Disclaimer—
SMT: Persona 3(FES) © 2008, Atlus

Summary: Kesebelas persona-user itu masih terjebak di menara akhir itu, masing-masing dari mereka masih mencari pecahan dari memory mereka yang terlupakan, apapun resikonya.


Persona 3: Forgotten Memories

—Chapter 9—

The Return of the Memories


Pernahkah kau mencoba mengingat sebuah kenangan terburuk didalam hidupmu?

Dan, pernahkah kau mengharap kenangan itu terulang kembali?


"Hoooo… kukira kau sudah lupa akan aku, walau aku berharap kau sudah sih…" jawab kata itu dengan suara lembut.

"Tentu saja aku ingat! Mana mungkin aku lupa tentangmu… Chidori…" balas Junpei.

Wanita itu, Chidori, seperti yang banyak orang Jepang bilang—atau tepatnya para remaja harajuku bilang, adalah gothic Lolita. Ia berambut merah panjang dengan bando berwarna putih yang sewarna dengan baju long dress yang dikenakannya. Wanita itu membawa evoker seperti yang Junpei bawa, dan sebuah senjata yang tidak matching untuk seorang perempuan sepertinya—sebuah kapak. Kapak itu terikat dengan rantai di tangannya, yang memungkinkan baginya untuk menyerang dengan kuat dari jarak sedang.

Junpei dan Chidori terdiam sejenak, mereka saling berpandangan satu sama lain. Di wajah Junpei terpasang sebuah wajah ngeri karena tidak percaya yang dilihatnya, tapi juga wajah senang ketika melihat seseorang yang dikenalnya sangat dekat, walau ia tidak terlalu ingat bagaimana hubungan mereka entah kenapa.

Chidori balas menatap wajah Junpei, wajahnya datar seperti Aigis, bahkan lebih datar lagi. Tapi dari wajahnya yang datar itu dapat dirasakan kehangatan yang berbeda, kehangatan yang memang ditujukan kepada Junpei. Sayang sekali agaknya bocah bertopi itu tidak terlalu merasakannya…

Suasana hangat di menara itu terpaksa hilang, atau tepatnya ditunda sebentar oleh seekor makhluk yang lebih 'lamban' daripada Junpei—seekor shadow dengan tangan dan pedang yang banyak. Shadow itu, tanpa banyak bicara dan banyak tingkah, langsung melompat dengan kesemua pedangnya mengarah ke bawah diarahkan kepada Chidori. Junpei yang menyadarinya segera mengambil evokernya yang tergeletak tidak jauh darinya, mengarahkan ke pelipisnya dan…

"HERMES!"

Persona yang dipanggilnya itu segera menangkis serangan shadow itu, walau gagal karena kalah dalam faktor kuantitas.

Serangan shadow itu belum selesai, ia kembali menukik kepada Chidori hendak menusuknya.

'STAB!'

Chidori dengan sigap berhasil menghindarinya, dengan cepat wanita itu segera mengayunkan rantainya yang terkait dengan kapaknya itu mengarah kepada topeng shadow itu. Sayang shadow itu cukup cepat untuk menangkisnya dengan dua pedangnya.

"Chidori, mundur!" perintah Junpei.

"Mundur?" tanya Chidori. "Lalu setelah aku mundur, kau mau apa? Melawannya?"

Junpei terkejut mendengarnya. Ya, bocah itu juga belum memikirkan apa yang akan dilakukannya jika Chidori betul-betul mundur, sebab biasanya ia bisa menyerang seenaknya saja ketika ia bersama teman-temannya. Ia tidak bisa men-support maupun menyembuhkan luka, sehingga menyerang—itu adalah satu-satunya kemampuannya, dan yang paling ia banggakan.

"Huh, jangan melawak Junpei, kau barusaja nyaris terbunuh oleh shadow itu jika tidak kutolong…. Sekarang kau malah ingin menyuruhku mundur…" kata Chidori tajam, membuat bocah bertopi itu betul-betul kehabisan kata untuk protes.

"Ta, tapikan sudah sewajarnya jika laki-laki yang bertempur melindungi perempuan… bukan sebaliknya…" elak Junpei, Chidori tidak mendengarkannya.

"bersiaplah Junpei… makhluk itu akan menyerang…"

'SYAAT!'


