CHAPTER 10

"Hmmm…" Sasuke menggeliatkan badannya sedikit. Dan perlahan-lahan ketika ia membuka matanya yang pertama kali di lihatnya adalah sepasang mata lavender yang tengah menatapnya tajam.

"What are you doing?" Sasuke mendorong dada Neji ketika menyadari kini jarak wajah mereka tinggal beberapa senti saja. Dan yang lebih membuat sang pemuda Uchiha terkejut adalah kini ia tengah berbaring di sebuah ranjang big size di sebuah ruangan yang menurutnya adalah kamar.

"Where are we?" Tanya Sasuke pada akhirnya. Neji hanya mencibir ketika melihat Sasuke yang terlihat kebingungan.

"Aku tidak percaya kau bisa tidur lebih dari 4 jam. Oh Tuhan…" Gerutu Neji sambil mengambil sebuah gelas berisi minuman berwarna biru.

"4 jam?" Ulang Sasuke ikut heran.

Peeeeeeppppp… terdengar suara dengungan yang sangat keras dari luar kamar itu. Sasuke melirik ke arah Neji yang tengah menyalakan sebuah televisi dan duduk di sebuah sofa.

"Dimana kita?" Tanya Sasuke sambil turun dari tempat tidur dan mengintip dari jendela yang berbentuk lingkaran . Mata obsidian hitamnya langsung menangkap hamparan lautan yang berwarna biru.

"Kau bisa lihat. Kita sedang dalam perjalanan ke Hawaii. Hah… sudah tidak sabar untuk sampai kesana," kata Neji tersenyum. Sementara itu Sasuke berjalan keluar untuk melihat-lihat kapal pesiar hadiah dari Itachi itu.

"Hey bocah.. kau bahkan belum mengucapkan terima kasih padaku..!" teriak Neji pada Sasuke yang mengacuhkannya. Tapi tampaknya sang Uchiha tidak mendengar teriakan itu.

Tiba-tiba ada sesseorang yang mengetuk pintu ruangan itu.

"Ada apa?" Tanya Neji ketika membuka pintu dan menemukan seorang pelayan tengah berdiri dihadapannya.

"Makan malam sudah siap, Tuan muda," kata pelayan itu.

"Baiklah. Tolong cari bocah itu juga," perintah Neji. Tapi sepertinya pelayan itu tidak mengerti dengan bocah yang dimaksud Neji.

"Ah maksudku Sasuke," ralat Neji sembari menutup kembali pintu kamarnya untuk berganti pakaian.

Tak berapa lama ia pun keluar dengan memakai sweater hangat berwarna krem dan celana panjang berwarna coklat. Rambut panjangnya ia ikat seperti biasanya. Seorang pelayan menuntunnya menuju ke dek kapal dimana sebuah meja dengan dua buah kursi sudah ditata rapi disana.

Suasana senja dengan matahari yang hampir tenggelam menjadi pemandangan yang melatarbelakangi acara makan malam itu.

"Silahkan, Tuan." Seorang pelayan mempersilahkan Neji untuk duduk di salah satu kursi dihadapan meja bundar itu. Diatas meja terdapat 3 buah lilin berbentuk hati sebagai penerangan.

"Dimana Sasuke?" Tanya Neji.

"Tuan muda Sasuke akan segera menyusul," Dan benar jawaban pelayan itu karena tak berapa lama Sasuke sudah muncul dengan hanya memakai kaos berwarna biru dan celana pendek berwarna hitam.

Sasuke memandang heran ke sekelilingnya karena dekorasi yang menurutnya terlalu berlebihan untuk sekedar makan malam.

"Sepertinya kakakmu mempersiapkannya dengan baik," komentar Neji ketika melihat ekspresi wajah Sasuke.

"Yeah," Sasuke segera duduk di hadapan Neji. Beberapa orang pelayan segera mengeluarkan makanan pembuka dan minuman untuk mereka. Mereka berdua terdiam dan menatap ke arah matahari yang sedikit demi sedikit mulai tenggelam. Neji mengalihkan pandangannya pada pemuda dihadapannya.

Uchiha Sasuke. Bocah berusia 18 tahun yang akan menemani sisa-sisa hidupnya. Namun keadaan mereka yang saling membenci satu sama lain membuatnya tidak yakin akan hal itu.

