Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

-Tolong dong, baca warningnya-

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.

.

.

.

Don't Like Don't Read !

.

.

~ Tomato, cherry dan salad~

[ Chapter 10 ]

.

.

.

Kafe Fuka sudah tutup beberapa menit yang lalu, Fuka membiarkan mereka, Itachi, Sakura dan Sasuke untuk berbicara, Sasuke ingin segera pulang dan tidak ingin berbicara apapun pada Itachi, tapi ini permintaan Sakura, dia ingin mereka berbicara tentang pernikahan mereka yang secara mendadak, Sakura tidak ingin ada masalah apa-apa di kemudian hari jika keluarga Sasuke tidak mengetahui apapun.

"Kau mengambil keputusan tanpa mengatakan apa-apa pada ayah dan ibu." Ucap Itachi, Sasuke berada di samping Sakura dan di hadapan mereka Itachi yang tengah menatap serius.

"Jika kau ingin mengaduh pada ayah dan ibu aku tidak peduli, kau selalu seperti itu, bukan? Selalu terlihat ingin menjadi yang terbaik di depan ayah." Ucap Sasuke, raut wajahnya terlihat tidak senang saat ini.

Sakura tidak berani menatap Itachi, dia hanya menundukkan wajahnya, menggenggam tangan Sasuke, dia sungguh takut saat ini.

"Sasuke!" Geram Itachi, wajahnya terlihat marah, detik berikutnya, dia menenangkan diri, menatap baik-baik gadis di sebelah Sasuke. "Setidaknya kau harus memperkenalkan dirimu." Ucap Itachi. Sontak membuat Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Itachi.

"A-a-aku-"

"-Kau tidak perlu berbicara apa-apa Sakura." Sasuke memotong ucapan Sakura.

"Dengar Sasuke, aku hanya ingin berbicara dengannya, apa kau bisa tenang sedikit?" Ucap Itachi, kesabarannya bisa habis jika meladeni cara bicara Sasuke yang sangat tidak ramah padanya.

"Dia istriku dan aku berhak apapun." Ucap Sasuke.

"Sa-Sasuke, tenanglah." Ucap Sakura, menatap Sasuke.

"Aku sudah katakan padamu berbicara dengannya adalah hal buruk, sebaiknya kita pulang." Ucap Sasuke, menarik Sakura, bergegas keluar dari kafe Fuka, meskipun Sakura berusaha menahan diri, dia tetap tidak bisa menahannya, Sasuke terlihat marah dan terus menariknya hingga keluar kafe.

Itachi ingin menahan mereka, namun melihat tingkah Sasuke, dia akan semakin tidak mendengarkannya.

"Aku tidak tahu jika sikapnya akan seperti itu, maaf aku tidak bermaksud mencampuri urusan kalian, tapi melihat Sasuke seperti itu, dia sungguh keras kepala." Ucap Fuka, dia baru saja mendapatkan sisi lain Sasuke yang sebenarnya, selama ini dia terlihat baik.

"Aku sudah terbiasa olehnya, terima kasih sudah memberi kami tempat untuk berbicara." Ucap Itachi.

"Tidak masalah, lagi pula Sakura pun sudah aku anggap sebagai saudara, aku hanya tidak menyangka jika adikmu itu sangat serius untuk bersama Sakura, aku sungguh salut akan sikap tegasnya terhadap wanita." Ucap Fuka.

"Sejujurnya aku tidak mempermasalahkan akan hubungan mereka, aku hanya ingin berbicara sedikit dengan Sakura, mengingat aku pun sudah menjadi kakak iparnya, tapi Sasuke sangat tidak senang terhadapku, bahkan dia seperti memberi kesan buruk pada Sakura akan sikapku." Itachi terlihat menghela napas.

"Datanglah kapan-kapan ke sini, mungkin aku bisa membuat waktu untuk kalian berbicara." Tawar Fuka.

"Ah, terima kasih, sekali lagi terima kasih." Ucap Itachi, pamit dan beranjak pulang.

Sementara itu, Sasuke masih berjalan, menarik Sakura sejauh mungkin dari kafe.

"Sasuke." Sakura merasa sedikit kesakitan pada pergelangannya.

Langkah Sasuke terhenti, terlihat dia tengah menghela napas, tidak menatap Sakura dan membiarkan dirinya membelakangi istrinya itu.

"Aku akan mendengar setiap ucapanmu, tapi tolong jangan bersikap seperti itu pada kakakmu." Ucap Sakura.

"Kita akan ke rumahku, besok hari libur." Sasuke tidak mendengar ucapan Sakura.

Sakura terdiam, ucapannya terabaikan, mungkin saat ini berbicara dengan Sasuke bukan waktu yang tepat, Sakura hanya bergumam dan kembali mengikuti Sasuke, dia akan bermalam dia rumah Sasuke, berharap bisa menenangkan suaminya yang sangat kesal.

