"Bagaimana mungkin kalian tidak bisa menemukannya?! Sasuke pasti masih berada di sekitar kota ini, dia tidak mungkin pergi jauh-jauh hanya dalam semalam!" bentak Itachi. Membuat para anak buahnya gemetar ketakutan melihat kemarahannya yang bisa dibilang langka.

"Maafkan kami, Tuan… Tetapi, Tuan Muda Sasuke memang tidak ditemukan di manapun. Bahkan kami sudah berusaha mencarinya secara terperinci, tapi dia tetap tidak ada."

Itachi memijit pelipis matanya gusar. Hilangnya Sasuke membuat kepalanya pusing dan perasaannya mendadak cemas tidak tenang. Kemarin Shisui tiba-tiba sakit dan pingsan, lalu hari ini ia mendapati kabar kalau Sasuke semalam kabur dari rumah. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada adik-adiknya? Kenapa ia merasa tak berguna menjadi seorang kakak.

"Biarkan saja," ungkap sebuah suara dari arah belakangnya. Itachi tak langsung berbalik karena ia sudah tahu suara siapa yang barusan ia dengar. Itachi memilih menormalkan deru napasnya sebelum berbalik menatap iris onyx serupa miliknya. "Kenapa harus dicari kalau dia yang ingin pergi dari sini?"

"Sai, kakak sedang tidak berniat untuk berdebat denganmu."

"Aku tidak mengajak kakak untuk berdebat. Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Biarkan saja anak itu pergi karena rumah ini memang bukan tempatnya untuk tinggal," ketus Sai.

"Bisakah kau singkirkan egomu itu, Sai? Sasuke adik kita, harus berapa kali kakak mengatakannya padamu? Dia tidak mungkin pergi begitu saja jika tidak ada seseorang yang memicunya melakukan hal itu. Seharusnya kau bisa memikirkan keadaannya walau hanya sedikit. Diluar sana sangat berbahaya, Sasuke bisa saja celaka."

"Kau terlalu berlebihan kak. Dia bukan adik kita!" desis Sai jengah. "Harus berapa kali juga aku mengatakannya padamu!"

"Cukup Sai… kakak benar-benar sedang tidak ingin berdebat denganmu. Jika terjadi sesuatu terhadapnya, kakak tidak akan bisa memaafkan diri kakak yang lalai ini. Sasuke adalah tanggung jawab kita. Dia sudah cukup menderita semenjak pertama kali ia datang ke kota ini. Pikirkanlah sedikit tentang hal itu. Dia masih sangat muda, dan dia tidak memiliki siapapun selain kita. Kini seluruh dunia mencapnya sebagai anak haram yang tidak jelas asal-usulnya. Kakak mohon… tolong… jangan membuat masalah ini semakin rumit, Sai."

Makna dari kalimat itu tak sampai mengetuk hati seorang Sai. Justru kata-kata yang terucap dari bibir Itachi, dianggapnya sebagai angin lalu sesaat. "Terserah. Teruslah memuja dan membela anak itu. Aku tidak peduli!"

"Sai…," Itachi memanggil lelah, tetapi Sai sudah lebih dulu meninggalkan perdebatan mereka. "Tolong kakak, Sai… bantu kakak menemukannya."

Namun sang adik semakin menjauh dari pandangannya. Itachi tak habis pikir, kemana perginya sosok lugu Sai yang baik hati. Dulu adiknya tidak seperti ini. Apakah ia yang telah salah mendidik.

"Tousan… Kaasan… Itachi lelah… Sangat lelah. Mengapa kalian harus pergi secepat ini meninggalkan kami?" Tubuh tegap itu jatuh terduduk di atas sofa tanpa adanya sedikitpun daya. Itachi benar-benar sudah lelah menghadapi masalah yang semakin hari semakin bertambah rumit saja.

.

Sai berjalan serampangan menuju taman belakang Fakultasnya. Dia meninju dahan pepohonan sebelum mendudukan dirinya di atas akar-akaran besar yang merambat di sekitar tanah. Matanya menerawang memperhatikan barisan semut di kejauhan sana. Semut-semut kecil itu terlihat seperti sebuah garis melengkung yang tipis jika di lihat dari kejauhan. Ia menghela napasnya sebelum membaringkan kepalanya di dahan pohon itu. Sebelah lengannya berusaha menghalau sinar mentari pagi yang mengintip melalui celah dedaunan.

"Ma-afkan… aku… aku tidak bermaksud me-membuat semuanya menjadi buruk… aku hanya… aku hanya tidak tahu harus bagaimana… aku tidak sejahat yang kak Sai tuduhkan. Aku menyayangi kalian meskipun aku ini hanyalah anak haram."

Kelopak mata Sai terbuka cepat ketika ingatan akan perkataan Sasuke padanya tadi malam kembali melintas. Dia langsung saja menegapkan punggungnya sembari menghela napas frustasi. Kenapa ia harus teringat oleh anak itu disaat-saat seperti ini?

Tapi… Ia memang tidak bisa mengenyahkan bayangan itu sejak tadi malam. Lebih tepatnya setelah ia menyaksikan sendiri anak itu berlari keluar rumah dengan penampilan kacau dan piyama yang basah sebagian. Pasti Sasuke sempat merasa kedinginan.

