Disclaimer : I do own nothing, but sure i want to own Bleach
THE HATRED OF BETRAYAL
An IchiRuki's Fanfiction
Author: Brainless Creation
.
.
Chapter 10 : First Appearance
.
.
"Aku hanya ingin memberikan ini untuknya," lanjut Ulqui yang lalu meletakkan sebuah bungkus plastik bening dengan logo berwarna pink, dengan gambar Hello Kitty di atas tempat tidurku. Rasanya rahangku akan lepas dari sendinya dan jatuh berdentum di lantai. Benda aneh berwarna terlalu perempuan itu teronggok tak berdosa setelah Ulqui meninggalkannya, sekaligus meninggalkan kamarku.
"Mati kau! Mati! MATI!" umpatan Rukia mengembalikan seluruh kesadaranku dari keterkejutan. Aku sampai mengerjap dua kali sebelum kembali menoleh ke belakang, melihat Ulqui membuka pintu apartemen .
"Ulqui?" pekikku berusaha memanggilnya, agar dia ikut membantuku, bukannya malah pergi meninggalkanku. "Hei, Karyawan Tetap Asuransi!" aku tetap meneriakinya karena dia tetap berdiri kaku di depan pintu dengan tangan memegang handle pintu. Aku hanya bisa melihat punggungnya, jadi aku tidak bisa melihat apa yang tengah ia pikirkan sekarang. Yah, walaupun saat aku melihat wajahnya aku tidak lantas bisa membaca wajah datarnya itu. Ya Tuhan... kenapa aku dikeliling orang-orang aneh begini sih? Sudah Ulqui, ditambah Ishida, ditambah Renji, dan diperparah dengan keberadaan Rukia.
"Bantu aku!" pintaku penuh harap.
Rukia terus saja meronta, tangannya terus bergeliut mencari cerah. "LEPAS! LEPAS! BRENGSEK! LEPASKAN AKU!" pekiknya keras. Aku mulai takut tetanggaku akan mengadukan aku lagi pada Pak Kyoraku. Bisa dikenakan biaya tambahan karena aku membuat keributan lagi malam-malam.
"Ulqui! Bantu aku, kenapa kau bengong di situ?" protesku saat Ulqui berbalik dan menatapku lurus.
"Aku tidak bisa membantumu, karena Rukia tidak bisa disentuh selain olehmu. Aku cukup tahu posisiku, Ichigo. Aku pulang." Diapun pergi dengan tentram. Bukan pergi ke alam baka, tapi kembali ke apartemennya (sepertinya!).
Kepalaku kosong seketika, tidak mampu bekerja lagi sampai suara pintu menutup terdengar.
"Apa-apaan dia? Setelah menciptakan kekacauan begini dia kabur begitu saja?"
Dia terlihat terluka, padahal aku tidak mengatakan apa-apa. Kenapa jadi terkesan aku yang telah membuatnya merasa begitu. Jadi salahku, begitu?
Seperti apapun kuputar otakku, tetap tidak bisa menyambungkan antara kesedihan dalam nada suara Ulqui dengan situasi ini. Terlebih lagi ikat rambut berwarna pink...
Aku masih tidak percaya Ulqui membeli benda semacam itu untuk Rukia. Coba bayangkan Saudara-Saudara sebangsa dan setanah air! Ulqui membelikan ikat rambut berwarna pink untuk Rukia. Ini mimpi burukku yang lain pasti! Aku tidak percaya, seluruh akal sehatku menolak!
"Lepas! Bangsat! Bajingan! Monster! Lepaskan aku!"
Sial! Rukia kembali meronta, membuyarkan konsentrasi berpikirku. Dia bergerak liar bagai orang kerasukan, bahkan aku bisa merasakan dadanya menekanku.
Anjrit! Aku merasa panas seketika, pikiranku langsung mengelana pada imajinasi tingkat tinggi, pikiranku mengelana membayangkan kedua tanganku bukannya mencekal tangan Rukia tapi meremas kedua gunung kecil di dadanya, lembut dan perlahan hingga putingnya mengeras dan akan ku hisap tanpa henti hingga ia mengiba dan memintaku memberinya lebih. Aku ingin menikmati badannya, seluruh esensinya di mulutku, di lidahku, di...
"KEPARAT!"
"AKH! SIALAN! SAKIT, RUKIA!"
Seketika aku melepaskan Rukia sepenuhnya, habisnya dia baru saja menginjak kakiku, rasanya seperti ditimpa badan Omaeda. Brengsek! Rukia punya tenaga sebesar ini sampai aku kira kakiku akan remuk. Untungnya dia tidak menendang juniorku, bisa habis dan hangus tak bersisa semua masa depanku dalam sekejap. Rukia benar-benar menakutkan, dan dia bahkan berlari ke pojok kamar setelah melakukan penganiayaan ini padaku. Seolah aku yang patut ia takutkan, padahal dia yang lebih mengerikan dari monster dimanapun di dunia ini!
Tapi... Ruangan sempit seperti ini, mana bisa dia sembunyi?
Perempuan berambut hitam legam itu duduk merapat ke dinding, memeluk lututnya erat dan menyembunyikan wajahnya. Rintihan tangisnya membuatku sadar bahwa ia tidak pernah bisa dengan mudah sembuh dari semua traumanya. Dia bisa bersikap tenang di depanku, namun saat pria lain menyentuhnya, dia seperti diserang teroris pengebom gedung Pentagon, panik, histeris dan kehilangan semua pengendalian dirinya.
"Rukia..." bisikku perlahan, mengabaikan kakiku yang masih meminta dimanja pasca diinjak Rukia.
Perempuan Kuchiki itu masih merintih ketakutan.
"Ulqui tidak akan menyakitimu, dia hanya ingin memberikan ikat rambut ini untukmu. Kau kan selalu pakai karet gelang, karena itu dia ... " aku jadi balik berat sendiri untuk menyebut pujian untuk karyawan asuransi itu, habisnya memberi kesan baik untuk sesosok Ulqui malah membuatku mau muntah berulang-ulang kali!
"Dia berbaik hati membelikannya untukmu. Dia baik..." lanjutku ragu-ragu.
Rukia mengangkat wajahnya dan membalas sorot mataku, tidak kaget saat melihatku sudah di depannya, hanya berjarak satu langkah darinya.
"Dia tidak akan menyerangku? Dia akan mengabaikanku? Seperti apa yang kau lakukan?" desis Rukia dalam suara puraunya, wajahnya basah oleh air mata.
Mendengar kata 'mengabaikan' yang mengalir dari mulutnya, seperti ada kalajengking yang menggigit sekujur kulitku. Aku tertawa miris dalam hati, menertawakan diriku sendiri yang justru merasa aneh mendengar ucapan perempuan tidak waras ini. Memangnya selama ini yang aku lakukan mengabaikannnya? Tolong! Seseorang kembalikan akal sehat perempuan ini! Dia bahkan tidak bisa membedakan mana yang menolong dan mana yang mengabaikan! Kalau dia sadar, mana ada orang yang mengabaikan mau susah-susah memberinya makan, membelikan baju untuknya? Yah, sekalipun itu baju loakan, tetap saja aku punya niat baik untuk membantunya.
"Jawab aku!" bentaknya seketika, membuyarkan keterpurukan dalam benakku.
