Lewat sebulan nggak update, maaf banget yah... Sempet frustasi, karena mentok ide. Sempet galau juga, karena tiba-tiba ide jalan cerita lain muncul, hingga harus tulis ulang dari awal, padahal sudah setengah jalan. Akhirnya setelah tiga kali perubahan jalan cerita, chap ke-10 ini selesai juga. Thx untuk semua readers dan viewers. Jejak para reviewers, semua author baca, maaf tidak dibalas satu persatu. Sekali lagi, gomenasai...!

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s), etc

Genre : Romance, Crime, Friendship, Hurt/Comfort

Selamat membaca!

Under Cover

Chapter 10 : A Thousand Tears

By : Fuyutsuki Hikari

Naruto menatap layar laptopnya tanpa berkedip. Sudah lebih dari satu minggu dia keluar dari sekolah. Memutuskan kontak dengan semua orang yang dia kenal di sana, kecuali Kurama dan Asuma tentunya. Kakaknya tidak banyak berkomentar mengenai kepergian Naruto yang begitu tiba-tiba. Tidak ada pertanyaan keluar dari bibir pria itu. "Setidaknya, aku tidak perlu berbohong pada mereka yang bertanya kenapa kau pergi. Karena aku pun tidak tahu alasannya." Itu yang dikatakan Kurama saat Naruto menghubunginya terakhir kali.

Ia kembali menghela napas dan mengeluarkannya cepat. Naruto memijit keningnya yang berkedut sakit. Sudah dua hari dia bekerja lembur dan kurang istirahat. Itu alasan yang cukup untuk rasa sakit pada kepalanya saat ini. Setelah merasa lebih baik, Naruto kembali menekuni pekerjaannya.

Kemarin, akhirnya Kakashi menghubungi markas, memberikan laporan lengkap mengenai transaksi besar antara Hebi dan mafia dari Macau. Naruto sangat senang bisa mendengar suara Kakashi lagi, kekhawatirannya berkurang sedikit setelah mendengar suara pamannya itu. "Berhati-hatilah," pesan Kakashi sebelum memutus hubungan telepon mereka.

Suara keras debaman pintu mengembalikan Naruto ke dunia nyata. Ia melirik ke sumber suara, Fuu melemparkan sebuah map coklat berisi laporan di tangannya ke atas meja kerja dengan kasar. "Ada apa?" tanya Naruto santai, matanya kembali fokus pada layar laptop di depannya.

Fuu menghempaskan tubuhnya ke atas kursi dengan keras, wajahnya merengut kesal. Dia menyambar botol air mineral milik Naruto yang ada di atas meja dan meminum isinya hingga habis tak bersisa. Gadis itu lalu melempar botol bekas minuman ke dalam keranjang sampah di samping meja kerja Naruto dan mengerang. "Kapten," sahut Fuu. "Dia memasangkan aku dengan 'Si Brengsek' untuk mengintai malam ini," jelasnya cepat.

"Gobi?" tanya Naruto dengan nada datar, namun mulutnya menyunggingkan sebuah senyuman penuh arti.

"Siapa lagi!" sahut Fuu kesal, kedua tangannya dilipat di depan dada.

Naruto mendengarkan dengan sabar semua keluhan panjang Fuu tentang Gobi. Sebenarnya, Naruto sangat terkejut saat pertama kali bertemu dengan anggota timnya yang baru. Gadis itu berpendapat jika mengumpulkan mereka semua dalam ruangan yang sama adalah hal gila. Contohnya adalah Fuu dan Gobi, keduanya saling membenci satu sama lain. Belum lagi pasangan Sanbi dan Hangobie yang memiliki sifat jail. Salah satu kesenangan mereka adalah melihat pertengkaran antara Fuu dan Gobi. Rasanya ajaib jika mereka semua bisa duduk tenang di dalam satu ruangan yang sama untuk beberapa waktu.

Sementara itu, Utakata dan Nibi atau Yugito bukan orang yang bisa diandalkan untuk menghentikan pertengkaran Fuu dan Gobi. Mereka terlalu cuek dan tipe yang tidak mau ikut campur urusan orang lain. Naruto hanya bisa tersenyum penuh arti pada Bee hari itu, berharap jika pria itu memiliki kesabaran lebih untuk memimpin tim barunya.

"Aku bisa tua dengan cepat," keluh Bee setengah berbisik saat melihat pertengkaran di antara personilnya kembali terjadi.

"Anda memang sudah tua, Kapten." Sahut Naruto enteng, sama sekali tidak membesarkan hati Bee.

Gadis itu menggelengkan kepala dan kembali tersadar dari lamunannya. Fuu masih bercerita penuh semangat di depannya.

"Jadi, menurut anda bagaimana?"

"Hah?" Naruto menaikkan kedua alis matanya dan menatap Fuu, sedikit bingung.

"Jangan katakan, jika anda tidak mendengarkan semua keluhanku mengenai Gobi." Ujar Fuu terlihat kecewa.

Naruto berdeham dan menyamankan posisi duduknya. "Menurutku," ia memberikan jeda dengan pose berpikir. "Jangan terlalu membencinya, karena perbedaan antara benci dan cinta itu sangat tipis." Katanya dengan senyum mengembang.

Fuu merinding ngeri, mendengar ucapan Naruto. Dia meraih laporan yang tadi dia lempar, lalu beranjak ke meja kerjanya dan memutuskan untuk mempelajarinya. Percakapan mereka terhenti seketika, menyisakan keheningan di antara keduanya hingga Bee masuk dan memecah keheningan itu.

"Jadi, besok kau akan membongkar identitasmu di hadapan murid KHS?" tanya Bee, kini duduk di depan meja Naruto.

"Begitulah," sahut Naruto. "Kepergianku menimbulkan kekacauan di sekolah. Kakakku memang tidak bercerita mengenai hal ini, namun aku yakin jika dia pun menjadi terganggu karenanya."

"Alasan apa yang akan kau pakai?" Bee kembali bertanya dengan mimik serius.

"Aku sudah menyiapkan sebuah alasan yang masuk akal, lagipula alasan yang nanti kupakai tidak bohong seutuhnya. Kami hanya menyembunyikan beberapa fakta saja."

"Kami?"

"Yah," sahut Naruto santai. "Aku, Jendral Sarutobi dan kepala sekolah."

Bee mengangguk paham. "Jadi, besok kau pergi sendiri?"

Naruto menggelengkan kepala. "Tidak, kakek akan mengantar dan menemaniku."

"Anak-anak malang itu pasti akan sangat terkejut," kata Bee.

"Sepertinya begitu," sahut Naruto mengangguk setuju.

.

.

.

Sementara itu, dilain tempat, Kurama mendengus kesal melihat tingkah laku Asuma, Guy dan beberapa guru pria lainnya yang bersikap di luar kebiasaan mereka di acara gokon yang diadakan oleh Guy malam ini. Kurama mengutuk dirinya sendiri yang begitu mudah terkena tipu daya Asuma hingga dia menyetujui untuk ikut bergabung bersama mereka di acara ini.

Ketika semua pria dan wanita yang baru pertama kali bertemu itu bercanda, bernyanyi dan saling tukar cerita, yang Kurama lakukan malah memilih tempat paling pojok dan mengasingkan diri dari yang lainnya.

"Apa yang kau lakukan di sini, Ku?" tanya Asuma dengan mulut bau sake. Tubuhnya sedikit oleng saat dia mendudukkan diri di samping Kurama dan memeluk bahu pemuda itu. "Di sana," Asuma menunjuk kumpulan wanita yang tertawa genit. "Ada banyak wanita cantik berkumpul, dan kau," kini Asuma menunjuk Kurama. "Memilih untuk mengasingkan diri di sini?" tanyanya dengan nada tak percaya.

"Aku tidak suka wanita centil seperti mereka," ujar Kurama dingin seraya menunjuk wanita yang melempar pandangan genit pada dirinya. "Mereka berisik dan terlihat bodoh."

"Tapi, mereka seksi." Sahut Asuma dengan seringaian lebar. "Itu yang penting," tambahnya dengan kekehan puas.

Kurama memutar kedua bola matanya dan menenggak bir kaleng di tangannya. "Kau terlihat kacau, paman. Kenapa, paman patah hati?" tebak Kurama tepat sasaran.

Kini Asuma yang mendengus dan menundukkan kepalanya dalam. "Wanita, sepertinya tidak terlalu tertarik pada pria dengan profesi guru sepertiku," keluhnya panjang. "Bahkan saat ini kami berbohong pada mereka mengenai profesi asli kami."

"Kukira, paman ada hubungan dengan Kurenai sensei."

"Terlihat seperti itu?" Asuma tersenyum kecil.

"Hm."

"Andai saja memang begitu," kata Asuma setengah berbisik.

"Mungkin, paman kurang gencar mengejarnya," seru Kurama lagi-lagi begitu enteng. Asuma nampak berpikir mendengar penuturan pemuda berambut jingga itu.

"Lupakan saja, malam ini mari kita bersenang-senang." Kata Asuma cepat, seolah penuturan Kurama tadi hanya sebagai angin lalu. "Ayo, Ku..." Asuma menarik tangan Kurama paksa.

"Tidak," jawab Kurama tegas dan melepaskan pegangan Asuma dari tangannya. "Aku mau di sini, paman pergilah."

"Hah, kau terlalu kaku." Ujar Asuma menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan muka. "Kau akan menyesal," lanjutnya dengan mata menyipit. Kurama hanya mengangkat bahu acuh, sementara Asuma akhirnya memilih untuk kembali bergabung kembali, bersama yang lainnya.

Mereka bersenang-senang hingga menjelang pukul sepuluh malam. Andai saja Kurama tidak mengingatkan jika besok mereka harus kembali bekerja, tentu acara itu akan berlangsung hingga tengah malam.

"Apa kita harus pulang sekarang?" tanya Asuma dalam kondisi mabuk, seolah tidak rela jika acara gokonnya berakhir terlalu cepat.

"Ya," jawab Kurama. "Paman mabuk, dirimu bahkan sudah tidak mampu untuk berjalan sendiri."

"Aku tidak mabuk," sanggah Asuma cepat.

"Ya, dan aku seorang wanita." Ejek Kurama, namun malah membuat Asuma tertawa keras karenanya. Para guru lain sudah pulang, kini hanya ada Asuma dan Kurama yang berdiri di pinggir jalan untuk mencari taksi.

"Kalian butuh tumpangan?" tanya seorang wanita dengan suara serak dari dalam mobil SUV putih yang berhenti tepat di depan Kurama. Kaca mobil penumpang terbuka, namun karena keadaan di dalam mobil gelap, membuat Kurama agak sulit untuk melihat siapa wanita itu.

Kurama mengernyit, sebelum akhirnya mengenali wanita yang ada di dalam mobil tersebut. "Naruto?"

"Cepat masuk, aku antar kalian pulang." Tawar Naruto.

Naruto keluar dari dalam mobil dan membantu Kurama untuk menaikkan Asuma ke dalam kursi penumpang di jok belakang. Pria itu sudah tidak sadarkan diri karena mabuk saat ini. "Kalian pergi minum?" Naruto menutup hidung saat mencium bau alkohol menguar kuat dari Asuma.

"Begitulah," jawab Kurama pendek.

"Sebaiknya paman Asuma menginap di rumahmu, Kakak. Aku cemas jika harus meninggalkannya di apartemen dalam kondisi seperti ini."

"Terserah," kata Kurama.

Mereka bertiga berkendara dalam keheningan, Kurama terlalu lelah untuk berbincang saat ini. Kedua matanya terpejam, dan saat terbuka ternyata dia sudah sampai di depan rumah dinasnya. "Cepat sekali," kata Kurama menghela napas panjang.

"Kakak tertidur sepanjang perjalanan," sahut Naruto. "Padahal perjalanan kita cukup jauh." Tambahnya tersenyum simpul. "Sepertinya Kakak harus membawa paman Asuma sendiri. Lihat, Itachi sensei masih terjaga."

Kurama mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Naruto. Benar saja, saat ini Itachi berdiri tegak di depan teras rumahnya dan menatap ke arah mereka luruh. "Cih, mengganggu saja. Kau tahu, semakin hari dia semakin menyebalkan." Keluh Kurama sinis.

"Dia melakukan itu untuk menarik perhatianmu."

"Dan itu sangat menggangguku," kata Kurama menatap tajam ke arah Itachi.

"Jangan berkata seperti itu, ucapan Kakak bisa berbalik menyerang diri Kakak sendiri."

