Chapter 10

Main cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Xi Luhan, Wu Yi Fan, Do Kyungsoo

Other cast : Chen/Lee Jongdae, Huang Zi Tao, etc.

Genre: Humor, Romance, Drama

Summary :
Park Chanyeol, seorang pria manja dan lugu yang menyamar menjadi orang miskin, terjebak dalam masa-masa kuliah yang mengerikan bersama Byun Baekhyun, gadis galak yang paling ditakuti di Kampus. Tetapi ketika mereka saling jatuh cinta, takdir justru berkata lain.
(summarymacamapaini)
CHANBAEK/CHAN
SOO/KRISBAEK/GENDERSWITCH

! ! !

Baekhyun mendengus sebal saat Chanyeol beranjak keluar dari mobil dan beralih membukakan pintu untuknya. Ia melirik ke arah Kafe di belakang Chanyeol yang rumornya dapat menguras semua lembaran di dompetmu bahkan hanya untuk sekedar menikmati secangkir kopi pahit.

Chanyeol yang mendapati Baekhyun tak kunjung bergerak dari posisi duduknya lantas tertawa tipis karena sudah mengerti maksud dari tekukan wajah gadis itu.

"Apa perlu aku gendong?"

Baekhyun dengan kasar keluar sambil menyenggol Chanyeol di ambang pintu mobil sebelum lelaki itu bertindak lancang lebih jauh, mengingat bosnya ini adalah seseorang yang senang menyalahgunakan kewenangan dan bertindak sesuka hati tanpa memakai otak.

Entah kenapa, membuat Baekhyun marah menimbulkan adanya suatu kepuasan tersendiri bagi Chanyeol. Pria itu hanya dapat menahan tawa sambil melangkahkan kaki-kaki panjangnya mengekori Baekhyun yang telah berjalan cepat memasuki Kafe.

"Apa yang ingin kau makan?" tawar Chanyeol yang telah duduk berhadapan dengan Baekhyun di salah satu meja yang sedikit jauh dengan kerumunan orang, menyodorkan buku menu pada gadis yang sedang menyilangkan tangan di dada itu.

"Terserah,"

Ya, begitulah jawaban semua wanita ketika berkencan.

Tunggu.

Berkencan.

Chanyeol bahkan baru menyadari bahwa ini adalah kencan kecil mereka setelah terpisah selama tiga tahun. Dan ia tak dapat menyembunyikan gigi-gigi rapinya ketika mengetahui hal yang baginya amat penting itu.

Demi menunjukkan sisi mewah dan gentle yang telah ia miliki kepada Baekhyun, Chanyeol menutup buku menu di tangannya tanpa melihat satu pun nama makanan di sana dan berkata pada pelayan di sebelahnya, "Bawakan kami dua porsi makanan dan minuman paling mahal di Kafe ini. Ingat, yang paling mahal."

Melihat sifat Chanyeol yang sepertinya sedikit kampungan walau kaya, Baekhyun mendecihkan tawa mengejek seraya membuang wajahnya. "Apa-apaan itu." Desisnya dengan nada pelan, tetapi telinga lebar Chanyeol dapat mendengarnya.

"Jika kau suka Kafe ini maka aku akan membelinya untukmu." Chanyeol lagi-lagi memamerkan senyum seringaiannya yang sangat tidak Baekhyun sukai.

"Aku lebih memilih mengais-ngais tong sampah dan makan bersama kucing liar daripada duduk bersama orang sepertimu di sini," ucap Baekhyun ketus tanpa melihat ke arah Chanyeol, memandang bosan kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya.

"Yak. Orang sepertiku? Apa maksudmu? Eiss, jangan seperti itu. Aku tahu dalam dasar lubuk hatimu kau pasti tak bisa berhenti menjerit bahagia karena sedang kencan makan siang dengan orang... seperti... ku..." Chanyeol memperlambat ucapannya di akhir kalimat begitu matanya membulat mendapati pria postur besar tampak memasuki Kafe dan berjalan menghampirinya dengan tautan alis yang tegas.

'Wu Yifan? Orang itu? Kenapa dia juga ada di sini? Sialan.' Dan batin Chanyeol tak henti-hentinya mengumpat begitu Kris berhenti di depan meja mereka berdua.

Kris Wu.

Chanyeol tak menyangka bahwa rivalnya di masa lalu itu juga menginjakkan kaki di Seoul.

Berbeda dengan Chanyeol, wajah Baekhyun menunjukkan semburat bahagia begitu merasakan pahlawan penyelamatnya datang sekarang.

Kris menatap Baekhyun dengan sorot mengintrogasi, hendak mengajukan berbagai macam tanda tanya yang sudah memenuhi isi kepalanya. Tetapi hal itu ia urungkan karena menyadari bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyembuhkan rasa penasarannya. Melihat Baekhyun yang kini menatapnya seakan sedang memohon-mohon, Kris langsung paham bahwa gadis itu sedang berada dalam situasi yang tak nyaman. Maka tanpa ragu, Kris duduk di sebelah Baekhyun sehingga membuat Chanyeol mengerjap-ngerjap cepat dan mengajukan protes.

"Y-yak! Si-siapa kau? Berani-beraninya," Chanyeol gelagapan.

Kris sedikit kaget karena pria yang dia kira adalah Yeollie itu ternyata tak mengenalnya.

"Dia teman makan siangku yang aku katakan tadi. Memang sudah seharusnya dia berada di sini," Baekhyun menjelaskan. Ekor matanya melirik Kris dan ingin bertanya mengapa pria itu bisa berada di Kafe yang sama dengannya. Ia tahu bahwa Kafe ini bukanlah selera Kris dan tidak mungkin mereka bertemu secara kebetulan. Kris cukup sederhana walau punya banyak uang, dan lebih suka mengajak Baekhyun mampir makan siang ke warung pinggiran jalan daripada ke tempat yang elit.

Baekhyun menebak bahwa Kris telah mengikutinya sampai ke sini, maka dari itu ia menyimpan lagi pertanyaannya dan mungkin akan menanyakan itu lain kali.

Masih merasa kesal karena Kris mengganggu kencan makan siangnya dengan Baekhyun, Chanyeol kini mengangkat garpu yang tergeletak di hadapannya dan mengacung-acungkannya ke depan wajah pria China-Kanada itu. "Hei. Kafe ini tidak murah– Tidak, maksudku, Kafe ini tidak murah bagimu walau tampak mudah bagiku. Aku sudah memesan meja ini dengan harga yang tidak dapat kau bayar, kau tahu? Kau tidak bisa duduk begitu saja di sini. Pergilah,"

Dan Kris kembali sedikit dibuat kaget karena pria yang dia duga adalah Yeollie itu mempunyai sifat congkak yang kelebihan dosis. Omongannya yang agak ngelantur itu memang sedikit sama dengan Yeollie, namun ucapan Chanyeol terdengar jauh lebih menyebalkan daripada si kepala jamur tiga tahun lalu.

