I own nothing, unless the characters you didn't know
Chapter Ten
Hermione Granger
Kabar yang kulontarkan pada Draco membuatnya terdiam. Ia hanya memandangku tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutunya. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Pasi seperti seseorang yang baru saja dicabut nyawanya. Shit. He must be freak out. Mana ada pria yang tak terkejut mendengar kabar bahwa seorang wanita hamil setelah meninggalkannya begitu saja. Walaupun dalam kasus ini, suamiku sendiri mendukungku untuk pergi meninggalkanya. Bahkan dengan santainya ia memberikanku identitas baru serta memintaku lari sejauh mungkin.
Sementar dia diam seribu bahasa, aku masih bersabar untuknya mengeluarkan satu kata saja. Tetapi, perasaanku berubah menjadi tak menentu. Apa yang akan menjadi reaksinya setelah ini? Apakah ia akan menerimanya? Atau dia mungkin akan mempertanyakannya? Aku tahu salah satu tujuan menikahiku adalah memiliki keturunan, tapi Draco sama sekali tak pernah menyebutnya sepanjang pernikahan kami. Kuhela napasku dan kuputuskan untuk bangkit. Aku tak punya nyali untuk dipermalukan bila ia menolak bayi ini. "Kau mau kemana?"
Akhirnya pria pirang ini membuka suaranya. Kutatap ia sesaat kemudian mengalihkan pandanganku. "Aku tak memintamu untuk bertanggung jawab. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa kau akan memiliki anak."
Alisnya berkerut. "Apa maksudmu aku tak akan bertanggung jawab?"
"Demi Tuhan, Draco. Kau hanya diam dengan wajah terkejut seperti ini lalu diam tanpa mengeluarkan satu katapun. Aku tahu kau pasti tak mengharapkan kabar ini, bukan?"
Draco Malfoy ikut bangkit bersamaku. "Idiot. Hanya aku yang dapat membaca pikiranmu. Jadi jangan suka menyimpulkannya seorang diri."
Ia masih menatapku sebelum kembali melanjutkan kata-katanya. "Tentu aku terkejut. Kehadiranmu saja malam ini sudah membuatku terkejut. Tetapi, dalam arti yang bagus."
Kini aku yang menatapnya. Kini aku yang tak sanggup berbicara untuk menjawabnya. "I'm sorry for being jerk. No one ever love me for who I am, like you do. And that was make me freak out."
"Aku minta maaf, Hermione. Aku minta maaf karena terlambat menyadari bahwa aku juga mencintaimu."
"Tapi kau membiarkabku pergi."
"Kau memintanya. Dan aku bodoh saat itu. Dan sekarang aku tak akan mengulanginya."
Draco menarikku ke dalam pelukannya. Diletakkannya kepalaku di dada bidangnya. Bloody hell, I miss this place. Air mataku meleleh saat ia membelai lembut rambutku yang sudah kembali cokelat seperti sedia kala. "Jangan pernah menangis lagi di hadapanku. Kau tampak jelek."
Air mataku semakin deras dan aku semakin terisak. Aku tak menyangka bahwa hubunganku dengan Draco akan berada di saat seperti ini. Dia memelukku setelah mengungkapkan bahwa ia juga mencintaku. Aku tak pernah berpikir dan tak pernah berani bepikir bahwa hari seperti ini akan tiba. Ia melepaskan pelukannya. "Dan tentu aku juga mencintai anakku,"ujarnya.
Hanya dia pria yang tengah menyatakan rasa cintanya dengan wajah sedatar ini. Kembali aku memelukknya. Aku berjinjit lalu menenggelamkan wajahku di lekukan lehernya. Kulepaskan pelukan ini dengan Draco yang masih menatapku dengan sangat lekat. "How old is he?"
Aku tersenyum. "Eight weeks."
Alisku mengerut saat menyadari ucapannya tadi. "Excuse me? He?" tanyaku
Dia hanya mengangguk. "Darimana kau tahu? Dia masih berusia delapan minggu. Dokter bahkan belum membicarakan jenis kelaminnya."
"Tentu aku tahu. Dia anakku."
"Anakmu?" tanyaku mulai kesal sambil mundur dari pelukannya.
Draco Malfoy telah kembali. Dia pikir hanya dengan spermanya saja bayi ini bisa langsung tercipta. Dia pikir aku tak ikut andil, huh? "Kau kesal?" tanya
"Salahkan hormonku yang tengah melonjak dan tak stabil," balasku.
Dia mengangguk beberapa kali lalu berjalan ke arahku. Wajahku masih memberengut saat berpikir bahwa anak ini akan dimonopoli oleh ayahnya saat besar nanti. Tangannya berada di perutku lalu mengusapnya dengan sangat lembut. Draco merunduk lalu berbisik padaku. "Anak kita."
Dan senyumku tetiba mengembang saat mendengarnya. Stupid pregnancy hormones! Tangannya beralih ke wajahku. Draco memegang daguku lalu kembali merunduk dan menciumku. Aku berjinjit dan mengalungkan tanganku di lehernya. Aku dapat merasakan ia tersenyum di kulitku. Bibirnya mulai turun ke setiap lekuk leherku secara perlahan. Tangannya secara mantap berada di dadaku. "Aku merindukanmu," ujarnya.
"Aku juga," balasku sambil menarik dirinya semakin dalam kepadaku.
Draco mendorongku perlahan. Bagian belakang kakiku menyentuh tepi ranjang kami. "Draco," ucapku saat tanganya sudah melepaskan satu per satu kancing bajuku.
"Yaa," balasnya tanpa melepaskan sedikitpun sentuhannya dari tubuhku.
Kutangkup wajahnya agar ia menatapku. "Aku belum berkonsultasi tentang hal ini," ucapku menyesal menghentikan kegiatan kami.
Keningnya mengerut. "Aku belum berkonsultasi dengan dokter kandungan apakah seks di awal kehamilan baik dilakukan," balasku.
Dan aku melihat kekecewaan di wajah Draco. "Aku minta maaf, okay?" ujarku dan dia tersenyum.
Dia tersenyum lalu mengecup keningku. "Kau tak perlu meminta maaf. Tak ada yang salah."
