WISH
.
Ciel terikik. Ia menggigit bibirnya, dan merapatkan mulutnya, tetapi beberapa detik kemudian ia tak kuasa menahan gelinya, dan terkikik lagi. Ciel melirik jurnal yang sudah menjadi penghuni tetap meja kerjanya dan melihat bahwa Sebastian telah menulis kalimat baru di atasnya.
"...Young Master? Kau baik-baik saja?" tercetus ungkapan khawatir Sebastian.
Bibir Ciel bergetar, lalu kikik geli kembali terlepas dari selanya. Namun Ciel takkan pernah mengakui bahwa ia terkikik, bahkan kalau Bard mengarahkan senapan berburunya ke kepala Ciel. Takkan pernah.
"Aku baik-baik saja, Sebastian," jawab Ciel setelah ia bisa mengendalikan tawa gelinya. Suara pelan khas tombol keyboard ditekan beruntun mengisi sunyi, lalu disela oleh bunyi klik tombol mouse. Ia tahu bahwa saat ini ia bertingkah sangat di luar karakter, tetapi... ia hanya tidak bisa mengendalikan dirinya. Siapa sangka ia bisa menulis sesuatu seperti ini.
"Lalu apa yang membuatmu... mengeluarkan suara... unik seperti barusan, Young Master?" tanya Sebastian. Kalau dibaca, kalimatnya seakan demon itu ragu-ragu dan tak ingin menyinggung perasaan tuannya. Namun Ciel tahu lebih baik. Sebastian menggunakan aksen itu untuk menekankan sarkasmenya, menyatakan pendapatnya dengan jelas tentang apa yang dipikirkannya atas... cara Ciel menunjukkan perasaan gelinya.
"Oh, tidak ada yang istimewa. Hanya sedang membalas review, dan membaca ulang salah satu cerita original yang baru-baru ini aku tulis."
Ciel sudah pernah memberitahu Sebastian tentang cerita original, dan apa perbedaannya dengan fanfiksi. Juga berbagai hal lain yang berkaitan dengannya. Sebastian sempat mengomentari dan menyayangkan mengapa mereka tidak mempublikasikannya dan membuat profit dari situ, namun Ciel membalas bahwa mereka tidak cukup baik untuk dipublikasikan, dan kebanyakan hanya mencari kesenangan dari review pembaca, atau, beberapa orang sengaja membuat karya yang berantakan atau kontroversial karena mereka girang ketika ada yang menyerang karya mereka.
"Kukira kau pernah bilang kau tak bisa menulis cerita humor," Sebastian mengingatkan.
"Siapa bilang aku tertawa karena ceritaku. Mungkin aku sedang tertawa karena review-review yang kubaca semuanya menggelikan," Ciel mengelak, tapi lalu terkikik lagi. Seorang demon—yang entah bagaimana wujudnya, mungkin memiliki tanduk tajam, berkoreng, dan berbau seperti belerang, atau bagaimanapun bayangan orang kalau mendengar kata 'demon'—memiliki banyak fans yang berteriak betapa imutnya dia...
"Oke, aku menyerah, aku memang menulis cerita humor!" seru Ciel sambil tersengal. Ia menarik beberapa napas pendek dan terkekeh sejenak sebelum melanjutkan. "Yah, memang benar, biasanya humorku... sulit diapresiasi oleh orang kebanyakan. Tetapi entah bagaimana yang ini cukup menggelikan untuk selera kebanyakan orang. Mereka sangat menyukainya."
'Walau kebanyakan bukan karena...kelucuannya,' tambah Ciel dalam hati.
"Bisakah—" Sebastian memulai, namun baru satu kata tertulis, Ciel langsung menyela.
"Tidak, kau tidak boleh membacanya, Sebastian."
Mana mungkin Ciel membiarkan Sebastian membaca tulisannya yang ini. Selain plot ceritanya yang konyol dan harus diakui, sama sekali tidak sesuai dengan Ciel, ia juga tidak mau menjelaskan pada Sebastian mengapa dalam cerita itu terdapat karakter bernama Ciel dan Sebastian, dan juga karakter dengan nama para pelayan dan orang-orang yang sering mengunjungi manornya. Ia tak ingin membuat alasan kenapa kereka semua bertingkah di luar karakter. Dan Ciel tentunya tidak mau Sebastian tahu bahwa setengah genre dari fanfiksi itu adalah romance.(1)
Tak dinyana semburat merah muncul di pipi Ciel, yang diabaikannya—dengan agak susah payah.
