Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. saya hanya pinjam.

.

.

Fight

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Fight by author03

Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.

Romance\Drama

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 10

.

.

.

.

Blaaammm..

Hinata langsung keluar dari mobilnya dan mengejar adiknya yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan menghempas kuat pintu rumah.

"Kau kenapa? Mengapa kau marah?" tanya Hinata ketika tangannya berhasil menahan pergelangan tangan adiknya.

"Temanmu itu menghancurkan hariku!" jawab Hanabi kesal sambil menepis tangan Hinata dipergelangan tangannya.

"Kau yang menyuruhnya menemui ku, mengapa kau marah?" tanya Hinata tak mengerti.

"Aku ti"

"Aku tahu, apa yang kita rencanakan tak selalu terjadi dengan benar dan kau tak bisa marah padanya hanya kerena dia disana." sela Hinata mecemarahi. Mungkin, kehadiran Shion berbeda atas apa yang telah Hanabi rencanakan dan itu sudah jelas bukan salah Shion. Mengapa Hanabi malah marah pada Shion?

"Aku tak menyuruh sialan itu!" Hanabi menaikan suaranya. Ia sungguh tak menyuruh sialan itu!

"Hanabi! Jaga ucapanmu! Sudah kukatakan, jangan hanya karena rencanamu tak berjalan lancar, kau menjadi membalikkan fakta." marah Hinata pada kata-kata kurang ajar adiknya.

"Hiks.. Aku sungguh hiks tak menyuruhnya." air mata Hanabi yang langsung mengalir deras. Jalang itu sudah mengacaukan hari baiknya dan sekarang kakaknya tak percaya padanya.

...

Hati Hinata yang langsung luluh melihat air mata adik nya itu.

"Maafkan aku, karena adanya Shion dan Naruto. Aku jadi mengabaikanmu." ucap Hinata menyesal. Harusnya, ia memang tak pernah membiarkan Naruto mengikutinya.

"Dari awal Naruto bersama kita dan semenjak Shion datang, dia terus membawa Naruto berpisah dari kita. Jika, aku jadi kau, Aku juga akan mencarinya!" jawab Hanabi tak terima. Si jalang itu terus saja berpisah dari kami yang menyebabkan kami menghabiskan waktu hanya untuk mencari mereka, walaupun sudah ketemu dan sedikit berhenti di sebuah toko. Hanya satu detik berpaling, mereka sudah menghilang entah kemana.

"Mereka hanya tak sengaja berpisah dari kita, bukan Shion yang membawanya pergi." ucap Hinata membenarkan ucapan adiknya. Semua ini salahnya, tak seharusnya Hanabi menyalahkan orang lain atau mungkin harusnya Hinata tak menyalahkan Naruto.

"Kau membelanya, hiks.. Kau sendiri tahu hal itu. Hiks. Aku benci padamu. Padahal aku akan berangkat besok pagi dan kau dan temanmu menghancurkan semuanya. Aku sungguh benci padamu! Ini sungguh hari terburukku!" Hanabi yang langsung berlari ke kamarnya yang terdapat dilantai dua, meninggalkan kakaknya yang tengah membeku. Apa maksudnya dengan berangkat besok pagi? Bukankah dia akan berangkat hari rabu?

.

Tok tok tok.

"Hanabi, buka pintunya. Hanabi!" pinta Hinata sambil terus mengetuk pintu kamar adiknya yang terkunci dari dalam.

"Aku benci teman jalangmu itu! Harusnya ia tak pernah datang hari ini! Hari baikku menjadi berantakan karena dia!" Hinata yang hanya bisa terdiam mendengar suara adiknya dari dalam ruangan.

...

"Hanabi, Naruto bukan kakakmu dan aku bukan pacarnya. Kita tak punya hak untuk melarangnya pergi dengan siapapun yang dia mau." Hinata menurunkan suaranya. Naruto terlihat tak masalah pergi bersama Shion jadi bagaimana ia bisa memprotes hal itu?

