A-Z Project


kimionjung 2018

.

Park Jihoon x Bae Jinyoung


[I] I MISS YOU

.

"Aku ini pacarnya. Dan kau simpanannya. Ingat itu, bung." Kim Donghan berdiri di depan Bae Jinyoung dengan angkuh. Smirknya ia sunggingkan penuh kepuasan. Seakan pernyatannya tadi adalah hukum sidang telak yang ia jatuhkan kepada lelaki di depannya. Jinyoung sendiri tak diam. Ia meremas kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih.

"Shhhh... jangan marah dulu..." Dengan perlahan Donghan menepuk-nepuk bahu bidang Bae Jinyoung. Terasa otot bahu itu kaku. Tanda bahwa lelaki di depannya ini sudah tersulut amarah.

"..kau bukan simpanan, tapi selingkuhan." DEG. DEG. Apa-apaan si brengsek ini.

"Hyung!" Tiba-tiba seruan Daehwi terdengar dari ambang pintu Lab Matematika. Kedua alisnya menukik, memberikan tatapan intimidasi super kesal ke arah mereka berdua. Terutama untuk Donghan yang dari sudut anglenya, seperti sedang mencengkram kerah seragam Jinyoung.

"Cepat kembali. Kwon ssaem segera datang!" Lanjut Daehwi. Kedua orang itu pun mundur bersamaan, saling menjauh. Bertukar tatapan tajam kemudian berbalik pergi. Jinyoung kembali ke ruangannya dan Donghan menggusur pergi kopernya. Berterimakasihlah pada Daehwi karena teriakannya menghentikan niat Jinyoung memberi si Dongdong itu bogem mentah.


Buruk. Itulah kata yang pantas untuk mewakili seluruh kejadian di hari Jumat ini. Dimulai dari pagi, Jinyoung tidak melihat Jihoon, bertemu si Donghan gila, tidak ada kabar dari Jihoon, kehujanan saat pulang ke rumah dan masih saja tak ada kabar dari Jihoon. Besok sekalian akan datangi rumahnya saja! Sekarang Jinyoung hanya ingin istirahat. Mungkin ia butuh mandi air hangat lalu tidur bergelung selimut agar meringankan hari buruknya. Game sedikit sebelum tidur juga tidak apa-apa. Ia sudah tak sabar memanjakan diri. Maka cepat-cepat Jinyoung memasukan password apartemennya dan membuka sepatu. Tasnya ia lempar ke sofa lalu melepas mantelnya ke sembarang arah. Tapi suara debukan keras disusul jeritan melengking menginterupsi gerakan Jinyoung membuka dasi. Sungguh, demi Tuhan ia merinding. Perlahan ia menengok ke belakang. Matanya melebar melihat sosok putih berwajah setengah dengan mata hijau bangkit dari sofa.

"Ha-hantuu!?"

"KYA! BAE JINYOUNG BODOH!" Sosok itu melepas timun di mata kiri dan kanannya kemudian melemparkannya tepat ke kaki Jinyoung. Matanya menyalak dengan sisa masker yang terhapus setengah.

"Beraninya kau melempar tas bodohmu ke wajahku? Kau tak tahu kalau aku sedang maskeran? Kau-" Tunggu, itu.. Suzy noona?

"N-noona? Bagaimana bisa..?"

Tiba-tiba datang Joohyun dari arah dapur yang di tangannya memegang spatula lengkap dengan celemek bergambar Pokemon Poliwag. Ia menatap Suzy dan Jinyoung bergantian kemudian ikut berteriak.

"Bae Jinyoung! Kalau pulang ucapkan salam. Jangan lempar tasmu dan simpan yang benar. Mantelmu juga. Dan kau Suzy-"

"Tunggu-tunggu. Joohyun noona, Suzy noona. Kenapa kalian masih ada di rumahku?"

"Maksudnya apa itu?"

"Kau mengusir kami?"

"Kalau bisa sih." Jawab Jinyoung asal. Dan TAK! Lemparan spatula bergagang kayu itu mendarat mulus di kepala kecil Jinyoung.

"Auwh! Bagaimana kalau kepalaku bocor, noona?" Jinyoung mengaduh. Ia memegang kepalanya lalu berjongkok kesakitan. Decihan Joohyun terdengar sebagai jawaban. Dan tiba-tiba terlihat sepasang sandal penguin muncul mendekati Jinyoung. Bukan Suzy, bukan Joohyun. Siapa orang ini?

"Kepalamu tak akan bocor, Jinyoungie. Dan tebak. Siapa sepupumu yang baru pulang dari New Zealand?" Suara itu... Jinyoung mengangkat kepalanya dan matanya terbelalak. Dengan cepat Jinyoung meraih gagang spatula yang dua detik tadi menghantam kepalanya dan menggunakannya untuk menunjuk gadis di depannya.

"Yoobin? Kau disini juga?"


Bae Jinyoung kembali mendumel. Ia begitu bosan terjebak di dalam obrolan girls-to-girls yang tak ada habisnya ini. Makan malam sudah habis, tapi mereka berempat tidak beranjak sama sekali. Sialnya sih, karena dia -satu-satunya bergender laki-laki disini- tak akan nyambung dikelilingi obrolan tentang kosmetik, gossip terhangat atau bahkan oppa idol korea yang terkenal sampai ke pedalaman laut New Zealand. Sungguh ia tak kuat.

