"Aku pulang." Hinata melepaskan sepatunya dan memasuki mansion megah tempatnya tinggal selama ini. Hinata menghentikan langkahnya kala melihat beberapa orang yang tak terduga bertamu ke rumahnya.

"Hinata. Kemarilah, Nak." Hinata menunduk hormat kepada tamu yang berkunjung kemudian menempatkan diri duduk di samping Hanabi.

"Ada apa ini?" tanya Hinata heran. "Kenapa Neji-nii ada di sini?"

Hiashi menatap Hinata dengan sorot mata serius. "Hinata, apa ibumu menemuimu tadi?"

Hinata mengangguk ragu. "Iya, Yah."

Sorot mata Hiashi berubah menjadi khawatir. "Apa yang ia lakukan? Apa ia menyakitimu, Nak?"

Neji mengusap pundak lebar pria paruh baya itu. "Tenanglah, Paman. Aku yakin Bibi tidak melukai Hinata."

Hinata tersenyum tipis. "Tidak, Yah. Ibu tidak menyakitiku. Kita sudah berbaikan."

Hanabi terperanjat, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Benarkah, Kak?"

Hinata mengangguk yakin. "Benar."

Hiashi menghela napas lega. "Syukurlah. Asuma, kau bisa menjelaskannya sekarang."

Asuma selaku pengacara dari Hikari membuka dokumennya kemudian membacakan apa yang tertera di sana. "Pada hari Kamis kemarin, Hikari Hyuuga telah mengalihkan kepemilikan perusahaan utama Hyuuga dan menyerahkan segala isi dan bentuknya kepada Hinata Hyuuga. Dan menyerahkan seluruh kantor cabang kepada Neji Hyuuga. Dan menjadikan Hinata Hyuuga sebagai Chairman Hyuuga dan Neji sebagai President Hyuuga."

Hanabi dan Neji terkejut. Ia tak menyangka Hikari Hyuuga akan menyerahkan asetnya yang begitu berharga kepada anak dan keponakannya. Hinata hanya meremas tangannya gugup. Ia tak menyangka apa yang ibunya katakan adalah kebenaran.

Hiashi berdeham. "Hinata, apa kau sudah tahu tentang hal ini?"

Hinata mengangguk. "Sudah, Yah." Hanabi dan Neji langsung menatap Hinata dengan tatapan tidak percaya.

"Lalu, apa kau tahu kemana Hikari pergi?"

Hinata menatap Hiashi heran. "Ibu pergi? Kukira Ibu akan pulang ke sini. Makanya aku kemari."

Hiashi menyodorkan tiga buah surat kepada Hinata. "Hikari menuliskan ketiga pesan itu padaku, Hanabi, dan Neji."

Hinata segera membaca isi surat itu. Hiashi menghela napas. "Aku tak tau apa yang ia pikirkan. Tapi ia berkata ia akan pergi selama dua tahun dan ia berharap agar kita semua tidak mencari dirinya selama dua tahun ini."

Hinata terkejut membaca deretan tulisan rapi Hikari. "Jadi, tadi adalah..."

Hanabi menepuk pundak Hinata pelan. "Sepertinya Ibu ingin mengucapkan perpisahan terakhirnya hanya padamu."

"Tenanglah Hinata. Aku yakin Bibi baik-baik saja. Beliau juga akan rajin mengirim surat tentang keadaannya." Neji tersenyum tipis.

Hinata tersenyum tipis. "Aku harap begitu, Kak."

"Ah, aku lupa menyampaikan ini. Terimalah Hinata-san." Asuma menyodorkan amplop kepada Hinata. "Hikari-san berpesan agar kau bisa hidup dengan normal. Dan beliau juga berpesan agar Anda selalu bahagia."

Hinata tersenyum hangat. "Terima kasih, Asuma-san."

.

.

.

Hope and Prisoner © Yuki Ryota

SasuHina

T+

.

.

.

"Tuan, saya melapor."

Kizashi menyesap kopi hitamnya pelan. "Katakan, Gaara."

"Hikari Hyuuga membatalkan kerja sama untuk mengintai Uchiha."

Kizashi menyeringai. "Tidak apa-apa, abaikan saja."

"Tapi–"

"Gaara, tanpa disuruh pun kita sudah melakukan pengintaian terhadap Uchiha."

