Hari Senin telah tiba, jam weker berdering dengan begitu nyaringnya, segera aku mematikannya dan pergi mandi, setelah itu berpakaian dan sarapan. Sarapan hari ini adalah roti panggang dengan segelas susu hangat, rasanya semangatku di pagi ini hilang seketika.
"Itadakimasu" Ucapku lemas
"Ada apa, Lucy? Kamu terlihat lemas"
"Tidak apa-apa, hanya kurang tidur"
"Lain kali jangan tidur malam-malam"
"Hai, hai…"
Setelah berpamitan, aku pergi ke sekolah dengan menaiki sepeda. Ketika sampai di sekolah, aku segera memakirkan sepeda dan masuk kedalam kelas. Suasana di kelasku pagi ini agak ramai, tetapi aku tidak mempedulikannya dan duduk. Levy-chan dan Wendy-chan menghampiriku dan menyapaku.
"Ohayou" Sapa mereka berdua bersamaan
"Ohayou" Balasku lesu sambil menidurkan kepala di atas meja
"Ada apa? Padahal semuanya sedang bersemangat" Tanya Levy-chan
"Tidak, tidak"
"Apa kamu tau? Di sekolah kita telah terjadi pembunuhan dan juga pencurian benda pusaka" Ucap Wendy-chan
"Di mana?" Tanyaku
"Ruang bawah tanah, yang pernah kuceritakan padamu lho. Siapa ya yang mencurinya? Padahal benda itu milik sekolah"
Aku sengaja bertanya supaya tidak di tanya-tanya lagi oleh Wendy dan Levy. Tiba-tiba saja seorang anak dari kelas lain memanggil namaku, katanya kepala sekolah menyuruhku untuk datang keruangannya. Ini benar-benar gawat! Sesampainya di depan pintu, aku menghembuskan nafas terlebih dahulu kemudian mengetuk pintu sebanyak 3x.
Tok…Tok…Tok…
"Masuk" Ucap kepala sekolah
"Ada perlu apa ya, bapak memanggil saya?" Tanyaku sambil menutup pintu dengan pelan
"Duduklah. Ini ada kaitannya dengan pembunuhan dan pencurian di sekolah kita"
"Maksud bapak?"
"Saya mendengar dari satpman jika kamu ada hubungannya dengan insiden pembunuhan yang terjadi di sekolah"
"….."
"Kamu tau kan, siapa mayat ini?" Kepala sekolah menunjukkan sebuah foto
"A…Aku tidak tau, lagipula itu sangat mengerikan…" Ucapku memalingkan muka dari foto
"Kalau begitu, apa kamu tau siapa yang mencuri batu bulan dan orang yang membunuh pemuda ini?"
"Tidak"
"Jangan bohong!"
"Maaf, saya tidak bisa memberitaukannya kepada bapak, ini rahasia saya…"
"Oh, kalau begitu, apa kamu yang membunuh pria ini dan mencuri batu bulan?"
"….."
"Itu tandanya perkataan saya yang tadi benar. Maaf, tetapi kamu harus dikeluarkan dari sekolah"
Dikeluarkan dari sekolah?! Ini mimpi kan…? Ingin rasanya aku menangis sekarang juga, itu fitnah! Selesai berbicara dengan kepala sekolah, aku balik ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasanya. Saat jam istirahat tiba, aku hanya duduk termenung sambil memandang kotak bekal yang sedari tadi belum kusentuh.
"Lu-chan, kepala sekolah membicarakan apa denganmu?"
"Tidak ada apa-apa kok"
"Apa benar? Sikapmu tidak seperti biasanya"
"Bukankah aku selalu seperti ini?" Tanyaku sambil memaksakan senyum
"Lucy-chan…"
"Maaf aku berbohong pada kalian tadi, aku dikeluarkan dari sekolah" Ucapku sambil memegang erat sumpit
"Tapi, kenapa?!" Levy-chan terlihat sangat terkejut
"Kata kepala sekolah, aku yang mencuri benda pusaka dan membunuh seorang pria"
"Itu, bohong kan?"