"Yah yah, mengobrolah dengan topik yang aku mengerti. Kalian tidak kasihan denganku yang menjadi kambing conge disini?" Jinyoung benar-benar kesal. Ia akhirnya bersuara juga. Syukurnya Yoobin dan Suzy memberinya perhatian. Sedangkan Joohyun berdiri, mengambil piring-piring dan membawanya ke pantry.

"Oke, adik kecil laki-lakiku yang the-one-and-only-one. Kau mau membicarakan apa?" Suzy menggoda Jinyoung. Tapi Jinyoung mencebikan bibirnya dan beralih menatap Yoobin.

"Yoobinie, kapan kau kembali dari New Zealand?"

"Siang ini. Joohyun eonni yang menjemputku di bandara dan membawaku kemari. Karena rumahmu itu sepi, jadi ia membutuhkan banyak orang untuk membuat rumah ini lebih berwarna haha."

"Hahahaha.." Suzy membalas tawa Yoobin kemudian keduanya melakukan hi-five.

"Maksudku, kenapa kau kembali ke Korea? Apa pekerjaan Paman sudah selesai disana?" Jinyoung meluruskan topik.

"Belum. Hanya saja aku sedang liburan. Mungkin sekitar seminggu disini. Lagipula aku rindu salju Korea." Seru Yoobin sambil merentangkan tangannya dengan kepala menenggak ke atas. Ya, Jinyoung bisa mengerti. Kalau di Korea ditimbun salju, maka New Zealand sedang dipanggang mentari musim panas. Ku dengar orang sampai bisa memasak telur di kap mobil yang terpapar sinar matahari karena saking panasnya. Pantas saja Yoobin yang asli Korea begitu rindu salju. Harusnya bulan Februari masih bersalju, kan.

Tapi apa daya. Ayah Yoobin itu seorang ahli IT. Ia menjadi dosen pengajar untuk beberapa fakultas ternama di New Zealand. Ibu Yoobin adalah suster perawat. Jangan tanya aku, mengapa mereka bisa bersatu. Toh aku juga belum lahir waktu itu. Walau profesi dan karakteristik mereka sangat berlawanan, nyatanya...

"Lalu bagaimana rencanamu setelah lulus?" Kini Suzy yang bertanya. Yoobin menatapnya tertarik.

"Kalau bisa, aku ingin study hukum di Harvard!" Seru Yoobin sambil mengepalkan kedua tangannya. Tuh kan apa ku bilang, batin Jinyoung. Ayah dosen IT, Ibu Suster. Anak? Yoobin berkata ingin menjadi Jaksa. Benar-benar keluarga aneh, bukan?

Tapi lebih aneh keluarganya sendiri. Ayahnya pengusaha. Ibunya jaksa. Kakak pertama reporter. Kakak kedua model. Dan dia sendiri... ingin menjadi calon suami yang baik untuk Jihoon -uhuk- maaf. Yang benar, Jinyoung ingin menjadi dokter (asal partnernya Park Jihoon). Setidaknya ada dua orang yang berprofesi sama disini.

"Seperti ibunya Jinyoung?" Suzy menelisik. Orang yang disebut namanya hanya bisa melongo. Hey, ibu Jinyoung itu ya ibumu sendiri Suzy noona! Sedangkan Yoobin sendiri mengangguk mantap.

"Ya, aku ingin seperti Ahjumo-nim. Menjadi jaksa penuntut hukum tersohor yang dikenal di seluruh penjuru negeri. Ketika aku bisa menyelesaikan kasus rumit, maka namaku akan disanjung-sanjung se-Korea. Bae Yoobin! Bae Yoobin! Wah, mengasyikan sekali." Seru Yoobin sambil berjingkrak riang. Suzy tertawa melihat Yoobin yang begitu menggemaskan, sedangkan Jinyoung masih bertahan dengan wajah poker facenya.

"Nah, kalau harimu bagaimana adikku?" Suzy mengalihkan perhatiannya kepada Jinyoung. Pemuda satu-satunya di ruangan itu terdiam. Ia kebingungan harus berkata apa. Haruskah ia meraung kalau harinya begitu buruk seharian ini? Tak ada Jihoon, tak ada hidup. Ditambah ia bertemu orang gila itu.

Sejenak Jinyoung menarik nafas dalam. "Buruk."

Singkat. Padat. Dan tidak jelas. Suzy mendadak geram jadinya.

"Yah, ceritakan lebih detail."

"Ada anak baru yang mengisi kekosongan personil di tim olimpiade fisika. Orang itu bernama Kim Donghan. Aku tak tahu siapa dia. Tapi sepertinya dia mempunyai dendam tersembunyi padaku. Bahkan sepertinya dia tahu segalanya tentangku." Lemas Jinyoung. Sungguh ia sedang tidak mood membicarakan orang itu. Tapi tepukan lembut di bahunya membuat Jinyoung menengok. Itu Joohyun noona. Mencoba menguatkan.