Ah, tidak! Sai tidak perlu repot-repot memikirkan keadaannya karena itu memang bukanlah urusannya. Namun sekali lagi, meskipun ia berpikiran demikian nyatanya yang terjadi justru adalah sebaliknya, Sai tidak bisa melepaskan bayangan mengenai wajah polos yang menangis pilu malam tadi. Bagaimana ekspresi terlukanya, suara isakannya, ingatan saat Sasuke terbatuk ketika tersedak banyak air keran di tenggorokannya, lalu… soal tanda lahir yang ada di bahunya itu.

Sai menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang. Kenapa ia begitu yakin pernah melihat tanda itu sebelumnya padahal ia tak pernah bertemu dengan Sasuke jauh sebelum kematian sang ayah terjadi. Mungkin ia hanya salah mengenali. Ya, mungkin begitulah adanya. Sai hanya salah mengenali tanda itu.

Kemunculan sosok familiar yang menuju tepat kearahnya, sukses menurunkan mood Sai menjadi lebih buruk. Disaat seperti ini ia memang sedang tak ingin bertemu dengan siapapun, apalagi orang itu.

"Mau apa kau? Tidak bisakah kau menggangguku lain kali saja?" protes Sai malas. Namun lelaki itu hanya menatapnya dengan sorot mata biru yang dalam. "Percuma saja. Kau memang tak pernah bisa diajak bicara," Sai berniat meninggalkan orang itu, tetapi tanpa diduga tiba-tiba saja tangannya dicekal oleh cengkeraman kuat yang menyakitkan.

"Mau kemana?" Sosok itu bertanya. Suaranya terdengar berat juga mengandung banyak amarah. Sai bahkan bisa melihat kilatan mata biru itu menggelap.

Putra ketiga Uchiha itu mulai memberontak. Namun, cengkeraman yang diberikan lelaki itu terasa makin kuat meremas lengannya. "Ah, apa yang kau lakukan! Lepaskan aku, Brengsek!"

"Jawab, kau mau kemana, Sai?" tuntut orang itu lagi dengan nada yang lebih berat dari sebelumnya.

"Itu bukan urusanmu, Menma! Segeralah menyingkir dari hadapanku karena aku muak melihatmu!"

Mendengar Sai berbicara sekasar itu padanya membuat amarah yang menggelegak di dalam kepalanya kian besar. Menma lekas saja mendorong kedua bahu Sai sampai menempel dengan dahan pepohonan. Ia membiarkan lelaki bermarga Uchiha itu mendesis, dan ia mulai menarik rahang Sai untuk menubrukan bibirnya dengan bibir pemuda itu.

"Mmnnhh!" Rasa tidak percaya bahwa Menma telah berani menciumnya, hampir saja membuat Sai shock dan melupakan posisi terjepitnya diantara Menma dan dahan pepohonan. Sai menarik kembali kewarasannya dengan mengumpulkan seluruh kekuatan serta keberaniannya. Dia mulai mendorong Menma menggunakan kedua tangannya yang terhimpit ditengah-tengah dada keduanya, ia menggerakan kepalanya untuk menggeleng tetapi justru Menma malah meremas tengkuk belakang kepalanya.

"Mhmm!" Sai semakin panik merasakan adanya jilatan-jilatan seduktif di sekitar belah bibirnya yang ia rapatkan kuat-kuat. Tenaga Menma memang tidak bisa dianggap remeh, dia hampir sama kuatnya dengan Naruto, dan keduanya pun juga sama-sama memiliki rasa posesif serta keegoisan yang tinggi. Jika mereka menginginkan sesuatu, maka sesuatu itu harus ia dapatkan lalu menjadi miliknya. Kalau tidak? Maka jangan kira mereka akan menyerah semudah itu.

Ditengah rontaan yang dilakukan oleh Sai, Menma justru terlihat bersikukuh membungkam mulut pemuda yang selama ini dicintainya. Dia bahkan memeluk pinggul Sai begitu erat dan posesif, seakan ia tidak akan membiarkan pemuda itu lolos ataupun membiarkan siapapun merebut miliknya dari dirinya. Menma mendorong lidahnya untuk menerobos pertahanan bibir Sai sembari terus menyesap candu bibir pemuda manis itu.

Sementara Sai yang sudah hampir merasa sesak dan juga jengkel berniat memprotes tindakan pelecehan Menma, tapi yang terjadi justru mulutnya yang tiba-tiba diterobos oleh sebentuk benda lunak nan basah. Itu lidah Menma. Dan Sai sungguh menyesali mengapa ia harus membuka mulut, padahal ia sudah tahu apa yang hendak dilakukan Menma sedari tadi.

"Nggh…Nnhh…."

Mendapati Sai yang hampir ambruk karena lemas, akhirnya Menma mengakhiri ciuman itu, membiarkan benang saliva tipis terhubung diantara bibir basahnya dengan bibir merah bengkak Sai.

"Le…pas…," Sai memberontak lemah, namun tak cukup ampuh mengusir kedua lengan Sai yang masih mengunci tubuhnya.

"Kenapa kau selalu mengabaikanku, Sai? Kau tahu aku lebih mencintaimu dari Naruto. Aku lebih memperhatikanmu dari dia. Dan aku juga lebih menginginkanmu sejak dulu, seharusnya kau tahu itu. Aku selalu menunggu dan menunggu, tapi apa? kau bahkan tidak pernah melihatku. Kau selalu mengharapkan Naruto… kau selalu melihatnya. Melihat dia yang bahkan sudah tidak pernah melihatmu lagi. Apa yang harus kulakukan agar kau mengerti, Sai? Apa yang harus kulakukan agar kau mau melihatku, melihat kehadiranku?"