"Iya!" balasku dengan suara lebih keras lagi, membuatnya berjengit kaget sambil menekap kedua telinga. Siapa suruh berteriak sekeras itu tepat di depan mukaku?!
Dia terdiam dan tenang dalam sekejap. Tangis sedihnya hilang, dan dia beranjak dari tempat kesukaannya itu sambil merampas ikat rambut dari tanganku, wajahnya lebih tenang, namun detik kemudian ia pindah ke tempat tidur, menarik selimut dan menutupi sekujur tubuhnya, rebahan super nyaman.
"Apa yang kau lakukan?" semburku sambil ternganga.
"Tidur!"
"Kau-" ku kepalkan kedua tanganku erat-erat menahan kesal dan marah yang menjalar dengan cepat ke seluruh aliran darah. "Siapa bilang kau bisa tidur di situ, hah? Kau lupa aku sedang mabuk, bisa saja kau ku serang!" pekikku seraya menarik selimut dari badannya, dan sorot mata kejam kembali ia berikan padaku. Ini dia aura algojo yang selalu ia andalkan!
"Jangan membohongiku! Kau terlihat jauh lebih segar dari orang normal!" sahutnya yang kembali menarik selimut dari tanganku, membuatku terbengong persis kerbau bajak yang ditinggal pak petani merantau ke kota besar.
Aku memang terlihat segar, bahkan super waras! Akting mabukku hilang sudah di detik Rukia berteriak histeris saat Ulqui menyentuhnya, seluruh mimpi indah untuk tidur nyaman sendirian di ranjangku sendiri hangus bersama seringai sinis Rukia. Adik Kuchiki Byakuta itu tengah terbaring sambil memeluk bantal gulingku erat-erat.
"Dasar Penyihir! Lakukan sesukamu! Tapi jangan salahkan aku kalau nanti aku melakukan hal yang tidak seharusnya!" kataku seraya berbaring dan sengaja mengambil tempat terlalu ke tengah hingga bahuku bertemu bahu Rukia.
"Jangan dekat-dekat!" seru Rukia yang kemudian bergeser hingga ujung tempat tidur.
"Ini tempat tidurku, kau mau apa?" tantangku lagi.
DUK!
"HEI, KEPALA JERUK! BERISIK!"
Aku sontak mengunci mulut saat melihat Rukia melotot padaku. Bukan takut pada Rukia, tapi yang barusan berteriak si Omaeda, sepertinya suara kami sampai ke tetangga sebelah dan sebelahnya lagi. Karena Omaeda bisa dibilang penghuni paling toleran akan kebisingan. Atau kalau aku tafsirkan, bisa berarti dia tidak akan terganggu oleh keributan, bahkan kebakaran sekalipun karena kebiasaan tidurnya yang lebih mirip orang mati suri dari pada tidur. Tapi untung saja si Babi Air satu itu tidak mengadukanku pada Pak Kyoraku.
Hah... sepertinya tidurku pun tidak bisa lelap malam ini.
Ku pejamkan mataku, berusaha terlelap, tapi aku justru melihat wajah Ulqui, Rukia, dan ikat rambut berwarna pink itu bergantian. Aku berusaha menyingkirkannya, tapi wajah Ulqui dan Rukia selalu kembali lagi, bahkan sangking gambarnya terus berganti, wajah Hello Kitty sampai menempel di wajah Ulqui. Sepertinya bagus juga jika Ulqui mengganti wajahnya dengan Hello Kitty!
"Jangan dekat-dekat!"
Rukia kembali mendorongku, bahkan kakinya ikut mendendangku. Mau tidak mau aku bergeser menjauh darinya. Ini sebenarnya tempat tidur siapa sih? Kenapa jadi aku yang merana begini?
Jangan-jangan di kehidupan sebelumnya Rukia adalah ibu tirinya Putri Salju atau Cinderella. Sikap kasarnya benar-benar cocok untuk peran ibu tiri!
Minggu berganti minggu, begitu cepat waktu bergulir, dan semuanya sangat tentram, kecuali sesi latihanku dengan Sung Sun. Wanita itu mimpi buruk berjalan, benar-benar momok menakutkan dengan mistar besi di tangannya, bahkan suara melengkingnya membuat telingaku berdenging berkali-kali. Memang ada perubahan yang aku rasakan setiap kali selesai latihan dengannya, yang pertama adalah sakit di sekujur tubuh, sekalipun efek pendidikan kepribadiannya sempat membuat teman-temanku di bengkel mengerutkan alis terlalu dalam karena sikap badanku yang terlalu formal, dan sering kali mereka meledekku yang jadi mirip pejabat pemerintahan yang harus hormat pada bapak kepala dewan.
Sial! Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur janji pada pria konglomerat berambut silver itu. Jadi beginilah hasil bentukan Sung Sun.
Rukia memberikan kesan perkembangan yang sangat luar biasa. Di tiap pertemuan dengan dokter Ukitake, aku bisa melihat warna wajahnya yang berubah, menjadi lebih hidup dan cerah. Dia bahkan bisa tersenyum lebar dan tulus saat mendengar dokter Ukitake memuji perkembangannya yang begitu cepat.
Aku mencibir setiap kali melihat senyumnya. Ya, aneh saja mendapati dirinya begitu mudah mengumbar senyumnya, sementara untukku dia masih saja memasang wajah asam bin kecut.
Hari ini saja, dia baru melewati sesi latihan pendekatan kepada makhluk yang paling ia benci, yaitu...
Jreng... Jreng... Jreng... Tada! Laki-laki!
Cih! Saat mendengar dari Sung Sun saja perutku sudah mulas bukan main. Rukia belajar pendekatan? Yang benar saja, dia itu takut disentuh pria manapun. Jadi tidak mungkin hanya dalam waktu satu setengah bulan latihan dia bisa tetap tenang bersentuhan dengan makhluk berjenis laki-laki!
"Tidak perlu kau memusingkan hal seperti itu! Sekarang waktunya kau mempelajari dokumen!" ucap Sung Sun yang kemudian meletakkan mistar besinya, dan mengarahkan tangannya ke kursi yang berada di dekat kami.
"Memangnya sudah selesai pelajaran sikapnya?" celetukku cepat.
"Jaga bicaramu! Gunakan kalimat yang menggambarkan kehormatan seorang pria dewasa!"
Kehormatan pria dewasa? Yang benar saja!
"Ibu Sung Sun, apakah sesi pelajaran sikap sudah selesai? Aku merasa belum bisa beradaptasi dengan perubahan ini seperti halnya Rukia. Aku merasa masih butuh bicara dengan kata-kata kasar dan tidak sopan kepadamu," tuturku dengan senyum lembut manis khas seorang pria bermartabat tinggi, namun sebaliknya, ucapanku justru membuat alis Sung Sun tertaut begitu dalam hingga aku pikir akan muncul sumur di dahinya yang super lebar tertutup poni itu.
"Ehm..!" Sung Sun meraih mistar besinya, kukira dia akan memukul pergelangan tanganku seperti biasa, tapi dia malah tersenyum begitu lebar, membuat bulu kudukku berdiri semua. Ini tidak masuk akal dan agak aneh, jangan-jangan wanita pucat ini sedang kerasukan setan rumah besar milik Pak Gin. Segera saja kulirik kakinya, tapi ternyata masih menjejak lantai dengan sempurna.
