Ok, maaf atas keterlambatan apdetnya. Akhirnya ujian beres, ada yg remed, ada yg lulus, yah… setidaknya saya sudah berusaha…
Ada yg curhat nih di review, banyak yg suka fanfic ini ya? Kukira (dan aku memang selalu punya asumsi) kalau masih banyak fanfic lain (dengan pairing lain terutama) yg lebih bagus dari ini, jadi aku sering mikir "ah fanficku nggak banyak yg suka kok" begitu. Yah, karena dulu (ya, dulu sekitar beberapa tahun yg lalu, saat aku masih SMA) pairing NaruGaa nggak terlalu dihargai. Intinya…. Kalah saing begitu. Itu alasan aku makin ke sini jadi kurang semangat buat bikin fanfic NaruGaa. Tapi, apa sekarang keadaannya udah beda? *celingak celinguk
Yah, akan kuusahakan untuk update lebih… sering. Doakan lah…
Oh ya, di chapter ini, akhirnya, muncul lemon juga. Tapi diwarnai komedi dan fluff, jadi tenang aja…
"Ngh… Naruto…"
"Gaara…"
"Ah… ngh… lebih cepat!"
"Ukh… Gaara, kau sempit sekali…"
"Naruto!"
Deg!
"Hosh… hosh…," Naruto membuka matanya dengan napas terengah-engah, keringat bercucuran dari wajahnya.
Apa itu tadi? Mimpi? Tanyanya dalam hati, dengan wajah kemerahan. Ia melap keringat yang mengalir dari dahinya dengan tangannya. Benar-benar mimpi yang terasa nyata, pikir Naruto menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Erangan Gaara, tubuh Gaara yang lembut, lubang Gaara yang…
Ukh…
Naruto masih bisa merasakan organ di bawah tubuhnya itu tegang. Tampaknya benar-benar merespon si yang punya mimpi.
Naruto menoleh, mencari istrinya yang tidur bersamanya. Ia melihat Gaara tertidur di sampingnya dengan wajah yang damai dan tenang.
Tidak terasa sudah 4 bulan lamanya mereka menikah. Memang banyak hal yang terjadi, pahit dan manis bercampur jadi satu. Tapi, yang pasti perasaan Naruto berkembang seiring dengan perkembangan janin mereka dalam kandungan Gaara.
Gaara sekarang lebih dari sekedar "keluarga" bagi Naruto.
Tapi…
Perkembangan perasaan itu ternyata berbanding lurus dengan meningkatnya hormone libido sang suami.
Sejak malam pertama itu, Naruto belum pernah menyentuh Gaara seperti itu lagi.
Selain karena Gaara masih mengaku belum terbiasa disentuh, ia juga sedang hamil.
Tapi, tetap saja…
"Ukh…," Naruto menggerutu, merasakan penisnya menolak untuk turun.
Ia menoleh ke Gaara lagi.
Ah… istrinya yang satu ini memang manis. Rambutnya merah seperti darah begitu menonjol karena kulitnya begitu putih. Pipinya sekarang sedikit gemuk karena kehamilannya ini, membuat Naruto ingin mencubitnya. Bibirnya yang pink itu rasanya sangat lembut…
Ukh, ia harus berhenti berpikir seperti ini ketika tubuhnya seperti sedang terbakar seperti itu.
Naruto bangkit dari tempat tidurnya, ia harus mengurus 'masalah' ini sendirian, ia belum bisa menyentuh Gaara sekarang.
Ia pun menuju kamar mandir, hendak menyelesaikan masalahnya di sana.
Naruto merasa pusing karena ini, sudah hampir seminggu ia begini terus…
Aduh…
IoI
Gaara mendesah, ini perasaannya saja atau…
Naruto akhir-akhir ini terus menghindarinya?
Ia melirik ke Naruto yang sedang minum teh di depan televise sementara dirinya membereskan sisa makan malam.
Akhir-akhir ini suaminya itu menolak untuk menyentuhnya.
Tidak ada ciuman, tidak ada pelukan, bahkan Naruto selalu menghindar untuk berada di dalam ruangan yang sama.
Kenapa?
Gaara mencuci mangkuk dan piring dengan kepalanya yang penuh pikiran.
Apa karena ia selalu memukul dan menyiksa Naruto bila suaminya itu menyentuhnya tiba-tiba atau kelewatan?
Ia sendiri tidak menyangka ia akan begitu terpengaruh oleh sikap 'menjauh'nya Naruto.
Sekarang ia merasa kesepian dan terluka.
Atau karena perutnya semakin membesar jadi Naruto merasa jijik dan tidak mau menyentuhnya?
Gaara berhenti mencuci piring dan menatap perutnya, dengan baju yang dipakainya, tidak terlalu terlihat tapi…
Ia mengangkat kaus yang ia kenakan sampai dada dan memperlihatkan perutnya yang sedikit membesar. Wajar, ia sudah mulai memasuki trimester ke dua, kandungannya akan berkembang lebih besar lagi dalam beberapa minggu ke depan.
Dan juga dadanya…
Gaara menyentuh dadanya yang tumbuh sedikit membesar dari waktu ke waktu. Menurut Tsunade itu dikarenakan hormone perempuan yang naik selama ia mengandung, karena pada dasarnya laki-laki itu memeliki payudara hanya sedikitnya hormone perempuan membuat payudaranya tidak berkembang, maka pada kasus Gaara, dadanya tumbuh seperti perempuan memasuki pubertas. Ia bahkan mungkin bisa memberikan ASI.
Apa Naruto merasa jijik dengan tubuhnya yang seperti ini?
Memikirkan hal itu membuat Gaara merasa sedih, air mata mulai berkumpul lagi di sudut matanya.
Uh, dasar hormone sialan, bikin mood swing saja…
"Ting tong…"
"Oh ada tamu, siapa ya malam-malam begini?" tanya Naruto, berjalan menuju pintu depan sementara Gaara berusaha menghapus air matanya.
"GYAAAAAAA!" terdengar lengkingan Naruto yang sudah tidak asing di telinga para tetangga. Tapi, kali ini bukan karena ulah Gaara.
"Na-Naruto, ada apa?" pekik Gaara, terkejut dengan teriakan suaminya dari pintu depan.