Aku mengangguk lalu berjinjit dan mengecupnya cepat. "Atur jadwal untuk bertemu healer kandungan besok dan tanyakan kapan kita bisa bercinta."
"Aku baru saja pulang," ujarku malas.
"Lebih dari satu bulan aku puasa bercinta, Hermione. Jangan memperpanjang penderitaanku lagi," balasnya dan tatapan datar itu kembali lagi.
Aku tertawa dan ia hanya mendengus. Draco berjalan meninggalkanku menuju kamar mandi di kamar ini. "Kau mau mandi? For God's sake, Draco. Ini pukul dua malam."
"I'm so hard and I can't have sex with you. Take a bath is the best choice, darling," balasnya dari balik dinding kamar mandi itu dan aku tertawa mendengarnya.
Aku tertawa di pukul 2 pagi bersama Draco. Bersama suamiku. Duniaku terasa sedang jungkir balik sesukanya.
000
Harum teh dan roti yang baru saja di panggang sudah menyeruak di penciumanku saat pertama kali aku membuka mata. Senyumku mengembang ketika aku menyadari dimana aku akan memulai hari baru kali ini. Di Manor. Aku kembali ke Manor. Draco sudah tak ada di sampingku seperti saat aku terlelap pagi tadi. Kuusap mataku dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan tak ada tanda-tanda kehadirannya. Kusesap teh yang sudah berada di meja kecil di sudut kamar ini sambil membuka pintu balkon dan membiarkan udara pukul 11 pagi menghantam kulitku. Setelah merasa cukup mengumpulkan nyawa, aku bergegas mandi dan turun dari kamar ini.
Draco tengah duduk bersama Blaise saat aku turun dari kamar kami. Draco tersenyum saat pandangan kami bertemu dan Blaise langsung bangkit dari tempatnya saat aku mendatangi mereka. "Sister! You're back," pekiknya lalu memeluk dan mengangkatku seperti beratku tak berarti apa-apa baginya.
Draco langsung bangkit dari duduknya dengan mata siaga. "Be careful, Blaise."
Blaise terkekeh lalu menurunkanku. Aku masih terkejut dengan tingkah Blaise yang sering terlihat seperti remaja di bangku kuliah dulu. "Tenang, Malfoy. Hermionemu tak akan terluka."
Aku tertawa mendengarnya. "Kau dengar itu? Aku tak akan terluka," kekehku yang meniru cara Blaise mengucapkannya.
Melihat mereka hanya duduk berdua yang tak seperti biasanya, aku teringat keadaan Theo. Tatapanku beralih serius kepada Draco. "Bagaimana keadaan, Theo? Apakah ia di St,Mungo?"
Suamiku menggeleng. Alisku mengerut dibuatnya. Aku mendengar Theo mendapat beberapa luka tembak dan rumah sakit adalah tempat paling rasional untuk keberadaannya sekarang. "Theo ada di wing-nya di Manor ini," ucap Draco yang aku yakin sudah membaca pikiranku.
"Kami tak pergi ke rumah sakit, Hermione," ucap Blaise.
Aku masih diam dan menunggu salah satu dari mereka menjelaskannya. "Pergi ke rumah sakit dengan lukan tembak atau luka akibat perkelahian akan menimbulkan kecurigaan tentang apa yang menjadi penyebabnya. Jika rumah sakit menaruh rasa curiga, mereka otomatis akan melapor kepada Auror. Kami tak pernah bersahabat baik dengan Potter dan kawanannya," jelas Blaise
Hal ini menjelaskan mengapa mereka memiliki Doc - healer pribadinya. Aku tak pernah menyadari hal ini sebelumnya. The Sociaty benar-benar tertutup dan akan berusaha dengan segala cara untuk tetap tertutup. "Lalu bagaimana keadannya sekarang?"
"Doc membawa timnya dan mengoperasinya disini. Dia sudah sadar dan stabil di kamarnya," jawab Draco.
Aku mengangguk. "Kita bisa melihatnya sekarang sebelum kita pergi," ujarku pada Draco yang langsung mengangguk.
Blaise bertepuk tangan takjub yang membuatku dan Draco bertukar pandang. "She's really your queen, Malfoy. You bow down to her," ujar Blaise.
Draco memberikan tatapan mematikan pada sahabatnya itu lalu mengedik padaku. Blaise hanya tertawa dan disaat yang bersamaan Ballard muncul dari ruang depan Manor ini. "Sir, Madam," ujarnya kami.
Draco dan Blaise hanya mengangguk sementara aku tersenyum pada pria ini. "Hello, Ballard," sapaku dan ia mengangguk.
"Mobil kalian sudah siap. Aku dan Pietro akan menunggu di luar."
Kembali Draco hanya mengangguk dan kami beranjak menuju wing dimana kamar Theo berada.
Theo tampak tengah membaca bukunya dengan tumpukan bantal yang menyokong tubuhnya. Senyumnya merekah saat melihat kami masuk ke kamarnya. "Hermione, glad to see you're back," sapanya.
Draco melingkarkan tangannya di pinggangku. "You're everyone's darling now," ucapnya dan aku hanya tersenyum.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku.
Dia tersenyum, tapi matanya masih terlihat sayu dan aku yakin tubuhnya masih lemah. "Dua peluru di punggungku tak ada artinya. Aku pernah merasakan yang lebih buruk."
Air wajah Draco dan Blaise berubah saat mendengar perkataan Theo. Sampai sekarang aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi antara mereka bertiga dan Daphne di masa lalu.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku, Theo," ucap Draco.
Theo menggeleng. "Itu yang dilakukan keluarga. Blaise and you're my brothers. Family always comes first."
"Aw, touche Theo," kekeh Blaise
Ia berjalan ke arah Theo. "Kau harus sering terluka, mate," ucap Blaise lagi lalu menepuk pundak Theo dengan keras yang membuatnya meringis.
"Fuck off, Zabini," pekik Theo.
Mereka bertiga tertawa untuk kemudian Draco berdeham di sampingku. "Mulai sekarang siapapun terutama kalian berdua dilarang mengumpat di hadapan Hermione. "
Aku tahu kemana arah pembicaraan Draco kali ini. Blaise menautkan alisnya. "Kenapa? Istrimu bukannya hobi sekali mengumpat."
