hari dosisnya semakin banyak, Baek."
Jongin terus menceritakan bagaimana buruknya keadaan Chanyeol yang sekarang. Kalau mengidap depresi saja sudah buruk, ditambah lagi dengan pemakaian obat anti depresan. Chanyeol benar-benar harus segera dibantu.
Realita yang membuat Baekhyun retak hatinya adalah, bahwa penderitaan Chanyeol ini mungkin disebabkan oleh kebodohannya di masa lalu.
Jongin berhenti di depan sebuah gerbang, "Apapun itu, apapun yang terjadi diantara kalian, aku harap bisa selesai hari ini juga."
Lelaki bermarga Kim itu menunjuk seseorang yang tengah berdiri menghadap ke arah barat, membelakangi mereka. Sedang menatap ke peraduan dimana matahari mulai terbenam.
"Dia menunggumu." Ucap Jongin sambil lalu.
Agak ragu, Baekhyun berjalan pelan mendekatinya. Melihat punggung lebar Chanyeol yang membelakanginya, tanpa sadar jantungnya berdegup kencang sekali. Bahu yang dulu Baekhyun kenal sangat kokoh itu terlihat turun dan lelah.
Dunia tahu kalau Baekhyun sudah menyembunyikan perasaan itu di dasar hatinya. Ditimbun dengan kesibukan yang padat dan urusan pekerjaan dengan sengaja. Tapi hati tak bisa berbohong. Kakinya berlari sendiri tanpa diperintah.
Baekhyun menuruti permintaan dari rasa rindunya yang mulai berontak. Memanggil nama Chanyeol keras sekali meskipun hanya dalam hati.
Pelan tapi pasti, pria itu berbalik kepada Baekhyun. Seperti tahu bahwa sebuah rindu berlari-lari ingin bertemu.
Dia benar Chanyeol.
Mata bertemu mata. Hati bertemu hati. Keduanya seperti kompak untuk berlari saling menjemput. Baekhyun sampai merasakan terpaan angin membuat pedih matanya karena dia tidak mau berkedip.
Dia tidak ingin melewatkan senyuman Chanyeol dari kejauhan yang lama-lama semakin mengembang.
Jarak mereka habis sudah. Saling mengamati wajah masing-masing sampai hati berdebar tak karuan. Chanyeol menggapai dua bahu kecil itu dengan takjub.
"Jika aku sedang bermimpi, aku tidak ingin bangun." Ucapnya, mengundang senyum manis dari bibir tipis yang sudah lama Chanyeol rindukan.
"Aku disini." Suara Baekhyun mengalun, membelai telinga.
Chanyeol tersenyum manis sekali. Beberapa kali mengusap bahu itu seperti takut tapi juga ingin melakukan sesuatu. Baekhyun menunggu pria itu mengucapkan sesuatu dengan tegang.
"Aku ingin sekali memelukmu."
Pertanyaan paling bodoh sedunia. Baekhyun tak punya waktu untuk membalas karena dia langsung meraih tubuh Chanyeol lekat. Memeluk leher pria tinggi itu sampai berjinjit manis dan saling membagi tawa.
Chanyeol mengecup sekali belakang telinga Baekhyun. "Aku masih belum bisa percaya. Kau disini."
Baekhyun tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak tersenyum di dalam pelukan Chanyeol. Munafik sekali dia ini, pikir Baekhyun. Kemarin mati-matian tak mau menyebut nama Chanyeol, namun hari ini berbalik begitu bahagia karena bisa memeluknya.
Sia-sia sekali satu tahun lewat dengan mereka berdua yang saling menghindar.
"Merindukanmu ternyata berat sekali, Baek." Bisik Chanyeol.
Pria besar itu menciptakan jarak, menatap pias wajah Baekhyun yang jauh lebih indah daripada senja dimanapun. Tak tahan untuk tidak menggapai bibir itu dengan bibirnya sendiri dan mencicipinya sampai lemas.
Baekhyun menggigit bibir bawah Chanyeol dan menariknya lepas. "Aku tahu."
