Langit sudah menjadi gelap sejak tiga jam lalu. Jarum pendek juga sudah hampir mengarah pada angka sembilan di jam dinding. Namun, dua anak manusia itu masih berjalan di sepanjang lorong bangunan apartemen yang hampir selalu sepi karena kesibukan masing-masing pemiliknya.

"Wookie-ah!"

"Wookie-ah!"

"Woo–"

"Ya! Kim Jong Woon! Berhenti memanggil-manggil namaku!" pekik Ryeowook. Telinganya pengang mendengar panggilan Yesung yang berkali-kali.

Yesung berdiri di samping Ryeowook yang sejak tadi memasang wajah masam. Gadisnya mengabaikan dia dengan memilih mempercepat langkahnya menuju pintu keluar apartemen Super Junior.

Hal ini terjadi begitu saja. Secepat angin berhembus memasuki pori-pori kulit mereka. Pulang dari berkeliling mencari apartemen, Ryeowook tahu-tahu segera memakai jaketnya dan berjalan meninggalkan Yesung tercenung mendapatkan sambutan panas darinya.

"Apa salahku?" Yesung berdiri di hadapan Ryeowook. Mengahalangi langkah gadis itu.

"Menurutmu?" balas Ryeowook. "Menyingkir dari jalanku, Oppa!"

"Tidak sebelum kau menjelaskan," kata Yesung dengan nada datar yang membuat Ryeowook bergeridik ngeri. Yesung berbicara datar bukan berarti namja berkepala besar itu akan benar-benar tenang. Justru berarti dia sedang mencoba untuk menahan emosinya yang sudah mendekati limit dan bisa meledak kapan saja.

.

.

.

.

Kazuma House Production

proudly present…

.

.

.

U

.

.

.

® 2012

.

.

.

Eunhyuk nyaris saja akan menjatuhkan piring yang sedang dicucinya saat mendengar debuman pintu cukup keras disusul dengan teriakan Yesung memanggil-manggil nama Ryeowook. Ia sempat melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi, namun yang ia dapati malah tatapan penuh tanda tanya dari yang lain.

Pintu kembali terbuka. HanGeng yang baru pulang bertanya sambil melepaskan sepatunya. "Mereka kenapa? Kejar-kejaran di lorong tadi. Ia menunjuk pintu di belakangnya dengan ibu jari.

Leeteuk hanya menggedikkan bahu. "Entahlah. Tiba-tiba saja Ryeowook seperti itu."

"Ababil," celoteh Kyuhyun lalu melanjutkan bermain game-nya. Sungmin yang berada di sebelahnya menjewer telinga Kyuhyun–yang entah bisa dibilang namjachingu-nya atau bukan. "Ya! Sungmin-ah! Kenapa kau menjewerku?" Ia memegangi telinganya yang memerah. "Sakit tahu!"

"Seperti kau tidak ababil saja, Cho!" Sepertinya yeoja itu sedikit keki mendengar kembarannya disebut ababil. "Cepat habiskan sayur di piringmu!"

"Nggak mau!" balas Kyuhyun dengan bibir dimonyongkan khas anak kecil, membuat Sungmin semakin berdecak kesal.

Donghae mendekati kekasihnya yang sedang mencuci piring sendirian. Meninggalkan pasangan KyuMin yang masih seperti anak kecil. Sungmin selalu saja menyuruh Kyuhyun berhenti bermain game dan makan–tentu saja termasuk menghabiskan sayuran di dalamnya. Tapi Kyuhyun lebih memilih untuk meneruskan game-nya dan mengabaikan yeoja manis di sisinya.

"Mau kubantu?" tawar Donghae.

Eunhyuk hanya tersenyum sekilas. "Tinggak sedikit lagi. Sebentar juga selesai."

Memang, tinggal ada beberapa piring dan sendok yang belum di cuci. Donghae jelas sangat telat dalam menawarkan bantuan. Jadilah Donghae bertumpu pada pinggir meja sambil menatap wajah kekasihnya yang terlihat fokus pada pekerjaannya.

