Disclaimer: Inazuma Eleven belongs to Level-5.

Warning: Gaje, OOC, misstypo, Shonen-ai, AU, don't like? Don't read!

Deathc Chorus

Chapter 10

The Second Project

"Lebih cepat! Apa-apaan gerakan itu? kau harus menghindarinya dengan baik!" Baiklah, baru saja tiba di awal chapter tapi kita telah mendapati seorang lady yang berteriak-teriak dengan penuh emosi jiwa. Gadis cantik nan anggun bernama Natsumi ini sibuk mengarahkan seorang anak manis yang entah kenapa sekarang sedang berlari tunggang langgang dalam sebuah zone, di mana sang bocah yang kita kenal sebagai Mamoru ini sibuk menghindar dari kobaran api, terjangan petir, dan hujaman es yang terus menimpanya secara bertubi-tubi.

Ada yang heran dengan kondisi seperti ini? Sebenarnya apa yang dilakukan Mamoru ini adalah latihan untuk menjadi black mage. Fire, thunder, dan blizzard yang sedang menyerang Mamoru itu adalah elemen-elemen dasar black magic. Tapi tunggu dulu! Mengapa Mamoru malah dilatih untuk menjadi pelarian bencana sihir begini?

"Ini adalah latihan untuk meningkatkan magic resistance (kekebalan terhadap sihir). Mungkin metode latihan yang diberikan Natsumi agak mengerikan, namun resistence yang tinggi sangat dibutuhkan oleh seorang Magician. Kenapa? Tentunya agar sihir yang dikeluarkan takkan melukai diri sendiri. Bisa berabe bila kita mengeluarkan magic, tapi kita sendiri yang terkena dampak sihir tersebut." Ichirouta mulai bergumam sendiri, entah ditujukan pada siapa. Namun informasi ini cukuplah berguna bagi para readers yang kurang paham dengan apa yang dilakukan Mamoru di dalam magic zone yang sebenarnya dibuat Natsumi tersebut.

"Kau bicara dengan siapa, Ichi?" Tanya Shuuya dengan ekspresi datar. Ichirouta hanya bersweat drop ria saja karena ia juga tak menemukan alasan yang logis untuk menjawab pertanyaan Shuuya. Yang berambut bawang hanya menaikkan sebelah alis, lalu memandang datar pada lady Natsumi yang kini berteriak-teriak dengan kejamnya pada Mamoru yang kewalahan di magic zone sana. Pandangan Shuuya beralih perlahan menuju Mamoru, yang masih berlari bak eyeshield 21 sambil menghindari terjangan 3 elemen dasar black magic dengan jurus devil bat ghost(?).

'Sebenarnya tak perlu dilatih sekeras itu. Toh magic power dan resistance miliknya cukup bagus...' Batin Shuuya yang mulai merasa iba pada Mamoru yang berlari sambil ngos-ngosan. Namun sia-sia adanya bila kita meminta Natsumi untuk menghentikan tindakannya. Bisa-bisa nyawalah yang akan jadi taruhannya.

'Dasar, tipikal Natsumi...' Dan Shuuya hanya geleng-geleng kepala sambil mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu...

Flashback...

"Nah, mulai hari ini kau adalah seorang black mage. Dan yang akan menjadi tutormu adalah aku sendiri." Natsumi menyibakkan rambut panjangnya dengan gaya angkuh seperti biasa. Mamoru hanya menunjukkan ekspresi polosnya. Sementara Shuuya dan Ichirouta? Sang duo yang tak terkalahkan itu langsung saling pandang dengan ekspresi yang tak mengenakkan untuk dilihat. Masalahnya mereka sudah belajar dari pengalaman masa lalu, bahwa lady Natsumi adalah seorang tutor yang 'hebat'. Bahkan cara mendidiknya yang terkenal bagaikan neraka jahanam itu dapat membunuh seseorang. Singkatnya ia adalah tutor yang sangat kejam dan tanpa ampun. Dan bayangkan saja bila anak semanis dan semungil Mamoru ditangani oleh nona sadistic macam Natsumi...