Bias merah pada pipi kedinginan Baekhyun tak bisa Chanyeol diamkan saja. Bibirnya mendarat disana berulang kali dengan lembut sampai si mungil tertawa geli.
"EHM!"
Deheman yang begitu keras langsung menjauhkan mereka. Baekhyun bahkan mendorong tubuh besar Chanyeol sampai terhuyung hampir jatuh.
Jongin benar-benar mengacaukan suasana.
"Maaf mengganggu tapi ini sudah hampir malam dan kami harus kembali." Ucap Jongin langsung membuat kedua insan yang baru saja bertemu itu kecewa.
"Ikutlah, Yeol. Sekarang kau sudah punya alasan untuk pulang'kan?" Jongin jelas melirik ke arah Baekhyun dan senyuman Chanyeol menandakan bahwa ucapannya benar.
Chanyeol sudah punya alasan untuk pulang karena rumahnya sudah kembali.
.
e)(o
.
Dalam perjalanan pulang, Kris menawarkan Chanyeol sebuah kamar di hotelnya selama sebulan gratis.
Mengingat pria itu belum memiliki tempat tinggal yang baru setelah apartemennya juga ikut disita. Tapi Irene tidak pernah bisa bersikap buruk kepada mantan suaminya itu. Lagipula, tidak berlebihan'kan kalau hanya mengembalikan sebuah unit apartemen yang bahkan tak pernah Irene inginkan?
"Aku tidak punya waktu untuk mengurus apartemenmu, Chanyeol. Aku sibuk." Ucap Irene basa-basi.
Siapapun tahu bahwa wanita itu memiliki hati emas yang dibungkus dalam karakternya yang dingin. Chanyeol ingin berterimakasih ribuan kali kepada mantan istrinya itu. Bagaimanapun juga Irene telah mengorbankan seluruh perasaannya hanya untuk Chanyeol.
Masa lalu diantara mereka yang begitu buruk, akan jauh lebih baik apabila dilupakan saja.
Setelah menerima ungkapan terima kasih dari Chanyeol, mobil Jongin membawa Irene pergi, beserta dengan Kris di dalamnya.
Dan di sinilah keduanya, berdiri di depan pintu yang pernah menjadi saksi drama mereka di masa lalu.
Apartemennya benar-benar tidak berubah. Mungkin Irene juga tidak pernah masuk karena pin nya masih sama. Irene belum menggantinya meskipun Chanyeol sudah memberitahu.
Mungkin wanita itu memang tidak pernah menginginkan apa pun dari Chanyeol.
"Wow, debunya." Baekhyun mengernyitkan hidung.
Melihat seluruh perabotan sudah diselimuti dengan debu, maka tibalah saatnya bersih-bersih. Mereka berdua menyapu, mengepel lantai lalu mencuci piring dan memasang tirai.
Semuanya sudah baik. Listrik di unit mereka juga sudah kembali menyala jadi selesai sudah pekerjaan malam yang benar-benar melelahkan. Membuat keduanya jatuh tertidur pada pukul satu dini hari, di atas karpet ruang tamu.
.
e)(o
.
Jongdae berisik sekali seharian ini.
Sekretaris ekstra bicara itu terus menelepon Baekhyun dan mengatakan bahwa dia begitu kekanakan. Bagaimana bisa seorang ketua Byun Shin & Co menolak bekerja karena dia sedang malas? Bocah sekolah dasar saja akan tetap sekolah walaupun malas karena ada ibunya.
Tapi Baekhyun? Sudah mendapat omelan beruntun dari Jongdae dari pagi sampai malam begini tapi tetap saja, nihil.
"Aku boss-nya, Jongdae. Jangan berisik atau gajimu ku potong." Baekhyun menunjuk-nunjuk udara seolah sekretarisnya itu ada di hadapan.
Padahal dia sendiri sadar bahwa mereka hanya mengobrol lewat telepon. Chanyeol sampai tersenyum geli melihatnya.
"Ancaman murahan! Aku ingatkan padamu Yang Mulia, kau sudah tiga hari bolos! TI-GA HA-RI!"