Sadar sedang diperhatikan Donghae, Eunhyuk terlihat salah tingkah dan tersenyum canggung. "Kenapa?"

Donghae mengambil selembar tissue dan mengelap pipi Eunhyuk yang terdapat busa sabun. Diperlakukan seperti itu, Eunhyuk bisa merasakan aliran darahnya menuju ke kepala. Panas. Berdebar. Bahagia. Semuanya teraduk jadi satu. Membuat wajahnya memerah dengan mudah. Selalu begini. Meskipun sudah menjadi kekasih Sang Bintang Hallyu, ia masih belum terbiasa dengan perlakuan Donghae.

"Chagi-ah, aku malu?" goda Donghae sambil menoel dagu Eunhyuk.

"Urgh…" Dengus Eunhyuk sambil berusaha kembali fokus pada piring-piring di tangannya. "Berhenti menggodaku, Lee Donghae."

Namja yang kerap kali disebut Ikan itu mendekatkan bibirnya ke telinga Eunhyuk sehingga gadis itu bisa merasakan deru napas hangat dan teratur Donghae yang menerpa permukaan kulitnya. "Tidak akan, Hyukkie-ah." Secepat kilat, Donghae menyabotase pipi Eunhyuk lalu berlari menuju kamarnya sebelum gadis itu sadar dengan situasi yang dihadapinya.

"YA! LEE DONGHAE!"

.

.

.

.

.

Shindong terbangun dari tidurnya ketika rasa haus menyambangi kerongkongannya yang kering. Ia berjalan keluar kamar dan mendapati lampu ruang tengah masih menyala terang. Penasaran, ia mendahulukan untuk pergi ke sana dibandingkan dengan dapur.

Eunhyuk memperhatikan Donghae dengan saksama. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Hampir semua member sudah masuk ke kamar masing-masing. Sungmin pun juga sudah pulang di antar Kyuhyun sejak beberapa jam lalu. Yesung masih belum kembali setelah aksi kejar-kejarannya dengan Ryeowook.

"Salah, Donghae! Harusnya begini," kata Eunhyuk sambil mengulangi gerakan wave pada tangannya.

Seperti ketika mereka SMA, Donghae berulang kali belajar gerakkan wave dengan Eunhyuk sebagai mentornya, namun namja yang senang bila disebut Prince itu tetap tidak bisa. Gerakkannya terlalu patah sehingga terlihat aneh.

Sudah berulang kali Eunhyuk menguap bosan dan mengantuk memperhatikan Donghae. Sedangkan namja itu terlihat stress dengan tangannya sendiri. Namun ia tidak putus asa dan terus mengulanginya. Entah sudah sampai yang keberapa, Eunhyuk terlalu malas untuk menghitunginya.

"Kalian ngapain malam-malam seperti ini?" tanya Shindong ingin tahu.

"Dia belajar gerakkan wave," kata Eunhyuk sambil menunjuk Donghae tanpa dosa.

Shindong membulatkan mulutnya. "Seperti ini, kan?" Ia melakukan gerakan wave dengan benar dan malah semakin membuat Donghae merasa frustasi karena tidak bisa melakukannya.

"Ya! Ya! Ya! Aku yang sedang belajar, Hyung!" protes Donghae.

Mengacuhkan Donghae, namja berbadan tambun itu bertanya pada Eunhyuk. "Kau bisa, HyukJae-ssi?"

Eunhyuk langsung berdiri dan melakukan gerakan wave dilanjutkan gerakan robotic yang masih lancar ia lakukan. Hal ini membuat Shindong berdecak kagum melihat kepiawaian yeoja itu dalam menari. Ia semakin semangat dan menyuruh Eunhyuk untuk melakukan beberapa gerakkan lagi. Dengan senang hati, Eunhyuk menyanggupinya.

