Title: Try My Love—Holding Back The Tears

Rate: M

Genre: Romance. Drama

Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin. Seo Daesuk, Ma Hyeri and other. Cast lain menyusul seiring perkembangan zaman.

Disclaimer: Yunho milik Jaejoong. Jaejoong milik Yunho. Saya milik Yunho.

Pairing: YunJae. Kayaknya YooSu juga ada.

Warning: OOC (Bitchy!Jae). BL. Typo. Alur berantakan. Vulgar. Slight!MinJae

Note: kritik dan saran diizinkan. NO BASH! Karena akun ini milik Ai CassiEast saudara saya.

a/n: Harap membaca warning lebih dulu! Karena ff ini mungkin akan menjijikkan dengan bahasa yang sangat vulgar. Jika tidak suka karakter Jaejoong, silakan abaikan ff ini. Terima kasih.

Hari ini upload 2 ff sekaligussss~ tadinya Ije Mak Sijaktwen Iyagi sedang dalam proses, tapi si Ai Cassieast kehilangan moodnya. Sabar ya buat yang nunggu ff itu selama hampir setahun.

.

[Try My Love]

.

Kata-kata Hyeri beberapa waktu lalu mengganggu pikiran Yunho bahkan ketika ia tengah menyetir saat ini. Meski sempat menganggap itu benar, tetapi jauh di lubuk hatinya ia sangat percaya pada namja cantik itu. Tidak mungkin Jaejoong menkhianatinya dengan cara seperti itu, kan? Hei, itu pasti menyakitkan. Lagipula, si cantik mencintainya. Benar, kan? Tentu saja!

Yunho mengangguk mantap meyakini perdebatan dalam dirinya. Namun tiba-tiba ia teringat pertemuannya dengan Jaejoong kemarin. Luka di wajahnya. Pasti ada sesuatu di balik itu. Apa luka itu dikarenakan banyak yang menjatuhkan Jaejoong? Orang-orang itu tidak menyukai Jaejoong-nya? Hm, mungkin begitu. Karena itulah wanita bernama Hyeri berani berkata seperti itu.

Cukup lama berkutat dengan pikirannya sendiri, Yunho menghentikan laju mobilnya setelah dirasa sampai tujuan. Rumahnya.

Ia keluar dari mobil dan membalas sapaan ramah dari penjaga rumah yang menyambutnya. Kemudian beranjak masuk ke dalam untuk mengambil beberapa dokumen, melewati Shin ahjussi yang sedang terlibat pembicaraan penting lewat telepon genggamnya. Hanya dugaan, karena jarang sekali orang kepercayaan appanya ada di rumahnya saat ini ketika sang kepala keluarga tak ada.

"Ne, saya benar-benar yakin kali ini."

Kira-kira itulah yang terdengar, Yunho tidak tau pasti karena suaranya pelan. Merasa takbpantas mencuri dengar, ia mencoba tidak peduli dan fokus pada dokumen dokumen di atas meja yang sangat berantakan. Ukh, ia membaca dokumen-dokumen itu sambil bermain game, beginilah hasilnya.

"Tidak salah lagi, benar-benar Kim Jaejoong."

Eh? Barusan itu siapa? Nama yang terdengar familiar bagi Yunho.

"Putra Jang Hyesung. Bekerja di Evergreen cafe sejak lulus senior high school."

.

.

.

Hari sudah beranjak malam. Matahari tenggelam dalam gelap, membawa cahaya bersamanya. Bulan masih malu-malu merangkak naik, bersembunyi di balik awan, juga seakan hendak berbaur dengan bintang. Kilau indahnya tak mampu menghangatkan seperti matahari. Namun Yunho dan Jaejoong merasakan panas luar biasa di ruangan itu, seolah pendingin ruangan disana tidak berfungsi dengan baik.

Jaejoong yang terbaring pasrah di ranjang, dengan kedua tangan di sisi kepalanya, terasa pas dalam genggaman Yunho. Ketika mata mereka bertumbuk, dapat Jaejoong rasakan nafsu ang berkilat di mata Yunho, sama seperti miliknya, seolah api membakar gairah mereka.