"Itu berarti masih kurang dua puluh tujuh hari dan-"
"DEMI NEPTUNUS!"
"Psst, berhenti berteriak! Aku masih boss mu meskipun ini bukan jam kerja!"
"HALO BOSS? AKU BERITAHU SESUATU, KAU SANGAT MENYEBALKAN DAN SAYANGNYA AKU TIDAK BISA MEMECATMU! SEKEDAR INFO!"
Baekhyun menjauhkan ponselnya dari telinga karena teriakan Jongdae sudah seperti petir mengamuk. Kalau tidak percaya, tanyakan kepada Chanyeol yang bisa mendengarnya dari jarak sepuluh meter.
"Aku juga menyayangimu. Sampai jumpa sebulan lagi. Bye!"
Sambungan diputus. Baekhyun membuang ponselnya ke atas sofa dan menghampiri Chanyeol yang sedang membaca serial X-Men. Pria itu tersenyum menyambutnya dengan sebuah kacamata baca yang menggantung di hidung.
Tampan sekali.
"Aku sering melihatmu di televisi." Chanyeol menerima Baekhyun di pangkuannya.
Memeluk pinggang itu dan menariknya semakin dekat. Harum tubuh Baekhyun memenuhi indera penciuman.
"Jangan bilang tentang gosip." Bibir Baekhyun mengerucut.
Lumayan khawatir kalau Chanyeol benar-benar membaca semua kabar bohong yang ada di TV atau media apapun. Tapi pria besar itu menggeleng.
"Aku turut berduka untuk ayahmu, Baek."
Oh, tentang kepergian sang ayah rupanya...
"Itu sudah sangat lama. Bisakah kita membicarakan hal yang menyenangkan saja?" Jawab Baekhyun merasa enggan untuk membicarakan topik yang kurang nyaman di hati.
"Seperti?"
Mata sabit itu menerawang ke atap, "Seperti, apa saja yang kau lakukan setahun tanpaku?"
Bukan pertanyaan yang sulit. Chanyeol bahkan tanpa berpikir langsung bisa menjawabnya, "Merindukanmu setiap hari. Memikirkanmu setiap hari, memimpikanmu setiap malam dan-"
"Chanyeol!" Satu pukulan main-main mendarat di bahu. Baekhyun melakukannya, dengan cara yang begitu memalukan karena dia jadi terlihat seperti gadis tujuh belas tahun.
Gombalan Park yang tak pernah luput membuatnya tersipu.
Mendekap lebih dekat tubuh kecil itu di pelukan, Chanyeol mulai bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi, "Aku mengajar sejarah. Menceritakan buku kepada anak-anak dan mengelola yayasan. Setiap akhir pekan, aku juga akan menjadi kiper di tim sepakbola kami."
"Kau bermain dengan anak-anak?" Tanya Baekhyun.
"Ya, mereka bermain dengan sangat hebat."
Menatap bola mata Chanyeol yang hitam legam itu dengan lekat. Baekhyun baru menyadari bahwa dia bisa melihat pantulan wajahnya disana. "Bagaimana rasanya?"
"Sangat damai." Jawab suara berat itu hampir berbisik.
Baekhyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum dan menghadiahi bibir penuh Chanyeol dengan sebuah kecupan. Jemari lentik itu juga merangkum rahang Chanyeol karena ciuman mereka menjadi lebih keras dan cepat.
Sayangnya, tulang pipi Chanyeol begitu terasa saat disentuh. Baekhyun memisahkan bibir mereka dan langsung mengerut tajam.
"Kau kurus sekali. Lihat, kantung mata ini dan keriput di dahi." Baekhyun menyentuh semua bagian yang tadi dia sebutkan.
"Huu, Park Chanyeol sudah tidak tampan lagi." Ejek Baekhyun, mengundang senyuman hangat dari bibir yang lain.
Chanyeol meraih wajah Baekhyun, "Sebut saja aku gentleman. Pria paling kuat sedunia yang mampu menahan rindu selama setahun." Berbisik di depan bibirnya untuk melanjutkan kembali sesi berciuman mereka.