"Apa yang tengah Anda lihat, Tuan Ichigo?" ucap Sung Sun dengan nada lembut yang sama.
Kontan aku merasa kikuk, kepergok sudah melecehkannya, namun aku tidah hilang akal. Segera ku pasang senyum manis super cepat dan menatap sepasang mata tajam menusuk itu dalam-dalam. "Aku hanya berpikir bahwa sepatu Anda begitu indah Bu Sung Sun, mungkin Anda bisa memberitahu dimana Anda membelinya?" jawabku mencoba merayunya.
"Sayangnya saya membelinya di luar negeri dan saya yakin Anda akan kesulitan mencarinya," sahut Sung Sun masih memasang ekspresi yang sama.
Ini abnormal.
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan yang begitu ramai dari belakangku, dan sosok pucat Pak Gin muncul dari ambang pintu ruang latihan. Seringai lebarnya membuatku nyaris berpikiran untuk mencukur semua bulu di tubuhku, karena aku pasti dan selalu merinding melihatnya, dan dari pada merinding terus-terusan, bukankah lebih baik kalau ku cukur semuanya? Mana bisa ada bulu yang berdiri lagi kalau aku sudah tidak punya bulu? Tapi kemudian ucapan Renji yang pernah ia berikan kepada Szayel membuatku tersentak. Yah, waktu itu Szayel berencana mencukur bulu kakinya yang sempat diprotes Isane karena sering membuatnya geli. Lalu Renji menyatakan bahwa pria yang tidak punya bulu bukanlah pria sejati.
Aku pria sejati, tapi bukan monyet seperti Renji!
"Kau mengalami perkembangan yang hebat, Ichigo!" seru Pak Gin tanpa menghentikan tepuk tangannya, dan aku hanya mengangguk mengiyakan pujiannya, karena aku tidak sedikitpun merasa senang mendengar pujiannya. Semakin cepat perkembangan kami, maka akan memperpendek rentan waktu untukku mengulur jeda agenda membalas dendam pada keluarga Kuchiki. Jujur saja membalas dendam pada Kuchiki Byakuya dan antek-anteknya bukanlah hal baik. Bukan karena ajaran guru yang mendoktrin muridnya bahwa membalas dendam adalah hal tidak baik, tapi membalas keluarga Kuchiki akan menjerumuskan siapapun dalam permainan trik yang luar biasa. Keluarga Kuchiki adalah level bangsawan, sedangkan aku? Rakyat jelata yang paling melarat, level terendah pokoknya!
"Sepertinya kau sudah siap untuk menggeluti bidang lain," sambung Pak Gin yang melirik barisan dokumen di meja seberang kami, dan aku tidak mengerti barisan kertas yang mirip para tentara menjelang apel pagi. Bahkan loreng-loreng yang ditunjukkan isi kertas itu hampir sama dengan motif seragam tentara. Gila! Itu kertas apa sih? Isinya gambar batang dan angka yang tidak kumengerti.
Aku ini mekanik bengkel, bukan almarhum Steve Jobs yang bisa menciptakan kalkulasi kelas atas.
Tadi aku bilang apa? Steve Jobs? Siapa ya? Pernah dengar dimana? Tapi sepertinya dia orang hebat sih! Kalau ingatanku salah yah maaf saja, aku SMA saja tidak sampai.
"Prinsipnya mudah, lihat titik lemahnya, tidak perlu mengerti secara mendetail. Kau akan belajar banyak hal mengenai strategi bisnis dan komunikasi. Semakin cepat kau belajar, maka semakin cepat kau menjadi sekretarisku!"
"Sekretaris?" ulangku tidak percaya.
"Kau kira sekretaris hanya boleh perempuan?" ucap Pak Gin yang tepat sasaran, dan aku bungkam seribu bahasa, merasa tebakannya sama saja menjatuhkan harga diriku, membuatku sepenuhnya terlihat bodoh di matanya. Sialan!
Pak Gin menyeringai lebih lebar dan berkata, "Aku tidak akan mengganggu lebih banyak. Silahkan dimulai, aku akan melihat latihan Rukia! Hari ini dia harus mulai praktek membiasakan diri dengan laki-laki. Tepat setelah semuanya siap, kalian akan mulai berkolaborasi. Aku tahu kau cerdas, Ichigo. Jadi jangan membuatku menunggu lebih lama." Pak Gin melangkah pergi meninggalkanku dan Sung Sun.
Aku tidak lantas menjawab tuntutan konglomerat itu. Aku tidak akan mempercepat proses semua ini, sebenarnya sih semuanya tergantung Rukia. Aku kan cuma boneka penopang. Benar kan?
"Fokus!" Sung Sun kembali menggebrak meja dengan mistar besinya, membuatku terlonjak dari lamunanku sendiri. Aku sudah siap untuk memuntahkan amarahku, namun mengingat sesi pendidikan sikapku sudah berakhir, aku memilih untuk menahan diri. Aku tidak ingin kembali ke masa-masa berat di mana Sung Sun dengan senang hati memukuli badanku karena sikapku yang sembrono. Wanita sial! Rukia saja masih punya masa tenang, tapi wanita ini tidak memiliki toleransi sama sekali! Persis Hitler!
Aku berusaha menaklukan sikap ganas Sung Sun lagi, segera saja ku raih mistar besinya dengan sangat perlahan, lalu ku lemparkan senyum maut andalanku padanya. "Umm, sepertinya mistar Anda tidak dibutuhkan sama sekali untuk saat ini. Apakah aku salah? Bukankah sekarang kita akan mempelajari dokumen. Aku tidak bisa berpikir jernih jika suara keras mistar selalu terdengar. Maukah Anda menyingkirkannya... Nona Sung Sun?" bisikku seraya menarik mistar jauh-jauh darinya, sementara tanganku yang lain kugunakan untuk membelai helaian rambutnya yang jatuh berantakan ke bagian bahunya. Sengaja ku ambil jarak sedekat mungkin hingga aku bisa mencium wangi parfum mahalnya, tapi sayangnya aku tidak suka! Aku lebih suka bau oli dan bensin!
Tadinya ku kira Sung Sun akan kembali mengamuk dan menunjukkan harga dirinya sebagai wanita yang anti rayuan, namun yang ku dapati malah sebaliknya. Wanita itu bergerak kikuk saat tanganku bergerak meremas bahunya, dan perlahan naik ke lehernya, sengaja memberikan sentuhan lembut pada wanita tegas ini. Dia menghindar sih, tapi setengah-setengah. Hanya dengan melihat reaksinya aku bisa mengerti bahwa wanita ini sebenarnya tipikal wanita kesepian yang butuh belaian. Ah, Ichigo. Kau memang pantas menjadi penakluk wanita!
Aku kembali melancarkan senyumanku, dan kejutan lain kuterima dari wanita berambut panjang ini. Dia tersenyum tipis, menunjukkan barisan giginya yang rapi dan matanya berbinar. Gila! Ini benar-benar GILA! Sung Sun tersenyum malu-malu padaku!
