Title : Oh-Ah (OhSehun-As Hell!)

Cast : Oh Sehun, Kim Jongin, Park Chanyeol

Jung Jaehyun, (Lee) Kim Taeyong, Byun Baekhyun, Luna,etc.

Genre : Romantic, friendship

Rated : M

BoyxBoy, YAOI, HunKai

9 : Explanation

I'm not over edit so, sorry for typo ^^

.

.

.

.

.

"Sajangnim, tuan Sehun sudah datang"

"Oh, suruh dia masuk Lis!"

"Baik"

Lisa membalikan tubuhnya saat Chanyeol memberinya perintah untuk meminta Sehun masuk kedalam ruangannya, Lisa menghampiri Sehun yang duduk di kursi tunggu dan mempersilahkannya masuk.

Sehun berjalan santai kedalam ruangan Chanyeol yang dulu adalah ruangannya dan ruangan almarhum kakeknya, masuk kedalam ruangan kerja Chanyeol membuatnya pusing. Itu sebabnya ia paling tidak suka saat berkunjung ke Hotel apalagi jika Chanyeol menyuruhnya menghadap sepupunya itu, seperti sekarang ini.

"Yo, ada masalah?" Sehun bertanya to the point sambil mendudukan dirinya di sofa, beberapa meter jaraknya dari tempat duduk Chanyeol di balik meja kerja.

"Bisakah kau sopan padaku?"

Sehun mengerutkan keningnya, apa yang Chanyeol katakan tadi? Sopan padanya? Bukankah sejak dulu juga sifatnya seperti ini apalagi pada Chanyeol. Jadi, apa maksud sepupunya itu?

"Moodku sedang bagus hari ini, jadi jangan merusaknya hyung!" Sehun berkata sarkas pada Chanyeol yang hanya di tanggapi helaan nafas oleh lelaki tinggi itu, dengan kesal Chanyeol melemparkan sebuah map berwarna merah keatas meja dan membuat Sehun penasaran. Lelaki yang lebih muda mulai berdiri dan duduk di kursi yang tersedia agar berhadapan dengan Chanyeol.

"Penambahan kamar?"

"Ya, Hotel ini terkadang kekurangan kamar. Hotel kita sudah bertaraf bintang lima Sehun, dan aku selalu malu jika banyak tamu yang meng-cancel reservasi mereka hanya karena full booked dan dari itu kita kehilangan pelanggan. Kurasa penambahan dua puluh kamar cukup"

Sehun menyatukan alisnya heran, ia masih membaca map berisi surat pengajuan penambahan kamar di Hotel milik kakeknya ini dengan serius, karena penambahan kamar akan sangat sulit terealisasi. Jika akan ada penambahan kamar, pasti akan ada penambahan lantai.

"Investor dari Dubai akan membantu kita, pemilik Hotel pusat Grand Zurich secara langsung memberikan dukungan pada kita untung menambah kamar dan mereka akan memberikan dana yang-"

"Bukannya kita perlu membangun satu lantai lagi?" Sehun memotong ucapan Chanyeol dan menatap sepupunya dengan alis terangkat.

"Ya, hanya satu. Dan kurasa itu tidak akan sulit, melihat gedung Hotel kita tidak terlalu tinggi"

Sehun masih belum menyetujui usulan yang Chanyeol berikan padanya, walaupun ia tidak lagi bekerja untuk Hotel dari almarhum kakeknya ini, akan tetapi Sehun adalah pewaris sah nya. Maka mau tak mau Sehun harus ikut andil dalam kemajuan dan kemerosotan diagram Hotel ini.

"Jika kau berfikir ini adalah pengajuan dariku, kau salah Sehun. Karena ini adalah pengajuan dari berbagai divisi karyawan termasuk Lisa, dan aku hanya meminta persetujuanmu. Aku sudah membacanya dan memahaminya, tidak mungkin aku mengajukan ini padamu jika aku tidak memahaminya terlebih dahulu"

Chanyeol menjelaskan se-detail mungkin saat tak melihat respon yang berarti dari Sehun, dan Sehun sendiri tidak akan meragukan kinerja Chanyeol. Karena ia akui jika Chanyeol lebih berbakat daripada dirinya yang terkadang mengambil keputusan tanpa melihat kedalam sisi negatifnya terlebih dahulu.

