Chapter 11

.

Hermione menarik napas sebelum menekan tombol yang tadi Gustav berikan. Untuk beberapa menit pertama tak ada yang terjadi.

Draco membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu sebelum sebuah letupan terdengar dan dua orang ber-apparate ke ruangan itu.

"Kau memencetnya," Gustav berkelakar. "Demi Merlin." ia melanjutkan saat melihat punggung Hermione melalui cermin. "Apa yang terjadi?"

"Sadie Rayne biang keroknya," Blaise menyeletuk.

"Aw." Draco meringis, Gemina memukul kepalanya.

"Ini salahmu." dia mendumal.

"Bagaimana mungkin ini salahku?"

"Makanya kubilang jangan mengencaninya. Aku tidak pernah suka dia."

Draco hanya merengut.

"Kencani dia lagi maka aku akan mengecat hijau rambutmu, Pirang."

"Siapa yang kau panggil pirang? Pirang." Draco melirik rambut pirang pucat Gemina.

"Aku mengenalmu sejak usia enam tahun. Aku punya bahan paling menarik untuk menjadi ancaman pemerasan." ia berkata, ada kerlip di matanya.

Gustav hanya memutar bola matanya, saling pandang dengan Hermione.

Gemina mengedipkan mata ke arah Hermione, menyiratkan kalau dia akan memberitahukan sesuatu nanti.

Hermione tidak bisa menahan tawa yang menyembur keluar.

Draco dan Gustav menatapnya dengan lucu. "Ayo, Sayang. Kita harus apparate ke salon. Aku mempunyai ide untuk balas dendam terbaik di dunia. Gem, bisa tolong pulang dan ambil gaunnya? Kau tahu yang mana, kan?"

"Tentu saja."

"Kalian semua tunggu di sini saja. Kami akan mengurusi Hermione." Gustav menyorongkan siku ke arah Hermione. "Siap?"

"Tentu." Hermione membalas, mengalungkan tangan di lengan Gustav.

"Aku akan membuat Sadie Rayne sangat kesal dan menyesal," Gustav tersenyum licik kemudian keduanya menghilang dengan letupan. Gemina menepuk pipi Draco dan berkata untuk bersantai dan Hermione akan kembali secepatnya.

.

.

.

"Seru." Luna berkata, muncul dari kamar mandi. Draco dan Blaine saling pandang.

"Jangan menatapku," Blaine membalas.

"Dia teman kencanmu."

"Tapi dia Luna Lovegood."

"Ibu dan nenek moyangmu pasti sedang berguling-guling marah di kuburan mereka."

"Iya, ya?" Blaise berkata senang. "Tapi bukan nenek moyangku saja yang berteriak-teriak melihat teman kencanku."

"Aku suka menentang mereka. Kau juga, kan?" Draco mengalungkan tangan di bahu Blaise.

"Setuju, bersulang." keduanya terkekeh.

.

.

.

Hermione sudah berganti baju menjadi mantel mandi, Gustav menata ulang rambutnya sambil terus mendumali sesuatu. Sepertinya menggunakan bahasa lain. Meskipun Hermione tidak paham, tapi dia tahu kalau Gustav sedang jengkel. Dan sudah pasti penyebabnya Sadie Rayne.

Sementara itu Lindsay mengecat ulang kukunya menjadi warna merah terang, bahkan sampai memiliki nama palet Merah Nakal. Dengan mendengar namanya saja sudah menjelaskan segalanya.

Gustav mulai mengeringkan rambutnya sementara Lindsay lanjut mengecat kuku kaki.

Gemina datang dengan gaun baru bersamaan dengan Gustav mengeritingi rambutnya besar-besar seperti di dalam film. Di tangan perempuan itu ada gantungan baju, namun isinya tidak terlihat, plastik pelindung menutupinya.

.

.

Draco tetap duduk santai di kursinya meskipun banyak orang menghampirinya. Beberapa membicarakan tentang bisnis. Yang lebih memiliki nyali menanyakan Hermione di mana; ada pula orang idiot yang bertanya apa saja yang sudah dicobanya saat tidur bersama Hermione dan apakah Hermione perempuan yang pandai di ranjang.

Draco langsung memantrainya.

.

.

.

"Kenapa kau melakukannya, Sadie?" Ron bertanya lagi.

"Aku tidak melakukan apapun." Sadie menjawab santai.

