"mama kenapa selalu menangis? apa papa menyakiti mama?"
Menatap puteranya penuh kasih, "ya papamu menyakiti mama dengan anak kotor itu dan eommanya"
Jeon Muda menatap bingung pada jawaban mamanya, dipikirannya kenapa eomma Mausie dan Mausie bisa menyakiti mama nya? Mereka sangat baik baginya. Kadang mama nya yang selalu menyakiti mereka.
Lalu kenapa papa nya juga menyakiti mama nya? Bukankah papa nya itu selalu menyayangi mama nya? Bahkan semua keinginannya dan keinginan mama nya selalu dipenuhi papa nya.
"kenapa papa menyakiti mama? Apa papa tidak sayang mama?"
Banyak pertanyaan diotak kecilnya yang masih berusia 8 tahun, bertanya bingung pada mama nya yang masih meneteskan air mata.
"papa sangat menyayangi mama begitupun mama, tapi papa juga begitu sangat menyakiti mama"
Memeluk erat puteranya, "saat ini kau masih kecil tidak akan mengerti Hase, suatu hari nanti kau akan mengerti bagaimana mereka menghancurkan hati mama mu ini".
.
.
.
.
SINNERS
.
.
.
'ada dosa masa lalu yang terus membayangi kita'
.
.
.
.
Marilyn menatap sedih pada tuannya yang selama 5 hari ini seperti mayat hidup. Tidak ingin keluar dari kamarnya kecuali menatap langit malam di luar kamarnya, hanya terus melamun dan menangis siang dan malam.
Melupakan kesehatan dirinya sendiri, bahkan untuk makan dan minum pun Marilyn perlu memaksa tuannya. Tuannya begitu sangat hancur, sampai nona Yoonji, puteri kecilnya pun beberapa hari ini tak diperhatikannya.
Dan ini semua karena tuan Min Yoongi dan kekasih gelapnya, yang sekarang sudah menjadi istrinya tuan Min Yoongi. Marilyn sangat marah, tidak terima tuannya yang baik hati diperlakukan seperti ini.
"tuan kumohon jangan terus bersedih",
Tuannya, Park Jimin hanya tersenyum kecil, pilu.
"saya tidak mengerti kenapa ada yang sejahat Jeon Jungkook ! dia pelacur !"
Park Jimin memandang sendu pelayannya, Marilyn. Bulir air mata kembali jatuh dikedua pipinya, "ini pembalasannya marilyn", suaranya parau akibat menangis tanpa henti.
Marilyn hanya menatap tak mengerti akan perkataan tuannya.
"apa menurutmu aku sangat baik?"
Marilyn mengangguk pasti. Tuan Jimin adalah malaikat, dia seorang pemaaf dan berhati tulus.
Matanya semakin menyendu dengan air mata yang tak berhenti mengalir, "aku tidak sebaik itu, ada—ada kebencian dalam hatiku, ada amarah dan dendam yang pada akhirnya menghantui setiap malamku"
Park Jimin mengalihkan pandangannya pada taman bunga mawarnya diatas teras balkon kamarnya. Bunga cantik berwarna-warni dengan duri di tangkainya.
"aku membunuhnya, dan kini ia membalasku"
Park Jimin terkekeh pahit, "Jungkook tau benar, Min Yoongi adalah nafas dihidupku. Dan jika Min Yoongi meninggalkanku, aku akan sama terbunuhnya dengan mati menderita".
Matanya menutup perlahan, membiarkan angin malam menyentuh halus wajahnya yang sembab.
"aku sangat menyayangi hase-ku Marilyn, tapi aku juga begitu membencinya. Aku hanya tidak mau mengalah lagi"
.
.
.
.
Park Jimin selalu iri pada Hase-nya, tuan mudanya, Jeon Jungkook. Bagaimana Hase-nya memiliki orangtua yang lengkap, disayangi dan dimanja oleh semua orang.
Hase-nya yang mempunyai banyak teman, bahkan semua anak ingin berteman dengannya padahal Hase-nya itu orang yang pendiam dan acuh.
Hase-nya adalah orang yang manja dan mementingkan dirinya sendiri tapi begitu sangat dicintai, tidak seperti dirinya yang selalu dipandang rendah dan dihina. Berlaku baik dan ramah pada setiap orangpun, dirinya masihlah dianggap sampah.
Orang-orang memperlakukannya kasar.
Kim Taehyung, satu-satunya anak yang mau berteman dengannya pun tampak tidak tulus dalam menjalin persahabatannya.
Karena jika Taehyung tulus, dia tidak akan mungkin membiarkan Jimin yang dimanfaatkan dan dibully teman-teman lainnya diam saja melihatnya dari jauh, tidak berniat membantunya sama sekali.
Kim Taehyung mencintai Jeon Jungkook, sebab itulah ia bersahabat dengan Park Jimin.
