Chapter 10
•
•
A/N : Yo! Seperti biasa yusuf kembali dengan membawa Chapter Fic RAGNAROK. Hm, yusuf ingat kan. Yusuf membuat fic ini hanya untuk menghibur dan ' bukan' untuk hal-hal yang lain... Jadi Maaf kalau yusuf salah menyebutkan Nama, Asal, atau apa saja saat yusuf sebutkan dalam Fic ini..
Ohya... Disini yusuf buat Para Prajurit Youkai [yang memakai wujud Manusia] dan Prajurit Olympus ' Satu kali' lebih besar dari Manusia Umumnya.
Dan di Fic ini Para Dewa nya Anime. Hal sama pun dengan Kami-sama
Dan satu lagi, yusuf akan menambahkan char dari Anime lain. Oke! Soo langsung saja..
.
.
.
Bola penghancur itu dengan telak menghantam Dada bidang sang Dewa Kematian Hades dan meledak... Mengikis apa saja yang ada di sekitarnya..
Para petinggi Fraksi dan yang lainnya hanya terpaku di tempat, melihat ledakan super besar itu terjadi. Kecuali, para Sembilan Youkai yang baru tiba di dalam Kekkai dibuat Para Da-Tenshi, Iblis dan Tenshi.
"Pertarungan macam apa itu?" Guman Gubernur Da-Tenshi dengan raut blang. Tidak lama manik Matanya menyipit memandang ke arah depan. 'Terlambat...' Batinnya kaget dengan Mata melotot. Melihat sepertinya efek ledakan yang kini belum mereda membentuk sebuah hempasan kuat menuju ke arahnya. Bukan ke arahnya saja, tapi kesegala arah yang mementalkan apa saja di laluinya.
WHUSS!
BRRKK!
Dengan itu hempasan Angin sangat kuat menghantam tubuhnya dan juga lainnya, sebelum menghantam Lapisan Kekaki. Beruntung para petinggi Fraksi yang lainnya bisa mempertahankan Kekkai. Mungkin kalau tidak, semua Gedung pencakar Langit yang masih tersisa akan roboh dan hancur akibat hempasan kuat itu. Sudut Matanya juga melihat beberapa Da-Tenshi, Tenshi dan Iblis terpental ke belakang akibat Hempasan Angin kuat itu, walau sebenarnya efek kecilnya saja.
Beberapa Menit kemudian Ledakan super besar itu mereda.
Ledakan besar itu hanya menyisakan kepulan debu tebal dan kehancuran total. Kota Kuoh, Kota yang tadinya tentram dan penuh Kedamaian. Sekarang hancur total.. Dengan di tengah-tengah terdapat sebuah kawah berdiameter hampir se-ukuran Kota Kuoh sendiri. Dengan kedalaman kira-kira 200 Meter yang terlihat dari atas.
'Semoga Kaa-san, Tou-san sudah di ungsikan..' Batin sang Sekiryuutei dengan perasaan cemas. Berharap tadi kedua Orangnya sudah di ungsikan oleh Para Da-Tenshi, Tenshi dan Iblis. Memandang Kota kelahirannya kini 'hancur total' dari balik Barier dengan pandangan sulit di artikan.
Di Waktu yang bersamaan saat setelah Bulatan Cahaya jatuh ke Bumi
"... Sudah Dua Kali terjadi Fenomena 'aneh' belakangan ini. Pertama kali Sebulan lalu Bulan Purnama berubah Warna yang hanya dalam Satu menit berubah total menjadi Merah Darah. Berbeda seperti Sebulan lalu, Fenomena Alam 'aneh' itu terjadi di sebagian belahan Bumi. Dan saat ini yang kedua kalinya. Entah dari mana, dengan tiba-tiba Awan Hitam tebal menyelimuti Atsmofir Bumi kita ini. Namun, Pemirsa. Saat ini Fenomena Alam 'aneh' ini terjadi di seluruh belahan Bumi. Beberapa Orang-Orang mengatakan itu Hari Kiamat akan tiba, tapi sampai saat ini tidak ada yang bisa di benarka-...DUAR! SHUUT! ...BOM!"