"Tapi dia pergi dengan kita! Setidaknya jika mereka sungguh ingin berkencan berdua, hubungi kita! Setidaknya beritahu kita agar kita tak perlu menghabiskan waktu hanya untuk mencari mereka dan berdiri menatap mereka bersenang-senang seolah kita adalah pengawal mereka!" marah Hanabi tak terima. Hari ini sungguh hari terburuknya! Ia sungguh benci pada hari ini! Kakaknya sendiri pun tak percaya padanya, Ia benci pada kakaknya dan semua nya! Besok ia akan pergi dan kakaknya malah meninggalkan kenangan buruk untuknya. Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya. Ini karena si jalang itu tiba-tiba muncul dan mengacaukan semuanya.

...

"Hiksss.. Aku benci padamu! Aku tak mau melihatmu lagi! Hiks.. Hiks.. Aku tak mau pulang kesini lagi! Hiks.." tangis Hanabi yang semakin pecah. Setidaknya, tak bisa kah kakaknya percaya padanya? membelanya dari pada membela jalang yang sudah menghancurkan harinya bahkan hari kakaknya. Mengapa kakak masih membelanya padahal kakak juga merasakan jelas apa yang Hanabi rasakan kini.

Hinata masih terdiam. Dadanya terasa sangat sakit, adiknya pasti sangat kecewa padanya, harusnya hari ini adalah hari dimana hanya ada tawa tapi yang terjadi malah sebaliknya. Bukan Hinata tak percaya pada adiknya tapi Shion tak mungkin begitu dan Naruto juga terlihat tak masalah bersama Shion. jadi, siapa dirinya sehingga ia boleh marah pada Naruto? Naruto punya hak pergi kapanpun karena hari ini mereka hanyalah kebetulan bertemu bukan sebuah janjian betemu. Seharusnya, Hinata meninggalkan Naruto saat Hinata berpisah dengannya nya tapi Hinata tak bisa, Hinata tak ingin jika Shion dan Naruto panik mencari nya dan alhasil, Hinata menjadi mengabaikan adiknya. Hinata sungguh telah mengecewakan adiknya.

"Hanabi.."

Apa yang harus Hinata lakukan? Adiknya akan pergi besok dan kini adiknya tak mau membuka pintu kamarnya. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahannya sekarang?

Krrrrriinng..

Hinata menatap layar ponsel yang ia ambil dari dalam tasnya.

Nomor tak dikenal.

...

Setelah menimbang-nimbang untuk mengangkatnya atau tidak, Hinata pun menggeser tombol hijau.

"Hallo?"

.

.

.

.

.

.

Naruto berdiri bersandar di kap mobilnya sambil terus mengamati Hinata yang baru saja keluar dari dalam rumah dan menghampirinya.

.

Mereka berdua yang kini terduduk bersebelahan didalam mobil Naruto.

"Adikmu marah?" tanya Naruto dengan tatapannya yang menatap lurus kedepan.

Kepala Hinata yang masih tertunduk.

"Maafkan aku, ini pasti salahku. Seharusnya aku tak mengikutimu." sambung Naruto menyesal. Ia bisa melihat jelas kemarahan dan kekecewaan di wajah Hanabi tadi, waktu dipakiran, dimana mereka akan berpisah. Karena rasa bersalahnya lah, Naruto langsung kemari setelah mengantar Shion.

"Tidak, itu bukan salahmu. Dia sangat senang bermain denganmu. Ini salahku..." Hinata menelan kembali kata-kata yang belum sempat terucap. Harusnya aku meninggalkan mu setelah kau pergi dengan Shion tapi aku malah mencari kalian dan menyebabkan aku mengabaikan adikku.

...

Hinata yang sungguh tak bisa lagi menahan air matanya, air matanya yang perlahan mengalir semakin deras.

"Besok pagi, dia akan pergi. Hiks.. Aku malah menghancurkan harinya dan bertengkar dengannya. Hiks.. Hiks.." tangis Hinata yang langsung pecah. Hinata pernah merasakan posisi yang sama dengan Hanabi. Dimana hari terakhirnya dirumah dihancurkan oleh keegoisan ayah dan ibunya. Rasanya sangat sakit, sangat mengecewakan. Dimana harusnya hari terkahir itu menjadi kenangan yang sangat indah malah menjadi hari yang sangat buruk. Rasanya, ingin sekali tak pulang ke rumah itu lagi.

