ANIMAL GUARDIAN

By Hyuann
Kuroko No Basket Belongs to Fujimaki Tadatoshi
Don't like don't read
Warning: a bit OOC, typo, EYD kemana-mana, strayanimalGOM, contain abusing

Keterangan:
"aaaa" : bicara (terselip huruf italic jika terdapat kata-kata dalam bahasa jepang atau bahasa serapan lainya)
"aaaa": Telepati
[aaaa]: Telepati dalam flashback
'aaaa': Telephone
'aaaa'
: dalam batin/pikiran

CHAPTER 9: Ups Found Out

Previous:

Bagi sang kakak, bisa mengobrol langsung dengan sang adik adalah kesempatan yang sangat ia nantikan setelah belasan tahun. Menatap langit hitam di atasnya, warna langit yang jarang ia nikmati di dunia aslinya, kini ia hampir setiap hari dapat menyaksikanya. Ada rasa syukur yang ia panjatkan pada The One—sang Pencipta. Rasa syukur yang memang jarang ia panjatkan, bahkan tak pernah setelah belasan tahun lamanya.

Bukan jarang berdoa,
namun apalah doa ketika dirimu membenci penciptamu

.

.

9th Chapter begin here:

Sebelumnya, dirinya pernah mengatakan bahwa ia lelah mencari dirinya sebenarnya. Itu benar.
Menjadi salah satu dari sekian triliun homo-sapiens yang hidup di dunia.
Menjadi satu dari ratusan juta remaja labil di dunia yang berada dalam masa pencarian 'jati diri'.

Ia sadar akan generalitas yang ia alami. Toh kenyataan ia hanya manusia biasa yang memiliki masalah layaknya remaja biasa. Tak berarti, dan hanya hal biasa, hal umum. Ya, ia sadar.

Mudah. Mudah untuknya menghindar dari orang lain.
Tapi tidak mudah baginya menghindar dari dirinya sendiri.

Mudah. Mudah untuknya menghindar dari pertanyaan orang lain.
Tapi tidak mudah baginya menghindari pertanyaannya sendiri.

Mudah. Mudah untuknya bersembunyi dari orang lain.
tapi tidak mudah baginya bersembunyi dari dirinya sendiri.

Kuroko Tetsuya lelah. lelah mencari, siapakah Kuroko Tetsuya di dunia ini?
Namun ia tidak bisa menghindar dari pernyataan dan pertanyaan itu.

Siapakah dirinya di dunia ini?

.

.

Tap tap tap tap

Duk duk duk

"Oper kemari bolanya!"

"Hey kau! Apa yang kau lakukan! Rebut bolanya!"

"Yosh Shige! Masukan bolanya!"

"Shoot bolanya, Ogiwara!"

"Hancurkan ringnya, Ogiwara!" (oi, oi... seriusan yang ini?)

"Yosh! INI DIA!"

DUNK

"YOSH! NICE SHOOT, SHIGE/OGIWARA!"

PRIIIIITTTTT

"YOSH SEMUANYA BERKUMPUL!" Suara berat dari pria berusia 60an yang memecahkan euforia manusia-manusia muda di tengah lapangan dan menciptakan setitik debaran was-was guna mempersipakan mental akan setiap kata yang akan terlontar dari sang pelatih yang merupakan salah satu dari matan pemain nasional Jepang ini.

Aida Kagetora, terdengar familiar dan benar saja jika pria tua bangka yang sebagian rambut coklatnya mulai tertutup warna putih keabua-abuan. Ia adalah ayah dari Aida Riko, sang ibu angkat dari Kuroko Tetsuya, which is beliau juga adalah kakeknya.

"Otsukaresama deshita minna-san" Panjang umur, baru dibahas si biru muncul, menambah degupan-degupan bagai genderang yang berderang bersama badai. Nyaris saja nyawa mereka melayang dibuatnya.

"Tetsu-chan, kau ingin membuat jii-chan mu tercinta ini mati muda? Kau tidak sayang jii-chan, ya?" Sang kakek dengan komikalnya yang pertama kali sembuh dari shocking-effect yang diberikan sang cucu.

"Sumimasen deshita, Kantoku! Tapi aku sudah berada disamping kantoku sejak kantoku membunyikan peluit tanda permainan berakhir. Dan lagi, usia 62 tahun sudah bukan lagi usia muda, Ojii-san!" Seperti biasa, sopan, datar dan tajam.

'huwaaa antara putri dan cucu sama-sama sadis!' batin para audience yang sweatdrop saja melihat drama sabun kakek dan cucu tersebut. Apalagi cara sang cucu menanggapi curahan cinta sang kakek mengingatkan mereka pada sang putri dari pelatih yang sempat ikut membantu melatih tempo hari. Mungkin bedanya sang cucu lebih menanggapinya dengan wajah datar, sedangkan sang putri errr—ya,kalian tahulah.

"Ehem! Baiklah untuk evaluasi kali ini aku mulai melihat adanya kemajuan dari tim Reguler. Untuk latihan selanjutnya aku ingin melihat kemajuan lain mengingat kita akan bermain tanpa kehadiran Tetsu-chan di lapangan!"