Baekhyun tertawa menanggapi perkataan Chanyeol, "Ah, begitu? Baiklah."

Kemudian Chanyeol dibuat panik ketika Baekhyun kini menggandeng Kris dan hendak beranjak dari kursi untuk meninggalkannya. Tanpa sadar pantatnya sedikit terangkat dari kursi dan gestur tangannya bergerak seolah berusaha menahan mereka berdua, sehingga Baekhyun dan Kris kembali duduk dengan malas. "Tidak, tidak. Duduklah. Aku hanya bercanda."

Walaupun Kris datang sebagai pengganggu, tapi tak apa lah. Itu jauh lebih baik daripada kencan makan siangnya dengan Baekhyun gagal total. Anggap saja Kris adalah patung manekin penghias ruangan yang menambah kesan estetika. Benar, anggap saja seperti itu. Ia harus berpikir lebih positif.

Tetapi masalahnya lagi, jika Chanyeol mengabaikan Kris, ia takut Kris akan curiga. Ia harus bersikap seolah ia tak kenal dengan Kris –dan karena tak saling mengenal, harus bertegur sapa lalu berkenalan, bukan?

Chanyeol harus bersikap sewajarnya dan berbasa-basi pada si China oleng itu, seolah mereka berdua adalah dua pria yang baru saja bertemu.

"Kau tidak memesan apapun?" tanya Chanyeol, mengangkat buku menu untuk disodorkan pada Kris.

Kris mendorong buku itu pelan dengan senyum tipis. "Tidak. Aku tak berselera."

Chanyeol memiringkan kepalanya sedikit, meletakkan kembali buku itu ke atas meja seraya mengusap wajah geram lalu mempertontonkan gigi-giginya untuk memberikan tawa sindiran. "Kau ini benar-benar kere ya?"

Kris membalas tawa itu, menuangkan air mineral gratis di atas meja ke dalam salah satu gelas, lalu meneguknya sedikit. "Begitulah. Sangat sayang jika harus menghanguskan dompetku hanya untuk sepiring nasi. Aku akan makan roti saja di tempat lain,"

Chanyeol mengangguk paham. Dia tidak peduli sebenarnya. Terserah apa Kris mau makan roti atau makan nasi basi. Kalau perlu Kris tidak usah makan saja sekalian agar pria itu mati dan tidak mengganggu kencannya lagi. Menyebalkan.

"Apa perlu aku mentraktirmu? Tapi syaratnya kau pindah ke meja lain,"

Dan Kris merasakan tensi darahnya sedang menjalar naik ke ubun-ubun akibat ocehan Chanyeol yang sudah jelas sedang memojokkannya. "Kenapa kau cerewet sekali? Mengingatkanku pada seseorang,"

Mulut Chanyeol seketika mengatup bungkam, menatap pria itu tanpa bisa berkata apapun. Giliran dia yang tersinggung sekarang.

'Seseorang' yang Kris maksud itu... Yeollie, kan?

Baekhyun melirik Kris, sudah mengira bahwa Kris pasti punya pemikiran yang sama dengannya. Dia tak perlu bertanya lagi pada Kris tentang bagaimana kesan pertama bertemu dengan Chanyeol. Ia tahu Kris awalnya juga pasti mengira bahwa Chanyeol adalah Yeollie karena wajah mereka kembar.

Apalagi, Chanyeol dan Yeollie sama-sama banyak omong.

Walaupun segala kepercayaan Baekhyun bahwa Chanyeol adalah Yeollie seketika buyar ketika mendapati Chanyeol mencium bibirnya dengan kurang ajar.

Mengingat kejadian menjengkelkan itu, Baekhyun langsung mendengus dan tertawa menanggapi ucapan Kris sebagai ungkapan kurang setuju. "Jangan samakan dia dengan Yeollie. Yeollie memang memuakkan tapi orang ini jauh lebih memuakkan. Bisa-bisa tingkahnya membuat kita mendadak punya riwayat hipertensi."

Chanyeol berdehem kecil dan menegapkan pundaknya. Ia semakin merasa tersindir tetapi menyadari bahwa ia sepertinya terlalu berlebihan dan bertindak cukup jauh sehingga ia seakan terhempas oleh bumerang yang ia lempar sendiri.

'Ok, calm, . Ingat bahwa kau harus menunjukkan wibawa dan sisi yang cool untuk menggaet Baekhyun kembali ke pelukanmu. Kau harus pelan-pelan.'

"Jangan serius begitu, dong. Aku kan hanya mencairkan suasana." Chanyeol tertawa kaku pada Kris dan Baekhyun yang memandangnya tak bersahabat.

"Ah, ngomong-ngomong, Kris ge. Aku akan pergi ke Jejudo untuk menemani bosku ke forum antar perusahaan." Baekhyun mengabaikan ucapan Chanyeol dan kini beralih pada Kris.

Dan Kris belum mengetahui bahwa bos yang Baekhyun katakan kini sedang duduk di hadapannya dengan mata berapi-api. "Kenapa tiba-tiba? Kapan?"

Baekhyun menggidik bahu. "Entahlah. Kau tanyakan sendiri pada orangnya." Jawabnya, menunjuk Chanyeol dengan dagunya.

Kris melirik Chanyeol yang kini ekspresinya berubah menjadi agak cerah. "Jadi dia... pemilik perusahaan yang baru? Park Chanyeol?" Kris memandang Chanyeol tak percaya. Sejenak, asumsinya bahwa Chanyeol adalah Yeollie pun hilang seketika. Kemudian ia berdiri dan membungkuk kepada pria itu. "Selamat siang, Park sajangnim. Maafkan kelancanganku sebelumnya."

Dan Chanyeol merasakan volume kepalanya membesar ketika Kris merunduk hormat. Dalam dirinya muncul sebuah kebanggaan karena merasa kini ia dapat menunjukkan kedudukan tingginya pada pria itu, pria yang tak pernah ia sukai sejak dulu.

Walau Kris masih dilema apakah dia adalah Yeollie atau bukan.

"Tak apa. Duduklah. Kan, aku sudah bilang bahwa kita mengobrol santai saja." Jawab Chanyeol tersenyum kemenangan.

