Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights
Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami. Lagu Vivaldi's Rain adalah milik Vivaldi. Galsuenda dan Ophelia adalah original character rekaan author. Danau Argent dan Schillondt Castle adalah setting rekaan author.
Bab IX (Cesia)
Awal Yang Baru
Kecemasanku telah berkurang separuh. Diluar dugaanku, aku bisa melalui upacara pemberkatan di katedral dengan lancar, tanpa tersandung gaunku sendiri karena gugup. Gugup bercampur bahagia dan rasa haru. Aku tidak pernah berpikir akan benar-benar menikah dengan Rath, tapi ini sungguh-sungguh menjadi nyata.
Meskipun tidak ada seorangpun keluargaku yang menghadiri upacara yang amat penting ini, karena aku belum bisa menemukan orang tuaku, aku berusaha berlapang dada. Semua orang di Dragon Castle telah menerimaku dengan sangat baik dan membuatku merasa memiliki mereka sebagai keluargaku. Tadi pagi Lady Raseleane membantuku berdandan sembari menyenandungkan Something Four.
"Something new, gaun dan kerudung," kata Lady Raseleane seusai bersenandung.
Aku tidak pernah tahu tentang lagu itu. Apakah lagu dan terpenuhinya syarat-syarat dalam syairnya akan menjanjikan kebahagiaan? Namun tampaknya Lady Raseleane telah menyiapkan segalanya. Ini membuatku sangat terharu sekaligus sedih. Kubayangkan betapa sempurnanya hari ini bila ibuku sendiri – yang belum pernah kulihat sepanjang hidupku – ada disampingku saat ini. Saat aku nyaris menangis, Lady Raseleane dengan lembut mengingatkanku tentang riasan yang bakal luntur. Aku pun dengan susah payah menahan air mata.
"Something old dan something blue," kata Lady Raseleane. Beliau memberi isyarat pada Celnozura, yang lalu membuka kotak yang dibawanya. Menunjukkan padaku sebuah tiara indah berhiaskan batu safir. "Ini tiara yang pernah kupakai saat pesta dansa pertamaku, saat aku menginjak usia dewasa. Aku telah meminta seorang ahli perhiasan menambahkan batu-batu safir untuk digunakan pada hari istimewa ini. Sekarang ini jadi milikmu. Kuharap kau suka."
Aku kehilangan kata-kata saat Lady Raseleane menyematkan tiara itu di rambutku.
"Terima kasih. Saya suka. Tiara itu sangat cantik," kataku sungguh-sungguh.
"Kalau kamu bilang menyukainya, itu sudah melegakanku. Nah, something borrowed," kata Lady Raseleane sambil tersenyum. Beliau melepaskan kalung yang dipakainya. "Ini kalung pemberian Lord Lykouleon saat ulang tahun penikahan kami. Sepertinya sangat sesuai dengan gaunmu. Nah, selesai."
Aku tidak diijinkan memandang pantulan bayangan diriku di cermin, aku tidak bertanya mengapa. Namun dengan melihat apa yang kupakai saat ini, mungkin aku tidak akan bisa mengenali diriku sendiri dengan segala kemewahan itu. Aku telah begitu beruntung dilimpahi rasa sayang dan kepedulian. Tidak lama lagi, aku akan memiliki keluarga baru. Namun secuil kekosongan dalam diriku membuatku ingin menangis.
"Oh, tidak. Jangan menangis, Sayang. Ini seharusnya jadi hari bahagiamu," hibur Lady Raseleane. "Tersenyumlah. Karena ini adalah harimu."
"Terimakasih," ucapku sambil menahan air mata. "Saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan Lady Raseleane dan Lord Lykouleon. Saya yang bahkan tidak tahu asal-usul saya sendiri..."
"Tidak penting dari mana asal usulmu, Sayang. Hanya kamu yang bisa membahagiakan Rath. Tolong jaga dia. Hanya itu saja yang kuminta darimu," kata Lady Raseleane.
"Saat meninggalkan Dragon Castle, Anda juga mengatakan hal yang sama. Saat dulu Anda menitipkan kalung segel itu kepada saya untuk digunakan pada saat yang tepat, agar Rath bisa bertahan dan selamat, Anda juga berharap hal yang sama, bukan?"
Lady Raseleane mengangguk. "Ya. Bagaimanapun asal usul Rath, dia tetap penerus Lord Lykouleon. Putra kami satu-satunya. Dia putra bagiku yang tidak akan bisa melahirkan seorang anak."
"Saya berjanji," kataku. "Saya akan menjaga Rath. Karena dia adalah satu-satunya orang yang saya cintai."
"Terimakasih," kata Lady Raseleane sambil mencium keningku dengan sayang.
Aku menetapkan hati untuk berusaha sebaik-baiknya melaksanakan tugas yang diberikan Lady Raseleane. Janji itu sudah kuikrarkan jauh-jauh hari sebelumnya. Ini adalah satu jalan untuk menggenapi janjiku pada Lady Raseleane, juga pada Rath.
Selama ini aku sama sekali tidak merasa terbebani atas janji yang kubuat dengan Lady Raseleane, mungkin karena perasaanku pada Rath. Namun untuk beberapa menit terakhir, aku bertanya-tanya apakah yang akan kujalani selanjutnya akan sama ringannya dengan sebelum ini? Apakah aku bisa memenuhi tugasku sebagai pendamping seorang kaisar?