"Terserah," balas Kurama kesal dan membuka pintu mobil. Perlu usaha keras untuk mengeluarkan Asuma dari dalam mobil dan memapahnya masuk ke dalam pekarangan rumah. Sementara Naruto, ia segera pergi setelah keduanya turun.

"Kalian baru pulang?" tanya Itachi berjalan mendekat, sementara Kurama memapah Asuma ke teras rumah.

"Seperti yang kau lihat, kami baru pulang." Jawab Kurama ketus.

"Temanmu tidak ikut turun?" Itachi kembali bertanya, mengabaikan bahasa tubuh Kurama yang berubah keras.

"Aku bisa dapat masalah jika dia ikut turun dan bermalam di sini."

Itachi mengepalkan kedua tangannya, mulutnya terkatup rapat untuk sesaat. "Maksudmu, dia wanita?" Itachi kembali bertanya dengan nada senormal mungkin.

Kurama menarik tubuh Asuma yang mulai merosot di sampingnya. "Kenapa anda ingin tahu tentang urusan pribadiku, Uchiha-san? Anda seperti seorang istri yang sedang cemburu." Kata Kurama jengah. "Benar, dia seorang wanita. Puas?"

Itachi terdiam mendengar ucapan tajam pria itu. Kurama memutar anak kunci pintu dan segera masuk ke dalam rumah dengan menyeret Asuma bersamanya. Itachi menahan rasa sakit yang bergumul di dadanya akibat ucapan Kurama barusan. Benar, Itachi memang cemburu. Dia sebenarnya melihat siluet seorang wanita duduk di balik kemudi mobil SUV yang mengantar Kurama dan Asuma tadi. Itachi hanya ingin memastikannya saja, berandai jika penglihatannya salah. Sayang sekali penerangan di sekitarnya begitu temaram hingga Itachi tidak bisa melihat jelas sosok wanita yang mengantar Kurama. Setidaknya dia harus tahu, siapa yang menjadi rivalnya. Yah, setidaknya itulah yang berkecamuk dipikiran Itachi saat ini.

"Kau pasti kembali berpaling padaku," ucap Itachi lirih setelah Kurama menutup pintu rumahnya. Dengan kasar dia menghapus air mata yang turun dikedua pipinya. "Rasa sakit ini akan terbalas saat kau kembali padaku, Ku. Jangan pernah berpikir kau bisa lepas dariku. Aku akan mendapatkanmu kembali, itu janjiku. Karena aku yakin, kau pun masih memiliki hati untukku."

Itachi menatap langit tanpa bintang di atasnya dan berseru kencang. "Kalian menjadi saksi akan sumpahku hari ini."

"Berisik!" teriak Kurama dari depan pintu dan melemparkan sesuatu, tepat ke arah Itachi.

"Awwwww," teriak Itachi saat kepalanya dihadiahi sebuah lemparan buku oleh Kurama yang terganggu akan teriakkannya. "Sakit, baka!" umpat Itachi namun Kurama sudah kembali menutup pintu dengan kasar. Wanita itu merengut kesal dan akhirnya kembali masuk ke dalam rumahnya dengan wajah memerah marah.

.

.

.

Pagi ini, Naruto nampak menawan dengan seragam perwira militer Jepang. Rok di atas lututnya berwarna senada dengan jas yang dikenakannya. Papan nama, tanda jabatan, pangkat harian, tanda kemahiran dan tanda kehormatan terpasang rapih di jas berwarna coklat tuanya. Rambut pirang sebahunya tergerai lurus, ia menggunakan make up tipis dan untuk terakhir kali ia memeriksa penampilannya lewat sebuah cermin seukuran diri yang terdapat di dalam sudut kamarnya.

Butuh keberanian besar baginya untuk bisa kembali datang ke sekolah. Banyak orang yang harus dia beri penjelasan, terutama satu orang yang sangat berarti untuknya, Uchiha Sasuke. Naruto menutup kedua matanya, pikirannya berkecamuk, mencoba menebak reaksi yang akan diberikan sang Uchiha bungsu setelah pertemuan kembali keduanya hari ini.

Naruto kembali mengenyahkan pikirannya. Masa depan untuk dihadapi, kenapa dia harus merasa takut? Setelah meraih topi militernya, dia beranjak keluar kamar menuju ruang makan. Perasaan sepi menghinggapinya kembali. Setelah terbiasa sarapan, makan siang dan makan malam bersama-sama, kini dia harus membiasakan makan sendiri di apartemennya, hal itu membuatnya menghela napas panjang. "Kenapa aku menjadi sentimental seperti ini?" keluh Naruto seraya memasukkan potongan sandwich terakhirnya ke dalam mulut dan meminum kopi hitam miliknya.

Setelah perut kenyang, dia segera turun. Mobil dinas milik sang jendral tua dan pemiliknya sudah menunggunya. Naruto mengangguk saat supir membukakan pintu mobil untuknya. "Ohayou, Kakek." Sapa Naruto pada Sarutobi. Sejenak melupakan etiket militer dan berperan sebagai seorang cucu normal yang menyapa kakeknya..

"Ohayou," balas Sarutobi hangat. "Sudah siap, Naruto?"

"Ya," jawab Naruto penuh keyakinan dan mobil pun meluncur ke tempat yang dituju. Saat mobil yang membawa Naruto tiba, para murid kelas tiga dan guru sudah berkumpul di aula pertemuan. Para murid saling berbisik, bertanya-tanya akan hal penting apa sehingga menyebabkan kepala sekolah mengumpulkan semua murid kelas tiga dan guru di aula.

"Sebenarnya ada apa?" bisik Gaara pada Neji. "Apa mungkin ada murid yang ketahuan melanggar peraturan dan akan dikeluarkan?"

"Entahlah," sahut Neji. "Melihat ekspresi para guru, aku rasa mereka juga tidak tahu alasan kenapa kita dikumpulkan di sini."

"Kurasa kau benar," tukas Gaara, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling penjuru. "Mana Kiba?" tanyanya mencari keberadaan bungsu keluarga Inuzuka.

"Ke toilet," jawab Shikamaru tidak semangat. Entah sudah berapa kali pemuda itu menguap karena ngantuk. Mata kuacinya terlihat merah dan sayu. Pemuda itu menoleh, melihat sosok Sasuke yang semakin pendiam sejak kepergian Naruto. "Sudah dapat kabar dari Naruto?" tanyanya setengah berbisik pada Sasuke.

"Belum," jawab Sasuke datar tanpa ekspresi.

"Sebenarnya dia pergi kemana?" Gaara menyahut cepat. "Yang aneh, bahkan Kurama sensei pun seolah tidak tahu kemana Naruto pergi. Gadis itu benar-benar sulit ditebak."

"Aku hanya berharap jika Naruto baik-baik saja," kata Neji tulus. Dengan ringan ia menyibak rambut panjangnya ke belakang.

"Ya, jika sesuatu terjadi padanya, aku yakin Kurama sensei pasti panik. Tapi, jika aku perhatikan, sikapnya biasa saja setelah Naruto pergi." Kata Shikamaru tenang.

Rahang Sasuke mengeras. Ia merasa kecewa, marah, cemas, semua bercampur menjadi satu. Membuat emosinya tidak stabil beberapa hari ini. "Berhenti membicarakannya," katanya begitu dingin. "Jika dia memang mau kembali, dia pasti kembali. Untuk sekarang, biarkan saja seperti ini. Tidak perlu membahasnya lagi." Tambahnya.

Ketiga temannya yang lain mencoba untuk memahami perasaan Sasuke. Di antara semuanya, sudah jelas terlihat, jika pemuda raven itulah yang paling merasa kehilangan. Selepas kepergian Naruto, Sasuke terus mencari informasi kemana gadis itu pergi. Dia terus bertanya, bukan hanya pada Kurama, tapi juga pada kepala sekolah. Namun tak ada satu pun yang menjawab pertanyaannya.

Dia semakin kesal karena nomor telepon genggam milik Naruto sudah tidak aktif. Sasuke bahkan mendatangi kediaman kakek Naruto, di sana dia hanya disambut pelayan yang mengatakan jika tuan rumahnya pergi keluar kota, dan belum tahu kapan kembali. Sasuke tentu saja tidak langsung percaya, dia yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan di balik menghilangnya Naruto.

Lamunan Sasuke terputus karena kedatangan Kiba. Pria itu melirik sekilas ke arahnya dan kembali memasang wajah datar. "Kenapa denganmu?" Neji mengernyit melihat Kiba yang datang dengan napas terengah-engah.

"Aku berlari sepanjang koridor." Jelas Kiba, membuat Neji memutar kedua bola matanya. "Kalian pasti tidak percaya pada apa yang aku katakan," kata Kiba cepat, masih terengah-engah. Ia lalu menghirup napas panjang, mengeluarkannya perlahan. Dia terus melakukannya hingga napasnya kembali stabil.

"Memangnya apa yang kau lihat?" tanya Shikamaru tertarik. Mereka berdiri, berjajar rapih bersama para murid kelas lainnya di dalam aula.

Kini, Kiba menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dan menjawab ragu. "Aku, a-ku seperti melihat Naruto." Katanya.

"Apa? Dimana?" tanya Gaara dan Neji bersamaan. Sementara Sasuke kini menatap intens pada Kiba, sedangkan Shikamaru menggoyangkan bahu Kiba karena pemuda penyuka anjing itu masih belum juga buka suara untuk beberapa saat.

Kiba kembali menjawab dengan terbata. "Di-dia menuju kesini, tapi-"

"Tapi apa?" potong Sasuke tajam.

"Tapi ada yang aneh, aku juga tidak yakin jika dia memang naruto."

"Apa maksudmu?" Gaara bertanya dengan nada tajam.

"Dia memakai seragam militer, bukankah itu aneh?" sahut Kiba, ia mengernyit bingung.

Neji melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau mabuk?" tanyanya pedas. "Matamu bermasalah? Bagaimana mungkin Naruto memakai seragam militer? Kau kira, sekolah kita ini barak militer?"

"Bukan begitu," Kiba mengerucutkan bibirnya karena sebal. "Aku kan sudah bilang, jika aku juga tidak yakin. Mungkin hanya mirip saja." Katanya membela diri.

"Setelah ini, aku antar kau ke UKS. Kurasa ada yang salah dengan otakmu," ujar Gaara sinis.

"Mungkin dia terlalu merindukan Naruto hingga berhalusinasi," kata Shikamaru datar. Matanya menangkap sosok Kurama yang duduk di atas panggung, nampak berbicara serius dengan Asuma yang duduk di sampingnya.

"Bu-bukan begitu," bantah Kiba. Pembicaraan mereka terhenti karena kedatangan kepala sekolah bersama Sarutobi. Kepala sekolah segera berdiri di atas mimbar, sementara Sarutobi duduk di sebuah kursi kosong bersama para guru.

"Itu yang kau sebut Naruto?" ejek Neji tepat di telinga kanan Kiba. "Seorang pria tua kau bilang Naruto?" tambahnya lagi dengan seringaian membuat Kiba mendecih kesal.

"Bukankah itu kakek Naruto?" kata Sasuke setengah berbisik dan mengernyit heran.

Para murid dan guru membungkuk hormat saat kepala sekolah berdiri di atas mimbar. Kepala sekolah tersenyum dan mengangguk kecil, membalas sapaan hormat anak didik dan pengajarnya. "Ohayou," sapa kepala sekolah membuka pertemuan pagi ini, dia berdiri di atas podium dengan sebuah mic terpasang di depannya.

"Kalian semua pasti bertanya kenapa kalian saya kumpulkan di sini, pagi ini." Lanjut kepala sekolah. "Saya sengaja mengumpulkan kalian untuk meluruskan rumor yang semakin simpang siur mengenai kepergian salah satu murid kelas 3A yang bernama Namikaze Naruto."

Suasana hening itu berubah gaduh setelah pernyataan kepala sekolah. Para murid saling berbisik, hingga harus ditenangkan oleh dehaman keras kepala sekolah. "Saya sudah memanggil orang yang bersangkutan hari ini, Namikaze-san silahkan naik ke mimbar."

Entah apa yang ada di pikiran tiap orang yang berada di aula itu saat Naruto berjalan penuh percaya diri dan beranjak naik ke atas mimbar. Naruto sengaja bersembunyi di belakang panggung dan muncul setelah dipanggil oleh kepala sekolah. Naruto membungkuk pada kepala sekolah, memberi hormat militer pada Sarutobi dan kembali membungkuk hormat pada guru yang hadir di pertemuan pagi ini. Setelah selesai, Naruto kemudian berdiri tegak menghadapi para murid yang kini kembali ribut melihatnya. Ia menarik jas militernya, sedikit merapihkan pakaiannya sebelum bicara dengan nada tenang, namun berwibawa.