Draco memandang malas ke arah Blaise. "Aku hamil," ucapku tanpa berbasa-basi lagi.
Theo dan Blaise tampak terkejut. "Holy shit," ujar Theo yang langsung menutup mulutnya.
"Maksudku wow!" tambahnya lagi.
Blaise tertawa lalu berjalan ke arahku dan untuk kedua kalinya dalam satu pagi ia kembali mengangkatku. "Congratulation, sister."
"Turunkan dia, Blaise," ucap Draco kesal .
"Selamat Malfoy. Kau akan menjadi ayah," ujar Theo dari tempat tidurnya.
Draco menyeringai. "Susah dipercaya, bukan?"
Dan mereka tertawa bersama.
000
Kehamilanku membuat Draco lebih memperketat sistem keamanan Manor dan formasi pengawalku. Jika biasanya hanya Ballard yang menemani kemanapun aku melangkah, sekarang Pietro menjadi bagiannya. Dan penambahan penjagaan terhadapku dimulai hari ini saat kami akan ke St,Mungo untuk memeriksakan kanduganku. Mobil sihir menjadi pilihan kami karena Draco sudah mengetahui bahwa wanita hamil tidak disarankan ber-Apparate, walaupun belum ada riset yang mendukung saran ini. Tetapi, sebagai calon orang tua baru aku dan Draco akan mengikuti saran apapun untuk kepentingan jabang bayi ini.
Langkahku terhenti saat berada di lorong khusus kandungan serta ibu dan anak rumah sakit ini. Semua tampak senyap dan kosong. Waktu masih menunjukan pukul 1 siang, tak mungkin poli ini sudah tutup. Lagipula aku memiliki janji dengan healer saat ini. Tatapanku beralih pada Draco yang terlihat sangat tenang dan sunyi sama seperti lorong ini di sampingku. "Ada apa?" tanyanya berpura-pura tak tahu maksud dari tatapanku.
"Kau mengosongkan tempat ini hanya untukku?" tanyaku tak percaya.
Ia mengangguk. "Aku tahu ini kabar gembira, tapi semakin sedikit orang yang tahu semakin terjamin keselamatanmu," balas Draco.
Aku terdiam saat mendengarnya. Aku lupa bahwa aku istri dari pria dengan sejuta musuh di dunia ini. Pastilah kabar ini menjadi salah satu cara untuk para musuhnya menyakitiku. Draco menggenggam tanganku. "Kau ingat saat aku mengatakan bahwa kau sekarang bersamaku. Kau pasti akan selalu dalam bahaya."
Napasku tercekat saat mendengarnya. "Tetapi, percayalah padaku. Aku tak akan membiarkan mereka menyentuh sehelai rambutmu dan anak kita."
Aku tersenyum mendengarnya. Draco dan sifat protective berlebihannya.
Seorang healer sudah menunggu di ruangan prakteknya. Healer Samatha Davis namanya. Draco bersikeras untuk mencari healer kandungan wanita, karena ia tak sanggup melihat pria lain menyentuh bagian terintimku. Oh I love this man!
"Hello, Nyonya Malfoy. Mister Malfoy," sapanya saat kami masuk ke ruangan itu sementara Pietro dan Ballard menunggu di luar ruangan.
"Kau sudah tahu berapa umur kandunganmu?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Delapan minggu. Aku sudah pergi ke salah satu dokter kandungan Muggle. Tetapi, aku ingin berkonsultasi beberapa masalah," ujarku mengerling pada Draco yang tampak tenang tanpa ekspresi berarti dari wajahnya.
"Dan suamiku ingin melihat dan mendengar bayi ini dari ultrasound," tambahku.
Healer Davis mengangguk dan kami beranjak ke ranjang pemeriksaan. Sebuah stik sudah berada nyaman di perutku setelah gel lembut di oleskan di atasnya. Healer itu tersenyum saat monitor sihir itu sudah menunjukan gambar bayi kami. "Janin kalian sudah hampir memasuki usia 9 minggu. Kalian ingin mendengar detak jantungnya?"
Aku dan Draco mengangguk. Suara mengelepar-gelepar terdengar dari sana. Draco menggenggam tanganku dengan erat. Aku menengadah untuk melihat wajahnya. Tatapan Draco terlihat sangat takjub saat suara itu terdengar. "Wow," ujarnya pelan.
Hanya kata itu yang terdengar dari mulutnya. Setelah pemeriksaan dengan ultrasound selesai kami kembali duduk dan tanpa perlu membuang waktu lagi Draco menanyakan hal yang sangat ingin ia tanyakan. "Apakah bercinta pada usia kandungan istriku saat ini berbahaya?"
Wajahku memerah saat mendengar pertanyaannya. Healer Davis tersenyum lalu menggeleng. "Aktivitas seksual asal masih di dalam batas normal tak akan mengganggu janin. Tetapi, bila ada sesuatu yang mulai kau keluhkan kalian bisa menghentikannya sejenak lalu berkonsultasi denganku."
"Great," balasnya.
This horny bastard.
Pietro memimpin jalan untuk kami saat aku dan Draco keluar dari rumah sakit ini, sementara Ballard berada di belakang kami. "Kemana kita selanjutnya?" tanyaku.
"Temuilah Potter," ujarnya saat kami sudah berada di mobil.
Harry dan Ron. Aku mengecup pipi Draco lalu tersenyum kepadanya. "Terima kasih."
"Aku akan menunggu di Manor untuk menyelesaikan semua masalah yang belum sempat kita selesaikan tadi malam," jawabnya.
Aku tertawa dan memukul lengan atas suamiku. "Pervert," ujarku dan ia hanya tersenyum.
000
Harry dan Ron tak ada di kantornya. Sedang bertugas, setidaknya hal itulah yang dikatakan asisten mereka. Aku keluar dari Kementerian bersama Ballard dan Pietro tanpa bersuara. Hari sudah menjelang sore dan perutku sudah memberontak minta diberi asupan.
"Kita mampir di salah satu bakery. Aku ingin roti kismis hangat dengan milkshakes."
"Aye, Boss," jawab mereka serentak.
I'm their Boss now.