Ron menghela napas. "Sadie."

"Sudah. Kumohon, Ron. Semua orang menyalahkanku padahal aku tidak salah. Kau bahkan tidak percaya padaku. Kau lebih kejam dari orang lain," Sadie menatapnya, air mata menggenang.

"Oh, Sadie. Aku minta maaf. Aku hanya... "

Sadie menyandarkan tubuh, meletakkan kepalanya di bahu Ron dan menggesekkan dadanya sembari terisak kecil.

Ron menelan ludah. "Aku percaya, sudah jangan menangis lagi."

.

.

.

Draco menolak beberapa tawaran yang dilemparkan kepadanya. Setelah dia kembali, hampir semua perempuan yang sadar kalau entitas Hermione alpa di sisinya, mencoba peruntungan dengan merayu Pewaris Malfoy, namun tak ada yang berhasil. Bahkan beberapa ada yang menangis.

"Mau berdansa?" Seorang gadis cantik dengan rambut cokelat mendatanginya. Draco menatap bosan. Wanita itu berdiri dengan percaya diri dengan gaun hitam ketat yang mempertontonkan lebih dari yang seharusnya, terlebih rias wajahnya membuatnya terlihat seperti wanita di khayalan para lelaki.

"Tidak, kau seperti pelacur mahal." ia menjawab santai. Blaise hampir tersedak sedangkan Harry menatapnya kaget. Luna melirik perempuan itu, menelengkan kepalanya seperti sedang memperhatikannya. Kemudian mengangguk seperti menyetujui. Kali ini Blaise benar-benar tersedak. Wanita di depan mereka tersenyum kecut. "Pergilah." Wajahnya memerah sambil berlari menjauh.

"Kau sadar kan kalau kau baru saja menyebut anak Mentri seorang pelacur?" Ginny menatap Draco.

"Pelacur mahal." Luna menyeletuk sembari memukul-mukul punggung Blaise yang tersedak.

"Aku tidak peduli," Draco menyesap minumannya kemudian menghela napas, "kenapa mereka mendekatiku? Sudah jelas aku punya teman kencan meskipun dia tidak sedang bersamaku," lalu diakhiri dengan geraman.

Ginny dan Harry saling pandang. Kalimat itu tidak pernah keluar dari mulut Ron, bahkan yang seperti itu. Wajah Ginny memucat ketika mengingat sesuatu.

.

Waktu itu mereka berempat sedang melakukan kencan ganda.

Harry bercerita tentang penjahat dikejarnya bersama Neville dan bagaimana mereka bisa kehilangan jejak karena perhatian Neville teralihkan dengan sebuah tumbuhan di toko bunga dan ingin membelinya sembari berpikir-pikir bisakah dia merawatnya. Harry tidak tahu apa yang terjadi, tahu-tahu Neville membuka pintu toko itu. Tak disangka si penjahat bersembunyi di toko bunga dan kaget melihat Neville. Tanpa sadar Neville melempar pot tanaman itu ke sang penjahat dan memberikan efek samping bagi yang menghirup baunya akan kehilangan kesadaran paling tidak selama 10 menit. Pada akhirnya mereka bisa menangkapnya bahkan tanpa pertolongan Harry.

Hal itu membuat mereka berempat tertawa, lalu tiba-tiba seorang perempuan muncul dan merupakan penggemar dari Cuddly Cannon.

"Um, kau Ron Weasley, bukan?" dia bertanya.

Reflek mereka semua langsung menengok.

Ginny menaikkan alis melihat gaun bahkan terlalu ketat yang digunakan perempuan itu.

"Ya, itu aku." Ron tersenyum lebar.

Perempuan itu menjerit. Menjerit. "Ya tuhan. Boleh berfoto bareng? Aku dan teman-temanku adalah penggemar besarmu!" dia menunjuk meja di belakang mereka.

Keempatnya tersentak melihat anggota grup itu.

Mata Harry melebar. Tiap orang menggunakan gaun yang begitu pendek. Seperti hendak pergi ke sebuah klub, bahkan mungkin saja ke klub selanjutnya.

"Kecuali Cassie. Dia berpikir kalau Roger Davies lebih seksi padahal kami semua sudah mencoba meyakinkan kalau lelaki itu tidak seksi. Tapi aku yakin setelah dia bertemu denganmu, dia pasti sadar. Jadi, kumohon mau berfoto, ya?" kemudian memanyunkan bibirnya yang mana membuat Hermione dan Ginny ingin menempelengnya.