Jujur saja, kalimat terakhir memang sedikit menusuk hati sang phantom. Namun ia memilih diam, toh perkataan tersebut tidak salah. Ia tidak akan dikeluarkan ke lapangan kecuali dalam keadaan yang amat terdesak. Setidaknya ia belajar untuk bersyukur jika ia masih bisa begabung bersama basket Seirin meski bukan sebagai pemain. Untuk membuktikan perkataan sang sahabat—yang mengquote milikinya dulu—jika bermain basket tidaklah harus menyentuh bola, dan tidak lupa jika bukan hanya para pemain yang berperan besar dalam pertandingan, melainkan peran dari pelatih, manager, bahkan para bench warmer. Dengan senang hati tak mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan untuk berjuang dalam hal yang ia cintai meski dengan cara yang berbeda.

"Daijoubu, Kantoku tidak perlu khawatir!" Ketegasan yang tersuarakan tak lain tak bukan adalah suara dari sang kapten sendiri. "Ada tidaknya Kuroko di lapangan, yang terpenting adalah dia ada untuk Seirin! Benar begitu, Seirin?"

"OSU, SENCHOU!" Seluruh pemain berteriak serentak, termasuk senpai kelas tiga yang masih setia ikut berlatih meski tidak akan sering mengikuti pertandingan, bahkan sang manager wanita— Hayaze Chika-san yang masih setia berada di bench sembari membereskan perlengkapan latihan. Menyisakan sang pelatih yang menyeringai puas dan sang langit yang terkejut luar biasa dengan wajah datarnya.

Furihata Kouki, baru diangkat menjadi kapten setelah Winter Cup yang mereka menangkan. Siapa sangka pemain yang justru lebih lama di duduk di bench, kikuk, dan sangat gemetaran layaknya chihuahua menghadap singa jantan ketika pertama kali dimasukan dalam pertandingan saat Interhigh justru sanggup menyuarakan ketegasan dan kepemimpinan yang berani. Belum termasuk bagaimana performanya ketika Winter Cup yang cukup terampil dalam memberi assist meski hanya dalam kurun lima menit setiap pertandingan. Bukan, bukan karena ia payah, dikarenakan berbagai pertimbangan seperti dahulukan senior dan masih perlunya ia belajar, sebagai Point Guard kemampuanya tidak boleh diremehkan. Tentu saja keputusan sang Kapten sebelumnya—Otsubo Taisuke, serta pemain kelas tiga yang lain tidak perlu khawatir akan pilihan yang salah menjadikan Chihuahua itu menjadi serigala jantan yang memimpin kawanan.

Kini semua ikut menyuarakan bagaimana mereka setuju untuk menjadikan Kuroko sebagai manajer bukan semata-mata atas dasar kemampuan analisis dan observasinya melainkan karena bagaimanapun juga Kuroko adalah bagian dari tim Seirin, keluarga-kawanan-tim-basket Seirin. Dan kawanan tidak akan melupakan maupun meninggalkan anggotanya. Furihata Kouki, sang pemimpin kawanan berhasil menjaga dan memimpin kawanannya.

Kuroko Tetsuya? jangan tanya! Seperti yang sebelumnya dinyatakan, ia terkejut luar biasa meski tak tampak di luar. Ada sensasi aneh di perutnya seperti ratusan kupu-kupu yang menyebabkan perutnya serasa membuncah karena senangnya. Hanya senang, senang yang ia sendiri tak mampu menjelaskanya. Ia tidak ditinggalkan.

"Yosh cukup sudah! Sekarang untuk evaluasi yang sebenarnya, Tetsu-chan dan Hayaze-chan sudah merangkumnya untuk kita, dan aku akan membacakanya. Jadi dengarkan! Pertama..." Pelatih Kagetora mulai membacakan evaluasi yang sebelumnya sudah dirangkum oleh sang phantom-manager (Author: unik juga namanya XD) dan satu-satunya wanita di gym. Dan bahkan sang phantom sendiri juga menuliskan kemajuan yang terjadi dalam tim, menguatkan statement dari pelatih menjadikannya benar adanya.

Meski hatinya merasa senang, raganya berdiri tegak satu langkah kebelakang di samping sang pelatih dan nampak sangat fokus mendengarkan, sebenarnya pikirannya melanglang-buana pada sesosok warna merah yang sempat ia temui tempo hari. Aneh memang megingat bagaimana pertemuan dengan orang asing dan janji yang mereka buat—meski tidak jelas—membuatnya ingin sekali janji itu lekas ditepati, apalagi peristiwa yang telah ia saksikan langsung dan live di depan matanya. Alasan pertama tentu ia menginginkan jawaban, alasan kedua—ia tidak yakin—tapi ia sangat ingin untuk segera bertemu dengan pria itu.

"Baiklah, latihan hari ini sudah selesai, Terima kasih atas hari ini!" Ups, semoga tak ada yang sadar akan tarikan paksa ke bumi sang langit yang baru saja melanglang buana. Pelatih tua mengakhiri sesi latihan hari itu dan hanya berdiri maklum sesaat menyaksikan anak-anak didiknya yang berhamburan.

"HAI, ARIGATO GOZAIMAZU KANTOKU!" demikian kerumunan homo-sapient berkeringat mulai berhaburan kesana-kemari. Ada yang memilih untuk duduk lebih dahulu di bench, ada yang melanjutkan pemanasan hingga melakukan one-on-one, ada pula yang langsung menuju locker.