Aku sengaja duduk di luar bakery ini sambil menikmati udara sore kota ini. Aku sudah menghabiskan segelas vanilla milkshakes dan dua roti kismis hangat sementara Pietro berdiri agak jauh dariku dan Ballard berdiri lumayan dekat denganku. Aku menatap Ballard yang terlihat sangat muda namun sangat profesional di bidangnya. Draco pernah mengatakan bahwa Ballard masih berusia 15 tahun saat ia menemukannya di salah satu gang kota London setelah ia membunuh ayahnya yang setiap hari menyiksa ibu dan dua adiknya. Draco menyelamatkan keluarganya dan sejak saat itu pria dengan tubuh tinggi tegap itu menjadi bagian dari The Sociaty karena kemampuannya. Aku kadang berpikir bagaimana kehidupan Ballard dan Pietro di luar organisasi ini. Terutama Ballard. Pria dengan mata kelam serta rambut hitam ini tak mungkin tak memiliki kekasih di luar sana. Apakah ia memiliki banyak musuh seperti Draco dan keadaan kekasihnya selalu dalam bahaya sama sepertiku?
"Madam," ucapnya.
Aku menengadah untuk menatapnya. "Ada apa?"
"Mister Malfoy menanyakan keberadaanmu."
Aku menghela napas lalu bangkit. "Ayo kita pulang. Dan tolong pesankan milkshake vanilla ini lagi."
Ballard mengangguk dan aku berjalan menuju Pietro yang sudah siap di mobil.
000
Harry dan Ron berada di Frankfurt selama dua minggu dan aku sama sekali belum bertemu dengan mereka. Hanya suratlah yang menjadi penghubung kami selama ini untuk mengabarkan bahwa aku telah kembali. Dan sekarang kandunganku sudah memasuki usia 10 minggu. Mual dan pusing di kepalaku sudah mulai mereda. Aku kembali ke kampus sebagai peneliti karena aku sudah memasukan surat pengunduran diri saat pergi dari kota ini beberapa waktu yang lalu. Sikap protective Draco kadang berada di atas rata-rata. Kesal dan senang bercampur aduk di dalamnya. Tetapi, ada satu gesture Draco yang sangat kusukai. Ia selalu memegang perut kemudian membelainya lembut dalam setiap kesempatan. Terutama saat ia akan keluar 'bekerja'. Tak ada ucapan yang keluar dari mulutnya seperti aku atau orang tua lain yang selalu mengajak bicara bayi dalam perut ini. Tetapi, itulah Draco. Tak perlu banyak kata yang terucap dari mulutnya untuk membuatku sadar betapa ia mencintai aku dan calon anak kami.
Hari ini Draco berjanji akan menghabiskan waktu seharian penuh bersamaku setelah beberapa hari belakangan ini ia sangat sibuk dengan pembangunan ulang gudang cocaine-nya dan beberapa restaurant yang baru dibelinya. Terkadang aku tak mempercayai apa yang terjadi kepadaku. Bagaimana mungkin aku sesantai ini menanggapi pekerjaan suamiku? Aku mungkin tak akan pernah menyukai apa yang dilakukan Draco, tapi aku tak akan lagi mempertanyakan serta menentangnya. Perpisahan yang sudah pernah kami lewati terbukti tak berhasil dan akan selalu ada jalan untuk aku kembali kepadanya atau ia menemukanku.
"Kau sudah siap?" tanyanya padaku saat ia turun dan mendapatiku tengah menunggunya di ruang tengah Manor.
Aku mengangguk. Draco berjalan ke arah meja makan kami lalu membawa kotak besar di tangannya. Alisku mengerut. "Ini kotak bekalmu. Aku tahu selera makanmu menjadi sangat buas belakangan ini."
Aku tertawa mendegarnya. "Aku tak mau kau dan anak kita kelaparan di dalam mobil."
Senyumku semakin merekah saat mendengarnya. "Apakah milkshake-ku ada di dalamnya?"
"Semua yang kau sukai ada di dalamnya," balas Draco dan aku tersenyum dibuatnya.
Aku berjinjit untuk menciumnya. "You told me that you're not a man with heart and flower, Draco. But now, you're my man with heart and flower."
Dia menatapku malas lalu mengedik dan berjalan meninggalkanku. "Aku akan menunggumu di mobil."
Aku berjalan mengikutinya dengan senyuman yang tak mampu kubendung lagi.
Cuaca tak bersahabat dengan kami hari ini. Setelah berkendara dari London menuju Dorset, kami di hadapkan dengan awan hitam dan hujan ringan yang tak henti jatuh dari langit sana. Draco akhirnya memutuskan untuk membeli makan di tengah jalan lalu memarkirkan mobil kami di tepi jalan yang menghadap langsung ke pantai bebas. Padahal aku sudah membayangkan pantai dengan pasir putih terbentang dengan laut bewarna biru serta sinar matahari, tapi kenyataan tak selalu sesuai dengan harapan.
Jadilah sekarang aku merebahkan kepala di pangkuan Draco di tempat duduk belakang mobil ini. Hujan rintik terlihat mengguyur atap mobil ini yang transparan. Tangan Draco berada di perutku dengan mata yang terpenjam entah sedang memikirkan apa. Kuambil remote control di kursi ini dan memutar pemutar musik dari mobil ini. Senyumku mengembang saat mendengar lagu yang terputar secara acak ini.
"So I would do it for you, for you, for you. Baby I'm not moving on, I'll love you long after you gone," ujarku bersenandung mengikuti lagu ini.
Mata Draco terbuka saat mendengar suaraku dan ia tersenyum. "Draco," panggilku padanya.
"Yaa."
"Jika aku mati lebih dulu dari dirimu, apakah kau akan mencari wanita lain lagi?" tanyaku
Aku menengadah dan melihat Draco mengerutkan keningnya. "Apa yang kau bicarakan?" ia berbalik tanya padaku.
"Usia tak ada yang tahu. Jika aku mati duluan dari dirimu apakah kau akan mencari penggantiku?" tanyaku lagi.
Ia menghela napas. "Jangan bodoh. Kau tak akan mati lebih dulu daripada diriku."
Aku menggeleng. "Aku hanya berandai."