"Levy-chan, Wendy-chan, aku tidak pernah membunuh ataupun mencuri. Kalian percayakan padaku?"
"Kami tau kamu tidak mungkin melakukannya"
Akhirnya kami bertiga pun menangis bersama. Kenapa begini jadinya? Seharusnya aku memberitau jika Jellal lah yang membunuh dan mencuri, tetapi mulutku terasa kaku saat ingin mengatakannya. Benar-benar sial…
Ketika bel pulang berbunyi, ingin rasanya aku tidak pulang ke rumah. Ibu pasti akan bertanya banyak hal padaku, kini aku sedang memegang sebuah amplop. Surat di dalam amplop tersebut pasti berisi tentang pernyataan resmi aku dikeluarkan dari sekolah. Mau pulang ataupun tidak, pada akhirnya ibu tetap tau. Sesampainya di rumah, ibu langsung datang menghampiriku, dengan ragu-ragu kuberikan amplop itu pada ibu dan setelah membacanya, ibu langsung menangis sambil memelukku.
"I…Ibu..Aku, aku tidak pernah membunuh ataupun mencuri. Ibu percaya padaku kan?"
"Ibu tau, mana mungkin kamu membunuh dan mencuri. Pasti kamu telah di fitnah"
"Syukurlah, ibu percaya padaku"
Aku benar-benar merasa bersalah, aku telah mengecewakan ibu yang telah bersusah payah selama ini. Sudah cukup lama aku ingin menangis, tetapi selalu tidak bisa. Memang menangis tidak menyelesaikan masalah, tetapi membuat perasaanku menjadi lebih lega.
"Ibu akan berbicara dengan kepala sekolah, kamu tidak boleh berhenti sekolah!"
"Tidak perlu…" Ucapku sambil memandang wajah ibu
"Tapi sayang, kamu telah di fitnah"
"Kepala sekolah tidak akan percaya selama ibu tidak memiliki bukti yang kuat"
"Lalu sekarang, kamu ingin bagaimana?"
"Entahlah, aku pasrah, mungkin ini takdir"
Ya, sebuah takdir yang tidak bisa kulawan dan begitu menyakitkan. Sekarang kemungkinanku untuk kembali bersekolah sangat kecil. Mana mungkin sekolah mau menerima anak yang di tuding suka mencuri dan membunuh? Aku sangat ingin sekolah, tetapi itu adalah hal yang mustahil sekarang.
Seseorang menekan bel pintu rumhaku. Ibu membukakan pintu dan ternyata mereka adalah Levy dan Wendy, aku mengantar mereka ke ruang tamu dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Terima kasih, kalian mau datang ke rumahku" Ucapku memulai pembicaraan
"Kami tau, dikeluarkan dari sekolah merupakan hal yang berat bagimu. Nanti kita tidak bisa pergi ke kantin bersama-sama lagi" Levy menunjukkan raut wajah sedih sambil menundukkan kepala
"Aku dan Levy-chan, masih ingin bersamamu. Makanya kami memutuskan untuk membantumu"
"Membantuku?"
"Ya, aku dan Wendy-chan sepakat. Kami berdua akan mencari pembunuh sekaligus pencuri itu" Ucapnya mantap
"Kalian serius?"
"Tentu saja! Setelah menangkapnya kamu bisa dibebaskan dari fitnah itu" Ucap Levy dan Wendy bersamaan
"Arigato…Tetapi tidak perlu. Itu terlalu berbahaya"
"Apa kamu begitu saja menerima keputuskan kepala sekolah?" Tanya Levy-chan
"Aku tidak terima, tetapi, aku pasrah…" Ucapku sambil tersenyum pilu
"Baka…"
Ya, aku memang bodoh, begitu saja menerima fitnah tanpa melawan. Kami bertiga pun hening untuk sejenak. Sekitar jam 3 sore, Wendy dan Levy berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing. Pasti ayah kaget mendengar berita ini. Memang benar, saat ayah mendengarnya ia sempat geram dan ingin menemui kepala sekolah, segera aku membatalkan niat ayahku.