"Eeeeh?" Teriak Ichirouta (dan bahkan Shuuya) dengan keras. Natsumi langsung mendeathglare dua insan yang mengeluarkan nada-nada tanda tidak setuju tersebut.

"Memangnya kenapa? Ada yang protes?" Tanya Natsumi dengan nada bicara yang sangat rendah. Samar-samar, nampak aura gelap yang luar biasa ngerinya. Ichirouta dan Shuuya hanya menelan ludah saat melihat ekspresi sadis Natsumi, membayangkan bagaimana nasib mereka selanjutnya bila ada tindakan protes lebih lanjut.

"Umm, apa kau tidak apa-apa Natsumi? Kau kan sudah sibuk dengan masalah administrasi organisasi. Pasti akan repot kalau harus ketambahan tugas menjadi tutor Mamoru." Ujar Ichirouta dengan tujuan membujuk Natsumi untuk mengurungkan niatnya melatih Mamoru. Dengan cara yang halus tentunya.

"Tidak! Sudah lama aku tidak melatih anak baru... Setelah terakhir kali aku melatih si bawang api di waktu itu." Natsumi tersenyum sinis ke arah Shuuya, yang tentunya tak diladeni oleh sang gunner. Bagi Shuuya, Natsumi sendiri sudah menjadi bagian dari keluarganya. Meski Natsumi ini tipe orang yang sulit dihadapi, namun Shuuya dan Natsumi cukuplah cocok satu sama lain.

"...Lagipula, ada hal yang membuatku tertarik pada anak ini." Ichirouta dan Shuuya langsung menajamkan pandangan ketika mendengar kata-kata yang baru dilontarkan Natsumi. Seperti yang kita ketahui, Mamoru memang agak 'berbeda'. Tentu saja, mengingat bahwa Mamoru bukanlah manusia asli melainkan hanya sebuah project.

"...Baiklah, tapi tolong jangan terlalu keras padanya." Ucap Shuuya dengan nada datar, seolah ia tidak sedang memohon sesuatu pada nona yang ia ajak bicara. Natsumi tersenyum maklum dan mengiyakan permintaan Shuuya.

'Ternyata bisa mengkhawatirkan orang lain juga ya. Si Shuuya ini...' Natsumi tersenyum simpul sambil memandangi sosok Shuuya yang sedang mengusap kepala Mamoru. Wajah sang gunner itu terlihat sangat lembut. Ekspresi yang harusnya sangat jarang dikeluarkan oleh Shuuya. Ekspresi yang paling Natsumi sukai dari wajah Shuuya.

"Nah, bocah. Ayo kita mulai tutorialnya..." Ucap Natsumi sambil tersenyum penuh kengerian.

Dan dimulailah training sadis ala lady Natsumi...

End of Flashback

Sementara itu...

Koujirou membaringkan tubuh Jirou di atas sebuah ranjang kecil, lalu menyelimuti tubuh sang pemuda berambut hijau pupus dengan selimut warna merah. Dibelainya kepala Jirou yang tengah tertidur. Ia tersenyum miris tatkala memandangi wajah partnernya yang tertidur dalam kegelisahan. Yuuto hanya berdiri dalam diam. Sesekali ia menatap ke langit-langit kamar berwarna biru muda di atas kepalanya, sambil menunggu Koujirou untuk mengucap sepatah atau dua patah kata.

Beberapa saat berlalu, namun suasana amsih tetap sunyi. Akhirnya Yuuto dengan ragu-ragu mulai menebak apa yang tadi terjadi.

"Apakah tadi Jirou kembali trauma karena teringat peristiwa masa lalunya?" Tepat sasaran. Koujirou hanya menghela nafas ketika mendengar tebakan Yuuto. Tak perlu dijawab lagi oleh Koujirou karena sudah pasti bahwa Yuuto dapat membaca isi pikirannya.

"Yang jadi pemicunya Mamoru, ya?" Lagi-lagi tepat sasaran. Koujirou hanya mengangguk. Dalam hati mengakui bahwa otak sang soldier dread di hadapannya benar-benar jenius. Yuuto terdiam. Sedikit banyak ia menemukan beberapa informasi tentnag keberadaan Mamoru dalam perpustakaan Death Chorus. Sebuah data yang menyatakan bahwa Mamoru adalah...