Jeon Jungkook yang bagi Taehyung terlalu jauh untuk bisa ia jangkau, karena itu ia memanfaatkan Park Jimin yang salah seorang anak pelayan yang tinggal di kediaman Jeon.
Park Jimin mengintip dari tempatnya, hari ini perayaan hari spesial Hase-nya yang memasuki umur 11 tahun, banyak orang dewasa maupun anak seumuran Hase-nya dan seumuran dirinya memenuhi taman belakang mansion yang diubah menjadi tempat pesta.
Park Jimin mengetahui dari para pelayan lainnya yang mendatangi pesta Jeon Muda adalah kolega bisnis perusahaannya, sabahat Tuan Besar dan Ny. Besar juga teman sekolah Hase-nya, yang Park Muda tau, tidak terlalu dekat dengan Hase-nya.
Hase-nya pemilih dalam berteman.
Berharap dalam hati, suatu hari nanti Park Muda dapat merayakan pesta seperti itu.
Matanya menatap dan meneliti orang-orang yang berada di pesta itu, sampai akhirnya matanya menatap salah seorang anak yang tampak tidak peduli akan keadaan sekitarnya, malah terkesan bosan.
Anak itu mendekati wanita cantik yang tengah berbicara dengan Ny. Besarnya. Ny. Besar Jeon tersenyum geli menatap anak muda pucat itu, mengacak rambutnya yang membuat sang anak cemberut tak terima.
Park Jimin tidak mengerti mengapa rasanya ada meteor yang jatuh dihatinya kala memperhatikan anak itu yang tampak seumurannya atau mungkin lebih tua darinya. Bingung dengan apa yang dirasanya, Park Muda berniat mencari tau siapa anak itu nanti pada pelayan lainnya.
.
Jeon Muda sudah sangat lelah seharian ini, ingin segera mengistirahatkan tubuhnya tapi diurungkannya kala mendapati secarik kertas kecil diranjangnya.
'temui aku di taman Banpo Hangang Park. Mausie'
Menggigit bibir bawahnya, mama nya akan marah jika ia pergi keluar di jam 8 malam seperti ini, dan akan bertambah murka jika tau ia mendatangi Mausie-nya. Mama nya tidak akan murka padanya, tapi Jeon Muda tau, mama nya akan menghukum Mausie-nya jika kedapatan berdekatan dengannya.
Menimbang-nimbang, Jeon Muda tidak bisa membiarkan Mausie-nya menunggu dirinya di Banpo Hangang Park sendiri. Apalagi jika dirinya tak datang, Mausie-nya akan terus berada disana sampai esok hingga ia datang.
Mengambil pakaian hangatnya dan membawa satu pakaian hangat lainnya, pergi menemui Mausie yang Jeon Muda tau tengah menunggunya kedinginan.
.
Park Jimin senang akhirnya Hase-nya datang, dirinya takut Hase-nya tidak mau lagi menemuinya karena Ny. Besar Jeon yang selalu melarangnya bermain bersama.
"Mausie senang Hase kemari", tersenyum lebar hingga menunjukkan deretan giginya, membuat Jeon Muda ikut tersenyum lebar.
"Hase tau Mausie tidak memakai pakaian tebal, karena itu Hase membawa ini untuk Mausie"
Tersentuh, bagaimana Hase-nya memakaikan jaket tebal ditubuhnya. Meski selalu ada perasaan iri dihatinya, Park Muda begitu sangat menyayangi Hase-nya, dan berjanji akan selalu melindungi Hase-nya yang selalu sakit.
Pakaiannya harum akan aroma Khas Hase-nya. Sangat nyaman karena terbuat dari bahan yang berkualitas yang takkan mampu bisa dibeli eommanya untuknya.
Seketika dirinya merasa tak pantas memakai jaket milik Hase-nya yang mahal.
"Mausie sudah tidak kedinginan lagi?"
Park Muda mengangguk dengan senyum manisnya.
Menggenggam jemari tangan Hase-nya, Park Muda mengajaknya berjalan mengikutinya untuk duduk dibangku taman yang didepannya menampilkan air mancur sungai HAN, Rainbow Fountain.
Menikmati keindahan air mancur yang berwarna-warni yang menjadi air mancur jembatan terpanjang didunia dalam keheningan yang nyaman.
Menggenggam erat jemari Hase-nya, Park Muda mengalihkan tatapannya pada Hase-nya yang juga kini menatapnya bertanya dengan mata bulat besarnya.
"selamat ulang tahun Hase"
Menggigit bibir bawahnya kuat, Park Muda ingin menangis.
Setiap hari spesial Hase-nya, Park Muda tak mampu membelikannya hadiah, pernah waktu Hase-nya berulang tahun yang ke-8, dirinya memberi kado tapi Ny. Jeon sudah terlebih dahulu membuangnya.