Terdengar suara Reporter dari Televisi yang sedang menyala di sebuah ruangaan Keluarga. Sedang melaporkan Fenomena Alam 'aneh' yang kini sedang terjadi. Dimana Awan Hitam tebal perlahan-lahan menyelimuti seluruh Permukaan Bumi. Tapi sebelum menyelesaikan Laporannya, sang Reporter di kagetkan sebuah suara detuman hebat di sekitar disusul beberapa suara ledakan terdengar. Terdengar jelas dari Televisi yang sedang menyala memperlihatkan sang Reporter sedang menutup kedua telinga dengan kedua tangannya yang salah satunya masih menggenggam sebuah Mic, dengan Mata tertutup 'kaget' dan 'takut'. Saat suara detuman keras disusul suara ledakan terdengar kemabali...
"KAMI-SAMA!... M-m...mahluk apa itu!" Kembali terdengar dari Televisi yang menyala. Sangat berbeda dengan yang tadi, sekarang terdengar Nada ketakutan dan kekagetan luar biasa yang terkandung dalam suara dari Televisi itu.
Terlihat dari depan Televisi yang kini sedang Menyala. Sebuah Sopa yang diduduki oleh sebuah Keluarga lengkap yang di anugrahi oleh Dua Anak dengan gender berbeda. Hanya diam dengan sedikit raut ketakutan yang di tunjukan oleh Kelurga lengkap itu, saat melihat apa yang kini sedang terjadi di Televisi.
"I-ibu~...Sera takut!" Anak bergender Perempuan sekitar 9 Tahunan itu bersuara dengan nada Takut khas Anak kecil. Seraya kedua tangan mungilnya mengeratkan pelukaannya dari tubuh sang Ibu.
"Suutt~... Sera jangan takut. Disini ada Ayah, Kaka dan Ibu.." Ibu Anak itu menjawab dengan nada lembut kepada Anaknya yang bernama depan 'Sera', tidak lupa tangan kanannya mengelus suarai Hitam Anaknya penuh perasaan. Berharap menghilangkan 'ketakutan' Anaknya. Walau sebenarnya ia juga takut dilubuk Hatinya. Melihat Televisi tidak jauh di depannya yang memperlihatkan Sosok Mahluk atau mungkin Monster yang hanya kerangka nya saja yang sedang bertarung dengan Mahluk lain. Tapi kalau lebih teliti terlihat dari kerangka Tulang yang membentuk sosok Mahluk itu, dengan perlahan tumbuh Daging..
Sang Suami hanya melihat Anak Perempuannya dengan raut tak terbaca, tidak lama mengalihkaan pandangannya ke arah Anak Laki-Lakinya yang saat ini di pangkuannya dengan raut tak terbaca juga..
'Aku janji, apa pun yang akan terjadi. Aku akan melindungi kalian..' Batinnya, insting Ayah dalam dirinya mengatakan akan ada sesuatu yang besar akan terjadi, entah itu apa..yang pasti saat itu dia akan menjaga dan melindungi Anggota keluarga kesayangannya.
Di Kutub Utara
"Nii-san masih jauhkah tempatnya?" Suara sedikit Feminim keluar dari Mulut seorang Gadis berkulit Coklat berambut Hitam dengan Style jarang di gunakan, yang kini ia sedang duduk di atas sebuah Perahu yang muat untuk dua atau tiga Orang. Bertanya kepada Nii-san nya yang sedang berdiri di tepi Perahu dengan kedua tangannya aktif menggayung Perahu untuk bergerak..
Tidak jauh dari sang Gadis terlihat sosok yang di panggil Nii-san oleh Gadis itu hanya diam memandang sekitar yang hanya Lautan berlapis Es tipis di permukaan lah Matanya lihat. Hujan Salju Hitam...tdak mengganggu penglihatannya untuk memandang sekitar yang dimana beberapa bongkahan Es membentuk Gunung kecil mengelilingi area sekitar. Beruntung ia dengan adiknya memakai Baju berlapis Jaket tebal, jadi hawa dingin sekitar tidak masalah untuknya..