"Ah." Gaara mengangguk mengerti.

Kizashi menyisipkan rokoknya. "Lagipula selama Hyuuga tidak membatalkan kontrak dengan kita, itu tidak masalah. Lanjutkan pengintaianmu."

"Ha'i!"

"Dan katakan pada Sasori untuk segera melapor kepadaku."

"Baik!" Gaara membungkuk hormat. "Saya permisi, Tuan."

"Ya... silakan pergi."

Sepeninggal Gaara pergi. Sakura memasuki ruang kerja ayahnya. Wajahnya merengut kesal. "Ayah!"

"Ada apa, Nak?"

Sakura menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kapan aku bertemu Sukeku? Aku benar-benar rindu padanya."

Kizashi tersenyum tipis. "Sabarlah. Orang yang sabar pasti akan memenangkan segalanya. Permainan akan dimulai, Nak."

.

.

.

Keesokan harinya

Hinata berangkat ke kantornya seperti biasa. Ia mengendarai honda civic warna hitam legam menuju perusahaan tempatnya bernaung. Setelah memakirkan mobilnya di basement, ia menaiki lift menuju lantai 1.

Ting

Pintu lift terbuka. Hinata melangkahkan kakinya keluar lift sambil melihat jam tangannya. Ia mengambil ponselnya dan bersiap menghubungi sekretarisnya.

"Selamat pagi, Nyonya Hyuuga."

Hinata terkesiap. Sepanjang jalan di hadapannya berjejer rapi para pegawainya yang menunduk hormat. Ia menatap ke bawah menatap lantai yang dipijaknya telah digelar karpet merah yang panjang. Ia melihat sekeliling, bagian kanan dan kirinya berjejer pegawai-pegawainya dari divisi paling tinggi hingga divisi paling rendah.

Hinata hanya diam, ia tidak tahu harus berbuat apa.

"Kau telah berubah."

Hinata mematung. Ucapan Sasuke terbayang-bayang dalam benaknya. Benar, ia telah berubah. Bahkan berubah ke arah yang lebih baik–lebih manusia–ketimbang dahulu.

"Nyonya, apa ada masalah?"

Hinata terhenyak. "Ah, tidak ada. Tidak ada masalah."

"Baiklah, silakan ikuti–"

"–Tidak perlu memanggilku Nyonya." Potong Hinata. "Dan tidak perlu seperti ini." Hinata mengerling pada jejeran karyawan yang senantiasa membungkuk hormat kepadanya.

"Ah, baiklah. Mari ikuti saya."

Hinata mengikuti tangan kanan ibunya dulu. Pria paruhbaya tersebut menuntunnya pada aula besar perusahaan Hyuuga. Dimana aula tersebut kerap kali digunakan untuk pesta dan pertemuan akbar kolega Hyuuga.

Pintu aula terbuka. Telah hadir berbagai pemegang saham perusahaan Hyuuga dan seluruh kepala divisi yang berjejer rapi di sepanjang ruangan aula.

Hinata menarik napas panjang. Ia melangkah ke podium dengan percaya diri dan ekspresi datar khas Hyuuga. Seketika aula yang semula dipenuhi oleh perbincangan mendadak berhenti.

Sesampainya di podium, Hinata berdiri tegak dengan ekspresi datar khas Hyuuga. Iris keperakannya menatap ke segala penjuru ruangan, terutama pemegang saham yang hadir pada hari itu.

"Selamat pagi, Tuan-Tuan yang hadir pada hari ini. Saya yakin Anda sekalian pasti bingung dan terkejut dengan pergantian Chairman perusahaan Hyuuga yang tiba-tiba dan tanpa persetujuan dari Anda sekalian. Apalagi digantikan dengan saya yang masih sangat muda jika dibandingkan dengan Anda sekalian."

Hinata dapat melihat raut pemegang saham yang tampak kikuk. Hinata paham betul jika ucapannya menyinggung para pria-pria tua berduit tersebut. Namun, ia tetap melanjutkan pidatonya.

"Saya yakin meskipun saya berpidato seperti ini, masih banyak di antara Anda sekalian yang tidak yakin dengan masa jabatan saya sebagai Chairman perusahaan Hyuuga. Untuk itu, saya mohon bimbingan dan arahannya agar saya dapat membawa perusahaan Hyuuga lebih baik lagi di masa mendatang."

