Chapter 9 : the beginning of our nightmare

a/n tadinya aku mau bikin scene morning bj.. cuma karena masih pada puasa aku gak jadi bikin hehe

.

.

Hal pertama yang Jongin lihat saat dirinya terbangun adalah wajah Sehun. Ketenangan yang terpancar dari dirinya membuat Jongin tersenyum. Jemarinya menyapu poni rambut Sehun yang jatuh menutupi kening pemuda itu. Jongin mengecup keningnya, sebelum beranjak bangun. Ia mulai memakai pakaiannya kembali. Matanya berkeliling hingga berhenti pada horden yang menutupi pintu kaca dan merupkan akses menuju balkon kamar. Jongin menarik sedikit horden tersebut dan mengintip melihat apa yang semalaman ini disembunyikannya.

Pemandangan di balkon kamar benar-benar. Ada dua bangku dan satu meja nakas di sana, yang menghadap langsung ke arah danau. Jongin yakin kalau ia menoleh ke bawah, mungkin hanya air jernih danau yang dilihatnya. Jongin menghela nafas. Ia ingin sekali menghabiskan paginya di balkon. Namun, ada baiknya jika ia keluar dari kamar dan berkenalan lebih jauh dengan Victoria atau Baekhyun.

Jongin bukan bermaksud ingin mengorek informasi tentang Sehun. Ia hanya ingin.. tahu lebih dalam soal seperti apa Sehun - lelaki yang ia beri kepercayaan penuh untuk mendominasinya.

Dengan langkah mengendap-endap, Jongin berjalan menuju pintu kamar. Ia menurunkan kenop pintu dan menutup pintu dengan hati-hati. Ketika dirinya sudah berada di luar kamar, ia melirik ke arah dinding di sekitarnya, mencari dimana letak jam. Setelah ia menemukannya, Jongin langsung mendengus.

Jam 8 pagi. Hari ini ketua OSIS dan siswa paling bandel di sekolah bolos bersama.

Jongin berjalan menuruni tangga. Rumah ini bisa dibilang adalah rumah impiannya. Jauh dari keramaian dan membawa perasaan nyaman bagi orang yang meninggalinya. Namun, sayang.. ada satu hal yang kurang rumah ini.

"Hai, Jongin!" Victoria yang hendak berbelok menuju ruang tengah untuk menyuruh Baekhyun menghabiskan sarapannya, berhenti sebentar untuk menyapa Jongin. "Bagaimana tidurmu?"

Jongin bersumpah kalau ia melihat seringai dibibir wanita itu. Oh, jadi ini yang namanya Victoria. Jongin merasa ia pernah melihatnya disuatu tempat. Jongin hanya tersenyum sebagai balasan dari pertanyaannya.

Senyum Victoria tidak berhenti mengembang. "Kau bisa langsung ke dapur. Aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian semua." setelah itu, Victoria beranjak menuju ruang tengah mendapati Baekhyun sedang menonton kartun pagi favoritnya.

Jongin berjalan menyusuri lorong rumah yang membawanya ke dapur. Samar-samar, ia mendengar teriakan Victoria dan rengekan Baekhyun yang sama kerasnya. Lorong itu terpecah menjadi dua sisi; dapur dan ruang makan yang dipojoknya terdapat toilet. Jongin duduk disalah satu kursi. Hidungnya mencium aroma sup ayam dari arah dapur, membuatnya teringat kalau ia tidak makan dari kemarin.

Baekhyun berjalan sambil menggerutu menuju makan. Ia terus menatap ke bawah sehingga tidak menyadari mata Jongin yang mengamatinya. Victoria berbelok ke kiri dari lorong, kembali masuk ke dalam dapurnya. Ia mematikan kompor dan mulai mengaduk sup-nya. Telinganya menghiraukan gerutuan Baekhyun yang semakin keras. "Jongin, kau suka sup ayam?" tanya Victoria.