KRK!
Suara retakan lapisan Es permukaan Air laut menarik perhatiannya. Ia melihat retakan itu semakin menjalar disusul sebuah cahaya terang dari dasar Laut menyeruak ke atas. "Katara! Kita sudah sampai dan tepat waktu." Katanya tidak mengalihkan perhatiannya kepada suber Cahaya terang dari dasar Laut itu.
KRRKK! KKRK!
Retakan itu semakin mejalar kemana-mana di iringi sesuatu bercahaya menyilaukan dari dasar Laut semakin menyeruak ke permukaan.
BLYURRR!
Kaka beradik itu hanya terpaku di atas Perahu. Saat sesuatu bongkahan Es bundar menyumbul dari dasar Laut.
Di dalam sebuah Ruangan
Hanya cahaya Dua Obor Api yang berada di dinding lah yang menerangi ruangan bernuansa Ukiran Kuno itu. Terlihat dari cahaya remang-remang dari pojok ruangan ini terdapat sebuah Patung seorang Pemuda sekitar 19 Tahunan
KRK! KKRRK!
Tiba-tiba permukaan Patung seorang Pemuda itu retak di iringi sebuah cahaya menyeruak dari cela retakan itu yang menjalar ke setiap permukaan Patung. Membuat ruangan bercahaya minim itu terang akibat cahaya yang keluar dari cela retakan Patung itu.
Sang 'Pengendali' dan Sang 'Legend Dragon Slayer' yang Eksistensi nya pernah di kumandangkan di atas tanah Bumi ini akhirnya bangkit. Setelah Ratusan Tahun tertidur dari masa kejayaannya. Hanya untuk menunggu...
Menunggu Hari Takdir tertulis itu tiba..
~0-0-0-0-0~
"APA! Anda tidak mau ber-Aliansi!" sebuah suara menggelegar di dalam Ruangan megah bernuansa Kuno dengan Aura berkapasitas besar menyeruak dimana-mana. Yah...suara penuh kemurkaan namun penuh Wibawa itu meluncur dari Mulut sang Dewa Pengubah takdir, Izanagi. Kepada Si tua Odin, pemimpin Dewa Utara yang menentang tidak bersedia Ber-Aliansi dengan Para Pemimpin Dewa besar lainnya. Bagaimana tidak 'murka'. Dia sudah susah payah mengundang Para Dewa Mitologi [besar] di Dunia, hanya untuk pertemuan membahas Takdir yang tertulis itu dan membahas Aliansi Para Dewa yang bermaksud untuk mencegah Takdir itu 'terjadi'.
Suatu saat akan terjadi Perang BESAR dimana semua Ras yang pernah menunjukan Eksistensi di Bumi akan be-Perang. Entah sebagai lawan atau apa. Namun Takdir tertulis itu melibatkan Ras Dewa Youkai dan Dewa Olympus.
Yah. Itulah isi takdir tertulis itu. Sangat jelas Takdir tertulis itu berpusat kepada Ras Dewa Youkai dan Dewa Olympus yang dia tau Ribuan Tahun lalu hingga detik ini mereka tidak 'Akur'.
Hening
Namun Aura membunuh dalam ruangan itu semakin pekat.
"Biarkan saja, Izanagi-dono. Aku pun terpaksa ber-Aliansi. Karena Dewa Youkai dan Dewa Olympus sangatlah kuat dari Dewa-Dewa Mitologi sekarang." Ucap Siwa sebagai perwakilan Dewa Mitologi Hindu. Bagaimana pun ucapannya bukan bohong belaka. Karena mengingat kembali Terbunuhnya Dewa Indra, ia yakin ber-Aliansi dengan Para Dewa Mitologi besar lainnya untuk mencegah Takdir tertulis itu, pilihan yang tepat. Bagaimaana pun dia tidak mau Eksistensi Semua Ras di Bumi musnah Akibat apa yang terkandung dalam Takdir tertulis itu.