"Oke, aku setuju. Asalkan kau bisa menjamin semuanya aman hyung"

Sehun menandatangani surat pengajuan itu atas nama pemilik sah Hotel dan menyerahkannya kembali pada Chanyeol, lelaki tinggi itu tersenyum tipis dan menyimpan map tersebut kembali.

"Akan ku kabari lagi nanti"

"Terserah padamu hyung, aku percaya padamu" Sehun mulai berdiri dan merapikan kembali pakaiannya.

"Kau akan segera pulang?"

"Hm, kurasa begitu"

Chanyeol mengangguk paham "Ah ya, kau masih berhubungan dengan Kim Jongin?"

Sehun terkejut mendengar pertanyaan Chanyeol, setaunya Chanyeol tidak tahu menahu tentang dirinya dan Jongin. Dan ia rasa Chanyeol tidak begitu tau soal Jongin, terkecuali saat sepupunya itu menolong Jongin kala ia hendak memperkosanya di Hotel, ah lupakan.

"Maksudmu?"

Chanyeol menggelengkan kepalanya "Lupakan"

Sehun menggedikan bahunya dan ia berbalik untuk keluar dari ruangan Chanyeol, ia tidak mau Chanyeol tau terlebih dahulu tentang hubungannya dann Jongin. Karena yah, Sehun tau pasti Chanyeol akan melarangnya pacaran lagi semenjak ia tidak mau meneruskan bisnis kakeknya. Alasan yang aneh memang, Sehun sendiri tidak tau mengapa Chanyeol bertingkah seperti itu.

"Sehun!"

Sehun berhenti saat Chanyeol memanggilnya di belakang, ia memutar tubuhnya dan menaikan dagunya tanda bertanya, ia bisa melihat Chanyeol menghela nafas dan menatapnya curiga.

"Aku tau alasanmu mengincar Jongin karena apa, jadi berhentilah sebelum semuanya semakin buruk"

Sehun mengeraskan rahangnya saat mendengar penuturan Chanyeol yang begitu tiba-tiba dan membuatnya sedikit terkejut, tidak menyangka jika Chanyeol masih mengingat hal itu.

"Apa mak-"

"Aku tidak bodoh Sehun, lupakan Lee Kai dan jangan jadikan Jongin penggantinya! Jangan jadikan orang lain boneka pengganti seseorang yang sudah mati!"

Fuck!

Sehun mengepalkan tangannya dan rahangnya sudah sangat mengeras, wajahnya merah dan kilat mata tajamnya menunjukan kekesalan. Lancangnya Chanyeol menyebut nama itu dengan sangat lancar, di depan Sehun yang bahkan belum bisa menyebut nama itu kembali sejak dua tahun yang lalu.

"Jangan pernah campuri urusanku, kau tidak tau apapun Park Chanyeol" Sehun menunjuk wajah Chanyeol dengan murka, tidak peduli ia disebut tidak sopan atau bagaimana. Karena Sehun tidak akan mau Chanyeol mengatur hidupnya seperti ini.

Disisi lain Chanyeol hanya tersenyum miring, ia berdecih merasa lucu pada tingkah Sehun. Walaupun kelihatannya Chanyeol bersikap tenang, ia sangat merasa marah di dalam hatinya.

"Aku tau kau masih berhubungan dengan Jongin"

Sehun kali ini kembali menghampiri Chanyeol, ingatan dua tahun yang lalu saat kebakaran itu terjadi dan kala Chanyeol menolong Lee Kai kekasihnya, mulai terngiang kembali dalam benak Sehun dan itu membuatnya sedikit pusing, Sehun harap ia bisa mengendalikan dirinya.

"Lalu apa urusanmu huh?"

"Aku tidak masalah apa yang akan terjadi padamu, aku hanya tidak mau kau melibatkan orang lain lagi! Tak cukupkah dirimu yang menjadi seorang gembong narkoba hanya untuk pengalihan akan rasa takutmu di masa lalu? Tak cukupkah kau menjadi orang jahat yang membuat banyak nyawa melayang? Bahkan kedua orang tuamu sudah lelah Sehun, dan sekarang-" Chanyeol menghela nafasnya dan menatap Sehun tenang, berkebalikan dengan sepupunya itu yang kini terlihat pucat.

"-kau menjadikan Jongin penggantinya? Kau memasukan Jongin kedalam hidupmu? Kau pikir dia tidak akan tau nantinya huh?"