-Pharos-

Bocah berkulit pucat itu terdiam, dia diam-diam sedang menonton pertarungan Junpei dan Chidori melawan shadow itu melalui suatu dimensi yang berbentuk kolam yang dibuatnya. Diam-diam dia tertawa kecil melihat kedua orang itu.

"Shadow itu bukan sembarang shadow, ia tidak akan dikalahkan semudah itu hanya oleh persona selevel Hermes." Katanya dalam hati. "Setidak-tidaknya kau membutuhkan Thanatos untuk menghabisinya seorang diri… Medea belum tentu cukup…" lanjutnya lagi.

Bocah itu tidak bergeming, matanya tertuju tajam kepada 'kolam' yang dibuatnya untuk melihat kedua orang itu. Ingatannya bernostalgia ke masa lalu, dimana penampakannya yang pertama kali, dengan paksa keluar dari tubuh Orpheus yang dulu dipanggil Minato.

"Huh, waktu itu sih… aku sendiri bisa menghabisi shadow itu. Entah bagaimana jika mereka yang melawannya, ini akan menjadi pertunjukkan yang menarik…" katanya pelan kepada diri sendiri.

Bocah itu kemudian mengangkat sebelah tangannya, ia membuat sebuah gumpalan cahaya yang cukup panjang, kira-kira dua kali lebih panjang dari pisau yang biasa dipakai Koromaru. Cahaya itu kemudian dibentuknya perlahan menjadi sebuah garis lurus. Lalu, dengan sebelah tangannya, Pharos melebarkan 'kolam' itu.

Dibidiknya cahaya itu kepada shadow itu, pelan-pelan, diperkirakannya gerakan shadow itu. Dihitungnya dengan akurat dan cepat saat yang tepat untuk melempar cahaya itu, lalu dilemparnya dengan cepat.


-Junpei and Chidori-

Sebuah cahaya tiba-tiba keluar tanpa sebab, cahaya itu dengan cepat mengenai shadow itu. Junpei dan Chidori terkejut melihatnya, 'tombak' itu menusuk lima tangan dari shadow itu dan meledak. Menimbulkan suara yang sangat keras, dan cahaya yang membutakan jika dilihat langsung, untungnya keduanya reflek menutup mata dan telinga mereka sehingga ledakan itu tidak akan berdampak parah kepada kedua indra mereka.

"A, apa itu barusan! Siapa yang melakukannya?" kata Junpei gelagapan.

Chidori tidak menanggapinya, ia berkata "…..Itu tidaklah penting, masih hidupkah ia?"

Perlahan-lahan, cahaya itu menghilang, menyisakan debu tebal yang menutupi shadow itu, sehingga shadow itu tidak tampak sama sekali.

"Haaah… akhirnya kita bisa bernafas sejenak…" ucap Junpei selagi ia menaruh pedangnya ketanah. Bocah itu terduduk lemas menyusul pedangnya yang telah tergeletak.

"…Kau terlalu lemah Junpei…" kata Chidori dingin.

Bocah itu balas mengelak "Hei, ayolah… sudah 2 tahun—2 TAHUN! Aku tidak menggunakan Persona maupun bertarung…" katanya sambil membalikkan badannya membelakangi Chidori.

"Hmph… tetap saja—

'SYUUUT!'

Sebuah pedang muncul dari kumpulan debu itu! Pedang itu mengarah dengan cepatnya menuju Junpei, tepat menuju jantung.

"….! Junpei! Awas!" Teriak Chidori, Junpei pun menoleh.

'JLEEBB!'

Pedang itu menancap dengan tepat di bocah bertopi itu—tepat dijantung. Sementara seiring dengan berlalunya debu tebal itu yang perlahan menghilang dibawa oleh angin liar menara itu, shadow itu tersenyum menyeringai.

"JUNPEEIIII!"

Dan teriakan itu menghiasi langit kelam di menara itu…


-Mitsuru, Yukari and…-

Shadow itu nyaris—betul-betul nyaris saja memenggal leher kurus presiden direktur Kirijo Co. Itu, untungnya seorang—sesosok makhluk sempat menangkis tebasan itu. Jeda beberapa sekon, sebuah tembakan lain terdengar. Menyusul makhluk putih itu, sebuah persona dengan rambut putih menutupi sebelah wajahnya, dan sebuah selendang berwarna merah menutupi mulut dan lehernya muncul dari asal suara itu. Sosok itu membawa sebuah harpa yang dipegang erat olehnya di kedua tangannya.