.

.

.

.

.

.

Esok paginya, Sakura membuka matanya perlahan, malam hari yang cukup singkat, tidak ada pembicaraan apa-apa setelah mereka tiba di rumah Sasuke, membersihkan diri, makan malam bersama dan akhirnya tertidur, Sasuke terlihat lelah, dia terdiam dan meminta Sakura untuk cepat beristirahat.

Krinnggg...~

Sebuah pesan di ponsel Sakura, mengambil ponselnya yang tersimpan di meja sebelah tempat tidur, Sasuke masih tertidur dengan lelapnya di sebelah Sakura. Sebuah pesan dari nomer yang tidak di ketahui Sakura, tapi saat membaca isinya, Sakura tahu jika itu adalah dari kakak Sasuke, Itachi.


:: 0980XXXXXXXXX

Jika kau sedang tidak sibuk, apa kita bisa bertemu lagi di kafe Fuka, aku harap Sasuke tidak mengetahui hal ini, aku hanya ingin berbicara denganmu. (Itachi)


Setelah membacanya, membalas jika dia bersedia bertemu dengan Itachi dan segera menghapus pesan itu, Sakura tidak ingin jika Sasuke sampai tahu jika Itachi mengirimnya pesan.

"Sasuke." Panggil Sakura.

"Ngggg...~"

"Bangunlah, aku harus pergi." Ucap Sakura, berusaha membangunkan Sasuke.

"Kau akan kemana?" Ucap Sasuke, membuka matanya perlahan, menatap Sakura yang sudah turun dari kasur mereka.

"Aku hanya akan pergi ke supermarket, sejam lagi kita bertemu di stasiun." Ucap Sakura.

"Kenapa tidak pergi bersama?"

"Uhm, aku harus mengurus sesuatu dulu." Bohong Sakura, dia sudah berencana akan bertemu dengan Itachi hari ini.

"Apa itu penting?"

"Sangat penting. Dan kau harus bersiap, kita harus ke rumahku, ibuku harus tahu akan hal ini." Ucap Sakura.

"Baiklah."

Sakura sudah bersiap, meninggalkan Sasuke yang masih berbaring, sebuah lambaian memanggil dari Sasuke, dia tidak ingin istrinya pergi begitu saja, sebuah kecupan di bibir dan memeluk erat Sakura hingga akhirnya membiarkan istrinya itu pergi.

.

.

"Maaf tiba-tiba mengubah tempat untuk bertemu." Ucap Sakura, berjalan mendorong trolinya.

"Aku tidak keberatan, selama masih bisa berbicara denganmu." Ucap Itachi, dia seperti sedang menemani Sakura berbelanja di salah satu supermarket di Konoha. "Apa Sasuke mengetahuinya?" Lanjutnya.

"Tidak, dia sama sekali tidak tahu jika aku bertemu dengan anda." Ucap Sakura, mulai membiasakan diri dengan Itachi, kesan pertama pada Itachi membuatnya salah paham, namun setelah berbicara baik-baik, Sakura menyadari jika Itachi orang yang sangat baik dan sangat memperdulikan adiknya.

"Kau bebas memanggilku sebagai kakak."

Sakura terkekeh dan mulai berhenti di beberapa rak sayuran yang terlihat segar dan tertata rapi.

"Kejadian ini begitu cepat, kami hanya terbawa suasana dan Sasuke harus menanggungnya, aku rasa aku cukup egois." Sakura terlihat murung.

"Aku berpikiran lain." Wanita itu menatap Itachi. "Apa kalian bahagia?" Tanya Itachi.

Sebuah senyum malu menghiasi wajah Sakura. "Aku sudah sangat bahagia bersamanya." Jawab Sakura, kembali mendorong trolinya.

"Aku senang mendengar hal itu."

"Apa kak Itachi keberatan akan hubungan kami?"

"Tidak-tidak, ahk, aku yakin Sasuke sudah mencuci otakmu agar selalu memikirkan hal negatif tentangku, dia masih saja kesal padaku." Ucap Itachi.

"Dia sempat menceritakan hubungan kalian, yaa, aku pun tidak sepenuhnya terima akan ucapan Sasuke, sejujurnya aku sangat iri padanya, dia memiliki saudara dan aku hanya tunggal, aku sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana memiliki saudara."

"Tapi sekarang kau pun sudah memiliki Saudara." Ucap Itachi dan menunjuk dirinya.

Sakura tertawa pelan melihat tingkah Itachi.

"Jadi, kalian akan ke rumah ibumu?"

"Uhm, aku harap ibu bisa menerimanya." Ucap Sakura, wajahnya sempat tidak percaya diri jika dia harus segera memberitahukan kabar tentang dirinya yang sudah menikah dan sedang mengandung.