Dan barulah Baekhyun menyadari kehadirannya. Bocah laki-laki mengangkat kepalanya, menatap Jongin dengan sorot mata tajam, yang kemudian perlahan melembut. Jongin hanya tersenyum pada dirinya. Meski, diam-diam ia mempertanyakan maksud dari tatapan Baekhyun barusan. "Ya, aku suka." jawab Jongin.

Belum sempat Victoria membuka mulutnya untuk menanyakan beberapa hal kepada Jongin, Baekhyun sudah terlebih dahulu ia melontarkan pertanyaan pada Jongin. "Apa kau sub barunya Sehun? Tapi, kau terlihat... berbeda. Kau sangat tampan." wajah Baekhyun perlahan memerah saat Jongin mengerutkan keningnya.

Apa bocah berusia 13 tahun sedang berusaha menggodanya? Well, Jongin tidak bisa menyalahkan Baekhyun yang sudah terperangkap ke dalam pesonanya. "Umm, ya, aku sub barunya Sehun. Dan selain itu, aku juga temannya. Jadi, mungkin itu yang membuatku berbeda." dan, fuck, aku juga bukan gay.

"Oh." Baekhyun menganggukkan kepalanya. Matanya berpindah menatap mangkok serealnya. "Menurutku, kau dan Sehun sangat serasi. Aku senang melihat Sehun.. bahagia." ujarnya malu-malu.

Jongin ingin sekali menaruh tangannya di atas kepala Baekhyun dan mengacak rambutnya seolah bocah itu adalah adiknya sendiri. Dalam hatinya, ia masih tidak menyangka kalau ada orang yang tega menjadikan bocah sepolos Baekhyun, yang seharusnya duduk di bangku sekolah dan menikmati masa kecilnya, sebagai objek seks. Siapapun orang itu, Jongin sangat ingin menghancurkan batang hidungnya. "Thanks, Baek. Walaupun, aku yakin kalau Sehun selalu tampak bahagia, bahkan tanpa adanya diriku."

"Tidak, Jongin. Dia jadi lebih banyak tersenyum sejak dia mengenalmu." sanggah Baekhyun. Tangan mungil bocah itu mulai menuntun sendok yang berisi sereal ke dalam mulutnya. "Tanya saja Vict ahjumma."

Victoria yang sedaritadi mendengarkan dengan senyuman dibibirnya, langsung mendengus saat mendengar namanya yang disambungkan dengan kata ahjumma. "Aku tidak setua itu, Byun Baekhyun. Dan, yeah, apa yang dikatakan bocah tengil itu menang benar, Jongin." kata Victoria.

Wanita itu menyendokkan sup ke dalam dua mangkok. Setelah itu, ia membawa dua mangkok tersebut ke meja makan dan duduk di samping Baekhyun. Ia menaruh satu mangkok di hadapan Jongin. Senyuamn dibibirnya seolah menyuruh Jongin untuk segera memekan supnya. Jongin hanya mengangguk.

"Aku tahu kalau ini bukan kewajibanku untuk memberitahukan tentang Sehun dan masa lalunya. Tapi, sedikit bocoran, dia memang tampak lebih hidup setelah bertemu denganmu."

Jongin baru tersadar kalau Victoria adalah wanita yang sempat disangkanya sebagai kekasih Sehun. Dia menghiraukan sebentar kata-kata Victoria yang terdengar aneh dan memilih untuk sedikit menginterograsi hubungan antara wanita itu dan Sehun. "Sepertinya, kau dekat sekali dengan Sehun."

Kata-kata Jongin barusan jelas adalah sebuah pernyataan. Sebuah asumsi. Victoria mendengus pelan, membantah apapun asumsi pemuda itu tentang dirinya. "Ya, kami memang dekat. Tapi, kau tidak perlu cemburu. Sehun sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri, adik lebih tepatnya."

"Aku tidak cemburu." kali ini, giliran Jongin yang mendengus.