Hinata menarik napas panjang. "Untuk itu, tetaplah percaya pada perusahaan Hyuuga. Dan saya harap Anda tetap setia kepada kami. Terima kasih."

Dengan berakhirnya pidato, Hinata membungkukkan badannya. Tepuk tangan mulai bergemuruh mengiringi berakhirnya pidatonya.

"Kau lihat itu? Dia adalah pewaris Hyuuga terbaik. Lihat saja bagaimana etikanya dalam bertindak."

"Benarkah? Pantas saja ia sangat sopan."

"Tidak sia-sia Hikari-san memberikan posisi penting kepadanya."

Berbagai perbincangan menyertai gemuruhnya tepuk tangan pada aula tersebut. Hinata menegakkan kembali badannya seraya tersenyum tipis. Ia akan memulai segalanya dari awal walau terlambat. Ia akan memperbaikinya.

"Terima kasih, Bu," gumam Hinata pelan. Ia tak menyadari tatapan curiga dari manik shappire seorang pria.

"Hyuuga, ya."

.

.

.

Hinata menatap ke seluruh ruangan. Ruangan ibunya kini menjadi ruangan kerjanya. Ruangan tersebut masih didominasi oleh ciri khas ibunya. Ruangan tersebut didominasi warna abu-abu dan hitam. Elegan dan berkelas dengan dilengkapi ornamen-ornamen klasik nan ringan yang menghiasi dinding ruang tersebut.

Ketukan pelan pada pintu, menyadarkan Hinata. "Masuk."

Sekretaris yang senantiasa menemaninya memasuki ruangan ibunya tersebut. "Apa Anda butuh pengubahan dekorasi?"

Hinata menggeleng, ia mengulas senyum hangat. "Tidak perlu. Ruangan ini sudah sangat pas untukku. Terima kasih sudah menawarkan."

Sekretaris Hinata tersenyum kaku, ia dapat merasakan wajahnya memerah saking terpesonanya oleh senyuman menawan milik Hinata. "Baik. Saya permisi."

Sepeninggal sekretarisnya, Hinata menghirup aroma ruangan itu dalam-dalam. "Saatnya bekerja."

Ketukan kembali terdengar. "Masuk."

"Maaf Nona. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda."

Hinata mengernyitkan keningnya. "Siapa?"

.

.

.

Pria di hadapan wanita muda beriris perak tersebut menghela napas panjang. "Sudah lama sekali ya."

Hinata mengangkat tangannya hendak memesan. Pelayan wanita pun segera menghampiri meja tempat ia dan pria tersebut duduk.

"Waffle dan latte satu."

Setelah pelayan tersebut mencatat pesanan Hinata. Pelayan tersebut beralih pada pria di hadapan Hinata. Sontak wajah pelayan tersebut memerah. Wajah tampan pria tersebut dengan kulit eksotis yang seksi membuat pelayan tersebut mati-matian menahan hidungnya yang akan mengeluarkan darah.

"Tuan?"

Pria tersebut menatap intens Hinata yang dibalas dengan ekspresi datar khas Hyuuga, sebelum akhirnya menatap pelayan tersebut. "Samakan saja aku dengannya."

"Ah, baik."

Sepeninggal pelayan tersebut, Hinata menghela napas panjang. "Jadi, ada urusan a–"

"Hinata-san cuaca hari ini cerah sekali, bukan?"

Hinata menghela napas. Tak habis pikir. "Namikaze-san. Bisa kita tidak membuang waktu?"

Pria yang dipanggil Namikaze tersebut hanya menyeringai seraya mencondongkan tubuhnya ke depan. "Seperti yang kau lakukan dengan Uchiha?"

Hinata menyipitkan matanya, tak suka. "Apa maksudmu?"

Seringai Naruto kian melebar. "Kau tahu betul maksudku kan, Nona."

"Bukankah urusan kita telah selesai, Namikaze-san?"

Naruto berdecak. "Bisakah kau menyapaku dengan panggilan akrab, hm?"

Pesanan mereka datang. Hinata memutuskan memakan makanannya ketimbang meladeni Naruto. Memang tidak sopan, tapi tindakan Naruto benar-benar keterlaluan.