"Hiks.. Dia akan pergi dan kembali lagi ke sini setengah tahun lagi. Dia pasti akan terus mengingat hari ini, hiks.. Dia pasti sangat kecewa. Hikss.. Mungkin saja lain hari, ia tak akan mau pulang lagi. Hiks.." Hinata sangat tahu, hari liburlah, yang sangat Hanabi inginkan, alasannya hanya satu. Agar dia bisa pulang dan bertemu dengan Hinata tapi sekarang Hinata sungguh menghancurkan harinya. Hinata ragu, Hanabi akan mau bertemu dengannya lagi.

...

Naruto masih menatap Hinata yang tak mengangkat kepalanya. Ternyata Hinata orang yang sangat lembut, dia sampai menangis hanya karena telah mengecewakan adiknya.

Naruto sungguh tak menyangka akan melihat Hinata menangis disini. Ia sungguh merasa bersalah. Harusnya ia memperingati Shion agar dirinya dan Hinata maupun Hanabi tidak terus terpisah tapi ia malah menghiraukan Shion. Ini sungguh salahnya. Hanabi pasti sangat kecewa saat ini. Dimana harusnya dia yang menjadi peran utama malah terlupakan.

"Tunggu disini." ucap Naruto yang langsung keluar dari mobilnya.

Hinata yang langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bahkan otaknya kini tak bisa berpikir dengan benar. Yang ia rasakan kini, hanya sakit di dadanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Adiknya sangat kecewa padanya.

"Hiks.. Hiks.."

.

.

Naruto menyelinap masuk ke rumah Hinata dengan hati-hati, mungkin kakak Hinata yang katanya galak itu masih dirumah, jadi jangan sampai ia ketahuan menyelinap masuk ke rumah Hinata.

Naruto memperhatikan dua pintu kamar yang berselahan. Yang dikiri adalah kamar Hinata dan pintu sebelahnya lagi dipenuhi oleh stiker hati dan hello kitty. Jadi 75persen ini adalah kamar Hanabi.

.

Naruto memutar gangang pintu kamar itu tapi pintu itu terkunci.

Tok tok tok..

Tok tok tok..

.

.

.

Tok tok tok..

Hanabi terus menatap pintu kamarnya yang sudah diketuk entah berapa puluh kali tanpa henti. Siapa disana?

...

Ia yang akhirnya beranjak dari ranjangnya dan mendekati pintu itu.

...

Mulutnya yang kembali tertutup ketika ia melihat siapa yang menggetuk pintunya itu.

Tidak! Hanabi benci padanya.

Tanpa sepatah katapun ataupun menutup kembali pintu itu, Hanabi melangkah ke ranjangnya dan menutupi wajah merah habis menangisnya dengan selimut besar didekatnya.

...

"Hanabi? Apa kau marah padaku karena merusak hari mu?" Naruto yang kini bersimpuh didekat pinggir ranjang Hanabi yang terbaring membelakangi nya.

Hanabi tak menjawab.

"Maafkan aku, harusnya dari awal aku tak pernah mengikuti kalian." sambung Naruto menyesal.

Hanabi menyingkirkan selimut yang menutupi wajahnya dan mendudukan dirinya menghadap ke Naruto.

"Tidak. nee-san benar. Harusnya aku tak marah pada orang lain. Apa yang dia katakan benar. Harusnya aku marah pada diriku sendiri karena dengan bodohnya hanya diam dan mengikuti kalian." jawab Hanabi merasa bersalah. Kakaknya benar, Naruto bukan kakaknya, ia tak punya hak untuk marah jika Naruto pergi dengan siapapun dan meninggalkannya. Dan di jalang itu. Dia tak akan bisa membawa Naruto pergi, jika Naruto tak sengaja membiarkannya kan? Hanabi merasa dirinya lah yang egois, ia hanya memikirkan dirinya sendiri.