Donghae berdiri dengan bibir terkatup. Sebagai lead dancer boyband sebesar Super Junior, hal ini merupakan pukulan telak baginya. Dikalahkan oleh seorang perempuan, meskipun perempuan itu adalah kekasihnya sendiri. Ini terlalu memalukan.

Kini, Donghae dibuat tercengang dengan Eunhyuk yang menari sambil menyanyikan lagu Sorry Sorry dengan lancar. Hei! Sejak kapan yeojachingunya mempelajari gerakkan itu?

Shindong bertepuk tangan kagum. "Seharusnya kau saja yang menjadi lead dancer kami, HyukJae-ssi, bukan malah Si Ikan ini," canda Shindong.

Mendengar kelanjutan percakapan ini malah membuat Donghae malas. Ia melangkah menuju kamarnya dan tidur di ranjang. Tidak memperdulikan nasihat Leeteuk tadi pagi yang melarangnya untuk tidur satu kamar dengan Eunhyuk.

Ia mengamati langit-langit kamarnya yang masih terang karena ia tidak pernah mematikan lampu saat tidur. Tidak ada yang menarik selain cat warna putih yang melapisi atap gypsum kamarnya. Ia kemudian menghembuskan napas kasar lalu menutupi wajahnya dengan bantal.

"Donghae-ah," panggil sebuah suara lembut yang sudah Donghae kenal. Suara Eunhyuk. "Kau sudah tidur?"

Perlahan Donghae mengangkat bantal yang menutupi wajahnya. Eunhyuk menatapanya dengan… entahlah. Ia sendiri tidak mengerti dengan tatapan gadisnya. Seperti meminta maaf, memohon, dan sesuatu yang tidak bisa Donghae jelaskan dengan kata-kata.

"Kau marah?"

"Tidak."

Jawaban singkat yang terlontar dari kekasihnya malah semakin membuatnya tidak enak hati. "Mianhaeyo."

"Untuk apa? Kau tidak salah." Donghae membaringkan dirinya ke sisi lain kasur agar Eunhyuk bisa tidur.

Merasa dihiraukan, Eunhyuk membaringkan dirinya di samping Donghae yang memilih untuk tidur dengan membelakangni dirinya. Ia tatapi punggung kekar kekasihnya yang terbalut piyama biru cukup lama. Kemudian tangannya terulur untuk memeluk tubuh itu.

Sedikit tersentak, Donghae menoleh untuk melihat kekasihnya yang kini tertidur dengan kepala yang dibenamkan di punggungnya. Ia membalik badannya hingga berhadapan dengan Eunhyuk yang cepat sekali pulas. Ia menghirup dalam-dalam aroma shampoo yang menguar dari rambut Eunhyuk lalu mencium kening kekasihnya.

"Aku tidak marah padamu. Tidak pernah bisa."

.

.

.

.

.

"Jadi kau akan tinggal di sini, Eonnie?" tanya Sungmin sambil menaruh beberapa kantung plastik belanjaan Eunhyuk yang belum dibuka sama sekali oleh pemiliknya sejak menginap di dorm Super Junior. Barang bawaan Eunhyuk memang terbilang sedikit untuk orang yang sedang pindahan. Dan ini merupakan satu keuntungan untuknya karena tidak perlu repot-repot membawa barang.

"Ya, Donghae bilang begitu," jawab Eunhyuk sambil menempatkan barang-barangnya.

Ryeowook berjalan berkeliling untuk melihat-lihat tiap lekuk apartemen Eunhyuk. "Eonnei! Kau beruntung sekali!" pekik Ryeowook saat berdiri di balkon. Kedua yeoja itu segera menghampirinya. "Dari sini kau bisa langsung melihat pemandangan kota dengan baik. Si Ikan itu pintar sekali memilihkan tempat untukmu. Jadi iri…"

Eunhyuk tertawa. "Minta saja pada Yesung Oppa." Perkataannya seketika membuat senyum yang tadi menghiasi wajah Ryeowook berangsur-angsur menghilang. "Maaf… maksudku–"

"Tidak apa-apa," balas Ryeowook sambil berusaha tersenyum.