Bagaimanapun aku akan terus melangkah maju demi orang yang kucintai. Sebagaimana kata Lady Raseleane, hanya aku yang bisa membahagiakan Rath. Demikian juga bagiku, hanya Rath kebahagiaanku. Takdir apapun yang membentang di hadapanku, apapun gelap terang takdir itu, tidak akan bisa membuatku menyerah. Aku tidak ingin menyerah, demi dia yang menungguku di ujung katedral megah ini.
Dia benar-benar menungguku di altar. Tegap dan tampak dewasa sebagaimana diharapkan dari seorang kaisar. Namun sekilas aku melihat senyum senang kekanakan yang telah membuatku terpikat. Rath yang ceria dan kekanakan – inti sejati dari dirinya.
Rasanya aku tidak bisa berhenti tersenyum selama perjalanan kembali ke Dragon Castle. Kupikir Tuhan telah memberkati hari ini. Seluruh dunia seolah ikut merayakan kebahagiaan ini.
"Kau akan selalu bersamaku kan?" tanya Rath tiba-tiba.
Tidak selama yang kau dan aku harapkan, Sayang. Jawaban pahit itu terlintas di benakku. Namun kuusir jauh-jauh jawaban itu. Aku tidak ingin merusak hari ini. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kami berdua. Maaf aku tidak bisa mengatakannya padamu, karena keegoisanku, karena aku ingin merasakan kebahagiaan bersamamu.
Kugenggam tangan Rath. Berharap mengusir kecemasan Rath, tidak ingin pikiran gelap tentang masa depan merusak kebahagiaan yang baru didapatkannya. Aku juga ingin menguatkan diriku sendiri. Mungkin aku akan mendapatkan keajaiban. Tapi kalaupun tidak, aku akan menghadapi masa depan bersama Rath disampingku.
"Tentu. Kalau tidak, untuk apa kita repot-repot mengundang semua orang," jawabku.
Rath tampak puas dengan jawabanku. Sementara aku kembali menyibukkan pikiran dengan satu tradisi lagi yang harus kulalui.
Banyak sekali orang yang berkumpul di depan tembok Dragon Castle, menunggu ratu baru mereka muncul. Mereka akan melihatku nanti diatas balkon, dengan mahkota diatas kepalaku, saat aku telah menerima gelar itu secara resmi beserta tanggungjawab yang disematkan padaku.
Semua orang di dalam Dragon Castle sibuk. Sejak pagi tadi mereka semua sibuk. Para pelayan membantuku melepas hiasan bunga dan tiara dari rambutku. Tintlet menata rambutku lagi dengan cekatan, menghiasinya dengan mutiara diantara untaian rambutku, dibantu oleh Lady Ophelia yang segera menyusulku ke kamar ini setelah aku datang.
"Terimakasih," ucapku pada Lady Ophelia. Aku merasa sedikit tidak enak padanya, karena sepertinya Lady Ophelia menaruh hati pada Rath.
"Sama-sama. Aku cukup ahli dalam hal ini, jadi akan kubantu dengan senang hati," sahut Lady Ophelia sambil tersenyum dengan hangat.
Sepertinya kami berdua membicarakan hal yang sama sekali berbeda. Ini memang salahku yang tidak mengatakannya dengan tepat. Namun aku tidak bisa mengungkapkannya secara terang-terangan karena ada banyak orang yang tidak mengetahui permasalahan ini. Lady Ophelia bicara tentang keahliannya menata rambut, dan bahwa dia menikmati yang dilakukannya saat ini. Sedangkan aku merasa sungkan padanya karena menikahi Rath, sementara dia yang memiliki perasaan pada Rath punya derajat yang lebih pantas untuk bersanding dengan sang kaisar.
Lady Ophelia juga punya warna mata yang mirip denganku. Aku sering bertanya-tanya, mungkinkah mata naga bisa dimiliki oleh dua orang sekaligus? Apa itu sama saja dengan jodoh? Seperti benang takdir yang menghubungkan satu orang dengan orang lain yang jadi jodohnya. Lady Ophelia pernah mengatakan tentang benang takdir. Meskipun aku tidak tahu apakah ikatan yang mengikat setiap pasangan yang telah saling berbagi hati memiliki warna merah, aku yakin setiap orang punya jodoh masing-masing. Bagiku, tidak menutup kemungkinan satu orang punya dua atau tiga jodoh. Berapapun jumlahnya. Mungkin mereka datang silih berganti menggantikan yang telah hilang.
Saat Galsuenda muncul di pintu kamar dan berkata acara akan dimulai, Tintlet, Lady Ophelia dan para pelayan sudah selesai.
Tintlet dan Lady Ophelia pergi lebih dulu. Kemudian para pelayan menggiringku melewati koridor-koridor sepi yang semarak dengan hiasan bunga mawar putih dan lily putih. Keharuman bunga-bunga itu menyebar di segala tempat. Namun kegugupanku kembali, mengusik seiring semakin dekat aku pada tempat yang kutuju. Aku nyaris kabur saat berada di depan pintu aula. Entah mengapa aku merasakan aura yang berbeda dari saat di katedral tadi. Kuhibur diriku sendiri dengan pikiran Rath juga mengalami ini sebelumnya, yang dirasakannya saat itu pasti lebih buruk, tapi toh dia tidak kabur dan berbuat bodoh seperti biasanya.
Galsuenda yang rupanya menyadari kecemasanku, meremas tanganku. "Tidak apa-apa. Anda pasti bisa melalui ini. Kaisar telah menunggu Anda. Abaikan saja tatapan orang-orang agar Anda tidak semakin gugup. Saya rasa Anda akan merasa lebih baik kalau memandang Kaisar saja."