Izanagi diam menatap dengan serius kepada Para Dewa yang kini sedang duduk di kursi bernuansa mewah yang mengelilingi Meja dalam ruangan ini, lalu berkata dengan wibawa. "Baik sudah di putuskan, Aliansi Para Dewa di bentuk."
"..." Sang Pemimpin Dewa Mitologi Budha hanya diam dengan raut wibawa.
"..." Pemimpin Dewa Mitologi Mesir Kuno pun hanya diam, dengan Topeng corak Birunya.
"..." Siwa hanya diam.
"Baiklah aku putuskan Mitologi Nordik bergabung dalam Aliansi." Pengawal Dewa Odin, Rossweisse. Tersenyum, rupanya Tuannya berubah pikiran. Walau dirinya tidak tau alasannya tapi itu tidak 'penting'..
Dengan itu Pertama kalinya sepanjang Sejarah 'Aliansi Dewa' terbentuk. Tidak lain untuk mencegah Takdir tertulis yang selama ini tidak langsung menghantui mereka..
RAGNAROK™
::
Naruto © Masashi Kishimoto™
High School DxD © Ichiei Ishibumi™
::
Author : yusufnur321™
::
Summary :
Perang DEWA kembali. Setelah Ribuan Tahun lalu MEREDAM...Dan sekarang berkobar lebih BESAR..dengan membawa DENDAM...Membuat Tiga Fraksi dan beberapa DEWA Mitologi sekarang ikut adil..
Warning : Godlike, Strong, Typo,...Dll
.
Kota Jepang
DUAR!
SHUUT!...BOM!
Terlihat dari atas terdengar berberapa ledakan di Kota yang bisa di kenal tempatnya Matahari terbenam itu. Terlihat juga beberapa Gedung Pencakar roboh setelah di hantam sebuah Energi seperti Laser berwarna Hitam ke Orange 'an atau setelah di tabrak sosok Mahluk raksasa atau Sosok Mahluk berbentuk Manusia yang terlihat mengerikan. Bagaimana tidak 'mengerikan'. Mahluk-Mahluk berukuran tidak 'lazim' ini yang entah datang dari mana yang tiba-tiba datang dan saling menyerang satu sama lain ini hanya Daging, Urat-Uratnya saja yang tumbuh. Ingat Daging dan Urat-Uratnya saja yang terlihat. Sepontan saja semua Penduduk Kota itu lari pontang-panting menjauh, asal dirinya selamat dan tidak melihat sosok Mahluk-Mahluk itu.
BRRK!
Mahluk berwarna Merah pekat seperti Manusia itu tiba-tiba mendarat di atas Atap Gedung tinggi. Terlihat dari dekat, ternyata Warna Merah pekat itu adalah Daging sosok Mahluk itu, tapi perlahan tapi pasti dari permukaan Daging berwarna Merah Pekat itu di tumbuhi gumpalan-gumpalan kecil berwarna Putih ke 'Coklatan' yang ternyata itu adalah Kulitnya.
"Dunia apa ini?" Guman si Prajurit Perang Olympus. Setelah memandang ke sekitar yang hanya Bangunan-Bangunan tinggi lah kedua Matanya lihat. Karena dari yang ia tau sebelum kesadarannya di ambil paksa ia di tengah-tengah Medan Perang, tapi entah kenapa...setelah itu ia tidak tau apa-apa hingga sekarang. Dan apa lagi yang ia tau kalau sekitar Medan Perang adalah perbukitan kecil yang seharusnya saat ini ia pijaki. Namun saat akan bersuara lagi. Sesuatu dengan kecepatan tinggi dari depan ke arahnya.
'Sial terlambat!' Rutuk batinnya seraya membawa kedua tangannya kedepan Kepala.
DUGHK!
Walau berhasil menahan serangan dari depan berupa tinjuan itu. Tapi tetap karena tekanan kekuatan tinju itu besar, terpaksa badannya terhempas dengan kuat ke bawah..
BUUM!
Debu mengepul tebal setelah sosok berwarna Merah pekat seperti Manusia itu terhempas dengan kuat menghantam permukaan Aspal setelah menjebol Satu Gedung pencakar Langit..
