# Perasaan apa ini ?#
Disclaimer: Naruto tetep milik Kishimoto Masashi
Pairing: Tetep SasuHina
Disini aku buat dalam sudut pandang Sasuke, jadi tidak ada pov-pov lain selain sasuke.
.
.
.
Keringat mulai bercucuran, perasaan gelisah mulai bermunculan. Itulah yang sedang kurasakan saat ini. Melihat sorot mata Ayahku yang menusuk itu membuat nyali besarku yang mulanya aku pupuk menjadi menciut. Sungguh tidak sesuai dengan perkiraanku selama ini.
Jadi perasaan seperti inilah yang dirasakan Itachi dulu, perasaan yang membuatnya harus sampai bertekuk lutut untuk mendapat persetujuan dari Ayahku.
"Cepat jelaskan padaku tentang ucapanmu tadi mengenai gadis itu"
Sial... kali ini nyaliku benar-benar sampai pada batasnya. Sejak dulu maupun sekarang suara berat Ayahku selalu membuat nyaliku menciut seperti ini... ah bukan, kali ini nyaliku benar-benar telah habis.
"I-itu... ano..." mati aku, bicara saja tidak bisa apa lagi aku harus menjelaskan tentang ini semua.
"Cepat !"
"Aku ingin menikahi Hinata, aku sangat mencintainya" terlalu kagetnya sampai-sampai tanpa sadar aku mengucapkan itu.
"Menikah... cinta... apa maksudmu itu ?"
Sudah terlanjur terucap, mau apa lagi selain meneruskannya.
"Ayah tau benar aku memiliki usia yang bisa dibilang siap menikah. Aku tidak ingin terlambat menikah seperti Itachi, jadi aku ingin sesegera mungkin menikah dengan Hinata, gadis itu. Aku mohon izinkan aku untuk menikahinya Ayah"
"Mengizinkanmu, memang dia dari keluarga seperti apa ? Apa pekerjaan orang tuanya ? Directur, Presdir, atau Apa ?"
Aku harus menjawab apa kalau begini. Masa aku harus berbohong untuk melancarkan hubunganku ini. Tapikan semua orang disini selain Ayahku sudah mengetahui kesuraman hidup Hinata, masa aku harus berbohong. Itu tidak akan mungkin terjadi. Jadi tidak ada pilihan lain selain aku harus berkata jujur mengenai setatus Hinata.
"Dia, maksudku Hinata... dia bukanlah dari golongan orang yang memiliki orang tua berjabatan tinggi disuatu perusahaan. Dia hanyalah seorang anak yatim piatu yang memiliki kehidupan yang tidak mudah. Dia bekerja sebagai seorang pelayan disebuah cafe untuk memenuhi kebutuhan hidupnya"
Brak !
Ayahku menggebrak meja dengan tangan kanannya yang tentu saja membuatku kaget setengah mati.
Gawat jika Ayahku sudah mulai menggebrak meja maka sudah pasti bisa ditebak bahwa hubunganku dengan Hinata, hayalanku tentang Hinata, serta masa depan yang sudah aku rencanakan untuk hidup bersama Hinata telah berakhir. Nasib-nasib.
.
.
.
.
Tapi siapa tau gebrakan itu adalah gebrakan persetujuan akan hubunganku dengan Hinata... Ya, siapa tau itu terjadi. Berpikiranlah positif Sasuke berpikiran positif. Masih ada harapan akan hal itu.
"Apa kau sedang bercanda !"
Sepertinya harapan itu pupus sudah saat ucapan itulah yang terlontar dari mulut Ayahku.
Apa aku sedang bercanda ?... kalau aku bilang aku memang sedang bercanda apakah aku dan Ayahku akan saling merangkul dan tertawa bersama untuk menertawakan leluconku. Hahahahaha (Raut wajah menjadi ceria saat tertawa)... sepertinya tidak (Kembali serius, raut muka ditekuk).