Sai tertegun mendengarkan seluruh curahan isi hati Menma. Lelaki Uzumaki itu meletakan dahinya diatas bahu Sai seperti orang yang sedang membutuhkan pegangan dan juga tempat bersandar. Sai tahu, mungkin saja Menma sudah lelah dengan semua tingkahnya. Sementara Sai yang masih terjebak di dalam rengkuhan Menma, dan juga dahan pepohonan di belakang tubuhnya, hanya mampu pasrah membiarkan lelaki bersurai hitam pekat itu menumpahkan semua kekesalan hatinya.

"Aku rela melakukan apapun untukmu, aku rela memberikan apapun. Kau ingin aku bagaimana, Sai? Kau ingin aku melakukan apa? Aku bahkan sudah berniat menghancurkan Sasuke seperti keinginanmu."

Pengakuan Menma sedikit banyaknya telah membuat kedua mata Sai membelalak kaget. Apa katanya tadi? Menghancurkan Sasuke? Tungkai kaki Sai semakin lemah ketika mempertahankan pijakannya.

"Aku hampir merusak hidup seseorang. Aku hampir merusaknya… dan itu semua kulakukan demi dirimu. Agar kau senang dan juga bahagia. Aku tahu… caraku memang salah. Aku telah melibatkan seseorang yang tidak berdosa. Lalu… apakah menurutmu pengorbananku itu belum juga layak untuk meyakinkan hatimu, Sai?"

Si empunya masih saja terdiam beku, membiarkan tubuhnya disandari oleh kepala Menma, dan Sai juga merasakan kalau bagian bahunya mulai basah oleh cairan hangat. Hatinya seketika merasa terpukul. Menma menangis. Dan itu semua karena dirinya. Apakah dia memang orang yang sangat jahat? Tak hanya kedua kakaknya, Sasuke, lalu sekarang Menma yang ia buat menangis seperti ini.

"Tolong… jangan abaikan aku lagi. Jangan abaikan cintaku. Kau bisa membuatku benar-benar gila, Sai," Menma merengkuh tubuh Sai semakin erat, seperti ingin menyampaikan rasa cinta terpendamnya yang tak pernah digubris oleh Sai sedikitpun. Dan kini hati sang Uchiha telah benar-benar luluh oleh semua pengakuan itu.

"Maafkan aku…," bisik Sai yang sempat membuat bahu Menma menegang sesaat. Tengkuknya bergidik merasakan hembusan napas itu. Dan Menma tak pernah merasa sebahagia ini ketika Sai mulai membuka hatinya untuk dirinya. Sepasang lengan putih itu melingkar erat di pinggangnya, membuat Menma tak bisa menahan senyum kebahagiaan serta kecupan cinta yang ia landaskan di puncak kepala Sai. "Maaf, Menma. Aku akan mencoba. Jadi… bantulah aku."

Suara lirih itu menggetarkan seluruh kerja sistem hatinya. Menma mengangguki permintaan itu seraya mengunci bibir ranum itu sekali lagi lewat ciuman panjang nan lembut.

.

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?!" Naruto berseru kalap. Informasi dari Itachi seputar Sasuke yang kabur dari rumah malam tadi benar-benar membuat perasaannya kalut. Pasalnya kemarin sore hubungan mereka terlihat baik-baik saja, Sasuke juga tidak bertingkah aneh, seharusnya pemuda manis itu tidak mungkin kabur kalau tidak memiliki masalah di rumah itu. Kelereng biru Naruto membola seketika. "Sai. Apa ini ada hubungannya dengan, Sai?" terka Naruto yang seakan baru teringat mengenai ketidaksukaan Sai terhadap Sasuke.

"Kurasa… ya. Tapi… aku sungguh tidak tahu apa yang telah terjadi pada mereka tadi malam. Maksudku, para pelayan baru melaporkan padaku pagi tadi mengenai Sai dan Sasuke yang bertengkar."

"Maksudmu, Sai yang memulai pertengkaran itu, bukan?" ralat Kurama.

Itachi mendesah keras sembari mengangguk pelan. "Ya, sepertinya begitu. Aku tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini. Semalam Shisui sakit kemudian pingsan, lalu aku dan Sai juga sempat berdebat di depan kamar Shisui, dan setelahnya… aku tidak tahu… aku langsung meninggalkan Sai begitu saja untuk menemani Shisui di kamarnya."

"Mungkin… setelah kau masuk ke kamar Shisui, pertengkaran antara Sai dan Sasuke kemudian terjadi. Tapi apa kau tahu penyebabnya?" Kisame mengemukakan pendapatnya, dan dijawab gelengan lemah oleh Itachi yang lagi-lagi mendesah keras.

"Aku tidak tahu… aku sangat mencemaskan keadaan Sasuke saat ini. Seharusnya dia masih ada di kota ini sekarang. Dia tak mungkin kembali ke desanya jika ia tidak membawa satupun benda maupun uang."

Brak. Naruto menggebrak meja Itachi dengan amarah yang meluap-luap di kepalanya. Namun, tak dipungkiri kalau wajah yang seharusnya sedang marah itu juga terselip ekspresi kalut dan penuh kekhawatiran. "Aku akan mencari, Sasuke, di seluruh kota ini. Aku yakin dia masih belum pergi kemana-mana. Aku akan menemukannya lalu membujuknya untuk kembali ke rumah."