"Kau tahu? Saat itu Shion terlihat sangat bahagia, aku tak berani menolaknya karena aku tak ingin dia merasa aku maupun Hinata tak menginginkan keberadaannya. Kami tak ingin dia kecewa, karena itu kami menjadi melupakan mu. Maafkan aku." jelas Naruto menyesal.

"Hiksss..hiks.. Biarkan saja, aku tak perduli lagi soal itu. Tapi hiks.. Kakakku sekarang pasti sangat kecewa. Ia pasti sangat sedih kerena tahu aku berangkat besok dan kami malah berkelahi. Hiks.." Hanabi terus saja menghapus air matanya yang mengalir keluar. Mengapa semuanya jadi begini? Mengapa semuanya jadi serba salah? Harusnya tadi ia tak bertengkar dengan kakaknya. Kakaknya pasti sangat sedih. Mengapa ia begini egois?

...

Naruto terdiam sambil terus menatap Hanabi yang terus menghapus air matanya yang mengalir keluar. Tak kakak, tak adik. Mereka sungguh mirip. Hati mereka sangat lembut. Mereka lebih memperhatikan orang lain dari pada diri sendiri.

"Karena hari ini sangat kacau, bagaimana jika sekarang kita pergi dan memperbaiki hari ini, hmm? Tanya Naruto dengan senyum nya yang membuat Hanabi menatapnya.

"Apakah kau pernah berada diluar rumah, tengah malam? Di tengah kota akan sangat indah, sangat meriah, kau tak akan menyesal." sambung Naruto senang.

"Tapi kakak?"

"Tenang saja, saat ini ia tengah menangis di mobilku." jawab Naruto lucu yang membuat Hanabi tersenyum tipis. Kakaknya pasti sangat sedih..

"Mau?" Hanabi mengangukkan kepalanya sebagai jawaban.

.

.

.

Hanabi mendudukan dirinya di kursi penumpang.

Naruto mendudukkan dirinya dikursi pengemudi dan melihat Hinata telah tertidur lelap dengan wajahnya yang masih dipenuhi bekas air mata.

"Nee-san tidur." bisik Hanabi sambil mengamati wajah tidur kakaknya. Tangannya yang perlahan menghapus jejak air mata di pipi kakaknya. Ia sungguh merasa bersalah.

.

Bruummm...

"Bangunkan dia." pinta Naruto setelah ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.

"Aku punya cara bagus untuk membangunkan dia." ucap Hanabi dengan cengirannya.

"Nee-san, Neji-niisan disini." bisik Hanabi di telinga Hinata dan hanya dibutuhkan satu detik, mata Hinata langsung terbuka lebar begitu juga dengan punggung nya yang langsung lurus.

... Tunggu? Neji-nii?

Hinata mengedipkan matanya beberapa kali dan menatap ke sebelahnya dan kedepannya?

"Kau mau membawaku kemana?" tanya Hinata yang sudah bangun seratus persen. Tadi dia mendengar suara Hanabi?

"Jalan-jalan." jawab Hanabi memunculkan kepalanya ke depan yang berhasil mengagetkan Hinata.

"Hanabi?" panggil Hinata terkejut. Sejak kapan Hanabi disini?

"Naruto-nii bilang, akan membawa kita jalan-jalan." ucap Hanabi dengan cengirannya.

"Tidak, Tidak. Turunkan aku, aku mau pulang. Kakakku akan mencekikku jika dia tahu kami tak ada dirumah setelah jam dua belas." jawab Hinata panik sambil terus membuka pintu mobil disampingnya yang terkunci. Sialan, ia sungguh tak mau diceramahi lagi.

"Biarkan saja, adik tercintamu akan membantumu kan?" tebak Naruto menatap sejenak Hinata dan kembali fokus ke jalanan.

"Sejujurnya aku sudah ketahuan. Aku tak bisa membantunya lagi. Aku dihukum hampir dua minggu ini." jawab Hanabi jujur yang membuat Naruto menatapnya. Gawat.. Bisa-bisa ia ikut dalam masalah karena membawa pergi anak orang, bukan satu tapi dua.