"Jangan berandai hal yang menakutkan," balasnya.
"Jadi kau takut kehilanganku?" tanyaku menggodanya.
Dan ia kembali menghela napas. "Setelah semua yang terjadi kau masih mempertanyakan hal ini?"
Aku bangkit dan duduk menatapnya lalu menggeleng. "Bagus. Angin laut yang terlalu banyak dapat membuatmu flu dan otakmu menjadi terganggu. Ayo kita pulang," ujarnya datar.
Kupukul lengannya dan kami kembali duduk di kursi depan. Saat Draco sudah memacu mobil ini, lagu dari Phillip Phillips ini kembali terputar. "Jawabanya tidak, Hermione. Aku tak akan pernah mencari penggantimu karena tak akan kubiarkan kau meninggalkanku."
Dan untuk kesejuta kalinya, ia membuatku tersenyum.
000
Draco Malfoy
Suara napas yang stabil dari Hermione menjadi temanku malam ini. Ia sudah tidur sejak pukul 9 malam tadi. Kehamilannya membuat wanita ini menjadi pecinta tidur. Dia dapat tidur kapan saja dan tetiba menjadi malas melakukan apapun. Tak ada lagi lari pagi bersama Ballard atau pergi ke pusat kebugaran seperti yang biasa dia lakukan. Hermione akan memilih duduk sofanya membaca buku sambil mendengarkan musik dengan vanilla milkshake yang tak pernah absen menemaninya. Aku tak pernah memprotes kebrutalannya dalam menyantap makanan, aku hanya khawatir setelah melahirkan istriku menjadi pengidap diabetes karena pola makannya yang menggila.
Aku kembali fokus pada laptop sihir di hadapanku. Ada banyak hal yang harus kuperiksa malam ini. Beberapa restaurant yang telah kubeli dan data beberapa politisi yang mulai bermasalah denganku. Beberapa kali pula aku meneliti kembali beberapa anggota The Sociaty yang memiliki kecenderungan untuk berkhianat padaku. Entah dari latar belakang keluarganya atau yang lainnya. Tetapi, tak ada satupun yang terlintas di pikiranku. Pengkhianat itu pasti berada di sekitarku jika ia ingin mencari informasi dan memberikannya pada The Bratva, tapi pertayaannya adalah siapa? Tidak mungkin Blaise dan Theo. Apa mungkin Ballard atau Pietro? Jika benar pengkhianat itu adalah antara salah satu dari mereka aku tak tahu lagi akan percaya pada siapa. Atau mungkin saja Parkinson. Jika aku harus menaruh curiga, Gilderoy Parkinson adalah sosok yang tepat atas segala kecurigaanku. Dia seorang captain yang mobilitasnya tak terbatas di Manor ini. Selain itu ia juga tahu seluk beluk usaha dari The Sociaty dan yang paling utama adalah motif terbesarnya untuk menggulingkanku dari posisiku sekarang.
Kuambil ponsel sihirku dan mencari nama Blaise disana. Beberapa saat kemudian terdengar suara pria yang sudah menjadi sahabatku itu entah sejak kapan. "Yes, Malfoy," ujarnya dari seberang sana.
Suaranya masih begitu hidup di pukul dua malam seperti ini. "Kau dimana?"
Dan tak beberapa lama kemudian suara musik bergemuruh terdengar dari sana. Dasar Zabini. "Apa?" tanyanya setengah berteriak.
"Kau di klub malam?" tanyaku saat suara itu tinggal terdengar samar.
Blaise pasti mencari ruang yang lebih tenang. "Dimana lagi pria single sepertiku berada. Ada apa?" tanyanya dengan suara yang berubah menjadi was was.
"Aku mencurigai Parkinson sebagai pengkhianat," ujarku tanpa tedeng aling-aling lagi.
"Aku juga berpikiran sama denganmu melihat segala tingkah lakunya dan hasrat besar untuk menggulingkanmu," balas Blaise.
"Awasi dia beberapa hari ke depan ini," balasku.
Blaise tertawa. "Aku akan mengawasinya mulai malam ini. Kebetulan sekali dia tengah bercumbu di sudut klub malam ini dengan salah satu pelacurnya."
"Aku tak mau anggota lain tahu tentang ini sebelum kita mendapat bukti yang kuat," balasku.
"Aye, Sir."
Kumatikan sambungan komunikasi ini lalu menenggak whisky yang berada di sampingku. Ranjang kami berberak dan Hermione membuka matanya perlahan. Matanya mengerjap saat cahaya dari lampu tidur di atas nakas itu tertangkap olehnya. "Hey," sapanya lalu menggeser tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuanku.
"Hey," balasku.
"Kembalilah tidur. Ini masih pukul dua malam," tambahku lagi sambil membelai lembut rambut cokelat indahnya.
Dia menggeleng. "Kau masih banyak pekerjaan?" tanyanya.
"Sudah hampir selesai. Aku akan tidur beberapa saat lagi," balasku.
Ia mengangguk-angguk. Alih-alih melanjutkan tidurnya, Hermione bangkit lalu duduk bersila di hadapanku. Matanya tak lagi terlihat mengantuk. Ini pertanda buruk. Dia pasti tengah menginginkan sesuatu. Hal ini sudah terjadi berulang kali hingga usia kandungannya yang memasuki 16 minggu seperti sekarang. "Kau mau makan apa?" tanyaku langsung sebelum ia mengucapannya.
Senyumnya merekah. "Aku mau popcorn," balasnya.
Aku mengangguk. "Aku akan meminta Magnus membuatkannya untukmu," ujarku yang langung bangkit dari ranjang ini.
"Draco," panggilnya lagi.
"Yes, darling."
Dia menggeleng perlahan. "Aku tak mau popocorn buatan Magnus. Aku mau popcorn yang dijual di bioskop."
Langkahku terhenti. "Tapi semua bioskop sudah tutup, Hermione. Ini sudah pukul dua malam," jawabku.
Matanya tampak berpikir. "Tapi kau bisa membelinya di Los Angeles karena disana masih pukul 7 malam atau di Singapore. Disana sudah pukul 10 pagi," jelasnya.