"Apa kubilang," kata Kiba penuh kemenangan. Sementara Gaara, Neji dan Shikamaru membeku di tempat mereka berdiri. "Penglihatanku tidak salah, aku memang melihat Naruto. Sas, itu Naruto." Kata Kiba semangat. Sasuke bergeming, wajahnya mengeras, menatap dingin ke arah wanita yang kini berdiri di atas mimbar.

"Ohayou," sapa Naruto dengan suara feminim. "Senang sekali saya bisa kembali ke sekolah ini, dan bertemu kembali dengan kalian semua." Naruto tersenyum lembut. "Kalian semua pasti heran, mengapa saya datang menggunakan pakaian dinas militer. Itu karena-" Naruto memberikan jeda sesaat. "Karena, ini adalah jati diri saya yang sebenarnya."

Aula kembali ribut, bukan hanya oleh para murid tapi juga para guru yang saling berbisik. Naruto berdeham keras, mengembalikan setiap tatapan mata yang kembali terarah padanya. "Saya bukan murid SMA biasa seperti kalian semua. Bisa dibilang, usia saya sudah melampaui kalian semua, para murid di sini."

"Lalu, kenapa anda sekolah di sini?" teriak salah satu murid pria kencang, entah siapa.

"Karena saya tidak pernah merasakan kehidupan SMA sebelumnya." Jelas Naruto kembali tersenyum namun terlihat tawar. "Benar, saya sudah lulus universitas. Saya terus loncat kelas, hingga akhirnya saya masuk universitas tanpa harus lulus SMA terlebih dahulu."

Naruto menarik napas panjang sebelum ia melanjutkan bicara dengan tenang. "Atasan saya begitu pengertian, beliau memberikan saya cuti agar bisa kembali sekolah. Dan kepala sekolah, beliau sangat baik hati karena mengijinkan saya untuk bisa menikmati indahnya masa SMA walau hanya sesaat." Naruto kembali tersenyum kecil. "Tapi, tugas negara sudah kembali memanggil saya, karena itu saya pergi. Saya tidak pernah mengira jika kepergian saya bisa menimbulkan ketidaknyamanan untuk murid dan para guru. Saya benar-benar minta maaf karenanya. Saya hanya ingin kalian memperlakukan saya seperti murid normal lainnya, karena itulah saya menyembunyikan identitas asli. Maaf, karena saya sudah membohongi kalian semua. Maaf, saya sama sekali tidak bermaksud untuk menipu kalian. Dan terima kasih untuk persahabatan tulus yang kalian berikan."

Naruto membungkuk hormat, begitu lama. Para murid itu terdiam, mencoba mencerna kenyataan yang baru saja mereka terima. Naruto kembali berdiri tegak dan berbalik untuk menyalami serta berterima kasih secara pribadi pada semua guru yang hadir.

"Aku tahu sejak awal jika kau, maksudku anda," ralat Guy sensei. "Jika anda bukan murid biasa. Saya merasa bangga karena pernah menjadi guru anda."

"Terima kasih untuk bimbingannya selama ini, sensei." Balas Naruto. "Saya sangat senang bisa memiliki guru penuh semangat seperti anda." Kata Naruto membuat Guy bersemu merah dan menjabat tangan gadis itu semangat.

Naruto beralih ke Uchiha sulung. Itachi tersenyum, matanya menatap lurus pada Naruto. "Maaf, karena saya tidak mengatakan yang sebenarnya pada anda, Itachi sensei." Kata Naruto setengah berbisik, rasa bersalah itu kembali muncul saat kedua bola matanya bersirobok dengan Itachi.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan," sahut Itachi lirih. "Kau tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan apapun padaku, karena aku pun tidak pernah bertanya mengenai dirimu."

"Saya menitipkan Kakak pada anda, Itachi sensei." Bisik Naruto lembut membuat kedua bola mata Itachi berbinar bahagia dan memeluk gadis pirang itu erat. "Aku akan menjaganya, itu pasti." Kata Itachi penuh keyakinan hingga Naruto tersenyum puas mendengarnya. Naruto beralih pada Terumi Mei, guru muda itu pun memeluk Naruto erat dan berbisik jika dia bangga pada gadis itu. Naruto kembali berterima kasih dan membungkuk hormat.

Gadis itu akhirnya berhadapan dengan Asuma. Pamannya itu mengacak rambut Naruto, membuat gadis pirang itu berdecak dan protes. "Jangan sentuh rambutku, paman. Aku memerlukan waktu lama agar rambutku bisa lurus seperti saat ini."

"Kau tetap cantik walau tanpa rambut sekalipun," gurau Asuma.

Naruto mendengus kecil. "Yeah, dan mulutmu sangat wangi saat mabuk." Bisik Naruto membuat Asuma terlonjak kaget. "Jangan terkejut, aku yang mengantar paman dan Kakak pulang tadi malam." Jelas Naruto sambil mengedipkan sebelah matanya pada Asuma dan meninggalkan pamannya itu yang pucat seketika.

Naruto disambut pelukan hangat dan senyum manis Kurama. Para murid dan guru yang menjadi saksi bahkan tidak berkedip, untuk menangkap momen langka ini. "Kakak bangga padamu," katanya dengan nada dalam.

Gadis pirang itu mengerjapkan matanya yang mulai memanas. "Terima kasih karena Kakak selalu mendukungku selama ini. Maaf, aku selalu merepotkan, Kakak."

Kurama melepaskan pelukannya dan menyentil hidung Naruto. "Kita ini bersaudara, tidak ada kata merepotkan. Sekali-kali, menginaplah di sini. Kita makan malam dan berbincang hingga larut."

"Ehm, baiklah. Aku akan datang menyerbu, lihat saja nanti." Kata Naruto dengan binar mata jail.

Kurama tertawa renyah. "Aku akan tunggu," balasnya senang. Setelah Naruto selesai menyalami para guru, para murid dan guru pun kembali untuk memulai rutinisas hariannya. Sedangkan Naruto, kepala sekolah dan Sarutobi kini berjalan menuju ruang kepala sekolah.

"Ano, jendral?" panggil Naruto membuat langkah kedua pria tua di depannya berhenti seketika dan menoleh ke belakang.

"Ada apa?" tanya Sarutobi.

"Saya ada beberapa barang tertinggal di asrama, bolehkah saya ke asrama untuk mengambilnya?" tanya Naruto.

"Tentu," jawab Sarutobi. "Pergilah, kakek akan menunggu di ruang kepala sekolah."

"Arigatou," kata Naruto dan segera beranjak pergi menuju asrama dengan langkah cepat.

Naruto berjalan menyusuri lorong-lorong kosong. Ia sengaja memilih jalan memutar menuju asrama. Naruto ingin merekam semuanya, saat tua nanti, dia ingin menceritakan tentang semua ini pada keturunannya. "Ah, andai saja bisa seperti itu." Kata Naruto lirih.

Sekelibat bayangan muncul di hadapannya. Naruto seolah masuk ke dalam gulungan film lama yang sedang diputar ulang. Gadis itu mengulum senyum saat melihat bayangan Lee, Shino dan Choji berlari sepanjang lorong untuk menyelamatkan diri dari amukan Kiba. Di lorong-lorong ini pula, ia dan Sasuke berjalan berdampingan, terkadang tawa menyertai perjalanan mereka. Sayangnya, tawa itu seringkali berasal dari mulut Naruto.

Naruto melirik ke arah taman belakang, dimana jalan rahasia itu berada. Kembali dia tersenyum saat teringat kali pertama dia menginjakkan kaki di sekolah dan membuat para murid yang keluar malam itu kerepotan karena ulahnya. "Bocah-bocah nakal," katanya setengah berbisik dan kembali berjalan, kini dengan langkah agak cepat.

"Senpai?" teriak Lee kencang dari ujung lorong. Naruto berbalik dan menahan tawa saat melihat Lee, Choji dan Shino berlari kencang ke arahnya. "Senpai?" panggil Lee lagi yang kini sudah berada di depan Naruto dengan napas memburu.

"Kami mencari anda setelah mendengar jika anda kembali ke sekolah," kata Shino. Napas pemuda itu sudah kembali normal, sementara Choji menyandarkan tubuhnya ke tembok, mencoba untuk menormalkan kembali deru napasnya yang memburu cepat.

"Kalian tidak bertanya kenapa aku berpakaian seperti ini?"

Lee, Shino dan Choji menggelengkan kepala. "Kami tidak perlu bertanya siapa anda." Sahut Shino. "Bagi kami, anda adalah Namikaze Naruto. Anda adalah senpai, sekaligus sensei yang kami hormati. Itu sudah cukup, kami tidak perlu mendengarkan penjelasan apapun dari anda."

"Ano, senpai. Maksudku, sensei?" Choji bertanya ragu.

"Hm?"

"Apa anda masih bersedia menjadi guru Judo kami?" tanyanya dengan kepala menunduk dalam.

Naruto menepuk bahu pemuda itu dan tersenyum kecil. "Kalian masih boleh berlatih di dojo milik kakekku. Sedangkan untuk latihan di sekolah, kakakku sudah bersedia melatih kalian."

Mata ketiga pemuda itu membulat sempurna. "Maksud anda, Namikaze sensei?" Shino menelan ludah dengan susah payah.

"Ya, kenapa? Ada masalah?"

"Entahlah," Lee menggaruk kepalanya dan tertawa kering. "Senpai tahu, Namikaze sensei sangat menyeramkan." Katanya yang langsung dihadiahi sikutan keras Choji hingga Lee mengerang hebat karena kesakitan.

Shino berdeham dan membungkuk kecil, "maafkan Lee, sensei. Terkadang mulutnya lebih cepat bertindak daripada otaknya yang minimum."

Naruto tergelak seketika, dan mengibaskan tangan kanannya di depan muka. "Kakakku memang menyeramkan," kata Naruto membenarkan. "Tapi sangat bisa diandalkan. Kalian tidak perlu takut dengannya. Asal kalian tahu, hati kakakku selembut kapas."

Wajah ketiga adik kelas yang juga murid judonya itu hanya mampu menatap Naruto dengan wajah datar. 'Hati Namikaze sensei selembut kapas? Yang benar saja.' Batin ketiganya kompak.

"Aku masih ada pekerjaan lain, kalian kembalilah ke kelas."

"Ya. Sampai jumpa, senpai." Seru ketiganya.

"Sampai jumpa..." Balas Naruto seraya melambai pergi sedangkan ketiganya segera berlari, bergegas untuk kembali ke kelas. Gadis itu kembali berjalan, kedatangannya disambut tatapan aneh penjaga asrama yang berjaga di lobby depan. Naruto berjalan menghampiri penjaga wanita itu, "saya mau mengambil beberapa barang yang tertinggal." Kata Naruto buka suara.

"Namikaze Naruto?" penjaga itu membaca papan nama Naruto dengan nada tidak yakin dan mengernyit dalam.

"Ya," sahut Naruto pendek.

"Bagaimana bisa?"

"Ceritanya panjang," potong Naruto. "Anda dapat bertanya pada guru lain mengenai hal ini. Saya permisi."

"Ah, baiklah." Kata penjaga wanita itu mengerti. "Ngomong-ngomong, senang bisa melihatmu lagi. Namikaze-san." Langkah Naruto terhenti saat mendengar pernyataan sang penjaga. Ia berbalik, tersenyum dan membungkuk hormat.

Sementara itu, di dalam ruang kelas 3A, para murid masih ribut membahas masalah Naruto. Beberapa diantara mereka masih tidak percaya akan kenyataan yang baru saja diungkap oleh gadis pirang itu.

"Selama ini aku sudah mengira jika Naruto bukan siswi biasa," kata Neji. "Tapi, kenyataan ini terlalu jauh dari perkiraanku."

Shikamaru menghela napas panjang dan menatap langit-langit kelas, rasanya begitu ajaib melihat pemuda Nara itu tidak tertidur di kelas pagi ini. "Militer, dia perwira militer." Shikamaru menggelengkan kepala. "Pantas saja kita tidak pernah berhasil mengerjainya."

"Yah," sahut Gaara. "Bukankah dia bilang jika usianya melebihi usia kita? Menurut kalian, berapa usia Naruto?" tanyanya dengan mimik serius.