"Aku akan menjadi murid yang baik, jadi kuminta sedikit diperhalus metodenya. Aku yakin Anda adalah wanita yang berhati lembut dan baik. Benar kan?" gumamku lagi, tapi kali ini tepat di telinganya, sengaja ku desah-desahkan suaraku hingga napas hangatku pasti mencapai kulit sensitifnya di belakang telinga. Ini akan membangkitkan gairahnya sebagai wanita normal.
"I..chi..go.. Kita masih dalam sesi latihan, bisa kah..."
"Tentu saja!" segera saja ku potong ucapannya, dan tanpa permisi lagi ku kecup pipinya, lalu berkata, "Lebih lembut sedikit, ok?"
Sung Sun mengangguk samar.
Skak Mat!
Akhirnya aku bisa menjinakkan wanita ini.
"Aku permisi ke belakang sebentar, boleh?"
"Si-silahkan."
Yes!
Aku menahan tawaku sambil menekap mulut, dan setelah mencapai luar ruangan baru ku biarkan tawaku meledak. Sungguh, hati wanita memang mudah untuk kupikat. Pesonaku masih tingkat dewa ternyata... ha ha ha
Alasanku yang sebenarnya bukan mau ke toilet, tapi aku ingin melepaskan tawa banggaku ini karena tidak mungkin aku membiarkan wanita sadis itu melihat tawaku dan membuat semua usahaku sia-sia. Mengingat aku tidak mungkin secepat kilat ke toilet, aku mengelilingi ruangan untuk memperlambat waktu. Biar saja wanita itu menungguku dengan hati yang berbunga-bunga, toh dengan begini aku bisa lebih mudah mengelak dari semua tuntutannya yang membuatku migrain!
"Ya, cukup bagus seperti itu... Apa yang kau rasakan, Rukia?"
Sayup-sayup terdengar suara dokter Ukitake. Aku selama tidak pernah tahu bagaimana sesi latihan Rukia berlangsung, bahkan di ruang mana biasanya dia berlatihpun aku tidak tahu. Segera saja ku hampiri sumber suara. Aku harus melewati koridor panjang dengan hiasan perabot kelas atas yang super mengilat, hingga akhirnya aku menemukan sebuah ruangan yang pintunya tidak tertutup rapat, lalu terdengar lagi suara dokter Ukitake.
"Apa kau ingin berhenti sekarang?" tanya dokter Ukitake lagi.
Aku melongok bagian dalam ruangan. Ruangannya persis ruang baca, karena terdiri dari rak-rak tinggi yang berisi buku serta meja nyaman dengan kursi kantor yang bentuknya menyerupai kursi malas dengan sandaran tinggi. Perhatianku berpindah pada tiga sosok di tengah ruangan.
Dokter Ukitake berdiri di dekat meja, sementara ...
Mataku membelalak tanpa kusadari, karena aku sendiri hampir tidak mempercayai apa yang sedang aku lihat sekarang!
Rukia memeluk Pak Gin!
Perempuan ringkih itu mengalungkan tangannya di pinggang kurus Pak Gin, dan menyandarkan kepalanya ke dada pria itu. Dia terlihat begitu menyukai posisi itu, namun dokter Ukitake sendiri malah menunjukkan wajah cemas, sementara pria konglomerat yang mirip ular berbisa itu malah tersenyum senang, entah apa yang tengah membuatnya senang. Perkembangan pesat Rukia ataukah karena Rukia sedang memeluknya begitu erat sekarang?
Seketika jantungku berpacu cepat, entah apa yang terjadi padaku, namun tiba-tiba saja aku merasa tidak tenang. Tidak tenang? Tidak senang? Tidak suka? Tidak... Arghh! Pokoknya aku tidak mau melihat pemandangan ini, karena itu segera saja aku menerobos masuk ruangan.
"Ssst..." Pak Gin memberi isyarat padaku dengan jarinya yang tertempel di bibir tipisnya. Dia memintaku untuk tetap diam, tapi mana bisa aku tenang melihat Rukia yang biasanya takut pada semua laki-laki sekarang tengah merangkul pinggangnya tanpa dosa. Rukia bahkan berkali-kali mencakarku, memukulku karena aku menyentuhnya, belum lama ini dia juga sempat mengamuk gara-gara Ulqui mencekal tangannya. Lalu kenapa sekarang...
Apa yang dilakukan dokter itu sampai Rukia jadi seperti ini hanya dalam waktu sesingkat ini?
"Rukia..." bisik dokter Ukitake yang sempat melirikku sebelum mendekati Rukia, wajahnya cemas, namun aku tidak peduli.
"Kau sudah berkembang banyak, Rukia. Kau hebat, anak baik..." bisik Pak Gin yang kemudian membelai kepala Rukia penuh kasih, seolah dia adalah pria suci yang mengasihi pengikutnya. Berulang kali dia melakukannya, tapi Rukia tetap diam seperti patung.
Aku mendekat pada dua orang yang membuatku gondok setengah mati ini. Aku perhatikan lagi postur tubuh Rukia, dan setelah ku teliti lagi, dia bukan sedang memeluk orang seperti dalam bayanganku, dia justru terlihat seperti sedang bersembunyi. Wajahnya tertutup sempurna dari pandanganku, tangannya bahkan mengalung terlalu erat seperti tengah menahan...
Ini tidak benar!
"Rukia?" panggilku cepat, dan seketika kepalanya terhempas dari dada Pak Gin, seperti dilontarkan per lentur shock breaker kualitas satu. Kepalanya bergerak lambat menoleh ke arahku yang berdiri tepat di sampingnya. Aku tidak perlu menanyakan lagi apa yang dipikirkan perempuan ini, karena matanya sudah cukup menggambarkan ketakutan yang amat sangat, menunjukkan betapa ia menahan diri, menekan semua emosinya hingga ia hampir mencapai batas.
"Kau mengacaukan semuanya, Ichigo!" celetuk Pak Gin kecewa.
"Aku mengacaukan? Anda tidak lihat Rukia sudah begini ketakutan?" semburku tidak terima.
"Ini hanya bagian dari sesi latihan. Kau tidak suka? Kalau kau tidak suka, kenapa bukan kau yang coba memeluknya?" tantang konglomerat itu dengan sebelah alis terangkat tinggi.
Aku tidak sempat menjawab pria kurus itu, karena tiba-tiba Rukia berjalan ke arahku dan merangkulkan tangannya di pinggangku. Dokter Ukitake sempat berjengit hendak mendekatiku dan menarik Rukia agar menjauh. Aku tahu kenapa dokter Ukitake begitu cemas, karena yang sudah-sudah, Rukia pasti akan mengamuk, tapi aku cukup peka untuk merasakan pertanda itu. Bersama Rukia berbulan-bulan sudah cukup membuatku mengenal emosinya yang selalu naik turun seperti ombak lautan Pasifik!
Kubalas pelukan erat Rukia, menyatakan bahwa aku di sini dan dia tidak perlu takut lagi.
"Rukia, kau tidak bisa terus lemah begini, kan?" seloroh Pak Gin yang tiba-tiba menarik Rukia menjauh dariku, sangat kasar dan memaksa. Aku kaget, tentu saja! Tapi yang membuatku lebih kaget lagi adalah saat Rukia justru mengangguk menyetujui kata-kata pria konglomerat itu.