Gaara terkejut melihat kedua kakaknya sudah berada di dalam rumah mereka dengan Naruto yang terlilit oleh kugutsu.
"Kankurou-niisan? Temari-neesan?" tanya Gaara terkejut bukan main.
Bukankah mereka seharusnya berada di Suna, menggantikan Gaara yang berada di Konoha.
"Gaara! Apa benar kau sudah dihamili oleh rubah sialan ini?" tanya Kankurou dengan wajah marah, mempererat lilitan kugutsunya pada Naruto.
"Aaaakkkhh! Ampun! Sakit!" jerit Naruto kesakitan.
"Ah… itu…," wajah Gaara memucat, ia masih belum memberitahu kedua kakaknya itu tentang kehamilannya. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya…
Naruto memaksanya bersetubuh dengannya hingga hamil?
Kalau ia bicara terus terang seperti itu, nanti bisa dijamin wajah suaminya tidak bisa dikenali lagi.
"Gaara, aku tidak percaya! Kalian bilang kalian hanya menikah bohongan agar desa aman, tapi kenapa?" tanya Temari panik, namun tidak marah seperti Kankurou yang masih sibuk menyiksa Naruto.
"Para tetua mengajukan syarat agar aku cepat hamil, la-lalu…," kata-kata Gaara terputus, bingung menjelaskannya. Wajahnya memerah mengingat malam pertamanya dengan Naruto.
"Pasti gara-gara si brengsek ini, iya kan? Biar kucincang dia sampai mati!" pekik Kankurou, siap mengeluarkan kugutsunya yang lain.
"Uwaa… Ampun!" jerit Naruto tidak berdaya.
"Tidak, Kankurou-niisan, hentikan!" teriak Gaara, menghempaskan Kankurou dengan pasirnya.
"Gaara…," kedua kakak Gaara tercengang memandang Gaara yang menghampiri Naruto. Gaara membantu Naruto terbebas keluar dari kugutsu Kankurou.
"Ka-kalau ia mati, nanti aku harus membesarkan bayiku sendirian…," kata Gaara dengan mata berkaca-kaca. Kedua kakak Gaara tercengang.
…..
"AAAHHHH! KENAPA ADIKKU JADI SEPERTI ITU? NARUTO BRENGSEK, INI PASTI GARA-GARA KAMU!" pekik Kankurou yang mengamuk.
"Bu-bukan kok! Suer! Ampun!" Naruto segera melarikan diri ke dalam rumah.
"HENTIKAN!"
Kedua pria segera menatap Temari yang kelihatan marah sementara Gaara di sampingnya kelihatan hampir menangis.
Puas melihat Naruto dan Kankurou berhenti, Temari menoleh pada Gaara.
"Baiklah Gaara, aku mengerti, kalau memang sudah terlanjur apa boleh buat," katanya sambil tersenyum.
Mendengarnya, Naruto menghela napas.
"Meski bukan berarti aku memaafkanmu karena sudah menghamili adikku yang baru 18 tahun ini… Uzumaki Naruto," tambah Temari, membuat Naruto terperanjat.
"I-iya!" sahut Naruto ketakutan.
Rasanya jelas darimana Gaara mendapatkan sikap sadis dan menyeramkannya itu…
Siapa lagi kalau bukan dari kedua kakaknya?
IoI
"Adikku jadi ibu rumah tangga seperti ini…," keluh Kankurou sambil menangis, memakan masakan makan malam Gaara.
"Jangan menangis Kankurou, tapi Gaara, aku senang kau jadi pintar masak," kata Temari, memuji adiknya. Gaara mengangguk dan tersenyum padanya. Ia duduk di sebelah Naruto, yang babak belur, menatap kedua kakaknya makan malam.
"Jadi, kalian dapat kabar dari siapa tentang kehamilanku?" tanya Gaara. Naruto masih bungkam, tidak mau bicara, masih marah, juga masih takut.
"Aku dengar dari Shikamaru," jawab Temari, menyeruput sup miso buatan Gaara. Gaara mengangguk, Shikamaru memang sudah berpacaran dengan kakaknya sejak lama, meski hubungan mereka berdua berjalan sangat lambat tapi anehnya, sangat awet.
"Begitu aku dengar kau hamil, kami langsung kemari," tambah Kankurou, menghabiskan nasinya.
"Lalu, yang mengurus Suna siapa?" tanya Gaara khawatir, meski sedang hamil sekalipun, ia tetaplah Kazekage.
"Sementara ini Baki, tapi kami sudah janji akan cepat kembali kok," kata Temari, menenangkan Gaara. Gaara menghela napas lega.
"Tadinya kami bingung kenapa setelah bulan madu kalian, Gaara tidak segera kembali ke Suna, ternyata…," Kankurou melotot pada Naruto yang langsung menatap ke arah lain.
"Ja-jangan begitu, ini semua bukan sepenuhnya salah Naruto," kata Gaara melerai, kasihan dengan suaminya.
"Bukan sepenuhnya salahnya, berarti dia memang punya andil kan?" tanya Temari, membuat Naruto terperanjat di kursinya.
Naruto menggigit bibirnya. Ia bisa merasakan aura tidak menyenangkan dari kedua kakak Gaara. Tentu saja, mereka kan belum memberi ijin kepadanya untuk menikahi Gaara secara sungguhan, jelas mereka marah ketika tahu adiknya tiba-tiba sudah hamil seperti ini.
Apa boleh buat…
"Ma-maafkan aku! Aku tidak meminta ijin kalian terlebih dahulu, tapi biarkan Gaara menjadi istriku! Aku akan menjaganya serta anak kami dengan baik!" kata Naruto menundukkan kepalanya, membuat Suna bersaudara terkejut.
"Na-Naruto…," wajah Gaara memerah.
"Apa? Siapa yang-," Kankurou berhenti bicara melihat Temari memberinya sinyal tutup mulut.
Temari mendesah namun kemudian tersenyum.
"Yah apa boleh buat, sepertinya tidak ada pilihan lain kecuali membiarkanmu menikahi Gaara secara sungguhan, tapi…," Temari melotot pada Naruto, "jaga adikku dan bayinya baik-baik, atau aku akan menerbangkanmu ke ujung dunia, mengerti?"