"Terimakasih. Kau benar, aku gugup sekali," ucapku.
"Saya akan membuka pintu kalau Anda sudah siap, Lady," kata seorang pengawal di depan pintu.
Aku bersyukur mereka semua memperhatikanku. Bersyukur aku akan tinggal di tempat dimana orang-orang baik ini tinggal.
Aku menarik napas panjang sekali, dan dua kali. Berusaha menekan rasa gugup. Aku mengangguk pada kedua pengawal. Keduanya mendorong pintu secara bersamaan, membuka jalan masuk ke aula yang terlihat amat luas bila dilihat dari sini. Jauh sekali untuk sampai diujung sana.
Pengawal yang tadi bicara padaku mengangguk memberi semangat padaku.
Temannya yang berada di sisi lain berkata, "Semoga berhasil, Lady."
Aku mengambil langkah pertamaku. Berat sekali rasanya. Lalu kedua. Ketiga. Aku terus berjalan. Semua mata tertuju padaku. Tempat ini dipenuhi oleh para bangsawan dari seluruh penjuru Dusis. Mengawasi saat aku lewat seolah mangsa yang siap diterkam. Aku menuruti saran Galsuenda, mengarahkan pandanganku pada Rath. Rath membalas tatapanku dan tersenyum diujung ruangan.
Aula takhta itu terasa lebih luas daripada biasanya. Aku hanya harus memperhatikan Rath saja, kataku pada diri sendiri. Itu sudah cukup memberiku kekuatan untuk terus maju.
Saat aku masih beberapa langkah lagi untuk mencapainya, Rath yang tampaknya sudah tidak sabar, bangkit dari singgasananya. Dia menyambutku dengan seulas senyum dan tatapan mata kagum seperti yang kulihat saat aku berjalan kearahnya di katedral. Saat memandang ke kanan dan kiri Rath, sejenak kegugupan itu kembali. Namun senyum hangat dari Lady Raseleane menenangkanku. Lady Raseleane mengulurkan tangannya padaku. Kusambut tangannya yang hangat dan lembut, lalu Beliau membimbing melengkapi beberapa langkahku.
Aku berlutut di depan Rath. Memandangi lantai karena tak sanggup lagi menahan rasa gugup.
Sesaat kemudian sunyi. Aula itu terasa hening. Tak ada seorangpun yang bergumam.
"Aku, Rath Illuser. Lord dari Draqueen, Raja Kerajaan Dragoon dan Kaisar Dusis. Dengan ini memahkotai Cesia, mengangkatnya sebagai permaisuri dan ratuku," Rath mengumumkan dengan lantang. Ketegasan dalam suaranya membuatku terkejut. Irama suara yang menunjukkan legitimasi atas supremasinya, terasa asing karena belum pernah kudengar darinya.
Kurasakan berat mahkota yang diletakkan diatas kepalaku. Tidak kusangka akan seberat ini. Mungkin berat benda ini juga melambangkan tanggungjawab yang harus kuemban sebagai istri seorang kaisar.
Setelah sang uskup – yang tadi mengesahkan pernikahanku – memberkatiku, Rath meraih tanganku. Aku bangkit dan menghadap ke hadirin. Lalu para hadirin di aula itu membungkuk hormat.
Dua hari telah berlalu sejak Rath mengucapkan ikrarnya. Setelah itu kami pergi berlibur, sementara meninggalkan tugas-tugasnya pada Ruwalk dan Rune.
Kami berlibur ke Kastil Schillondt yang terletak di sebuah pulau kecil di tengah danau. Kastil ini sudah bertahun-tahun menjadi tempat liburan keluarga kaisar saat musim panas. Suasana di sini tenang dan nyaman. Pemandangan indah dari danau Argent bisa terlihat jelas lewat koridor barat yang memiliki jendela-jendela tinggi dengan lengkungan gothic yang anggun.
Matahari sudah cukup tinggi saat aku membuka mata. Satu sisi tempat tidur telah kosong. Rath sudah bangun.
"Kemana kaisar culun itu pergi?" gerutuku.
Teringat kembali olehku malam setelah kedatangan kami di tempat ini. Sungguh bodoh dan canggung. Terlebih lagi bagi Rath.
"Apa yang akan kita lakukan malam ini?" tanya Rath sambil mengancingkan piamanya.
"Apa yang kau inginkan, Rath?" aku balik bertanya.
Entah mengapa mendadak aku punya perasaan bahwa Rath tidak mengetahui apa yang mesti dilakukannya. Meskipun dia sudah cukup dewasa – dan berusaha bersikap dewasa di depan semua orang, terutama sejak dia menjadi penerus Lord Lykouleon, aku masih bisa melihat sisi kekanakan dalam dirinya. Rath yang kukenal adalah seorang pemuda yang mempercayai sebuah ciuman mampu menghilangkan kutukan – pemikiran yang dia dapatkan dari mendengar puluhan dongeng saat dia kecil – meskipun mungkin keyakinan itu terpatahkan saat dia gagal mengembalikan wujudku ketika aku berubah menjadi binatang sacred.
Rath mematung di seberang ruangan. Raut wajahnya menunjukkan kalau dia tengah berpikir.
Sesaat kemudian, ide yang diusulkan Rath secara jelas menunjukkan ketidakdewasaannya.
"Aku tidak terlalu mahir main kartu. Aku juga belum tahu apa di sekitar sini ada monster atau tidak yang bisa diburu," kata Rath dengan ringan. "Bagaimana kalau kita main menebak nama monster dan makhluk mitologis?"