"AAGGRRRRR!"
Terlihat sang pelaku Mahluk seperti Gorila setengah Manusia itu mengaum dengan keras...seoalah menunjukan kesenangan telah menumbangkan salah satu Prajurit Olympus, sama seperti Mahluk seperti Manusia tadi. Mahluk seperti Gorila setengah Manusia itu belum di tumbuhi Kulitnya. Membuat Orang-Orang yang melihatnya pasti takut tingkat Dewa. Namun auman itu terhenti, saat sebuah Anak Panah berukuran tidak 'lazim' berpendar Emas kepucatan. Meluncur dengan kecepatan tinggi dari arah depan mengincar Kepala sosok seperti Gorila setengah Manusia itu. Tidak mau Tewas dengan cepat Mahluk seperti Gorila setengah Manusia itu membawa tangan Kirinya yang memegang Perisai ke depan Kepalanya.
DESING!
DESING! DESING!
Dengan itu Anak Panah berpendar Emas kepucatan itu bertabrakan dengan Perisai Mahluk seperti Gorila setengah Manusia itu, tidak hanya Satu. Namun disusul Dua Anak Panah datang dengan cepat mengujam Perisai Mahluk seperti Gorila setengah Manusia itu.
Terlihat dari atas Langit yang di penuhi Awan Hitam tebal, Kota Jepang seakan sedang terjadi Perang. Bagaimana tidak. Gedung-Gedung yang tadi berdiri kokoh, sekarang di beberapa tempat hancur atau roboh ke Gedung di dekatnya. Terlihat juga Para Penduduk itu lari mengikuti insting untuk menyelamatkan diri. Bahkan terlihat juga beberapa tentara Militer Jepang sudah turun, menembaki beberapa Mahluk mengerikan yang menimbulkan kerusakan itu...
.
.
Duduk dengan tenang dalam ruangan pribadinya. Walau dalam pikirannya ia bingung dan cemas. Bagaimana tidak bingung dan cemas. Lima Belas Menit lalu ia duduk meminum Teh dengan tenang di ruangannya, setelah mengerjakan beberapa Dokumen penting. Sepuluh Menit Kemudian dia sedang tenang-tenangnya menikmati Tehnya. Di kagetkan, walau tidak terlalu kaget.. Suara histeri Orang-Orang dari arah luar. Walau enggan tapi rasa penasaran yang mendominasi untuk segera ia cek. Dan apa yang dia lihat adalah membuat dia kaget. Bulan Purnama yang tadi bersinar terang sekarang gelap total. Bukan karena Mendung atau apa. Tapi sebuah Awan Hitam tebal muncul perlahan menutupi Langit. Lima Menit kemudian, dengan tiba-tiba beberapa Gedung Pencakar Langit hancur atau roboh setelah di hantam sesuatu dengan kecepatan tinggi. Beruntung ia berada di dalam Gedung, lantai Enam. Jadi kejadian tiba-tiba itu ia lihat semua.
CKLEK!
Suara Pintu terbuka menghentikan pikiran sang Kaisar Jepang itu. Mengalihkan pandangannya ke arah Pintu yang perlahan terbuka memperlihatkan Orang berpangkat Jendral Militer. Jendral Militer Jepang itu membungkuk Hormat ke arahnya lalu berkata. " Lapor Tuan, mungkin anda tidak percaya. Namun itu memang benar, kalau yang menghancurkan beberapa Gedung adalah Monster..." Dengan tegas khas Militer
Respon sang Kaisar Jepang itu tentu kaget, namun secara bersamaan dalam batinnya tidak percaya Laporan Jendral Militer itu. Memang, setelah melihat beberapa Gedung di sekitar Gedung saat ini dia tempati hancur atau roboh. Dia langsung menyuruh beberapa 'Orangnya' untuk mengecek, apa yang terjadi. Kasir Jepang itu memejamkan kedua Matanya..seraya menghela nafas mencoba menghilangkan beban terasa di bahunya. Membuka kedua kelopak Matanya menatap Jendral di depannya dengan serius. "Apa Laporan mu benar." Ucapnya.
