.
.
.
Big SORRY buat Typo's yang merajalela!
.
.
.
"Aku terlambat. Dan aku tak pernah terlambat. Untuk pertama yang lainnya,Tuan Oh." Jongin memakai jaketnya kemudian menunduk dan tangannya mencengkeram di kedua sisi kepalaku.
"Minggu," katanya, dan kata tersebut tersirat janji yang tak terucapkan. Ada sesuatu yang menarik-narik didalam tubuhku kemudian mencengkeram mengharapkan kenikmatan, perasaan yang sangat bahagia. Sialan, jika saja pikiranku bisa mengimbangi tubuhku.
Jongin membungkuk dan menciumku dengan cepat. Dia mengambil barang-barangnya dari meja sampingku dan sepatu yang tidak ia pakai.
"Taylor akan datang dan menjualkan Beetle-mu. Aku serius. Jangan mengendarainya. Sampai ketemu lagi ditempatku pada hari Minggu. Aku akan mengirimkan email padamu nanti." Dan Jongin pergi seperti angin badai.
Oh, Kim Jongin menghabiskan malam denganku, dan aku merasa tenang. Tidak ada seks, hanya berpelukan. Jongin bilang dia tak pernah tidur dengan seseorang - tapi dia tiga kali tidur denganku. Aku menyeringai dan perlahan keluar dari tempat tidur.
Aku merasa lebih optimis dibandingkan hari-hari kemarin. Aku berjalan menuju dapur, butuh secangkir teh. Setelah sarapan, aku mandi dan berpakaian dengan cepat untuk hari terakhirku di toko Clayton. Ini adalah hari terakhir, saat aku akan mengucapkan selamat tinggal pada Mr. & Mrs. Clayton, WSU, Vancouver, apartemen, Beetle-ku. Aku melirik sekilas ke laptop – sekarang baru jam 7:52. Aku masih punya waktu.
Dari: Oh Sehun
Perihal: Kekerasan dan Pemukulan: Pengaruh sesudahnya
Tanggal: 27 Mei 2011 08:05
Untuk: Kim Jongin
Dear
Kau ingin tahu mengapa aku merasa bingung terhadapmu – ungkapan yang mana yang harus kita terapkan – Memukul pantat, memberi hukuman, memukul, menganiayaku. Nah selama proses yang menakutkan itu secara keseluruhan aku merasa terhina, direndahkan dan dilecehkan. Dan membuatku malu, Kau benar, aku terangsang, dan itu sungguh kejadian yang tak terduga. Seperti yang kau ketahui, segala sesuatu mengenai seksual merupakan hal baru bagiku – aku cuma berharap aku lebih berpengalaman sehingga aku bisa lebih siap. Aku terkejut merasa terangsang setiap kau melakukannya.
Yang membuatku khawatir adalah bagaimana aku merasakan sesudahnya. Dan itu lebih sulit untuk diungkapkan. Aku senang bahwa kau juga merasa senang. Aku merasa lega bahwa rasanya tak menyakitkan seperti yang ku pikir. Dan saat aku berbaring dalam pelukanmu, aku merasa - senang. Tapi aku merasa sangat tak nyaman, bahkan bersalah, merasa seperti itu. Itu membuatku sulit menerimanya dengan baik, dan aku bingung setelah semua ini terjadi.
Apa ini bisa menjawab pertanyaanmu?
Aku harap dunia Merger dan Akuisisi adalah menarik seperti biasanya...dan kau tak terlalu terlambat.
Terima kasih sudah menginap bersamaku.
Sehun.
Dari: Kim Jongin
Perihal: Bebaskan Pikiranmu
Tanggal: 27 Mei 2011 08:24
Untuk: Oh Sehun
Menarik ... tapi sedikit berlebihan pada judulnya Tuan Oh.
Untuk menjawab maksudmu:
• Aku akan memukul pantat - saat harus dilakukan.
• Jadi, kau merasa terhina, direndahkan dan dilecehkan & teraniaya - bagaimana kau bisa sebagai Tess Durbeyfield. Aku percaya bahwa kaulah yang memutuskan kehinaan itu jika aku ingat dengan benar. Apa kau benar-benar merasa seperti itu atau kau berpikir bahwa kau seharusnya harus merasa seperti itu?
Dua hal yang sangat berbeda. Jika itu bagaimana perasaanmu, apa kau pikir kau hanya bisa mencoba dan merangkul perasaan ini, untukku, kau setuju dengan itu semua? Seperti submisif lakukan.
• Aku bersyukur karena kau tak berpengalamanmu. Aku menghargai itu, dan aku hanya mulai memahami apa artinya itu. Sederhananya ... itu berarti
bahwa kau adalah milikku dalam segala hal.
• Ya, kau terangsang, dan itu terlihat sangat menggairahkan, tak ada yang salah dengan itu.
• Senang rasanya meskipun awalnya tak mencakup apa yang kurasakan. Luar biasa rasa senangnya.
• Hukuman pukulan pantat jauh lebih menyakitkan daripada memukul pantat secara sensual – jadi itulah yang paling keras yang bisa diberikan, kecuali tentu saja kau melakukan beberapa pelanggaran besar, dalam hal ini aku akan menggunakan beberapa alat untuk menghukummu. Tanganku sangat sakit. Tapi aku suka itu.
• Aku merasa puas juga - lebih daripada yang kau bisa tahu.
• Jangan buang energimu dengan rasa bersalah, merasa melakukan tindakan yang salah dll, Kita orang dewasa yang sama-sama mau dan apa yang kita lakukan ada di balik pintu tertutup antara diri kita sendiri. Kau perlu membebaskan pikiranmu dan mendengarkan tubuhmu.
• Dunia M & A tak bisa mendekati dirimu Tuan Oh dalam hal merangsangnya.
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc
Sialan ... memilikiku dalam segala cara. Napasku tersentak.
Dari: Oh Sehun
Perihal: Orang dewasa yang sama-sama mau!
Tanggal: 27 Mei 2011 08:26
Untuk: Kim Jongin
Bukankah kau sedang rapat?
Aku sangat senang tanganmu sakit.
Dan jika aku mendengarkan apa yang diinginkan tubuhku, aku akan pergi kekorea sekarang.
Sehun
PS: Aku akan berpikir tentang menerima perasaan ini.
Dari: Kim Jongin
Perihal: Kamu Tidak akan berani memanggil Polisi
Tanggal: 27 Mei 2011 08:35
Untuk: Oh Sehun
Tuan Oh.
Aku sedang rapat membahas pasar berjangka jika kau benar-benar tertarik.
Sebagai catatan - Kau berdiri di sampingku untuk mengetahui apa yang akan aku lakukan. Kau tidak memintaku untuk berhenti - kau tidak menggunakan salah satu kata aman.
Kamu seorang yang dewasa – Kau punya pilihan.
Sejujurnya, aku tak sabar untuk menantikan waktu berikutnya saat telapak tanganku bergetar dengan rasa sakit.
Kau jelas tidak merasakan dengan baik bagian yang tepat pada tubuhmu.
Korea sangat dingin saat ini dan tak ada tempat untuk lari.
Aku akan menemukanmu.
Aku bisa melacak ponselmu - ingat?
Segera berangkat kerja.
Kim Jongin.
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc
Aku cemberut menatap layar. Jongin benar tentu saja. Itu pilihanku. Hmm. Apa Jongin serius akan menemukanku, haruskah aku memutuskan melarikan diri untuk sementara waktu? Pikiranku melayang sebentar tentang tawaran Ibuku. Aku mengirim balasan.
Dari: Oh Sehun
Perihal: Penguntit
Tanggal: 27 Mei 2011 08:36
Untuk: Kim Jongin
Apa kau sudah mencari terapi pada kecenderungan penyakit menguntitmu?
Sehun
Dari: Kim Jongin
Perihal: Penguntit? Aku?
Tanggal: 27 Mei 2011 08:38
Untuk: Oh Sehun
Aku sudah membayar Dr. Flynn yang terkenal dengan sedikit uang yang berkaitan dengan masalah penguntit dan kecenderunganku yang lain.
Segera berangkat kerja.
Kim Jongin.
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc
Dari: Oh Sehun
Perihal: Tukang Obat yang Mahal
Tanggal: 27 Mei 2011 08:40
Untuk: Kim Jongin
Perkenankan dengan rendah hati aku menyarankan kau mencari pendapat kedua?
Aku tak yakin bahwa Dr. Flynn sangat efektif.
Sehun.
Dari: Kim Jongin
Perihal: Pendapat Kedua
Tanggal: 27 Mei 2011 08:43
Untuk: Oh Sehun
Bukan berarti itu urusanmu, rendah hati atau sebaliknya, tapi Dr. Flynn adalah pendapat kedua.
Kau akan membawa kencang mobil barumu, menempatkan dirimu sendiri pada risiko yang tak perlu – aku pikir itu melanggar peraturan.
SEGERA BERANGKAT KERJA.
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc
Dari: Oh Sehun
Perihal: TERIAKAN DENGAN HURUF BESAR
Tanggal: 27 Mei 2011 08:47
Untuk: Kim Jongin
Aku sebagai objek kecenderungan menguntitku - aku rasa ini adalah urusanku sebenarnya.
Aku belum menandatangani. Jadi rules schmules (melupakan semua aturan). Dan aku belum mulai bekerja sampai jam 9:30.
Sehun.
Dari: Kim Jongin
Perihal: Deskripsi Linguistik
Tanggal: 27 Mei 2011 08:49
Untuk: Oh Sehun
Schmules? Tak yakin kata itu ada di dalam Kamus Webster
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc
Dari: Oh Sehun
Perihal: Deskripsi Linguistik
Tanggal: 27 Mei 2011 08:52
Untuk: Kim Jongin
Ini antara gila kontrol dan penguntit. Dan Deskripsi Linguistik adalah batasan keras untukku. Bisakah kau berhenti menggangguku sekarang?
Aku ingin berangkat kerja dengan mobil baruku.
Sehun.
Dari: Kim Jongin
Perihal: Pria muda penuh tantangan tapi lucu
Tanggal: 27 Mei 2011 08:56
Untuk: Oh Sehun
Tanganku mulai berkedut.
Mengemudilah dengan aman Tuan Oh.
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc
Audi sangat menyenangkan untuk dikendarai. Memiliki power steering. Wanda, Beetle-ku, tak memiliki kekuatan seperti ini sama sekali dan dimanapun, jadi lah raga harianku yang dimana mengendarai itu adalah mengemudikan Beetle-ku kini sudah berakhir. Oh, tapi aku akan memiliki seorang pelatih pribadi sehubungan dengan semua aturan Jongin. Aku mengerutkan kening. Aku benci berolahraga.
Saat mengemudi, aku mencoba dan menganalisa komunikasi kami lewat email tadi. Jongin kadang kala seperti anak perempuan jalang yang terlalu menggurui. Kemudian aku berpikir tentang Nana dan aku merasa bersalah. Tapi tentu saja, dia bukan ibu kandungnya. Hmm... Dia tidak mengetahui hidupnya penuh dengan penderitaan. Yah, anak perempuan jalang yang terlalu menggurui cocok untuknya. Ya.
Aku seseorang yang dewasa, terima kasih untuk mengingatkanku, Kim Jongin, dan ini adalah pilihanku. Masalahnya adalah, aku hanya ingin Jongin, tidak semua ... beban emosional masa lalunya – dan benar sekarang dia punya beban bawaan setara pesawat boing 747. Bisakah aku hanya berbaring dan menerimanya? Layaknya seorang submisif? Aku sudah mengatakan aku akan mencoba. Ini adalah pertanyaan yang sangat besar.
Aku berhenti di tempat parkir di toko Clayton. Saat aku berjalan, Aku hampir tak percaya ini hari terakhirku bekerja. Untungnya, toko sangat sibuk dan waktu berlalu dengan cepat. Pada waktu makan siang, memanggilku dari gudang. Dia berdiri di samping seorang kurir sepeda motor.
"Sehun?" Tanya kurir. Aku mengerutkan kening bertanya pada Mr. Clayton, yang mengangkat bahu, sama bingungnya sepertiku. Hatiku tenggelam. Apa yang Jongin kirimkan untukku sekarang?
Aku menandatangani paket kecil dan membukanya langsung. Ini sebuah handphone. Hatiku tenggelam lebih lanjut. Aku aktifkan.