"Tak apa. Ceritakanlah. Memangnya siapa dia? Kenapa kau tahu dia punya dendam padamu? Setahuku, Jinyoung-ku ini anak yang baik." Tuturnya lembut. Membuat Jinyoung lebih baikan sekarang.

"Entah, noona. Dari tatapan dan caranya berbicara. Dia seakan marah akan sesuatu. Bahkan ia menyebutku 'tuan muda Bae'. Ugh, aku merinding." Cerita Jinyoung. Joohyun malah terkikik geli mendengar Jinyoung menirukan suara 'tuan muda Bae' dengan suara beratnya yang seperti ahjussi tua. Benar-benar tidak cool sama sekali.

"Tunggu-tunggu, siapa namanya tadi?" Yoobin menyela. Seketika tiga bersaudara itu menatapnya.

"Kim Donghan. Memangnya kenapa?" Jawab Jinyoung. Yoobin sendiri memangku dagunya. Ia seakan berpikir keras mengenai sesuatu.

"Aku sepertinya pernah mendengar atau membaca namanya di suatu tempat.."

"Ah, mungkin kau keliru Yoobinie. Di Korea ini tentu banyak yang namanya Kim Donghan." Joohyun mencoba menetralkan suasana yang mendadak tegang.

"Tidak, ini serius eonni. Aku memperkirakan nama Kim Donghan yang kemungkinan seumuran di sekolah menengah seperti Jinyoung. Tapi aku.. ah! Aku tahu!" Pekik Yoobin tiba-tiba. Membuat tiga Bae bersaudara itu terkejut parah. Calon jaksa Bae itu kemudian berlari ke kamarnya. Terdengar banyak barang berjatuhan, kemudian ia kembali membawa sebuah laptop di tangannya.

"Itu untuk apa?" Joohyun bertanya. Kini semua mendekat ke arah Yoobin.

"Aku teringat ada satu kasus kejam nan mengharukan yang pernah aku baca. Dan kalian tahu siapa jaksanya? Dia adalah ibu kalian! Ahjumo-nim sendiri." Ucapnya semangat. Merasa tertarik, Jinyoung mencoba lebih dekat ke layar laptop Yoobin.

Terlihat gadis berwajah kecil itu mulai mengetikan sesuatu. Lalu kemudian sebuah halaman browser khusus muncul. Menampilkan website yang tiga Bae bersaudara tak pernah lihat sebelumnya. Yoobin mencari-cari artikel yang ia maksud ke bawah. Karena kasusnya sudah terlewat bertahun-tahun silam, maka akan sulit mencarinya.

"Ketemu!" Setelah beberapa menit mencari, akhirnya Yoobin menemukannya. Di klik halaman itu dan ia download dalam bentuk .pdf file. Kemudian semuanya kompak mengelilingi laptop tersebut.

"Disini tertulis, 20 Mei 2009. Seorang pembunuh, pengedar narkoba dan penelantar anak telah dijatuhi hukuman mati." Yoobin membaca judul besarnya. Sejenak itu terlihat seperti judul laporan biasa. Tapi ketika ia scroll ke bawah, foto anak kecil bersimbah darah dengan pakaian lusuh menangkap perhatian Jinyoung.

"Eh? Anak itu?" Jinyoung menunjuk layar. Dan Yoobin pun mengangguk. Untuk sekejap, tiga Bae bersaudara mengagumi ingatan dan kepintaran Bae Yoobin.

"Ya. Kalau tak salah anak ini Kim Donghan. Di tahun 2009 umurmu 9 tahun, tak jauh berbeda dengannya kan?" Jelas Yoobin sambil menatap mata kaget Jinyoung.

"Disini tertulis. Seorang pembunuh, pengedar dan pecandu narkoba, Kim Seoha telah tertangkap. Dalam pengincaran, ia telah lolos beberapa kali. Selama pengejarannya, ia membunuh istrinya sendiri, pegawai bank, warga biasa sampai polisi. Kurang lebih ada 11 nyawa melayang karenanya. Tempat pengejaran terakhirnya adalah di rumahnya. Sepertinya ia ingin mengunjungi anaknya yang ia telantarkan karena ia sibuk kabur. Ketika kepolisian datang, Seoha bersembunyi di lemari. Dan anaknya yang diperkirakan berumur 10 tahun berdiri tepat di depan lemari, melindungi ayahnya. Melihat dari penampilannya, sepertinya ia belum makan 3 hari. Tidak mandi, tidak makan, tidak melakukan apa-apa. Kurus kering dengan pakaian lusuh. Banyak bercak darah dan matanya tertutup satu karena memar, menjelaskan ia dianiaya oleh ayahnya sendiri." Yoobin berhenti sejenak. Disana terpampang foto Donghan kecil yang kumal dan berpakaian compang-camping. Tangan kecilnya terlihat sangat kurus ketika ia membentangkan tangannya melindungi lemari yang berada di belakangnya. Yoobin sendiri tak bisa membayangkan betapa malangnya Kim Donghan diusia semuda itu melewati hari yang sangat berat. Donghan bisa saja mati, senasib seperti ibunya. Tapi ayahnya malah menyiksanya, itu sama saja seperti dibunuh secara perlahan. Tanpa sadar Yoobin mengepalkan tangannya, tak tegaan. Sedangkan tiga Bae bersaudara masih mendengarkan dengan seksama.