Katanya hadiah darinya murahan, sangat tidak pantas diberikan untuk puteranya. Hase-nya hanya menatapnya sedih, tak pernah berani melawan perkataan mama nya.
Berniat dalam hati untuk mengumpulkan uang agar dapat membeli hadiah yang pantas, tapi Hase-nya menyuruhnya untuk tidak pernah memberikan hadiah atau barang apapun padanya. Apalagi memaksakannya, Hase-nya tau eomma nya tak bisa memberinya uang lebih dan Hase-nya tak mau jikalau Park Muda menahan diri dari membeli sesuatu untuk dirinya sendiri hanya demi hadiah untuknya.
Menatap lembut anak yang lebih tua satu tahun darinya, tangan satunya yang bebas mengelus pipi tembam Mausie-nya.
Menghapus setitik air mata yang tanpa sengaja jatuh, "terima kasih Mausie".
Ragu-ragu, dengan bergetar jemari tangan kasar Park Muda balas mengelus pipi Hase-nya, ibu jarinya malu-malu mengusap lembut bibir bawah delimanya mendapat tatapan heran dari sang empunya. Beralih memegang tengkuknya, Park Muda bergerak pasti mendekatkan kepalanya dan menempelkan bibir pink keduanya.
Mata Hase-nya membulat sempurna. Ciuman pertama bagi keduanya, tak ada lumatan hanya ciuman biasa yang sarat akan perasaan sayang akan tetapi mendatangkan debaran aneh yang keduanya tak dapat memahami.
"maaf, hanya bisa memberimu hadiah ini"
Wajah keduanya masih berdekatan terpisah beberapa centi, nafas hangat Mausie-nya menyentuh permukaan wajah Jeon Muda.
Park Muda sebenarnya ketakutan akan kelancangan dirinya pada Hase-nya, tuan mudanya. Tapi menatap bingung pada tuan mudanya yang malah tertawa kecil, sangat manis.
"humm, tak apa"
Memeluk tubuh Mausie-nya, kehangatan memenuhi relung hati keduanya.
"Mausie sangat menyayangi Hase"
"umm, Hase juga sangat menyayangi Mausie nya"
Menghabiskan sedikit lebih banyak waktu di taman Banpo Hangang Park, berbagi cerita dengan diselingi tawa dari keduanya. Ada ikatan yang terjalin antara keduanya yang tak mampu terpisahkan.
Seberapa kalipun Myriam mencoba, Park Jimin Muda tak bisa menjauhi Hase-nya. Hase-nya adalah orang yang paling disayanginya meski sering kali sifat egois Hase-nya membuatnya harus mengalah terus-menerus.
Begitupun dengan Jeon Muda, berapakalipun dirinya diminta untuk tidak berteman dengan Mausie-nya, dirinya tak bisa. Jeon Muda sayang pada Mausie-nya dan hanya percaya pada Mausie-nya.
.
Tapi kebahagian antara keduanya harus berubah menjadi kesedihan kala sampai di mansion megah Jeon. Myriam, Sang Ny. Jeon, berdiri didepan pintu utama mansion dengan pandangan murka pada keduanya yang menundukkan kepalanya kebawah, lebih tepatnya pada Park Muda.
Jalinan jemari tangan keduanya mengerat saat Myriam menghampiri. Memukul keras sampai menciptakkan suara nyaring pada Pipi Park Muda yang kini mencetak warna merah lebam.
"berani sekali kau dasar anak haram !"
Menendang-nendang tubuh yang terjatuh dibawah tanpa ada niatan melawan. Melepaskan tautan jemarinya, Jeon Muda menangis memeluk Myriam memintanya berhenti.
"sudah berapa kali aku katakan untuk menjauhi puteraku, aku tak sudi anakku harus dekat dengan anak kotor sepertimu. Kau sama seperti eommamu ! aku takkan membiarkanmu menghancurkan puteraku, kau anak haram !"
Mendengar suara ribut diluar, Tuan Besar dan beberapa pelayan yang mendengarnya datang melihat. Tersentak dengan apa yang diperbuat istri tercintanya. Jeon Jungsoo mencoba menenangkan istrinya yang dipenuhi amarah tapi raut wajahnya menampakkan luka dengan sedikit air mata yang mengalir.
Bernafas untuk mengatur emosinya, mengelus halus helai rambut putera tersayangnya dengan tatapan sendu, menatap suaminya benci yang ada disebelahnya lalu membawa puteranya masuk kedalam mansion meninggalkan suaminya bersama Park Muda yang kesakitan.
.
"Hena, beri pengertian pada putera mu agar menjauhi Jungkook. Aku tidak mau kejadian seperti ini terus terulang", Park Hena hanya mengangguk menanggapi tuannya. Tidak berani memandang wajah rupawan Tuan Besarnya.