"Kau pikir kau bisa seenaknya menikahi wanita sembarangan. Kau adalah seorang Uchiha, maka kau harus menikah dengan -"
"Ayah !" aku memotong cepat-cepat ucapan Ayahku sebelum dia melanjutkan ucapannya yang menurutku pastinya akan menyakiti Hinata yang mendengarnya disini.
Tapi jika dipikir-pikir aku harus ngomong apa saat memotong ucapan Ayahku. Apa aku harus menggunakan rencana B saat bicara jujur tidak berhasil. Ya, pakai rencana itu saja. Rencana yang akan menggegerkan orang-orang yang ada disini.
"Aku tetap harus menikahinya Ayah karena... aku telah menghamilinya"
"Apa !" suara Ayahku keras sekali.
"Apa !" suara Ibuku tak kalah keras.
"..." Itachi tak bersuara karena sepertinya dia sedang tertidur.
"APA !" kali ini suara Hinata yang paling keras memekakan telingaku.
"Bisa diam tidak" aku menahan suaraku sehingga suaraku terdengar seperti geraman saat memperingatkan Hinata yang sekarang berdiri dari sofa yang diduduki akibat dari efek terkejutnya. Terang saja itu terjadi karena perasaan, dia itu masih suci jadi mana mungkin dia menjadi hamil jika tidak pernah melakukan 'ITU'.
"Kau menghamilinya !"
"Iya Ayah, aku menghamilinya. Aku harus bertanggung jawab akan perbuatanku itu"
Dengan begini tidak ada kata lain selain keberhasilan untuk hubunganku. Terima kasih untuk Itachi yang waktu itu berhasil disetujui hubungannya karena alasan ini. Hahahaha tidak ada salahnya kan aku menggunakan cara yang sama jika itu menguntungkan bagiku.
"Kau menghamilinya !"
Meskipun Ayahku marah tapi binggo, hubunganku pasti akan disetujuinya.
"Dasar anak tak tau diri !" tak tau diri, itulah aku.
"Kurang ajar !" kurang ajar juga.
"Tak tau malu !" tak tau malu, demi Hinata sebutan itu tak masalah untukku.
"Tak tau diuntung !" tak tau diuntung ?
"Tak bermoral !" tak bermoral... aku.
"Tak beradab !" tak beradab, kenapa semakin lama ucapan Ayahku semakin tidak masuk akal saja.
"Kau harus diberi pelajaran karena memalukanku !" kali ini berbeda... tapi memberi pelajaran, apa maksud dari kata-kata itu.
Pyar
Apa itu ? sepertinya aku mendengar sesuatu pecah atau...
DILEMPAR !
Aku melihat sekarang Ayahku melempariku dengan buku setebal buku telfon kearahku.
Sial ! kuhindari buku itu dengan mudah namun disusul dengan barang-barang lain yang ada dimejanya.
Pyar
Pyar
Pyar
"Ayah -" aku menghindari ini.
"Apa yang-" aku menghindari itu.
"Ayah lakukan" aku menghindari pot bunga.
POT BUNGA ! Aku dilempar dengan pot bunga. Ini sudah sangat keterlaluan. Bagaimana kalau itu tadi kena aku, aku bisa terluka, pendarahan dan mati.
"Ayah hentikan ini sudah sangat keterlaluan !"
Ayahku menghentikan gerakannya yang hampir melemparku dengan kursi yang tadi sedang dia duduki.
"Kau yang keterlaluan, dasar otak bejat !" Ayahku masih mencengkram kursi yang tadi ingin dilemparkannya padaku.
"O-otak bejat... Kenapa Ayah menyebutku seperti itu, dulu Itachi melakukan itu Ayah langsung menyetujuinya. Tapi kenapa saat aku yang melakukan itu Ayah marah-marah seperti ini. Ini sungguh tidak adil !"