"Tapi anak itu tetap berdiri tak gentar walau polisi sudah memberikan tembakan peringatan untuk anak itu agar menyingkir. Akhirnya ada polisi yang berani maju dan meringkus anak itu. Ia melawan, tapi karena kondisinya lemah tiba-tiba ia jatuh pingsan. Ketika kepolisian mengecek lemari itu, ternyata berlubang. Sepertinya anak itu membuat trik pengalihan agar ayahnya bisa kabur melewati lubang itu. Tapi tidak lama, karena esok harinya Kim Seoha ditemukan di saluran pembuangan. Disana adalah markasnya selama pengejaran. Ia pun akhirnya masuk persidangan. Dituntut oleh Jaksa Han Minah dengan tuduhan pengedaran narkoba, pecandu narkoba, pembunuhan berencana dan penelantaran anak. Karena beratnya hukum yang ia tuntut, maka hasil persidangan mengumumkan Kim Seoha dihukum mati." Lanjut Yoobin. Entah kenapa badannya lemas membaca berkas kasus 9 tahun silam. Sedangkan nafas Jinyoung tercekat. Tarik kesimpulannya saja. Ibunya, Han Minah meminta ayah Donghan dihukum mati. Anak mana yang tak akan dendam? Tapi, kenapa harus ia? Lagipula ibu dan Jinyoung tidak salah sama sekali kan?

"Tak disangka anak dari Kim Seoha, Kim Donghan datang ke persidangan dengan perban di kepalanya. Ia berhambur dan memeluk ayahnya, kemudian menangis. Tapi apa daya karena hukum sudah ditegakan. Maka Kim Seoha menjalani hukumannya. Karena anak itu tidak memiliki keluarga lagi, maka ketua polisi Kwon yang memimpin tugas pengejaran kala itu berniat mengadopsinya. Mungkin ketua polisi Kwon merasa bersalah dan iba. Akhirnya Donghan diangkat menjadi anaknya. Sebenarnya beliau memiliki anak kandung, namanya Kwon Hyunbin. Dan Kim Donghan secara sah menjadi kakaknya karena Hyunbin lebih muda satu tahun. Ia tetap keukeuh dengan marga Kim, tak ingin merubahnya menjadi Kwon. Sepertinya ia begitu mencintai ayahnya. Tiga tahun kemudian mereka semua pindah ke Jepang. Dan mungkin, setelah sekian tahunnya, sekarang mereka kembali ke Korea." Tutup Yoobin pelan. Lambat-lambat ia menatap Joohyun, Suzy kemudian Jinyoung bergantian. Kira-kira apa yang mereka pikirkan?

"Kesimpulanku, Kim Donghan ini begitu menyayangi ayahnya seburuk apapun ayahnya itu. Terbukti ketika ia melindungi ayahnya dari polisi, datang ke pengadilan, dan bersihkeras memakai nama depan ayahnya.." ucap Joohyun.

"Kemudian ia dendam pada ibu karena sudah menjatuhi ayahnya hukuman mati? Tak mendapatkan ibu, maka ia mendatangi Jinyoung dan membalaskan dendamnya, huh?" Suzy tak bisa menahan emosinya. Ia berbicara sambil meledak-ledak.

"Ia tak mendatangiku. Donghan adalah keponakan Kepala Sekolah. Ia datang sendiri. Kebetulan saja aku bersekolah di sekolah pamannya. Makanya..."

"Ah astaga. Itu bukan kebetulan kalau begini adanya Jinyoung-ah." Suzy memangku dagunya. Sungguh, sebenarnya drama macam apa yang mereka lakoni sekarang? Genre crime jadinya jika mengkaitkan darah, dendam dan hukum.

"Tapi dia mengenal orang yang aku suka, Jihoon. Sepertinya Donghan mengenalnya dan mengaku-aku sebagai pacar Jihoon. Bagaimana jika-" Jinyoung langsung mengatupkan mulutnya. Tunggu tunggu. Donghan tak mungkin kan menculik Jihoon hari ini, agar Jihoon tak menemuinya lagi. Kemudian Jinyoung harus menebusnya, berkelahi sampai tetes darah penghabisan demi Jihoon-nya? Oh no. Tampar wajahmu Jinyoung. Kau terlalu banyak menonton film.

"Lalu bagaimana dengan Jihoon, apa dia benar mengenal Kim Donghan? Bisa saja dia asal tebak." Celetuk Joohyun. Awalnya tak terpikirkan oleh Jinyoung, tapi ia pikir perkataan noonanya lebih masuk akal.

"Oke. Aku akan tanyakan padanya. Tapi... apa Donghan akan menyakitiku? Atau keluargaku? Bahkan orang yang aku suka?" Pertanyaan beruntun Jinyoung hanya bisa dijawab gelengan pelan dari mereka bertiga. Oke, Jinyoung berfirasat bahwa ini tak akan baik ke depannya.


Jumat kelam dengan awan kelabu. Ini masih musim salju dan Jinyoung hampir mengutuk langit karena dimana ia kini sedang berjalan menuju sekolah, malah dijatuhi gerimis tipis. Tak seberapa? Hei, salju itu dingin, kolaborasi gerimis dengan angin pagi itu double kill. Bahkan Jinyoung lupa tidak membawa payung. Ah sial sekali.

