Welcome to Our World(10)

.


.

"AAAAAAAAAAAA!"

Terdengar teriakan kedua orang yang familiar, berusaha berlari keluar hutan bersama dua orang yang lainnya, terlihat sedang dikejar oleh sesuatu.

"Kupikir tadinya kau bilang bahwa hal yang aneh-aneh tidak akan muncul pada siang hingga sore hari di sini, Vlad!?" hentak sang gadis ayu yang napasnya terengah-engah sembari berlari sekuat tenaga. Surai hitamnya terlihat melambai-lambai dan tubuhnya terbasuh oleh keringat.

"Aku yakin soal itu! Tetapi aku benar-benar tidak menyangka apabila makhluk itu bisa ada di dalam! Kupikir mereka sudah punah!" jelas si strawberry blonde meyakinkan.

Sang gadis tidak menjawab, hanya berlari sekencang yang ia bisa. Berlari ke sebelah si iris crimson, mendahului si iris emerald dan si iris violet. Di saat yang tidak tepat, tepat di depan langkahan kakinya terdapat akar pohon yang sangat besar dan tebal, kau tahu apa yang terjadi selanjutnya. Si gadis terjatuh

"K-Kirana!"sahut si strawberry blonde dari jauh dengan ekspresi yang bercampur aduk. Tak berlama-lamaan, sang gadis berusaha untuk berdiri. Namun nyatanya percuma, lutut dan sikunya terluka cukup lebar. Sebelum sang gadis pasrah, seseorang sudah mengangkat tubuhnya dan menggendongnya ala bridal style.

Butuh waktu sebelum sang gadis menyadari apa yang sedang terjadi, namun saat ia sadar, rona merah menutupi pipinya.

"Lepasin, Thur!"

Memang begini, sang gadis tidak terbiasa dengan kontak berat dengan kaum adam. Sehingga apabila hal itu terjadi, ia hanya bisa memberontak.

"Kau bodoh atau apa! Mana bisa aku melepaskanmu saat ini, bodoh!" kalimat ini membuat semburat merah di pipi sang gadis menjadi semakin merah. Sebelum ia mendengar perkataan selanjutnya.

"—aku tak mau teman-temanmu itu datang dan menghantui kami bersama dengan rohmu itu!" perkataan itu hanya memancing amarah sang gadis.

'Entah apa yang harus kulakukan pada alis tebal ini nantinya,' batin sang gadis seraya memberi 'senyuman manis'nya.

"A-ada apa dengan senyuman itu,"ujar si alis tebal yang sedikit bergidik ngeri.

Tetapi intinya, apa yang membuat mereka terlibat dalam hal seperti ini?


Hetalia © Himaruya Hidekaz

Welcome to Our World © Me

Sedikit headcanon dari Harry Potter © J.K Rowling

Warning : Typo, update lama, OoC/?

Genre : Friendship, Supernatural, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan sihir.


.

Setelah bertanya-tanya tentang nasibnya bersama mereka kepada Tuhan, sang gadis akhirnya tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Vladimir yang sudah menyiapkan ransel di balik punggungnya.

"Anu, apakah kau yakin jika perjalanan ini akan baik-baik saja?" tanya Kirana dengan ragu, menunggu paling tidak jawaban yang dapat merilekskan hatinya.

"Tidak jika kau berbuat yang aneh-aneh" jawab Lukas datar lantas kembali menyeruput kopi hangatnya. Jawaban yang membuat Kirana semakin ragu untuk masuk ke dalam hutan.

Tidak, sebenarnya ia tidak begitu takut dengan hutan. Buktinya saat jamannya masih bocah, ia sering berkeliaran di hutan bersama teman-temannya. Ia hanya takut untuk bertemu makhluk-makhluk asing dimatanya, terutama dari luar negerinya. Contohnya saja naga.

"Tenang saja, hal-hal yang aneh tidak akan muncul di siang maupun sore hari!" ujar Vlad yang membuat Kirana menghela napas pasrah. Paling tidak jawaban itu lebih melegakannya dibanding dengan jawaban milik seseorang.

"Terima kasih, Vlad,"

Vladimir hanya mengangguk seraya menunjukkan seringaiannya.

Si alis tebal, Arthur Kirkland, kembali masuk ke dalam ruangan seraya membawa selembar jubah berhoodie berwarna hijau gelap. Jubah itu memiliki panjang paling tidak menutupi lutut, dan dapat dilihat seuntai pita yang bergantung di bahu jubah itu. Ia berjalan ke arah Kirana, menyodorkan jubah tersebut padanya. Kirana, yang merasa bahwa jubah itu diberikan padanya, mengambil sodoran kain tersebut dengan sedikit ragu.