Berbanding terbalik dengan Baekhyun, Kris sangat menjaga jabatannya di perusahaan sehingga ia tak mau berlaku tidak sopan lagi pada Chanyeol walaupun tangannya ingin sekali menggeser rahang bosnya itu.

Walau demikian, ia tak rela ketika tahu bahwa orang seperti Chanyeol akan membawa wanita yang ia sayangi ke Jejudo. Hanya berdua. Ia ragu-ragu dengan jenis bos semacam Chanyeol yang mungkin akan menodai Baekhyunnya di penginapan.

Meski Baekhyun ahlinya dalam urusan melindungi diri, Kris tetap saja cemas.

"Kalau begitu... sajangnim, kapan kalian akan pergi ke Jejudo?" tanya Kris.

"Besok."

Kris hanya mengerjap pelan, mengangguk mengerti dengan sangat sangat terpaksa. Lalu ia bertanya lagi. "Hanya... berdua?"

"Kenapa kau jadi banyak tanya? Aku ini bos, kau tau itu kan? Aku bosnya Baekhyun. Mau kami pergi berdua atau pergi bersama orang sekampung, ya terserahku karena aku ini bos." Chanyeol menepuk-nepuk dadanya seraya melempar tatapan tak suka pada Kris. Dia memang tak suka pada Kris sejak dulu, tapi dia lebih tak suka lagi dengan Kris yang sekarang. Apalagi Kris yang sekarang sudah mengganggu kencan makan siangnya.

"Omong-omong, darimana kau tahu namaku? Jangan bilang, kau penguntitku ya? Atau aku yang terlalu terkenal? Aku ini setampan dan sekaya apa sampai-sampai orang asing sepertimu bisa mengenalku? Apa kau sebenarnya diam-diam mengidolakanku? Aku sering masuk media karena aku pebisnis handal yang bisa dijadikan inspirasi, selain karena aku masih muda, aku juga mirip seperti idol. Kau pertama kali mengenalku lewat mana? Acara televisi atau artikel?" lanjut Chanyeol dengan semua celotehannya yang berlebihan dan merambat tanpa tujuan.

Ia hanya akting sebenarnya, karena menyadari benar bahwa posisinya sekarang adalah Park Chanyeol, si kaya raya yang tak kenal siapa itu Byun Baekhyun, Wu Yifan, dan Park Yeollie. Masa bodo dengan kata-katanya yang congkak dan tinggi hati, yang penting ucapannya tidak mengada-ngada. Dan walaupun hanya akting, fakta tentang dirinya yang sering masuk media itu benar adanya.

Tetapi gaya bicara Chanyeol membuat Kris tak tahan lagi. Ia jadi ingin membanting Chanyeol di tempat ini, sekarang juga, memakai semua jurus bela dirinya.

"Kris Wu imnida. Aku mengenalmu karena aku bekerja di perusahaanmu," Kris membungkuk kecil tapi masih dengan posisi duduknya. Ia melempar senyum penuh paksaan pada bosnya yang banyak bicara itu.

"Perusahaanku? Perusahaanku yang mana? Soalnya perusahaanku banyak. Ahh aku ingat. Ada orang China yang waktu itu bekerja sebagai sales di perusahaan toiletku. Kalau tidak salah dia melamar kerja di cabang perusahaan toiletku yang ada di Namyangju. Itu kau, ya?" tebak Chanyeol, melebarkan senyumnya dan menuding Kris dengan telunjuknya.

Kris masih bisa tersenyum tenang. "Bukan. Aku bekerja di SBS."

Chanyeol meletakkan jarinya mengusap dagu, mencondongkan sedikit badannya seraya memicing memandangi Kris, menilai bentuk wajah pria datar itu. "Kau tak cukup tampan sebagai model SBS. Tampan, sih, tapi tidak terlalu. Jangan sakit hati, karena ucapanku ini subyektif. Kau tampan, kok. Sayangnya ketampananmu tidak membuat orang kaget –maksudku, kau tampan tapi biasa saja. Kau paham, kan? Lalu... pakaianmu juga terlalu santai untuk sekelas jabatan tinggi di bagian administrasi. Kau pun tidak punya aura-aura seorang direktur, produser, atau apapun itu. Sebentar, biar aku berpikir dulu untuk menebak apa pekerjaanmu." Chanyeol mengernyitkan kening dengan alis bertautan, seakan sedang berpikir serius.

Nah, dia mulai lagi. Arah pembicaraan Chanyeol sudah meluber kemana-mana. Baekhyun tak lagi terkejut dengan itu, sehingga gadis itu hanya bergeming sejak tadi dan dengan bosan memainkan ponselnya, mengabaikan perdebatan tak kasat mata antara Kris dan Chanyeol.

"Ah! Mungkin kau... kameramen?" tebak Chanyeol.

Kris menarik sedikit senyumnya agak lebar. Anggap saja mentalnya saat ini dilatih untuk bersabar menghadapi Chanyeol. "Bukan, aku—"

"Bukan, ya? Jadi apa? Penata lampu?"

"Bukan. Pekerjaanku—"

"Ini, bukan. Itu, bukan. Jadi kau ini kerjanya apa? Oh, sebenarnya kau itu hanya tukang pel, kan? Makanya kau malu mengatakannya dan hanya berkata bukan sejak tadi." Protes Chanyeol dengan tak beralasan.

Kris menghela nafas panjang. "Aku Direktur Program."

Chanyeol kalah.

Ia memberi jeda sejenak untuk memikirkan kalimat selanjutnya. Kemudian mulut lebarnya bicara lagi. "K-kalau kau orang penting di perusahaanku, kau harusnya tidak berkeliaran di sini. Di sana banyak pekerjaan yang harus diurus, tahu. Di kantor kan ada kantin. Apa gunanya aku membayar Chef di sana kalau pekerjaan mereka tidak dihargai? Atau kau hanya beralasan makan siang saja makanya kau keluyuran keluar? Kau sebenarnya ingin pergi ke Pub setelah makan siang, kan? Pikiranmu hanya dipakai untuk bersenang-senang saja daripada bekerja. Kau pikir aku tak tahu?"

Lihat siapa yang bicara sekarang. Dia menuduh Kris melepas tanggung jawab sebagai pemegang jabatan penting tetapi dirinya sendiri membawa lari anak orang untuk kencan makan siang ke Kafe mahal padahal dia lah pemegang dudukan tertinggi perusahaan. Bahkan sebenarnya setelah kencan makan siang, Chanyeol lah yang ingin bersenang-senang mengajak Baekhyun ke tempat hiburan untuk lari dari berkas-berkas di kantor. Kenapa dia malah membalikkan fakta dan menyalahkan Kris?