'Tapi sebenarnya Sasuke juga tidak terlalu menyebalkan. Mungkin jika kami mau berdamai keadaan tidak akan seburuk yang kubayangkan,' batin Neji.

"Ada yang salah denganku, Hyuuga?" Tanya Sasuke ketus ketika ia sadar tengah diperhatikan.

"Tidak, hanya…" Neji membetulkan posisi duduknya dan kembali menatap Sasuke.

"Kurasa kita tidak bisa selamanya seperti ini," ucap Neji memulai. Sasuke mengernyit heran, 'Apa jangan-jangan Neji ingin bercerai?' duga Sasuke.

"Huh?" Sasuke tidak mengerti.

"Maksudku, kau tau bahwa selama ini kita selalu bertengkar dan saling membenci satu sama lain. Aku rasa kita harus menghentikannya. Tidak mungkin kita akan terus begini seumur hidup," Neji mencoba menjelaskan. Sasuke cukup terkejut juga mendengar ide yang dilontarkan Neji bahwa mereka tidak bisa terus saling membenci seumur hidup. Tidak menyangka seorang Hyuuga Neji yang menurutnya angkuh akan mengatakan hal itu.

"Jadi.." Sasuke masih menunggu Neji untuk melanjutkan.

"Bagaimana kalau kita menjadi teman. Ehm… maksudku, kita tidak perlu menjadi teman juga tidak apa-apa tapi kita harus berdamai. Anggap saja kita dua orang laki-laki yang tinggal serumah dan punya privasi masing-masing. Aku tidak akan mengganggu hidupmu dan kau boleh berhubungan dengan siapapun dan begitu juga sebaliknya…" Neji tampak bingung bagaimana harus mengungkapkannya tapi Sasuke tampaknya sudah mengerti.

"Kita berteman," Sasuke mengulurkan tangannya ke hadapan Neji. Tersenyum simpul, Neji meraih tangan kurus Sasuke dan menjabatnya. Sementara Sasuke, dalam hatinya berkecamuk dua perasaan sekaligus. Bahagia bahwa akhirnya ia bisa berteman dengan Neji tapi ia juga merasa takut Neji hanya berpura-pura.

"Ayo makan," Neji mulai mengaduk-aduk salad sayur yang ada dihadapannya sebelum menyuapkannya ke dalam mulutnya.

Beberapa menit kemudian Neji memanggil pelayan untuk segera menyajikan hidangan utama. Masakan hasil olahan seafood segera tersaji di hadapan mereka berdua.

"Makanlah yang banyak. Kau terlihat kurus sekali," Kata Neji sambil meminum air putih disampingnya.

"Hn" jawab Sasuke singkat. Tapi sebuah garis merah muda menghiasi pipi putihnya.

Lalu sayup-sayup terdengar suara lantunan biola dan cello dari belakang mereka berdua. Keduanya mencari-cari sumber suara itu dan mendapati 3 orang laki-laki masing-masing tengah memainkan gitar, biola dan cello.

Neji tersenyum sambil mengelengkan kepalanya. Sasuke terpaku menatap pria berambut coklat dihadapannya itu. Neji sekarang lebih sering tersenyum dan Sasuke menyukai hal itu.

"Pernah ke Hawaii sebelumnya?" Tanya Neji. Sasuke segera tersadar dari lamunannya.

"Uh.. Iya, dulu Itachi pernah mengajakku kesana. Kau?" Sasuke balik bertanya.

"Belum. Ini adalah pengalaman pertamaku. Kau sudah selesai? Aku akan panggil pelayan untuk mengeluarkan dessertnya," Neji menepukkan kedua tangannya dan kemudian 2 orang pelayan datang membawa dua piring es krim coklat ke hadapan mereka.

"Es krim?" Sasuke mengernyit tidak suka. Ia menjauhkan ek krim itu dari hadapannya dan lebih memilih meminum air putih.

"Kenapa? Kau tidak suka? Ayolah.. kau harus coba," Kata Neji berusaha membujuk Sasuke.

"Tidak. Aku tidak suka manis," Sasuke masih tetap bersikukuh.

Melihat hal itu, Neji segera mengambil sesendok es krim coklat itu dan menyodorkannya ke mulut Sasuke.