"Itu jubah pelindung. Paling tidak bisa melindungimu dari serangan beberapa elemen dalam jumlah yang kecil. Seperti api dari sebatang korek api. Jubah itu juga dapat melindungi paling tidak nyawamu apabila berhantaman dengan elemen dengan jumlah besar, namun jubah itu akan ikut terbakar. Walaupun aku tidak dapat menjamin bila tidak ada luka-luka yang akan timbul di kulitmu, " Kirana mengangguk paham, lantas mengenakannya dan mengikat pita itu, diikuti oleh ketiga pemuda tersebut.

"Sebagai pengetahuanmu, siapa tahu kau memang sebegitu bodohnya. Untuk mengakses sihir menggunakan tongkat, kita menggunakan mantra. Aku tidak tahu lafal mantra yang kau gunakan, jadi kau cari tahu tentang itu sendiri." Butuh kekuatan yang besar untuk tidak menonjok pemuda beralis tebal di depannya ini menggunakan kepalan tangannya, yang sebagaimana membuatnya hanya mengedutkan alisnya dengan kesal. Oh Tuhan, tidak bisakah dia menjadi lebih kasar dari itu!?

"Bagaimana caranya?" Tanya sang gadis pada siapapun yang ingin menjawab pertanyaannya itu.

"Kau memang bodoh atau apa? Ikuti bisikan angin!" Tuhan, lama-kelamaan Kirana akan menjadi gila apabila ia terlalu lama berbicara dengan si alis sarkastik. Tapi yang ia dapat lakukan hanyalah mengepalkan tangannya seraya menunjukkan senyumannya yang gelap. Kau dapat melihat bagaimana gadis ini berjuang untuk melawan emosinya ini.

Vlad, seperti biasanya, menyadari situasinya. Dengan cepat ia mencoba untuk mengganti topik pembicaraan mereka.

"Arthur, bukankah kau pernah menyimpan buku tentang Dark Arts? Kenapa tidak kau berikan padanya saja?" ujar Vladimir memecah suasana. Arthur hanya memalingkan wajahnya seraya memberikan desahan yang mencemooh, lantas menjawabnya

"Kau bercanda? Dalam buku itu terdapat mantra-mantra yang berbahaya. Jikalau buku itu ada ditangan gadis yang ceroboh itu, apa yang akan terjadi di dunia ini?"cemooh Arthur dengan sarkastik. Kalau saja Vladimir tidak menghentikkannya, kepalan sang gadis pasti sudah mendarat di wajah beralis tebal itu.

"K-Kirana, tahan dulu!"

Lukas hanya menghela napas pasrah melihat tingkah keduanya menggunakan iris violetnya yang masih bercahaya itu. Mereka berlagak seperti sepasang suami-istri yang sedang bertengkar! Ia menutup bukunya dengan kasar, lantas memejamkan matanya.

Tiba-tiba terlihat troll miliknya yang mendaratkan sebuah kepalan pada kepala mereka masing-masing.

"Ouch!" "Aw!"

Keduanya menggerutu, terlihat mengelus-elus kepala mereka dengan sayang. Mereka bertiga melirik pada sang troll, yang mendapati figur seorang pemuda Norwegia. Ia mendaratkan pandangan terdingin yang pernah Kirana lihat, membuatnya bergidik ngeri.

"Kalian bertingkah terlalu kekanak-kanakan," ujar Lukas membuka mulutnya. "Hentikan perdebatan konyolmu dan cepatlah berangkat, atau aku akan pulang" lanjutnya memberikan deathglare kepada mereka berdua, yang entah kenapa juga mempengaruhi Vladimir.

Arthur mendecak kesal, lantas berjalan keluar ruangan dengan hentakkan kaki yang tidak bisa biasa. Meninggalkan seorang gadis yang masih membeku dan Vladimir yang berkeringat dingin bersama si raut dingin.

Lukas yang sedari tadi melirik kepergian Arthur, menolehkan lirikannya pada kedua figur di depannya.

"Apa yang kalian lakukan? Lebih baik kalian bergegas atau kutinggal." Dengan perkataannya itu, mereka berdua segera beranjak keluar, diikuti oleh Lukas.

Pelajaran yang Kirana dapatkan hari ini adalah:

Jangan pernah membuat Lukas Bondevik marah!