Yunho menurunkan tubuhnya perlahan, sepenuhnya bertumpu pada kedua lututnya, menyentuhkan diri pada kulit Jaejoong yang berada di bawahnya. Tanpa penghalang apapun di antara mereka, terasa lembut dan bergetar di saat bersamaan, menghadirkan lenguhan seksi dari namja cantik pemilik cherry lips itu. Tak tahan, Yunho mendesak, meminta lebih, menelusuri kulit putih itu dengan lidahnya. Sial, itu tidak membantu sama sekali. Tidak cukup, Yunho tidak puas hanya dengan itu.

Tangan Yunho yang tadinya menggenggam lengan Jaejoong mulai mengikuti jejak lidahnya. Dada, punggung, dan pinggang seseorang yang berada di bawah kuasanya tak luput menjadi sasarannya. Membuat Jaejoong semakin larut dan terbakar oleh nafsu.

"Yunhoo~"

Begitu Jaejoong memanggilnya.

Cantik. Terdengar melodis. Ia ingin suara itu memenuhi indera pendengarannya lagi dan lagi. bersedia melakukan apapun agar dapat apa yang diingikannya, demi Tuhan.

Sementara Jaejoong menggeliat, menggoda, menanggapi dengan baik tiap sentuhan yang Yunho berikan. Ia mendongak, memberi akses lebih pada Yunho yang kini menjelajahi leher jenjangnya. Pinggulnya sedikit dinaikkan, meledakkan gairah dalam diri Yunho. Menyerahkan diri sepenuhnya pada namja bermata musang itu. Ia menginginkannya, lebih dari apapun untuk saat ini.

Tidak pernah sebelumnya Yunho memimpikan ini. Memikirkannya sejenak pun tidak. Jaejoong seperti kaca yang mudah retak dan sulit kembali lagi seperti semula. Cantik, terlalu indah dan sangat berharga. Menyentuhnya seperti ini mungkin akan menyakitinya, menggoreskan luka. Tapi, kalimat itu...

"Putra Jang Hyesung. Bekerja di Evergreen cafe sejak lulus senior high school."

Puas memandangi tubuh bak malaikat di bawahnya, mata Yunho menatap tepat ke dalam mata besar Jaejoong. Mata yang indah, sangat mempesona, terlihat seolah menariknya tuk terus mencumbu miliknya dan menggapai surga bersama.

"Aku tidak akan menghentikannya meski kau berusaha menolak, Jaejoong. Tidak akan."

Mata Yunho menyipit, tertutup oleh kabut nafsu. Kepalanya kembali ia dekatkan pada kulit bahu Jaejoong. Menggigitnya sekali lagi, dengan gemas, kali ini lebih bergairah.

Jaejoong mendesah, menyambutnya, "jangan berhenti. Kumohon, jangan."

Seolah mendapat lampu hijau, Yunho memberanikan diri berbuat lebih jauh. Gerakannya semakin liar, tidak teratur, dan menggebu-gebu. Menjadi terburu-buru seakan dikejar waktu. Sembari menghisap pucuk dada Jaejoong, telunjuk tangan kanan Yunho berada di pinggang namja cantik itu, menelusurinya perlahan, bermaksud menggoda. Kelembutan kulit Jaejoong membuat aktivitas jarinya semakin nakal dan tidak kaku.

Mendapat perlakuan seperti itu, Jaejoong mencengkeram kepala Yunho yang berada di dadanya. Jemarinya menelusup ke sela-sela rambut kecoklatan Yunho yang mulai lepek karena keringat. Tiap hisapan mulut Yunho menghasilkan satu tarikan rambut, menyalurkan kenikmatan tiada tara yang namja itu berikan. Cara yang terlampau seksi menurut Yunho.

Benda yang menggantung di antara kedua kaki Yunho sudah tegang sedari tadi, mencuat, menegak sempurna, tanpa kata meminta dipuaskan.

"Buka kakimu, sayang."

Jaejoong patuh, menurutinya. Membuka kakinya dibantu oleh sebelah tangan Yunho. Tak puas hanya menyentuh, telapak tangan Yunho mengusap bagian dalam paha Jaejoong, sedikit meremasnya ketika hampir mencapai pangkal. Tubuh Jaejoong seketika bergetar. Selangkangan namja cantik itu tak jauh berbeda seperti miliknya, benar-benar tegang. Benda putih panjang yang kurus itu, sangat menggemaskan. Membuat Yunho tanpa sadar mengecup ujungnya. Ya Tuhan.

"Ngh, Yunho~"

"Benar, Jaejoong. Seperti itu. Sebut namaku lagi."