"Mengerti!" kata Naruto, memberi hormat pada Temari.
Temari mengela napas lega meski Kankurou masih bersungut-sungut.
"Oh ya, malam ini kami menginap di sini ya?" pinta Temari, membuat Naruto ingin menangis.
Ini akan jadi malam yang panjang…
IoI
"Gaara, apa ada masalah?"
Gaara terkejut ditanya begitu oleh Temari ketika ia dan kakaknya itu sedang sibuk membereskan dapur. Selesai makan malam, Temari segera membantu Gaara beres-beres sementara Kankurou sibuk 'mengajak bicara' Naruto.
"Ti-tidak ada," jawab Gaara berbohong. Temari menghela napas.
"Apa ini disebabkan oleh… suamimu yang berambut pirang di ruang tengah itu?" tanya Temari, sambil tersenyum melihat pipi Gaara memerah.
Gaara hanya diam dan sibuk mencuci piring di bak cuci piring meski pipinya memerah.
"Kurasa aku benar…," kata Temari.
"Ayolah, ceritakan padaku, aku kan kakakmu," bujuk Temari lagi.
Gaara menatap Temari dengan bimbang. "Uh begini…"
Temari mengangguk mengerti setelah Gaara menceritakan masalahnya.
"Sebelumnya Naruto selalu mesra padamu, meski kau risih, namun sekarang ia jarang menyentuhmu lagi?" tanya Temari.
Gaara mengangguk.
"Baiklah Gaara, kakakmu ini akan membantumu, dengar ya, kau harus…"
Dan Gaara mendapatkan pelajaran yang baru mengenai tugasnya sebagai istri.
IoI
Naruto berjalan ke rumah dengan lunglai. Repot sekali kemarin, kedua kakak Gaara tiba-tiba mengunjungi mereka, menghajarnya, kemudian menginap. Untung pada siang hari, mereka sudah pulang, kalau tidak Naruto bisa stress.
Masalahnya juga belum selesai.
Naruto menghela napas.
Kapan nafsunya pada Gaara berakhir? Semakin ia tahan, semakin ia tertarik untuk menyerang istrinya yang seksi itu.
Membayangkan Gaara berada di bawah tubuhnya, mengerang dengan erotis dan wajah yang eksotis….
Baru membayangkan seperti itu membuat penis Naruto setengah ereksi, menyedihkan.
Ia merasa bersalah membayangkan Gaara seperti ini, tapi…
Gaara itu istrinya kan? Wajar dong!
Wajar saja ia menginginkan Gaara, ia ingin menyentuh Gaara dimana orang lain tidak bisa menyentuhnya.
Membuat Gaara jadi miliknya.
Tapi…
Apa Gaara sendiri bersedia? Terakhir kali ia mencoba meraba bokong Gaara, ia mendapatkan tinju pasir ekstra besar.
Padahal semakin lama Gaara semakin seksi. Seakan menggodanya untuk melihat sejauh mana Naruto bisa mengendalikan diri.
Gara-gara itu Naruto jadi tidak berani menyentuh Gaara akhir-akhir ini, ia takut, ia akan kelewatan.
Ia tidak mau menyatakiti Gaara, membuat istrinya benci padanya.
"Tadaima…," ucap Naruto, sambil membuka pintu depan rumah.
"Okaerinasai," ia mendengar jawaban Gaara dari arah dapur. Gaara pasti sibuk memasak makan malam.
Semoga malam ini ia tidak mimpi basah lagi, Naruto berdoa dalam hati.
Naruto segera berjalan menuju dapur, melihat Gaara sibuk memasak makan malam untuk mereka berdua. Ah, ia benar-benar istri yang baik.
Ia ingin memeluknya dari belakang, mencium lehernya, membuatnya mengerang….
Akh! Hentikan! Hentikan!
"Naruto, makan malam hampir selesai, tunggu ya," kata Gaara.
"Ya, baiklah," kata Naruto berjalan menuju ruang tengah.
Naruto merebahkan diri di ruang tengah, melepas lelah sekaligus mencoba menenangkan pikiran… dan nafsunya.
Gaara, kenapa ia semakin lama semakin… menggoda?
Ukh… ia makin kesulitan menahan diri…
"Naruto, makan malam sudah siap!" panggil Gaara dari ruang makan. Naruto segera berjalan menuju ruang makan.
Makan malam biasa, Gaara juga biasa.
Selesai makan, kenyang, Gaara segera membereskan peralatan makan malam.
"Ah… anu, Naruto, bisa bantu aku beres-beres?" tanya Gaara. Naruto sedikit terkejut, namun tidak menolak. Merasa kasihan juga, membiarkan Gaara yang tengah hamil mengurusi semua pekerjaan rumah.
"Ok," jawabnya, ia segera membereskan peralatan makan dan membawanya ke bak cuci piring. Gaara sudah berada di sana, siap mencuci piring-piring kotor.
"Hm, Gaara? Kau pakai parfum ya?" tanya Naruto, baru sadar ketika ia berada dekat dengan Gaara.
"Eh, iya…," jawab Gaara, pipinya sedikit memerah. Naruto menarik napas, menghirup wangi parfum Gaara yang lembut dan harum.
"Wanginya…," katanya, tanpa sadar, mengendus dekat leher Gaara. Gaara sedikit terkejut namun membiarkannya. Wanginya lembut, seperti wangi bunga, namun tidak mencolok hidung.
Naruto tanpa sadar mencium lembut leher Gaara, membuat wajah Gaara semakin memerah. "Wangi sekali, kulitmu juga lembut," katanya. Kemudian Naruto beralih ke rambut Gaara yang juga wangi.
"Rambutmu juga harum," katanya, mencium rambut Gaara.
"I-iya, aku meluangkan diri untuk membersihkan diriku lebih baik hari ini…," kata Gaara. Ia mendekat ke Naruto yang masih sibuk mengendus dan mencium tubuhnya.
"Oh ya? Hm… mungkin kau harus melakukannya setiap hari…," kata Naruto, mabuk oleh wangi tubuh Gaara.
"Be-begitu…," kata Gaara, ia sedikit tegang saat Naruto merangkulnya dan sibuk mencium lehernya.