"Dan setelah itu, kalian akan ke kediaman?"

"Memikirkannya saja sudah membuatku sangat takut." Ucap Sakura. wajahnya terlihat murung lagi.

"Tenanglah, ibuku sangat baik, hanya saja, kau harus bertemu dengan ayahku yang memiliki sikap tidak jauh beda dengan Sasuke, aku yakin kau sudah tahu seperti apa adikku itu, aku rasa sikap ayahku turun padanya."

"Benarkah! Aku harus siap mental, awalnya Sasuke terkesan seperti pria yang sangat arogan, egois dan sulit untuk di dekati."

"Sampai sekarang pun dia seperti itu, aku sampai tak yakin jika dia bisa mendekati seorang gadis, mengingat dia sudah menolak banyak gadis yang mendatanginya, kau sungguh beruntung bisa menjinakkan anak itu."

Sakura terkekeh mendengar ucapan Itachi, seperti pawang yang sudah mengendalikan ularnya, Sasuke menjadi luluh padanya, pertemuan awal yang cukup kacau dan berakhir dengan mereka sudah menjadi pasangan suami-istri, Sakura kembali mengingat akan hal-hal yang sudah lama terjadi.

"Memikirkan sesuatu?" Tegur Itachi, mendapati adik iparnya itu melamun.

"Hanya mengingat pertemuan awal kami." Ucap Sakura dan tidak hentinya untuk menahan tawa.

"Hn?"

"Aku hanya tidak sengaja menumpahkan minuman pada bajunya, aku sampai takut saat itu, kemudian kami kadang tidak sengaja bertemu, dia selalu memaksa ingin mentraktirku dan akhirnya tanpa di sadari kami menjadi akrab, Sasuke sudah terlalu banyak membantuku." Ucap Sakura.

"Kalian sudah melewati banyak hal, aku senang Sasuke bersama gadis yang tepat." Ucap Itachi dan tersenyum.

"Ah, baiklah, maaf, aku harus segera ke stasiun." Ucap Sakura, mendorong trolinya ke kasir, dia sudah cukup mengambil beberapa bahan untuk di bawa ke rumahnya.

"Biar aku yang membayarnya." Ucap Itachi.

"Ti-tidak usah." Tolak Sakura.

"Anggap saja aku memberi hadiah untuk ibumu, kita sudah menjadi keluarga, bukan?" Ucap Itachi.

Sakura merasa cukup tidak enak dengan menerima bayaran dari Itachi, tapi kakak tertua Sasuke itu terus memaksa dan tidak ada pilihan lain.

Setelah berbelanja, Sakura pamit untuk pergi ke stasiun yang tidak terlalu jauh dari supermarket itu, menolak ajakan Itachi untuk mengantarnya, Sasuke akan tahu dan bisa marah besar padanya.

Di stasiun, Sasuke masih menunggu Sakura, tidak peduli akan tatapan beberapa wanita, dia masih tenang untuk duduk dan menunggu, Sakura pergi lebih lama dari yang di ucapkannya, hampir dua jam, Sasuke sampai merasa bosan menunggu, ingin menyusul Sakura, namun dia tidak tahu istrinya itu pergi kemana. Wajah beberapa wanita terlihat merona menatap pria yang tengah duduk sendirian, ingin mendekati pria berambut style emo itu dan tidak ada yang berani, semuanya terpaku untuk tetap menatapnya.

"Maaf, aku sedikit terlambat." Ucap Sakura, ngos-ngosan berlari hingga stasiun.

"Kau pergi lebih dari sejam." Ucap Sasuke, dia cukup kesal saat ini, berdiri dan merangkul istrinya.

"Eh? Ke-kenapa? Apa yang kau lakukan Sasuke?" Bisik Sakura, merasa cukup malu saat ini, banyak orang yang berlalu-lalang di sana dan bisa melihat mereka.

"Apa tidak boleh merangkul istri sendiri?" Ucap Sasuke dan sedikit mengeraskan suaranya.

Sakura semakin malu dan menundukkan wajahnya.

"Aku risih di tatap mereka." Bisik Sasuke.

Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke, pria itu tetap terlihat tenang, wajah yang seperti biasanya, sulit untuk menebak akan tingkahnya, Sasuke hanya ingin membuat para wanita itu berhenti menatapnya. Sakura menutup mulut dan menahan tawanya, sisi lain dari sikap Sasuke, sedikit melirik ke arah lain, beberapa wanita memandang kecewa ke arahnya, mereka pikir Sasuke adalah pemuda lajang, mengingat wajahnya masih sangat muda, namun setelah mendengar dia berucap 'istri', antara akan percaya dan tidak percaya jika dia sudah menikah dan istrinya pun masih muda.