Ia hanya iseng, pada mulanya. Dan bosan. Dan tidak pernah menyangka bahwa akan ada banyak orang yang menyukainya—dan bahkan fangirling karakter-karakter di dalamnya—sampai seantusias ini. Walaupun mengetahui bagaimana obsesi dan perilaku para fangirl atas figur-figur yang mereka sukai...
Ciel sedikit bergidik.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Sebastian, hewan apa yang paling kau sukai di muka bumi ini?"
Sebastian mungkin mengangkat alis di kediamannya... di manapun itu, menanggapi pertanyaan Ciel yang bisa dibilang aneh, tetapi setelah beberapa saat ia menjawab.
"Aku tak tahu kegilaan apa yang melandamu, Young Master, hari ini kau benar-benar... bertingkah di luar kebiasaan. Namun kalau kau harus tahu, menurutku makhluk paling fantastis yang menapaki dunia fana ini adalah kucing. Pernahkah kau melihat bagaimana cara mereka berjalan? Dengan kepala yang tegak, ekor yang melambai anggun dan gerak kaki yang seirama, mereka mencuri perhatianmu tanpa memaksudkannya. Bahkan para lady dari jajaran bangsawan kerajaan Inggris pun tidak ada yang seluwes mereka."
Sebastian menghentikan narasinya sejenak, dan Ciel hampir mengira ia sudah selesai, dan sudah akan melepas bibir yang digigitnya, ketika goresan-goresan baru bermunculan.
"Apalagi kalau kau menyentuh telapak kaki mereka, Young Master, kau tidak akan menyangka bagian yang digunakan untuk menopang tubuh mereka yang beratnya berkali lipat, dan bergesekan dengan tekstur keras, ternyata selembut kulit bayi yang baru lahir. Kau juga tidak akan menyangka, kalau kau menekan telapaknya, secara tak diduga akan muncul bilah-bilah tajam cakar mereka yang bisa menyebabkan luka yang tipis tetapi menyakitkan. Sangat efisien dan seelegan—"
Tulisan Sebastian terhenti.
Ciel terkekeh sambil memegangi perutnya. Ia tak pernah menyangka bahwa tebakan isengnya tentang hewan favorit Sebastian—untuk dimasukkan ke dalam ceritanya—tepat persis, bahkan sampai ke—ke fangirling yang dilakukan demon itu. Padahal ia memasukkan aspek itu hanya... yah, iseng, dan untuk membumbui cerita itu agar lebih menarik.
"Young Master, kalau kewarasanmu sudah kembali, tolong beritahu aku."
Ciel mendapat firasat bahwa Sebastian mengatakannya dengan raut dan nada datar.
Seperti William T. Spears. Ciel hampir saja terbahak lagi, namun ia segera menepukkan kedua tangannya ke mulut, untuk mencegah suara apapun keluar. Ia segera menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
"Maaf Sebastian. Aku menyadari bahwa aku terdengar sangat..."
"Konyol? Menggelikan? Kekanak-kanakan? Tidak masalah. Sejak awal aku selalu mempertanyakan keadaan mentalmu, Young Master. Kurasa kini aku mendapatkan jawabannya."
Ciel hanya memutar bola matanya, tetapi tidak merasa marah. Ia tahu Sebastian bisa bersikap sarkastik, dan terkadang terkesan kejam, namun ia tak mengharapkan lain dari demon itu. Sebastian yang ini jelas tidak imut sama sekali seperti Sebastian dalam cerita yang ditulisnya. Entah bagaimana para reviewer itu menulis, 'Kyaa, imut sekali Sebas-chan, seharusnya dia tidak hanya mengelus pipi Ciel saja tetapi juga—'
Spontan Ciel merona lagi. Ia mendengus setengah hati, para fangirl yang membaca ceritanya itu memang mesum.
"Ehm, kurasa ini waktunya minum teh," ujar Ciel, setengah memang karena mulai merasa lapar, namun setengahnya sebagai usaha untuk melupakan apa yang baru saja terlintas di pikirannya.
Sebastian tidak merespon. Dan tidak ada Treacle Tart atau Strawberry Sponge ditemani teh melati yang secara ajaib muncul di mejanya. Ciel memutar bola matanya lagi, mengejek Sebastian dalam diam atas tingkah kekanakannya. Ia mengangkat telepon di ujung mejanya dan memberi instruksi pada Tanaka untuk menyiapkan penganan waktu minum tehnya. Ciel mendelik sekali lagi pada Sebastian sebelum melanjutkan membaca di layar monitornya.