Grep

Trang

"Apa yang kau lakukan, Namikaze-san?" Hinata menyentakkan tangannya kala tangan kanannya dicengkram oleh Naruto. Hinata mengangkat tangannya, memberi kode untuk garpu pengganti.

Naruto menyesap latte nya dengan wajah tanpa dosa. Tak peduli beberapa atensi yang datang kepadanya. "Bukankah kau sudah sering melakukan itu dengan Uchiha?"

"Cukup. Apa maumu?"

Naruto menyandarkan tubuhnya. "Tidak perlu terburu-buru." Naruto meremas tangannya pelan kemudian mencondongkan tubuhnya kembali.

"Aku hanya ingin berteman denganmu. Bagaimana?"

Hinata menatap Naruto sangsi. Pasalnya jika Naruto sedari awal ingin berteman dengannya, tidak seharusnya pria tersebut melakukan tindakan yang mengusik kesabarannya.

"Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat. Apa itu membebanimu?"

.

.

.

Hinata hanya menatap dua tiket bioskop di genggamannya. Lihatlah, baru hari pertama mereka berteman, pria tersebut telah melakukan tindakan di luar ekspektasinya. Hinata hanya bisa menghela napas. Ia menatap tumpukan dokumen di atas meja kerjanya. Ia tersenyum tipis. Ia berusaha melupakan gangguan-gangguan dalam hatinya.

"Saatnya bekerja."

.

.

.

Hinata membereskan peralatan kerjanya dan bergegas pulang. Seperti biasa, ia akan berada di depan lobby menunggu supirnya memindahkan mobilnya. Ia mengangguk singkat pada karyawan yang membungkuk hormat padanya.

Sesampainya di teras perusahaan, sebuah seruan mengalihkan atensinya. "Hinata-san!"

Hinata mengerjapkan matanya berulang kali. Untuk apa Namikaze kemari?Bukankah ajakan nontonnya akhir minggu?

Hinata putuskan memenuhi panggilan dari pria berdarah Namikaze itu. "Ya? Apa ada urusan lagi?"

Naruto berdecak. "Apa aku harus memiliki alasan kenapa ia menemui temannya?"

"Lalu? Ah kebetulan sekali." Hinata mengeluarkan tiket nonton tersebut dan menyerahkannya pada Naruto.

"Maaf, aku tidak bisa. Aku ada acara."

Naruto menatap tiket tersebut sebentar sebelum menatap Hinata kembali. "Benarkah?" kening Naruto berkerut seolah memikirkan sesuatu. "Ah! Bagaimana jika kau pulang bersamaku sebagai gantinya?"

Hinata mengerjapkan matanya. "Apa?"

Naruto mengeluarkan cengiran khasnya seraya merangkul Hinata dan menggiringnya pada mobil merahnya.

Hinata yang risih berusaha keluar dari rangkulan tersebut. "Maaf, aku tidak bisa."

Naruto semakin mengeratkan rangkulan pada pundak Hinata. "Ayolah. Sebagai ganti menonton, pulanglah bersamaku."

"Hei." Naruto dan Hinata menoleh ke arah sumber suara.

Duagh!

Bogem mentah mengenai pipi kiri Naruto membuat pria tersebut terhuyung. Sambil memegangi pipinya yang terluka, Naruto menggeram marah pada sosok yang membuatnya terluka.

"Hei, apa yang kau–"

Tangan Hinata ditarik kencang hingga tubuhnya limbung dan menubruk tubuh keras di hadapannya.

Aroma ini

"Dia bilang tidak ingin pulang bersamamu. Apa kau memang suka memaksa wanita, Namikaze?"

Naruto menggertakkan giginya. "Uchiha."

Sasuke merapatkan tubuh Hinata padanya. Seolah-olah melindungi Hinata dari paksaan Naruto. Sasuke menatap tajam Naruto. "Lagipula ia juga telah menolakmu, kan? Lupakan saja."

"Sasuke, sepertinya kau salah pa–"

Sasuke melirik Hinata. "Diam."

Naruto menatap Hinata tidak percaya. "Sasuke?" Naruto terkekeh. "Sepertinya kau sama denganku. Kau juga ditolak olehnya."

Sasuke mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada Naruto. "Ibunya berpesan padaku untuk menjaganya. Jadi, enyahlah."

Sasuke menatap Hinata. "Ayo pulang."