"jika tidak aku akan membuatmu pergi dari sini"
"kumohon jangan tuan"
Park Hena tidak bisa keluar dari sini. Puteranya masih memerlukan biaya untuk masa depannya agar tidak berakhir sepertinya, belum dirinya yang tidak mempunyai tempat tinggal. Jika keluar dari kediaman Jeon, Park Hena tidak dapat membayangkan hidup ia dan puteranya serta biaya kebutuhan keduanya.
"aku sangat mencintai istriku, aku tak mau melihatnya seperti itu terus. Karena itu aku harap kau bisa membuat putera mu mengerti"
Park Hena menatap dengan pandangan yang tak dapat diartikan pada punggung kokoh Tuan Jeon yang menjauh, menahan tangis yang ingin keluar sebelum kemudian menatap miris pada puteranya.
.
Jeon Muda masih menangis sesegukan diranjang yang tengah ditiduri dengan sprei dan selimut bermotif Iron Man kesukaannya.
"sampai kapan kau akan terus membangkang pada mama?"
Jeon Muda hanya tidak mengerti mengapa mama nya begitu sangat membenci Mausie dan eommanya, padahal dimatanya mereka berdua baik dan selalu menuruti semua keinginannya.
Mamanya selalu menghukum tanpa sebab keduanya bahkan terkadang memukuli Mausie atau berkata kasar pada eommanya. Setiap ditanya mengapa, mamanya akan menangis membuat Jeon Muda merasa sangat bersalah karena tidak dapat menjadi anak yang berbakti.
"Maaf Ma"
Jeon Muda ingin membuat mama nya bahagia, karena meski mama nya selalu tersenyum dan menampakkan raut baik-baik saja kadang setiap malam saat mama nya mengecek dirinya yang tertidur, mama nya akan menangis tersiksa yang membuat Jeon Muda yang tengah pura-pura tertidur tersayat hatinya.
Kadang pula mama nya akan melamun dengan pandangan kosong ditaman belakang.
Jeon Muda selalu memperhatikan mama nya yang tampak terluka, dan terlihat mencoba untuk kuat. Jeon Muda hanyalah anak umur 11 tahun yang tak tau apa-apa dan berharap mamanya tidak terus menyimpan kesedihannya sendiri dan berdoa agar mama nya bahagia dan tidak membenci Mausie-nya lagi agar dapat membiarkannya bermain bersama Mausie-nya.
.
.
.
LOS ANGELES, CALIFORNIA, AMERIKA SERIKAT
.
.
.
"JEON JUNGKOOK (16), Putera Tunggal Dari Pemilik Perusahaan GLOBAL JEON CORP. Yang Tengah Terbaring Koma Dirumah Sakit Seoul Hospital Kini Akan Dipindah Rumah Sakit CLEMENCEAU MEDICAL CENTER, JERMAN. Yang Merupakan Negara Asal Dari Ny. Jeon, Jeon Myriam.
Perkembangan Terbaru Mengenai Kasus Kecelakaan Putera Tunggal Keluarga Jeon, Yang Dilakukan Oleh Pelaku PH (Wanita), Yang Merupakan Pelayan Rumah Keluarga Jeon Yang Mengakui Kejahatannya Sendiri Pada Polisi Kini Sudah Mendapat Putusan Hakim.
Dengan Tidak Adanya Bukti Maupun Saksi Yang Memberatkannya Dan Atas Pernyataan Akan Pengakuannya Sendiri, Pelaku PH Dijerat Hukuman Penjara Selama 7 Tahun Dan Dianjurkan Membayar Denda. "
.
"GLOBAL JEON CORP Tengah Diambang Masa Kritis?
Bertahun-Tahun Menjadi Perusahaan Yang Paling Berpengaruh Di Korea Selatan, Kini Perusahaan GLOBAL JEON CORP. Diambang Kehancuran. Setelah Sang Putera Tunggal Yang Sudah Tersadar Dari Koma Selama 5 Tahun Dan Menghabiskan Biaya Yang Banyak Untuk Kesembuhannya. Kini Keluarga Jeon Harus Menghadapi Kritis Perusahaan.
Diduga Kuat Adanya Mata-Mata Dari Perusahaan Bersaing Yang Masuk Kedalam Perusahaan Utama GLOBAL JEON CORP, KOREA SELATAN Untuk Meretas Sistem Perusahaan Dan Mencuri Data Penting Perusahaan.'
.
"Kemalangan Mendatangi Keluarga JEON.
Terjadi Kebakaran Di Mansion JEON Yang Menyebabkan 10 Orang Pelayan Tewas Dan Beberapa Pelayan Lainnya Luka Parah.