Baekhyun menahan tawa dengan terus menyuapkan sereal ke dalam mulutnya. Victoria memutar matanya, jelas tidak memercayai pengakuan Jongin barusan. "Ya, ya, terserah kau saja." Victoria menyeringai, lalu tertawa.

Baekhyun mengamati mereka dengan wajah bahagia. Jarang sekali suasana di dalam rumah barunya seramai ini. Biasanya, Victoria lebih suka menghabiskan sarapannya dalam diam karena memang tidak ada yang perlu dibicarakannya dengan Baekhyun. Jadi, rasanya sedikit menyenangkan melihat ada suatu perubahan di dalam rumahnya.

"Jongin, aku menyukaimu!" ujar Baekhyun tiba-tiba. Victoria dan Jongin menoleh ke arahnya tampak terkejut, namun kemudian keduanya saling pandang dan tertawa. Baekhyun hanya menundukkan kepalanya dengan wajah memerah.

"Well, kid, I like you too." balas Jongin sambil mengedipkan matanya pada Baekhyun. Baekhyun meliriknya dengan malu-malu, lalu tersenyum.

"Berhenti menggoda anak di bawah umur, Jongin." canda Victoria.

Jongin hanya mendengus, sementara Baekhyun mengatupkan bibirnya rapat-rapat berusaha menahan tawanya. Victoria menyeringai, lantas berkata. "Sebaiknya, kau membangunkan Sehun. Ibunya dari kemarin malam menelpon terus menanyakan kabarnya."

"Kau kenal dengan ibunya Sehun?" Victoria kembali melihat kecemburuan dimata Jongin.

Wanita itu menopang kepala dengan satu tangannya menatap Jongin dengan ekspresi pura-pura bingung. "Hm, aku baru tahu kalau ada submissive se-possesive Kim Jongin."

"Oh, shut up, ahjumma."

"Hei, aku bukan ahjumma!"

Kali ini, Baekhyun tidak bisa menahan tawanya. Laki-laki kecil itu tertawa dengan suara rendah agar Victoria dan Jongin tidak menyadarinya. Mata Baekhyun tanpa sengaja bertemu pandang dengan Jongin. Bocah itu hanya terdiam menatapnya dengan senyum. Sementara, Jongin kembali membalasnya dengan kedipan.

.

.

Setelah menghabiskan sup-nya, Jongin mengikuti saran Victoria untuk membangunkan Sehun. Ia membuka pintu kamar dan menutupnya dengan hati-hati. Di dalam, Sehun masih memeluk gulingnya dengan mata terpejam erat. Jongin menahan senyum dibibirnya saat melihat wajah tidur Sehun yang terlihat polos. Dan, sungguh, itu sangat diluar karakternya.

Jongin kembali berbaring di sampingnya, memperhatikan wajah Sehun untuk beberapa saat. Ia tidak menyangka kalau hubungannya dengan Sehun bisa sejauh ini. Semalam masih terasa seperti mimpi baginya. Memori akan sentuhan dan deru nafas Sehun di samping telinganya saat pemuda itu mengantarkannya menuju orgasme yang kesekian kalinya adalah suatu memori yang tidak akan pernah dilupakannya. Memori itu masih berputar diotaknya seperti sebuah film, tapi terasa begitu nyata.

Jongin membalikkan tubuhnya, membelakangi Sehun, mencoba untuk tidur sebentar. Ia mulai memejamkan matanya, namun tangan Sehun yang berpindah memeluk pinggangnya dan tubuh pemuda itu yang menghimpit dirinya membuat mata Jongin kembali terbuka. "Morning." bisik Sehun. Mata pemuda itu masih terpejam, namun sebuah senyuman sudah terukir dibibirnya.

Sehun menaruh kepalanya dibahu Jongin, sehingga Jongin dapat merasakan deru nafas pemuda itu yang mengingatkan dirinya pada kejadian semalam. "Pagi ju- ahh!" tiba-tiba saja, Sehun menggigit telinganya yang merupakan salah satu daerah tersensitif Jongin.