"Sasuke–"

Sasuke berbisik rendah di telinga Hinata. "Ikuti saja jika kau tak mau risih lagi."

Hinata membungkuk sekilas pada Naruto. "Terima kasih, Namikaze-san."

Hinata dan Sasuke memasuki mobil hitam Sasuke. Sebelumnya, Sasuke memberikan seringaian kemenangan kepada Naruto.

"Sialan! Uchiha sialan!" seru Naruto ketika mobil Sasuke telah keluar dari pelataran perusahaan Hyuuga.

Hinata menatap Sasuke tidak percaya. "Apa-apaan yang kau lakukan itu? Kau pasti berbohong, kan?"

Sasuke tetap fokus pada jalanan di hadapannya. "Tentu saja tidak. Apa aku pernah membohongimu?"

"Tapi–"

Sasuke menarik rem tangan kemudian menatap Hinata. "Mulai hari ini kau pulang bersamaku."

"Apa urusanmu? Aku bisa pulang sendiri!" seru Hinata tidak terima.

"Baik. Terserah jika kau ingin diperlakukan seperti itu lagi oleh Namikaze."

Hinata mengepalkan tangan menahan emosinya. "Aku ada supir yang akan menjemputku!"

"Apa supirmu lebih cepat menolongmu dibanding denganku?" Sasuke hanya melontarkan pertanyaan retoris. Ia yakin Hinata tahu jawabannya.

Hinata menghela napas kasar. "Terserah." Hinata membuang muka ke arah jendela. Muak melihat wajah sengak Sasuke.

Tanpa sadar senyum tipis terukir di wajah tampan Sasuke. "Temani aku makan."

"Aku lapar," tambah Sasuke saat ia menyadari bahwa Hinata hendak melontarkan protes.

Hinata menghela napas. Sepertinya sia-sia jika terus bersitegang dengan pria berdarah Uchiha tersebut. "Aku yang traktir."

Sasuke menoleh pada Hinata. "Huh?"

Hinata tersenyum tipis. "Aku tahu tempat penjual rib eye terlezat di Konoha."

.

.

.

Sejak saat itu, Hinata selalu dijemput oleh Sasuke selepas pulang kerja. Hinata tak lagi menanyakan mengapa Sasuke melakukan hal tersebut dan sebagainya. Asal Sasuke tak bertindak berlebihan dan memberi kenyamanan padanya, ia tak masalah.

Seperti sekarang, ia senantiasa menunggu di teras perusahaan. Ia menunggu kedatangan mobil audi hitam metalik yang akan menjemputnya. Ia memutuskan untuk meninggalkan mobil audinya di basement perusahaan dan beralih menggunakan angkutan umum atau diantar Neji atau Sasuke saat berangkat kerja. Dan tentu saja seiring dengan waktu berjalan, Naruto sudah tak tampak lagi batang hidungnya.

Blam

"Osu."

Hinata tersentak. Ia menatap Sasuke sumringah. Ia segera berjalan kecil-kecil menghampiri pria itu. "Kau tak perlu selalu keluar setiap kau menjemputku."

Sasuke mengacak surai wanita itu lembut. "Aku hanya ingin melihat wajahmu."

Deg

Tanpa sadar Hinata menunduk. Menyembunyikan rona merah pada wajahnya. Dan tentu saja hal itu tidak luput dari pengawasan Sasuke. Sasuke hanya menyeringai kecil. Sasuke memutuskan berdeham untuk menghilangkan atmosfer yang mendadak kaku.

"Bagaimana jika kita pergi sekarang? Aku menemukan restoran fish and chips." Sasuke membuka pintu mobil di samping pengemudi.

Hinata mendongakkan wajahnya. Ia menatap Sasuke kesal. "Kenapa kau selalu membawaku ke tempat makan? Aku akan berisi jika kau terus mengajakku, Sasuke-san."

"Kamu yang berisi sangat indah di mataku."

Hinata mengernyitkan dahi sambil memasuki mobil. "Apa?"

"Cepatlah." Sasuke segera menutup pintu mobil dan beralih pada posisi pengendara.

Ketika Sasuke sudah mulai berkendara, Hinata menoleh pada Sasuke. "Kali ini aku yang traktir."