JEON JUNGSOO, Sang Pemilik Mansion Beserta Istrinya, JEON MYRIAM, Yang Terjebak Didalam Kobaran Api Tidak Dapat Tertolong Oleh Para Pemadam. Sedangkan Putera Tunggalnya Sendiri, JEON JUNGKOOK, Sudah Lebih Dahulu Diselamatkan Oleh Seorang Pemuda (KTH) Yang Tanpa Sengaja Melewati Area Perumahan. Putera Tunggal Keluarga JEON Kini Tengah Dirawat Dirumah Sakit. Polisi Sudah Menangani Kasusnya, Dari Penyelidikan Yang Terus Dilakukan, Kebakaran Terjadi Karena Di Sengaja.
Dugaan Sementara, Pelaku Merupakan Musuh Perusahaan Keluarga JEON, Mengingat Banyaknya Saingan Yang Dimiliki Oleh Perusahaan GLOBAL JEON CORP."
.
Menatap satu persatu potongan kertas berita kusam yang dipegangnya, pikirannya tengah menerawang jauh tidak memperdulikan salah satu pengawal yang disuruh menjaganya yang memandanginya tertarik.
Memangnya siapa yang tidak akan suka jeon jungkook yang memiliki wajah secantik perempuan?
"anda terlalu banyak melamun",
Tersadar dari pikiran kosongnya, Jungkook membalas tatapan Kang Daniel, bawahan Min Yoongi.
Terkekeh kecil, "Daniel, berhenti ikut campur urusanku"
Kang Daniel, yang kini dititah untuk jadi pengawal Jeon Jungkook hanya mengangkat bahunya acuh.
Tersenyum padanya, Jeon Jungkook menyukai Kang Daniel, tidak dalam bentuk cinta.
Dia menyukainya, sebab Kang Daniel berbaik hati selalu membantunya dan rela menukarkan kesetiannya pada Min Yoongi untuknya. Bahkan kemarin lusa memberitahunya jika ada mata-mata yang juga bawahan Min Yoongi mengawasi saat tengah mencarinya, yang Jungkook tau itu perbuatan Park Jimin tersayang.
Kang Daniel juga yang memberitahunya keadaan Min Yoongi selama 5 bulan terakhir ini.
Oh.. jangan lupakan ia jugalah yang membantunya menyembunyikan mantan tercintanya ditempat yang aman sampai keadaannya kembali normal dan Taehyung akan pergi keluar negeri dengan menikmati uang pemberian Jungkook sampai Jungkook memanggilnya kembali.
Tadinya Jungkook akan membiarkan Taehyung mati terbunuh ditangan Yoongi tapi diurungkannya, suatu hari nanti ia yakin akan kembali membutuhkan bantuan dari orang yang dicintainya itu.
Kang Daniel tampan, yang menurut Jungkook sangat disayangkan harus bekerja menjadi bawahan Min Yoongi, ia bisa saja menjadi aktor dengan tampang juga bentuk tubuhnya yang ideal atau penyanyi mengingat suaranya yang bagus.
"bagaimana Seokjin? Apa dia sudah dibebaskan? Aku takut dia mati disiksa Namjoon"
Kang Daniel tertawa geli dalam hati, menanyakan sahabatnya seolah khawatir tapi raut wajah dan nada dari suaranya biasa saja.
"tak perlu khawatir, Namjoon menyiksanya dengan surga dunia"
Terheran dengan perkataannya, jungkook kembali menolehkan pandangannya pada Kang Daniel yang sedang berdiri beberapa centi dari sofa merah diruang tv yang didudukinya, tengah tersenyum misterius padanya.
Kang Daniel tanpa sengaja memergoki perbuatan Kim Namjoon dan Kim Seokjin tengah bersenggama saat dirinya yang ingin menyampaikan informasi yang tak membuahkan hasil padanya mengenai pencarian Taehyung -yang nyatanya ia sembunyikan- pada Kim Namjoon.
Tapi yang didapatnya malah adegan dewasa, mungkin nanti ia harus memberitau Kim Namjoon untuk menutup dan mengunci pintu kamarnya sebelum melakukan hal-hal yang tidak senonoh.
"temanmu baik-baik saja jika itu yang kau ingin tau"
"bebaskan dia dan bawa kemari"
"tidak bisa"
"kenapa?!"
Memasang pose wajah tengah berfikir, "karena tuan Min Yoongi tidak memerintahkannya"
Wajah jungkook merengut, yang dimatanya terkesan lucu.
"aku melayani Min Yoongi, jika kau ingat"
Berdecak kesal, Jungkook kembali menonton acara drama di layar tv yang tadi sempat dilupakannya karena pikiran yang kembali kemasa lalu kala melihat kertas koran lusuh yang masih digenggamnya.
.
.
Min Yoongi sudah berjam-jam menghabiskan waktunya di gereja yang jaraknya tidak terlalu jauh dari apartemen Jeon Jungkook, yang kini telah menjadi istrinya.