"Tidak adil, kau pikir ini tidak adil ? Dasar, aku harus memberimu pelajaran agar kau mengerti. Kasusmu dengan Itachi jelas jauh berbeda, Konan berumur 24 tahun. Dia sudah cukup dewasa untuk mengandung. Sedang gadis itu, berapa usianya sekarang, 15 - 16. Pakai otakmu saat kau berbuat seperti itu !"
Brak
Brak
Brak
Dan berikutnya sudah bisa ditebak, Ayahku melemparkan kursinya padaku. Bukan hanya itu saja yang dilemparkannya padaku, tapi dia juga melempariku dengan laci mejanya, brankas yang tersimpan dibalik lukisan didinding (Bagaimana cara mengambilnya, entahlah aku juga bingung karena aku lebih terfokus pada benda-benda yang melayang kearahku) terakhir yang dia coba lemparkan kearahku sebelum aku hentikan adalah meja, meja kerja yang ada didepannya. Gila apa aku mau dilempar dengan itu.
"Hentikan Ayah, aku hanya bercanda soal menghamili Hinata"
"Apa, bercanda !" muncul urat syaraf dikepala Ayahku.
"Kau mempermainkan Ayahmu ini ! Dasar tidak tau diri !"
Gawat urat syaraf Ayahku sudah mulai bermunculan, kali ini aku benar-benar dalam bahaya.
Kupalingkan kepalaku kearah Ibuku duduk dengan tatapan memohon untuk bantuannya karena semua yang aku punya sudah aku keluarkan. Dan hasilnya adalah rencanaku gagal total.
Ibuku yang melihatku dengan tatapan memohonpun dengan menyunggingkan senyum dia bangkit dari duduknya untuk menunjukkan bahwa saat inilah dirinya harus beraksi.
"Sayang tenanglah sedikit, ingat darah tinggi yang kau derita" Ibuku mendekati Ayahku yang sekarang benar-benar emosi.
"Sayang tolong ambilkan kursi yang dilempar Ayahmu tadi untuk Ayahmu duduk biar dirinya tenang"
"Hah iya" aku hanya menuruti permintaan Ibuku itu untuk mengambilkan ayahku kursinya yang tadi dia lemparkan kearahku.
Setelah Ayahku kembali duduk perasaannya mulai sedikit tenang namun pendiriannya masih tetap kukuh untuk menolak hubunganku.
"Sayang kenapa sih kau tidak mau menyetujui hubungan Sasuke dengan nak Hinata, nak Hinatakan gadis yang baik, dia juga cantik jadi kau tidak usah menentang hubungan mereka lagi ya" Ibuku mencoba membujuk Ayahku dengan memijit pundak Ayahku saat dia mengatkan itu.
"Itu tidak bisa. Sampai kapanpun aku tidak akan menyetujui hubungan ini. Pernikahan seorang Uchiha tidaklah boleh sembarangan karena selain pernikahan itu dilakukan dengan keluarga yang sederajat, tapi juga pernikahan itu harus menguntungkan bagi keluarga maupun perusahaan Uchi- aduh jangan keras-keras kau memijitku" Ayahku merintih saat Ibuku sepertinya memijit pundak Ayahku keras-keras.
"Memang kenapa jika nak Hinata menjadi menantu kita"
"Kan sudah kukatakan kalau- aduh" Ibuku sepertinya lagi-lagi mengeraskan pijitannya.
"Memang apa salahnya jika nak Hinata bukan dari keluarga yang sederajat dengan kita"
"Aduh-aduh-aduh"
"Memang kenapa jika Sasuke dan nak Hinata nantinya menikah perusahaan Uchiha tidak mendapatkan keuntungan"
"Aduh-aduh-aduh" dari tadi setiap Ibuku berucap dia selalu mengeraskan pijitannya untuk menegaskan ucapannya.