Mulai terdengar suara kereta dengan tujuan yang akan mereka tuju, Sasuke berhenti dengan tingkahnya, mengajak Sakura untuk menaiki kereta yang sudah para penumpang

.

.

.

.

.

.

Kediaman Haruno.

Suasana di ruang tamu begitu tegang dan canggung, Sakura dan Sasuke hanya duduk bersimpuh di hadapan Mebuki, ibu Sakura, beliau menatap mereka tanpa berbicara apapun, semuanya sudah di jelaskan Sasuke dengan sejujur-jujurnya, Sakura tidak berani angkat suara dan menunggu keputusan ibunya.

"Aku harap bibi merestui hubungan kami." Ucap Sasuke.

Mebuki masih terdiam, beranjak dari tempatnya duduk, berjalan masuk ke dalam dapur, setelahnya kembali dan seperti sebuah serangan mendadak, sebuah tongkat sapu di pegangnya kuat-kuat dan memukul Sasuke, Mebuki terlihat sangat marah saat ini.

"Berani-beraninya kau melakukan hal ini pada anakku! Apa-apaan kau! seenaknya bersikap dan berbicara seperti itu! Apa kau tidak malu! Apa kau tidak pernah di ajari untuk menjaga kehormatan seorang gadis!" Geram Mebuki, berkali-kali sapu itu menghantam tubuhnya.

Sakura cukup terkejut dan membeku seketika, dia hanya menduga ibunya akan berbicara dengan baik, tapi kenyataan ibunya marah besar dan memukul Sasuke tanpa ampun, Sasuke tidak bisa menghindar dan membiarkan tubuhnya terus di pukuli, Sakura segera menyadarkan dirinya, bergegas memeluk Sasuke, melindungi suaminya yang mungkin akan pingsan sebentar lagi, pukulan Mebuki terhenti, anaknya sedang hamil dan Mebuki tidak berani memukul anaknya sendiri.

"Sudah ibu, hentikan." Ucap Sakura, dia merasa sangat kasihan dengan keadaan Sasuke saat ini.

"Minggir kau, ibu sudah tidak akan mempercayai setiap ucapanmu!" Mebuki berusaha menarik Sakura menjauh dari Sasuke, namun wanita berambut softpink itu memeluk erat Sasuke, tidak ingin Sasuke terluka lagi.

"Sudah cukup ibu. Biarkan hubungan kami."

"Aku tidak pernah mengajarimu seperti itu! Dari mana kau belajar dengan mudah mengambil keputusan! Apa dia sudah merusak pola pikirmu! Ha! Sakura, jawab ibu!"

"Tidak bu, aku sudah memikirkannya matang-matang dan ini keputusan yang sudah ku buat." Ucap Sakura.

"Ibu sungguh kecewa padamu!" Ucap Mebuki, melempar sapu yang di pegang eratnya begitu saja, berjalan keluar dan membanting pintu. Suasana hatinya begitu kacau, marah dan sangat-sangat kecewa, Mebuki sangat terpukul mendengar kabar dari anak gadisnya itu, ralat dia sudah bukan seorang gadis lagi, melainkan seorang wanita yang sudah berstatus menikah dan sedang mengandung.

"Sasuke, apa kau baik-baik saja?" Ucap Sakura, cukup khawatir.

"Hn, aku tidak apa-apa, aku rasa ini cukup pantas mengingat ibumu sangat menyayangimu." Ucap Sasuke, berusaha duduk perlahan, wajahnya memar dan ada beberapa luka lecet pada wajahnya.

"Aku rasa ini akan sedikit berbekas sementara waktu." Ucap Sakura, membantu Sasuke duduk di kursi, mengambil kotak obat dan mulai memplester beberapa luka di wajahnya. "Aku akan masak sebentar, apa kau bisa menunggu, dan setelah itu kita akan pergi, aku yakin ibu tidak mau berbicara denganku lagi." Raut wajah Sakura terlihat cukup sedih, baru kali ini dia melihat wajah marah ibunya.

"Maafkan aku." Ucap Sasuke, merangkul lembut istrinya, dia tidak tahu jika keputusan yang di ambilnya tidak semudah yang di bayangkan.

"Kenapa tidak menahan pukulan ibu? Kau bisa mati tadi." Ucap Sakura.

"Anggap saja impas." Sebuah senyum tipis di wajah Sasuke. Sakura memeluknya perlahan, dia cukup takut melihat tindakan ibunya tadi, berpikir jika dia akan lebih cepat menjadi seorang janda jika tidak menghentikan ibunya.

.

.

Sementara itu, Mebuki memilih menenangkan diri di sebuah kedai langganan, para pegawainya adalah tentangganya, mereka cukup akrab dan sudah lama mengenal satu sama lain.