"Benar Tuan.."
Menghela nafas kembali, batinnya masih sedikit belum percaya. Bagaimana mungkin Zaman Modern ini ada 'Monster'. Pikirnya. Namun dia tau Jendral itu tidak akan membohonginya dan kalau memang benar,...ahhh tapi dia harus melihat buktinya. Namun mengingat kembali saat dia melihat beberapa Gedung tadi Roboh dan Hancur setelah di hantam sesuatu.. Dia kira kalau itu adalah 'Misil' dari Negara Lain yang akan meng-Invasi Negara ini. "Haahh.." Menghela nafas berat, seraya memijit keningnya entah kenapa tiba-tiba Kepalanya berdenyut-denyut..
" Kalau memang benar... Pertama, ungsikan seluruh Penduduk ke Negara tetangga yang terdekat. Dan soal Monster yang kau katakan tadi, habisi tanpa sisa.." Kata Kaisar Jepang itu dengan tegas, lalu berdiri dan melangkahkan kedua kakinya untuk keluar..
"Baik, Tuan." Jendral itu membalas dengan tegas juga. Lalu memberi ruang untuk Kaisarnya lewat dan keluar ruangan ini.
~0-0-0-0-0~
Terlihat masih ada sedikit kepulan debu yang menghiasi kawah berdiameter besar itu. Samar-samar namun pasti sebuah bayangan seperti Manusia terlihat di tengah-tengah Kawah besar itu, perlahan kepulan debu itu menghilang dibawa hembusan Angin yang memperlihatkan sosok Juubi no Ookami atau bisa kita kenal Naruto Otsutsuki. Berdiri dengan tegap di tengah Kawah, dengan kedua Matanya masih menatap intest ke permukaan tanah yang lembab di depannya. Tiba-tiba sebuah seringaian di buatnya..
"Satu Dewa Olympus telah ku bunuh! Khekhekhekhe.." Gumannya di akhiri tawa gelap. Mengadahkan Kepalanya ke arah Langit yang di selimuti Awan Hitam tebal dengan datar dan membatin . 'Selanjutnya kalian akan ku Bunuh, terutama kau Ares...'
Tap!
Tap!
Tap! Tap! Tap! Tap!
Tidak lama Sembilan sosok yang tadi baru tiba ternyata adalah Para Dewa Youkai yang telah bangkit. Mendarat tidak jauh dari Naruto.
"Kau berlebihan Naruto..."
Naruto mengalihkan pandangannnya ke asal suara tadi dengan datar. "Rupanya kalian dan apa, Berlebihan ? Jangan harap aku bersikap baik hati kepada salah satu Dewa Olympus." Ucapnya dengan suara kembali normal namun berbahaya disaat bersamaan. "Lagi pula, tidak sopan memanggil pemimpin kalian dengan nama Aslinya, Gaara..." lanjutnya masih dengan nada berbahaya.
Dewa Youkai bersurai Merah bata yang bernama Gaara itu hanya diam dengan raut datarnya. 'Kau sudah berubah Naruto.' batinnya. Halnya pun sama dengan Dewa Youkai lainnya. Membatin kalau Pemimpin Parade Malam Seribu Youkai ini berubah..
Hening
Entah kenapa suhu di antara Kesepuluh Dewa Youkai terkuat itu turun drastis. Apa lagi Kedua Manik Mata Sang Juubi menatap balik Mata jeda Sang Shukaku dengan berbahaya..
"Sepertinya, ada Mahluk ber-Aura seperti Kami-sama.. Namun yang ini tidak ada apa-apanya dengan Kami-sama! dan juga aku merasakan dua Aura Naga .." Suara dari Saiken a.k.a Utakata memecah keheningan itu, sekaligus memutuskan adu Mata Antara Naruto dan Gaara.