"Ayah, sudahlah…"
"Lucy, apa kamu tidak ingin bersekolah lagi?"
"Tentu aku ingin, tetapi itu tidak mungkin!" Balasku dengan emosi
"Ayah akan membuat hal itu menjadi mungkin, sekolah sangat penting untuk masa depanmu dan juga, kamu suka bukan? Apapun yang terjadi, ayah dan ibu akan membuatmu bisa bersekolah kembali"
Perkataan ayah yang barusan membuat mulutku bungkam. Ayah tidak menyerah, sedangkan aku dengan mudahnya menyerah begitu saja tanpa berjuang. Untuk memperbaiki suasana hati, aku memutuskan untuk keluar mencari angin segar, meski sebenarnya aku ingin pergi ke markas.
Sesuai dugaanku, mereka berempat berkumpul di dalam, aku masuk dan memandangi wajah mereka satu persatu dengan penuh kesedihan.
"Nee-san, sepertinya kamu sedang sedih. Ada apa?" Tanya Mavis padaku
"Kamu dikeluarkan dari sekolah, bukan?" Jellal berkata seakan-akan dia sudah tau
"Memang, aku ingin berbicara denganmu. Ikut aku"
Jellal mengikutiku dari belakang. Kami berdua masuk kesebuah bangunan tua yang dekat dengan markas. Aku mengepalkan tanganku, menghembuskan nafas dan menatap Jellal lalu membuka mulut.
"Ini semua salahmu…"
"…."
"Karenamu, aku dikeluarkan dari sekolah"
"Kamu membenciku?"
"Ya! Aku sangat membencimu! Kamu lah yanng telah melibatkanku, seharusnya kita tidak pernah bertemu, seharusnya kamu tidak ada di dunia ini!"
"….."
"Karenamu aku di tuduh membunuh dan mencuri!"
"Kenapa kamu tidak berkata, jika aku yang membunuh Rogue dan mencuri batu bulan?"
"Aku ingin mengatakannya, tetapi aku tidak bisa…Bukan berarti aku ingin melindungimu atau semacamnya!"
"….."
"Kenapa?! Kenapa kamu diam saja?! Dasar orang gila! Psikopat!"
"….."
"Orang sepertimu seharusnya mati! Mati dengan di hukum yang seberat-beratnya dan masuk neraka! Dasar iblis!"
Yang terakhir, aku meninju muka Jellal sampai pipi kananya memar. Sepertinya tanda kusadari Mavis, Gray dan Mystogan melihat kejadian tersebut. Wajah mereka nampak shock, aku sendiri juga merasa heran kenapa bisa aku melakukan hal seperti ini?
"Lucy" Mavis memanggil namaku dengan nada bicara yang terkesan sedih
"Kalian bertiga, melihatnya?"
"Ya, kamu sepertinya sangat marah" Gray mengucapkannya sambil menyandarkan diri di tembok
"Ini semua bukan hanya salah nii-san, kami juga bersalah"
"AKU TIDAK PEDULI! Pokoknya itu semua salah Jellal!"
Tiba-tiba saja Jellal memelukku dengan begitu eratnya, apa mau dia?! Terdengar suara ledakan bom yang sepertinya melukai Jellal, bahkan bangunan yang runtuh juga menimpa tubuhnya yang terbilang kecil tersebut. Kini, dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat dia tetap memelukku meskipun dia terluka. Secara tiba-tiba ia menghilang dari pandanganku, apa Jellal mati?
"Hey, apa Jellal mati?"
"Tidak, sepertinya seseorang menaruh kertas teleport di punggung nii-san"
"Lalu?"
"Aku akan mencarinya, pulanglah. Gray dan Mavis, tolong jaga markas"
Setelah mengatakan hal tersebut, Mystogan langsung pergi mencari Jellal, sedangkan aku pulang ke rumah. Sebenarnya Jellal pergi kemana? Sudahlah, untuk apa memikirkan orang gila macam dia…
Bersambung…
Next chapter : Terdampar di Suatu Tempat