Tapi..

"Yaa.. Sudah terlanjur juga." ucap Naruto pasrah. Semoga saja tak ketahuan.

"Benar sekali. Mari jalan-jalan." jawab Hanabi setuju dengan cengirannya. Ia sungguh tak sabar ingin melihat kegiatan malam di jepang.

Hinata hanya bisa terduduk pasrah. Biarkan saja, biar semuanya sekalian dihukum.

.

.

.

.

00.36

Naruto memakirkan mobilnya di pinggir jalan, mereka yang kini berada di tengah kota yang masih terang menerang dan dipenuhi manusia-manusia, ada yang tengah berpacaran, ada yang bersama teman dan lainnya.

Ternyata tengah malam begini, masih ada yang berjualan. Lihatlah sana, ada gula-gula kapas, ice-cream, jagung bakar dan lainnya, juga masih ada toko makanan yang belum tutup. Terasa sangat ramai..

"Pakai ini biar tidak kedinginan." Naruto mengantungkan jeket kulitnya ke pundak Hanabi yang langsung dikenakan oleh Hanabi.

"Kurasa kau tak perlu jeket? kau tak lemah kan?" tanya Naruto pada Hinata dihadapannya yang langsung membuat Hinata berdecih merendahkan.

"Aku tak lemah sepertimu." jawab Hinata sinis yang kemudian bersimpuh didepan adiknya.

"Hanabi, maafkan aku karena membentakku tadi." ucap Hinata menyesal. Seharusnya ia tak membentak Hanabi setelah mengacaukan harinya.

"Tidak, itu salahku. Harusnya aku tak bersifat kekanakan dan egois seolah ayahku baru saja meninggalkan aku." jawab Hanabi dengan senyum lima jarinya. Ia sangat mengerti. Tak seharusnya ia menyalahkan kakaknya yang sangat baik padanya dan kakaknya benar, Naruto bukan kakaknya, ia tak berhak marah.

Hinata tersenyum tipis. Adiknya sudah tumbuh dewasa, meskipun terkadang sifat kekanakannya muncul. Dia sudah mulai mengerti. Beberapa tahun lagi, adik kecilnya tidak akan lagi kecil.

...

"Nee, Hanabi, mari pergi." ajak Naruto sambil mengengam tangan kanan Hanabi dan Hanabi langsung mengengam tangan kanan Hinata.

"Mari kita menghabiskan waktu." ucap Hinata yang langsung mengikuti langkah Hanabi dan Naruto.

.

.

.

01.22

"Uuu.. Enak sekali." ucap Hanabi senang pada sesuap potongan kue stroberi yang baru saja ia telan. Mereka yang kini terduduk disebuah luar cafe kecil dan melihat acara bernyayi ditengah jalan, sepertinya sebantar lagi akan ada acara. Lihatlah banyaknya manusia yang berkumpul disana. Sungguh malam yang meriah.

"Hmm enak." jawab Hinata lucu.

"Apakah ada yang mau bermain? Silahkan maju, kami membutuhkan lima pasangan." Suara dari depan yang berhasil merebut perhatian Hanabi.

"Nee-san, Sepertinya ada permaianan disana. Mari kita pergi lihat." Hanabi yang langsung baranjak dari tempatnya yang mau tak mau langsung diikuti oleh Hinata dan Naruto.

"Jangan lari-lari."

.

.

"Caranya sangat gampang. Kalian cukup menggerogoti cemilan(stick) ini di ujung sini dan pasangan kalian diujung sebaliknya. Pasangan mana yang duluan menghabisi cemilan sepanjang 30cm ini adalah pemenangnya. Hanya ada satu pemenang diantara lima pasangan. Siapa yang berani? silahkan maju." suara sang pembaca acara bersemangat yang juga membuat para penonton bersorak.

...

Hanabi, Hinata dan Naruto yang kini telah berhasil menyelinap kedepan. Mereka melihat, sudah ada tiga pasangan di depan sana.