Rukia menoleh padaku, dan matanya kembali dingin tanpa ekspresi, kehangatan dari pelukannya dengan cepat berganti angin kutub. "Kau lanjutkan latihanmu, aku baik-baik saja!" lanjutnya seraya kembali berdiri di depan Pak Gin dan mengangkat tangannya sejajar dengan pinggang pria kurus itu. Aku tidak ingin melihat pemandangan yang membuatku muak itu, jadi aku berbalik dan menghentakkan langkahku penuh amarah, meninggalkan ruang baca, membiarkan Rukia kembali memaksakan diri.
Tanpa sadar kukepalkan tangan untuk mencegah amarah dalam dada kuteriakkan. Ini akan membuatku semakin tidak waras!
Waktu makan siang tiba.
Akhirnya...
Aku sengaja menyandarkan diri di kursi kantor yang kududuki, membiarkan Sung Sung melotot tidak terima pada sikapku yang tak mencerminkan pria kelas atas sama sekali. Aku mendelik, menantangnya yang hendak mengomentariku. "Apa aku juga tidak boleh mengekspresikan lelahku?" protesku cepat, membuat wanita berambut hitam panjang itu langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
Sung Sun meraih kertas yang baru saja kukerjakan, matanya dengan cepat memindai tiap tulisan yang kugoreskan, hanya dua menit yang ia butuhkan untuk membaca tulisan yang kubuat selama dua jam penuh itu. Laporan yang tidak aku mengerti sama sekali, namun prinsipnya mirip dengan cara Szayel menuliskan laporan stock.
"Kau cepat mengerti, itu nilai plus untukmu!" katanya seraya meletakkan kembali kertas di meja. Aku membusungkan dada jauh ke depan mendengar pujiannya, karena mendapat pujian darinya sama seperti menerima senyum dari presiden. "Tapi setelah ini kau harus melanjutkan cara menganalisa laporan," lanjutnya seraya berjalan menuju pintu.
Dia bilang apa tadi? Menganalisa laporan? Makhluk jenis apalagi itu? Aku tidak mengerti sama sekali dengan istilahnya. Aku pernah mendengar kata itu waktu... waktu... yah, waktu aku masih menjadi anak baik-baik, persis seperti yang dibilang Pak Gin.
Sung Sung berhenti di depan pintu, seolah menungguku, tapi maaf saja! Aku masih ingin mengistirahatkan kerja otakku, sirkuit otakku sudah terlalu lelah untuk berpikir macam-macam!
"Mau sampai kapan kau rebahan? Kau harus segera ganti kostum, kita akan makan siang di hotel!" pekik Sung Sun, membuyarkan ketenangan yang baru saja menghampiriku.
"Ganti kostum?" ulangku seraya melihat tampilan diri sendiri. Celana yang sudah luar biasa usang dan kaos yang warnanya sudah tidak jelas, tapi aku bangga memakai pakaian ini, karena aku bisa jujur pada diriku sendiri dan orang-orang di sekelilingku. Bukan malah berpakaian rapi, tapi berteriak memaki orang seperti wanita bernama Sung Sun!
"Bangun, atau perlu kupanggilkan security untuk menyeretmu? Aku tidak punya banyak waktu untuk anak ingusan sepertimu!" tandas Sung Sun lagi, dan dia sudah bersiap menekan ponselnya saat aku justru mengacuhkan ucapannya.
"Aku mengerti! Dasar Penyihir! Wanita Mengerikan!" umpatku dalam suara berdesis.
Kemana sikap malu-malunya tadi? Hilang ditelan Godzilla?
Aku memacu langkah mengejar Sung Sun yang berjalan tegap meninggalkan ruang latihan, kami melewati ruang baca menuju koridor lain, dan saat kulirik, ternyata ruang baca sudah kosong, berarti Rukia sudah selesai latihan?
"Rukia ganti kostum juga?" celetukku.
"Kau pikir akan seperti apa seorang Kuchiki Rukia jika makan siang di tempat mewah dengan pakaian gembel sepertimu?" sahut Sung Sun datar, seolah ucapannya tidak akan menyakitiku saja. Aku tidak percaya dia bisa menilai orang lain dari sudut pandang serendah itu. Memangnya salah kalau seorang Kuchiki Rukia jadi gembel? Toh memang awalnya dia sudah jadi gembel sejak terdampar di depan apartemenku. Dia bahkan hampir menjadi almarhumah, alias mayat tanpa nama kalau aku tidak menariknya dari jalan raya. Seharusnya aku disebut pahlawan, bukan gembel!
"Yang ini cocok!"
Aku membeku di pintu masuk ruangan berukuran besar yang berhias jajaran pakaian-pakaian mahal, bahkan sepatu-sepatu mengilat berbaris di bagian bawah rak. Ada cermin setinggi tiga meter yang dipasang di sudut ruangan, dan di sana berdiri seorang bidadari cantik dengan gaun selutut berwarna kuning pastel lembut. Aku mengerjap berulang kali hingga pancaran cahaya yang dilemparkan bidadari itu berhenti menyilaukan mataku. Sosok itu terdiam menghadapku, tapi detik kemudian dia menyeringai lebar, membuat sensasi terkagum-kagumku hilang begitu saja.
"Rukia?" bisikku hampir pingsan, dan setelah itu aku bisa melihat dengan jelas bekas luka yang bertebaran di wajahnya (tadi tidak terlihat karena efek cahaya malaikat yang entah dari mana datangnya).
"Sejak kapan kau kena katarak?" ucapnya cepat, dan aku tidak perlu memastikannya lagi. Siapa yang bisa bicara kasar dan tidak berperasaan seperti ini kalau bukan si tukang ngamuk, monster kecil, Kuchiki Rukia! Tapi kenapa dia jadi cantik?
Lamunanku kembali bubar begitu Pak Gin bertepuk tangan, memuji Rukia dengan jempol kurusnya yang terangkat tinggi. "Ini cocok! Ichigo saja sampai tidak mengenalimu!" lanjut konglomerat berambut silver itu. Rukia tertunduk, sepertinya dia senang sudah dipuji Pak Gin.
"Cih! Kau pikir kau sudah cantik? Aku bahkan pernah pacaran dengan perempuan yang lebih cantik darimu!" selorohku tanpa pikir panjang lagi, aku tidak suka melihatnya tersipu begitu hanya karena ada yang memujinya cantik. Memangnya dia tidak sadar kalau Pak Gin itu cuma ingin menumbuhkan percaya dirinya agar mengenakan pakaian mahal itu?
"Siapa? Orihime?" celetuk Pak Gin tiba-tiba. Aku tidak menjawab dan membiarkan Rukia bersungut-sungut di seberangku, menatapku penuh hawa membunuh.
"Sudah, sudah. Sekarang giliranmu, Ichigo!" Dokter Ukitake mendorongku untuk mendekati deretan jas dan celana yang ada di samping kananku. Dokter satu ini selalu bersikap lembut dan penuh perdamaian, tidak seperti Pak Gin yang selalu terang-terangan mengundang perang di antara kami. Dokter Ukitake memilihkan sebuah kemeja berwarna biru muda padaku, lalu jas berwarna hitam dan celana dengan warna senada. Aku menurut saja saat ia mengisyaratkanku masuk ke ruang ganti.