"Wangi, lembut…," gumam Naruto. Kulit Gaara itu seperti kulit bayi karena selalu terbungkus pasir, lembut sekali.
HAH!
Naruto terkejut dan segera melepaskan Gaara.
A-apa yang sudah dia lakukan?
Wajah Naruto segera memerah, begitu pula wajah Gaara.
"Ma-maaf Gaara! Aku kebablasan! Ah.. eng… aku mandi dulu ya!" kata Naruto segera kabur dari hadapan Gaara.
Gaara terpana melihat kepergian Naruto. Ia kemudian mendesah.
Sayang rencananya gagal, padahal sudah hampir berhasil tadi.
Sementara itu, Naruto…
"Hosh… hosh…," ia berhasil kabur ke kamar mandi dan kini tengah bersandar pada pintu.
Kenapa tadi dia itu? Memikirkannya saja membuatnya malu.
Tapi memang benar, tubuh Gaara harum, kulitnya juga lembut sekali. Ia ingin sekali, ingin sekali mencium dan menghisap kulit yang putih mulus itu, memberikan tanda bahwa Gaara adalah miliknya, kemudian…
Akh! Stop! Stop!
Ia butuh shower dingin sekarang, shower yang benar-benar dingin…
IoI
Naruto membenamkan diri ke dalam air di bak mandinya. Ada apa dengan Gaara ya? Tumben ia pakai parfum, tumben ia tidak melawan saat dirinya hampir menyerangnya begitu…
Huft… tapi kemulusan dan kelembutan kulit Gaara serta harum parfumnya masih membayangi angan-angan Naruto.
Wajah Naruto memerah memikirkannya. Ia ingin merasakan semua tubuh Gaara yang mulus tanpa noda itu, ia ingin…
Ukh! Naruto membasuh wajahnya dengan air dari bak mandi.
Kami-sama, tolong hentikan nafsunya ini…
"Tok-tok!"
Naruto terdiam, mendengar ada yang mengetuk pintu kamar mandi.
"Naruto?" panggil Gaara.
"Ya?" tanya Naruto, jadi nervous.
"Hm… aku boleh masuk?" tanya Gaara membuat Naruto terperanjat, hampir tenggelam dalam bak.
"E-eh… kalau begitu, biar aku keluar dulu!" kata Naruto merasa panik. Ia buru-buru keluar dari bak mandi.
"Eh tidak, jangan! Maksudku… hm.. aku ingin mandi bersamamu…"
Naruto terpana di tempat, menatap lurus ke pintu.
….
"HA?"
"Greeekk…." Pintu kamar mandi di buka tiba-tiba, Naruto panik segera masuk kembali ke dalam bak. Ia melihat Gaara dengan wajah sangat merah dan malu menatapnya.
"Aku ingin mandi bersamamu," ulangnya.
"Eh… tu-tunggu! Kenapa tiba-tiba…?" tanya Naruto panik dan kebingungan.
Gaara mengelus perutnya, memberikan isyarat pada Naruto bahwa ini adalah salah satu dari 'ngidam'nya, membuat Naruto tidak bisa berkutik lagi.
"Boleh?" tanya Gaara dengan wajah memelas.
Naruto menelan ludahnya, ia tidak memiliki pilihan lain kecuali menyanggupinya. Bila tidak, Gaara bisa menangis atau mengamuk. Tapi… ia tidak yakin ia bisa mengendalikan diri bila ia berada bersama Gaara di dalam satu bak mandi yang sempit dalam keadaan telanjang.
Tapi…
"Bo-boleh," kata Naruto, meski berat. Gaara tersenyum padanya.
Ia perlahan membuka bajunya. Hatinya sebenarnya kalut. Ya ampun, ia sudah membohongi Naruto. Ini bukan 'ngidam'nya, tapi salah satu rencananya agar Naruto mau menyentuhnya lagi. Ia sendiri merasa malu, sudah lama ia tidak telanjang bulat di depan Naruto.
Naruto memandangi air, tidak berani memandang Gaara yang sedang membuka bajunya.
Ia terjepit, benar-benar terjepit!
Ia tidak tahu harus bagaimana!
Ia bisa mendengar suara-suara Gaara membuka pakaiannya. Cukup dengan itu saja mampu membuat jantungnya berdebar keras dan wajahnya memerah.
Bagaimana bila ia melihat Gaara tanpa busana?
Ukh…
Kulit mulus itu tidak tertutupi sehelai benang pun. Naruto ingin menciumnya, meraba dan menghisapnya, membuat Gaara mengerang penuh kenikmatan. Dan lubang anusnya yang sempit itu akan…
BRUK!
Gaara terkejut dan menoleh, melihat Naruto sudah pingsan jatuh ke lantai dengan hidung mengeluarkan darah banyak.
"Na-Naruto!"
IoI
Gaara menghela napas, ia memandangi Naruto yang kini terbaring di tempat tidurnya masih dalam keadaan pingsan.
Ia jadi merasa bersalah, membuat suaminya pingsan seperti ini. Mungkin ia terlalu agresif sampai lupa diri.
Begitu Naruto pingsan, Gaara segera mengangkut suaminya itu, dengan bantuan pasirnya, ke tempat tidur lalu mengeringkan tubuhnya juga mengenakannya piyama.
Gaara sendiri sudah mengenakan piyamanya.
Mungkin rencananya disudahi saja, ia tidak tega…
Tapi…
Gaara beranjak dari tempat tidur, menuju lemari baju. Ia membuka pintu lemari dan mengambil pakaian yang diberikan Temari kemarin untuk kado 'pernikahan'nya.
Seharusnya ia memakai baju ini, bila acara mandi bersama Naruto gagal.
Tapi…
Ia melirik Naruto yang masih pingsan, tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Mungkin, ia coba dulu saja.
Gaara segera menanggalkan pakaiannya dengan wajah memerah, sekali-sekali ia menatap Naruto, takut suaminya itu bangun.
Ia kemudian mengenakan pakaian hadiah dari Temari dan menatap dirinya di kaca.
Kami-sama…
Naruto tidak mungkin bisa menolaknya.
Ia mengenakan celana dalam seksi berwarna hitam yang menggunakan tali di kedua sisi. Lalu ia mengenakan lingerie tembus pandang dengan model seperti tank top berwarna merah lengkap dengan renda di sana-sini.