"PERSETAN!" Sehun membentak dengan suara tinggi, ia sudah sangat emosi dan tidak bisa mengendalikan dirinya. Ketakutan itu datang, rasa sesak itu datang dan bayangan masa lalu berputar di kepalanya. Matanya mulai berkunang-kunang dan dengan seluruh tenaganya ia menunjuk Chanyeol, kali ini menekan hidung bangir lelaki itu.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan hyung, huh?"

Chanyeol diam, selama ini Sehun tidak pernah tau perasaannya dan Chanyeol tidak akan sebodoh itu untuk memberitaunya. Disini ialah yang salah, yang menaruh perasaan pada kekasih sepupunya, tapi Chanyeol yang egois tidak mau menerima itu, walaupun ia sadar tapi ia tidak akan pernah mau mengakuinya, karena pada nyatanya ia yang lebih dulu mengenal Lee Kai, bukan Sehun.

"Aku ingin, kau berhenti"

"Fuck! Aku tidak tidak dan tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi dari hidupku, camkan itu!"

Sehun melangkah pergi setelah mengancam Chanyeol yang kini mengeraskan rahangnya, matanya yang tadi tenang kini mulai menyiratkan emosi.

"Okay, kita lihat apa yang akan terjadi padamu Oh Sehun!" dan dengan itu smirk seorang Park Chanyeol yang selalu terlihat lemah lembut mulai terpatri di bibirnya.

HunKai

.

.

.

Sehun menaiki mobilnya dengan bantingan keras di pintu, wajahnya pucat dan keringat dingin mengaliri pelipis serta dahinya. Paman Kang di kursi kemudi merasa terkeujut akan kedatangan tuannya dan lebih terkejut lagi melihat kondisi Sehun yang tidak baik-baik saja, lelaki pucat itu memegangi kepalanya yang terasa pusing dan bayangan-bayangan menakutkan menari dalam penglihatannya.

"Tuan, tuan kenapa?" paman Kang mencoba menyadarkan Sehun yang duduk di kursi penumpang, namun Sehun masih terlihat kesakitan dengan memegangi kepalanya oleh dua tangan.

"Akh! arghhh" Sehun mulai berteriak dan kini tubuhnya meringkuk di jok penumpang, membuat paman Kang kuatir.

"Bersabarlah tuan, saya akan membawa anda pada dokter Do"

Dan dengan itu paman Kang segera menancap gas mobilnya menuju rumah sakit tempat dokter Do, dokter pribadi Sehun dan Mark bekerja.

Selama perjalanan, Sehun terus merintih kesakitan dan nafasnya mulai sesak. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya, peluh sudah membasahi wajah dan tubuhnya.

"Argh andwae!" Sehun mulai meracau dan hal itu membuat paman Kang semakin panik

"Tuan, rumah sakitnya sudah dekat"

Paman Kang melajukan mobilnya secepat mungkin untuk menuju rumah sakit tempat dokter Do bekerja. Ia panik saat melihat tuannya seperti ini, karena Sehun jarang sekali menunjukan gejala penyakitnya seperti sekarang, apa yang sudah membuat tuannya ketakutan seperti ini?

Ckit…

Akhirnya mobil yang di kendarai paman Kang berhenti di depan lobby rumah sakit, lelaki paruh baya itu segera keluar dan membantu Sehun keluar dari mobil dengan memapah tubuh tingginya.

Dengan itu paman Kang berjalan menuju lobby dan segera menemui seorang suster di lobby, ia kuatir pada tuannya yang kini seperti mulai kehilangan kesadarannya.

"Tolong antarkan saya ke ruangan dokter Do Minjoo"

.

.

.

.

.

Jongin memainkan ponselnya, ia sudah ada di rumahnya sendiri by the way. Sehun mengantarkannya setelah kekasihnya itu pamit untuk pergi ke Hotel. Oh rasanya aneh juga memiliki kekasih dan hell- dia adalah pria, lebih mengejutkannya lagi adalah Jongin menjadi posisi bottom dalam hubungan ini. Jika di lihat dari fisik, bahkan menurutnya ia lebih manly daripada Sehun.