"Apa kita akan menjadi miskin meskipun Uchiha tidak mendapatkan keuntungan harta"
"Aduh-aduh-aduh" melihat ekspresi Ayahku sekarang menjelaskan betapa kesakitannya dia sekarang akibat perbuatan Ibuku.
"Apakah -"
"Baiklah aku mengerti, lepaskan pijitanmu. Rasanya seperti kau menyiksaku bukannya memijitku" Ayahku memotong ucapan Ibuku yang dibalas dengan cengiran kemenangan Ibuku.
"Untung saja kau sudah mengerti sayang, jika tidak maka untuk selamanya kau bisa saja tidur diatas sofa hihihi..."
"A-apa maksudmu itu, jadi kau ingin aku tidur diatas sofa jika aku tidak menyetujuinya. Kau sungguh kejam" Ayahku melihat wajah Ibuku dengan tampang sebal.
"Hihihihi..." lagi-lagi Ibuku menyengir "Tapi sayang meskipun aku tidak melakukan itu, kau pasti juga akan menyetujui hubungan Sasuke dan nak Hinata karena Sasuke telah berjanji padaku"
"Janji, janji apa ?" lalu Ibuku membisikan sesuatu pada Ayahku yang sudah pasti dapat aku tebak itu apa.
"Benarkah ?"
"Iya sayang, percaya deh"
"Baiklah kalau begitu" Ayahku sepertinya akhirnya menyetujui hubunganku ini "Sasuke !"
"Siap Ayah !" aku berdiri tegak seperti tentara saat berbaris mendengar suara berat Ayahku memanggilku.
"Ingat janjimu itu, jika tidak akan aku potong"
"Gleek... Siap Ayah"
"Baiklah kalau begitu, pergilah dan bangunkan kakak bodohmu yang tidur itu"
...
.
...
Akhirnya semuanya beres, Ayah setuju, Ibu setuju, Itachi... ah dia ngak penting, yang penting Ayah dan Ibuku setuju tinggal Hinata. Bukan, bukan mengenai Hinata mau atau tidak menikah denganku, tapi mengenai keluarganya. Aku harus menemui keluarganya terlebih dahulu sebelum menikahinya.
"Disini paman"
Setelah cukup lama berjalan mengelilingi tempat itu Hinata akhirnya berhenti didepan batu nisan bertuliskan Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Haruna.
Hinata menaruh dua ikat bunga lavender yang dibawanya sedari tadi keatas masing-masing nisan kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu, aku datang" ucapnya saat menaruh bungannya "Sudah lama ya aku tidak mengunjungi kalian disini" dia tersenyum lembut membuat hatiku merasa damai.
"Aku mau memperkenalkan seseorang pada kalian. Paman perkenalkan dirimu" dia menyikut lenganku pelan untuk menandakan jika saat inilah aku harus mulai bicara memperkenalkan diriku.
"Ah iya... Ehem selamat siang namaku Uchiha Sasuke. Maksud dari kedatanganku disini adalah selain memperkenalkan diri pada anda berdua tapi aku disini juga meminta restu untuk menikahi putri anda" aku meraih jemari tangan Hinata untuk menggengamnya erat-erat.
"Anda berdua tidak usah meragukan perasaanku pada putri anda karena aku mencintai putri anda dengan sepenuh hati. Kedua orang tuaku juga telah menyetujui hubunganku dengan putri anda, jadi aku harap" aku langsung membungkukkan badanku sembilan puluh derajat untuk untuk menunjukan rasa hormatku "Anda berdua juga menyetujui hubungan ini"
"Paman" Hinata sepertinya terharu akan ucapanku karena sekarang dia semakin mengeratkan tangannya menggenggam tanganku.
"Ayah, Ibu, sekarang kalian tidak usah mengkhawatirkanku lagi diatas sana karena disini ada paman yang akan menjagaku. Iyakan paman ?" aku menegakan kembali badanku dan mengarahkan punggung tangannya untuk aku cium.