Pinggulnya yang membesar dan dadanya yang tumbuh membuatnya kelihatan seperti wanita. Perutnya yang makin membulat juga terlihat jelas dengan lingerie tembus pandang ini.
Wajah Gaara memerah, benar, Naruto tidak mungkin bisa menolaknya bila ia mengenakan ini.
Tapi, pasti Naruto akan menyerangnya.
Wajahnya semakin memerah, mungkin… tidak apa-apa, ia malah ingin diserang Naruto.
Ia ingin disentuh dan dimanja oleh suaminya itu.
Tapi, tidak mungkin ya…
Gaara menoleh, mengecek apakah Naruto sudah terbangun atau belum.
Dan dirinya terpanjat menemukan sepasang mata biru laut itu sudah terbuka dan tengah menatap dirinya dengan syok.
Wajah Gaara memerah, menyadari busana macam apa yang ia kenakan. "Anu… ah… uhm… Naruto…, a-aku akan segera ganti baju, tunggu dulu," kata Gaara panik, ia segera berbalik dan meraih piyama yang ia kenakan tadi sebelum akhirnya ia berhenti ketika Naruto memeluknya dari belakang.
"Gaara, aku sudah mencoba menahan diri… tapi, bila kau seperti ini… aku…," Naruto menghentikan bicaranya dan mencium leher Gaara. Gaara memekik pelan saat tangan Naruto menyelinap masuk ke dalam lingerienya dan meremas dadanya. Sementara yang satunya bermain dengan bagian belakang celana dalam Gaara.
"Na-Naruto…," desah Gaara lemah, meleleh di bawah sentuhan Naruto.
"Hm… dadamu membesar ya, manis sekali…," gumam Naruto ke telinganya sementara tangannya bermain dan memilin puting susu Gaara, membuat sang istri mendesah.
"Kau menggoda sekali Gaara, aku tidak tahan…," kata Naruto, membalikkan wajah Gaara dan menciumnya dengan penuh nafsu, membuat sang istri tidak berdaya.
Gaara membiarkan Naruto mendominasi mulutnya, mengerang di balik mulut yang handal dan lincah itu. Sementara tangan Naruto perlahan mulai menarik lepas celana dalam yang ia kenakan, membuat bagian bawah tubuhnya tidak tertutupi.
"Ukh… Na-Naruto… HENTIKAN!"
Gaara menghempas Naruto dengan pasirnya, membuat sang suami terlempar ke dinding.
Naruto memandang Gaara dengan terkejut sementara Gaara berusaha mengontrol napasnya yang berat.
"Ma-maaf Gaara, a-aku kebablasan lagi," kata Naruto, sadar apa yang sudah ia lakukan.
Gaara segera menggeleng. "Bukan, bukan itu, aku hanya ingin tahu… kenapa kau menghindariku selama seminggu ini Naruto?" tanya Gaara kelihatan depresi.
Naruto terdiam mendengarnya.
"A-aku sampai harus memakai baju ini agar kau mau menyentuhku, sebenarnya ada apa? Apa kau bosan padaku? Atau kau jijik padaku?" tanya Gaara mulai emosional.
Naruto perlahan bangkit dan menghampiri Gaara. Gaara memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
Senyum mengembang di bibir Naruto, kemudian sang suami mengecup dahi Gaara dengan lembut.
"Mana mungkin aku bosan dan jijik pada istriku yang manis seperti ini," katanya lembut. Gaara menatapnya tak percaya.
"Lalu, kenapa?" tanyanya. Wajah Naruto memerah.
"Aku, kesulitan menahan diri bila berada bersamamu," katanya. Gaara terdiam.
"Aku ingin… menyentuhmu Gaara, lebih dari biasanya," katanya lagi dengan nada lebih pelan. Wajah Gaara memerah dan jantungnya berdebar-debar.
"Aku ingin… kau jadi milikku, seutuhnya," tambah Naruto lagi.
Gaara hanya diam, memandang Naruto dengan jantungnya berdebar kencang. "Na-Naruto…," ucapnya pelan.
"Tapi, aku takut kau marah, jadi aku tidak berani menyentuhmu, makanya aku menghindarimu," jawab Naruo sambil menggaruk belakang kepalanya meski tidak gatal.
Gaara memandang ke bawah.
Naruto ingin… menyentuhnya, mengklaim dirinya?
"Naruto, apa kau… cinta padaku?" tanya Gaara.
Mata Naruto membelalak, ia memandang Gaara yang memandangnya dengan serius.
Ia kemudian mengangguk dan tersenyum.
"Tentu saja, aku cinta padamu Gaara, entah sejak kapan," katanya sambil tertawa pelan. Ia kemudian merangkul Gaara dengan lembut.
"Apalagi, kau mengandung anakku, aku cinta sekali pada kalian berdua," tambahnya.
Gaara terdiam mendengarnya, wajahnya menghangat, begitu pula dadanya. Ia menarik tubuhnya keluar dari rangkulan Naruto dan memandang suaminya itu.
"Aku juga," katanya pelan namun cukup keras untuk didengar Naruto. Naruto tersenyum dan mengecup bibir Gaara lembut. Gaara menutup matanya dan melipat kedua tangannya di bahu Naruto.
Begitu mereka berdua berpisah, mereka tersenyum pada satu sama lain.
"Uhm… sepertinya, aku harus pergi ke kamar mandi," kata Naruto, memecah suasana.
"Kenapa?" tanya Gaara.
"Aku… harus membereskan ini…," kata Naruto, dengan malu menunjuk pada celana depannya yang menggembung, membuat wajah Gaara memerah.
"Karena itu, aku…," Naruto berhenti bicara saat Gaara menaruh satu telunjuknya di depan bibirnya.
"Lakukanlah padaku," katanya membuat Naruto tercengang.
"A-apa?" tanya Naruto, mendadak bodoh.
"Lakukanlah, sentuh aku, buat aku jadi milikmu," kata Gaara lebih jelas, memeluk Naruto erat, membuat suaminya membatu.
"Se-serius Gaara? Tapi kan…," Naruto diam lagi saat pelukan Gaara mengencang.