"Dewa..." Yuuto mengadahkan kepalanya ke langit-langit kamar, sementara Koujirou hanya melirik Yuuto dari sudut matanya. Tentu saja hal yang baru digumamkan Yuuto ini cukup membuat penasaran Koujirou.

"Apa maksudmu?" Tanya Joujirou sembari merapikan selimut yang dikapai Jirou. Yuuto hanya menggelengkan kepala ringan. Ia tak sadar bahwa tadi dirinya baru saja kelepasan bicara.

"Bukan apa-apa." Jawab Yuuto sambil tersenyum simpul. Sang pemuda dread itu merasa ragu untuk menyampaikan informasi tentang Mamoru pada orang lain. Pasalnya, apa yang ia dapatkan waktu itu bukanlah informasi sembarangan. Dirinya bahkan agak ragu untuk menyampaikan hal ini pada kakak sepupunya.

"...Aku pergi dulu, tolong jaga Jirou." Ucap Yuuto sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar tempat Jirou tengah tertidur. Meninggalkan Koujirou yang merasakan adanya kejanggalan pada Yuuto.

Yuuto berjalan menyusuri koridor markas utama Death Chorus dengan langkah pelan. Entah mana tempat yang ia tuju. Wajah sang pria dread itu terlihat sedang berpikir keras. Terus saja mengulang informasi yang baru ia dapatkan di otaknya.

'Ada yang aneh... Pada dunia ini.'

Tak ada yang tahu. Tidak, setidaknya belum...

Bahwa sebentar lagi akan terulang kembali,

Sebuah drama kehancuran dunia...

Back to Mamoru and others

Beberapa jam telah berlalu, namun Mamoru masih saja menjalankan training tragisnya. Ditemani oleh teriakan Natsumi yang membahana, serta ekspresi ngeri yang dikeluarkan Ichirouta. Lain halnya dengan Shuuya yang kini malah memejamkan mata sambil mendengarkan lagu dari mp12(?) terbarunya.

'Ugh, kalau begini takkan ada habisnya!' Gerutu Mamoru, tentunya dalam hati. Masalahnya ia tak punya waktu sedetikpun untuk berbicara. Bocah itu harus menghindari serangan sihir yang bertubi-tubi itu. Naas sekali nasi Mamoru.

Sementara pikirannya sibuk menggerutu dan merutuki hujatan elemen sihir yang terus menerjangnya, tanpa sengaja kaki Mamoru terantuk sebuah batu. Akibatnya ia kehilangan keseimbangan, dan di saat bersamaan juga ada sebuah petir yang menuju ke arahnya.

"Gawat!" Teriak Shuuya dan Ichirouta bersamaan. Dua orang itu hampir saja melompat untuk menyelamatkan Mamoru bila Natsumi tidak menghalangi mereka. Sang lady cantik itu segera mengucap mantra 'Stop' sehingga gerakan Shuuya dan Ichirouta terhenti seketika. Kini Mamoru benar-benar akan tersambar petir. Bocah mungil itu menutup mata untuk memastikan bahwa ia tak harus menyaksikan musibah yang akan menimpa dirinya.

"BLAAR!" Petir itu emnghantam ke arah Mamoru dengan telak. Anehnya, kemudian petir itu langsung terpantul dari tubuh Mamoru. Meninggalkan sang project imut nan manis ini dalam keadaan tanpa luka sedikitpun. Mamoru kecil kita hanya cengo saja sambil menatap petir yang berpantul menghantam tanah, sementara Shuuya dan Ichirouta ternganga lebar. Bagaimana dengan Natsumi? Seolah sudah mengira hal ini sebelumnya, sang lady tersenyum penuh kemenangan. Mereka bertiga tahu apa yang baru dilakukan Mamoru, meskipun ekspresi Shuuya dan Ichirouta kini tak terlihat seperti orang yang mengetahui segalanya. Yang baru diaktifkan Mamoru tadi adalah reaction ability yang dimiliki seorang black mage, 'Return Magic'.