Kiba berdecak dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Ini menjawab pertanyaan, kenapa Sasuke bisa menyukainya. Ternyata insting Sasuke bekerja dengan baik, instingnya bisa mengetahui jika Naruto memang lebih tua daripada kita." Kiba menoleh ke arah bangku Sasuke dan mengernyit. "Mana dia?"

"Kemana lagi," kata Neji. "Pasti mencari Naruto." Neji mengambil sebuah buku literatur Jepang dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja. "Tumben Asuma sensei terlambat." Keluhnya membuat Gaara memutar kedua bola matanya dan melirik Neji tajam.

.

"Kenapa aku tidak kaget melihatmu di sini?" seru Naruto datar dan menutup pintu kamarnya dengan debaman halus.

Sasuke berdiri membelakangi Naruto, menatap keluar jendela kamar gadis itu. Dirinya sama sekali tidak bergerak saat mendengar langkah kaki Naruto bergerak di belakangnya.

Naruto terus berjalan, memasukkan barang-barang kecil yang masih tertinggal ke dalam kardus. "Kau mau terus diam, Teme? Apa tidak ada yang ingin kau katakan?" tanya Naruto lirih, ia kini berdiri tepat di belakang Sasuke.

Pemuda itu pun berbalik, matanya menatap dingin pada gadis di hadapannya saat ini. "Apa kau puas membohongiku? Membohongi kami?" suara Sasuke terdengar sinis. "Kau pasti tertawa puas di belakang kami," dengusnya sambil membuang muka.

Naruto menghela napas panjang dan mempertahankan nada suaranya agar terdengar normal. "Aku tidak pernah berniat untuk membohongi kalian semua. Persahabatanku tulus."

"Lalu bagaimana denganku?" teriak Sasuke. "Bagaimana dengan hubungan kita? Bagaimana dengan perasaanku untukmu?" tanyanya getir. "Kau hanya mempermainkanku, iya kan?" Sasuke berkata dengan nada getir. "Untukmu perasaanku hanya perasaan remaja labil, benar begitu?"

"Aku tidak pernah berpikiran seperti itu."

"Lalu, kenapa kau menyembunyikan masalah ini begitu lama? Apa arti diriku untukmu?" Sasuke kembali bertanya. "Jawab!" teriaknya keras saat Naruto hanya diam seribu bahasa. Sasuke kembali mendengus dan menatap Naruto sinis. "Sudahlah, lupakan saja. Kau tidak perlu menjawab. Aku hanya berharap jika kita tidak perlu bertemu lagi di kemudian hari."

Naruto hanya bisa berdiri mematung saat Sasuke pergi. Mulutnya seolah terkunci rapat. Ia sadar jika dia tidak berhak untuk membela diri. Namun satu hal yang pasti, perasaannya terhadap pemuda itu tulus.

Ia baru saja akan beranjak pergi saat lima orang siswi masuk menerobos kamarnya tanpa permisi. "Naruto?" Hinata memeluknya dari belakang.

"Bagaimana kalian tahu, jika aku ada di sini?" tanya Naruto berbalik menghadapi kelimanya. Hinata menghapus jejak air matanya dan menjawab lirih. "Karin melihatmu berjalan menuju asrama."

"Apa kita masih bisa berteman?" Ino menunduk dalam, menyembunyikan raut sedih.

"Dasar bodoh," Naruto berdecak. "Tentu saja, sampai kapan pun kita adalah teman. Itu pun, jika kalian tidak keberatan berteman dengan wanita tua sepertiku." Naruto terkekeh, mencoba menyembunyikan perasaan sebenarnya akibat perkataan Sasuke sebelumnya. Hinata, Karin, ino dan Tenten langsung memeluknya erat. Hanya Sakura yang tetap berdiri di tempat. Sedikit canggung untuk melakukan hal yang sama.

"Kau tidak mau memelukku?" Naruto menatap Sakura dengan senyum hangat. Gadis berambut pink itu akhirnya ikut menghambur untuk memeluk Naruto. "Maafkan sikapku selama ini, Naruto."

Naruto tergelak mendengar pernyataan Sakura. Gadis pirang itu menepuk-nepuk punggung Sakura, dan berkata lembut. "Aku sudah memaafkan semuanya."

"Aku-, aku belum sempat mengucapkan terima kasih." Kata Tenten. "Karena ucapanmu, ayahku akhirnya mau menjual sebagian dari koleksinya. Sebagian lagi, beliau sumbangkan ke museum negara. Perekonomian keluarga kami sudah kembali stabil. Terima kasih banyak, untuk semua yang anda lakukan untukku dan keluargaku." Tukas gadis bercepol itu panjang lebar di tengah isakkannya.

"Aku senang bisa berguna bagi kalian," balas Naruto. "Memiliki teman seperti kalian, merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku." Naruto menghapus air mata Tenten dengan kedua ibu jarinya. "Aku harus pergi, kalian juga harus kembali ke kelas. Kalian murid-murid nakal, pergi saat jam pelajaran berlangsung, huh?" sebelah alis Naruto terangkat. Berpura-pura marah, membuat kelima gadis di depannya terkikik. "Ayo, aku antar kalian ke kelas. Aku juga harus kembali ke kantor kepala sekolah."

.

.

.

"Bagaimana hasilnya?" tanya Yugito saat Naruto datang ke kantor siang ini.

"Not bad," jawab Naruto asal serta menghempaskan tubuhnya ke atas kursi dengan keras. Dia melempar topi militer yang masih dikenakannya ke meja sudut dan menyalakan laptop miliknya.

"Wajahmu seperti korban tabrak lari," sahut Utakata dengan nada mencibir. Gadis itu mendelik dan berdecak sebal ke arahnya. Sementara pria itu hanya tersenyum mengejek dan kembali menekuni pekerjaannya.

"Apa hasilnya tidak seperti yang kau harapkan?" Yugito kini duduk di depan Naruto dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Naruto benar-benar mengutuk Bee yang kemarin secara tidak sengaja mengatakan kemana dan alasan kenapa Naruto pergi ke KHS pagi ini.

"Bukan urusan kalian," jawab Naruto ketus menutup pembicaraan ketiganya. "Mana kapten, Hangobie dan lainnya?"

"Kapten ada di kantor kepala polisi, Gobi dan Fuu pergi mengintai-"

"Lagi?" Naruto menggelengkan kepala. "Mereka dipasangkan lagi? Apa Bee sudah gila? Mereka berdua hampir saling membunuh satu sama lain, kemarin malam." Kata Naruto dengan nada tidak percaya.

Yugito mengangkat kedua bahunya acuh. "Setidaknya mereka berdua masih pulang dalam keadaan selamat." Katanya santai.

"Tetap saja membuatku cemas," keluh Naruto menghela napas lelah membuat ruang kantor yang mereka tempati hening seketika.

Suasana itu tidak berlangsung lama, Bee datang dengan tergesa dan menutup pintu di belakangnya dengan debaman keras. "Kemana teman-teman kalian?" tanyanya dengan nada serius.

"Mengintai," jawab Utakata. Yugito memutar kedua bola matanya dan kembali ke meja kerjanya. "Anda yang meminta mereka untuk mengintai, ingat?" Yugito mengingatkan.

"Ah, aku lupa." Tukas Bee tanpa merasa bersalah. "Utakata, panggil mereka pulang. Aku akan membahas mengenai detail misi kita malam ini."

"Misi?" Naruto berbalik menghadap Bee, binar matanya mengatakan dengan jelas jika dia sangat senang dengan berita yang dibawa oleh Bee. Tanpa perlu diperintah dua kali, Utakata langsung melaksanakan tugas dari Bee untuk memanggil empat personil lainnya agar segera kembali ke kantor.

"Jadi, apa misinya? Apa misinya?" Yugito alias Nibi bertanya berulang-ulang, ia pun tidak kalah antusias dari Naruto.

"Tunggu personel kita lengkap dulu, aku akan jelaskan semuanya secara detail setelah mereka datang." Jawab Bee santai, membuat ketiga orang lain di dalam ruangan itu mengerang, tidak sabar.

.

.

.

Malam ini, langit kembali gelap. Awan hitam berkumpul, menahan sinar rembulan yang begitu keras kepala mencoba menerobos barisan awan, namun gagal. Angin bertiup kencang, mengantarkan rasa dingin, hingga mereka yang masih berada di luar, semakin merapatkan jaket yang dikenakan.

Yamato sudah berdiri di blok gelap itu, menunggu sang pelanggan datang. Asap rokok yang dia hisap mengepul, memberi rasa hangat tersendiri untuknya. Pria itu kembali menghisap rokok di tangannya dan menghembuskan asapnya tinggi, sesekali melirik ke arah ujung lorong yang sama gelapnya. Dia kembali melirik menggunakan ekor matanya untuk kesekian kali. Kali ini bibirnya menyunggingkan senyum penuh arti. Seorang pria berambut jabrik berjalan semakin dekat ke arahnya. Yamato membuang rokok yang masih tersisa setengah dan menginjaknya hingga hancur.

Pria pertengahan tiga puluh tahun itu merogoh saku jaket kulitnya. Mengambil sebuah bungkusan kecil berisi satu paket heroin. Yamato pun berjalan, saat keduanya berada di satu titik yang sama, sang benda pun berpindah tangan. Kini paket kecil itu berada di tangan pria jabrik, sedangkan Yamato kini memasukkan satu gulung kecil uang kertas sebagai alat tukar untuk barang laknat itu.

Yamato memasukkan uang ke dalam saku jaketnya dan segera beranjak pergi. Pemuda jabrik itu pun melakukan hal serupa. Ia terus berjalan, langkahnya semakin cepat saat dia melewati blok gedung yang terlihat sepi, padahal gedung itu merupakan tempat protistuti tersembunyi.

Pria itu bernama Zaku Abumi, dia semakin mempercepat langkahnya saat menyadari ada dua orang pria berjalan membuntutinya sedari tadi. "Sial," umpat Zaku.

"Mau kemana, Tuan?" Yugito muncul dari balik tembok bekas gedung opera tua. Langkah Zaku terhenti karena saat ini Yugito menghalangi akses jalannya. "Minggir, pelacur! Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu." Desis Zaku tajam.

"Ck,ck,ck..." Yugito berdecak dan memainkan sejumput anak rambutnya begitu sensual. "Sayangnya, aku ingin bermain-main denganmu."

"Minggir," kini suara Zaku terdengar begitu mengancam.

"Buat aku menyingkir," tantang Yugito dengan mimik datar. Zaku tidak perlu dipancing dua kali, pria itu segera melancarkan serangan pada Yugito yang melayaninya dengan main-main. Sebuah tendangan lurus terarah pada ulu hati Zaku. Pria itu meringis, dan kembali berdiri dengan tertatih. Tangan kanannya kini memegang sebilah pisau army khas militer Amerika. "Aku akan mengoyak isi perutmu," desis Zaku menyerang Yugito dengan membabi buta.

Yugito akhirnya bersikap serius. Dengan lihai dia menghindari beberapa tusukan dan serangan senjata tajam milik Zaku. "Berhenti main-main dan ringkus dia!" teriak Hangobie tidak jauh dari tempat Yugito berdiri.

Zaku kembali mengumpat kasar saat melihat jika dua pria yang membuntutinya kini berdiri santai di belakangnya. "Kalian polisi? Mau apa kalian denganku?" tanya Zaku kini mulai bisa membaca situasi sebenarnya.

"Kami menginginkanmu," sahut Fuu dari arah samping Zaku dan melayangkan tendangan cepat pada punggung pria itu, lalu mengunci tubuhnya di atas tanah. "Kalian tidak bisa menangkapku." Kata Zaku keras di dalam kuncian Fuu. Senjatanya sudah terlempar entah kemana.

"Kau ditangkap untuk tuduhan penyerangan, perbuatan tidak menyenangkan-"

"Kalian mengada-ngada," protes Zaku memotong ucapan Fuu. Dia terus meronta di bawah tekanan wanita itu.

Fuu kembali menyeringai, tangan kanannya yang bebas menggeledah tubuh Zaku. Wanita itu tersenyum penuh kemenangan saat dia mendapat apa yang dicarinya. "Kau juga ditahan untuk kepemilikan barang ini." Katanya sambil menggoyangkan paket kecil heroin itu di depan hidung Zaku, membuat pria yang berada di bawah kunciannya kembali mengumpat kasar.

Yugito mengambil alih, tangan Zaku langsung diborgol, tubuhnya digiring masuk ke dalam mobil patroli milik Hangobie dan Sanbi. "Kalian salah memilih musuh," kata Zaku penuh ancaman saat dia duduk di jok belakang mobil dengan Fuu dan Yugito mengapit di kanan kirinya.