Ia berjalan menuju dapur dan mendapati mereka sama sekali tidak memiliki satupun bahan makanan untuk dimakan. Mie instan pun tidak. "Aigoo… tidak ada apa-apa di sini? Bagaimana aku bisa masak untuk kita semua? Belum lagi kalau namja-namja kelaparan itu datang ke sini." Ia menutup pintu kitchen set. "Eonnie, aku pergi dulu mau beli bahan makanan."

Beberapa hari dikunjungi terus oleh dua anak kembar itu membuat Eunhyuk sedikit mengerti dengan sifat keduanya. Ryeowook ternyata tidak segalak saat mereka pertama kali bertemu. Gadis itu hanya sedang berada dalam mood yang jelek saat mereka pertama kali bertemu. Dan Sungmin bisa berubah menjadi seorang eomma dan tidak sabar bila berurusan dengan maknae Super Junior yang paling anti makan sayur.

Ryeowook mengenakan jaketnya dan memasukkan ponsel serta dompet ke dalam celananya. "Aku pergi dulu!" Bunyi debuman pintu mengiringi kepergian yeoja berambut pendek kemerahan itu. Meninggalkan dua yeoja bermarga Lee itu dalam apartemen.

"Dia kenapa?" tanya Eunhyuk pada Sungmin.

Sungmin menghela napas. "Biasa. Dengan Yesung Oppa." Eunhyuk mengerjapkan matanya bingung. "Ryeowook itu mudah cemburu. Apalagi bila menyangkut mantan pacar Yesung yang rata-rata adalah member girlband."

"Jadi… hanya Ryeowook-ssi saja yang dari kalangan bisa? Maksudku bukan artis."

"Ya." Sungmin mengeluarkan beberapa barang dari kantung belanjaan Eunhyuk. "Aku sendiri tidak tahu dari mana mulanya Ryeowook dan Yesung bisa bertemu hingga menjadi sepasang kekasih seperti sekarang. Mereka terlalu unik dan berbeda jauh."

"Begitu juga denganmu dan Kyuhyun, kan?" goda Eunhyuk.

Wajah Sungmin memerah. "Ah itu… aku dan Kyuhyun tidak memiliki hubungan apapun."

"Serius?" tanya Eunhyuk. "Tapi kalian terlihat seperti sepasang kekasih, lho. Ah, tapi kadang aku melihat kalian malah seperti pasangan ibu dan anak." Ia mengingat-ingat Kyuhyun dijewer Sungmin kemarin.

Sungmin menyimpulkan senyum tipis. "Kyuhyun pernah menyatakan perasaannya padaku. Tapi aku menolaknya," baru Eunhyuk akan menyanyakan kenapa, Sungmin sudah menyambungnya, "Bila aku menjadi kekasihnya, mungkin saja aku bisa menghambat karirnya. Juga… aku takut bila nanti kami seperti Yesung Oppa dan Ryeowook tadi."

.

.

.

.

.

Ryeowook melangkah dengan ringan menuju toko grosiran dekat apartemen. Sepanjang jalan, ia merasa kembali menjadi anak SMA lagi. Pertama karena tingginya memang hanya setinggi anak SMA. Kedua karena gaya berpakaiannya kini super cuek. Wajah tanpa makeup, sneakers, dan jaket kebesaran. Ia sungguh bukan Ryeowook yang biasa.

"Permisi," ucap seorang asing pada Ryeowook. "Apa kau LeeRyeowook?"

"Ne," jawabnya. "Ada apa, ya?"

Senyum manis yang dilontarkan Ryeowook membuat yeoja di hadapannya sedikit tersipu. Pantas saja Boss menyukainya. Dia sangat manis. Tidak seperti mantan-matan boss yang memiliki wajah sombong. "Ada yang ingin menemui Anda."

