Can the hatred change?
Chapter 10 : Lurk
.
.
.
.
.
Entah mendapat ide gila darimana, akhirnya Haruno Misaki membuat hari ini menjadi kenyataan. Malam ini memang nampak biasa dan tidak menarik. Namun berbeda bagi Haruno Sakura.
Ia menyesali -paling tidak itu yang ia pikirkan sekarang- keputusannya menolak mentah-mentah rencana sempurna tentang pesta 17 tahun yang dirancang Haruno Misaki di sebuah hotel ternama di Konoha. Hingga akhirnya, wanita itu merencanakan hal yang lebih gila lagi.
Tebaklah sejenak apa yang ia lakukan.
1
2
3
Misaki. Merayakan. Pesta. 17 tahun. Sakura. Bersama. Keluarga. U-chi-ha.
Hanya beberapa kata sih, tapi itu cukup untuk membuat Sakura merasa ia musuh bebuyutan dewi Fortuna. Bahkan mungkin Hades ingin menciumnya dan membawa kabur anak ini. Ke neraka.
Hanya sebuah makan malam biasa dengan acara potong-kue-tiup-lilin saja sih, tapi, terakhir kali ia mendaratkan kakinya di kediaman Uchiha adalah 4 tahun lalu. Itu artinya, ia sangat sangat tidak ingin ada disana lagi. Titik.
Jadi intinya, tunggu, konsteksnya dia yang berulang tahun, tapi kenapa malah ia yang harus "menyampar tamunya" ini hal paling konyol sedunia. Bayangkan ketika kau membuat pesta dan kau yang pergi kerumah tamu mu dan meniup lilin disana. Kau sangat idiot.
Jadi intinya lagi, ia sangat ingin pulang sekarang.
"Aku tidak menyangka, 4 tahun terasa sangat cepat ya, Sakura-chan" kata Uchiha Mikoto.
Sakura hanya tersenyum dan membenarkan dalam hatinya. Ia merasa 4 tahun yang terakhir berjalan sangat cepat karena, tidak ada paksaan, tidak ada Uchiha Sasuke, tidak ada perjodohan sialan, dan ada Sasori yang menemaninya 2 tahun terakhir.
Anehnya, selama sakura menghabiskan tahun pertamanya di KJHS Sasori semacam tidak meliriknya sedikitpun. Dan anehnya kuadrat, setelah Sasori lulus dan masuk KSHS barulah ia mendekati Sakura. Dan coba tebak, tidak butuh waktu lama hingga gadis itu menyadari dan (sangat) menerima keberadaan Sasori di hidupnya. Tentu saja, karena ia menyayangi pria itu sejak setahun yang lalu.
Perasaan putri sulung keluarga Haruno itu bercampur aduk antara kesal, cemas, dan kebingungan setengah mati. Masalahnya, ia bukan datang untuk ditanyai setuju atau tidak setuju ditunangkan dengan Uchiha Sasuke, tapi ia datang untuk dieksekusi mati, ya, h.a.r.u.s menerima Uchiha Sasuke.
Tentu saja Sasori tau mengenai ini, tapi pria yang menekuni pendidikan di bidang astronomi itu terlihat santai. "We'll find a way." Begitu ucapnya tiap kali Sakura mengadu tentang kelanjutan hubungan mereka dan pertunangannya dengan Sasuke.
Tapi Sasori memang serius mengatakannya, ia berkali-kali memberi ide-ide brilian yang kadang tidak masuk akal tapi boleh dicoba. Karena, lelaki itu memang menyayangi Sakura.
Uchiha Fugaku berdeham memecah keheningan yang tidak ada enak-enaknya sama sekali. "Sekali lagi, selamat ya Sakura atas usiamu yang sudah 17." Katanya. "Berarti kita bisa melanjutkan pertunangan ini kan?" Lanjutnya.
Kalimat yang paling ditakuti Sakura akhirnya terdengar dari mulut Fugaku. Padahal ia mengira Misaki yang akan mengomporinya lagi.
"Tentu saja." Tuh kan. Haruno Misaki mengompori. "Langsung upacara pertunangan saja ya?" Ucapnya lagi dengan penuh keyakinan. Sakura melotot ngeri. Sasuke tidak menampakan ekspresi apapun. Ia serius menghabiskan makan malamnya.
"Tidak." Sela Sakura. Oh Tuhan, bahkan Sakura sangat ingin menampar wajahnya sendiri. Kini semua mata tertuju padanya. Bukan, dia bukan Miss Universe.
"Maksudnya, upacara pertunangan itu..." Entah apa yang merasuki si Sakura yang kharismatik ini. Lidahnya kelu dan otak cerdasnya tidak dapat memikirkan satu kata pun.
"Ia hanya tidak ingin melakukan upacara pertunangan." Kata Sasuke tiba-tiba. Sakura memandang anak laki-laki itu, ia kaget dan senang disaat yang bersamaan. Sasuke mengerti apa yang ia inginkan.
"Maksudmu?" Uchiha Mikoto mengeryitkan dahi.
