Our Wedding

Chapter 9

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto

Our Wedding by Sora Hinase

Pairing : NaruSaku, SasuHina

Rated : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning : OC, OOC, Typo, ide pasaran, no edit, dsb.

Don't like? Don't read!

Selamat menikmati~

.

.

.

.

.

-Sakura-

Aku tatap pantulan wajahku di cermin, kata-kata Shina masih mengganggu pikiranku, perasaanku campur aduk antara marah, kecewa dan bingung tapi aku harus terus berusaha mengontrol emosiku baik di depan Shina maupun Naruto dan aku juga harus memberi pengertian kepada Shina untuk bersikap biasa di depan Naruto, untuk sekarang setidaknya aku bersyukur sekarang Shina sudah lebih ceria setelah teman-temannya datang ke rumah siang tadi. Jarum jam sudah menunjukan pukul 09.00 malam, aku buka laci meja riasku dan mengambil sebungkus obat, ini adalah pil pencegah kehamilan, Naruto tak mengetahui jika aku memiliki pil ini karena aku selalu mengunci laci meja riasku, sejak dulu aku memang mengkonsumsinya karena belum siap memiliki anak lagi, baru sebulan aku berhenti mengkonsumsinya karena aku pikir keluarga kami memang membutuhkan penerus, aku adalah anak tunggal jika Shina menjadi penerus keluarga Naruto bagaimana dengan keluargaku? Aku juga berpendapat mungkin seorang adik bisa mengusir rasa kesepian Shina tapi sekarang aku berubah pikiran, jika Shina tak dapat bahagia lalu bagaimana jika sampai Shina memiliki adik? Jangan sampai ada anakku yang akan menderita lagi. Aku ambil segelas air yang memang sudah aku siapkan dan meminum pil itu. 'Aku tak akan melepaskanmu, Naruto dan akan aku pastikan hanya Shina yang akan mendapatkan semua hal yang memang seharusnya hanya menjadi hak milik Shina. Apapun yang sekarang sedang kamu lakukan, aku akan membiarkannya sampai Shino memberikan kepastian apa yang terjadi tapi sejak kamu pulang akan aku pastikan jika perhatianmu hanya untuk Shina.'

#

#

#

#

#

Aku tersenyum saat melihat Shina yang masih memasang tampang cemberut sambil terus mengganti saluran televisi.

"Shina makan dulu, ya? Ini sudah siang, Sayang," ujarku sambil membelai rambut Shina, tapi Shina masih tetap saja mengabaikan kata-kataku, "Shina kan masih sedikit demam kalau nanti sampai sakit seperti kemarin lagi bagaimana?"

"Aku sudah sembuh, Bu! Aku sudah 2 hari tidak masuk dan sekarang jadi 3 hari karena Ibu melarangku untuk berangkat."

"Kamu masih sedikit demam, Sayang. Kalau Shina sakit lagi bagaimana? Memang Shina mau melihat Ibu menangis?" ucapku sambil membawa Shina ke dalam pelukanku, Shina hanya menggeleng sebagai jawabannya, "Shina sayang Ibu?" pertanyaanku kali ini hanya dijawab dengan anggukan oleh Shina, "sayang sama Ayah?" aku kembali bertanya tapi Shina justru tak memberikan respon.

"Shina tidak boleh begitu, jika Shina tidak mendekatkan diri kepada Ayah nanti Ayah justru lebih dekat dengan yang lain. Bukankah Shina tidak ingin Ayah mementingkan orang lain? Ayah hanya milik Shina dan Shina harus bisa membuat Ayah hanya mementingkan Shina," ujarku sebelum mencium kening Shina.

"Milik Ibu juga terus Kakek dan Nenek," ujar Shina sambil mendongak menatap ke arahku.

"Iya, Sayang, Ayah milik kita," aku tak dapat menahan senyumanku, benar apa yang dikatakan Ino, jika aku harus lebih banyak meluangkan waktu dengan Shina.