Natsumi segera menghilangkan pembatas zone yang mengurung Mamoru, lalu mencabut sihirnya dari Shuuya dan Ichirouta. Namun meski sangkar burung sudah terbuka, mereka tetap tiada beranjak sedikitpun. Tiga orang itu sibuk cengo atas kejadian barusan. Mamoru, ia masih merasa bingung dengan apa yang baru saja ia alami. Sementara Shuuya dan Ichirouta terkagum-kagum atas kemampuan Mamoru yang dapat menguasai R-ability tadi) dengan cepat(Di mana harusnya kemampuan itu membutuhkan waktu yang lama untuk dikuasai.

"Baiklah, latihan hari ini selesai." Ucap Natsumi yang kemudian segera melangkahkan kaki keluar dari tempat latihan Mamoru. Setelah menyelesaikan kegiatan cengo berjamaah meerka, Shuuya dan Ichirouta segera menghampiri Mamoru.

"Mamoru-chan hebat! Kau bisa menguasai ability 'Return Magic' dengan waktu yang singkat!" Puji Ichirouta seraya memeluk erat Mamoru. Tentu saja yang dipeluk masih cengo. Apalagi istilah 'Return Magic' itu? Ah, sungguh tak gaul dirimu Mamoru. Masa' tidak tahu ability itu sih? Author saja tahu! (plak!)

"Mungkin Mamoru memang ada bakat di situ." Gumam Shuuya yang terus menatap intens pada sosk mungil Mamoru yang kini dalam keadaan lusuh. Tentu saja, aneh bila ia tetap bersih kinclong setelah berkali-kali jatuh bangun dikejar-kejar hujaman black magic.

"Yah, mungkin mirip dengan Shuuya-kun yang sudah menguasai sihir elemen api sejak kecil ya?" Timpal Ichioruta sambil tersenyum polos ke arah Shuuya. Sang gunner hanya membuang muka. Merasa sedikit tak enak ketika mendengar ucapan Ichirouta.

"...Aku benci api." Ucap Shuuya pelan, sambil mengalihkan pandangannya dari Mamoru dan Ichirouta. Ichirouta yang merasa bersalah segera meminta maaf pada Shuuya, yang dibalas dengan anggukan stoic oleh sang pria bawang. Kemudian Shuuya kembali mengalihkan pandangan dari Ichirouta. Tentu saja hal ini membuat Ichirouta makin merasa bersalah.

"Aku suka api. Karena itu adalah elemen dari Shuuya-kun yang sangat kusukai." Ucap Ichirouta sembari menepuk kepala Mamoru kecil yang ada di sampingnya. Shuuya mendongakkan kepala, menatap mata coklat madu milik Ichirouta yang memandang hangat ke dalam mata Shuuya. mata yang sama seperti pertama kali ia mengajak Shuuya untuk masuk ke organisasi Death Chorus.

'Mulai sekarang aku akan menjadi keluargamu, Shuuya-kun...' Sudah lama sejak ia mendengar ucapan itu. Namun Ichiruota sama sekali tak berubah. Ia masihlah merupakan sosok yang baik, terlalu baik bagi Shuuya. yang merupakan anak buangan yang berlumuran dosa.

"Hn, aku tahu itu." Shuuya tersenyum simpul, kemudian beranjak dan menggendong Mamoru kecil. Tak lupa ia membisikkan sebuah kalimat sederhana tepat di telinga Ichirouta.

"Arigato..." Dan Shuuya beranjak keluar dari ruangan, ditemani Mamoru yang berada dalam gendongannya. Sementara Ichiruota? Sang Fencer hanya berdiri kaku, dengan wajah yang merona merah. Matanya membulat sempurna sambil terus menatap pada punggung Shuuya. Paling tidak sebelum akhirnya sang gunner yang membawa anaknya(?) itu berpaling pada Ichirouta.

"Kenapa kau diam di situ?" Tanya Shuuya dengan senyuman usil yang menghiasi bibirnya. Ichirouta yang sempat gelagapan kemudian langsung menggerutu sambil mengejar Shuuya yang ada 10 meter di depannya.