'—Saya bisa mudah membayangkan fantasi-fantasi Sebastian—'
Ciel dengan cepat menggigit bibirnya untuk mencegah tawa yang mengancam keluar, sementara dalam hati ia sudah berguling-guling terbahak. Menjadi penulis memang fantastis, bisa membuat bahkan demon yang menakutkan berfantasi soal—
Ciel memerah lagi. Cerita ini sebetulnya juga menempatkannya pada posisi yang... menurunkan wibawanya, tapi Ciel mengabaikannya dengan alasan ini cuma cerita karangan dan bukan hal yang sebenarnya terjadi, selain itu ia juga terlalu sibuk menertawakan Sebastian dan fangirlsnya, sehingga ia melupakan fakta bahwa ia juga bagian dari cerita itu.
Ciel mengerang dalam hati.
Tok, Tok!
Terdengar suara pintu oak diketuk. Pemuda berambut keabuan itu memutar kursinya sehingga ia duduk menghadap meja kerjanya dan bukan meja sisinya dimana komputernya berada, lalu menukas, "Masuk."
Yang muncul bukan Tanaka-san yang diharapkannya, melainkan Meyrin, salah satu pelayannya. Namun gadis berambut merah itu membawa pesanannya.
"Bocchan, ini tehmu, dan cake stroberi yang dibuat Tanaka-san."
Ciel mengangguk kecil, lalu memiringkan kepalanya tanda ia menyuruh pelayannya untuk meletakkan teh dan kuenya. Meyrin maju membawa baki berisi cangkir teh dan tartnya, sementara mulutnya sibuk berceloteh dengan gugup.
"A-apakah Bocchan mau makan malam di taman malam ini atau di ruang makan, karena Bardroy bilang langitnya malam ini tak tertutup awan, dan bin—aaaahh—"
"Meyrin!"
Gadis itu sudah hampir sampai ke depan meja tuannya, namun kakinya tersandung karpet—entah bagaimana caranya, mengingat karpetnya tidak memiliki lipatan atau ganjalan apapun—menyebabkan keseimbangannya hilang dan ia hampir menjatuhkan bakinya. Namun Ciel sudah lebih cepat melompat berdiri dan mengambil alih baki itu, menghindarkan insiden di atas meja kerjanya.
"M-m-m-m-aaf, Bocchan." Meyrin mengernyit menyesal dan sedikit ngeri, tangannya mengunci mencengkeram satu sama lain, mungkin membayangkan omelan yang sebentar lagi akan diterimanya.
Ciel memandang tajam pelayannya. "Untung saja aku menangkapnya. Kau sudah memecahkan tiga set porselen bulan ini, Meyrin."
"A-aku benar-benar minta maaf, Bocchan!" Ia membungkuk berkali-kali, hingga Ciel meletakkan bakinya dan menghentikannya.
"Sudahlah, tidak apa-apa, selama kau lebih berhati-hati setelah ini. Kau bisa kembali meneruskan tugasmu."
"Y-yessir!" Meyrin membungkuk untuk terakhir kalinya, lalu hampir berlari keluar dari ruangan, hampir saja melupakan troli yang dibawanya.
Ciel mendesah pelan, menjatuhkan dirinya di atas kursi empuk berpunggung tingginya.
"...Kurasa kau bisa mendeduksi apa yang terjadi dari percakapan tadi."
Ciel setengah menyangka Sebastian akan mengabaikannya, namun ia membalas, "Ya. Kukira kau agak melebih-lebihkan ketika mendeskripsikan pelayanmu, Tapi yang satu ini benar-benar... seperti yang kau gambarkan, menghibur."
"Ha ha. Aku senang kau menyetujui pilihanku atas stafku." Ciel tertawa datar setengah sarkastis, meskipun dalam hati lega Sebastian tidak merajuk terlalu lama. Heh, tingkahnya itu hampir imut dan manusiawi.
"Aku tidak pernah mendengar adegan seserampangan itu, aku bahkan bisa merekanya adegannya dalam pikiranku dengan sempurna. Sudah lama aku tidak mendengar suara-suara, terutama yang seperti ini."
Ciel mengerutkan keningnya. "Di dalam sana kau tidak pernah mendengar suara apapun? Bahkan suara yang kau hasilkan sendiri?"
"Tidak, Young Master,"
"Bagaimana dengan—ahh!"