"Tapi siapa anak yang suka berpergian dengan Ayah, Bu? Kenapa Ayah lebih menyayangi dia?" sesak di dadaku kembali terasa, apa yang harus aku katakan?

"Ibu tidak tahu, Sayang tapi mulai sekarang Ibu yang akan memastikan jika perhatian Ayahmu hanya untukmu saja." Biarkanlah aku egois bahkan aku tidak perduli jika apa yang aku lakukan akan membuat orang lain menderita, asalkan anakku bahagia apapun akan aku lakukan, "mulai sekarang kita akan sering menghabiskan waktu bersama."

"Bagaimana dengan pekerjaan Ibu?"

"Tentu saja Ibu akan menguranginya, Sayang."

"Tapi Ayah lebih sering bepergian dari pada di rumah," Shina kembali murung setelah mengatakan itu, aku tersenyum sebelum mengusap pipi Shina dan berujar, "maka kita akan mencegah supaya Ayah tidak pergi."

.

.

.

.

.

-Naruto-

Aku tersenyum ketika masuk ke dalam rumah -apartement-, karena aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku mendengar ini.

"Iya, yang sudah tidak sabar bertemu dengan Hika," itu suara Sakura tak lama kemudian aku mendengar suara Shina, "Ibu~" seperti suara anak yang sedang merajuk? Benarkah? Selama ini Shina jarang sekali menunjukan ekspresinya walaupun kata orang sifatnya mirip denganku tapi dia sangat pendiam di hadapanku dan Sakura bahkan cenderung pemarah di hadapanku, tak lama aku mendengar suara Shina aku justru mendengar suara tawa Sakura, tawa yang sudah lama sekali tidak aku dengar.

"Ayah melewatkan sesuatu?" tanyaku saat aku sudah sampai di ruang keluarga.

"Kamu sudah pulang? Katanya pergi satu minggu," tanya Sakura sambil menatapku tanpa beranjak dari duduknya sementara Shina yang duduk di sebelah Sakura justru fokus menatap layar televisi, aku kira aku akan bisa melihat wajah cemberut Shina.

"Aku terus teringat Shina jadi aku putuskan untuk pulang secepatnya," ujarku sambil mendudukan diri di samping Shina, sebelum menyentuh kening Shina.

"Shina sudah sembuh Ayah, kan sudah dijenguk Hika," ujar Sakura sambil tersenyum jahil.

"Ibu~"

"Eh?" Terkejut? Tentu saja! Shina langsung memeluk Sakura dan menyembunyikan wajahnya.

"Ayah tadi tidak di rumah jadi tidak bertemu Hika."

"Siapa itu Hika?" tanyaku sambil membelai rambut Shina.

"Teman Shina tapi sepertinya anak kita menyukainya, Ayah. Tadi siang Hika datang untuk menjenguk Shina makanya Shina langsung sembuh."

"Aku memang sudah sembuh."

"Iya, iya. Ayo, sekarang minum obat terus Shina tidur ini sudah malam, apa mau digendong Ayah?" tanya Sakura sambil melepaskan pelukan Shina.

"Aku sudah besar."

"Ayah kuat loh," ujarku sambil berjongkok di depan Shina, "ayo, naik ke punggung, Ayah." Saat aku menengok ke belakang Shina justru menatap Sakura seperti meminta persetujuan dan baru setelah Sakura mengangguk, Shina mau aku gendong.

#

#

#

#

#

Setelah memastikan Shina tertidur aku dan Sakura kembali ke kamar kami.

"Mandi sana, kamu bau," ujar Sakura saat kami baru saja masuk ke dalam kamar, Sakura langsung duduk bersandar di kepala ranjang.

"Tapi kamu suka bauku, bukan?" ujarku sambil mendekat ke arah Sakura.

"Tidak! Sana mandi," ujar Sakura mendorong dadaku saat aku sudah di depannya.