"Simpan tenagamu untuk nanti," saran Sanbi. "Kau akan memerlukannya saat berhadapan dengan dia."

.

.

.

Naruto menunggu dengan tidak sabar di ruang kerjanya. Siang tadi dia hanya bisa mengatupkan mulut karena kesal. Bee tidak mengikutsertakan dirinya pada penangkapan Zaku malam ini. Bee beralasan jika area itu terlalu riskan untuk Naruto. Wanita itu pernah menyamar bersama Sai untuk beberapa lama di sana. Bee takut jika ada seseorang mengenali Naruto dan menghancurkan misi malam ini.

Yamato akan bertugas sebagai pengedar narkoba. Sanbi, Hangobie, Yugito dan Fuu bertugas untuk menangkap sasaran setelah transaksi jual beli selesai.

Zaku Izumi merupakan orang terdekat dari dokter yang saat ini merawat Kabuto. Menurut penyelidikan Yamato, Zaku adalah kaki tangan nomor satu sang dokter. Kelemahan Zaku hanya satu, narkoba. Pria itu tidak bisa lepas dari jerat narkoba, tiap hari dia selalu melakukan transaksi di tempat yang sama. Menjadi pelanggan tetap kelompok yang dimasukki oleh Yamato.

Mereka berharap dengan ditangkapnya Zaku, mereka bisa menemukan titik terang mengenai keberadaan sang dokter untuk membawa mereka ke tempat persembunyian Kabuto.

Naruto kembali melirik ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. "Mereka datang," lapor Utakata membuat Naruto senang. Wanita itu segera berjalan masuk ke dalam ruang introgasi bersama Utakata. Mereka berdua ditugaskan untuk mengorek informasi dari penjahat ini.

"Zaku Izumi," Naruto duduk di depan meja introgasi. Zaku duduk dengan sikap pongah, menatap Naruto dan Utakata dengan tatapan menantang.

"Kejahatanmu benar-benar panjang, Tuan." Kata Naruto membaca laporan di tangannya. "Penyerangan, pemerkosaan, penggelapan hewan langka serta kepemilikan narkoba?" Naruto menatap Zaku dengan sebelah alis terangkat.

"Kalian mengada-ngada," desis Zaku menyangkal semua tuduhan. "Aku tidak akan bicara selama tidak ada pengacara. Aku menginginkan pengacara!" teriak Zaku kencang.

"Kau tahu," Utakata buka suara. "Dengan daftar kejahatan seperti ini, kau bisa ditahan selama dua puluh tahun. Benar-benar hebat." Ujar Utakata memuji penuh kekaguman.

"Aku menginginkan pengacara," ulang Zaku kesal. "Kalian bisa bicara pada pengacaraku, aku meminta hakku, aku ingin menelepon pengacaraku."

"Kau akan mendapatkan hakmu," tukas Naruto ringan. "Tapi, sebelum itu, kami ingin membuat penawaran denganmu."

Diruangan lain, pada saat yang sama. Lima pasang mata mengamati melalui layar yang tersambung pada kamera CCTV yang terpasang di ruang introgasi. Mengamati jalannya introgasi dengan mimik berbeda-beda.

Zaku mendengus sebelum akhirnya merubah posisi duduknya agar terasa lebih nyaman. Duduk dengan tangan diborgol di belakang kursi bukanlah sesuatu yang bisa membuat seseorang duduk nyaman. "Apa penawaran kalian?" tanya Zaku serius.

"Katakan dimana dokter itu, dan kami akan membantu untuk keringanan hukumanmu. Bagaimana?" tawar Naruto dengan suara merdu, memabukkan.

Zaku terdiam untuk beberapa saat dan tertawa keras setelahnya. "Kalian pikir aku bodoh? Aku mungkin tidak akan hidup jika aku memberitahu kalian, dimana persembunyian sang dokter. Jangan membuang-buang waktu. Aku lebih baik membusuk di penjara, daripada mati di tangan mereka."

Naruto membuang napas panjang, memasang wajah prihatin saat menatap wajah Zaku lurus. "Kalau begitu, selamat menikmati hari-harimu di sini, Zaku-san." Kata Naruto. "Tanpa narkoba tentunya," lanjutnya setengah berbisik. Wajah wanita pirang itu terlihat puas saat melihat wajah sang tersangka memucat seketika. Ia berjalan memutar hingga berdiri di belakang Zaku saat ini. Ia membungkuk dan kembali berbisik tepat di telinga kanan pria itu. "Pada akhirnya, akulah yang akan tertawa puas saat melihat penderitaanmu tanpa barang terkutuk itu." Membuat tubuh Zaku berubah kaku seketika.

Utakata mengulum senyum melihat Naruto melenggang pergi, keluar ruang introgasi. Pria itu mengalihkan pandangannya pada Zaku. "Pilihan ada di tanganmu, Zaku." Katanya begitu tenang. Utakata mengikuti langkah Naruto, meninggalkan tersangka seorang diri untuk berpikir.

"Menurutmu dia akan membuka mulutnya untuk kita?" tanya Gobi saat Naruto masuk ke dalam ruangan. Gadis itu berdiri di depan layar besar yang menampilkan kondisi ruangan introgasi. "Dia harus buka mulut untuk mendapatkan barang yang dia butuhkan, kita tinggal menunggu." Jawab Naruto yakin.

"Setelah ini, masukkan dia ke dalam penjara terpisah. Jangan beri dia akses untuk berinteraksi dengan kriminal lainnya. Awasi juga pengacara yang nanti datang untuk menangani kasusnya, kita harus menjaganya tetap bernapas untuk kepentingan kita."

"Maksudmu, Hebi akan turun tangan untuk menghabisinya?" Sangobie bertanya dengan mimik serius.

"Jika melihat peristiwa yang sudah lalu, aku takut itu akan terjadi." Sahut Naruto lelah. "Banyak para anggota Hebi yang kita tangkap berakhir mati, dibunuh ataupun bunuh diri." Keenam anggota lainnya terdiam mendengarkan dengan serius ucapan Naruto. Mereka tahu, jika ucapan Naruto tidak main-main. Yang mereka hadapi bukan hanya organisasi yang berkuasa di luar penjara, tapi juga di dalam penjara. Terkenal dengan loyalitas para anggotanya, dan tidak pernah segan untuk menghabisi para anggota yang dianggap berbahaya untuk keselamatan organisasi.

Bee masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru, membuat enam pasang mata menatapnya seketika. "Kapal pengangkut sudah memasukki selat Kanmon (selat di antara pulau Honshu dan Kyushu). Laporan dari angkatan laut baru saja tiba, mereka meminta anggota kita untuk bergabung bersama mereka secepatnya." Jelas Bee.

"Bagaimana dengan angkatan udara dan pihak kepolisian?" tanya Naruto.

"Angkatan udara sudah mulai bersiap, sementara pihak kepolisian berjaga di sekitar pelabuhan." Kata Bee. "Fuu dan Gobi, kalian tetap tinggal di sini. Jaga Zaku agar tetap hidup hingga kami kembali. Sisanya akan ikut aku, malam ini juga kita pergi ke pelabuhan. Helikopter akan mengantar kita ke kapal induk angkatan laut."

Ketujuh personil Bee segera berdiri dan menyahut kompak, "siap laksanakan, Kapten!" bahkan Fuu dan Gobi tidak melayangkan protes kali ini.

Mereka segera bersiap, mengenakan pakaian dinas lapangan lengkap dengan topi baret merah bertengger di atas kepala mereka masing-masing. Memberitahu pada dunia jika mereka berasal dari pasukan khusus negara ini. Malam itu juga, mereka berangkat menuju bagian selatan pulau Honshu. Sebuah helikopter angkatan udara sudah menunggu kedatangan mereka. Untuk mengangkut keenam personil menuju kapal penyerang angkata laut yang sudah menunggu di selat Kanmon.

Gemuruh suara baling-baling helikopter memecah kesunyian malam, sang rembulan mengintip malu, bias warna peraknya menerpa air laut. Seorang petugas di atas kapal induk memberikan kode pada sang pilot untuk mendaratkan kendaraannya di atas landasan helipad dengan aman.

Keenam orang itu turun, sesaat setelah heli menapak di atas permukaan kapal. Masing-masing dari mereka sedikit berlari, menjauh dari helikopter yang segera naik dan berlalu pergi untuk kembali ke pangkalan angkatan udara.

Seorang perwira angkatan laut segera melapor kepada Bee yang berperan sebagai ketua penyergapan malam ini. "Objek bergerak cepat masuk selat Kanmon. Jarak dengan kapal kita kurang dari lima puluh mill." Jelas sang pelapor, selaku penanggung jawab kapal laut.

"Persenjataan kapal?"

"Kapal yang masuk merupakan kapal barang, berbendera China, dengan panjang dua puluh lima meter. Kami sudah menurunkan kapal selam siluman untuk mengintai dari dekat. Kapal diperkirakan dilengkapi oleh senjata berat, dan system komunikasi modern untuk koordinasi. Kami juga melihat sebuah kapal kecil sepanjang sepuluh meter, berlayar di samping kapal utama." Jelasnya menjawab pertanyaan singkat Bee.

"Mereka sudah siap untuk mempertahankan diri rupanya," sahut Naruto.

"Seratus kilogram narkoba bukan sesuatu yang kecil. Mereka mungkin rela mati untuk mempertahankannya," tukas Bee dalam. "Kita bergerak," perintah Bee kemudian dengan tegas. "Tugas kita yang utama adalah melumpuhkan target, giring kapal mereka ke pelabuhan, minimalkan korban dan amankan barang bukti. Mengerti?"

"Siap, Kapten." Jawab semuanya kompak dan segera menempati posisi masing-masing. Kapal induk itu bergerak dengan cepat mendekati target. Para penjahat itu begitu terkejut saat melihat sebuah kapal penyerang angkatan laut menghadang dengan gagah perkasa tidak jauh dari kapal mereka.

Dan pertempuran pun terjadi tidak lama kemudian. Kapal target menembakkan tembakan pertama pada kapal induk angkatan laut. Memberikan cukup alasan bagi Bee dan personilnya untuk menyerang balik dan mempertahankan diri. Angkatan laut Jepang menggunakan senjata laser, mengatur intensitas penggunaannya hinga sebatas melumpuhkan, tidak sampai mematikan. Mereka memerlukan penjahat itu dalam keadaan hidup, dan mengorek informasi darinya.

Kapal musuh kembali menembakkan roket jarak dekat, tidak cukup panjang untuk mencapai kapal penyerang. Mereka juga menembak secara membabi buta, tidak terorganisir, menyebabkan penyerangan yang mereka lakukan berkesan sia-sia. Kapal penyerang Jepang hanya membutuhkan waktu selama enam puluh menit untuk melumpuhkan target. Sementara kapal bantuan dan beberapa speed boat mengejar kapal pendamping musuh yang berusaha untuk melarikan diri.

Naruto berada di salah satu speed boat pengejar. Tidak ada ekspresi di wajah cantiknya, namun sikapnya terlihat siaga. Angin laut berhembus menerpa tubuhnya, meniup helai-helai rambut pirangnya halus. Ia menenteng sebuah senjata api, Karabin M4. Senjata dengan tembakan semi otomatis. Senjata yang cocok untuk digunakan dalam pertempuran jarak dekat dan operasi pasukan khusus.

Speed boat itu kini telah mengepung target. Sebuah peringatan telah diteriakan lewat pengeras suara, agar para tersangka itu menyerahkan diri dengan sukarela. Namun, yang didapat oleh petugas gabungan itu adalah berondongan senjata AK-47.

Letusan-letusan peluru berdesing, suara roket yang kembali diluncurkan menggema, kembali memecah kesunyian malam. Sejenak menciptakan terang di langit gelap itu. Beberapa petugas meloncat, berenang gesit saat salah satu roket mengenai speed boot yang mereka tumpangi. Speed boot lain segera mendekat, berusaha menyelamatkan para petugas yang kini mengapung di tengah lautan.

Pertarungan itu berlangsung sengit, sementara kapal penyerang membereskan dan mengamankan penjahat yang berada di kapal barang utama yang sudah dilumpuhkan terlebih dahulu.

Desingan peluru terus berdesing, angin laut mengantarkan aroma darah korban dari masing-masing pihak. Naruto kembali membidik, matanya menyipit tajam. Kali ini targetnya adalah seorang peluncur roket. Jarak yang terlampau jauh, mempersulit usahanya. "Jaraknya terlalu jauh," keluh Naruto. "Bawa aku mendekat ke kapal mereka!" perintah Naruto tegas.