Ah, berbicara soal Sehun membuat Jongin teringat lagi akan kejadian semalam saat lelaki itu menyatakan cinta padanya dan mereka melakukan-

"Aaaaaa eomma!" Jongin berteriak tidak jelas dan mulai bersembunyi dengan heboh di balik selimut tempat tidurnya. Astaga, ia malu sekali jika mengingat tadi malam dirinya melakukan THIS AND THAT dengan Oh Sehun yang bahkan sangat ia benci dan hindari dulunya.

"Astaga, aku terlihat murahan sekali" Jongin bermonolog setelah gumpalan di selimut itu ia hentikan, benarkah dirinya murahan? Duh, mengingat semalam ia meleleh dengan sentuhan-sentuhan Sehun membuatnya tidak bisa mengelak jika dia juga mulai menjadi bisex, ohya? Hanya karena Oh Sehun lah ia menjadi seperti ini.

"Tapi omong-omong, kenapa dia belum menguhubiku si?" Jongin kembali memainkan ponselnya, Sehun bilang ia akan menguhubunginya jika sudah sampai kembali di rumah. Tapi sampai sekarang lelaki pucat itu belum menghubunginya apapun.

Jongin mulai menerawang, ia sedikit kuatir pada Sehun yang tidak menghubunginya. Tapi Jongin juga percaya jika Sehun adalah lelaki yang kuat dan well, ia juga mungkin hanya terlalu berharap Sehun menghubunginya kali ini.

"Jongin, antar aku ke Super Market!"

Di saat Jongin sedang melamun, suara teriakan Yuri terdengar nyaring dari lantai dasar. Dengan dengusan kesal dan pipi menggembung, Jongin mengambil jaket navy nya dan keluar dari kamar.

Ia menuruni tangga dengan cepat dan menemukan kaka keduanya sedang menunggu sambil memainkan ponsel, Jongin berani bertaruh jika Minho –kekasih Yuri- tidak bisa mengantar kaka centil nya inii berbelanja, alhasil ialah yang jadi korban.

"Ayo!" Jongin berlalu menuju pintu utama rumah dan meninggalkan Yuri, sang kaka yang di perlakukan seperti itu hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan mengejar Jongin.

"Kau yang menyetir?"

"Tidak mau" Jongin menaikan bahunya, menolak untuk menyetir dan membiarkan kakanya untuk mengambil kemudi. Ia tidak begitu mahir dalam menyetir, dan fakta bahwa dirinya pernah menabrak seorang pejalan kaki membuatnya semakin takut untuk menyetir. Omong-omong soal menyetir, Jongin jadi mengingat Sehun yang juga tidak bisa menyetir, benar-benar tidak bisa menyetir. Tapi, agaknya Jongin tidak percaya akan fakta itu.

"Ck, dasar penakut"

"Hey! Aku hanya tidak mau kau menjerit saat aku menyetir nanti"

Jongin mencebikan bibirnya dan mulai naik ke kursi penumpang diikuti Yuri yang mulai menduduki bangku pengemudi, kemudian kedua kaka beradik itu mulai meninggalkan halaman rumah.

HunKai

.

.

.

Dokter Do menaruh kembali stetoskop nya di meja kerja, ia menghela nafas dan menatap Sehun yang duduk di depannya dengan pandangan lembut. Wajah keriput di hiasi kacamata minus itu mengembangkan senyum untuk pasiennya dan memegang tangan dingin Sehun yang terkulai lemas di atas meja. Lelaki tampan itu menatap dokter Do dengan wajah heran, kulitnya terlihat lebih pucat dan juga bibir tipisnya berubah warna menjadi putih.

"Kondisimu mulai membaik Sehun-ssi"

Sehun mendengarkan dengan seksama apa yang di katakan dokter Do, ia hanya diam dan tidak menjawab melainkan mendengarkan penjelasannya.

"Kau hanya ketakutan tadi, anxiety disorder hanya akan dapat di kendalikan oleh dirimu sendiri. Dan melihat dari keningkatan detak jantung, pembuluh darah dan tensi darahmu yang sudah ku check semuanya normal. Aku harap kau lebih bisa mengendalikan dirimu dan semuanya akan baik-baik saja" dokter Do tersenyum pada Sehun, dan Sehun membalasnya dengan anggukan kepala. Ia bersyukur dirinya lebih baik dari sebelumnya, ia tahu semua ini berkat kehadiran Jongin yang telah banyak mengikis masa lalu kelamnya dua tahun ke belakang.