Itachi mengangguk, melihat ekspresi keras dan serius dari Naruto, entah mengapa membuatnya percaya. "Aku juga akan mencarinya. Pagi tadi, aku sudah mengerahkan para pengawal untuk melacak keberadaan Sasuke. Tapi sepertinya akan sulit, karena kita telah kehilangan jejak Sasuke semalaman."

"Aku tidak peduli! Yang kuinginkan hanyalah menemukan Sasuke lalu membawanya pulang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya. Aku khawatir, Itachi…," Sepasang mata safir itu menyiratkan ketakutan yang besar saat membicarakan keadaan adiknya. Dan Itachi pun mengerti, karena sebenarnya dirinyalah yang jauh lebih takut serta cemas mengenai keadaan adik bungsunya itu.

"Aku mengerti… sangat mengerti. Sasuke adalah adikku, Naruto. Sudah pasti aku lebih takut dan juga mengkhawatirkan keadaannya melebihi dirimu."

Naruto bungkam. Kurama yang ada di sebelahnya mulai merangkulkan lengan kokohnya di bahu sang adik.

"Kami mengerti ketakutanmu, tapi kau juga harus ingat bahwa Itachi adalah kakaknya Sasuke. Dia yang lebih terpukul atas hal ini, Naruto."

"Tapi, Kyu—"

Protesan Naruto terendam begitu saja oleh bunyi dering ponsel yang berasal dari saku celana Kurama. Pria merah itu menatap wajah adiknya sejenak sebelum meraih benda persegi itu dari dalam saku. Tertera nama salah satu bawahan di layar ponselnya, dan Kurama segera mengangkatnya setelah memberi isyarat lewat tatapan mata pada kedua temannya yang berada di ruangan itu.

"Ya, hallo…," Ia menyapa tegas, layaknya seorang pemimpin kepolisian. Mimik wajah Kurama terlihat serius, lalu tak lama setelah mendengar laporan dari sang bawahan di sebrang sana, ekspresi wajahnya mulai mengeras dan terkesan tidak tenang. "Segera cari sumber berita itu lalu selidiki, apakah ada unsur kebohongan dalam informasi itu. Kalian harus memberikan laporannya segera di mejaku malam ini."

Sambungan telepon itu segera diputus sepihak oleh Kurama setelah memerintahkan anak buahnya untuk mencari informasi yang dia maksud. Ekspresi kalut kurama segera membuat kedua teman-temannya bingung, terutama Naruto. Tapi Kurama tak langsung menceritakannya. Ia memilih diam sejenak, memikirkan kalimat apa yang harus ia sampaikan pada Itachi. Mimik wajahnya menyendu melihat adanya sorot penasaran yang terpancar di mata kekasihnya itu.

"Ada apa, Kyu?" tanya Itachi lembut, namun terkesan bingung. Apalagi Kurama tak langsung menjawab dan lebih memilih berjalan mendekati layar televisi untuk menghidupkan benda elektronik itu.

Hanya dalam beberada detik saja perhatian ketiga pemuda, selain Kurama, menyorot tepat ke layar televisi yang saat ini menampilkan suatu berita mengenai siapa Sasuke yang sebenarnya. Mereka sukses saja terkejut, bahkan Itachi sampai berdiri dari kursi kerjanya hanya untuk memperjelas pengelihatan matanya mengenai foto-foto yang terpampang di layar kaca berita itu.

"Berita mengejutkan pagi ini. Uchiha Sasuke, yang dinyatakan sebagai putra bungsu keluarga pengusaha besar Sharingan Corp., yang beberapa bulan lalu dipaparkan oleh Uchiha Itachi selaku putra sulung Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto, kini terungkap sudah… Seperti dugaan awal, ternyata Uchiha Sasuke memang benar anak dari hasil hubungan gelap Uchiha Fugaku. Bahkan sudah beredar beberapa foto Fugaku-san bersama dengan seorang wanita dan juga seorang bayi…," papar pembawa acara dalam suatu media masa. Di sana juga sudah terpajang foto-foto Sasuke, dan seperti yang dia bilang, ada beberapa foto Uchiha Fugaku bersama dengan seorang wanita dan seorang bayi.

"Da-Darimana berita itu bisa beredar?!" pekik Itachi tak percaya. Kepalanya langsung berdenyut nyeri melihat tayangan berita infotaiment yang disampaikan pembawa acara tersebut. "Ini pasti ulah paman Madara. Ya, tidak salah lagi pasti dialah orangnya."

"Kau ingin aku bertindak?" tanya Kurama iba. Melihat Itachi yang semakin kacau bukanlah sesuatu yang disukainya.

"Tolong… tolong cari tahu asal berita itu, Kyu, dan… dan bisakah kau mencari tahu keaslian foto-foto yang beredar di televisi tadi?"

Kurama mengulum senyum tipisnya. "Tentu saja. Itu bukan masalah yang besar untukku."

"Terima kasih," ucap Itachi, lalu ia menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. "Ya tuhan… semoga saja Sasuke tidak melihat berita itu dimanapun dia berada. Aku takut dia akan shock. Sasuke pasti merasa sedih sekali jika mendengarnya."