"Sehun!" Jongin merengek ketika Sehun berpindah menciumi lehernya. Sehun hanya tertawa kecil, lantas kembali menggoda leher Jongin.

Jongin memejamkan matanya. Ia menggigit bibir berusaha menahan desahan yang berada di ujung bibirnya. Fuck, Jongin dapat merasakan ereksi milik Sehun yang semakin menekan bagian belakangnya. Sehun pasti sengaja melakukannya. "Kau bisa berhenti tidak?" tanya Jongin sedikit jengkel.

"Nah, aku tidak mau." Sehun kembali tertawa.

Jongin memutar matanya. Ia tidak berkomentar ketika bibir Sehun berhenti menciuminya, namun tidak berpindah dari sana. Sehun dapat mencium aroma tubuh Jongin yang bercampur dengan seks. Fuck, ini seperti ekstasi. Sehun tidak bisa berhenti untuk menginginkan lebih dari Jongin. Meskipun, pemuda itu tahu kalau sejak kemarin malam Jongin, seluruh miliknya, sudah menjadi milik Sehun. Sehun memejamkan matanya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Masa depan terasa begitu menyeramkan bagi Oh Sehun.

"Kapan kita akan membicarakan perjanjian, atau entahlah apa itu namanya, tentang semua ini?" tentang hubungan yang tidak lazim ini.

Sehun masih memejamkan matanya. Hembusan nafasnya yang hangat sedikit menggelitik tengkuk leher Jongin. "Nanti saja. Aku hanya ingin memelukmu sekarang." jawab Sehun jujur. Tidak ada hal lain yang dirinya inginkan selain menarik pemuda itu ke dalam pelukannya, dengan harapan jika pelukan saja mampu melindungi pemuda itu dari apapun yang dapat menyakitinya.

Jongin tidak membalas atau bertanya padanya. Pemuda itu diam, menikmati berbagai macam perasaan yang terasa asing, namun juga terasa benar baginya. Tumbuh di dalam keluarga yang tidak harmonis membuat Jongin tidak begitu paham akan yang namanya cinta atau kasih sayang. Kedua orangtua Jongin adalah pengacara terkenal yang hanya memiliki waktu beberapa jam di rumah mereka selama seminggu. Jika ditanya, apakah dirinya menginginkan keluarga yang penuh cinta dan kehangatan. Jongin sendiri tidak begitu menginginkannya. Ia adalah tipikal orang yang realistis. Ia tahu kalau tidak ada keluarga yang sempurna. Setiap keluarga memiliki retakan yang entah terlihat jelas atau berusaha disembunyikan. Sehingga, Jongin mulai memahami apa yang terjadi di dalam keluarganya.

Karena sekacau apapun kedua orangtuanya, dan juga dirinya, mereka tetap bagian dari satu keluarga, yang mungkin tidak bahagia, namun masih utuh dan masih mencoba untuk bertahan sampai sekarang.

Banyak orang berkata jika keluarga merupakan pihak pertama yang mengajarkan kita akan yang namanya kasih sayang atau cinta. Mungkin, orang-orang itu benar. Mungkin juga, mereka salah. Namun, di antara yang benar dan yang salah, Jongin berpendapat kalau kita bisa belajar mencintai dari siapapun. Dan pada saat ini, Jongin mulai mempelajarinya dari sosok seorang pemuda bernama Oh Sehun.

.

.

"Bro, hari ini kau ada kelas dengan Jongin tidak?"

Cal sengaja menghadang Jaehyun di depan kelas biologi. Ia yakin Jaehyun juga tidak keberatan telat masuk ke dalam kelas dari mata pelajaran yang dibencinya. "Tidak, Cal. Kenapa memangnya?"

Cal menggeleng pelan. "Berarti, bajingan itu bolos lagi."