"Aku sudah mengarahkan anak buahku yang bertanggung jawab pada proses dubbing dan sebelum kesini aku sudah mendesainkan set panggung pada setting crew. Semuanya akan beres saat aku kembali ke sana." Kris memperjelas, berharap bahwa setelah ini Chanyeol akan berhenti menginjak-injak harga dirinya.

Kris merasa janggal, sebenarnya. Dia dosa apa pada Chanyeol sehingga si telinga besar itu secara tak langsung terus menjelek-jelekkan dirinya? Seingatnya, Yeollie memang tak pernah menyukainya, tapi ocehannya tak sampai separah Chanyeol. Atau memang dasarnya Chanyeol saja yang sejak lahir punya sifat besar kepala seperti itu? Kris tak mengerti, tapi sekarang paham mengapa Baekhyun tak mau menyamakan Yeollie dan Chanyeol.

Kedua orang itu jelas berbeda.

Yeollie itu miskin. Chanyeol itu kaya.

Yeollie itu agak gendut. Chanyeol proporsional.

Yeollie itu culun. Chanyeol berkharisma.

Yeollie itu jorok. Chanyeol itu modis.

Yeollie seperti kutubuku. Chanyeol seperti artis.

Yeollie itu idiot. Chanyeol lebih idiot.

Kesimpulannya, dari luar Chanyeol jauh lebih sempurna tapi jika lebih diteliti lagi, Yeollie jauh lebih baik bila dilihat dari segi adab dan sopan santun.

Tidak seperti Chanyeol, Yeollie bisa menggunakan otaknya dengan benar.

Otak Yeollie itu otak asli.

Otak Chanyeol terbuat dari agar-agar.

Dari situ saja terlihat dimana letak perbedaannya. Jadi, Kris sekarang membuang jauh-jauh persepsi bahwa Chanyeol = Yeollie.

"Jangan mentang-mentang kau direktur kau bisa seenaknya menyuruh-nyuruh anggotamu. Dengarkan nasihatku, ya. Sebagai pemimpin, kau tak boleh hanya memerintah ini itu sementara kau enak-enakan mondar-mandir ke kedai mahal seperti ini. Kau harusnya ikut membantu pekerjaan mereka. Aku yakin sekarang anak buahmu sedang membicarakanmu di belakang karena kau bisanya hanya menyuruh." Chanyeol mengomel lagi.

Kris melirik sekilas jam tangannya. "Sekarang masih jam istirahat. Para karyawan juga sedang makan siang di kantor."

"Lalu? Mereka makan di kantor, kau makan di sini, begitu? Kalau mereka makan rumput, kau makan daging bakar, begitu? Kalau mereka minum air keran, kau minum champagne, begitu? Begitu ya, cara kerjamu?" Chanyeol kembali menunjuk-nunjuk Kris dengan garpu sambil memelototinya.

"Aku sudah bilang aku tidak makan siang di sini. Setelah Baekhyun makan, aku akan pergi makan roti di luar." Kris menjawabnya kalem.

"Kenapa harus beli di luar, sih? Itu hanya memperlambat waktu. Kenapa tidak sekalian beli di sini saja? Gajimu kan besar! Kau ini seboros apa sampai-sampai tak punya uang untuk makan siang di tempat mahal begini? Hanya sekali saja makan di sini tidak akan membuatmu miskin. Kau ini kan direktur. Apa perlu gajimu ku naikkan?" Chanyeol sepertinya lupa bahwa ia harus menjadi berwibawa di depan Baekhyun. Sekarang omongannya jadi keterusan gara-gara terlalu ingin memojokkan Kris.

"Aku tidak suka makanan di sini." Jawab Kris lelah.

Chanyeol hampir berkata 'Ya pergi saja kalau tidak suka! Mengganggu saja!' tetapi ia urungkan karena jika Kris benar-benar pergi maka Baekhyun juga ikut pergi meninggalkannya sendirian. Baekhyun itu jengkel padanya, ia tahu itu.

"Aku tidak mau tahu. Kau harus makan juga di sini. Ini perintahku sebagai atasanmu. Jangan salah paham. Bukannya aku senang makan siang denganmu. Tapi aku mau setelah pergi dari sini kau langsung berangkat ke kantor mengurusi panggung, bukannya berkeliling kota mencari toko roti. Jadi waktumu tidak terbuang banyak dan pekerjaan kantor cepat selesai. Kalau sudah begitu kan, aku juga enak. Bagaimanapun, itu perusahaanku. Jika pekerjaanmu cacat sedikit saja, aku akan blacklist namamu dari semua perusahaan televisi Korea. Mengerti tidak? Ini, pesanlah sesuatu!" Chanyeol menyodorkan paksa buku menu ke depan Kris.

Dan kebetulan, ketika Kris mengalah dan sedang memilih makanan di buku menu, datang dua pelayan mengantarkan makanan milik Chanyeol dan Baekhyun.

"Salad sayuran dan air mineral," ucap Kris pada pelayan sambil meletakkan buku menunya.

Chanyeol yang baru menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya pun melirik Kris geli. "Salad dan air putih? Kau diet ya?" tanyanya sewot dengan mulut mengunyah.

"Tidak, sajangnim. Aku hanya terbiasa hidup sehat."

Chanyeol mengangguk saja, "Oh. Aku tidak peduli sih." Sinisnya, kembali membuang muka ke bawah untuk memakan satu sendok lagi.

Sampai akhirnya ia sadar bahwa lidahnya tiba-tiba terasa panas padahal baru memakan satu sendok. Chanyeol memasang wajah masam, niatnya memakan satu sendok lagi pun ia urungkan.

Melihat Chanyeol meletakkan kembali sendoknya, Baekhyun mendeliknya aneh. "Kenapa kau?" tanyanya, dengan santai memakan menu yang dipesankan Chanyeol untuknya.

"Aku tidak apa-apa!" jawab Chanyeol kilat. Lalu ia menyuapkan makanan itu lagi ke mulutnya seraya tersenyum kaku, menahan indera perasanya yang terbakar dan usus-ususnya yang terlilit.

Sialan. Chanyeol tak tahu bahwa makanan paling mahal di Kafe ini adalah makanan pedas.

Seumur hidup, pantang bagi Chanyeol untuk makan makanan pedas walau hanya menjilatnya lewat sendok sekalipun! Hanya makan satu gigitan saja, Chanyeol tak akan tahan dan perutnya akan seperti sedang dikorek pertanda ia harus mencari kloset.

Gawatnya lagi, Baekhyun tahu benar bahwa Yeollie itu anti masakan pedas.