Naruto sudah cukup bersabar dan menunggu. Ia takkan sanggup menahan dirinya lagi. Gigi-gigi di dalam mulutnya saling beradu, kedua tangannya mengepal kuat, dan matanya mulai memanas. Dalam sekejap Naruto telah membalik arah tubuhnya kemudian berjalan cepat dengan sangat tergesa-gesa.

"Kau mau kemana, Naruto?" sergah Kisame.

Pemuda pirang itu telah memegang handle pintu ruangan. Ia menengokan kepalanya dengan ekspresi yang sangat kalut dan marah. "Tentu saja mencari, Sasuke. Aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Aku akan segera menemukan dia, sebelum ada hal buruk yang terjadi padanya."

"Naruto —Hei, Naruto!" panggil Kurama yang tidak mendapatkan tanggapan dari si pemilik nama. "Ck, dasar adik bodoh!" umpatnya kesal, melihat Naruto yang telah pergi meninggalkan ruangan kerja Itachi.

.

Tak jauh berbeda dengan Itachi dan juga yang lainnya, saat ini Sai pun juga tengah menonton berita yang ditayangkan oleh televisi seputar kebenaran mengenai status Sasuke di keluarganya. Sai terlihat geram. Ia ingin sekali mengamuk, membanting televisi yang terpasang di sudut dinding kantin Fakultasnya, lalu memaki siapa saja yang juga turut menyaksikan berita tersebut, tak lupa untuk beberapa Mahasiswa yang saat ini tengah memandangi dirinya seolah-olah Sai adalah makhluk paling menyedihkan di seluruh dunia.

"Apa yang kalian lihat?!" bentaknya, mulai tak bisa meredam gejolak amarah yang serasa mendidih di dalam jiwa.

"Sai—"

"Apa?!" Raut garang putra ketiga Uchiha itu menatap sangar sosok pemuda tampan berhelai hitam yang juga duduk di sampingnya.

"Tenanglah…," Pemuda itu —Menma, mulai menarik Sai menjauhi area kantin menuju tempat yang lebih sepi. Mata dan telinganya berusaha keras untuk tidak menggubris tatapan menyebalkan atau suara bisik-bisik yang sedang membicarakan kekasih barunya.

Ya, Sai dan Menma sudah resmi berpacaran setelah kejadian di taman belakang beberapa jam yang lalu. Sai yang telah berhasil diluluhkan akhirnya menerima cinta Menma setelah sekian lama.

"Kau tak harus marah seperti itu."

"Lalu aku harus apa? Diam dan berpura-pura tak melihat berita di televisi itu? Atau mengabaikan tatapan memuakan orang-orang di dalam kantin itu?!"

"Sai," panggil Menma lembut. Ia menarik tubuh Sai ke dalam pelukannya di taman sepi itu. Ini adalah tempat mereka biasa menyendiri jika sedang penat menghadapi permasalahan atau sekedar tugas menggunung yang diberikan para dosen mereka di kampus. Selain itu, di tempat ini pula Menma terbiasa memperhatikan kesendirian Sai.

"Aku benci anak itu…," Suara Sai melirih. Kedua tangannya melingkar erat di pinggang Menma. "Sejak awal aku sudah menduga kalau dia anak haram."

Menma menghela napas letih. Ujung dagunya mendarat di puncak kepala Sai yang saat ini sedang bersandar di dadanya. "Bisa saja berita yang ditayangkan tadi bohong kan? Lagipula siapapun bisa saja berfoto dengan ayahmu yang hebat itu."

Sai menarik diri dari sentuhan memabukkan Menma. Sinar matanya menyiratkan ketidaksetujuan ketika mendengar Menma menyangkal tuduhannya. "Ya, dan siapapun juga bisa mengaku-ngaku sebagai putra sah keluarga Uchiha. Kenyataannya dia hanyalah anak haram dan sampai kapanpun itulah status dirinya."

"Apa, Sasuke, pernah mengaku sebagai putra kandung paman Fugaku? Aku yakin dia sendiri tidak tahu siapa dirinya. Cobalah berpikir dari sisi pandangnya, Sai. Dia hanya anak remaja yang sedang mencoba tumbuh dewasa."

"Kau membelanya?!" tuding Sai kesal. Ia memukul lengan Menma yang hampir menyentuh puncak kepalanya. "Atau kau mulai tertarik pada anak itu? Seharusnya aku tahu, kau tidak bisa diper —Mngh!"

Mulut Sai lekas dibungkam oleh bibir Menma. Laki-laki keturunan Uzumaki itu hanya ingin membuktikan keseriusannya kepada Sai. Ia tak pernah bermaksud membela atau mungkin merasa tertarik dalam konten intim seperti halnya perasaan Menma terhadap Sai. Menma hanya merasa sedikit bersalah atas tindakan pelecehan yang sempat ia lakukan kepada Sasuke, selain itu Menma juga merasa sangat iba pada kemalangan nasib remaja berambut raven itu.

"Aku hanya mencintaimu, Bodoh…," ungkap Sai lirih setelah melepaskan ciumannya di bibir Sai. Keningnya ia sentuhkan pada kening Sai. Menatap onyx kelam kekasihnya yang terlihat indah dan berkilau di matanya. "Harus berapa kali aku mengatakannya? Kenapa kau selalu meragukan hal itu? Tolonglah, Sai… Ini adalah hari terpenting untukku. Aku baru saja berhasil mendapatkanmu, dan aku tak ingin jika harus kehilanganmu secepat ini."