Tugas sang langit saat ini membantu sang manager wanita dengan membereskan bola-bola yang berserakan, setelah itu bertiga dengan sang pelatih akan membahas rencana latihan esok hari dan menu latihan pribadi para pemain. Pulangnya seringkali lebih akhir dibanding para pemain, tapi toh ia tetap senang dengan tanggung jawab yang ia emban.

Tadi tersurat ada yang sedang one-on-one. Dan kebetulan yang sedang melakukannya adalah Ogiwara Shigehiro dengan salah satu kouhai. Saling berhadapan di salah satu sisi lapangan. Senpai dalam mode defense, kouhai dalam offense. Sang kouhai telah berhasil melewati senpainya dan dengan cepat melancarkan dunk di udara. Bukan omong kosong jika Ogiwara dinobatkan sebagai Ace, tak kalah cepatnya ia berbalik dan melompat untuk menepis bola sehingga tak tanggung pertarungan di udara terjadi. Bola terapit oleh dua lengan yang saling beradu kekuatan. Dan pertarungan itu dimenangkan oleh sang Ace, dengan ia berhasil menepis bola ke arah lain, tapi—

"CHIKA-CHAN/-SAN/HAYAZE-SAN, AWAS!"

Plak

"Hayaze-san, daijoubu desuka?"

"Ha—hai, daijoubu desu! Arigatou Kuroko-senpai!" masih shock dengan datangnya benda oranye misterius yang hampir mendarat di wajahnya jika saja senpai hantunya tidak segera datang dan mengubah arah bola dengan teknik pass-nya.

"Whoaaa, sugoi Kuroko!"

"Tasukata, senpai!"

"Ogiwara-kun, Daisuke-kun, tolong lebih berhati-hati kalau bermain!" tidak marah, nadanya juga masih datar, normal, hanya saja auranya pekat sekali dari kawan langit kita.

"Ha-hai'! su-summimasendeshita senpai/Kuroko!" pasangan senpai dan kouhai yang menjadi pelaku utama nyasarnya benda oranye yang hampir mendarat mulus di wajah sang manager wanita hanya mampu menegang menyaksikan kawan sekaligus senpai yang beraura gelap. Takut nyawa mereka semakin melayang, tanpa ba-bi-bu mereka berdua langsung ngacir ke arah ruang locker—setelah meminta maaf pada sang manager tentunya.

Sebenarnya bukan apa-apa. Bukan untuk sok disiplin karena perannya sebagai manager sekaligus senpai, bukan juga untuk mencari muka dihadapan sang manager wanita—yang ini jelas bukan tipikal Kuroko Tetsuya sekali—Hanya yang namanya 'sok' disiplin dengan disiplin yang sebenarnya adalah dua hal yang berbeda, belum lagi kejadian itu hampir menjatuhkan korban jika saja tidak ada yang menghentikan pergerakan bola. Alasan lain, tak lain tak bukan hanyalah sisi gentleman-nya.

Namun dua alasan ini bisa dikesampingkan oleh Kuroko. Yang tidak dapat ia kesampingkan adalah bahwa bola itu seakan begitu saja menempel di telapak tangan sang phantom sebelum sang phantom sendiri hampir meraihnya. Dengan kata lain, ada pergeseran waktu—menurut spekulasi sang phantom sendiri. Meski terjadi cepat sekali, namun sang langit tentu saja yang paling sadar dengan apa yang terjadi

'terjadi lagi!' batinya menerka apa ayang baru saja terjadi. Dan sepertinya juga tidak ada yang sadar akan peristiwa yang terjadi—untungnya.

(Flashback)

Sambil memungut satu-persatu bola yang berserakan, netra azure melirik sang sahabat yang dengan gembiranya bermain one-on-one dengan kouhainya—Daisuke. Kouhai wanitanya berada tidak jauh dari sang langit, tidak jauh juga dari sepasang pria-simpleton yang bermain basket. Beruntung-tidak beruntung, mata azure-nya menangkap jika sang Ace telah berhasil menepis bola. Namun akibatnya bola itu justru melayang dengan kencangnya menuju arah si manager wanita.

"CHIKA-CHAN/-SAN/HAYAZE-SAN, AWAS!" teriakan itu terjadi bersamaan seperti paduan suara yang sengau. Tapi kaki sang phantom lebih cepat bereaksi dibandingkan kedua pelaku.

Jarak antara titik awal sang phantom dengan sang kouhai wanita hanya sekitar dua meter, tidak jauh dibandingkan arah datangnya bola menuju sang kouhai wanita. Tapi meski begitu wajar jika kecepatan bola tetap lebih cepat. Kuroko Tetsuya sadar akan hal itu.

'sial, tidak akan sempat!' Ia menyadari jika sebenarnya ia tidak akan sanggup mencapai bola, namun tubuhnya sudah terlanjur bergerak, tangannya sudah terlanjur terulur lurus ke depan untuk menyentuh bola. Dengan sang bola menyentuh ujung jarinya saja itu sudah hal maksimal yang seharusnya dapat terjadi.