Aku frustrasi mendengarnya. Hermione memang beberapa kali mengidam di waktu-waktu tak terduga seperti ini, tapi biasanya tak pernah seperti ini. Kali ini keinginannya benar-benar spektakuler.
"Tapi ini sudah larut malam, Hermione. Popcorn buatan Magnus pasti rasanya sama dengan popcorn di bioskop itu," ujarku masih berusaha.
Dia menggeleng. Great. Hermione dengan semua keras kepalanya. "Kau bisa ber-Apparate," rengeknya.
"Tapi ini sudah larut malam," ucapku lagi.
Air muka Hermione berubah. Istriku memberengut. "Okay," dia hanya menjawab dengan satu kata itu lalu menarik selimutnya.
Crazy pregnant woman. Aku mengambil bajuku lalu secepatnya ber-Apparate ke salah satu bioskop di Los Angeles untuk membeli popcorn sialan itu.
Beberapa saat kemudian aku sudah kembali ke Manor dan aku tahu bahwa Hermione belum tidur. Dia masih bergerak-gerak di bawah selimutnya dan aku juga tahu bahwa ia menyadari keberadaanku, tapi ia masih mau memasang aksi merajuk kepadaku. Aku duduk di tepi ranjang kami sambil menepuk lengannya. "Hermione," panggilku.
Ia tak menjawab dan tak mau membuka selimutnya. "Popcorn is here."
Perlahan ia membuka selimutnya lalu duduk. Matanya bercahaya saat melihat dua bucket berisi popcorn dengan rasa asin dan karamel itu. Hermione menyibak selimutnya lalu memelukku dengan senyum sumeringah. Perut buncit yang terhalang gaun malamnya menempel di diriku. Aku tersenyum bahagia melihat reaksinya. Senyum itu masih menghiasi wajahnya saat ia mulai memasukkan makanan ini ke mulutnya. Damn it! Dia bahkan masih terlihat begitu cantik di pukul tiga pagi seperti ini. Gaun tidur malam yang memperlihatkan belahan dadanya serta perutnya yang sudah membuncit itu membuatku ingin 'memakannya' saat ini juga.
"Enak?" tanyaku dan ia mengangguk.
"Bahagia?" tanyaku lagi dan kembali ia mengangguk.
Great. Karena kebahagian wanita yang tengah mengandung di hadapanku ini merupakan kebahagiaanku juga. Perlahan Hermione menutup bucket popcorn ini yang isinya masih menggunung. Alisku bertaut menatapnya. "Kenapa?" tanyaku.
"Aku sudah selesai," jawabnya enteng.
Hampir saja mataku keluar dari kelopaknya saat mendengar ucapannya. Bahkan ia belum memakan seperempatnya dan ia mengatakan bahwa ia sudah selesai. Aku bahkan masih ingat betul bagaimana ia merajuk tadi. Ia bangkit begitu saja ke kamar mandi lalu mendengar suara keran dan ia menyikat kembali giginya. Hermione kembali ke ranjang kemudian mengecupku panjang. "Thank you, Draco. Let's go back to sleep," ujarnya dan aku masih terperangah di tempat.
Dia memejamkan matanya begitu saja dengan dua bucket popcorn yang masih penuh di pangkuanku. Jika bukan karena aku benar-benar mencintainya, mungkin wanita ini sudah kubuang jauh-jauh dari hidupku.
000
Kecurigaanku sepertinya membuahkan hasil. Blaise mengatakan bahwa beberapa kali Parkinson bertemu dengan Orlov yang merupakan salah satu kaki tangan klan Zaslavsky. Beberapa kali pula ia mengendap keluar dari ruang berkas di Manor ini. Dan Blaise juga sudah 'menginterogasi' beberapa anak buahnya. Kecoa itu benar-benar tak tahu diuntung. Jika bukan karena garis keturunannya, aku sudah menggorok lehernya sedari dulu. Dan saat ini aku tak peduli dengan garis keturunannya lagi. Hal yang ingin kulakukan padanya adalah mengantarkannya langsung ke neraka.
"Kau disini rupanya," ujar Hermione yang mengambil tempat di sampingku di sofa ini.
Aku mengangguk. "Aku hanya ingin mencari udara segar," balasku lalu menyesap teh yang diberikannya padaku.
Teh dan udara sore di pekarangan Manor ini benar-benar kombinasi yang tepat, walaupun angin menjelang musim dingin tampak tak bersahabat.
Hermione menggeleng. "Kau bisa mati beku perlahan karena semua angin ini," balasnya yang merekatkan sweater cahsmere hijau tua yang dikenakan bersama baju terusan hamilnya.
Aku ikut menggeleng lalu merapalkan mantra penghangat dan penghalang angin di sekeliling kami. Kuletakkan tanganku di perut buncitnya yang minggu ini sudah memaski usia 18 minggu. "How's he?"
"Doing great as always," jawabnya yang membuatku tersenyum.
Pikiranku kembali jatuh pada Parkinson. Apa saja informasi yang telah dia berikan pada The Bratva sialan itu? Apa yang kali ini akan dilakukan The Bratva kepada The Sociaty? Apa mungkin mereka masih mengincar Hermione dan yang artinya sekarang mereka mengincar hidup anakku juga. Holy shit! Semua ini akan membuatku mati muda.
Tangan hangat Hermione memegang pipiku dan membawaku kembali kepadanya. "Apa yang kau pikirkan sekarang?"
Aku tak menjawabnya. "Aku bukan pembaca pikiran sepertimu, Draco. Jadi bicaralah padaku," ujarnya lembut yang masih mengusap pipiku.
Kuhela napas sesaat - salah satu kegiatan yang kuadopsi dari istriku. "Aku menemukan pengkhianat itu," ujarku pelan.
"Parkinson?" tanyanya.
Aku menangguk dengan keningku yang berkerut bingung darimana ia tahu. "Aku sudah menduganya. He's an arsehole," ujar Hermione.
"No swearing, Hermione," balasku dan dia tertawa sambil mengusap perut buncitnya.
Pemandangan yang tak dapat kutemukan jika aku tak menuruti saran Blaise untuk menikahi wanita keras kepala ini. "Apakah adiknya juga kau curigai?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Pansy bukan anggota dari organisasi ini, dia tak berguna bagi The Bratva," balasku.