Dari: Kim Jongin
Perihal: TENTANG PINJAMAN Handphone
Tanggal: 27 Mei 2011 11:15
Untuk: Oh Sehun
Aku perlu untuk bisa menghubungimu setiap saat, dan karena ini adalah bentuk komunikasi yang paling jujur, aku pikir kau perlu handphone.
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc
Dari: Oh Sehun
Perihal: Konsumerisme Bertambah Gila
Tanggal: 27 Mei 2011 13:22
Untuk: Kim Jongin
Aku pikir kau perlu menelepon Dr. Flynn sekarang.
Kecenderungan menguntitmu bertambah liar.
Aku ditempat kerja. Aku akan mengirimkan email saat aku sudah tiba dirumah.
Terima kasih atas gadget lain.
Aku tak salah saat aku mengatakan kau menjadi pelanggan tertinggi.
Mengapa kau melakukan ini?
Sehun.
Dari: Kim Jongin
Perihal: Kecerdasan dari seseorang yang begitu muda
Tanggal: 27 Mei 2011 13:24
Untuk: Oh Sehun
Ide bagus tersampaikan dengan baik, seperti biasa Tuan Oh.
Dr. Flynn sedang berlibur. Dan aku melakukan ini karena aku bisa.
Kim Jongin.
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc
Aku meletakkan handphone yang kubenci di saku belakangku. Berkirim Email dengan Jongin membuat kecanduan, aku seharusnya bekerja. Suara dengungan berbunyi dibelakangku ... bagaimana tepatnya, aku berpikir dengan ironisnya, tapi mengingat semua itu adalah keinginanku, aku mengabaikannya.
Pukul empat, Mr. dan Mrs. Clayton mengumpulkan semua karyawan lain di toko, dan selama pidato yang memalukan dia memberiku cek sebesar tiga ratus dolar. Pada momen itu, tiga minggu dari – ujian, wisuda, milyarder yang kacau, hilangnya keperjakaan, batas keras & lunak, ruang bermain bukan untuk hiburan, naik helikopter - dan fakta bahwa aku akan pindah
besok, semua berkumpul dalam diriku. Hebatnya, aku menjalani semua ini sendiri. Bawah sadarku kagum. Aku memeluk keluarga Clayton dengan tegar. Mereka majikan yang baik dan yang murah hati, dan aku akan merindukan mereka.
-oOOo-
Baekhyun turun dari mobilnya saat aku tiba di rumah.
"Apa itu?" Katanya dengan nada menuduh, menunjuk pada mobil Audi. Aku tak bisa mengelak.
"Ini mobil," aku mencoba bercanda. Baekhyun menyipitkan matanya, dan untuk sesaat, aku ingin tahu apa Baekhyun akan menempatkan aku dilututnya juga.
"Hadiah kelulusanku." Aku mencoba jujur dan bersikap acuh tak acuh.
Ya, aku mendapat mobil mahal yang diberikan padaku setiap hari. Mulutnya menganga.
"Dermawan sekali si Jongin, bajingan paling top, bukan?"
Aku mengangguk.
"Aku mencoba untuk tak menerimanya, tapi terus terang, hanya saja ini tak senilai dengan pertengkarannya."
Baekhyun mengatupkan bibirnya.
"Tak heran kau begitu kewalahan dengan orang seperti dia. Aku juga memperhatikan bahwa kemarin sepertinya dia menginap."
"Ya." Aku tersenyum dengan sendu.
"Apa kita sudah selesai mengemas?"
Aku mengangguk dan mengikuti Baekhyun masuk. Aku memeriksa email dari Jongin.
Dari: Kim Jongin
Perihal: Minggu
Tanggal: 27 Mei 2011 13:40
Untuk: Oh Sehun
Bisakah aku melihatmu hari Minggu jam 13:00?
Dokter akan datang ke Escala menemuimu jam 1:30.
Aku berangkat ke Seattle sekarang.
Aku berharap kepindahanmu berjalan dengan lancar, dan aku sangat menantikan hari Minggu.
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc
Astaga, Jongin bisa membahas seperti menginfokan cuaca. Aku memutuskan untuk membalas email-nya setelah kami selesai mengemas, Jongin bisa menyenangkan selama satu menit, kemudian Jongin bisa begitu formal dan kaku. Sulit untuk mengikutinya. Jujur saja, ini seperti mengirim email untuk karyawan. Aku memutar mataku dengan menantang, bergabung dengan Baekhyun untuk mengemas.
Baekhyun dan aku berada di dapur saat ada ketukan di pintu. Taylor berdiri di teras, terlihat rapi dengan setelan jasnya. Aku melihat jejak mantan tentara pada rambut cepaknya, tubuhnya langsing, dan tatapannya tenang.
"Tuan Oh," katanya. "Aku datang untuk mobil Anda."
"Oh ya, tentu saja. Masuklah, aku akan mengambil kunci."
Tentunya ini di luar panggilan tugasnya. Aku ingin tahu lagi apa gambaran pekerjaan Taylor. Aku memberikan kunci, dan kita berjalan tanpa bersuara bagiku rasanya tak nyaman - menuju Beetle warna biru muda. Aku membuka pintu dan mengeluarkan senter dari kotak sarung tangan. Itu saja. Aku tak memiliki barang pribadi lagi di dalam Wanda. Selamat tinggal, Wanda. Terima kasih. Aku membelai atap saat aku menutup pintu penumpang.
"Berapa lama anda bekerja untuk Mr. Kim?" Aku bertanya.
"Empat tahun, Tuan Oh."
Tiba-tiba, aku memiliki dorongan yang sangat kuat untuk menghujani dia dengan pertanyaan. Orang ini pasti tahu tentang Jongin, semua rahasianya. Tapi kemudian dia mungkin menandatangani perjanjian NDA. Aku melihat dengan gugup ke arahnya. Ekspresinya pendiam sama seperti Tuan Choi, dan aku jadi ramah padanya.
"Dia pria baik, Tuan Oh," katanya, dan dia tersenyum sedikit. Dia mengangguk sedikit padaku, lalu naik ke mobilku, dan mengendarai pergi.
Apartemen, Beetle, Clayton - semua berubah sekarang. Aku menggeleng saat aku masuk kembali ke dalam. Dan perubahan terbesar dari semua adalah Kim Jongin. Taylor berpikir dia orang yang baik. Dapatkah aku mempercayainya?
Jam delapan Kris bergabung dengan kami, membawa makanan China. Kami sudah selesai mengemas dan siap untuk pergi. Dia membawa beberapa botol bir, dan Baekhyun dan aku duduk di sofa sementara Kris bersila di lantai di antara kami. Kami menonton acara TV yang jelek, minum bir, saat malam mulai bertambah larut, pengaruh dari bir membuat kami bersenang-senang dengan seru sambil bernostalgia. Sudah empat tahun kami berteman baik.
Suasana antara Kris dan aku sudah kembali normal, percobaan ciumannya sudah terlupakan. Yah, dewa batinku berbaring di bawah karpet yang sudah disapu bersih, makan anggur dan menekan jari-jarinya, tak begitu sabar menunggu hari Minggu. Ada ketukan di pintu, dan hatiku melompat ke tenggorokan. Siapa?
Baekhyun menjawab orang yang mengetuk pintu dan hampir terjatuh dari kakinya saat melihat Suho. Dia langsung menangkapnya seperti gaya Hollywood bergerak cepat memeluk di dalam rumah seni Eropa. Jujur saja ... bisakah dilakukan di dalam kamar. Kris dan aku saling memandang. Aku terkejut pada kurang sopannya mereka.
"Bisakah kita keluar ke bar?" Aku meminta Kris, yang mengangguk panik.
Kami tak terlalu nyaman dengan kemesraan yang tak terkendali berlangsung di depan kami. Baekhyun mendongak memandangku, memerah dan bermata cerah.
"Kris dan aku akan minum." Aku memutar bola mata padanya. Ha! Aku masih bisa memutar bola mata pada waktuku sendiri.
"Oke," Baekhyun menyeringai.
"Hai Suho, bye Suho."
Suho mengedipkan mata hitam sipitnya padaku, Kris dan aku tertawa seperti remaja saat sudah berada di luar. Saat kami berjalan-jalan ke bar, aku menggenggam tangan Kris. Ya Tuhan, dia begitu sederhana - aku benar-benar tak menghargai itu sebelumnya.
"Kau masih mau datang ke pembukaan acaraku, kan?"
"Tentu saja, Kris, kapan?"
"9 Juni."
"Hari apa?" Aku tiba-tiba panik.
"Hari Kamis."
"Ya aku akan datang ... dan kau akan mengunjungi kami di Seattle?"
"Coba untuk menghentikanku." Kris menyeringai.
Sudah larut malam saat aku tiba kembali dari bar. Baekhyun dan Suho tak terlihat tapi suara mereka bisa kedengaran. Sialan. Aku harap suaraku tak keras.
Aku tahu Jongin tidak sebising itu. Mukaku memerah memikiran itu dan masuk ke kamarku. Setelah pelukan singkat - agak canggung mengucapkan terima atas semua kebaikan,Kris pergi. Aku tak tahu kapan aku akan melihatnya lagi, mungkin acara pameran fotonya, dan sekali lagi, aku kagum bahwa akhirnya dia bisa mengelar sebuah pameran. Aku akan merindukannya dan pesona kekanak-kanakannya. Aku tak tega untuk bercerita tentang Beetle, aku tahu dia akan sakit hati saat dia tahu, dan aku hanya bisa menangani seorang pria saja pada satu saat. Setelah di kamar, aku memeriksa laptop, dan tentu saja, ada email dari Jongin.
Dari: Kim Jongin
Perihal: Dimana kamu?
Tanggal: 27 Mei 2011 22:14
Untuk: Oh Sehun
'Aku di tempat kerja. Aku akan mengirimkan email saat aku sudah tiba dirumah. '
Apa kau masih di tempat kerja atau kau sudah mengemas ponsel dan MacBookmu?
Telepon aku, atau mungkin aku terpaksa untuk menelepon Suho.
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc
Ya Ampun ... Kris ... sial.
Aku ambil teleponku. Lima panggilan tak terjawab dan satu pesan suara. Untuk sementara, aku mendengarkan pesan. Ini dari Jongin.
'Aku pikir kau harus belajar bagaimana mengerti harapanku. Aku bukan pria yang sabar. Jika kau mengatakan kau akan menghubungiku setelah selesai bekerja, maka kau harus punya kesopanan untuk melakukannya. Jika tidak, aku khawatir, dan itu bukan perasaan yang aku biasa rasakan, dan aku tidak sabar menghadapi dengan aku.'
Dua kali sial. Apakah Jongin pernah memberiku istirahat? Aku cemberut di telepon. Jongin membuatku sesak nafas. Dengan ketakutan mendalam yang menarik lurus didalam perutku, aku menekan nomornya.
Jantung seperti ada di dalam mulutku saat aku menunggu Jongin menjawab. Dia mungkin ingin menundukkan tujuh nuansa warna sialan keluar dariku. Pikiran itu membuatku tertekan.
"Hai," katanya lembut, dan responnya mengagetkanku karena aku mengharapkan kemarahannya, tapi jika ada, sepertinya dia terdengar lega.
"Hai," gumamku.
"Aku mengkhawatirkanmu."
"Aku tahu. Maaf aku tak menjawab, tapi aku baik-baik saja."
Jongin berhenti sejenak.
"Apakah kau memiliki malam yang menyenangkan?"
Tanyanya riang dan sopan.
"Ya. Kami telah selesai mengemas, Baekhyun dan aku berbagi makanan Cina yang dibelikan Kris." Aku memejamkan mata erat-erat saat aku menyebutkan nama Kris itu. Jongin tak mengatakan apapun.
"Bagaimana denganmu?" Aku bertanya untuk mengisi pembicaraan yang tiba-tiba diam. Aku tak akan membiarkan Jongin marah padaku tentang Kris.
Akhirnya, Jongin mendesah.
"Aku pergi makan malam acara penggalangan dana. Acaranya sangat membosankan. Aku pergi sesegera mungkin."
Jongin terdengar sangat sedih dan pasrah. Hatiku mencengkram. Aku membayangkan dia malam-malam yang lalu duduk di depan piano di ruang keluarga yang besar dan memainkan musik melankolis begitu sedih yang tak tertahankan.