"Terimakasih dokter Do, tapi aku merasa aku selalu lemah jika mendengar namanya. Bahkan hanya mendengar namanya saja aku sudah sangat ketakutan, dan rasa bersalah selalu menghantuiku"

"Itu wajar Sehun-ssi, karena hal itulah yang membuatmu mengidap anxiety disorder. Sekarang waktu sudah berlalu, tidak ada seorangpun yang bisa mengembalikan waktu. Semuanya sudah di atur oleh yang maha kuasa, jadi kita hanya perlu menjalaninya Sehun-ssi"

Sehun menundukan kepalanya, kata-kata Chanyeol tadi pagi masih segar terngiang di telinganya dan Chanyeol benar, tidak seharusnya ia memasukan Jongin dalam lingkup kehidupannya. Tapi Sehun sudah terlanjur menarik Jongin dalam hidupnya, ia terlanjur mencintai lelaki itu.

"Apa… apa aku, benar-benar seperti seorang pengecut?"

Sehun bertanya dengan raut sedih kearah dokter Do, lalu dokter itu hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman. Sang dokter sudah tau segalanya, karena Sehun sudah menceritakan perihal ia bertemu Jongin, seseorang yang begitu mirip dengan kekasihnya di masa lalu, Lee Kai.

"Tidak Sehun-ssi, itu adalah hal wajar saat kita menemukan seseorang yang begitu familiar dengan seseorang lainnya yang pernah ada dalam hidup kita"

Sehun menggigit bibir bawahnya, ia tetap merasa takut dan membuat dirinya sulit mengendalikan diri jika ini menyangkut Lee Kai "Tapi, bagaimana jika suatu saat Jongin tau?"

"Kau hanya perlu mencintainya, membuatnya yakin jika kau mencintainya bukan karena Kai. Tapi pada dasarnya kau memang mencintainya"

Dokter Do meremas tangan Sehun, mencoba memberi keyakinan pada Sehun untuk tidak menyerah untuk yang kedua kalinya.

"Tap-tapi, aku mengejarnya dari a-awal itu memang karena dia mirip de-dengan Kai"

Sehun kembali menunduk, mengingat ulang saat ia pertama kali bertemu dengan Jongin.

Flashback

Sehun memasuki bar dengan wajah sumringah, ia baru saja mengirim LSD ke Amerika melalui Jongdae dan di bantu oleh Key juga Taeyong. Jadi ia bisa bebas malam ini untuk melakukan kegiatan panas seperti biasanya. Well, menjadi seorang gembong narkoba tidaklah mudah seperti kelihatannya, ia bahkan harus pindah markas beberapa kali hanya untuk menghindari pelacakan IP dari kepolisian Seoul.

Dengan tampang seperti keturunan dewa Yunani, dan harta yang melimpah membuatnya tidak sulit mendapatkan apa yang dia inginkan. Wanita, pria, mobil, rumah, kekuasaan dan segalanya.

"Hey, secawan White Wine rasanya bagus untukmu malam ini bro" Vernon, seorang mahasiswa part-timer yang bekerja di bar ini menawarkan secawan White Wine mahal yang usianya sudah puluhan tahun, dengan senyum nakalnya ia menggeser cawan itu ke depan Sehun –pelanggan setianya- untuk segera di teguk habis oleh lelaki tampan itu.

"Thank's, moodku sedang bagus malam ini" Sehun menyunggingkan senyuman miring dan mulai meneguk minumannya hingga tenggorokannya seperti terbakar.

"Wow, kau menang angka lotremu minggu ini?"

"Tidak, lebih dari itu"

Vernon menganggukan kepalanya mengerti, ia mulai sibuk lagi menyiapkan secawan White Wine lainnya untuk Sehun.

"Tidak bermain?"

Sehun menggelengkan kepalanya setelah meneguk cawan kedua "Inginnya sih bermain, tapi sepertinya malam ini aku ingin minum saja"

Vernon lagi-lagi hanya mengangguk, ia mulai meninggalkan Sehun yang kini asyik menggoyangkan tubuhnya menikmati alunan musik disko yang memusingkan namun membawa kesan tersendiri baginya.

Di tengah ke-asyikannya, Sehun menolehkan kepalanya kearah kanan dan seketika itu juga matanya melotot kaget.