Hati Sai bergetar ketika mendengar lantunan kalimat dari bibir delima sang Uzumaki. Rasanya ada gelenyar aneh yang bersarang di dadanya. Sai mulai memejamkan matanya sembari menyamankan diri di dalam rengkuhan Menma yang hangat. "Maafkan aku," bisiknya. Emosi yang sempat ia rasakan tadi tiba-tiba saja menguap entah kemana.

.

"Yahiko-san?" panggil suara serak dari arah pintu kamar yang telah terbuka.

Si empunya nama lekas saja mematikan acara televisi yang sempat ia tonton di ruang tengah apartemen. Berharap pemuda yang menjadi topik pembahasan dalam berita tv itu tidak sempat mendengar atau bahkan melihat tayangan tersebut.

"Ya?" sahut Yahiko gugup. Ia sedang berhadapan dengan pemilik sepasang onyx kelam yang saat ini tengah mengernyit heran melihat tingkah lakunya yang aneh.

"Ada apa?" tanya Sasuke sembari melangkah mendekatinya di sofa.

"Tidak ada apa-apa," Pria bersurai oranye itu mulai tersenyum lembut kepada Sasuke. "Kau sudah selesai mandi? Lalu bagaimana perasaanmu sekarang?"

Sasuke menyipitkan matanya dengan aksen lucu. "Yah, lumayan lebih baik dari yang semalam."

"Haha, kau sedang senggang kan?"

Sasuke mengangguki pertanyaan itu. "Aku kan tidak pergi ke sekolah. Aku tak membawa satupun pakaian ataupun perlengkapan sekolah. Lihat… baju pinjamanmu saja kebesaran di tubuhku."

"Sepertinya kau harus banyak makan yang berprotein tinggi agar tubuhmu sedikit lebih tumbuh dan berisi."

"Maksudmu aku kurus?" tanya Sasuke agak tersinggung. Raut tampannya menyiratkan suatu ekspresi yang tampak lucu di mata Yahiko.

"Yah, bisa dibilang begitu."

"Menyebalkan!"

Yahiko tergelak geli. Wajah dan nada suara Sasuke yang merajuk sangatlah menggemaskan baginya. Seakan-akan masalah yang baru dialami pemuda bersurai raven itu tadi malam tidak pernah ada. "Bagaimana kalau kita pergi keluar bersama?"

"Hm? Kemana?"

"Kau akan tahu nanti. Lagipula kita membutuhkan pakaian baru serta perlengkapan sekolah cadangan untukmu, bukan?"

Sasuke mengangguk. Masih belum paham kemana arah pembicaraan Yahiko.

"Kalau begitu kita akan membelinya. Ayo…," Segera saja Yahiko menarik tangan Sasuke menuju pintu depan.

"Eh?"

"Ah, ya… benar juga. Bisa tolong keluarkan sampah yang ada di dapur? Aku akan menunggu di parkiran sambil menyiapkan kendaraan untuk kita," Satu kedipan Yahiko dibalas anggukan kecil dari Sasuke. Sepertinya tak ada hal lain yang bisa ia lakukan untuk menjawab. Lagipula Sasuke sendiri masih sedikit canggung bila berdekatan dengan pria oranye itu. Pikirannya masih terbayang mengenai insiden tadi malam. Insiden saat Yahiko mencium sudut bibirnya.

"Hn," Akhirnya Sasuke menunduk guna menyembunyikan kedua pipinya yang mulai terasa memanas. Ia berlalu menuju arah dapur sementara Yahiko sudah keluar apartemen dan menunggunya di pelataran parkir.

Sasuke mengangkut dua kantung sampah yang telah diikat rapi oleh Yahiko. Entah apa isinya, yang pasti Sasuke menebak kalau isinya bukan sesuatu yang memiliki massa yang berat. Mungkin kertas-kertas yang tidak terpakai atau bahan masakan instan yang telah kadaluarsa.

Sasuke mengedikan bahunya tanda tak peduli. Setelah meletakkan sampah-sampah itu ditempat pembuangan, segera saja Sasuke menyusul Yahiko yang sudah menunggunya di dalam mobil di area parkiran yang sedikit sepi.

"Sudah siap?"

"Hn."

Dan mobil Yahiko segera melaju ringan membelah jalan raya perkotaan. Yahiko rupanya mengajak Sasuke ke pusat perbelanjaan. Seperti yang dikatakan pria itu tadi, ingin membeli beberapa pakaian serta perlengkapan sekolah cadangan untuk Sasuke. Meskipun Yahiko sendiri tidak yakin kalau pemuda Uchiha yang terbuang itu akan kembali bersekolah di tempat itu, atau memutuskan bertahan di kota besar ini lebih lama lagi. Setidaknya Yahiko sudah mencoba membuatnya senyaman mungkin. Bukankah mereka sama? Selain itu, sejak pertama kali bertemu dengan Sasuke, Yahiko mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Keinginannya untuk balas dendam, menghancurkan Itachi, dan menjadi pribadi yang baru, perlahan-lahan mulai terkikis. Sekarang ia hanya ingin remaja berwajah tampan nan manis itu selalu ada disisinya. Ia tak ingin menjadi Yahiko yang baru lagi. Yahiko yang terobsesi akan dendam atau niat menghancurkan. Karena sekarang ia mulai sadar. Hidupnya menjadi lebih bermakna dan juga berwarna semenjak dirinya bertemu dan mengenal Sasuke.