Jaejoong masih enggan, sedikit malu mengekspresikannya. Menahannya dengan menggigitbibir bawah. Tapi ketika ia merasakan sesuatu yang basah dan hangat melingkupi miliknya, mata Jaejoong terbelalak, mulutnya terbuka, mendesahkan nama Yunho, "Ooh, Yunho.. Yunho~" tak tertahankan.

Mendengarnya semakin membangkitkan sesuatu di antara kaki Yunho, berdenyut, sama seperti benda dalam kulumannya. Tak sabar, gerakan Yunho semakin intens, menggoda dengan lidah, sesekali menggunakan giginya, mengigiti kulit kejantanan yang mengeras itu. Menyadari benda itu berkedut, Yunho mempercepat tempo, ia merasakan kepalanya dicengkram erat dari kedua sisi; kaki kurus Jaejoong. Sepertinya namja cantik itu tidak ingin melepasnya, begitu pun dengan Yunho.

Tepat ketika dengan sengaja Yunho menghisap dalam, kaki Jaejoong sedikit terbuka, menghentak-hentak dan terdengar rintihan melengking dari cherry lips itu seiring namja cantik itu meraih puncak.

"Giliranku?" Yunho bertanya setelah pandangannya kembali ke kepala Jaejoong, tepat ke matanya. Namun Yunho tidak langsung mendapat jawaban, namja cantik itu masih terengah, menikmati sisa-sisa ejakulasinya. Baiklah, tidak apa. Ia pun juga menikmati wajah itu.

Jaejoong membuka mata. Oh, Tuhan. Mata itu balas menatapnya, semakin sayu, benar-benar menariknya ke dalam pusaran gairah yang mungkin tak ada habisnya. Yunho tau itu, ia dapat mengartikannya. Mudah. Tak perlu kata, Jaejoong menyetujuinya.

Yunho memulai dengan melingkari kaki Jaejoong di pinggangnya, tanpa sengaja kejantanan mereka saling bersentuhan. Mereka mengerang bersama, merasa lebih panas. Tapi Yunho masih ingin menikmatinya perlahan, tidak perlu terburu-buru kali ini, rileks. Ia terlebih dahulu mempersiapkan namja cantik itu, merekahkan lubang Jaejoong dengan jemarinya. Tanpa bisa ditahan, ia menelan ludah. Kemudian menggeram kecil. Demi Tuhan, sangat indah.

Satu jarinya masuk, mendorongnya perlahan. Menghasilkan erangan tertahan dari mulut Jaejoong. Masih belum. Ia menambahnya hingga jari ketiga. Menggeseknya dengan tempo sedang, gerakan pinggul Jaejoong mengikuti seirama. Jaejoong tak tahan, desahannya keluar. Oke, sudah cukup.

Benda di selangkangan Yunho kini menggantikan jemarinya. Memasuki Jaejoong perlahan, dibantu oleh cairan cinta namja cantik itu. Panas. Seperti terbakar. Jaejoong benar-benar mencengkramnya, erat. Yunho mencoba mencari ritme yang pas, mengeluarkannya kemudian memasukannya lagi dengan lebih bertenaga, menghasilkan erangan panjang dari Jaejoong. Mungkin namja cantik itu merasakan sakit, tapi Yunho tidak ingin berhenti sampai disini saja. Tangan Yunho terangkat, menyapu pucuk dada Jaejoong yang masih menegang seperti sebelumnya, bekerja seirama dengan mulutnya mengulum kulit leher Jaejoong. Tak terhitung berapa kali Yunho melakukan itu, ia tak pernah bosan. Tidak akan.

"Lebih cepat, Yunho."

Kalimat itu terdengar berdengung di telinganya. Tidak, tidak mengganggu sama sekali. Hanya saja terdengar seperti itu karena hasrat tak terbendung yang dirasakan oleh Yunho. Suara Jaejoong, sungguh menggoda. Membuat Yunho membiarkan nafsunya mengambil alih, memimpin tubuhnya bergerak di dalam Jaejoong. Menghentak Jaejoong lebih keras ketika merasakan kuku-kuku Jaejoong menusuk punggungnya dalam, mencakarnya tanpa ampun seiring umpatan yang dikeluarkan oleh namja cantik itu.

Ya Tuhan. Yunho tidak akan tahan dengan sensasi ini. Kaki Jaejoong ia sampirkan di pundaknya ketika ia berkedut di dalam sana. Menghentak sekali lagi kemudian mengerang panjang saat meraih puncak bersama.