Utakata segera membawa speed boot mereka mendekat ke perahu target. "Cukup," tukas Naruto saat target hanya berjarak sekitar dua puluh meter. Ia segera membidikkan senjatanya. Target yang dibidiknya pun melihat ke arahnya. Peluru bertemu roket. Dua buah peluru yang dilepaskan Naruto meluncur lurus, mengenai tepat sisi kanan dan kiri bahu penjahat itu. Mata Utakata membelalak sempurna saat melihat sebuah roket meluncur tepat ke arah mereka.

Tanpa berpikir dua kali, pria itu mendorong tubuh Naruto untuk loncat ke dalam air laut. Ledakkan besar terjadi tepat setelah keduanya masuk begitu dalam ke dalam laut. Speed boot yang dikendarai mereka hancur hingga berkeping-keping. Daerah sekitar mereka terang seketika, asap hitam mengepul, membumbung tinggi.

Keduanya segera berenang ke atas untuk mengambil oksigen. Napas keduanya terengah, dengan rakus menghirup pasokan oksigen yang ada. Desingan peluru kembali terarah pada mereka, membuat keduanya harus kembali menyelam dalam, untuk menghindarinya.

Suara gemuruh baling-baling helikopter kembali terdengar. Berondongan peluru senjata otomatis terus berdesing, memaksa para penjahat yang tersisa untuk menyerah. Naruto dan Utakata kembali berenang naik, speed boot yang dikendarai oleh Hangobie melaju mendekat ke arah keduanya.

Kapal berukuran sepuluh meter itu akhirnya berhasil ditaklukkan. Yugito mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Naruto naik, sementara Sanbi membantu Utakata. "Kalian baik-baik saja?" tanya Utakata saat keduanya sudah naik ke atas speed boot.

Naruto terbatuk dan menatap kapal di hadapannya. "Kita berhasil?" katanya mengabaikan rasa perih akibat luka di dahi kanannya.

"Tentu saja kita berhasil," sahut Sanbi. "Jika bukan karenamu yang berhasil menembak si penembak roket itu, helikopter tidak mungkin bisa mendekat dan melumpuhkan sisanya."

"Souka?" kata Naruto terlihat lelah. Angin laut kembali bertiup saat speed boot yang dinaiki keempatnya melaju kencang, kembali ke kapal induk. Sebagian pasukan gabungan, sudah naik ke kapal barang dan mengamankannya. Mereka membawa kapal itu untuk merapat ke pelabuhan. Begitupun dengan kapal kecil pendampingnya.

Hanya ada tiga puluh orang penjahat saja yang berhasil diringkus dalam keadaan hidup. Sementara sepuluh lainnya mati karena luka tembak. Mereka tiba di pelabuhan tepat pukul tujuh pagi. Para penjahat yang hidup, digiring dengan tangan diborgol di belakang. Berbaris, masuk ke dalam mobil untuk di bawa ke penjara dengan tingkat keamanan tinggi. Sepuluh kantung berisi mayat pun diturunkan dari atas kapal dan dimasukkan ke dalam mobil ambulans untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.

"Apa-apaan ini, kenapa banyak wartawan berkumpul di sini? Kenapa mereka bisa mendekat? Mana para penjaga?" kata Bee dengan nada kasar. "Usir helikopter milik wartawan itu! Usir semua wartawan dari sini. Bersihkan lokasi!" perintah Bee keras dan tegas. "Sial, siapa yang membocorkan penyerangan ini?" umpat Bee kesal.

Polisi yang berjaga di sekitar lokasi, segera melaksanakan perintah Bee. Mereka bukan tidak menjaga lokasi dengan baik. Namun, kerumunan wartawan yang semakin banyak membuat mereka kewalahan. Hingga akhirnya para wartawan berhasil merangsak masuk ke lokasi.

Helikopter milik salah satu TV swasta terus melayang-layang di udara. Merekam secara langsung peristiwa yang terjadi di bawahnya. Para wartawan yang diminta untuk mundur terus berteriak, meminta pihak berwajib untuk memberikan konfirmasi mengenai penangkapan besar hari ini.

"Kalian cepat masuk ke dalam helikopter dan kembali ke markas," kata Bee. "Aku akan mengusir wartawan-wartawan itu."

.

"Wuah, sepertinya hari ini, pihak berwajib berhasil menangkap ikan besar." Seru Kiba tanpa berkedip dari layar TV besar yang menayangkan berita eksklusif mengenai penggagalan penyelundupan narkoba ke Jepang.

"Cepat habiskan sarapanmu, Kiba." Kata Neji menatap Kiba datar. Mereka berada di kantin asrama pagi ini untuk sarapan.

"Tentara wanita itu," teriak Lee dari ujung ruangan kantin, membuat semua mata yang ada di sana menatapnya karena merasa terganggu.

"Kecilkan suaramu," tegur Choji memukul kepala Lee keras. Namun pemuda penyuka warna hijau itu tetap bergeming, dan menunjuk ke layar TV. "Bukankah dia mirip sensei?"

"Sensei?" Shino berdecak sebal dan melempar sumpitnya kasar ke atas meja. "Lee, ini masih pagi, tapi bicaramu sudah melantur. Kita tidak memiliki sensei berambut pirang, ingat?" katanya menegaskan.

"Kita punya," ujar Choji cepat. "Sensei judo kita berambut pirang," tambahnya.

"Benar," Lee mengangguk semangat. "Tentara itu mirip Naruto sensei, bukan begitu?"

Sasuke yang mendengar pembicaraan itu langsung mengalihkan pandangannya pada layar TV. Diabaikannya penjelasan wartawan yang melaporkan secara langsung kejadian yang terjadi di lokasi. Tatapannya tertuju pada satu kelompok pasukan yang terdiri dari tujuh orang. Mereka memiliki satu kesamaan yang membedakan dengan pasukan lain, mereka mengenakan topi baret merah.

'Pasukan khusus?' kata Sasuke dalam hati.

Matanya kini terfokus pada salah satu wanita berambut pirang sebahu. Yah, dia adalah Naruto. Sasuke bahkan bisa mengenali sososk itu walau dalam keadaan gelap sekalipun. Itu memang Naruto. Gadis itu kini naik ke dalam sebuah helikopter milik angkatan udara bersama keenam rekannya yang lain. 'Jadi, Naruto anggota pasukan khusus? Apa-apaan ini?' tanyanya dalam hati.

"Dasar buta," ejek Kiba pada Lee. "Bagaimana mungkin wanita itu adalah Naruto. Yang benar saja, Naruto anggota pasukan khusus? Jangan membuatku geli." Dengusnya merendahkan. "Menurut kalian bagaimana?" tanya Kiba pada keempat kawannya yang juga terlihat serius menatap layar TV. "Hei, jangan katakan jika kalian juga berpikir bahwa dia adalah Naruto." Kata Kiba, bicara dengan mulut penuh. "Mau kemana, Sas?" tanyanya saat Sasuke berdiri dan beranjak pergi.

"Aku juga sudah kenyang," kata Neji mengikuti langkah Sasuke yang terus diam membisu tanpa menjawab pertanyaan Kiba.

Gaara berdiri tidak lama kemudian, dan menyusul keduanya pergi. "Kenapa mereka? Kenapa sikap mereka sangat aneh?" tanya Kiba pada Shikamaru yang menguap lebar. "Lupakan saja dan cepat habiskan makananmu. Kita harus bersiap sekolah." Kata Shikamaru setengah mengantuk. Kiba akhirnya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut, dengan cepat ia menghabiskan sarapan paginya.

.

.

.

Sementara itu di markas Hebi, Orochimaru mendesis pelan, tangannya terkepal erat. Amarahnya sudah mencapai batas maksimal. Semua anggota kepercayaannya sudah berkumpul, duduk melingkar dengan sebuah meja jati berbentuk oval di depan mereka. Layar televisi itu menampilkan hal sama, penyiaran langsung penangkapan anggota mafia penyelundup narkoba.

"Kalian tahu berapa harga barang kita di sana?" Orochimaru bertanya dengan nada suara begitu tenang, namun begitu mengancam. "Seratus juta yen," lanjutnya. "Kenapa transaksi kita bisa kembali gagal?" tanya Orochimaru kini duduk membelakangi layar dan menatap satu demi satu wajah kaki tangan kepercayaannya.

Keempat kaki tangannya itu hanya bisa menunduk, terlalu takut untuk menatap wajah tenang namun mematikan Orochimaru saat ini. "Aku menginginkan informasi mengenai pasukan itu," tunjuk Orochimaru pada layar televisi besar di belakangnya.

"Dan dia," Orochimaru kembali menunjuk ke arah seorang anggota militer wanita berambut pirang di layar televisi. "Bukankah aku sudah katakan berulang kali, jika aku menginkan berita kematiannya? Dia adalah petugas yang sama saat penghancuran gudang narkoba milikku, bukan begitu?" Kaki tangan Orochimaru kembali diam. "Hancurkan dia hingga berkeping-keping, aku ingin dia mati, siang ini juga."

Orochimaru kembali duduk tenang setelahnya. "Cari informasi tentang anggota militer lainnya secepat mungkin. Serang mereka, bahkan jika perlu, serang keluarga dekat mereka dan buat para petugas gabungan itu menderita secara mental." Katanya dengan aura gelap. "Aku juga ingin kalian menurunkan anak buah kalian. Teror para petugas polisi dan tentara sialan itu. Katakan pada anak buah kita, jika aku pribadi akan memberi hadiah pada setiap nyawa petugas yang melayang." Kaki tangannya itu hanya mengangguk mengerti. "Kita buat kacau situasi keamanan negara ini, aku ingin mereka tahu, dengan siapa mereka berhadapan."

Orochimaru menyanderkan tubuhnya pada punggung kursi dengan nyaman. Matanya terpejam rapat saat dia kembali buka suara dengan nada dalam. "Lalu, bagaimana dengan tugas yang aku berikan sebelumnya. Kalian sudah dapat mata-mata itu?"

Zetsu akhirnya mampu menatap lurus Orochimaru, dengan sedikit keberanian yang tersisa. "Usaha kami masih belum mendapatkan hasil," lapornya kembali membuat Orochimaru geram.

"Aku tidak mengerti, apa tikus itu begitu hebat, hingga kalian tidak mampu mengendus keberadaannya?" Kata Orochimaru tajam. "Cepat temukan siapa dia atau mereka, atau kalian sendiri yang akan menerima akibatnya. Mengerti?"

"Ya," jawab mereka kompak.

"Pergi, kerjakan tugas kalian dengan baik. Besok, aku ingin melihat berita mengenai teror di kota ini tercetak dalam huruf besar." Para kaki tangan Orochimaru segera bergerak, berdiri dan membungkuk dalam untuk memberi hormat pada ketuanya sebelum akhirnya berbalik pergi, meninggalkan markas untuk melaksanakan tugas baru yang diberikan.

.

Setelah jam makan siang, di markas angkatan darat, para petinggi militer dan anggota pasukan khusus berkumpul untuk membahas misi yang berhasil dilaksanakan dini hari tadi. Sarutobi mengepalai pertemuan kali ini. Jendral tua itu duduk di kepala meja, sementara lainnya duduk melingkar di sekitarnya.

"Pekerjaan kalian sangat bagus," puji Sarutobi. "Tapi, tugas kita belum selesai. Ujian yang sebenarnya akan segera dimulai. Aku yakin, mereka akan membalas dendam atas kerugian besar yang mereka derita kali ini."

Raikage menghela napas berat dan menyahut dalam. "Mereka pasti akan menyerang kita secara acak dan membabi buta. Kita harus segera bersiap dan siaga."

Sarutobi dan anggota lainnya mendengarkan dengan seksama. Benar, mereka harus bersiap untuk hal terburuk yang mungkin terjadi. Setidaknya, jika hal itu terjadi, mereka harus bisa meminimalisasi jumlah korban dipihak militer maupun kepolisian.

Setelah dua jam duduk untuk membahas langkah selanjutnya, meeting pun akhirnya selesai. Naruto berdiri dan baru saja hendak keluar ruangan saat Sarutobi memanggil namanya dan memintanya untuk tetap duduk dan tinggal.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sarutobi menatap cucu angkatnya itu dengan tatapan teduh. "Kudengar, speed boot yang kau tumpangi meledak karena roket lawan."