Sasuke menatap Hinata sejenak sebelum mengalihkannya ke arah depan. "Hari ini hari spesial. Aku yang traktir."

.

.

.

"Wah. Indahnya." Hinata berdecak kagum pada lampu-lampu taman Konoha yang bersinar. Menjelang malam dan lampu taman Konoha tampak menyala terang.

Sasuke tersenyum kecil saat melihat reaksi Hinata. Ia berdeham untuk mengalihkan fokus wanita itu. "Kita makan di sini saja."

Hinata menunjuk tempat duduk yang masih kosong untuk berdua. "Di sana saja. Ayo."

Hinata menarik tangan Sasuke tanpa beban membuat empunya salah tingkah. Akhirnya mereka duduk di bawah lampu taman. Taman tersebut cukup ramai pada malam hari. Bukan hanya suasananya yang nyaman namun pemandangan yang menenangkan menjadi nilai plus taman tersebut.

Hinata membuka koran yang membungkus fish and chips nya itu. "Selamat makan."

Sasuke tersenyum tipis melihat tingkah Hinata yang sangat berubah. Dulu tampak seperti robot hidup yang tanpa ekspresi, lambat laun wanita muda itu berubah dan mulai memiliki berbagai macam ekspresi. Dan semua itu karena orang yang jarang menampilkan ekspresinya seperti Sasuke. Sosok di sampingnya inilah yang ingin ia jaga agar wanita itu tidak terluka lagi.

Deg

Perlahan Sasuke menyentuh dada kirinya yang berdetak nyeri. Sialan, kenapa di saat seperti ini?!

"Sasuke?" Hinata memiringkan kepalanya. "Kau tak apa? Dadamu sakit?"

Sasuke menelan ludah. "Tidak. Tidak apa-apa." Sasuke mulai memakan makanannya.

"Kau yakin kau tak apa? Wajahmu pucat." Raut wajah Hinata tampak khawatir.

Aku tidak seharusnya membuatnya khawatir. Tidak seharusnya seperti ini.

"Tidak apa-apa. Mungkin hanya masuk angin," jawab Sasuke tak acuh.

Hinata menggubris ucapan Sasuke, ia segera mengemasi makanannya. "Apanya yang tidak apa-apa?! Kita harus ke ru–"

Sasuke menghela napas lelah, mati-matian ia menahan rasa sakit di dadanya. Ia menarik tangan Hinata, membuat wanita itu jatuh menubruk Sasuke.

"Tenanglah."

Hinata mengambil jarak pada Sasuke. "Baiklah kalau begitu." Ia kembali membuka bungkus makannya.

Sasuke menatap Hinata. "Bagaimana? Enak bukan?"

Hinata mengangguk pelan. "Kau suka kuliner ya."

Sasuke mengangguk pelan, ia berusaha menelan makanannya dalam kondisi yang sangat tidak nyaman. "Lumayan."

Hinata tersenyum tipis menanggapi ucapan Sasuke. Sasuke menatap Hinata miris.

Tidak bisa, aku tidak bisa mengatakannya...

.

.

.

"Terima kasih atas tumpangannya, Sasuke. Jaga kesehatanmu." Seru Hinata dari luar mobil. Ia lalu melambaikan tangan kemudian memasuki pintu gerbang dengan lari-lari kecil.

Sasuke hanya tersenyum pahit melihat Hinata dengan segala tingkahnya. Ia mengeluarkan tabung kecil dari saku jasnya yang berisi obatnya. "Tinggal satu ya..."

Segera Sasuke menelan obatnya kemudian menatap pintu dimana wanita muda itu menghilang dari pandanganya.

Deg

Deg

Deg

"Tidak..."

Sasuke mengeleng frustrasi. "Tidak... aku tidak bisa."

Sasuke meremas rambutnya frustrasi ketika rasa sakit kian menghantam dadanya. "Aku tidak bisa meninggalkanya."

Napas Sasuke terengah-engah, ia mencengkram dadanya yang berdenyut nyeri. "Aku tidak bisa melukainya..."

Senyum manis Hinata terbayang-bayang di pikiranya. "Tidak... Tuhan... Aku mohon..."

"Berikan aku waktu untuk menjaganya, melindunginya..."