"Yahiko-san? Kau melamun?" tanya Sasuke membuyarkan lamunan Yahiko.

Pria itu tersentak dan menatap linglung sosok remaja yang saat ini berdiri tepat di hadapannya.

"Apa kau lelah? Kita sudah berputar-putar di tempat ini selama lebih dari 2 jam," ucap Sasuke.

Yahiko melirik arloji di lengan kirinya. Ternyata memang benar kalau mereka sudah berjalan-jalan di pusat perbelanjaan selama lebih dari 2 jam lamanya. "Kau lelah, Sasuke?" Disentuhnya kening Sasuke yang sedikit menampakan kerutan bingung.

"Kupikir kaulah yang lelah, Yahiko-san."

Pria itu terkekeh ringan. "Ya, mungkin."

Sasuke menggembungkan sebelah pipinya yang langsung ditusuk-tusuk gemas oleh jari telunjuk Yahiko.

"Sebenarnya untuk apa pakaian sebanyak ini? Aku tidak memerlukannya karena aku ingin kembali ke desa secepatnya," jelas Sasuke, melirik kantung belanjaan yang dibawa Yahiko dan juga dirinya.

Yahiko hanya tersenyum tipis sebelum mengusap halus surai raven Sasuke. Tak lama, getar ponsel yang berada disaku celananya mulai mengalihkan perhatian Yahiko. "Sebentar ya, Sasuke. Kau tunggulah aku disini," Ia mendudukan Sasuke disalah satu kursi yang tersedia di pusat perbelanjaan itu, lalu setelahnya Yahiko mulai mencari tempat yang lebih tenang jauh dari kebisingan untuk menerima panggilan telepon tersebut.

Sementara Sasuke yang ditinggalkan hanya mampu mendesah lelah dan melirikan matanya kesana kemari tanpa minat. Sebenarnya Sasuke lumayan merasa lelah, sejak tadi Yahiko selalu menariknya memasuki toko penjual pakaian. Pria itu membelikannya banyak baju yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh Sasuke untuk kembali ke desa. Tapi melihat kesungguhan yang terpancar dari mata pria itu, juga teringat akan kebaikannya yang mau menolong serta menampungnya semalam, mau tak mau Sasuke menerima semua pemberian Yahiko meski ia sempat menggerutu sepanjang perjalanan.

"Hari ini telah beredar luas foto-foto Uchiha Fugaku dengan seorang wanita yang tengah menggendong bayi. Diduga, bayi itu adalah Uchiha Sasuke, yang beberapa waktu lalu sempat dipertanyakan mengenai statusnya di keluarga Uchiha…."

Telinga Sasuke menangkap adanya suara berita di televisi yang menyebut-nyebut namanya juga seseorang yang memiliki nama Uchiha. Karena penasaran, Sasuke mendekati sebuah toko penjual alat elektronik yang menampilkan puluhan layar televisi yang ditumpuk rapi di depan etalase toko. Rupanya dari sanalah suara berita itu berasal.

Sasuke baru saja menengok acara televisi itu yang sedang menampilkan foto terkininya yang disandingkan dengan sebuah lembaran foto usang yang menampilkan seorang pria tampan dengan seorang wanita yang ia kenali sebagai ibunya.

"I-Ibu…," bisik Sasuke lirih. Perhatiannya bergulir pada sesosok bayi mungil yang sedang berada di dalam dekapan sang ibu. Sasuke juga melihat pria asing yang baru diketahuinya bernama Uchiha Fugaku, ternyata nampak mengusap puncak kepalanya di dalam foto itu.

Air muka Sasuke seketika itu berubah sendu. Rasa sakit dihatinya mulai menyebar. Perih. Ngilu. Dan sesuatu yang tak kasar mata seperti tengah menembus jantungnya hingga hancur berkeping-keping. Ternyata ketakutannya selama ini, serta pertanyaan yang selalu bermunculan di dalam otaknya, lekas terjawab sudah.

Dia memang ternyata hanyalah seorang anak haram.

Betapa sakitnya kenyataan itu untuknya. Sasuke sadar, apa yang dikatakan kakak ketiganya —Sai, rupanya memang benar. Sebenarnya apa yang Sasuke harapkan saat Itachi dan Shisui menganggapnya sebagai bagian keluarga Uchiha. Seharusnya ia sadar posisinya, sadar akan statusnya, tidak mungkin mereka memiliki darah yang sama. Kalau tidak, mana mungkin hanya Sasuke yang terasingkan di desa sementara ketiga saudaranya memiliki kehidupan layak di kota. Seharusnya Sasuke sadar, sejak awal ia bukanlah siapa-siapa.

Kantung-kantung belanjaan yang dibelikan oleh Yahiko terjatuh begitu saja dari kedua tangannya yang melemas. Sasuke seperti tak memiliki daya untuk tetap berpijak. Pikirannya mengosong, rasanya ia seperti orang linglung yang tidak tahu tempat maupun tujuan. Mata beriris kelam milik Sasuke menerawang ke keramaian pusat perbelanjaan, memperhatikan lalu lalang para pengunjung yang tampak bersuka cita diatas penderitaannya. Sasuke menggigit bibir bawahnya sembari melangkah terhuyung-huyung dengan kepala tertunduk dalam.