Tapi Baekhyun seperti mendapat sesuatu yang aneh. Pelan-pelan merambati hatinya dan menetap dengan tidak nyaman. Sebut saja, perasaan bersalah.
"Maaf." Dia beranjak dari pangkuan Chanyeol dan mengusap wajahnya sendiri.
Satu tahun tentu saja tidak sebentar. Dia begitu egois. Baekhyun begitu egois karena tidak memikirkan Chanyeol yang telah mengorbankan segalanya. Tidak mau tahu apa dan bagaimana Chanyeol melewati satu tahun yang berat sendirian.
Lalu lihatlah sekarang? Pria yang dia cintai itu pasti menderita karena semua kehilangan yang Baekhyun sebabkan.
"Hey, kenapa?"
Chanyeol menyentuh bahunya, tapi Baekhyun refleks menjauh. "Tidak ada. Hanya ingin meminta maaf."
Baekhyun mungkin masih menyimpan sesuatu. Chanyeol tidak ingin mengungkitnya dan lebih memilih mendekati Baby boy-nya pelan-pelan. "Ingin membicarakannya?"
Baekhyun menggeleng. Lantas menerima dekapan Chanyeol dan mulai menghilangkan perasaan tidak nyaman itu dari dalam hati. Jelas sekali, pria besarnya itu menciumi pucuk kepala berulang kali.
"Aku tidak tahu kalau satu tahunmu sangat berat." Ucap Baekhyun serupa berbisik.
Chanyeol masih jelas mendengarnya dan berusaha tak mempermasalahkan apapun. Tak ingin memperpanjang obrolan kurang mengenakkan ini.
Di dekapnya Baekhyun sampai erat. Merasakan tangan itu meremas lengannya samar-samar, "Satu tahun bagiku tidak apa-apa, asalkan kau kembali."
.
e)(o
.
Satu minggu berlalu sudah.
Baekhyun benar-benar berguna sebagai penyembuh. Prianya sudah tidak mengonsumsi obat lagi karena mimpi buruknya sudah hilang. Chanyeol bilang, tidur dengannya adalah sama dengan mimpi indah. Tidak ada malam mengerikan lagi sejak Baekhyun kembali.
Chanyeol, juga sudah kembali menjadi pria yang hebat untuk Baekhyun di ranjang.
Pernah sekali, saat Baekhyun sedang berendam dan Chanyeol datang mengganggu. Bergabung ke dalam bathup dan tidak ada yang bisa mencegah desahan keras mereka untuk memenuhi kamar mandi.
Baik keduanya sudah terbiasa untuk menghadapi serangan gairah yang datang mendadak. Seperti sekarang, saat Baekhyun tiba-tiba duduk di pangkuan Chanyeol dengan membuka kedua kakinya. Lelaki berparas mungil itu tiba-tiba berucap,
"Aku ingin di atas."
Chanyeol bukan main terpancing. Hasratnya naik dengan cepat hanya dengan mendengar permintaan Baekhyun barusan.
"Apa yang ingin kau lakukan, hm?" Chanyeol giat merabai tubuh Baekhyun yang masih dibalut kaos besar miliknya.
Menelusuri kulit yang begitu lembut menggesek telapak tangannya. Chanyeol sudah sangat tinggi hanya dengan menyentuh tubuh Baekhyun.
Pria dengan seksualitas tinggi ini sudah tak bisa mundur lagi.
"Membuatmu melihat bintang." Jawab Baekhyun sambil menggigit bibirnya sensual.
Chanyeol baru menyadari bahwa lelaki mungilnya ini hanya memakai celana dalam. Tangannya menyentuh bokong berisi itu dan meremasnya pelan, begitu teratur dan gemas.
Tubuh kecil itu menggelinjang di pangkuannya. Betapa pemandangan yang paling indah adalah saat Baekhyun mendongak penuh gairah. Membuat ereksi Chanyeol dan diduduki semakin mencuat.
Baekhyun menggesek kelelakian mereka dengan cepat. Pria kecil ini berubah menjadi rubah betina yang nakal secara tiba-tiba.