Aku berkedip. Tidak percaya Rath masih bisa memikirkan tentang monster di malam setelah pernikahan kami.
"Kau mau main tebak nama monster?" ulangku.
"Iya," jawabnya. "Kalau kau tidak suka, kita bisa cari permainan lain yang menurutmu lebih seru. Kau punya ide, Cesia?"
Ya Tuhan, aku menikahi seorang kaisar yang tidak dewasa. Keluhan itu hanya tersuarakan dalam benakku. Tampaknya bagaimanapun harus aku yang mengambil langkah awal.
"Kapan si bodoh itu akan berubah?" tanyaku pada diri sendiri selagi aku menarik seutas tali di sudut ranjang.
Setelah kupikir ulang, mungkin aku lebih suka Rath yang apa adanya seperti dulu maupun saat ini. Tak peduli apa kelak dia akan mampu berubah menjadi seseorang yang lebih dewasa dari saat ini atau selamanya akan tetap jadi bocah manja yang kukenal selama ini.
Kusingkirkan jauh-jauh kenangan penuh kecanggungan malam itu saat pintu kamarku terbuka. Galsuenda masuk sambil membawa nampan dengan perlengkapan minum teh diatasnya, diikuti oleh tiga gadis pelayan yang langsung menghilang ke ruangan sebelah setelah membungkuk hormat dengan formal.
"Selamat pagi, Lady," sapa Galsuenda dengan ceria seperti biasanya. Gadis itu bergerak dengan luwes. "Hari ini saya sudah menyiapkan teh vanilla dengan susu."
Galsuenda meletakkan nampannya di atas meja di dekat sofa di pinggir jendela. Tanpa banyak komentar, gadis itu menuang teh ke dalam cangkir dan menambahkan susu ke dalamnya.
"Kau tahu kemana Lord Rath pergi?" tanyaku sambil menerima cangkir teh yang diulurkannya.
Galsuenda mengggeleng. "Saya tidak tahu, Lady."
"Begitu ya?" tanyaku muram, bertanya pada diri sendiri.
Kemana Rath pergi? Aku bertanya-tanya selagi menyesap teh susu dalam cangkir putih bermotif bunga Iris.
Galsuenda telah menghilang ke ruangan sebelah, bergabung dengan ketiga temannya untuk menyiapkan air untuk mandi. Namun tidak lama kemudian gadis itu kembali, tepat saat aku selesai menyantap dua keping biskuit dan menghabiskan tehku.
"Anda mau minum teh secangkir lagi, Lady? Air mandinya masih disiapkan, mohon Lady menunggu sebentar," ujarnya ramah.
"Tidak. Terimakasih," kataku.
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum sekilas sebelum menerima cangkir kosong dariku dan meletakkannya kembali ke nampan.
Pintu kamar terbuka – sontak membuatku dan Galsuenda menoleh. Rath muncul.
"Selamat pagi semuanya," ucapnya dengan santai.
Galsuenda membungkuk memberi hormat pada Rath. Tampak canggung dan gugup saat kaisar muda itu mendadak muncul.
"Pagi, Cesia," sapa Rath.
Rath melepaskan mantel perjalanannya yang sederhana, menyampirkannya begitu saja di punggung sofa. Lalu dia mengambil sekeping biskui yang tersaji di meja dan mengunyahnya. Kemudian dia berjalan mendekati ranjang. Dengan santai dia duduk di ranjang di sisi tempatnya tidur semalam dan mengangkat kedua kakinya ke atas ranjang dan menyandarkan punggungnya di tumpukan bantal. Galsuenda langsung buru-buru kabur ke kamar mandi. Rath menguap.
"Lepas sepatumu, kau membuat sprei jadi kotor," tegurku pelan, tidak ingin pelayan mendengar cara bicaraku pada Rath. Meskipun ini adalah permintaan Rath sendiri. Dia tidak ingin perubahan statusnya sebagai ksatria menjadi penguasa baru kekaisaran benua barat ini mengubah hubungan kami, termasuk bagaimana caraku bicara padanya.
"Oh iya, ya ampun," ujarnya, buru-buru bangkit dan menurunkan kakinya.
Rath beranjak dari ranjang. Melangkah pergi. Pindah ke sofa dekat jendela.
"Yang Mulia darimana saja?" tanyaku. Kupikir aku tidak akan bisa bicara lirih sementara Rath berada di seberang ruangan.
Rath tidak menjawabku. Malah asyik mengoles selai cokelat ke biskuit.
"Yang Mulia Kaisar..."
"Hentikan itu. Harus berapa kali kubilang sih. Mau sampai kapan kau bolot begitu?" ujarnya santai.
Seandainya aku orang lain dan tidak pernah mengenal Rath sebelum ini, tentunya aku pasti akan kaget dan langsung sakit hati bila suamiku mengucapkan hal sekasar itu, meskipun aku tahu Rath tidak ada maksud buruk.
"Sampai kapan kau mau bersikap kekanakan?" balasku setengah menggerutu. "Mereka ada di ruangan sebelah."
"Apa?" tanya Rath sambil mengunyah biskuit yang sudah diolesinya dengan selai cokelat hingga tebal. Tampak sama sekali tidak peduli.
Rupanya kata-kataku tidak cukup keras. Tidak ada reaksi apapun dari kamar mandi. Aku bersyukur ucapanku tidak sekeras itu. Karena kalau tidak, apa yang akan dipikirkan para pelayan.
"Sudah, lupakan saja," sahutku.
Rath memandangku sambil nyengir. Aku mengerling ke arah kamar mandi.