"Temanin aku mandi," ujarku sambil mencium pipi Sakura, "seharian Shina sudah menghabiskan waktu bersamamu, bukankan sekarang giliranku?"

"Apa sih? Sana mandi."

"Haha... Oke, oke, ngomong-ngomong ada apa selama aku pergi? Sepertinya ada yang berubah terutama Shina," ujarku sambil melepaskan kancing baju yang aku kenakan.

"Aku hanya mencoba mengikuti saran Ino dan ternyata memang benar, selama ini kita tak pernah mencoba membujuk Shina dan ada untuk Shina. Itu yang sedang coba aku lakukan," aku terdiam mendengar kata-kata Sakura, rasa bersalah itu muncul, aku bahkan tak pernah mencoba menghentikan tangisan Shina, aku tak kuat mendengar tangisan Shina yang membuat dadaku sesak sehingga aku memilih pergi tapi lama kelamaan kepergianku justru berujung pada hal yang tak terduga.

"Kamu melamun Naruto?" aku terkejut saat tiba-tiba Sakura sudah menyentuh pundakku, "maaf, kamu pasti lelah tapi aku justru mengajakmu berbicara."

"Tidak, bukan begitu Sakura hanya saja aku juga ingin dekat dengan Shina tapi sepertinya Shina enggan berdekatan denganku," ujarku sambil membawa tangan Sakura yang menyentuk pundakku untuk menyentuh pipiku.

"Jika kamu juga ingin dekat dengan Shina maukah kamu membantuku?"

"Tentu saja, apapun akan aku lakukan demi dirimu juga Shina."

"Aku ingin kita sama-sama mengurangi kegiatan kita setidaknya Shina tidak sendirian di sini ketika malam."

"Yah, tentu saja aku akan mencoba melakukannya," ujarku sambil membawa Sakura ke dalam pelukkanku.

.

.

.

.

.

-Hinata-

Aku tersenyum melihat anak-anak bermain air di halaman belakang, setiap sore mereka memang memiliki tugas menyiram bunga-bunga di halaman depan juga sayur-mayur di halaman belakang tapi bukannya menyiram tanaman mereka justru bermain air sampai baju mereka bertiga basah dan kotor, Ko sedang memegang selang air dan berlari sambil mengejar Hika sedangkan Hoshi, dia justru sibuk tertawa sambil bermain tanah bajunya juga sudah basah.

"Anak-anak, ayo masuk!" perintahku sambil memandang mereka dari pintu belakang rumah.

"Mama~" ujar Hoshi yang langsung berlari ke arahku dan memelukku.

"Yah, Mama jadi kotor," ujarku sambil menggendong Hoshi, "ayo, Kak Hika dan Kak Ko juga mandi," ujarku sambil melambaikan tangan ke arah mereka.

"Sana Ko, Kakak mau beres-beres dulu," ujar Hika kepada Ko sambil mengambil selang yang ada pada Ko dan menuju kran air untuk mematikannya sebelum menggulung selang air.

"Aku ingin di mandiin Mama sama Hoshi juga, ya?" tanya Ko sambil menggandeng tanganku yang tidak menggendong Hoshi.

"Iya tapi jangan terlalu lama ya mandinya, gantian sama Kak Hika," ujarku sambil tersenyum ke arah Ko, "Kak Hika pakai jubah mandi dulu supaya kamu tidak kedinginan, ya? Mama mandiin adik-adik kamu dulu."

"Iya, Ma."

"Mama ntal ikin jus omat, yak?" kata Hoshi saat kami berjalan menuju kamar mandi.

"Bikin yang banyak, Ma," ujar Ko menyambung kata-kata Hoshi. Baik Hoshi maupun Ko bahkan Hika mereka semua memang sangat menyukai tomat, benar-benar anak Sasuke. Itulah sebabnya di lemari pendingin yang paling banyak adalah tomat.