Ia malu. Ia takut orang-orang itu mengenali siapa dirinya ini. Jika mereka mengenali sosoknya, mungkin mereka akan menghujatnya seperti yang sudah-sudah. Sasuke tak mau itu. Jadi ia putuskan untuk pergi atas kesadaran dirinya sendiri. Ia tak peduli jika nanti Yahiko mencarinya. Yang Sasuke inginkan sekarang hanyalah kembali ke desanya secepat yang ia bisa.

"Huh? Sasuke?" Yahiko merotasikan bola matanya saat tidak melihat Sasuke di tempat terakhir ia meninggalkan bocah itu. Hanya para pengunjung mall yang sejak tadi ia lihat, tapi tak ada Sasuke. Apa anak itu tersesat? Atau sedang pergi ke toilet, mungkin? Tapi… kantung-kantung belanjaan yang tertinggal di depan sebuah toko elektronik, lekas menepis semua pemikiran itu. Yahiko menyadari kesalahannya. Ia meninggalkan Sasuke di tempat yang salah. Tayangan berita yang menampilkan jati diri Sasuke, rupanya masih saja menjadi topik hangat yang diperbincangkan oleh berbagai stasiun tv dalam negeri.

Mungkinkah Sasuke sudah melihat berita itu lalu memutuskan untuk pergi? Apa anak itu terlalu shock saat menyaksikannya? Berarti saat ini perasaan Sasuke sedang hancur akibat pemberitaan media yang terlalu kejam itu. Seharusnya Yahiko memang tidak meninggalkannya sendirian. Kini ia baru menyesali kebodohannya. Karena itulah Yahiko mulai memacu langkah kakinya untuk berlari. Berlari mencari keberadaan Sasuke yang mungkin saja masih berada disekitar mall ini.

.

Pembicaraan serius sangat terlihat dari mimik wajah kedua orang ini. Madara seakan tak sabar mendengar laporan anak buahnya mengenai informasi seputar Yahiko. Pria tua itu terus memutar-mutar kursinya dan mulai mendengarkan laporan itu dengan seksama.

"Rikudou Yahiko, Anda pasti mengenalnya, Tuan. Dulu dia berhubungan sangat dekat dengan keponakan anda, Uchiha Itachi."

Madara mengerutkan dahinya, dia mencoba mengingat-ingat nama itu.

"Dulu dia pernah bersekolah di tempat yang sama dengan Itachi. Tapi saat di kelas 2, Yahiko dikeluarkan tanpa masalah yang jelas."

Mulai terpapar senyum licik di wajah Madara. Seakan sudah mengingat kejadian 9 tahun yang lalu. Lagi-lagi senyum kemenangan itu sangat membuat Madara merasa puas.

"Tujuan utamanya pulang ke Jepang. Karena dia ingin menghancurkan Itachi. Dia ingin membalas dendam padanya. Tapi… karena adanya Sasuke, sepertinya dia mengurungkan niat itu," lanjut laki-laki tersebut.

"Sasuke?" selidik Madara, mulai tak menyukai topik pembahasan ini.

"Ya, sepertinya Yahiko mulai menyukai bocah itu. Yahiko juga yang telah menyelamatkan Sasuke dari rencana Tuan untuk menculiknya."

Lagi-lagi Madara menampakan senyuman liciknya ketika mendengar berita itu. Iapun sebenarnya telah menduga, kalau keinginan Yahiko untuk menghancurkan Itachi mulai dipertanyakan dan terkesan lemah.

"Satu hal lagi Tuan, saya jamin… Tuan akan sangat puas dengan apa yang telah saya temukan," Laki-laki itu mulai mengeluarkan isi tasnya. Dia mengeluaran amplop biru, dan menunjukkan sebuah kertas rusak yang telah disatukan menggunakan lem juga beberapa pita perekat kepada Madara.

"SURAT PEMBAGIAN."

Madara mengerutkan dahinya saat membaca tulisan kapital yang tertera dibagian atas kertas penting itu. Tapi setelahnya beliau lekas tersenyum bahkan sampai tertawa amat puas. Perkejaan anak buahnya kali ini sangat membuahkan hasil yang cemerlang. Surat yang berhasil dia temukan dari Yahiko, membuat mereka memulai permainan baru yang lebih menantang dari yang sebelumnya.

"Hahaha, kerja yang bagus! Kau memang hebat. Dengan adanya surat ini, Itachi akan hancur. Dia kira, dia bisa melawanku, huh?" senyum licik itu terpapar sangat jelas dari kedua laki-laki ini. Sang atasan, maupun anak buahnya. "Sebelum itu, bisa kau salin isi dari surat pembagian ini lalu membuatkanku surat yang baru?"

"Ya, Tuan. Tentu saja."

"Hahaha, bagus!" Tawa kemenangan Madara terus menggema di sekitar ruangan itu.

.

.

Tbc

.

.

Maaf sampai sini dulu ya. Untuk chapter depannya akan Nagisa usahakan sepanjang mungkin. Untuk yang udah ngasih Nagisa semangat dan mengatakan fic ini masih layak publish, terima kasih banyak. Setidaknya kata-kata kalian memberikan saya banyak semangat serta motivasi untuk mempublish fic2 abal karya saya. *bow

Chapter depan udah mulai masuk kekonflik panasnya ya, tapi konflik akhir masih beberapa chapter lagi. Hehehe