"Hn, benar. Ini seperti Aura Kami-sama namun kecil..dan juga Naga? Khukhukhu..." Timpal Sang Kyuubi no Yoko alias Menma Kaka dari Yasaka. Merasakan Aura suci dan Naga dari arah Selatan. " akan ku bunuh kedua Naga yang tersesat itu." lanjutnya dengan nada gelap penuh Dendam. Rupanya ingatan tentang kematian Ibu dan Ayahnya pada saat Invasi ras Naga kedaerah Youkai tiba-tiba terlintas di ingatnya, saat mendengar Kata 'Naga' yang di ucapkan Utakata. Membuat Dendam dalam hatinya berkobar.
"Terserah... Mau kau bunuh kedua Naga itu atau tidak, aku tidak peduli... Namun Kita lanjutkan Perang kita, aku sudah tidak sabar membunuh Dewa-Dewa keparat itu terutama Ares..." Setelah mengatakan itu Naruto terhisap oleh lubang Vortex dari Mata Kanannya yang berwarna Merah.. Walau dirinya mempunyai Dendam kepada Ras Naga... Namun rasa Dendam kepada Dewa Olympus lah yang paling membara, apa lagi kepada Ares...sudah tidak bisa di gambarkan seberapa Dendamnya kepada Dewa 'Keparat' itu..
Hening kembali terjadi disitu.
"Pergilah, Dua Naga ini Urusanku!"
.
Tidak jauh dari ke Sembilan Dewa Youkai berada. Para Petinggi Fraksi dan yang lainnya di kagetkan oleh Sepuluh pancaran Energi kuat dan penuh kebencian dari dalam Barier.
"S-siapa mereka sebenarnya?" Guman terbata yang di keluarkan mulut Sona yang kini tertunduk di atas Aspal yang retak-retak. Karena tidak kuat mempertahankan dirinya saat di Udara akibat pancaran Kesepuluh Energi berkapasitas Besar itu. Itupun masih terhalang oleh Lapisan Barier, kalau tidak. Entah...apa dirinya bisa mempertahankan kesadaraannya.
' Hades, kalah.' Batin Albion dari Alam bawah sadar Vali. Ddraig, dia hanya diam di Alam Bawah sadar Issei. Ada sedikit rasa Khawatir dalam dirinya...saat kesembilan Dewa Youkai berkumpul tidak jauh darinya.
"Ada yang mendekat." sebuah suara gumanan dari Sang Legend Da-Tenshi membuat Para Da-Tenshi, Tenshi dan Iblis kaget dan bersiaga. Bagaimana pun juga pendengaran mereka tajam, hal sebuah gumanan sudah pasti masuk ke pendengaran mereka..
Tap!
Tidak lama setelah kata-kata Legion, tiba-tiba datang sosok bertubuh tegap di balut Armor Merah sedikit loreng Hitam, bersurai Hitam dengan Mata berkilat tajam berbahaya memandang ke arah meraka semua, jangan lupa seringaian terlihat di wajah tampannya.
"Hn. Rupanya menjelma menjadi seorang Bocah.." Guman Menma yang baru tiba dengan sepasang Iris vertikanya tidak lepas dari Issei dan Vali. Lalu mengalihkan pandangnnya ke arah Cao Cao dan Legion dengan tajam sebelum memandang ke arah petinggi Tiga Fraksi..
Di suatu tempat
"Semua mahluk yang Anda Segel sudah bangkit."
"Belum." Sebuah suara penuh kewibawaan menjawab pertanyaan tidak langsung itu.
"A-apa Anda akan melepaskan 'mereka', Kami-sama."
"Ya. Dan saat itu 'takdir' dalam kehidupan Mahluk Hidup di Bumi akan ku lepas.."
•
•
•
~_To. Be. Continued_~
A/N :
Itulah Chapter 10.. Bagaimana ? Apa semakin ngaco entahlah..
Dalam Chapter ini yusuf hanya berfokus kepada penjelasan Alur...walau entah alurnya bisa di pahami oleh para Readrs atau enggak...
Tentang kapan Perang akan meletus...
Mungkin kalau yang bacanya teliti...pasti sudah tau..
Sekian dari yusuf. Semoga menghibur...
Oh satu lagi. Soal dewa Olympus...nanti
Soo Next
yusuf321
Out~