Namun hal lain berkata lain. Dengan jarak tangannya dengan sang bola sekitar 10 centimeter, bola itu berbelok arah seperti ada yang memberi tarikan kecil sehingga bola itu sampai tepat di telapak tangan Tetsuya, tanpa basa-basi lagi telapak tangan itu memberi tenaga dorongan sehingga bola itu kembali terlempar ke arah lain dimana tidak ada manusia disana—sama seperti biasa ia melakukan pass dengan misdirection-nya. Dan semua terjadi begitu cepat. Namun begitu nyata bagi Tetsuya.

Sama seperti ketika berhadapan dengan pria yang menyakiti anjingnya dulu. Begitu saja orang itu menabrak dinding seperti dialah yang menubruknya, tanpa menyentuhnya. Demikian pula dengan si bola oranye, meski jaraknya sangat pendek namun kentara nyata bagi sang phantom jika ia yang menarik bola itu sampai tepat di telapak tangannya, tanpa menyentuhnya.

Dan dalam sepersekian detik itu pula, ia tidak menyadarinya. Sampai semua berakhir dan ia baru menyadarinya.

(End of Flashback)

"—pai!"

"Senpai!"

"Kuroko-senpai!"

"hai?" Ohh bagus! dia melamun lagi.

"Senpai daijoubu?"

"Hai daijobu desu. Sebaiknya kita segera melanjutkan dan rapat jika ingin segera pulang."

Begitu saja, keduanya kembali melanjutkan tugas dan kegiatan mereka. Rapat hari ini juga berjalan dengan cepat dengan tim yang mulai meningkat kemampuannya dan stabil, hal yang paling dibutuhkan adalah peningkatan stamina dan endurance.

.

Dan ketika waktu telah menunjukan pukul 5.15 PM, gym telah sepi dari remaja-remaja gila basket. Wajar saja, ini adalah hari Jumat dan semua orang tidak ingin tertinggal untuk berakhir pekan. Setelah mengucapkan salam pada sang kakek dan si kouhai wanita yang menunggu jemputan atensinya tertarik pada kerumunan orang-orang yang familiar, dan salah satunya adalah pasangan pelaku bola nyasar.

"Yo, Kuroko!"

"Ogiwara-kun, Minna-san, kalian semua belum pulang?" Yup, Ogiwara yang pertama kali menyapa. Sepertinya sang bayangan sedang berada dalam mood yang baik sehingga mudah untuk di notice.

"Belum, kami sengaja menunggumu. Kami ingin pergi ke MajiBa, kau mau ikut? Tadi kami juga mengajak Chika-chan, namun dia menolak karena harus segera pulang." kini giliran sang kapten yang angkat bicara.

"Are? Ada apa ini?" tanya sang phantom bingung ditambah kepalanya yang sedikit ditelengkan. (A/N: Kawaii overload #nosebleed)

"Are? Bukankah kita sudah lama tidak ke Majiba bersama?" Fukuda angkat bicara

"Ayo senpai, ikut saja!"

"Senpai, ayo ikut!"

"Senpai, nanti kita beli vanilla milkshakes!"

Mereka pikir, manager mereka memilih ikut karena ada iming-iming milkshakes. Ataukah yang dimaksud mereka adalah para kouhai yang sekadar tahu jika sang senpai bayangan ini sangat menyukai (baca:menggilai) vanilla milkshakes? Tentu para reguler, kelas dua dan senpai lebih tahu benar. Berbondong-bondong keluarga Seirin menyerbu restoran cepat saji itu. Tidak full-team memang, namun mensyukuri kebersamaan yang ada. Bukan perayaan, bukan pula tradisi, hanya sebatas remaja SMA yang hangout di akhir pekan.

Dan untuk sekali dalam beberapa bulan yang menyiksa tanpa basket, Kuroko Tetsuya mendapatkanya kembali. Memang ia kembali dengan cara yang berbeda, namun apa yang ia raih kembali seakan tidak berubah dengan ketika ia meninggalkannya.

.

"Ahahahaha! Tadi itu kacau sekali! Kau lihat bagaimana Daisuke memakan hamburger-nya?"

"aah, dan ketika Ootsubo-san mengajaknya bertanding adu panco."

"Ahahaha kau benar, Kuroko! Mereka benar-benar bodoh ahahahahaha!"

"Tolong berkaca Ogiwara-kun, kau sendiri hampir memakan tangan kawahara-kun karena mengira itu adalah kentang goreng!"

"Hidoi Kuroko! Mana aku tahu jika tangan Kawahara ada di dekat kentang gorengku!"

Kala sang mentari mulai menyembunyikan dirinya secara perlahan,pencaranya yang meredup berubah menjadi kuas yang menorehkan warna merah, kuning, bahkan violet, pada birunya langit dan putihnya permen kapas. Menjadikanya permen kapas stroberi merah muda yang cantik dan es krim blueberry yang menggugah selera. Yang seakan dapat dinikmati hati di hangatnya senja memerah. Pasangan cahaya dan bayangan ini baru selesai dari acara hangout mereka bersama tim Seirin, dan sekarang berjalan beriringan menuju rumah Tetsuya. Mereka berdua telah berjanji untuk menghabiskan akhir pekan ini di rumah Tetsuya sehingga mereka kini berjalan berdua menuju kediaman sang bayangan. Tidak hanya mereka berdua sih, masih ada tiga orang lain yaitu Furihata-senchou, Kawahara, dan Fukuda hanya mereka bertiga memilih untuk pulang terlebih dahulu sedangkan Ogiwara memilih untuk langsung karena rumahnya yang paling jauh.