Kembali memutar pandangannya, Jinyoung mendengus menyadari orang-orang memakai mantel berwarna serupa. Langit kelabu, kenapa semua orang memakai mantel bernada abu-abu? Dan dia sendiri memakai mantel hitam. Jinyoungie, kau sama saja.

Tapi pemandangan mencolok di depannya membuat mata Jinyoung terfokus otomatis. Mantel kuning, tas pink dengan sepatu putih bertali neon beda warna. Lihatlah kepala fluffy blonde-pinkishnya yang tenggelam di dalam mantel bulunya. Bloody hell, siapa anak yang begitu nyentrik itu? Tiba-tiba lelaki yang Jinyoung maksud itu menengok. Dan di saat itu juga mata Jinyoung membulat.

"Park Jihoon?!" Tanpa ba-bi-bu lagi Jinyoung langsung berlari ke arah lelaki bermantel kuning cerah itu. Ia terjang lalu peluk se-erat yang ia bisa. Entahlah, ia begitu senang melihat Jihoon baik-baik saja.

"Jinyoung? Kau tak apa-apa? A-aku tak bisa nafas." Ucap Jihoon kesusahan karena wajahnya tenggelam di dada Jinyoung. Jika ia mochi, maka badannya sudah hancur lebur dipeluk pemuda Bae ini. Setelah beberapa detik berpelukan akhirnya Jinyoung melepaskan pelukannya. Awalnya wajah Jihoon kesal, tapi melihat wajah Jinyoung yang berseri tanpa sadar ia tersenyum juga.

"Kau kemana saja, Jihoon?"

"Kapan kau sopan panggil aku 'hyung', huh?"

"Ah, jawab aku." Ujar Jinyoung gusar. Ia sudah khawatir begini malah diajak bercanda.

"Oke oke. Maaf tidak memberitahumu sebelumnya. Aku kemarin ke Finlandia bersama Hyungseob dan Guanlin untuk menemui Woojin."

"Eoh" beo Jinyoung. "Tapi kenapa tidak mengabariku?" Lanjutnya.

"Kupikir kau masih marah mengenai kemarin malam. Aku takut kau abaikan jika aku bilang. Mungkin mendiamkanmu sampai kau baikan akan lebih baik." Senyum Jihoon minta dimaklum.

"Tapi tanpa adanya kabarmu, ku pikir kita benar-benar..."

"Tidaakkk~ Maaf ya sudah mencemaskanmu." Jihoon beralih menggenggam tangan Jinyoung. Lelaki berkepala kecil itu hanya bisa mengangguk dan mempererat genggaman mereka.

"Eum, aku juga minta maaf soal kemarin malam." Ucap Jinyoung dengan kepala yang tertunduk. Membuat Jihoon terkekeh pelan.

"Baiklah. Sekarang ayo pergi ke sekolah. Aku tak mau kita hujan-hujanan di sini." Jihoon menarik tangan Jinyoung. Ia baru sadar kalau mereka masih di jalanan kecil menuju gerbang utama. Belum masuk sama sekali.

Jihoon menggoyang-goyangkan tangannya sambil bersenandung kecil. Lihatlah bibirnya yang merah penuh itu. Begitu menggemaskan ketika ia sedang menyanyi pelan. Tapi Jinyoung tak ingin merusak lagunya jika ia langsung menyerang bibir Jihoon kan? Mau tahu apa yang Jihoon nyanyikan? Soundtrack Crayon Shinchan.

"Jihoon, kenapa rambutmu jadi pink?" Tanya Jinyoung akhirnya.

"Aku sedang mau saja. Kenapa? Jelek? Tak cocok denganku?" Tanya Jihoon sambil memegangi kepala pinknya. Membuat Jinyoung tergelak.

"Haha tidak. Cocok kok."

"Syukurlah." Ucap Jihoon. Lagipula ia tak mungkin mengatakan ia stress memikirkan Jinyoung dan para sahabatnya, jadi ia lampiaskan sampai mengecat rambut kan?

Dari kejauhan, di sisi gerbang sana. Sebuah payung neon blue menyita perhatian Jihoon juga Jinyoung. Satu orang nyentrik lagi selain Jihoon ternyata ada. Kira-kira siapa dia?

Dan ketika payung itu tersingkap sedikit ke belakang, Jinyoung langsung merutukinya habis-habisan. Si Donghan gila! Dengan cepat matanya ia alihkan menuju Jihoon, dan shocknya lagi ekspresi Jihoon begitu kaget.

"Kim Donghan?!"

JLEGER. Bayangkan ada petir besar menyambar tepat di belakang tubuh Bae Jinyoung. Ternyata benar, Jihoon mengenal si Donghan gila itu. Terlihat kini Jihoon melepaskan genggaman tangan mereka, berlari ke arah Donghan kemudian memeluk si keparat itu. Eits, jaga bahasa Jinyoung!

"Jihoonie!" Donghan langsung melempar payungnya dan menerima pelukan Jihoon. Ber-pe-lu-kan, oh benar-benar pemandangan pagi hari yang indah. Mereka tukar tawa sejenak sampai mata Donghan menyadari ada Jinyoung di sekitar mereka.