Tubuh Yunho ambruk di atas Jaejoong, dada mereka saling menempel. Masih dengan nafas memburu, Yunho mendekatkan bibir hatinya pada bibir Jaejoong, melumatnya dalam, tak rela meninggalkannya walau sedetik pun. Merasakan lagi manisnya. Kemudian melepasnya hingga tercipta benang saliva di antara keduanya.

"Putra Jang Hyesung. Kenapa harus kau?"

.

.

.

"Bagaimana kau tau?" Jaejoong menjawab Yunho dengan pertanyaan lagi. bukannya bodoh atau pura-pura, ia benar-benar tidak mengerti Yunho mendapat informasi itu darimana. Tidak mengerti mengapa Yunho mengungkit ibunya.

"Kau mengikuti jejak ibumu? Mengganggu keluargaku dengan menggoda ayahku?"

Kali ini Jaejoong paham kemana arah pembicaraan ini. Dari awal harusnya ia menjelaskan kesalahpahaman ini—negosiasi yang sama sekali tidak diketahui direktur eksekutif Jung corp itu. tapi lagi-lagi nama itu, ibunya.

"Yunho, apa maksudmu?"

"Berhenti berpura-pura padahal kau tau benar maksudku, Kim Jaejoong!"

Jaejoong menutup mata mendengar Yunho berteriak tepat di atasnya, di depan matanya. Tangan Yunho di dada Yunho bergetar, ia takut. Terutama pada mata musang yang terus menatapnya. Ingin menghindar, tapi tatapannya seolah terkunci.

"Setelah ibumu menghancurkan keluargaku, kau mengikuti jejaknya?"

Merasa tercekat, tenggorokan Jaejoong seolah kering. Tak dapat menjawab Yunho satu katapun. Otaknya memproses ucapan Yunho, menggabungkannya menjadi suatu peristiwa yang belum benar-benar Jaejoong ketahui. Hanya terpikir beberapa kemungkinan tanpa mendapat penjelasan lebih lanjut dari namja itu. tapi dengan Yunho membawa nama sang ibu, keluarga yang hancur, dapat dipastikan itu tentang pekerjaannya. Pekerjannya juga.

Menyembunyikan rasa takutnya, Jaejoong tersenyum, mungkin lebih tepat disebut menyeringai, "aku benar-benar tidak mengerti maksudmu, Tuan Jung. Tapi aku tau rasamu sungguh nikmat." Mungkin Jaejoong salah mengambil langkah, mengikuti alur permainan Yunho. tapi ia merasa ini yang terbaik yang bisa dilakukan saat ini. Membiarkan Yunho salah paham, daripada berusaha menjelaskan segala sesuatu yang bahkan belum Jaejoong mengerti sepenuhnya.

"Jangan katakan itu, Jaejoong."

"Tidak mendapat presdir Jung corp, putranya sudah cukup bagiku."

"Kim Jaejoong!"

Yunho melepaskan tautan tubuh mereka, bangkit, tak lagi menindih Jaejoong, kemudian mendudukkan dirinya di ranjang, membelakangi Jaejoong, "keluar." Perintahnya.

Hanya satu kata, tapi membuat hati Jaejoong berdenyut sakit. Seharusnya ia menyangkal, seharusnya ia menenangkan namja itu, bukan malah memperparah keadaan. Tapi ia sadar situasi dan keadaannya saat ini. Jika sudah menyangkut pekerjaan, ia harus sadar akan dirinya. Siapa ia, berasal dari mana, ia harus tau dimana seharusnya menempatkan diri.

"Kau tidak berniat membayarku?"

Mendapat tatapan terkejut dari Yunho disertai mengerasnya rahang namja itu, Jaejoong menutup mulutnya secara spontan, hanya berpura-pura, "maaf, aku menikmatinya juga. Jadi tidak perlu."

"Pakai kembali bajumu dan cepat pergi dari sini."

Kali ini Jaejoong bangkit, sengaja menimbulkan suara ketika turun dan menapaki lantai, mencoba menarik perhatian Yunho, "kau yakin ingin aku pergi?" namun tidak berhasil, namja itu enggan untuk melihat ke arahnya. Menyadari usahanya sia-sia, Jaejoong melakukan apa yang Yunho katakan. Kemudian mengambil kunci yang dilempar ke sembarang arah oleh Yunho beberapa saat lalu. Tepat ketika mereka mulai sepakat untuk bercinta.