Ruang ganti yang kumasuki hampir sama besarnya dengan kamar apartemenku. Tapi aku tidak perlu lagi menunjukkan kekagumanku pada kekayaan seorang Pak Gin. Segera saja kukenakan pakaian yang dipilihkan dokter Ukitake, lalu melihat pantulan diriku di cermin. Aku terlihat luar biasa tampan, aku sampai tidak mengenali diriku sendiri saat melihat senyumku mengembang.
"Kau memang tampan sejak lahir, Ichigo," gumamku pada diriku sendiri di seberang cermin. Tiba-tiba saja ingatan tentang ibu menyeruak masuk ke benakku...
"Kau memang tampan mengenakan apa saja, Ichigo. Kau paling tampan di keluarga ini," bisiknya setelah memakaikan seragam sekolahku yang pertama lalu mengecup puncak kepalaku.
Pandanganku kabur, sosok diriku yang mengenakan jas tiba-tiba saja berubah menjadi diriku yang masih kecil, mengenakan seragam sekolah dan tersenyum lebar seolah terlihat begitu bangga dengan seragam yang menempel di badan.
"Kau bahkan terlihat aneh, Ichigo!" aku menghela napas berat dan menunduk. "Kukira aku sudah benar-benar menghapusmu dari ingatanku," bisikku seketika. "Andai tragedi mengerikan itu tidak terjadi, kau akan menjadi sosok dewasa yang membanggakan, bukan sepertiku yang dipandang rendah orang-orang!" desisku seraya mendengus penuh sesal, menertawakan diri sendiri yang tampak begitu menyedihkan.
Diriku yang masih kecil itu hanya tersenyum dan melambai perlahan.
Terdengar suara ketukan di pintu ruang ganti, suara berat dokter Ukitake memanggilku, "Ichigo, kau masih lama?"
"Sudah, Pak!" jawabku seraya menggeleng membuang ingatan yang menyebabkan tusukan sakit di sudut dadaku.
Kuputar handle pintu ruang ganti, dan menunjukkan diriku yang sudah berpakaian rapi khas seorang pria kantoran ke hadapan dokter Ukitake, Pak Gin, Sung Sun dan Rukia. Mereka sama terpakunya denganku yang tadi melihat Rukia.
"Tinggal sedikit make-up!" celetuk Sung Sun seraya menjentikkan jarinya dan pintu ruangan kembali terbuka, menunjukkan dua orang dengan tas ukuran besar di tangan mereka melangkah masuk mendekati kami. "Mereka cukup profesional, ini tidak akan lama, hanya sepuluh menit!" tambah Sung Sun yang kemudian mengarahkan dua orang itu untuk mendekati kami.
Aku dan Rukia di paksa duduk di kursi tepat depan cermin panjang di dinding ruangan, menyerupai meja rias. Rukia terlihat sangat tenang, wajahnya tidak menunjukkan gugup sama sekali, beda denganku yang justru merasa aneh saat salah satu di antara mereka meletakkan kain penutup di sekeliling leherku.
"Jangan lupa rapikan rambut si Kepala Sunkist!"
Aku sontak menoleh ke arah Sung Sun, mendapati dia malah mendelik padaku dengan sorot mata 'Apa? Mau protes?' yang ia tusukkan tepat ke arahku.
"Hanya perlu dipotong sedikit pinggirnya," sahut pria yang tengah menyisir rambutku ke belakang.
"Kau mau memotong rambutku?!" seruku tidak terima.
"Hanya dirapikan sedikit!" cicit sang pria melambai di belakangku, sontak aku melotot marah padanya.
"Aku tidak mau!" ucapku seraya menghentakkan tangan sang eksekutor, membuatnya menjatuhkan guntingnya ke lantai marmer.
Rukia melirikku, terlihat kesal dengan sikapku. Awalnya ku kira dia akan berteriak, tapi dia hanya sesaat melemparkan sorot mata tidak bersahabatnya dan langsung menghadap ke cermin lagi, menunjukkan wajah tenangnya pada dirinya sendiri, yang justru menambah seringai kepuasan di wajah konglomerat serba silver bernama Gin.
"Ichigo, cobalah kau contoh Rukia. Aku tahu kau bisa bersikap baik, jadi hari ini setidaknya kau tidak menunjukkan cakarmu pada kami. Ingat! Kita akan pergi ke restoran, aku tidak terima kau mengabaikan semua pendidikan sikap yang telah aku ajarkan!" ancam Sung Sun seraya memberi aba-aba pada pria pencukur yang tengah gemetar ketakutan di dekatku.
Pak Gin dan dokter Ukitake ikut-ikutan tersenyum ke arahku, seolah tengah memberikan dukungan pada Sung Sun yang pasti sudah menyinggingkan seringai kemenangannya. Aku tidak bisa banyak protes ketika sebuah sisir kembali menyapu helaian rambut orange kebangganku. Sial! Rambut kebanggaan yang sudah ku rawat, aku tidak terima dipotong oleh pria yang sepertinya tidak bisa aku sebut pria kalau dilihat dari caranya mengenakan selendang dan aksesories yang serba wanita itu. Bahkan aku bisa mencium aroma mawar dari pria di belakangku.
Suara gesekan gunting yang memangkas rambutku seperti suara cambuk yang selalu aku takutkan setiap kali menonton film kolosal. Akhirnya aku memilih untuk memejamkan mata dan membiarkan pembantaian berlangsung. Beberapa obrolan ringan berseliweran di dekatku, tapi hanya suara Rukia yang tidak terdengar. Mungkin perempuan yang memelihara monster kecil dalam dirinya itu tengah menyimpan tenaganya untuk diledakkan nanti.
"Selesai!"
Aku sontak membuka mata, merasakan kepalaku ringan luar biasa. Sepertinya ada yang melepaskan engsel kepalaku dan mencopot kepalaku dari tempatnya sampai rasanya seringan ini. Aku melihat diriku sendiri di cermin, pantulan wajahku yang tampan tingkat dewa, aku terkagum-kagum melihat senyum lebar yang aku kembangkan begitu melihat kembaran di seberang cermin sangat rapi dan hampir dandy. Potongan rambut rapi dengan jas kelas atas, namun kekagumanku langsung lenyap begitu wajah sang pemotong rambut ikut menyeruak dari belakangku, tepatnya di posisi lekuk leherku.
"Rusak!" sahutku kesal, bukan rusak tampilanku, tapi orang yang baru saja menghilangkan perasaan narsis yang aku miliki.
"Kau bilang seperti ini rusak? Tapi aku tidak melihat ada yang salah. Kau terlihat tampan dan jauh lebih rapi," Sung Sun berpendapat tanpa kuminta. Wanita satu ini memang selalu ingin aku tampak sempurna, jadi dia akan memuji apapun yang ia anggap sesuai dengan arahannya.
"Tampan dan jauh lebih baik tapi tidak menjadi diri sendiri, kalian pikir itu hal yang baik? Itulah kenapa kubilang kalian. Semua orang dari kalangan kalian adalah manusia yang bisa melihat namun buta!"
Aku, Pak Gin, dokter Ukitake, Sung Sun, bahkan hingga si tukang potong rambut ikut menoleh pada suara pelan nan tajam yang baru saja berucap. Rukia berdiri santai sambil melihat jajaran jas dan dasi yang sudah selesai diacak-acak Sung Sun demi mendandaniku untuk menjadi seorang pria terhormat. Perempuan bermulut tajam itu memang sangat pintar melontarkan kata yang sederhana hanya untuk menyampaikan isi hatinya. Tapi memang begitu kenyataannya. Ironisnya dunia ini dengan keberadaan manusia-manusia yang tidak bisa jujur pada diri sendiri. Termasuk aku sendiri.