Dan yah! Ini adalah pertama kalinya, menanggapi ide gila Kawahara yang ingin mereka berlima menghabiskan akhir pekan mereka sebagai lima pria bujang dan bla bla bla—dan melalui putaran pulpen Kawaraha juga—yang diakuinya nyolong sang gebetan—terpilihlah rumah Tetsuya sebagai korban rumah mereka untuk pertama kali. Bagaimana dengan peliharaan Tetsuya? Secara teknis, mereka tetap di dalam kamar, justru para pendatang inilah yang harus mengalah dengan tidur seperti ikan sarden di ruang TV.

Dan seandainya acara hangout remaja ini benar-benar akan terlaksana. Dan sebagai apakah seorang Ogiwara bagi Kuroko, sahabat? Cahaya? Firasat itu kian terasa menggerayangi sang manusia.

Benarkah jika kali ini Sang Zombie akan menghilang?

.

.

Melintasi pertigaan dan harus belok ke kiri, dua remaja unik beda warna rambut ini akan melewati lapangan basket yang beberapa minggu lalu menjadi saksi bisu perdebatan mereka berdua hingga berakhir baik dimana kedua belah pihak mencapai win-win-solution. Di lapangan itu sekarang penuh dengan pria-pria pelangi yang sedang bermain three-on-two.

Tunggu dulu! Pria-pria pelangi? Merah, kuning, hijau, ungu, biru. Dan yang berambut merah dengan perawakan paling ehempendekehem.

Dua remaja ini masih tetap berjalan beriringan, namun kepala dan mata si biru hanya terfokus pada permainan pria-pria unik di sana, hingga langkahnya terhenti oleh benda orange yang menghadang jalan mereka.

"Are, Kuroko-kun? Hissahiburi da naa" sapa si merah dibalik jaring-jaring besi, yang jujur saja agak aneh harus memanggil nama adiknya dengan marga sang ibunda.

"Akahito-san, konichiwa! Hissashiburi desu!" sapa sang anak sembari membungkukan sedikit badannya

"Kau baru pulang? Mau bergabung dengan kami sebentar?" ajak sang kakak

Tak ada dari pria-pria 20 tahunan yang ada di sana akan menyangka jika sang majikan akan melewati jalan itu dan sekarang mereka bertemu. Tidak, bukan berarti mereka tidak memperkirakanya, hanya tidak menyangkan jika akan secepat ini. Sebab jika sudah begini, mereka harus memulai sandiwara mereka sebagai mereka dengan nama yang lain. Sedikit merepotkan.

"Sepertinya menyenangkan, namun aku mohon maaf jika harus menolaknya Akahito-san sebab kami harus segera kembali!" sekali lagi sebuah bungkukan dipersembahkan. Anak ini terlalu sopan.

"Bagitukah? Sayang sekali! Namun apa kau yakin, dik? Sepertinya isi kepala temanmu berkata lain." Kata 'dik' itu muncul lagi, yang membuat si anak lagit mulai panas sekarang, dan benar saja perkataan sang pria merah di sana jika saat ini mata Ogiwara nampak berbinar untuk menerjang ring disana 'dasar baka!' batin Tetsuya menyaksikan sang sahabat.

"Ayo, kita kekurangan pemain-ssu!" tawar sang pria tampan berambut kuning disana.

"Ayolah Kuroko, sebentar saja!" bisik Ogiwara yang hanya diberi deathglare datar oleh sang sahabat.

"baiklah, tapi hanya sebentar. Dan kau saja yang main!" Kini keduanya telah memasuki lapangan terbuka itu.

"Baiklah, minna perkenalkan diri kalian!" Tampaknya kita dapat melihat siapa yang menjadi kapten dalam kandang ini. Siapa sangka justru yang menjadi kapten adalah yang paling ehempendekehem

"Yo, Aoi (Aomine) Daiki! PF!" Suara berat dari pria tan berambut biru. Oh-ow, sepertinya Tetsuya ingat dia, tapi semoga saja pria ini bukan pria pedophile mesum yang sama yang ia lihat tempo hari di swalayan.

"Midorisuke (Midorima) Shintatou, yoroshiku! Shooting Guard-nanodayo! Lucky Item-ku hari ini adalah pensil biru muda, dan cancer ada diurutan pertama dalam oha-asa hari ini, aku tidak akan kalah—nanodayo!" kata seperti pidato singkat dari pria berambut hijau, menyebabkan dua remaja yang melihatnya hanya sweatdrop seketika. Dan pria lainya hanya tepok jidat dan geleng-geleng maklum.

"Kitagawa (Kise) Ryouta-ssu! Yoroshiku! Posisiku adalah SF-ssu" seorang pria yang bisa dapat digolongkan sebagai ikemen, senyumnya yang semakin menambah ketampanan berpadu dengan rambut kuning keemasan yang terlambai tertiup angin sore. Entah apa jadinya jika ada wanita-wanita yang lewat jalan ini.

" Murasakibara Atsushi~~, Center~~!" Tak ayal dia posisinya adalah Center, dia sangat besar dan sepertinya suka makan. Terbukti dari sebatang Pocky coklat nyempil diantara mulutnya.