"Baiklah, aku pergi, Yunho."

Jaejoong melihat Yunho sekali lagi sebelum benar-benar pergi. Ia membuka pintu dan menutupnya kembali secara perlahan. Senyum sinis yang sedari tadi menghiasi wajahnya menghilang, seiring dengan tubuhnya yang ia sandarkan pada pintu. Masih enggan beranjak dari sana.

PRANG

Bunyi piring yang pecah dan berserakan di lantai menarik perhatian dua pengunjung di cafe itu. Kedua lelaki itu menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara. Tampak seorang berseragam pelayan cafe tengah memunguti pecahan piring tersebut. Sang pelayan berjenis kelamin laki-laki itu sama sekali tidak peduli atas kelalaiannya yang mungkin mengganggu ketenangan pengunjung, toh tempat terjatuhnya piring tersebut adalah di depan toilet yang jarang digunakan karena pintunya tidak bisa dikunci.

CRAK

"Aissh..!"

Sang pelayan terdengar mengaduh. Jari telunjuk tangan kanannya mengeluarkan darah, mungkin tergores pecahan piring karena ia tidak hati-hati.

"Biar kubantu."

Baru saja salah satu lelaki berambut merah dari kedua orang itu hendak menghampiri si pelayan, seorang pria menarik lengannya, menghentikan niat baiknya.

"Jangan! Nanti kau bisa terkena penyakit menular. Dia itu salah satu pelacur disini. Hii, mengerikan."

Si rambut merah menatap sang pelayan dan temannya yang baru saja datang itu bergantian. Sontak ia bergidik membayangkan penyakit menular itu mengenai dirinya. Mungkin benar perkataan temannya itu, mengerikan.

"Aku tidak tau pasti penyakit apa yang dimaksud," satu lagi pria yang sedari tadi disana, menghampiri sang pelayan dan membungkus jari pelayan itu dengan sapu tangan, "tapi jika itu AIDS, tidak akan menular hanya karena bersentuhan," ucap pria itu diakhiri senyum dari bibir hatinya.

Kepala sang pelayan yang tadinya terus menunduk memandangi lilitan sapu tangan pada jarinya, sontak mendongak, melihat pria yang tengah membantunya memungut pecahan piring.

"Ini," di hadapannya, pria itu tersenyum melihat ia memandangnya tanpa berkedip. Merasa tertangkap basah, dengan cepat ia berdiri setelah menerima kantong plastik berisi pecahan piring dan membuangnya ke tempat sampah di dekat pria berambut merah.

"Dilihat dari dekat kau cantik juga. Hm, siapa namamu?"

Malas menanggapi hinaan—pujian—dari lelaki berambut merah, si pelayan hanya terdiam dan menatapnya datar. Kali ini mungkin sudah kali ke seribu ia disebut cantik. Padahal ia lelaki tulen. Serius!

"Hero."

Sang pelayan langsung menutup name tag di bagian dada kiri seragamnya, si rambut merah pasti tau karena membacanya.

"Banyak cara untuk menghindari penyakit menularmu. Satu malam bagiku tidak apa-apa. Tapi sebelum itu..." pria berambut merah itu tidak melanjutkan. Ia mengenakan sarung tangan kemudian hendak menyentuh pipi Hero. Namun tiba tiba tangannya dicengkram hingga ia merasa tulang-tulangnya saling bergesekan.

"Apa kau mengaggapnya menjijikan?"

Hero terkejut melihat apa yang tersaji di hadapannya kini. Apa maksud pria pemilik bibir hati itu?

"Kau pikir apa yang kau lakukan, hah? Apa kau pahlawan?"

Pria itu menghempaskan tangan si rambut merah dengan kasar, "pahlawan, ya? Kalau begitu kau penjahat? Penjahat kelamin?"

Jaejoong tersenyum ketika selesai membuka memori lama. Ia tidak akan pernah lupa. Pertemuan pertama antara Yunho dan dirinya. Bolehkah ia sebut cinta pertama? Dadanya bergemuruh, berdetak cepat dengan cara yang manis. Saat itu ia hanya sanggup bersembunyi, tanpa mengucapkan terima kasih kepada Yunho yang membelanya. Katakan ia tidak tau diri. Bersikap pengecut, sama seperti saat ini.