"Daaan disinilah kita, di jalan masuk hutan sekolah kita tercinta!"

Ditelitinya 'jalan masuk' dengan iris onyx miliknya. Darimana pun kau pandang, jalan masuk ini tidak sama dengan sisi hutan yang lain! Hutan tersebut terlihat gelap, dan entah mengapa sang gadis dapat merasakan suasana yang suram. Terdengar gersak-gersakan dari balik semak di hutan, yang membuat sang gadis sedikit terhenyak. 'Oh, Kirana…Tenangkanlah dirimu…hal seperti ini sudah biasa terjadi di tempat seperti ini…'

"Oi, kau! Kau ingin ikut atau tidak?" hentak Arthur yang membuat Kirana terbangun dari lamunannya.

Ternyata mereka bertiga sudah memasuki hutan tersebut terlebih dahulu.

'Kalau kau tanya 'ingin atau tidak' sudah pasti tidak…' menghela napas, akhirnya sang gadis menjejakkan kakinya ke dalam hutan.

"Dumnezeu! Lihat! Ada Snowdonia Hawkweed! Oh! Balm of Gilead! Astaga, Hogweed! Sudah berapa lama sejak kita datang ke sini? Kita panen!"

"Tiga bulan yang lalu," jawab Lukas seraya memetik beberapa biji kopi yang ia temukan.

"Lukas, mestikah kau memetik kopi-kopi itu?"tanya Vladimir yang menatap Lukas dengan sedikit sweatdrop yang menghiasi wajahnya.

"…Ja. Kopi dan biji kopi bermanfaat untuk meramu. Kita dapat membuat penawar racun menggunakannya. Walaupun kita juga dapat membuat racun dengan ini,"

Kirana tidak begitu mengerti apa yang harus dipetiknya, jadi ia hanya memetik beberapa tanaman yang terlihat familiar di matanya dan berguna. "Apakah kalian dapat menggunakan Tongkat Ali untuk meramu?" tanya Kirana, matanya menuju ke tanaman yang disebutnya barusan, menanyakan dahulu sebelum memetiknya.

"Tentu. Tetapi kami jarang menemukannya di tempat seperti ini, 'toh biasanya lebih banyak ditemukan di tempat tropis, dan lagi itu termasuk tanaman langka." Dengan jawaban dari Arthur itu, Kirana segera memetik tanaman itu. "Kalau begitu, kau dapat menggunakannya kali ini,"

Awalnya memang berjalan lancar. Mereka benar-benar panen hari itu.

Hanya saja saat mereka beranjak lebih dalam….

"Tunggu…" bisik Arthur yang merasakan kehadiran 'sesuatu' yang tidak diundang.

Atas perintahnya, mereka bertiga berhenti dibelakang sang ketos, sementara ia sendiri sedang melirik dari balik pohon. Iris emeraldnya terbelalak, melihat makhluk yang tertidur di tengah hutan.

"Janggut Merlin…Itu tidak mungkin…" gumamnya dengan napas yang sedikit terengah-engah. Ketiganya hanya memandangnya dengan menurunkan salah satu alis mereka, minus Lukas yang tetap memasang wajah datarnya.

Terlihat ingin tahu, ketiganya mengintip dari balik pohon. Apa yang mereka lihat membuat mereka hampir menghujat dengan bahasa mereka masing masing, hampir. Mereka hanya menatap sang makhluk dengan pandangan tidak percaya, minus Lukas seperti biasa.

Baiklah, aku yakin kalian ingin tahu 'makhluk' ini.

Terdengar tidak asing dikalangan dunia sihir, tapi cukup menakutkan apabila bertatapan muka dengannya.

Naga.

Seekor naga-yang kelihatannya berasal dari- Irlandia tertidur. Sisiknya berwarna jade green, dan dibalik kelopak matanya, terlihat sepasang iris berwarna emas.

Tunggu—apa!?

Sang naga terbangun. Sepertinya ia menyadari keberadaan keempat manusia itu. Keempatnya berkeringat dingin, yang sebagaimana hanya memperparah situasi kala sang naga memiliki penciuman yang tajam. Terlihat sang naga melirik ke arah mereka dari tempatnya.

Mengambil kesempatan ini, Arthur mengambil aba-aba untuk segera berlari sebelum pada akhirnya sang naga mengejar mereka.

"AAAAAAAAAAAA!"

Dan itulah apa yang terjadi.