"Akahito (Akashi) Seijurou, posisiku adalah Point Guard sekaligus kapten—meski sudah lama sekali!" Sang kapten tertawa sedikit dengan perkataannya, namun dari auranya telah membuktikan jika kata-katanya bukanlah omong kosong.

"Boku wa Kuroko Tetsuya desu! Yoroshiku onegaishimasu!" selalu menjadi perkenalan yang paling simple dan paling sopan.

"Ogiwara Shigehiro, aku seorang Small Foward, yoroshiku onegaishimasu!" sedikit membungkuk namun dominan senyum pasta gigi andalan. Dari sini mereka yang belum pernah melihat sahabat dari sang majikan—para kucing—dapat menarik kesimpulan jika anak ini benar-benar berbeda 180 derajat dari sang majikan yang terlalu kalem.

"Baiklah, kalian ingin masuk di tim yang mana?" Kembali sang –mantan— kapten bertanya.

Tim pertama yang terdiri dari tiga orang, adalah si pria ungu, hijau dan kuning. Sedangkan tim yang terdiri dari dua orang adalah pria biru dan merah. Ogiwara memilih untuk melengkapi tim ke dua, sedangkan Tetsuya memilih untuk melihat saja. Meski sudah dibujuk, termasuk oleh sahabat, sifat keras kepalanya mampu mengalahkan setiap bujukan termasuk bujukan sang kakak yang menggunakan senjata ampuh andalan—Tetsuya paling tidak suka dipanggil 'dik' oleh si pria merah, ingat?—apalagi senjata yang Tetsuya keluarkan adalah alasan medis, maka suka-tidak-suka pria-pria disana hanya mampu mendesah kecewa namun tetap bermain.

Ya, suka-tidak-suka. Bukan kesalahan seorang yang murni lahir dari rahim sang ibu jika sebuah Kristal tertanam di jantungnya tanpa sepengetahuan dirinya,ditanamkan langsung oleh sang Pencipta—The One. dan tak ada yang tahu jika kristal itu akan begitu menyiksa sang anak seiring bertambahnya umur menuju usianya yang ke tujuh belas. Haruskah mereka menyalahkan The One? Sekalipun ingin, mereka tak bisa. Anak inilah yang akan menjadi kunci perdamaian dunia mereka, dunianya, rakyatnya, dan keluarganya.

Pria-pria pelangi ditambah Ogiwara bermain dengan sengit. Bagi Ogiwara fast-pace seperti ini memang tidak disangka, tapi wow baginya jika ini sangat menyenangkan. Melihat langsung tembakan three-point dari jarak tiga perempat lapangan, gerakannya yang dengan mudah di copy oleh si ikemen kuning, dan oh! Betapa susahnya untuk memasukan bola kedalam ring meski dengan penjagaan malas si manusia titan ungu. Sampai saat ini dari lima tembakan yang berusaha ia lancarkan, tak ada satupun yang masuk, tapi itu justru semakin membuatnya bersemangat. Apalagi ada si pria merah dan biru yang WOW, lihat betapa cepatnya sang pria biru itu! Tiga menit berlalu namun justru tim Ogiwara-lah yang unggul.

"Oi Akas-Akahito! Kau mau kemana?" teriak si pria biru yang tercekat lidahnya sendiri demi menyebut nama samaran sang teman merah. Dan ya, sang pria merah itu justru melenggang saja menuju pinggir lapangan menghampiri sang pria biru muda yang duduk anteng memperhatikan.

"Hanya ingin duduk, kemenanganku sudah ditangan!" jawabnya masih melenggang santai

'Hooo, dia tidak berubah!' batin keempat pelangi lainya yang mahfum saja dengan sisi arogansi sang pangeran Akashi.

"Dan sebaiknya kau ajari anak itu beberapa trik, Daiki!" dan justru ia memberi perintah, menciptakan guratan kesal di wajah sang PF dan wajah melongo dari si pria paling muda di lapangan. Tapi sekesal-kesalnya sang pria biru, lebih baik nurut daripada minta diurut.

Bagi si merah sendiri, ada beberapa alasan mengapa memilih menghentikan permainannya dan hengkang ke pinggir lapangan. Satu, tentu saja ia ingin menemani sang adik yang sebenarnya gatal ingin bermain, namun begitu pandai menyembunyikannya hingga hanya sang kakak yang sadar; Dua, bagaimana ia menyatakannya? Insting? Firasat? Prediksi? Sesuatu akan terjadi, dan ini menyangkut sang adik. Meski yang saat ini tidak akurat, tapi prediksinya tidak akan pernah salah; Tiga, jika ini waktunya sang adik untuk tahu tentang jati dirinya dan sang kakak, Akashi Seijurou sudah siap!.

"KUROKO/TETSU AWAS!"

Deja vu

Plak

Untuk ke dua kalinya di hari ini, Tetsuya harus menampol datangnya bola yang datang dari arah ring, hanya untuk kali ini kiriman bola itu tertuju untuknya—bukan tanpa sengaja tentunya.

Atau sebaliknya?

"Ogiwara-kun!" ups, sepertinya sahabat kacang ini sedang hobi kena semprot si biru.

"ehehehe, gomen Kuroko!" Kedua tangan ditelungkupkan dan diletakkan di depan wajah yang menyembunyikan senyum cengiran lebar ala-ala Ogiwara.