Dia berada disini bukan untuk pengakuan dosa, hanya terlalu bingung mencari tempat untuk menenangkan perasaan resah yang melanda hatinya.
Ada ketakutan dalam dirinya tiap kali memutuskan akan kembali ke New York.
Disana ada Jimin yang pasti tengah menunggu kepulangannya dengan senyum lembut diwajahnya.
Tersenyum miris dalam hati, bagaimana ia akan menghancurkan hati malaikatnya yang rapuh.
Keraguan kembali melandanya, sebelum ia terus meneguhkan hatinya. Jika kali ini ia berbohong kembali ia dapat menjamin Jeon Jungkook tidak hanya akan pergi kabur lagi, tapi akan membunuh dirinya sendiri tepat didepannya sesuai apa yang dikatakannya kala Yoongi berjanji akan menceraikan Jimin.
Bisakah ia menyakiti hati Jimin-ie nya?
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Min Yoongi menangis. Sungguh ia takkan sanggup melihat malaikat yang selama ini dijaganya harus terluka karena nya.
Kim Namjoon yang berdiri tak jauh darinya menatap bagaimana punggung tuannya bergetar, menangis dalam diam. Kim Namjoon dapat merasakan keresahan hatinya, bertahun-tahun melayangi Min Yoongi, Namjoon hafal dengan pribadi tuannya.
Min Yoongi saat terlihat dari luar memang kejam dan egois, tapi jauh didasar hatinya, Min Yoongi adalah sosok yang begitu baik. yang takkan mampu menyakiti siapapun orang yang disayanginya.
Yang jika sudah mencintai seseorang, akan mampu membuatnya menjadi orang payah dan akan melakukan apapun juga untuk menjaga orang yang dicintainya. Tapi sayangnya, cinta Min Yoongi kini terbagi dua.
Melindungi dan menjaga keduanya sekaligus tanpa ada yang tersakiti tentu takkan bisa dilakukannya, seberapapun besarnya tuannya berusaha. Salah satunya akan ada yang tersakiti.
Mengalihkan pandangan pada langit-langit Katedral, Kim Namjoon berdoa pada tuhan dihadapannya, semoga ia takkan pernah berlaku sejahat itu pada Kim Seokjin yang kini resmi menjadi miliknya.
.
.
.
.
SOUTHAMPTON, NEW YORK, AMERIKA SERIKAT
KEDIAMAN MIN, MINYOON MANOR
.
.
"eomma kau tau? Taehyung, sahabatku sendiri mengkhianatiku"
Menangis menatap pigura foto eomma nya yang ditempelnya didinding. "dan kini Hase-ku sudah mengetahui semuanya"
"apa yang harus aku lakukan sekarang eomma?"
Entah sudah keberapa kalinya Park Jimin menangis, hanya saja untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini Park Jimin yang mengurung diri, akhirnya kini keluar dari kamarnya dan saat ini berdiam seorang diri diperpustakaan pribadinya.
Hanya terus memandangi gambar eommanya yang sengaja ia pajang disana.
Berbicara sendiri pada foto eommanya, berharap eommanya akan memberinya kata-kata yang menenangkan hatinya seperti dulu. Meredakan semua amarah yang menguasainya.
"aku mengakui dosaku, aku sudah memohon agar tuhan memaafkanku", terisak menahan sakitnya pisau tak terlihat menghujam jantungnya, "tapi—kkenapa tuhan masih menghukumku eomma? Kenapa tuhan masih membuatku menderita?"
"saat aku tau Hase akan tinggal dikediaman MIN dengan tidak mengetahui siapa aku. Aku berharap bisa memulainya kembali dari nol",
Meremas dadanya yang terus berdenyut sakit, "kebencianku, rasa iriku juga perasaan sayangku masih tersimpan untuknya, takkan pernah terhapus"
Menutup erat matanya dan terkekeh miris, "dan aku ingin berbagi tawa dan kesedihan kembali layaknya saudara saat kami kecil dulu. Hase-ku menerima uluran tanganku, tapi tuhan jahat padaku eomma"
Jatuh dari berdirinya, tubuh Park Jimin masih bergetar meluapkan tangisannya tanpa henti, "aku harus menerima kenyataan Hase-ku menjadi kekasih gelap suamiku eomma, orang yang paling aku cintai didunia ini"
Kedua telapak tangannya, menutup wajahnya yang terlihat menderita, "dan kini aku harus menerima kenyataan kembali, Hase-ku, tuan muda Jeon Jungkookku, adikku sendiri harus menjadi istri kedua dari suamiku"
Terisak perih menatap wajah eomma nya yang seolah mengerti akan rasa penderitaannya, "kenapa tuhan selalu membuat hidupku menderita eomma?"
Dan, Park Jimin kembali menjerit kesakitan seorang diri.