"Dari dulu aku tidak suka dengan tradisi. Dan seingatku Lord Lykouleon juga bukan orang yang suka bersikap formal sepanjang waktu. Itu sangat melelahkan, Cesia," kata Rath.
"Baiklah, Rath. Darimana saja kau?" tanyaku.
"Mencari informasi tentang monster," jawabnya enteng.
"Monster?" kataku cukup keras.
"Iya. Tapi tidak ada informasi apapun yang kudapat," katanya sambil mendesah kecewa. "Kupikir kita bisa berburu monster bersama, seperti dulu."
"Kau ingin berburu monster?" tanyaku.
"Begitulah," jawab Rath, senyum nakal mengembang di wajahnya.
"Kau masih belum berubah," komentarku sambil mendesah.
"Tidak juga," sahut Rath. "Kurasa ada beberapa hal dariku yang tidak lagi sama. Situasi juga sangat berbeda sekarang. Bukannya tidak mensyukuri masa damai yang kita dapatkan, namun kadang-kadang aku merindukan masa lalu."
"Apa yang kau rindukan?" tanyaku. Pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari mulutku, bahkan sebelum aku menyadari kalau aku benar-benar menanyakannya.
Aku memang seringkali merasa ingin tahu, meskipun orang-orang disekitarku mengklaim kalau akulah yang paling memahami Rath. Namun yang bersangkutan sangat jarang mau membuka mulutnya. Jangankan membuka mulut, membuka hati saja tidak. Dia selalu menyimpannya rapat-rapat – apapun yang disembunyikannya – entah ada berapa rahasianya yang belum kuketahui. Hanya sesekali saat tanpa sengaja dia mengatakan sesuatu. Tapi itupun hanya secuil kata-kata yang tidak ingin dilengkapinya hingga benar-benar selesai dan berakhir dengan tanda titik.
Rath menoleh padaku. Menatap seolah ingin mengatakan sesuatu. Aku nyaris berpikir kalau kali ini dia pasti mau berbagi apapun rahasianya padaku. Namun sebelum harapan dalam pikiranku berkembang, kata-kata yang keluar dari mulut Rath membuatnya layu.
"Bukan apa-apa," jawabnya.
Dia akan selalu mengurungkan apa yang hendak dikatakannya. Aku tidak pernah tahu apa ini kebiasaannya sedari kecil atau hanya kebiasaan yang baru diperolehnya saat menginjak remaja.
"Lagi-lagi begitu," gerutuku pelan, tidak bermaksud untuk didengar Rath.
"Apanya?" tanya Rath.
"Apa?" aku balik bertanya.
"Yang kaubilang barusan. Apanya yang lagi-lagi?" tanya Rath dengan wajah sepolos biasanya.
Ternyata dia mendengarku.
"Bukan apa-apa," jawabku.
Rath masih menatapku. Sepertinya dia tengah mencari makna sebenarnya dari kata-kataku barusan. Sesaat kemudian dia terkekeh, lalu mengambil sekeping biskuit lagi dan mengunyahnya seolah percakapan kami barusan tidak pernah terjadi.
Galsuenda muncul dari pintu kamar mandi.
"Lady, kamar mandinya sudah siap," ujarnya.
Rath bangkit dari sofa dan beranjak pergi. Meninggalkan kamar begitu saja, sedangkan dengan rasa tidak puas bercokol di hatiku.
Namun rasa tidak puas itu mendadak kalah oleh rasa malu saat ingat aku juga melakukan hal serupa. Apa yang kusembunyikan dari orang-orang mungkin tidak sebanyak apa yang disembunyikan Rath. Namun dari semua rahasia kelam yang kumiliki, kutukan terakhir Nadil padaku adalah yang paling membebaniku. Bayangan tentang kekecewaan macam apa yang harus Rath tanggung karenaku benar-benar tidak tertahankan. Meskipun pada akhirnya aku menyerah pada keegoisanku. Karena aku pun tidak ingin menjalani hidup ini tanpa Rath.
Setelah makan siang di taman, Rath kembali menghilang. Kupikir dia pasti masih penasaran dengan monster yang ada di sekitar sini. Rupanya informasi dari penduduk lokal yang mengatakan tidak ada monster belum cukup baginya. Tidak masalah, Rath berhak dapat liburannya sendiri dari jadwal kerjanya yang padat di Dragon Castle. Kuhibur diriku sendiri dengan pikiran itu untuk mengusir rasa sepi. Walau pada akhirnya rasa sepi itu tidak juga hilang, tapi setidaknya bisa dimaklumi.
Aku sedang melintas di koridor barat saat aku mendengar suara musik. Dentingan piano itu benar-benar sukses mengalihkan perhatianku dari pemandangan Danau Argent di bawah tebing yang menopang kastil ini.
Siapa yang sedang memainkan piano?
Dengan perlahan aku mendekati arah datangnya musik, tidak ingin mengusik si pemain piano yang kedengarannya sedang menikmati kegiatannya. Musiknya tidak berhenti mengalun.
Pintunya tidak tertutup. Aku bisa dengan mudah mendorongnya. Namun aku hanya membuka sedikit celah untuk mengintip ke dalam ruangan.
Saat aku melihat siapa yang sedang memainkan piano itu, kututup mulutku sebelum sempat terkesiap dengan keras. Rath sepertinya tenggelam dalam musiknya.
Kusangka tadi dia sedang ngeluyur entah kemana demi berburu monster. Tapi ternyata dia ada disini, memainkan piano besar warna hitam mengkilap yang elegan. Aku tidak pernah tahu Rath bisa memainkan piano. Tak pernah terbersit sekalipun di pikiranku kalau Rath bisa memainkan musik.