Hanya senyum cengiran lebar biasa, senyum-cengiran-lebar yang polos dari seorang simpleton-basketball, sang sahabat.

"Gomenasai—" anak coklat itu meminta maaf lagi, namun terasa ada yang aneh dari permintaan maaf itu. Dan para pelangi menyadarinya. "AKASHI TETSUYA!" Sebuah senyum-cengiran-lebar yang berubah hanya dalam sepersekian detik menjadi seringaian dengan kuaran aura hitam yang pekat, suaranya dalam menyebut nama itu dapat membuat siapa saja begidik ngeri.

"Berani sekali kau melangkah diantara kami! Keluar dari tubuh anak itu dan tunjukan dirimu!" Netra merah kiri telah berubah menjadi emas, tubuh tegak yang tidak terlalu tinggi itu sudah berada diantara dua remaja, tentu saja niat utama untuk melindungi sang adik. Para pelangi lainya sudah dalam posisi mengitari sang anak coklat yang kerasukan. Berpasang-pasang mata yang begitu awas mengamati setiap pergerakan kecil sang anak coklat.

Mereka berada dalam posisi terjepit, sesungguhnya akan mudah jika mereka segera menuntaskan mahluk apapun maupun siapapun dengan sekali serang. Namun pikirkan lagi, yang ada dihadapan mereka adalah raga daripada sahabat sang anak yang sedang mereka jaga. Jika mereka melakukannya, hal itu hanya akan menghancurkan perasaan sang langit. Namun membiarkan begitu lama sang mahluk itu merasuki tubuh sang anak sama saja dengan mengantarkan sang anak pada kematian. Mereka sadar, dengan mahluk itu merasuki tubuh sang anak ia menyerap energi kehidupannya.

Ini sama dengan maju kena mundur kena. Terlalu lama bertindak tidaklah bagus, informasi akan mahluk bayangan dihadapan mereka masih sangat sedikit. Provokasi untuk membuatnya segera keluar dari tubuh sang anak adalah jalan satu-satunya.

Kuroko Tetsuya, antara bingung dan waspada dengan apa yang terjadi. Apa yang terjadi pada sahabatnya? Mengapa tiba-tiba ia memanggil nama lengkapnya—tidak—nama siapa itu tadi? 'Akashi Tetsuya?' kenapa? Kenapa Akahito-san tiba-tiba berdiri dihadapanya? Ada apa dengan aura intimidasi yang menguar dari tubuh pria dihadapanya? Mengapa rasanya ini seperti bukan Akahito-san yang ia kenal? Sihir? Apakah akan terjadi pertarungan sihir lagi disini?

"MITSUKETTA! AKASHI TETSUYA HAHAHAHAHA! Kemarilah, Akashi Tetsuya~~! Kau tidak ingin segeral pulang bersama sahabatmu ini?~~" suara itu memang datang dari Ogiwara Shigehiro, namun itu bukan suara sang sahabat. Sama. Sekali. Bukan.

"Kuperintahkan kau keluar dari tubuh anak itu, sekarang juga!" sekali lagi suara mematikan dari sang pangeran, masih berdiri dengan tenang dan tampak rileks meski sebagian tubuhnya juga harus menahan sang adik agar tidak pergi dari pengawasannya.

"Hooo, rupanya sang pengeran! HAMBA MEMBERI HORMAT, PANGERAN~~! HAHAHAHA!" nada suaranya begitu naik turun dan mengejek, kepalanya ditelengkan ke kanan dan ke kiri dengan bola mata yang melotot namun sarat akan ejekan dan cemoohan pada sang putra mahkota.

"OGIWARA-KUN!"

Itu sama sekali bukan suara salah satu pria pelangi. Dan yang memiliki panggilan itu tentu saja adalah si zombie kecil yang tiba-tiba saja sudah berada ditengah-tengah antara sang kakak dan sang sahabat.

"Ogiwara-kun, sadarlah! Ogiwara-kun, kau mendengarku?" nadanya datar dan tenang, namun kentara memohon sang sahabat untuk kembali. Ia cukup kesal da lelah menjadi pihak yang tidak tahu apa-apa, dan kini dengan mata kepalanya sendiri sahabatnya kerasukan sesuatu, Oh! Mungkinkan dia dirasuki hantu pebasket lapangan ini yang pernah sang sahabat katakan waktu itu? Satu fakta yang Tetsuya tahu, arwah penasaran tidak mungkin sejahat ini. Tidak tahu darimana datangnya firasat ini, namun firasatnya mengatakan jika sang sahabat harus segera disadarkan atau dia akan—entahlah, Tetsuya hanya tidak ingin membayangkanya.

Ketika langkahnya akan ia lajukan menuju sang sahabat, sebuah tangan menghalanginya untuk melangkah.

"Jangan mendekat, Tetsuya!"

"Tapi—!"

"—Kau sendiri menyadari jika dia bukan orang yang selama ini kau kenal, Tetsuya!" dan pria ini melakukannya lagi, ia memanggil nama kecilnya. Akahito-san yang baru ia kenal akan memanggilnya 'Kuroko-kun' atau 'dik' jika ingin membuatnya kesal. Namun pria yang menghadangnya ini—

"Si-siapa anda sebenarnya?" pertanyaan itu terlontar karena kesal. Ayolah! Tetsuya hanya ingin menyadarkan sahabatnya. Tidak peduli dengan rasa takut yang membelenggu dirinya, sahabatnya dalam bahaya.