"Wah, kau tumbuh sangat pesat ya. Seingatku kau lebih pendek dariku." Seru Jihoon sambil meninju lengan kokoh Donghan hingga terhuyung ketika lelaki jangkung itu hendak meraih payungnya. Yang ditinju pun hanya bisa tertawa pelan.

"Tentu, tumbuh itu ke atas bukan ke samping." Ejeknya balik. Dan Jihoon langsung menyerobot balik.

"Yah! Kau benar-benar!"

"Haha ampun, Jihoonie."

"Kau kapan kembali ke Korea?"

"Sekitar... kemarin?"

"Wah, maaf aku tak tahu. Dan kau sekolah disini juga?"

"Ya, bahkan kita sekelas."

"Benarkah?"

"Dan aku masuk tim olimpiade fisika, menggantikan Woojin."

"Woah, daebak."

"Aku selalu bersamamu."

"EKHEM!" Deham Jinyoung keras. Begitu keras sampai orang-orang yang lewat menengok cepat. Ia benar-benar tidak suka diacuhkan. Dan apa-apaan itu, 'selalu bersamamu' cih.

"Ah, benar. Kau sudah bertemu dengannya? Kenalanlah kalau begitu." Jihoon menarik Jinyoung mendekat. Donghan dan Jinyoung sekilas bertatapan. Secara teknis mereka sudah tahu nama satu sama lain, tapi belum berkenalan secara resmi. Jadi, mereka pasrah saja ketika ditarik mendekat oleh bocah pink ini.

"Jinyoung, ini Kim Donghan. Ia sahabat kecilku. Seperti Woojin, Hyungseob dan Guanlin." Mata Jinyoung memicing. Jihoon sebut kau sahabat! Lalu kenapa kemarin mengaku-aku pacar hah? Sampai mengatakan aku selingkuhan Jihoon, hih!

"Dan Donghan, ini Bae Jinyoung. Dia... eum, dia... temanku. Ya, teman dekat." Jihoon kesusahan mencari sebutan lain untuk Jinyoung. Bisa gawat jika ia sebut Jinyoung pacarnya kan. Ini sudah area sekolahan. Berbalik kini Donghan yang memicingkan matanya. Teman dekat kok so' sekali. Memang benar kan si kepala kecil ini pacar yang tidak dianggap.

"Ah benar. Aku harus ke guru piket mengenai izin kemarin aku pergi. Aku duluan ya, dadah. Mengobrolah kalian!" Pamit Jihoon tiba-tiba kemudian menghilang di belokan koridor ruang guru. Menyisakan keheningan abadi antara Jinyoung dan Donghan.

"Kau tak akan masuk?" Tanya Donghan akhirnya. Jinyoung masih tidak menjawab.

"Rambutmu sudah lepek karena gerimis." Peringat Donghan. Jinyoung masih tidak bergeming. Matanya masih tajam menatap si Kim satu itu.

"Oke. Apa maumu?" Tanya Donghan akhirnya.

"Kenapa kau kemarin mengaku-aku sebagai pacarnya Jihoon dan mengatakan aku selingkuhannya?" Tanya Jinyoung akhirnya. To the point, style Jinyoung sekali.

"Memangnya kenapa? Itulah kesepakatan diantara kami semua untuk Park Jihoon."

"Kami semua?"

"Jihoon itu dari kecil banyak yang suka. Bahkan sampai kakak kelas dan yang dari beda sekolah juga ada. Aku khawatir ada ahjussi pedofil yang mengincar Jihoon. Maka dari itu aku, Woojin, Hyungseob dan Guanlin mencoba melindunginya. Mengaku-aku sebagai pacarnya agar orang gila sepertimu bisa menjauh."

"Cih, ku pikir kau orang gila yang dimaksud. Bukan aku."

"Jihoon itu dari kecil begitu cantik. Tak ada yang bisa menolak pesonanya. Pernah ia didandani memakai pita pink dan rok. Semua tertipu. Aku masih ingat, sore harinya Jihoon hampir diculik ahjussi-ahjussi genit. Untung Guanlin dengan cepat menendang tungkai ahjussi itu, jadi kami bisa kabur." Kenang Donghan. Jinyoung pun terdiam.

"Satu tahun kemudian aku dan keluargaku pergi ke Jepang. Lama kelamaan putus kontak. Hanya Woojin yang bisa menghubungiku. Tapi ketika aku kembali ke Korea, malah Woojin yang pergi. Ya tak apa, aku bisa menjaga Jihoon sendirian."

"Kau tak perlu menjaga Jihoon, dia sudah memilikiku."

"Memiliki siapa? Kau? Teman dekat, maksudmu?" Jinyoung mengepalkan tangannya. Emosinya mulai naik. Tapi si Donghan itu kembali berbicara.

"Asal kau tahu, aku bisa dengan mudah membuat orang yang membuatku kesal bernasib sama di tangan ayahku." DEG. Jinyoung tiba-tiba teringat akan kasus kemarin yang Yoobin ceritakan.

"Ayah? Yang mana?" Tanya Jinyoung.