Tiba-tiba saja alunan musik itu berhenti. Rath menoleh padaku, terkejut, seperti terpergok melanggar peraturan.
"Kenapa berhenti?" tanyaku setengah menuntut.
"Ngapain kau di situ?" tanya Rath sambil bangkit dari kursinya dengan salah tingkah. Wajahnya mendadak merah padam.
Aku membuka pintu lebih lebar dan masuk ke ruangan itu, menghampiri Rath.
"Kenapa kau ngintip?" tuntut Rath.
"Apan sih? Kenapa reaksimu jadi seperti bocah yang ketahuan mencuri mangga di kebun tetangga?"
"Apa? Memangnya siapa yang mencuri mangga di kebun tetangga? Kau melanggar privasiku, tahu!" sembur Rath dengan ekspresi bodoh.
Dia masih tetap telmi. Tingkahnya yang seperti ini yang terkadang membuatku jengkel.
"Wah, wah, sekarang kau bisa ngomong soal privasi ya?" sahutku.
Rath merengut.
"Semua orang yang lewat di koridor itu pasti bisa dengar suara piano itu, Bodoh! Enak saja kau bilang aku melanggar privasimu. Aku tadi justru tidak ingin mengganggumu, makanya aku diam-diam saja melihatmu."
"Melihat apaan? Kau mengintipku!" kata Rath dengan bebal.
"Sudah ah. Aku tidak mau bertengkar dengan bocah manja sepertimu," tukasku.
Rath langsung terdiam. Tampak menyesal.
"Maaf," ucapnya.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Mengataimu tukang ngintip," jawabnya.
"Kau tidak bilang aku tukang ngintip, kau bilang aku mengintip," koreksiku. Lalu aku baru menyadari kalau itu adalah hal yang terlintas di pikirannya. "Kauuuu..." geramku.
"Makanya aku minta maaf," kata Rath buru-buru.
Aku mendesah. "Sudahlah, tidak apa-apa. Aku toh juga salah, karena memang aku mengintipmu."
Rath membisu sambil membelakangi piano.
"Aku tidak tahu kau bisa main piano," kataku.
Aku teringat sebuah piano yang berada di Dragon Castle. Piano yang juga berwarna hitam. Sama besar dan elegan dengan yang ini.
"Karena memang sudah lama sekali aku tidak memainkannya," sahut Rath.
Rath duduk kembali di bangkunya, masih tetap membelakangi piano. Aku mengikutinya, duduk di sebelahnya.
"Lama? Sejak kapan?"
"Sejak sebelum aku dan teman-teman memenggal kepala Nadil."
Aku mengira-ngira berapa lama sejak saat itu. Waktu itu aku bahkan belum datang ke Dragon Castle.
"Wah, itu memang lama sekali," sahutku. "Lalu kenapa kau tidak pernah main piano lagi?"
"Karena memang tidak ingin saja," jawab Rath sambil mengedikkan bahunya. "Waktu aku kecil, ini adalah salah satu bagian pelajaranku."
"Belajar musik?" tanyaku. Lalu tiba-tiba saja aku merasa bodoh telah bertanya. Sejak kecil Rath tinggal di Dragon Casle, tentu saja dia mempelajari musik juga. Pasti banyak sekali yang harus dipelajari kalau tinggal di istana sejak kecil.
Rath mengangguk.
"Bagaimana dengan Rune dan Thatz?" tanyaku. Aku penasaran apa mereka juga diminta mempelajari hal yang sama.
"Rune lebih ahli dariku. Mungkin ini bakat lahirnya sebagai bangsa peri. Dia juga rajin, serius dalam segala hal. Sedangkan Thatz yang datang lama setelahnya – aku sudah lebih besar saat dia datang – sepertinya tidak terlalu berminat untuk belajar. Tidak hanya musik, tapi juga pelajaran lain juga. Dia sering kabur waktu jam belajar. Kadang-kadang aku ikut membolos bersamanya, kalau aku bisa menyelinap. Rune juga kadang-kadang ikut membolos, sambil menggerutu tentu saja, dan menuduh Thatz mengajariku hal-hal yang tidak patut dilakukan."
Rath terkekeh. Pandangannya menerawang keluar jendela. Aku menyimak cerita Rath dengan perhatian penuh. Namun dia tidak melanjutkan ceritanya.
Rath menoleh padaku. "Giliranmu," katanya ringan sambil menyunggingkan senyum favoritku.
"A-apa?"
"Ceritakan padaku tentang apa saja yang kau pelajari waktu masih tinggal dengan penyihir kanibal. Apa kau pernah belajar bermain musik? Biasanya penyihir adalah orang yang serba bisa, kan."
"Aku tidak pernah belajar musik. Yang pernah kupelajari adalah segala macam hal yang berhubungan dengan sihir, seperti mantera, ramalan dan ramuan. Selain itu, aku belajar memasak untuk kepentingan menjalankan restoran," kataku.
Aku menghela napas. Rasanya tidak ingin mengingat-ingat kembali masa laluku. Nenek Sihir itu tidak pernah membuat hidupku tenang. Setiap malam aku nyaris selalu memikirkan cara bagaimana bisa lepas darinya. Aku tak tahan hidup dengannya. Selera makannya pada kuliner ekstrim yang tidak biasa benar-benar membuatku mual. Setiap kali dia memaksaku memakan daging manusia... Dan macam-macam lagi perbuatannya yang membuatku ingin kabur. Uugh, aku tak mau mengingatnya.