Tanpa banyak tanya maupun bicara, sosok itu menerjang shadow itu, mengayunkan harpanya kearah shadow itu, walau ditangkis.

"Kau tidak apa-apa senpai?" tanya Yukari selagi ia berlari menghampiri Mitsuru.

"Ya… kurang lebih…" jawabnya pelan sambil memegangi perutnya yang barusaja tertinju. "Dan, terima kasih atas bantuanmu, Minato…"

Tepat setelah ia mengatakan itu, Minato dan Naoto muncul dari kejauhan. Keduanya tampak masih sangat sehat dibandingkan kedua wanita itu. Naoto, tanpa dua kali berpikir segera mengarahkan pistol nanbu 2 miliknya kearah shadow berbentuk samurai itu yang sedang bertarung dengan Orpheus milik Minato. Lalu, tanpa ragu-ragu ditembaknya shadow itu berulang kali dengan akurat—semua lurus menuju shadow itu tanpa satu pelurupun melenceng mengenai Yukari maupun Mitsuru.

Menanggapi tindakan Naoto, Minato memerintahkan Orpheusnya, melalui pikiran untuk berputar ke belakang shadow itu. "Dua serangan dari arah yang berlawanan, kali ini ia pasti kena…" begitulah pikir lelaki dengan rambut biru menutupi sebelah matanya itu, namun…

Shadow berlapis armor samurai itu tidaklah sebodoh yang ia kira, dengan cepat shadow itu menggunakan salah satu serangannya yang berskala cukup luas. Blade of Fury, jika lebih detil. Pedang-pedang pendek berjumlah banyak itu menangkis sebagian besar peluru-peluru yang ditembakkan Naoto. Yang sebagian kecil berhasil mengenainya, walau tidak memberi dampak yang cukup berarti.

"Hmph, kelihatannya kita bakal makan waktu lama untuk menghabisi shadow yang satu ini senpai…" sahut Naoto. Minato dan yang lain mengangguk pelan.

"Hah, kalau shadow ini tidak sekuat itu, kita sudah bisa menghabisinya sebelum kalian datang…" kata Yukari. Mitsuru dengan berat hati mengangguk pelan mendengarnya.

"Tidakkah kalian tahu kelemahannya?" tanya Minato.

Yukari dan Mitsuru mengangkat bahu, "Yang jelas bukanlah garu maupun bufu. Keduanya tidak membuatnya jatuh…" kata Mitsuru.

Minato tersenyum pendek, katanya "Kalau begitu mari kita coba agi…" katanya seraya mengangkat evokernya ke kepalanya, "RANGDA!" panggilnya. Dan ia pun menarik pelatuk itu…

'BANG!'

Sebuah makhluk berbadan merah dengan rambut panjang berwarna hitam muncul mengiringi bunyi tembakan itu. Makhluk itu terbang kearah shadow itu, melakukan sedikit gerakan aneh. Menari, jika bisa dibilang, memanggil agilao kepada shadow itu.

'BLAAR!'

"Hm….. kurasa agi tidaklah seefektif yang kita harapkan…" kata sang detektif menyeringai. Minato hanya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Dan kurasa shadow itu sudah terlalu bosan untuk menanggapi serangan kita…" kata Yukari.

Shadow itu memang sudah cukup terganggu dengan serangan-serangan Yukari dan Mitsuru, entah berdampak parah atau tidak. Tetapi shadow itu tampak lebih agresif daripada sebelumnya, dengan cepat ditariknya katananya dari sarungnya, membuat semacam gelombang lurus kearah Minato dan yang lain.

Naoto tersenyum menyeringai melihat serangan itu, diarahkannya pistolnya kearah kartu berwarna biru yang dipanggilnya. "Pedang dilawan dengan pedang…" katanya pelan.

Dipanggilnya persona miliknya, Yamato-Takeru. Persona itu mengenakan sebuah topi pixie berwarna putih, dan memakai baju detektif berwarna putih dengan celana panjang berwarna biru tua dan sepatu boot lengkap di kakinya. Diayunkannya beberapa kali pedang miliknya, melancarkan serangan vorpal blade kepada musuhnya.

'SLASH, SLASH, SLASH, SLASH! BLAARR!'