"Tidak apa-apa, aku ingin kau melakukannya," katanya, membuat wajah Naruto memerah.
Naruto diam kemudian mengangguk.
"Aku akan membuatmu jadi milikku, malam ini…"
IoI
Naruto melihat Gaara yang merebah di atas tempat tidur, dengan pakaian tidurnya yang seksi dan wajahnya yang pasrah. Ia tahu, akan sulit baginya mundur bila ia sudah melakukan ini.
"Kau serius?" tanya Naruto, merangkak ke atas Gaara, menatap istrinya dari dekat.
Semburat kemerahan muncul di kedua pipi Gaara. "Ya," jawabnya singkat. Naruto tersenyum dan segera mencium Gaara, mendominasi mulut Kazekage muda itu, membuatnya mengerang di bawah tubuhnya.
Mulut Gaara sangat manis, Naruto sendiri merasa bingung, tapi manisnya seperti sedang makan stroberi. Ia kulum lidah istrinya dan menjelajahi liang mulut istrinya dengan telaten.
Gaara mendesah dan melingkarkan tangannya ke bahu Naruto, mendekap suaminya itu lebih erat.
Sudah seminggu ini ia rindu dengan sentuhan suaminya. Kini akhirnya ia mendapatkannya.
Mereka berpisah dan menarik napas cepat-cepat, Naruto tersenyum pada Gaara dan mengecup pipinya.
"Aku akan melakukannya dengan lembut, jangan khawatir," katanya, menghapus keraguan dalam hati Gaara.
Naruto turun, mencium dan menjilat leher Gaara yang putih. Sang istri mendongak ke arah lain, memberikan akses lebih besar.
Seperti dugaannya, lembut dan harum, kulit Gaara itu benar-benar lezat. Naruto terus menjilat, mencium, menghisap, mengigit, membuat Gaara mengerang karena nikmat. Wajah Gaara semakin memerah dan napasnya semakin berat. Sentuhan suaminya itu bagai membakar tubuhnya. Lembut namun sangat panas.
"Kulitmu benar-benar lembut… hm…," ujar Naruto, memberikan tanda mungil di leher atas Gaara.
"Naruto, na-nanti terlihat orang!" pekik Gaara, sadar apa yang Naruto lakukan.
"Tidak apa-apa, ini tanda kau milikku," katanya sambil tersenyum jahil, membuat Gaara cemberut namun Naruto hanya tertawa.
Ia melanjutkan perjalannya, ia turun ke dada Gaara yang bisa dilihat dari lingerie tembus pandang yang dikenakan istrinya itu.
Seksinya…
Dada itu sedikit membesar, namun tidak sebesar milik perempuan. Ia bisa melihat puting susunya membesar juga dadanya sedikit membesar, tapi hanya sedikit, kalau ditutupi baju pun tak akan terlihat.
"Dadamu lucu," goda Naruto, mengangkat lingerie yang dikenakan Gaara agar ia bisa mengakses dada istrinya itu.
"Benarkah?" tanya Gaara, takut Naruto tidak menyukainya.
Naruto mengangguk dan menghisap puting susu Gaara, membuat Gaara mengerang. Puting susu itu segera mengeras di bawah lidah Naruto. Naruto terus menghisap dan menjilatnya, seperti anak bayi yang sedang menyusu.
Gaara berusaha menahan erangan yang makin lama makin keras, semua rasa panas yang diberikan Naruto terkumpul di daerah selangkangannya.
"Manis," komentar Naruto, puas menjilati semua puting susu Gaara yang kini keras dan tegang. Gaara hanya menatapnya dengan wajah merah.
"Mungkin kalau kujilat dan kuhisap secara teratur, kau bisa mengeluarkan susu ya," kata Naruto lagi, memainkan dan memilin puting susu Gaara yang mengeras.
"Uhk… ngh… Na-Naru…," erang Gaara.
Naruto kemudian turun kembali, kini melihat perut Gaara yang sedikit membuncit. Ia tersenyum dan mengecupnya dengan penuh sayang, membayangkan bayinya yang dikandung Gaara sedang tumbuh berkembang di dalam sana.
Membayangkan Gaara mengandung anaknya, membuat Gaara terlihat semakin seksi di mata Naruto.
"Aku…. Kalau terlihat gemuk, apa kau masih suka padaku?" tanya Gaara dengan suara pelan. Naruto tercengang kemudian tertawa pelan.
"Semakin kandunganmu tumbuh, kurasa kau akan semakin seksi Gaara," kata Naruto, mengecup perut Gaara lagi. Gaara memerah mendengarnya.
Naruto turun kembali, melihat penis Gaara sudah menegang sejak tadi. Ternyata ia berhasil memanjakan istrinya itu. Ia mengecup penis yang terbilang besar itu, membuat Gaara mengerang.
Namun, mulutnya beralih ke lubang anus Gaara yang berwarna pink. Lubang itu tampaknya kesepian.
"Gaara sayang, bisakah kau berbalik?" tanya Naruto lembut. Gaara memandangnya dengan sedikit bingung namun menuruti kata-kata suaminya, ia segera berbalik dan bertumpu pada siku dan lututnya, membuat bokongnya terlihat dengan jelas di mata Naruto.
Naruto tersenyum senang, ia segera mengecup dan menjilat lubang anus Gaara yang disodorkan padanya.
"Ah! Ngh… Naruto…," Gaara mendesah, bisa merasakan bagaimana lidah Naruto bermain dengan lubang anusnya. Rasanya aneh… tapi ada kenikmatan di sana.
"Sepertinya… hm… kau sudah membersihkannya ya?" tanya Naruto, kemudian kembali menjilati lubang anus Gaara.
Wajah Gaara memerah mendengarnya, ia tidak menjawab tapi Naruto menganggapnya sebagai "iya".
Naruto melipat lidahnya kemudian memasukkannya ke dalam lubang anus Gaara, berusaha membuka lubang yang sempit itu. Gaara mengerang dan sedikit gemetar, ia menggenggam seprei dengan erat, menahan kenikmatan yang Naruto berikan padanya.
"Tunggu sebentar, biar aku ambil lube dulu," kata Naruto, kemudian menghilang sebentar, meninggalkan Gaara terengah-engah.