"Nee-san, nii-san. Pergi." pinta Hanabi semangat.

"Tidak." tolak Hinata malu. Apaan mainan kayak gitu? Tidak mau.

"Aku juga tak mau." tolak Naruto berusaha menyembunyikan rasa cangungnya.

"Pergi." Hanabi yang langsung mendorong Hinata dan Naruto yang membuat mereka terdorong ke depan.

"Yaa.. Pasangannya sudah pas." oh, Hanabi sialan.

"Silahkan berdiri diposisi masing-masing."

.

.

Lima pasangan yang kini berdiri saling berhadapan dan sejajar dengan pasangan lainnya. Sebuah makanan stick sepanjang 30cm di bibir mereka dan kedua tangan masing-masing dibelakang punggung masing-masing.

Hinata terus berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin merah begitu juga dengan Naruto. Jantung mereka terus berdebar kencang.

"Mari kita hitung."

"Tiga.. Dua..-

.

Satu-"

"Mulai!" semua pasangan yang langsung mengerogoti stick di bibir mereka seperti tikus.

"Yaaaa.. Nee-san, nii-san. Semangat!" sorak Hanabi senang begitu juga sorakan manusia lain disekitarnya.

.

Hinata menajamkan matanya sambil terus menggeroti stick yang semakin memendek dan mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. Berusaha sekuat mungkin agar ia melupakan wajah Naruto yang juga terus mendekat ke arahnya. Jantungnya terus menggila.

Kedua mata Naruto masih menatap mata Hinata yang terpejam sambil terus menggerogoti stick yang semakin memendek dan mendekatkan bibirnya ke bibir Hinata. Jantungnya berdebar..

10cm..

.

.

5cm..

.

.

3cm..

.

.

2cm..

"Berhenti!" perintah sang mc yang langsung membuat gigi para pasangan berhenti bergerak termaksud Naruto dan Hinata.

...

Hinata masih belum membuka matanya, ia seolah tengah menenangkan jantungnya.

...

Naruto mendorong sisa stick dengan bibirnya masuk ke mulut Hinata hingga bibirnya menyentuh sedikit bibir Hinata yang kemudian menjauhkan wajahnya dan Hinata pun membuka matanya yang kemudian langsung menundukkan kepalanya.

... Lupakan.. Lupakan.. Tak ada yang terjadi barusan..

.

"Pemenangnya telah jatuh ke pasangan nomor dua. Selamat.." semua penonton yang langsung bersorak dan bertepuk tangan.

...

"Aaa.. Padahal tinggal sedikit lagi." ucap Hanabi cemberut pada Naruto-nii dan kakaknya yang melangkah menghampirinya, terlihat jelas mereka terus berusaha menyembunyikan rasa canggung mereka. Padahal itu tinggal sedikit lagi. Cih! Naruto-nii sungguh tak beruntung.

"Aa.. Hanabi, mari kita ke taman sekarang." ajak Hinata yang langsung membuat Hanabi tercengir senang.

"Dengan senang hati."

.

.

.

.

.

03.42

Akhirnya, setalah main disana-sini dan dan makan ini-itu dengan perasaan bahagia yang tak ada duanya. Naruto, Hinata dan Hanabi pun tiba di rumah Hinata.

"Hanabi, masuklah dulu. Kau harus tidur." pinta Hinata yang masih terduduk di sebelah kursi pengemudi begitu juga dengan Naruto dan Hanabi dibelakang mereka.

"Aku sangat senang. Sangat. Sangat senang." ucap Hanabi bahagia. Hari ini sungguh hari terbaiknya. Hehe.. Meskipun tak semenyenangkan seperti tadi siang di mall sebelum jalang itu datang tapi setidaknya ia tertawa sebelum ia pergi besok.

"Kau tahu nii-san? Mungkin kau sangat cocok menjadi kakak iparku." sambung Hanabi yang hampir membuat Hinata salah tingkah.

Hinata tak menjawab. Naruto yang masih tersenyum lucu dari tadi. Orang ini berbicara sesukanya saja. "Kau harus tidur. Besok kau bisa terlambat ke bandara." Naruto mengubah topik pembicaraan.