Rasa sakit perlahan reda. Namun, napas Sasuke masih terputus-putus, kemejanya basah akan keringat dingin yang terus mengucur di tubuhnya. Kepalanya mendadak pening, ia memutuskan menyandarkan tubuhnya yang mengalami 'gangguan' itu.

Sasuke menelan ludahnya. "Tidak... aku tidak bisa berhenti."

Jari-jari panjangnya saling mengepal, mengumpulkan tekad. "Aku harus melindungi Hinata."

"Aku harus melindungi senyumannya."

Bersaman dengan gumaman Sasuke tersebut, pandanganya menggelap, ia jatuh pingsan.

.

.

.

Hari Minggu, hari dimana hari tersebut adalah Family Time. Dan hal tersebut juga berlaku untuk keluarga konglomerat cabang Uchiha Fugaku. Uchiha Fugaku yang merupakan anak kedua dari Uchiha Madara cukup memiliki waktu luang di hari minggu untuk keluarganya.

"Uhuk uhuk..." Sasuke kecil terbatuk kecil. Ia memegang dada kirinya yang berdenyut nyeri.

"Ah..." desis Sasuke saat merasakan rasa sakit di dadanya yang mulai menghilang.

"Hei Sasuke! Apa yang kau lakukan di sana? Baru lari sebentar, lho. Biasanya larimu kan cepat!" seru Itachi dari kejauhan.

"Dasar kau aniki! Nantikan balasanku!" seru Sasuke, ia tidak memedulikan lagi rasa sakit di dadanya. Ia berlari cepat mengejar kakaknya.

Itachi terus berlari dengan sekuat tenaga, tujuannya adalah tempat kedua orang tuanya berada. Ia tidak menyadari bahwa Sasuke sudah terengah-engah, keringat yang membanjiri tubuhnya dan pandangannya yang mengabur.

Iris gelap Sasuke masih dapat melihat Itachi dari kejauhan. Namun perlahan pandangan otu mengabur. "Ita...chi..."

Akhirnya ia dapat melihat kedua orang tuanya berada. Ia mempercepat langkahnya. Dan di detik selanjutnya pandangannya menggelap dan ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Telinganya dapat mendengar suara histeris penuh kekhawatiran dari ibunya dan merusak kebahagiaan di hari minggu itu. Termasuk merenggut kasih sayang yang diberikan Fugaku pada Sasuke.

.

.

"Sasuke..." Mikoto menangis sesenggukan.

Itachi menyentuh lengan Mikoto. "Ibu, tenanglah."

Mikoto langsung memeluk Itachi erat. "Itachi... Sasuke..."

Itachi menggigit bibirnya, menahan air mata yang berada di pelupuk matanya. "Ibu... maaf, semua ini salahku."

Mikoto menggeleng. "Ini bukan salahmu, Nak. Bukan salahmu..."

Itachi melepaskan pelukannya. Ia menatap Mikoto dengan mata berkaca-kaca. "Ini semua karena aku..." Itachi menarik napas semampu yang ia bisa. "Aku tadi-"

"Tidak perlu minta maaf, Itachi." Suara dingin nan berat Fugaku terdengar. Mikoto menoleh ke belakang dan mendapati Fugaku yang berdiri tegak dan tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.

"Fugaku... Sasuke, bagaimana keadaan-"

Fugaku melangkah mendekati Itachi. Sampai di samping Itachi ia menepuk pelan krpala Itachi. "Kau tidak perlu minta, maaf. Kau tidak salah."

"Tapi, ayah-"

Fugaku menatap Itachi dengan iris dinginnya. "Sasuke yang lemah, seorang pewaris sepertimu tidak perlu minta maaf. Ini karena Sasuke yang terlalu lemah."

Mikoto membelalakkan matanya. "Fugaku, bukankah itu sedikit kasar untuk anakmu sendiri?"

Fugaku menatap Mikoto dengan tatapan bertanya. "Anak? Aku tidak ingat memiliki anak yang lemah. Seingatku aku hanya memiliki seorang pewaris yang kuat."

Mikoto menatap nyalang Fugaku. Ia bangkit berdiri. Detik selanjutnya dengan kecepatan yang tidak diprediksi tamparan maha dasyat mengenai pipi tirus Fugaku.

"Kurang ajar! Ayah macam apa kau ini? Saduke adalah darah daging kita! Dia anak kita! Apa kau telah buta, hah?! Meskipun dia lemah bukan berarti dia bukan anak kita!"