"Park Chanyeol, kau tidak suka makanan pedas?" tatap Baekhyun curiga.

Chanyeol menggeleng cepat walau peluh telah mengalir di pelipisnya. "Tidak, biasa saja. Aku suka semua makanan."

Dan terpaksa, pria itu harus memakan makanan itu sesendok demi sesendok, mengunyahnya tanpa menelan, dan menahan diri untuk tidak terlalu sering minum air agar kedua orang di depannya itu tidak curiga padanya.

Sayangnya, wajah Chanyeol yang memerah tidak dapat menyembunyikan fakta itu.

"Ini Kafe macam apa? Kenapa panas sekali?" Rutuknya sambil mengambil tisu untuk mengelap keringat di wajahnya, namun ocehannya tak ditanggapi oleh Kris dan Baekhyun yang disibukkan oleh dunia masing-masing.

Baru setengah makanan di piring itu yang habis, perut Chanyeol sudah berkontraksi hebat. Isi organ dalamnya seperti sedang teraduk-aduk dan dibakar.

Dan kebetulan sekali, dalam keadaan genting itu, Chanyeol mendapati ponsel di sakunya bergetar. Melihat nama Yejin tertera di layar, Chanyeol tersenyum bahagia.

Tidak, dia tidak bahagia karena yang menelpon itu Yejin. Pokoknya dia bahagia, tak peduli siapapun yang menelpon.

Mendengar nada dering Chanyeol, Baekhyun dan Kris sontak melayangkan pandang pada pria itu. Chanyeol lalu mengangkat teleponnya dan segera bangkit dari kursi. "Ada telepon penting. Aku permisi sebentar," dalihnya, kemudian bergegas angkat kaki menuju toilet Kafe yang sejak tadi setia menunggunya.

Chanyeol berlari memasuki bilik toilet dan menutup pintu dengan dobrakan, lalu duduk ke kloset dengan tergesa-gesa sampai lupa menutup panggilan telepon Yejin.

"Oppa, kau tadi permisi pada siapa?"

"Aaakh~" Chanyeol mengabaikan suara di telepon itu, sibuk meringis kesakitan memegangi perutnya untuk memaksa isinya keluar.

"Oppa, kau kesakitan? Kau kenapa? Dimana kau sekarang?"

'diamlah, dasar bodoh!' umpat Chanyeol dalam hati.

Sebenarnya ia ingin mengatakan itu langsung pada Yejin, tapi saat ini mulutnya terfokus untuk mengeluarkan suara rintihan akibat usus-ususnya yang tak bersahabat.

"Oppa~ Jawab aku! Kau sedang kenapa-napa, kan?! Dimana kau? Aku akan kesana sekarang!"

"Tutup mulutmu! Aku sedang kencan!" akhirnya Chanyeol membentak gadis itu juga. Tangannya dengan kesal meraih ponselnya yang tergeletak di lantai dan mematikan panggilan Yejin sebelum gadis itu menangis-nangis di telepon.

Chanyeol sedang kencan dengan toilet dan ia tak boleh diganggu.

.

.

.

Sebuah keripik pisang hampir menyangkut di tenggorokan Sungmin ketika wanita tua itu melihat Chanyeol pulang pulang dengan wajah kusut dan muram. Sungmin cepat-cepat meminum air putihnya, lalu bangkit dari sofa dan segera berjalan membuntuti Chanyeol yang mengabaikannya dan berjalan menaiki tangga.

"Kau ada masalah apa? Kenapa tumben kau pucat begitu? Kau itu kan jarang sakit! Kau sudah makan apa belum?! Kok bisa sakit?!" seru Sungmin bertubi-tubi.

"Diare." Chanyeol menjawab seadanya. Hal itu membuat Sungmin menganga lebar.

"Kenapa bisa?!"

"Ya bisa!" jawab Chanyeol jengah, tetap melangkah meninggalkan Sungmin yang saat ini berdiri mematung di tengah-tengah tangga.

"Wonwoo-ya! Wonwoo! Jeon Wonwoo!" dan seketika Sungmin berteriak-teriak di sana, menyebabkan suaranya menggema ke seluruh rumah yang amat luas itu. Sehingga tak sampai satu menit, seorang pelayan yang merasa terpanggil pun datang padanya dengan tergesa-gesa. "Chanyeol diare! Cepat antarkan obat ke kamarnya!"

Pelayan itu membungkuk cepat dan segera melaksanakan tugas sang Nyonya Besar tanpa harus menunda-nunda. Pelayan bernama Wonwoo itu berlari-lari ke dapur, mengantarkan nampan berisi set yoghurt, salad buah, dan air hangat serta obat menuju kamar Chanyeol di lantai atas yang letaknya sangat jauh dari dapur.

Jatuh bangun menjadi pelayan di rumah Chanyeol itu sebanding dengan gaji yang sangat besar. Itulah alasan mengapa para pelayan betah terpontang-panting di sana.

Chanyeol hanya berbaring di ranjangnya, tak mengindahkan keberadaan Wonwoo yang berlarian mendatanginya dan meletakkan isi nampan ke atas meja. Setelah Wonwoo pergi, Chanyeol hanya melirik makanan di atas meja itu dengan tak selera. Diarenya sudah sembuh, dia tak butuh yang seperti itu lagi.

Dia pulang dengan kondisi berantakan bukan hanya karena dia diare. Tapi karena Baekhyun.

Dia frustasi karena setelah menghabiskan waktu dua jam di bilik toilet, Baekhyun dan Kris tahu-tahu sudah menghilang begitu ia kembali. Bahkan yang lebih memalukan lagi, pelayan di kasir mengatakan bahwa Kris lah yang membayar semua pesanannya. Itu tentu saja merusak harga diri Chanyeol sebagai bos yang hidup kemewahan.

Ya jelas. Siapa juga yang betah menunggu orang songong yang menghilang ke toilet berpuluh-puluh menit dengan alasan untuk mengangkat telepon? Mana mau Baekhyun dan Kris menunggu dua jam di sana. Apalagi menunggu orang seperti Chanyeol. Mereka mana sudi.

Intinya itu. Chanyeol terlanjur sakit hati dan moodnya memburuk, makanya dia lebih memilih pulang ke rumah dan urung untuk ke kantor.

Beberapa menit melamun memandangi plafon sambil merutuk dalam hati, Chanyeol berkedip dan menoleh pada ponselnya yang sebelumnya ia letakkan di atas meja. Kepalanya semakin mau pecah karena mengira bahwa yang mengiriminya pesan singkat adalah pacar-pacarnya.