Kali ini Hermione yang menggeleng. "Tapi kau menidurinya bertahun-tahun serta dia adik dari Gilderoy. Dia pasti tahu sedikit banyak tentang organisasi ini. Selain itu dia juga memiliki motif untuk menghancurkanmu melihat dengan siapa kau berkahir saat ini," ujarnya jumawa di akhir kalimatnya.
Analisis Hermione ada benarnya juga. Pansy mempunyai akses untuk masuk ke organisasi ini dan ia juga memiliki motif utuk membalas dendam kepadaku.
"Sir, Madam."
Magnus datang ke teras ini dengan nampan berisi cemilan untuk ibu hamil di sampingku ini. Mata Hermione selalu bercahaya saat melihat makanan yang diinginkannya tiba. Kali ini cemilan sorenya adalah churros dengan cokelat lumer sebagai toppingnya. Dia memakannya dengan nikmat sebelum kembali berbicara padaku tentang topik ini. "Lalu apa yang akan kau lakukan pada Parkinson?" tanyanya dengan lelehan cokelat yang masih berada di sudut bibirnya lalu dengan cepat kubersihkan dengan ibu jariku.
"Aku akan menunggu dan akan menangkap basahnya untuk kemudian membunuhnya. Selesai masalah," jawabku yang ikut menikmati cemilan ini setelah Hermione menyuapkannya padaku.
Hermione menggeleng dengan churros di tangannya. "Pergunakan dia. Bila kau membunuhnya, dia akan menjadi pengkhianat yang tak berguna bagi kita."
Alisku bertaut menunggunya menjelaskan maksud dari ucapannya. "Tangkap dia lalu kau dapat menginterogasi dan menyiksanya separah mungkin, tapi jangan biarkan dia mati. Biarkan dia tetap menjadi agen ganda, tapi dengan kesetiaan penuh pada kita. Buat dia berguna dengan segala informasi yang bisa didapatkannya mengenai The Bratva, saat kau rasa dia sudah kehilangan kegunaannya kau dapat membunuhnya."
Penjelasan Hermione terhenti saat ia kembali memasukan churros itu ke mulutnya. Aku terpana mendengar strateginya. Aku bahkan seperti tak mengenali wanita ini seketika. Beberapa bulan lalu ia meninggalkanku karena menganggap aku seorang pembunuh sadis dan kini ia merencanakan hal ini disela cemilan sorenya. "Kenapa?" tanyanya padaku.
"Kau berbeda, Hermione. Kau terdengar seperti bagian dari kami," jawabku.
Matanya menatapku dan cahaya bersinar tadi hilang, berubah menjadi tatapan gelap dan kelam sama sepertiku. "Aku menikahimu, Draco. Aku sudah menjadi bagian dari kalian sejak sumpah kita di gereja hari itu."
Aku hanya terpana mendengarnya. "But remember, Hermione. You're the purest soul I've ever met. I can't change you like this. Your place is in heaven, not in hell like me."
Dia menggeleng mantap. "If you were in hell, if you can't find heaven, I'll walk through hell with you, Draco. Damn it! We're rich. We can buy a penthouse and we'll live in hell forever as long as I'm with you."
Senyumku berubah tawa mendengar ia berkata seperti itu. Kutarik dirinya dan menciumnya bergairah sampai kehabisan oksigen. "Jangan, Draco. Jangan menciumku dan mengacaukan segalanya. I'm pregnant and horny, please don't screw up with me," ujarnya putus asa.
"Kita baru saja maraton bercinta pagi ini. Aku tak sanggup lagi, tapi jika kau menciumku seperti tadi aku ingin sekali merobek bajumu dan bercinta denganmu di teras ini," lanjutnya kesal sementara aku hanya tertawa mendengarnya.
Pregnant and horny. I love that combination of this woman.
Dia masih menatap kesal kepadaku lalu menyeruput teh yang dimantrainya agar tetap hangat. Dia berhasil mengurangi meminum vanilla milkshake saat aku mengatakan bahwa aku tak mau memiliki istri dengan diabetes melitus di tubuhnya. "Jadi kau menyetujui rencanaku?" tanyanya.
"Tentu saja," balasku.
Ia mengangguk-angguk. "Apakah ada wacana untuk menyiksa dan membunuh Pansy Parkinson?"
Aku menatapnya malas. "Jika dia terbukti menjadi salah satu pengkhianat, aku tak menutup kemungkinan."
Hemione tersenyum licik padaku. "Kabari aku. Aku ingin mengambil andil mencabik wajah operasi plastiknya."
Aku menatapnya tak percaya dan Hermione hanya tertawa. "Aku bercanda," ujarnya.
Meskipun benar aku juga tak mempermasalahkannya.
Hermione menatapku dengan tatapan yang aku sudah paham betul maksudnya. Ia menjilat bibirnya perlahan lalu mengambil karet rambut dan mengikatkannya di rambut cokelatnya. Leher jenjangnya terpampang disana dan dalam sekejap aku 'mengeras' dibuatnya. Hermione mendekat padaku. Dan dadanya yang membesar semenjak hamil ini menempel di dadaku dengan mantap. Dia mendekatkan bibirnya lalu melumat bibirku dengan sangat bergairah. Tangannya berada di rambutku dan perlahan menuruni wajahku dan berakhir di celanaku dengan ereksi yang tak dapat lagi ditutupi. Perlahan ia melepaskan bibirnya dari diriku lalu menatapku dan menyeringai. Hell yeah! Dia menyeringai.
"I just changed my mind. Let's fuck, husband," bisiknya di telingaku lalu bangkit pergi meninggalkanku begitu saja.
Tak perlu memakan waktu lagi, aku mengejarnya. Bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta padanya?
000
"Hello, Parkinson," sapaku saat Blaise membuka penutup wajahnya di dungeon ini.
Ia tampak tak berdaya dengan luka memar di memar dan darah di wajahnya berkat prakarya dari tangan Blaise. Theo mengirimkan salam padanya tadi karena ia harus ke Wales hari ini dan tak dapat bergabung menikmati peristiwa ini bersama kami.