"Ibu..." cicit Itachi ketakutan.

Fugaku menatap Mikoto datar. "Aku anggap itu sebagai salam perpisahan darimu. Hari ini adalah hari terakhir kau bisa berpisah dengannya."

Fugaku merapikan dirinya seolah tidak ada apapun yang terjadi. "Esok ia dikenal sebagai anak dari Obito Uchiha bukan Fugaku Uchiha. Dan aku hanya punya satu pewaris yaitu Itachi Uchiha."

Fugaku berjalan melewati Mikoto tanpa beban. "Karena aku hanya membutuhkan pewaris yang bisa bertahan melawan perusahaan Akasusa yang melecehkan harga diri Uchiha hingga membuat Uchiha hampir bangkrut."

"Merusak harga diri Uchiha adalah hal yang tak termaafkan."

.

.

Kelopak mata Sasuke bergetar. Perlahan namun pasti iris Sasuke mulai terlihat. Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke indra penglihatannya. Dan sosok yang ia lihat pertama kali adalah wajah keras milik sang ayah.

"Ayah..." lirih Sasuke. Ia mencoba bangkit, namun kedua tangan menahan tubuhnya.

"Tidak perlu bangun. Tetaplah dalam posisi itu."

Sasuke mengikuti intruksi dari Fugaku, ia terdiam dan tak melakukan pergerakan apapun. "Ayah, dimana yang lain?"

Fugaku diam k menjawab. Ia hanya menatap Sasuke datar tanpa ekspresi.

"Ayah?"

Fugaku melirik jam, ia mengambil jasnya kemudian mengenakannya. "Jangan panggil aku ayah. Aku bukan ayahmu. Ayahmu adalah Obito Uchiha, ayah yang cocok untuk orang lemah sepertimu."

Deg

Sasuke tak dapat berkata-kata, irisnya menatap kosong sosok di sampingnya. Ia merasakan nyeri yang luar biasa di daerah dadanya. Matanya memanas, air mata keluar tanpa dicegah. Sasuke syok mendengar ucapan Fugaku. Ia tidak menyangka ucapan kejam seperti itu dilontarkan oleh orang terdekatnya sendiri, ayahnya sendiri.

"A-ayah..." lirihan keluar tanpa dicegah. Sasuke tidak dapat memikirkan selain apa yang diucapkan ayahnya terakhir kali.

Fugaku berhenti. "Aku kecewa padamu. Aku kecewa padamu, Sasuke Uchiha."

Sasuke tidak dapat berbuat apa-apa. Tubuhnya yang masih lemas tak berdaya dan pergerakannya yang tidak leluasa karena infus yang menancap di tubuhnya membuat dirinya hanya bgisa melihat sang ayah dari kejauhan.

Dan Sasuke kecil hanya bisa melihat punggung yang terbebani oleh perasaan kecewa itu pergi.

Dan detik selanjutnya Sasuke tersadar, ia bukan bagian dari Uchiha lagi.

"Aku bukan lagi..." lirih Sasuke. Ia menatap langit-langit dengan air mata yang masih jatuh dengan derasnya.

"...bagian dari Fugaku Uchiha."

.

.

.

ToBeContinue

A/N

Halo. Maaf atas keterlambatan saya dalam mengupdate cerita. Semester lalu benar-benar semester yang padat bagi saya, bahkan liburan pun saya juga masih disibukan oleh latihan dan proposal yang kian menghantui saya.

Untuk fik MO dan I Realized, aku gak yakin bisa melanjutkan fik itu, namun untungnya aku dah buat alur MO. Cuma tinggal nyari waktu untuk ngetik aja. Dan sayang sekali saya saja susah membagi waktu antara pelajaran dan ekskul, jadi saya tidak yakin bisa cepat update.

Maaf jika saya mengumbar janji belaka. Kali ini saya tidak dapat menjanjikan apapun pada kalian. Dan maaf jika saya tiba-tiba pengumuman DISCONTINUED atau hiatus dari saya. Saat ini saya benar-benar disibukan oleh berbagai lomba di semessster depaaan, untuk itu saya harus mempersiapkan diri agar usaha saya tidak sia-sia.

Terima kasih atas pembaca yang senantiasa menunggu saya. Terima kasih dan sampai jumpa.