"Aku berharap kau ada di sini," bisikku, karena aku punya keinginan untuk menggenggamnya. Menenangkan Jongin. Meskipun Jongin tak akan membiarkanku. Aku ingin kedekatan darinya.
"Apa kau menginginkannya?" Gumamnya dengan lembut. Sialan. Ini tak terdengar seperti Jongin, dan kulit kepalaku seperti ditusuk-tusuk dengan munculnya ketakutan.
"Ya," aku menarik napas. Setelah diam agak lama, Jongin mendesah.
"Sampai bertemu hari Minggu?"
"Ya, hari Minggu," bisikku, dan gairah terprogram disekujur tubuhku.
"Selamat malam."
"Selamat malam, Sir."
Panggilanku mengejutkannya, aku bisa tahu dari suara pengambilan napasnya yang tajam.
"Semoga kepindahanmu besok lancar, Sehun."
Suaranya lembut. Dan kami berdua menelepon seperti remaja, tak ingin menutup telepon.
"Tutup teleponnya," bisikku. Akhirnya, aku merasakan senyumnya.
"Tidak, kau yang menutup telepon." Dan aku tahu Jongin menyeringai.
"Aku tak mau."
"Aku juga tidak."
"Apa kau marah padaku?"
"Ya."
"Apa kau masih marah?"
"Tidak"
"Jadi kau tak akan menghukumku?"
"Tidak. Ada saat dimana aku seperti seorang pria yang lain."
"Aku sudah menyadari."
"Kau bisa menutup telepon, Sehun."
"Apa kau benar-benar ingin aku menutupnya, Sir?"
"Pergilah ke tempat tidur,Hun."
"Ya, Sir."
Kami berdua diam di telepon.
"Pernahkah kau berpikir bahwa kau akan bisa melakukan apa yang kau katakan?" Jongin geli dan jengkel pada saat yang sama.
"Mungkin. Kita lihat saja setelah hari Minggu." Dan aku tekan 'end' di telepon.
-oOOo-
Suho berdiri dan mengagumi hasil karyanya. Dia telah berhasil menghubungkan kembali TV kita ke sistem satelit apartemen kami di daerah Pike Place Market. Baekhyun dan aku berbaring di sofa dengan cekikikan, terkesan oleh kehebatannya menggunakan bor listrik. TV Layar datar terlihat aneh menempel dinding bata dari gudang yang diubah jadi apartemen, tapi tidak diragukan aku akan terbiasa dengan itu.
"Lihat, sayang sangat mudah." Suho menyeringai senyum lebar tampak gigi putihnya pada Baekhyun, dan dia benar-benar hampir larut ke dalam sofa.
Aku memutar bola mataku pada mereka berdua.
"Aku ingin tinggal, sayang, tapi kakakku baru kembali dari Paris. Nanti malam diwajibkan datang untuk makan malam keluarga."
"Bisakah kau datang setelah itu?" Baekhyun mencoba menanyakan, serba lembut dan bukan seperti Baekhyun.
Aku berdiri dan berjalan ke dapur dengan berpura-pura membongkar salah satu peti kayu. Mereka ingin mendapatkan privasi.
"Aku akan melihat apa aku bisa melarikan diri," janjinya.
"Aku akan turun denganmu." Senyum Baekhyun.
"Sampai ketemu lagi, Sehun." Suho menyeringai.
"Sampai jumpa, Suho. Sampaikan salamku untuk Jongin."
"Hanya salam?" Alisnya naik penuh arti.
"Ya." Mukaku memerah.
Suho mengedipkan mata padaku, dan mukaku bertambah merah saat dia
mengikuti Baekhyun keluar dari apartemen. Suho sangat manis dan begitu berbeda dari Jongin. Dia hangat, terbuka, saling menyentuh dengan Baekhyun. Mereka hampir tak dapat menahan tangannya dari satu sama lain - jujur itu sangat memalukan - dan aku merasa iri.
Baekhyun kembali sekitar dua puluh menit kemudian dengan membawa pizza, dan kami duduk, dikelilingi oleh peti kayu, di ruang baru terbuka kami,makan langsung dari kotak. Ayah Baekhyun sudah membuat kami bangga. Apartemen ini tak luas, tapi cukup besar, tiga kamar tidur dan ruang tamu besar yang bisa langsung melihat Pike Place Market itu
sendiri.
Semua kokoh, lantai kayu, bata merah, dan bagian atas dapur adalah beton halus, sangat bermanfaat sekarang ini. Kami berdua menyukai tinggal di jantung kota. Pukul delapan kotak suara berbunyi. Baekhyun melompat -
dan jantungku melompat ke mulutku.
"Pengiriman, Tuan Byun, Tuan Oh."
Kekecewaan mengalir bebas dan tak terduga melalui pembuluh darahku. Ternyata bukan Jongin.
"Lantai kedua, apartemen dua."
Baekhyun menyuruh pemuda pengirim paket masuk, mulutnya menganga saat dia melihat Baekhyun, melihat jeans ketat, t-shirt, rambut sedikit acak-acakan. Dia punya pengaruh pada pria.
Pemuda itu memegang sebotol sampanye dengan balon berbentuk helikopter terpasang. Baekhyun memberinya senyum yang mempesona pada pemuda pengirim paket itu dan beralih membacakan kartunya padaku.
Semoga beruntung di rumah baru kalian, Kim Jongin.
Baekhyun menggeleng kepalanya tak setuju.
"Mengapa dia tak bisa hanya menulis 'dari Jongin'? Dan ada apa dengan balon helikopter yang aneh?"
"Charlie Tango."
"Apa?"
"Jongin mengajakku ke Seattle dengan menerbangkan sendiri helikopternya." Aku mengangkat bahu.
Baekhyun menatap ke arahku dengan mulut terbuka. Aku harus bilang - Aku suka kesempatan ini – Byun Baekhyun, diam dan tertegun, peristiwa itu begitu langka. Aku meluangkan waktu singkat yang langka untuk menikmatinya.
"Ya, Jongin memiliki helikopter, yang dia terbangkan sendiri," Aku mengatakan dengan bangga.
"Tentu saja brengsek kaya menjijikkan itu memiliki helikopter. Kenapa kau tak menceritakan padaku."
Baekhyun memberikan tatapan menuduh padaku, tapi dia tersenyum, menggelengkan kepala tak percaya?
"Aku banyak pikiran akhir-akhir ini."
Baekhyun mengerutkan kening.
"Apa kau akan baik-baik saja selama aku pergi?"
"Tentu saja." Jawabku meyakinkan. Kota Baru, tak ada pekerjaan ... dengan pacar yang gila.
"Apa kau memberinya alamat kita?
"Tidak, tapi menguntit adalah salah satu spesialisasinya." Aku termenung, terus terang.
Alis Baekhyun langsung menyambung.
"Entah bagaimana aku tak terkejut. Dia membuatku khawatir, Sehun. Setidaknya itu sampanye yang terbaik dan juga dingin."
Tentu saja, hanya Jongin yang bisa mengirim sampanye dingin atau menyuruh sekretarisnya untuk melakukannya ... atau mungkin Taylor. Kami membukanya kemudian menemukan cangkir teh kami – cangkir teh adalah barang terakhir waktu mengemas.
"Bollinger Grande Annee Rosé 1999, anggur bermutu tinggi." Aku tersenyum pada Baekhyun, dan kami tos dengan cangkir teh.
Aku bangun lebih awal pada hari Minggu pagi yang kelabu setelah semalam tidur nyenyak dan terjaga menatap peti-petiku. Kau harus benar-benar membongkar ini, bawah sadar mengomeliku, mengatupkan bibir seperti bibirnya makhluk harpy bersama-sama. Tidak... hari ini adalah hari yang
ku tunggu. Dewa batinku tak sabar, melompat dari satu kaki ke kaki yang lain. Mengantisipasi menggantung berat dan menakjubkan di atas kepalaku seperti awan badai gelap tropis. Kupu-kupu membanjiri perutku - dan juga lebih gelap, jasmani, menawan terasa sakit saat aku mencoba untuk membayangkan apa yang akan Jongin lakukan padaku ... dan tentu saja, aku harus menandatangani kontrak yang terkutuk atau apakah aku harus melakukan itu? Aku mendengar notif surat masuk dari laptop di lantai samping tempat tidurku.
Dari: Kim Jongin
Perihal: Hidupku dalam Hitungan
Tanggal: 29 Mei 2011 08:04
Untuk: Oh Sehun
Jika kau mengemudi kau memerlukan kode akses untuk garasi bawah tanah di Escala: 146963
Parkir di ceruk no 5 - itu salah satu milikku.
Kode untuk lift: 1880
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc
Dari: Oh Sehun
Perihal: Anggur yang sangat bagus
Tanggal: 29 Mei 2011 08:08
Untuk: Kim Jongin
Ya Sir. Sangat jelas.
Terima kasih atas sampanye dan balon Charlie Tango, yang sekarang terikat di tempat tidurku.
Sehun.
Dari: Kim Jongin
Perihal: Iri
Tanggal: 29 Mei 2011 08:11
Untuk: Oh Sehun
Sama-sama.
Jangan terlambat.
Beruntungnya Charlie Tango.
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc
Aku memutar bola mataku pada sikapnya yang sangat memerintah, tapi baris terakhir membuatku tersenyum. Aku berjalan menuju kamar mandi, bertanya-tanya apa Suho berhasil kembali tadi malam dan berusaha keras untuk mengendalikan kegelisahanku.
Aku bisa mengendarai Audi dengan sepatu hak tinggi! Tepat pukul 12:55, Aku sudah sampai di dalam garasi Escala di parkiran ceruk nomer lima. Seberapa besar parkiran yang dia miliki? SUV Audi ada, R8, dan dua Audi SUV yang lebih kecil ... hmm. Aku cek penampilanku sejenak. Ayo! Dewa batinku memegang pom pom di tangannya - dia berpenampilan seperti cheerleader.
Di cermin yang mengelilingi lift, aku memeriksa pakaianku, yah sebenarnya –kemeja milik Baekhyun lagi. Terakhir kali aku memakai ini, dia ingin mengupas dariku. Tubuhku menegang memikirkan itu.
Ya, perasaan itu hanya membuatku sangat senang, dan aku menarik napas. Aku memakai celana dalam yang Taylor beli untukku. Mukaku memerah memikirkan Rambut-Cepak berkeliaran di lorong Agen Intel atau di mana pun dia membelinya. Pintu membuka, dan aku menghadap lobi apartemen nomor satu. Taylor berdiri di pintu ganda saat aku melangkah keluar dari lift.
"Selamat siang, Tuan Oh," katanya.
"Oh tolong panggil aku, Sehun."
"Sehun," dia tersenyum.
"Mr. Kim sedang menunggu Anda."
Aku yakin dia menungguku.
Jongin duduk di sofa ruang tamunya membaca koran Minggu. Dia mendongak saat Taylor mengantarku ke ruang tamu. Ruangan ini persis seperti yang aku ingat - sudah seminggu penuh sejak aku berada di sini - tapi rasanya begitu lama.
Sebenarnya Jongin terlihat dingin dan tenang, dia terlihat sangat menyenangkan. Jongin memakai kemeja linen longgar putih dan celana jeans, tanpa sepatu atau kaus kaki. Rambutnya kusut dan tak disisir, dan mata hitamnya berbinar nakal padaku. Bentuk sangat tampan. Jongin berdiri dan berjalan ke arahku, tersenyum menilai agak geli terukir di bibirnya yang indah.
Aku berdiri bergerak ke pintu masuk ruangan, lumpuh karena keindahannya dan menunggu rasa manis apa yang akan terjadi. Aliran arus yang akrab ada diantara kami, memicu perlahan di dalam perutku, menarikku ke dalam dirinya.
"Hmm ... pakaian itu," gumamnya tanda setuju saat dia menatapku."Selamat datang kembali,Sehun,"
Jongin berbisik, dan menggenggam daguku, dia membungkuk dan memberikan ciuman lembut di bibirku. Sentuhan bibirnya pada bibirku bergema di seluruh tubuhku. Napasku sesak.
"Hai," bisikku saat mukaku memerah.
"Kau tepat waktu. Aku suka tepat waktu. Ayo." Jongin mengambil tanganku dan membawaku ke sofa.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu," katanya mengajak kami duduk.