"Iya itu benar" dia memerah saat aku memandanginya setelah mencium punggung tangannya yang kugenggam. Sungguh menggemaskan.
...
Dari makam kedua orang tuanya kami berdua tidak langsung kembali pulang tapi melainkan kami berdua menuju ke makam lain letaknya beberapa ratus meter dari makam kedua orang tua Hinata. Melihat masih tersisanya satu ikat bunga lavender yang masih dipegangnya membuktikan bahwa kami masih akan mengunjungi satu tempat lagi.
"Paman perkenalkan adikku, Hanabi" seperti halnya tadi kami berhenti didepan sebuah nisan. Tapi yang berbeda sekarang adalah nisan ini bukanlah nisan dari orang tuanya tapi melainkan nisan ini adalah nisan milik adik Hinata bernama Hyuuga Hanabi.
"Adikmu, jadi makam ini ?"
"Iya paman ini makam adikku Hanabi" Hinata menaruh bunga lavender yang dipegangnya diatas makam itu sebelum mengelus singkat nisan itu.
"Hanabi adalah keluarga satu-satunya yang aku miliki didunia ini semenjak Ayah dan Ibuku meninggal karena kecelakaan. Tapi tidak lama kemudian Hanabi juga menyusul kedua orang tuaku dikarenakan sakit kangker yang telah lama dia derita"
"Kangker ?"
"Iya, Hanabi terkena. Kangker hati" raut wajah Hinata berubah menjadi sendu saat mengucapkan itu "Meski sebelumnya dirinya telah dirawat beberapa bulan dirumah sakit, tapi itu semua percuma saja karena hal itu tidak menolongnya sama sekali hiks hiks" aku mendengarnya tersiak membuatku memalingkan wajahku kewajahnya yang masih melihat nisan adiknya. Airmata dengan jelas dapat aku lihat mengalir dari pelupuk matanya dengan deras membuatku mau tak mau memeluk tubuhnya untuk menenangkannya.
"Jangan menangis disini, kau tidak maukan melihat adikmu bersedih karena kau menangis karenanya"
"I-iya hiks hiks"
"Cup-cup anak baik"
"Hiks hiks" tapi dia tetap saja menangis tak henti-hentinya.
"Mau kucium agar perasaanmu menjadi lebih baik Aduh..." dia malah mencubit perutku saat mendengar guyonanku yang sebenarnya bukan guyonan.
"Apaan sih paman ini"
...
...
...
"Aku bersedia"
"Aku bersedia"
"Dengan ini kalian berdua aku nyatakan sebagai suami istri. Tuan Uchiha sekarang anda dipersilahkan untuk mencium istri anda" mendengar izin yang terlontar dari mulut pendeta itu mengakibatkan bibir yang satu dan yang lainnya bertemu.
Yeah... selamat... semoga bahagia...
Suara-suara itulah yang menggema digereja ini yang membuatku emosi saja karena menurutku triakan-triakan itu sangatlah mengganguku yang suka keheningan. Apa lagi berteriak-berteriak seperti itu menurutku sangatlah norak bagi ukuran orang kota seperti mereka semua yang ada disini.
"Baiklah sekarang waktunya pelemparan buket bunga dari pengantin wanita. Jadi aku minta para wanita lajang yang ada ditempat ini berkumpul didepan pengantin wanita untuk menerima buket bunganya"
Ya !
Banyak sekali wanita-wanita ditempat ini yang sangat antusias mengikuti ritual ini yang menurutku sangatlah tidak penting. Karena menurutku manamungkin kau dapat segera menikah jika kau mendapatkan buket bunga yang dilemparkan kepadamu padahal kekasih saja tidak punya, jadi tidak mungkinkan mitos itu terjadi. Heh... menyedihkan.
"Satu... dua... ti... ga... !"
Buket bunga itupun melayang tinggi setelah dilempar keatas menuruti ucapan pembawa acara hingga seorang wanita menangkapnya dengan sedikit akrobatik melewati dua orang disebelahnya.