"Sudahlah Mebuki, seharusnya kau bangga, anakmu sudah memiliki pasangan dan dia pun bertanggung jawab." Ucap salah satu dari mereka.

"Aku hanya syok mendengar kabar dari mereka, tiba-tiba saja menikah dan sudah mengandung, apa mereka tidak berpikir jika mereka masih memiliki orang tua, dasar anak jaman sekarang, hanya memikirkan keegoisan mereka saja." Gerutu Mebuki.

"Apa? anakmu sudah menikah?" Ucap tetangga lainnya yang kebetulan mendatangi kedai itu.

"Bagaimana suami Sakura? Apa dia tampan? Atau memiliki status sosial?"

"Apa kalian tidak bisa diam! Aku sangat marah padanya saat ini! Anak itu apa tidak bisa menghargai ibunya sendiri!" Ucap Mebuki kesal.

Terasa baru sebentar tapi hari sudah menjadi malam, Mebuki minum beberapa sake, tapi tidak sampai mabuk, pulang dengan perasaan yang masih sedikit marah, namun rumah begitu kosong, berpikiran jika mereka sudah pulang, bahkan lampu tidak di nyalakan, Mebuki berjalan masuk, menyalakan saklar lampu, di atas meja ruang tamu sudah terhidang beberapa makanan kesukaannya, ada selembar kertas terselip di salah satu mangkuk di atas meja.


Maaf ibu, aku sungguh minta maaf, jika keputusan ini membuat ibu sangat marah, aku akan menanggung segalanya, ibu tidak perlu memberikanku biaya apapun lagi, aku akan bekerja keras dan hidup mandiri mulai sekarang. Kami akan berusaha menjadi sebuah keluarga yang baik dan harmonis, terima kasih untuk selama ini.

Sakura.


"Dasar anak bodoh." Ucap Mebuki, suasana hatinya berubah menjadi haru, meneteskan air mata setelah membaca pesan dari anaknya itu, tidak ada bisa di lakukannya lagi, anaknya sudah siap untuk hidup mandiri tanpa adanya pegangan tangan darinya lagi, saat ini, uluran tangannya itu sudah di gantikan oleh pria yang sudah menjadi suaminya, cukup terpukul, tapi dia masih sangat menyayangi anaknya.

"Ibu juga minta maaf."

.

.

Konoha.

Masakan Sakura selesai saat sore hari, perjalanan kembali mereka ke Konoha tiba saat malam hari, Sakura sudah tidak kuat untuk bergerak lagi, kakinya lemas, masih terbayang-bayang wajah ibunya yang marah dan Sasuke yang di pukul habis-habisan.

"Apa kau perlu sesuatu?" Ucap Sasuke, menatap Sakura yang hanya berbaring di kasurnya, tidur menyamping dan membelakanginya, saat ini mereka tengah berada di apartemen Sasuke.

"Aku ingin tidur." Ucap Sakura perlahan.

Memberikan waktu untuk istrinya, Sasuke berjalan keluar kamar dan duduk di sofa, punggung, lengan dan wajahnya masih terasa sakit, dia pun akan pergi ke kampus besok dengan keadaan wajah yang cukup kacau, memarnya mulai terlihat, beranjak dari sofa dan mencoba mengopres memar-memar itu, samar-samar Sasuke bisa mendengar suara isak tangis dari dalam kamarnya, dia tahu jika Sakura pun cukup terpukul dengan tanggapan ibunya, mereka saling menyayangi satu sama lain, Sasuke merasa dia menjadi penyebab retaknya hubungan keluarga ini, tapi dia pun tidak bisa mengambil tindakan lain, seketika terbayang olehnya wajah kedua orang tuanya, memikirkan jika bagaimana Sakura di perkenalkan pada kedua orang tuanya, selama ini mereka terus bersikap baik, tapi Sasuke tidak ingin mengambil resiko apa-apa, memilih untuk diam dan orang tuanya tidak perlu tahu hingga Sakura melahirkan.

.

.

.

.

.

.

Bulan demi bulan berlalu, angkatan Sasuke maupun Sakura mulai memasuki masa praktek, memakai pakaian seragam yang di berikan kampus. Semuanya cukup terlihat senang mendapat seragam maupun baju lab, kecuali Sakura.

"Mungkin aku harus perlu mencari ukuran yang lebih besar." Ucap Sakura, memandangi baju seragam yang tengah di kenakannya, sangat sesuai, tapi tidak pada perutnya sudah mulai membesar.

"Mungkin kau harus mulai cuti." Saran Sasuke.

Saat ini, masa kontrakan Sakura di kostnya sudah habis, Sasuke membawa Sakura untuk tinggal bersama di apartemennya.

"Aku tidak mau cuti, aku tidak mau sendirian dengan para junior untuk praktek, aku ingin praktek bersama Ino, Hinata dan yang lainnya." Ucap Sakura.