"Kau tak ingin membicarakannya ya? Maafkan aku...," kata Rath tulus.
"Aku hanya tak ingin mengingat bagian hidupku yang itu. Lagipula penyihir bukan orang yang serba bisa. Dapat darimana sih pikiran itu?" sahutku.
"Dari buku dongeng. Biasanya penyihir di dongeng mahir melakukan banyak hal. Mereka mahir bernyanyi. Mereka juga mahir menyihir sesuatu yang keren dari udara kosong ataupun hal-hal remeh seperti labu, seperti pakaian yang bagus, kereta kencana, sepatu kaca, kue ulang tahun yang besar... Kau tahu lah."
"Kau terlalu banyak membaca buku dongeng, Rath," desahku. "Penyihir sungguhan tidak seperti itu."
Rath mengangkat bahu. "Yah, kau yang paling tahu. Kau tidak perlu cerita kalau tidak ingin cerita."
Kurasa aku mengerti mengapa Rath sangat tak suka bila orang lain mengusik salah satu bagian masa lalu yang tak ingin dia ingat. "Tidak apa-apa. Aku punya hidup baru yang lebih baik sejak datang ke Dragon Castle. Jauh lebih baik dari yang pernah kubayangkan."
Rath tersenyum. Lagi-lagi senyuman sendu itu. "Aku senang kalau Cesia juga senang."
"Aku juga mempelajari banyak hal baru di Dragon Castle," kataku. Aku ingat satu lagu yang pernah kupelajari. Lagu itu menggunakan bahasa yang tidak terlalu kupahami. "Aku tahu satu lagu yang pernah diajarkan Lady Raseleane."
"Tunjukkan padaku," kata Rath. Dia melemparkan tatapan menggoda.
"Tolong jangan tertawa," pintaku, mendadak merasa gugup.
"Aku janji," kata Rath.
Aku menarik napas, sambil mengingat bait-bait syair lagu. Setelah aku merasa siap, aku mulai melantunkan syair itu. "Signore guidami. E dimmi cosa fare. Ho vista l'amore della mia vita. E lui ha vista me..."
Aku berhenti sejenak. Cemas kalau-kalau aku salah melantunkan syairnya. Namun Rath hanya tersenyum. Lalu dia beralih pada pianonya lagi dan mulai menekan tutsnya.
"Lanjutkan," gumamnya pelan.
"Sono confuse, lo confonde. Gli voglio dire che l'amo. E spero dira lo stesso."
Permainan piano Rath mengalun lembut mengiringi setiap syair yang kulantunkan dengan hati-hati. Namun perhatianku justru teralihkan oleh gerakan jari-jari panjang Rath yang menari-nari diatas tuts piano.
"Sono passate due settimante. La vita scorre veloce. Il mio cuore batte forte. Signore guidami e dammi pace. Ti chiedo cose dire, come dirlo. Nostrami come dire che l'amo. Nostrami come dire che mi ama. Sto pregando che dira di amarmi."
Rath mengakhiri iringan pianonya sesaat setelah aku selesai. Aku bersyukur bisa menghafal lirik lagu itu, meskipun di tengah-tengah prosesnya fokusku justru teralihkan oleh Rath. Aku menoleh pada Rath, menunggu komentarnya.
"Lagu yang bagus sekali. Ngomong-ngomong, apa kau tahu artinya?"
"Arti apa? Syairnya?" tanyaku bingung.
Celaka. Aku tidak bertanya pada Lady Raseleane apa arti syair lagu itu. Aku mempelajarinya hanya karena aku menyukai nada-nada dan bunyi syairnya. Ini benar-benar tak bisa dihindari. Rath pasti bakal tertawa kalau tahu aku menyanyikan lagu yang bahkan tidak kuketahui artinya.
"Kau tidak tahu ya?" tanya Rath penuh selidik. Senyuman jahil tersungging dengan sempurna di wajahnya.
"Kau janji tak akan tertawa," semburku.
"Ya, benar aku sudah janji. Aku tidak boleh melanggar janji, kan," ucapnya santai. Senyuman itu belum juga hilang, berbaur menjadi satu ekspresi yang mengindikasikan kemenangannya.
Aku mendengus sambil merengut, memilih untuk tidak memandangnya.
"Tuhan, bimbinglah aku. Katakan padaku apa yang mesti kulakukan. Aku telah bertemu dengan cinta dalam hidupku. Begitu juga dengan dirnya. Aku ingin menyatakan perasaan cintaku padanya. Dan kuharap dia juga mengatakan hal yang sama terhadapku."
Aku memandang Rath dengan terbengong-bengong. Aku nyaris bisa membayangkan kalau ekspresi wajahku pasti sama bodohnya dengan koala yang sedang bingung. Sialnya, rasanya aku tidak bisa mengontrol ekspresiku sendiri. Rath tersenyum simpul.
"Waktu berlalu dengan cepat. Jantungku masih berdebar dengan cepat. Tuhan, bimbinglah aku dan berikan kedamaian padaku. Beritahu aku bagaimana harus mengatakan ini. Tunjukkanlah padaku bagaimana cara menyatakan aku mencintainya. Tunjukkanlah padaku isyarat cintanya. Aku berdoa agar dia juga mengatakan cinta padaku."
"Itu..."
"Kira-kira demikian arti dari lagu yang kau nyanyikan barusan," kata Rath santai.
"Oh, artinya bagus sekali. Ternyata itu sebuah doa," kataku, terpana.