Tak apa, lagi pula Chanyeol sangat suka.
"Oh shit..." Chanyeol mengumpat pelan.
Tangannya sudah tidak mampu bermain pelan lagi begitupula dengan bibirnya. Pakaian Baekhyun dilucuti satu persatu. Mulai dari kaos dan langsung celana dalamnya.
Tubuh itu telanjang total. Tanpa ampun langsung Chanyeol jatuhi dengan ciuman-ciuman dan hisapan yang panas. Baekhyun menggeliat erotis, menekan kepala Chanyeol semakin dalam kepadanya.
Merasakan lidah itu mengitari pucuk dada sampai panasnya menjalari seluruh tubuh. Merambat melalui saraf dan berakhir di ujung penisnya.
"Yeol, ahh." Baekhyun menggigit bahu Chanyeol untuk menarik kemejanya.
Berusaha melepaskan kain yang masih menempel ditubuh Chanyeol karena ini tidak adil. Baekhyun sudah sudah telanjang total tapi pakaian Chanyeol masih sangat lengkap.
"Kau harus melepas-nngh, bajumu." Tapi Baekhyun harus menelan kekecewaan karena pria besar itu sudah sibuk sendiri.
Menuntun jemari Baekhyun untuk menurunkan resleting celana kainnya. Membantu rubah nakalnya itu mengangkat pinggang karena Baekhyun harus melepaskan celana dalam keparat itu.
Seperti sudah paham, Baekhyun memijat penis Chanyeol dalam kedua tangan. "Sshh, buat aku terkesan."
Kejantanan Chanyeol sudah keras dengan sempurna. Baekhyun berjinjit untuk mempersiapkan diri dan mulai memenuhi dirinya dengan penis Chanyeol.
Sempat kesulitan karena ini pertama kalinya bagi Baekhyun untuk mengendalikan permainan mereka. Tapi akhirnya berhasil juga pada dorongan kesekian kali.
"Ohh, Yeol!" Baekhyun menatap langit-langit dan seperti hilang akal. Mencengkeram kedua bahu kencang Chanyeol karena kedua kakinya lemas seketika.
"Pelan-pelan saja, Baby." Chanyeol mengusap pinggang itu berulang kali. Mencium lekuk tubuh Baekhyun seperti paham bahwa dia baru saja melewati proses paling menyakitkan dari penyatuan mereka barusan.
Baekhyun merasa perutnya seperti terisi dengan penuh. Seluruh tubuhnya menjadi sangat sensitif terhadap sentuhan bahkan kepada hembusan nafas Chanyeol. Tubuh kecil yang sudah kemerahan itu mulai bergerak.
Naik turun dengan tempo yang pelan lalu berubah cepat dan nikmat. Ruang baca milik Chanyeol yang biasanya hening berubah sangat berisik. Desahan dan geraman erotis saling bersahutan.
Baekhyun sampai frustasi karena tangan Chanyeol juga mengaduk penisnya yang mencuat.
Dia tidak ingin datang lebih awal. Dia ingin membuat Chanyeol puas dengannya dulu, begitulah keinginan Baekhyun yang sebenarnya. Tapi apalah daya, mungkin akan gagal juga karena Chanyeol begitu perkasa.
"Aku akan-ugh, menggigit bokongmu nanti." Chanyeol berucap di sela ciuman mereka yang begitu terburu-buru.
Baekhyun tak sempat membalas karena pria itu sudah menghujani lehernya dengan hisapan dan cumbuan. Kepalanya berkunang-kunang dengan cepat. Kedutan di selatan tubuhnya juga sudah sangat menyiksa.
"Ahh Chanyeol, ahh." Gerakan tubuhnya semakin cepat.
Hanya sahutan nafas keduanya yang terdengar saling kejar. Tubuh Baekhyun tiba-tiba menggelinjang panik, tangannya memeluk leher Chanyeol erat dan langsung bersembunyi di sana.
"Mmhh aku, sampai." Tak lama kemudian, Baekhyun benar-benar ambruk bersandar pada Chanyeol.