"Bagaimana kau bisa menutupi itu?" Ucap Sasuke dan menunjuk perut Sakura.

"Ini semua salahmu!" Protes Sakura.

"Kenapa dia baru menyadarinya sekarang?" Batin Sasuke.

"Sudah saatnya kau cuti, ini tidak akan lama, hanya tinggal beberapa bulan. Apa selama ini teman-temanmu tidak curiga?" Ucap Sasuke.

"Aku mulai memakai pakaian besar dan juga kadang menaruh tas ranselku di depan, mereka tidak menyadari apapun." Jelas Sakura.

"Uhm... kau cukup jenius juga."

"Uhk! Kenapa di saat praktek harus cuti? Ini tidak adil!" Rengek Sakura.

"Baiklah, aku pun akan cuti bersamamu." Ucap Sasuke.

"Tidak, kau harus menyelesaikan pendidikanmu, aku tidak keberatan jika cuti." Ucap Sakura, sedikit menundukkan wajahnya, dengan begitu dia mungkin akan tertinggal satu semester dari teman-temannya.

Sebuah pelukan dari suaminya. "Aku tidak masalah jika harus terlambat satu semester." Ucap Sasuke.

"Pokoknya tidak boleh, kau harus tetap kuliah dan cepatlah menjadi seorang dokter, setelahnya kau harus menunggu perawat pendampingmu." Ucap Sakura dan terkekeh.

"Hn, sesuai keinginanmu, nyonya." Ucap Sasuke dan memeluk manja istrinya.

Brak-brak-brak.

"Sasuke! ini aku." Teriak Naruto dari depan pintu apartemen Sakura.

"Na-Naruto! Gawat, aku harus sembunyi." Ucap Sakura, panik, melepaskan pelukan Sasuke dan mencoba mencari tempat persembunyian, langkahnya terhenti, Sasuke memegang tangannya erat.

"Tidak ada yang perlu di sembunyikan lagi." Ucap Sasuke, menatap serius ke arah Sakura.

"Ta-tapi-"

"Jika dia membocorkannya di kampus, aku akan menghajarnya." Ancam Sasuke dan sebuah senyum licik di wajahnya, dia akan merasa sangat senang jika harus memukul Naruto.

Detik berikutnya.

"Kenapa lama sekali?" Gerutu Naruto.

"Maaf aku sedikit sibuk tadi." Ucap Sasuke.

Beranjak dari pintu depan, membiarkan Naruto masuk, kali ini Naruto ingin meminjam beberapa buku dari Sasuke, dia cukup malas untuk mencarinya di perpustakaan.

"Duduklah aku akan mengambilnya." Ucap Sasuke, beranjak dari ruang tamu.

Setelah Sasuke pergi, Naruto duduk santai sambil menunggu, seseorang berjalan ke arah ruang tamu membawa sebuah nampan, sekedar menyajikan teh untuk Naruto dan cukup membuat pemuda berambut blonde itu sangat terkejut.

"Sa-Sakura! Apa yang kau lakukan di rumah Sasuke?" Ucap Naruto, berdiri dari sofa dan menatap Sakura.

"Aku tinggal sini." Ucap Sakura, malu-malu.

"Apa? tinggal bersama Sasuke. Kenapa? Apa kau perlu uang untuk kost? Aku bisa membantumu? Atau kiriman ibumu terlambat? Serahkan padaku." Ucap Naruto, tidak bisa terima jika Sakura tinggal bersama Sasuke.

"Diamlah, kau tidak perlu khawatir seperti itu, dia istriku dan tentu saja dia boleh tinggal di rumahku." Ucap Sasuke yang sudah datang dengan membawa beberapa buku.

Membeku sejenak, Naruto mencoba mencerna ucapan Sasuke, istri? Tinggal serumah, Naruto memandangi Sakura dan terfokus pada bagian perut Sakura yang menonjol.

"APAAAAAAAAAAAAA...!" Teriak Naruto.

Sasuke menutup kupingnya rapat-rapat, Sakura tertawa canggung, dia pun tidak tahu akan respon sahabatnya itu.

"Apa yang sudah terjadi! Sakura! katakan padaku! kenapa kalian bisa menjadi suami-istri! Dan apa yang ada di perutmu! Apa kau menjadi gemuk akhir-akhir ini? Atau kau sedang sembelit." Ucap Naruto dan malah mendapat jitakan keras di kepalanya, Sakura cukup kesal dengan kata 'gemuk' dan 'sembelit' dari Naruto.

Setelah mendapat penjelasan, Naruto meringkuk di sofa dan masih tidak bisa percaya jika Sakura, Sahabat sejak kecilnya sudah menikah dan sedang hamil dan masih tidak percaya lagi jika Sasuke yang sudah membuat Sakura hamil dan juga tetap tidak percaya jika Sasuke bisa bersama seorang wanita, semuanya masih mustahil untuk Naruto.