Jaehyun mengangguk, membenarkan tuduhan yang sebenarnya fakta itu. "Tapi, itu bukan hal yang baru lagi kan? Relax sedikit-lah, dude. Anak laki-lakimu itu akan baik-baik saja." Jaehyun menepuk bahu Cal, lalu berlari masuk ke dalam kelas ketika Cal hendak menendang bokongnya.

"You motherfucker-"

"Mr. Calum Hood, jaga bicaramu!" teriak seorang guru dari dalam kelas.

Jaehyun menjulurkan lidahnya, sementara Cal hanya bisa menatapnya dengan tajam. Pemuda itu tidak sabar menunggu pesta malam ini. Ia jamin pesta malam ini akan menjadi mimpi buruk bagi Ahn Jaehyun. Huahahahaha.

"Cal, kau sudah ada kabar dari Jongin?"

Cal nyaris melonjak karena kaget. Ia segera berbalik ke belakang, mendapati Taeyong berdiri di hadapannya dengan wajah cemas. Cal menatapnya beberapa saat, sebelum menggeleng pelan. "Umm, mungkin.. dia kelelahan atau.. um-" Cal tidak tahu mengapa tatapan polos dari Taeyong membuatnya gugup seperti ini.

Ini bukan karena ia menyukai Taeyong atau tertarik padanya. Fuck, he is not gay. Cal mulai menyalahkan Chanyeol dan percakapan mereka semalam.

Taeyong menunggu Cal melanjutkan kata-katanya. Mata hitam kelam pemuda itu tidak berhenti menatap Cal menambah rasa gugup yang semakin menyerang Cal. Sebelum Taeyong masuk ke dalam kelompok mereka, Cal selalu melihatnya menyendiri dan enggan bergabung dengan kelompok manapun. Hingga, suatu hari Jongin membantu Taeyong yang katanya sengaja memancing perkelahian dengan kakak kelas. Sejak itu, Taeyong jadi seperti.. mengidolakan Jongin sampai memohon padanya agar dia diterima masuk ke dalam kelompok mereka. Well, bisa dibilang Taeyong itu seperti fans nomor satunya Jongin, yang nyaris seperti stalker, namun tidak berbahaya. Atau mungkin, belum berbahaya.

"Aku harus pergi, dude. Nanti kita bertemu di pestanya Shannon." Cal memberikan senyum canggung, sebelum berjalan melewati Taeyong.

Ia terus berjalan menyusuri lorong sekolah menuju kelas selanjutnya. Ia tidak menyadari seringai yang mulai tertarik dibibir Taeyong serta tatapan pemuda itu yang tidak berhenti mengikuti dirinya.

.

.

"Jongin, lain kali kau harus berkunjung ke sini lagi." ujar Victoria seraya melepaskan pelukannya.

Jongin mengangguk, lalu berjongkok untuk memeluk Baekhyun. Baekhyun memilih untuk tidak bicara padanya karena pemuda kecilnya itu benci yang namanya salam perpisahan. Ia memeluk Jongin erat dan melepaskannya dengan berat hati. "See you soon, kiddo." Jongin mengacak rambutnya, sebelum menyusul Sehun yang susah menunggu di dalam mobil.

Jongin masuk ke dalam mobil, duduk di jok bagian depan mobil. Sehun meliriknya sekilas, lalu menyalakan mesin mobil. Selama perjalanan, keduanya memilih untuk diam dan hanya lagu yang diputar dari radio yang terdengar oleh Jongin. Pemuda itu merasa lelah entah mengapa. Mungkin, setelah sampai di rumah ia akan tidur sampai besok. Masa bodoh dengan yang namanya sekolah.

Sehun kembali meliriknya, tidak bisa menahan pertanyaan yang semakin mendesak di ujung bibirnya. "Bagaimana perasaanmu?"