'Aku bersyukur karena dapat bertemu denganmu...'

Aliea Terst, Secret Base...

Dalam sebuah kamar yang mirip dengan ruang pemeriksaan dokter terdapat dua orang. Seorang anak kecil berambut coklat tua yang terbaring di atas sebuah ranjang putih, dan juga seorang lagi. Seorang gadis berambut pirang panjang yang dikuncir ponytail. Gadis yang mengenakan jas lab itu sibuk mengoperasikan komputer yang terhubung dengan tubuh bocah coklat melalui banyak kabel. Berbagai macam statistik yang sulit diterjemahkan oleh orang awam terlihat di layar monitor. Beberapa menit penuh dengan suara ketikan keyboard dan akhirnya ruangan menjadi hening karena sang gadis telah mematikan komputernya.

Kemudian sang bocah yang tadinya tidur mulai membuka matanya. Warna coklat tua yang bercampur hitam menghiasi bola mata itu dengan indahnya. Bocah yang berambut senada dengan matanya itu mulai menatap telapak tangannya.

"Aku hidup..." Gumam bocah tersebut dengan ekspresi datarnya. Sang gadis berjas lab hanya menatap sinis padanya. Kemudian berjalan anggun menghampiri sang bocah. Rambut pirangnya yang dikuncir ponytail terlihat melambai-lambai dengan indah ketika ia berjalan.

"Ya, kau hidup. Kau yang harusnya bukan makhluk hidup, kini diberi kesempatan untuk melihat dunia yang sesungguhnya. Berterima kasihlah pada Tuan Gran." Ucapnya datar seraya berdiri angkuh tepat di hadapan sang bocah. Sang bocah hanya terdiam, dalam hati mengulang-ulang nama seorang Tuan yang baru disebut oleh sang gadis.

"Tidak, aku tak perlu itu." Ucap seorang yang baru saja datang memasuki ruangan. Rambut merah pucatnya berdiri bagaikan kobaran api. Mata emeraldnya yang berpendar menyilaukan menatap ke arah sang gadis pirang, tersenyum lembut.

"Kerja bagus, Terumi. Kau berhasil menghidupkan ReBioWorld milik kita. Kau memang sangat cerdas." Ucap dia yang tentunya adalah 'Gran' yang dimaksud gadis pirang. Si gadis pirang yang bernama Terumi itu menundukkan kepala sembari mengucap terima kasih pada Gran.

Gran melangkah perlahan menuju project miliknya. Diangkatnya dagu sang project untuk mensejajarkan pandangan mereka. Gran tersenyum, sebuah senyuman yang lembut namun dingin. Sementara sang product hanya menatap kosong pada Gran, seolah tak bernyawa.

"Kau tak perlu takut ataupun patuh padaku, yang kuinginkan adalah... Jadilah temanku." Ucap Gran yang mulai menyeringai. Sangat dingin, namun terlihat begitu keren hingga salah satu tokoh berambut pirang di ruangan ini sampai terbatuk-batuk sambil salah tingkah tatkala meilhat senyuman es itu.

"Teman...?"

"Ya, teman. Dan kau tahu, seorang teman harus menolong temannya yang dalam kesusahan..."

"Nah, aku butuh pertolonganmu..." Gran tersenyum sinis pada sang project, kali ini senyuman itu terlihat sangat mengerikan. Namun tiada seorang pun di sana yang berani berteriak ketakutan. Adanya malah seorang gadis berambut pirang yang menutup wajahnya guna menahan mimisan dan teriakan FGnya. (Perasaan dari tadi author menghancurkan suasana serius di sini mulu deh!)

"Menolong...?" Sang product memiringkan kepala. Terlihat manis seperti Mamoru di waktu dulu. Mirip sekali, bagai pinang dibelah dua.