"Nah, rasa stroberi, aku pikir ini yang paling cocok," kata Naruto girang, kembali ke posisinya semula. Wajah Gaara memerah mendengarnya, namun ia hanya diam karena tahu apa yang akan terjadi.
Naruto membuka tutup lube kecil di tangannya dan menuangkan isinya ke jarinya. Cairan licin dan sedikit lengket itu beraroma stroberi. Cocok untuk Gaara.
Naruto segera memposisikan satu jarinya di depan anus Gaara, kemudian memasukinya perlahan.
"Ahk!" erang Gaara sedikit merasa sakit.
Naruto bisa melihat bagaimana jarinya ditelan oleh lubang anus Gaara yang sempit. Wajahnya memerah, merasakan bagaimana lubang anus Gaara meremas jarinya dan menariknya makin dalam. Sempit sekali, lalu basah dan juga panas.
Membayangkan penisnya berada di dalam sana, membuat penis Naruto makin ereksi bila mungkin.
Kemudian ia memasukkan jari kedua, membuat Gaara mengerang kesakitan.
Ya ampun, istrinya yang sedang hamil ini benar-benar sempit sekali. Naruto berusaha mengalihkan perhatian Gaara dengan meremas dan memijat penisnya. Gaara mengerang, terbelah antara nikmat dan sakit.
Naruto memaju-mundurkan jarinya perlahan, membuka lubang anus Gaara lebih lebar. Ia harus mempersiapkan istrinya baik-baik karena ukuran penisnya yang besar.
Begitu lubang anus Gaara sudah mulai lebih rileks, Naruto memasukkan jari yang ketiga, membuat Gaara menggenggam seprei dengan kuat, menahan erangan sakit yang akan keluar. Air mata berkumpul di sudut matanya, terancam jatuh.
Naruto dengan telaten membuka dan menutup ketiga jarinya, berusaha membuka lubang anus Gaara lebih lebar lagi. Benar- benar sempit dan panas.
Merasa cukup, Naruto menarik keluar ketiga jarinya yang basah oleh lube. Ia bisa melihat bagaimana lubang anus Gaara sudah terbuka dan sekarang sibuk membuka dan menutup, tampaknya ingin segera diisi.
Ia mendorong tubuh Gaara agar berbalik, Gaara kembali merebah di atas tempat tidur. Naruto merangkak dan mengecup pipinya kemudian menghapus air matanya yang sempat jatuh tadi.
"Kau yakin?" tanya Naruto lagi. Gaara memandangnya lurus, kemudian mengangguk.
Naruto membuka celananya, menendangnya entah kemana, membiarkan penisnya berdiri dengan bangga. Gaara melihatnya dengan ragu dan sedikit takut, bagaimana penis yang besar itu bisa masuk ke dalam tubuhnya?
Tapi, mereka sudah pernah melakukan ini dulu, dan Gaara masih ingat bagaimana sensasinya hingga ia memutuskan untuk diam.
Naruto memposisikan penisnya di depan lubang anus Gaara, ia melirik Gaara, Gaara memberikan anggukan.
Ia kemudian mendorong masuk penisnya ke dalam anus Gaara, Gaara mengerjap, menggenggam kuat seprei sebagai pegangannya.
"Ngh… akh…," erangnya, air mata berjatuhan.
Naruto diam, membiarkan Gaara menyesuaikan diri, kemudian mendorong masuk lagi. Badan Gaara bergetar hebat, air matanya bercucuran, tapi lubang anus Gaara sangat nikmat.
Sempit, basah dan panas, nikmat sekali.
"Ah… kau terlalu besar…," keluh Gaara, berusaha menarik napas dan menahan sakit.
"Kau yang… terlalu sempit," kata Naruto, berusaha menahan diri untuk tidak langsung memasukkan dirinya seutuhnya ke dalam tubuh Gaara.
Naruto memegangi kedua kaki Gaara, membukanya lebih lebar, kemudian memasukkan penisnya lagi sampai pangkalnya, membuat Gaara gemetar dan mengerang kesakitan.
Gaara berusaha menarik napas dan menahan rasa sakit. Ia tidak percaya, sebesar inikah Naruto? Rasanya ia bisa merasakan Naruto di kerongkongannya. Ia benar-benar merasa penuh, ia sangsi apakah Naruto bisa bergerak di dalam tubuhnya.
Naruto diam, menunggu istrinya menyesuaikan diri. Kemudian ia melihat Gaara mengangguk.
Dengan perlahan, Naruto menarik keluar penisnya, kemudian memasukkannya lagi. Gaara bisa merasakan bagaimana penis Naruto bergerak di dalam tubuhnya, membuatnya kesakitan namun ada nikmat di sana.
Naruto merunduk dan mencium Gaara dengan lembut, ia terus mempenetrasi tubuh Gaara dengan kecepatan lambat agar istrinya tidak kesakitan.
"Lebih… cepat…," desah Gaara, Naruto mengangguk dan mempercepat ritme penetrasinya. Gaara mengerang, ia memeluk Naruto, melingkarkan kakinya ke pinggang Naruto, menarik agar Naruto mempenetrasinya lebih dalam.
"Ngh… ah…," desah Gaara. Naruto berusaha mencari dimana titik kenikmatan Gaara, sampai ia menghantam satu titik dan Gaara meneriakan namanya dengan keras.
Ketemu.
Ia menghantam titik itu berulang kali, tidak terlalu keras, karena Gaara sedang hamil, namun cukup keras untuk membuat Gaara tenggelam dalam nikmat.
Ia mencium dan tangannya bermain dengan dada Gaara, Gaara hanya bisa mendesah dan mulai ikut menggerakkan tubuhnya sesuai dengan ritme Naruto.
"Kau… seksi sekali… Gaara," kata Naruto, menjilat dan memainkan telinga Gaara.
"Ngh… ah… ngh… Naru…," Gaara sibuk mendesah dan mengerang, ia bisa merasakan kenikmatan membanjirinya terus menerus. Tangan Naruto sibuk bermain dengan puting susunya, tangan yang lain mulai bermain dengan penisnya sementara penis Naruto terus menghantam titik prostatnya.
"Ngh… hau… ah…," Gaara mengerang, kenikmatannya mulai tidak tertahankan.