"Kau harus mencobanya baru bilang tidak suka," ujar Neji kembali menyodorkan es krim itu. Dengan ragu Sasuke memakan es krim dari suapan Neji. Sebenarnya bukan rasa manis es krim coklat itu yang membangkitkan euphoria bahagia bagi Sasuke, tapi lebih kepada tatapan lembut dan perhatian dari Neji. Perubahan sikap Neji ini, ia ingin merasakannya selamanya. Ia ingin waktu berhenti di momen kebersamaannya bersama Neji.

"Bagaimana?" Tanya Neji pada Sasuke yang wajahnya sudah memerah.

"Lumayan," Sasuke berusaha untuk tersenyum di hadapan Neji.

Neji tampak mengalihkan pandangannya pada pemain music di belakangnya sebentar sebelum bangkit dari tempatnya duduk dan mengulurkan tangannya ke hadapan Sasuke.

"Pernah berdansa?" Neji menunggu tangan Sasuke menyambutnya.

"A-apa?" Sasuke terbata melihat Neji yang secara tidak langsung mengajaknya berdansa.

"Ayolah.. sebagai tanda pertemanan kita? Tapi kalau kau tidak mau.." Neji tidak meneruskan kalimatnya ketika merasakan tangan kanan Sasuke menggenggam tangan kanannya.

Keduanya tersenyum dan berdiri berhadapan. Tangan kanan Neji melingkar di pinggang Sasuke sementara tangan kirinya menggenggam tangan kanan Sasuke. Keduanya mulai mengikuti irama music yang dilantunkan.

'Oh kami-sama… seandainya aku di ijinkan membuat permohonan. Aku ingin kau menghentikan waktu agar aku bisa seperti ini selamanya,' kata Sasuke dalam hati.

Mata onyx hitam Sasuke tidak lepas dari mata lavender milik Neji. Senyuman tulus terkembang di wajah tampannya. Ia sangat bahagia malam itu.

'My.. bocah ini benar-benar mengubahku menjadi gay,' batin Neji ketika melihat senyuman Sasuke.

'Mungkin dia tak seburuk yang kukira,' tambahnya.

Matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Hamparan bintang tampak menghiasi permadani berwarna hitam yang berjuluk malam itu. Lautan yang tenang menghembuskan udara yang menyejukkan bagi dua orang laki-laki yang tengah berdansa itu.

.

.

.

Keesokkan harinya, cuaca cukup cerah dengan matahari yang tidak begitu terik dan juga angin yang sepoi-sepoi. Sasuke akhirnya terbangun juga ketika sinar matahari menusuk mata obsidiannya melalui jendela. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Diliriknya tempat tidur Neji sudah kosong.

Pemuda berambut raven itu tersenyum begitu mengingat acara makan malamnya dengan Neji. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini seumur hidupnya. Ia pun segera bangkit dan membersihkan dirinya. Dan tak lama kemudian ia sudah keluar kamar dengan memakai kaos berwarna putih dan juga celana pendek santai.

Ia sempat berkeliling kapal untuk berjalan-jalan. Tapi sebenarnya ia juga ingin mencari Neji. Hingga akhirnya ia sampai di dek kapal mewah itu dan menemukan Neji tengah berjemur di sebuah kursi. Mata lavendernya tertutup sebuah kaca mata hitam dan rambut panjangnya ia gerai begitu saja.

Neji tampaknya belum sadar akan kehadiran Sasuke. Dan memanfaatkan hal itu Sasuke mengambil sebuah kamera digital dari saku celananya dan mulai mengambil gambar sang pemuda berambut coklat itu.

"Selamat pagi," sapa Neji ketika menyadari Sasuke sudah berdiri dihadapannya dan memegang sebuah kamera digital.

"Hn," Jawab Sasuke sambil tersenyum. Pandangannya ia alihkan ke arah lain untuk menutupi pipinya yang bersemu merah.

'Oh Tuhan… kenapa aku seperti gadis begini?' Tanya Sasuke pada dirinya sendiri.

Hamparan lautan yang berwarna biru menjadi pemandangan yang cukup indah bagi mata mereka. Angin yang berhembus meniup rambut hitam kebiruan Sasuke dan menjadi potret indah tersendiri bagi Neji.