Jongin mengulurkan Seattle Times. Pada halaman delapan, ada foto kami berdua bersama-sama saat upacara wisuda. Ya ampun. Aku dikoran. Aku cek judulnya.
Kim Jongin dan temannya saat upacara wisuda di WSU Vancouver.
Aku tertawa. "Jadi aku 'teman' mu sekarang."
"Karena sudah ditampilkan. Dan ada di koran, jadi itu pasti benar." Jongin menyeringai.
Duduk di sampingku, seluruh tubuhnya berbalik menghadapku, salah satu kakinya diselipkan dibawah kaki yang lain. Jongin mengusak pelan rambutku dengan tangannya. Tubuhku menjadi hidup karena sentuhannya, menunggu dan sangat membutuhkan.
"Jadi, Sehun, kau punya ide yang lebih baik denganku sejak terakhir kali kau di sini."
"Ya." Kemana arah pembicaraannya?
"Tapi kau kembali lagi."
Aku mengangguk malu-malu, dan mata hitamnya berkilau. Jongin menggelengkan kepalanya sedikit sepertinya dia bergumul dengan idenya.
"Apa kau sudah makan?" pertanyaannya mengalihkan pikiran.
Sial.
"Belum."
"Apa kau lapar?" Jongin benar-benar berusaha untuk tak terlihat kesal.
"Tidak untuk makanan," bisikku, dan reaksi cuping hidungnya bergerak sedikit bereaksi. Ia mencondongkan tubuh dan berbisik di telingaku.
"Kamu sangat bersemangat seperti biasa, Tuan Oh, dan hanya untuk memberitahu padamu aku juga sama dan ini menjadi rahasia kecil kita. Tapi Dr. Greene sebentar lagi akan datang." Jongin duduk tegak. "Aku berharap kau akan makan," tegurnya lembut.
Darah panasku mendingin. Sial - dokter. Aku sudah lupa.
"Apa yang bisa kau ceritakan tentang Dr. Greene?"
Aku bertanya untuk mengalihkan perhatian kita berdua.
"Dia dokter kandungan yang terbaik di Seattle. Apa lagi yang bisa aku katakan? "Jongin mengangkat bahu.
"Aku pikir aku menemui doktermu, dan jangan bilang kau benar-benar menginginkan seorang wanita, karena aku tak akan percaya. Aku ini pria!"
Jongin menatapku seperti berkata jangan-menjadi-konyol.
"Kurasa lebih tepat bahwa kau berkonsultasi dengan spesialis. Benar kan?" katanya lembut.
Aku mengangguk. Sialan, jika dia dokter spesialis kandungan terbaik, dan Jongin menjadwalkan menemuiku pada hari Minggu - saat makan siang! Aku tak bisa membayangkan berapa banyak biayanya. Jongin tiba-tiba mengerutkan kening seolah mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Sehun, malam ini ibuku mengundangmu untuk datang makan malam. Aku percaya Suho meminta Baekhyun untuk datang juga. Aku tak tahu bagaimana perasaanmu tentang itu. Akan menjadi aneh bagiku memperkenalkanmu pada keluargaku."
Aneh? Mengapa?
"Apakah kau malu karena aku?" Aku tak bisa menjaga hatiku merasa terluka keluar dari suaraku.
"Tentu saja tidak." Jongin memutar bola matanya ke arahku.
"Mengapa aneh?"
"Karena aku belum pernah melakukan sebelumnya."
"Mengapa kau boleh memutar bola matamu, dan aku tidak?"
Jongin berkedip padaku.
"Aku tak menyadarinya."
"Biasanya aku juga tidak," Aku membentaknya.
Jongin melotot padaku, terdiam. Taylor muncul diambang pintu. "Dr. Greene di sini, Sir."
"Tunjukkan padanya ke kamar Tuan Oh."
Kamar Tuan Oh!
"Siap untuk kontrasepsi tertentu?" Tanyanya saat berdiri dan mengulurkan tangannya padaku.
"Aku tidak akan memakai hal seperti itu,dan kau tidak akan ikut juga kan?" Aku terkesiap, terkejut.
Jongin tertawa.
"Aku membayarnya sangat mahal untuk menonton, percayalah, Sehun, tapi aku juga tidak berpikir dokter yang baik itu akan setuju dengan ide memakai kontrasepsi padamu."
Aku mengambil tangannya, dan Jongin menarikku ke dalam pelukannya dan menciumku dalam-dalam. Aku mencengkeram lengannya, terkejut. Tangannya ada di rambutku memegang kepalaku, dan Jongin menarikku menjauhinya, dahinya menempel dengan dahiku.
"Aku sangat senang kau di sini," bisiknya. "Aku tak sabar untuk melihatmu telanjang."
Dr. Greene tinggi, pirang, dan rapi, mengenakan setelan biru cerah. Aku teringat wanita yang bekerja di kantor Jongin. Dia persis seperti model - pirang Stepford yang lain. Rambut panjangnya disanggul elegan. Dia pasti berusia di awal empat puluhan.
"Mr. Kim." Dia menjabat tangan terulur Jongin.
"Terima kasih sudah datang dengan pemberitahuan yang mendadak," kata Jongin.
"Terima kasih telah menghargai waktuku, Mr. Kim. Mr. Oh." tersenyum. Matanya dingin dan menilai.
Kami berjabat tangan, dan aku tahu dia salah satu wanita yang tak mentolerir orang-orang bodoh dengan senang hati. Seperti Baekhyun. Aku menyukainya segera. Dia memberi Jongin tatapan tajam, dan setelah beberapa saat yang canggung, ia memahami isyaratnya.
"Aku akan ke lantai bawah," gumamnya, dan Jongin meninggalkan kita dikamar yang akan jadi kamar tidurku.
"Nah Tuan Oh. Mr. Kim tengah membayarku sedikit uang untuk menemuimu. Apa yang bisa aku lakukan untukmu?"
Setelah pemeriksaan menyeluruh dan diskusi panjang, Dr. Greene dan aku memutuskan menggunakan pil mini untuk kesehatanku. Dia menulis aku resep pra-bayar dan menginstruksikanku untuk mengambilnya besok. Aku suka sikap tanpa basa-basinya - ia telah menguliahiku sampai dia sebiru setelannya tentang meminumnya pada waktu yang sama setiap hari. Dan aku bisa bilang dia terbakar dengan rasa ingin tahunya tentang apa yang disebut hubunganku dengan Mr. Kim. Aku tak memberinya rincian.
Entah bagaimana aku pikir dia tak akan terlihat begitu tenang lagi dan terkendali jika dia melihat Red Room of Pain milik Jongin. Aku memerah saat kita melewati pintu tertutup dan menuju kembali ke lantai bawah ke galeri seni yang jadi ruang tamu Jongin.
Jongin sedang membaca, duduk di sofanya. Sebuah aria yang mempesona sedang diputar pada sistem musiknya, berputar-putar disekitarnya, menyelimuti dia, memenuhi ruangan dengan lagu, manis penuh perasaan.
Untuk beberapa saat, dia tamSir tenang. Dia berbalik dan melirik kita ketika kita masuk dan tersenyum hangat padaku.
"Apa kau sudah selesai?" Tanya Jongin seolah-olah dia benar-benar tertarik.
Jongin menunjuk remote pada kotak putih ramping di bawah perapian tempat iPod-nya ditaruh, dan melodi indah memudar tapi musik latarnya masih ada. Berdiri, ia berjalan ke arah kita.
"Ya, Mr. Kim. Jaga dia, dia pria muda menawan yang cerdas."
Jongin kaget - begitu juga aku. Satu hal yang tak pantas untuk seorang dokter katakan. Apakah dia memberinya semacam peringatan yang tak begitu halus? Jongin segera pulih.
"Aku sepenuhnya berniat melakukannya," gumamnya, bingung.
Menatap Jongin, aku mengangkat bahu, malu.
"Aku akan mengirimkan tagihanku," kata Dr. Greene singkat sambil menjabat tangannya.
"Selamat siang, dan semoga sukses untukmu, Sehun."
Dia tersenyum, matanya berkerut seperti yang dilakukannya ketika kita berjabat tangan. Taylor muncul entah dari mana untuk mengawal dia melalui pintu ganda dan keluar menuju lift. Bagaimana dia melakukannya? Dimana dia mengintai?
"Bagaimana itu?" Tanya Jongin.
"Baik, terima kasih. Dia mengatakan bahwa aku harus menjauhkan diri dari segala macam kegiatan seksual selama empat minggu ke depan."
Mulut Jongin menganga kaget, dan aku tak bisa menahan tawa lagi dan nyengir padanya seperti orang idiot.
"Gotcha!"
Jongin menyipitkan matanya, dan aku langsung berhenti tertawa. Bahkan, dia terlihat agak menakutkan. Oh sial. Bawah sadarku gemetar di sudut saat semua darah menghilang dari wajahku, dan aku membayangkan Jongin menempatkanku dilututnya lagi.
"Gotcha!" Katanya dan nyengir. Jongin meraih pinggangku dan menarikku kepadanya. "Kau tak bisa diperbaiki, Sehun," bisiknya, menatap ke mataku saat ia menjalin jari-jarinya ke rambutku, memegangku tetap di tempatnya. Jongin menciumku, keras, dan aku berpegang pada lengan berototnya untuk menjaga keseimbangan.
"Aku sangat ingin melakukannya denganmu di sini, sekarang, tapi kau perlu makan dan aku juga. Aku tak ingin kau pingsan denganku nanti," gumamnya di bibirku.
"apakah hanya itu yang kau inginkan dariku - tubuhku?" Bisikku.
"Tubuh dan mulut cerdasmu," Jongin bernafas.
Jongin menciumku lagi penuh gairah, dan kemudian tiba-tiba melepaskanku, mengambil tanganku dan membawaku ke dapur. Aku terguncang. Satu menit kita bercanda dan berikutnya ... aku mengipasi
wajahku yang panas. Jongin benar-benar menarik secara seksual, dan sekarang aku harus memulihkan keseimbanganku dan makan sesuatu. Aria masih mengiringi di latar belakang.
"Musik apa itu?"
"Villa Lobos, sebuah aria dari Brasileiras Bachianas. Bagus, kan?"
"Ya," bisikku setuju total.
Bar sarapan diatur untuk dua orang; Jongin mengambil mangkuk salad dari lemari es.
"Salad ayam caesar apa kau mau?"
Oh terima kasih langit, tidak terlalu berat.
"Ya, mau, terima kasih."
Aku menyaksikan ia bergerak dengan anggun didapurnya. Jongin begitu nyaman dengan tubuhnya pada satu saat, tapi kemudian Jongin tak suka disentuh... jadi mungkin dalam hati dia tak nyaman. Semua orang tergantung pada orang lain, aku merenung - kecuali mungkin Kim Jongin.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Jongin, menarikku dari lamunan. Aku memerah.
"Aku hanya menonton caramu bergerak."
Jongin mengangkat alis geli.
"Dan?" Katanya datar.
Aku memerah lagi.
"Kau sangat anggun."
"Wah, terima kasih, Tuan Oh," bisiknya. Jongin duduk di sampingku, memegang sebotol anggur.
"Chablis?"
"Boleh."
"Silakan makan saladnya," katanya, suaranya lembut.
"Katakan - metode apa yang kau pilih?"
Aku sejenak dikejutkan oleh pertanyaannya, ketika aku sadar ia berbicara tentang kunjungan Dr. Greene
"Pil mini."
Jongin mengernyit.
"Dan akan kau ingat untuk meminumnya secara teratur, pada saat yang benar, setiap hari?"
Astaga ... tentu saja aku akan meminumnya.
Bagaimana dia tahu? Aku malu memikirkan hal itu, mungkin dari satu atau lebih lima belas orang itu.
"Aku yakin kau akan mengingatkan aku," gumamku datar.
Jongin melirikku dengan keramahan geli.
"Aku akan menempatkan alarm pada kalenderku."
Jongin menyeringai. "Makan."
Ayam caesar-nya lezat. Yang mengejutkanku, aku kelaparan, dan untuk pertama kalinya sejak aku berada bersamanya, aku selesai makan sebelum Jongin. Anggurnya bersih, dan berasa buah.
"Bersemangat seperti biasa, Sehun?" Jongin tersenyum ke arah piring kosongku.
Aku menatapnya dari bawah bulu mataku. "Ya," bisikku.