Nafasnya naik turun jelas sekali. Keringat mengucur deras dari pelipis dan sepanjag punggung. Nikmatnya bukan main tidak bisa dijelaskan. Baekhyun sampai tak kuasa untuk melawan saat Chanyeol mengangkat tubuhnya pelan.
Mengeluarkan penis kerasnya dari belahan bokong itu dengan tiba-tiba. Membuat Baekhyun merasakan ruang kosong itu berdenyut perih. Namun tak perlu menunggu lama karena Chanyeol sudah mengisi tubuhnya lagi.
Mulai melakukan tugasnya yang hampir setiap malam mereka lakukan dengan Baekhyun yang menungging, bertumpu pada meja.
Desakan khas Chanyeol mulai terasa. Berusaha menjangkau bagian terdalam milik Baekhyun sampai lupa daratan."Aww! Pelan-pelan, Yeol."
Tapi sudah kepalang tinggi. Chanyeol hanya ingin segera mencapai miliknya dengan terus mendorong tubuh Baekhyun.
Tiba-tiba saja bibir tipis itu menjerit, melengking dengan sangat erotik, "AHH!"
Titik ternikmat Baekhyun barusaja disentuh. "Disana ya?" Bisik Chanyeol dengan jahilnya. Menjilat daun telinga itu sampai tubuh di bawahnya menggeliat nikmat.
Tanpa ampun Chanyeol langsung mendesaknya semakin dalam. Baekhyun langsung naik lagi gairahnya karena kemampuan Chanyeol dalam bercinta memanglah yang terbaik. Tak butuh waktu lama, Baekhyun kembali jatuh ke dalam lubang kepuasan.
Disusul Chanyeol setelah empat dorongan kemudian.
Tubuh mereka ambruk bertumpu pada meja. Menyatu dalam keringat dan deru nafas yang terengah. Lima menit untuk menenangkan tubuh mereka yang baru saja klimaks.
Chanyeol tiba-tiba membelai belahan pantat Baekhyun yang sudah merah padam.
"Besok pagi, aku mau satu."
Bibir tipis itu tersenyum. "Everything you want, gentleman."
Chanyeol tersenyum lalu memberikan kecupan terakhir di bahu kanan Baekhyun. Dengan begitu jantan menggendong tubuh lemas Baekhyun ke atas tempat tidur mereka yang hangat.
Sesi bercinta malam ini selesai dengan keduanya yang susah payah berjalan kembali ke kamar. Saling memeluk di balik selimut, lalu berdoa sebelum tidur agar malam selanjutnya akan selalu begini.
Selalu bersama-sama.
.
e)(o
.
Pagi harinya, pukul tujuh dengan suara bel berulang kali di pintu depan.
Seseorang di sana mungkin sedang terburu-buru karena bunyi belnya sangat berantakan. Baekhyun dengan tergesa memakai celana dan sebuah kaos kusut milik Chanyeol tanpa membangunkan pria besar itu.
Berjalan agak berlari, Baekhyun berusaha mengabaikan pinggangnya yang masih sakit karena sisa kegiatan mereka semalam.
Pintu dibuka. Sejujurnya, Baekhyun tidak pernah mengira bahwa tamu terburu-buru itu adalah adiknya sendiri.
Sehun.
Berdiri dengan rahang yang mengerat tegang. Ponsel di tangannya menyala dengan menampilkan nama Jongdae sebagai panggilan yang masih aktif. Sehun mematikan sambungan. Mencengkeram lengan Baekhyun dan menariknya pergi.
"Ayo pulang!"
.
.
To be continued
Bacods:
Berkat motivasi gelap dari partners in crime ternganu, saya sekarang udah bisa nulis p*enis tanpa gemeteran lagi. THANKYOU GAES!
Chapter depan udah END HAHAHA! Sooooo excited! Ku ingin terjun payung dari pohon cabee!
Dan thankyou yak kalian, pasukan moodboster yang kadang bikin ngakak sendiri kalo baca review! Kalo udah greget aku baless! Ahaha lebay gue, udah ah.
BHAY! SARANGHAE!