"Lady Raseleane sangat ahli soal syair lagu cinta dan segala macam teori cinta. Dulu waktu aku kecil, aku sempat bertanya tentang siklus kehidupan – tentang darimana datangnya bayi – dan aku mendapatkan jawaban yang membingungkan dari Lady Raseleane. Tentang teori dan mitos...," celoteh Rath. Lalu dia mendesah. "Well, sebetulnya tidak ada satupun jawaban masuk akal yang kuperoleh saat itu. Meskipun aku sudah bertanya pada semua orang, kurasa nyaris seisi Dragon Castle."
"Yeah, aku tahu perasaan mereka yang kebingungan dengan pertanyaanmu," kataku.
Aku tertawa membayangkan wajah bingung Lord Lykouleon, Ruwalk, Celnozura, Kaistern, Alfeegi, bahkan Tetheus yang sehari-hari cenderung terlihat kaku. Lalu aku membayangkan wajah bingung Rath kecil yang belum mendapatkan jawaban yang memuaskannya, semakin bingung saat mendengar penjelasan panjang lebar dari Lady Raseleane tentang teori dan mitos romantis atau semacamnya.
"Ah, silakan saja tertawa. Aku akan tetap memegang janjiku," kata Rath sinis.
"Maaf. Aku tidak tahan untuk tidak membayangkannya," engahku di tengah tawa.
Rath tidak mengatakan apapun. Cemberut sambil memandangi tuts piano.
Beberapa saat kemudian, aku berhasil menguasai diri lagi.
"Rath?"
"Hmm?"
"Meskipun aku tadi tidak tahu arti lagu yang kunyanyikan. Seandainya aku tahu artinya seperti itu, kurasa aku akan menyanyikannya dengan lebih berperasaan. Agar maksud dari lagu itu tersampaikan," kataku.
Kini giliran Rath yang memasang ekspresi bodoh. Aku nyaris saja mengerang. Aku lupa kalau Rath seringkali tidak peka kalau diajak bicara tentang perasaan. Rasanya segala kepekaannya telah menguap begitu saja setelah lamaran di gazebo malam itu. Waktu itu mungkin saja dia benar-benar mendorong dirinya sendiri sampai batas maksimal, hingga dia nekad mengatakan segala macam ocehan yang nyaris tidak bisa kupercaya keluar dari mulutnya.
"Oh," ucap Rath dengan nada yang sangat serasi dengan raut wajahnya.
Aku merasa seperti kepingin melempar piano dan berteriak.
"Bukannya tadi kau menterjemahkan lagu itu dengan lancar?" semburku frustasi. "Ya Tuhan..."
Rath berkedip. "Oh, itu..." ucapnya datar. Dari nada bicaranya kurasa dia sedikit mengerti maksudku. Aku harus benar-benar sabar dalam berkomunikasi dengannya.
Pelipisku berkedut. Mendadak rasanya pusing. Niatku ingin mengatakan sesuatu yang manis, yang bersangkutan malah tidak mengerti. Suasana hatiku langsung berantakan.
"Cesia sudah menyanyikan lagu tadi dengan baik. Kurasa, maksud hatimu sudah tersampaikan," kata Rath dengan pelan, nyaris tak terdengar. Dia sepeti bicara pada dirinya sendiri.
Aku memandangnya sambil melongo. Wajahnya merona – bahkan kukira telinganya juga ikut memerah. Saat bertemu padang denganku, dia cepat-cepat membuang muka. Dia malu.
Aku teringat kembali dengan kata-katanya di gazebo. "Apa kau serius dengan kata-katamu di gazebo waktu itu?" tanyaku.
'... Bagiku, kau seperti matahari...' Itu yang dikatakannya dulu.
"Soal apa?" tanya Rath, masih sambil menunduk.
"Kau bilang aku seperti matahari. Kau juga bilang kalau namamu Lavan waktu datang ke Fiori."
Rath terdiam. Aku bukannya meragukan Rath. Aku tidak pernah ragu padanya. Namun, entah mengapa aku menginginkan penjelasan dari kata-katanya dulu. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Rasanya aku terlalu menuruti emosiku. Karena aku sangat takut kehilangan Rath. Aku takut untuk jauh darinya, sehingga pertanyaan itu keluar begitu saja. Aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri kalau aku tidak akan kehilangan Rath hingga akhir hidupku tiba.
Aku tahu harapan ini sangat egois. Namun aku tidak bisa menghentikannya. Rasa egois ini berlari tanpa kendali seperti sebuah kereta tanpa kusir.
"Aku tidak berbohong," kata Rath tanpa memandangku.
"Jelaskanlah," pintaku.
Meskipun tidak ada kontak mata, rona merah menyebar lagi di pipi Rath. Sang kaisar muda itu termenung menatap tangannya sendiri.
Aku mendesah. Menyerah pada pemahamanku sendiri. Rath akan selalu jadi Rath, dengan segala kepolosan sekaligus ketidakterbukaannya.
Namun ada kalanya dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tak terduga.
"Karena bagiku, kau bersinar dengan terang. Sedangkan aku hanya seperti sebuah satelit yang bergantung padamu agar tidak ditelan kegelapan... Agar keberadaanku tetap ada dan masih bisa terlihat..."
Kuraih tangan Rath dan menggenggamnya. Rath langsung terdiam lagi. Kalimatnya terputus begitu saja. Namun apa yang dikatakannya sudah cukup gamblang. Jarak diantara kami begitu dekat. Rath menoleh dan menatapku.
"Rembulanku..." bisikku.
Dia tidak bergerak selagi aku menegakkan punggung dan menengadah untuk meraih ciuman yang hangat.