Napasnya tersentak. Dan saat Jongin menatap ke arahku, aku merasakan suasana antara kami perlahanlahan bergeser, berkembang ... mengisi. Tatapannya berubah dari gelap jadi membara, membawaku bersamanya. Jongin berdiri, menutup jarak antara kami, dan menarikku dari kursi barku ke dalam pelukannya.
"Apakah kau ingin melakukan ini?" Jongin bernafas, menatapku tajam.
"Aku belum menandatangani apapun."
"Aku tahu - tapi aku melanggar semua aturan hari ini."
"Apakah kau akan memukulku?"
"Ya, tapi itu tak akan menyakitimu. Aku tak ingin menghukummu sekarang. Jika itu terjadi kemarin malam, yah, itu akan beda ceritanya."
Ya ampun. Dia ingin menyakitiku ... bagaimana caraku menangani hal ini? Aku tak bisa menyembunyikan kengerian di wajahku.
"Jangan biarkan orang mencoba dan meyakinkanmu sebaliknya,Sehun. Salah satu alasan orang seperti aku melakukan ini karena kita suka memberi dan atau menerima rasa sakit. Ini sangat sederhana. Kau tidak, jadi aku menghabiskan banyak waktu kemarin memikirkan hal itu."
Jongin menarikku kearahnya, dan ereksinya menekan ke dalam perutku. Aku harus lari, tapi aku tak bisa. Aku tertarik secara dalam padanya, hingga tingkat elemen, bahwa aku belum dapat memahaminya.
"Apakah kau sudah mendapat kesimpulan?" Bisikku.
"Belum, dan sekarang, aku hanya ingin mengikatmu dan bercinta denganmu habis-habisan. apakah kau siap untuk itu?"
"Ya," aku bernapas ketika segala sesuatu dalam tubuhku sekaligus mengencangkan... wow.
"Bagus. Ayo" Jongin mengambil tanganku dan, meninggalkan semua piring kotor di meja sarapan, dan kami menuju lantai atas.
Jantungku mulai berdebar-debar. Ini dia. Aku benar-benar akan melakukan ini. Dewa batinku berputar seperti putaran penari balet kelas dunia, berputar dan berputar lagi. Jongin membuka pintu ruang bermain, bergeser memberiku jalan masuk, dan aku sekali lagi di Red Room of Pain. Masih sama, bau kulit, buah jeruk, kayu gelap dan mengkilap, semua sangat sensual. Darahku mengalirkan rasa panas dan takut melalui sistemku - adrenalin bercampur dengan nafsu dan kerinduan. Ini adalah koktail kuat
yang memabukkan. Sikap Jongin telah berubah sepenuhnya, pelan-pelan berubah, lebih keras dan jahat. Jongin menatap ke arahku dan matanya panas, penuh nafsu ... menghipnotis.
"Ketika kau berada di sini, kau benar-benar milikku," Jongin bernafas, setiap kata lambat dan terukur.
"Melakukan apapun sesuai keinginanku. apakah kamu mengerti?"
Tatapannya begitu intens. Aku mengangguk, mulutku kering, hatiku berdebar kencang mencari jalan keluar dari dadaku.
"Lepas sepatumu," ia memerintahkan lembut.
Aku menelan ludah, dan dengan agak kikuk, aku melepaskannya. Jongin membungkuk dan mengambil mereka dan menaruhnya di samping pintu.
"Bagus. Jangan ragu ketika aku meminta kau untuk melakukan sesuatu. Sekarang aku akan melucutimu pakaian ini. Sesuatu yang aku ingin lakukan selama beberapa hari, jika aku ingat. Aku ingin kau merasa nyaman dengan tubuhmu,Sehun. kau memiliki tubuh yang indah, dan aku ingin melihatnya.
Ini adalah keindahan untuk dilihat. Bahkan, aku bisa menatapmu sepanjang hari, dan aku ingin kau tidak merasa malu akan ketelanjanganmu. apakah kamu mengerti?"
"Ya."
"Ya, apa?" Jongin membungkuk di atasku, melotot.
"Ya, Sir."
"Apa kau sungguh-sungguh?" Bentak Jongin.
"Ya, Sir."
"Bagus. Angkat lengan di atas kepalamu."
Aku melakukan sesuai petunjuknya, dan ia meraih ke bawah ujung kemejaku. Perlahan, ia membuka kancing kemejaku diatas perutku, dadaku. Jongin berdiri kembali untuk mengamatiku dan tanpa sadar melipat kemejaku, tak mengalihkan pandangan dariku. Jongin meletakkannya di lemari besar di samping pintu. Ia menarik daguku, sentuhannya membakarku.
"Kau menggigit bibirmu," Jongin bernafas. "Kau tahu apa pengaruhnya bagiku," tambahnya muram.
"Berbalik."
Aku berbalik dengan segera, tak ragu-ragu. Jongin berdiri di belakangku, begitu dekat hingga aku merasakan panas memancar darinya, memanaskanku, memanaskan seluruh tubuhku. Jongin menarik rambutku hingga aku harus mendongak dibuatnya , menggenggam rambut di atas kepalaku, dan memiringkan kepalaku ke satu sisi. Jongin menjalankan hidungnya di leherku yang terbuka, menghirup sepanjang leherku, kemudian kembali ketelingaku. Otot-otot perutku mengencang, berhasrat dan menginginkan. Astaga, Jongin hampir tak menyentuhku, dan aku menginginkan dia.
"Aromamu memabukkan seperti biasa, Sehun," bisik Jongin saat ia menempatkan ciuman lembut di bawah telingaku.
Aku mengerang.
"Tenang," Jongin bernafas. "Jangan mengeluarkan suara."
"Berbalik," perintahnya.
Aku lakukan seperti yang diperintahkan, pernapasanku dangkal, rasa takut dan kerinduan bercampur jadi satu. Ini adalah perpaduan yang memabukkan.
"Ketika aku meminta kau untuk datang ke sini, ini adalah caramu berpakaian. Hanya celana dalammu. Apakah kau mengerti?"
"Ya."
"Ya, apa?" Tatapnya marah padaku.
"Ya, Sir."
Sebuah jejak senyum terangkat di sudut mulutnya.
"Good Boy." Matanya membakar menembusku.
"Ketika aku meminta kau untuk masuk ke sini, aku mengharapkan kau untuk berlutut di sana." Jongin menunjuk ke sebuah tempat di samping pintu.
"Lakukan sekarang."
Aku berkedip mengolah kata-katanya, berbalik, dan agak kikuk berlutut seperti yang diarahkan.
"kau bisa duduk kembali di tumitmu." Aku duduk kembali.
"Tempatkan tangan dan lengan bawah rata diatas paha. Bagus. Sekarang buka lututmu. Lebih lebar. Lebih lebar lagi. Sempurna. Menatap ke bawah lantai."
Jongin mendekatiku, dan aku bisa melihat kaki dan tulang keringnya dalam bidang pandanganku. Kaki telanjang. Aku harus membuat catatan jika ia ingin aku mengingat. Jongin meraih ke bawah dan menggenggam anyaman rambutku lagi, kemudian menarik kepalaku kebelakang jadi aku menatap ke arahnya. Hanya saja tak menyakitkan.
"Apa kau akan ingat posisi ini,Sehun?"
"Ya, Sir."
"Bagus. Tetaplah di sini, jangan bergerak" Jongin meninggalkan ruangan.
Aku berlutut, menunggu. Kemana Jongin pergi? Apa yang akan Jongin lakukan padaku? Waktu berjalan. Aku tak tahu berapa lama Jongin membuatku seperti ini ...beberapa menit, lima, sepuluh? Napasku menjadi dangkal, antisipasi mengganyangku dari dalam dan luar.
Dan tiba-tiba Jongin kembali - dan sekaligus aku lebih tenang dan lebih terangsang pada saat yang sama. Bisakah aku menjadi lebih terangsang? Aku bisa melihat kakinya. Dia ganti celana jinsnya. Ini lebih tua, robek, lembut, dan terlalu sering dicuci. Ya ampun. Jins ini seksi. Jongin menutup pintu dan menggantung sesuatu di belakang.
"Good Boy,Sehun. Kau kelihatan menawan seperti itu. Bagus. Berdiri."
Aku berdiri, tapi wajahku tetap menunduk ke bawah.
"Kau boleh memandangku."
Aku mengintip ke arahnya, dan Jongin menatapku dengan penuh perhatian, menilai, tapi matanya melunak. Jongin melepas kemejanya. Ya ... aku ingin menyentuhnya. Kancing atas celana jinsnya sudah terbuka.
"Aku akan merantaimu sekarang, Sehun. Ulurkan tangan kananmu."
Aku mengulurkan tanganku. Ia membalikkan telapak tanganku sehingga menghadap keatas, dan tahu-tahu Jongin memukul telapak tanganku tepat ditengahnya dengan cambuk berkuda yang aku tak sadar ada ditangan kanannya. Ini terjadi sangat cepat mengejutkanku hingga nyaris tak terasa.
Bahkan lebih mencengangkan - itu tak menyakitkan. Yah, tidak terlalu, hanya sedikit sengatan.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Jongin.
Aku berkedip padanya, bingung.
"Jawab aku."
"Oke." Aku mengernyit.
"Jangan mengerutkan kening."
Aku berkedip dan mencoba untuk tenang. Aku berhasil.
"Apakah sakit?"
"Tidak"
"Ini tak akan terasa sakit. apakah kamu mengerti?"
"Ya." Suaraku tak pasti. Apakah ini benar-benar tak akan menyakitkan?
"Aku serius," katanya.
Astaga, napasku jadi begitu cepat. Apakah Jongin tahu apa yang kupikirkan? Jongin menunjukkanku cambuknya. Anyaman kulit berwarna coklat. Mataku tersentak bertemu dengan matanya, dan matanya
menyala dengan api dan sedikit geli.
"Kita bertujuan untuk menyenangkan,Tuan Oh," bisiknya. "Ayo."
Jongin menggamit sikuku dan memposisikan aku di bawah kisi-kisi. Jongin menggapai dan menarik turun beberapa belenggu dengan manset kulit hitam "Kisi-kisi ini dirancang sehingga belenggu bergerak di sepanjang kisi-kisi."
Aku melihat ke atas. Gila - ini seperti peta kereta bawah tanah.
"Kita akan mulai di sini, tapi aku ingin bercinta denganmu secara berdiri. Jadi kita akan berakhir pada dinding diatas sana" Jongin menunjuk dengan cambuk berkudanya ke tempat kayu besar berbentuk X di dinding.
"Angkat tangan ke atas kepala."
Aku segera menurut, merasa sepertinya aku keluar dari tubuhku - sebuah pengamatan awam dari peristiwa yang terungkap di sekitarku. Ini adalah di luar menarik, di luar erotis. Ini hal luar biasa yang paling menarik dan menakutkan yang pernah aku lakukan. Aku mempercayakan diriku kepada seorang pria tampan yang, menurut pengakuannya sendiri memiliki lima puluh nuansa kacau. Aku menekan getaran singkat ketakutanku. Baekhyun dan Suho, mereka tahu aku di sini.
Jongin berdiri sangat dekat saat ia mengikatkan borgol. Aku menatap dadanya. Kedekatannya adalah memabukkan. Tubuh Jongin beraroma sabun mandi dan aroma campuran memabukkan, dan menyeretku kembali ke dalam suasana saat ini. Aku ingin menjalankan hidung dan lidahku melalui dadanya. Aku bisa saja bersandar ke depan ...
Jongin melangkah mundur dan menatap ke arahku, ekspresinya berkabut, cabul, duniawi, dan aku tak berdaya, tanganku diikat, tapi hanya melihat wajah indahnya, membaca hasrat dan kerinduannya padaku, aku bisa merasakan kelembaban di antara kedua kakiku. Jongin berjalan perlahan mengelilingiku.
"Kau terlihat sangat indah terikat kuat seperti ini, Sehun. Dan mulut pintarmu, yang diam untuk saat ini. Aku suka itu."
Berdiri di depanku lagi, Jongin mengait jari-jarinya ke celana dalamku, dan dengan irama yang paling tak terburu-buru, menarik turun ke bawah kakiku, menelanjangiku dengan sangat lambat, hingga ia akhirnya berlutut didepanku. Tak melepaskan pandangan dariku, dia mengepal celana dalamku ditangannya, mengangkat ke depan hidungnya, dan menghirup dalam-dalam.