"Hebat Sakura !" suara sirambut kuning membahana kemana-mana saat kekasihnya berambut pink yang sering membuat mataku sakit menangkap buket bunga itu.
"Aku berhasil !" teriaknya senang.
"Kau berhasil Sakura... Dengan begini sebentar lagi kita akan menikah !"
Apa-apaan dia itu, berteriak akan menikah ditempat ini. Cih tak tau malu. Bisa-bisanya aku lama berteman dengannya.
Jika ingin menikah ya menikah saja kenapa harus menunggu sampai sipinki itu mendapatkan buket bunga itu. Sunggu tidak logiskan.
...
Akhirnya semua acara resepsi pernikahan yang panjang itupun berakhir. Mobil yang dihiasi sedemikian rupa untuk pasangan pengantinpun sudah menunggu diluar gereja. Tentu saja dengan langkah matap aku dan Hinata yang ada disampingku berjalan keluar gereja. Terlihat beberapa orang berdiri disisi jalan tempat aku melangkahkan kaki menaburiku dengan bunga mawar.
Senang, tentu saja senang. Tapi yang senang itu bukanlah aku melainkan Hinata yang ada disampingku. Bisa dilihat sendiri dia tersenyum-senyum menerima perlakuan ini semua. Aku sendiri malah sebal dibuatnya karena entah aku lagi sial atau memang sedang nasib, tanpa aku bisa hindari kelopak bunga mawar itu menusuk bola mataku yang menyebabkan mataku berair.
"Paman kau menangis ?" menangis, apanya yang menangis, mataku tercolok nih... bodoh.
"Aku juga ingin menangis saat melihat sesuatu yang indah seperti ini" dia senyum-senyum melihatku mengeluarkan air mata... dasar.
Melewati taburan bunga beberapa meter akupun sampai disamping pintu mobil penganti. Kubuka pintu itu perlahan untuk dimasuki.
"Selamat tinggal adik bodohku, semoga kau sukses dengan Hinata !" suara Itachi dengan jelas dapat aku dengar saat mobil berjalan. Untuk apa dia berkata seperti itu. Sukses dengan Hinata tentu saja hal itu akan terjadi tanpa dia harus berkata seperti itu. Dasar sok bijak.
"Ehem" suara Ayahku membuat aku memalingkan kepalaku kearahnya yang ada dibelakangku.
"Ayah, Ibu ?"
"Hn" Ayahku bergumam singkat, sedang Ibuku hanya diam sambil tersenyum-senyum sendiri penuh arti.
"Kakakmu telah menikah, cepat atau lambat kau akan menikah juga dengan Hinata"
"Aku tau Ayah"
"Jadi-"
"Jadi ingat janjimu padaku ya" Ibuku memotong ucapan Ayahku cepat-cepat hanya untuk mengucapkan hal itu.
"Janji ? Janji apa itu Ibu ? Aku belum pernah mendengar sebenarnya janji itu janji apa ?" Hinata menjadi penasaran karena sampai sekarang aku belum pernah mengungkapkan tentang janji itu.
"Aku tidak mau bilang, biar Sasuke saja yang bilang padamu. Iyakan sayang ?"
"Hn" Ayahku bergumam lagi.
"Ibu" Hinata sedikit kesal karena dipermainkan oleh rahasia-rahasiaan ini.
"Hihihi" Ibuku hanya terkikik geli melihat ekspresi yang ditunjukan Hinata "Ayo saya kita biarkan saja mereka berduaan" Ibuku menarik lengan Ayahku meninggalkan tempatku berada.
Setelah mereka berdua pergi, Hinata yang penasaran tentang janji yang aku buatpun kemudian mendekatiku untuk mengetahui apa itu lebih lanjut.
"Janji apa itu paman ?"
"Aku tidak mau mengatakan sebelumnya sebelum kita menikah" tegasku.
"Kenapa ?"