"Hey.." Sasuke menoleh ke arah Neji ketika merasa dipanggil. Dan seketika sebuah bunyi 'klik' terdengar dari ponsel Neji yang diarahkan ke tempat Sasuke berdiri.

"Kau harus sering tersenyum seperti itu," komentar Neji dan kembali menyimpan ponselnya.

"Diam kau," balas Sasuke. Senyuman memang belum juga hilang dari wajah pucatnya.

Sasuke memandang ke arah lautan yang ombaknya cukup tenang. Sepertinya akan menyenangkan jika berenang.

"Apa cukup aman untuk berenang?" Ujar Sasuke entah pada siapa.

"Tentu saja, Tuan muda." Jawab seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari dua orang pemuda itu.

Sasuke sudah akan melepas kaosnya ketika Neji berjalan mendekatinya.

"Ini lautan. Apa kau yakin akan berenang?" Tanya Neji memastikan. Sesekali ia melongok ke bawah untuk melihat keadaan lautan itu.

"Ya. Kenapa tidak?" Tanya Sasuke heran. Kaos putihnya sudah tanggal dari tubuhnya dan menampakkan dada putihnya yang terekspos dengan jelas.

"Tidak.. Tidak.. lebih baik kau foto saja aku." Larang Neji sambil mendorong tubuh Sasuke agar menjauh dari tepi kapal. Sasuke semakin heran dengan sikap Neji yang melarangnya berenang.

"Kenapa aku tidak boleh berenang? Lautan cukup tenang, lagipula aku juga sudah lama tidak berenang," Sasuke masih keras kepala ingin berenang.

"Sudahlah. Cepat foto aku," perintah Neji berusaha mengalihkan perhatian Sasuke dan mempersiapkan diri. Akhirnya Sasuke menyerah dan mengambil kamera digitalnya.

"Siap?" Tiba-tiba saja ide jahil datang pada pemuda yang masih berusia 18 tahun itu.

"Hn," Jawab Neji yang berdiri beberapa meter dari Sasuke. Tangannya berpengangan pada besi pembatas kapal.

"Mundur sedikit… iya… jangan berpegangan. Mundur…" Sasuke pura-pura menginstruksi Neji dan sang pemuda bermata lavender itu menurutinya saja.

"Mundur lagi… mundur.." Sasuke terus menyuruh Neji untuk mundur, seringaian tampak jelas di bibirnya.

Hingga akhirnya…. jebuurrrrr

Terdengar suara riak air yang cukup keras dan menghilangnya sosok Neji. Sasuke segera melihat ke bawah dan mendapati Neji sudah berada di dalam air.

"Haahahaha…" Sasuke tidak bisa lagi menahan tawanya ketika melihat sosok pria berumur 21 tahun itu mulai tenggelam. Tunggu… tenggelam?

Neji yang terkejut ketika tubuhnya mulai tercebur ke dalam air mulai panic. Ia tidak bisa bernafas dan juga tidak bisa berenang. Tangannya berusaha menggapai-nggapai ke atas. Ia merasa air-air itu mengikatnya. Tenggorokannya juga terasa tercekat.

'Neji…' terdengar sayup-sayup suara seorang wanita mengisi telinga Neji. Jantungnya berdetak cepat. Ia bahkan sudah mulai menelan air asin itu.

'Neji…' kembali suara wanita yang memanggil namanya itu terngiang di telinga Neji.

Pandangannya kabur dan samar-samar Neji bisa melihat dihadapannya seorang wanita paruh baya yang tengah berusaha untuk keluar dari sebuah mobil sedan yang sepertinya tenggelam dibawah air. Wanita itu mempunyai mata lavender identik seperti milik Neji.

Tangan putihnya memukul-mukul pintu mobil itu agar terbuka. Air berwarna kehijauan memenuhi mobil itu dan membuat wanita itu kesulitan bernafas. Tak hanya itu, tampak seorang anak kecil yang duduk disampingnya juga terlihat mulai hilang kesadarannya.

"Neji…" panggil wanita itu mengguncang-nggguncang tubuh anak kecil disampingnya. Hal itu membuatnya menelan banyak air.

"Neji…" Neji sendiri mulai merasa paru-parunya dipenuhi air dan membuatnya lemas.