"Sempurna! Sekarang waktunya adik Kuchiki Byakuya yang kita make over!"
Seluruh syaraf dalam diriku menegang, mendengar nama Kuchiki melesat dari mulut Sung Sun. Sepertinya wanita hampir paruh baya ini tidak tahu jelas mengenai riwayat kepribadian Rukia. Dia mudah saja membuka bibir tipisnya yang sama sekali tidak seksi itu. Aku segera beranjak dari kursiku, membuat sang penata rambut melambai di sebelahku sampai menjatuhkan sisir dari tangannya. Aku tidak perlu waktu lama untuk mengenali gejala emosi Rukia yang tidak stabil. Hanya melihat tangannya yang mengepal kuat hingga hampir memutih, ditambah lagi badannya yang mendadak kaku. Perempuan seperti Rukia begitu mudah dibaca, dan yang aku heran dokter Ukitake malah tetap berdiri santai seolah tidak pernah tahu bahwa Rukia akan mengamuk setiap kali mendengar nama keluarganya.
"Rukia?"
Aku berdiri tenang di sebelah Rukia, menunggu reaksinya.
Rukia menggerakkan kepalanya sangat perlahan, seolah takut membuat sendi di kepalanya akan bergeser, begitu lambat hingga akhirnya mata kami bertemu. Dia tidak lantas memukul ataupun memakiku. Seolah dia tengah memohon lewat sorot matanya yang dipenuhi amukan emosi. Demi kaki Szayel yang bau sedunia... Rukia seperti seseorang yang baru saja melihat malaikat maut!
"Aku ingin sekali mencakar wajahmu, sayangnya aku cukup sadar untuk menahan diri..." bisik Rukia purau, dan seketia emosi dalam matanya lenyap bersamaan dengan senyum tipis yang lebih mirip seringai cemoohan yang terpasang di wajahnya muncul.
"Jadi?" Sung Sun kembali menghampiri Rukia. Ya, wanita ini memang tidak pernah mengetahui bahwa dia hampir saja menghadapi monster Kuchiki.
"Aku tidak perlu make up, Ibu Sung Sun! Inilah adanya aku, tidak perlu menyembunyikannya. Aku bisa menutup mata pada apa yang kalian tunjukkan, tapi aku tidak akan menyembunyikan diriku."
Satu lagi kata yang tidak aku mengerti terlontar dari mulut Rukia, tapi aku tahu itu adalah taraf sindiran tingkat internasional, karena Sung Sun, Pak Gin dan dokter Ukitake sempat berjengit kaget, namun kembali pada wajah normal detik kemudian.
"Ya sudah! Kita berangkat?" suara ceria Pak Gin menggema di ruangan. Aku segera saja meraih tangan Rukia, menggenggamnya kuat sehingga perempuan itu menoleh ke arahku. Dia terlihat bingung, tapi aku tidak melepaskan tangannya. Aku hanya tidak ingin mengambil resiko lebih parah akibat ketidakstabilan emosinya, jadi ada baiknya juga aku pegang satu tangannya, jadi kekuatannya untuk menganiya wajah tampanku berkurang satu. Iya kan?
Ok, sekarang kami melangkah menuju parkiran, masuk dalam dua armada mobil. Satu mobil berisi Pak Gin dan Sung Sun, sepertinya BMW model terbaru, aku lupa namanya, dan mobil satunya lagi berisi dokter Ukitake, aku dan Rukia, mobil biasa yang tidak bisa dibilang mewah. Aku tidak perlu bertanya lagi kemana kami akan pergi, karena rute yang diambil aku sangat kenal, jujur saja aku sempat trauma begitu mengingat hari pertama aku menginjakkan kaki di tempat bernama GI Hotel ini. Karena aku yang gembel, Rukia yang mirip pemulung dengan baju rombengnya. Tapi sekarang semua berbalik 180 derajat, kalau istilah fiksi. Padahal 180 derajat kan bahasa matematika, tapi begitulah kurang lebih mereka menggunakannya.
Kembali lagi pada perjalanan kami, para pemirsa!
Kami masuk ke restoran beriringan, persis barisan pengantar pengantin, tapi pengantinnya dimana juga tidak jelas keberadaannya. Aku berjalan di belakang Pak Gin dan Sung Sun, sementara dokter Ukitake dengan sigap mengawalku di belakang. Seperti pangeran kerajaan rasanya! Ha! Ha! Ha!
Lalu Rukia?
Dia ada di sebelahku, karena aku tidak juga melepaskan tangannya. Dia tetap santai, seperti anak umur lima tahun yang takut hilang dari pengawasan orang tuanya.
Restoran GI Hotel tidak bisa aku sangkal lagi kelas mewahnya. Karena sekarang saja aku bisa melihat hiasan dan dekorasi ruangan yang sangat mewah. Meja dan kursi yang mereka tata sedemikian rupa dengan penerangan ruangan yang cenderung romantis, padahal jelas-jelas ini masih siang terang bolong.
"Selamat datang Pak Direktur, meja yang Anda pesan ada sudah kami siapkan. Silahkan!" seorang pria dengan jas hitam dan berdasi rapi menghampiri kami dengan senyum lebar dan tundukan kepala penuh hormat, bicara pada Pak Gin dan mengangkat tangan pada kami untuk mengikutinya.
Sepertinya meja kami berada di tengah kumpulan kursi dan meja, aku sendiri heran, kenapa memilih tempat di tengah seperti ini. Biasanya kan kalau kelas konglomerat seperti Pak Gin seharusnya mengambil tempat untuk VIP, tapi ini malah di tengah-tengah keramaian. Pandangan orang-orang langsung jatuh pada kami berlima, dan tidak perlu aku perjelas lagi siapa yang sebenarnya sangat menarik perhatian mereka. Wajah Rukia yang pucat dengan banyak bekas luka adalah satu-satunya yang paling mencolok dari jajaran wajah rapi, tampan dan cantik kami.
Pak Gin menarik kursi untuk Sung Sun, dan aku meniru tindakannya, karena kurang lebih Sung Sun mengajarkanku untuk meniru tindakan seorang gentlemen seperti Pak Gin. Namun baru saja aku membidik kursi yang akan aku tarik, Rukia menghentakkan tanganku secepat kilat, sontak aku kaget dan langsung melihat kearahnya. Apa yang salah sih?
"Selamat siang, Pak Direktur!"
"Ah, Grimmjow... Apa kabar?"
Mata Rukia seperti akan melompat keluar dari tempatnya, namun ia masih bisa tenang dengan pandangan terpusat pada sosok serba biru yang berjarak lima langkah darinya.
Tanganku terasa kosong, aku tidak menyangka Rukia akan menarik tangannya dariku begitu melihat pria serba biru tadi. Aku hanya tidak habis pikir kalau perempuan itu bisa-bisanya menarik tangannya dariku demi untuk menghindari pandangan salah sangka dari pria bernama Grimmjow. Aku tahu dia pernah menyukai pria itu, tapi apa dia belum cukup terluka? Bukannya dia sendiri yang bilang tidak bisa memaafkan pria yang sudah menyakitinya? Cih! Perempuan memang memiliki dua mata pedang, makanya aku tidak pernah bisa mengerti perempuan. Hati perempuan rumit! Apa yang ditunjukkan mereka secara harfiah tidak bisa diasumsikan dengan arti yang sama.