"Aku akan sangat senang jika kita bisa pergi bersama-sama lagi." ucap Hanabi dengan cengiran yang masih belum luntur dari bibirnya.

"Kau sudah dewasa. Tahun depan hal ini mungkin tak akan terjadi lagi." ucap Hinata entah senang atau kecewa. Umur Hanabi sudah lima belas. Dua tiga tahun lagi, mungkin dia tak akan mau lagi bermanja dengan Hinata.

"Kalau begitu aku akan dewasa sepuluh tahun lagi." jawab Hanabi asal yang membuat Hinata dan Naruto menahan tawa mereka.

"Rencana yang bagus." ucap Hinata lucu, menyembunyikan rasa kecewanya. Hinata tahu itu hanya sekedar ucapan.. Bukan Hinata tak senang jika adiknya bertumbuh dewasa. Ia hanya merasa akan kehilangan.

"Kalau begitu aku masuk dulu, nee-san, nii-san." Hanabi yang langsung keluar dari mobil dan berlari pergi memasuki rumahnya.

...

"Terima Kasih. Aku berhutang lagi padamu." ucap Hinata tulus sambil menatap Naruto yang masih terduduk disebelahnya.

"Tak masalah, aku bertangung jawab karena telah merusak harinya." jawab Naruto apa adanya. Canggung sekali..

...

Kedua manusia itu masih saling terduduk bersandar dengan tatapan lurus ke depan, rasanya sangat sepi, pinggir jalan yang hanya diterangi sebaris lampu, tak ada manusia satupun yang lewat kecuali mereka. Rasanya cangung sekali.

"Bintang dilangit hari ini terlihat sangat bagus." Hinata membuka pembicaraan dengan matanya yang terfokus ke langit yang dilapisi oleh kaca mobil. Jantungnya terus berdebar.

Satu hal yang akan Hinata katakan tentang Naruto. Hari ini, Naruto sungguh menunjukkan sisi nya yang tak pernah Hinata duga. Lelaki yang dewasa, lembut dan baik hati, mungkin juga bertanggung jawab?

"Iya.. Sangat indah.." perasaan yang sama. Hari ini, Naruto tahu. Ternyata Hinata adalah gadis yang baik, berhati lembut dan mungkin pecundang?

Dan satu hal yang pasti, Saat ini Naruto sungguh ingin mencium bibir Hinata. Ia sungguh tak bisa mengontrol dirinya. Bagaimapun dirinya adalah lelaki dan Hinata adalah seorang perempuan yang sangat cantik dan lihatlah tubuh nya itu, sangat sempurna. Tak akan ada seorang lelaki normalpun yang bisa mengontrol diri nya sendiri apalagi ditambah keadaan dan situasi yang sangat sempurna. Kami-sama, tolonglah anakmu ini agar tak merusak suasana...

.

.

.

.

09.21

"Aarriigaatoo sensei.." ucap semua murid 3-1 kompak yang Membuat Hinata, Naruto, Sasuke dan Shion menampilkan senyum mereka. Akhirnya tugas mereka selesai. Sebenarnya cukup menyedihkan jika harus meninggalkan kelas ini karena mereka sungguh mulai menyukai murid-murid ini kecuali Shion.

"E.. Naruto, Hinata. Kalian dipanggil Iruka sensei." ucap seorang siswa yang tiba-tiba memasuki kelas.

"Ada apa?" tanya Hinata yang tiba-tiba berfirasat buruk. Mengapa wali kelas 3-1 memanggil mereka?

"Tidak tahu."

.

.

Disinilah Hinata dan Naruto kini, berdiri didepan Iruka-sensei yang dipisahkan oleh sebuah meja.

"Jelaskan." ucapnya menahan amarah sambil melempar sebuah buku ke arah meja yang langsung diambil oleh Hinata.

!

Mata Hinata yang langsung terbuka lebar ketika ia melihat lembaran buku yang ia ambil barusan.