"Boleh sekali. Tunggu sebentar ya." Ron tersenyum dan bahkan mengedipkan matanya membuat perempuan itu terkikik.

"Jangan lagi, Ron." Hermione mengerang. "Sekali saja, ya? Kumohon."

Ron menatapnya dengan kerlipan cahaya di matanya. "Tentu saja tidak, mereka penggemarku. Aku tidak tega."

"Ron, ini kesebelaskalinya. Kenapa kita tidak bisa berkencan tanpa harus ada orang bodoh yang meminta foto?"

"Dia bukan perempuan bodoh."

"Ron, dia membuat Lavender seperti Profesor McGonagall."

"Iri itu tidak apa-apa, Hermione. Tapi jangan mencela orang seperti itu." Ron menggelengkan kepala dan menatap Hermione dengan tatapan kecewa.

Hermione terbengong. Sebelum dia sempat membalas, Ron langsung memotong, "mereka penggemarku; aku berkewajiban menyenangkan mereka." Dia menghabiskan minumnya lalu mendatangi grup itu bahkan tanpa menengok.

Harry dan Ginny terdiam, tapi tetap merasa kesal. Hermione menutup wajahnya dengan tangan lalu menjerit tanpa suara.

"Mione..."

Terdengar gelak tawa dari belakang mereka. Ketiganya menengok.

Ron berada di tengah-tengah mereka dan terlihat bersenang-senang, pasti habis mengucapkan kalimat lelucon. Salah satu dari mereka meletakkan tangan di lengan Ron, seperti sedang mengaguminya—dan alih-alih menolaknya, Ron justru menunduk mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga perempuan itu.

Hermione tidak bisa menarik napas sembari bertukar tatapan dengan Harry dan Ginny. "Aku mau pulang. Besok banyak pekerjaan. Maaf, ya."

"Tidak apa-apa, Mione. Biar aku antar." Harry menawarkan.

"Jangan, jangan. Antar Ginny saja, dia istrimu."

"Tidak, biar Harry antar. Aku ingin mengatakan sesuatu pada kakakku."

.

Mata Ginny melembut saat melihat Sang Pirang. "Mungkin kau cocok untuk Hermione. Kupikir aku akan memberikanmu kesempatan." Ia menghela napas.

Draco menatapnya bingung, "kau bicara sesuatu?"

"Tidak."

Ia menatap Ginny aneh, tapi diam saja.

Terdengar suara bel kencang yang memberitahu semua orang untuk angkat kaki dari lantai dansa dan kembali ke kursi mereka, acara baru akan dimulai.

Draco menatap sekeliling sekali lagi untuk mencari Hermione. Dia belum kembali. Bahkan ia sampai berdiri kalau saja Blaise tidak menghentikannya, meminta untuk bersabar.

Membutuhkan beberapa menit untuk acara dimulai, sebuah lampu sorot menyala di tengah panggung. Mentri Sihir muncul.

"Halo. Aku harap semua orang bersenang-senang meskipun terjadi sesuatu." Ia terkekeh. Beberapa tamu juga tertawa. Tapi di meja mereka tidak, bahkan Luna sekalipun. "Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih untuk yang sudah datang. Dan bagi yang merusuh ... buat pesta sendiri saja." Terdengar tawa canggung. "Dan ya, hari ini kita merayakan pesta setelah mengalahkan ... Kau Tahu Siapa."

"Demi Merlin, bahkan dia tidak bisa menyebut nama orang itu." Blaise mendumal, Harry mengangguk.

"Segitu saja dari saya. Dan benar, hari ini pahlawan kita hadir. Sambutlah Harry Potter."

Sebuah lampu menyoroti meja mereka. Satu ruangan menepukkan tangan bahkan suara Mentri tidak terdengar.

"Pergilah, Harry." Ginny menyemangati.

"Aku? Aku tidak tahu harus berkata apa." Harry mengelak.

"Kau tidak tahu, ya?" Blaise bertanya. "Ini kan pesta ucapan terima kasih untukmu."

"Aku tidak tahu. Ini kan pesta perayaan perang, bukan untukku!"

"Memang untukmu, Potter. Kau sang penyelamat." Draco menambahkan.

"Harry, kau yang mengakhiri perang." Luna mengakhiri dengan suara lembut. "Kau pasti bisa. Kami yakin." Sebuah senyum manis melengkapi.