Jantungnya bertalu cepat dan nafasnya tertahan di hidung, mulutnya terbuka dan hatinya terasa berdesir sakit melihat seseorang yang tengah duduk di depan Vernon dengan kemeja berawarna peach yang berantakan.

DEG DEG DEG DEG

Sehun menekan dada kirinya yang tiba-tiba terasa sakit dan berdebar begitu cepat, ia masih mengunci pandangannya pada seorang lelaki tampan sekaligus manis yang kini meneguk segelas minuman tepat di jarak dua kursi di debelahnya.

"Ka-kai" suara Sehun terdengar sangat jauh dan lemah, matanya memancarkan kesedihan sekaligus rasa takut. Tangannya masih menekan dada kirinya kuat, mencoba menenangkan jantungnya dan menghilangkan rasa sakit itu.

Ini tidak mungkin, ini pasti hanya khayalannya dan mungkin dirinya terlalu mabuk untuk bahkan mengenali siapa dirinya sendiri. Namun, ini juga terasa begitu nyata dan Sehun tidak bodoh untuk mengetahui perasaan ini hanya akan berdebar jika semua itu menyangkut pada Kai, mantan kekasihnya yang telah pergi dua tahun yang lalu.

"Kai…" lagi, Sehun berbisik pada dirinya sendiri.

Mungkin benar ia juga sedikit mabuk, karena ia sangat menginginkan lelaki itu secara bersamaan. Emosi, kerindukan, nafsu, semuanya bercampur dalam diri Sehun.

Sampai saat suara teriakan seorang wanita dan disusul suara teriakan lainnya, serta bunyi tembakan yang bersahutan membuat Sehun tersadar. Lelaki itu melihat kebelakang dan menemukan beberapa polisi sudah mengepung bar ini, Sehun yakin ia sedang di incar.

"Shit!"

Sampai saat ia mendapat kode dari anak buahnya yang berjaga di depan bar menyuruhnya untuk pergi, ia segera turun dari kursi dan tanpa pikir panjang berlari. Namun sebelum itu, ia menarik cepat seseorang yang mirip sekali dengan Kai untuk ikut berlari, lelaki manis itu tampak shock dan hanya bisa mengikuti Sehun.

Dimuali sejak saat itulah, Sehun menjadikan Jongin seseorang yang ia inginkan.

.

.

.

.

.

Dokter Do menghela nafas mendengarkan cerita Sehun, ia mengerti berada di posisi Sehun. Karena semua orang akan bertingkah yang sama bila mana ada seorang lain yang mirip dengan seseorang di masa lalu mereka, apalagi itu adalah kekasihnya.

"Kau tidak mencintainya sampai sekarang?"

Sehun mendongakan wajahnya dan menggelengkan kepalanya dengan kuat, "Aku mencintainya, saat hari dimana ia bertemu dengan Mark. Aku yakin aku sudah jatuh hati padanya"

Sehun kembali menjelaskan, ia memang sudah sepenuhnya jatuh cinta pada Jongin. Bahkan mungkin ia tidak akan bisa hidup tanpa Jongin. Ia tidak mau lagi gagal dalam menjaga cintanya, seperti apa yang ia lakukan pada Kai.

"Kau hanya perlu mencurahkan cintamu padanya Sehun-ssi"

Sehun menganggukan kepalanya, dan ia tersenyum pada dokter Do yang kembali di balas oleh senyum manis dokter itu.

"Lalu, apa Mark sudah menyadari jika Jongin mirip dengan kakanya, Lee Kai?"

Sehun menggigit bibirnya, teringat dimana Mark beberapa kali mulai menyadari siapa itu Jongin saat Sehun membawanya ke hadapan bocah itu, Sehun kemudian menggelengkan kepalanya "Mungkin, ia pernah menyadarinya. Tapi aku selalu mengalihkan perhatiannya dari hal itu, aku belum mau Mark menyadari semuanya dan berakhir ia akan mengatakannya pada Jongin. Aku hanya, belum siap"

Yah, aku yakin semua orang yang ada di posisi Sehun pasti merasakan hal yang sama. Mencintai orang yang mirip dengan seseorang yang sudah mati sama halnya dengan membuat orang itu seperti boneka pengganti, dan Sehun takut Jongin merasakan hal itu. Ia hanya ingin menunggu dan menantikan saatnya tiba untuk bicara pada Jongin, entah kapan itu. Jika ia bisa, Sehun hanya berharap Jongin tidak akan pernah tau dan ia akan mencintai lelaki itu dengan sepenuh hidupnya.