Jongin menoleh menatapnya. Pemuda itu terlihat lelah, begitupun dengan dirinya. Sejenak, mereka hanya saling melempar tatapan. "Aku.. lelah." jawab Jongin, kemudian menghela nafas.

"Ya, aku juga. Semalam cukup melelahkan, huh?" goda Sehun.

"Menurutmu?" balas Jongin tampak sedikit kesal.

Sehun hanya menarik senyum, namun tidak membalasnya. Jongin menatapnya beberapa saat, merasa semakin kesal dengan senyuman idiot yang tertarik dibibir pemuda di sampingnya. Jongin tidak tahu apa yang membuat situasi ini terkesan lucu dimata Sehun. Jongin perlahan menenangkan dirinya dan ia mulai melihat.. apa yang membuat Sehun tersenyum sekarang ini.

"Selama ini, kau selalu mengejarku dan mengirimkanku ke ruang kepala sekolah. Siapa yang tahu kalau kita akan berakhir seperti ini, huh?" Sehun melirik dirinya dan mendapati senyuman kecil dibibir Jongin. Mereka kembali saling menatap, lalu tertawa bersama. Menertawai situasi yang mereka anggap konyol ini.

Tawa mereka mereda saat ponsel Sehun berbunyi. Sehun merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel tersebut. Ia langsung menerima panggilan tanpa melihat siapa yang menelponnya.

"Hello, Sehun. How are you, my dearest pet?"

Sehun mencengkram ponselnya erat. Ekspresi wajahnya berubah dan Jongin menyadarinya. Pemuda itu menatap Sehun dengan cemas, sementara Sehun mengatur nafasnya mencoba untuk tenang. Ia tidak ingin bajingan yang menelponnya ini mengacaukan harinya. "Halo juga, Kris."

.

.

Rin's note :

Kalau ditanya bagaimana tanggapanku soal chapter ini.. tbh aku bakal jawab, I HATE IT SOOO MUCH.. aku mesti re-write dan stuck sampai beberapa hari ini karena jujur aku nggak tau mau nulis apa.. tadinya aku mau selipin smutt seperti notes ku di atas.. but i know that i can't.. karena nggak sopan aja gitu bikin smutt pas puasa.. jadi aku hapus bagian smutt-nya dan re-write

But, next chap.. i know what i am doing with this fic.. ferinee back on the track lol.. aku udah punya banyak ide untuk fanfic ini (spoiler; psycho!taeyong and kris)

Yang pasti ke depannya.. sehun sama kai nggak bakal se-fluff ini.. sisi dark dominant sehun bakal muncul dan i hope next chapter aku bisa nulis smutt dan mulai bdsm play-nya.. tapi kayaknya aku mesti nunggu lebaran deh

Dan, umm, fanfic ini berjalan diluar ekspetasi awalku.. aku nggak bisa terlalu menonjolkan sisi bsdsm karena (ini bagian yang menurutku failed) aku udah bikin mereka gimana ya "attached" dengan satu sama lain.. jadi next project ku nantinya.. aku mau bikin ff bdsm yang memang bdsm gitu.. (efek setiap malam baca smutt destiel)

Anyways, aku suka hubungan kai sama baekhyun di sini.. mereka unyuu lol dan, oh, ada beberapa yang ngusulin CHANBAEK.. dan sorry buat shipper mereka.. aku nggak bakal nyelipin chanbaek di sini.. karena rasanya impossible aja tiba-tiba mereka pacaran or gimana gitu ya.. selain itu, baekhyun masih bocah bangettt.. jadi mending baek sekolah yang bener dulu baru pacar-pacaran hehe

Dan banyak yang nanya juga Cal itu siapa.. Cal itu Calum Hood from 5 Seconds of Summer (yang kayak cina tapi bukan cina)

P.S aku nentuin buat update seminggu sekali ini.. jadi see you on next friday

P.S.S kasih pendapat aku soal smutt (mendingan pas minggu ini ato setelah lebaran?) Vote pls