#

#

#

#

#

"Mama~ Hoshi nakal bukuku dicorat-coret," ujar Ko sambil menarik bukunya yang ada di depan Hoshi secara paksa, mata Ko suka tampak berkaca-kaca sambil menatap buku itu. Inilah repotnya jika mereka mulai bertengkar dan aku hanya bisa menghela napas karena tak lama setelah Ko menarik bukunya, suara tangisan Hoshi langsung terdengar.

"Makanya Kak Ko jangan taruh buku sembarangan, kan Hoshi masih kecil," ujarku sambil mengangkat Hoshi untuk meningangnya supaya tangisannya reda.

"Tapi Hoshi yang nakal, Ma hiks-"

"Cup cup cup... Ko sudah besar kenapa nangis? Sini Kak Hika liat bukunya," kata Hika yang langsung memegang buku, "ini bisa dihapus, kan Hoshi corat coretnya pakai pensil sini Kakak bersihin," lanjutnya sambil mengambil penghapus. Aku tersenyum melihat kecakapan Hika, Hika memang selalu membantuku untuk mengurus adik-adiknya dan selalu bisa diandalkan untuk menenangkan adik-adiknya.

"Wah lihat Hika memang seorang kakak yang baik," ujar Sasuke yang sudah ada di belakangku, aroma sabun dapat tercium olehku karena memang Sasuke baru saja selesai mandi.

"Lihat, sekarang saja aku sudah repot apalagi jika ditambah satu lagi?" ujarku melirik ke arah Sasuke. Hika dan Ko sudah sibuk dengan buku mereka lagi, aku dudukan kembali Hoshi tetapi sebelum itu aku kertas kosong dan pensil untuk di letakkan di depan Hoshi juga tempat duduk yang sedikit jauh dari kakak-kakaknya agar dia tidak mengganggu kakaknya lagi.

"Dua hari lagi ada pertemuan antar klan, Ayah menyuruhku untuk mewakili klan Uchiha karena sejak kita menikah, kita belum pernah datang ke pertemuan itu," kata Sasuke mengambil tempat duduk di sebelahku yang duduk di belakang Hoshi. Pertemuan antar klan di Konoha dilakukan setahun sekali dimana semua klan yang ada di sini mengirimkan perwakilan mereka entah itu klan kecil maupun klan besar mereka akan mengirimkan perwakilan mereka, acara ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan, bisa juga untuk mencari rekan bisnis, mencari pasangan, mengumpulkan amal untuk membantu orang lain dan masih banyak lagi. Acara ini juga bisa menjadi acara reuni.

"Mungkin kita bisa bertemu dengan teman-teman kita?" sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan teman-temanku selain karena setelah menikah kami pindak ke Suna juga karena walaupun sudah kembali ke Konoha aku jarang berpergian, "apa anak-anak juga ikut?" lanjutku.

"Tentu saja ikut."

Aku tak sabar dengan acara ini dan aku harus mulai menyiapkan kimono khas klan Uchiha karena di acara ini memang yang datang harus memakai pakaian kimono khas klan masing-masing.

"Ikut kemana, Ma?" tanya Hika sambil membereskan buku-buku yang berserakan di lantai, itu buku-buku Ko, dia memang selalu membuat buku berantakan saat belajar dan akan marah jika Hoshi mengganggunya berbeda sekali dengan Hika yang selalu rapi.

"Ke acara pertemuan antar klan."

"Dimana itu, Ma?"

"Eh? Dimana itu, Sasu? Aku lupa tidak bertanya," tanyaku kepada Sasu.

"Sebentar aku ambil undangannya dulu," ujar Sasuke sebelum beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamar kami.

"Apa di sana banyak tomat, Ma?" tanya Ko sambil berjalan ke arahku dan langsung duduk di pangkuanku, untung Hoshi masih asyik dengan kertas gambarnya.

"Bantu Kak Hika dulu dong Ko, kan itu buku milik Ko," ujarku sambil membelai rambut Ko.