Ciel tadinya meraih cangkir teh yang sudah diambilnya dari baki dan diletakkan di samping jurnal Sebastian untuk menghirupnya, namun pegangan cangkirnya panas, menyebabkan ia spontan melepaskannya dari pegangannya, dan menyenggolnya hingga terjatuh, dan isinya membasahi meja kerjanya. Termasuk jurnal Sebastian.
Ciel melompat berdiri, mengangkat dan memegang ujung jurnal tersebut sehingga cairan yang tergenang di atasnya menetes ke meja. "Aku minta maaf Sebastian, biasanya aku tak secerob—"
Kata-katanya terputus. Di depan matanya, Ciel terpaku menyaksikan cairan kecoklatan yang membasahi kertas jurnalnya perlahan terserap, hingga tak setetes tehpun tersisa dan kertasnya kering seperti tak pernah tersentuh apapun.
"Seperti pelayan, seperti tuannya."
Tulisan Sebastian yang baru saja muncul menyadarkannya. "Apa yang baru saja terjadi?"
Hampir seketika Sebastian menulis balik. "Buku ini tidak akan rusak hanya karena air. Bahkan kalaupun kau berusaha membakarnya, buku ini akan tetap utuh, dan yang berusaha membakarnya akan terkutuk dan mati."
Ciel mengangkat alis, lalu teringat. "Bagaimana dengan tinta yang ada di buku ini?"
"Apa maksudmu, Young Master?"
"Setiap aku menuliskan sesuatu, tintanya selalu menghilang setelah halamannya hampir penuh. Kemana perginya semua tinta itu?" tanyanya penasaran, insiden sebelumnya terlupakan. Ia selalu memikirkan hal ini, namun selalu lupa untuk menanyakannya karena ada hal-hal lain yang muncul di pikirannya dan tampak lebih penting untuk ditanyakan.
Salah satu teori Ciel yang paling kuat adalah bahwa kalau Sebastian adalah buku itu sendiri, maka tinta yang digunakan Sebastian untuk menulis sebenarnya adalah darahnya, dan tinta yang digunakan para kontraktornya sebetulnya dilahap oleh demon itu, karena, yang mereka tuliskan di jurnal tersebut adalah perasaan dan keinginan mereka yang paling dalam, atau dalam kata lain, curahan jiwa mereka, mungkin saja memang sedikit demi sedikit jiwa mereka tertuang di situ.
"Tentu saja aku menyerapnya ke dalam jurnal ini, Young Master. Kau kira darimana aku mendapat tinta untuk menulis balik padamu?"
Ciel tertegun, lalu mendelik sebal pada Sebastian, atau wujud bukunya. "Yah, maaf saja, aku bukan ahli demonologi."
"Aww, Young Master, apa kau berang karena aku menggodamu?" ejek Sebastian, "Kalau kau kucing, seluruh bulu punggung sampai ke ujung ekormu pasti akan berdiri dan mengembang. Imut sekali."
Ciel mendelik makin keras ke arah buku bersampul hitam itu.
Sebastian akhirnya mengasihani Ciel, karena ia tak meneruskan godaannya pada Ciel dan mengalihkan pembicaraan pada yang sebelumnya.
"Selain alasan itu, aku juga menjaga jurnal ini tetap bersih tanpa tulisan, agar siapapun yang menulis di sini tak pernah kehabisan kertas untuk berbicara padaku. Bagaimana bisa mereka menorehkan permintaan mereka kalau kertasnya habis? Kontraktor yang berikutnya juga tidak akan tertarik untuk menulis di sini, atau bahkan untuk membeli buku bekas yang sudah dicoret-coret."
Ciel mengurangi intensitas dalam mendeliki Sebastian untuk bergumul dengan fakta ini. Ia mengangguk kecil, mengakui bahwa apa yang dikatakan Sebastian sangat masuk akal, dan mengutuk dirinya sendiri yang tidak menyadari hal itu lebih cepat.
Ciel duduk kembali di kursinya, dan tiba-tiba menyadari kalau mejanya masih basah dan air teh yang tumpah masih menetes ke lantai menyebabkan genangan gelap di karpetnya.
"Sebastian, tumpahan tehnya masih ada." Ciel tidak akan menyerah lebih dulu dan memohon secara langsung pada Sebastian untuk membersihkannya.
"Ya, aku sadar akan hal itu, Young Master," timpal Sebastian.