-Aigis, Fuuka, dan Koromaru-

"Belok ke kiri dari sini, Aigis…" kata gadis berambut hijau itu menunjuk. Robot dan anjing itu berjalan mengikuti arahannya dengan patuh.

"Woof! Woof!" gonggong Koromaru.

Aigis berkata "Koromaru bilang bahwa kemampuan Fuuka sangat berguna disini…" Fuuka menunduk malu mendengarnya.

"Ahh, jangan bilang begitu. 'kan kemampuanku satu-satunya hanyalah ini, jadi setidaknya aku ingin berguna bagi kalian semua…." Kata gadis berambut hijau itu. Anjing itu menggonggong lagi.

"Begitulah, selain kemampuan mendeteksi dan analisa, Fuuka tidak memiliki kemampuan lain yang berguna… kata Koromaru…" lanjut Aigis. Dan gadis itu menyesal telah bersikap malu-malu sebelumnya. "Koro-chan! Itu…. Tidaklah sopan…" katanya pelan.

Dan anjing itu terlihat menyesal telah mengatakannya.

"…Sudahlah Koro-chan, setidaknya kau tahu itu…" kata Aigis. Fuuka mengangguk setuju.

"Hmm…..?" gumam Fuuka pelan, gadis itu berhenti sejenak, menoleh ke kanan, ke kiri. Aigis dan Koromaru yang melihatnya heran dengan tingkah gadis itu yang tiba-tiba berubah aneh.

Aigis berkata "Ada apa Fuuka-san?"

"…Aneh, aku merasakan hawa kehadiran seseorang. Seseorang yang rasanya kukenal…." Kata gadis itu.

Aigis dan Koromaru mengkerutkan dahinya, (walau saya tidak pernah melihat seorang robot dan seekor anjing mengkerutkan dahinya sih…) heran mendengarnya. Tak biasanya Fuuka bisa lupa sesuatu, dan terlebih lagi, tak biasanya ia tidak mengetahui seseorang didekatnya. Kedua makhluk yang yang bukan manusia itu saling pandang sejenak, tanpa kata-kata.

"…Sudahlah, paling-paling hanya perasaanku…" lanjut gadis itu seraya ia menarik tangan robot itu, memaksanya untuk berjalan.

Dan seraya mereka berjalan menjauhi tempat itu, sepasang mata mengintai mereka di balik kegelapan…


-Souji-

Souji berjalan menyusuri dinding menara itu yang sekarang ini telah dipenuhi oleh tembok labirin. Terkadang ia menoleh beberapa kali, mencari seseorang—siapa saja yang dikenalnya. Walau tak satu orang pun—bahkan satu ekor pun shadow yang dijumpainya. Tanpa arah, ia melanjutkan perjalanannya lagi.

'Huh, seenaknya saja dia manggil-manggil aku kemari… sekarang setelah urusannya selesai aku ditinggal begitu saja. Baik Pharos maupun pria ber-beanie hitam itu… sial…'

Dalam hati bocah berambut abu-abu itu mengutuki keduanya yang sudah menyusahkan dia, dan yang lebih parah—meninggalkan dia. Dalam hatinya, mungkin bertemu beberapa shadow jauh lebih baik daripada berjalan sendiri tanpa arah begini. Setidaknya para shadow-shadow itu dapat menghiburnya dengan memberinya sedikit 'kesenangan' dalam bertarung. Tapi tidak satupun dijumpainya, baik shadow, teman-temannya, maupun kedua orang itu,

"Fufufufufu…."

Dan suara itu kembali merusak mood lelaki berambut abu-abu itu. Sebuah tawa yang terkesan sombong, sok pintar, dan lain lain. Sebuah lama dari musuh lamanya, Izanami.

"Enyahlah…." Kata Souji dingin.

"Wow, aku tidak menyangka kau sesinis itu… wahai putra manusia… Kukira sikapmu lebih gentleman lagi…" ejek suara itu kepada Souji.

"aku tidak perlu bersikap sopan terhadap wanita jadi-jadian sepertimu…" balas Souji dingin.

"Itu tidaklah sopan, putra manusia… dan lagi, aku ini Dewi, bukan wanita jadi-jadian seperti yang kau katakan…. Atau pikirkan…" elak Izanami.

"Aku tidak peduli…. Sekarang, mau apa kau? Tidak mungkin 'Dewi' sepertimu mengajakku bicara tanpa alasan 'kan?"