"Mau ayah kandung atau ayah angkat?" Tanya Donghan balik dengan alis terangkat sebelah. Jinyoung membulatkan mata hitamnya, apa ia sudah keceplosan? Merasakan perubahan emosi Jinyoung, Donghan sendiri memajukan wajahnya.

"Sama saja. Satu dibunuh, satu dikurung. Tinggal pilih." Bisiknya tepat ke wajah Jinyoung. Lelaki Bae itu sendiri hanya bisa terpaku.

"Kenapa? Kau sudah sadar akan apa yang ibumu lakukan pada ayahku?" Desis Donghan dengan aura yang begitu gelap. Jinyoung menelan ludahnya kelu. Ia tak bisa bohong kalau ia tahu semuanya.

"Tenanglah. Aku tak akan balas dendam. Lagipula aku mengerti, ayahku menurut hukum sangat pantas menerima ganjaran itu..." Donghan berbalik. Berjalan menuju gerbang utama.

"..tapi anak mana yang menerima ayahnya dihukum mati, kan?" Lanjutnya keras. Meninggalkan Jinyoung yang sudah basah kuyup bahkan sebelum melewati gerbang masuk.


"Baiklah Jihoon, kau bisa masuk ke kelas sekarang."

"Terimakasih, ssaem." Park Jihoon membungkukan badannya kepada Seo ssaem yang hari ini bertugas jaga piket. Tapi guru cantik itu tiba-tiba berdiri dan menarik lengan Jihoon.

"Eh sebentar. Apa benar teman sekelasmu itu, Ahn Hyungseob pindah ke Finlandia?" Langkah Jihoon langsung terhenti. Lamat ia menatap Seo ssaem dengan mata bulatnya, kemudian tersenyum.

"Iya, benar."

"Berkasnya sedang diproses hari ini. Tapi dari sekian negara, kenapa harus Finlandia? Apalagi sekarang musim salju, pasti disana seharian suhunya minus derajat." Seo ssaem tak berhenti berkecoh. Dan hanya dibalas tawa garing Jihoon.

"Aku juga tak tahu kenapa Finlandia yang dipilih. Sistem pendidikan disana hebat, katanya." Jawab Jihoon.

"Kau benar. Ku harap Hyungseob si ceria itu tidak kesepian di negeri salju sana." Dan Jihoon kembali tersenyum.

"Dia tidak sendirian, ssaem. Ada Park Woojin bersamanya."

"Eoh? Mereka berdua di-"

"Maaf, ssaem. Bisakah aku meminta izin memakai seragam olahraga? Seragam dan mantelku basah." Tiba-tiba ada lelaki jangkung menyerobot dari belakang Jihoon dan memotong obrolan guru-murid itu. Jihoon otomatis menengok dan langsung terkejut.

"Woh! Jinyoungie? Kau? Kenapa?" Jihoon langsung menyentuh kepala Jinyoung lalu turun ke lengannya. Basah kuyup, seluruhnya. Wajahnya juga dingin, seakan sudah lama diguyur hujan.

"Astaga, Bae Jinyoung-kun." Jihoon langsung melirik Seo ssaem yang suaranya berubah di-imut imutkan.

"Kau tak apa? Ya, cepat buka bajumu sebelum kau kena demam. Pakai seragam olahraga juga tak apa. Lagipula kau tak akan masuk kelas kan." Seo ssaem berjalan ke arah Jinyoung dan mulai menarik turun mantelnya. Apa-apaan? Dia mau menelanjangi Jinyoung sekarang? Disini? Dengan cepat Jihoon menarik kerah mantel Jinyoung ke atas.

"Iya. Aku antar kau ke ruang ganti." Ajak Jihoon. Tiba-tiba Seo ssaem menarik lengan Jinyoung.

"Kemarikan seragan dan mantelmu. Biar ssaem yang mengeringkannya ke laundry."

"Tak apa nanti juga kering sendiri. Ayo hyung antar."

"Bae Jinyoung-"

"Jinyoungie-"

"Stop." Jinyoung mengangkat tangannya ke atas tanda menyerah. Nyatanya pusing oleh perebutan Jihoon-Seo ssaem lebih parah dibanding pusing oleh demam. Astaga.

"Seo ssaem, bisakah sekarang aku mendapat izin tertulisnya?"


Bae Jinyoung baru saja keluar dari kamar mandi laki-laki dan menyadari kalau Jihoon sudah tidak ada disana, di ruang ganti olahraga khusus pria. Mungkin ia sudah pergi ke lab fisika, karena banyak anggotanya yang menanyakan kabarnya, kemarin juga mengenai Park Woojin di Finlandia, kan. Jadi ya sudah. Tak mau ambil pusing, Jinyoung berjalan menuju tasnya yang berada di loker. Ruangan ini biasanya dipakai oleh anak basket. Mereka biasa berlatih sampai larut, mandi di kamar mandi pria tanpa perlu khawatir karena segala keperluan lengkap dan ada pemanasnya, juga ada hanger untuk mengeringkan baju dan dryernya. Jinyoung sendiri sudah mendapat izin tertulisnya dari Seo ssaem -walau harus melewati laga tarik menarik antara Jihoon dan Seo ssaem- maka ia tak akan dimarahi jika tertangkap basah menggunakan ruangan ini oleh Ketua Team Basket.