"Yunho ah, maaf." Sungguh, Jaejoong berharap pintu di belakangnya adalah Yunho.

"Masih disini?"

Sebuah suara mengembalikan Jaejoong pada kenyataan. Suara seorang wanita yang kini berdiri tepat di hadapannya. Kali ini ia menyadari sesuatu bahwa semua ini mungkin berawal dari wanita itu.

"Hyeri." Jaejoong berujar lirih.

Hyeri menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri setelah mengamati Jaejoong lamat-lamat, "Kau tampak menyedihkan, Kim Jaejoong."

Ia menghela napas sebentar, kemudian melanjutkan, "aku tak menyangka ada sesuatu dari kalian yang baru kuketahui. Jang Hyesung. Aku belum mengerti, bisakah aku tanyakan langsung padanya?"

"Brengsek. Kau akan menyakitinya."

"Jaga ucapanmu. Kau tidak berkaca pada dirimu?"

Pertanyaan Hyeri membuatnya bungkam. Wanita itu benar, Jaejoong harusnya berkaca. Semua yang terjadi mungkin bukan sepenuhnya rencana Hyeri. Tapi ada bagian dari masa lalu yang tak sengaja terungkap. Dan itu semua karena ibunya.

"Bicara soal menyakiti. Kurasa obat yang pas untuk menyembuhkannya adalah seseorang yang baru. Seseorang yang datang di saat yang tepat. Bagaimana menurutmu?"

Bisikan Hyeri membuat Jaejoong menegang. Mungkinkah wanita itu...

"Beri aku jalan."

Tanpa bisa berbuat apapun, Jaejoong membiarkan Hyeri menghempaskan pundaknya, kemudian memasuki ruangan dimana Yunho berada dengan mengambil keuntungan dari kelalaian Jaejoong yang membiarkan pintunya tidak terkunci.

.

T to the B to the C

.

Huwaaaah.. bisa dibilang ini chapter tersulit yang pernah saya buat, lama, dan pendek pula. Saya yakin banyak yang kecewa. Maaf

Pasti banyak juga yang mengujat karena emak dinistain gini, tapi emak kita setrong kok... jangan marah sama saya yaaa~~

Kalau ada yang ngerasa bagian uh oh uh oh nya itu mirip sesuatu, kalian tidak salah. Karena saya terinspirasi setelah membawa beberapa FF dengan rate M yang NC nya implisit. Maaf kalo hasilnya tidak bagus dan kurang hot.

Chap depan saya usahakan tidak akan lama seperti chap ini.. doakan saja..

Ohiya, adakah yang membaca FF saya yang berjudul Challenge? Terima kasih ya sudah menyempatkan diri untuk membaca dan medoakan kelancaran semprop saya. Bolehkah saya meminta lagi doa kalian agar saya lulus seminar proposal? #maksa

Okeh, segitu aja... Terima kasih sudah mampir... XD

Balasan review :

Avanrio11 : maaf membuat emak tertjintah seperti ini~ Terima kasih sudah mampir dan review ^^

azahra88 : semoga pertanyaanmu terjawab di chap ini.. Terima kasih sudah mampir dan review ^^

Bestin84 : euummmm.. pertanyaan yang suliiit.. akan terjawab di chap depan (mungkin) Terima kasih sudah mampir dan review ^^

herzana00kurnia : sudah lanjut. Terima kasih sudah mampir dan review ^^

himeryo99 : siapa yang tegang? Yunho? -_-a sudah lanjuuut.. Terima kasih sudah mampir dan review ^^

jejenna : tidak apa-apaaaaaa.. awas ketabrak ngebut ngebut :p maaf ya kamu harus banyak sabar :p Terima kasih sudah memberi semangat. Terima kasih sudah mampir dan review ^^

JonginDO : sudah lanjut... Terima kasih sudah mampir dan review ^^

meirah : bagaimana? Apa pertanyaanmu sudah terjawab di chap ini? Lebih bagus Yunho gak pake celana, lebih haaawwtt! :p oke, balesan ini juga semakin ngelantur. Terima kasih sudah mampir dan review ^^

Octa918 : makasih dibilang keren. Author nya juga kan? *plak.. nggak hurt kan? Terima kasih sudah mampir dan review ^^

Princess Jae : sepertinya salah paham :p Terima kasih sudah mampir dan review ^^