"Aku mengerti Sehun-ssi"

Sehun tersenyum pada dokter Do "Terimakasih dokter, dan sepertinya aku harus pamit"

Lelaki pucat itu kemudian berdiri dari kursinya dan menjabat tangan dokter Do, sang dokter mempersilahkannya dan Sehun membungkukan badannya 900 sebelum berlalu keluar dari ruangan dokter Do.

Dokter Do menghela nafas, ia melepas kacamata minusnya dan mengusap wajah lelahnya. Tangan yang mulai keriput itu membereskan dokumen di mejanya, semua dokumen itu adalah milik Sehun. Semuanya tentang Sehun dan penyakitnya, tentang masa lalu Sehun dan apapun yang Sehun ceritakan padanya ia selalu mencatatnya, tugas seorang dokter psikolog.

Dengan telaten dokter Do memasukan kembali dokumen tersebut pada map coklat yang tersedia, bahkan di dalamnya pun ada foto Lee Kai, Mark dan almarhum kakek Sehun sendiri.

CKLEK

"Appa, sarapan… tadaaa!"

Dokter Do hampir terjungkal dari kursinya saat mendengat suara bass seorang lelaki di susul dengan masuknya seseorang itu kedalam ruangan kerjanya.

Pria berumur sekitar 55 tahunan itu menghela nafasnya dan membiarkan lelaki tadi masuk dengan sembrono, yah karena lelaki dengan senyum berbentuk hati itu adalah anaknya.

"Apa yang kau lakukan Kyungsoo-ya, tumben sekali datang menemui Appamu ini"

Dokter Do tertawa jenaka, putranya yang seorang pemilik bar kecil-kecilan ini memang sangat jarang menemuinya terkecuali ada hal yang penting. Kyungsoo itu tidak suka rumah sakit, dan fakta jika ayahnya seorang dokter terkadang membuatnya kesal. Dokter Do juga masih memikirkan akan ia kemanakan rumah sakit ini nantinya, mengingat Kyungsoo lebih memilih usahanya sendiri daripada meneruskan bisnis ini.

"Ish Appa tidak suka aku datang? Aku sangat merindukan Appaku yang selalu sibuk ini"

Kyungsoo berjalan kearah sang ayah dan memeluknya, dokter Do membalas pelukan putranya dan menepuk punggung Kyungsoo.

"Sudahlah, mana makananku?"

"Wah, Appaku sedang lapar rupanya kkkk" Kyungsoo tertawa dan mulai menyiapkan makanannya yang ia bawa untuk ayahnya.

"Oh, dokumen apa ini Appa?" Kyungsoo menghentikan kegiatannya menyiapkan makanan saat melihat sebuah map masih berada di atas meja sang ayah.

"Ah, itu punya pasienku. Sini ku simpan dulu"

Kyungsoo hanya menaikan bahunya dan memulai kembali acara menyiapkan makanannya.

"Appa ayo makan!"

HunKai

.

.

.

Sehun turun dari mobilnya dan mulai menaiki undakan tangga kecil menuju pintu rumah keluarga Kim, niatnya ia ingin mengajak Jongin untuk makan siang mengingat sekarang sudah pukul 11 siang. Setelah kembali dari rumah sakit, Sehun segera meminta paman Kang untuk mengantarnya kemari.

Ting Tong

Sehun memencet bel rumah besar keluarga Kim dan menunggu, beberapa detik kemudian terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan bibi Kim yang tersenyum padanya.

"Ah, Sehuna ayo masuk. Jongin baru saja pulang dari super market" Taeyeon yang mengerti jika Sehun mencari putra bungsunya, segera memberi penjelasan dan dengan senyum manis ia mengajak Sehun untuk masuk ek rumahnya.

"Terimakasih bi-"

"Panggil Eomma saja"

Sehun bisa merasakan wajahnya memanas saat Taeyeon menyuruhnya untuk memanggil Eomma, dan dengan canggung Sehun hanya mengangguk sambil mengikuti Taeyeon memasuki rumah.

"Jongin, ada Sehun di bawah!"

Taeyeon berteriakn memanggil anak bungsunya, lalu tak lama kemudian terdengar suara ribut di lantai dua dan bantingan keras di pintu. Dengan itu keduanya melihat Jongin keluar dari kamar dengan senyuman malu-malu yang membuat Taeyeon heran.