"Aku pikir kau membenci para gadis!" Protes Naruto.

"Aku benci akan sikap mereka yang mendekatiku." Ucap Sasuke.

"Kenapa harus Sakura? Kau bisa bersama wanita lain!" Protes Naruto, lagi.

"Berisik, ambil buku ini cepat dan pulanglah." Perintah Sasuke, lama-lama Naruto membuatnya kesal.

"Sakura, apa kau baik-baik saja? Apa ini rencana Sasuke? Apa dia sedang menjebakmu?"

"Pulang atau aku akan menghajarmu!" Sasuke mulai kesal.

"Tenanglah Naruto, ini juga keputusanku, aku senang bisa bersama orang yang aku sukai." Ucap Sakura dan tersenyum.

"Kau tahu kan, Sasuke itu seperti apa, aku curiga dia benar-benar menjebakmu."

"Pulang!" Sasuke menarik Naruto dan mendorongnya keluar dari rumahnya, setelah Naruto di luar, melempar buku-buku miliknya juga ke arah Naruto dan menutup pintu apartemennya dengan kasar.

"Sasuke! Sasuke! aku tidak percaya padamu! Kau pasti sudah menjebak Sakura." Ucap Naruto dan menggedor-gedor pintu apartemen Sasuke.

"Kau terlalu kasar padanya." Ucap Sakura pada Sasuke.

"Dia akan membuatku semakin marah." Ucap Sasuke.

Suasana di depan pintu menjadi tenang, Sasuke membuka pintu untuk memastikannya, tapi sahabatnya itu cukup keras kepala, dia hanya duduk di depan pintu apartemen Sasuke dan tidak beranjak dari sana.

"Kau sangat keras kepala." Ucap Sasuke.

"Aku hanya belum bisa menerimanya." Ucap Naruto.

"Kau sungguh ingin di hajar." Ucap Sasuke dan mulai mengangkat kepalang tangannya.

"Jangan berkelahi, kalian seperti anak kecil saja." Ucap Sakura.

Keadaan menjadi terkendali oleh Sakura, Naruto kembali masuk dan duduk tenang, meskipun suasana hatinya sedikit kacau dan masih tidak percaya, memandangi Sakura yang sedang hamil, raut wajahnya terlihat begitu senang, Naruto selama ini tidak menyadari apapun, kedekatan mereka dan hubungan mereka.

"Apa ibumu mengetahuinya?" Ucap Naruto.

Raut wajah Sakura tiba-tiba menjadi murung.

"Ibunya menolak hubungan kami." Ucap Sasuke.

"Hahahahahaha." Tawa lepas dari Naruto, kembali mendapat jitakan keras dari Sakura.

"Ibu hanya marah, tapi aku yakin suatu saat ibu akan tetap merestui hubungan kami." Ucap Sakura.

"Dan bagaimana keluargamu Sasuke?" Ucap Naruto.

"Tidak perlu membahasnya, mereka akan menerima apa yang sudah ku putuskan." Ucap Sasuke.

Sakura tersadar setelah mendengar ucapan Naruto, selama ini Sasuke belum membuatnya bertemu dengan kedua orang tuanya, kecuali Itachi yang sudah menerima hubungan mereka.

"Kau benar Naruto, aku harus bertemu dengan orang tuamu Sasuke." Ucap Sakura.

Sasuke mengutuk Naruto yang terlalu blak-blakan, rencana untuk tidak memperkenalkan Sakura kepada kedua orang tuanya menjadi hal yang di inginkan Sakura.

"Mungkin nanti setelah kau sudah melahirkan." Ucap Sasuke, memandang horror ke arah Naruto, pemuda itu cukup terkejut mendapati tatapan Sasuke seakan ingin membunuhnya sekarang juga.

Naruto pamit untuk pulang setelah mendapat buku yang di inginkannya dan juga kabar baik, namun menurut Naruto itu adalah kabar buruk, dia pun di ancam untuk tidak menyebarkannya di kampus.

.

.

.

.

.

.

Semester baru dan mulainya praktek.

Sakura sudah mengajukan cuti dan tanpa di sadari oleh teman-temannya. Dia pun hanya akan berdiam diri rumah sambil menunggu bulan kelahiran, kadang Sasuke akan menemaninya ke rumah sakit untuk cek kondisi kehamilannya, semua berjalan dengan baik dan bayinya sehat.

Sasuke sedang kuliah, Sakura tengah bersantai di ruang tv, bunyi bel cukup membuatnya terusik, beranjak dari sofa dan berjalan perlahan-lahan, perutnya sudah semakin besar. Membuka pintu dan mendapati seorang wanita dan seorang pria memakai pakaian serba hitam berdiri di belakang wanita paru baya itu.