"Nuguya?" tanya Ryeowook dengan puluhan pertanyaan dalam benaknya. Seingatnya, dia sudah minta ijin untuk cuti dua hari ini. Dan dia serta semua client nya tahu bila ia paling tidak bisa diganggu saat libur.

Sedikit gugup, yeoja itu menjawab. Ia mulai memainkan jari-jarinya di balik punggung. "Maaf, saya tidak bisa mengatakannya."

"Kalau begitu aku tidak mau menemuinya," ucap Ryeowook enteng lalu melenggang pergi meninggalkan yeoja itu yang masih tersentak kaget.

"Kenapa?"

Ryeowook berbalik, menghadap gadis yang sama sekali tidak dikenalnya. "Kau tidak bisa menjamin kalau aku masih bisa selamat setelah bertemu dengan orang yang kau maksud itu, kan? Sebagai yeoja muda yang masih memiliki masa depan, aku pantas meragukannya." Di saat-saat seperti ini, masih sempat-sempatnya yeoja yang baru lulus kuliah ini melebih-lebihkan ucapannya.

Keraguan melingkupi gadis itu. Ia menggigit bibir bawahnya. "Jong Woon Sajangnim yang memintanya!" Akhirnya ia memutuskan untuk jujur.

Langkah Ryeowook terhenti ketika mendengar nama asli kekasihnya disebutkan oleh gadis itu. Dia menghentikan langkahnya, lalu berbalik. "Oh… kau karyawan H&G, ya." Ryeowook menunjuk gadis yang hanya terpaut lima meter dari tempatnya berdiri. "Katakan padanya, kalau berani, temui aku sendiri. Jangan seperti ini!"

Ryeowook berjalan menuju toko grosiran yang menjadi tempat tujuannya tadi. Tidak memperdulikan namanya yang terus menerus diserukan oleh gadis itu. Sebodo amatlah.

Datang ke toko grosiran juga tidak membuat moodnya menjadi lebih baik. Penjaga kasir itu terus menerus menonton tayangan acara gossip dan memekik histeris tanpa memperdulikan kehadirannya sebagai pelanggan. Di mana-mana, penggan itu adalah raja dan harus dilayani! Bukannya malah diacuhkan seperti ini! Rutuknya dalam hati sambil berkeliling memilih bahan makanan dan memasukkannya ke dalam keranjang.

"Omo… Yesung dengan Jiyeon?!"

"Jiyeon? Siapa dia?"

"Ah, kau ini! Dia itu personilnya T-Ara! Yang main Dream High Season Dua!"

Jujur saja, Ryeowook sedikit terusik dengan pembicaraan dua perempuan penjaga kasir itu yang membicarakan kekasihnya dengan wanita lain. Ingin sekali rasanya ia berteriak pada mereka, "Hei! Ini aku Lee Ryewook! Kekasihnya Kim Jong Woon, lead vokal Super Junior!"

Dengan tampang ditekuk, Ryeowook menaruh keranjangnya di atas meja depan mereka. "Eonnie! Cepat hitung belanjaannya! Aku ada keperluan!" katanya dengan nada super judes membuat dua perempuan itu mengalihkan perhatiannya dari layar kaca.

"Iya, Agassi," kata seorang yang lebih tua dari dua perempuan itu dan segera menghitung belanjaan Ryeowook.

Sambil menunggu, Ryeowook memandangi jalan di luar sana yang terlihat lengang. Tidak ramai seperti jalan raya besar yang ada di depan gedung kantornya. Pikirannya melayang pada libur musim panas nanti. Sepertinya aku harus mengambil libur lebih panjang.

Setelah menerima kembalian, Ryeowook membawa dua kantung belanjaannya yang terbilang cukup berat. Perjalanan dari toko grosiran ke apartemen Eunhyuk terasa panjang meski hanya berbeda dua blok. Musim yang sudah mulai memasuki masa pergantian musim dari semi ke panas, menambah rasa berat yang menerjang tangannya.