"Surprise, surprise," ujar Blaise dari sudut dungeon ini setelah menenggak whisky-nya.
Parkinson hanya menatapku lalu tetiba mengamuk dan berusaha melepaskan rantai yang mengikat kaki dan tangannya secara sihir. "Apa yang kau inginkan, Malfoy?" tanyanya.
Aku menyeringai. Beraninya ia bertanya padaku, bahkan namaku tak pantas diucapkan olehnya. "Sebenarnya aku ingin membunuhmu, tapi istriku meminta untuk menyiksamu saja sampai kau tak sanggup lagi pergi meminta bantuan ke ketiak para bedebah The Bratva."
Dia tertawa seketika. Dan tetiba saja tawanya semakin kencang. "Jadi kau sekarang tunduk pada mudblood peliharaanmu itu?"
Holy shit! Dan kini ia menghina istriku. Blaise mengedik lalu memberikan cincin besi kepadaku sebelum aku melemparkan bogem mentah ke wajahnya berulang kali. Aku mendengar serta melihat tulang hidungnya patah. Blaise menepuk pundakku dan memintaku mundur. "Aku akan mempersingkatnya saja, kecoa busuk," ujar Blaise.
"Jadi, apa yang The Bratva rencanakan untuk melawan kami?"
Alih-alih menjawabnya, Parkinson meludahi wajah sahabatku itu. Blaise membersihkanya perlahan lalu mengeluarkan tongkatnya. "You wanna play, Parkinson? Let's play," ujarnya.
"Crucio!" ucap Blaise lagi.
Parkinson jatuh menggelepar dari kursinya dengan tubuh gemetar kesakitan. Ia kejang dan teriakannya dapat terdengar ke seantero Manor. Beruntunglah Herrmione tengah berada di luar. Bukan karena takut ia akan histeris lagi melihat aku menyiksa orang, aku hanya tak mau telinganya terkotori oleh suara kecoa busuk ini. Blaise menurunkan tongkatnya dan kutukan itu terhenti saat hidung Parkinson mulai mengeluarkan darah. Senyum licik Blaise terpampang di wajahnya. Dia kembali mengayunkan tongkatnya dan Parkinson kembali duduk di tempatnya. Ia terisak. "Just kill me, Zabini. Just kill me!"
Blaise tertawa lalu menggeleng. "Where's the fun, Parkinson?" tanyanya.
Dan suara ponsel sihirku berbunyi. "Yes, Hermione."
"Kau dimana?" tanyanya dari seberang sana.
"Di dungeon mengurus beberapa hal," balasku.
Dia tertawa di seberang sana. "Aku hampir tiba," balasnya.
"Cek sekitar, Pietro. Dimana detail penjagaan kita," aku mendengar Ballard memberi instruksi pada Pietro.
Keningku mengerut. Aku meletakan detail pengamanan dengan radius satu kilometer dari gerbang Manor. Bila mereka menghilang ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi.
"Ada apa?" tanya Hermione pada kedua pengawalnya.
"Ada yang tak beres, Madam. Kami akan memacu mobil agar segera sampai di Manor," balas Ballard.
Tatapanku beralih pada Parkinson. "Tenang, darling. Dan jangan matikan sambungan ini."
"Baiklah," balas Hermione.
Parkinson masih terlihat kesakitan. "Apa hal ini menjadi bagian dari rencana The Bratva?" tanyaku.
Blaise mengeluarkan belatinya dan menancapkannya di paha pria busuk ini. Dia berteriak kesakitan. "Lari, Malfoy. Selamatkan istrimu. Mereka mengincarnya," ucap Parkinson sebelum ia kehilangan kesadaran.
Aku membatu di tempat. "Draco. Draco. Honey!" suara Hermione tampak panik mendengar percakapanku dengan Parkinson.
"Tenanglah. Berikan ponselmu pada Ballard," perintahku.
"Yes, Sir," ujarnya.
"Pacu mobilmu. Buat dia terlindungi dan tak terlihat sampai kau sampai di Manor," perintahku dan mematikan sambungan ini.
Tatapanku beralih ke Blaise. "Periksa semua kamera pengintai," perintahku lalu keluar berlari dari dungeon ini.
"Aye, Sir."
Hermione dan anakku harus selamat. Tak ada yang dapat menyakitinya. Tak ada yang dapat mengambilnya dariku. Aku berlari dan tepat saat aku berada di pintu ganda Manor, mobil mereka masuk ke pekarangan. Perasaan lega menjalari tubuhku.
"Thank God," ujarku saat melihat Hermione keluar dari mobil itu.
Tetapi, tatapanku teralihkan oleh sosok yang berdiri di atas pagar batu yang mengelilingi Manor ini dengan pistol di tangannya. "Awas!" teriakku.
Ballard langsung mengeluarkan pistol dan tongkatnya.
Bang.
Suara tembakan terdengar jelas. Aku langsung berlari ke arah istriku yang terlihat roboh. Aku berlutut di sampingnya dan ia menggeleng. "Aku baik-baik saja."
Anggotaku yang lain langsung mengamankan tempat ini. "Syukurlah."
Aku memeriksa tubuhnya dan tak ada satupun yang terluka hanya luka baret di lengannya karena menghantam tanah tadi. Dan aku akan langsung meminta healer Davis untuk datang memeriksa kandungannya.
"Berterima kasihlah pada Pietro yang mendorongku," ujar Hermione.
Pietro. Tatapanku beralih pada Ballard yang berdiri tak jauh dariku. Dia menggeleng saat tatapan kami bertemu. Dia menghampiriku dan Hermione lalu meninggalkan tubuh temannya yang terlempar ke belakang mobil ini.
"Pietro tertembak. Dia tewas, Sir."
Hermione langsung memelukku. "Oh my God."
"Shit," umpatku.
They ask for war. Let's war.
000
to be continued
Saya mau berterima kasih pada Raisa untuk lagunya yang berjudul Kali Kedua. Lagu ini terus saya putar saat menulis chapter. Such a good song. So how's this chap? Let me know what you think, okay? Your review is my mood booster. And just like Draco loves Hermione and vice versa, I love you guys, my rock roll reader. So keep leave me your thought. And see yaa in the next week or maybe in the middle of the week hehe