"Kaasan…" ucap Neji tidak jelas sebelum akhirnya tubuhnya tidak bergerak dan perlahan-lahan tenggelam ke dasar.

Melihat Neji yang seperti tidak bergerak itu Sasuke segera menceburkan dirinya ke tempat Neji jatuh tadi. Ia pun berenang mendekati tubuh Neji dan menariknya ke atas.

"Buagh…" Tak berapa lama Sasuke muncul ke permukaan dengan menarik tubuh Neji yang tidak sadarkan diri. Beberapa orang kru kapal ikut membantu mereka untuk kembali naik ke kapal.

"Neji…" Sasuke menepuk-nepuk pipi Neji berusaha membangunkannya ketika mereka sudah sampai di atas kapal.

Tubuh Neji terlihat sangat pucat. Sedikit panic, Sasuke melakukan pertolongan pertama pada Neji yang sepertinya tidak bernafas. Menekan perut Neji untuk mengeluarkan air yang mungkin saja tadi ditelannya. Tak memberikan efek apapun akhirnya Sasuke membuka mulut Neji dan memberikan nafas buatan.

"Uhuk… uhuk…" Neji tampak terbatuk-batuk dan mulutnya mengeluarkan air cukup banyak.

Sasuke kini bisa bernafas lega melihat Neji baik-baik saja. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup, begitu juga dengan Neji.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke khawatir sambil membantu Neji untuk duduk.

"Menjauh dariku!" Bentak Neji kasar sambil menghentakkan tangan Sasuke dari lengannya. Sasuke sampai terpelanting dan jatuh terduduk.

"Ada apa? Kenapa kau seperti ini?" Sasuke tidak mengerti dengan sikap Neji yang berubah kasar padanya.

"Apa kau pikir tadi itu lucu? Aku hampir mati," Neji sudah akan meninggalkan tempat itu ketika Sasuke menahan lengannya.

"Neji… Maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu celaka. Aku hanya bercanda," Sasuke tidak menyangka bahwa ide jahilnya tadi membawa petaka. Dan untuk pertama kalinya seorang Sasuke begitu mudahnya mengatakan maaf pada orang lain.

Neji menoleh dan memandang sengit pada Sasuke. Mata lavendernya menampakkan amarah.

"Bercanda kau bilang. Dengar… kemarin kukira kau adalah orang yang menyenangkan. Tapi detik ini juga aku berubah pikiran. Aku salah menilaimu, Uchiha Sasuke." Kata Neji dingin. Sasuke merasa tertohok mendengar kalimat Neji barusan, ada rasa nyeri yang memenuhi dadanya. Ia sama sekali tidak menyangka Neji akan semarah itu. Seandainya Sasuke bisa mengulang waktu, maka ia tidak akan pernah melakukan hal yang bisa membuat Neji marah.

"Jangan pernah mendekati aku lagi!" Dengan langkah cepat, Neji meninggalkan tempat itu dan Sasuke yang hanya berdiri seperti patung.

"Neji…" Sasuke berusaha memanggil Neji. Tapi tampaknya sang pemuda berambut coklat yang basah kuyup itu tidak memperdulikannya.

"Fuck.." Sasuke mengumpat keras. Ia merutuki dirinya sendiri karena melakukan hal bodoh itu. Ia menyesal dan benar-benar tidak pernah berniat untuk mencelakai Neji.

To Be Continued

Ehem… Pertama, Saya mau mengucapkan mohon maaf yang setulus-tulusnya karena telat apdet. Bukan tanpa alasan, saya memang lagi banyak tugas dan mood juga lagi ga enak *taukanrasanyalagiPMS?*.

Mohon maaf lagi Chap 10 ini pendek. Semoga anda semua tidak kecewa. Hehehe

Terima kasih untuk semuanya yang sudah dengan setia mereview dan membaca My Lovely Sasuke. Saya sangat menghargai partisipasi kalian. Yang ga review juga ga apa2. Saya sudah senang kalian mau baca.

Kritik dan saran terus saya tunggu karena saya merasa masih banyak kekurangan dalam fic ini.

Terima kasih juga buat yang udah add fb saya, senang bisa mengenal kalian ^.^

Mind to review?

With Love,

Mutmut Chan