Jinyoung sudah selesai dengan penampilannya, walau rambutnya masih agak lepek. Hanya tinggal memakai sepatunya saja. Tapi suara langkah kaki di luar menarik perhatian pemuda Bae. Disana, berdiri Park Jihoon dengan dua gelas coklat hangat di tangannya. Jinyoung sendiri hanya bisa menahan tawanya melihat Jihoon kesusahan harus menggeser pintu dengan kedua tangan yang penuh.

"Jinyoungie, bisa bantu aku?" Akhirnya Jihoon bisa masuk. Dengan cepat Jinyoung maju. Mengambil alih kedua cup coklat hangat itu.

"Awh, tanganku rasanya terbakar membawa dua coklat itu." Jihoon mengosok-gosokan kedua tangannya lucu. Jinyoung kini tak bisa menahan tawanya.

"Haha, ku pikir kau sudah pergi duluan ke lab."

"Mana mungkin aku meninggalkanmu sendiri. Bagaimana jika Seo ssaem menyelinap masuk dan melihatmu sedang telanjang. Euwhhh.."

"Euwhhhh..." Jinyoung ikut menirukan suara Jihoon yang seperti menatap benda mejijikan. Dan keduanya tenggelam dalam tawa bersama.

"Jinyoungie. Kau tahu, saat di Finlandia aku selalu memikirkanmu. Aku takut kau tersakiti oleh kata-kataku."

"Tak apa, aku mengerti maksudmu. Lagipula hanya seminggu kan."

"I love you."

"I love you more." Keduanya tersenyum.

"I miss you." Dan Jihoon berhambur memeluk Jinyoung. Merasakan dada bidang itu menerima pelukannya dengan sempurna. Wajahnya ia tenggelamkan di perpotongan leher Jinyoung. Mencari kehangatan dan menikmati aroma tubuh kekasihnya.

Berbeda dengan Jinyoung, ia begitu terkejut menerima pelukan tiba-tiba dari Jihoon. Ia tak menyangkal kalau ia sama merindukan kekasihnya ini. Tapi ketika ia hendak memeluk balik, tangannya agak kikuk karena sedang memegang dua cup coklat panas. Ia tak bisa bergerak juga tak bisa menyimpan dulu cupnya.

"Jihoonie, kau sengaja memberikanku dua cup ini agar aku tak bisa memelukmu balik, huh?" Di lehernya, Jihoon hanya bisa terkekeh pelan. Lama-lama ia mengeratkan pelukannya.

"Biar saja. Itu hukumanmu karena diam saja diraba-raba oleh Seo ssaem."

"A-apa? Kenapa menyalahkanku?"

"Jadi sekarang aku bisa memelukmu sesukaku haha."

"Yah!" Jinyoung kelabakan. Pacarnya ini ternyata posesif juga ya. Tapi dengan gaya yang Jinyoung suka.

Tiba-tiba Jihoon melonggarkan pelukannya. Ada setitik kekecewaan di wajah Jinyoung karena Jihoon melepasnya. Tapi semua terbayar sudah. Karena Jihoon dengan cepat mengecup bibir Jinyoung. Ia hujani bibir tipis Jinyoung dengan ciumannya. Membuat kekasihnya itu terkekeh karena diberi butterfly-kiss yang tak ada habisnya.

"I miss you so much, Jinyoungie." Dengan cepat Jihoon melompat. Ia menerjang Jinyoung kemudian melingkarkan lengan dan kakinya ke tubuh kekasihnya itu. Jinyoung sendiri membulatkan matanya kaget. Mau tak mau ia pun melempar dua coklat hangat itu dan menerima tubuh Jihoon, sebelum ia jatuh dan menimpanya. Jihoon tertawa puas. Ia menurunkan keningnya sampai menempel di kening Jinyoung.

"Yah! Itu tadi berbahaya. Jangan melompat tiba-tiba." Protes Jinyoung sebal. Ia melirik dua cup coklat yang terbuang sia-sia tumpah di lantai. Habis ini ia harus membersihkannya kan.

"Hahaha, I miss youuuu~" Seakan mengacuhkan Jinyoung, Jihoon hanya mengeratkan tautan kedua tangannya di leher Jinyoung, menggelayutinya. Sesekali Jihoon mengecupi leher Jinyoung yang terekspos. Membuat sensasi geli yang menyenangkan. Sedangkan Jinyoung hanya bisa mendengus pelan dan memperkuat pegangannya di pinggang Jihoon.

"Ya, I miss you too."


TBC! J series!

I miss you so much, ijeseoya neukkyeo uri gonggan. Ouwooo, siapa yang ikut nyanyi? Hahaha..

Siapakah Donghan sudah terjawab di I series ini. Jinseob sudah ya, tinggal Samhwi sama Guanho wkwk. Mereka kemana ya, author juga sedang mencari mereka. Apakah ini kependekan? Singkat? Maapin ya, author lagi kena writer block heuheu... aku berusaha kembali secepat mungkin~

Aku punya prinsip. Jika review per-chap ada 7 ke atas, maka aku akan lebih cepat update, hehe. Tunggu J series yeaa~