Ya ampun. Apa dia barusan melakukannya?
Jongin menyeringai nakal padaku dan menyelipkannya ke dalam saku celana jinsnya. Bangkit dari lantai dengan malas, seperti kucing hutan, ia menempelkan ujung dari cambuk berkuda dipusarku, dengan santai mengitarinya - menggodaku. Pada sentuhan kulit itu, aku gemetar dan terkesiap. Jongin berjalan berkeliling lagi, menyeret ujung cambuknya ditengah tubuhku. Pada putaran kedua, ia tiba-tiba menjentikkan cambuknya, dan menghantamku di bawah pantatku ... tepat dipenisku. Aku
berteriak kaget karena semua ujung sarafku berdiri dengan siaga. Aku menarik pengekangnya. Kejutan mengalir melaluiku, dan itu adalah perasaan paling manis, aneh, hedonistik.
"Tenang," bisiknya saat ia berjalan disekitarku lagi, cambuk sedikit lebih tinggi pada pertengahan tubuhku. Kali ini ketika dia menjentikkan lagi terhadapku ditempat yang sama, aku telah mengantisipasinya ... oh. Tubuhku mengejang pada gigitan manis yang menyengat.
Saat Jongin berjalan di sekitarku, dia menjentik lagi, kali ini memukul putingku, dan aku melemparkan kepalaku ke belakang saat ujung sarafku bernyanyi. Jongin memukul yang satunya ... hukuman manis yang singkat dan cepat. Putingku mengeras dan memanjang dari serangan itu, dan aku mengerang keras.
"Apa tadi terasa nikmat?" Jongin bernapas.
"Ya."
Jongin memukulku lagi dipantat. Cambuknya menyengat kali ini.
"Ya apa?"
"Ya, Sir," aku merintih.
Jongin lalu berhenti ... tapi aku tak bisa lagi melihatnya. Mataku terpejam saat aku mencoba untuk menyerap berbagai sensasi mengalir melalui tubuhku. Sangat perlahan, Jongin menghujani tubuhku dengan jilatan kecil dari cambuknya turun ke perutku, terus menuju ke bawah. Aku tahu dimana ini akan menuju, dan aku mencoba dan mempersiapkan jiwaku untuk itu - tapi ketika mengenai penisku, aku berteriak keras.
"Oh ... kumohon!" Erangku.
"Tenang," perintahnya, dan dia memukulku lagi di pantatku.
Aku tak mengira akan jadi seperti ini ... aku tersesat. Hilang di lautan sensasi. Dan tiba-tiba, Jongin menyeret cambuknya hingga ada di atas penisku.
"Lihat bagaimana penismu tegang karena ini, Sehun. Buka mata dan mulutmu."
Aku menurut apa yang Jongin bilang, benar-benar tergoda. Jongin mendorong ujung cambuk ke dalam mulutku, seperti mimpiku. Ya ampun.
"Lihat bagaimana milikmu rasanya. Hisap. sedot dengan kuat, sayang."
Mulutku melingkari sekitar cambuknya ketika mataku terkunci padanya. Aku bisa merasakan kulit dan asinnya gairahku. Matanya menyala. Jongin berada digaris kuasanya.
Jongin menarik ujung cambuk dari mulutku, dan ia berdiri kedepan dan menarik serta menciumku dengan keras, lidahnya menyerang mulutku. Membungkus lengannya disekitarku, Jongin menarikku terhadap dirinya. Dadanya menghancurkanku, dan aku sangat ingin menyentuh dirinya, tapi aku tak bisa, tanganku, tak berguna di atas kepalaku.
"Sehun, kau terasa sangat nikmat," Jongin bernafas. "Haruskah aku membuatmu keluar sekarang?"
"Tolonglah," Aku memohon. cambuk kembali dipulkan ke pantatku. Aduh!
"Tolong, apa?"
"Tolong, Sir," aku merintih.
Jongin tersenyum padaku, penuh kemenangan.
"Dengan ini?" Jongin memegang cambuknya keatas sehingga aku dapat melihatnya.
"Ya, Sir."
"Apa kau yakin?" Jongin tampak tegas padaku.
"Ya, kumohon, Sir."
"Tutup matamu."
Aku menutup ruangan keluar, Jongin keluar ... cambuk keluar. Dia mulai dengan pukulan kecil sekali lagi dari cambuknya terhadap perutku. Bergerak turun, jilatan kecil nan lembut terasa pada penisku, sekali, dua kali, tiga kali, lagi dan lagi, sampai akhirnya, begitulah - aku tak dapat menahannya lagi - dan aku klimaks dengan hebat, keras, mengendurkan tubuhku menjadi lemah.
Lengannya melingkari tubuhku ketika kakiku seakan berubah jadi jeli. Aku larut dalam pelukannya, kepalaku di dadanya, dan aku mendesis dan merintih ketika pengaruh dari orgasme melandaku. Jongin mengangkatku, dan tiba-tiba kita bergerak, lenganku masih terikat diatas kepalaku, dan aku bisa merasakan dingin kayu salib mengkilap di belakangku, dan Jongin melepaskan kancing celana jinsnya.
Jongin menurunkan kakiku sebentar saat ia memasang kondom, dan kemudian tangannya membelit disekitar pahaku saat ia mengangkat tubuhku lagi. "Angkat kakimu, sayang, belitkan pada pinggangku."
Aku merasa sangat lemah, tetapi aku lakukan seperti apa yang Jongin perintahkan sambil membelitkan kakiku disekitar pinggulnya dan memposisikan dirinya dibawahku. Dengan satu dorongan, penis Jongin ada
dalam diriku, dan aku menjerit lagi, mendengarkan erangannya yang teredam di telingaku. Lenganku sedang beristirahat dipundaknya saat Jongin menyodok ke dalam diriku. Astaga, dalam sekali dengan cara ini.
Jongin menyodok lagi dan lagi, wajahnya dileherku, bernapas keras ditenggorokanku. Aku merasa diriku terbangun lagi. Astaga tidak ... jangan lagi ... aku berpikir tubuhku tak akan tahan menerima goncangan ini lagi. Tapi aku tak punya pilihan ... dan dengan keniscayaan bahwa itu terjadi lagi, aku membiarkan lepas dan klimaks lagi, dan itu terasa manis, menyiksa dengan jelas.
Aku kehilangan semua kesadaran diri. Jongin mengikuti dibelakangku, berteriak saat pelepasan orgasmenya dengan gigi terkatup rapat dan memelukku keras dan dekat seperti yang pernah dilakukannya. Jongin menarik penisnya keluar dari holeku dengan cepat dan menempatkanku turun diatas salib, tubuhnya menahanku. Melepas borgolku, ia membebaskan tanganku, dan kami berdua ambruk ke lantai.
Jongin menarikku ke pangkuannya, memelukku, dan aku bersandar kepalaku di dadanya. Jika aku punya kekuatan, aku akan menyentuhnya, tapi saat ini tak ada. Meski terlambat, aku sadar ia masih
mengenakan celana jinsnya.
"Bagus, sayang," bisiknya. "apakah itu sakit?"
"Tidak," aku bernapas. Aku nyaris tidak bisa membuka mata. Mengapa aku begitu lelah?
"Apa kau kira seperti itu?" Bisiknya saat ia memelukku erat, jari-jarinya mendorong poni ku yang basah keringat dari wajahku kebelakang.
"Ya."
"Kau melihat sebagian besar rasa takutmu ada di kepalamu, Sehun," Jongin berhenti. "Apa kau mau melakukannya lagi?"
Aku pikir sejenak saat awan kelelahan menyelimuti otakku ... Lagi?
"Ya." Suaraku begitu lembut.
Jongin memelukku erat.
"Bagus. Begitu juga aku," gumamnya, lalu membungkuk dan dengan lembut mencium bagian atas kepalaku." Dan aku belum selesai denganmu sekarang."
Belum selesai denganku sekarang. Ya ampun. Tak ada cara yang bisa kulakukan lagi. Aku benar-benar kelelahan dan melawan keinginan yang besar untuk tidur. Aku bersandar di dadanya, mataku ditutup, dan Jongin memelukku - lengan dan kakinya - dan aku merasa ... aman, dan oh begitu nyaman.
Apakah Jongin akan membiarkanku tidur, barangkali untuk bermimpi? Mulutku tersenyum pada pemikiran konyol itu, dan memutar wajahku ke dada Jongin, aku menghirup aroma yang unik dan mengendusnya, tapi segera Jongin menegang ... oh sialan. Aku membuka mata dan melirik ke arahnya. Jongin menatapku.
"Jangan," Jongin memperingatkan.
Aku memerah dan melihat kembali dadanya dalam kerinduan. Aku ingin menjalankan lidahku pada dadanya, menciumnya, dan untuk pertama kalinya, aku melihat ia memiliki beberapa bekas luka kecil acak yang samar disekitar dadanya. Cacar air? campak? aku berpikir tanpa sadar.
"Berlututlah di dekat pintu," perintahnya saat ia duduk kembali, meletakkan tangannya di lututnya, efektif melepaskanku. Tidak lagi hangat, temperatur dari suaranya turun beberapa derajat.
Aku tersandung dengan kikuk pada posisi berdiri dan berlari cepat ke pintu dan berlutut seperti yang diinstruksikannya. Aku gemetar dan sangat, sangat lelah, luar biasa bingung. Siapa sangka aku bisa menemukan kepuasan di ruangan seperti ini. Siapa yang bisa berpikir hal seperti ini akan begitu melelahkan?
Anggota tubuhku merasakan nikmat, kenyang. Dewa batinku memasang tanda 'jangan mengganggu' diluar kamarnya. Jongin bergerak ditepi pandanganku. Mataku mulai terasa berat.
"Apa aku begitu membosankan untukmu, Sehun?"
Aku melompat terbangun, dan Jongin yang berdiri di depanku, kedua lengan disilangkan melotot kearahku. Oh sial, tertangkap tidur siang - ini tak akan jadi baik untukku. Matanya melembutkan saat aku
menatapnya.
"Berdiri," perintahnya.
Aku bangkit dengan hati-hati. Jongin menatapku, dan ujung bibirnya terangkat sedikit.
"Kau merasa hancur, bukan?"
Aku mengangguk malu-malu, memerah.
"Stamina, Sehun." Jongin menyimpitkan matanya padaku. "Aku belum puas atas dirimu. Ulurkan tanganmu di depan seperti ketika kau berdoa."
Aku berkedip padanya. Berdoa! Berdoa bagimu untuk bersikap lunak padaku. Aku lakukan seperti yang dikatakannya.
Jongin mengambil pengikat kabel dan mengikatkan disekitar pergelangan tanganku, mengencangkan plastiknya. Ya ampun. Mataku tertuju kearahnya.
"Kau kenal dengan benda ini?", Jongin bertanya, tak bisa menyembunyikan senyumnya.
Astaga ... ikatan kabel plastik. Kabel plastik di toko Clayton! Semuanya menjadi jelas. Aku ternganga memandangnya saat lonjakan adrenalin menyegarkan tubuhku kembali. Oke - itu menggugah perhatianku - aku sudah bangun sekarang.
"Aku punya gunting." Jongin memegangnya agar aku bisa melihat. "Aku bisa memotong ikatannya dalam sekejap."
Aku mencoba menarik pergelangan tanganku terpisah, menguji ikatanku, dan seketika, plastiknya menggigit kedalam dagingku -itu sakit, tapi jika aku melemaskan pergelangan tanganku itu baik-baik saja- ikatannya tak merobek ke dalam kulitku.
"Ayo." Jongin mengambil tanganku dan membawaku ke ranjang bertiang empat. Aku perhatikan sekarang bahwa ada seprei merah gelap di atasnya dan sebuah belenggu di setiap sudutnya.
"Aku ingin banyak - lebih banyak, banyak lagi," ia membungkuk ke bawah dan berbisik di telingaku.
Dan detak jantungku mulai berdebar kencang lagi. Oh.
"Tapi aku akan membuatnya cepat. Kau lelah. Berpegangan pada tiang ranjang," katanya.
Aku mengerutkan kening. Jadi tidak di tempat tidur itu? Aku dapat sedikit meregangkan bagian tanganku ketika aku berpegangan pada tiang kayu berhiaskan ukiran.