"Eh?!" pekiknya kaget ketika salah satu kantung belanjaannya diangkat oleh orang lain. Dia menoleh, menemukan sosok laki-laki berambut pirang dengan topi dan kaca mata tengah berdiri di sampingnya dengan memamerkan senyum lebar. Ia segera mendengus.

"Wookie-ah!" panggilnya.

"Apa Jong Woon-ssi? Kembalikan belanjaanku!" kata Ryeowook pada namjachingunya yang baru mengganti warna rambut lusa kemarin.

"Tidak sampai mengatakan apa masalahmu padaku," kata Yesung sambil mengangkat belanjaan Ryeowook tinggi-tinggi.

Ryeowook yang notabenenya lebih pendek hampir lima belas senti dari Yesung, merengut kesal. Ia menggelembungkan bibirnya dan memonyongkan bibirnya. Ia berkacak pinggang. "Kau tahu apa yang jadi masalah di antara kita, Kim Jong Woon. Tidak usah berlagak bodoh!" Suara Ryeowook yang sudah tinggi, semakin tinggi. Dia berjalan meninggalkan Yesung. Melupakan belanjaannya yang masih berada di tangan namja itu.

"Ya! Wookie-ah!" panggil Yesung sambil mensejajarkan langkahnya. "Apa ini tentang Jiyeon?" tebaknya.

"Menurutmu?" balas Ryeowook sarkastik. Ia menghentikan langkahnya lalu berdii menghadap Yesung. Matanya sudah mulai terasa perih. "Oppa, kita sudah hampir tiga tahun, kan?" tanyanya lalu melanjutkan tanpa menunggu jawaban dari Yesung. "Selama itu, apa saja yang kau lakukan dengan Jiyeon di belakangku?"

Yesung sedikit tersentak. Ternyata akar permasalahannya memang tentang Jiyeon. "Maksudmu?"

Ryeowook menghadap ke arah sebuah papan reklame, membelakangi Yesung. Berharap namja itu tidak melihat air matanya yang sudah tergenang dan siap jatuh kapanpun. "Kau tahu maksudku, Kim Jong Woon. Kalau kau dan Jiyeon memang tidak ada apa-apa setelah kalian putus, kalian tidak akan diberitakan kembali, kan?"

Yesung diam seribu bahasa. Bergeming di tempatnya. Menatap mata coklat terang milik kekasihnya lekat-lekat. Begitu pula hal yang dilakukan Ryeowook. Yeoja berambut kemerahan itu tanpa sadar mencengkram kedua sisi jaketnya hingga kusut.

"Jadi kau lebih mempercayai berita-berita kosong itu daripada kekasihmu sendiri?" tanya Yesung. Wajahnya menjadi berkali-kali lebih datar dari biasa. "Kau bahkan belum mendengarkan penjelasanku sama sekali, Lee Ryeowook. Jiyeon, dia hanya membantu mempromosikan WHY Style."

Rasa bersalah Ryeowook semakin besar mendengar penjelasan yang diberikan kekasihnya. Memang, selama ini Jiyeon selalu digosipkan bersama Yesung karena mereka menggunakan aksesoris yang sama. Mulai dari kacamata sampai silikon ponsel mereka yang adalah keluaran WHY Style, toko milik Yesung selain H&G.

"Jadi, kau maunya bagaimana?"

Ditanyai seperti ini malah membuat pikiran dan hati Ryeowook seakan berperang dengan hasil yang imbang. Ia masih mencintai Yesung. Tapi gengsinya mengalahkan hatinya untuk mengakui kesalahannya sendiri. Ia menghela napas sebelum menjawab.

"Kita break dulu…"

.

.

.

.

.

BLAM.