Tetapi begitu melihat nama Baekhyun, punggung Chanyeol menegap dan senyumnya berubah ceria.

Tentu saja ia senang. Ini pertama kalinya Baekhyun mengirimnya pesan singkat setelah lewat tiga tahun. Entah darimana Baekhyun mendapatkan nomor ponselnya. Itu tidak penting.

Dari : Tidak dikenal

Ada tamu di kantor
- Byun Baekhyun

Melihat isi pesan itu, Chanyeol merubah lagi ekspresinya menjadi mengeluh kecewa. Padahal ia berharap Baekhyun akan mengirimkan pesan seperti : 'kau kemana saja? Aku khawatir'

Kepada : Iblis Byun

Maaf, ada urusan mendadak. Kau tidak merindukanku, kan?

Chanyeol menamai nomor kontak Baekhyun. Ia lalu tersenyum kecil lagi, mengirimkan pesan itu pada Baekhyun tanpa berpikir.

Dari : Iblis Byun

Tidak. Aku akan pulang dari kantor jika tidak ada pekerjaan lagi.

Seperti biasanya, Baekhyun menjawab rayuannya dengan sadis. Wajar saja. Gadis itu, kan, iblis.

Kepada : Iblis Byun

Pulanglah~ Istirahat yang baik. Siapkan pakaianmu ya. Besok pagi kita akan berangkat ke Jejudo.

Chanyeol langsung membalas pesan singkat Baekhyun tanpa menunggu waktu lama.

Sementara Baekhyun? Butuh bermenit-menit untuk menunggu balasan pesan gadis itu. Tapi tak sampai satu jam, setidaknya.

Dari : Iblis Byun

Jam?

Chanyeol sedikit dongkol karena setelah menanti-nanti pesan masuk, Baekhyun hanya membalas dengan satu kata.

Kepada : Iblis Byun

Jam 9 pagi. Tunggu aku di rumah saja ya. Aku akan menjemputmu. Aku tahu alamatmu. Aku akan mengajakmu sarapan dulu.

Dan sekitar tiga puluh menit kemudian, Baekhyun membalas.

Dari : Iblis Byun

Tidak usah. Aku langsung ke bandara

Chanyeol menatap datar layar ponselnya, hanya diam beberapa saat namun hatinya tak henti-hentinya mengutuk gadis sok jual mahal itu. Ia heran kenapa Baekhyun sekarang menjadi jauh lebih sombong daripada tiga tahun lalu.

Yah, itu jauh lebih bagus sebenarnya karena Baekhyun tak lagi memakai kekerasan meskipun ketika pertama kali bertemu, Yeollie dan Chanyeol sama-sama dihadiahi pukulan oleh gadis itu.

Kepada : Iblis Byun

Oke. Istirahatlah. Jangan sakit ya.

Dan setelah itu Chanyeol kembali mengutuk Baekhyun karena setelah satu jam menunggu balasan, gadis itu tak lagi mau membalas pesannya. Bahkan saking bosannya menunggu pesan masuk Baekhyun tadi, makanan yang terletak di meja nakas tahu-tahu sudah habis dan hanya tersisa obat saja di sana.

Ia baru saja bangkit dari kasur untuk menuju ruang kerja, berencana mengurusi perkembangan perusahaannya yang lain. Tetapi ia menghentikan langkah saat ponsel di ranjangnya berdering kembali. Wajahnya seketika berubah sumringah saat mengetahui seseorang menelpon –lagi-lagi mengira itu dari Baekhyun.

Dan entah sudah berapa kali Chanyeol dibuat kecewa karena yang menelpon ternyata adalah pacarnya, Arin.

"Kenapa?!" sentak Chanyeol.

"Chan... temanku mengadakan pesta pernikahan malam ini. Tidak ada yang menemaniku kesana. Kau temani aku ya. Jemput aku di rumah."

Chanyeol mendengus kasar, menutup panggilan setelah berkata, "Pergi saja dengan nenekmu!"

Dan saat ia hendak melemparkan lagi ponselnya ke kasur, datang lagi panggilan telepon dari Yejin. Gadis itu sepertinya tak kenal kata menyerah walau Chanyeol itu selalu berbuat brengsek padanya. Dari semua kekasihnya, sepertinya Yejin adalah yang paling agresif dan mengejarnya mati-matian.

"Oppa! Aku tadi menunggumu di kantor tapi aku malah diusir wanita yang mengaku asistenmu! Siapa dia?!"

Chanyeol mengerjap. "Asistenku?"

.

.

.

Dahyun tersentak ketika Yejin, sahabat karibnya tiba-tiba menghentakkan ponselnya ke meja. Ia berhenti menyeruput jusnya, melirik Yejin sambil berkedip heran.

"Apa katanya?" tanya Dahyun penasaran.

Yejin tak menatapnya, sibuk mengatur nafas lalu menyibak rambutnya ke belakang. "Bukannya membelaku, dia malah membela wanita itu."

"Wanita yang mana?"

"Yang aku ceritakan padamu barusan! Otakmu itu dimana sih?! Atau jangan-jangan tadi kau tidak mendengarkan curhatanku, ya?!" gertak Yejin, membuat Dahyun menyengir lebar.

"Kau kan tahu sendiri pacarmu itu kebanyakan wanita. Aku jelas bingung siapa wanita yang kau maksud itu."

Yejin merespon perkataan sahabatnya itu dengan muka datar. Kemudian ia meraih ponselnya kembali dan bercermin di sana. "Wanita itu hanya asistennya saja. Wajahnya seperti orang kampung. Dia jelas tak punya hubungan apa-apa dengan pacarku. Kau kira Chanyeol mau selingkuh dengan setan seperti dia?"

"Perasaan cinta siapa yang tahu."

Yejin mendelik. "Jangan ceramahi aku tentang cinta. Mentang-mentang kau akan menikah,"

"Tapi aku serius, Yejin. Kalau dia itu suka main wanita, itu artinya dia tidak cinta siapa-siapa. Kulihat-lihat, dia itu hanya pacaran dengan wanita-wanita terkenal yang gemar hura-hura, salah satunya kau. Sedangkan asisten wanita yang kau maksud itu pasti sehari-harinya sangat dekat dengan pacarmu. Siapa tahu, kan, Chanyeol tiba-tiba jatuh cin—"

"Diam, Dahyun. Aku tahu itu, aku tahu. Chanyeol tidak pernah serius dengan siapapun. Dia yang mengatakannya sendiri padaku. Dia tidak punya niat menikahiku, atau menikahi siapapun. Tapi aku tak peduli. Aku terlanjur cinta padanya, Dahyun-ah. Biarpun dia tak mau menikah denganku, aku harus menikah dengannya. Aku tidak mau tahu. Tidak penting apa Chanyeol akan jatuh cinta pada asistennya atau menduda selamanya. Yang jelas, aku harus jadikan dia suamiku! Aku tidak tahu kenapa aku jadi gila karena si brengsek itu. Pokoknya kami harus menikah. Dia harus jadi jodohku." Yejin berceloteh tanpa henti, membuat Dahyun memegangi kepalanya karena sudah kehabisan akal untuk membantu temannya itu.