"Tajam seperti biasanya…" puji Izanami, Souji pura-pura tidak mendengarkan.

"Tidakkah kau merasakannya, wahai putra manusia?" tanya Izanami. Souji mengkerutkan dahinya.

"Merasakan? Maaf saja, aku bukanlah Rise ataupun Fuuka-senpai yang bisa mendeteksi…"

"Kau tidak membutuhkan kemampuan mereka untuk merasakan yang satu ini… tidakkah kau merasakan sedikit hawa yang memberi nostalgia di tempat ini?"

Dan Souji kembali mengkerutkan dahinya, mendengarnya.

Dewi berambut panjang itu kemudian 'keluar' dari tubuh lelaki berambut abu-abu itu, mengakibatkan lelaki itu reflek lompat ke belakang. Izanami kemudian berbalik, memasang senyum dinginnya seperti biasanya. Senyum yang menyebalkan, jika boleh dibilang. Souji memegang pedangnya.

"Tidak usah takut begitu, aku hanya ingin jalan-jalan…"

"Dan kaukira aku akan membiarkanmu begitu saja? Jangan lupa apa yang telah kauperbuat dulu di Inaba." Kata Souji, lalu ia mengeluarkan pedangnya dari sarungnya, dan menggenggamnya di kedua tangannya seperti yang biasa dilakukannya.

"Terserah kalau kau berpikir demikian… aku akan berjalan didepanmu…"

"Aku tidak keberatan… Kau duluan!" perintah Souji.

"Janganlah cemas putra manusia, aku hanya ingin berjalan menuju asal dari hawa ini…" Katanya seraya berjalan cepat. Souji sweatdrop melihatnya, apakah ini sisi aneh dari 'sang dewi', Izanami? Dia tidak tahu, dan memutuskan untuk tidak mencari tahu. Lalu akhirnya dengan berat hati, Souji pun berjalan mengejarnya.

"Ada-ada saja …" batinnya kesal.


-Junpei & Chidori-

Dan disitu, mata Junpei itu perlahan-lahan, terbuka. Ia tidak bisa merasakan tubuhnya, rasa sakit, capai dan lelah lainnya hilang dari tubuhnya. Laki-laki bertopi itu heran, segala sesuatu tampaklah begitu terang, seakan-akan ia dikelilingi cahaya. Samar, tetapi jelas, sebuah bayangan memenuhi kepalanya, sebuah ingatan.

"I, ini…."

"Kau menghalangi, minggir!"

"Oh, maaf…"

"….?"

"Apa?"

"Oh, tidak apa-apa, aku hanya penasaran dengan apa yang kau gambar…"

"Hmph…"

"gadis yang aneh, aahh…. Aku tidak pernah dapat mengerti seni…"

Aku ingat kejadian ini, ini pertama kalinya aku bertemu Chidori di Port Island station. Hah, waktu itu dia sungguh kasar, hmm… kalau diingat-ingat, aku penasaran kenapa aku bisa tertarik melihatnya menggambar waktu itu…

"….Kau lagi…"

"….Yo, aku penasaran apa yang kau gambar, boleh aku duduk disini?"

"…."

"Hah, aku iri denganmu yang punya sesuatu yang dapat dilakukan… berbeda denganku…"

"Aku menggambar bukan karena aku suka, aku menggambar hanya karena aku ingin saja…"

"Enngg, tapi bukankah kau menggambar juga karena kau suka?"

"…..kau—"

"—Ah, panggil saja aku Junpei."

"Junpei, pernahkah dalam hidupmu dimana kau merasa paling' hidup'?"

"…..haha, aku belum pernah memikirkan hal seperti itu, tapi kurasa tidak…"

"…hoo jadi begitu…"

"…..well, sebenarnya sih ada momen ketika aku merasa sangat 'hidup'…"

"…?"

"Itu adalah ketika aku menjadi seorang pahlawan…"

"Pahlawan?"

"Yup, di sebuah waktu yang tersembunyi, dimana tidak seorangpun yang tahu, seorang hero bertarung melawan para shadows melindungi dunia… yah, itu lah masa dimana aku paling hidup. Aah, aku kok malah cerita aneh gini ya hahaha…"

"Kau bertarung sendiri?"

"Eh, engg…. Ada sih teman-temanku… hei, ayolah, jangan anggap apa yang kukatakan…"

"Kau bertarung untuk melindungi dunia, walau tidak ada yang tahu... itu, hebat…"

"Nnggg, benarkah?—hei! Tanganmu berdarah!"