"Pokoknya tidak"
"Beritahu aku !"
"Tidak !"
"Beritahu !"
"Ti-dak !"
"Kenapa sih paman ini ?"
"Karena jika aku beritahu nanti kau tidak mau menikah denganku !"
"Kenapa bisa begitu ?"
"Karena aku berjanji pada Ibu saat nanti kita menikah aku akan memberikannya lima cucu untuknya bermain" ups keceplosan.
"Cucu... l-lima"
Blus
Wajah hinatapun langsung memerah saat mendengar kata-kata itu.
"Tidak, aku tidak mau, apa lagi dengan paman, aku tidak mau !" Hinata langsung berlari meski kesusahan karena gaun dan hak tinggi yang dia kenakan. Tentu saja aku langsung mengejarnya karena aku selaku calon suaminya tidak ingin terjadi apa-apa padanya.
"Tentu saja denganku, mana mungkin dengan orang lain, kau harus mau Hinata !"
"Mana bisa, membayangkannya saja aku tidak mau apa lagi... tidak !"
"Bayangkan saja Hinata, menyenangkan kok !"
"Tidak !"
Dan begitulah seterusnya aku dan Hinata bermain kejar-kejaran dilingkungan gereja itu hingga aku berhasil memeluk perutnya untuk memutarnya.
"Hahahaha kenapa akukan calon suamimu jadi mana mungkin kau tidak mau. Kau lucu sekali Hinata hahahaha" aku masih berputar-putar bersamanya.
"Paman lepaskan aku, aku pusing"
"Tidak, tidak mau. Aku masih ingin seperti ini"
"Pamaaaaan"
Dan beginilah awal dari kehidupan bahagia kami. Mulai dari dua anak laki-laki, satu anak perempuan mengawali perjalanan keluarga kecil kami. Keluarga kecil yang menurutku akan sedikit bertambah lebih besar lagi saat anak yang dikandung Hinata lahir meski itu masih tujuh bulan lagi.
Aku ucapkan terima kasih pada Ibuku, karena memberikan lima cucu untuknya... itu tidak buruk juga.
"Papa gendong"
"Berisik!"
"Papa adik ngompol"
"Cih sial, Hinata putrimu ngompol itu, cepat ganti !"
"Apa paman tidak bisa menggantinya sendiri, akukan tidak boleh terlalu capek demi bayi kita !"
Heh mulai deh kebiasaan memerintahnya. Tidak anak pertama atau kedua dia selalu seperti itu. Bayi yang ada dikandungannya dijadikan alasan untuk menindasku. Tapi tidak apalah demi sijabang bayi. Yang penting target lima anak yang diminta Ibuku tercapai sebentar lagi...
...
...
Niatnya sih ingin lebih banyak lagi.
-The End-
Akhirnya end juga. Satu fic multi chap sudah selesai jadi saatnya melanjutkan fic yang belum terselesaikan, antara yang canon ataupun yang fantasy.
Semoga akhirnya tidak mengecewakan bagi para reader yang telah lama membacanya.
Sepesial tanks to ;
- Hyou Hyouichiffer,
uchihyuu nagisa,
Kimidori Hana,
Pasta Gigi Gum,
,
Vipris,
Kise Tachibana,
KatesCalifornia,
Nao-shi Arisu Caelum,
Hana 'Reira' Misaki,
Aiiu,
Hizuka Miyuki,
Mieko Asuka-kun,
finestabc,
kumiko lavender haruna,
Mikky-sama,
RK-Hime,
erryta, dan
n.
Terima kasih atas reviewnya selama ini karena tanpa review reader-reader sekalian maka fic ini belum tentu akan selesai. Saya ucapkan sekali lagi, terima kasih.
Tak lupa juga saya ucapkan terima kasih untuk para reader yang mau mereview chap terakhir ini.
Akhir kata selamat bertemu lagi dificku yang lainnya. BYE !