"Ya, aku sangat membutuhkan pertolonganmu, ReBioWorld no. 01... Ah, tidak, terlalu panjang bila memanggilmu dengan nama itu. lagipula sekarang kau ini makhluk hidup. Bagaimana kalau kupanggil 01... Ichi... Shinichi! Ya, Shinichi karena aku adalah nomer 01. Bagaimana?" Sang project yang kini bernama Shinichi menatap pada Gran. Tetap datar seperti biasa, sambil menggumamkan nama barunya. Sementara Gran mulai tersenyum sinis.

"Anak baik... Nah, mulai hari ini kau harus menuruti permintaanku. Tentunya ini sebagai kontribusi karena aku telah membuatmu 'hidup'. Nee, Shinichi?" Ucap Gran dengan senyuman ramah, namun disertai nada bicara yang terkesan sinis. Lagi-lagi Shinichi tidak bicara, hanya duduk diam sambil menatap datar pada sang pimpinan organisasi. Diam-diam, Terumi mengamati sang Project yang berhasil ia 'buat' itu...

'Hebat, bahkan membuat makhluk hidup seeprti ini pun bukan hal yang mustahil. Sebegini besarkah kekuatan dari benda itu?' Batin Terumi yang menatap takjub pada makhluk di hadapannya. Tubuh anak berambut coklat itu benar-benar sempurna, nyaris seperti manusia asli. Andai saja ia mengeluarkan sedikit ekspresi.

"..." Sementara itu, terlihat sosok anak kecil yang mengintip dari balik pintu lab. Mata emerald sayunya menatap pada sosok project baru yang tengah berhasil diaktifkan. Dahinya berkerut, menampakkan ekspresi khawatir.

"The Second Project telah bangkit. Tanda bahwa pertempuran akan segera dimulai. Nasib dunia ini... Sedang dipertaruhkan."

Benar, awal dari pertempuran besar telah dimulai. Dan jarum jam akan segera mempertemukan tiga kubu yang akan memperebutkan empat buah kristal milik sang bumi. Dan di sinilah awal eprebutan kejayaan dunia...

To Be Continued

Oke, oke. Saia tahu kalau chapter ini gaje dan sangat pendek. Pasalnya, saia bingung mau mutus cerita dimana. Dan yang paling pas di bagian ini, makanya jadi rada pendek.

Baiklah, ReBioWorld no. 01 diperankan oleh Shinichi. Alasannya? Karena dia mirip Mamoru, mata coklat dan rambut coklat. (plak!)

Ke depannya nanti, Mamoru akan mulai terlibat dalam misi. Dan juga pertemuan dengan Atsuya, dan... (plak!)

By the way, Terumi is a girl! Jangan bacok saia, karena di fic ini memang kekurangan chara cewek! Ini juga demi kepentingan plot yang sudahsaia susun dengan rapih. Jadi... Maafkan saia yah? (plak!)

Bicara soal Terumi, saia berniat memasangkannya dengan Gran. (Author dibacok)

Bicara soal Gran, di fic ini bukan hanya ada 'Gran' saja lho. (Lagi-lagi ngasih spoiler)

Pertanyaannya, siapakah Gran yang lain? Dan ada berapa total keseluruhan 'Gran'? (?)

Ah, author banyak bacot. Mana yang diomongin spoiler mulu pula!

Ehem, mari balas review terlebih dahulu...

Aishiro KyuHyung-ppie:

Ufufufu... Kissunya mantap? Ah, dasar saia author mesum! Nyahahaha! (dilempar sendal)

FFT, singkatan dari Final Fantasy Tactics (advance). Itu game yang saia jadikan acuan untuk setting job di fic ini... ^^

Ehehe, masa lalu Jirou pasti akan dimuat di DC side. Yah, suatu saat nanti. (plak!)

Arrgh! De-chan tertusuk duri! Jadi inget cerita sleeping beauty nih. (plak!)

OMG! Saia lama updatenya kali ini. Don't kill me, please! DX

Arigato...

Akazora no Darktokyo:

Ushishishi (niru tawa Yuuya). Saia udah bikin Dark!Mamo. tapi masih belum diwarnai. Untuk pewarnaannya nanti saia kerja sama dengan Arania-san... ^^ (BTW, fic HiroxMamonya ditunggu dulu ya, Arania-san!)