"Oh, ini kadang terjadi. Biarkan saja…"

"Biarkan saja? Bagaimana kau bisa segitu tenangnya, darahmu mengalir segitu derasnya!"

"Kau aneh, Junpei…"

"Kau yang aneh, orang biasa pasti sudah histeris kalau seperti ini!"

Aku juga ingat ini, ini pertama kalinya aku 'bicara' dengan Chidori. haah, dia benar-benar perempuan yang aneh… orang macam apa yang segitu kalemnya padahal tangannya berdarah segitu derasnya.

"Hei, kau mau kemana?"

"Pulang…"

"Oh.."

"….. terima kasih Junpei, aku senang hari ini…"

"Kau…. Senang?"

Ah, aku juga ingat bagian yang ini, mungkin ini pertama kalinya aku jatuh cinta dengannya….

Tunggu dulu…. Aku… jatuh cinta? Benarkah aku jatuh cinta dengannya dulu?

"Chidori…"

"Ng, apa itu?"

"Namaku…"

"Oh, jadi namamu Chidori ya…"

Oh, ini ketika dia memberi tahukan namanya kepadaku, jujur saja aku tidak menyangka ia akan menjawab pertanyaanku waktu itu. Dia memang tidak bisa ditebak…

"Apa maksud dari semua ini? Ini tidak lucu… Chidori…"

"Diam, Junpei! Aku mau kau memerintahkan teman-temanmu untuk menghentikan misi kalian…. Dan bukan malam ini saja. Tetapi juga seterusnya.."

"Apa maksudmu? Tunggu, jangan bilang kau juga salah satu dari mereka'kan?"

"Lakukan saja apa yang kukatakan, maka aku tidak akan melukaimu.."

"Hey,Chidori.. aku mau tanya, apakah ini sikapmu dari awal kita bertemu itu…. Disengaja..?"

"I, itu…"

Cahaya itu berganti, seperti rekaman. Segala gambaran yang barusan terjadi terulang kembali secara terbalik, segala cahaya yang menyelimuti laki-laki itu berubah menjadi menghindarinya. Dan tentunya ia tidak akan tahu apa yang menantinya…

To be Continued…


Author's Note

HELL~O! akhirnya diupdate juga, sudah berapa lama nih? Akhir-akhir ini saya kehabisan ide soalnya. Anyway, first of all… saya mengucapkan banyak terima kasih bagi para reviewers antara lain WindPurpleDragon, 'T-800 MacTavish, Hihazuki, Jack Frost 05, Black-Cat-Yoruichi, AiNeko-chan, dan Iwanishi Nana. Dan dua kali terima kasih atas kesabarannya dan maaf karena lamanya mengupdate.

Akhir-akhir ini saya lagi demen buka-buka PLI nih, ada yang punya id ga? (OOT)

Lalu, buat WindPurpleDragon, dan 'T-800 MacTavish terima kasih atas khawatirnya, author masih hidup dan tidak kelebihan sesuatu apapun, tapi jangan tanya saya dibuang kemana sama Naoto… saya tidak mau mengingatnya…

Buat Hihazuki-san, Iwanishi Nana dan AiNeko-chan, maaf karena Naoto tidak banyak muncul di dua chapter ini, dan gara-gara itu di chapter lalu dia pelampiasan sama saya dengan… yah kau tahu sendiri…

Dan Jack Frost 05, terima kasih atas pemberi tahuannya tentang kesalahannya… wah, fatal itu… lalu saya belum mati lho… jangan mengheningkan cipta dulu…

dan Lalapyon, itu sama sekali tidaklah salah! Dia memang hantu seorang gadis yang mati penasaran! *dibunuh Chidori*

Anyway, segala review, kritik, saran, protes dan lain lain selalu diterima disini! Jadi jangan ragu-ragu untuk mengirim review, terlebih lagi jika menunjukkan kesalahan saya… yah chapter ini kurasa hancur banget sih, terutama di bagian akhir. Asal jangan kirim bogem saja ya… *ditendang* Sebenarnya, sih mau kupasang OMAKE lagi, tapi saya bingung cara nulisnya, mungkin chap berikutnya saya kasih.

Chapter 10 Update ASAP

God Bless Us All

Tetsuwa Shuuhei