"Lebih rendah," perintahnya. "Bagus. Jangan sampai lepas. Jika kau melepaskannya, aku akan memukul pantatmu. Mengerti?"
"Ya, Sir."
"Bagus."
Jongin berdiri dibelakangku dan menggenggam pinggulku, dan kemudian dengan cepat mengangkatku mundur jadi aku membungkuk ke depan, memegang tiang ranjang.
"Jangan sampai lepas, Sehun," Jonginmemperingatkan. "Aku akan bercinta denganmu secara keras dari belakang. Genggam tiangnya untuk menahan berat badanmu. Mengerti?"
"Ya."
Jongin memukulku di pantatku dengan tangannya. Ow ...Ini perih.
"Ya, Sir," gumamku dengan cepat.
"Regangkan kakimu." Jongin menempatkan kakinya di antara kakiku, dan memegang pinggulku, ia mendorong kaki kananku ke samping.
"Bagus. Setelah ini baru aku akan membiarkanmu tidur."
Tidur? Aku terengah-engah. Aku tak berpikir untuk tidur sekarang. Tangannya dengan lembut membelai punggungku.
"Kau memiliki kulit yang begitu indah, Sehun," Jongin bernafas sambil membungkuk dan menciumku sepanjang tulang punggungku, ciumannya lembu.
Pada saat yang sama, tangannya bergerak ke depan tubuhku menangkup payudaraku, dan saat ia melakukannya, ia menjepit nipleku diantara jari-jarinya dan menariknya dengan lembut.
Aku menahan eranganku saat aku merasa seluruh tubuhku merespon, bangkit hidup kembali baginya. Jongin dengan lembut menggigit dan mengisap di pinggangku, menarik-narik putingku, dan tanganku mengencang erat ditiang indah berukir. Tangannya kemudian menjauh, dan aku sekarang mendengar suara akrab robekan foil, dan ia menendang lepas celana jinsnya.
"Kau memiliki pantat seksi dan menawan, Oh Sehun. Apa yang ingin kulakukan untuk pantatmu?"
Tangannya dengan halus dan lembut ada di masing-masing pantatku, lalu jari-jarinya meluncur kebawah, dan Jongin menyelipkan dua jari di dalam holeku.
"Sangat basah akan spermaku. Kau tak pernah mengecewakan, Sehun," bisik Jongin, dan aku mendengar kekaguman dalam suaranya. "Pegang erat-erat ... ini akan menjadi cepat, sayang."
Jongin memegang pinggulku dan memposisikan dirinya sendiri, dan aku bersiap-siap untuk penyerangan itu. Tapi Jongin meraih rambutku ditarik kebelakang. Sangat perlahan Jongin masuk ke dalam diriku, menarik rambutku pada saat yang sama ... oh rasanya sangat penuh. Jongin menarik penisnya keluar dariku dengan lambat, dan tangan satunya meraih pinggulku, memegang ketat, dan kemudian Jongin menghempas keras ke
dalam diriku, aku tersentak kedepan.
"Tahan, Sehun!" Jongin berteriak dengan gigi terkatup.
Aku berpegang lebih keras pada tiang dan mendorong kembali melawan Jongin saat ia melanjutkan pembantaian kejam itu, lagi dan lagi, jari-jarinya mencengkeram pinggulku. Lenganku sakit, kakiku terasa goyah, kulit kepalaku semakin sakit saat tangannya menarik-narik rambutku ... dan aku bisa merasakan sesuatu berkumpul dalam diriku. Oh tidak... dan untuk pertama kalinya, aku takut pada orgasmeku ... jika aku keluar ... aku akan roboh. Jongin terus bergerak kasar terhadapku, didalam diriku, napasnya keras,mengerang, merintih. Tubuhku merespon ...bagaimana bisa? aku merasa Jongin mempercepat gerakannya. Tapi tiba-tiba, Jongin berhenti,
menyentak benar-benar sangat dalam.
"Ayo, Sehun, berikan padaku," ia mengeluh, dan namaku di bibirnya mengirimku ke tepian saat seluruh tubuhku mengalami sensasi berputar dan pelepasan yang sangat manis, dan kemudian benar-benar dan
sama sekali tak ada artinya.
Ketika kesadaranku kembali, aku bersandar padanya. Jongin dilantai, dan aku berbaring di atas tubuhnya, punggungku ada ditubuh depannya, dan aku menatap langit-langit, post-coital, bercahaya, semua hancur.
Oh ... karabiner itu, aku berpikir tanpa sadar - aku lupa tentang itu. Jongin mengendus telingaku.
"Angkatlah tanganmu," katanya lembut.
Lenganku terasa seperti terbuat dari timah, tapi aku menahannya. Jongin menggunakan gunting dan menyelipkan satu mata gunting di bawah plastik.
"Aku akan membuka ini Sehun," Jongin bernafas, dan memotong plastik.
Aku tertawa dan gosok pergelangan tanganku ketika terbebaskan. Aku merasa seringainya.
"Itu suara yang indah," katanya sendu. Jongin duduk tiba-tiba, membawaku bersamanya sehingga aku duduk lagi di pangkuannya.
"Itu salahku," katanya dan menggeserku agar Jongin dapat menggosok bahu dan lenganku.
Dengan lembut ia memijat menghidupkan kembali anggota tubuhku. Apa?
Aku melirik Jongin dibelakangku, mencoba memahami apa yang dimaksudkannya.
"Kau tidak sering tertawa."
"Tertawaku tidaklah hebat," gumamku mengantuk.
"Oh, tapi ketika itu terjadi, ini adalah keajaiban dan sukacita untuk dilihat Sehun."
"Sangat berbunga-bunga sekali, Mr. Kim," gumamku, mencoba membuka mata.
Matanya melembut, dan dia tersenyum.
"Aku akan mengatakan kau benar-benar telah ditiduri dan membutuhkan istirahat."
"Itu tak berbunga-bunga sama sekali," aku menggerutu dengan main-main.
Jongin menyeringai dan perlahan mengangkatku dari atas tubuhnya dan berdiri, benar-benar telanjang. Aku ingin sejenak lebih terjaga untuk benar-benar memandanginya. Mengambil jins, ia memakainya kembali tanpa dikomando.
"Aku tidak ingin menakut-nakuti Taylor, atau Mrs. Jones dalam hal ini," gumamnya.
Hmm ... mereka harus tahu seberapa bajingannya dia. Pikiran itu menyitaku.
Jongin membungkuk untuk membantuku berdiri dan membawaku ke pintu, di bagian belakang pintu tergantung jubah wafel abu-abu. Dia dengan sabar mengenakannya padaku seolah-olah aku adalah anak kecil. Aku tak punya kekuatan untuk mengangkat lenganku. Ketika aku sudah tertutup dan sopan,Jongin membungkuk dan menciumku dengan lembut, bibirnya terangkat membentuk senyuman.
"Ranjang," katanya.
Oh ... tidak ...
"Untuk tidur," tambahnya menenangkan ketika ia melihat ekspresiku.
Tiba-tiba, Jongin mengangkatku dan membawaku meringkuk didadanya ke ruangan sepanjang koridor dimana sebelumnya hari ini Dr. Greene memeriksaku. Kepalaku jatuh di dadanya. Aku kelelahan. Aku tak ingat pernah jadi selelah ini. Menarik selimutnya,Jongin meletakkanku, dan bahkan lebih mengejutkan, naik di sampingku dan memelukku dengan erat.
"Tidurlah sekarang,Sehun," bisiknya, dan Jongin mencium rambutku. Dan sebelum aku dapat membuat komentar jenaka, aku tertidur.
Bibir yang lembut menyentuh pelipisku, meninggalkan ciuman lembut manis yang membangunkanku, dan bagian dari diriku ingin berbalik dan merespon, tapi aku ingin tetap tidur. Aku mengerang dan bersembunyi ke bantalku.
"Sehun, bangun." Suara Jongin yang lembut, membujuk.
"Tidak," keluhku.
"Kita harus berangkat dalam waktu setengah jam untuk makan malam di rumah orangtuaku." Katanya geli.
Aku membuka mata dengan enggan. Di luar telah senja. Jongin sambil membungkuk, menatapku serius.
"Ayo tukang tidur. Bangunlah" Ia membungkuk dan menciumku lagi.
"Aku membawakanmu minum. Aku akan ada dibawah. Jangan kembali tidur, atau kau akan dapat masalah," ia mengancam, tapi nadanya ringan.
Jongin menciumku sebentar dan keluar, meninggalkanku yang masih mengantuk di ruang yang sejuk dan dingin. Aku segar tapi tiba-tiba gugup. Ya ampun, aku akan bertemu orangtuanya! Jongin belum lama mencambukku dengan berkuda dan mengikatku dengan menggunakan pengikat kabel yang aku jual padanya, demi Tuhan - dan sekarang aku akan bertemu orang tuanya. Ini juga akan menjadi pertama kalinya untuk Baekhyun bertemu mereka - setidaknya dia akan berada disana untuk memberi dukungan. Aku memutar bahuku. Rasanya kaku. Tuntutannya untuk pelatih kebugaran pribadi tidak tampak begitu aneh lagi sekarang, pada kenyataannya, wajib bagi aku jika aku berharap untuk mengimbangi dirinya.
Aku keluar perlahan dari tempat tidur dan melihat bahwa kemejaku tergantung di luar lemari pakaian dan celana ada di kursi. Mana celana dalamku? aku cek di bawah kursi. Tak ada. Lalu aku ingat – Jongin menjejalkannya masuk di saku celana jinsnya. Aku memerah mengingatnya, setelah ia, aku bahkan tak berani untuk memikirkannya, Jongin begitu - barbar.
Aku mengerutkan kening. Kenapa Jongin tidak mengembalikan celana dalamku?
Aku diam-diam masuk ke kamar mandi, bingung karena tidak adanya pakaian dalamku. Sementara mengeringkan diri setelah mandi yang nyaman tapi terlalu singkat, aku menyadari dia melakukan ini dengan sengaja. Jongin ingin aku membuatku malu dan meminta celana dalamku kembali, dan ia akan mengatakan ya atau tidak. Dewa batinku menyeringai padaku.
Yah ... dua orang bisa memainkan game tertentu.
Mengambil keputusan disana dan kemudian tak menanyakan tentang hal itu dan tak memberinya kepuasan pada hal itu, aku akan pergi bertemu orangtuanya tanpa celana dalam.
Oh Sehun!
Bawah sadarku menegurku, tapi aku tak mau mendengarkan dia - aku hampir memeluk diriku sendiri dengan gembira karena aku tahu ini akan membuat Jongin gila.
Kembali dikamar tidur, aku mengenakan kemeja dan celanaku dan buru-buru menyisir rambutku, aku kemudian melirik minuman yang ia tinggalkan. Warnanya pink pucat. Apa ini? Cranberry dan air mineral. Hmm ... rasanya lezat dan memuaskan rasa hausku.
Bergegas kembali ke kamar mandi, aku memeriksa diriku di cermin: mata cerah, pipi sedikit memerah, terlihat sedikit puas karena rencana celana dalamku, dan aku menuju lantai bawah. Lima belas menit. Lumayan juga, Sehun.
Jongin berdiri di dekat jendela panorama, mengenakan celana flanel abu-abu yang aku sukai, celana yang menggantung dengan cara luar biasa seksi di pinggulnya, dan tentu saja, kemeja linenputih. Tidakkah dia punya warna lain? Frank Sinatra bernyanyi pelan melalui pengeras suara surround.
Jongin berbalik dan tersenyum saat aku masuk. Dia menatapku penuh harap.
"Hai," kataku lembut, dan senyum seperti sphinx-ku membalas senyumannya.
"Hai," katanya. "Bagaimana perasaanmu?" Matanya menyala penuh rasa geli.
"Bagus, terima kasih. Kau?"
"Aku merasa luar biasa baik,Sehun."
Dia sepertinya begitu menunggu aku mengatakan sesuatu.
"Frank. Aku tak pernah mengira kau penggemar Sinatra."
Jongin mengangkat alisnya padaku, tatapannya spekulatif.
"Selera Elektik, Tuan Oh," bisiknya, dan Jongin melangkah ke arahku seperti macan kumbang sampai dia berdiri di depanku, tatapannya begitu kuat membuat napasku tersengal-sengal.