Hihihi, Jirou kasihan. Tapi dia cukup beruntung karena banyak yang sayang (Yuuto dan Koujirou). Di DC ini masih ada tokoh yang masa lalunya parah banget... DI Aliea Terst (Lagi-lagi nyepoiler)

Bener banget! Job Vierra sumpah pada keren! Ada Assasin, Elementalist, dan Summoner! XD Hehe, sekarang saia udah punya Vierra yang jobnya Assasin! X3 (curcol)

Nee, arigato...

Aurica Nestmile:

Hahaha, kalua biasanya ShuuMamo, di chap kemarin sai balik jadi MamoShuu! XD (dihajar Shuuya)

Ukikikik! Ichi memang ibu-ibu banget! (Dihajar Ichi) Tentunya karena pengaruh lingkungan masa kecilnya... =P

Ah, saia dibilang hebat. Jadi malu... (Dikeroyok chara InaIre)

Ganbatte! XD

Arigato...

FujoshIchiHitsu Hyukki ELFish:

Iyees! Saia dibilang keren! (bernarsis ria di depan kaca, ditendang)

Suka Uke!Shuuya? saia juga! X3 (plak!)

Habisnya manis sih kalau Shuuya jadi uke... =3

Hihihi, kalau Shuuya sih jago meluk orang (Ichi+Yuuto: Ngangguk-ngangguk) Kalua Mamoru (terutama Devil!Mamo) jagonya di kissu! Wahahahaha! (dilempar ember)

Kependekan ya? Belakangan ini saia juga merasa kalau fic-fic saia jadi tambah pendek. Yang wordnya nambah cuma DC side. (Plak!)

Eh? Rated-M? Ohok ohok! (batuk-batuk gaje) Umm... Soal tared-M, saia belum bisa buat di DC ini, karena biasanya porsi lime di story saia gunakan kalau memang butuh. Jadi selama ini, adegan-adegan mesum di sini saia buat karena memang butuh (All: Dusta besar!)

Bicara rated-M, saia bikin satu oneshot baru. Rated M, tapi lebih banyak ke gore. Di situ ada lemon pertama saia, tapi Cuma 1 paragraf(?)

Ah, kok jadi promosi? (plak!)

Arigato...

heylalaa:

Buetul! Devil!Mamo mesum! Namanya juga iblis.. Ohoho (plak!)

Lanjut aja bacanya, Lala-san. (Provokasi, dihajar)

Yup! Black Mage menggunakan sihir tipe menyerang! XD

Dan di sinilah tutorial blaack mage Mamoru (first day)

Kesimpulan: Dia disiksa Natsumi. (Ditampol Natsumi)

Kasihan juga Mamoru, tapi Natsumi juga termasuk pintar. Cara tadi cukup efisien untuk melatih orang. -_-

Hmm... Soal misi pertama Mamoru, seebanrnya saia masih agak bingung. Apa langsung saia pertemukan saam anggota organisasi yang lain ya? Tapi nanti jadinya terlalu cepat masuk ke inti cerita dong? (plak!)

Ah, author banayk bacot. Pakai curhat segala lagi...

Arigato...

mar-sama:

Kyaaa! Lagi-lagi saia dibilang keren! (Nari-nari nggak jelas)

Atsuya: Yang keren itu ficnya, dodol! Bukan kamu!

Dika: Atsuya...? (diem)

(Hening sesaat)

KYAAAA! Ada Atsuya! (meluk-meluk Atsuya, dihajar Shirou)

Aww, sakit sekali.

Hmm... ShuuyaMamo? Tentu saja! XD Saai akan nulis ShuuyaMamo walau harus ke ujung perempatan sekalipun! (lebay, gampared)

Nee, saia kena banyak gampar ini. Arigato.. ^^

Nee, sebenarnya saia publish satu fic oneshot di fandom ini, tapi rated-M karena banyak gorenya. Itu rated-M pertama saia. 0_0

Kalau berminat silahkan RnR, judulnya adalah 'Doll'

See you, minna! XD

The Fallen Kuriboh