"Ada apa denganmu?"

"Hehe, tidak ko bu"

Taeyeon hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju dapur, meninggalkan putranya dengan Sehun di ruang tamu.

Setelah Taeyeon pergi, keadaan jadi sedikit canggung dan Sehun tersenyum melihat wajah tersipu Jongin yang menurutnya sangat manis.

"Hai baby Gom"

Mendengar panggilan Sehun padanya semakin membuat Jongin malu dan wajahnya memerah, duh bagaimana bisa Sehun menjadikan dirinya jadi sangat feminim seperti ini sih?

"Uhmmm, hai Sehun"

Sehun tertawa pelan dan mengusak rambut halus Jongin "Ayo jalan-jalan, sekaligus makan siang denganku"

Jongin mendongakan wajahnya dan mata bulatnya sedikit memicing saat melihat wajah Sehun yang lebih pucat dari biasanya.

"Sehun, ka-kau baik-baik saja? Wajahmu pucat" Jongin mengarahkan tangan kanannya untuk menggapai wajah Sehun dan mengelus pipi kekasihnya.

Sehun hanya terdiam, ia menggenggam tangan Jongin di wajahnya dan menciumi punggung tangan itu. Matanya terpejam menikmati kecupannya pada tangan Jongin, setelah di rasa cukup Sehun membuka kembali matanya dan menatap Jongin dengan senyuman tampannya.

"I Love You"

Jongin merasa kakinya berubah seperti jelly saat mendengar pengutaraan Sehun yang begitu lembut, dalam dan meyakinkan. Dia bahkan tidak pernah merasa se berdebar ini bahkan saat dulu berpacaran dengan Naeun, rasa ini hanya ada saat ia sedang bersama Sehun… apa mungkin, sejak dulu dirinya memang gay, atau mungkin bisex?

Cup

Sehun mengecup bibir Jongin sebentar saat melihat lelaki itu hanya diam terpaku, "Ayo, aku akan mengantarkanmu ke tempat kerja setelah kita jalan-jalan"

Lalu saat Sehun menarik lengannya keluar rumah, Jongin tidak bisa untuk menolak ajakan lelaki tampan itu. Sehun selalu tau caranya untuk membuat ia malu dan berdebar jika berada di dekat lelaki itu. Mereka berdua keluar dari rumah keluarga Kim dan menghiraukan jika saja Taeyeon membawakan mereka minuman atau camilan, dan memang benar itu terjadi. Taeyeon hanya menghela nafas saat melihat pintu rumahnya sudah kembali tertutup.

Di sisi lain, Sehun mengeratkan genggaman tangannya pada Jongin dan terus tersenyum pada lelaki itu membuat Jongin salah tingkah.

Sehun hanya tidak mau ketakutannya menjadi kenyataan, biarkan dia memiliki Jongin, mencintai Jongin dan menjada lelaki ini dengan seluruh hidupnya, biarkan Sehun memperbaiki semua kesalahannya di masa lalu dan merefleksikannya pada Jongin, cinta baru yang mulai tumbuh dalam hatinya.

Jongin, baby Gom… kau mungkin tidak akan mengerti apa yang aku rasakan, tapi aku mohon tetaplah seperti ini baby, aku sangat mencintaimu dengan seluruh hidupku. Jangan pernah meninggalkanku, aku mencintaimu baby Gom.

.

.

.

.

TBC

Hallo, ff ini kambek setelah bulukan/eh/ wkwkwk, apa kalian terkejut dengan chapter ini? duh keknya engga ya, maafkan huhu aku gk pandai bkin ff yang good feeling gitu. Gimana chapter ini menurut kalian? Apa alurnya kecepetan? Keknya iya deh aku ngerasa begitu wkwkwk, tapi aku harap ff ini bisa menghibur kalian ^^… did u guys have fun? Did you guys feel startled over this chapter? Aku sih kalo di posisi readers lebih kaget pas tau ternyata dokter Do itu bapaknya Kyungsoo wkwkwk, ntar gimana ya kalo kyungsoo tau siapa itu sehun dan gimana yah kalo Jongin tau semuanya, huhu siap2 buat angst scene guys :D ini ff keknya paling complicated karena cast nya aja banyak wkwkwk, oke see you in next chapter.