"Baik, Pak! Anda akan makan si-" Bola mata berwarna biru itu menangkap sosok Rukia cepat, dan dia mengulang apa yang dilakukan Rukia, membelalakkan mata dan parahnya ia seperti hampir meneriakkan nama Rukia, tapi kemudian Rukia menunduk dalam, seolah menyembunyikan wajahnya dari Grimmjow.
Pria tinggi besar itu mengambil tiga langkah besar yang langsung mengantarkannya pada Rukia.
"Kau benar Rukia kan? Aku tidak salah!"
Rukia mendongakkan wajahnya perlahan, matanya sedingin puncak gunung Himalaya. Dia bahkan memasang wajah kaku tidak berekspresi. Grimmjow cukup tercengang sepertinya, karena pria brengsek itu sempat mengeluarkan suara mendesis pelan.
"Selamat siang, Grimmjow Jeagerjaquez. Lama tidak bertemu!" Rukia mengulurkan tangan, terlihat sangat santai namun juga kaku di saat bersamaan.
Tangan besar (yang harus kuakui terlihat berotot sekalipun berada dalam balutan jas) milik Grimmjow bergerak pelan hendak meraih tangan Rukia. Kaku dan enggan menyambut Rukia. Mungkin sikap Rukia persis seperti seorang teman yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya, sekalipun dari mulutnya terlontar kalimat 'lama tidak bertemu' sebelumnya.
"Bagaimana kabarmu?" gumam Grimmjow dengan suara purau, sorot matanya melemah saat menelusuri tiap lekuk di wajah Rukia. Terlihat jelas ia tengah mengabsen satu demi satu bekas luka di wajah Rukia. Tanpa make up apapun, wajah Rukia akan terlihat jelas seperti wajah yang telah dirusak dengan sengaja, sekalipun harus aku benarkan juga kalau Rukia melakukan semua tindakan menyakiti dirinya sendiri dengan sengaja.
"Seperti yang Anda lihat." Rukia sangat pintar menujukkan sifat seorang aktris profesional, wajahnya kaku dan tidak terganggu sedikitpun dengan kecemasan diseluruh bahasa tubuh Grimmjow.
"Jadi kalian saling mengenal sejak lama?" Pak Gin mencicit dengan seringai lebar, terlihat lebih senang dari yang seharusnya.
"Kami teman kuliah, Pak Direktur," jawab si Biru dengan nada suara senang sekaligus bangga, membuat seluruh organ dalam perutku bergolak.
Bisa-bisanya dia berkata dengan gembiranya, padahal dulu dia yang membuang Rukia, kan?
Aku bisa melihat sudut bibir Pak Gin tertarik jauh lebih lebar hingga seperti wajahnya terbelah senyumnya sendiri. Dia memandang, entah dia memandang atau tidak karena aku tidak bisa melihat arah bola matanya, tapi yang pasti ia melihat Rukia dan Grimmjow nan biru itu bergantian, sepertinya sangat senang mendapati kenyataan bahwa Rukia adalah teman Grimmjow. Tapi apa sih hubungannya Grimmjow dengan Pak Gin? Caranya memanggil Gin akrab sekali. Pak Direktur, seperti dia adalah karyawan pria konglomerat ini saja.
"Wah, kebetulan yang tidak disangka-sangka. Kenapa kau tidak pernah cerita, Grimm?" kejar Pak Gin.
Grimmjow masih menunjukkan wajah senangnya, namun sekarang ditambah semu merah malu. Cih! Dia pikir ini komik anak perempuan yang perlu ada adegan dimana sang karakter utama perlu menunjukkan wajah malu-malu begitu? Bikin perut kosongku makin minta diisi saja!
"Aku tidak enak cerita dengan Anda, karena waktu itu Anda sangat sibuk." Grimmjow kembali menoleh pada Rukia, kelegaan tergambar jelas di wajahnya.
"Kau tidak perlu sungkan seperti itu, Grimm. Kau keponakanku, sudah seharusnya cerita pada pamanmu, kan?" sahut Pak Gin lagi.
Tunggu dulu!
Dia bilang apa tadi? Keponakan? Yang benar saja?!
Rukia menoleh padaku, wajahnya kaku, sementara alisnya tertaut begitu dalam, seolah ia juga tidak pernah mengetahui kenyataan ini. Kukira tadinya dia hanya pura-pura santai dan tidak bersalah, tapi ternyata dia sama bodohnya denganku. Pantas saja tempo hari kami bertemu dengan si Biru ini di lobby hotel. Apa dunia harus sesempit ini?
"Maaf sebelumnya, Pak Direktur, tapi aku tidak ingin menggunakan sapaan keluarga di tempat kerja sebagai bagian dari profesionalisme."
Anjrit! Ini orang dari tadi kerjanya cuma pamer ya? Pertama wajah senang karena bertemu Rukia, lalu tersipu, dan sekarang dia menunjukkan bahwa ia adalah anggota keluarga yang baik dan tidak suka bergantung pada status keluarga. Ingin mendapat pujian tinggi-tinggi rupanya dia!
Bermuka dua! Atau malah dia sudah punya tiga muka? Karena dalam satu waktu dia sudah bisa menunjukkan tiga jenis wajah.
"Ichigo!"
Suara ceria dari belakangku membuyarkan konsentrasiku yang tengah menonton drama kacangan dengan Rukia dan Grimmjow serta Pak Gin yang jadi bintang utamanya. Suara ceria yang sangat kukenali itu membuat seluruh sendi dalam diriku berteriak sakit. Siapa lagi wanita yang bisa aku temui ditempat semewah ini? Tidak mungkin Nell, kan? Kalau sampai Nell ada di hotel semewah ini, lalu siapa yang menjaga tokonya?
"Kenapa kau bisa di sini? Kau bahkan terlihat... "
Lebih tampan
Aku tahu dia akan berkata seperti itu. Siapa yang tidak terpesona dengan penampilanku saat ini, bahkan artis sekelas bintang Hollywood saja pasti kalah.
"Wah, wah, ada Nona Orihime. Beruntung sekali kita hari ini," seru Pak Gin. "Mari gabung dengan kami. Kita makan siang bersama," kata Pak Gin menawarkan, dan aku tidak sempat mencegah bencana ini terjadi, karena kemudian Orihime melompat kegirangan mengiyakan tawaran Pak Gin. Ini benar-benar akan menjadi makan siang yang buruk.
Sudah ada Grimmjow yang jelas-jelas menjadi sumber masalah Rukia, masih lagi ditambah kedatangan Orihime yang pastinya akan memperkeruh suasana.
Akan jadi seperti apa makan siang ini. Padahal aku sudah lapar bukan main! Sial! Sial! Sial!
.
.
.
To Be Continued
.
.
Maybe it's too late, but...
Don't forget to review.
Thanks a lot, especially for bathroom. concert
Sorry for typos & bad grammar
Xx - - Brainless - - xX
January 31, 2013