"Eh? Aku yakin ini apartemen Sasuke." Ucap wanita itu.

Sakura menyadari jika wanita di hadapannya tidak tahu jika Sasuke dan dia sudah tinggal bersama.

"I-ini benar apartemen Sasuke." Ucap Sakura, gugup.

"Benarkah? Lalu Sasuke dimana? Dan siapa kau?"

"Sasuke sedang kuliah dan aku uhm... istrinya."

"Apa? istri? Sasuke sudah menikah?" hampir saja wanita itu pingsan.

"Nyo-nyonya!" Pria di belakangnya terlihat panik, menahan wanita berambut hitam panjang sepinggang itu yang sedikit menjatuhkan diri.

"Masuk saja, silahkan-silahkan." Ucap Sakura, dia pun cukup terkejut mendapati respon wanita itu.

"Apa yang sudah terjadi? Kenapa anak itu tidak mengatakan apa-apa padaku?" Ucap wanita itu, dia sudah duduk di sofa dan pria yang bersamanya senantiasa berdiri tidak jauh darinya.

Sakura terdiam, menatap wanita itu dan dia terlihat mirip Sasuke.

"Dengar, aku adalah ibu Sasuke, tapi dia tidak pernah mengatakan jika dia sudah menikah."

Syok.

Sakura sangat syok mendengar ucapan wanita itu yang ternyata adalah ibu Sasuke, kenapa di saat seperti ini, di waktu yang tidak tepat dia harus bertemu dengan ibu mertuanya.

"M-maafkan kami yang tidak sempat menyampaikan kabar ini." Ucap Sakura, dia sudah takut saat ini.

Mikoto, Uchiha Mikoto menatap wanita muda di hadapannya dengan teliti

"Perkenalkan dirimu." Ucap Mikoto, nada suaranya terdengar sedang tidak bersahabat dan semakin membuat Sakura takut.

"U-Uchiha Sakura, aku uhm... aku mahasiswi keperawatan di kampus yang sama dengan Sasuke." Ucap Sakura. memandang takut-takut ke arah Mikoto.

"Hoo, satu kampus dengan Sasuke. Bagaimana kalian bisa bertemu jika berbeda fakultas."

"I-itu itu... kami sempat ketemu saat acara keakraban antara fakultas kesehatan." Sakura sampai bingung memilih ucapan yang tepat.

"Uhm..., apa ini bukan karena kecelakaan? Anak itu, bagaimana bisa di berbuat seperti ini? Aku sama sekali tidak bisa menerimanya. Sasuke tidak mungkin melakukan hal semacam ini."

Ucapan Mikoto sangat membuat Sakura terkejut, seakan hubungan mereka hanya sebuah kesalahpahaman dan kehamilan Sakura kecelakaan biasa yang terjadi pada anak remaja, memilih diam, dia pun tidak berani berbicara apa-apa. Mikoto masih memandangi wanita itu. Sebuah senyum di wajahnya dan seketika senyum itu menghilang.

"Anggap saja ini sebuah kecelakaan kecil, gugurkan dan aku bisa membayarmu berapa pun." Ucap Mikoto.

Seperti sebuah petir menyambar, Sakura tidak percaya mendengar ucapan itu dari ibu Sasuke, apa ini hal yang di maksudkan Sasuke jika nanti saja mereka bertemu orang tuanya. Mata wanita itu membulat menatap ibu Sasuke.

"Gu-gugurkan?"

.

.

TBC

.

.


jeng-jeng-jeng-jeng... *musik*

APA! DI GUGURKAN!

berasa kek drama gimana gitu...

ups...

pertama-tama, halo..., sasuke fans akhirnya bisa update lagi, *maaf* udah cukup lama tidak bisa update apa-apa, seperti sebelum-sebelumnya author sibuk, susah banget update dan sedang di usahakan.

sorry untuk chapter ini dikit dan mungkin terburu-buru, kapan tamat yaa? author juga berharap ini segera tamat, sebenarnya alasan agar cepat terlepas dari fic TBS, HAHAHAHAHA..

untuk sementara nggak balas apapun, tapi terima kasih buanyaaaak sudah meninggalkan review, semangat, teguran atau apapun, eheheh. makasih pokoknya. penulisan dan Typo seperti biasanya, masih sulit di perbaiki, author berasa tidak berkembang selama bertahun-tahun... tapi yang penting, reader suka alurnya. tolong kalau ada typo kabari yaa, author kerja ini dari jam 12 malam, udah ngantuk-ngantuknya, hahahaha.

udah. gitu apa aja...

dan... apa kah yang terjadi setelah ini?...

jeng-jeng-jeng-jeng... *musik*

tunggu saja kelanjutannya

see you next chapter,

semoga nggak lama, semoga.