Ciel tak bergeming. Hanya terus menatap jurnal Sebastian tanpa kedip.
"...Yah, jika aku memang harus..." Sebastian menambahkan, dan mejanya kembali bersih seperti semula tanpa ada tanda-tanda terjadinya insiden sebelumnya. Cangkir Ciel bahkan kembali penuh. Ciel menatapnya dengan curiga sebelum mengambilnya di pegangannya dengan hati-hati, lalu menyeruputnya.
"Terima kasih, Sebastian," ujar Ciel, lalu melanjutkan menyeruput tehnya.
Sebastian tidak menjawab, namun beralih ke topik lain. "Jadi yang tadi adalah Meyrin. Lalu masih ada Bardroy, dan Finnian. Lalu aku juga mendengar kau beberapa kali menyebut Tanaka-san. Kemana orangtuamu, Young Master?"
Ciel membeku. Beberapa saat ia terdiam dan memandang kosong ke pintu di seberang ruangan, cangkir teh masih terangkat dekat dengan bibirnya. Lalu ia menarik napas panjang dan menjawab, "Mereka sudah tidak ada, Sebastian."
Ia meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati, berpikir sejenak tentang bagaimana cara menceritakan kejadiannya pada Sebastian. Waktu yang berlalu tidak menyembuhkan luka lama sepenuhnya, dan Ciel tak ingin Sebastian mengeksploitasinya di saat-saat kelemahannya.
"Di bulan Desember empat tahun lalu, di malam di hari ulang tahunku," mulai Ciel dengan nada suara yang dibuatnya monoton, "sekelompok orang menyusup ke manor ini dan membakar seisinya. Kebakaran itu merengut nyawa orangtuaku dan Sebastian, anjingku. Aku selamat karena Tanaka-san membangunkanku dan membawaku keluar."
Ciel berusaha mendorong bayangan-bayangan hitam dan api yang menari-nari dari benaknya. Ia menelan ludah dan melanjutkan, "Seminggu setelah pemakaman mereka, pengacara keluargamu mengatakan aku mewarisi semua harta keluargaku, dan segera setelahnya aku membangun ulang manor ini."
"Young Master—"
"Tidak, Sebastian," potong Ciel tajam, "aku tidak akan meminta kau menghidupkan kembali orangtuaku, ataupun untuk memburu dan membalas dendam pada pembunuh mereka. Aku telah lama berdamai dengan fakta bahwa mereka telah tidak ada, dan tak akan kembali lagi."
Ciel menutup matanya dan bersandar ke punggung kursinya. Ia tak menyebutkan malam-malam dimana ia membayangkan, bagaimana rasanya kalau ia bisa mendapatkan kembali orangtuanya, dan seringkali ia mengimajinasikan dirinya meminta Sebastian kedua hal yang baru saja disangkalnya tadi. Tapi kemudian ia memikirkan bagaimana reaksi kedua orangtuanya, dan Elizabeth, juga para pelayannya, jika mereka tahu apa yang Ciel lakukan.
'Mereka juga mungkin akan bergidik ngeri kalau mengetahui aku berteman dengan demon,' Ciel membatin, hampir geli.
Ciel tahu mereka tidak akan menginginkannya terpuruk meminta sesuatu yang mustahil, atau tenggelam dalam napsu dan dendam, atau kesedihan. Alasan yang sama yang mencegah Ciel dari menghabisi nyawanya sendiri di saat ia paling terpuruk di awal-awal kehidupan barunya tanpa orangtuanya. Mereka akan menginginkan Ciel untuk hidup dengan bahagia dan sepenuhnya. Yah, paling tidak, sebahagia dan sepenuh yang ia bisa dengan kondisinya saat ini.
Ciel membuka matanya, dan mendapati Sebastian telah menulis, "Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan, ternyata kau cukup kuat juga untuk bisa bertahan dari kejadian seperti itu. Dan kurasa tepat kalau kukatakan bahwa aku turut berduka atas kejadian yang menimpamu."
Ia tak tahu apakah Sebastian tulus mengatakannya atau tidak, tetapi akhirnya Ciel menjawab, "Terima kasih, Sebastian."
Sisa waktu mereka dihabiskan dalam hening, dan renungan.
Tbc...
A/N.
(1) Merujuk pada 'Cute', fanfic yang saya tulis.
Whee, update lagi. Entah kenapa lagi semangat, mungkin karena kemarin kebanjiran review dan fav dan sebagainya. Atau karena memang ada waktu aja kali ya :P.