Harry merasa seolah dia sudah berjalan berjam-jam untuk tiba di panggung padahal hanya perlu 1 menit. Riuh rendah tepukkan belum juga berhenti. Saat ia sampai, Mentri memeluknya kemudian memberikan mikrofon.

"Terima kasih, tapi..."

Tepukkan berhenti.

"Aku ingin berterimakasih untuk yang sudah datang. Semoga kalian semua bersenang-senang." Kemudian terdengar dengungan setuju. "Tapi peranglah yang menyatukan kita dan menjadi alasan mengapa kita ada di sini." Para hadirin terdiam. "Aku tahu kalian semua menganggapku pahlawan, tapi aku hanyalah aku. Aku tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan semua orang. Aku hanya satu orang. Orang yang harus kita ucapkan terima kasih mungkin dia yang duduk di samping kalian. Dan juga untuk yang sudah mengambil resiko demi kita. Kita semua tahu mereka berada di tempat yang lebih paik. Jadi kumohon sisihkan waktu untuk mengheningkan diri."

"Aku ingin berterima kasih kepada kalian semua. Kepada profesor dan auror dan teman sekelasku dan keluarga mereka yang sudah membantu kita bertempur. Dan khususnya untuk orang-orang tertentu. Aku ingin berterima kasih pada Profesor Severus Snape, orang yang tidak pernah kupercaya selama aku sekolah. Dia selalu menjagaku bahkan ketika aku tidak percaya padanya. Profesor Dumbledore untuk semua strateginya. Untuk Narcissa Malfoy karena sudah begitu mencintai putranya hingga berani untuk mengkhianati Lord Voldemort dan berkata aku sudah mati."

Semua tamu melirik Draco.

"Aku akan membunuh Potter." Draco berdesis.

"Untuk anggota Keluarga Weasley yang sudah menjadi keluargaku. Istriku yang cantik, Ginny, untuk segalanya. Dan untuk dua sahabatku. Aku tidak tahu apa kalian semua mengenal mereka," Harry berkelakar. Terdapat kekehan setelah itu. "Mereka selalu bersamaku. Ron Weasley..." pidato Harry terhenti ketika melihat tangga utama.

Tamu yang datang mengikuti arah pandangnya, terdapat lampu sorot yang membanjiri sebuah figur di puncak tangga.

Dia seorang perempuan. Menggunakan jaket hitam yang menutupi kepalanya, dan ketika pakaian itu merosot jatuh, mereka semua terkejut.

"Hermione..." Harry berbisik.

Wajah Hermione memerah malu saat menyadari kalau semua orang menatapnya. Bahkan ia hampir melompat kaget saat seorang pelayan meminta jaketnya. Ia mengangguk dan membuka jubahnya.

Bukan hanya satu orang yang terkaget.

Rambut Hermione Granger teriap bagai air terjun. Ia memiliki rambut yang membuat semua lelaki ingin menyusupkan rambut di kepalanya sembari mengecupnya. Dan memang itu yang Draco ingin lalukan.

Dandanannya begitu klasik namun tegas. Smoky eyes dan bibir merah ceri di wajah yang dibubuhkan bedak natural. Ia menggunakan choker mutiara, kalung yang Draco berikan. Di telinganya tergantung butiran mutiara. Namun gaun dan sepatunya lah yang membuat orang kehabisan akal.

Gaun yang begitu pas di tubuh itu berwarna merah cerah, menyamakan warna bibir dan kukunya. Hampir seperti kulit ke dua. Gaunnya sepanjang paha, memamerkan kaki mulusnya dan sepatu setinggi 4 inci dengan motif kristal, memantulkan cahaya seiring langkah.

Hermione masih merasakan tatapan orang-orang. Dia menelan ludah.

"Hermione," ia dengar.

Hermione mendongakkan wajah dan melihat Harry berdiri di tengah panggung.

"Harry?"

Ketika Hermione menuruni tangga, dia melihat seorang lelaki menunggunya di anak tangga terakhir.

Blaise mengerjap, menatap kursi kosong di sebelahnya. "Tunggu, apa?" ia bahkan tidak ingat kapan Draco menghilang dari bangunya.

Harry dan semua orang terkaget melihat Draco Malfoy mencium Hermione Granger lagi. Namun kali ini semua mata menatap mereka berdua.