Naruto membalas tatapan Sarutobi dan tersenyum. "Aku baik-baik saja, Kakek. Jangan khawatir." Katanya menenangkan. "Ini hanya luka ringan," tambahnya seraya menyentuh luka di keningnya. "Anggap saja souvenir dari pertempuran terakhir."

Sarutobi menggelengkan kepalanya dan kembali menatap Naruto, namun dengan tatapan serius saat ini. "Kakek sangat khawatir, wajahmu terlihat jelas di berita pagi ini. Aku takut jika mereka akan mengincarmu." Kata Sarutobi mengungkap kekhawatirannya.

Naruto menggigit bagian dalam mulutnya dan merenung. "Aku heran, bagaimana bisa para wartawan itu tahu jika kita melakukan penyergapan malam tadi. Menurut Kakek, apa mungkin ada orang dalam yang membocorkannya?"

"Aku tidak tahu," sahut Sarutobi. "Terkadang, para wartawan itu bersikap sangat menyebalkan. Seringkali mereka menyalahi kode etik, demi naiknya rating acara mereka, atau demi meningkatnya penjualan." Sarutobi mengeluh panjang.

Naruto terkekeh kecil mendengar penuturan kakek angkatnya ini. "Aku akan baik-baik saja, Kakek jangan khawatir." Katanya kembali menenangkan pria tua itu.

"Tinggallah bersama Kakek. Aku selalu waswas jika ingat kau tinggal sendiri di apartemen."

Gadis itu kembali tersenyum. "Aku sudah besar, Kakek."

"Yah, tapi aku juga sudah semakin tua. Aku ingin sekali tinggal bersama anak dan cucu-cucuku. Rumah itu terlalu besar untuk kutinggali sendiri."

"Baiklah, aku akan menginap nanti." Janji Naruto, ia berdiri dan memeluk Sarutobi yang masih duduk di kursinya dari belakang. "Mau aku antar pulang?" tawar Naruto yang tahu jika Sarutobi datang bersama Raikage tanpa diantar supir siang ini.

"Boleh," sahut Sarutobi menepuk-nepuk tangan Naruto yang memeluknya dari belakang. "Tapi, Kakek yang menyetir." Minta jendral tua itu serius.

"Kakek, bercanda?" Naruto melepas pelukannya dan segera duduk di samping kakeknya itu.

"Kakek tidak bercanda," sahut Sarutobi. "Aku rindu membawa mobil sendiri." Katanya setengah berbisik.

Naruto hanya bisa menghela napas dan menjawab tenang. "Baiklah, Kakek boleh menyetir. Tapi, untuk kali ini saja." Kata Naruto dengan mata menyipit tajam.

"Ya, wakatta." Sahut Sarutobi senang. "Mana kunci mobilmu?" tanyanya tidak sabaran. Naruto merogoh saku seragamnya dan memberikan kunci mobil SUV-nya pada Sarutobi. Mereka segera keluar ruangan, Naruto menutup pintu ruang meeting pelan.

"Mobilku diparkir di lapangan parkir depan, Kakek duluan saja. Ada sesuatu yang harus aku ambil di kantor. Sebentar aku menyusul."

"Baiklah," kata Sarutobi kemudian berjalan terlebih dulu. Naruto berbelok menuju ruangannya untuk mengambil telepon genggam yang tertinggal. Dia segera berlari untuk menyusuk Sarutobi yang saat ini sudah berjalan menuruni tangga gedung, menuju tempat parkir. Sarutobi sudah berada di samping mobil Naruto saat gadis itu berjalan kurang lebih lima belas meter di belakangnya.

Sarutobi membuka kunci mobil, segera masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman. Naruto berlari kecil untuk menyusul Sarutobi, namun yang terjadi selanjutnya terlalu mengerikan untuk menjadi kenyataan. Mobil SUV putih itu meledak dengan Sarutobi berada di dalamnya.

Tubuh Naruto terpental jauh ke belakang akibat ledakan itu. Ia merangkak, menahan rasa sakit pada kakinya yang terluka. Ia menatap mobilnya yang sudah hancur, menyisakan puing-puing rangka mobil yang kini terbakar hebat. Asap hitam mengepul, membumbung tinggi. Para anggota militer berlarian menuju ke lokasi, suara ledakkan itu begitu memekakkan telinga.

"Kakek?" teriak Naruto hingga berulang kali. Matanya masih menatap lurus pada kendaraan hancur itu. Namun tidak ada satu air mata pun yang jatuh dari sudut-sudut matanya. Ia hanya bisa menatap puing-puing itu hingga pandangannya menggelap dan kesadarannya pun hilang.

Pihak berwajib segera mengamankan lokasi kejadian. Baru beberapa saat yang lalu mereka membahas untuk meningkatkan kewaspadaan. Namun mereka kalah cepat, pihak musuh sudah mengambil start terlebih dahulu.

Naruto segera dibawa ke rumah sakit, luka-luka akibat pecahan puing kendaraannya itu melukainya cukup parah. Darah segar mengalir dari beberapa bagian tubuhnya. Raikage segera mengambil alih keadaan, sementara Utakata ikut naik ke dalam ambulans untuk mendampingi Naruto. Bendera setengah tiang diturunkan saat itu juga, hujan yang turun seolah ikut menangisi kepergian sang 'Jendral Tua' untuk selamanya.

Tidak perlu waktu lama bagi wartawan untuk mencium adanya berita baru. Hanya butuh beberapa menit dan para wartawan itu pun sudah berkumpul, bersaing untuk mendapatkan berita.

Raikage segera meluncur ke sekolah tempat Asuma mengajar untuk menyampaikan berita duka. Bee dengan sigap menangani kasus peledakkan tersebut. Sementara Hangobie dan Nibi, keduanya diutus oleh Bee untuk menyampaikan kabar mengenai kondisi Naruto pada Kurama.

.

Hujan semakin deras saat mobil yang ditumpangi Raikage sampai di Konoha High School. Ajudan san Kolonel segera membukakan pintu untuknya. Raikage segera berjalan dengan langkah tegap, menuju ruang kepala sekolah.

Para murid yang kebetulan berada di luar kelas melirik ke arahnya penuh rasa ingin tahu. "Perasaanku saja, atau memang banyak militer yang datang berkunjung ke sekolah kita?" bisik salah satu siswi sebelum berlalu pergi untuk kembali ke dalam kelas bersama siswi berambut coklat panjang lainnya.

Kurama sedang mengajar di kelas Sasuke, saat Hangobie dan Nibi mengetuk pintu kelasnya. Pria berambut jingga itu meletakkan buku dan kapur tulis di tangannya untuk membuka pintu. Kurama hanya berdiri di sana saat Hangobie menjelaskan apa yang terjadi. Pengendalian dirinya begitu baik, hingga ia mampu untuk menyembunyikan kesedihannya karena berita buruk yang baru saja diterimanya.

"Tolong tunggu sebentar," tukas Kurama pada keduanya. Pria itu kembali ke meja kerjanya dan membereskan semua peralatan mengajarnya. "Kerjakan semua soal di halaman lima puluh, aku akan memeriksanya nanti."

"Anda akan pergi?" tanya Tenten saat Kurama beranjak pergi dengan menenteng semua peralatan mengajarnya.

"Sensei ada urusan mendadak, kerjakan tugas kalian dengan baik. Mengerti?" perintah Kurama begitu tegas sebelum menutup pintu kelas. Para murid hanya mengangguk dan kembali ribut setelah kepergian Kurama. Jelas ada sesuatu besar yang terjadi hingga Kurama harus dijemput pergi oleh dua orang anggota militer, pikir mereka kompak.

"Apa sesuatu terjadi pada Naruto?" tanya Gaara kini duduk di samping Sasuke. Pemuda raven itu hanya melihat keluar jendela, menatap jauh keluar dengan tatapan kosong. Kelas begitu ribut, hingga Itachi yang kebetulan melewati kelas 3A masuk dan menggebrak daun pintu kelas.

"Kenapa kalian begitu ribut?" tanyanya menatap galak. Suasana kelas hening seketika, mereka terlalu takut pada Itachi saat ini. "Siapa sensei yang mengajar kalian saat ini? Ketua kelas?" Itachi melempar tatapan pada Neji.

Neji segera berdiri dan membungkuk hormat. "Saat ini jam pelajaran Namikaze sensei," jawabnya.

Itachi mengangkat sebelah alis dan berjalan menuju meja guru yang ada di depan kelas. "Kemana Namikaze sensei?"

"Beliau ada urusan, baru saja pergi." Neji kembali menjawab.

"Kalian tidak diberi tugas?"

"Kami diberi tugas."

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Segera kerjakan tugas kalian, jangan membuat keributan." Kata Itachi.

Kiba mengangkat tangan dan bertanya dengan nada takut. "Sensei, boleh saya bertanya?"

"Mau tanya apa, Inuzuka?"

"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Namikaze sensei pergi dengan dua tentara itu?"

"Bukan urusan kalian," kata Itachi. "Cepat kerjakan tugas kalian, aku tidak akan segan-segan menghukum kalian semua, jika aku mendengar keributan lagi dari kelas ini. Mengerti?"

Itachi keluar kelas dengan muka datar seperti biasa. Walau hatinya pun menyerukan hal sama seperti Kiba. 'Kenapa Kurama juga pergi bersama tentara-tentara itu?' tanya Itachi dalam hati. Ia melihat Asuma dan Kurama keluar dari ruang kepala sekolah bersama dua orang tentara dan satu orang polisi yang menyertai mereka. Dari pakaiannya, Itachi tahu jika polisi yang bersama mereka itu berpangkat tinggi. "Sebenarnya ada apa?" Itachi bergumam lirih.

Wajah Asuma terlihat begitu pucat, tubuhnya sedikit gemetar. Polisi itu menepuk bahu Asuma beberapa kali, terlihat seperti menenangkannya. Keadaan Kurama yang berjalan di sampingnya tidak jauh berbeda. Wajahnya begitu pucat, sedih, cemas, menjadi satu di wajah tampannya saat ini.

Itachi berlari kecil menuju ruang kepala sekolah saat Asuma dan yang lainnya sudah tak terlihat. Ia mengetuk pintu kantor kepala sekolah dan beranjak masuk setelah diijinkan. Itachi membungkuk memberi hormat pada sang kepala sekolah yang berdiri di depan jendela ruang kerjanya. "Maaf saya mengganggu anda, kepala sekolah." Sesal Itachi. "Tapi, ada hal yang sangat mengganggu saya saat ini."

"Apa yang ingin anda tanyakan, Uchiha sensei?" tanya kepala sekolah tanpa menoleh.

"Sebenarnya apa yang terjadi, ada apa dengan Asuma sensei dan Namikaze sensei?"

Kepala sekolah menghela napas panjang dan berbalik menghadap Itachi. "Ayah dari Asuma sensei baru saja meninggal dunia."

"Sarutobi-san, meninggal dunia?" beo Itachi tak percaya. Sebagai putri Menteri Pertahanan, dia sudah sering bertemu dengan para petinggi militer, dan mengenal beberapa di antaranya walau tidak terlalu baik. Itachi sudah mengetahui jika Asuma merupakan putra dari Jendral Sarutobi. Tapi, ia masih tidak mengerti kenapa Kurama juga pergi karena masalah ini. "Lalu, apa hubungannya dengan Namikaze sensei?"

"Sarutobi-san, meninggal karena ledakkan bom yang terjadi beberapa saat yang lalu. Kejadiannya sudah banyak diberitakan saat ini."

Itachi menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia belum tahu berita terbaru dan terlalu kaget untuk bicara saat ini.

"Ledakkan itu memakan dua korban, Sarutobi meninggal di tempat. Sedang satu korban lagi, dia adalah adik dari Namikaze sensei." Jelas kepala sekolah, ada kesedihan nyata tergurat di wajah tuanya saat ia memberi penjelasan pada Itachi.

"Naruto?" Itachi mencicit. "Maksud anda, korban yang satu lagi adalah Naruto?" tanyanya lagi.

"Benar," sahut kepala sekolah. "Korban yang satu lagi adalah Naruto. Jangan khawatir, Naruto masih hidup. Saat ini dia sudah dibawa ke rumah sakit militer."

Itachi menghela napas lega setelah mendengar penjelasan kepala sekolah. "Jadi, Namikaze sensei dipanggil karena hal itu." Suara Itachi sedikit bergetar.

"Ada satu hal lagi yang kami sembunyikan dari kalian," kata kepala sekolah.

"Maksud anda?"

"Sarutobi bukan hanya ayah dari Asuma dan atasan Naruto saja. Dia juga merupakan kakek dari Namikaze sensei."