"Seperti yang kalian dengar, dia tidak ingin melakukan upacara pertunangan. Dan aku juga." Ucap anak itu datar, iya, benar-benar datar dan tanpa ekspresi berarti, selain pipinya yang naik turun entah kenapa.
Keempat orang tua itu terdiam. Mencerna kembali perkataan bocah belasan tahun tadi. "Ini memang sulit, tapi percayalah, hanya permulaannya saja yang sulit, selanjutnya kalian akan merasa sangat bersyukur karena telah dijodohkan." Haruno Misaki, lagi.
"Amit-amit." Umpat Sakura dalam hati.
"Kami butuh waktu lagi." Anak laki-laki itu mengangkat suara.
"Berapa lama lagi? Kami telah memberi waktu 4 tahun untuk berpikir, ingat?" Dan kini Haruno Sakura menatap tidak percaya kepada ayahnya sendiri.
"Tuan Haruno, putrimu memiliki kekasih, dan, aku... Juga. Jadi berikan kami waktu untuk menyelesaikan masalah kami."
"Berapa lama?" Uchiha Fugaku menatap anaknya tidak percaya.
"Sebulan lagi."
.
.
.
.
.
"Apa maksudnya dengan kekasih? Kau tidak mengatakan sedikitpun mengenai itu, nona muda. Kau dalam masalah besar." Haruno Misaki memicingkan matanya menatap putri tunggal yang ia miliki.
Sakura, dengan balutan piyama duduk didepan Misaki dengan pose yang nggak begitu nyaman. Gadis yang diseret keluar kamar di detik-detik ia ingin berlayar ke neverland ini terpaksa membuang semua harapannya untuk tidur lebih awal.
"Bukankah...aku sudah memberitahumu?" Oke ini jawaban paling idiot yang pernah terlontar dari lidah Haruno Sakura yang super tajam. Bahkan lidah itu bisa membelah gedung menjadi beberapa bagian asimetris. Bercanda.
"Apa kau ingin membodohiku, nona kecil? Apa aku terlihat bodoh?"
"Tidak terlalu."
"Hei! Aku sama sekali tidak terlihat bodoh. Dan kau harus tau itu. Dan, siapa pria kurang ajar yang berani merebutmu dari Sasuke, hah?"
Sakura hampir memuntahkan semua isi perutnya, dan mengunyahnya lagi. Merebutnya dari Sasuke eh? Sejak kapan ia menjadi 'milik' Sasuke? Apa dunia sudah terlalu tua untuk mengingatkan ibunya untuk tidak berhalusinasi?
"Aku mau tidur."
"Kau tidak akan tidur sebelum semua pertanyaanku terjawab. Dengan sangat jelas." Oke, ini berarti ia tidak akan tidur selama dua atau tiga malam. Pertama, pertanyaan yang ditanyajan diluar batas normal manusia, bahkan ini lebih parah dari introgasi seorang kriminal. Kedua, ibunya sangat...oke...lemot. Iya, lemot. Jadi ia akan mengulang statement yang sama sekitar 2 atau 3 kali. Dan ia sangat butuh air sekarang.
.
.
.
.
.
"Itu cuma alibi kan, anak muda." Mata tajam itu terus menatap manusia yang ada di depannya.
"Apa? Tentu saja tidak. Anak itu, si Haruno, memang sudah punya pacar." Sanggah si anak muda.
"Jadi kalau Sakura-chan tidak punya pacar, kau tentu akan menerima hal ini dengan mudah, iya kan?" Uchiha Mikoto duduk menghadap putra bungsunya.
Dengan mudah. Tch, dengan mudah katanya? Sasuke terdiam, tidak bisa menjawab.
"Lalu, aku tidak ingat kau punya kekasih, apa kau dan... Karin?"
"Hah? Dari mana kau... Apa... Kenapa kau tau Karin?" Great, sekarang si tuan dingin yang tinggi hati itu mengalami krisis terbesar.
"Bukan urusanmu. Kau hanya harus menjawab, apa Karin itu kekasihmu?" Nada bicaranya sekarang mirip detektif amatiran.
"Bukan. Bukan dia."
"Ohh syukurlah. Tapi kau tetap harus memutuskan huhunganmu dengan perempuan itu, Sasuke." Terlihat ekspresi lega di wajahnya.
"Tidak. Tidak akan. Aku tidak menyukai seinchi pun dari Sakura."
Mikoto menghela nafas panjang, "sudah kuduga." Ia menatap Sasuke sesaat, "kau benar-benar tidak menyukai Sakura-chan, iya kan?"
Sasuke buru-buru mengangguk dengan cepat. Seutas senyum tersimpul di wajahnya. "Akhirnya kaa-san mengerti juga."
Lagi, Mikoto menghela nafasnya. "Kau tau Sasuke? Perjodohan ini sudah sangat lama direncanakan. Kaa-san tidak menyangka 4 tahun tidak cukup bagi kalian untuk saling menyukai. Entah apa yang harus kaa-san katakan pada keluarga Haruno."
"Kau hanya perlu mengatakan," Sasuke menatap Mikoto penuh harap "batalkan perjodohan ini."
.
.
.
.
TBC