.
.
.
.
-FLASHBACK-
THE PURPLE BAR, NEW YORK
SABTU, 19 MEI 20XX
.
"Kim Taehyung"
"aku selalu suka saat kau mengucapkan nama lengkapku, itu selalu mendatangkan gairah tersendiri buatku, suaramu seksi kook"
apa yang dikatakan Taehyung itu benar adanya, dirinya selalu senang jika Jeon Jungkooknya memanggil namanya lengkap atau memandangnya tajam dengan mata cantiknya, Jungkook itu mampu membuat siapapun bergairah hanya dengan tatapan matanya.
Tertawa geli dengan perkataan Taehyung, "apa ini? Kau mengajakku bertemu hanya untuk menggodaku?"
"tidak, Tapi jika kau tergoda itu bonus untukku", Jungkook tidak tau bagaimana hati Taehyung yang berdenyut rindu saat bisa mendengar tawa indah yang mengalun dari dua belah bibir delimanya. Mampu membuatnya kembali mendatangkan debaran abnormal.
Demi tuhan, Taehyung sangat merindukan makhluk yang kini ada didepannya.
"kau menjijikan tae, aku tak mau membuang waktukku, cepat katakan ada apa kau mengajakku bertemu", Jungkook berucap dengan nada sinis.
"sudah kukatakan ini mengenai kecelakaan yang menimpa keluargamu 5 tahun lalu, juga mengenai kehancuran perusahaan appa mu yang disengaja"
"apa maksudmu tae, jelaskan yang benar"
Menyerahkan kertas kusam potongan koran yang sengaja dibawanya untuk Jungkook.
Jungkook menatapnya semakin kesal, apa-apaan ini !
Jika Taehyung hanya ingin mendatanginya kemari untuk menyerahkan isi berita yang sudah sangat ditaunya sebagai informasi penting. Jungkook bersumpah akan membunuh Taehyung disini saat ini juga.
Apalagi setelah apa yang diperbuat Taehyung padanya, membongkarkan rahasianya pada Park Jimin. Jungkook yakin benar Taehyung lah yang memberitahu semuanya pada Jimin. Karena selama ini Jungkook tau, Taehyung diam-diam menguntitnya.
Mengingat Park Jimin yang mendatanginya dan membuat egonya terluka, ia semakin emosi jadinya, lihat saja ia akan membuat Park Jimin menyesal karena mengatainya menyedihkan.
Menghela nafas menenangkan dirinya sendiri, well—kenapa ia harus semarah ini? Toh, Min Yoongi juga takkan mungkin meninggalkannya, jika iya pun Jungkook tak masalah. Hanya tinggal mencari pria atau wanita lain yang menginginkan service-nya. Tak perlu repot-repot mengurusi hal yang tidak berguna seperti ini.
"ini berita yang tidak penting, tanpa tau darimu pun aku sudah tau !"
Taehyung terkekeh geli melihat bagaimana wajah seksi Jungkooknya yang tengah kesal padanya, "aku tau, lagipula bukan itu yang akan aku beritahu"
"katakan apa ! jangan berbelit-belit tae !"
"Park Jimin"
Memandang Taehyung kebingungan, "apa?"
"yang menyebabkan keluargamu hancur, perusahaanmu hancur dan orang tuamu meninggal, itu Park Jimin"
Menganga menatap Taehyung, apa Taehyung sedang melucu?
Mengenal Park Jimin saja ia tidak apalagi eommanya, kecuali saat eomma Min Yoongi mengajaknya tinggal bersamanya dikediaman MIN.
Bagaimana mungkin Park Jimin yang lemah yang bahkan membela dirinya sendiri saja memerlukan Min Yoongi bisa melakukan ini padanya dan untuk apa pula?
"kau menyebalkan tae, kau hanya ingin mempermainkanku agar aku kemari menemuimu brengsek !"
Taehyung hanya mendengus remeh, "kau tak mengingat siapa Jimin?"
"kenapa aku harus mengingatnya? tentu saja ia istrinya Min Yoongi bodoh !", Jungkook membalasnya ketus, Taehyung tak mempermasalahkan perkataan kasar yang terucap untuknya.
Kim Taehyung menatap intens Jungkook, lelaki yang sudah dicintainya semenjak kecil hingga ia mau berteman dengan Park Jimin untuk mendapatkannya.
Tak aneh melihat tanggapan Jungkook yang menuduhnya mempermainkannya meski bagian yang 'agar menemuinya' itu, tidak salah. Semenjak bangun dari tidur panjangnya, sebagian ingatan Jungkook menghilang.
"kenapa tidak kau ingat-ingat lagi lebih keras siapa Park Jimin—Mausie mu, Hase-ku tersayang"
Jungkook tersentak akan panggilan kecilnya, mama dan papa nya selalu memanggilnya Hase.