Permainan kejar-mengejar dimulai dari situ.

"Lukas! Coba kau buat ice barrier! Vlad, kau buat flame barrier! Dan Kirana, kau…Panggil teman-temanmu dan suruh mereka mencegah makhluk itu! Aku akan coba membuat whirlwind dari bawah makhluk itu!" perintah Arthur seraya menaruh sang gadis ditanah secara perlahan, membiarkannya mengobati lukanya. Mendapati anggukan sebagai respon dari ketiganya.

Pertama-tama, Lukas terhenti dan menatap makhluk itu, terlihat berkonsentrasi di bawah napasnya yang terengah-engah. Telapak tangannya ia arahkan ke arah sang makhluk, seraya memejamkan matanya dan mulai membisikkan suatu mantra :

"Kjære Magni, sønn av Thor. Låne meg din styrke,"

Cahaya berwarna emas mulai melingkarinya.

"Kjære Hodr, guden for vinteren. Vennligst låne meg isen av vinden,"

Cahaya itu berubah menjadi biru, navy blue. Entah kenapa suhu menjadi dingin di sekitar Lukas, dan berbutir-butir salju turun disekitarnya secepat badai.

"Kjære Óðinn, låne meg styrken på magi. En visdom til å beskytte den kjære,"

Kedua warna cahaya itu melingkari makhluk itu.

"Ved din vilje, kan jeg, som har innkalt din styrke, har tillatelse til å lage en is barriere for å beskytte.

Fryse! "

Serentak, terlihat berbongkah-bongkah es melonjak dari bawah tanah, membuat perantara antara mereka dan makhluk itu.

Kemudian Vladimir berteleportasi ke balik sang naga, tentu saja member jarak yang sangat lebar diantara mereka. Lantas, ia menggumamkan suatu mantra pula:

"Dragă Volcan! Împrumută-mi voința ta! "

Sama seperti Lukas, pelita cahaya mulai melingkarinya, hanya saja kali ini berwarna merah.

"Ia cele de foc de te va Pământului

Și a ne proteja de ei prin voia Ta!"

Kala Vladimir menudungkan jarinya pada sang naga, terhubungkanlah bongkahan es yang dibentuk Lukas dengan api Vladimir, membuat lingkaran untuk menahan sang naga.

Sementara itu Kirana…

Terduduk dibawah pohon, ia memejamkan matanya. Ia memijat jembatan hidungnya seraya berpikir-pikir.

'Memanggil teman-temanku? Bagaimana bisa aku melakukannya disini!? Aku tidak bisa mengontak mereka! Maksudku mereka tidak punya tele—bukan, bukan, maksudku….Uuh, ikuti bisikan angin? Oh Arthur, terima kasih sekali, itu sangat tidak membantu! Maksudku… ikuti bisikan angin? Bagaimana bisa!?'

Sang gadis menampar kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya yang mungil, menyadarkannya dari kerisihan. 'Sudahlah! Yang penting kau tenang dulu, Kir!' Menghela napas, Kirana mencoba untuk berkonsentrasi. Rasa paniknya mulai reda, dan ia menghela napas kembali.

'Baiklah, ikuti bisikan angin…Aku tidak paham apa yang dimaksud oleh alis tetapi mungkin aku harus mencobanya…'

Setelah menjernihkan pikirannya, Kirana mulai menajamkan telinganya dan mencoba untuk mendengarkan deru angin dalam keheningan.

Ia sedikit terhenyak ketika samar-samar ia mendengar bisikan dibalik aliran angin.

Ia bingung, namun tak terasa olehnya, ia berdiri dengan kedua kakinya. Tangannya ia luruskan, menunjuk pada sang naga, walau ragu-ragu. Ia menghembuskan napasnya, entah mengapa terengah-engah. Matanya terlihat melebar, mungkin ia tidak menyangka bahwa ia dapat mendengarkan bisikan oleh angin.

Menelan ludah, ia mencoba merilekskan dirinya kembali. Tangan mungil yang sedari tadi gemetar, kini ia todongkan tanpa ragu. Wajah ketekadan kini melapisi tampangnya yang tadinya terlihat gelisah.

"Kemarilah! Buto Ijo!"

.

.

.

To be Continued


Long story short, makasih udah pada baca ^^)/

Untuk kali ini mohon maaf gabisa balas review, udah gitu chapter ini juga masih pendek eAe

Tapi karena ada 'ulangan' dan beberapa masalah menerjang, mohon diminta kesabarannya

28/11/2015