Frank mulai bersenandung ... lagu lama, salah satu favorit Ray. 'Witchcraft.' Perlahan jari Jongin menyusuri pipiku dan aku merasakan itu semuanya turun kebawah sana.
"Dansalah denganku," bisiknya, suaranya serak.
Mengeluarkan remote dari sakunya, Jongin menambah volume dan tangannya menggenggamku, sorot mata abu-abunya yang penuh dengan janji dan kerinduan yang membujuk. Dia benar-benar mempesona, dan aku tersihir. Aku menempatkan tanganku padanya.
Jongin menyeringai menggoda menatap ke arahku dan menarikku ke dalam pelukannya, tangannya melingkar dipinggangku, dan dia mulai berayun.
Aku meletakkan tanganku yang bebas di bahunya dan tersenyum ke arahnya, terperangkap dengan suasana hatinya yang langsung menulariku, menyenangkan. Dan Jongin mulai bergerak. Tak menyangka Jongin bisa berdansa. Kami berputar-putar, dari dekat jendela ke dapur dan kembali lagi, berputar dan berbalik mengikuti irama musiknya. Dan Jongin membuatnya begitu mudah untuk aku ikuti.
Kami berdansa mengitari meja makan, menghampiri piano, dan maju mundur di depan dinding kaca, lampu kota Seattle diluar terlihat berkelip, seperti lukisan dinding yang gelap dan menyihir tarian kami, dan aku tak bisa menahan tawa riangku. Jongin menyeringai ke arahku saat lagunya akan selesai.
"Tak ada penyihir yang lebih menyenangkan daripada kamu," bisiknya, kemudian menciumku dengan manis. "Nah, itu bisa memberikan beberapa warna pada pipimu, Sehun. Terima kasih atas dansanya. Bisakah kita pergi dan bertemu dengan orang tuaku?"
"Terima kasih kembali, dan ya, aku sudah tak sabar untuk bertemu mereka," jawabku terengah-engah.
"Apa kau sudah memiliki semua yang kau butuhkan?"
"Oh, ya," aku menjawab dengan manis.
"Apa kau yakin?"
Aku mengangguk dengan santai sebisa mungkin dibawah pengawasan intensnya, mengamati dengan geli. Wajahnya berubah menjadi seringai lebar, dan Jongin menggelengkan kepala.
"Baik. Jika memang itu caramu ingin bermain, Sehun."
Jongin meraih tanganku, mengambil jaketnya yang tergantung di salah satu kursi dibar, dan membawaku melewati serambi menuju lift. Oh, berbagai bentuk wajah Kim Jongin. Apa bisa aku memahami pria yang penuh gairah ini?
Aku mengintip ke arahnya saat di dalam lift. Jongin menikmati lelucon pribadinya, ada sisa senyum menggoda dibibirnya yang indah. Aku jadi takut bahwa aku mungkin harus membayar ini semua dengan mahal. Apa yang kupikirkan? Aku akan bertemu dengan orang tuanya, dan aku tak mengenakan pakaian dalam. Bawah sadarku bukannya membantu malahan mengatakan dengan ekspresi 'Kubilang juga apa'.
Sepertinya diapartemennya tadi relatif aman, sebuah ide yang menyenangkan dan menggoda. Saat ini, aku nyaris keluar tanpa celana dalam! Jongin mengintip ke arahku, dan disana, menghidupkan sesuatu
diantara kami. Penampilan geli menghilang, ekspresi wajahnya berubah menjadi berawan, matanya gelap ... oh.
Pintu lift membuka di lantai dasar. Jongin menggelengkan kepalanya sedikit seolah-olah untuk mengosongkan pikirannya dan mengisyaratkan untukku keluar sebelum dia dengan cara yang sangat sopan.
Dengan siapa dia bercanda? Jongin bukan pria terhormat. Dia mengambil celana dalamku.
Taylor ada dibalik kemudi Audi yang sangat besar. Jongin membuka pintu belakang untukku, dan aku berusaha masuk dengan gagah, mengingat
keadaanku tak memakai pakaian dalam. Aku bersyukur bahwa celana yang sedang aku pakai saat ini tidak menampilkan belahan buttku dengan ditutupi kemeja yang sengaja tidak aku masukkan.
Kami melaju kearah I-5, kita berdua sama-sama diam, tak diragukan lagi karena adanya Taylor didepan. Suasana hati Jongin hampir nyata dan tampaknya berubah, humornya perlahan menghilang saat berangkat. Dia merenung, menatap keluar jendela, dan aku bisa merasakan Jongin menjauh dariku.
Apa yang dipikirkannya? Aku tak bisa memintanya.
Apa yang bisa aku katakan didepan Taylor?
"Dari mana kau belajar berdansa?" Tanyaku ragu-ragu. Jongin kembali menatapku, matanya terbaca dibawah cahaya yang putus-putus dari lampu jalan yang lewat.
"Apa kau benar-benar ingin tahu?" Jongin menjawab lirih.
Hatiku merosot, dan sekarang aku tak ingin tahu karena aku sudah bisa menebak.
"Ya," bisikku enggan.
"Mrs. Robinson suka berdansa."
Oh, kecurigaan terburukku terkonfirmasi. Mrs. Robinson sudah mengajarinya dengan baik, dan pikiran itu membuatku tertekan – tak ada apapun yang bisa aku ajarkan padanya. Aku tak punya keahlian khusus.
"Dia pasti guru yang bagus."
"Ya," katanya lembut.
Kulit kepalaku seperti ditusuk-tusuk. Apa dia adalah seseorang yang terbaik baginya? Sebelum Jongin menjadi begitu tertutup? Atau apa dia yang membawanya keluar dari dirinya sendiri? Jongin sangat menyenangkan, suka bercanda. Aku tersenyum tanpa sadar mengingat aku berada dalam pelukannya saat Jongin memutar tubuhku diruang tamu, dan tak diduga Jongin menyembunyikan celana dalamku, di suatu tempat.
Kemudian disana ada Red Room of Pain. Tanpa sadar aku menggosok pergelangan tanganku – strip plastik yang tipis akan cocok untuk seorang pemula sepertiku. Jongin mengajarkan semuanya atau merusaknya, tergantung dari sudut pandang seseorang. Atau mungkin Jongin menemukan jalannya disana terlepas dari Mrs R.
Aku sadar, pada saat ini, bahwa aku membencinya. Aku berharap bahwa aku tak pernah bertemu dengannya karena aku tak akan bertanggung jawab atas tindakanku jika aku bertindak bodoh. Aku tak ingat pernah merasakan kemarahan yang meledak pada siapa pun, khususnya pada seseorang yang belum pernah kutemui. Menatap kosong ke luar jendela,
aku berusaha mengobati kemarahan yang tak masuk akal dan kecemburuanku.
Pikiranku melintas kembali ke sore hari. Mengingat apa yang bisa aku pahami dari keinginannya, aku pikir Jongin sudah bertindak lembut denganku. Apa aku mau melakukannya lagi? Aku bahkan tak bisa
berpura-pura memberi argumen terhadap hal itu.
Tentu saja aku mau, jika Jongin bertanya padaku - selama Jongin tak menyakitiku dan jika itu satu-satunya cara untuk bisa bersama dengannya.
Itulah garis bawahnya. Aku ingin bersama Jongin. Dewa batinku mendesah lega. Aku sampai pada kesimpulan bahwa Jongin jarang menggunakan otaknya untuk berpikir, tapi bagian penting dari anatomi, yang lain pada saat ini, adalah bagian yang agak terbuka.
"Jangan," bisiknya.
Aku mengerutkan kening dan berbalik untuk menatapnya.
"Jangan apa?" Aku tidak menyentuh pikirannya.
"Memikir sesuatu yang berlebihan,Sehun."
Mengulurkan tangan, Jongin menggenggam tanganku, menarik ke bibirnya, dan mencium buku-buku jariku dengan lembut. "Aku mempunyai sore yang indah. Terima kasih."
Dan Jongin kembali denganku lagi. Aku berkedip ke arahnya dan tersenyum malu-malu. Jongin begitu membingungkan. Aku ingin mengajukan pertanyaan yang menggangguku.
"Mengapa kau mengikatku dengan pengikat kabel?"
Jongin nyengir.
"Itu cepat, mudah, dan merupakan pengalaman yang berbeda yang pernah kau rasakan. Aku tahu itu agak brutal, dan aku menyukai itu sebagai alat untuk mengikat." Jongin tersenyum lembut padaku.
"Sangat efektif menjagamu untuk tak bergerak."
Mukaku memerah dan melirik Taylor dengan gugup, yang tanpa ekspresi, pandangan tetap di jalan.
Apa yang harus aku katakan tentang hal itu? Jongin mengangkat bahu tanpa rasa bersalah.
"Semua itu bagian dari duniaku, Sehun." Jongin meremas tanganku dan melepaskan, menatap keluar jendela lagi.
Memang dunianya, dan aku ingin menjadi bagian dari dunianya, tapi menuruti syarat-sayaratnya? Aku tak tahu. Jongin belum membahas perjanjian sialan itu. Batinku merenung tak melakukan apa-apa untuk menghiburku. Aku menatap ke luar jendela dan pemandangannya telah berubah. Kami melintasi salah satu jembatan, dikelilingi oleh kegelapan yang kelam. Malam yang suram menggambarkan suasana hatiku yang sedang introspeksi, menutup, menyesakkan. Aku melirik sebentar pada Jongin, dan dia menatapku.
"Apa yang ada didalam pikiranmu?" Tanyanya.
Aku menghela napas dan mengerutkan dahi.
"Seburuk itukah?"
"Kalau saja aku tahu apa yang kau pikirkan."
Jongin menyeringai ke arahku.
"Sama, sayang," katanya pelan saat Taylor mempercepat kendaraan menembus malam menuju Bellevue.
Sebelum jam delapan Audi sudah memasuki halaman sebuah mansion bergaya kolonial. Sangat mempesona, bahkan ada mawar yang mengelilingi pintu. Seperti Lukisan di buku yang sempurna.
"Apa kau siap untuk ini?" Tanya Jongin saat Taylor berhenti di depan pintu depan yang mengesankan.
Aku mengangguk, dan Jongin menggenggam tanganku yang lain meremas meyakinkan.
"Pertama kali untukku juga," bisiknya, lalu tersenyum jail. "Taruhan saat ini kau ingin mengenakan pakaian dalammu," Jongin menggoda.
Mukaku memerah. Aku sudah lupa celana dalamku yang hilang. Untungnya, Taylor sudah keluar dari mobil dan membuka pintu untukku sehingga dia tak bisa mendengar komunikasi kami. Aku cemberut pada Jongin yang menyeringai lebar saat aku berbalik dan keluar dari mobil.
.
.
.
To. Be. Continued.
.
.
.
Ha..ha..ha...
Boleh saya ketawa dulu? Wks.
Okeh sebelumnya aku minta maaf jika updatenya sangat sangat ngaret *dihajar readers*.
Sebenernya alasan ngaret karena susah masuk ffn,tahu sendiri lah yang pake telkomsel gimana nyeseknya kalo internetnya sok protektif gitu ke penggunanya. Wks. Kedua karena banyak sekali kegiatan kerja,kuliah maupun kumpul bareng temen yang membuat aku menunda kegiatan mengepost ff. Dan ketiga, aku lagi UAS breee~ *banting laptop*
Mungkin aku berdosa besar ngepost ff ini dibulan ramadhan gini. Huhu *nangis peluk chanyeol*. Tapi mumpung ada waktu. Buat yang lagi puasa. Pleasee~ bacanya nanti aja habis buka. Kalo engga habis lebaran biar ga makruh puasanya. Tapi kalo masih tetep nekat ya, tanggung sendiri si. Wkwk
Big thanks juga buat followers maupun favorites *lol ff ini. Meskipun kalian engga meninggalkan jejak buat komen dikotak review. Meskipun juga jumlah followers dan favorites berbeda jauh dengan komeners disetiap chapternya. Haha.
Gimana dengan part ini? Bikin greget atau gimana? Haha. Kurang panjang atau kepanjangan? Wks.
Bagaimana kelanjutan hubungan Sehun dan Kai selanjutnya? Ditunggu next chapternya ya,yang diperkirakan bakal aku post minggu depan setelah UAS minggu ini berakhir. So~ ditunggu ya~~ *lempar sempak kaihun*
Buat yang udah baca, jangan lupa reviewnya~~