"Ko biasa malas beres-beres dan Ko tidak semua orang suka tomat jadi mana mungkin acara pertemuan klan berubah jadi pesta tomat," jawab Hika yang telah selesai merapikan buku Ko.

"Kan cuma tanya," ujar Ko sambil mengerucutkan bibirnya, Ko memang yang paling tergila-gila dengan tomat tidak heran karena saat mengandung Ko, aku juga menjadi tergila-gila pada tomat.

"Ngomong-ngomong Papah lama, coba Ko panggil Papah," ujarku yang langsung dijawab anggukan oleh Ko dan Ko langsung berlari ke arah kamar.

"Mama kata Papah acaranya di kediaman klan Nara," ujar Ko yang datang sambil menggandeng tangan Sasuke tapi entah kenapa aku merasa ada atmosfer yang berbeda saat Sasuke kembali. Ko tetap ceria tapi aku yakin ada sesuatu yang terjadi pada Sasuke.

.

.

.

TBC

Terima kasih buat yang udah baca, review, fav dan follow fic ini tanpa kalian Sora belum tentu bisa lanjutin fic ini.

Balas review :

Papa Azazel : tau aja mau dijawab gitu hehe ada alasan ko kenapa pilih karin, ini udah lanjut dan terima kasih ^^

ana : kita liat nanti hehe terima kasih ^^

.29, Baby niz 137, Rapita Azzalia, balay67, hinatachannn2505, Nongnong06 : ini udah lanjut, terima kasih ^^

Alicia Uchiha : wah maafkan aku, ini cuma tuntutan peran #peluk naru# kita liat nanti aja ya hehe. Ini udah lanjut, terima kasih ^^

HipHipHuraHura : poligami? Mungkin lebih ke perselingkuhan? Kan mereka ga nikh hehe... Poligami kan memang ada yang membolehkan jadi ya di negara lain juga ada, kalo perselingkuhan aku pikir dimana-mana juga ada ya hehe, tenang saja roda berputar hehe... terima kasih ^^

hyuashiya : kita lihat nanti hehe terima kasih ^^

na,HNisa Sahina : terima kasih ^^

Uchiha Cullen738, ara dipa : kita lihat saja nanti, iya itu typo . padahl Sora udah hati² karena emang selalu salah antara Shion sma Shino yang bener Shino, ini udah lanjut, terima kasih ^^

hyacinth uchiha : konflik buat SH kayanya masih lama, ini udah lanjut, terima kasih ^^

sasuhina69, NurmalaPrieska: kita lihat saja nanti, terima kasih ^^

sabrina. : kita lihat saja nanti, sudah dijelaskan di chap awal alasan narusaku menikah, ini udah lanjut, terima kasih ^^

SR not AUTHOR : sudah dijelaskan jika Naruto itu anak tunggal, terima kasih ^^

IkaS18 : kita lihat saja nanti, terima kasih ^^

YogaVioletta10 : nanti juga ada ko hehe terima kasih ^^

ppkarismac : masih rahasia terima kasih ^^

sonya ade854 II : iya tuh Sasu ada-ada aja, udah lanjut, terima kasih ^^

Sejujurnya di fic ini banyak kejadian yang terinspirasi dari kisah nyata, seperti scane SH di chap. lalu itu Sora alami sama seseorang hal yang dulu bikin Sora kesel sekaligus blushing justru jadi inspirasi buat fic cuma dia author pairing sebelah dan kami ga pernah baca fic satu sama lain jadi ya mungkin dy ga tau kalo tingkah dy tak jadiin fic #ketawa nista

dan kalo dikisah nyatanya 'Hana' memang anak 'Naruto' cuma ngga tau di cerita ini soalnya rumah tangga NaruSaku di sini gabungan dari ide Sora asli dan keadaan beberapa rumah tangga di sekitar Sora.

Review kalian adalah bahan bakar Sora jadi tolong diisiin bahan bakarnya yah biar bisa lanjut :D

Purwokerto, 07 Maret 2016

Salam hangat,

Sora H.