"Apa-apaan ini?" Hinata membatin tak percaya. Kemarin, karena buku murid-muridnya rusak. Hinata memutuskan untuk menyalin semua tulisan itu sendiri ke buku baru yang ia beli tapi ia tak ingat ia membuat tulisan gila ini? Tunggu? Sendiri?

Hinata menatap ke arah Naruto yang memalingkan wajahnya ke samping. Mati, karena kebosanan terus menulis kemarin, Naruto mencoret buku itu sesuka hatinya dan untungnya Hinata tak mengeceknya dan kini Hinata sudah tahu, Hinata akan membunuhnya.

"Bukan hanya satu tapi hampir mencapai setengah buku. Sebaiknya kau katakan apa yang terjadi sebenarnya." ucapnya menuntut yang membuat Hinata tak punya pilihan lain selain berbicara yang sejujurnya.

.

.

.

Setalah dua jam berceramah nonstop...

"Saya akan mengatakan ini pada guru kalian. Kalian gagal. Sekarang silahkan keluar."

Hinata dan Naruto mengangukkan pasrah kepala mereka dan melangkah keluar.

.

.

"Jika kau tak mau membantu, jangan mengacaukannya!" marah Hinata sambil mendorong dada bidang Naruto ketika ia telah jauh dari kantor guru.

"Aku tak tahu benda itu berguna. Siapa juga yang suruh kau marah-marah yang menyebabkanku terpaksa membantumu?" jawab Naruto tak terima. Jika saja Hinata tak marah-marah, Naruto pun tak akan duduk dan menyalin semua tulisan milik murid-muridnya yang sudah hancur lebur.

Tangan Hinata yang melayang ke arah pipi Naruto tapi berhasil ditangkap oleh tangan Naruto.

"Hinata, aku sudah cukup puas dengan ceramah itu, bisakah kau marahnya lain kali saja?" tanya Naruto yang sudah sangat puas bad mood yang membuat Hinata menatapnya tak percaya. Hari ini Naruto sungguh tak punya niat untuk bermain apalagi bertengkar. Sumpah.. Ia sungguh kesal hari ini karena ceramah nonstop itu.

Paaakk!

"Aaarrggghhh!" Naruto meringis kesakitan sambil berlutut ketika Hinata menendang selangkahannya. Hinata sialan! Itu daerah terlarang.

"Ingin sekali aku membunuhmu, sialan!" geram Hanya sambil terus menjambak rambut kuning sialan Naruto. Naruto sialan! Susah payah ia bekerja dan kini semuanya jadi sia-sia!

Hinata akan menganggap si sialan ini memiliki kepribadian ganda. Sebentar baik sebentar gila! Hinata sungguh benci padanya! Padahal semalam Naruto sungguh membuatnya bahagia tapi kini. Si sialan ini sungguh membuatnya gila!

"Sakit bodoh!" geram Naruto yang sudah tak tahan dengan Hinata yang terus saja menjambak rambutnya.

"Kyyaaahhaduh!" dengan sekali tarikan kaki yang langsung membuat Hinata terpeleset hingga bokongnya menyentuh lantai dengan kasar.

"Sini kau kalau mau kelahi!" marah Hinata tak terima sambil kembali menjambak rambut Naruto. Lelaki sialan! Sungguh sialan!

"Jangan menantangku sialan!"

Apakah gadis ini memiliki kepribadian ganda? Semalam lembut sampai menangis-nangis. Sekarang? Ia malah mengajak bergaduh dengan umpatan sialannya! Padahal semalam ia sangat senang berada didekat gadis ini.

"Kau sialan!"

"Dasar perempuan sialan! Sudah sialan! Gila lagi! Semalam menangis darah didekatku, hari ini malah mengajak bertengkar!" Umpat Naruto yang berhasil membuat wajah Hinata memerah.

Blusssssshhh!

"Kayaaaaaaahhhhh!"

.

.

.

.

.

To be continue..

.

.

.

.

Loohaaa.. Moga suka moga bagus.. Oh yaa.. Hari rabu hingga minggu gak up karena author lagi ada urusan. Hehe..

Sampai jumpa lagi..

Bye bye..ole