"Akashi Seijurou! Dan harus kau tahu mengapa orang itu menyebut namamu dengan marga yang baru kau dengar—" Sang kakak berbicara masih dengan tenangnya, matanya tak lepas mengawasi pergerakan musuh di depan mata.

Termasuk mengakui jati dirinya dan sang adik

"—Adalah karena kau adikku, Akashi Tetsuya!"

Ya, memang sudah saatnya kau tahu
adikku!

To Be Continue

STAY CALM AND STOP ABUSING ANIMAL

A/N:

I AM STILL ALIVE!

SO, how long I've been gone? And yep! Two freaking month and six days. Congratulation to me!

Kise: "HYUAANCHI~~!"
Mido: "Akhirnya kau kembali-nanodayo"
Kuroko: "Okaerinasai, Hyuann-san!"
Hyuann: "Minna-san, tadaima!"
Kise: "Ciyeee, yang habis semesteran~~~"
Hyuann: "Finally, its over after forever!" (Izuki: "Nice Pun!" *ditendang | Hyuann: "Thats not even a pun, Izuki-san!")

Selama dua bulan saya menghilang. Saya harus menyelesaikan kelas axelerasi (percepatan), dan memang cepat ampe tugasnya segambreng mepet-mepet. Jadi saya mohon maaf jika tidak dapat update. Sebelum lanjut ngeles, saya akan membalas reviw dulu.

Balas Review:

Yuki Caniago: Hallo Yuki-san (aku manggilnya begini nggak apa kan?) sebelumnya, terima kasih sudah bersedia membaca fict aneh ini *bow. Kenapa bukan kucing? Karena saya lebih mengenal karakter anjing dibanding kucing (this is truth be told, btw). Ada kok kucing, Cuma perannya sebagai kucing lebih minor dibanding anjing, kan lucu kalo kucing yang hobinya nyelinap, makan, tidur diajak jalan-jalan kayak anjing (baiklah ini garing!) Ini sudah lanjut ya. Mohon maaf menunggu terlalu lama.
Saya juga menunggu update fict-nya Yuki-san dunk, yang judulnya 'Magic Mirror'. Jangan mati dulu, saya aja hidup lagi (hubungannya apa -_-)

Seiya Akashi: Olla Akashi-san (wah anda pengeran Akashi dari dimensi mana? *AuthorDibuang). Terima kasih sudah bersedia membaca fict ini, dan saya juga sangat senang anda menyukainya. Iya benar, saya author baru. Baru muncul Maret lalu kalo nggak salah *lhah!. Untuk chapter terakhir, sebenarnya bukan terburu-buru sih meskipun hasil 'update kilat' hanya memang isi kepala saya ngeluarinya seperti itu. Saya akui agak kurang sesuatu hanya saya pribadi tidak tahu apa, hehe *cengar-cengir *dilempar. Semoga dengan ini tidak membuat anda berhenti membaca fict ini dan berkenan untuk memberi review.
Ngomong-ngomong, saya merasa terhormat anda mau membaca dan me-riview fict saya. Saya tahu anda sering nyempil ngeriview di beberapa fict Kurobas Indo yang juga saya baca. Dan saya selalu senang membaca review-review anda karena penuh saran dan obyektif.

EmperorVer: Hallo EmperorVer-san, sepertinya saya kelamaan nggak muncul ya. Maaf jika telat banget updatenya. Semoga yang ini tidak terlalu maksa ya, udah mau detik-detik pengakuan nich *SpoilerAlert. Thank you atas komentnya EmperorVer-san. Semoga tetap menyukai fict ini/

KagamiTsuyu: Etto, Review sebelumnya yang mana ya? *bingung. Wkwk kayaknya kalo Tsuyu-chan aku nggak kaget perkara otak fujo-nya hehe . Untuk menjawab pertanyaan Tsuyu-chan, takutnya Tetsuya mati berdiri karena anjingnya berubah jadi manusia wkwkwk *dilempar.

May Angelf: Hallo May-chan, aku baru keliatan! (Padahal masih idup dimana-mana, ampun!) Thank you sudah menyempatkan diri untuk mereview. Aku memang hobi bikin orang penasaran kayaknya... hehe! Yang ini sudah update, semoga suka .

Kembali ke A/N:
Sebenernya saya akui, pengakuan ini masih ingin saya buat di chapter depan, namun sedikit saya ubah plotnya, dan voila! Jadilah seperti sekarang. Agak saya percepat memang (Mido: "bukan agak lagi-nanodayo!") namun karena mempertimbangkan panjangnya cerita, ide, dan waktu penyelesaian—bukan berarti saya terburu-buru—hanya saja akan lebih baik saya buat seperti ini. Mungkin kurang menjadi favorit bagi minna-san sekalian, namun cerita ini akan tetap berlanjut. Dan—
THE ADVENTURE YOU'VE BEEN WAITING WILL COME SOON *YEAY. BEHOLD AND BE PREPARE ! Hope you guys enjoy this chapter. #Bow

Kritik dan saran saya nantikan,
Follow and Favorite jika berkenan.

Arigato Minna-san