Eunhyuk yang sedang memutar garpunya pada pasta yang sedang ia makan, mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang baru dibanting oleh seorang yeoja mungil yang pergi lebih dari setengah jam lalu. Eunhyuk hanya diam memperhatikan Ryeowook yang menaruh belanjaannya di atas meja. Ia dan Sungmin keburu memesan makanan dari restoran dekat sini karena terlalu lama menunggu Ryeowook yang tidak kunjung kembali.

"Kenapa lama sekali, Wookie-ah?" tanya Sungmin. "Makan saja dulu. Membereskannya nanti saja."

Ryeowook hanya mematuh dan berjalan meninggalkan kantung belanjaannya. Ia mengambil garpu dan mulai memakan pastanya tanpa minat. Pikirannya berkecamuk. Semuanya terjadi begitu cepat dan terus berputar dalam benaknya seperti cuplikan film.

Apanya yang menunggu sampai Ddangkoma tua? Baru lewat seribu hari saja, kami sudah begini! Batin Ryeowook mengingat perkataan Yesung saat mereka kencan waktu itu. Ia menusuk-nusuk pasta berlapis keju di depannya dengan beringas. Kau menyebalkan Kim Jong Woon!

"Ya! Eonnie!" teriaknya tiba-tiba. "Kalian berdua harus menemaniku pergi sekarang! Aku tidak terima penolakkan! Titik." Ryeowook langsung melahap habis pastanya dengan beringas. Emosi yang tiba-tiba saja meluap dalam dirinya membuat yeoja itu melupakan tata krama makan juga dietnya. Selesai makan, ia langsung beralih pada belanjaannya yang masih teronggok begitu saja di meja.

"Dia… kenapa?" tanya Eunhyuk.

Sungmin ikutan diam. "Aku juga tidak tahu."

"Eonnie!" pekik Ryeowook lagi sambil berkacak pinggang di antara Eunhyuk dan Sungmin. Bibirnya manyun. "Makannya cepat! Kita mau pergi!"

"Ke mana?" tanya Sungmin sambil menyendokkan pasta ke mulutnya.

Senyum evil terukir di bibir Ryeowook. Demi apapun juga saat ini, Sungmin benar-benar mencatat dalam otaknya untuk tidak membiarkan sang adik tercintanya sering-sering pergi ke dorm Super Junior dan belajar senyum-senyum evil ala Cho Kyuhyun seperti itu. Dan–

–Hei! Sejak kapan senyum evil Cho Kyuhyun menjadi trendsetter di antara mereka semua?

To Be Continue…

2.785 words

Curcol dikit, ya. Saya sempet denger Yesung di-couple-in sama Jiyeon T-Ara. Dan saya nggak suka dan ngak akan nerima itu. Jong Woon cuma buat Ryeo Wook. Titik. #emosi. #abaikan.

Feel-nya kurang? Aaa… mianhaeyo. Saya juga bingung kenapa bisa begitu. Semoga yang ini feel-nya terasa. Kamsahamnida untuk konkrit-nya ^^.

HanChul pasti dibikin kok sehabis ini. Masalahnya, saya nggak bisa prediksi di chapter berapa fic ini akan selesai.

Terima kasih untuk: reaRelf, minmi arakida, Anonymouss, nyukkunyuk, aissh-ii, kyukyu, ressijewelll, Mincha, rianalupamelulu, Arit291, Cho Kyuri Mappanyukki, Stephanie Choi, cherizzka980826, myfishychovy, minami aikawa, kyunny, minnieGalz, Anchovy, 13elieve SuperJunior, HyukBunnyMing, Chipichipi jewelzfish, Thania Lee, qyukey, yantiheenim, Pikapika, aleajee. Dan semua yang telah membaca, review, fave, alert.

Sign,

Uchiha Kazuma Big Tomat

Finished at:

Wednesday, September 12, 2012

05.37 P.M.

Published at:

Thursday, September 13, 2012

03.33 P.M.

U © Kazuma House Production ® 2012