Yejin selalu membantu Dahyun dalam hubungan percintaan sejak SMA. Berkat gadis itu lah Dahyun bisa bertunangan dengan pria idamannya.

Tetapi kisah cinta Yejin jelas berbeda. Kekasih Yejin begitu rumit. JIka Dahyun menjadi Yejin, lebih baik ia meninggalkan Chanyeol saja untuk membuka hati pada yang lain. Namun karena Yejin begitu keras kepala, maka Dahyun mau tak mau mengambil langkah berbahaya demi gadis itu.

"Ini satu-satunya jalan, Yejin-ah." Dahyun menatap Yejin serius.

"Hah?"

Dahyun mengambil sebuah barang dari dalam tas selempangnya, kemudian meletakkannya ke atas meja dan menyeretnya tepat ke depan Yejin.

Yejin menatap botol kecil itu dengan mengernyit, melirik Dahyun tak mengerti. Dahyun hanya diam, menyuruh Yejin untuk menebak sendiri. Hingga akhirnya otak Yejin baru terkoneksi dan menyadari botol apa itu. Mulutnya menganga kecil. "Dahyun, serius?"

Dahyun menengok kiri kanan, lalu berbisik. "Begini. Tunggu lah Chanyeol mengajakmu kencan, makan, atau apapun itu. Pastikan kau mengalihkan perhatiannya dan meneteskan obat ini ke makanan atau minumannya. Akan lebih bagus jika dia minum alkohol. Aku jamin dia akan menyeretmu ke suatu tempat, lalu menghamilimu. Jika kau sudah hamil, minta pertanggungjawabannya. Jika dia tidak mau, ancam dia untuk lapor polisi. Aku yakin, sepintar dan semahal apapun pengacara yang disewanya, namanya pasti akan tercoreng di mata publik walaupun dia akan menang di pengadilan. Intinya, jika kau sudah mengancamnya, dia tidak mau dilaporkan ke polisi dan akan setuju untuk menikah denganmu."

Yejin bergeming beberapa saat setelah mendengar penuturan panjang Dahyun. Kemudian menggeleng cepat, "Tidak, tidak. Aku tidak suka ini. Lain kali saja." Tolaknya, menyeret obat itu kembali ke hadapan Dahyun.

"Ini memang tidak alami. Tapi jangan meminta obat ini padaku lagi ketika dia sudah membuangmu, ya. Bagaimanapun, Chanyeol itu tidak meyakinkan." Dahyun memasukkan botol itu ke tasnya lagi setelah mengeluarkan kata-kata yang membuat Yejin kembali menimbang-menimbang.

Kira-kira mana yang harus Yejin percaya?

Obat Dahyun, atau takdirnya?

.

.

.

Orang-orang yang keluar masuk di bandara ataupun yang sedang duduk-duduk di pinggiran trotoar parkir, melongokkan kepala mengikuti arah ferrari hitam legam yang berhenti di depan pintu masuk bandara. Pintu bagasi kedua terbuka indah, dan sosok jenjang menjulang keluar dari sana, membuat wanita yang melihat seketika membulatkan mulut mereka mengatakan 'wah'.

Chanyeol tak mengenakan pakaian formal hari ini. Dia hanya memakai setelan kaos hitam yang dimasukkan ke dalam jeans yang bermodel sedikit robek, serta kemeja lengan panjang kotak-kotak merah. Belum lagi terdapat kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, menambah kesan 'pria es' yang selalu dielu-elukan kaum hawa.

Chanyeol menerima koper yang baru dikeluarkan supirnya dari bagasi, kemudian mengangguk pada supir itu untuk mengisyaratkannya segera pergi. Setelahnya, Chanyeol menyeret koper itu memasuki bandara, mencari-cari sosok Baekhyun yang kabarnya tengah menunggunya di dekat Kafe yang tak jauh dari pintu masuk.

Dan... di sana.

Chanyeol melihat Baekhyun sendirian sedang duduk di salah satu meja. Ketika ia melebarkan senyumnya dan akan menghampiri gadis itu, senyum Chanyeol luntur saat kursi di depan Baekhyun tiba-tiba diduduki oleh pria yang membawa dua cup kopi.

"Kris?" Chanyeol melepas kacamatanya kasar, melotot dengan dahi berkerutan.

Kris yang tak sengaja bertemu pandang dengan Chanyeol yang memaku pun segera melambaikan tangan sok akrab. "Kami di sini!"

Chanyeol melambatkan langkahnya mendatangi mereka berdua. Ia menunjuk Kris ketika telah berada di hadapan mereka. "Apa urusanmu di sini?"

"Tentu saja, kan? Ke Jejudo." Kris tersenyum santai.

Chanyeol membelalak. "Hanya aku dan Baekhyun! Kau kira kau ini siapa?!"

"Aku ingin mencari inspirasi konsep di Jejudo, dan aku ingin membantumu jika sewaktu-waktu kau membutuhkan sesuatu. Lagipula, aku membeli tiketku sendiri. Apa itu masalah, sajangnim?"

"Jelas masalah!" protes Chanyeol.

"Dimana letak masalahnya?"

"Karena—" Ah, Chanyeol nyaris kelepasan. Dia hampir mengatakan, 'Karena kau mengganggu liburan privasiku dengan Baekhyun!'. Jika dia mengucapkan itu, ia yakin Baekhyun akan membantingnya saat itu juga.

"Karena?" tanya Baekhyun dengan nada provokasi.

"Karena kau akan meninggalkan anak buahmu di sini!" Chanyeol berdalih.

Kris tertawa kecil, kemudian menggeleng pelan. "Tidak, sajangnim. Pekerjaanku sedang selesai. Anak buahku sedang bekerja dengan Jun untuk program acara TV. Itu jelas bukan bidangku. Jadi aku sedang bebas kerja beberapa hari ini."

"Jun itu siapa?" Chanyeol menanyakan hal tak penting.

"Direktur yang menangani program reality. Dia itu direktur paling pandai, kenapa bisa kau tak mengenalnya?"