Darimana taehyung tau panggilan itu?
kali ini mata Jungkook memandanginya sepenuhnya heran.
"ingatlah Mausie mu, yang selalu kau sayangi"
Mausie ? ada sesuatu hal yang begitu familiar akan nama panggilan itu. entah apa, Jungkook merasa hatinya teremas sakit tapi juga rindu kala menyebut sebutan itu.
Kali ini Taehyung memberinya secarik foto.
Jungkook sungguh tidak mengerti kenapa jantungnya berdetak sangat cepat dan tangannya bergetar kala mengambil foto yang diberi Taehyung.
Menatapnya, didalam foto sana ada gambarnya yang masih berusia 10 tahun bersama seseorang disampingnya.
Ada rasa sesak yang menghampirinya, kenapa hatinya teremas sangat sakit?
"sekarang kau ingat Jimin? Mausie mu?", Taehyung berbisik tepat dicupingnya yang membuatnya bergidik.
Kepingan puzzle masa lalu yang hilang dari ingatannya kini menampakkan potongan-potongan yang terlupakan. Didalamnya ada kenangan akan kesedihan mama nya, kemarahannya akan suatu fakta yang menyakitkan, rasa sayangnya yang berubah benci, dan kematiannya.
Tersenyum miring menatap pria yang selalu dicintainya itu, tengah bergetar menahan emosinya agar tidak meledak dimuka umum dengan tangan yang terkepal erat.
Jungkook tidak pernah membiarkan orang lain melihat tangisannya yang menyedihkan, tidak pernah menampakkan kelemahannya semenjak kedua orang tuanya pergi.
Kali ini Taehyung melihat kelemahan sesungguhnya dari Jeon Jungkook.
"tadinya, aku merasa keterlaluan karena berlaku sekejam ini pada orang sebaik kau, tapi sekarang aku tidak. Karma yang menuntunku kembali padamu dan berlaku sejahat ini padamu", meremas kuat foto digenggamannya masih dengan tubuh bergetar,
"aku akan membuat hidupmu menderita sama seperti kau buat aku menderita hingga seperti ini".
Mungkin nanti Taehyung harus meminta maaf pada sahabatnya Park Jimin, karena mengkhianatinya. Tapi itu salah Jimin sendiri yang tidak mau membantunya untuk membuat Jungkook kembali padanya.
Padahal Taehyung sudah berbaik hati mengungkapkan kebusukan suaminya. Berharap Jimin menghubunginya dan kembali mengajaknya kerjasama.
Karena sepertinya Park Jimin lupa, Taehyung lah yang membantunya selama ini. Dan Taehyung hanya menginginkan Jeon Jungkook sebagai balasannya, hingga apapun akan diperbuatnya selama dia bisa mendapatkan Jungkook.
Memandang tajam Taehyung, "kenapa kau memberitahuku semua ini?"
Menghapus cairan air matanya, mengecup sekilas bibir delimanya. "karena aku sangat mencintaimu kook, akan kulakukan apapun untukmu"
Rasa cinta yang berlebihan bisa membuatmu jadi seperti orang bodoh, Kim Taehyung tidak menyadari bahwa Jungkooknya telah berubah karena kejamnya waktu juga dirinya.
Satu hal yang tidak disadari Taehyung, Jungkook juga akan memberinya pelajaran sebab selama ini Taehyung juga berperan penting dalam penderitaannya.
.
.
.
yaaa, chap kali ini pendek, wkwkwk
pertama-tama, selama ibadah puasa ya untuk yang menjalankannya termasuk saya.
daan, terima kasih untuk yang mau membaca cerita aneh ini apalagi ninggalin jejak.
reviews
anonim lagi kesel : engga masalah ko, saya juga suka blak-blak an kalo kasih komentar sama ff orang yang sesuai dengan perasaan saya
LOVARED : saya selalu seneng baca komentar kaka, apalagi menuangkan pendapatnya. karena spekulasi kaka selalu pas. seengganya aku ngerasa ga aneh buat ceritanya dan ga bikin ribet otak orang karena banyaknya teka-teki. bukan maksudnya seperti itu juga sih, hanya itu gaya penulisan saya aja kali ya.. bingung ngejelasinnya, hhe dan mari kita sama-sama gigit bibirnya suga :))
SwaggxrBang : tapi masih ngerti kan? ceritanya kan saling berhubungan, wkwk.. wahh wahh wahh terima kasih untuk acungan jempolnya. makasih untuk dukungannya, jadinya selalu semangat ngelanjutin ceritanya.
cho kyuna : hha, benarbenar
kookachuu : ohhhhh terima kasih mau mampir kesini, makasih juga untuk semangatnya. saya juga suka koo yoonkook. yah saya tidak punya spesial ship. tapi saya suka jungkookxall wkwkwk
.