Naruto mengecup leher Gaara, memberikan mark lain di sana. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya ke penis Gaara yang mulai bercucuran precum.
Dengan sigap ia memijat dan meremas penis Gaara, membuat istrinya mengerang makin keras. Lubang anus Gaara juga mulai terasa menyempit, tanda bahwa Gaara akan datang.
"Ah! Naruto!" pekik Gaara, menyemburkan semennya, tak bisa menahan kenikmatan yang melanda tubuhnya.
"Ngh… Gaara," Naruto membiarkan penisnya mengeluarkan isinya, mengisi tubuh Gaara dengan benih dirinya.
Biasanya Naruto butuh ronde dan waktu yang lama sampai bisa ejakulasi, tapi ia tahu keadaan Gaara, maka ia memaksa dirinya ejakulasi lebih cepat.
Gaara bisa merasakan cairan hangat mengalir di dalam tubuhnya, membuatnya meleleh. Ia menarik napas cepat-cepat, menikmati kenikmatan yang memanjakannya setelah ejakulasi tadi.
Tapi, ia masih bisa merasakan penis Naruto yang tegang di dalam tubuhnya.
Suaminya ini memang memiliki stamina yang tinggi.
"Uh… maaf Gaara," katanya sambil nyengir. Gaara menggeleng tak percaya.
"Aku… hanya kuat… satu ronde lagi," kata Gaara terengah-engah. Naruto mengangguk, ia membimbing tubuh Gaara untuk berbalik. Gaara menurut, meski lelah, ia membiarkan dirinya berbalik dan bertumpu pada siku dan lututnya.
Ia bisa merasakan penis Naruto bisa masuk lebih dalam dengan posisi ini.
Naruto memeluknya dari belakang kemudian mengecup lehernya. Ia melakukan penetrasi pelan, kembali membuka anus Gaara.
Gaara mengerang, bisa merasakan bagaimana penisnya kembali bangkit meski sudah basah oleh semen.
"Ngh… ah…," Gaara mendesah, merasakan Naruto mempenetrasinya lebih cepat.
"Ah! Naruto!" Gaara memekik saat kedua tangan Naruto menyelinap, meremas dadanya. Tangan Naruto terasa dingin terhadap kulitnya yang terasa panas, tangan itu dengan lincah memainkan dan memilin puting susu Gaara.
"Ngh… ah…ngh…," Gaara mengerang kian kencang saat Naruto kembali menemukan titik prostatnya.
"Hng… Gaara," gumam Naruto, mengecup dan menggigit leher Gaara.
Perlahan Gaara mengikuti ritme Naruto, menggerakan tubuhnya bertemu dengan tubuh Naruto sesuai dengan irama.
"Ngh… aku… tidak kuat..," keluh Gaara, merasakan penisnya kembali meneteskan precum. Naruto segera meraihnya dan meremasnya, membuat Gaara menggeliat.
Setelah beberapa penetrasi kemudian, Gaara datang kembali, menyemburkan cairan putih ke tempat tidur sementara Naruto kembali mengisi dirinya.
Gaara terengah-engah, sangat kelelahan. Naruto segera menarik keluar penisnya, yang masih setengah ereksi, dari tubuh Gaara. Gaara segera berbalik dan merebah di atas tempat tidur.
Naruto merangkak dan mencium Gaara dengan lembut kemudian ia beranjak dari tempat tidur, Gaara sempat menangkap tangannya.
"Mau kemana?" tanya Gaara, masih kelelahan.
Naruto tersenyum dan melepaskan tangan Gaara dari tangannya. Ia menunjuk pada penisnya yang masih ereksi, membuat wajah Gaara memerah.
"Tidak apa-apa, aku akan segera kembali," katanya kemudian Naruto pergi ke kamar mandi.
Gaara menatap kepergiannya, merasa sedikit bersalah karena tidak bisa memuaskan suaminya itu. Tapi, ia sedang hamil, ia tidak mau melakukan hubungan tubuh terlalu ekstrim sekarang.
Mungkin nanti, bila bayinya sudah lahir.
Ia memejamkan matanya, tak mampu menahan kantuk karena tubuhnya sangat lelah. Ia tertidur sambil tersenyum, membayangkan dirinya bersama suami dan bayinya.
IoI
"Pagi, putri tidur."
Gaara membuka matanya dan mengerjapnya perlahan. Ia menatap Naruto yang tengah memandangnya dan tersenyum padanya.
"Uh…," keluh Gaara, berusaha bangun tapi tubuh bagian bawahnya terasa sakit hingga ia merebah kembali.
Ia mendapati bahwa ia sudah mengenakan piyama, tempat tidurnya juga sudah diberi seprei baru, ia menatap Naruto yang masih tersenyum padanya.
"Terima kasih untuk semalam," katanya, kemudian mengecup dahi Gaara lembut.
"Hm…," Gaara hanya menggumam dengan pipi kemerahan. Ia meringkuk dekat Naruto, masih merasa lelah.
"Kau tidak pergi latihan?" tanya Gaara pada Naruto.
Naruto tersenyum. "Aku sudah berangkat kok," katanya.
Gaara sedikit bingung namun kemudian sadar, bahwa yang ada di depannya ini kagebunshin Naruto.
"Aku tidak tega membangunkanmu, jadi aku berangkat diam-diam," katanya, menarik Gaara ke pelukannya dan membelai rambut Gaara.
"Oh…," gumam Gaara, menikmati belaian Naruto.
"Mau sarapan? Aku sudah buatkan tadi pagi, rotinya agak gosong, tapi masih bisa dimakan kok," kata Naruto kemudian tertawa kecil. Gaara ikut tersenyum mendengarnya. Suaminya itu memang tidak pandai memasak.
"Mau tapi… suapi aku…," kata Gaara, membuat Naruto memerah wajahnya namun kemudian tersenyum senang.
"Dengan senang hati, Kazekage-sama," kata Naruto, mengecup dahi Gaara.
Sekali-sekali Gaara juga ingin manja pada Naruto. Ah, betapa ia mencintai suaminya yang satu ini.
Tbc
Panjang, panjang banget
Anggap itu dua chapter ya, balasan karena update telat, ok?
Review!