Lagi-lagi Itachi menggelengkan kepala, informasi yang diterimanya saat ini terlalu mengejutkan untuk diproses oleh otaknya. Ia masih menatap kepala sekolah dengan tatapan tak percaya.

"Penghormatan terhadap Jendral Sarutobi akan dilaksanakan setelah penyelidikan selesai, kita hanya bisa berdoa agar pelaku kejahatan itu segera ditangkap dan diadili." Kata kepala sekolah, ia kembali menerawang jauh. Itachi hanya mampu mengamini di dalam hati. Dirinya benar-benar cemas, ia terlalu cemas akan kondisi Naruto dan kondisi mental Kurama saat ini.

Sementara itu, keadaan di kelas 3A kembali ribut karena Karin yang secara tiba-tiba datang menyerbu masuk ke dalam kelas itu dengan menangis keras. Hinata beserta semua teman baiknya bahkan harus berusaha keras untuk menenangkannya. Ino bahkan tidak bisa bertanya pada Karin, karena gadis berkacamata itu langsung menghambur keluar kelas menuju kelas 3A, setelah membuka situs internet. Beruntung untuk mereka, karena Asuma ijin keluar dan hanya memberi mereka setumpuk tugas.

"Bisakah kau berhenti menangis?" Gaara meletakkan kedua tangannya di telinga. Terlalu malas mendengar suara tangisan Karin yang tak kunjung reda.

"Ada apa denganmu?" Sasuke yang biasanya cuek kini buka suara.

Karin menghapus air mata dengan punggung tangannya dan menyerahkan 'tab' miliknya pada pemuda raven itu. "Apa ini?" tanya Sasuke tidak mengerti. Teman-temannya yang lain segera berkumpul di sekeliling pemuda raven itu.

"Li-lihat berita yang a-ada di sana," kata Karin di tengah isakannya.

"Berita apa?" Neji berdecak. "Cepat lihat, Sas." Tambahnya tak sabar.

Sasuke segera membaca berita yang tertulis di situs internet itu. "Ledakkan di markas angkatan darat?" Kiba membaca judul berita lalu melirik ke arah Karin. "Apa hubungan berita ini dengan tangisanmu?" tanyanya tak mengerti.

"Li-lihat siapa yang jadi kor-korbannya," sahut karin terbata. Ino mengusap punggung gadis berambut merah itu agar tenang.

"Memakan korban dua orang," baca Shikamaru. "Salah seorangnya merupakan jendral besar, sedangkan korban lainnya merupakan perwira wanita, berinisial NN?"

"Siapa NN? Kau mengenalnya?" Gaara menatap Karin ingin tahu.

"Namikaze Naruto," sahut Sasuke setengah berbisik, namun masih bisa didengar jelas oleh teman-temannya yang lain. Karin mengangguk dan kembali menangis histeris.

"Belum tentu itu dia," tukas Sakura keras. "Kau jangan menyebarkan berita tidak baik. Korban itu belum tentu Naruto." Tambahnya dengan mata berkaca-kaca.

"Tapi," potong Shikamaru. "Kenapa Namikaze sensei didatangi personil militer? Ini terlalu kebetulan."

"Mau kemana, Sasuke?" Gaara berteriak kencang saat Sasuke berlari keluar kelas. Suasana di kelas mulai mencekam. Masing-masing mulai mencari berita mengenai ledakkan tersebut. Mereka berdoa, korban perwira wanita itu, bukan Naruto.

"Kakak?" panggil Sasuke merangsak masuk ke dalam kantor Itachi.

"Dimana kesopananmu, Sasuke? Ada apa?"

"Berita ini!" Sasuke menyerahkan sebuah tab berwarna putih itu pada Itachi. "Apa berita di sana benar? Apa Kakak mengetahui sesuatu tentang ini?"

Itachi meletakkan kembali 'tab' itu ke atas meja, matanya menatap lurus pada Sasuke. "Berita itu benar," jawabnya pendek.

"Naruto, dia juga menjadi korban?" Sasuke bertanya dengan suara serak.

"Yah, sayangnya seperti itu."

"Dia, dia baik-baik saja, kan? Katakan jika dia baik-baik saja!" Sasuke membentak, terlihat begitu khawatir.

"Aku juga tidak tahu," sahut Itachi pelan. "Yang jelas, saat ini dia dirawat di rumah sakit militer. Dan jangan berpikir untuk datang ke sana," larang Itachi keras. Wanita itu mampu membaca jalan pikiran adiknya dengan baik. Rahang Sasuke mengeras mendengar ucapan kakaknya itu. "Akan percuma jika kau datang ke sana, kau tidak akan bisa masuk. Setelah kejadian ini, penjagaan di sekitar Naruto pasti sangat ketat." Jelasnya. "Sebaiknya, kau meminta pada Ayah agar beliau mengijinkanmu ikut melayat ke kediaman Jendral Sarutobi. Dengan begitu, mungkin kau bisa menemui Naruto."

"Apa maksud, Kakak? Kenapa aku bisa menemui Naruto di kediaman Sarutobi-san?"

"Ada sesuatu yang harus kau ketahui, Otouto." Kata Itachi pelan. "Sarutobi bukan hanya atasan Naruto di militer, beliau juga kakek dari Naruto."

"Ini gila?" teriak Sasuke. "Kebohongan apa lagi ini? Bukankah hubungan mereka hanya sandiwara saja?"

"Ini kenyataan, mungkin sulit untuk diterima. Tapi, inilah kenyataannya." Terang Itachi setengah berbisik.

.

.

.

Tiga hari berlalu sejak peristiwa peledakkan itu. Teror pada militer dan kepolisian terus berlanjut. Penjagaan pada pos-pos militer dan kantor polisi semakin diperketat. Sudah tiga hari pula, Naruto berbaring di rumah sakit. Sebenarnya, luka yang dia alami tidak terlalu parah. Namun, hingga detik ini, gadis itu masih belum bicara. Tatapannya terlihat kosong, jiwanya seolah hilang dari tubuhnya.

Dengan sabar, Kurama berjaga di sisinya. Namun hal itu tidak cukup untuk membuat Naruto bicara. Gadis itu bahkan tidak meneteskan air mata, bahkan hingga saat dia berada di depan peti mati sang jendral tua.

Setelah mendorong kursi roda Naruto hingga di depan meti jenazah Sarutobi, Kurama bergabung untuk berdiri bersama Asume dan Konohamaru. Para pelayat mulai berdatangan, baik dari pihak militer, menteri hingga rekan kerja Asuma, semua datang untuk memberikan penghormatan terakhir.

Pemakaman Sarutobi akan dilaksanakan sore ini. Pemakaman akan dilakukan secara militer, mengingat Sarutobi merupakan seorang jendral besar hingga akhir hayatnya.

Uchiha Fugaku datang bersama Mikoto dan kedua anaknya. Sasuke melirik ke arah Naruto yang menolak untuk dipindahkan dari depan peti mati Sarutobi. Hati Sasuke begitu sakit saat melihat sosok Naruto. Gadis itu seperti mayat hidup, tatapan matanya begitu kosong. Cahaya kehidupan seolah hilang dari kedua bola matanya yang cantik.

"Kakak?" panggil Konohamaru. Pemuda berusia lima belas tahun itu berlutut di depan Naruto. "Kakak," panggilnya lagi. "Kakek tidak akan senang bila melihatmu seperti ini." Katanya lirih, dia begitu khawatir melihat kondisi kakak perempuannya.

Perlahan, tatapan Naruto beralih pada Konohamaru. "Gomenasai," katanya begitu lirih. "Gomenasai," ulangnya. Naruto meneteskan air mata untuk pertama kali setelah kematian Sarutobi.

"Untuk apa minta maaf?" tukas Konohamaru tenang. Asuma dan Kurama akhirnya bisa bernapas lega, melihat Naruto yang akhirnya mau berinteraksi kembali. "Ini semua takdir, kematian Kakek bukan salahmu."

"Tidak, kau tidak mengerti." Kata Naruto pahit. "Semua ini salahku," katanya memukul-mukul dadanya keras. "Ini semua salahku, Kakek meninggal karena aku. Aku seorang pembunuh, aku pembunuh Kakek." Teriak Naruto frustasi, membuat para pelayat itu menatapnya iba dan cemas. Beberapa di antara mereka bahkan menitikkan air mata, ikut merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Naruto saat ini.

"Andai saja aku tidak menawarkan diri untuk mengantarrnya pulang, andai saja aku menolak saat beliau menginginkan untuk menyetir. Andai aku tidak mengambil telepon genggamku yang tertinggal." Naruto menjambak rambutnya keras. "Sekarang kalian mengerti? Semua adalah salahku." Naruto kembali menatap Konohamaru. "Benci aku, Konohamaru. Benci aku, paman Asuma, Kakak. Kematian Kakek adalah salahku."

"Hentikan omong kosongmu, Naruto." Tukas Asuma keras. "Semua ini takdir, mengerti? Berhenti menyalahkan dirimu sendiri." Katanya, mengguncang bahu Naruto keras untuk menyadarkan gadis itu.

"Tidak," raung Naruto menepis tangan Asuma dengan kasar. "Kenapa kalian tidak juga mengerti?" Naruto berkata getir. "Yang seharusnya mati adalah aku, bukan Kakek. Aku yang mereka incar, bukan Kakek. Kenapa kalian tidak mengerti juga?"

Dan suara tamparan itu terdengar begitu keras. Sudut kanan bibir Naruto bahkan mengeluarkan darah karenanya. "Hentikan ocehanmu, Naruto." Desis Kurama mengagetkan semua orang yang berada di sana, termasuk Itachi dan Sasuke. Mereka tidak menyangka jika Kurama sanggup melakukan hal itu pada adik kesayangannya.

"Berhenti menyalahkan dirimu," katanya. "Seharusnya kau tegar, buat Kakek bangga. Jangan membuat kematiannya sia-sia, karena kau terpuruk begitu dalam. Mana jiwa ksatriamu? Seharusnya, kau mencari otak dibalik peristiwa ini. Cari keadilan untuk Kakek, bukan bersikap menjijikan seperti ini."

"Kurama, sudah hentikan." Kata Asuma tegas. "Berikan Naruto waktu untuk menenangkan diri. Hal ini pasti sangat berat juga untuknya, kita jangan memaksanya lagi."

"Tidak," potong Naruto. "Kakak benar, paman. Sikapku saat ini benar-benar menyedihkan. Maafkan aku," katanya dengan helaan napas panjang, mencoba untuk menenangkan diri. "Konan-san?" panggil Naruto pada Konan yang berdiri tidak jauh dari tempatnya saat ini.

"Ya," sahut Konan segera berjalan menghampiri Naruto. "Tolong bantu saya untuk bersiap, saya ingin menghadiri upacara pemakaman Kakek, bukan hanya sebagai cucu, tapi juga sebagai prajurit."

Tanpa banyak bicara, Konan segera mendorong kursi roda Naruto, naik ke lantai dua di mana kamar gadis pirang itu berada.

"Apa Kakak akan baik-baik saja?" tanya Konohamaru pada Asuma.

Asuma tersenyum menenangkan. "Dia akan baik-baik saja, dia seorang prajurit tangguh seperti kakekmu. Paman yakin, dia akan baik-baik saja."

Konohamaru menatap kepergian Naruto dengan khawatir. Sementara Kurama, ia kini menatap tangan kanannya yang tadi menampar pipi Naruto begitu keras. Tangannya kini bergetar hebat, rasa sesal menyeruak hebat. Ini adalah kali pertama dia menampar adiknya, dan benar-benar sangat disesalinya.

"Naruto pasti mengerti kenapa kau melakukan hal itu," tukas Asuma pada Kurama. "Kau adalah kakak yang hebat, Naruto pasti paham kenapa kau menamparnya tadi." Ulang Asuma menegaskan.

.

Pemakaman Sarutobi berlangsung khidmat. Kesedihan menyelimuti setiap orang yang menjadi saksi pemakaman itu. Peti yang diturunkan memang tidak berisi tubuh lengkap jendral tua itu. Karena tubuh Sarutobi hancur dan menjadi abu karena ledakkan itu. Yang dimakamkan di sana hanya sisa abu dan pakaian dinas yang begitu dicintainya.

Konohamaru nampak tidak sanggup untuk membendung air matanya. Bersama dengan Naruto, ia menangis bersama. Menangis hingga peti mati diturunkan ke dalam tanah, dan peluru ditembakkan ke udara sebagai penghormatan.

.

.

.

TBC

#WeDoCareAboutSFN