Chanyeol mendecih kecil, mengambil kursi untuk duduk di sebelah Baekhyun. "Aku ini bos. Aku bukan hanya jadi bos satu perusahaan saja. Seluruh perusahaan keluargaku juga aku yang tangani. Berapa kali aku harus katakan itu? Karena aku bos, aku tidak punya waktu untuk menghafal nama-nama bawahanku. Kau tak tahu bagaimana rasanya berada di posisiku. Aku ini orang sibuk, tahu. Orang sibuk."

"Sajangnim, mana tiketnya?" Baekhyun mencoba mengubah alur pembicaraan sebelum Chanyeol mengoceh lebih jauh.

"Ah, sebentar," Chanyeol mengambil kertas dalam saku celananya, lalu ia berikan satu kepada Baekhyun.

"Terima kasih. Gege, ayo kita check in," Baekhyun berdiri saat Chanyeol baru saja duduk. Setelahnya Kris mengikuti gadis itu pergi, meninggalkan Chanyeol yang masih duduk di kursinya dengan mulut sedikit menganga karena geram.

"Aku berencana bermesraan dengan Baekhyun di Jejudo tapi kenapa justru mereka yang bermesraan sekarang?!" celetuknya dengan wajah memerah.

Ini keterlaluan. Chanyeol tak ingin membiarkan dirinya menjadi ranting kering yang terlupakan di Jejudo nanti. Dia tak mau menjadi obat nyamuk di tengah-tengah kemesraan Kris dan Baekhyun. Dia tak boleh membiarkan hal itu terjadi.

Chanyeol merogoh ponselnya, menelpon nomor seseorang di sana.

.

.

.

"Datang ke bandara sekarang dan ikut aku ke Jejudo."

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinga Yejin saat gadis itu sedang sibuk memasukkan pakaian-pakaian ke dalam koper dengan wajah bahagia. Beberapa saat lalu Chanyeol menelponnya. Dan ia tak menyangka bahwa kekasihnya itu tiba-tiba mengajaknya pergi ke Jeju.

Apakah ini... simulasi bulan madu?

Yejin menggigit bibirnya penuh semangat ketika memikirkan itu.

Walaupun ia heran karena baru kali ini Chanyeol mengajaknya liburan dadakan.

"Aw, panas," rintih Yejin saat tangannya tak sengaja menyentuh aluminium pada catokannya. Ia mengibaskan tangannya pelan, lalu kembali menggulung rambutnya di depan cermin untuk menambah kesan bergelombang yang indah.

"Aku harus berdandan seperti istri muda hari ini," gumamnya tersenyum kecil.

Dan kemudian ia teringat.

Obat perangsang yang Dahyun tawarkan padanya kemarin tiba-tiba melintas di pikirannya.

Haruskah ia membawa itu untuk berjaga-jaga?

"Tidak, tidak. Chanyeol mengajakku liburan berdua. Artinya ada peluang untukku. Aku tak perlu obat apapun," gumamnya lagi untuk meyakinkan diri.

Meski demikian, gadis itu tak bisa.

Bayangan obat itu terus melayang-layang di otaknya. Pikirannya kacau tiba-tiba. Perkataan Dahyun kemarin juga sangat membuatnya gelisah dan dilema. Tawaran yang Dahyun berikan terlalu menggiurkan.

Mungkin Dahyun benar.

Bagaimanapun, Chanyeol itu tidak meyakinkan.

Yejin pergi meninggalkan cermin, segera mengambil ponsel dan mengontak seseorang tanpa pikir panjang.

"Dahyun-ah. Bawa obatnya ke rumahku sekarang."

.

.

.

TBC

.

HAEEYYY

Panjang yaaa '-'

Karena rated M gak aku penuhi di chap ini, jadi kupanjangin aja hm hm

Sidernya banyak banget sih, jadi aku rada anu (?)

Tapi makasih loh buat kalian-kalian yang udah review hoho aku pantengin kok karena aku ini kurang kerjaan. (banyak kerjaan sebenarnya, tapi mager aja-.-)

Gimana gimana. Cahyo nya sesuai eksptektasi kalian kah, atau malah kebalik? :v
Maunya sih bikin Cahyo jadi bejat dan bengis gituuu tapi gatega sama Baek apalagi Baek kan udah punya modal tinju jadi rada gamasuk akal deh kalau Baek bisa dikejamin Cahyo. (ENTAH CAHYO BAKAL TETEP NGELUKAIN BAEK ATAU NGGAK NANTINYA, TERGANTUNG GIMANA TANGANKU MENGALIR HUAHAHAHAHA)

Oh iya, sebenarnya aku mau lanjutin ff2 yang lain tapi ternyata aku lagi sibuk-sibuknya (walau gak sesibuk dulu karena kali ini aku punya waktu luang buat ngetik)

Dan khusus untuk ff My Stray Cat, aku akan hapus. Bukan hapus sih lebih tepatnya, tapi aku rombak ulang dari chap 1. Jadi ff itu bakal aku delete dan aku akan post ulang dari chap 1 karena pas aku baca itu ff jadul ternyata typonya bertebaran banget dan gaje maksimal -_-

Kalau untuk My Sweet Maid aku akan lanjutin. (tapi mungkin kalau ff ini dah end).

Gitu aja dehh cuap2nyaa

BABHAAYYY *tebar royco*

.

Btw buat kalian yg punya akun, udah kureply di pm yaa~ (maunya kujawab di sini aja tapi takut wordsnya kebanyakan)

Tapi buat yg belum punya akun, reply review kalian ada di siniii :

.

Minnie14 : adeuh gomapta ~~

Rly : apa yaa hmm xD

Aerellia : yap~ hi my sweetheart judulnya

Anhwa : yahh udah ketebak deh xD

Viantika : duhh gomaptaa~~ /salto/

Anupcy : gomawo~

Guest : gomawo~

Pcy61 : Gomawoo~

Ay : masih bego ya dia xD gomaptaa

Yousee : kira2 cy beneran jahat atau cuma jahil aja yaa xD tunggu aja xD

Guest : adaaa niatan buat nikahin si Sungminn karena gatega gituuu dia hidup menjanda xD tapi pasangannya siapa ya ;-;

Hyuniee86 : namanya juga CY makin caplang jadi gak ketahuan deh ama si baek wkwkwk. Baydeway gomapta ripiunyaa~~

Chanbaek's kiddo : CY makin bego juga jadi Baek ganyadar deh xD maapkeun chap ini belom ada NC (karena masih banyak sider huhu)

Guest : waduh makasih lohh udah semangatin~~~